Posts

,

DALAM MENASIHATI, JANGAN MENUNGGU DIRI MENJADI SEMPURNA

DALAM MENASIHATI, JANGAN MENUNGGU DIRI MENJADI SEMPURNA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
DALAM MENASIHATI, JANGAN MENUNGGU DIRI MENJADI SEMPURNA
 
Berikanlah nasihat dan pesan kebaikan kepada orang lain, walaupun Anda masih banyak kekurangan. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata:

فلا بد للإنسان من الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر و الوعظ و التذكير و لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم أحد لأنه لا عصمة لأحد بعده

“Tetap bagi setiap orang untuk mengajak yang lain pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Tetap ada saling menasihati dan saling mengingatkan. Seandainya yang mengingatkan hanyalah orang yang maksum (yang bersih dari dosa, pen.), tentu tidak ada lagi yang bisa memberi nasihat sepeninggal Nabi . Karena sepeninggal Nabi  tidak ada lagi yang maksum.” [Lathaif Al-Ma’arif fima Al-Mawasim Al-‘Aam mi Al-Wazhaif. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami]

Justru dengan langkah ‘memberi nasihat’ itu, kita akan berusaha menjadi lebih baik, dan menambah rasa ‘malu’ kita untuk bermaksiat.
 
Dan pahala untuk orang yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain TIDAK disyaratkan harus menjadi sempurna atau harus melakukannya lebih dulu. Wallahu a’lam.
 
“SIAPAPUN yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala orang yang melakukannya”, sebagaimana sabda Nabi ﷺ.
 
 
Penulis: Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
Sumber: http://bbg-alilmu.com/archives/10635

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

 

#haruskahsempurna, #amarmarufnahimungkar, #tidakharussempurnadahulu, #memberikannasihat, #nasihat, #nasehat, #hilangpemberinasihat, #minimlahorangorangyangmaumengingatkan #orangsempurna #tunggusempurna #jangantunggusempurna #janganmenunggusempurnadahulu #memberinasihat #memberinasehat #menasehati #menasihati #bersihdaridosa, #maksum, #makshum #syaratmenasehati, #syaratmenasihati, #syarat

,

HARUSKAH MENJADI SEMPURNA UNTUK BISA MENASIHATI?

HARUSKAH MENJADI SEMPURNA UNTUK BISA MENASIHATI?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HARUSKAH MENJADI SEMPURNA UNTUK BISA MENASIHATI?
 
Sebagian orang enggan melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar karena merasa belum mampu melakukan amalan ma’ruf yang hendak ia perintahkan, atau meninggalkan kemungkaran yang hendak ia larang. Dia khawatir termasuk ke dalam golongan orang yang mengatakan apa yang tidak dia lakukan. Sebagaimana yang disinggung dalam firman Allah ta’ala:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ(3)
 
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kemurkaan Allah bila kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” [QS. As-Shof: 2-3]
 
Pertanyaan yang harus kita temukan jawabannya adalah:
– Apakah seorang harus sempurna dulu amalannya untuk bisa menasihati orang lain? Kemudian,
– Apakah setiap orang yang tidak melakukan apa yang ia perintahkan, dan melanggar sendiri apa yang dia larang, masuk dalam ancaman ayat di atas?
 
Syaikh Anis Thahir Al-Indunisy, saat kajian membahas kitab Iqtidho’ as-Shirot al-Mustaqiem , di masjid Nabawi malam Senin (20 Rabi’us Tsani 1436 H) menerangkan, bahwa ada dua hal yang perlu dibedakan dalam masalah ini. Beliau mengatakan:
 
فيه فرق بين أن تنصح غيرك وأنت عاجز عن العفل، وبين أن تنصح غيرك و أنت قادر على الفعل
 
“Bedakan antara:
– Anda menasihati seorang, sementara Anda belum ada daya untuk melakukan apa yang Anda nasihatkan, dengan
– Anda menasihati seorang, sementara Anda mampu melakukan apa yang Anda nasihatkan.”
 
Jadi ada dua jenis orang dalam masalah ini:
 
Yang pertama adalah orang yang menasihati orang lain, namun dia sendiri belum mampu melakukan amalan ma’ruf yang ia sampaikan, atau meninggalkan kemungkaran yang ia larang.
Yang kedua adalah orang yang menasihati orang lain, sementara sejatinya dia mampu untuk melakukan pesan nasihat yang ia sampaikan, akan tetapi justru mengabaikan kemampuannya dan ia terjang sendiri nasihatnya, tanpa ada rasa bersalah dan menyesal. Ia merasa nyaman dan biasa-biasa saja dengan tindakan kurang terpuji tersebut.
Orang jenis pertama, dia belum bisa melakukan amalan ma’ruf yang dia perintahkan, karena dia belum memiliki daya untuk melakukannya. Bisa jadi karena hawa nafsunya yang mendominasi, setelah pertarungan batin dalam jiwanya. Sehingga saat ia melanggar sendiri apa yang dia nasihatkan, dia merasa bersalah dan menyesal atas kekurangannya ini, serta senantiasa memperbaharui taubatnya.
 
Saat ia tergelincir pada larangan yang ia larang, ia katakan pada dirinya, “Sampai kapan… sampai kapan kamu seperti ini?! Kamu menasihati orang-orang untuk menjauhi perbuatan ini.. sementara kamu sendiri yang melakukannya?! Tidakkah kamu takut kepada Allah.”
 
Untuk orang yang seperti ini, hendaknya ia jangan merasa enggan untuk beramar ma’ruf dan nahi munkar. Karena tidak menutup kemungkinan, nasihat yang ia sampaikan akan membuatnya terpacu untuk melaksanakan amalan ma’ruf yang dia perintahkan, atau meninggalkan kemungkaran yang dia larang. Hal ini sudah menjadi suatu hal yang lumrah dalam pengalaman seorang.
 
Adapun orang jenis kedua, dia menerjang sendiri pesan nasihatnya, setelah adanya daya dan kemampuan untuk melakukan nasihat tersebut. Namun justru dia abaikan. Saat menerjangnya pun dia tidak merasa menyesal dan bersalah atas tindakannya tersebut. Orang seperti inilah yang termasuk dalam ancaman ayat di atas.
 
Seperti seorang ayah merokok di samping anaknya yang dia juga merokok. Lalu Sang Ayah menasihatikan anaknya, “Nak…jangan ngrokok. Ndak baik ngrokok itu..” Sementara dia sendiri klepas-klepus ngrokok di samping anaknya, tanpa merasa menyesal dan bersalah.
 
Barangkali makna inilah yang disinggung dalam perkataan para Salafus Sholih dahulu.
 
Sa’id bin Jubair mengatakan:
“Jika tidak boleh melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar kecuali orang yang sempurna, niscaya tidak ada satu pun orang yang boleh melakukannya”. Ucapan Sa’id bin Jubair ini dinilai oleh Imam Malik sebagai ucapan yang sangat tepat. [Tafsir Qurthubi, 1/410]
 
Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata kepada Mutharrif bin Abdillah: “Wahai Mutharrif nasihatilah teman-temanmu”. Mutharrif mengatakan: “Aku khawatir mengatakan yang tidak kulakukan”. Mendengar hal tersebut, Hasan Al-Bashri mengatakan: “Semoga Allah merahmatimu. Siapakah di antara kita yang mengerjakan apa yang dia katakan? Sungguh setan berharap bisa menjebak kalian dengan hal ini, sehingga tidak ada seorang pun yang berani amar ma’ruf nahi mungkar.” [Tafsir Qurthubi, 1/410]
 
Al-Hasan Al-Bashri juga pernah mengatakan:
“Wahai sekalian manusia. Sungguh aku akan memberikan nasihat kepada kalian, padahal aku bukanlah orang yang paling saleh dan yang paling baik di antara kalian. Sungguh aku memiliki banyak maksiat dan tidak mampu mengontrol dan mengekang diriku supaya selalu taat kepada Allah. Andai seorang mukmin tidak boleh memberikan nasihat kepada saudaranya kecuali setelah mampu mengontrol dirinya, niscaya hilanglah para pemberi nasihat dan minimlah orang-orang yang mau mengingatkan.” [Tafsir Qurthubi, 1/410]
 
___
 
Referensi:
  • Faidah kajian pembahasan kitab Iqtidho’ as-Shirot al-Mustaqiem li mukholafati ash-Haabi al-Jahiim, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, bersama Syaikh Anis Thahir Al-Indunisy. Setiap malam senin di Masjid Nabawi.
  • Tulisan di Muslim.Or.Id, yang bertema “Antara Kata dan Perbuatan.” https://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasihat/antara-kata-dan-perbuatan.html
Penulis: Ahmad Anshori
[Artikel: Muslim.Or.Id]
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#haruskahsempurna, #amarmarufnahimungkar, #tidakharussempurnadahulu, #memberikannasihat, #nasihat, #nasehat, #hilangpemberinasihat, #minimlahorangorangyangmaumengingatkan #orangsempurna #tunggusempurna #jangantunggusempurna #janganmenunggusempurnadahulu #memberinasihat #memberinasehat #menasehati #menasihati

SYARAT MENASIHATI ORANG LAIN HARUS BERSIH DARI DOSA?

SYARAT MENASIHATI ORANG LAIN HARUS BERSIH DARI DOSA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#NasihatUlama
 
SYARAT MENASIHATI ORANG LAIN HARUS BERSIH DARI DOSA?
 
Benarkah demikian syarat menasihati orang lain atau syarat amar makruf nahi mungkar adalah harus bersih dari dosa alias maksum?
 
Ibnu Rajab Al-Hambali berkata:
 
فلا بد للإنسان من الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر و الوعظ و التذكير و لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم أحد لأنه لا عصمة لأحد بعده
 
“Tetap bagi setiap orang untuk mengajak yang lain pada kebaikan, dan melarang dari kemungkaran. Tetap ada saling menasihati dan saling mengingatkan. Seandainya yang mengingatkan hanyalah orang yang maksum (yang bersih dari dosa, pen.), tentu tidak ada lagi yang bisa memberi nasihat sepeninggal Nabi ﷺ. Karena sepeninggal Nabi ﷺ tidak ada lagi yang maksum.”
 
Dalam bait syair disebutkan:
 
لئن لم يعظ العاصين من هو مذنب … فمن يعظ العاصين بعد محمد
 
“Jika orang yang berbuat dosa tidak boleh memberi nasihat pada yang berbuat maksiat, maka siapa lagi yang boleh memberikan nasihat setelah (Nabi) Muhammad (wafat)?”
 
Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan dengan sanad yang dha’if, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ:
 
مروا بالمعروف و إن لم تعملوا به كله و انهوا عن المنكر و إن لم تتناهوا عنه كله
 
“Perintahkanlah pada yang makruf (kebaikan), walau engkau tidak mengamalkan semuanya. Laranglah dari kemungkaran, walau engkau tidak bisa jauhi semua larangan yang ada.”
 
Ada yang berkata pada Al-Hasan Al-Bashri:
 
إن فلانا لا يعظ و يقول : أخاف أن أقول مالا أفعل فقال الحسن : و أينا يفعل ما يقول ود الشيطان أنه ظفر بهذا فلم يأمر أحد بمعروف و لم ينه عن منكر
 
“Sesungguhnya ada seseorang yang enggan memberi nasihat dan ia mengatakan: “Aku takut berkata, sedangkan aku tidak mengamalkannya.” Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Apa ada yang mengamalkan setiap yang ia ucapkan?” Sesungguhnya setan itu suka manusia jadi seperti itu. Akhirnya mereka enggan mengajak yang lain dalam perkara yang makruf (kebaikan), dan melarang dari kemungkaran.
 
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah berkhutbah pada suatu hari. Ia menasihati:
 
إني لأقول هذه المقالة و ما أعلم عند أحد من الذنوب أكثر مما أعلم عندي فاستغفر الله و أتوب إليه
 
“Sungguh aku berkata dan aku lebih tahu, bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki dosa lebih banyak dari yang aku tahu ada pada diriku. Karenanya aku memohon ampun pada Allah dan bertaubat pada-Nya.”
 
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz juga pernah menuliskan surat berisi nasihat pada beberapa wakilnya yang ada di berbagai kota:
 
“Aku beri nasihat seperti ini. Padahal aku sendiri telah melampaui batas terhadap diriku dan pernah berbuat salah. Seandainya seseorang tidak boleh menasihati saudaranya sampai dirinya bersih dari kesalahan, maka tentu semua akan merasa dirinya telah baik (karena tak ada yang menasihati, pen.). Jika disyaratkan harus bersih dari kesalahan, berarti hilanglah amar makruf nahi mungkar. Jadinya yang haram dihalalkan, sehingga berkuranglah orang yang memberi nasihat di muka bumi. Setan pun akhirnya senang jika tidak ada yang beramar makruf nahi mungkar sama sekali. Sebaliknya, jika ada yang saling menasihati dalam kebaikan dan melarang dari kemungkaran, setan akan menyalahkannya. Setan menggodanya dengan berkata: Kenapa engkau memberi nasihat pada orang lain, padahal dirimu sendiri belum baik.” [Demikian penjelasan menarik dari Ibnu Rajab dalam Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 42-43]
 
Penjelasan di atas bukan berarti kita boleh tetap terus dalam maksiat. Maksiat tetaplah ditinggalkan. Pemaparan Ibnu Rajab hanya ingin menekankan, bahwa jangan sampai patah semangat dalam menasihati orang lain, walau diri kita belum baik atau belum sempurna. Yang penting kita mau terus memerbaiki diri.
 
Tetap saja yang lebih baik adalah ilmu itu diamalkan, baru didakwahi. Allah ta’ala berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)
 
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” [QS. Ash- Shaff: 2-3]
 
Pokoknya jangan sampai melupakan diri sendiri. Ingatlah kembali ayat:
 
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
 
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” [QS. Al-Baqarah: 44]
 
Wallahu waliyyut taufiq.
Semoga Allah memudahkan kita dalam meraih ilmu, mengamalkannya dan dimudahkan pula dalam mendakwahi orang-orang terdekat kita dan masyarakat secara umum.
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

SIKAP DALAM MENGHADAPI ISTRI YANG MEMBANTAH SAAT DIMINTA PAKAI HIJAB

SIKAP DALAM MENGHADAPI ISTRI YANG MEMBANTAH SAAT DIMINTA PAKAI HIJAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

SIKAP DALAM MENGHADAPI ISTRI YANG MEMBANTAH SAAT DIMINTA PAKAI HIJAB

Pertanyaan:

Bagaimanakah sikap kita dalam menghadapi seorang istri yang membantah saat disuruh berbuat kebajikan. Contohnya tuntutan dalam memakai hijab syari.

Ana paham, tuntutan bagi seorang Muslimah untuk berhijab syari itu datang langsung dari ALLAH dan Rasulullah ﷺ. Terkadang terjadi kesalah pahaman antara ana dan istri ana, apabila membicarakan berhijab secara syari.

Apakah salah ana memaksakan kepada istri untuk berhijab secara syari? Dan apa sikap kita saat istri keluar rumah tanpa ada izin suami?

Jujur saja ustadz, setiap doa ana selalu memohon petunjuk dan hidayah untuk istri ana. Ana masih berharap istri ana dapat berubah. Terkadang ana sempat terlintas dipikian ana untuk berpisah.

Apa yang harus ana lakukan ya ustadz?

Jawaban:

Terkait istri yang menolak untuk memakai penutup aurat yang syari, ada pertanyaan yang ditujukan kepada ulama’-ulama’ yang tergabung dalam Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa:

Di sebagian negara, hijab wanita Muslimah jarang ditemui. Seorang laki-laki menikah dengan wanita Muslimah, namun ia tidak rela untuk mengenakan hijab. Ketika itu, apakah laki-laki itu menalaknya atau apa yang harus ia lakukan? Ada juga laki-laki Muslim yang lain yang menikah dengan wanita Ahli Kitab, dan ia pun tidak mau mengenakan hijab. Bagaimanakah hukumnya?

Jawaban Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa:

Seorang wanita yang tidak mau menutup auratnya dari laki-laki yang bukan mahram, dianggap wanita yang bermaksiat terhadap suaminya, dan menyelisihi syariat Allah ta’ala. Suaminya wajib untuk menasihatinya untuk mengenakan hijab yang syari. Apabila wanita itu tidak terima, maka ia boleh menalaknya, baik wanita itu Muslimah atau Ahli Kitab. Ini sebagai bentuk menjauhi kemungkaran, menjaga keluarga dari sumber keburukan.

Wabillahi at-Taufiq. Wa shallallahu ala Nabiyina Muhammad, wa alihi wa sahbihi wa sallam.

[Al-Lajnah ad-Daimah 17/108-109 pertanyaan ke tiga dari fatwa no. 5089]

Oleh karena itu, selayaknya si suami menasihati istrinya yang menolak memakai hijab dengan nasihat secara langsung dan tidak langsung. Nasihat secara langsung bisa dilakukan dengan mencari waktu, situasi dan kondisi yang tepat untuk bisa memberi masukan yang baik, khususnya tentang hijab.

Nasihat secara tidak langsung bisa dilakukan dengan memberinya audio atau video ceramah, meminta orang yang ia dengar omongannya untuk menasihatinya, mengajaknya untuk mendatangi majelis-majelis ilmu, dan memasukkannya ke komunitas wanita-wanita sholehah, serta cara-cara lainnya. Dengan tidak melupakan doa kepada Allah ta’ala secara rutin (khususnya pada waktu dan tempat yang mustajab), semoga Allah ta’ala memberinya hidayah, dan menyelamatkannya dari api Neraka, serta menjadikan Anda terus istiqomah dalam kebaikan.

Semoga Allah ta’ala memberi hidayah istri Anda secara khusus, dan istri-istri kaum Muslimin secara umum, sehingga rumah tangga kaum Muslimin dipenuhi keberkahan, ketenangan dari Allah ta’ala, dan dipenuhi juga dengan cinta kasih.

 

Sumber: http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/3836-ketika-istri-tidak-mau-berhijab

 

 

,

MENJAWAB SYUBHAT: TIDAK MUNGKIN MENASIHATI PENGUASA SECARA RAHASIA

MENJAWAB SYUBHAT: TIDAK MUNGKIN MENASIHATI PENGUASA SECARA RAHASIA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajSalaf

#DakwahTauhid

MENJAWAB SYUBHAT: TIDAK MUNGKIN MENASIHATI PENGUASA SECARA RAHASIA

Rasulullah ﷺ bersabda:

من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبده علانية ولكن يأخذ بيده فيخلوا به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه

“Barang siapa yang ingin menasihati penguasa, JANGANLAH ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah dari ‘Iyadh bin Ganm -radhiyallahu’anhu-. Hadis ini di-shahih-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Zhilalul Jannah, (no. 1096)]

Kemudian ada yang mengatakan:

Tidak mungkin menasihati penguasa di zaman ini, seperti hadis ‘Iyadh bin Ganm di atas, dikarenakan aturan protokoler pemerintahan modern terlalu berbelit-belit, sehingga tidak memungkinkan setiap orang bisa bertemu empat mata dengan seorang pejabat. Maka terpaksa diambil jalan terakhir, yaitu dengan melakukan demonstrasi, tapi demo yang Islami atau aksi damai.

Menjawab syubhat ini kami katakan:

Pertama:

Hadis ‘Iyadh bin Ganm itu tidak bermakna harus persis seperti teksnya, yaitu setiap orang yang ingin menasihati harus memegang tangan penguasa, menyepi dengannya, atau bertemu empat mata dengannya. Masih ada cara lain yang dibolehkan, asalkan tidak terang-terangan, seperti penjelasan Asy-Syaikh Bin Baz rahimahullah:

“Tapi metode yang dicontohkan Salaf adalah: Menasihati secara empat mata, menyurat, dan menghubungi para ulama yang memiliki akses langsung kepada penguasa, sehingga sang penguasa bisa diarahkan kepada kebaikan.” (Haqqur Ro’iy war-Ro’iyyah, hal. 27)

Kedua:

Jika ternyata memang semua jalan yang disebutkan Asy-Syaikh Bin Baz rahimahullah tidak bisa sama sekali, atau penguasa tidak mau menuruti nasihat dan mengubah kebijakannya yang zalim, apakah kemudian boleh melakukan demonstrasi atau menyebar artikel nasihat dan teguran kepada pemerintah di media massa?

Jawabnya: Tetap tidak boleh, sebab hal tersebut bertentangan dengan dalil dan petunjuk Salaf dalam menghadapi keadaan semacam ini.

Al-Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata:

“Jika tidak memungkinkan untuk menasihati penguasa (dengan cara yang syari), maka solusi akhirnya adalah SABAR dan DOA, karena dahulu mereka, yakni Sahabat, melarang dari mencaci penguasa”. Kemudian beliau menyebutkan sanad satu atsar dari Anas bin Malik -radhiyallahu’anhu-, beliau (Anas) berkata: “Dahulu para pembesar sahabat Rasulullah ﷺ melarang dari mencaci para penguasa.” [Lihat At-Tamhid, Al-Imam Ibnu Abdil Barr, (21/287)]

 

Sumber: http://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/manhaj/754-tuntunan-islam-dalam-menasihati-penguasa

 

 

,

ALASAN-ALASAN PENDUKUNG DEMONSTRASI, ALASAN YANG RAPUH DAN BUKAN DI ATAS ILMU

ALASAN-ALASAN PENDUKUNG DEMONSTRASI, ALASAN YANG RAPUH DAN BUKAN DI ATAS ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#ManhajSalaf

ALASAN-ALASAN PENDUKUNG DEMONSTRASI, ALASAN YANG RAPUH DAN BUKAN DI ATAS ILMU

  • Syubhat-Syubhat dan BantahanPembolehannya Demonstrasi
  1. Bagaimana Islam Bisa Dibela, Kalau Cuma Ta’lim (Penyebaran Ilmu) dan Ibadah Di Masjid Atau di Rumah?

Rasulullah ﷺ bersabda:

العبادةُ فِي الْهَرَجِ كَهِجْرةٍ إِليَّ

“Ibadah di masa fitnah/ujian: (pahalanya) seperti Hijrah kepadaku.” HR. Muslim (no. 7588).

Hadis ini sebagai arahan dari Nabi ﷺ yang mulia, bahwa justru dalam masa fitnah ini kita diharuskan BANYAK BERIBADAH. Dan itulah yang menolong kaum Muslimin. Bukan berkata dan berbuat gegabah, yang jelas dilarang oleh Rasulullah ﷺ. Bahkan Allah ta’aalaa berfirman:

…وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“…Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 120)

Dalam ayat ini pun Allah menerangkan dan menegaskan kepada kita, bahwa Dia mengetahui makar orang kafir, dan akan menolong orang beriman, dengan syarat SABAR dan TAKWA (melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya).

  1. Anda dan Orang Semisal Anda Yang Tidak Berdemo, Tidak Juga Menasihati Pemerintah dan Mendatanginya. Cuma Omong Doang!

Kita katakana, bahwa kita serahkan pada Ustadz Kibar tentang permasalahan ini, yang bisa langsung menasihati pemerintah. Dan siapa bilang kita diam saja?! Apakah apabila kami dan Ustadz kami menasihati pemerintah, kemudian harus bilang ke wartawan untuk direkam, difoto, disebarkan, bawa bendera partai, bawa spanduk buat promosi, dan lain-lain. Manhaj macam apa ini?!

Kita hanya meneladani para sahabat dan para Salaf. Oleh karena itulah kita disebut SALAFI!

عَنْ شَقِيقٍ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، قَالَ: قِيْلَ لَهُ: أَلاَ تَدْخُلُ عَلَى عُثْمَانَ؛ فَتُكَلِّمَهُ؟ فَقَالَ: أَتُرَوْنَ أَنِّى لاَ أُكَلِّمُهُ إِلاَّ أُسْمِعُكُمْ؟! وَاللَّهِ! لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيْمَا بَيْنِيْ وَبَيْنَهُ؛ مَا دُوْنَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُوْنَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ، وَلاَ أَقُوْلُ لأَحَدٍ يَكُوْنُ عَلَىَّ أَمِيْرًا إِنَّهُ خَيْرُ النَّاسِ

Dari Syaqiq, dari Usamah bin Zaid, ada yang berkata kepadanya:

Kenapa Anda tidak masuk menemui ‘Utsman dan engkau menasihatinya?”

Maka dia berkata: “Apakah kalian menganggap, bahwa jika aku berbicara padanya (‘Utsman), lantas aku harus memerdengarkannya kepada kalian?!

Demi Allah!

Aku telah berbicara empat mata dengannya, tanpa perlu saya membuka satu perkara yang saya tidak suka menjadi orang pertama yang membukanya, (yaitu menasihati pemimpin terang-terangan). Dan tidakklah aku mengatakan kepada seorang: “Saya memiliki pemimpin, yang dia adalah manusia terbaik.” [HR. Muslim (no. 7674)].

  1. Bukankah Ahok Kafir, Sehingga Kita Boleh Untuk Mendemo Dia? Bukankah Yang Tidak Diperbolehkan Adalah Mendemo Pemerintahan Muslim?

Kita katakan: Anda dan orang semisal Anda, pada hakikatnya berdemo kepada pemerintah yang di atas Ahok, yaitu: Presiden, agar Ahok diadili. Bukankah ini demo terhadap pemerintahan Muslim??!!

Kalaupun pemerintah Anda adalah kafir, di Cina, Rusia, Amerika, dan lainnya, tidak lantas menjadi halal mendemo mereka karena mudharat yang ditimbulkan akan besar. Dan hukum asal demo adalah perbuatan haram.

Lihat kepada Suriah sekarang ini!

Pemerintah Basyar Assad dari dulu memang sudah kafir, akan tetapi Ulama Rabbani, seperti Syaikh Al-Albani, Syaikh Bin Baz, dan Syaikh ‘Utsaimin, tidak memerintahkan masyarakat Suriah untuk berdemo dan menggulingkan pemerintahan. Karena mereka mengerti keadaan umat yang lemah apabila memberontak. Namun terjadilah apa yang kita lihat sekarang.

Kalaupun mau menggulingkan pemerintahan kafir, maka lakukanlah dengan cara yang benar, dan ukurlah kekuatan, serta mintalah fatwa dari Ulama Rabbani. Karena ini menyangkut darah kaum Muslimin yang akan tercecer. Jangan sampai sia-sia dan banyak memakan korban!

Lihatlah Nabi Musa dan Nabi Harun -‘alaihimas salaam- yang berdakwah langsung bertemu dengan penista agama terbesar: Fir’aun. Tidaklah mereka berdua berdemonstrasi, padahal Bani Israil amat banyak. Akan tetapi inilah perintah langsung dari Allah Ta’aalaa:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى * فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Firaun, karena dia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 43-44)

  1. Ini Bukan Demonstrasi, Tapi Aksi Damai!

Kita katakan: Terserah kalian mau menamakan aksi kalian dengan nama apa saja, karena Islam menghukumi sesuatu bukan dari namanya, akan tetapi melihat kepada hakikatnya. Apakah kalian namakan aksi damai, protes atau lainnya -atau bahkan: Jihad???!!!- HAKIKATNYA ADALAH DEMONSTRASI!!!

Di antara tipu daya iblis dan bala tentaranya untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan adalah  dengan teknik branding strategi, memberi nama baru untuk mengaburkan hakikat. Riba sekarang dinamakan bunga oleh bank konvensional dan dinamakan sedekah dan tabrru’ oleh kor Syariah dan pegadaian Syariah. Dan hal itu TIDAKLAH mengubah hakikat. Khamr diubah namanya dengan banyak nama: anggur, arak, bir, Whiski, dan lainnya untuk mengaburkan hakikat. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ؛ يُسَمُّوْنَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا

“Sungguh, akan ada manusia dari umatku yang meminum khamr, dengan memberikan nama kepadanya bukan dengan namanya (khamr)” [HR. Abu Dawud (no. 3690)]

  1. Kami Tidak Berbuat Rusak dan Anarkis, Sehingga Tidak Termasuk Orang Yang Berbuat Kerusakan

Pertama: Siapa yang menjamin, bahwa tidak akan terjadi kerusakan dan anarkisme dari luapan banyak orang seperti itu?! Bisa jadi ada penyusup yang merusak dari dalam, sebagaimana dalam perang Jamal.

Kedua: Kerusakan apalagi yang lebih besar dari bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya?:

وَلاَ تُفْسِدُوْا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيْبٌ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah Allah memerbaikinya. Berdoalah kepada Allah dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raaf: 56)

Abu Bakar bin ‘Ayasy berkata tentang ayat ini: “Allah mengutus Muhammad ﷺ ke permukaan bumi, sedangkan mereka (manusia) berada dalam keburukan. Maka Allah memerbaiki mereka dengan Muhammad ﷺ. Sehingga, barang siapa yang mengajak manusia kepada hal-hal menyelisihi apa yang datang dari Nabi ﷺ, maka dia termasuk orang yang berbuat kerusakan di muka bumi.” [Lihat Ad-Durr Al-Mantsuur (III/476)]

Silakan lihat tafsiran ulama lainnya yang bertebaran, yang menunjukkan, bahwa berbuat kerusakan yang dimaksud di sini adalah: bermaksiat.

  1. Ini Negeri Demokrasi, Demonstrasi Dibolehkan Oleh Pemerintah dan Difasilitasi, Sehingga Dibolehkan

Ini hujjah yang lemah sekali. Tidaklah apa yang dibolehkan oleh pemerintah, lantas semua menjadi halal. Bahkan yang diperintahkan oleh pemerintah pun harus dilihat: apakah itu suatu hal yang ma’ruf atau justru kemungkaran. Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf” [HR. Al-Bukhari (no. 7257)]

Ada Perda tentang bolehnya tempat hiburan dan diskotek, lantas apa kemudian menjadi halal?! Ada juga Perda tentang bolehnya khamr, dengan ketentuan khusus. Lantas apa kemudian menjadi boleh??!! Silakan jawab sendiri…

  1. Mereka Yang Melarang Demo: Membawakan Fatwa, Kita Juga Menggunakan Fatwa Yang Membolehkan. Ulama Yang Melarang Tidak Mengerti Keadaan Indonesia

Subhaanallah! Ulama mana dulu yang berfatwa membolehkan demonstrasi? Apakah ad-Damiji yang punya kitab Al-Imaamah Al-‘Uzhmaa yang dilarang terbit di Saudi, atau fatwanya Salman Al-‘Audah dan teman-temannya?? PERMASALAHANNYA ADALAH BUKAN BANYAKNYA FATWA, AKAN TETAPI KUALITASNYA (KESELARASANNYA DENGAN DALIL-DALIL DAN KAIDAH-KAIDAH SYARIAT)!!!

Kalaupun ulama berfatwa, maka tidak ditelan mentah-mentah sebagai landasan hukum, akan tetapi dilihat dalil pendukungnya.

Kalau kalian menuduh ulama yang berfatwa tentang Indonesia dari negeri lain tidak tahu keadaan sini, bagaimana dengan Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi dan Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily yang belasan tahun mondar-mandir di negeri kita ini, untuk membahas masalah dakwah di Indonesia. Apakah Anda juga menuduhnya tidak paham Waqi’ (realita)???!!! Fatwa siapapun apabila berbenturan dengan dalil, maka buanglah dia ke belakangmu.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah (beliau adalah ulama yang paling mengumpulkan As-Sunnah dan paling berpegang kepadanya) berkata:

لاَ تُقَلِدْنِيْ، وَلاَ تُقَلِّدْ مَالِكًا، وَلاَ الشَّافِعِيَّ، وَلاَ الأَوْزَاعِيَّ، وَلاَ الثَّوْرِيَّ! وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوْا!!

“Janganlah engkau taqlid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, ataupun Ats-Tsauri! Ambillah (hukum) dari sumber yang mereka mengambil darinya (yakni: dalil-dalil)!!”

[Lihat: Shifatush Shalaatin Nabiyy (hlm. 47), karya Imam Al-Albani -rahimahullaah]

  1. Pemerintah Yang Tidak Boleh Di-Demo Adalah Pemerintah Yang Berjalan Di Atas Alquran Dan As-Sunnah. Adapun Kalau Pemerintah Tidak Berasaskan Keduanya, Maka Boleh Di-Demo

Jawablah dengan hadis Hudzaifah di atas:

يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْ جُثْمَانِ إِنْسٍ. قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذٰلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ؛ فَاسْمَعْ، وَأَطِعْ

[Rasulullah ﷺ bersabda:] “Akan ada setelahku para imam (pemimpin) yang tidak mengambil petunjuk dariku, dan tidak mengambil Sunnah-ku. Dan akan ada sekelompok lelaki di antara mereka yang hati mereka adalah hati setan dalam tubuh manusia.” Aku berkata: Apa yang aku lakukan wahai Rasulullah, apabila aku menemui yang demikian? Beliau ﷺ bersabda: “Engkau dengar dan engkau taat kepada pemimpin, walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu. Maka dengar dan taatlah!” HR. Muslim (no. 4891)

JELAS DALAM HADIS INI BAHWA: PEMIMPIN YANG DIPERINTAHKAN DITAATI, TIDAK MENGAMBIL SUNNAH NABI ﷺ!!!

  1. Ini Adalah Masalah Ijtihad, Masing-Masing Punya Hujjah dan Jangan Saling Mengingkari, Apalagi Ini Masalah Furu’ Bukan Ushul

Adapun kaidah:

الاِجْتِهَادُ لاَ يُنْقَضُ بِالاِجْتِهَادِ

Ijtihad Tidak Bisa Dibatalkan Dengan Ijtihad

لاَ إِنْكَارَ فِيْ مَسَائِلِ الْخِلاَفِ

Tidak Ada Pengingkaran Dalam Masalah Khilaf

 Maka kaidah ini perlu ada tafshiil (perincian).

a. Apabila ijtihad tersebut jelas-jelas bertabrakan dengan dalil yang Shahih, maka tidak boleh kita mengambil ijtihad dan meninggalkan Nash/dalil.

Contoh: Dalam masalah nikah dengan tanpa wali, maka jelas bertentangan dengan dalil, sehingga kita wajib untuk menolak dan membantahnya.

Ijtihad yang menghalalkan musik, isbal dan lain-lain, maka wajib kita membantah ijtihad tersebut.

b. Apabila ijtihad tersebut menggunakan dalil yang lemah, maka kita juga boleh menjelaskan kelemahannya, bahkan membantahnya.

c. Apabila perbedaan pendapat memiliki dalil yang sama kuat, maka di sini berlaku: Tidak mengingkari perbedaan. Itu pun tetap harus berpegang dengan dalil (tidak hanya mencari-cari rukhshah atau pendapat yang sesuai keinginan (hawa nafsu).

Semoga Allah merahmati Imam Adz-Dzahabi yang mengatakan:

الْعِلْمُ: قَالَ اللهُ، قَالَ رَسُوْلُهُ

قَالَ الصَّحَابَةُ لَيْسَ بِالتَّمْوِيْهِ

مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلاَفِ سَفَاهَةً

بَيْنَ الرَّسُوْلِ وَبَيْنَ رَأْيِ فَقِيْهٍ!!!

 

Artinya:

Ilmu itu adalah: firman Allah dan sabda Rasul-Nya ﷺ

Serta perkataan Sahabat. Bukan hanya sekedar kamuflase

Bukanlah ilmu itu dengan engkau mempertentangkan perselisihan karena kebodohan

(Mempertentangkan) antara Rasul ﷺ dengan pendapat Ahli Fiqih!!!

Adapun kalau Anda mengatakan ini adalah masalah Furu’ (cabang) dan bukan Ushul (prinsip), maka yang benar dalam Islam adalah tidak membedakan masalah Ushul dan Furu’ dalam penting atau tidaknya. Yakni bahwa semuanya adalah penting. Betapa banyak hal yang dianggap kecil akan berubah menjadi bencana dan fitnah yang hebat ketika diremehkan.

Lihat saja kisah zikir jamaah dengan kerikil yang diingkari oleh Abdullah bin Mas’ud, yang mereka mengatakan bahwa tujuan mereka adalah baik.

Akhirnya perbuatan bid’ah yang kecil berubah tersebut berubah menjadi bencana besar, dan orang-orang tersebut semuanya ada di barisan pemberontak melawan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu. Lihat pembahasan ini dalam Kitab: ‘Ilmu Ushulil Bida’, Baab: Baina Qisyr Wal Lubaab (Antara Kulit Dan Inti) (hlm. 247), karya Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi hafizhahullaah.

  1. Ulama Terdahulu Seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Telah Berdemo Ketika Ada Pencaci Rasul, Sehingga Beliau Menulis Kitab Ash-Shaarim Al-Masluul, dan Asy-Syirazi (Juga Berdemo), dan lain-lain

Pertama: Ibnu Taimiyah rahimahullaah tidak berdemo. Justru beliau mengadukan pencaci rasul kepada pemerintah, dan kebetulan diikuti oleh masyarakat, sehingga terjadilah kerusuhan.

Kedua: Pendapat Ulama Bukan Dalil

Para ulama berkata:

أَقْوَالُ أَهْلِ الْعِلْمِ يُحْتَجُّ لَهَا وَلاَ يُحْتَجُّ بِهَا

“Pendapat para ulama itu butuh dalil dan ia bukanlah dalil.”

Imam Abu Hanifah rahimahullaah berkata:

لاَ يَحِلُّ لأَحَدٍ أَنْ يَأْخُذَ بِقَوْلِنَا؛ مَا لَمْ يَعْلَمْ مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ

“Tidak halal bagi siapa pun untuk mengambil pendapat kami, selama dia tidak mengetahui darimana kami mengambil (dalil)nya”

Imam Asy-Syafi’I rahimahullaah berkata:

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ مَنْ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-؛ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Para ulama telah ijma’ (sepakat), bahwa barang siapa yang jelas sunah Rasulullah ﷺ baginya, maka tidak boleh baginya untuk meninggalkan Sunnah tersebut, dikarenakan mengikuti perkataan seseorang.”

Dan juga telah kita sebutkan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah:

لاَ تُقَلِدْنِيْ، وَلاَ تُقَلِّدْ مَالِكًا، وَلاَ الشَّافِعِيَّ، وَلاَ الأَوْزَاعِيَّ، وَلاَ الثَّوْرِيَّ! وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوْا!!

“Janganlah engkau taqlid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, ataupun Ats-Tsauri! Ambillah (hukum) dari sumber yang mereka mengambil darinya (yakni: dalil-dalil)!!”

[Lihat: Muqaddimah Shifatush Shalaatin Nabiyy, karya Imam Al-Albani rahimahullaah]

Para ulama bukan manusia makshum yang selalu benar dan tidak pernah terjatuh ke dalam kesalahan. Terkadang masing-masing dari mereka berpendapat dengan pendapat yang salah, karena bertentangan dengan dalil. Mereka terkadang tergelincir dalam kesalahan. Imam Malik rahimahullaah berkata:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيْبُ، فَانْظُرُوْا فِيْ رَأْيِيْ؛ فَكُلُ مَا وَافَقَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ؛ فَخُذُوْهُ، وَكُلُّ مَا لَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ؛ فَاتْرُكُوْهُ

“Saya ini hanya seorang manusia, kadang salah dan kadang benar. Cermatilah pendapatku. Setiap yang sesuai dengan Alquran dan As-Sunnah, maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Alquran dan As-Sunnah, maka tinggalkanlah.”

[Lihat: Muqaddimah Shifatush Shalaatin Nabiyy, karya Imam Al-Albani rahimahullaah]

Orang yang hatinya berpenyakit, maka dia akan mencari-cari pendapat yang salah dan aneh dari para ulama, demi untuk mengikuti nafsunya dalam menghalalkan yang haram, dan mengharamkan yang halal. Sulaiman At-Taimi rahimahullaah berkata:

لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ أَوْ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ؛ اجْتَمَعَ فِيْكَ الشَّرُّ كُلُّهُ

“Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan.” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 3172]

  1. Demonstrasi Adalah Amar Ma’ruf Nahi Munkar -Dan Pemimpin Wajib Dinasihati-, Dan Hal Itu Merupakan Seutama-Utama Jihad

Inilah perkataan mereka, dan di antara yang mereka bawakan adalah Hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟْﺠِﻬَﺎﺩِ ﻛَﻠِﻤَﺔُ ﻋَﺪْﻝٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺳُﻠْﻄَﺎﻥٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ ﺃَﻭْ ﺃَﻣِﻴْﺮٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ

“Jihad yang paling utama adalah mengatakan perkataan yang adil di sisi penguasa atau pemimpin yang zalim.” [HR. Abu Dawud (no. 4344), At-Tirmidzi (no. 2174), dan Ibnu Majah (no. 4011)].

Dan dalam riwayat Ahmad (V/251 & 256):

كَلِمَةُ حَقٍّ

“Perkataan yang haq (benar).”

[Hadis ini Shahih. Lihat Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah (no. 491), karya Imam Al-Albani rahimahullaah]

Bahkan jika seseorang mati karena dibunuh oleh penguasa yang zalim disebabkan amar ma’ruf nahi munkar, maka dia termasuk pemimpin para Syuhada.

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺳَﻴِّﺪُ ﺍﻟﺸُّﻬَﺪَﺍﺀِ: ﺣَﻤْﺰَﺓُ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻤُﻄَﻠِّﺐِ، ﻭَﺭَﺟُﻞٌ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻟَﻰ ﺇِﻣَﺎﻡٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ؛ ﻓَﺄَﻣَﺮَﻩُ ﻭَﻧَﻬَﺎﻩُ، ﻓَﻘَﺘَﻠَﻪُ

“Penghulu para Syuhada adalah: Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, dan orang yang berkata melawan penguasa kejam, di mana dia melarang dan memerintah (penguasa tersebut), namun akhirnya dia mati terbunuh.”

[HR. Al-Hakim (no. 4872), dia menyatakan Shahih. Aakan tetapi Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Adz-Dzahabi menyepakatinya. Syaikh Al-Albani mengatakan: Hasan. Lihat Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah (no. 374)].

Jawabannya: Hadisnya Benar Akan Tetapi Pemahamannya Yang Salah

Pertama: Kata-kata dalam Hadis (عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ) menunjukkan, bahwa menasihatinya di dekat penguasa dengan mendatangi, dan tidak menunjukkan terang-terangan, sebagaimana,diisyaratkan oleh kata عِنْدَ yang artinya di sisi.

Demikian dalam riwayat kedua kata ﺭَﺟُﻞٌ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻟَﻰ ﺇِﻣَﺎﻡٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ dan lelaki yang berkata dan datang kepada imam yang zalim. Ada kata (إلى) berarti kata di Tadhmin, memiliki makna: mendatangi, bukan turun ke jalan dan demonstrasi.

Kalau memang Anda mampu, maka silakan datang langsung ke dalam istana dan amar ma’ruf dan nahi munkar kepada pemerintah, walaupun sampai terbunuh. Itu baru sesuai dengan Hadis, bukan demo di jalanan yang tidak sesuai dengan Hadis di atas.

Kedua: Hadis Nabi ﷺ adalah saling menjelaskan satu sama lainnya, sehingga terbentuklah pemahamannya yang benar. Maka hadis di atas dijelaskan dengan cara: menasihati pemimpin dengan cara yang baik dan benar dengan tidak dengan terang-terangan. Dan ber-amar ma’ruf serta nahi munkar kepadanya adalah dengan mendatanginya secara langsung, sebagaimana pemahaman dan pengamalan para Sahabat.

  1. Demonstrasi Pernah Dilakukan Sahabat

Pertama: Kisah Islamnya ‘Umar Yang Thawaf Berbaris Bersama Hamzah

Kita Jawab: Kisahnya lemah sekali, Syaikh Al-Albani mengatakan: Munkar, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. [Lihat: Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dha’iifah (no. 6531)]

Kalaupun Shahih, maka bukanlah menjadi dalil untuk demonstrasi, karena ini adalah pengumuman Islamnya Hamzah dan ‘Umar, maka di mana letak demonstrasinya? Dan dalam rangka menentang apa?

Kedua: Kisah Wanita Yang Mendatangi Nabi ﷺ Untuk Mengadukan Perilaku Suaminya Yang Kasar Terhadap Istri

Kita Jawab: Ini Bukan Demo

Bahkan inilah yang di syariatkan: Mengadukan permasalahan langsung dengan menghadap pemerintah, bukan berdemo di jalan. Karena Shahabiyat langsung datang ke rumah Nabi ﷺ dan bukan keliling kota Madinah berjalan-jalan meneriakkan yel-yel, bahwa suami mereka berbuat kasar.

Bantahan kedua: Ini terjadi bukan karena kesepakatan, bahkan hanya kebetulan banyak para wanita yang mengadukan kepada Nabi ﷺ perihal suami mereka. Lantas bagaimana dengan demonstrasi yang menggerakkan masa?? Alangkah jauhnya perbedaan antara keduanya!

Masih banyak syubhat (kerancuan) dalam masalah Demonstrasi yang lebih lemah dari syubhat di atas. Insyaa Allaah jika masih ada kesempatan, akan ada bantahan jilid selanjutnya terhadap syubhat mereka.

Semoga bermanfaat.

 

Penulis: Dika Wahyudi Lc.

 

Sumber:

https://www.facebook.com/dika.wahyudi.140/posts/764094400411089

https://aslibumiayu.net/17256-alasan-alasan-pendukung-demonstrasi-alasan-yang-rapuh-dan-bukan-di-atas-ilmu.html

 

,

FATWA ULAMA SAUDI TENTANG DEMO 4 NOPEMBER 2016: TIDAK DIBENARKAN IKUT DEMO

FATWA ULAMA SAUDI TENTANG DEMO 4 NOPEMBER 2016: TIDAK DIBENARKAN IKUT DEMO

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajSalaf

#TidakDemonstrasi

FATWA ULAMA SAUDI TENTANG DEMO 4 NOPEMBER 2016: TIDAK DIBENARKAN IKUT DEMO

Fatwa Syaikh ‘Abdul Muhsin AL-‘ABBAD -Hafizhahullaah- (Sekarang Beliau Berusia 85 Tahun -Hitungan Tahun Hijriyyah-)

 

قَالَ: رَئِيْسُ مَدِيْنَةِ جَاكَارْتَا يَسْتَهْزِئُ بِالْقُرْآنِ وَعُلَمَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَهُوَ نَصْرَانِيٌ، وَفِي رَابِعِ نُوْفِمْبَر: سَتُقَامُ الْمُظَاهَرَةِ لِطَلَبِ الْمَحَاكَمَةِ. هَلْ يَجُوْزُ لَنَا الْخُرُوْجُ؟ عِلَمًا بِأَنَّهُ كَافِرٌ لاَ بَيْعَةَ لَهُ، وَالْمُظَاهَرَةُ يُرَاعَى فِيْهَا الأَدَبُ، وَعَدَمُ إِفْسَادِ الْمَرَافِقِ الْعَامَّةِ.

[قَالَ الشَّيْخُ]: الْمُظَاهَرَاتُ وَالْمُشَارَكَةُ فِيْهَا: غَيْرُ صَحِيْحٍ، وَلٰكِنْ يَعْمَلُوْنَ مَا يُمْكِنُهُمْ مِنْ غيْرِ الْمُظَاهَرَاتِ؛ يُكْسِبُوْنَ وَيَذْهَبُوْنَ يَعْنِيْ يَذْهَبُ أُنَاسٌ لِمُرَاجَعَةِ الْمَسْؤُوْلِ الأَكْبَرِ…

 

(Penanya) berkata:

Gubernur Kota Jakarta mengolok-olok Alquran dan Ulama kaum Muslimin. Dia seorang Nasrani. Dan pada 4 November akan diadakan demonstrasi untuk meminta agar dia dihukum.

Bolehkah kita ikut keluar (berdemo)? Dan kita ketahui bahwa dia adalah kafir, yang kita tidak wajib untuk membaiatnya. Dan juga di dalam demonstrasi tersebut akan dijaga adab-adabnya dan tidak ada perusakkan terhadap fasilitas umum.

 

(Syaikh menjawab):

“Demonstrasi dan ikut serta di dalamnya: TIDAK DIBENARKAN.

Akan tetapi mereka (kaum Muslimin) bisa melakukan usaha dengan (mengutus) beberapa orang untuk pergi menasihati pimpinan terbesar (Presiden)…”

 

Ditanyakan oleh sebagian Mahasiswa Madinah -yang kami cintai karena Allah-, pada waktu Maghrib, 31 Oktober 2016 M (semoga Allah membalas semuanya dengan kebaikan).

https://drive.google.com/file/d/0Bx7DPlyk_AgSOTVidTNxWFc0SEU/view?usp=docslist_api

 

Sumber: https://aslibumiayu.net/17227-fatwa-ulama-saudi-tentang-demo-4-nopember-tidak-dibenarkan-ikut-demo.html

 

TIGA TANDA KEBAHAGIAAN DALAM PELAJARAN TAUHID

TIGA TANDA KEBAHAGIAAN DALAM PELAJARAN TAUHID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

TIGA TANDA KEBAHAGIAAN DALAM PELAJARAN TAUHID

–  Tujuan orang hidup semua sama, siapa pun dia, di mana pun, apapun usahanya, apapun pemikirannya, yaitu mencari kebahagiaan.

– Hanya saja patokan kebahagiaan itu berbeda-beda. Ada yang bahagia dengan mengumpulkan dan menumpuk harta, ada yang bahagia menjadi artis, bahkan kebahagiaan yang kita rasa aneh, misalnya bahagia menjadi waria yang “centil” di pinggir jalan.

– Karenanya Islam memberikan patokan yang sangat sederhana untuk bisa bahagia.

– TAUHID mengajarkan prinsip bahagia yang sederhana. Syaikh Muhammad At-Tamimi menjelaskan:

إذا أعطى شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذ أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة

[1] Jika diberi kenikmatan, maka ia bersyukur.

[2] Jika diuji dengan ditimpa musibah, ia bersabar.

[3] Dan jika melakukan dosa, ia beristigfar (bertaubat).

Tiga hal ini adalah tanda kebahagiaan.” [Matan Qowa’idul Arba’]

– Semuanya bisa bahagia, kaya-miskin, tua-muda, rakyat-pejabat, karena Allah Maha Adil. Kebahagiaan itu di hati, bukan di harta ataupun dunia di tangan manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” [HR. Bukhari dan Muslim]

– Dalam Kitab TAUHID Al-Ushul As-Atsalatsah dijelaskan hakikat hidup adalah sebagaimana dalam surat Al-Ashr. Allah berfirman:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhya setiap manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, melakukan segala amal saleh dan saling nasihat-menasihati untuk (menegakkan) yang haq, serta nasihat-menasihati untuk (berlaku) sabar.” (Surat al-‘Ashr : 1-3).

[1] Saling menasihati dalam kebenaran

[2] Saling menasihati dengan kesabaran

– Imam Syafi’i  rahimahullah menjelaskan, bahwa seandainya Allah hanya menurunkan surat Al-Ashr saja, maka sudah mencukupi bagi manusia. Beliau berkata:

لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم

“Seandainya Allah hanya menurunkan surat ini saja sebagai hujjah buat makhluk-Nya, sungguh telah mencukupi mereka.”[ Lihat Kitab Al-Ushul As-Tsalatsah karya syaikh Muhammad At-Tamimi].

-Akan tetapi perlu diperhatikan benar bahwa kebahagiaan bisa jadi kebahagiaan yang semu, ini yang dinamakan ISTIDRAJ, yaitu Allah berikan dunia dan kenikmatan pada dia, padahal hakikatnya Allah sudah tidak peduli kepadanya dan di akhirat akan mendapat siksaan yang pedih

Sebagaimana makna makar dalam ayat berikut:

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.”  [Al-A’raf: 99]

Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qor’awi menjelaskan:

مكر الله: هو استدراج العاصي بالنعم… حيث إنهم لم يُقدِّروا الله حق قدره، ولم يخشوا استدراجه لهم بالنعم وهم مقيمون على معصيته حتى نزل بهم سخط الله، وحلت بهم نقمته

“Makar Allah adalah istidraj bagi pelaku maksiat, dengan memberikan kenikmatan/kebahagiaan. Mereka tidak memuliakan Allah sesuai dengan hak-Nya. Mereka  tidak merasa khawatir (tenang-tenang saja) dengan istidraj [jebakan] kenikmatan-kenikmatan bagi mereka, padahal mereka terus-menerus berada dalam kemaksiatan, sehingga turunlah bagi mereka murka Allah, dan menimpa mereka azab dari Allah.”[ Al-Jadid fii Syarhi Kitabit tauhid hal. 306, Maktabah As-Sawadi, cet.II, 1417 H].

Semoga kita selalu bahagia dengan TAUHID dan manisnya iman.

 

Penyusun: Raehanul Bahraen

[Artikel www.muslimafiyah.com

 

Sumber: https://muslimafiyah.com/tiga-tanda-kebahagiaan-dalam-pelajaran-tauhid.html

,

SEORANG DAI KE JALAN ALLAH TIDAK BERKEHENDAK SELAIN MEMERBAIKI SAUDARA-SAUDARANYA

SEORANG DAI KE JALAN ALLAH TIDAK BERKEHENDAK SELAIN MEMERBAIKI SAUDARA-SAUDARANYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

SEORANG DAI KE JALAN ALLAH TIDAK BERKEHENDAK SELAIN MEMERBAIKI SAUDARA-SAUDARANYA

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan:

Apakah yang wajib bagi saya, jika telah menasihati keluarga dan saudara-saudara, akan tetapi mereka tidak memenuhi nasihat itu, dan memutuskan pembicaraan saya (sehingga) saya menemukan kesulitan dalam hal tersebut ?

Jawaban:

Hal ini sering terjadi, kondisi begini sangat banyak, keluhan begini juga sangat banyak, baik dari kalangan pria maupun wanita. Hal ini disebabkan karena sebagian orang, jika diseru ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyangka, bahwa sang da’i ingin mengusainya saja, ingin membalasnya, atau ingin mengunggulkan dirinya atas orang yang ia dakwahi. Yang jelas (pikiran) itu dari setan.

Maka seorang da’i ke jalan Allah hendaknya tidak berkeinginan selain memerbaiki saudara-saudaranya, serta menunjukkan mereka pada kebenaran. Namun bersama ini saya juga mengatakan kepada sang penanya: ‘Bersabarlah dan berihtisablah (mengharapkan pahala), dan ketahuilah, bahwa setiap gangguan yang menimpamu dalam berdakwah ke jalan Allah, maka Anda akan diberi pahala. Dan seorang da’i ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, jika dakwahnya diterima, ia telah melaksanakan kewajibannya, dan meraih ganjaran akibat hidayah yang diperoleh oleh orang lain (melalui tangannya), sebagaimana Nabi ﷺ mengatakan kepada Ali bin Abi Thalib, artinya:

“Majulah dengan tenang. Maka demi Allah! Sungguh jika Allah memberikan hidayah seseorang melalui dirimu, maka itu lebih baik bagimu, daripada seekor unta merah”

Jika dakwahnya ditolak dan ai disakiti di jalan Allah, maka sesungguhnya hal itu juga pahala baginya. Bahkan dua pahala: Untuk dakwahnya ke jalan Allah, dan untuk cobaan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan para rasul ‘alaihimushalatu was salam telah disakiti, namun mereka bersabar, sebagaimana firman Allah Subahanhu wa Ta’ala kepada Nabi-Nya ﷺ:

“Artinya: Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu” [Al-An’am: 34]

Wahai saudara! Dalam dakwah kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala, janganlah menjadikan gangguan manusia terhadapmu sebagai sebab yang menghalangimu dari Al-Haq, atau menyurutkan langkahmu ke belakang. Karena kondisi seperti ini hanya terjadi pada orang yang imannya belum terhunjam dan mengakar, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Artinya: Dan di antara manusia ada orang yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah’. Maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh, jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah besertamu’. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia ?” [Al-Ankabut: 10]

Maka nasihat saya kepada saudaraku, dan juga nasihatku kepada keluarganya, agar ia meneruskan dakwahnya ke jalan Allah, dan tidak berputus asa. Adapun keluarganya, maka mereka berkewajiban menerima yang haq, baik yang datang dari orang yang lebih rendah dari mereka, ataupun dari orang yang setara umurnya dengan mereka, atau yang lebih tua.

[Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terbitan Darul Haq]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/1366-seorang-dai-ke-jalan-allah-tidak-berkehendak-selain-memperbaiki-saudara-saudaranya.html

 

, , ,

APABILA CARA ‘JIHAD’ DAN ‘NAHI MUNKAR’ ANDA TIDAK SYARI, MAKA ANDA TIDAK BERSABAR

APABILA CARA ‘JIHAD’ DAN ‘NAHI MUNKAR’ ANDA TIDAK SYARI, MAKA ANDA TIDAK BERSABAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

APABILA CARA ‘JIHAD’ DAN ‘NAHI MUNKAR’ ANDA TIDAK SYARI, MAKA ANDA TIDAK BERSABAR

Bersabar menghadapi kezaliman penguasa adalah prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tidak sabar, lalu melakukan ‘jihad’ atau ‘nahi munkar’ dengan cara yang tidak syari, adalah prinsip Khawarij. Yaitu melakukan pemberontakan terhadap penguasa Muslim, baik memberontak dengan senjata maupun dengan kata-kata, seperti dengan melakukan demontrasi; ‘jihad’ konstitusi yang berasas demokrasi, bukan jihad syari.

Penjelasan Ulama Bahwa Demonstrasi Adalah Tradisi Orang-Orang Kafir

Al-Imam Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah berkata:

صحيح ان الوسائل إذا لم تكن مخالفة للشريعة فهي الأصل فيها الإباحة، هذا لا إشكال فيه، لكن الوسائل إذا كانت عبارة عن تقليد لمناهج غير إسلامية فمن هنا تصبح هذه الوسائل غير شرعية، فالخروج للتظاهرات او المظاهرات وإعلان عدم الرضا او الرضا وإعلان التاييد أو الرفض لبعض القرارات أو بعض القوانين، هذا نظام يلتقي مع الحكم الذي يقول الحكم للشعب، من الشعب وإلى الشعب، أما حينما يكون المجتمع إسلاميا فلا يحتاج الأمر إلى مظاهرات وإنما يحتاج إلى إقامة الحجة على الحاكم الذي يخالف شريعة الله.

“Benar bahwa sarana-sarana, jika TIDAK MENYELISIHI SYARIAT, maka hukum asalnya mubah. Ini bukan masalah. Tetapi sarana-sarana jika merupakan taklid terhadap manhaj yang bukan Islam, maka menjadi tidak sesuai syariat, maka keluar untuk aksi terbuka atau demonstrasi, dan menampakkan penentangan atau persetujuan, atau menunjukkan dukungan atau penolakan atas sebagian aturan atau undang-undang. Metode ini sama dengan aturan (demokrasi) yang mengatakan, bahwa hukum milik rakyat; dari rakyat dan untuk rakyat. Adapun masyarakat Islam tidaklah membutuhkan demonstrasi, melainkan Iqomatul Hujjah (Penyampaian ilmu) kepada Penguasa yang menyelisihi syariat Allah ta’ala.” [Mauqi’ Al-Albani]

Al-Imam Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah juga berkata:

هذه التظاهرات الأوربية ثم التقليدية من المسلمين، ليست وسيلة شرعية لإصلاح الحكم وبالتالي إصلاح المجتمع، ومن هنا يخطئ كل الجماعات وكل الأحزاب الاسلامية الذين لا يسلكون مسلك النبي صلى الله عليه وسلم في تغيير المجتمع، لا يكون تغيير المجتمع في النظام الاسلامي بالهتافات وبالصيحات وبالتظاهرات، وإنما يكون ذلك على الصمت وعلى بث العلم بين المسلمين وتربيتهم على هذا الاسلام حتى تؤتي هذه التربية أكلها ولو بعد زمن بعيد.

“Demonstrasi ini yang asalnya dari orang-orang kafir Eropa, kemudian diikuti oleh kaum Muslimin, bukanlah sarana yang sesuai syariat untuk memerbaiki hukum (pemerintah) ataupun memerbaiki masyarakat. Maka dari sini jelas kesalahan semua kelompok-kelompok dan golongan-golongan Islam yang tidak menempuh jalan Nabi ﷺ dalam mengubah masyarakat. Karena tidaklah mungkin mengubah masyarakat dalam aturan Islam dengan cara menyuarakan yel-yel, berteriak-teriak dan berdemonstrasi. Hanyalah melakukan pengubahan itu dengan cara tidak menyuarakan kebatilan dan menyebarkan ilmu di tengah-tengah kaum Muslimin, dan mendidik mereka di atas agama Islam yang benar ini, sampai usaha pendidikan ini membuahkan hasil, walau menempuh waktu yang lama.” [Mauqi’ Al-Albani]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

المظاهرات ليست من دين الإسلام لما يترتب عليها من الشرور من ضياع كلمة المسلمين من تفريق بين المسلمين لما يصاحبها من التخريب وسفك الدماء لما يصاحبها من الشرور، وليست المظاهرات بحل صحيح للمشكلات، ولكن الحل يكون بإتباع الكتاب والسنة

“Demonstrasi bukan berasal dari agama Islam, karena kejelekan-kejelekan yang timbul darinya seperti terpecahnya kesatuan kaum Muslimin, disertai dengan pengrusakan dan pertumpahan darah, serta berbagai kejelekan lainnya. Demonstrasi bukan solusi yang benar. Akan tetapi solusi itu adalah dengan mengikuti Alquran dan As-Sunnah.” [Mauqi’ Al-Fauzan]

Penjelasan Ulama Bahwa Pemberontakan Terjadi dengan Senjata dan Kata-Kata

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

بل العجب أنه وُجّه الطعن إلى الرسول صلى الله عليه وسلم ، قيل لـه : اعدل، وقيل لـه: هذه قسمة ما أريد بها وجه الله. وهذا أكبر دليل على أن الخروج على الإمام يكون بالسيف ويكون بالقول والكلام، يعني: هذا ما أخذ السيف على الرسول صلى الله عليه وسلم، لكنه أنكر عليه.

ونحن نعلم علم اليقين بمقتضى طبيعة الحال أنه لا يمكن خروج بالسيف إلا وقد سبقه خروج باللسان والقول. الناس لا يمكن أن يأخذوا سيوفهم يحاربون الإمام بدون شيء يثيرهم، لا بد أن يكون هنـاك شيء يثـيرهم وهو الكلام. فيكون الخروج على الأئمة بالكلام خروجاً حقيقة، دلت عليه السنة ودل عليه الواقع

“Sangat mengherankan tatkala celaan itu diarahkan kepada Rasulullah ﷺ (yaitu yang dilakukan oleh pentolan Khawarij, Dzul Khuwaisiroh). Dikatakan kepada beliau ﷺ: “Berlaku adillah!” Juga dikatakan: “Pembagianmu ini tidak menginginkan wajah Allah!” Ini adalah sebesar-besarnya dalil yang menunjukkan, bahwa memberontak kepada penguasa bisa jadi dengan senjata, bisa jadi pula dengan ucapan dan kata-kata. Maksudnya, orang ini (si pentolan Khawarij, Dzul Khuwaisiroh –Red) tidaklah memerangi Rasul -ﷺ- dengan pedang, akan tetapi ia mengingkari beliau ﷺ (dengan ucapan di depan umum).

Kita tahu dengan pasti, bahwa kenyataannya, tidak mungkin terjadi pemberontakan dengan senjata, kecuali telah didahului dengan pemberontakan dengan lisan dan ucapan. Manusia tidak mungkin mengangkat senjata untuk memerangi penguasa, tanpa ada sesuatu yang bisa memrovokasi mereka. Mesti ada yang bisa memrovokasi mereka, yaitu dengan kata-kata. Jadi, memberontak terhadap penguasa dengan kata-kata adalah pemberontakan secara hakiki, berdasarkan dalil As-Sunnah dan kenyataan.” [Fatawa Al-‘Ulama Al-Akabir, hal. 96]

Asy-Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi hafizhahullah berkata:

فلا يجوز للإنسان أن ينشر المعايب. هذا نوع من الخروج, إذا نُشِرَتِ المعايب -معايب الحكام والولاة- على المنابر, وفي الصحف والمجلات, وفي الشبكة المعلوماتية؛ أبغض الناس الولاة, وألبوهم عليهم, فخرج الناس عليهم

“Tidak boleh bagi seseorang untuk menyebarkan aib-aib Pemerintah. Ini termasuk pemberontakan. Apabila aib-aib Penguasa disebarkan di mimbar-mimbar, koran-koran, majalah-majalah dan jaringan informasi, maka membuat orang-orang marah dan berkumpul untuk melawan. Maka mereka pun memberontak kepada Pemerintah.” [Syarhul Mukhtar fi Ushulis Sunnah, hal. 339]

Bersabar Menghadapi Kezaliman Penguasa Adalah Prinsip Ahlus Sunnah Yang Membedakan dengan Khawarij

Apabila penguasanya adil, maka Ahlus Sunnah dan golongan-golongan sesat seperti Khawarij dan yang semisalnya tidaklah berbeda pendapat untuk tunduk dan patuh kepadanya, serta tidak memberontak.

Perbedaan Ahlus Sunnah dan Khawarij adalah apabila penguasanya zalim, Ahlus Sunnah tetap tunduk dan patuh dalam hal yang ma’ruf kepada penguasa Muslim yang zalim. Ahlus Sunnah bersabar atas kezalimannya dan tidak memberontak.

Adapun Khawarij melakukan pemberontakan terhadapnya. Baik memberontak dengan kata-kata, dengan menjelek-jelekan pemerintah di depan khalayak, maupun memberontak dengan senjata, baik pemerintah tersebut telah mereka kafirkan, atau masih dianggap sebagai Muslim yang fasik.

Bersabar atas kezaliman penguasa adalah salah satu pembeda Ahlus Sunnah dengan Khawarij. Karena Ahlus Sunnah tetap berpegang teguh dengan sunnah Nabi ﷺ, walau HATI TIDAK MENYETUJUI dan MARAH TERHADAP KEZALIMAN PENGUASA. Sedang Khawarij lebih menuruti kemarahan mereka dan lupa dengan sabda Nabi ﷺ:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِه شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Barang siapa yang melihat suatu (kemungkaran) yang ia benci pada pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar. Karena sesungguhnya, barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah (pemerintah) sejengkal saja, kemudian ia mati, maka matinya adalah mati Jahiliyah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

كَانَ مِنْ الْعِلْمِ وَالْعَدْلِ الْمَأْمُورِ بِهِ الصَّبْرُ عَلَى ظُلْمِ الْأَئِمَّةِ وَجَوْرِهِمْ كَمَا هُوَ مِنْ أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَكَمَا أَمَرَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأَحَادِيثِ الْمَشْهُورَةِ عَنْهُ

“Termasuk ilmu dan keadilan yang diperintahkan Allah ta’ala adalah bersabar atas kezaliman dan kesewenang-wenangan penguasa, sebagaimana itu juga termasuk prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan telah diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ di dalam banyak hadis yang sudah masyhur.” [Majmu’ Al-Fatawa, 28/179]

Solusinya Adalah Tetap Bersabar dengan Memenuhi Hak Penguasa Walau Zalim dan Berdoa Kepada Allah

Apabila tertutup pintu mengingkari kemungkaran penguasa dengan tangan karena akan memunculkan mudarat yang lebih besar, tidak pula dengan lisan karena tidak memiliki akses, maka masih ada SOLUSI dengan:

  • Bersabar
  • Mengingkari dengan hati
  • Mengikuti syariat dengan tetap memenuhi hak penguasa walau zalim, dan
  • Berdoa kepada Allah.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَة وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ

“Sesungguhnya kalian akan melihat (pada pemimpin kalian) kecurangan dan hal-hal yang kalian ingkari (kemungkaran)”. Mereka bertanya: “Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau ﷺ menjawab: “Tunaikan hak mereka (pemimpin) dan mintalah kepada Allah hak kalian.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّة لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Akan ada sepeninggalku para penguasa yang tidak meneladani petunjukku, dan tidak mengamalkan sunnahku. Dan akan muncul di antara mereka (para penguasa) orang-orang yang hati-hati mereka adalah hati-hati setan dalam jasad manusia.” Aku (Hudzaifah) berkata: “Bagaimana aku harus bersikap jika aku mengalami hal seperti ini?” Rasulullah ﷺ bersabda: “Engkau TETAP DENGAR dan TAAT KEPADA PEMIMPIN itu, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil. Maka DENGAR dan TAATLAH.” [HR. Muslim dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu’anhu]

Namun sangat disayangkan, kemarahan terhadap penguasa zalim membuat sebagian orang lupa dengan perintah Nabi ﷺ untuk bersabar dan berdoa. Setan pun menghiasi amal buruk mereka menjadi terlihat baik, dengan sebutan ‘Amar Ma’ruf Nahi Munkar’, ‘Nasihat’ dan ‘Jihad’.

Bahkan sebagian mereka sadar, bahwa cara yang mereka gunakan dalam menghadapi penguasa adalah bagian dari sistem demokrasi yang jelas-jelas diadopsi dari orang-orang kafir. Namun tidak sedikit yang masih berusaha mencari-cari dalil untuk membenarkannya dengan dalil-dalil umum.

Kemudian setan menghiasi lagi kejelekan mereka dengan kebanggaan dan kekaguman (‘ujub) pada diri mereka, karena telah berani melakukan aksi dengan dihadiri banyak orang, plus memandang rendah orang yang menurut mereka tidak ikut ‘berjuang’ bersama mereka.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/704797406336411:0

 

Artikel Terkait:

MASA ‘FITNAH’ MENYINGKAP HAKIKAT

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/701334563349362:0

 

BEDA JIHAD SYARI DAN ‘JIHAD’ KONSTITUSI

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/692960050853480:0

 

MEMBABAT HABIS ALASAN-ALASAN MELAKUKAN DEMONSTRASI

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/692488774233941:0

 

MEWASPADAI BERBAGAI DAMPAK BURUK DEMONSTRASI

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/692461127570039

 

FATWA ULAMA BESAR AHLUS SUNNAH TERKAIT DEMONSTRASI THD PENISTA AL-QUR’AN DI INDONESIA

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/691193887696763:0

 

DEMONSTRASI DAN MENCELA PEMERINTAH DI MEDIA MASSA BUKAN AJARAN ISLAM

http://sofyanruray.info/demonstrasi-dan-mencela-pemerintah…/

 

MENGENANG BUAH PAHIT DEMONSTRASI MENUNTUT REFORMASI 1998

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/691795030969982:0