Posts

, , ,

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong. “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” [HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadis ini Maudhu’]. Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [Madarijus Salikin, 1: 176]

Hadis di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadis berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain), dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan [Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri]

Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihati berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan, dan merasa diri lebih baik dari orang lain.

Jangan sombong sampai merasa bersih dari dosa, atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.

Semoga Allah memberikan hidayah demi hidayah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/11241-mengejek-orang-yang-berbuat-dosa.html

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com
,

MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah, #TazkiyatunNufus

MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA
.
Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa, sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong: “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”
.
Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati, kecuali mengamalkan dosa tersebut.” (HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadis ini Maudhu’). Imam Ahmad menjelaskan, bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.
.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” (Madarijus Salikin, 1: 176)
.
Hadis di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadis berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain) dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan. [Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri].
.
Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihati berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan, dan merasa diri lebih baik dari orang lain.
.
Jangan sombong, sampai merasa bersih dari dosa, atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.

Semoga Allah memberikan hidayah demi hidayah.
.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber: https://rumaysho.com/11241-mengejek-orang-yang-berbuat-dosa.html

JANGANLAH ENGKAU MENGHINA KESALAHAN SAUDARAMU

JANGANLAH ENGKAU MENGHINA KESALAHAN SAUDARAMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#NasihatUlama

JANGANLAH ENGKAU MENGHINA KESALAHAN SAUDARAMU

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

إن تعييرك لأخيك بذنبه؛ أعظم إثماً من ذنبه؛ وأشد من معصيته

“Engkau menjelek-jelekkan saudaramu dengan dosa yang dia lakukan. Maka perbuatan itu LEBIH BESAR dari dosanya dan LEBIH BERAT dari kemaksiatannya.”

 

Sumber: Shahih Fiqih

,

BERSABARLAH KETIKA KAMU DIPEROLOKKAN

BERSABARLAH KETIKA KAMU DIPEROLOKKAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

BERSABARLAH KETIKA KAMU DIPEROLOKKAN

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

واصبر على ما يقال فيك من استهزاء وسخرية؛ لأن أعداء الدين كثيرون

“Bersabarlah atas ejekan dan penghinaan yang diarahkan kepadamu, karena sesungguhnya musuh-musuh agama itu banyak.”

[Syarah al ‘Aqidah al Wasithiyyah 2/377]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

,

JANGAN SEMBARANGAN MELAKNAT

JANGAN SEMBARANGAN MELAKNAT

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak

JANGAN SEMBARANGAN MELAKNAT

Seorang Mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaknya), dan bukan orang yang jorok omongannya

Hendaknya kita berhati-hati dalam masalah laknat, bahkan kepada orang kafir sekalipun. Orang kafir yang masih hidup tidak boleh ditujukan laknat kepadanya secara personal. Hukumnya haram melaknat orang kafir secara personal yang masih hidup. Karena boleh jadi Allah merahmati dia, sehingga dia mendapatkan hidayah untuk masuk Islam.

Dalilnya adalah ketika Nabi ﷺ mendoakan laknat untuk Abu Jahl, begitu juga orang-orang musyrik Quraisy lainnya, Allah ta’ala menegur beliau ﷺ melalui firman-Nya:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

“Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim” (QS. Ali imran:128).

Adapun untuk orang kafir yang sudah meninggal, maka boleh bagi Anda untuk mendoakan laknat untuknya. Karena orang yang mati dalam keadaan kafir, maka dia sudah pasti mendapatkan laknat Allah ‘azza wa jalla.

Meskipun boleh, bagi seorang Mukmin meninggalkannya lebih utama, karena Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

“Seorang Mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaknya), dan bukan orang yang jorok omongannya” (HR. Tirmidzi, no. 1977; Ahmad, no. 3839 dan lain-lain)

Dan tanpa Anda laknat sekalipun, mereka telah divonis oleh Allah sebagai orang-orang terlaknat. Dan cukuplah ini bagi kita:

إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا

Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir, dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (Neraka).

خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka tidak memeroleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong (QS. Al-Ahzab: 64-65).

Bila melaknat secara personal orang kafir saja terlarang, maka melaknat seorang Muslim tentu lebih terlarang lagi. Sungguh mengherankan bila seorang Muslim begitu mudah mengucapan laknat kepada saudaranya, padahal perkara laknat ini adalah perkara yang besar.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang melaknat seorang Mukmin, maka ia seperti membunuhnya.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya 10/464).

Beliau ﷺ juga bersabda: “Orang yang banyak melaknat tidak akan diberi syafaat, dan syahadatnya tidak akan diterima pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim dalam Shahihnya no. 2598 dari Abi Darda radhiallahu ‘anhu)

Jadilah insan Muslim yang santun dan lembut tutur katanya. Nabi kita ﷺ adalah nabi yang penuh dengan kasih sayang. Beliau ﷺ pernah bersabda:

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

“Sesunguhnya aku tidak diutus sebagai tukang melaknat. Sesungguhnya aku diutus hanya sebagai rahmat.”

____

(Faidah dari rekaman muhadhoroh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah di Masjid Nabawi)

 

Penulis: Ahmad Anshori

[Muslim.Or.Id]

Sumber: http://Muslim.or.id/23309-jangan-sembarang-melaknat.html

 

,

BERDOALAH KETIKA MENDENGAR AYAM BERKOKOK DI TENGAH MALAM

BERDOALAH KETIKA MENDENGAR AYAM BERKOKOK DI TENGAH MALAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

BERDOALAH KETIKA MENDENGAR AYAM BERKOKOK DI TENGAH MALAM

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ فَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ، فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا، وَإِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا

“Apabila kalian mendengar ayam berkokok, mintalah karunia Allah (berdoalah), karena dia melihat malaikat. Dan apabila kalian mendengar ringkikan keledai, mintalah perlindungan  kepada Allah dari setan, karena dia melihat setan.” (HR. Bukhari 3303 dan Muslim 2729).

Dalam riwayat Ahmad, terdapat keterangan tambahan, ’di malam hari’,

إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ مِنَ اللَّيْلِ، فَإِنَّمَا رَأَتْ مَلَكًا، فَسَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ

Apabila kalian mendengar ayam berkokok di malam hari, sesungguhnya dia melihat Malaikat. Karena itu, mintalah kepada Allah karunia-Nya. (HR. Ahmad 8064 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Keistimewaan Ayam Jantan

Rasulullah ﷺ menjadikan bunyi kokok ayam jantan di waktu malam sebagai penanda kebaikan, dengan datangnya Malaikat dan kita dianjurkan berdoa. Ini bagian dari keistimewaan ayam.

Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan:

وللديك خصيصة ليست لغيره من معرفة الوقت الليلي فإنه يقسط أصواته فيها تقسيطا لا يكاد يتفاوت ويوالي صياحه قبل الفجر وبعده لا يكاد يخطئ سواء أطال الليل أم قصر ومن ثم أفتى بعض الشافعية باعتماد الديك المجرب في الوقت

Ayam jantan memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki binatang lain, yaitu mengetahui perubahan waktu di malam hari. Dia berkokok di waktu yang tepat dan tidak pernah ketinggalan. Dia berkokok sebelum Subuh dan sesudah Subuh, hampir tidak pernah meleset. Baik malamnya panjang atau pendek. Karena itulah, sebagian Syafiiyah memfatwakan, untuk mengacu kepada ayam jantan yang sudah terbukti dalam menentukan waktu. (Fathul Bari, 6/353).

Mengambil Pelajaran dari Ayam Jago

Al-Hafidz Ibn Hajar menukil keterangan dari ad-Dawudi:

قال الداودي يتعلم من الديك خمس خصال حسن الصوت والقيام في السحر والغيرة والسخاء وكثرة الجماع

Ad-Dawudi mengatakan, kita bisa belajar dari ayam jantan lima hal:

  • Suaranya yang bagus,
  • Bangun di waktu sahur,
  • Sifat cemburu,
  • Dermawan (suka berbagi), dan
  • Sering jimak. (Fathul Bari, 6/353).

Mengapa Dianjurkan Berdoa?

Kita dianjurkan berdoa ketika mendengar ayam berkokok, karena dia melihat Malaikat. Karena kehadiran makhluk baik ini, kita berharap doa kita dikabulkan.

Al-Hafidz Ibn Hajar menukil keterangan Iyadh:

قال عياض كان السبب فيه رجاء تأمين الملائكة على دعائه واستغفارهم له وشهادتهم له بالإخلاص

Iyadh mengatakan, alasan kita dianjurkan berdoa ketika ayam berkokok adalah mengharapkan ucapan aamiin dari Malaikat untuk doa kita, dan permohonan ampun mereka kepada kita, serta persaksian mereka akan keikhlasan kita. (Fathul Bari, 6/353).

Tidak Boleh Mencela Ayam Jago

Dalam hadis dari Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَسُبُّوا الدِّيكَ فَإِنَّهُ يُوقِظُ لِلصَّلَاةِ

Janganlah mencela ayam jago, karena dia membangunkan (orang) untuk shalat. (HR. Ahmad 21679, Abu Daud 5101, Ibn Hibban 5731 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Al-Hafidz Ibn Hajar menukil keterangan al-Halimi:

قال الحليمي يؤخذ منه أن كل من استفيد منه الخير لا ينبغي أن يسب ولا أن يستهان به بل يكرم ويحسن إليه قال وليس معنى قوله فإنه يدعو إلى الصلاة أن يقول بصوته حقيقة صلوا أو حانت الصلاة بل معناه أن العادة جرت بأنه يصرخ عند طلوع الفجر وعند الزوال فطرة فطره الله عليها

Al-Halimi mengatakan:

Disimpulkan dari hadis ini, bahwa semua yang bisa memberikan manfaat kebaikan, tidak selayaknya dicela dan dihina. Sebaliknya dia dimuliakan dan disikapi dengan baik. Sabda beliau ﷺ: ‘Ayam mengingatkan (orang) untuk shalat’ bukan maksudnya dia bersuara: ‘Shalat..shalat..’ atau ‘Waktunya shalat…’.Namun maknanya, bahwa kebiasaan ayam berkokok ketika terbit fajar dan ketika tergelincir matahari. Fitrah yang Allah berikan kepadanya. (Fathul Bari, 6/353).

Allahu a’lam.

 

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/23982-doa-ketika-ayam-berkokok.html

 

,

JANGAN KARENA ALMAIDAH AYAT 51 DIHINA, LALU LUPA THA-HA AYAT 43 – 44, PADAHAL DI SITU ADA SOLUSINYA

JANGAN KARENA ALMAIDAH AYAT 51 DIHINA, LALU LUPA THA-HA AYAT 43 – 44, PADAHAL DI SITU ADA SOLUSINYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajSalaf

#DakwahTauhid

JANGAN KARENA ALMAIDAH AYAT 51 DIHINA, LALU LUPA THA-HA AYAT 43 – 44, PADAHAL DI SITU ADA SOLUSINYA

  • Demontrasi Bukan Solusi, Lalu Seperti Apa Solusinya?

Di dalam Alquran, Allah memerintahkan kita agar menetapi jalan petunjuk yang lurus. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴿١٥٣﴾

“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutIlah Dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. Yang demikian itu diperintahkan Allah, agar kamu bertakwa” [QS. Al-an-am: 153]

Pertama:

Demontrasi ini digunakan untuk menolong agama Allah, dan menurut pelakunya, merupakan ibadah, bagian dari JIHAD. Dari sudut pandang ini, demontrasi merupakan bid’ah, dan perkara yang diada-adakan di dalam agama. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Siapa saja yang membuat ajaran baru dalam agama ini dan bukan termasuk bagian darinya, maka akan tertolak” [HR. Muttafaqun’alaih]

Kedua:

Di dalam demonstrasi ada Tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang orang kafir. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka” [Hasan. HR. Abu Dawud].

Ketiga:

Jika ada orang yang mengatakan: Demonstrasi merupakan amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka kita katakan: Kemungkaran tidak boleh diingkari dengan kemungkaran lagi. Karena kemungkaran tidak akan diingkari, kecuali oleh orang yang bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, sehingga dia akan mengingkari kemungkaran tersebut atas dasar ilmu dan pengetahuan. Tidak mungkin kemungkaran bisa diingkari dengan cara seperti ini.

Keempat:

Islam memberikan prinsip, bahwa segala sesuatu yang kerusakannya lebih banyak dari kebaikannya, maka dihukumi Haram.

Kelima:

Demontrasi merupakan kunci yang akan menyeret pelakunya untuk memberontak terhadap penguasa. Padahal kita dilarang melakukan pemberontakan, dengan cara tidak membangkang terhadap mereka. Betapa banyak demontrasi yang mengantarkan suatu negara dalam kehancuran, sehingga timbul pertumpahan darah, perampasan kehormatan dan harta benda, serta tersebarlah kerusakan yang begitu luas. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Hilangnya dunia lebih ringan di sisi Allah, di bandingkan tertumpahnya darah satu orang Muslim” [HR. an-Nasa’i]

Coba lihat negara negara Timur Tengah seperti Mesir, Yaman, Irak, Suriah, Libia, dan yang lainya. Apakah kalian mau seperti mereka? Negerinya tidak aman. Anak anak tidak bisa belajar, tidak bisa beribadah dengan tenang, para orang tua tidak bisa mencari nafkah dengan tenang. Awalnya dari DEMONTRASI. Alaahul Musta’aan

Keenam:

Para pendemo hakikatnya mengantarkan jiwa mereka menuju pembunuhan dan siksaan, berdasarkan firman-Nya:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا﴿٢٩﴾

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” [QS. An-Nisaa: 29]

Karena pasti akan terjadi bentrokan antara para demontrasi dan penguasa keamanan, sehingga mereka akan disakiti dan dihina. Nabi ﷺ bersabda:

“Seorang Mukmin tidak boleh menghinakan dirinya. Beliau ﷺ ditanya: Bagaimana seorang Mukmin menghinakan dirinya? Beliau ﷺ menjelaskan: (yakni) dia menanggung bencana di luar batas kemampuannya” [Hasan. HR. Turmudzi]

Solusi

Allah Subhanahu wa ta’ala mengabadikan kisah seorang penguasa kafir yang sangat zalim, yaitu Fir’aun. Dan Allah juga mengabadikan orang saleh di zaman itu, yaitu Nabi Musa a’laihi sallam dan Nabi Harun ‘alaihi sallam. Lihat bagaimana mereka menasihati penguasa yang kafir dan zalim. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ﴿٤٣﴾

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ﴿٤٤﴾

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia benar-benar telah melampau batas. Maka bicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah mudahan dia sadar dan takut” [QS. Tha-ha: 43, 44]

Beginilah cara beragama yang benar. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh, siapa saja di antara kalian yang hidup setelahku, pasti akan menjumpai perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah al-Khulafa’ar-Rasyidin yang telah diberi petunjuk sepeninggalku”. [Shahih. HR. Tirmidzi dan Abu Dawud]

Alquran itu bukan surah Ma’idah ayat 51 saja. Akan tetapi Allah juga menurunkan surah Tha-ha ayat 43 dan 44 sebagai solusinya. Coba kita lihat dan baca dan pahami, lalu kita amalkan surah Tha-ha ini. InsyaALLAH kita tidak akan seperti ini.

  • Kalau dibandingkan, mana yang lebih besar kekafirannya, Fir’aun atau orang-orang yang kafir yang ada di zaman sekarang ini?
  • Kalau dibandingkan mana yang lebih saleh, Nabi Musa atau orang-orang yang ada di zaman sekarang ini?

Nabi Musa saja diperintahkan oleh Allah untuk menasihati penguasa yang kafir (Fir’aun) dengan lemah lembut. Masa kita yang jauh kesalehannya apabila di bandingkan dengan Nabi Musa ‘alahi sallam, menyikapi penguasa yang kafir dengan demontrasi, dengan turun ke jalan?

Mau di ke manakankah surah Tha-ha ini?

Ingat, hidayah milik Allah

Berdoalah kepada Allah, supaya kita istiqomah di dalam jalan yang lurus. Tidak lupa pula, semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada para penguasa Muslim, agar mereka memberikan yang terbaik bagi negeri dan rakyatnya. Dan lebih dari itu, semoga Allah menolong para penguasa Muslim tersebut untuk berhukum dengan Alquran dan Sunnah Nabi-Nya… Aamiin.

Semoga Allah memberikan shalawat dan salam-Nya kepada Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘a’laihi wa sallam, beserta keluarganya…. Aamiin

Semoga bermanfaat

Janji Allah

Allah Subhanahu wa ta ‘ala berjanji akan memberikan (HADIAH) KEKUASAAN (KEKHILAFAHAN) di muka bumi ini kepada hambanya dengan syarat MENAUHIDKAN ALLAH

Allah Subhanahu wa ta ‘ala berfirman (yang artinya):

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴿٥٥﴾

“Allah telah MENJANJIKAN orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal saleh, Dia akan benar-benar MEMBERIKAN (HADIAH) KEPADAMU KEKUASAAN (KEKHILAFAHAN ISLAM) di atas bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa.

MEREKA TETAP MENYEMBAH-KU DENGAN TIDAK MEMERSEKUTUKAN SESUATU APAPUN DENGAN-KU (MENAUHIDKAN ALLAH)

Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik [QS. An-Nur: 55].

Benahi Akidahmu

Syeikh Al-Albani berkata:

Kita semua adalah tauladan dalam mengatasi setiap masalah umat di zaman kita sekarang ini, bahkan di setiap masa. Artinya kita WAJIB memrioritaskan, apa apa yang diprioritaskan, yakni:

➡ Memerbaiki kerusakan AKIDAH kaum Muslimin. Maka jadikanlah DAKWAH PERTAMAMU agar mereka MENAUHIDKAN ALLAH Subhanahu wa ta’ala.

➡ Memerbaiki PERIBADAHAN mereka dengan memerhatikan SYARAT diterimanya IBADAH:

  1. Ibadah yang kita lakukan harus IKHLAS.
  1. Ibadah yang kita lakukan harus SESUAI dengan apa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.

➡ Memerbaiki perilaku mereka, AKHLAK mereka

KHILAFAH atau KEKUASAAN bukanlah tujuan agama. Tujuan agama adalah MENAUHIDKAN ALLAH.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan) BERIBADAHLAH HANYA KEPADA ALLAH (saja), dan jauhilah Thagut [QS. An-Nahl: 36]

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ﴿٢٥﴾

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwa tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi dengan benar) selain Aku. Maka IBADAHILAH AKU oleh kamu sekalian [QS. Al-Anbiya: 25].

InIlah DAKWAH para Nabi dan Rasul diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala ke Dunia ini, yakni: DAKWAH TAUHID.

 

Sumber: Majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyyah Vol 5 No. 5 Edisi 29-Rabiuts Tsani 1428H

 

,

SIKAP PENGUASA TERHADAP PENCELA SAHABAT NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU’ALAIHI WA SALLAM

SIKAP PENGUASA TERHADAP PENCELA SAHABAT NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU'ALAIHI WA SALLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

SIKAP PENGUASA TERHADAP PENCELA SAHABAT NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU’ALAIHI WA SALLAM

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

من لعن أحدا من أصحاب النبى صلى الله عليه وسلم كمعاوية بن أبى سفيان وعمرو بن العاص ونحوهما ومن هو أفضل من هؤلاء كأبى موسى الأشعرى وأبى هريرة ونحوهما أو من هو أفضل من هؤلاء كطلحة والزبير وعثمان وعلى بن أبى طالب أو أبى بكر الصديق وعمر أو عائشة أم المؤمنين وغير هؤلاء من أصحاب النبى صلى الله عليه وسلم فإنه مستحق للعقوبة البليغة باتفاق أئمة الدين وتنازع العلماء هل يعاقب بالقتل أو ما دون القتل

“Barang siapa melaknat salah seorang sahabat Nabi ﷺ seperti Mu’awiyah bin Abi Sufyan, ‘Amr bin Al-‘Ash dan selain keduanya, apalagi yang lebih afdhal dari mereka, seperti Abu Musa Al-‘Asy’ari, Abu Hurairah dan selain keduanya, atau yang lebih afdhal lagi dari mereka, seperti Thalhah, Az-Zubair, ‘Utsman dan Ali bin Abi Thalib, atau Abu Bakr Ash-Shiddiq dan Umar, atau Aisyah Ummul Mukminin dan para sahabat Nabi ﷺ selain mereka, maka ia pantas mendapatkan hukuman yang berat, menurut kesepakatan para ulama Islam. Hanya saja ulama berbeda pendapat, apakah ia dihukum mati, atau tidak sampai dihukum mati.”

[Majmu’ Al-Fatawa, 35/58]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1907617096137759:0

BERHATI-HATILAH DARI BERMAIN-MAIN DENGAN HAL KAUM MUSLIMIN

BERHATI-HATILAH DARI BERMAIN-MAIN DENGAN HAL KAUM MUSLIMIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

BERHATI-HATILAH DARI BERMAIN-MAIN DENGAN HAL KAUM MUSLIMIN

Janganlah merasa aman dari siksa yang abadi, selagi di atas kesalahan. Sesungguhnya demi Allah, kamu tidak mengetahui, ternyata musuhmu yang paling keras adalah saudaramu juga yang Muslim. Kamu mengetahui hak-hak seorang Muslim, dan alangkah bahayanya jika sampai terjerumus ke dalam pelanggaran terhadapnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Mencela orang Muslim adalah kefasikan, membunuhnya adalah kekufuran.” (Muttafaq ‘alaih dari hadis Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Cukuplah bagi seseorang (dikatakan) berbuat keburukan dengan menghina saudaranya yang Muslim.” (Riwayat Muslim dari hadis Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu)

Keburukan yang membuat seseorang melecehkan seorang Muslim, jauh melebihi keburukan-keburukan lainnya. Cukuplah baginya musibah perbuatan ini. Ia telah membebankan dirinya dengan menanggung sesuatu, yang ia tidak mampu menanggungnya. Hati-hatilah dari bermain-main dengan hal kaum Muslimin. Rasulullah ﷺ telah bersabda:

“Barang siapa yang makan hak seorang Muslim satu kali, maka Allah Azza wa Jalla akan memberinya makan dengan yang semisalnya, dari Neraka Jahannam. Barang siapa yang merampas pakaian seorang Muslim, maka Allah akan pakaikan padanya pakaian yang semisalnya, pada Hari Kiamat dari Neraka Jahannam.” (Riwayat Hakim, Abu Dawud dan Imam Ahmad dari Al Mustaurid bin Syaddad)

Perhatikanlah, alangkah mengerikan siksa bagi orang yang memeralat orang Muslim sebagai sarana untuk memeroleh tujuan dan angan-angannya. Cukuplah kamu menjadi penasihat bagi kaum Muslimin, dan jagalah dirimu. Hanya Allah tempat meminta pertolongan.

 

Sumber: https://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-nasehat-jangan-membela-kebatilan/