Posts

,

PRESIDEN SUKARNO SAJA BANGGA TERHADAP DAKWAH TAUHID “WAHABI”

PRESIDEN SUKARNO SAJA BANGGA TERHADAP DAKWAH TAUHID WAHABI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#ManhajSalaf
PRESIDEN SUKARNO SAJA BANGGA TERHADAP DAKWAH TAUHID “WAHABI”
>> Presiden Sukarno Mendukung Gerakan Pemurnian Agama “Wahabisme”
>> Pesan Presiden RI. Pertama Ir. Sukarno “Agar Umat Islam Kembali Ke Manhaj Salaf”

Di buku yang berjudul “Di Bawah Bendera Revolusi” (yaitu kumpulan tulisan dan pidato-pidato beliau) jilid pertama, cetakan kedua,tahun 1963. pada halaman 390, beliau mengatakan sebagai berikut:

((” Tjobalah pembatja renungkan sebentar “Padang-pasir” dan “Wahabisme” itu. Kita mengetahui djasa Wahabisme jang terbesar: ia punja kemurnian, ia punja keaslian, – murni dan asli sebagai udara padang-pasir, kembali kepada asal, kembali kepada Allah dan Nabi, kembali kepada Islam di zamanja Muhammad!”

Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannya seribu satu tahajul dan seribu satu bid’ah.

Lemparkanlah djauh-djauh tahajul dan bid’ah itu, tjahkanlah segala barang sesuatu jang membawa kemusjrikan! ….”))

Berikut scan dari buku tersebut:

 

sukarno-mengagumi-wahabi

 

Buku yang berjudul “Dibawah Bendera Revolusi” (jilid pertama, cetakan kedua, tahun 1963, pada halaman 390) berikut sampul buku tersebut:

 

sampul-buku-sukarno-kagumi-wahabi

 

————

Nampak jelas bahwa presiden pertama RI. Ir. Sukarno sendiri menganggap, gerakan Wahabi adalah suatu gerakan “PEMURNI ISLAM”, gerakan yang menentang seribu satu Tahayul dan Bid’ah yang ada dalam Islam, dengan semboyan “Kembali kepada Allah dan kepada Nabi”

Mari wahai saudaraku, kita kembali kepada Alquran dan As Sunnah, kedua warisan Nabi Muhammad shallahu ‘alayhi wassalam, agar kita selamat dunia dan Akhirat.

Aamiin

Mujiarto Karuk

 

Sumber: http://firanda.com/index.php/artikel/wejangan/815-presiden-sukarno-mendukung-gerakan-pemurnian-agama-Wahabisme

, , ,

FATWA ULAMA SEPUTAR SIKAP EKSTREM, PENGAFIRAN DAN SEBAGIAN CIRI-CIRI KHAWARIJ

FATWA ULAMA SEPUTAR SIKAP EKSTREM, PENGAFIRAN DAN SEBAGIAN CIRI-CIRI KHAWARIJ

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

#ManhajSalaf

FATWA ULAMA SEPUTAR SIKAP EKSTREM, PENGAFIRAN DAN SEBAGIAN CIRI-CIRI KHAWARIJ

Fatwa Syaikh Sholeh Bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah

  • Bagaimana Cara Menanggulangi Sikap Ekstrem?

Pertanyaan:

Syaikh yang terhormat. Nampak dengan jelas sekarang ini munculnya sikap ekstrem, dan banyak masyarakat umum mulai hanyut terbawa oleh arus pemikiran ekstrem ini. Bagaimana cara menanggulanginya, dan siapakah yang bertanggung jawab?

Jawaban:

Sesungguhnya Nabi Muhammad  ﷺ telah melarang umatnya dari sikap ekstrem. Dalam salah satu sabdanya beliau ﷺ berkata:

إياكم والغلو فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو

“Hindari oleh kalian sikap berlebih-lebihan (ekstrem). Sebab sesungguhnya yang telah menghancurkan umat-umat sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan.”

هلك المتنطعون هلك المتنطعون هلك المتنطعون

“Celakalah orang yang berlebih-lebihan (dalam agama) [tiga kali).”

Allah berfirman:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ إِلاَّ الْحَقِّ

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar.” (QS. An Nisa’: 171)

Maka kewajiban kita selaku orang yang beriman adalah selalu istiqomah di jalan Allah, tidak berlebih-lebihan, ataupun sebaliknya. Allah berfirman kepada Nabi ﷺ dan pengikutnya:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْاْ

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu. Dan janganlah kamu melampaui batas.” (QS. Huud: 112)

Maksudnya: Jangan engkau menambahkan dan jangan berlebih-lebihan, yang dituntut dari kaum Muslimin adalah sikap istiqomah, yaitu tengah-tengah, antara sikap meremehkan dan sikap ekstrem. Dan inilah metode agama Islam, yaitu metode seluruh para nabi, yaitu beristiqomah di atas agama Allah, tanpa bersikap ekstrem, lagi melampaui batas. Dan juga tanpa meremehkan atau bahkan meninggalkan agama (Muraja’at fi Fiqh Waqi’ as Siyasi wal Fikri ‘ala Dhaui Al Kitab was Sunnah hal. 48).

  • Bolehkah Bersikap Anarkis Terhadap Pelaku Maksiat dan Orang Fasik?

Pertanyaan:

Ilmu pengetahuan Islam yang ada pada masa kini, telah ternodai oleh sebagian pemikiran beberapa aliran sesat, seperti Khawarij dan Mu’tazilah. Sehingga kita dapatkan, ada pemikiran yang mengarah kepada pengafiran terhadap masyarakat dan individu-individu, membolehkan sikap anarkis terhadap pelaku maksiat dan orang fasik. Maka apa nasihat Anda?

Jawaban:

Ini adalah metode yang salah, karena agama Islam melarang sikap anarkis dan keras dalam berdakwah, Allah ta’ala berfirman:

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah manusia ke jalan Robb-mu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik. Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Surat An Nahl: 125). Dan Allah berfirman kepada Nabi Musa dan Harun alaihimas salaam tentang raja Fir’aun:

فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Katakanlah kepadanya perkataan yang lembut. Semoga dia ingat dan merasa takut.” (QS Thoha: 44)

Kekerasan akan dihadapi dengan kekerasan, dan tidak akan menghasilkan kecuali kegagalan, dan akan berakibat buruk bagi kaum Muslimin. Yang diharapkan adalah berdakwah dengan bijak, dan dengan cara yang baik, dengan lemah lembut terhadap orang yang didakwahi. Adapun menggunakan kekerasan, dan meremehkan orang yang didakwahi, bukanlah dari ajaran Islam. Kaum Muslimin dalam berdakwah harus meniru metode Rasul ﷺ dan selaras dengan petunjuk Alquran.

Pengafiran harus memerhatikan ketentuan-ketentuannya dalam syariat. Barang siapa yang melakukan salah satu pembatal keislaman yang telah disebutkan oleh para ulama’ Ahli Sunnah Wal Jama’ah, maka dia telah kafir, tentunya setelah ditegakkan hujjah kepadanya. Dan barang siapa yang tidak melakukan salah suatu pembatal tersebut, maka dia bukan orang kafir, walaupun ia telah melakukan sebagian dosa besar yang masih di bawah derajat kesyirikan.

  • Apakah Masyarakat Muslim Masa Kini Adalah Masyarakat Jahiliah?

Pertanyaan:

Ada orang yang menyifati masyarakat Muslim sebagai masyarakat jahiliah, karena di dalamnya ada berbagai pelanggaran. Dan kemudian ia dengan dasar ini mengambil sikap tertentu, yang telah Anda ketahui. Apakah ucapan ini benar?

Jawaban:

Jahiliah yang menyeluruh telah musnah dengan diutusnya Rasul ﷺ. Dan alhamdulillah, telah datang agama Islam, ilmu dan cahaya. Hal ini akan terus berlangsung hingga Hari Kiamat. Setelah Rasul ﷺ diutus, tidak ada lagi jahiliah yang menyeluruh. Yang ada hanya sisa-sisa jahiliah, akan tetapi jahiliah pada hal-hal tertentu, jahiliah yang ada pada sebagian pelakunya. Adapun jahiliah menyeluruh, telah sirna dengan diutusnya Rasul ﷺ, dan tidak akan kembali lagi hingga Hari Kiamat.

Adapun keberadaan sebagian sifat jahiliah pada sebagian orang atau kelompok, atau masyarakat, maka hal ini terjadi. Akan tetapi jahiliah khusus pada pelakunya saja, bukan jahiliah menyeluruh. Oleh karena itu, TIDAK BOLEH untuk mengatakan jahiliah secara menyeluruh (mutlak), sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab “Iqtidho’ Shirothol Mustaqim”.

  • Bolehkah Kita Mengafirkan Seseorang?

Pertanyaan:

Nampak dengan jelas pada orang-orang yang menyifati masyarakat Muslim sebagai masyarakat jahiliah, mereka hendak mengafirkan masyarakat tersebut, dan setelah itu pemberontakan?

Jawaban:

Pengafiran bukanlah hak setiap orang, atau mengafirkan kelompok tertentu atau individu tertentu. Pengafiran harus melalui ketentuan-ketentuannya. Barang siapa yang melakukan salah satu pembatal Islam, maka ia dihukumi telah kafir. Dan hal-hal yang membatalkan keIslaman sudah diketahui bersama, dan yang paling besar adalah perbuatan syirik kepada Allah ‘azza wa jalla, pengakuan bahwa ia mengetahui hal-hal gaib, menerapkan hukum selain hukum Allah. Allah berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. Al Maaidah: 44)

Pengafiran itu sangat berbahaya. Tidak boleh bagi setiap orang untuk meng-klaim orang lain dengannya. Akan tetapi, pengafiran merupakan wewenang hakim syariat, ulama yang ilmunya mendalam, yang menguasai agama Islam, pembatal-pembatal keIslaman, mengetahui situasi dan kondisi, dan memelajari realita yang ada pada masyarakat. Merekalah yang berhak untuk mengafirkan dan lainnya. Adapun orang bodoh atau orang awam atau pelajar ingusan, maka TIDAK BERHAK untuk mengafirkan orang lain, atau kelompok tertentu atau suatu negara, karena mereka tidak memiliki keahlian untuk mengemban tugas ini.

  • Bolehkah Perorangan Menegakkan Hukuman Pidana?

Pertanyaan:

Ada sebagian penuntut ilmu yang gegabah dalam mengatakan kata-kata murtad kepada orang Muslim. Bahkan jika pemerintah tidak menegakkan hukuman kepada orang yang telah mereka anggap murtad, mereka menuntut kaum Muslimin agar menunjuk seseorang yang dianggap dapat menegakkan hukuman atas orang tersebut?

Jawaban:

Menegakkan hukuman pidana itu adalah wewenang pemerintah kaum Muslimin, bukan hak setiap orang untuk menegakkan hukuman pidana, karena hal itu dapat menimbulkan kekacauan, kerusakan, perpecahan, mengobarkan api balas dendam, fitnah dan malapetaka. Penegakan hukum pidana adalah wewenang pemerintah Muslim. Nabi ﷺ bersabda:

تعافوا الحدود فيما بينكم فإذا أبلغت الحدود السلطان فلعن الله الشافع والمشفع

“Saling memaafkanlah di antara kalian dalam hal hukuman pidana, karena jika (masalah yang mengakibatkan) hukuman pidana telah sampai (diangkat) ke pemerintah, maka laknat Allah bagi orang yang meminta keringanan, dan yang diberi keringanan.” (HR. An Nasa’i, pada kitab: Memotong Tangan Pencuri, Bab: “Batasan Tempat Menyimpan” no: 4885)

Di antara tugas dan wewenang pemerintah dalam ajaran Islam adalah menegakkan hukum pidana. Setelah betul-betul terbukti secara syari di pengadilan syariat pelaku kejahatan tersebut, syariat Islam menetapkan hukuman pidananya, seperti hukuman orang murtad, pencuri dan seterusnya.

Ringkas kata, bahwa penegakan hukum pidana adalah tugas dan wewenang pemerinta. Jika kaum Muslimin tidak memunyai pemerintah (yang menerapkan hukum syariat), maka cukup dengan beramar ma’ruf dan nahi mungkar, serta berdakwah kepada jalan Allah ‘azza wa jalla, dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta dengan dialog yang kondusif. Tidak boleh bagi perorangan untuk menegakkan hukuman pidana, karena hal ini akan menimbulkan kekacauan, dan menyulut api balas dendam dan fitnah, serta akan mendatangkan bencana yang lebih besar dari pada maslahatnya. Padahal di antara kaidah syariat yang sudah disepakati adalah: “Mencegah kerusakan lebih didahulukan dari pada mendatangkan kemaslahatan.”

  • Siapakah Orang Yang Dikatakan Telah Murtad?

Pertanyaan:

Siapakah orang yang dikatakan telah murtad? Kami mohon definisinya dengan jelas. Kadang kala ada orang yang masih memiliki syubhat, telah diklaim sebagai orang murtad.

Jawaban:

Meng-klaim orang telah murtad dan keluar dari agama, adalah wewenang ulama yang keilmuannya telah kokoh, yaitu para hakim di pengadilan syariat, dan para pemberi fatwa yang telah diakui. Perkara ini sebagaimana halnya perkara lain, bukan wewenang setiap orang, atau pelajar yang masih ingusan, atau yang mengaku-ngaku sebagai orang yang berilmu, yang pemahamannya terhadap agama masih dangkal. Bukan wewenang mereka untuk menghukumi (seseorang) telah murtad, karena hal ini akan mengakibatkan kerusakan. Mungkin saja mereka meng-klaim seorang Muslim, bahwa ia telah murtad, padahal kenyataannya tidak demikian. Pengafiran seorang Muslim yang tidak melanggar salah satu pembatal keIslaman, sangat berbahaya. Barang siapa yang mengatakan kepada saudaranya: Wahai orang kafir, atau wahai orang fasik, dan kenyataannya dia tidak demikian, maka tuduhan tersebut akan kembali kepada yang mengucapkannya. Yang berhak untuk meng-klaim orang, bahwa ia telah murtad adalah para hakim syari dan para mufti yang telah diakui, dan yang melaksanakan hukuman adalah pemerintah. Dan bila dilakukan oleh selain mereka, maka akan terjadi kekacauan. (Muraja’at fi Fiqh al Waqi’ 49).

 

  • Apakah Kita Boleh Menentang Pemerintah dan Melanggar Wewenang Pemerintah Islam?

Pertanyaan:

Poin terakhir yang ingin saya tanyakan seputar masalah ini, adalah tentang orang yang melanggar terhadap wewenang pemerintah, yaitu tentang hukum orang yang menerapkan hukum pidana terhadap seseorang. Sebab ada yang mengatakan, bahwa pemerintah tidak melakukan apa-apa, kecuali memenjarakan?

Jawaban:

Tidak boleh menentang pemerintah dan melanggar wewenang pemerintah Islam. Bila orang tersebut membunuh orang lain tanpa didasari dengan hukum syariat, akan tetapi ia membunuhnya hanya didasari oleh kebijakannya sendiri, maka bila keluarga orang yang dibunuh menuntut, orang ini harus ditegakan atasnya hukum qisos. Kecuali bila telah terbukti secara syariat, bahwa yang dibunuh itu telah murtad, keluar dari agama Islam, maka ia tidak diqishos. Akan tetapi pemerintah tetap berhak untuk menjatuhkan hukuman peringatan sesuai dengan yang ia anggap pantas, kepada orang tersebut, karena ia telah melanggar wewenangnya. (Muraja’at fi Fiqh al Waqi’).

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Fatwa Ulama Seputar Sikap Ekstrem, Pengafiran dan Sebagian Ciri-Ciri Khawarij” yang disusun oleh: Al-Ustadz Muhammad Arifin Badri hafizhahullah

Sumber: http://Muslim.or.id/1442-fatwa-ulama-seputar-sikap-ekstrem-pengkafiran-dan-sebagian-ciri-ciri-Khawarij-5.html

 

,

KENAPA “MEMILIH PEMIMPIN KAFIR” DIANCAM KEKAL DI NERAKA, SEDANGKAN “PEMINUM MINUMAN KERAS” TIDAK?

KENAPA “MEMILIH PEMIMPIN KAFIR” DIANCAM KEKAL DI NERAKA, SEDANGKAN “PEMINUM MINUMAN KERAS” TIDAK?

#DakwahTauhid
#ManhajSalaf

KENAPA “MEMILIH PEMIMPIN KAFIR” DIANCAM KEKAL DI NERAKA, SEDANGKAN “PEMINUM MINUMAN KERAS” TIDAK?

Pertanyaan:
“Peminum Minuman Keras” dan “Memilih Pemimpin Kafir”, keduanya sama-sama melanggar syariat Islam dan keduanya sama-sama melakukan dosa besar. Tetapi kenapa pelaku “Memilih Pemimpin Kafir” diancam masuk Neraka dan kekal di dalamnya? Sedangkan “Peminum Minuman Keras” tidak diancam dengan kekekalan di Neraka? Apakah bisa, seorang peminum minuman keras menjadi kafir dan kekal di Neraka?

Jawaban:
Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah, amma ba’du,

Sangatlah jelas dalam Alquran ada larangan, agar tidak menjadikan non-Muslim sebagai pemimpin. Para ulama sudah ijma (konsesus) dalam hal ini. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). Sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah: 51),

Jelas sekali bahwa ayat ini larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin atau orang yang memegang posisi-posisi strategis yang bersangkutan dengan kepentingan kaum muslimin. Kita bisa perhatikan di bagian akhir surat ini:

“Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka…” Golongan mereka artinya golongan Yahudi dan Nasrani.

Karena itulah, sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:

ليتق أحدكم أن يكون يهوديا أو نصرانيا وهو لا يشعر

“Hendaknya kalian khawatir, jangan sampai menjadi Yahudi atau Nasrani, sementara dia tidak merasa.”

Kemudian Hudzaifah membaca ayat di atas, al-Maidah: 51.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya ketika beliau menjelaskan al-Maidah: 51 mengatakan:

أي من يعاضدهم ويناصرهم على المسلمين فحكمه حكمهم ، في الكفر والجزاء وهذا الحكم باق إلى يوم القيامة

Arti dari ayat ini, bahwa orang yang mendukung orang kafir, dan menolong mereka untuk mengalahkan kaum Muslimin, maka HUKUM PENDUKUNG INI SAMA DENGAN MEREKA (ORANG KAFIR). SAMA DALAM KEKUFURAN DAN BALASAN. Dan hukum ini berlaku sampai Hari Kiamat. (Tafsir al-Qurthubi, 6/217)

Ayat lain yang memberikan ancaman keras bagi pendukung orang kafir adalah firman Allah:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ

“Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali, dengan MENINGGALKAN orang-orang Mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.” (QS. Ali Imran: 28)

Imam mufassir, at-Thabari menjelaskan ayat ini:

يعني فقد بريء من الله ، وبريء الله منه ، بارتداده عن دينه ودخوله في الكفر

Artinya, dia telah berlepas diri dari Allah, dan Allah berlepas diri darinya, karena dia MURTAD dari agamanya dan MASUK KE AGAMA KEKUFURAN.

Sebagai contoh yang jelas adalah “Teman A-Hog”. “Teman A-Hog” bukanlah sebatas teman saja. Sebagian besar di antara mereka menghasung A-Hog untuk menjadi pemimpin, mendukungnya, mengampanyekannya, bahkan memuliakannya, karena anggapan, dia lebih mulia dibandingkan Muslim yang lain. Kita tidak menilai status “Teman A-Hog”, tetapi kita bisa menilai dengan menyimpulkan beberapa dalil dan penjelasan ulama terhadap dalil.

Setidaknya di antara mereka melakukan kemunafikan. Munafik, karena khianat terhadap ajaran agamanya. Sikap dan perilaku jahat kaum munafik – yang secara lahir mengaku beriman, tetapi batinnya mencintai kekufuran – bahkan diabadikan dalam satu surat khusus, yaitu Surat al-Munafiqun (surat ke-63). Mereka dikenal sebagai pendusta. Mengaku-aku iman, padahal selalu memusuhi kaum Muslimin dan membela orang kafir.

Dalam peristiwa semacam ini, kita sudah bisa menebak arah gerakan mereka. Mereka akan selalu menjadi garda terdepan pembela si calon gubernur kafir itu. Mereka sangat berharap, agar yang menang adalah si calon gubernur kafir. Mari kita baca ayat ini:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا . الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik, bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (QS An-Nisa 138)

(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan MENINGGALKAN orang-orang Mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (QS An-Nisa 139)

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (QS An-Nisa :145)

Sedangkan dalam hal “Peminum Minuman Keras”, tidak ditemukan satu dalil pun, baik dari Alquran maupun hadis, yang menyatakan, bahwa pelakunya diancam dengan kekafiran. Memang, sesungguhnya meminum minuman keras (khamr) adalah perbuatan yang diharamkan oleh Alquran, hadis dan ijma’ para ulama. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.

“Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr (arak), berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu, agar kamu mendapatkan keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kami, lantaran (meminum) khamr (arak) dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat. Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul (Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” [Al-Maidah : 90-92]

Dan Rasulullah ﷺ bersabda, artinya:

“Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr adalah haram”.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, seluruh umat Islam sepakat, bahwa khamr adalah minuman yang diharamkan secara baku, dan tidak ada perbedaan di antara para ulama. Sehingga sebagian ulama mengatakan, bahwa haramnya khamr termasuk masalah agama yang diketahui tanpa menggunakan dalil. Sehingga mereka mengatakan, bahwa barang siapa yang mengingkari haramnya khamr, sedang dia hidup di tengah masyarakat, maka dia dianggap kafir dan wajib disuruh bertaubat. Bila tidak mau bertaubat, maka harus dibunuh. [Fatawa Nurun Ala Darb Syaikh Utsaimin, hal. 86]

Misalnya seseorang yang meminum khamr dengan keyakinan, bahwa khamr itu halal, padahal ia sudah mengetahui, bahwa Islam melarangnya, para ulama menyebut hal ini sebagai kafir juhud (kafir karena menentang Al-quran). Yaitu orang yang meyakini kebenaran ajaran Rasulullah ﷺ, namun lisannya mendustakan, bahkan memerangi dengan anggota badannya, menentang karena kesombongan. Ini seperti kufurnya iblis terhadap Allah, ketika diperintahkan sujud kepada Adam ‘alaihissalam, padahal iblis mengakui Allah sebagai Rabb:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka, kecuali iblis. Ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (QS. Al Baqarah: 34)

Juga kufurnya Fir’aun terhadap Nabi Musa ‘alaihissalam dan kufurnya orang Yahudi terhadap Nabi Muhammad ﷺ.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan: “Seorang hamba, jika ia melakukan dosa dengan keyakinan, bahwa sebenarnya Allah mengharamkan perbuatan dosa tersebut, dan ia juga berkeyakinan, bahwa wajib taat kepada Allah atas segala larangan dan perintah-Nya, maka ia tidak kafir”. Lalu beliau melanjutkan, “..barang siapa yang melakukan perbuatan haram dengan keyakinan bahwa itu halal baginya, maka ia kafir dengan kesepatakan para ulama” (Ash Sharimul Maslul, 1/521).

Wallahu ta’ala a’lam.

Sumber:

https://konsultasisyariah.com/28521-apakah-teman-a-Hok-kafir.html

Isteri Meminta Talak Karena Suami Pemabuk

TERORISME DAN PAHAM KHAWARIJ

TERORISME DAN PAHAM KHAWARIJ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

TERORISME DAN PAHAM KHAWARIJ

Oleh: Asy Syaikh DR. Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi Al-Harbi

(Diringkas dan ditranskrip oleh Abu Hamzah)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada yang tidak ada nabi setelahnya … Waba’du.

Allah tabaraka wa ta’ala telah memuliakan kita dengan kemuliaan yang agung, berupa pengutusan Nabi-Nya ﷺ, sehingga Allah keluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya. Allah muliakan kita setelah kehinaan, dan Allah satukan kita setelah perpecahan. Bahkan Allah jadikan kita bersaudara, berkasih sayang dan bersatu padu, tak ada kelebihan bagi seseorang atas yang lainnya, kecuali takwa. Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah, ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujuraat: 13).

Allah juga berfirman:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan. Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. Dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imran: 103).

Kaum Muslimin hidup dalam kenikmatan yang agung, dan mereka pun berbahagia dengannya pada masa Nabi ﷺ, sampai munculnya benih-benih perselisihan, yaitu ketika Abdullah bin Saba dan para pengikutnya merongrong pemerintahan ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu (inilah ciri khas kelompok Khawarij sepanjang sejarah, yakni menentang pemerintahan yang sah, -pent.).

Cikal bakal munculnya Khawarij pun telah ada sebelumnya, saat penentangan yang dilakukan Dzul Khuwaisiroh At-Tamimiy, atas pembagian ghanimah yang dilakukan oleh Nabi ﷺ pada hari perang Hunain, di mana Dzul Khuwaisiroh berkata: “Adil-lah hai Muhammad, karena engkau belum adil”. Dia juga mengatakan, bahwa pembagian itu tidak di atas keridaan Allah. Kemudian Nabi ﷺ menjawab: “Celaka! Siapa yang akan berbuat ‘adil, jika aku tidak ‘adil. Tidakkah kalian percaya kepadaku, sedang aku dipercaya oleh Yang Di Langit.”

Tatkala Umar hendak membunuhnya, Nabi ﷺ melarangnya seraya berkata: “Tahan! Sungguh akan keluar dari turunannya orang ini, suatu kaum yang kalian merasa shalat kalian itu rendah, bila dibanding shalatnya mereka, demikian pula shaum kalian, bila dibanding shaum mereka. Mereka kaum yang senantiasa membaca Alquran, namun tidak sampai tenggorokannya. Mereka keluar dari agama, seperti keluarnya anak panah dari bagian tubuh hewan buruan yang telah dibidik bagian tubuh lainnya.”

Arus perselisihan kian memanas dengan semaraknya hizb (kelompok) pembangkang yang menghembuskan gelombang fitnah. Perpecahan dan tikaman terhadap Islam pun semakin tajam. Khawarij itulah biang keladinya. Mereka memerangi sahabat ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, menghalalkan darah kaum Muslimin dan hartanya, dan menyamarkan jalan yang lurus, serta memerangi Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Maka Ali radhiyallahu ‘anhu segera membungkam fitnahnya, memerangi mereka, bahkan Dzul Khuwaisiroh pun terbunuh. Kemudian mereka merencanakan untuk membunuh sejumlah para sahabat, hingga Ali radhiyallahu ‘anhu pun berhasil mereka bunuh.

Fitnahnya (Khawarij) terus membara. Kadang terang-terangan, kadang juga sembunyi-sembunyi, sampai hari ini, dan sampai yang paling akhirnya akan keluar bersamaan dengan Dajjal, seperti yang diberitakan oleh Nabi ﷺ.

Akhir-akhir ini muncul kembali suara-suara, artikel-artikel dan seruan-seruan dari orang-orang yang picik akalnya, mengajak kepada perpecahan di dalam tubuh umat. Mengajak keluar dari kesatuan yang hakiki dan masuk ke dalam jamaah yang terkotak-kotak. Menyeru kepada sikap ekstrim dan berlebih-lebihan dengan slogan-slogan yang menyilaukan, hingga mencerai-beraikan barisan umat. Mmemrovokasi para pemuda dengan segala macam cara, melalui doktrin-doktrin pemikiran Khawarij.

Orang-orang yang berpemikiran Khawarij ini menyebarkan kebatilannya dengan menempuh beberapa cara, di antaranya:

  1. Meremehkan dakwah kepada tauhid, dengan alasan, urusan akidah telah diketahui banyak orang, dan mungkin dapat memahaminya dalam jangka sepuluh menit. Lebih dari itu, mereka pun enggan untuk mendakwahkan akidah yang benar, dengan sangkaan akan memecah belah umat.
  1. Mencela ulama umat, merendahkan ilmunya, dan memalingkan pendengarannya dari para ulama, dengan dalih mereka tidak paham kondisi, dan bukan ahlinya untuk menyelesaikan problema umat dan mengemban urusan-urusannya (sering sekali mereka mengatakan, ulama tidak paham trik-trik politik, atau ulama hanya sibuk dengan tumpukan-tumpukan kitab, -pent)
  1. Menjauhkan para pemuda dari ilmu yang syari yang berlandaskan Kitab dan Sunnah, serta menyibukkan mereka dengan nasyid-nasyid provokasi yang disebar di sana sini lewat media elektronik yang dibaca, dilihat ataupun didengar.
  1. Meremehkan keberadaan Wulatul Umur/Pemerintah dan menjelaskan ‘aib-aibnya di atas mimbar atau lewat tindakan-tindakan yang meresahkan, serta menakwil nash-nash yang ditujukan untuk taat terhadap Waliyyul Amri/Pemerintah, bahwa nash-nash tersebut untuk Imamul A’dhom yakni khalifah kaum Muslimin seluruhnya.

(Mereka lupa atau pura-pura lupa, dengan apa yang telah menjadi konsensus ulama, bahwa dalam keadaan berbilangnya wilayah-wilayah Islam, maka setiap wilayah itu punya hak dan kewajiban-kewajibannya terhadap penguasanya. Karena itu wajib untuk taat dalam hal yang ma’ruf, dan haram untuk memberontaknya, selama menegakkan hukum-hukum Allah di tengah-tengah umat).

  1. Menghadirkan para pemikir yang berpemahaman Khawarij, lalu mengumpulkan para pemuda dalam satu halaqoh, mencuci otak mereka dalam pertemuan tertutup, menjauhkan para pemuda dari ulamanya dan dari pemerintahnya, serta mengikatkan mereka dengan tokoh-tokoh, yang mana pemberontakan dan pengafiran menjadi jalan pikirannya.
  1. Mengajak untuk berjihad, yang dalam pandangan mereka adalah menghalalkan darah kaum Muslimin dan hartanya, memrovokasi untuk membuat pengrusakan dan pengeboman (di sejumlah tempat), dengan anggapan, bahwa negeri Muslimin adalah negeri kafir (alasan mereka meng-klaim demikian, karena hukum pemerintahan yang diberlakukannya bukan hukum Islam). (Ini jelas pemahaman yang keliru dan membahayakan, -pent). Karena itu menurut mereka, negeri Muslimin yang demikian keadaannya adalah negeri jihad, negeri perang.

Mereka tanamkan pemikirannya ini lewat sebagian nasyid-nasyid. Bahkan sampai pada tahap melatih para pemuda menggunakan segala macam jenis senjata di tempat-tempat yang jauh dari penglihatan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. (Benarlah sabda Nabi ﷺ yang menyebutkan, kalau mereka itu memerangi Ahlil Islam dan membiarkan Ahlil Autsaan/Musyrikin. HR. Muslim 4/389 no. 1064. Ibnu Umar berkata: “Mereka bertolak dari ayat-ayat yang diturunkan untuk orang-orang kafir lalu diterapkan pada orang-orang Mukmin.” HR. Bukhari 14/282, -pent)

  1. Menyebarkan buku-buku, selebaran-selebaran dan berkas-berkas serta kaset-kaset yang mengajak pada pemikiran Khawarij, pengafiran kaum Muslimin, lebih-lebih ulama dan pemerintah, di antara buku-buku tersebut adalah:a. Karya-karya Sayyid Qutb. Buku yang paling berbahayanya, yang di dalamnya terdapat pengafiran umat dan celaan terhadap sahabat, bahkan terhadap para nabi, ialah seperti Fi Zhilalil Qur`an, Kutub wa Syakhsiyat, Al-Adalah Al-Ijtima’iyyah, Ma’alim fi Thariq.b. Buku-buku Abul A’la Al-Maududy, buku-buku Hasan Al-Banna, Said Hawa, ‘Isham Al-‘Atthar, Abu Al-Fathi Al-Bayanuni, Muhammad Ali As-Shabuniy, Muhammad Hasan Hanbakah Al-Maidani, Hasan At-Turaby, Al-Hadiby, At-Tilmisani, Ahmad Muhammad Rosyid, Isham Al-Basyir, (juga buku-buku DR. Abdullah Azzam Al-Mubarok, Fathi Yakan, dan buku “Aku Melawan Teroris” Imam Samudra, -pent.)c. Buku-buku dan kaset-kaset Muhammad Surur bin Nayif Zaenal Abidin pendiri/pimpinan Yayasan Al-Muntada -London- (dulu di Indonesia pun ada yayasan yang bernama Al-Muntada –Jakarta. Namun kini telah berubah nama menjadi Al-Shofwah -Jakarta-).

Buku-buku seperti ini bila dibaca oleh pemuda yang belum matang pemikirannya, dan tidak punya kemampuan ilmu, akan dapat merusak akalnya. Ia akan berjalan di belakang angan-angan, siap untuk menjalankan tuntutan-tuntutannya, walaupun harus membunuh dirinya, atau lainnya dari kaum Muslimin, atau membunuh orang-orang yang mendapat jaminan keamanan, demi untuk mencapai tujuan SYAHID DI JALAN ALLAH dan SURGA, seperti yang digambarkan oleh para tokoh-tokohnya, bahwa inilah jalan yang benar. Siapa yang menempuhnya, ia akan mendapatkan cita-citanya dan sukses meraih ridlo Allah.

Maka pengafiran, pengeboman, pengrusakan di negeri kaum Muslimin dan keluar dari Manhaj Salafusshalih adalah jalan petunjuk (walaupun banyak dari mereka saat ini mengaku pengikut manhaj Salaf, namun itu semua hanya kedustaan semata, dan usianya pun takkan lama, -pent).

Untuk menyelamatkan diri dari pemikiran takfir (Khawarij) ini, sudah sepatutnya bagi masing-masing pribadi atau keseluruhannya mengambil langkah-langkah berikut ini:

a. Menyeru para pemuda agar berpegang teguh kepada Kitab dan Sunnah, serta kembali pada keduanya dalam setiap urusan, karena keduanya adalah pagar, yang dengannya Allah akan menjaga dari kebinasaan.

b. Mengokohkan pemahaman terhadap Kitab dan Sunnah sesuai dengan Manhaj Salafusshaleh. Namun ini tidak akan dapat terwujud, kecuali bila kaum Muslimin bertafaqquh kepada para ulama robbani yang menjaga Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ dari penyelewengan dan kebatilan, serta takwilnya orang-orang jahil. Allah berfirman:

“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (Al-Anbiya: 7). Allah juga berfirman: “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri (ulama) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulul Amri).” (An-Nisaa: 83).

Dan menutup jalan orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, yang memunculkan fatwa-fatwa tanpa ilmu, dan memalingkan pendengarannya dari para ulama, serta menyifati para ulama dengan sesuatu, yang sebetulnya justru layak ada pada mereka sendiri.

Maka berkumpulnya para pemuda di sekitar para ahli waris nabi yang mendalam bidang keilmuannya, adalah proteksi dengan ijin Allah, dari para perampok yang menyebarkan kebatilan-kebatilan, di mana mereka mengira, bahwa tidak ada rujukan yang dapat mengikat para pemuda.

c. Menjauh dari sumber-sumber fitnah, menghindar dari kejelekan-kejelekan dan akibat negatifnya. Allah berfirman: “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.” (Al-Anfaal: 25)

d. Berkomitmen dengan kesatuan kaum Muslimin dan penguasanya, serta menancapkan pemahaman yang benar dalam hal ketaatan terhadap pemeritah (yakni dalam hal yang ma’ruf). Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amri di antara kamu.” (An-Nisaa`: 59).

Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa saja yang melihat sesuatu yang tidak disenangi dari penguasanya, maka hendaknya bersabar. Karena siapa yang memisahkan diri dari kesatuan walau sejengkal kemudian mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.”

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya hadis yang panjang dari sahabat Hudzaifah. (Dalam hadis itu ia berkata:) “Apa yang harus kulakukan bila menjumpai hal itu?” Rasul ﷺ menjawab: “Engkau tetap komitmen dengan jamaah Muslimin dan penguasanya/imamnya”. “Bila tidak ada jamaah dan imamnya,” lanjut Hudzaifah. Rasul ﷺ menjawab: “Engkau jauhi semua firqah-firqah, walau harus menggigit akar pohon. Sampai engkau mati, engkau tetap seperti itu.”

e. Bersungguh-sungguh untuk mencermati segala perkara dengan benar, memahaminya dan menelitinya, serta mengukur bahayanya. Seorang Mukmin tidak boleh tertipu dengan perkara-perkara yang transparan, tetapi ia harus mawas diri dan waspada, terhadap segala yang tengah berlangsung di sekitarnya, disertai dengan keteguhan, dan tidak goyah dari manhaj yang benar. Tidak boleh pula terburu-buru mengeluarkan vonis/hokum, atau berkecimpung dalam masalah-masalah syari tanpa ilmu.

f. Mengembalikan istilah-istilah iman, din, vonis kafir atau fasiq atau bid’ah kepada rambu-rambu syari yang didukung Kitab dan Sunnah, serta berhati-hati dalam menjatuhkan hukum terhadap Muslimin tanpa ketentuan yang valid, karena yang demikian itu sangat berbahaya. Seorang Muslim haram untuk mengafirkan saudaranya yang Muslim secara khusus, walaupun ia melakukan hal-hal yang menyebabkan kekufuran, kecuali bila terpenuhi syarat-syaratnya, dan hilang perkara-perkara yang mencegahnya dari vonis kafir.

Inilah sebagian perkara yang harus diperhatikan oleh seorang Muslim ketika timbul fitnah yang memilukan. Karena itu wajib bagi semua pihak, baik pemerintah ataupun rakyat, ulama ataupun pelajar, agar bersungguh-sungguh menghadang fitnah ini, dan mencabut dari akar-akarnya, terlebih apa yang terjadi di hari-hari ini berupa fitnah takfir (paham Khawarij).

Fitnah ini sudah menjalar sampai pada tahap menghalalkan darah kaum Muslimin dan hartanya, serta merusak fasilitas-fasilitasnya dengan menggunakan bom dan alat perusak lainnya.

Orang-orang yang picik akalnya lagi muda usianya diprovokasi oleh tandzim-tandzim (organisasi-organisasi –pent) yang menipu, tulisan-tulisan yang tidak bertanggung jawab, dan fatwa-fatwa yang menyesatkan, sehingga menyulap mereka menjadi para perusak, memerangi kaum Muslimin dan merampas hartanya, dan membunuh orang-orang yang mendapat jaminan keamanan, serta merampas hartanya. Mereka namakan yang demikian itu dengan nama JIHAD.

 

(Sumber: http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=39)

 

https://ulamasunnah.wordpress.com/2009/08/08/terorisme-dan-faham-Khawarij/

 

 

INGATLAH! ORANG KAFIR SENANTIASA MEMERANGI KAUM MUSLIMIN, AGAR KITA MURTAD

INGATLAH! ORANG KAFIR SENANTIASA MEMERANGI KAUM MUSLIMIN, AGAR KITA MURTAD

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

INGATLAH! ORANG KAFIR SENANTIASA MEMERANGI KAUM MUSLIMIN, AGAR KITA MURTAD

Kaum kafirin dari golongan Ahlul Kitab dan musyrikin tidaklah pernah rela kepada kaum Muslimin. Allah berfirman:

مَّا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلاَ الْمُشْرِكِينَ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْكُم مِّنْ خَيْرٍ مِّن رَّبِّكُمْ

Orang-orang kafir dari Ahli Kitab (yaitu Yahudi dan Nasrani – pent) dan orang-orang musyrik, tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu, dari Rabb-mu. (QS. Al-Baqarah/2: 105)

وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan, agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran, setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. (QS. Al-Baqarah/2: 105).

Semoga kaum Muslimin menyatukan barisan di atas Sunnah Rasulullah ﷺ. Dengan Sunnah Rasulullah ﷺ, akan HILANGLAH pandangan mulia dan kepercayaan kepada kaum kafirin.

 

Sumber: https://ibnumajjah.wordpress.com/2017/01/20/khutbah-tidak-percaya-kaum-kafir/

ORANG KAFIR: MUSUH ISLAM PALING KERAS DALAM UPAYA MENGHANCURKAN UMAT ISLAM

ORANG KAFIR: MUSUH ISLAM PALING KERAS DALAM UPAYA MENGHANCURKAN UMAT ISLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

ORANG KAFIR: MUSUH ISLAM PALING KERAS DALAM UPAYA MENGHANCURKAN UMAT ISLAM

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Sungguh akan kalian dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang memersekutukan Allah (musyrik).” (QS. al-Maa’idah [5]: 82).

Yahudi dan orang-orang musyrik. Dua kelompok inilah MUSUH ISLAM YANG PALING KERAS dalam berupaya untuk menghancurkan umat Islam.

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan:

“Secara umum, kedua kelompok inilah golongan manusia yang PALING BESAR DALAM MEMUSUHI ISLAM DAN KAUM MUSLIMIN, dan paling banyak berusaha mendatangkan bahaya kepada mereka. Hal itu karena sedemikian keras kebencian orang-orang itu kepada kita (umat Islam), yang dilatar belakangi oleh sikap melampaui batas, kedengkian, penentangan, dan pengingkaran (mereka kepada kebenaran).” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 220).

Demikian pula orang-orang Nasrani. Mereka juga menginginkan agar umat Islam mengikuti jejak kesesatan mereka. Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya):

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah merasa puas/rida kepada kalian, sampai kalian mau mengikuti millah (ajaran agama) mereka.” (QS. al-Baqarah [2]: 120).

Seperti itulah tekad jahat musuh-musuh Islam yang sangat bernafsu untuk mencabut akidah Islam yang suci nan mulia dari dada-dada kaum Muslimin. Tak henti-hentinya mereka menyerang kaum Muslimin dengan pemikiran dan kekuatan mereka, serta bekerja keras siang dan malam, agar umat yang terbaik ini menjadi teman setia mereka, untuk bersama-sama masuk ke jurang Neraka.

Allah ta’ala menggambarkan tentang permusuhan yang dikobarkan oleh orang-orang musyrik kepada umat ini dalam firman-Nya (yang artinya):

“Dan mereka senantiasa memerangi kalian, agar kalian mau murtad dari agama kalian, kalau saja mereka mampu melakukannya. Barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, kemudian mati dalam keadaan kafir, maka mereka itulah orang yang terhapus amal-amal mereka di dunia, dan di Akhirat. Dan mereka itulah para penghuni Neraka, mereka kekal berada di dalamnya.” (QS. al-Baqarah [2]: 217).

Itulah upaya mereka! Bukanlah tujuan mereka semata-mata untuk membunuh kaum Muslimin atau merampas harta-harta mereka. Akan tetapi maksud mereka sesungguhnya adalah, agar umat Islam ini murtad dari agamanya, sehingga mereka akan ikut-ikutan menjadi kafir sesudah, sebelumnya, mereka beriman. Dan pada akhirnya mereka akan ikut terseret ke dalam Neraka. Inilah karakter orang-orang kafir secara umum. Tidak henti-hentinya mereka memerangi umat Islam. Dan yang paling menonjol dalam hal itu adalah Ahli Kitab yaitu Yahudi dan Nasrani. Mereka kerahkan kekuatan mereka untuk memurtadkan kaum Muslimin. Akan tetapi, ketahuilah bahwasanya Allah enggan memenuhi hasrat mereka untuk memadamkan cahaya-Nya. Maka Allah akan tetap menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir itu tidak suka (disadur dari Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 81-82).

 

Dinukil dari artikel yang berjudul: “Ada Apa Antara Yahudi Dengan Kita?” yang ditulis oleh: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Sumber: http://muslim.or.id/486-ada-apa-antara-yahudi-dengan-kita.html

[www.muslim.or.id]

 

 

,

ABU LAHAB PUNYA SEGALANYA, TAPI ITU TAK BERMANFAAT UNTUKNYA

ABU LAHAB PUNYA SEGALANYA, TAPI ITU TAK BERMANFAAT UNTUKNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

ABU LAHAB PUNYA SEGALANYA, TAPI ITU TAK BERMANFAAT UNTUKNYA

Paman Nabi  ﷺ yang hidup di masa kerasulan ada empat orang. Dua orang beriman kepada risalah Islam dan dua lainnya kufur, bahkan menentang. Dua orang yang beriman adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan al-Abbas bin Abdul Muthalib radhiallahu ‘anhuma.

Satu orang menolong dan menjaganya, tidak menentang dakwahnya, namun ia tidak menerima agama Islam yang beliau ﷺ bawa, dia adalah Abu Thalib bin Abdul Muthalib. Dan yang keempat adalah Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Ia menentang dan memusuhui keponakannya, bahkan menjadi tokoh orang-orang musyrik yang memerangi beliau ﷺ.

Nama terakhir ini kita kenal dengan Abu Lahab. Dan Alquran mengabadikannya dengan nama itu.

Sifat Fisiknya

Lewat film dan gambar-gambar, Abu Lahab dikenalkan dengan perawakan jelek (tidak tampan) dan hitam. Sehingga kesan garang seorang penjahat begitu cocok dengan penampilannya. Namun sejarawan meriwayatkan, bahwa Abu Lahab adalah sosok yang sangat putih kulitnya. Seorang laki-laki tampan dan sangat cerah wajahnya. Demikianlah orang-orang jahiliyah mengenalnya.

Pelajaran bagi kita. Abu Lahab memiliki nasab yang mulia. Seorang Quraisy, paman dari manusia terbaik dan rasul yang paling utama, Muhammad ﷺ. Memiliki kedudukan di tengah kaumnya. Memiliki paras yang rupawan. Namun semuanya tidak ada artinya tanpa keimanan. Allah hinakan dia dengan mencatatnya sebagai seorang yang celaka. Dan dibaca oleh manusia hingga Hari Kiamat dalam surat al-Masad.

Sementara Bilal bin Rabah, seorang budak, hitam, tidak pula tampan, dan jauh dari kedudukan serta kemapanan, namun Allah ﷻ muliakan dengan keimanan. Oleh karena itu, janganlah tertipu dengan keadaan. Rasulullah  ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Mengapa Ia Disebut Abu Lahab?

Kun-yah dari Abdul Uzza bin Abdul Muthalib adalah Abu Lahab. Lahab artinya api. Karena Abdul Uzza ketika marah, rona wajahnya berubah menjadi merah layaknya api. Dengan kun-yahnya inilah Alquran menyebutnya, bukan dengan nama aslinya. Alasannya:

Pertama: Karena Alquran tidak menyebutkan nama dengan unsur penghambaan kepada selain Allah. Namanya adalah Abdul Uzza, yang berarti hambanya Uzza. Uzza adalah berhala Musyrikin Mekah.

Kedua: Orang-orang lebih mengenalnya dengan kun-yahnya dibanding namanya.

Ketiga: Imam al-Qurthubi rahimahullah menyatakan dalam tafsirnya, bahwa nama asli itu lebih mulia dari kun-yah. Oleh karena itu, Allah menyebut para nabi-Nya dengan nama-nama mereka sebagai pemuliaan. Dan menyebut Abu Lahab dengan kun-yahnya. Karena kun-yah kedudukannya di bawah nama. Ini menurut al-Qurthubi rahimahullah.

Orang-orang di masanya juga mengenal Abu Lahab dengan Abu Utbah (ayahnya Utbah). Namun karena kekafiran, Allah ﷻ kekalkan nama Abu Lahab untuknya. Sebenarnya ia adalah tokoh Mekah yang cerdas. Sayang kecerdasan dan kepandaiannya tidak bermanfaat sama sekali di sisi Allah, karena tidak ia gunakan untuk merenungkan kebenaran syariat Islam yang lurus.

Anak-anaknya

Abu Lahab memiliki tiga anak laki-laki. Mereka adalah Utbah, Mut’ib, dan Utaibah. Dua nama pertama memeluk Islam saat Fathu Mekah. Sedangkan Utaibah tetap dalam kekufuran.

Di antara kebiasaan bangsa Arab adalah menikahkan orang-orang dalam lingkar keluarga dekat. Sebelum menjadi rasul, Rasulullah ﷺ menikahkan anaknya Ummu Kultsum dengan Utaibah dan Ruqayyah dengan Utbah.

Ketika surat Al-Masad turun, Abu Lahab mengultimatum kedua putranya:

“Kepalaku dari kepala kalian haram, sebelum kalian ceraikan anak-anak perempuan Muhammad!!”, kata Abu Lahab. Ia mengancam kedua putranya tidak akan bertemu dan berbicara kepada mereka, sebelum menceraikan putri Rasulullah ﷺ.

Ketika Utaibah hendak bersafar bersama ayahnya menuju Syam, ia berkata:

“Akan aku temui Muhammad. Akan kusakiti dia dan kuganggu agamanya. Saat di hadapannya kukatakan padanya:

“Wahai Muhammad, aku kufur dengan bintang apabila ia terbenam, dan apabila ia dekat dan bertambah dekat lagi…’ Lalu Utaibah meludahi wajah nabi, kemudian menceraikan anak beliau, Ummu Kultsum.

Nabi ﷺ mendoakan keburukan untuknya:

“Ya Allah, binasakan dia dengan anjing dari anjing-anjingmu.” (Dihasankan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 4/39). Utaibah pun tewas diterkam singa.

Sementara Abu Lahab mati tujuh hari setelah Perang Badr. Ia menderita bisul-bisul di sekujur tubuh. Tiga hari mayatnya terlantar. Tak seorang pun yang mau mendekati bangkai si kafir itu.

Karena malu, keluarganya menggali lubang, kemudian mendorong tubuh Abu Lahab dengan kayu panjang, hingga masuk ke lubang itu. Kemudian mereka lempari makamnya dengan batu, hingga jasadnya tertimbun. Tidak ada seorang pun yang mau membopong mayitnya, karena takut tertular penyakit. Ia mati dengan seburuk-buruk kematian.

Pasangan Dalam Keburukan

Istri Abu Lahab adalah Ummu Jamil Aura’. Nama yang tak seindah karakter aslinya. Ia diabadikan dalam surat al-Masad sebagai wanita pembawa kayu bakar. Perlakuannya amat buruk terhadap Rasulullah ﷺ. Ia taruh kayu dan tumbuhan berduri di jalan yang biasa dilewati Rasulullah ﷺ di malam hari, agar Nabi tersakiti. Ia tak kalah buruk dengan suaminya.

Ummu Jamil adalah wanita yang suka mengadu domba dan menyulut api permusuhan di tengah masyarakat. Ia memiliki kalung mahal dari permata: “Demi al-Lat dan al-Uzza, akan kuinfakkan kalung ini untuk memusuhi Muhammad”, katanya. Allah ﷻ gantikan kalung indah itu dengan tali dari api Jahannam untuk mengikat lehernya di Neraka.

Ketika Allah ﷻ menurunkan surat al-Masad yang mencelanya dan sang suami, wanita celaka ini langsung mencari Rasulullah ﷺ. Sambil membawa potongan batu tajam, ia masuk ke Masjid al-Haram. Rasulullah ﷺ bersama Abu Bakar berada di sana.

Saat telah dekat, Allah ﷻ butakan pandangannya dari melihat Rasulullah ﷺ. Ia hanya melihat Abu Bakar. Tak ada Muhammad ﷺ di sampingnya.

“Wahai Abu Bakar, aku mendengar temanmu itu mengejekku dan suamiku! Demi Allah, kalau aku menjumpainya akan aku pukul wajahnya dengan batu ini!!” Cercanya penuh emosi.

Kemudian ia bersyair:

مُذمماً عصينا ، وأمره أبينا ، ودينه قلينا

Orang tercela kami tentang

Urusan kami mengabaikannya

Dan agamanya kami tidak suka

Ia ganti nama Muhammad (yang terpuji) dengan Mudzammam (yang tercela). Kemudian ia pergi.

Abu Bakar bertanya heran:

“Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mengira dia melihatmu?”

“Dia tidak melihatku. Allah telah menutupi pandangannya dariku”, jawab Rasulullah ﷺ.

Pelajaran:

Pertama: Abu Lahab memiliki segalanya. Ia menyandang nasab mulia, bangsawan dari kalangan Bani Hasyim. Terpandang dan memiliki kedudukan di tengah kaumnya. Paman manusia terbaik sepanjang masa. Berwajah tampan. Seorang yang cerdas dan pandai memutuskan masalah. Profesinya pebisnis, mengambil barang dari Syam untuk dipasok ke Mekah atau sebaliknya. Tapi itu semua sama sekali tidak bermanfaat untuknya. Karena itu, seseorang jangan tertipu dengan dunia yang ia miliki. Apalagi yang tidak memiliki dunia.

Kedua: Penampilan fisik, kedudukan, kekayaan, BUKANLAH acuan seseorang itu layak diikuti dan didengarkan ucapannya. Karena sering kita saksikan di zaman sekarang, orang kaya lebih didengar dan diikuti daripada para ulama. Ketika motivator bisnis, mereka yang menyandang gelar akademik tinggi, berbicara tentang agama, masyarakat awam langsung menilainya sebuah kebenaran.

Ketiga: Pasangan seseorang itu tergantung kualitas dirinya. Ia bagaikan cermin kepribadian.

Keempat: Hidayah Islam dan iman itu mahal dan berharga. Sebuah kenikmatan yang tidak Allah berikan kepada keluarga para nabi. Anak Nabi Nuh, istri Nabi Luth, ayah Nabi Ibrahim, dan paman Rasulullah Muhammad ﷺ, Abu Thalib dan Abu Lahab, tidak mendapatkan kenikmatan ini. Oleh karena itu kita layak bersyukur. Allah memilih kita menjadi seorang Muslim, sementara sebagian keluarga para nabi tidak. Pantas kita syukuri nikmat ini dengan memelajari Islam, mengamalkan, dan mendakwahkannya.

 

Sumber:

– Hisyam, Ibnu. 2009. Sirah Ibnu Hisyam. Beirut: Dar Ibn Hazm.

– Tafsir al-Qurthubi surat al-Masad ayat 1-5: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura111-aya1.html

– Tafsir Ibnu Katsir surat al-Masad ayat 1-5: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura111-aya1.html#katheer

 

Oleh Nufitri Hadi (@nfhadi07)

[KisahMuslim.com]

 

Sumber:

https://kisahmuslim.com/5398-abu-lahab-ia-punya-segalanya-tapi-tak-bermanfaat-untuknya.html

https://aslibumiayu.net/13379-abu-lahab-nasabnya-mulia-parasnya-menawanharta-melimpah-tapi-ketika-tidak-ikut-ajaran-nabi-maka-jadi-orang-yang-rugi.html

 

,

NODA HITAM DEMOKRASI

NODA HITAM DEMOKRASI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

NODA HITAM DEMOKRASI

Menurut para pencetusnya, demokrasi adalah kekuasaan rakyat, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Rakyat adalah pemegang kekuasaan mutlak, di mana rakyat berperan serta langsung menentukan arah kebijaksanaan negaranya dengan memilih wakil yang dia kehendaki secara bebas.

Sistem demokrasi sangat BERTENTANGAN dengan hukum Islam ditinjau dari beberapa segi:

  1. Hukum dan Undang-Undang Buatan Manusia

Dalam Islam, hukum dan undang-undang merupakan hak mutlak Allah, sedang Nabi Muhammad ﷺ hanya menyampaikan.

إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah” (QS al-An‘am [6]: 57)

Manusia boleh membuat peraturan dan undang-undang, selama TIDAK BERTENTANGAN dengan Alquran dan Sunah.

Adapun dalam sistem demokrasi, undang-undang dibuat oleh manusia (baca: perwakilan rakyat dalam parlemen), sehingga mereka membuat hukum dan undang-undang yang TIDAK berdasar pada agama Islam.

أَمْ لَهُمْ شُرَكَـٰٓؤُا۟ شَرَعُوا۟ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ ۚ

“Apakah mereka memunyai sembahan-sembahan selain Allah, yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS al-Syura [42]: 21).

2. Partai dan Perpecahan

Tidaklah samar bagi kita, bahwa demokrasi dibangun di atas partai politik. Kemudian setiap partai mengajukan wakil mereka, dan nantinya salah satu mereka akan dipilih oleh suara mayoritas rakyat dalam pemilu. Begitu pula tidaklah diragukan, bahwa partai merupakan sumber perpecahan dan permusuhan, yang sangat bertentangan dengan agama Islam yang menganjurkan persatuan dan melarang perpecahan.

3. Kebebasan yang Melampuai Batas

Dalam Islam, kebebasan harus tetap dikendalikan, agar sesuai dengan agama Islam, dan tidak menerjang rambu-rambunya. Adapun dalam sistem demokrasi, kebebasan memiliki wilayah yang seluas-luasnya tanpa kendali.

Oleh karena itu, tak heran bila dalam hukum demokrasi setiap individu tidak dilarang melakukan aktivitas apa pun, selama tidak bertentangan dengan undang-undang, sekalipun dengan murtad dari agama Islam!!! Hanya kepada Allah kita mengadu.

4. Suara Mayoritas adalah Standar

Dalam Islam, standar kebenaran dan kemenangan adalah yang sesuai dengan Alquran dan Sunah, sekalipun sedikit orangnya. Adapun dalam sistem demokrasi, standarnya adalah suara dan aspirasi mayoritas rakyat, sehingga konsekuensi logisnya adalah, apabila mayoritas rakyat suatu negara adalah orang yang rusak, maka mereka akan memilih pemimpin yang sesuai dengan selera mereka, karena burung-burung itu berkumpul dengan sesama jenisnya!!

5. Persamaan Derajat antara Pria dan Wanita

Dalam banyak hukum, agama Islam menyetarakan antara pria dan wanita. Namun dalam sebagiannya, Islam membedakan antara keduanya, seperti dalam hukum waris, diyat, aqiqah, persaksian, dan sebagainya. Sementara itu, dalam hukum demokrasi, pria dan wanita setara dalam semua bidang!!!

 

***

 

Sumber: Risalah al-‘Adlu fi Syarī‘ah Islam wa Laisa fi Dimuqratiyyah al-Maz‘umah karya al-Syaikh ‘Abdul-Muhsin al-‘Abbad hlm. 36–44.

 

Penyusun: Al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi hafizhahullah

[Artikel Muslim.or.id]

 

,

PENGAKUAN MANTAN AKTIVIS MAHASISWA 98 HINGGA BISA MENDUDUKI GEDUNG DPR

PENGAKUAN MANTAN AKTIVIS MAHASISWA 98 HINGGA BISA MENDUDUKI GEDUNG DPR

#ManhajSalaf

#DakwahTauhid

PENGAKUAN MANTAN AKTIVIS MAHASISWA 98 HINGGA BISA MENDUDUKI GEDUNG DPR

Assalamualaikum…

Mas saya mau bagi pengalaman saya waktu jadi aktivis mahasiswa 98 (FAMRED).

Dulu kerjaan saya orasi dari satu kampus ke kampus lain, untuk menghasut agar mahasiswa mau unjuk rasa untuk menentang penguasa yang otoriter menurut kami. Dan puncaknya kami turun ke jalan pada demo Semanggi 1 dan 2 dan pendudukan gedung DPR, dan akhirnya penguasa pada waktu itu turun.

Kami pada demo, dulu murni memerjuangkan nasib rakyat. Tapi ternyata di belakang itu ada yang mengambil keuntungan dari aksi kami, dan banyak provokasi yang menyebabkan kerusuhan dan mahasiswa ditembaki.

Dan pada saat ini, aksi 411 dan 212 juga sama unjuk rasa mengatasnamakan agama Islam. Itulah yang membedakan dulu dan sekarang. Dulu atas nama rakyat dan sekarang atas nama Agama.

Dan saya menyarankan pada yang demo 411 dan 212 untuk bertaubat agar tidak mau lagi untuk unjuk rasa mengatasnamakan agama, karena apabila terjadi pada tahun 98, agama Islam akan rusak.

Karena saya telah mengenal manhaj yang mulia ini, saya pun bertobat dari perbuatan saya yang lalu.

ISLAM AKAN JAYA APABILA ORANG ITU MASUK KE DALAM ISLAM SECARA KAFFAH DAN MEMELAJARINYA BUKAN DENGAN CARA DEMONTRASI.

 

Sumber: Komentar pembaca web aslibumiayu.net di postingan ini: https://aslibumiayu.net/17227-fatwa-ulama-saudi-tentang-demo-4-nopember-tidak-dibenarkan-ikut-demo.html

https://aslibumiayu.net/17935-pengakuan-mantan-aktifis-mahasiswa-98-hingga-bisa-menduduki-gedung-dpr.html

KESEPAKATAN ULAMA ISLAM ATAS HARAMNYA MEMBANTU, MENGHADIRI DAN MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

KESEPAKATAN ULAMA ISLAM ATAS HARAMNYA MEMBANTU, MENGHADIRI DAN MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Dakwah_Tauhid

KESEPAKATAN ULAMA ISLAM ATAS HARAMNYA MEMBANTU, MENGHADIRI DAN MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

Al-Imam Al-‘Allaamah Ibnul Qoyyim rahimahullah telah menukil kesepakatan (Ijma’) ulama Islam:

وَكَمَا أَنَّهُمْ لَا يَجُوزُ لَهُمْ إِظْهَارُهُ فَلَا يَجُوزُ لِلْمُسْلِمِينَ مُمَالَاتُهُمْ عَلَيْهِ وَلَا مُسَاعَدَتُهُمْ وَلَا الْحُضُورُ مَعَهُمْ بِاتِّفَاقِ أَهْلِ الْعِلْمِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُهُ

“Sebagaimana tidak boleh bagi kaum Musyrikin untuk menampakkan perayaan mereka, demikian pula tidak boleh bagi kaum Muslimin untuk membantu, menolong dan ikut hadir dalam perayaan mereka, berdasarkan kesepakatan Ahlul ‘Ilmi (ulama) yang benar-benar ahli.” [Ahkaam Ahli Dzimmah, 3/1245]

Tidak diragukan lagi, bahwa mengucapkan selamat, apalagi ikut hadir, termasuk dalam ketegori ta’awun, yaitu membantu mereka dalam kebatilan. Maka ulama sepakat  melarangnya.

Al-Imam Al-‘Allaamah Ibnul Qoyyim rahimahullah juga menukil Ijma’ ulama Islam:

“Adapun mengucapkan selamat terhadap simbol-simbol kekafiran yang merupakan ciri khususnya, maka hukumnya HARAM berdasarkan kesepakatan (ulama), seperti seseorang mengucapkan selamat terhadap hari raya orang-orang kafir dan puasa mereka. Contohnya ia mengatakan: “Semoga Hari Raya ini menjadi berkah bagimu”, atau “Semoga engkau bahagia dengan Hari Raya ini”, dan yang semisalnya. Maka dengan sebab ucapannya ini, andai ia selamat dari kekafiran, maka ia tidak akan lepas dari perbuatan yang haram.” [Ahkaam Ahli Dzimmah, 1/441]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Memberi selamat kepada orang-orang kafir dalam Perayaan Natal atau perayaan agama mereka yang lainnya adalah HARAM menurut kesepakatan (ulama).” [Majmu’ Al-Fatawa war Rosaail, 3/45]

Maka apabila ada ulama setelahnya kemudian menyelisihi ijma’ tersebut, TIDAK BOLEH bagi kita mengikuti penyelisihan itu, karena ijma’ adalah hujjah dalam agama, telah pasti kebenarannya. Adapun yang menyelisihinya pasti keliru.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [An-Nisa: 115]

Asy-Syaikh Al-Mufassir Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:

“Dalam ayat yang mulia ini terdapat pendalilan, bahwa Ijma’ umat ini adalah hujjah, dan bahwa ia maksum (terjaga) dari kesalahan.

Sisi pendalilannya: Bahwa Allah telah mengancam siapa yang menyelisihi jalan kaum Mukminin, dengan ancaman kehinaan dan Neraka.

Dan jalan kaum Mukminin dalam ayat ini dalam bentuk Mufrod Mudhof (satu kata yang disandarkan), sehingga maknanya mencakup seluruh keyakinan dan amalan kaum Mukminin. Apabila mereka telah sepakat untuk mewajibkan sesuatu, atau menyunnahkannya, atau mengharamkannya, atau memakruhkannya, atau membolehkannya, maka itulah jalan mereka. Barang siapa menyelisihi satu perkara saja setelah terjadinya Ijma’, maka ia telah mengikuti selain jalannya kaum Mukminin.” [Taisirul Kaarimir Rahman fi Tafsiri Kalaamil Mannan, hal. 202]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/719295141553304

Baca selengkapnya:

http://sofyanruray.info/membantu-salim-a-fillah-mentarjih-dan-menjawab-ulil-abshar-abdalla-tentang-natal-bag-1/

http://sofyanruray.info/membantu-salim-a-fillah-mentarjih-dan-menjawab-ulil-abshar-abdalla-tentang-natal-bag-2/