Posts

,

RUGI JIKA TIDAK MENGUCAPKAN ZIKIR INI

RUGI JIKA TIDAK MENGUCAPKAN ZIKIR INI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

RUGI JIKA TIDAK MENGUCAPKAN ZIKIR INI

Rugi jika kita tidak mengucapkan zikir ini karena keutamaannya yang luar biasa. Pembahasannya dari Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi. [Hadis no. 1409].

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لأَنْ أَقُولَ : سُبْحَانَ اللهِ ؛ وَالحَمْدُ للهِ ؛ وَلاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ ، وَاللهُ أكْبَرُ ، أَحَبُّ إلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ

“Sungguh aku mengucapkan: ‘SUBHANALLAH WALHAMDU LILLAH WA LAA ILAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR

Artinya:

Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada Sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah dan Allah Maha Besar,’ itu lebih aku cintai daripada hari-hari ketika matahari terbit.” [HR. Muslim, no. 2695]

Penjelasan:

  • Subhanallah berarti menyucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak layak. Sedangkan Alhamdulillah berarti pujian bagi Allah dengan sifat-sifatnya yang sempurna.
  • Di antara bentuk zikir yang utama adalah mengucapkan: SUBHANALLAH WALHAMDU LILLAH WA LAA ILAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR.
  • Kesenangan dunia sebenarnya sedikit dan itu pun akan sirna.
  • Kesenangan Akhirat itu kekal abadi, tidak akan hilang dan tidak akan berganti.

 

Referensi:

Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:446.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/16242-rugi-jika-tidak-mengucapkan-zikir-ini.html

,

MAGRIB HARI AHAD BUKA PUASA DI JEPANG, NAIK PESAWAT SAMPAI DI AMERIKA AHAD SIANG?

MAGRIB HARI AHAD BUKA PUASA DI JEPANG, NAIK PESAWAT SAMPAI DI AMERIKA AHAD SIANG?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

#SifatPuasaNabi

MAGRIB HARI AHAD BUKA PUASA DI JEPANG, NAIK PESAWAT SAMPAI DI AMERIKA AHAD SIANG?

Ahad sebelum berangkat, di Jepang satu jam lagi akan berbuka. Sampai di Amerika ternyata sedang siang hari Ahad (hari yang sama), maka ia tetap melanjutkan puasa sampai matahari terbenam di Amerika, walaupun ia berpuasa jadi lebih lama.

Kaidahnya tetap mengikuti tempat ia tinggal (sampai) saat itu, begitu juga dengan kasus waktu sebaliknya (ia berpuasa jadi sangat sebentar waktunya)

Kasus seperti ini bisa saja terjadi dan termasuk kasus kontemporer. Berikut fatwa dari syaikh Muhammad bin shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, beliau ditanya:

لو قدر أن شخصاً سافر من اليابان في يوم الأحد من رمضان وذلك بعد أن أفطر المغرب ثم وصل أمريكا في نهار الأحد الذي كان قد صامه في اليابان. فهل يمسك عن الأكل، أم يستمر في أكله على اعتبار أنه قد صام هذا اليوم؟

Seandainya ada seseorang yang bersafar dari Jepang pada Ahad ketika puasa Ramadan. Ia berangkat setelah Magribnya berbuka. Kemudian ia sampai di Amerika pada siang hari Ahad, padahal ia sudah berpuasa hari Ahad di Jepang. Apakah ia harus menahan makan (berpuasa di Amerika) atau ia melanjutkan makan (tidak berpuasa) dengan anggapan ia sudah berpuasa pada hari ini (hari Ahad)?

لا يجب عليه الإمساك إذا وصل أمريكا، وذلك لأنه أتم صيامه بغروب الشمس فخرج من عهدة الواجب، فقد قال تعالى: {فَالنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذالِكَ يُبَيِّنُ اللهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذالِكَ يُبَيِّنُ اللهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ} وهذا أتم صيامه إلى الليل فصوم يومه تام فلا يكلف زيادة عليه، وقال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إذا أقبل الليل من ههنا يعني من المشرق وأدبر النهار من ههنا يعني من المغرب وغربت الشمس فقد أفطر الصائم» وهذا الذي في اليابان قد أفطر بنص الرسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فلا يكلف صيام يوم لم يجب عليه، وقد أبرأ ذمته منه. أما لو سافر قبل غروب الشمس إلى أمريكا من اليابان فإنه يكمل يومه حتى تغرب الشمس في أمريكا.

Tidak wajib baginya menahan makan minum (tidak wajib berpuasa), jika telah sampai di Amerika. Karena ia telah menyempurnakan puasanya dengan tenggelamnya matahari. Maka telah keluar dari kewajiban. Allah ta’ala berfirman:

“Maka sekarang campurilah mereka, dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”

Ia telah menyempurnakan puasanya pada hari Ahad sampai malam hari, maka puasanya telah sempurna, ia tidak dibebankan untuk menambah.

Nabi ﷺ bersabda:

“Jika tela datang malam dari sini, kemudian siang telah berlalu, dan matahari sudah tenggelam, maka (ini waktu) orang berpuasa berbuka.”

Orang ini dari Jepang telah berbuka dengan nash dari Rasulullah ﷺ, maka ia tidak dibebankan puasa yang tidak wajib baginya. Ia telah melepas bebannya (beban wajib puasa).

Adapun seandainya ia bersafar sebelum tenggelamnya matahari dari Jepang ke Amerika. Maka ia harus menyempurnakan puasanya sampai matahari tenggelam di Amerika.

[Majmu’ fatawa wa Rasa’il 19/326-327, Syamilah]

 

Penerjemah:  Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslimafiyah.com/magrib-hari-ahad-buka-puasa-di-jepang-naik-pesawat-sampai-di-amerika-ahad-siang.html

,

PANDUAN RINGKAS SHALAT SUNNAH RAWATIB

PANDUAN RINGKAS SHALAT SUNNAH RAWATIB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

PANDUAN RINGKAS SHALAT SUNNAH RAWATIB

Berikut ini adalah hadis-hadis yang menjelaskan jumlah shalat sunnah Rawatib beserta letak-letaknya:

  1. Dari Ummu Habibah istri Nabi ﷺ, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Tidaklah seorang Muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena Allah sebanyak dua belas rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Surga.” (HR. Muslim no. 728)

Dan dalam riwayat At-Tirmizi dan An-Nasai, ditafsirkan ke-12 rakaat tersebut. Beliau ﷺ bersabda:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Barang siapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di Surga, yaitu empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya` dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR. At-Tirmizi no. 379 dan An-Nasai no. 1772 dari AIsyah)

  1. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu dia berkata:

حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ

“Aku menghapal sesuatu dari Nabi ﷺ berupa shalat sunnat sepuluh rakaat, yaitu: dua rakaat sebelum shalat Zuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah shalat Maghrib di rumah beliau, dua rakaat sesudah shalat Isya’ di rumah beliau, dan dua rakaat sebelum shalat Subuh.” (HR. Al-Bukhari no. 937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no. 729)

Dalam sebuah riwayat keduanya: “Dua rakaat setelah Jumat.”

Dalam riwayat Muslim: “Adapun pada shalat Maghrib, Isya, dan Jumat, maka Nabi ﷺ mengerjakan shalat sunnahnya di rumah.”

  1. Dari Ibnu Umar dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

“Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat (sunnah) empat rakaat sebelum Ashar.” (HR. Abu Daud no. 1271 dan At-Tirmizi no. 430)

  1. Hadis Ummu Habibah yang berbunyi:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang menjaga empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat setelahnya, maka Allah mengharamkannya dari Neraka”. [HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat, no. 428; Ibnu Majah, kitab ash-Shalat, no. 428; Abu Dawud kitab ash-Shalat, Bab: al-Arba’ Qablal-Zhuhri wa Ba’daha, no. 1269; dan Ibnu Majah kitab ash-Shalat was-Sunnah fiha, Bab: Ma Ja`a fiman Shalla Qablal-Zhuhri Arba’an wa Ba’daha Arba’an, no. 1160. Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, 1/191]

  1. Hadis yang berbunyi:

أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ قَبْل الظُّهْرِ يَعْدَلْنَ بِصَلاَةِ السَّجَرِ

Empat rakaat sebelum Zuhur menyamai shalat as-Sahar (menjelang terbit fajar). [HR Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (2/15/2), dan dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Silsilah Ahadits ash-Shahihah no. 1431. Lihat Silsilah (3/416)]

Dengan demikian, siapa saja yang menunaikan seluruh shalat sunnah Rawatib Zuhur, baik empat rakaat sebelum Zuhur maupun empat rakaat sesudahnya, maka ia telah melaksanakan sunnah. Namun yang muakkad (yang ditekankan), ialah empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnya, sebagaimana telah dirajihkan oleh Ibnul-Qayyim rahimahullah dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin. [Lihat pembahasan Majalah As-Sunnah, Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M, Rubrik Fiqh, halaman 49-52]

Maka dari sini kita bisa mengetahui, bahwa shalat sunnah Rawatib adalah:

  1. Dua rakaat sebelum Subuh, dan sunnahnya dikerjakan di rumah
  2. Dua rakaat sebelum Zuhur, dan bisa juga empat rakaat
  3. Dua rakaat setelah Zuhur, dan bisa juga empat rakaat
  4. Empat rakaat sebelum Ashar
  5. Dua rakaat setelah Jumat
  6. Dua rakaat setelah Maghrib, dan sunnahnya dikerjakan di rumah
  7. Dua rakaat setelah Isya, dan sunnahnya dikerjakan di rumah

Apakah shalat Rawatib empat rakaat dikerjakan dengan sekali salam atau dua kali salam?

As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Sunnah Rawatib terdapat di dalamnya salam. Seseorang yang shalat rawatib empat rakaat, maka dengan dua salam, bukan satu salam, karena sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: “Shalat (sunnah) di waktu malam dan siang dikerjakan dua rakaat salam, dua rakaat salam”. (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Al-Utsaimin 14/288)

Lalu apa hukum shalat sunnah setelah Subuh, sebelum Jumat, setelah Ashar, sebelum Maghrib, dan sebelum Isya?

Jawab:

Adapun dua rakaat sebelum Maghrib dan sebelum Isya, maka dia tetap disunnahkan dengan dalil umum:

Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

“Di antara setiap dua azan (azan dan iqamah) itu ada shalat (sunnah).” Beliau ﷺ mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau ﷺ bersabda: “Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 588 dan Muslim no. 1384)

Adapun setelah Subuh dan Ashar, maka TIDAK ADA shalat sunnah Rawatib saat itu. Bahkan TERLARANG untuk shalat sunnah mutlak pada waktu itu, karena kedua waktu itu termasuk dari lima waktu terlarang.

Dari Ibnu ‘Abbas dia berkata:

شَهِدَ عِنْدِي رِجَالٌ مَرْضِيُّونَ وَأَرْضَاهُمْ عِنْدِي عُمَرُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَشْرُقَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ

“Orang-orang yang diridai memersaksikan kepadaku, dan di antara mereka yang paling aku ridai adalah ‘Umar, (mereka semua mengatakan) bahwa Nabi ﷺ melarang shalat setelah Subuh hingga matahari terbit, dan setelah ‘Ashar sampai matahari terbenam.” (HR. Al-Bukhari no. 547 dan Muslim no. 1367)

Adapun shalat sunnah sebelum Jumat, maka pendapat yang rajih adalah TIDAK DISUNNAHKAN.

Wallahu Ta’ala a’lam.

 

Sumber:

http://al-atsariyyah.com/pembahasan-lengkap-shalat-sunnah-Rawatib.html

https://almanhaj.or.id/3506-shalat-sunah-rawatib-zhuhur.html

 

 

Tautan kajian video:

Berapa Jumlah Bilangan Shalat Sunnah Rawatib? – Ustadz Dr. Khalid Basalamah, MA: https://youtu.be/-NFMKRMXFQU

Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib – Ustadz Khalid Basalamah: https://youtu.be/asFV38G-CwY

Sholat Rawatib – Ustadz Firanda Andirja, MA: https://youtu.be/OejZ41XFFuw

,

KAPAN MULAI DAN BERAKHIRNYA WAKTU SHOLAT DHUHA? KAPAN WAKTU PALING AFDHALNYA?

KAPAN MULAI DAN BERAKHIRNYA WAKTU SHOLAT DHUHA? KAPAN WAKTU PALING AFDHALNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#FatwaUlama

KAPAN MULAI DAN BERAKHIRNYA WAKTU SHOLAT DHUHA? KAPAN WAKTU PALING AFDHALNYA?

  • Cara Mudah Menentukan Batas Waktu Shalat Dhuha

Pertanyaan:

Alhamdulillah selama ini saya rutin menjalankan sholat Dhuha sebelum berangkat kerja. Setelah mandi pagi saya langsung wudhu dan segera menunaikan sholat Dhuha (sholat Dhuha yang saya laksanakan mulai dari jam 07.00 – 07.30), karena setelah jam tersebut saya harus segera berangkat ke kantor.

Suatu waktu saya dinasihati oleh seorang teman tentang waktu-waktu yang diharamkan untuk melaksanakan sholat, dan saya pun segera mencari info di internet. Ternyata dari info yang saya dapat “Jam 06.00 – 07.45 adalah WAKTU YANG DIHARAMKAN UNTUK SHOLAT”.

Yang ingin saya tanyakan:

Bagaimana dengan jadwal sholat Dhuha pada kalender Islam (kebanyakan), yang waktunya dimulai jam 06.18 ? Apakah sholat Dhuha tetap syah?

Bagaimana jika cuaca mendung ? Apa tidak masalah kita tetap sholat Dhuha sesuai jadwal sholat pada kalender? Mohon penjelasan segera lengkapnya

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Secara bahasa, “Dhuha” diambil dari kata Ad-Dhahwu [Arab: الضَّحْوُ] artinya siang hari yang mulai memanas. (Al-Ain, kata: ضحو). Allah berfirman:

وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَى

”Di Surga kamu tidak akan mengalami kehausan dan kepanasan karena sinar matahari” [QS. Thaha: 119].

Kaitannya dengan makna bahasa kata Dhuha pada ayat di atas, Allah menyebutkan kenikmatan ketika di Surga, salah satunya tidak kepanasan karena sinar matahari, yang itu diungkapkan dengan kata: [وَلَا تَضْحَى].

Sedangkan menurut ulama Ahli Fikih, Dhuha artinya:

ما بين ارتفاع الشمس إلى زوالها

”Waktu ketika matahari mulai meninggi sampai datangnya zawal (tergelincirnya matahari). [al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 27/221].

Waktu Mulainya Shalat Dhuha

Sebelumnya kita awali dengan hadis tentang waktu larangan shalat. Terdapat hadis yang menyebutkan waktu larangan untuk shalat. Dari Uqbah bin Amir radhiallahu anhu dia berkata:

ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيْهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيْهِنَّ مَوْتَانَا: حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِيْنَ يَقُوْمُ قَائِمُ الظَّهِيْرَةِ حَتَّى تَمِيْلَ الشَّمْسُ، وَحِيْنَ تَضَيَّف لِلْغُرُوْبِ حَتَّى تَغْرُبَ

“Ada tiga waktu di mana Nabi ﷺ melarang kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut, atau menguburkan jenazah kami:

[1] Ketika matahari terbit sampai tinggi,

[2] Ketika seseorang berdiri di tengah bayangannya sampai matahari tergelincir dan

[3] Ketika matahari miring hendak tenggelam, sampai benar-benar tenggelam.” [HR. Muslim no. 1926]

Pada hadis di atas, ada dua waktu yang mengapit waktu Dhuha:

[1] Ketika matahari terbit sampai tinggi

[2] Ketika seseorang berdiri di tengah bayangannya sampai matahari tergelincir

Ketika matahari sudah terbit, mulai kapan shalat Dhuha sudah boleh dilaksanakan? Apakah tepat setelah terbit, ataukah ditunggu sampai agak tinggi?

Ulama berbeda pendapat mengenai waktu mulainya shalat Dhuha. Sebagaian ulama Syafi’iyah berpendapat, bahwa waktu mulainya shalat Dhuha adalah tepat setelah terbitnya matahari. Namun dianjurkan untuk menundanya sampai matahari setinggi tombak. Pendapat ini diriwayatkan An Nawawi dalam kitab Ar-Raudhah.

Sebagian ulama Syafi’iyah lainnya berpendapat, bahwa shalat Dhuha dimulai ketika matahari sudah setinggi kurang lebih satu tombak. Pendapat ini ditegaskan oleh Ar Rofi’i dan Ibn Rif’ah.

Demikian yang menjadi pendapat Imam Abu Syuja’ dalam matan At-Taqrib, ketika beliau menjelaskan waktu-waktu yang terlarang untuk shalat. Hal yang sama juga menjadi pendapat Imam Al-Albani. Beliau ditanya tentang berapakah jarak satu tombak. Beliau menjawab: “Satu tombak adalah 2 meter menurut standar ukuran sekarang.” [Mausu’ah Fiqhiyah Muyassarah, 2/167]. Sebagian ulama’ menjelaskan, jika diukur dengan waktu, maka matahari pada posisi setinggi satu tombak kurang lebih 15 menit setelah terbit.

Waktu Akhir Shalat Dhuha

Batas akhir waktu shalat Dhuha adalah sebelum waktu larangan shalat, yaitu ketika bayangan tepat berada di atas benda, tidak condong ke Timur atau ke Barat. Untuk menentukan batas akhir waktu Dhuha, kita bisa perhatikan bayangan benda. Selama bayangan benda masih condong ke arah Barat, meskipun sedikit, berarti waktu Dhuha masih ada. Kemudian ketika bayangan benda lurus dengan bendanya, tidak condong ke Barat maupun ke Timur, waktu shalat Dhuha telah habis. Karena matahari persis berada di atas benda. Ada sebagian yang memberikan acuan, kurang lebih 15 menit sebelum masuk Zuhur.

Cara Mudah Menentukan Batas Waktu Shalat Dhuha

Saat ini banyak kalender yang dilengkapi jadwal shalat yang diterbitkan oleh Depag atau Tarjih Muhammadiyah, termasuk beberapa kampus Islam. Kita bisa perhatikan, waktu terbit matahari dan waktu Zuhur.

  • Batas Awal Waktu Dhuha: Waktu terbit matahari tambahkan 15 menit
  • Batas Akhir Waktu Dhuha: Waktu Zuhur kurangi 15 menit.

Waktu Dhuha Yang Paling Afdhal

Waktu yang paling utama untuk mengerjakan shalat Dhuha adalah ketika matahari sudah mulai panas (dekat dengan waktu berakhirnya Dhuha). Sebagaimana riwayat dari Al Qosim As Syaibani, bahwasanya Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu melihat beberapa orang melakukan shalat Dhuha, kemudian Zaid mengatakan: “Andaikan mereka tahu, bahwa shalat setelah waktu ini lebih utama. Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:

صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

”Shalat para Awwabin adalah ketika anak unta mulai kepanasan.” [HR. Muslim 748].

Awwabin artinya orang yang suka kembali pada aturan Allah.

Sebagian ulama mengatakan: “Shalat pada waktu ini dikaitkan dengan Awwabin, karena umumnya pada waktu tersebut, jiwa manusia condong untuk istirahat. Akan tetapi orang ini menggunakan waktu tersebut untuk melakukan ketaatan, dan menyibukkan diri dengan melakukan shalat. Meninggalkan keinginan hati menuju rida Penciptanya.” [Faidhul Qadir, 4/216]

Imam An-Nawawi mengatakan: Ulama madzhab kami (Syafi’iyah) mengatakan: “Waktu ketika matahari mulai panas adalah waktu yang paling utama untuk melaksanakan shalat Dhuha, meskipun dibolehkan shalat sejak terbit matahari, sampai menjelang tergelincirnya matahari. [Syarh Shahih Muslim, 6/30].

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits [Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com]

Sumber:  https://konsultasisyariah.com/21925-waktu-sholat-Dhuha.html

 

 

,

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH (QOBLIYAH)

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH (QOBLIYAH)

Shalat sunnah Qobliyah Subuh atau shalat sunnah Fajar yaitu dua rakaat sebelum pelaksanaan shalat Subuh, adalah di antara shalat Rawatib. Yang dimaksud shalat Rawatib adalah shalat sunnah yang dirutinkan sebelum atau sesudah shalat wajib. Shalat yang satu ini punya keutamaan yang besar, sampai-sampai ketika safar pun, Nabi ﷺ terus menerus menjaganya. Bahkan ada keutamaan besar lainnya yang akan kita temukan.

Dalam Shahih Muslim telah disebutkan mengenai keutamaan shalat ini dalam beberapa hadis. Juga dijelaskan anjuran menjaganya. Begitu pula diterangkan mengenai ringkasnya Nabi ﷺ dalam melakukan shalat tersebut.

Shalat Sunnah Fajar dengan Dua Rakaat Ringan

Dalil yang menunjukkan, bahwa shalat sunnah Qobliyah Subuh atau shalat Sunnah Fajar dilakukan dengan rakaat yang ringan, adalah hadis dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar yang berkata bahwa Ummul Mukminin Hafshoh pernah mengabarkan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الأَذَانِ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الصَّلاَةُ

“Rasulullah ﷺ dahulu diam antara azannya muadzin hingga shalat Subuh. Sebelum shalat Subuh dimulai, beliau dahului dengan dua rakaat ringan.” (HR. Bukhari no. 618 dan Muslim no. 723).

Dalam lafal lain juga menunjukkan, bahwa Nabi ﷺ melaksanakan shalat Sunnah Fajar dengan rakaat yang ringan. Dari Ibnu ‘Umar, dari Hafshoh, ia mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ لاَ يُصَلِّى إِلاَّ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

“Ketika terbit fajar Subuh, Rasulullah ﷺ tidaklah shalat, kecuali dengan dua rakaat yang ringan” (HR. Muslim no. 723).

‘Aisyah juga mengatakan hal yang sama:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ إِذَا سَمِعَ الأَذَانَ وَيُخَفِّفُهُمَا

“Rasulullah ﷺ setelah mendengar azan, beliau melaksanakan shalat sunnah dua rakaat ringan” (HR. Muslim no. 724).

Dalam lafal lainnya disebutkan, bahwa ‘Aisyah berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ فَيُخَفِّفُ حَتَّى إِنِّى أَقُولُ هَلْ قَرَأَ فِيهِمَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ

“Rasulullah ﷺ dahulu shalat sunnah Fajar (Qobliyah Subuh) dengan diperingan. Sampai aku mengatakan, apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Al Fatihah?” (HR. Muslim no. 724).

Imam Nawawi menerangkan, bahwa hadis di atas hanya kalimat hiperbolis, yaitu cuma menunjukkan ringannya shalat Nabi ﷺ, dibanding dengan kebiasaan beliau yang biasa memanjangkan shalat malam dan shalat sunnah lainnya. [Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 4].

Dan sekali lagi, namanya ringan, juga bukan berarti tidak membaca surat sama sekali. Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Sebagian ulama Salaf mengatakan, tidak mengapa jika shalat sunnah Fajar tersebut dipanjangkan dan menunjukkan tidak haramnya, serta jika diperlama tidak menyelisihi anjuran memeringan shalat sunnah Fajar. Namun sebagian orang mengatakan, bahwa itu berarti Nabi ﷺ tidak membaca surat apa pun ketika itu, sebagaimana diceritakan dari Ath Thohawi dan Al Qodhi ‘Iyadh. Ini jelas keliru. Karena dalam hadis Shahih telah disebutkan, bahwa ketika shalat sunnah Qobliyah Subuh, Rasulullah ﷺ membaca surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas, setelah membaca Al Fatihah. Begitu pula hadis Shahih menyebutkan, bahwa tidak ada shalat bagi yang tidak membaca surat atau tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Alquran, yaitu yang dimaksud adalah tidak sahnya.” [Syarh Shahih Muslim, 6: 3].

Rajin Menjaga Shalat Sunnah Qobliyah Subuh

Dan shalat sunnah Fajar inilah yang paling Nabi ﷺ jaga, dikatakan pula oleh ‘Aisyah:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- لَمْ يَكُنْ عَلَى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مُعَاهَدَةً مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ

“Nabi ﷺ tidaklah menjaga shalat sunnah, yang lebih daripada menjaga shalat sunnah dua rakaat sebelum Subuh”  (HR. Muslim no. 724).

Dalam lafal lain disebutkan bahwa ‘Aisyah berkata:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَسْرَعَ مِنْهُ إِلَى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Aku tidaklah pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengerjakan shalat sunnah yang lebih semangat, dibanding dengan shalat sunnah dua rakaat sebelum Fajar” (HR. Muslim no. 724).

Dalil anjuran bacaan ketika shalat sunnah Qobliyah Subuh dijelaskan dalam hadis berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَرَأَ فِى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ)

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ membaca ketika shalat sunnah Qobliyah Subuh, surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas” [HR. Muslim no. 726].

Keutamaannya: Lebih dari Dunia Seluruhnya

Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan shalat sunnah Qobliyah Subuh adalah hadis dari ‘Aisyah, di mana Nabi ﷺ bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat fajar (shalat sunnah Qobliyah Subuh), lebih baik daripada dunia dan seisinya.” [HR. Muslim no. 725]. Jika keutamaan shalat sunnah Fajar saja demikian adanya, bagaimana lagi dengan keutamaan shalat Subuh itu sendiri.

Dalam lafal lain: ‘Aisyah berkata, bahwa Nabi ﷺ berbicara mengenai dua rakaat ketika telah terbih fajar Subuh:

لَهُمَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا

“Dua rakaat shalat sunnah Fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya” [HR. Muslim no. 725].

Hadis terakhir di atas juga menunjukkan, bahwa shalat sunnah Fajar yang dimaksud adalah ketika telah terbit fajar Subuh. Karena sebagian orang keliru memahami shalat sunnah Fajar, dengan mereka maksudkan untuk dua rakaat ringan sebelum masuk fajar. Atau ada yang membedakan antara shalat sunnah Fajar dan shalat sunnah Qobliyah Subuh. Ini jelas KELIRU. Imam Nawawi mengatakan:

أَنَّ سُنَّة الصُّبْح لَا يَدْخُل وَقْتهَا إِلَّا بِطُلُوعِ الْفَجْر ، وَاسْتِحْبَاب تَقْدِيمهَا فِي أَوَّل طُلُوع الْفَجْر وَتَخْفِيفهَا ، وَهُوَ مَذْهَب مَالِك وَالشَّافِعِيّ وَالْجُمْهُور

“Shalat sunnah Subuh tidaklah dilakukan melainkan setelah terbit fajar Subuh. Dan dianjurkan shalat tersebut dilakukan di awal waktunya, dan dilakukan dengan diperingan. Demikian pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i  dan jumhur (baca: mayoritas) ulama.” [Syarh Shahih Muslim, 6: 3].

Hanya Allah-lah yang memberi taufik.

 

Sumber: https://rumaysho.com/3301-keutamaan-shalat-sunnah-sebelum-Subuh.html

 

, ,

MENGGENDONG BAYI SAAT MAGHRIB, ANTARA MITOS DAN FAKTA

MENGGENDONG BAYI SAAT MAGHRIB, ANTARA MITOS DAN FAKTA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#MuslimahSholihah

MENGGENDONG BAYI SAAT MAGHRIB, ANTARA MITOS DAN FAKTA

Memahami Sebab Akibat

Allah ﷻ menciptakan sebab dan akibat apapun yang ada di dunia ini. Setiap kejadian tidaklah tejadi, kecuali karena ada sebab, baik sebab yang terbukti secara Kauni/Qodari, ataupun sebab yang terbukti secara syari.

Pertama, sebab Kauni/Qodari adalah sebab yang Allah jadikan secara kodratnya memiliki hubungan sebab akibat. Sebab Qodari terkait dengan penciptaan, pertumbuhan dan seluruh komponen ciptaan-Nya. Contoh sebab Qodari:

  • Makan akan mengakibatkan kenyang.
  • Minum mengakibatkan hilang dahaga.
  • Nyala api dapat mengakibatkan terbakarnya sesuatu.
  • Air yang dimasukkan ke freezer dapat menyebabkan menjadi es/membeku.
  • Belajar mengakibatkan

Sebab akibat di atas secara empiris terbukti memiliki hubungan.

Kedua, sebab syari adalah sebab yang Allah ciptakan dengan bukti dalil syari.

Contoh:

  • Ruqyah, madu, habbatussauda’ menjadi sebab hilangnya penyakit.
  • Takwa dan silaturrahmi menjadi sebab Allah lapangkan rezeki seseorang.
  • Tawakkal kepada Allah, menjadi sebab Allah berikan jalan keluar dari kesulitan.
  • Membaca surat Al-Baqarah dapat mengusir setan dari rumah.

Sebab akibat di atas telah jelas ditunjukkan oleh dalil-dali shahih, sehingga sesuai dengan kenyataan.

Tidak Membiarkan Anak Keluar Rumah Saat Menjelang Malam

Di antara sebab yang Allah jadikan secara syari, terbukti melindungi anak dari gangguan setan, adalah tidak membiarkan anak keluar rumah saat sore menjelang malam.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا كان جنح الليل أو أمسيتم فكفوا صبيانكم؛ فإن الشياطين تنتشر حينئذ، فإذا ذهب ساعة من الليل فحلوهم، فأغلقوا الأبواب واذكروا اسم الله؛ فإن الشيطان لا يفتح باباً مغلقاً، وأوكوا قربكم واذكروا اسم الله، وخمروا آنيتكم واذكروا اسم الله، ولو أن تعرضوا عليها شيئاً، وأطفئوا مصابيحكم

“Jika malam telah tiba, atau sore menjelang malam, maka tahanlah anak-anak kalian (agar tidak keluar rumah), karena saat itu setan berhamburan. Jika waktu malam telah berlalu, maka lepaskanlah mereka. Tutuplah pintu dan sebutlah nama Allah (membaca Basmalah), karena sesungguhnya setan tidak akan dapat membuka pintu yang tertutup. Tutuplah bejana minum kalian, dan sebutlah nama Allah, meskipun hanya dengan meletakkan sesuau di atasnya dan matikanlah lampu-lampu kalian.” (HR. Bukhari No. 5623 dan Muslim No. 2012)

Dalam riwayat lain disebutkan:

Dari Jabir berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

لا ترسلوا فواشيكم وصبيانكم إذا غابت الشمس حتى تذهب فحمة العشاء؛ فإن الشياطين تنبعث إذا غابت الشمس حتى تذهب فحمة العشاء

“Janganlah kalian lepas binatang-binatang ternak kalian, dan anak-anak kalian, tatkala matahari tenggelam, sampai berlalu kegelapan awal malam (antara waktu Maghrib dan Isya’).” (HR. Bukhari 2380 dan Muslim 2013)

Dari kedua hadis di atas, dengan jelas menyebutkan, bahwa yang dimaksudkan ‘Menahan anak-anak’ dengan melarang dan tidak melepas mereka keluar rumah tatkala awal malam.

An-nawawi menjelaskan:

“Tahanlah anak-anak kalian” maksudnya laranglah mereka, agar tidak keluar rumah ketika itu.

“Karena setan sedang berkeliaran” maksudnya berbagai jenis setan berhamburan. Dikhawatirkan anak-anak akan mendapat gangguan setan di waktu itu, karena banyaknya setan yang keluar saat itu. (Syarhun Nawawi Ala Muslim, 13:185)

Apa Hikmah Larangan Ini?

Ibnu Hajar menjelaskan dengan menukil keterangan Ibnul Jauzi, beliau berkata: “Anak-anak ditahan (tidak keluar rumah) di waktu itu, karena najis yang disukai setan umumnya menempel pada tubuh mereka. Sementara zikir yang melindungi seseorang dari setan, dilalaikan anak-anak secara umum. Saat setan berhamburan, mereka akan bergelantungan di tempat apa saja yang dapat digantungi. Oleh karena itu, anak-anak ditahan di dalam rumah di waktu itu. Hikmah dibalik berhamburannya setan-setan di saat itu, bahwasanya waktu malam, waktu yang lebih mudah bagi setan untuk bergerak daripada waktu siang. Karena kegelapan mendukung kekuatan bagi setan, daripada kondisi lainnya. Begitu pula setiap yang hitam. Oleh karena itu sabda Nabi ﷺ dalam hadis Abu Dzar: “Apa yang dapat memutus shalat? Anjing hitam, karena dia adalah setan.” (HR. Muslim) (Fathul Bari, 6: 341-342)

Menggendong Bayi Saat Maghrib

Banyak orang tua berwasiat kepada putri-putrinya yang memiliki anak bayi, agar menggendongnya tatkala waktu Maghrib tiba. Tujuannya adalah agar si bayi tidak diganggu makhluk halus, genduruwo, kuntil anak (baca: setan) dll.

Angapan Ini Bisa Benar dan Bisa Juga Salah

Anggapan ini salah, bila seseorang meyakini, bahwa dengan menggendong, menjadi sebab si bayi selamat dari gangguan. Maka ini termasuk menjadikan sebab yang tidak terbukti, baik secara Kauni/Qodari ataupun secara Syari. Karena yang dimaksudkan dalam hadis “Menahan anak” adalah dengan melarang mereka, tidak melepas mereka keluar rumah; sehingga anak selamat dari gangguan setan yang sedang berkeliaran di luar rumah saat itu. Sementara menjadikan sesuatu menjadi sebab, padahal tidak terbukti secara Qodari maupun Syari, maka termasuk syirik kecil.

Karena itu para ulama membuat kaidah:

Barang siapa yang menetapkan sesuatu sebagai sebab, padahal Allah tidak menjadikannya sebagai sebab, tidak secara Syari maupun Qodari, maka berarti ia telah melakukan kesyirikan dengan jenis Syirik Kecil (Asghar).

Misalnya: Hanifa bayi umur tiga bulan, tidak suka rewel, baik budi dan tidak suka menangis. Setiap kali tenggelam matahari, si ibu bergegas menggendong Hanifa dengan keyakinan, agar Hanifa tidak diganggu setan. Padahal Hanifa tidak minta digendong, juga tidak menangis. Keyakinan seperti inilah yang bisa merusak akidah seseorang.

Namun anggapan ini menjadi benar, bila dengan menggendong menjadi salah satu cara orang tua untuk menahan, anak agar tidak keluar rumah.

Misalnya Ahmad, balita usia empat tahun yang sangat aktif. Sang ibu sudah menasihati, agar Ahmad tidak keluar rumah saat Maghrib, namun Ahmad tidak menggubris. Terpaksa si Ibu harus menggendong Ahmad, agar ia tidak membuka pintu, dan lari keluar rumah. Jika demikian kondisinya, maka tidak termasuk syirik kecil.

Ringkasnya, yang kita lakukan menjelang matahari tenggelam, agar terhindar dari gangguan setan adalah:

  1. Zikir petang hari dan mengingatkan anak agar berzikir sore hari.
  2. Bila anak belum mampu membaca doa sendiri, hendaknya orangtua mendoakannya. Silakan baca: Cara Melindungi Anak dari Setan: http://wanitasalihah.com/parenting-nabawi-1-cara-melindungi-anak-dari-gangguan-setan/
  3. Menahan anak agar tidak keluar rumah.
  4. Mengunci pintu, jendela dengan membaca Basmalah.
  5. Menutup panci, gelas dan tempat makanan lainnya.
  6. Mematikan api.

Sebagai penutup kami nasihatkan kepada diri kami, dan juga para ibu, agar lebih giat belajar agama dengan pemahaman yang benar. Belajar tentang akidah shahihah, karena dengannya kita dapat mengetahui mana tauhid yang wajib kita tunaikan, dan mana syirik yang harus kita jauhi.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima laa a’lam.

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu), sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui.”

 

Wallahua’lam bishshowab.

 

***

Penyusun: Ummu Fatimah Abdul Mu’ti

Sumber:

https://Muslim.or.id/26657 -hukum-sebab-4.html

http://www.almoslim.net/node/111371

https://islamqa.info/ar/179441

 

[Artikel wanitasalihah.com]

 

,

MALU ITU UMUR BERKURANG, TAPI AMAL TAK BERTAMBAH

MALU ITU UMUR BERKURANG, TAPI AMAL TAK BERTAMBAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

MALU ITU UMUR BERKURANG, TAPI AMAL TAK BERTAMBAH

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:

ﻣﺎ ﻧﺪﻣﺖ ﻋﻠﻰ ﺷﻲﺀ ﻧﺪﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﻳﻮﻡ ﻏﺮﺑﺖ ﴰﺴﻪ ﻧﻘﺺ ﻓﻴﻪ ﺃﺟﻠﻲ ﻭﱂ ﻳﺰﺩ ﻓﻴﻪ ﻋﻤﻠﻲ.

“Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang (usia bertambah), namun amalanku tidak bertambah.”

[Lihat Miftahul Afkar dan Mausu’ah khutab Al-Mimbar].

Alloohumma shollii wa sallim ‘alaa Nabiyyinaa Muhammadin.

, ,

ENAM SYARAT TAUBAT

ENAM SYARAT TAUBAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

ENAM SYARAT TAUBAT

Untuk mendapatkan ampunan atas dosa-dosa besar harus dengan bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla. Asy-Syaikhul ‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata:

قال جمهور أهل العلم: إن أداء الفرائض وترك الكبائر يكفر السيئات الصغائر، أما الكبائر فلا يكفرها إلا التوبة إلى الله سبحانه وتعالى

“Jumhur ulama berkata: Sesungguhnya mengamalkan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan dosa-dosa besar dapat menghapus dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar tidak dapat dihapus, kecuali dengan taubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” [Fatawa Nur ‘alad Darb, 6/64]

Dan taubat yang benar adalah dengan memenuhi enam syarat taubat:
1. Ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla.
2. Menyesali dosanya.
3. Meninggalkannya.
4. Bertekad tidak akan melakukannya lagi di masa yang akan datang.
5. Sebelum habis waktunya, yaitu sebelum datangnya kematian atau sebelum terbitnya matahari dari arah Barat.
6. Jika dosa itu adalah kesalahan kepada orang lain, maka harus meminta maaf atau mengembalikan haknya.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1919002844999184:0

KEUTAMAAN BERAMAL SALEH DAN MENJAUHI DOSA-DOSA BESAR

KEUTAMAAN BERAMAL SHALIH DAN MENJAUHI DOSA-DOSA BESAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

KEUTAMAAN BERAMAL SHALIH DAN MENJAUHI DOSA-DOSA BESAR

Rasulullah ﷺ bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

“Sholat yang lima waktu, sholat Jumat sampai Jumat berikutnya, dan puasa Ramadan sampai Ramadan berikutnya, adalah penghapus-penghapus dosa di antara waktu-waktu tersebut, selama dosa besar tidak dilakukan.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Hadis yang mulia ini menunjukkan keutamaan beramal saleh dan menjauhi dosa-dosa besar, yaitu mendapatkan ampunan atas dosa-dosa kecil.

Dan sungguh seorang hamba sangat membutuhkan ampunan Allah ‘azza wa jalla dari dosa-dosa besar maupun kecil. Karena dosa-dosa kecil sekali pun, jika terus dilakukan, maka akan menjadi besar dan membinasakan pelakunya.

Namun untuk mendapatkan ampunan atas dosa-dosa besar harus dengan bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla.

Asy-Syaikhul ‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata:

قال جمهور أهل العلم: إن أداء الفرائض وترك الكبائر يكفر السيئات الصغائر، أما الكبائر فلا يكفرها إلا التوبة إلى الله سبحانه وتعالى

“Jumhur ulama berkata: Sesungguhnya mengamalkan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan dosa-dosa besar dapat menghapus dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar tidak dapat dihapus kecuali dengan taubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” [Fatawa Nur ‘alad Darb, 6/64]

Dan taubat yang benar adalah dengan memenuhi enam syarat taubat:
1. Ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla.
2. Menyesali dosanya.
3. Meninggalkannya.
4. Bertekad tidak akan melakukannya lagi di masa yang akan datang.
5. Sebelum habis waktunya, yaitu sebelum datangnya kematian atau sebelum terbitnya matahari dari arah Barat.
6. Jika dosa itu adalah kesalahan kepada orang lain, maka harus meminta maaf atau mengembalikan haknya.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1919002844999184:0

,

APA ITU SHOLAT SUNNAH MUTLAK?

APA ITU SHOLAT SUNNAH MUTLAK?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

APA ITU  SHOLAT SUNNAH MUTLAK?

  • Macam-Macam Sholat Sunnah: Mutlak dan Muqayyad

Sholat sunnah itu ada dua macam:

Sholat Sunnah Mutlak (Sunnah Muthlaqah)

  1. Sholat Sunnah Mutlak yaitu semua sholat sunnah yang dilakukan TANPA terikat (terkait) dengan waktu, sebab tertentu, maupun jumlah rakaat tertentu. Sehingga sholat jenis ini boleh dilakukan kapan pun, di mana pun, dengan jumlah rakaat berapa pun, selama tidak dilakukan di waktu atau tempat yang terlarang untuk sholat (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 27:154). Sholat ini dilakukan dua rakaat tanpa ada batas maksimal jumlah rakaatnya dan dapat dilakukan di siang maupun malam hari.

Hukum Sholat Sunnah Mutlak adalah dianjurkan untuk banyak dilakukan di setiap waktu, siang maupun malam, selain waktu larangan untuk sholat. Waktu terlarang tersebut adalah:

a. Setelah menunaikan sholat Subuh sampai matahari terlihat naik setinggi satu atau dua tombak (kira-kira satu atau dua meter) dari permukaan tanah. Matahari mulai berposisi demikian kira-kira 15 menit setelah terbitnya.

b. Ketika matahari tepat berada di tengah langit (di atas kepala), sejenak sebelum masuk waktu Zuhur, hingga condong sedikit ke Barat. Posisi matahari tepat di atas kepala ini dapat diketahui dari tidak adanya bayangan dari sebuah benda yang berdiri tegak, bayangan lurus benda tersebut ke arah Utara atau lurus ke arah Selatan.

c. Setelah matahari berwarna kekuningan sampai terbenamnya.

  1. Sholat Sunnah Muqayyad (Sunnah Muqayyadah- Yang Terkait)

Sholat Sunnah Muqayyad adalah sholat sunnah yang dianjurkan, terkait dengan waktu tertentu atau keadaan tertentu, seperti sholat Dhuha (setelah matahari terlihat naik lebih dari dua tombak sampai sebelum posisi matahari tepat di tengah langit) atau sholat Witir (setelah menunaikan sholat ‘Isya’ sampai sebelum masuk waktu Subuh), atau . Termasuk dari jenis Sholat Sunnah Muqayyad ini adalah sholat sunnah yang terkait dengan sebab tertentu, seperti sholat Tahiyyatul Masjid saat masuk masjid –menurut pendapat yang mengatakan sunnah-, sholat dua rakaat setelah wudhu, sholat Gerhana –menurut yang berpendapat sunnah-, dan sholat sunnah Rawatib.

Faidah Menunaikan Sholat Sunnah

Sholat sunnah dan ibadah sunnah lainnya memiliki faidah besar, yaitu menutupi kekurangan yang ada pada sholat atau ibadah wajib.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda (artinya): “Sesungguhnya (amalan) yang pertama kali dihitung dari seorang Muslim pada Hari Kiamat adalah sholat Fardhu (Wajib). Apabila nilai sholat Fardhunya sempurna, maka sempurna pula balasannya. Namun apabila tidak sempurna, maka dikatakan: Lihatlah! Apakah orang ini memiliki perhitungan sholat sunnah? Apabila ia memiliki perhitungan sholat sunnah, maka kekurangan pada sholat wajibnya akan disempurnakan oleh sholat sunnahnya. Selanjutnya berlaku demikian pada seluruh amalan wajib lainnya.” [H.R Ibnu Majah. Lihat Abu Dawud, an Nasa’i, dan at-Tirmidzi. Hadis ini dishahihkan asy-Syaikh al-Albani].

Dengan demikian tidak sepantasnya kita meremehkan ibadah-ibadah sunnah, setelah dapat menunaikan ibadah-ibadah wajib. Terlebih, sangat besar kemungkinan – kalau tidak dikatakan mesti – ibadah wajib kita masih jauh dari nilai sempurna, baik secara lahir maupun batin.

Tingkat Keutamaan

Pada penjelasan sebelumnya, telah disebutkan bahwa sholat sunnah ada dua macam: Sholat Sunnah Mutlak dan sholat sunnah Muqayyad. Semua sholat sunnah ini tingkatannya berbeda-beda. Berikut rinciannya:

– Sholat sunnah Muqayyad lebih utama dibandingkan Sholat Sunnah Mutlak, meskipun sholat sunnah Muqayyad ini dilakukan di siang hari.

– Sholat Sunnah Mutlak yang dilakukan di malam hari, lebih utama dibandingkan Sholat Sunnah Mutlak yang dilakukan di siang hari.

Sebagai contoh, orang yang mengerjakan Sholat Sunnah Mutlak antara Maghrib dan Isya, lebih utama dibandingkan orang yang mengerjakan Sholat Sunnah Mutlak Antara Zuhur dan Ashar.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

أفْضَلُ الصَّلاةِ بَعْدَ الصَّلاةِ المَكْتُوبَةِ الصَّلاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ

“Sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat sunnah yang dikerjakan di malam hari.” (HR. Muslim)

– Sholat Sunnah Mutlak yang dikerjakan di sepertiga malam terakhir, lebih utama dibandingkan Sholat Sunnah Mutlak di awal malam, karena sepertiga malam terakhir adalah waktu mustajab untuk berdoa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Tuhan kita Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi, turun setiap malam ke langit dunia, ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir. Kemudian Dia berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan aku ampuni.” (HR. Muslim)

Demikian yang dikabarkan Rasulullah ﷺ yang wajib kita imani, sebagaimana yang beliau ﷺ sampaikan. Allah turun ke langit dunia, dengan cara yang sesuai kebesaran dan keagungannya, dan tidak boleh kita khayalkan.

– Sholat sunnah yang dilakukan di rumah, lebih utama dibandingkan sholat sunnah yang dikerjakan di masjid.

إِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا المَكْتُوبَةَ

“Sesungguhnya sholat yang paling utama adalah sholat yang dilakukan seseorang di rumahnya, kecuali sholat wajib.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tata Cara Sholat Sunnah Mutlak

Sholat Sunnah Mutlak tata caranya sama dengan sholat biasa. Tidak ada bacaan khusus, maupun doa khusus. Sama persis seperti sholat pada umumnya.

Untuk bilangan rakaatnya, bisa dikerjakan dua rakaat salam – dua rakaat salam. Bisa diulang-ulang dengan jumlah yang tidak terbatas. Rasulullah ﷺ bersabda (artinya): “Sholat malam dan siang hari itu (dilakukan) dua rakaat dua rakaat.” [H.R Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Dishahihkan asy-Syaikh al-Albani].

Untuk Sholat Sunnah Mutlak yang dikerjakan siang hari, bisa juga dikerjakan empat rakaat dengan salam sekali, tanpa duduk Tasyahud Awal.

Allahu a’lam

 

Sumber:

https://assunnahmadiun.wordpress.com/2012/06/06/shalat-sunnah-rawatib/

https://konsultasisyariah.com/16566-apa-itu-shalat-sunah-mutlak.html