Posts

, ,

CURHAT TUH SAMA ALLAH, BUKAN KE SOSMED

CURHAT TUH SAMA ALLAH, BUKAN KE SOSMED
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
CURHAT TUH SAMA ALLAH, BUKAN KE SOSMED
 
 
Allah taala berfirman:
 
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
 
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” [QS. Ghofir/ Al Mu’min: 60]
 
Allah taala juga berfirman:
 
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
 
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [QS. Al Baqarah: 186]
 
Jadi curahkanlah segala keluh kesahmu kepada-Nya.
Karena Dia pasti akan mengabulkan do’mu dan akan menolongmu, lebih dari siapapun yang kamu tunggu.
 
Sumber: [Rumaysho.Com]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
  #sosmed, #medsos, #sosialmedia, #curhat #mengadu, #hanyakepadaAllah #mengadu #memohon #mohon #adabberdoa

BERDAKWAH LEWAT PESAN SINGKAT

BERDAKWAH LEWAT PESAN SINGKAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

BERDAKWAH LEWAT PESAN SINGKAT
 
Sarana komunikasi saat ini sangat mudah menjadi sarana meraih pahala. Dengan handphone mungil, dengan mengirim SMS kepada kerabat atau shohib dekat berisi nasihat yang menyentuh kalbu, kita pun bisa meraih pahala.
 
Nasihat tersebut bisa jadi kita dapatkan dari bacaan buku atau seorang ustadz dan tinggal kita forward pada nomor kontak lainnya. Ini tips mudah untuk mendapatkan pahala lewat dakwah pesan singkat, walau mungkin kita bukan seorang dai, hanya sekedar pem-forward pesan.
 
Sekadar nasihat sederhana, seperti ajakan shalat, penjelasan keutamaan suatu amalan, ajakan mengerjakan puasa sunnah, penjelasan perihal hukum Islam, bahaya keyakinan menyimpang dan amalan tanpa dasar, itu bisa menjadi pesan dakwah sederhana. Walau sederhana, namun kita bisa meraih pahala dari orang yang mengikuti ajakan kita.
 
Tanda umat terbaik adalah gemar mengajak pada kebaikan (ma’ruf) dan mencegah kemungkaran (munkar) disertai beriman kepada Allah. Dalam suatu ayat disebutkan:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” [QS. Ali Imron: 110]
 
Para dai juga adalah seorang yang memiliki perkataan yang baik dan mendapat sanjungan dari Allah ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam ayat:
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” [QS. Fushshilat: 33]
 
Yang dimaksud dalam ayat ini kata Ibnu Katsir rahimahullah bukanlah orang yang hanya sekadar berdakwah atau mengajak orang lain untuk baik, namun mereka yang mengajak juga termasuk orang yang mendapat petunjuk, lalu mengajak mengajak yang lain. Ia mengajak kepada kebaikan, namun ia pun mengamalkannya. Begitu pula ia melarang dari suatu kemungkaran, ia pun menjauhinya. [Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12: 240]
 
Perlu diingat pula, sumbernya harus kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan.
 
 
Sumber: Rumaysho.com

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

 

#dakwah, #berdakwah, #cara, #tips, #pesansingkat, #shortmessaging, #SMS, #WhatsApp, #sosmed, #medsos #pahalakebaikan, #sepertiorangyangmengikutinya, #tanpamengurangi

,

KAMU AKHWAT SALAFIYAH ATAU ‘SELFIE-YAH’…?!

KAMU AKHWAT SALAFIYAH ATAU 'SELFIE-YAH'...?!

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

KAMU AKHWAT SALAFIYAH ATAU ‘SELFIE-YAH’…?!

>> Akibat Salah Kaprah Tentang Foto Akhwat Di Medsos

Sebagian Ikhwan dan Akhwat yang sudah ngaji mengira, bahwa seorang wanita, apabila telah menutup auratnya, terlebih telah bercadar, boleh kemudian difoto, baik difoto sendiri (selfie) atau orang lain, lalu kemudian diunggah ke internet dan media-media sosial seperti Facebook dan Twitter, atau dijadikan foto profil BBM, WA dan lain-lain.

Ini adalah KESALAHAN BESAR, karena wanita adalah aurat dan fitnah (godaan) yang muncul darinya bagi laki-laki sangat besar. Walau dimaklumi, bahwa foto wanita yang tidak menutup aurat pada umumnya lebih besar godaannya, tetapi bukan berarti foto wanita yang sudah menutup aurat tidak lagi menggoda kaum lelaki. Bahkan bagi sebagian lelaki (yang di hatinya ada penyakit syahwat), wanita yang menutup aurat malah lebih menggoda, lebih membuat penasaran…!

Dan sungguh sangat ironis, ketika seseorang dinasihati agar tidak melakukannya, maka ia berkata: Banyak Ikhwan dan Akhwat “Salafi” atau “bermanhaj salaf” yang melakukannya. Padahal dalil adalah Alquran dan As-Sunnah, dengan pemahaman Salaf. Bukan pemahaman atau selera sendiri.

Adapula yang beralasan untuk dakwah atau syiar Islam. Padahal dakwah dan syiar haruslah bersesuaian dengan dalil syari. Bukan malah menyelisihinya.

Perhatikanlah ayat yang mulia berikut ini:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada kaum laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” [An-Nur: 30]

Ayat yang mulia ini memerintahkan untuk menahan pandangan dari wanita yang tidak halal. Perhatikanlah dengan baik, apakah ayat ini bersifat umum, atau memberi pengkhususan, bahwa apabila wanita sudah menutup aurat boleh dipandang…?!

Jelas ayat tersebut berlaku umum, mencakup semua wanita. Kecuali yang dikhususkan dalam kondisi hajat atau darurat, seperti melihat untuk keperluan pernikahan, menjadi saksi, pengobatan dan lain-lain, dibolehkan, sebatas keperluan, dan tidak disertai syahwat.

Perhatikan juga sabda Rasulullah ﷺ:

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِى نَفْسِهِ

“Sesungguhnya wanita itu datang dalam rupa setan, dan pergi dalam rupa setan. Maka apabila seorang dari kalian melihat wanita, hendaklah ia mendatangi istrinya, karena dengan begitu akan menentramkan gejolak syahwat di jiwanya.” [HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu’anhu]

Apakah Rasulullah ﷺ mengatakan: bahwa wanita yang membuka aurat datang dalam rupa setan, dan wanita yang sudah menutup aurat datang dalam rupa malaikat…?!

Tidak, beliau ﷺ hanya mengatakan wanita. Maka berlaku umum, apakah yang sudah menutup aurat atau belum, hukumnya sama saja, tidak boleh dilihat tanpa alasan yang dibenarkan syariat.

Oleh karena itu Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

قال العلماء معناه الاشارة إلى الهوى والدعاء إلى الفتنة بها لما جعله الله تعالى في نفوس الرجال من الميل إلى النساء والالتذاذ بنظرهن وما يتعلق بهن فهي شبيهة بالشيطان في دعائه إلى الشر بوسوسته وتزيينه له ويستنبط من هذا أنه ينبغى لها أن لا تخرج بين الرجال الا لضرورة وأنه ينبغى للرجل الغض عن ثيابها والاعراض عنها مطلقا

“Ulama berkata: makna hadis ini adalah peringatan dari hawa nafsu dan (bahaya) ajakan kepada fitnah (godaan) wanita, karena Allah telah menjadikan di hati-hati kaum lelaki adanya kecenderungan terhadap para wanita, dan merasa nikmat ketika memandang mereka, dan apa yang terkait dengan mereka. Maka wanita menyerupai setan dari sisi ajakannya kepada kejelekan, dengan bisikannya dan tipuannya.

Dan dapat diambil kesimpulan hukum dari hadis ini, bahwa TIDAK BOLEH bagi wanita untuk keluar di antara kaum lelaki, kecuali karena satu alasan darurat (sangat mendesak). Dan hendaklah kaum lelaki menundukkan pandangan; tidak boleh melihat pakaiannya dan hendaklah berpaling darinya secara mutlak.” [Syarhu Muslim, 9/178]

Perhatikanlah beberapa poin penjelasan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah di atas:

  1. Beliau rahimahullah berkata: “Makna hadis ini adalah peringatan dari hawa nafsu dan (bahaya) ajakan kepada fitnah (godaan) wanita”. Maka hadis yang mulia ini menjelaskan tentang fitnah wanita secara umum, tidak khusus yang membuka aurat. Walau dimaklumi, pada umumnya yang membuka aurat lebih besar fitnahnya, tetapi tidak berarti yang menutup aurat tidak ada fitnahnya sama sekali.
  2. Beliau rahimahullah berkata: “Karena Allah telah menjadikan di hati-hati kaum lelaki adanya kecenderungan terhadap para wanita, dan merasa nikmat ketika memandang mereka, dan apa yang terkait dengan mereka”, apakah ‘kecenderungan’ atau ‘kecondongan’ laki-laki hanya kepada wanita yang membuka aurat, atau kepada semua wanita termasuk yang menutup aurat…?! Bahkan sebagian laki-laki, lebih cenderung (menyukai) kepada wanita yang telah menutup aurat.
  3. Beliau rahimahullah berkata: “Wanita menyerupai setan dari sisi ajakannya kepada kejelekan dengan bisikannya dan tipuannya”, apakah yang sanggup menjerumuskan kaum lelaki dalam hubungan terlarang, hanya wanita yang membuka aurat, ataukah semua wanita, termasuk yang sudah menutup aurat, bahkan yang sudah bersuami mungkin untuk melakukannya…?!
  4. Beliau rahimahullah berkata: “Dan dapat diambil kesimpulan hukum dari hadis ini, bahwa tidak boleh bagi wanita untuk keluar di antara kaum lelaki, kecuali karena satu alasan darurat (sangat mendesak)”. Ucapan beliau ini juga umum, mencakup wanita yang sudah menutup aurat, apalagi yang tidak menutup aurat.
  5. Beliau rahimahullah berkata: “Dan hendaklah kaum lelaki menundukkan pandangan; tidak boleh melihat pakaiannya”, inilah ucapan beliau yang paling jelas menunjukkan, bahwa wanita tidak boleh dilihat tanpa alasan yang dibenarkan syariat, walau sudah menutup aurat, berdasarkan hadis yang mulia di atas. Dan apabila telapak kakinya dan pakaiannya tidak boleh dilihat, apalagi wajahnya.
  6. Beliau rahimahullah berkata: “Dan hendaklah berpaling darinya secara mutlak”, mutlak artinya umum, tidak boleh sama sekali melihatnya, kecuali dengan alasan yang sesuai syariat seperti untuk pernikahan, persaksian di pengadilan dan lain-lain.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَإِنَّهَا أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى اللَّهِ وَهِيَ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

“Wanita adalah aurat. Apabila ia keluar dari rumahnya, maka setan akan menghiasinya. Dan sesungguhnya seorang wanita lebih dekat kepada Allah ta’ala ketika ia berada di dalam rumahnya.” [HR. At-Tirmidzi dan Ath-Thabarani, dan lafal ini milik beliau, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 2688]

Perhatikanlah beberapa poin dalam hadis yang mulia ini;

  1. Rasulullah ﷺ mengatakan: “Wanita itu adalah aurat”. Ini adalah lafal umum, mencakup wanita yang sudah menutup aurat atau belum.
  2. Beliau ﷺ mengatakan: “Apabila ia keluar dari rumahnya, maka setan akan menghiasinya”. Beliau ﷺ tidak mengatakan: “Apabila ia keluar dari rumahnya ‘tanpa menutup aurat’ maka setan akan menghiasinya”. Jadi sama saja, penampakkan wanita terhadap kaum lelaki, apakah secara langsung atau melalui foto, membuka aurat atau menutup aurat, akan dihiasi oleh setan.
  3. Beliau ﷺ mengatakan: “Dan sesungguhnya seorang wanita lebih dekat kepada Allah ta’ala ketika ia berada di dalam rumahnya.” Hadis yang mulia ini menunjukkan, bahwa wanita hendaklah diam di rumah agar tidak terlihat. Dan lafalnya umum, mencakup wanita yang menutup aurat, dan terlebih lagi yang membuka aurat. Apakah masuk akal jika seorang wanita berdiam di rumah, tapi menampakkan dirinya lewat media-media…?!

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki, melebihi cobaan wanita.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid radhiyallahu’ahuma]

Perhatikanlah hadis yang mulia ini menegaskan, bahwa wanita adalah fitnah terbesar bagi kaum lelaki, tanpa membedakan apakah fitnahya ketika ia membuka aurat, atau menutup aurat.

Dan renungkanlah hadis yang mulia ini, Rasulullah ﷺ mengingatkan, bahwa wanita adalah fitnah terbesar bagi lelaki. Koq ada orang yang sudah mengenal Sunnah, kemudian bergampangan mengunggah foto-foto wanita di medsos…?!

Al-‘Allamah Al-Faqih Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

وإخبار النبي صلى الله عليه وسلم بذلك يريد به الحذر من فتنة النساء، وأن يكون الناس منها على حذر؛ لأن الإنسان بشر إذا عرضت عليه الفتن، فإنه يخشى عليه منها

“Maksud pengabaran Nabi ﷺ dalam hadis ini adalah agar berhati-hati dari godaan wanita. Dan manusia hendaklah selalu waspada, karena manusia hanyalah orang biasa. Apabila diperhadapkan kepada cobaan, maka dikhawatirkan ia akan terjerumus.” [Syarhu Riyadhus Shaalihin, 3/151]

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

ويستفاد منه سد كل طريق يوجب الفتنة بالمرأة، فكل طريق يوجب الفتنة بالمرأة؛ فإن الواجب على المسلمين سده، ولذلك وجب على المرأة أن تحتجب عن الرجال الأجانب، فتغطي وجهها، وكذلك تغطي يديها ورجليها عند كثير من أهل العلم، ويجب عليها كذلك أن تبتعد عن الاختلاط بالرجال؛ لأن الاختلاط بالرجال فتنة وسبب للشر من الجانبين، من جانب الرجال ومن جانب النساء

“Dapat dipetik pelajaran dari hadis ini, untuk menutup semua jalan yang memunculkan fitnah dengan wanita. Maka setiap jalan yang memunculkan fitnah dengan wanita, wajib bagi kaum Muslimin untuk menutupnya. Makanya wajib bagi seorang wanita untuk berhijab dari laki-laki non-mahram. Hendaklah ia menutup wajahnya, demikian pula menutup kedua tangan dan kakinya, menurut pendapat banyak ulama. Demikian pula wajib atas seorang wanita untuk menjauhi ikhtilat (campur baur) dengan kaum lelaki. Karena ikhtilat dengan kaum lelaki adalah fitnah dan sebab terjerumus dalam kejelekan dari kedua belah pihak, baik dari pihak lelaki maupun wanita.” [Syarhu Riyadhus Shaalihin, 3/151-152]

Ini salah kaprah yang pertama. Salah kaprah yang kedua terkait gambar makhluk bernyawa, sebagian orang yang memegang pendapat, bahwa foto tidak termasuk gambar bernyawa, karena ada sebagian ulama seperti Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah yang berfatwa demikian. Maka mereka kembali salah kaprah dua kali dalam permasalahan ini:

Pertama: Mereka mengira para ulama yang berfatwa, bahwa foto tidak termasuk gambar bernyawa, kemudian membolehkan para wanita difoto dan disebarkan di media-media. Padahal tidak seorang ulama pun yang membolehkannya, tanpa alasan darurat, karena besarnya fitnah wanita, sependek yang kami ketahui.

Kedua: Mereka mengira, para ulama tersebut membolehkan dalam semua keadaan. Pendapat yang benar insya Allah ta’ala, ulama yang tidak menganggap foto termasuk gambar bernyawa, hanya membolehkan ketika ada hajat (kebutuhan atau keperluan) seperti untuk KTP, paspor dan lain-lain.

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

فلو أن شخصا صور إنسانا لما يسمونه بالذكرى، سواء كانت هذه الذكرى للتمتع بالنظر إليه أو التلذذ به أو من أجل الحنان والشوق إليه; فإن ذلك محرم ولا يجوز لما فيه من اقتناء الصور; لأنه لا شك أن هذه صورة ولا أحد ينكر ذلك وإذا كان لغرض مباح كما يوجد في التابعية والرخصة والجواز وما أشبهه; فهذا يكون مباحا

“Andai seseorang memotret orang lain yang biasa mereka namakan foto kenangan, sama saja foto kenangan ini agar senang atau gembira ketika melihatnya, ataukah karena sayang dan kangen kepadanya, maka itu haram dan tidak boleh, karena terkandung padanya kepemilikan gambar bernyawa. Karena tidak diragukan lagi, bahwa foto itu adalah gambar (bukan aslinya), dan tidak ada seorang pun yang mengingkari kenyataan tersebut. Dan apabila memotret untuk tujuan yang mubah, sebagaimana dalam aturan kependudukan, perizinan, imigrasi dan yang semisalnya, maka hukumnya mubah.” [Al-Qoulul Mufid, 2/440]

Penjelasan Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah ini juga menunjukkan, bahwa foto-foto Ikhwan (laki-laki) tanpa suatu hajat juga terlarang, atau sepatutnya dihindari. Ini pendapat terkuat insya Allah ta’ala, dalam rangka berhati-hati dan mencegah serta menutup semua pintu yang dapat mengantarkan kepada yang haram.

Dan sebagian ulama berpendapat, bahwa foto termasuk gambar bernyawa, karena dalil-dalil yang melarangnya bersifat umum, tidak membedakan antara gambar yang dibuat dengan tangan atau dengan alat, seperti dalam hadis berikut:

عَنْ عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا اشْتَرَتْ نُمْرُقَةً فِيهَا تَصَاوِيرُ فَلَمَّا رَآهَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَامَ عَلَى الْبَابِ فَلَمْ يَدْخُلْ فَعَرَفَتْ فِي وَجْهِهِ الْكَرَاهِيَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ أَتُوبُ إِلَى اللهِ وَإِلَى رَسُولِهِ مَاذَا أَذْنَبْتُ قَالَ مَا بَالُ هَذِهِ النُّمْرُقَةِ فَقَالَتِ اشْتَرَيْتُهَا لِتَقْعُدَ عَلَيْهَا وَتَوَسَّدَهَا ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ – وَقَالَ – إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لاَ تَدْخُلُهُ الْمَلاَئِكَةُ

“Dari Aisyah radhiyallahu’anha, seorang istri Nabi ﷺ, bahwasanya beliau mengabarkan kepada Nabi ﷺ, bahwa beliau telah membeli bantal yang padanya terdapat gambar-gambar bernyawa. Ketika Rasulullah ﷺ melihatnya, maka beliau hanya berdiri di pintu, tidak mau memasuki rumah. Aisyah pun mengetahui ketidaksukaan Rasulullah ﷺ yang tergambar pada wajah beliau. Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah, aku kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Apakah dosaku?” Beliau ﷺ bersabda: “Untuk apa bantal ini?” Aisyah menjawab: “Aku belikan untuk engkau duduk di atasnya dan bersandar padanya.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya para pemilik gambar-gambar ini akan diazab pada Hari Kiamat dan dikatakan kepada mereka: Hidupkan yang telah kalian ciptakan.” Dan Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya rumah yang terdapat padanya gambar-gambar bernyawa tidak akan dimasuki oleh malaikat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Sahabat yang mulia Abu Juhaifah radhiyallahu’anhu berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الدَّمِ، وَثَمَنِ الكَلْبِ، وَكَسْبِ الأَمَةِ، وَلَعَنَ الوَاشِمَةَ وَالمُسْتَوْشِمَةَ، وَآكِلَ الرِّبَا، وَمُوكِلَهُ، وَلَعَنَ المُصَوِّرَ

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melarang harga anjing, harga darah dan penghasilan budak wanita dari zina. Dan melaknat wanita yang membuat tato dan meminta ditato, melaknat pemakan riba dan pemberi makannya, dan melaknat tukang gambar (yang bernyawa).” [HR. Al-Bukhari]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

📲 KAMU AKHWAT SALAFIYAH ATAU 'SELFIE-YAH'…?!📷 AKIBAT SALAH KAPRAH TENTANG FOTO AKHWAT DI MEDSOS➡ Sebagian Ikhwan…

Posted by Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info on Saturday, May 20, 2017

#MuslimahSholihah
#FatwaUlama
#DakwahSunnah

 

,

UNTUK PARA SUAMI ‘DAYYUTS’ YANG MEMBIARKAN FOTO ISTRINYA ATAU SAUDARA PEREMPUANNYA DI MEDSOS

UNTUK PARA SUAMI 'DAYYUTS' YANG MEMBIARKAN FOTO ISTRINYA ATAU SAUDARA PEREMPUANNYA DI MEDSOS

بسم الله الرحمن الرحيم

#MuslimahSholihah
#MutiaraSunnah

UNTUK PARA SUAMI ‘DAYYUTS’ YANG MEMBIARKAN FOTO ISTRINYA ATAU SAUDARA PEREMPUANNYA DI MEDSOS

Seorang suami atau laki-laki ‘dayyuts’ adalah yang tidak cemburu terhadap istri dan mahramnya. Disebutkan dalam Ensiklopedi Fikih tentang laki-laki ‘Dayyuts’:

 عدم الغيرة على الأهل والمحارم

“Tidak cemburu terhadap istri dan mahram.” [Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 21/91]

Tidak cemburu maknanya adalah, tidak melarang istri atau mahramnya terjerumus dalam zina dan pintu-pintunya. Dan pintu-pintu zina di antaranya dijelaskan dalam hadis Nabi ﷺ:

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُه

“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan mengenainya, tidak mungkin tidak. Maka kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah meraba, kaki zinanya adalah melangkah, hati bernafsu dan berkeinginan, dan yang membenarkan serta mendustakan semua itu adalah kemaluan.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Hadis yang mulia ini mengandung larangan bagi laki-laki melihat lawan jenis yang bukan istrinya atau bukan mahramnya, karena pandangan adalah awal pintu zina. Petaka zina berawal dari sebuah pandangan, bagaikan kobaran api yang berawal dari sebuah percikan kecil.

Dan larangan di sini bersifat umum. Maka tidak ada bedanya, apakah wanita tersebut sudah menutup aurat atau belum. Bahkan sebagian lelaki malah lebih ‘terfitnah’ dengan wanita yang telah menggunakan jilbab syari. Kecuali melihat wanita untuk suatu keperluan penting yang diizinkan syariat, seperti melihat ketika melamar, melihat dalam pengadilan jika diperlukan, dan lain-lain.

Maka seorang suami atau laki-laki yang membiarkan foto istri atau mahramnya dilihat oleh laki-laki lain di medsos atau di mana pun, termasuk laki-laki ‘Dayyuts’, yang telah diancam keras dalam hadis Nabi ﷺ:

ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالْعَاقُّ، وَالدَّيُّوثُ، الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ

“Tiga golongan manusia yang Allah haramkan Surga bagi mereka:

  • (1) Pecandu khamar,
  • (2) Orang yang durhaka kepada kedua orang tua,
  • (3) Dayyuts; orang yang membiarkan kemaksiatan di tengah-tengah keluarganya.”

[HR. Ahmad dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Shahihut Targhib: 2366]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/798626126953538:0

,

MAKSIMALKAN SOSIAL MEDIA UNTUK BERDAKWAH

MAKSIMALKAN SOSIAL MEDIA UNTUK BERDAKWAH
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 
MAKSIMALKAN SOSIAL MEDIA UNTUK BERDAKWAH
 
Salah satu hal agar kita tidak dibodohi oleh gadget, hanya untuk suatu hal yang sia-sia, bahkan bermaksiat, adalah MAKSIMALKAN gadget kita untuk berdakwah, untuk share sebuah ilmu yang syari. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:
“Media-media social adalah kesempatan atau peluang bagi kalian yang hendaknya kalian manfaatkan sebaik-baiknya, dan jangan kalian tinggalkan untuk orang-orang jahat dan para dai penyeru kesesatan.” [Ahamiyyatul ‘Aqidatish Shahihah, 23-7-1437H]
Sumber: Forum Berbagi Faidah
, ,

BOLEHKAH DISEBARKAN KE PUBLIK, PENJELASAN PEMIKIRAN DAI MENYIMPANG?

BOLEHKAH DISEBARKAN KE PUBLIK, PENJELASAN PEMIKIRAN DAI MENYIMPANG?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah
#FatwaUlama

BOLEHKAH DISEBARKAN KE PUBLIK, PENJELASAN PEMIKIRAN DAI MENYIMPANG?

Menjelaskan PEMIKIRAN DAI yang menyimpang, bolehkah penjelasan tersebut disebarkan di PUBLIK??

Fatwa Asy-Syaikh DR Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah

Pertanyaan:

Ahsanallahu ilaikum, apakah termasuk Manhaj Salaf, apabila salah seorang da’i keliru dan menyelisihi Manhaj Salaf, untuk dijelaskan kesalahannya melalui media media informasi dan risalah-risalah?

Jawaban:

■ “Apabila ia menyebarkan perkataannya atas khalayak manusia,

[✔] Maka haruslah bantahan yang ditujukan atasnya juga DISEBARKAN  dalam rangka menjelaskan kebenaran.

■ Namun jikalau perkataannya yang keliru tidak tersebar,

[✔] Maka cukup dinasihati saja dan hal ini cukup. Na’am”.

 

العلامة صالح الفوزان

[ يقول ]

أحسن الله إليكم هل من منهج السلف أنه إذا أخطأ أحد الدُعاة وخالف نهج السلف أن يُنشر خطأؤه عبر وسائل الإعلام والرسائل؟

[ الجواب ]

■ إذا كان نشر قوله على الناس

[✔] فلابد من نشر الرد عليه لبيان الحق

■ أما إذا كان ما انتشر قوله

[✔] فإنه يُناصح ويكفي هذا .نعم.

 

 

Sumber: https://aslibumiayu.net/18473-boleh-menjelaskan-penyimpangan-dai-jika-dia-menyebarkan-pemikirannya-di-umum.html

 

,

APAKAH MENJADI KHAWARIJ HANYA APABILA MENGAFIRKAN KAUM MUSLIMIN?

APAKAH MENJADI KHAWARIJ HANYA APABILA MENGAFIRKAN KAUM MUSLIMIN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

APAKAH MENJADI KHAWARIJ HANYA APABILA MENGAFIRKAN KAUM MUSLIMIN?

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

 

ومن اتصف بخصلة من خصالهم فهو منهم :

الذي يخرج على ولي الأمر هذا من الخوارج.

الذي يكفر بالكبيرة هذا من الخوارج.

الذي يستحل دماء المسلمين هذا من الخوارج.

الذي يجمع بين الأمور الثلاثة هذا هو أشد أنواع الخوارج.

 

Barang siapa mengadopsi salah satu sifat Khawarij tersebut, maka ia bagian dari mereka:

  1. Siapa yang memberontak kepada pemerintah, maka ia termasuk Khawarij.
  2. Siapa yang mengafirkan pelaku dosa besar, maka ia termasuk Khawarij.
  3. Siapa yang menghalalkan darah kaum Muslimin, maka ia termasuk Khawarij.
  4. Siapa yang mengumpulkan tiga perkara tersebut, maka ia termasuk jenis Khawarij yang paling parah.

[Dinukil dari: Mauqi’ Al-Fauzan hafizhahullah. Lihat juga Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil Qodhooya Al-‘Ashriyyah, hal. 86]

Apakah Pemberontakan Hanya dengan Senjata?

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

الخروج على الأئمة يكون بالسيف، وهذا أشد الخروج، ويكون بالكلام: بسبهم، وشتمهم، والكلام فيهم في المجالس، وعلى المنابر، هذا يهيج الناس ويحثهم على الخروج على ولي الأمر، وينقص قدر الولاة عندهم، فالكلام خروج

“Memberontak kepada Pemerintah bisa jadi dengan senjata. Ini adalah pemberontakan yang paling jelek. Dan bisa jadi pula dengan ucapan, yaitu dengan mencaci, mencerca dan berbicara tentang kejelekan Pemerintah di majelis-majelis dan mimbar-mimbar. Ini dapat memrovokasi dan mendorong manusia untuk memberontak terhadap pemerintah, dan menjatuhkan kewibawaan Pemerintah di mata mereka. Maka ucapan adalah pemberontakan.” [Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil Qodhoya Al-‘Ashriyyah, hal. 107]

Oleh karena itu, dahulu ada sekte Khawarij yang tidak pernah ikut kudeta bersenjata. Kerjaan mereka hanya menjelek-jelekkan Pemerintah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

والقعدية قوم من الخوارج كانوا يقولون بقولهم ولا يرون الخروج بل يزينونه

“Al-Qo’adiyah adalah satu kaum dari golongan Khawarij yang dahulu berpendapat dengan ucapan mereka. Dan mereka tidak memandang untuk memberontak, akan tetapi mereka memrovokasi untuk melakukannya (dengan kata-kata).” [Fathul Bari, 1/432]

Sikap Terhadap Orang yang Memberontak dengan Senjata dan Kata-Kata

Asy-Syaikh Al-‘Allaamah Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

كل من خرج على الحاكم المسلم خارجيٌّ يعامل معاملة الخوارج

“Setiap orang yang memberontak kepada pemimpin Muslim adalah Khawarij, disikapi sebagai Khawarij.” [At-Ta’liq ‘Ala Ighatsatil Lahfan, 24-10-1436 H]

Apakah Pemberontak Keluar Dari Ahlus Sunnah?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

و”الْبِدْعَةُ” الَّتِي يُعَدُّ بِهَا الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ مَا اشْتَهَرَ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالسُّنَّةِ مُخَالَفَتُهَا لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ؛ كَبِدْعَةِ الْخَوَارِجِ وَالرَّوَافِضِ وَالْقَدَرِيَّةِ وَالْمُرْجِئَةِ

“Bid’ah yang menggolongkan seseorang kepada Ahlul Ahwa (Ahlul Bid’ah) adalah bid’ah yang telah masyhur di kalangan ulama Sunnah akan penyelisihannya terhadap Alquran dan As-Sunnah, seperti bid’ah Khawarij, Syi’ah, Qodariyyah dan Murjiah.” [Majmu’ Al-Fatawa, 35/414]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/734562046693280:0

 

, ,

HUKUM MEMERIKSA CATATAN PRIBADI ATAU HP SUAMI

HUKUM MEMERIKSA CATATAN PRIBADI ATAU HP SUAMI

#NasihatUlama

HUKUM MEMERIKSA CATATAN PRIBADI ATAU HP SUAMI

Asy-Syaikh Musthafa Mabram hafizhahullah

Pertanyaan:

Istri saya memeriksa sebagian catatan pribadi saya ketika saya pergi. Maka apakah dengan perbuatan semacam ini dia telah terjatuh pada tindakan memata-matai yang hukumnya haram itu? Dan apakah tindakan memata-matai termasuk dosa besar?

Jawaban:

Tidak boleh baginya untuk melakukan hal tersebut. Dan apa yang dia lakukan -tidak diragukan lagi- itu adalah perbuatan yang diharamkan atasnya. Bahkan sekalipun ada yang mengatakan, bahwa suami adalah pihak yang boleh dicurigai, maka sesungguhnya yang wajib adalah menutupi rahasianya. Sedangkan tindakan memata-matai tidak boleh dilakukan, karena kita dilarang darinya. Nabi ﷺ  bersabda:

ولا تجسسوا.

“Janganlah kalian melakukan tindakan memata-matai!”

(HR. Al-Bukhary dan Muslim)

Tindakan memata-matai dinilai oleh sekelompok dari para ulama sebagai salah satu-dosa besar, sebagaimana hal itu telah diketahui disebutkan dalam kitab-kitab yang menjelaskan tentang dosa-dosa besar, seperti kitab asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Ibnu Hajar al-Haitsamy, dan yang lainnya.

 

? Syarh Nuzhmun Risalah Ila Ahlil Qashim, pelajaran ketiga.

, ,

JAWABAN RINGKAS TENTANG PERSATUAN KEBUN BINATANG

JAWABAN RINGKAS TENTANG PERSATUAN KEBUN BINATANG

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Ustadz_Sunnah

JAWABAN RINGKAS TENTANG PERSATUAN KEBUN BINATANG

Persatuan Kebun Binatang mungkin sebuah ungkapan yang tidak elok untuk menggambarkan persatuan sebagian orang, dalam keadaan akidah dan manhaj yang berbeda-beda. Namun terlepas dari persoalan cocok atau tidaknya ungkapan tersebut, izinkan kami meluruskan lima poin kesalahpahaman terhadapnya:

Qiyas dengan kebun binatang dari sisi apanya?

Jawab: Dari sisi perbedaan akidah dan manhaj yang tidak mungkin disatukan. Sama dengan yang terjadi di kebun binatang, jenis hewannya berbeda-beda namun dalam satu kebun yang sama. Mungkin ini yang dimaksud. Sekali lagi kami tidak hendak membahas cocok atau tidaknya pemilihan ungkapannya, namun dari segi maknanya. Asy-Syaikh Al-‘Allaamah Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

لا يمكن الاجتماع مع اختلاف المنهج والعقيدة

“Tidak mungkin bersatu, jika berbeda manhaj dan akidah.” [Al-Ajwibah Al-Mufidah: 93]

Para ulama Salaf mencontohkan persatuan dalam maslahat bersama kaum Muslimin. Coba sebutkan peperangan setelah zaman Khulafaur Rasyidin yang murni hanya diikuti oleh Ahlussunnah. Lihatlah perang Ainun Jalut, Fathul Andalus, Hiththin, bahkan Fathul Qasthanthiniyah yang jelas-jelas disebut dalam hadis. Siapa yang memiliki andil besar dalam mewujudkannya, apakah Ahlussunnah menurut peristilahan mereka?

Jawab: Wajib berjihad bersama pemerintah Muslim yang baik maupun yang jelek. Karena Rasulullah ﷺ telah bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعِ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي وَإِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

“Siapa yang taat kepadaku, maka sungguh ia telah taat kepada Allah. Dan siapa yang bermaksiat terhadapku, maka sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah. Dan siapa yang taat kepada pemimpin, maka sungguh ia telah taat kepadaku. Dan siapa yang bermaksiat kepada pemimpin, maka sungguh ia telah bermaksiat kepadaku. Dan sesungguhnya seorang pemimpin adalah tameng, dilakukan peperangan di belakangnya dan dijadikan sebagai pelindung.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

أَيْ يُقَاتَلُ مَعَهُ الْكُفَّارُ وَالْبُغَاةُ وَالْخَوَارِجُ وَسَائِرُ أَهْلِ الْفَسَادِ وَالظُّلْمِ مُطْلَقًا

“Maknanya: Berperang hendaklah dilakukan bersama pemimpin, untuk melawan orang-orang kafir, pemberontak, Khawarij dan semua orang yang melakukan kerusakan dan kezaliman, secara mutlak.” [Syarhu Muslim, 12/230]

Al-Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata:

واعلم أن جور السلطان لا ينقص فريضة من فرائض الله عز وجل التي افترضها على لسان نبيه صلى الله عليه وسلم؛ جوره على نفسه، وتطوعك وبرك معه تام لك إن شاء الله تعالى، يعني: الجماعة والجمعة معهم، والجهاد معهم، وكل شيء من الطاعات فشارك فيه، فلك نيتك

“Ketahuilah, kezaliman penguasa tidak mengurangi suatu kewajiban kepada Allah ‘azza wa jalla, yang Allah wajibkan melalui lisan Nabi-Nya ﷺ (yaitu menunaikan hak Penguasa). Karena kezalimannya adalah dosa yang membahayakannya, adapun ketaatanmu dan kebaikanmu kepadanya akan dibalas sempurna untukmu insya Allah ta’ala. Yaitu: Tetaplah melakukan sholat berjamaah, sholat Jumat dan berjihad bersamanya, dan dalam semua bentuk ketaatan, bergabunglah dengannya (jangan memberontak). Maka engkau akan mendapatkan sesuai dengan niatmu.” [Syarhus Sunnah, hal. 113]

 

Ini dalam jihad syari, jihad yang dipimpin Kepala Negara. Bagaimana mungkin disamakan dengan perbuatan yang menyelisihi syariat?

Beliau mengatakan, bahwa hanya ketika ada permasalahan mereka bisa bersatu, setelah itu cakar-cakaran.

Jawabannya memang dalam hal seperti inilah seharusnya Ahlul Qiblah bersatu.

Lalu pertanyaan ke beliau: Kalau bukan dalam momen seperti ini kita bersatu, maka kapan antum bisa bersatu dengan kaum Muslimin lainnya agar antum tidak terkesan hizbi?

Jawabannya: Masih terlalu banyak momen yang syari untuk bersatu, seperti dalam sholat Jumat, sholat Jamaah, jihad syari dan semua amalan yang dianjurkan berjamaah dengan seluruh kaum Muslimin.

Beliau bilang, ketika ada masalah besar seperti ini bersatu, setelah itu cakar-cakaran.

Jawabannya: Sepertinya kita tidak pernah cakar-cakaran dengan kaum Muslimin lainnya, baik dalam keadaan genting ataupun aman. Atau bukannya mereka yang suka mencakar-cakar kaum Muslimin?

Jawab: Kalimat beliau umum, yaitu sifat umumnya golongan-golongan yang menyimpang. Adapun mencakar kaum Muslimin, apabila yang dimaksud adalah mengingatkan penyimpangan sebagian kaum Muslimin agar tidak diikuti oleh kaum Muslimin yang lain adalah termasuk nasihat.

Katanya berilmu dan ajari ilmu dulu baru bersatu, kita bilang justru karena ilmu kita tentang Sirah dan Tarikh serta manhaj Ahlussunnah yang benar, menyebabkan kita bersatu dalam masalah ini.

Jawab: Maksud beliau adalah seperti yang diingatkan oleh imam besar ahli hadis abad ini tentang kesalahan cara bersatu kelompok Ikhwanul Muslimin. Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah berkata:

قاعدتهم هي كتل الناس جمعهم على ما بينهم من خلافات عقدية أو سلوكية أو فقهية ثم ثقف كتل ثم ثقف، على هذا قامت دعوتهم طيلة هذه السنين الطويلة، لكن الواقع يشهد أن لا شيء هناك سوى التكتيل وليس هناك شيء يسمى بالتثقيف

“Kaidah mereka (Ikhwanul Muslimin) adalah menghimpun dan mengumpulkan manusia walau berbeda-beda akidah, akhlak atau fikih, kemudian barulah didik mereka. Himpun lalu didik. Berdasarkan inilah tegak dakwah mereka dalam kurun waktu yang panjang ini. Akan tetapi kenyataannya, tidak ada yang mereka lakukan selain menghimpun, dan tidak ada yang namanya pendidikan (secara hakiki dalam dakwah mereka).” [Kaset Silsilatul Huda wan Nur: 609]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah juga berkata:

إن دعوة الإخوان المسلمين لما كانت قائمة على أساس التكتيل ثم لا شيء من الثقافة، وكانت دعوة السلفيين قائمة على التثقيف وليس على التكتيل

“Sungguh, dakwah Ikhwanul Muslimin ketika ia dibangun di atas dasar penghimpunan, kemudian tidak ada sedikit pun pendidikan (yang hakiki). Maka dakwah para pengikut Salaf dibangun di atas dasar pendidikan, dan bukan semata penghimpunan.” [Kaset Silsilatul Huda wan Nur: 609]

 

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/706867676129384:0

 

Artikel Terkait:

SAUDARAKU MAAFKAN ORANG YANG MENASIHATIMU DAN LURUSKAN LOGIKAMU

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/694547880694697:0

 

 

, , ,

APABILA CARA ‘JIHAD’ DAN ‘NAHI MUNKAR’ ANDA TIDAK SYARI, MAKA ANDA TIDAK BERSABAR

APABILA CARA ‘JIHAD’ DAN ‘NAHI MUNKAR’ ANDA TIDAK SYARI, MAKA ANDA TIDAK BERSABAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

APABILA CARA ‘JIHAD’ DAN ‘NAHI MUNKAR’ ANDA TIDAK SYARI, MAKA ANDA TIDAK BERSABAR

Bersabar menghadapi kezaliman penguasa adalah prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tidak sabar, lalu melakukan ‘jihad’ atau ‘nahi munkar’ dengan cara yang tidak syari, adalah prinsip Khawarij. Yaitu melakukan pemberontakan terhadap penguasa Muslim, baik memberontak dengan senjata maupun dengan kata-kata, seperti dengan melakukan demontrasi; ‘jihad’ konstitusi yang berasas demokrasi, bukan jihad syari.

Penjelasan Ulama Bahwa Demonstrasi Adalah Tradisi Orang-Orang Kafir

Al-Imam Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah berkata:

صحيح ان الوسائل إذا لم تكن مخالفة للشريعة فهي الأصل فيها الإباحة، هذا لا إشكال فيه، لكن الوسائل إذا كانت عبارة عن تقليد لمناهج غير إسلامية فمن هنا تصبح هذه الوسائل غير شرعية، فالخروج للتظاهرات او المظاهرات وإعلان عدم الرضا او الرضا وإعلان التاييد أو الرفض لبعض القرارات أو بعض القوانين، هذا نظام يلتقي مع الحكم الذي يقول الحكم للشعب، من الشعب وإلى الشعب، أما حينما يكون المجتمع إسلاميا فلا يحتاج الأمر إلى مظاهرات وإنما يحتاج إلى إقامة الحجة على الحاكم الذي يخالف شريعة الله.

“Benar bahwa sarana-sarana, jika TIDAK MENYELISIHI SYARIAT, maka hukum asalnya mubah. Ini bukan masalah. Tetapi sarana-sarana jika merupakan taklid terhadap manhaj yang bukan Islam, maka menjadi tidak sesuai syariat, maka keluar untuk aksi terbuka atau demonstrasi, dan menampakkan penentangan atau persetujuan, atau menunjukkan dukungan atau penolakan atas sebagian aturan atau undang-undang. Metode ini sama dengan aturan (demokrasi) yang mengatakan, bahwa hukum milik rakyat; dari rakyat dan untuk rakyat. Adapun masyarakat Islam tidaklah membutuhkan demonstrasi, melainkan Iqomatul Hujjah (Penyampaian ilmu) kepada Penguasa yang menyelisihi syariat Allah ta’ala.” [Mauqi’ Al-Albani]

Al-Imam Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah juga berkata:

هذه التظاهرات الأوربية ثم التقليدية من المسلمين، ليست وسيلة شرعية لإصلاح الحكم وبالتالي إصلاح المجتمع، ومن هنا يخطئ كل الجماعات وكل الأحزاب الاسلامية الذين لا يسلكون مسلك النبي صلى الله عليه وسلم في تغيير المجتمع، لا يكون تغيير المجتمع في النظام الاسلامي بالهتافات وبالصيحات وبالتظاهرات، وإنما يكون ذلك على الصمت وعلى بث العلم بين المسلمين وتربيتهم على هذا الاسلام حتى تؤتي هذه التربية أكلها ولو بعد زمن بعيد.

“Demonstrasi ini yang asalnya dari orang-orang kafir Eropa, kemudian diikuti oleh kaum Muslimin, bukanlah sarana yang sesuai syariat untuk memerbaiki hukum (pemerintah) ataupun memerbaiki masyarakat. Maka dari sini jelas kesalahan semua kelompok-kelompok dan golongan-golongan Islam yang tidak menempuh jalan Nabi ﷺ dalam mengubah masyarakat. Karena tidaklah mungkin mengubah masyarakat dalam aturan Islam dengan cara menyuarakan yel-yel, berteriak-teriak dan berdemonstrasi. Hanyalah melakukan pengubahan itu dengan cara tidak menyuarakan kebatilan dan menyebarkan ilmu di tengah-tengah kaum Muslimin, dan mendidik mereka di atas agama Islam yang benar ini, sampai usaha pendidikan ini membuahkan hasil, walau menempuh waktu yang lama.” [Mauqi’ Al-Albani]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

المظاهرات ليست من دين الإسلام لما يترتب عليها من الشرور من ضياع كلمة المسلمين من تفريق بين المسلمين لما يصاحبها من التخريب وسفك الدماء لما يصاحبها من الشرور، وليست المظاهرات بحل صحيح للمشكلات، ولكن الحل يكون بإتباع الكتاب والسنة

“Demonstrasi bukan berasal dari agama Islam, karena kejelekan-kejelekan yang timbul darinya seperti terpecahnya kesatuan kaum Muslimin, disertai dengan pengrusakan dan pertumpahan darah, serta berbagai kejelekan lainnya. Demonstrasi bukan solusi yang benar. Akan tetapi solusi itu adalah dengan mengikuti Alquran dan As-Sunnah.” [Mauqi’ Al-Fauzan]

Penjelasan Ulama Bahwa Pemberontakan Terjadi dengan Senjata dan Kata-Kata

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

بل العجب أنه وُجّه الطعن إلى الرسول صلى الله عليه وسلم ، قيل لـه : اعدل، وقيل لـه: هذه قسمة ما أريد بها وجه الله. وهذا أكبر دليل على أن الخروج على الإمام يكون بالسيف ويكون بالقول والكلام، يعني: هذا ما أخذ السيف على الرسول صلى الله عليه وسلم، لكنه أنكر عليه.

ونحن نعلم علم اليقين بمقتضى طبيعة الحال أنه لا يمكن خروج بالسيف إلا وقد سبقه خروج باللسان والقول. الناس لا يمكن أن يأخذوا سيوفهم يحاربون الإمام بدون شيء يثيرهم، لا بد أن يكون هنـاك شيء يثـيرهم وهو الكلام. فيكون الخروج على الأئمة بالكلام خروجاً حقيقة، دلت عليه السنة ودل عليه الواقع

“Sangat mengherankan tatkala celaan itu diarahkan kepada Rasulullah ﷺ (yaitu yang dilakukan oleh pentolan Khawarij, Dzul Khuwaisiroh). Dikatakan kepada beliau ﷺ: “Berlaku adillah!” Juga dikatakan: “Pembagianmu ini tidak menginginkan wajah Allah!” Ini adalah sebesar-besarnya dalil yang menunjukkan, bahwa memberontak kepada penguasa bisa jadi dengan senjata, bisa jadi pula dengan ucapan dan kata-kata. Maksudnya, orang ini (si pentolan Khawarij, Dzul Khuwaisiroh –Red) tidaklah memerangi Rasul -ﷺ- dengan pedang, akan tetapi ia mengingkari beliau ﷺ (dengan ucapan di depan umum).

Kita tahu dengan pasti, bahwa kenyataannya, tidak mungkin terjadi pemberontakan dengan senjata, kecuali telah didahului dengan pemberontakan dengan lisan dan ucapan. Manusia tidak mungkin mengangkat senjata untuk memerangi penguasa, tanpa ada sesuatu yang bisa memrovokasi mereka. Mesti ada yang bisa memrovokasi mereka, yaitu dengan kata-kata. Jadi, memberontak terhadap penguasa dengan kata-kata adalah pemberontakan secara hakiki, berdasarkan dalil As-Sunnah dan kenyataan.” [Fatawa Al-‘Ulama Al-Akabir, hal. 96]

Asy-Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi hafizhahullah berkata:

فلا يجوز للإنسان أن ينشر المعايب. هذا نوع من الخروج, إذا نُشِرَتِ المعايب -معايب الحكام والولاة- على المنابر, وفي الصحف والمجلات, وفي الشبكة المعلوماتية؛ أبغض الناس الولاة, وألبوهم عليهم, فخرج الناس عليهم

“Tidak boleh bagi seseorang untuk menyebarkan aib-aib Pemerintah. Ini termasuk pemberontakan. Apabila aib-aib Penguasa disebarkan di mimbar-mimbar, koran-koran, majalah-majalah dan jaringan informasi, maka membuat orang-orang marah dan berkumpul untuk melawan. Maka mereka pun memberontak kepada Pemerintah.” [Syarhul Mukhtar fi Ushulis Sunnah, hal. 339]

Bersabar Menghadapi Kezaliman Penguasa Adalah Prinsip Ahlus Sunnah Yang Membedakan dengan Khawarij

Apabila penguasanya adil, maka Ahlus Sunnah dan golongan-golongan sesat seperti Khawarij dan yang semisalnya tidaklah berbeda pendapat untuk tunduk dan patuh kepadanya, serta tidak memberontak.

Perbedaan Ahlus Sunnah dan Khawarij adalah apabila penguasanya zalim, Ahlus Sunnah tetap tunduk dan patuh dalam hal yang ma’ruf kepada penguasa Muslim yang zalim. Ahlus Sunnah bersabar atas kezalimannya dan tidak memberontak.

Adapun Khawarij melakukan pemberontakan terhadapnya. Baik memberontak dengan kata-kata, dengan menjelek-jelekan pemerintah di depan khalayak, maupun memberontak dengan senjata, baik pemerintah tersebut telah mereka kafirkan, atau masih dianggap sebagai Muslim yang fasik.

Bersabar atas kezaliman penguasa adalah salah satu pembeda Ahlus Sunnah dengan Khawarij. Karena Ahlus Sunnah tetap berpegang teguh dengan sunnah Nabi ﷺ, walau HATI TIDAK MENYETUJUI dan MARAH TERHADAP KEZALIMAN PENGUASA. Sedang Khawarij lebih menuruti kemarahan mereka dan lupa dengan sabda Nabi ﷺ:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِه شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Barang siapa yang melihat suatu (kemungkaran) yang ia benci pada pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar. Karena sesungguhnya, barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah (pemerintah) sejengkal saja, kemudian ia mati, maka matinya adalah mati Jahiliyah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

كَانَ مِنْ الْعِلْمِ وَالْعَدْلِ الْمَأْمُورِ بِهِ الصَّبْرُ عَلَى ظُلْمِ الْأَئِمَّةِ وَجَوْرِهِمْ كَمَا هُوَ مِنْ أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَكَمَا أَمَرَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأَحَادِيثِ الْمَشْهُورَةِ عَنْهُ

“Termasuk ilmu dan keadilan yang diperintahkan Allah ta’ala adalah bersabar atas kezaliman dan kesewenang-wenangan penguasa, sebagaimana itu juga termasuk prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan telah diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ di dalam banyak hadis yang sudah masyhur.” [Majmu’ Al-Fatawa, 28/179]

Solusinya Adalah Tetap Bersabar dengan Memenuhi Hak Penguasa Walau Zalim dan Berdoa Kepada Allah

Apabila tertutup pintu mengingkari kemungkaran penguasa dengan tangan karena akan memunculkan mudarat yang lebih besar, tidak pula dengan lisan karena tidak memiliki akses, maka masih ada SOLUSI dengan:

  • Bersabar
  • Mengingkari dengan hati
  • Mengikuti syariat dengan tetap memenuhi hak penguasa walau zalim, dan
  • Berdoa kepada Allah.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَة وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ

“Sesungguhnya kalian akan melihat (pada pemimpin kalian) kecurangan dan hal-hal yang kalian ingkari (kemungkaran)”. Mereka bertanya: “Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau ﷺ menjawab: “Tunaikan hak mereka (pemimpin) dan mintalah kepada Allah hak kalian.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّة لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Akan ada sepeninggalku para penguasa yang tidak meneladani petunjukku, dan tidak mengamalkan sunnahku. Dan akan muncul di antara mereka (para penguasa) orang-orang yang hati-hati mereka adalah hati-hati setan dalam jasad manusia.” Aku (Hudzaifah) berkata: “Bagaimana aku harus bersikap jika aku mengalami hal seperti ini?” Rasulullah ﷺ bersabda: “Engkau TETAP DENGAR dan TAAT KEPADA PEMIMPIN itu, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil. Maka DENGAR dan TAATLAH.” [HR. Muslim dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu’anhu]

Namun sangat disayangkan, kemarahan terhadap penguasa zalim membuat sebagian orang lupa dengan perintah Nabi ﷺ untuk bersabar dan berdoa. Setan pun menghiasi amal buruk mereka menjadi terlihat baik, dengan sebutan ‘Amar Ma’ruf Nahi Munkar’, ‘Nasihat’ dan ‘Jihad’.

Bahkan sebagian mereka sadar, bahwa cara yang mereka gunakan dalam menghadapi penguasa adalah bagian dari sistem demokrasi yang jelas-jelas diadopsi dari orang-orang kafir. Namun tidak sedikit yang masih berusaha mencari-cari dalil untuk membenarkannya dengan dalil-dalil umum.

Kemudian setan menghiasi lagi kejelekan mereka dengan kebanggaan dan kekaguman (‘ujub) pada diri mereka, karena telah berani melakukan aksi dengan dihadiri banyak orang, plus memandang rendah orang yang menurut mereka tidak ikut ‘berjuang’ bersama mereka.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/704797406336411:0

 

Artikel Terkait:

MASA ‘FITNAH’ MENYINGKAP HAKIKAT

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/701334563349362:0

 

BEDA JIHAD SYARI DAN ‘JIHAD’ KONSTITUSI

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/692960050853480:0

 

MEMBABAT HABIS ALASAN-ALASAN MELAKUKAN DEMONSTRASI

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/692488774233941:0

 

MEWASPADAI BERBAGAI DAMPAK BURUK DEMONSTRASI

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/692461127570039

 

FATWA ULAMA BESAR AHLUS SUNNAH TERKAIT DEMONSTRASI THD PENISTA AL-QUR’AN DI INDONESIA

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/691193887696763:0

 

DEMONSTRASI DAN MENCELA PEMERINTAH DI MEDIA MASSA BUKAN AJARAN ISLAM

http://sofyanruray.info/demonstrasi-dan-mencela-pemerintah…/

 

MENGENANG BUAH PAHIT DEMONSTRASI MENUNTUT REFORMASI 1998

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/691795030969982:0