Posts

, ,

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG

 

Kita diperintahkan mengucapkan salam pada rumah yang akan kita masuki sebagaimana disebutkan dalam ayat:

 
فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً
.
“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” [QS. An Nur: 61]
 
Sedangkan mengucapkan salam pada rumah yang tidak berpenghuni atau tidak ada seorang pun di rumah tersebut tidaklah wajib, namun hanya disunnahkan saja.
 
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
 
إذا دخل البيت غير المسكون، فليقل: السلام علينا، وعلى عباد الله الصالحين
.
“Jika seseorang masuk rumah yang tidak didiami, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin
 
Artinya:
Salam bagi diri kami dan salam bagi hamba Allah yang saleh. [Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod 806/ 1055. Sanad hadis ini Hasan sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Al Fath, 11: 17]
 
Hal di atas diucapkan ketika rumah kosong. Namun jika ada keluarga atau pembantu di dalamnya, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alaikum”. Namun jika memasuki masjid, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Sedangkan Ibnu ‘Umar menganggap salam yang terakhir ini diucapkan ketika memasuki rumah kosong.
 
Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Al Adzkar berkata: “Disunnahkan bila seseorang memasuki rumah sendiri untuk mengucapkan salam, meskipun tidak ada penghuninya. Yaitu ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Begitu pula ketika memasuki masjid, rumah orang lain yang kosong, disunnahkan pula mengucapkan salam: “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin. Assalamu ‘alaikum ahlal bait wa rahmatullah wa barakatuh”. [Al Adzkar, hal. 468-469]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adabakhlak, #ucapan, #ucapkan, #mengucapkan, #doazikir, #doa, #zikir, #dzikir, #rumahkosong, #tidakadapenghunihukum, #tatacara, #cara #masukrumah
,

MAAF-MEMAAFKAN DALAM RANGKA HARI RAYA DISYARIATKAN?

MAAF-MEMAAFKAN DALAM RANGKA HARI RAYA DISYARIATKAN?

سْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

MAAF-MEMAAFKAN DALAM RANGKA HARI RAYA DISYARIATKAN?

Oleh: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

Mudah memaafkan, penyayang terhadap sesama Muslim, dan lapang dada terhadap kesalahan orang merupakan amal saleh yang keutamaannya besar dan sangat dianjurkan dalam Islam. Allah ﷻ berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan perbuatan baik, serta berpisahlah dari orang-orang yang bodoh. [QS. Al-A’raf/7:199]

Dalam ayat lain, Allah ﷻ berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka. Mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. [QS. Ali Imran/3:159]

Bahkan sifat ini termasuk ciri hamba Allah ﷻ yang bertakwa kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [QS. Ali-Imran/3:134]

Rasulullah ﷺ secara khsusus menggambarkan besarnya keutamaan dan pahala sifat mudah memaafkan di sisi Allah ﷻ dalam sabda beliau ﷺ: “Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya), kecuali kemuliaan (di dunia dan Akhirat).” [1]

Arti bertambahnya kemuliaan orang yang pemaaf di dunia adalah dengan dia dimuliakan dan diagungkan di hati manusia karena sifatnya yang mudah memaafkan orang lain. Sedangkan di Akhirat dengan besarnya ganjaran pahala dan keutamaan di sisi Allah Azza wa Jalla. [2]

Maaf-Memaafkan pada ari Raya?

Akan tetapi, amal saleh yang agung ini bisa berubah menjadi perbuatan haram dan tercela, jika dilakukan dengan cara-cara yang TIDAK ADA tuntunannya dalam Alquran dan sunnah Rasulullah ﷺ.

Misalnya mengkhususkan perbuatan ini pada waktu dan sebab tertentu yang TIDAK terdapat dalil dalam syariat tentang pengkhususan tersebut. Seperti mengkhususkannya pada waktu dan dalam rangka hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Ini termasuk perbuatan bid’ah [3] yang jelas-jelas telah diperingatkan keburukannya oleh Rasulullah ﷺ dalam sabda beliau ﷺ: “Sesungguhnya semua perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat. Dan semua yang sesat (tempatnya) dalam Neraka.” [4]

Kalau ada yang bertanya, mengapa ini dianggap sebagai perbuatan bid’ah yang sesat, padahal agama Islam jelas-jelas sangat menganjurkan dan memuji sifat mudah memaafkan kesalahan orang lain, sebagaimana telah disebutkan dalam keterangan di atas?

Jawabnya: Benar, Islam sangat menganjurkan hal tersebut, dengan syarat jika TIDAK dikhususkan dengan waktu atau sebab tertentu, tanpa dalil (argumentasi) yang menunjukkan kekhususan tersebut. Karena jika dikhususkan dengan misalnya waktu tertentu tanpa dalil khusus, maka berubah menjadi perbuatan bid’ah yang sangat tercela dalam Islam.

Sebagai contoh, shalat malam dan puasa sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Namun dua jenis ibadah ini jika pelaksanaannya dikhususkan pada waktu Jumat, maka dua masalah besar tersebut menjadi tercela dan haram untuk dilakukan [5], sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

لاَ تَخْتَصُّوالَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامِ مِنْ بَيْنَ اللَّيَالِى وَلاََ تخُصُّوايَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامِ مِنْ بَيْنِ الأَيَامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ فِى صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat di antara malam-malam lainnya (dalam melaksanakan) shalat malam. Dan janganlah mengkhususkan Jumat di antara hari-hari lainnya dengan berpuasa, kecuali puasa yang bisa dilakukan oleh salah seorang darimu. [6]

Inilah yang diistilahkan oleh para ulama dengan nama “bid’ah idhafiyyah”, yaitu perbuatan yang secara umum dianjurkan dalam Islam, akan tetapi sebagian kaum Muslimin mengkhususkan perbuatan tersebut dengan waktu, tempat, sebab, keadaan atau tata cara tertentu yang TIDAK bersumber dari petunjuk Allah ﷻ dalam Alquran dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.  [7]

Contoh lain dalam masalah ini adalah shalat malam yang dikhususkan pada waktu Rajab dan Syaban. Imam an-Nawawi rahimahullah berkata tentang dua shalat ini: “Shalat (malam pada waktu) Rajab dan Syaban adalah bid’ah yang sangat buruk dan tercela” [8]

Imam Abu Syamah rahimahullah menjelaskan kaidah penting ini dalam ucapannya: “Tidak diperbolehkan mengkhususkan ibadah-ibadah dengan waktu-waktu (tertentu) yang tidak dikhususkan oleh syariat, akan tetapi hendaknya semua amal kebaikan tersebut bebas (dilakukan) di setiap waktu (tanpa ada pengkhususan). Tidak ada keutamaan satu waktu di atas waktu yang lain, kecuali yang diutamakan oleh syariat dan dikhususkan dengan satu macam ibadah…. Seperti puasa di hari Arafah dan Asyura, shalat di tengah malam, dan umrah pada waktu Ramadan…”[9]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “… Termasuk (contoh) dalam hal ini, bahwa sunnah Rasulullah ﷺ menyebutkan larangan mengkhususkan Rajab dengan puasa dan Jumat, agar tidak dijadikan sebagai sarana menuju perbuatan bid’ah dalam agama, (yaitu) dengan pengkhususan waktu tertentu dengan ibadah yang tidak dikhususkan oleh syarat” [10]
Menimbang Acara Halal Bil Halal
Termasuk acara yang marak dilakukan oleh kaum Muslimin di Indonesia dalam rangka saling memaafkan setelah hari raya Idhul Fitri, adalah apa yang biasa dikenal dengan acara Halal bil halal.

Acara ini termasuk perbuatan bid’ah yang tercela dengan alasan seperti yang kami paparkan di atas. Acara ini tidak pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan generasi terbaik umat ini, para sahabat radhiyallahu anhum, serta para imam Ahlus Sunnah yang mengikuti jalan mereka dengan baik. Padahal mereka adalah orang-orang yang telah dipuji pemahaman dan pengamalan Islam mereka oleh Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ. Allah ﷻ berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar (para sahabat) dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang benar. [QS At-Taubah/9: 100]

Dan dalam hadis yang shahih, Rasulullah ﷺ bersabda: Sebaik-baik umatku adalah generasi yang aku diutus di masa mereka (para sahabat), kemudian generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka. [11]

Di samping itu, acara ini ternyata berisi banyak kemungkaran dan pelanggaran terhadap syariat Allah ﷻ, di antaranya:

1. Terjadinya ikhtilath (bercampur baur secara bebas) antara laki-laki dengan perempuan tanpa ada ikatan yang dibenarkan dalam syariat. Perbuatan ini jelas diharamkan dalam Islam, bahkan ini merupakan biang segala kerusakan di masyarakat.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku tidak meninggalkan setelahku fitnah (keburukan/kerusakan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki, melebihi (fitnah) kaum perempuan” [12]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mejelaskan hal ini dalam ucapan beliau: “Tidak diragukan lagi, bahwa membiarkan kaum perempuan bergaul bebas dengan kaum laki-laki adalah biang segala bencana dan kerusakan. Bahkan ini termasuk penyebab (utama) terjadinya berbagai malapetaka yang merata. Sebagaimana ini juga termasuk penyebab (timbulnya) kerusakan dalam semua perkara yang umum maupun yang khusus. Pergaulan bebas merupakan sebab berkembang pesatnya perbuatan keji dan zina, yang ini termasuk sebab kebinasaan massal (umat manusia) dan munculnya wabah penyakit-penyakit menular yang berkepanjangan” [13]

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah lebih menegaskan hal ini dalam ucapan beiau: “Dalil-dalil (dari Alquran dan hadis Nabi ﷺ) secara tegas menunjukkan haramnya (laki-laki) berduaan dengan perempuan yang tidak halal baginya, (demikian pula diharamkan) memandangnya, dan semua sarana yang menjerumuskan (manusia) ke dalam perkara yang dilarang oleh Allah ﷻ. Dalil-dalil tersebut sangat banyak dan kuat (semuanya) menegaskan keharaman –ikhtilath (bercampur baur secara bebas antara laki-laki dengan perempuan kepada perkara (kerusakan) yang sangat buruk akibatnya” [14]

2. Bersalaman dan berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang tidak halal baginya (bukan mahramnya).
Perbuatan ini sangat diharamkan dalam Islam berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ: “Sungguh, jika kepala seorang laki-laki ditusuk dengan jarum dari besi, lebih baik baginya dari pada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya” [15]

3. Kehadiran para wanita yang besolek dan berdandan seperti dandanan wanita-wanita Jahiliyah.
Ini juga diharamkan dalam Islam, sebagaimana firman Allah ﷻ:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

Dan hendaklah kalian (wahai kaum perempuan Mukminah) menetap di rumah-rumah kalian, dan janganlah kalian bertabarruj (bersolek dan berhias) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu. [Al-Ahzab/33: 33]

Dalam hadis yang shahih, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya wanita adalah aurat. Maka jika dia keluar (rumah) setan akan mengikutinya (menghiasinya agar menjadi fitnah bagi laki-laki). Dan keadaannya yang paling dekat dengan Rabbnya (Allah) adalah ketika dia berada di dalam rumahnya” [16]

Penutup
Demikianlah pemaparan ringkas tentang hukum saling maaf-memaafkan dalam rangka hari raya. Wajib bagi setiap Muslim untuk meyakini, bahwa segala sesuatu yang dibutuhkan oleh kaum Muslimin untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ semua itu telah dijelaskan dan dicontohkan dengan lengkap oleh Rasulullah ﷺ dalam petunjuk yang beliau ﷺ bawa.

Sahabat yang mulia Abu Dzar Al Ghifari Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah ﷺ telah pergi meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepakkan kedua sayapnya di udara, kecuali beliu ﷺ telah menjelaskan kepada kami ilmu tentang hal tersebut”. Kemudian Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah ﷺ telah bersabda:

مَا بَقِيَ شَيءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَا عِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

Tidak ada (lagi) yang tertinggal sedikit pun dari (ucapan’perbuatan) yang bisa mendekatkan (kamu) ke Surga dan menjauhkan (kamu) dari Neraka, kecuali semua itu telah dijelaskan kepadamu” [17]

Semoga Allah ﷻ senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk selalu berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah ﷺ dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang dari Sunnah beliau ﷺ sampai di akhir hayat kita. Aamiin

Ya Allah, wafatkanlah kami di atas agama Islam dan di atas Sunnah (Petunjuk) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [18]

Wallahu a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XV/1432/2011M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

_______
Footnote
[1]. HR. Muslim no. 2588 dan imam-imam lainnya
[2]. Lihat syarh Shahih Muslim 16/14 dan Tuhfatul Ahwadzi 6/150
[3]. Semua perbuatan yang diada-adakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.
[4]. HR. Muslim no. 867, an-Nasai no. 1578 dan Ibnu Majah no.45
[5]. Lihat Ilmu Ushulil Bida’ hlm.151
[6]. HR. Muslim no. 1144
[7]. Lihat Ilmu Ushulil Bida’ hlm.147-148
[8]. Fatawa al-Imam an-Nawawi hlm.26
[9]. Al-Baits ‘ala Inkaril Bida’i wal Hawadits hlm.165
[10]. Ighatsatul Lahfan I/368
[11]. HR. al-Bukhari dan Muslim
[12]. HR. al-Bukhari no. 4808 dan Muslim no. 2740
[13]. Seperti penyakit AIDS dan penyakit-penyakit kelamin berbahaya lainnya. Na’udzu billahi min dzalik.
[14]. Majalatul Buhutsil Islamiyah 7/343
[15]. HR ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir no. 486 dan 487 dan ar-Ruyani dalam al-Musnad 2/227, dan dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 226
[16]. HR Ibnu Khzaimah no. 1685, Ibnu Hibban no. 5599 dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath no. 2890, dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Mundziri dan al-Albani dalam ash-Shahihah no. 2688
[17]. HR ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir 2/155, no. 1647 dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 1803
[18]. Doa yang selalu diucapkan oleh Imam Ahmad bin Hambal yang dikutip oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam tarikh Baghdad 9/349

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/3159-maaf-memaafkan-dalam-rangka-hari-raya-disyariatkan.html

,

KAPAN MENGUCAPKAN “ALHAMDULILLAH ‘ALA KULLI HAL”?

KAPAN MENGUCAPKAN "ALHAMDULILLAH ‘ALA KULLI HAL"?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

KAPAN MENGUCAPKAN “ALHAMDULILLAH ‘ALA KULLI HAL”?

Pertanyaan:
Ustadz, kalimat Alhamdulillah ‘ala kulli hal digunakan pada kondisi yang seperti apa?!

Jawaban:
Ucapan Alhamdulillah ‘ala kulli hal Nabi ﷺ tuntunkan untuk dibaca dalam beberapa kondisi, di antaranya:

Pertama: Setelah Bersin

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ رَجُلاً عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ. قَالَ ابْنُ عُمَرَ وَأَنَا أَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَّمَنَا أَنْ نَقُولَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ.

Dari Nafi, ada seorang yang bersin di dekat Ibnu Umar lalu dia berucap: “Alhamdulillah wassalam ‘ala Rasulillah.” Mendengar ucapan orang tersebut, Ibnu Umar mengatakan: “Saya juga mengucapkan kalimat Alhamdulillah was salam ‘ala Rasulillah,namun tidak seperti itu yang diajarkan oleh Rasulullah kepada kami. Beliau mengajari kami untuk mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” ketika bersin” [HR Tirmidzi no 2738, dinilai hasan oleh al Albani].

عَنْ أَبِى أَيُّوبَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَلْيَقُلِ الَّذِى يَرُدُّ عَلَيْهِ يَرْحَمُكَ اللَّهُ وَلْيَقُلْ هُوَ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ ».

Dari Abu Ayub, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika salah satu di antara kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal“. Orang yang mendengarnya merespon dengan mengucapkan: “Yarhamukallahu“. Kemudian orang yang bersin mengucapkan: “Yahdikumullahu wa yushlih baalakum“”[HR Tirmidzi no dinilai Shahih oleh al Albani].

Kedua: Ketika Melihat Hal-Hal yang Tidak Menyenangkan

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ ». وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ ».

Dari Aisyah, kebiasaan Rasulullah ﷺ jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat”. Sedangkan jika beliau ﷺ menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan, beliau mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal“” [HR Ibnu Majah no 3803 dinilai hasan oleh al Albani].

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

[Artikel www.ustadzaris.com]

, , ,

HUKUM MENGANGKAT JARI/TANGAN KETIKA BERDOA SETELAH BERWUDHU

HUKUM MENGANGKAT JARI/TANGAN KETIKA BERDOA SETELAH BERWUDHU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatWudhuNabi
#DoaZikir

HUKUM MENGANGKAT JARI/TANGAN KETIKA BERDOA SETELAH BERWUDHU

Aku mendengar bahwa Syekh Abdullah bin Jibrin berkata:

‘Dibolehkan mengankat jari setelah berwudhu dan membaca Laa ilaaha illallah, dan aku saksikan banyak orang yang melakukannya. Aku mohon pandangan yang menjelaskan masalah ini dengan tuntas.

Jawaban:

Alhamdulillah.

Tidak terdapat riwayat dari Sunnah Nabi ﷺ, sepengetahuan kami, yang menyatakan disunnahkannya mengangkat jari telunjuk ketika berdoa setelah wudhu secara khusus. Sebagaimana diketahui bahwa prinsip dasar dalam ibadah adalah tawqifi (ditetapkan berdasarkan wahyu, tidak dengan akal) dan tidak boleh ada penambahan dari apa yang dinyatakan dalam sunnah.

Yang disyariatkan bagi seorang Muslim setelah berwudhu adalah membaca:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Asyhadu Allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuuluh’ [HR. Muslim, no. 234]

Artinya:

Aku bersaksi, bahwa sesungguhnya  tidak ada Ilaah (Sesembahan) yang berhak diibadahi  dengan benar selain ALLAH yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Dan tidak cukup hanya membaca ‘Laa ilaaha illallah’ saja.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Apa hukum mengangkat jari dalam doa setelah berwudhu, dan hal itu dilakukan secara terus menerus?

Beliau menjawab:

‘Saya tidak mengetahui adanya landasan dalam masalah itu. Akan tetapi yang disyariatkan bagi orang yang selesai berwudhu adalah membaca:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Asyhadu Allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuuluh, Allahummaj’alni minattawwaabin waj’alni minal mutathahhirin.

Artinya:

Aku bersaksi, bahwa sesungguhnya  tidak ada Ilaah (Sesembahan) yang berhak diibadahi  dengan benar selain ALLAH yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya ALLAH, jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang selalu menyucikan diri”.

Dan itu sudah cukup. [Nurun Alad-Darbi, Fatawa Thaharah, Furudhul Wudhu wa Sifatuh]

Adapun yang disebutkan penanya, bahwa Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah menyatakan, bahwa hal itu (mengangkat jari ketika membaca doa wudhu) adalah sunnah, tidak dapatkan ucapannya yang menyatakan sunnahnya perbuatan tersebut.

Memang ada beberapa hadis shahih yang mengajarkan untuk memberi isyarat dengan telunjuk saat membaca tasyahhud dalam shalat, dan saat seorang khatib berdoa di atas mimbarnya pada hari Jumat. Adapun ketetapan hal tersebut setelah berwudhu, tidak ada.

Peringatan

Allah memberi sifat bagi kalam (perkataan)-Nya, dengan sifat ‘Qaulun Fashl’ (Memisahkan antara yang hak dan yang batil), sebagaimana firman-Nya:

 إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ .   وَمَا هُوَ بِالْهَزْل  (سورة الطارق: 13-14)

Sesungguhnya Alquran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau. [QS. Ath-Thariq: 13-14]

Karena itu, tidak layak ijtihad para ulama dalam memahami teks dalam Alquran dan Sunnah dikatakan sebagai Qaulun Fashl, atau dengan redaksi lain: ‘Apakah kalimat yang tuntas dalam masalah ini?’ Kecuali jika pendapat tersebut dalilnya telah dinyatakan secara qath’i (jelas) dalam Alquran dan Sunnah, seperti haramnya zina, haramnya minuman keras, dll.

Adapun perkara ijtihad, maka tidak dikatakan padanya, ‘pendapat tuntas’, akan tetapi yang layak diucapkan adalah, ‘Yang lebih tampak..’ atau ‘yang lebih kuat, atau lebih benar’ dan redaksi yang semacamnya.

Wallahua’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/id/129501

,

SERBA-SERBI SEBELUM RAMADAN TIBA

SERBA-SERBI SEBELUM RAMADAN TIBA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

SERBA-SERBI SEBELUM RAMADAN TIBA

 

>> Doa Sebelum Masuk Ramadan

Pertanyaan:

Adakah doa khusus sebelum memasuki Ramadan?

Jawaban:

Tidak diketahui ada doa khusus yang dibaca saat masuk Ramadan. Yang ada hanyalah doa umum ketika melihat hilal (masuknya bulan Hijriyah). Dan doa itu dibaca saat melihat hilal Ramadan maupun bulan lainnya. Lafal doanya ialah sebagai berikut:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالْإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ رَبَّنَا وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Allaahu akbar, Allahumma ahillahu ‘alayna bilyumni wal iimaani was salaamati wal Islaami. Robbii wa Robbukallah.”

Artinya:

“Allah Maha Besar. Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” [HR. Ahmad III/17, at-Tirmidzi 3451, dan yang lainnya]

Jika dia ingin berdoa agar bisa menjalankan puasa secara sempurna dan agar pahala dari ibadah yang dikerjakannya diterima oleh Allah, maka ini juga tidak masalah.

Demikian kesimpulan dari keterangan asy-Syaikh Shaalih al-Fauzaan hafizhahullah dalam: http://www.alfawzan.af.org.sa/index.php?q=node/7445

 

>> Hukum Ucapan ‘Selamat Menunaikan Ibadah Puasa’

Asy-Syaikh Shaalih bin Fauzaan bin Abdillah al-Fauzaan hafizhahullah pernah ditanya:

Pertanyaan:

Apa hukum mengucapkan selamat atas masuknya Ramadan?

جـ: التهنئة بدخول شهر رمضان لا بأس بها؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يبشر أصحابه بقدوم شهر رمضان، ويحثهم على الاجتهاد فيه بالأعمال الصالحة، وقد قال الله تعالى‏:‏

‏قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ‏ ‏[‏ يونس ‏:‏ 58‏]‏

فالتهنئة بهذا الشهر والفرح بقدومه يدلان على الرغبة في الخير، وقد كان السلف يبشر بعضهم بعضًا بقدوم شهر رمضان؛ اقتداء بالنبي صلى الله عليه وسلم

Jawaban:

“Mengucapkan ucapan selamat atas masuknya Ramadan hukumnya boleh, karena Nabi Muhammad ﷺ juga biasa memberi kabar gembira pada para sahabat atas masuknya Ramadan, serta mendorong mereka untuk sungguh-sungguh dalam melakukan amal saleh di dalamnya. Allah ﷻ berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: ‘Dengan keutamaan dari Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’.” [QS. Yunus: 58]

Sehingga memberi ucapan selamat lantaran berjumpa Ramadan dan bergembira dengan kedatangannya menunjukkan antusiasmenya pada kebaikan. Sebagaimana Salaf (orang-orang saleh terdahulu) juga saling mengabarkan pada sebagian mereka akan tibanya Ramadan, yang itu mereka lakukan dalam rangka meneladani Nabi Muhammad ﷺ yang juga melakukannya [Lihat: HR. an-Nasaa’i 2106, Ahmad, dll –pent].”

Sumber:  http://www.alfawzan.af.org.sa/node/7452

 

>> Dosa Juga Akan Berlipat Saat Ramadan?

Pertanyaan:

Apakah dosa pada bulan Ramadan juga dilipatgandakan?

Jawaban:

Dosa ketika Ramadan tidak akan berlipat ganda dalam hal hitungan. Dalam artian, jika dia melakukan satu kejahatan ketika Ramadan, maka dosa yang dia dapatkan ya tetap satu. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam firman Allah ﷻ:

{مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ}

“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan, melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. al-An’aam: 160)

Namun dalam hal ukuran, satu dosa yang dilakukan ketika Ramadan akan lebih berat dalam hal timbangan dan balasannya. Benar dosanya tetap satu dosa, tapi satu dosa itu lebih berat dari satu dosa, pada hari-hari biasa, dengan kemaksiatan yang sama. Allah ﷻ berfirman:

{وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ}

“Siapa yang bermaksud di dalam Masjidil Haram melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” [QS. al-Haj: 25]

Dalam ayat ini Allah ﷻ memersiapkan siksa yang tidak sebatas siksa, namun disifati dengan siksa yang pedih, bagi orang-orang yang melakukan tindak kezaliman di tempat yang Allah muliakan. Dari ayat ini ulama mengambil petikan hokum, bahwa dosa yang dilakukan pada tempat yang Allah muliakan, atau waktu yang Allah muliakan, akan menjadi berat dalam hal siksa yang didapatnya. Oleh karena Ramadan ialah bulan paling mulia di sisi Allah, maka demikian pula kondisi maksiat yang dilakulan di bulan tersebut.”

Lihat:

  • – Fataawaa Ibn Baaz,  XV/446-448
  • – Asy-Syarh al-Mumti’, V/262

 

Sumber:  Telah Tersebut di Atas

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam situs Nasehat Etam ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

Sumber: http://nasehatetam.com/read/282/serba-serbi-sebelum-Ramadan#sthash.CcwuaR6k.dpuf

, , ,

APAKAH DISYARIATKAN MENGUCAPKAN SALAM SETIAP KALI MELEWATI KUBURAN MUSLIMIN?

APAKAH DISYARIATKAN MENGUCAPKAN SALAM SETIAP KALI MELEWATI KUBURAN MUSLIMIN?
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  
#AdabAkhlak
#FatwaUlama
APAKAH DISYARIATKAN MENGUCAPKAN SALAM SETIAP KALI MELEWATI KUBURAN MUSLIMIN?
 
Pertanyaan:
Apakah disyariatkan mengucapkan salam ketika melewati kuburan Muslimin?
 
جـ: الأفضل أن يسلم حتى ولو كان ماراً؛ ولكن قصد الزيارة أفضل وأكمل
 
Jawaban asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah:
“Yang lebih utama ia tetap mengucapkan salam walau hanya sebatas lewat saja. Akan tetapi bila ia bermaksud pula untuk ziarah tentu hal ini lebih utama dan sempurna.”
 
Pertanyaan:
Saya tinggal di suatu daerah, yang di sana terdapat pemakaman kaum Muslimin, dan tiap hari saya melewati jalan yang berada di sisi kuburan itu. Bahkan dalam sehari lebih dari sekali saya melaluinya. Kewajiban apa yang harus saya jalankan dalam kondisi ini? Apakah saya mesti mengucapkan salam terus pada para penghuni kubur? Atau apa yang mesti saya lakukan? Berikanlah bimbingan kepadaku
 
جـ: ويشرع لك كلما مررت على القبور أن تسلم على أصحابها وتدعو لهم بالمغفرة والعافية، وليس ذلك واجبا، وإنما هو مستحب وفيه أجر عظيم، وإن مررت ولم تسلم فلا حرج
 
Jawaban asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah:
“Disyariatkan bagimu untuk mengucapkan salam, tiap kali kamu melewati kubur, dan juga memohonkan ampunan dan keselamatan tiap kali melewatinya.
 
Namun hal itu tidaklah wajib. Hukumnya ialah sunnah, dan pada amalan tersebut terdapat pahala yang besar. Sedang bila ia melewati kuburan tanpa mengucapkan salam, maka hal ini pun tidak dipermasalahkan.” [Melalui: al-Jaami’ li Fiqh al-‘Allamah Ibn Baaz, 420]
 
, ,

SALAM KETIKA LEWAT PEKUBURAN

SALAM KETIKA LEWAT PEKUBURAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#DoaZikir

SALAM KETIKA LEWAT PEKUBURAN

Bagi kita yang tinggal di wilayah yang melewati pemakaman kaum Muslimin, jangan lewatkan faidah-faidah penting berikut, dari pertanyaan yang diajukan kepada asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah.

Pertanyaan:
Apakah disyariatkan mengucapkan salam ketika melewati kuburan Muslimin?

جـ: الأفضل أن يسلم حتى ولو كان ماراً؛ ولكن قصد الزيارة أفضل وأكمل

Jawaban:
“Yang lebih utama ia tetap mengucapkan salam walau hanya sebatas lewat saja. Akan tetapi bila ia bermaksud pula untuk ziarah tentu hal ini lebih utama dan sempurna.”
Pertanyaan:
Saya tinggal di suatu daerah, yang di sana terdapat pemakaman kaum Muslimin, dan tiap hari saya melewati jalan yang berada di sisi kuburan itu. Bahkan dalam sehari lebih dari sekali saya melaluinya. Kewajiban apa yang harus saya jalankan dalam kondisi ini? Apakah saya mesti mengucapkan salam terus pada para penghuni kubur? Atau apa yang mesti saya lakukan? Berikanlah bimbingan kepadaku.

جـ: ويشرع لك كلما مررت على القبور أن تسلم على أصحابها وتدعو لهم بالمغفرة والعافية، وليس ذلك واجبا، وإنما هو مستحب وفيه أجر عظيم، وإن مررت ولم تسلم فلا حرج

Jawaban:
“Disyariatkan bagimu untuk mengucapkan salam, tiap kali kamu melewati kubur, dan juga memohonkan ampunan dan keselamatan tiap kali melewatinya.

Namun hal itu tidaklah wajib. Hukumnya ialah sunnah, dan pada amalan tersebut terdapat pahala yang besar. Sedang bila ia melewati kuburan tanpa mengucapkan salam, maka hal ini pun tidak dipermasalahkan.” [Melalui: al-Jaami’ li Fiqh al-‘Allamah Ibn Baaz, 420]

Ada beberapa lafal salam yang Shahih dari Nabi Muhammad ﷺ, di antaranya:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

 

ASSALAMU ’ALAIKUM AHLAD-DIYAAR MINAL MU’MINIINA WAL MUSLIMIIN. YARHAMULLOOHUL MUSTAQDIMIINA MINNAA WAL MUSTA’KHIRIIN.
WA INNA INSYAA ALLOOHU BIKUM LA-LAAHIQUUN
WA AS ALULLOOHA LANAA WALAKUMUL ‘AAFIYAH.
 
Artinya:
“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam.
Semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami, dan orang-orang yang datang belakangan.
Kami insya Allah akan menyusul kalian. Saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.”

Hadis ini diajarkan kepada A’isyah radhiyallahu ‘anha, ketika beliau bertanya kepada Nabi ﷺ  tentang doa yang dibaca pada saat ziarah kubur. [HR. Ahmad 25855, Muslim 975, Ibnu Hibban 7110, dan yang lainnya]

Bisa juga dengan bacaan yang lebih ringkas:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengunjungi kuburan, kemudian beliau berdoa:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

ASSALAAMU ‘ALAIKUM DAARO QOUMIN MUKMINIIN WA INNAA IN SYAA ALLOH BIKUM LAA HIQUUN.

Artinya:
“Keselamatan untuk kalian, wahai penghuni rumah kaum Mukiminin. Kami insyaaAllah akan menyusul kalian.” [HR. Muslim 249]

Wallahu a’lam, semoga bermanfaat.

 

Sumber:

http://www.nasehatetam.com/read/118/salam-ketika-lewat-pekuburan

https://konsultasisyariah.com/20865-doa-ziarah-kubur.html

,

SHALAT TASBIH, BID’AH ATAU SUNNAH?

SHALAT TASBIH, BID'AH ATAU SUNNAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#SifatShalatNabi

SHALAT TASBIH, BID’AH ATAU SUNNAH?

Pertama, Disyariatkan atau Tidak?

Terjadi silang pendapat di kalangan ulama tentang shalat Tasbih, apakah disyariatkan atau tidak? Letak silang pendapat dalam hal ini adalah berkaitan dengan perbedaan pendapat ulama tentang kedudukan hadis Shalat Tasbih.

Yang lebih kuat, bahwa hadis tentang Shalat Tasbih adalah hadis yang kuat. Walaupun pada banyak riwayatnya terdapat kelemahan, namun terdapat sebagian jalur riwayat yang kuat. Karena itu, hadis Shalat Tasbih telah dishahihkan oleh banyak ulama, dari dahulu hingga hari ini.

Kedua, Tata Cara Shalat

Shalat Tasbih bukanlah tergolong ke dalam shalat sunnah Mu’akkad (yang ditekankan pelaksanaannya), bahkan hanya dilakukan kadang-kadang saja.

Secara umum, Shalat Tasbih sama dengan tata cara shalat yang lain, hanya saja ada tambahan bacaan Tasbih yaitu:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Subhanallah wal hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbar

Lafal ini diucapkan sebanyak 75 kali pada tiap rakaat, dengan perincian sebagai berikut:

–   Sesudah membaca Al-Fatihah dan surah sebelum ruku, sebanyak 15 kali,

–   Ketika ruku’ sesudah membaca doa ruku’, dibaca lagi sebanyak 10 kali,

–   Ketika bangun dari ruku’ sesudah bacaan i’tidal, dibaca 10 kali,

–   Ketika sujud pertama sesudah membaca doa sujud, dibaca 10 kali,

–   Ketika duduk di antara dua sujud sesudah membaca bacaan antara dua sujud, dibaca 10 kali,

–   Ketika sujud yang kedua sesudah membaca doa sujud, dibaca lagi sebanyak 10 kali,

–   Ketika bangun dari sujud yang kedua sebelum bangkit (duduk istirahat), dibaca lagi sebanyak 10 kali.

Demikianlah rinciannya, bahwa Shalat Tasbih dilakukan sebanyak empat rakaat dengan sekali Tasyahud, yaitu pada rakaat yang keempat, lalu salam. Bisa juga dilakukan dengan cara dua rakaat-dua rakaat, di mana setiap dua rakaat membaca tasyahud, kemudian salam. Wallahu A’lam.

Ketiga, Jumlah Rakaat

Semua riwayat menunjukkan empat rakaat, dengan Tasbih sebanyak 75 kali di setiap rakaat. Jadi keseluruhannya 300 kali Tasbih.

Keempat, Waktu Shalat

Waktu Shalat Tasbih yang paling utama adalah sesudah tenggelamnya matahari, sebagaimana dalam riwayat Abdullah bin Amr. Tetapi dalam riwayat Ikrimah yang mursal diterangkan, bahwa boleh malam hari dan boleh siang hari. Wallahu A’lam.

Terdapat pilihan dalam shalat ini. Jika mampu, bisa dikerjakan tiap hari. Jika tidak mampu, bisa tiap pekan. Jika masih tidak mampu, bisa tiap bulan. Jika tetap tidak mampu, bisa tiap tahun, atau hanya sekali seumur hidup. Karena itu, hendaklah kita memilih mana yang paling sesuai dengan kondisi kita masing-masing.

Hadis tentang shalat Tasbih adalah hadis yang tsabit/sah dari Rasulullah ﷺ. Maka boleh diamalkan sesuai dengan tata cara yang telah disebutkan di atas.

Demikian kesimpulan dari Shalat Tasbih dari makalah kami yang pernah dimuat di Risalah ‘Ilmiyyah An-Nashihah vol. 1.

Wallahu A’lam.

Untuk melengkapi pembahasan yang singkat ini, maka disertakan penyimpangan-penyimpangan (bid’ah–bid’ah) yang banyak terjadi sekitar pelaksanaan shalat Tasbih, di antaranya:

  1. Mengkhususkan pada malam Jumat saja.
  2. Dilakukan secara berjamaah terus menerus.
  3. Diiringi dengan bacaan-bacaan tertentu sebelum shalat ataupun sesudah shalat.
  4. Tidak mau shalat kecuali bersama imamnya atau jamaahnya atau tariqatnya.
  5. Tidak mau shalat kecuali di mesjid tertentu.
  6. Keyakinan sebagian yang melakukannya bahwa rezekinya akan bertambah dengan Shalat Tasbih.
  7. Membawa binatang-binatang tertentu untuk disembelih sebelum atau sesudah shalat Tasbih, disertai dengan keyakinan-keyakinan tertentu.

(Dengan tambahan Takhrij Hadis dari Ustadz Dzulqarnain)

 

[Jawaban di atas dinukil dari tulisan Ustadz Luqman Jamal -hafizhahullah- di majalah An-Nashihah]

Sumber: http://al-atsariyyah.com/shalat-tasbih.html

,

BERSIHKAN RANJANGMU SEBELUM TIDUR

BERSIHKAN RANJANGMU SEBELUM TIDUR
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#AdabAkhlak
#MutiaraSunnah
 
BERSIHKAN RANJANGMU SEBELUM TIDUR
 
Informasi yang sangat berharga!
Hikmah di balik mengibas debu di sprei kasur sebelum tidur.
Mengapa kita harus mengibas debu seprai kita?
Ini adalah apa yang kita akan ungkapkan, dan di sinilah tantangan ilmiah dan kesimpulan oleh para ilmuwan Barat:
 
Ketika seseorang tidur, beberapa sel-sel mati dan jatuh ke spreinya. Dan setiap kali kita bangun, ia akan akan tertinggal di belakang dan terakumulasi. Sel-sel mati ini tidak terlihat oleh mata telanjang, dan hampir tidak dapat dihancurkan.
Ketika jumlah sel-sel mati meningkat, maka akan dengan mudah menembus kembali ke dalam tubuh, yang dapat menyebabkan penyakit serius.
Ini ilmu Barat mencoba untuk menghancurkan sel menggunakan berbagai disinfektan seperti Dettol dan sejenisnya, tapi semua sia-sia. Sel-sel mati tidak pindah atau menghilang.
Salah satu ilmuwan mengatakan, ia mencoba mengibas debu tiga kali seperti dalam hadis dan ia tercengang menemukan, bahwa semua sel-sel mati menghilang!!
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَأْخُذْ دَاخِلَةَ إِزَارِهِ فَلْيَنْفُضْ بِهَا فِرَاشَهُ وَلْيُسَمِّ اللهَ فَإِنَّهُ لاَ يَعْلَمُ مَا خَلَفَهُ بَعْدَهُ.
 
“Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain, dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan: ‘Bismillaah,’ karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” [HR. Al-Bukhari no. 6320, Muslim no. 2714, at-Tirmidzi no. 3401 dan Abu Dawud no. 5050. Lafal yang seperti ini berdasarkan riwayat Muslim]
Kebanyakan orang berpikir itu adalah cara menghilangkan serangga kecil, tapi tidak tahu bahwa masalah ini jauh lebih besar dari itu.
Hal ini sangat menyedihkan bila kita temukan, bahwa kebanyakan dari kita mengabaikan ajaran Nabi ﷺ.
Silakan di-share dan biarkan seluruh dunia tahu, bahwa apa pun perintah Allah ﷻ adalah untuk kepentingan dan kebaikan manusia.
Wallahu a’lam.
,

PERBANYAKLAH MENGINGAT DAN MENYEBUT NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALAM

PERBANYAKLAH MENGINGAT DAN MENYEBUT NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir
#SholawatNabi

PERBANYAKLAH MENGINGAT DAN MENYEBUT NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALAM

  • Di Antara Bukti dan Tanda Cinta Kepada Nabi ﷺ

Karena orang yang mencintai sesuatu, tentu akan banyak mengingat dan menyebutnya. Ini menjadi sebab tumbuh dan bersinambungnya kecintaan. Yang dimaksud banyak mengingat dan menyebut beliau ﷺ, tentunya dalam hal yang disyariatkan. Di antaranya adalah menyampaikan shalawat dan salam kepada beliau ﷺ, untuk mengamalkan firman Allah:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi, dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” [Faathir : 56].

Juga hadis Nabi ﷺ yang berbunyi :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَهَبَ ثُلُثَا اللَّيْلِ قَامَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا اللَّهَ اذْكُرُوا اللَّهَ جَاءَتْ الرَّاجِفَةُ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيهِ جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيهِ قَالَ أُبَيٌّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي فَقَالَ مَا شِئْتَ قَالَ قُلْتُ الرُّبُعَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ النِّصْفَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ قُلْتُ فَالثُّلُثَيْنِ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

Rasulullah ﷺ, dulu, bila berlalu dua pertiga malam, beliau bangun dan berkata: “Wahai, sekalian manusia! Berzikirlah kepada Allah, berzikirlah kepada Allah. Pasti datang tiupan Sangkakala pertama yang diikuti dengan yang kedua. Datang kematian dengan kengeriannya, datang kematian dengan kengeriannya”.

Ubai berkata: Aku bertanya: ”Wahai, Rasulullah! Aku memerbanyak shalawat untukmu. Berapa banyak aku bershalawat untukmu?”

Beliau ﷺ menjawab: ”Sesukamu.” Lalu Ubai berkata lagi:  Aku berkata: ”Seperempat.”

Beliau ﷺ berkata: ”Terserah. Tetapi jika engkau tambah, maka itu lebih baik.” Aku berkata: ”Setengahnya.”

Beliau ﷺ menjawab lagi: “Terserah, tetapi jika engkau tambah, maka itu lebih baik bagimu.” Maka aku berkata lagi: “Kalau begitu, dua pertiga”.

Beliau ﷺ menjawab: ”Terserah. Jika engkau kamu tambah, maka itu lebih baik bagimu.” Lalu aku berkata: ”Aku jadikan seluruh (doaku) adalah shalawat untukmu,” Maka Rasulullah ﷺ menjawab: “Jika begitu (shalawat) itu mencukupkan keinginanmu (dunia dan Akhirat) dan Allah akan mengampuni dosamu”. [HR at Tirmidzi, kitab Sifat al Qiyamah, no. 2457 dan Syaikh al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah (no. 954) menyatakan sanadnya Hasan, karena perbedaan ulama yang terkenal tentang Ibnu Uqail]

Ibnul Qayyim menyatakan: Syaikh kami Abul Abas Ibnu Taimiyah ditanya tentang tafsir hadis ini, beliau mengatakan, waktu itu Ubai memiliki doa yang digunakan untuk dirinya sendiri. Lalu Nabi ﷺ bertanya: Apakah ia menjadikan seperempat doanya juga untuk bershalawat kepada beliau ﷺ? Lalu beliau ﷺ berkata lagi: “… Jika engkau tambah, maka itu lebih baik bagimu.” Dia menjawab: “Setengahnya”. Lalu beliau ﷺ berkata: “… Jika engkau tambah, maka itu lebih baik bagimu.” Sampai kemudian Ubai menyatakan: “Aku jadikan seluruh (doaku) adalah shalawat untukmu”. Lalu Rasulullah ﷺ menjawab: “Jika begitu (shalawat) itu mencukupkan keinginanmu (dunia dan Akhirat) dan Allah akan mengampuni dosamu”. Demikian ini, karena orang yang bershalawat satu kali untuk Nabi ﷺ, ia akan mendapatkan shalawat dari Allah sepuluh kali. Dan barang siapa yang mendapat shalawat Allah, maka tentu akan dapat mencukupi semua keinginannya, dan diampuni dosa-dosanya. Inilah pengertian ucapan beliau ﷺ. [Jala’ al Afhaam fi Fadhli ash Shalat wa as Salam ‘ala Khairil Anam, Ibnul Qayyim, tahqiq Zaid bin Ahmad an Nasyiri, Cet. Pertama, Th. 1425H, Dar ‘Alam al Fawaaid, hlm. 76]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/2670-bukti-dan-tanda-cinta-nabi-shallallahu-alaihi-wa-salam.html