Posts

, ,

AKU HERAN…!

AKU HERAN...!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

AKU HERAN…!

Sebagian Ulama Salaf rahimahumullah berkata:

يا رب، عجبت لمن يعرفك كيف يرجو غيرك، وعجبت لمن يعرفك كيف يستعين بغيرك

“Wahai Rabb, aku heran terhadap orang yang mengenal-Mu. Mengapa ia masih mengharap kepada selain-Mu? Dan aku heran terhadap orang yang mengenal-Mu. Mengapa ia masih meminta tolong kepada selain-Mu?”

[Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam: 182]

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/740980576051427:0

,

KENAPA ENGKAU TIDAK IKHLAS SAJA DALAM BERAMAL?

KENAPA ENGKAU TIDAK IKHLAS SAJA DALAM BERAMAL?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

KENAPA ENGKAU TIDAK IKHLAS SAJA DALAM BERAMAL?

Sebenarnya jika seseorang memurnikan amalannya hanya untuk mengharap wajah Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya dunia pun akan menghampirinya, tanpa mesti dia cari-cari. Namun jika seseorang mencari-cari dunia, dan dunia yang selalu menjadi tujuannya dalam beramal, memang benar dia akan mendapatkan dunia, tetapi sekadar yang Allah takdirkan saja. Ingatlah ini … !!

Semoga sabda Nabi ﷺ bisa menjadi renungan bagi kita semua:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barang siapa yang niatnya adalah untuk menggapai Akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya. Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh, kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Lihat penjelasan hadis ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7/139)

Marilah kita ikhlaskan selalu niat kita ketika kita beramal. Murnikanlah semua amalan hanya untuk menggapai rida Allah. Janganlah niatkan setiap amalanmu hanya untuk meraih kenikmatan dunia semata. Ikhlaskanlah amalan tersebut pada Allah, niscaya dunia juga akan engkau raih. Yakinlah hal ini…!!

Semoga Allah selalu memerbaiki akidah dan setiap amalan kaum Muslimin. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka, ke jalan yang lurus.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : https://rumaysho.com/641-amat-disayangkan-banyak-sedekah-hanya-untuk-memperlancar-

 

,

BANTAHAN SYUBHAT BOLEHNYA UCAPKAN SELAMAT NATAL DENGAN DALIL QS ZUHKRUF AYAT 89

BANTAHAN SYUBHAT BOLEHNYA UCAPKAN SELAMAT NATAL DENGAN DALIL QS ZUHKRUF AYAT 89

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

BANTAHAN SYUBHAT BOLEHNYA UCAPKAN SELAMAT NATAL DENGAN DALIL QS ZUHKRUF AYAT 89

Ada sekelompok orang yang menggunakan ayat berikut ini sebagai dalil bolehnya mengucapkan selamat Natal atau bahkan dalil bolehnya Natalan. Allah ta’ala berfirman:

فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَامٌ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: “Salam (selamat tinggal).” Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk).

Yang berikut ini adalah beberapa poin SANGGAHANNYA:

Apakah orang yang menggunakan lafaz سَلَام  Salamun dalam ayat ini untuk konteks ayat surat Maryam ayat 33 bermaksud agar dapat menghasilkan kesimpulan bolehnya mengucapkan selamat Natal? Jika demikian, inilah yang namanya othak-athik-gathuk. Bongkar-pasang sana sini, demi mencapai tujuan yang diinginkan.

  • Pertama, para ulama berbeda pendapat mengenai memulai ucapan salam kepada non-Muslim. Yang dimaksud ucapan salam di sini adalah mendoakan keselamatan semacam “Assalamu’alaikum“. Jika ini pembahasannya, maka Zuhkruf ayat 89 ini salah satu dalil yang dibahas. Namun kalau untuk membahas selamat Natal, maka TIDAK nyambung.
  • Kedua, jika kita membaca keseluruhan ayat, dan juga berdasarkan keterangan para ulama ahli tafsir, makna ayat ini jelas. Yaitu, Nabi ﷺ mengajak orang kafir Quraisy untuk beriman menyembah Allah semata, dengan menyampaikan segala argumen, namun mereka menolak. Maka ya sudah, tinggalkan, tidak perlu ngotot jika memang mereka ngeyelan. Kira-kira demikian ringkasnya.
  • Ketiga, sebagian ulama mengatakan ayat ini Makiyyah, sehingga terjadi ketika kaum Muslimin masih lemah, belum diperintahkan jihad. Adapun setelah diperintahkan jihad, maka jika mereka ngeyel, perangi sampai mereka bersyahadat. Dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan:

{فَاصْفَحْ} أَعْرِضْ {عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَام} مِنْكُمْ وَهَذَا قَبْل أَنْ يُؤْمَر بِقِتَالِهِمْ

“فَاصْفَحْ” maksudnya berpalinglah عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَا  dari mereka, dan ini sebelum diperintahkan untuk memerangi mereka.

  • Keempat, jadi andai mau mencoba berdalil dengan ayat ini untuk membolehkan selamat Natal (walaupun pendalilannya TIDAK BENAR), maka seharusnya, sebelum mengatakan selamat Natal, ajak dahulu orang yang kita beri selamat, untuk masuk Islam dengan berbagai argumen.
  • Kelima, سَلَام Salamun dalam Zukhruf 89 ini maknanya bara’ah (tidak suka dan berlepas diri) sambil mendoakan keselamatan. Beda dengan ucapan selamat Natal yang maknanya mengapresiasi, mendoakan semoga Natalannya baik, lancar, bahagia. Hal ini sama sekali tidak menunjukkan rasa tidak suka dan keberlepas-dirian.
  • Keenam, andai kita maknai As Salaam dalam Maryam 33 itu dengan ucapan selamat, pun tetap TIDAK nyambung dengan selamat Natal, dan tetap menjadi pendalilan yang nyeleneh dan terlalu dipaksakan.
  • Ketujuh, mohon renungkan kembali apa yang ada di artikel ini: http://kangaswad.wordpress.com/2012/12/01/menafsirkan-quran-tanpa-ilmu/

Demikian, semoga menjadi pelajaran bagi yang belum mengetahui dan menjadi pengingat bagi yang lupa.

Wallahu waliyyut taufiq.

 

https://abangdani.wordpress.com/2012/12/27/mengucapkan-selamat-Natal-diabadikan-dalam-al-quran/

,

BANTAHAN SYUBHAT BOLEHNYA UCAPKAN SELAMAT NATAL DENGAN DALIL QS MARYAM AYAT 33

BANTAHAN SYUBHAT BOLEHNYA UCAPKAN SELAMAT NATAL DENGAN DALIL QS MARYAM AYAT 33

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

BANTAHAN SYUBHAT BOLEHNYA UCAPKAN SELAMAT NATAL DENGAN DALIL QS MARYAM AYAT 33

Ada sekelompok orang yang menggunakan ayat berikut ini sebagai dalil bolehnya mengucapkan selamat Natal atau bahkan dalil bolehnya Natalan. Allah ta’ala berfirman:

وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

“Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa ‘alaihissalam), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam: 33)

Yang berikut ini adalah beberapa poin SANGGAHANNYA:

  • Rasulullah ﷺ yang menerima ayat ini dari Allah TIDAK PERNAH memahami bahwa ayat ini membolehkan ucapkan selamat kepada hari raya orang Nasrani, atau bolehnya merayakan hari lahir Nabi Isa ‘alahissalam. Dan beliau ﷺ juga tidak pernah melakukannya.
  • Para sahabat Nabi ﷺ yang ada ketika Nabi ﷺ menerima ayat ini dari Allah pun tidak memahami demikian.
  • Ayat ini bukti penetapan ubudiyah Isa ‘alaihis salam kepada Allah. Karena beliau hidup sebagaimana MANUSIA BIASA, BISA MATI, dan akan DIBANGKITKAN pula di Hari Kiamat, sebagaimana makhluk yang lain. Dan beliau mengharap serta mendapat keselamatan semata-mata hanya dari Allah Ta’ala. Ini semua bukti bahwa beliau adalah HAMBA ALLAH, TIDAK BERHAK DISEMBAH. Sehingga ayat ini justru BERTENTANGAN dengan esensi ucapan selamat Natal dan ritual Natalan itu sendiri, yang merupakan ritual penghambaan dan penyembahan terhadap Isa ‘alaihissalam. Jadi TIDAK MUNGKIN ayat ini menjadi dalil bolehnya ucapan selamat Natal atau Natalan.
  • Para ulama menafsirkan السَّلامُ (As Salaam) di sini maknanya adalah ‘Keselamatan dari Allah‘, bukan ucapan selamat.
  • Baik, katakanlah kita tafsirkan ayat ini dengan akal-akalan cetek kita. Kita terima bahwa السَّلامُ (As Salaam) di sini maknanya ucapan selamat. Lalu kepada siapa ucapan selamatnya? السَّلامُ عَلَيَّ ‘As Salaam alayya (kepadaku)’, berarti ucapan selamat seharusnya kepada Nabi Isa ‘alaihissalam, BUKAN kepada orang Nasrani.
  • Baik, andai kita pakai cara otak-atik-gathuk dan tidak peduli tafsiran ulama, kita terima bahwa السَّلامُ (As Salaam) di sini maknanya ucapan selamat. Lalu kapan diucapkannya? يَوْمَ وُلِدْتُ ‘hari ketika aku dilahirkan‘, yaitu di hari ketika Nabi Isa dilahirkan. Nah masalahnya, mana bukti otentik bahwa Nabi Isa lahir pada 25 Desember??
  • Katakanlah ada bukti otentik tentang tanggal lahir Nabi Isa, lalu masalah lain, ingin pakai penanggalan Masehi atau Hijriah? Pasti akan berbeda tanggalnya. Berdalil dengan ayat Alquran, tapi kok dalam kasus yang sama pakai sistem penanggalan Masehi? Ini namanya TIDAK konsisten dalam berdalil.
  • Pada kitab orang Nasrani sendiri TIDAK ADA bukti otentik dan dalil landasan perayaan hari lahir Isa ‘alaihissalam. Beliau tidak pernah memerintahkan umatnya untuk mengadakan ritual demikian. Mengapa sebagian kaum Muslimin malah membela, bahwa ritual Natalan itu ada dalilnya dari Alquran, dengan pendalilan yang terlalu memaksakan diri?

Pembahasan ini semata-mata dalam rangka nasihat kepada saudara sesama Muslim. Kita yakin, sebagai Muslim kita harus berakhlak mulia, bahkan kepada non-Muslim. Dan untuk berakhlak yang baik itu TIDAK HARUS dengan ikut-ikut mengucapkan selamat Natal, atau selamat pada hari raya mereka yang lain. Akhlak yang baik dengan berkata yang baik, lemah lembut, tidak menzalimi mereka, tidak mengganggu mereka, menunaikan hak-hak tetangga jika mereka jadi tetangga kita, bermuamalah dengan profesional dalam pekerjaan, dll. Karena harapan kita, mereka mendapatkan hidayah untuk memeluk Islam. Dengan ikut mengucapkan selamat Natal, justru membuat mereka bangga dan nyaman akan agama mereka, karena kita pun jadi dianggap ridha dan fine-fine saja terhadap agama dan keyakinan kufur mereka.

Wabillahi at taufiq was sadaad.

 

https://abangdani.wordpress.com/2012/12/27/mengucapkan-selamat-Natal-diabadikan-dalam-al-quran/

, ,

APAKAH JANIN YANG KEGUGURAN TIDAK PERLU DIMANDIKAN?

APAKAH JANIN YANG KEGUGURAN TIDAK PERLU DIMANDIKAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

APAKAH JANIN YANG KEGUGURAN TIDAK PERLU DIMANDIKAN?

Pertanyaan:

Bagaimana cara memandikan janin dan apa hukum memandikan dan menyolatkan janin yang usia 5 bulan atau kurang atau lebih?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, bayi yang terlahir dalam keadaan hidup, kemudian dia meninggal, ulama sepakat, disyariatkan untuk dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan.

Ibnu Qudamah menyebutkan:

السقط الولد تضعه المرأة ميتا أو لغير تمام فأما إن خرج حيا واستهل فإنه يغسل ويصلى عليه بغير خلاف قال ابن المنذر :  أجمع أهل العلم على أن الطفل إذا عرفت حياته واستهل يصلى عليه

Janin keguguran adalah janin yang dilahirkan ibunya dalam keadaan telah meninggal atau tidak sempurna. Namun jika dia lahir hidup dan bisa menangis, kemudian mati, maka dia dimandikan dan dishalati, berdasarkan kesepakatan ulama. Ibnul Mundzir mengatakan: “Ulama sepakat bahwa bayi yang terlahir dalam keadaan hidup, dengan dia menangis, maka dia dishalati.” (al-Mughni, 2/393).

Kedua, janin yang meninggal dalam kandungan

Ulama berbeda pendapat di sana:

Menurut Imam Malik, janin yang meninggal di dalam kandungan, atau lahir dalam kondisi meninggal, tidak dishalati. Dalam kitab al-Mudawwanah dinyatakan:

لا يصلى على المولود ولا يحنط ولا يسمى ولا يرث ولا يورث حتى يستهل صارخا بالصوت. يعني ينزل حيا

Bayi tidak perlu dishalati, tidak diberi wewangian (dikafani), tidak diberi nama, tidak mendapat warisan maupun memberi warisan, kecuali jika dia terlahir dengan menangis (mengeluarkan suara), terlahir dalam keadaan hidup. (al-Mudawwanah, 1/255)

Beliau berdalil dengan hadis Jabir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

الطِّفْلُ لاَ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَلاَ يَرِثُ وَلاَ يُورَثُ حَتَّى يَسْتَهِلَّ

Bayi tidak perlu dishalati, tidak menerima warisan atau menurunkan warisan, sampai terlahir dalam keadaan hidup. (HR. Turmudzi 1049 dan dishahihkan al-Albani).

 

Pendapat Imam Malik juga sejalan dengan pendapat Sufyan at-Tsauri dan as-Syafii.

Pendapat kedua menyatakan, bahwa janin meninggal di kandungan, yang usianya 4 bulan ke atas, dia dimandikan dan dishalati. Ini merupakan pendapat Madzhab Hambali.

Ibnu Qudamah menyebutkan keterangan Imam Ahmad:

قال الإمام أحمد رحمه الله : ” إذا أتى له أربعة أشهر غُسّل وصلي عليه ، وهذا قول سعيد بن المسيب ، وابن سيرين ، وإسحاق ، وصلى ابن عمر على ابن لابنته ولد ميتاً “

Imam Ahmad mengatakan: ‘Jika janin telah berusia 4 bulan, dia dimandikan dan dishalati. Ini merupakan pendapat Said bin Musayib, Ibnu Sirin, dan Ishaq bin Rahuyah. Ibnu Umar menyalati cucunya yang terahir dalam keadaan telah meninggal.’ (al-Mughni, 2/393).

 

Di antara dalil yang mendukung pendapat ini adalah hadis dari Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالسِّقْطُ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَيُدْعَى لِوَالِدَيْهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ

Bayi keguguran itu dishalati, dan didoakan kedua orang tuanya dengan ampunan dan rahmat.

(HR. Ahmad 18665, Abu Daud 3182, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Imam Ahmad memberikan batasan usia janin 4 bulan, karena sejak usia itu, janin telah ditiupkan ruh, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Kemudian Ibnu Qudamah menjelaskan tentang hadis Jabir dia atas. Beliau mengarahkan, bahwa hadis itu dipahami untuk janin yang meninggal sebelum ditiupkan ruh, yaitu meninggal sebelum berusia 4 bulan dalam kandungan. Karena itu, sama sekali tidak memiliki hak waris.

Ibnu Qudamah juga menegaskan, mengapa dianjurkan untuk menyalati jenazah yang telah meninggal dalam kandungan:

أن الصلاة عليه دعاء له ولوالديه وخير فلا يحتاج إلى الاحتياط واليقين لوجود الحياة بخلاف الميراث

Bahwa menyalati jenazah merupakan doa untuk janin dan untuk kedua orang tuanya, dan itu kebaikan. Sehingga tidak butuh memerhatikan kehati-hatian, dan yakin bahwa dia pernah hidup. Berbeda dengan hukum warisan. (al-Mughni, 2/393).

Sehingga pendapat kedua inilah yang lebih kuat.

Mengenai tata caranya, sama dengan tata cara memandikan jenazah pada umumnya.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/24865-janin-keguguran-tidak-perlu-dimandikan.html

 

,

PANDUAN HUKUM SEPUTAR KEGUGURAN KANDUNGAN

PANDUAN HUKUM SEPUTAR KEGUGURAN KANDUNGAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

PANDUAN HUKUM SEPUTAR KEGUGURAN KANDUNGAN

Oleh: Kholid Bin Ali Al Musyaiqih

 

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل لله  ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد ان محمدا عبده ورسوله صلى الله وسلم وبارك عليه وعلى أصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وسلم تسليما كثيرا ، أما بعد:

Rasulullah ﷺ bersabda:

والذي نفسي بيده إن السقط ليجر أمه بسرره إلى الجنة إذا احتسبته

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya janin yang keguguran akan membawa ibunya ke dalam Surga, dengan bersama ari-arinya, apabila ibunya mengharap pahala dari Allah (dengan musibah tersebut) (HR Ibnu Majah; dishahihkan oleh Albani)

Makna dari احتسبته adalah  mengharapkan pahala dari Allah, dan sabar dalam menerima musibah. Berikut ini adalah pembahasan  tentang keguguran yang sangat penting untuk diketahui oleh setiap wanita. Pembahasan ini mencakup beberapa masalah:

Pertama: Pengertian السقط (Keguguran) Secara Bahasa dan Istilah

السقط secara bahasa adalah anak yang terlahir dari perut ibunya dalam keadaan tidak sempurna. Dalam bahasa Arab dikatakan   أسقطته أمه فهي مسقط artinya ibunya telah menggugurkannya dan dia (ibunya) adalah musqit.

Secara istilah: Janin yang terlahir dari perut ibunya dalam keadaan telah meninggal dunia.

Janin yang berada di perut seorang ibu itu mengalami tiga fase. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam kitab-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu, dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan….(QS. Al Hajj: 5 )

 

Nabi ﷺ telah menjelaskan pula fase-fase ini dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’udradhiallahu ‘anhu:

إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما ثم يكون علقة مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك ثم يبعث الله ملكا فيؤمر بأربع كلمات ويقال له اكتب عمله ورزقه وأجله وشقي أو سعيد

”Sesungguhnya kalian diciptakan di perut ibumu selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi segumpal darah dalam waktu yang sama (empat puluh hari), kemudian berubah menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama (empat puluh malam). Kemudian Allah mengutus malaikat dan memerintahkannya empat perkara, dikatakan kepadanya:”Tuliskan untuknya tentang amalannya, rezekinya, ajalnya dan termasuk orang yang celaka atau bahagia.”

Tidaklah ditiupkan ruh kecuali setelah usia kandungan 120 hari. Waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan janin dalam kandungan adalah 3 bulan atau paling sedikit 81 hari.

Kedua: Hukum Menggugurkan Kandungan dengan Sengaja (Aborsi )

Secara umum, syariat Islam mengharamkan aborsi. Ulama telah bersepakat haramnya menggugurkan kandungan setelah ditiupkannya ruh pada janin. Adapun sebelum ditiupkannya ruh, maka hukumnya ditentukan oleh ulama, setelah memeriksa dan menimbang keadaanya secara seksama.

Ketiga: Hukum-hukum yang terkait dengan keguguran kandungan adalah sebagai berikut:

* Apabila keguguran terjadi tatkala janin masih berbentuk zigote sebelum 40 hari, atau masih berbentuk embrio (pada 40 hari kedua) maka wajib bagi wanita tersebut untuk mengenakan pembalut (yang dapat menahan keluarnya darah mengenai pakaian), karena Nabi ﷺ memerintahkan Asma binti Umair untuk mengenakan pembalut tatkala melahirkan di Dzil Khulaifah (HR Muslim). Wanita tersebut wajib untuk tetap melaksanakan sholat dan berpuasa jika ia sedang berpuasa, serta boleh bagi suami untuk menggaulinya. Darah yang keluar dengan sebab keguguran pada masa ini lebih dekat kepada perkataan ahli ilmu, bahwa darah tersebut tidak membatalkan wudhu, dan tidak wajib baginya untuk mengulang wudhunya di setiap sholat, apabila tidak ada yang membatalkan wudhunya, seperti karena keluar angin atau buang air.

* Keguguran setelah hari ke-80. Wajib bagi wanita tersebut untuk memastikan, apakah janin sudah mulai membentuk manusia atau belum, dengan bertanya kepada dokter yang terpercaya. Yaitu, apakah janin  sudah mulai membentuk rupa manusia, meskipun hanya samar seperti mulai membentuk perut, kaki, kepala dst.

* Apabila janin belum mulai membentuk rupa manusia meskipun samar, seperti adanya bentuk tangan, kaki dan kepala, atau janin hanya membentuk gumpalan daging, maka wanita tersebut dihukumi dengan hukum pada poin pertama. Wanita tersebut boleh sholat, puasa ataupun berkumpul dengan suaminya. Dia tidak diwajibkan mengulangi wudhunya setiap hendak mengerjakan sholat, kecuali apabila ada pembatal lain seperti kentut atau buang air.

* Apabila janin sudah mulai membentuk manusia meskipun hanya samar, seperti telah ada bentuk kaki, tangan atau kepala dsb, maka wanita tersebut dihukumi dengan hukum nifas. Tidak boleh sholat, puasa ataupun berkumpul dengan suaminya hingga darah nifasnya berhenti, atau keluar cairan kekuning-kuningan atau cairan keruh, atau sudah mencapai hari ke-40 dari pendarahan, meskipun darah belum berhenti, atau belum keluar cairan kekuning-kuningan atau keruh. Apabila sudah mencapai hari ke-40 ini, maka wanita tersebut mandi, boleh sholat, puasa dan suami boleh mencampurinya.

* Apabila keguguran terjadi setelah hari ke-80 dan tidak diketahui apakah janin sudah berbentuk manusia atau belum, maka ada dua kemungkinan:

  1. Apabila keguguran setelah hari ke 90 maka dihukumi dengan hukum nifas. Tidak boleh sholat, puasa dan tidak boleh bercampur dengan suaminya hingga darah berhenti, atau keluar cairan kekuning-kuningan atau keruh, atau mencapai hari ke-40 dari pendarahan. Jika telah mencapai hari ke-40 ini, maka wanita tersebut mandi, boleh sholat, berpuasa, dan bercampur dengan suaminya.
  1. Apabila belum mencapai usia 90 hari kehamilan, dan tidak diketahui apakah janin sudah berbentuk manusia atau belum, maka hendaknya wanita tersebut mengenakan pemabalut untuk mencegah keluarnya darah mengenai pakaiannya. Ia boleh sholat, puasa dan boleh bercampur dengan suami. Darah yang keluar darinya tidak membatalkan wudhu, dan tidak wajib mengulang wudhunya setiap hendak sholat, kecuali apabila ada pembatal wudhu lain seperti kencing atau buang air.

Masalah Penting!

Apabila keguguran terjadi setelah beberapa masa, janin meninggal di dalam rahim, maka yang dihitung adalah umur janin keadaan hidup di dalam rahim, bukan usia janin pada saat keguguran. Sebagai contoh keguguran terjadi pada usia kehamilan 3 bulan. Diketahui bahwa janin telah meninggal sebulan sebelum keguguran. Maka usia janin hanya dihitung 2 bulan saja dan wanita tersebut dihukumi dengan hukum seperti pada poin pertama (wanita tersebut mengenakan pembalut untuk mencegah darah keluar mengenai pakaiannya, boleh sholat, puasa dan dicampuri oleh suaminya).

Keempat: Keguguran terjadi setelah janin berusia 4 bulan (setelah ditiupkannya ruh), maka wanita tersebut dihukumi denga hukum nifas. Tidak boleh sholat, puasa, dan bercampur dengan suaminya, sampai darah berhenti atau keluar cairan kekuning-kuningan atau keruh atau mencapai hari ke-40 dari pendarahan. Apabila sudah mencapai hari ke-40 padahal darah belum berhent,i dan juga belum keluar cairan kekuning-kuningan atau keruh, maka wanita tersebut boleh mandi, sholat, berpuasa dan berkumpul dengan suaminya.

Janin yang keguguran pada masa ini (setelah ditiupkannya ruh) dan usianya telah mencapai 4 bulan, maka jenazahnya dimandikan, dikafani, disholatkan dan dimakamkan di pemakaman kaum Muslimin. Selain itu ia juga disembelihkan hewan aqiqah pada hari ke-7 setelah kegugurannya.

Apabila seorang wanita menyakiti janin sehingga menyebabkan keguguran, maka wajib bagi wanita tersebut untuk membayar kafarah mugholadhoh, dan wajib baginya membayar Diyat, yaitu senilai dengan membayar seorang budak

Adapun jika menggugurkannya pada saat janin itu sudah benar-benar hidup, yaitu berumur 6 bulan atau lebih, maka Diyatnya seperti Diyat membunuh bayi yang sudah lahir hidup, yaitu 100 ekor unta.

Allahu a’lam. Sholawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

 

Sumber:

http://www.almoshaiqeh.com/

APAKAH WANITA KEGUGURAN/ABORSI DIHUKUMI NIFAS ? : Apakah tetap wajib melaksanakan shalat dan puasa? Bolehkah suami menggaulinya (berjima’)?

 

 

http://abuayaz.blogspot.co.id/2011/07/panduan-hukum-seputar-keguguran.html

, , ,

MENGHARAP RIDHA ALLAH ATAUKAH SURGA? [FATWA ULAMA]

MENGHARAP RIDHA ALLAH ATAUKAH SURGA? [FATWA ULAMA]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

#DakwahTauhid

MENGHARAP RIDHA ALLAH ATAUKAH SURGA? [FATWA ULAMA]

Fatwa Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al Barrak

Pertanyaan:

Apakah seseorang yang beramal saleh dengan mengharapkan ridha Allah itu lebih tinggi tingkatannya daripada mengharapkan Surga?

Jawaban:

Tidak. Kedua hal itu tergabung menjadi satu, tidak dipisah sendiri-sendiri. Orang-orang Sufi-lah yang suka membedakannya. Tidak ada orang di dunia ini yang mengharapkan Surga, tapi dia tidak mengharap ridha Allah. Juga tidak ada orang yang mengharap ridha Allah, tapi tidak mengharapkan Surga. Mengharapkan Surga sekaligus ridha Allah adalah jalannya para Rasul dan pengikut mereka. Demikian.

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/42373

 

Penerjemah: Yulian Purnama

[Artikel Muslim.Or.Id]

Sumber: http://muslim.or.id/17108-fatwa-ulama-mengharap-ridha-allah-ataukah-Surga.html

, , , ,

BERAMAL, NO SYIRIK

BERAMAL, NO SYIRIK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

BERAMAL, NO SYIRIK

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia memersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” [Al-Kahfi: 110]

Instagram, Twitter & Telegram Channel: @JakartaMengaji

Sumber: https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/659848760862552/?type=3&theater

 

, ,

BENARKAH ISLAM TIDAK PERLU DIBELA?

BENARKAH ISLAM TIDAK PERLU DIBELA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BENARKAH ISLAM TIDAK PERLU DIBELA?

  • Sesungguhnya terdapat perintah untuk membela Allah dan Nabi-Nya ﷺ
  • Dari dahulu kala, orang kafir dan orang munafik senantiasa bekerja sama untuk menipu orang beriman.

Pertanyaan:

Ada orang mengatakan, Islam tidak perlu dibela. Tapi sepertinya orang ini Liberal. Bagaimana tanggapannya?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sejak masa silam, orang kafir dan orang munafik selalu bekerja sama. Orang kafir melakukan konspirasi untuk merusak Islam dari luar, sementara orang munafik bertugas melakukan pendangkalan ideologi kaum Muslimin dari dalam. Mereka saling membisikkan kalimat indah, untuk menipu orang yang beriman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin. Sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia. (QS. al-An’am: 112)

Dan di antara misi besar munafik adalah membangun prinsip permisif (serba boleh) di tengah kaum Muslimin, agar mereka meninggalkan amar makruf nahi munkar.

Allah befirman:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ

Orang munafik lelaki dan orang munafik perempuan, satu sama lain saling memerintahkan yang munkar dan mencegah yang makruf. (QS. at-Taubah: 67)

Dan kita bisa melihat semangat ini ketika mereka menanamkan prinsip racun di tengah kaum Muslimin,

“Islam itu baik sekali, sangat besar, dan sangat indah. Kenapa dibela? Islam hadir membela manusia, bukan sebaliknya. Saya ini bau, hatinya kotor. Apa pantas bela Islam?” _Cak Nun

Bahasa lainnya, sudahlah …. Biarkan orang kafir menghina Islam, melecehkan Islam, kita nggak usah membela Islam, karena Islam tidak perlu dibela.

Apa tujuan mereka?

Siapa pun bisa melihat sangat jelas, tujuan mereka adalah untuk MENDIAMKAN SETIAP KEMUNGKARAN. Sehingga setiap orang yang melakukan kemungkaran tidak perlu takut, karena mereka aman.

Perintah Membela Allah dan Islam

Ada beberapa ayat dalam Alquran yang memerintahkan kita untuk membela Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Kita akan lihat beberapa ayat berikut:

Pertama, firman Allah:

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sungguh Allah akan menolong orang yang membela-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS. al-Hajj: 40)

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ؛ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan mengokohkan kaki kalian.” (QS. Muhammad: 7)

Di ayat lain, Allah berfirman memerintahkan umat Islam untuk membela Nabi ﷺ:

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا . لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ

Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mendukung beliau, memuliakan beliau…. (QS. al-Fath: 8-9)

 

Apa makna membela dan menolong Allah?

 

Ada banyak ayat dalam Alquran yang menggunakan istilah yang umumnya digunakan manusia, di antaranya, Allah membeli dari jiwa dan harta orang beriman dengan dibayar Surga. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh…” (QS. at-Taubah: 111)

Di ayat lain, Allah menawarkan kepada manusia  untuk mengutangi dan akan dibalas dengan berlipat ganda:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً

“Siapa yang memberikan pinjaman kepada Allah dengan kebaikan, maka Allah akan mengganti dengan berlipat ganda.” (QS. al-Baqarah: 245)

Dan ayat semisal dengan ini cukup banyak. Dan orang yang logikanya sehat sangat mudah memahami maksud ayat di atas. Termasuk ayat yang menyebutkan perintah untuk menolong Allah.

Imam as-Sa’di menjelaskan surat Muhammad ayat 7:

هذا أمر منه تعالى للمؤمنين، أن ينصروا الله بالقيام بدينه، والدعوة إليه، وجهاد أعدائه، والقصد بذلك وجه الله، فإنهم إذا فعلوا ذلك، نصرهم الله وثبت أقدامهم

Ini merupakan perintah dari Allah kepada orang yang beriman, agar mereka membela Allah dengan menjalankan agamanya, mendakwahkannya dan berjihad melawan musuhnya. Dan semua itu bertujuan untuk mengharap wajah Allah. Jika mereka melakukan semua itu, maka Allah akan menolong mereka dan mengokohkan kaki mereka. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 785)

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28709-Islam-tidak-perlu-dibela.html

,

BAGAIMANA CARA MENYELAMATKAN DIRI DARI BURUKNYA SYIRIK DALAM NIAT?

BAGAIMANA CARA MENYELAMATKAN DIRI DARI BURUKNYA SYIRIK DALAM NIAT?

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BAGAIMANA CARA MENYELAMATKAN DIRI DARI BURUKNYA SYIRIK DALAM NIAT?

Semua kebaikan ada di tangan Allah Ta’ala. Tidak ada seorang pun yang mampu melakukan kebaikan, kecuali dengan pertolongan-Nya. Dan tidak ada yang bisa menyelamatkannya dari keburukan, kecuali Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

{وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ. يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ}

✳️ “Jika Allah menimpakan suatu keburukan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya, di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Yuunus: 107).

Khususnya yang berhubungan dengan pemurnian tauhid dan ibadah kepada Allah Ta’ala, maka manusia tidak akan mungkin meraihnya tanpa pertolongan-Nya. Renungkanlah makna firman-Nya:

{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}

✳️ “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (QS al-Faatihah:5).

Oleh karena itu, tekun berdoa kepada Allah Ta’ala dengan sungguh-sungguh untuk memohon taufik-Nya dalam memurnikan tauhid dan menjauhi perbuatan syirik dalam segala bentuk dan jenisnya, ini termasuk sebab terbesar untuk meraih penjagaan dari-Nya dari keburukan besar ini.

Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ kepada kita yang berhubungan dengan penjagaan dari perbuatan syirik adalah doa:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

ALLOOHUMMA INNI A’UUDZU BIKA AN USYRIKA BIKA WA ANA A’LAM, WA ASTAGHFIRUKA LIMAA LAA A’LAM

Artinya:
✅”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu) yang aku sadari (ketahui). Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui (sadari)” [HR al-Bukhari dalam “al-Adabul Mufrad” (no. 716) dan Abu Ya’la (no. 60), dinyatakan Shahih oleh Syaikh al-Albani].

Kemudian termasuk sebab yang paling penting untuk memudahkan kita meraih keikhlasan dalam ibadah dan terhindar dari keburukan syirik dalam segala bentuknya, adalah berusaha keras dan berjuang menundukkan hawa nafsu dan keinginan yang buruk. Inilah sifat penghuni Surga yang dipuji oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

{وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى}

✳️ “Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya (Allah Ta’ala) dan menahan diri dari (memerturutkan) keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya Surgalah tempat tinggal (mereka)’ (QS an-Naazi’aat: 40-41).

Keinginan hawa nafsu yang paling penting dan paling sulit untuk ditundukkan, kecuali bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala, adalah kecintaan dan ambisi mengejar dunia yang berlebihan serta keinginan untuk selalu mendapatkan pujian dan sanjungan. Inilah dua penyakit hati terbesar yang merupakan penghalang utama untuk meraih keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

▶️ Imam Ibnul Qayyim berkata: “Tidak akan berkumpul (bertemu) keikhlasan dalam hati dengan keinginan (untuk mendapat) pujian dan sanjungan, serta kerakusan terhadap (harta benda duniawi) yang ada di tangan manusia, kecuali seperti berkumpulnya air dan api (tidak mungkin berkumpul selamanya)… Maka jika terbersit dalam dirimu (keinginan) untuk meraih keikhlasan, yang pertama kali hadapilah (sifat) rakus terhadap dunia dan penggallah sifat buruk ini dengan pisau ‘putus asa’ (dengan balasan duniawi yang ada di tangan manusia). Lalu hadapilah (keinginan untuk mendapat) pujian dan sanjungan, bersikap zuhudlah (tidak butuh) terhadap semua itu…Kalau kamu sudah bisa melawan sifat rakus terhadap dunia dan bersikap zuhud terhadap pujian dan sanjungan manusia, maka (meraih) ikhlas akan menjadi mudah bagimu” [29 Kitab “al-Fawa-id” (hal. 150)].

▶️ Lebih lanjut, Imam Ibnul Qayyim menjelaskan cara untuk menghilangkan dua pernyakit buruk penghalang keikhlasan tersebut. Beliau berkata: “Adapun (cara untuk) membunuh (sifat) rakus terhadap balasan duniawi yang ada di tangan manusia, itu akan dimudahkan bagimu dengan kamu memahami secara yakin, bahwa tidak ada sesuatu pun yang diinginkan oleh (manusia), kecuali di tangan Allah semata perbendaharaannya. Tidak ada yang memiliki/menguasainya selain Dia, Subhanahu Wa Ta’ala. Dan tidak ada yang dapat memberikannya kepada hamba, kecuali Dia, Subhanahu Wa Ta’ala semata. Adapun (berskap) zuhud terhadap pujian dan sanjungan, itu akan dimudahkan bagimu dengan kamu memahami (secara yakin), bahwa tidak ada satu pun yang pujiannya bermanfaat serta mendatangkan kebaikan, dan celaannya mencelakakan dan mendatangkan keburukan, kecuali Allah satu-satunya” [Kitab “al-Fawa-id” (hal. 150)].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

▶️ Syaikh Shalih bin ‘Abdil ‘Aziz Alu asy-Syaikh berkata: “Termasuk syirik kecil adalah seorang yang menginginkan (balasan di) dunia dengan amal-amal ketaatan (yang dilakukan)nya dan tidak menghendaki (balasan di) Akhirat…Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia secara asal, menjadi tujuan (utama) dan (sumber) penggerak (diri mereka) adalah orang-orang kafir. Oleh karena itu, ayat ini (firman Allah Ta’ala di atas) turun berkenaan dengan orang-orang kafir. Akan tetapi, lafazh ayat ini mencakup semua orang (kafir maupun mukmin) yang menginginkan kehidupan (balasan) duniawi dengan amal saleh (yang dilakukan)nya” [Kitab “at-Tamhiid lisyarhi kitaabit tauhiid” (hal. 404-405)].

 

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim Al Buthony, MA.

Artikel Muslim.Or.id

Sumber: https://Muslim.or.id/13945-jangan-nodai-ibadah-anda-dengan-niat-duniawi.html