Posts

,

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

Merupakan hal yang terlihat kurang lazim di masyarakat kita, apabila selesai shalat tidak berdoa. Bisa dimaklumi tentunya, mengingat inilah hal yang telah membudaya sejak lama di negeri kita. Tapi tak ada salahnya jika kita sedikit memelajari, bagaimana tinjauan agama dalam masalah ini, agar kita benar-benar berada di atas petunjuk yang nyata tentangnya.

Untuk itu, kami akan bawakan sebuah penjelasan dari asy-Syaikh al-‘Allaamah Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah mengenai hal ini. Kita simak bersama, apa yang beliau utarakan, beserta dalil-dalil yang beliau bawakan, agar dengan itu kiranya kita bisa dengan lapang dada dalam menjalankannya.

Dalam salah satu pertanyaan yang diajukan pada beliau disebutkan:

السؤال: بعض الناس في صلاة الفرض يرفعون أيديهم بعد الدعاء فما رأيكم؟

Pertanyaan:

Bagaimana pendapat Anda terkait amalan sebagian orang yang berdoa dengan mengangkat tangan setelah shalat wajib?

 

: الجواب

[الدعاء بعد الصلاة ليس بسنة, لأن الله تعالى قال: ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ﴾ [النساء:103

إلا في حالة واحدة وهي صلاة الاستخارة؛ لأن صلاة الاستخارة قال فيها النبي صلى الله عليه وسلم: « إذا هم أحدكم بأمر فليصل ركعتين ثم ليدعو» فجعل الدعاء بعد صلاة الركعتين. أما ما سواها من الصلوات فليس من السنة أن يدعو سواءً رفع يديه أم لم يرفع، وسواءً في الفريضة أو في النافلة؛ لأن الله أمر بذكره بعد انتهاء الصلاة

[فقال سبحانه وتعالى: ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ﴾ [النساء:103

[وقال في سورة الجمعة: فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ [الجمعة:10

:وإنما يقال للإنسان: إذا كنت تريد أن تسأل الله شيئاً فادعو الله قبل أن تسلم؛ لوجهين

الوجه الأول: أن هذا هو الذي أمر به الرسول صلى الله عليه وعلى آله وسلم، فقال في التشهد: إذا فرغ فليتخير من الدعاء ما شاء

ثانياً: أنك إذا كنت في الصلاة فإنك تناجي ربك، وإذا سلمت انتهت المناجاة. فهل الأفضل: أن تسأل الله في حال مناجاتك إياه، أو بعد انصرافك من المناجاة؟ الجواب: الأول. تدعو وأنت تناجي ربك

Jawaban:

“Berdoa setelah shalat bukan amalan sunnah. Karena Allah ﷻ berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّه

“Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), maka berzikirlah kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 103)

Kecuali pada satu jenis shalat, yaitu shalat istikharah. Terkait shalat istikharah Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

“Apabila salah seorang kalian telah bertekad terhadap suatu perkara, maka hendaknya dia shalat dua rakaat yang bukan shalat wajib, kemudian berdoa…”[HR. al-Bukhari, no. 1162]

Dalam hadis ini Nabi Muhammad ﷺ menetapkan, bahwa doa dilakukan setelah mengerjakan shalat dua rakaat. Adapun selain shalat istikharah, bukan termasuk sunnah, jika berdoa setelahnya, dengan mengangkat tangan ataupun tidak, shalat sunnah ataukah wajib. Karena Allah ﷻ memerintahkan kita untuk berzikir kepada-Nya setelah selesai shalat (bukan berdoa, pent). Dia berfirman dalam ayat-Nya:

(فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ)

“Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), maka berzikirlah kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 103)

Dan dalam surah al-Jumu’ah:

{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan berzikirlah pada Allah banyak-banyak, supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jumu’ah: 10)

Maka yang benar, kita katakan: “Apabila Anda ingin meminta sesuatu kepada Allah, maka berdoalah sebelum Anda salam, di waktu shalat. Ini berdasar pada dua alasan:

  • Alasan pertama, sesudah bacaan Tahiyyat sebelum salam merupakan waktu yang dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ untuk berdoa. Beliau ﷺ bersabda terkait Tasyahhud:

إذا فرغ فليتخير من الدعاء ما شاء

“Apabila dia telah selesai dari bacaan Tahiyyat, silakan dia berdoa sesuai dengan permohonan yang dia inginkan.” [HR. al-Jama’ah]

  • Alasan kedua, di saat Anda shalat, sesungguhnya Anda tengah bermunajat pada Allah. Dan jika sudah salam, maka berakhirlah waktu munajat Anda. Maka mana yang lebih utama:

(1) Anda berdoa saat masih bermunajat pada-Nya atau

(2) Saat Anda sudah tidak lagi bermunajat?

Tentu yang pertama jawabannya. Berdoa saat masih bermunajat pada Allah.”

[Liqaa Baab al-Maftuuh ma’a asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin no. 82]

Suara asli beliau dengan berbahasa Arab bisa didengarkan melalui link berikut:

 

 

Demikian penjelasan dari beliau rahimahullah.

Jadi kesimpulannya, bahwa berdoa setelah shalat bukan hal yang disunnahkan. Meski kita pun juga tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang haram. Silakan dia berdoa pada sebagian waktu saat, selesai shalat jika ingin. Namun apabila dilakukan terus menerus, maka ini pun bukan hal yang baik, karena itu berarti dia telah menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ. Sedang beliau ﷺ bersabda dalam hadisnya:

.وَ أَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad ﷺ.” [HR. al-Bukhari, no. 6098]

Walhamdulillaahi rabbil ‘aalaamin. Wallahu a’lam bish shawab.

 

Penulis: Pupus

Sumber: http://nasehatetam.com/read/206/habis-shalat-berdoa#sthash.i9JNcgYg.dpuf

,

POSISI SHAF LAKI-LAKI SEJAJAR DENGAN SHAF WANITA, BATAL SHALAT?

POSISI SHAF LAKI-LAKI SEJAJAR DENGAN SHAF WANITA, BATAL SHALAT?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

POSISI SHAF LAKI-LAKI SEJAJAR DENGAN SHAF WANITA, BATAL SHALAT?

Pertanyaan:

Musholla di tempat saya berukuran kecil, sehingga shaf makmum laki-laki dan wanita dibuat sejajar dan hanya dipisahkan oleh hijab. Bagaimana hukumnya?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا، وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik shaf (barisan di dalam shalat) bagi laki-laki adalah yang paling depan, dan yang paling buruk adalah yang terakhir. Dan sebaik-baik shaf bagi wanita adalah yang terakhir dan yang paling buruk adalah yang paling depan (HR. Muslim 132, Tirmidzi, no. 224, dan Ibnu Majah, no. 1000)

Hadis ini merupakan aturan ideal untuk posisi shaf lelaki dan wanita, bahwa yang lebih sesuai sunah, shaf wanita berada di belakang lelaki. Semakin jauh dari lelaki, semakin baik.

Jika shaf wanita sejajar dengan lelaki, apakah membatalkan shalat?

Berikut keterangan Syaikhul Islam:

وقوف المرأة خلف صف الرجال سنة مأمور بها، ولو وقفت في صف الرجال لكان ذلك مكروهاً، وهل تبطل صلاة من يحاذيها؟ فيه قولان للعلماء في مذهب أحمد وغيره:

”Posisi shaf wanita di belakang laki-laki adalah aturan yang diperintahkan. Sehingga ketika wanita ini berdiri di shaf lelaki (sesejar dengan lelaki) maka statusnya dibenci. Apakah shalat lelaki yang berada di sampingnya itu menjadi batal? Ada dua pendapat dalam Madzhab Hambali dan madzhab yang lainnya.”

Selanjutnya Syaikhul Islam menyebutkan perselisihan mereka:

أحدهما: تبطل، كقول أبي حنيفة وهو اختيار أبي بكر وأبي حفص من أصحاب أحمد. والثاني: لا تبطل، كقول مالك والشافعي، وهو قول ابن حامد والقاضي وغيرهما

Pendapat pertama, shalat lelaki yang di sampingnya batal. Ini pendapat Abu Hanifah , dan pendapat yang dipilih oleh Abu Bakr dan Abu Hafsh di kalangan ulama Hambali.

Pendapat kedua, shalatnya tidak batal. Ini pendapat Malik, as-Syafii, pendapat yang dipilih Abu Hamid, al-Qadhi dan yang lainnya. (al-Fatawa al-Kubro, 2/325).

Di antara ulama yang menilai bahwa ini batal, karena posisi semacam ini bisa memancing syahwat lelaki. As-Sarkhasi – ulama Hanafi – (w. 483 H) mengatakan:

بأن حال الصلاة حال المناجاة، فلا ينبغي أن يخطر بباله شيء من معاني الشهوة، ومحاذاة المرأة إياه لا تنفك عن ذلك عادة، فصار الأمر بتأخيرها من فرائض صلاته، فإذا ترك تفسد صلاته

Ketika shalat, manusia sedang bermunajat dengan Allah. Karena itu tidak selayaknya terlintas dalam batinnya pemicu syahwat. Sementara sejajar dengan wanita, umumnya tidak bisa lepas dari syahwat. Sehingga perintah untuk memosisikan wanita di belakang, termasuk kewajiban shalat. Dan jika ditinggalkan maka shalatnya batal. (al-Mabsuth, 2/30).

Hanya saja, semata alasan memicu syahwat, belum cukup untuk bisa membatalkan shalat. Karena semata muncul lintasan dalam diri orang yang shalat, tidaklah membatalkan shalat. Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Hukum Pikiran Kotor dalam Shalat: https://konsultasisyariah.com/20816-hukum-pikiran-kotor-ketika-shalat.html

Namun semacam ini semaksimal mungkin untuk dihindari, karena mengancam kekhusyuan shalat seseorang.Imam Ibnu Utsaimin mengatakan:

كون النساء يقمن صفاً أمام الرجال فإن هذا بلا شك خلاف السنة، لأن السنة أن يكون النساء متأخرات عن الرجال، لكن الضرورة أحياناً تحكم على الإنسان بما لا يريد، فإذا كان أمام المصلي صف من النساء، أو طائفة من النساء فإن الصلاة خلفهن إذا أمن الإنسان على نفسه الفتنة جائزة، ولهذا من عبارات الفقهاء قولهم: “صف تام من النساء لا يمنع اقتداء من خلفهن من الرجال”

Posisi wanita yang berada di depan lelaki, semacam ini kita yakini bertentangan dengan sunah. Karena yang sesuai sunah, wanita di belakang lelaki. Namun kondisi darurat memaksa seseornag untuk melakukan di luar keinginannya. Karena itu, jika di depan lelaki ada shaf wanita, atau beberapa wanita, maka status shalat orang yang berada di belakang mereka hukumnya boleh, jika aman dari munculnya fitnah dalam dirinya. Di antara ungkapan ulama fikih dalam masalah ini:

صف تام من النساء لا يمنع اقتداء من خلفهن من الرجال

Shaf wanita di depan lelaki, tidaklah menghalangi lelaki di belakangnya untuk menjadi makmum (dalam shalat jamaah).

Mengingat alasan munculnya syahwat ini, beliau melarang seseorang lelaki untuk berdiri tepat di samping wanita.

وأما مصافة الرجال للنساء فهذه فتنة عظيمة، ولا يجوز للرجل أن يصف إلى جنب المرأة، فإذا وجد الإنسان امرأة ليس له مكان إلا بجانبها فينصرف ولا يقف جنبها، لأن هذا فيه فتنة عظيمة

Untuk lelaki yang satu shaf dengan wanita, ini bisa menimbulkan fitnah besar. Dan tidak boleh seorang lelaki mengambil posisi di samping wanita. Jika seorang lelaki tidak mendapatkan tempat, kecuali harus di samping wanita persis, hendaknya dia pindah dan tidak berdiri di sampingnya persis. Karena semacam ini menjadi sumber firnah besar.

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, volume 15, Bab. Shalat Berjamaah)

Berdasarkan penjelasan di atas, bisa kita simpulkan:

  • Posisi shaf lelaki yang berada di samping atau bahkan di belakang lelaki, tidaklah membatalkan shalat, menurut pendapat yang kuat.
  • Jika posisi shaf lelaki di dekat wanita bisa menimbulkan syahwat, maka dia dia harus menghindar dan mencari tempat yang lain. Karena bisa menjadi sumber fitnah.
  • Jika posisi lelaki di samping atau belakang wanita tidak sampai menimbulkan syahwat karena alasan darurat, hukumnya boleh dan tidak memengaruhi keabsahan shalat.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

Sumber:  https://konsultasisyariah.com/21355-shaf-laki-laki-sejajar-dengan-shaf-wanita-batal-shalat.html

, , ,

WANITA SHALAT BERJAMAAH DI RUMAH, APAKAH DAPAT PAHALA SHALAT JAMAAH?

WANITA SHALAT BERJAMAAH DI RUMAH, APAKAH DAPAT PAHALA SHALAT JAMAAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  

#SifatSholatNabi
#MuslimahSholihah
#FatwaUlama

WANITA SHALAT BERJAMAAH DI RUMAH, APAKAH DAPAT PAHALA SHALAT JAMAAH?

>> Fatwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah

Hal ini pernah diajukan pada asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah, berikut pertanyaan dan jawaban beliau terhadapnya:

س: نحن أكثر من ست نساء نعيش في بيت واحد وتمر علينا أوقات الصلاة المفروضة ونصلي فرادى، وأتانا بعض الأقارب ونصحنا بإقامة الصلاة جماعة، وبين لنا أننا بذلك ندرك فضل الجماعة، فهل هذا صحيح؟

Pertanyaan:
Kami para wanita yang berjumlah lebih dari enam orang dan tinggal di satu rumah. Tiap kali waktu shalat masuk, kami mengerjakannya sendiri-sendiri, hingga ada sebagian kerabat yang datang berkunjung menasihati kami agar melaksanakan shalat secara berjamaah. Dan ia menjelaskan, bahwa kami pun akan mendapatkan keutamaan shalat berjamaah. Apakah ini benar?

الجواب: النساء ليس عليهن جماعة، ولكن إذا صلين جماعة فلا بأس، وإن صلت كل واحدة وحدها فلا بأس، وإذا صلين جماعة فنرجو لهن فضل الجماعة ولا سيما إذا تيسر طالبة علم تأمهن وترشدهن؛ ولأن في اجتماعهن على الصلاة تعاونا على البر والتقوى، وإمامتهن تقف وسطهن في الصف الأول وتجهر بالقراءة في الصلاة الجهرية كالرجال

Jawaban:
  • “Para wanita tidak memiliki keharusan untuk shalat berjamaah. Namun apabila mereka melaksanakan shalat secara berjamaah, maka hukumnya boleh. Tapi kalau mereka ingin shalat masing-masing, maka ini pun tidak menjadi masalah.
  • Dan apabila mereka kerjakan secara berjamaah, kami berharap mereka juga mendapatkan keutamaannya. Terlebih apabila di tengah-tengah mereka ada wanita yang terpelajar dalam agama yang menjadi imam, dan memberikan bimbingan pada mereka. Juga karena berkumpulnya para wanita untuk shalat berjamaah merupakan bagian dari ta’awun pada perkara yang sifatnya kebajikan dan ketakwaan.
  • Wanita yang menjadi imam berposisi di tengah-tengah shaf wanita, serta (disyariatkan) mengeraskan bacaannya, pada shalat-shalat jahriyah sebagaimana kaum lelaki.” [Fataawa Ibn Baaz, XII/76]

Ini hal yang membicarakan tentang fadhl (keutamaan). Lalu apakah shalat berjamaah sesama wanita memang hal yang sunnah dan dianjurkan oleh agama? Atau bagaimana? Pertanyaan ini telah dijawab oleh Faqiihul ‘Ashr asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah:

الجواب: يجوز للنساء أن يصلين جماعة. ولكن هل هذا سنة في حقهن، أو مباح؟ بعض العلماء يقول: إنه سنة، وبعض العلماء يقول:إنه مباح.

والأقرب أنه مباح؛ لأن السنة ليست صريحة في ذلك، فإن أقمن الصلاة جماعة فلا بأس، وإذا لم يقمن الصلاة جماعة فهن لسن من أهل الجماعة. مجموع فتاوى ابن عثيمين (15/147)

Jawaban:
  • “Para wanita boleh melaksanakan shalat secara berjamaah. Tapi apakah hukum shalat berjamaah sunnah bagi mereka? Atau hukumnya sebatas boleh saja? Sebagian ulama berpendapat: “Wanita shalat berjamaah hukumnya sunnah.” Sebagian ulama lain berpandangan bahwa hukumnya: “Mubah (boleh)”.
  • Pendapat yang paling dekat dengan kebenaran, bahwa hukumnya sebatas Mubah. Karena hadis yang membicarakan masalah ini tidak menegaskan akan masuknya wanita dalam keutamaan shalat jamaah. Sehingga apabila mereka ingin shalat berjamaah, maka silakan. Dan kalau mereka tidak berjamaah, maka mereka memang bukan pihak yang harus berjamaah.” [Fataawa al-‘Utsaimin, XV/147]

Dari dua fatwa ulama di atas, kita bisa dapatkan empat kesimpulan hukum yang penting dalam masalah ini:

  1. Apabila sesama wanita shalat berjamaah, maka diharapkan mereka juga mendapatkan pahala shalat berjamaah, sebagaimana yang didapat oleh kaum lelaki yang berjamaah di masjid.
  2. Wanita yang menjadi imam posisinya di tengah shaf dan sejajar dengan jamaahnya.
  3. Disyariatkan bagi wanita yang menjadi imam untuk mengeraskan bacaan pada shalat jahriyah (Subuh, Maghrib, dan Isya).
  4. Hukum wanita shalat berjamaah ialah Mubah, yang artinya tidak dianjurkan dan tidak pula dilarang.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

Penulis: Ustadz Pupus

Sumber: http://nasehatetam.com/read/124/wanita-shalat-berjamaah-di-rumah-apakah-dapat-pahala-shalat-jamaah#sthash.1KH2CJ6o.dpuf

,

APAKAH JENAZAH LEBIH BAIK DISHALATKAN DI RUMAH ATAU DI MASJID?

APAKAH JENAZAH LEBIH BAIK DISHALATKAN DI RUMAH ATAU DI MASJID?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AhkamulJanaiz
#PengurusanJenazah

APAKAH JENAZAH LEBIH BAIK DISHALATKAN DI RUMAH ATAU DI MASJID?

Pertanyaan:
Apakah jenazah lebih baik dishalatkan di rumah atau di masjid?

Jawaban:
Di zaman Nabi ﷺ terdapat tempat khusus untuk shalat jenazah. Tempat ini berada di luar Masjid Nabawi. Dan umumnya jenazah para sahabat dishalatkan di tempat itu. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah:

Pertama, kisah rajam untuk dua orang Yahudi yang berzina. Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan:

أن اليهود جاؤوا إلى النبي صلى الله عليه وسلم برجل منهم وامرأة زنيا فأمر بهما فرجما قريبا من موضع الجنائز عند المسجد

“Bahwa orang-orang Yahudi mendatangi Nabi ﷺ dengan membawa seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berzina. Kemudian Nabi ﷺ memerintahkan agar keduanya dirajam di dekat tempat shalat jenazah di samping masjid.” (HR. Bukhari, 3:155)

Kedua, keterangan dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, bahwa ada seorang yang meninggal. Setelah dikafani, dia diletakkan di lokasi yang biasa digunakan untuk shalat jenazah, di dekat tempat datangnya Jibril. (HR. Hakim dan dishahihkan Al-Albani)

Ketiga, keterangan dari Muhammad bin Abdillah bin Jahsy radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

كنا جلوس بفناء المسجد حيث توضع الجنائز ورسول الله صلى الله عليه وسلم جالس بين ظهرانينا

“Kami duduk di teras masjid, di tempat yang sering digunakan untuk shalat jenazah. Sementara Nabi ﷺ duduk di tengah-tengah kami.” (HR. Ahmad, Hakim, dan dihasankan Al-Albani)

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan:

إن مصلى الجنائز كان لاصقا بمسجد النبي صلى الله عليه وسلم من ناحية جهة المشرق

“Sesungguhnya tempat shalat jenazah menempel dengan Masjid Nabawi, di sebelah Timur.” (Fathul Bari, 3:199)

Beliau juga mengatakan:

المكان الذي كان يصلى عنده العيد والجنائز وهو من ناحية بقيع الغرقد

“Tempat yang digunakan untuk shalat ‘Ied dan shalat jenazah berada di arah Makam Baqi’.” (Fathul Bari, 12:129)

Meskipun demikian, dibolehkan untuk melaksanakan shalat jenazah di masjid. Berdasarkan riwayat dari A’isyah radhiallahu ‘anha, bahwa ketika Sa’d bin Abi Waqqas meninggal, mereka berpesan agar jenazahnya dibawa ke masjid, sehingga mereka bisa menyalatkannya. Para sahabat pun melakukannya. Kemudian mereka menyalati jenazah Sa’d di dalam masjid. Setelah itu, A’isyah mendengar ada beberapa orang yang mencela sikap beliau. Mereka mengatakan itu perbuatan bid’ah, belum pernah jenazah dishalati di dalam masjid. A’isyah memberi komentar:

ما أسرع الناس إلى أن يعيبوا ما لا علم لهم به عابوا علينا أن يمر بجنازة في المسجد والله ما صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم على سهيل بن بيضاء وأخيه إلا في جوف المسجد

“Betapa terburu-burunya manusia untuk mencela apa yang tidak mereka ketahui tentang memasukkan jenazah ke dalam masjid. Demi Allah, tidaklah Rasulullah ﷺ menyalati Suhail bin Baidha’ dan saudaranya, kecuali di dalam masjid.” (HR. Muslim, 3:63)

Juga dibolehkan untuk menyalati jenazah di rumah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abu Thalhah radhiallahu ‘anhu, bahwa ketika putranya Abu Umar meninggal dunia, beliau mengundang Nabi ﷺ untuk menyalatkannya. Kemudian Nabi ﷺ datang dan menyalatinya di rumah Abu Thalhah. (HR. Hakim, 1:365, Baihaqi, 4:30 dan 31. Al-Albani menyatakan, “Hadis itu shahih berdasarkan Syarat Muslim).

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/9989-tempat-shalat-jenazah.html

ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?

ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?

Allah ta’ala berfirman tentang godaan wanita:

إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya tipu daya (godaan) kalian wahai para wanita, begitu besar.” [Yusuf: 28]

Allah ta’ala berfirman tentang godaan setan:

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sesungguhnya tipu daya (godaan) setan itu lemah.” [An-Nisa: 76]

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata:

هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ إِذَا ضُمَّتْ لَهَا آيَةٌ أُخْرَى حَصَلَ بِذَلِكَ بَيَانُ أَنَّ كَيْدَ النِّسَاءِ أَعْظَمُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ

“Ayat yang mulia ini (An-Nisa: 76), apabila dipadukan dengan ayat yang lain (Yusuf: 28), maka hasilnya adalah penjelasan, bahwa tipu daya (godaan) wanita lebih dahsyat dibanding tipu daya (godaan) setan.” [Adhwaul Bayan, 2/217]

As-Si’di rahimahullah berkata:

والكيد: سلوك الطرق الخفية في ضرر العدو، فالشيطان وإن بلغ مَكْرُهُ مهما بلغ فإنه في غاية الضعف

“Tipu daya yang dimaksudkan di sini adalah menempuh cara-cara yang samar dalam membahayakan musuh. Maka setan, meskipun tipu dayanya telah sedemikian rupa, akan tetapi ia sangat lemah.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 187]

Rasulullah ﷺ juga telah mengingatkan:

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِى نَفْسِهِ

“Sesungguhnya wanita itu datang dalam rupa setan, dan pergi dalam rupa setan. Maka apabila seorang dari kalian melihat wanita, hendaklah ia mendatangi istrinya, karena dengan begitu akan menentramkan gejolak syahwat di jiwanya.” [HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu’anhu]

An-Nawawi rahimahullah berkata:

“Ulama berkata: Makna hadis ini adalah peringatan bahaya hawa nafsu, dan bahaya ajakan kepada fitnah (godaan) wanita, karena Allah telah menjadikan di hati kaum lelaki adanya kecenderungan terhadap para wanita, dan merasa nikmat ketika memandang mereka, dan apa yang terkait keindahan dengan mereka. Maka wanita menyerupai setan dari sisi ajakannya kepada kejelekan, dengan bisikannya dan tipuannya.

Dan dapat diambil kesimpulan hukum dari hadis ini, bahwa tidak boleh bagi wanita untuk keluar di antara kaum lelaki, kecuali karena satu alasan darurat (sangat mendesak). Dan hendaklah kaum lelaki menundukkan pandangan, tidak boleh melihat pakaiannya, dan hendaklah berpaling darinya secara mutlak.” [Syarhu Muslim, 9/178]

Maka sungguh dahsyat godaan wanita, walaupun setan sudah mengerahkan segenap “potensi” yang ada pada dirinya untuk menyesatkan anak Adam. Namun ternyata godaannya tidak bisa sejajar, apalagi melebihi godaan wanita. Akan tetapi sayang seribu sayang, ternyata setan pun bisa memanfaatkan wanita sebagai kaki tangannya untuk menjerumuskan kaum lelaki dalam dosa, entah sang wanita sadar atau tidak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَإِنَّهَا أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى اللَّهِ وَهِيَ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

“Wanita adalah aurat. Apabila ia keluar dari rumahnya, maka setan akan menghiasinya. Dan sesungguhnya seorang wanita lebih dekat kepada Allah ta’ala ketika ia berada di dalam rumahnya.” [HR. At-Tirmidzi dan Ath-Thabarani, dan lafal ini milik beliau, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 2688]

Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata:

أَيْ زَيَّنَهَا فِي نَظَرِ الرِّجَالِ وَقِيلَ أَيْ نَظَرَ إِلَيْهَا لِيُغْوِيَهَا وَيُغْوِيَ بِهَا

“Maknanya adalah, setan menghiasi wanita di mata laki-laki. Juga dikatakan maknanya adalah setan melihat wanita tersebut untuk menyesatkannya, dan menyesatkan laki-laki dengannya.” [Tuhfatul Ahwadzi, 4/283]

 

Sumber:

👠 ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?➡ Allah ta’ala berfirman tentang godaan wanita,إِنّ…

Dikirim oleh Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info pada 25 Maret 2017

 

 

 

 

,

TINGKATAN MANUSIA DALAM SHOLAT

TINGKATAN MANUSIA DALAM SHOLAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

TINGKATAN MANUSIA DALAM SHOLAT

Berkata Al Imam Ibnul Qayyim rohimahullah ta’ala:

Ada lima tingkatan manusia dalam mengerjakan sholat:

  1. Tingkatan orang yang zalim kepada dirinya dan teledor, yaitu, orang yang kurang sempurna dalam wudhunya, waktu sholatnya, batas-batasnya dan rukun-rukunnya.
  2. Orang yang bisa menjaga waktu-waktunya, batas-batasnya, rukun-rukunnya yang sifatnya lahiriyah, dan juga wudhunya, tetapi tidak berupaya keras untuk menghilangkan bisikan jahat dari dalam dirinya.
    Maka dia pun terbang bersama bisikan jahat dan pikirannya.
  3. Orang yang bisa menjaga batas-batasnya dan rukun-rukunnya. Ia berupaya keras untuk mengusir bisikan jahat dan pikiran lain dari dalam dirinya, sehingga dia terus-menerus sibuk berjuang melawan musuhnya, agar jangan sampai berhasil mencuri sholatnya. Maka, dia sedang berada di dalam sholat, sekaligus jihad.
  4. Orang yang melaksanakan sholat dengan menyempurnakan hak-haknya, rukun-rukunnya, dan batas-batasnya. Hatinya larut dalam upaya memelihara batas-batas dan hak-haknya, agar dia tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya. Bahkan seluruh perhatiannya tercurah untuk melaksanakannya sebagaimana mestinya, dengan cara yang sesempurna dan selengkap mungkin. Jadi, hatinya dipenuhi oleh urusan sholat dan penyembahan kepada Robbnya tabaaroka wa ta’ala.
  5. Orang yang melaksanakan sholat dengan sempurna. Dia mengambil hatinya dan meletakkannya di hadapan Robbnya Azza wa Jalla.
    Dia memandang dan memerhatikan-Nya dengan hatinya yang dipenuhi rasa cinta dan hormat kepada-Nya.
    Seolah-olah ia melihat-Nya dan menyaksikan-Nya secara langsung.
    Bisikan dan pikiran jahat tersebut telah melemah. Hijab antara dia dengan Robbnya telah diangkat. Jarak antara sholat orang semacam ini dengan sholat orang yang lainnya, lebih tinggi dan lebih besar daripada jarak antara langit dan bumi. Di dalam sholatnya, dia sibuk dengan Robbnya. Dia merasa tenteram lewat sholat.
  • Kelompok pertama akan disiksa.
  • Kelompok kedua akan diperhitungkan amalnya.
  • Kelompok ketiga akan dihapus dosanya.
  • Kelompok keempat akan diberi balasan pahala.
  • Dan kelompok kelima akan mendapat tempat yang dekat dengan Robbnya, kerana dia menjadi bagian dari orang yang ketenteraman hatinya ada di dalam sholat.

Barang siapa yang tenteram hatinya dengan sholat di dunia, maka hatinya akan tenteram dengan kedekatannya kepada Robbnya di Akhirat, dan akan tenteram pula hatinya di dunia.

Barang siapa yang hatinya merasa tenteram dengan Allah ta’ala, maka semua orang akan merasa tenteram dengannya.

Dan barang siapa yang hatinya tidak bisa merasa tenteram dengan Allah ta’ala , maka jiwanya akan terpotong-potong karena penyesalan terhadap dunia.

[Al-Wabilush Shayyib karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, hal 25-29]

Maka nilailah diri kita sekarang.
Di manakah posisi kita dari tingkatan orang yang sholat?
Barang siapa yang berada di posisi yang terbaik, hendaknya ia memuji Allah.
Namun bila tidak, segeralah perbaiki diri, karena amalan sholat adalah termasuk penentu posisi kita di Akhirat kelak.

 

Penulis: Abu Sufyan Al Musy Ghofarohullah

CIRI-CIRI MANI WANITA

CIRI-CIRI MANI WANITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

CIRI-CIRI MANI WANITA

Banyak wanita yang tidak menyadari dirinya memiliki cairan mani layaknya pria. Berikut ini sejumlah hadis yang menyebutkan tentang keberadaan mani perempuan:

  1. Dari Tsauban, budak Nabi ﷺ beliau berkata:

كُنْتُ قَائِمًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ حِبْرٌ مِنْ أَحْبَارِ الْيَهُودِ … قَالَ : جِئْتُ أَسْأَلُكَ عَنْ الْوَلَدِ ، قَالَ : ( مَاءُ الرَّجُلِ أَبْيَضُ ، وَمَاءُ الْمَرْأَةِ أَصْفَرُ ، فَإِذَا اجْتَمَعَا فَعَلَا مَنِيُّ الرَّجُلِ مَنِيَّ الْمَرْأَةِ أَذْكَرَا بِإِذْنِ اللَّهِ ، وَإِذَا عَلَا مَنِيُّ الْمَرْأَةِ مَنِيَّ الرَّجُلِ آنَثَا بِإِذْنِ اللَّهِ) قَالَ الْيَهُودِيُّ : لَقَدْ صَدَقْتَ

“Suatu ketika aku berdiri di sisi Rasulullah ﷺ, kemudian datanglah seorang pendeta Yahudi, lalu ia pun berkata:

‘Aku datang untuk bertanya kepada Anda tentang anak.’

Jawab Nabi ﷺ:

‘Mani laki-laki berwarna putih, mani perempuan berwarna kuning. Jika keduanya berkumpul, lalu mani laki-laki mengalahkan mani perempuan, maka anak yang akan lahir adalah laki-laki, dengan ijin Allah. Namun jika mani perempuan mengalahkan mani laki-laki, maka yang akan lahir adalah anak perempuan dengan ijin Allah.’

Lantas pendeta Yahudi tadi berkata: ‘Anda benar.’” (HR. Muslim no. 315)

  1. Dari Ummu Sulaim bahwasanya beliau mendatangi Nabi ﷺ dan bertanya:

يا رسول الله ، إن الله لا يستحي من الحق ، هل على المرأة من غسل إذا هي احتلمت ؟ قال : نعم ؛ إذا رأت الماء .

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu tentang kebenaran. Apakah wanita wajib mandi jika mimpi basah? Beliau ﷺ lantas menjawab: “Ya, jika ia melihat air mani.” (HR. Bukhari no. 282)

Dalam riwayat lain disebutkan:

Bahwasanya Ummu Sulaim bertanya kepada Nabiyullah ﷺ tentang wanita yang bermimpi seperti halnya mimpinya laki-laki (mimpi basah-pen). Maka Rasulullah ﷺ menjawab:

إِذَا رَأَتْ ذَلِكِ الْمَرْأَةُ فَلْتَغْتَسِلْ فَقَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ – وَاسْتَحْيَيْتُ مِنْ ذَلِكَ – قَالَتْ : وَهَلْ يَكُونُ هَذَا ؟ فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (نَعَمْ ، فَمِنْ أَيْنَ يَكُونُ الشَّبَهُ ، إِنَّ مَاءَ الرَّجُلِ غَلِيظٌ أَبْيَضُ ، وَمَاءَ الْمَرْأَةِ رَقِيقٌ أَصْفَرُ ، فَمِنْ أَيِّهِمَا عَلَا أَوْ سَبَقَ يَكُونُ مِنْهُ الشَّبَهُ

“Jika wanita tersebut mimpi basah, hendaknya ia mandi.”

Ummu Sulaim berkata (kepada perowi): “Sebenarnya aku malu menanyakan hal ini.”

Ia kembali bertanya: “Mungkinkah hal itu terjadi (pada wanita)?”

Jawab Nabi ﷺ: “Ya. (jika tidak), dari mana penyerupaan anak bisa mirip orangtuanya. Sesungguhnya air mani laki-laki itu kental putih. Sementara air mani perempuan itu encer kuning. Manakah di antara keduanya yang mengalahkan atau mendahului dari yang lain, darinyalah akan terjadi penyerupaan (terhadap anaknya).” (HR. Muslim no.311)

Hadis di atas secara jelas menyebutkan, bahwa wanita itu memiliki mani. Bahkan wanita bisa mengalami mimpi basah seperti halnya laki-laki.

An-Nawawi berkata dalam Syarh Shahih Muslim:

وأما مني المرأة فهو أصفر رقيق وقد يَبْيضّ لفَضْل قُوَّتها ، وله خاصيتان يعرف بواحدة منهما أحدهما أن رائحته كرائحة مني الرجل والثانية التلذذ بخروجه وفتور قوتها عقب خروجه

“Mani perempuan berwarna kuning encer dan terkadang menjadi putih karena sebab bertambah kekuatan (syahwat) wanita tersebut. Mani wanita memiliki dua ciri khas yang diketahui dengan salah satu dari keduanya:

Pertama: Baunya seperti bau mani laki-laki.

Kedua: Terasa nikmat saat keluar dan setelah keluar terasa lemas syahwatnya.” (Al-Majmu’, 3:222)

Bila ada cairan yang keluar dari kemaluan wanita dengan salah satu ciri di atas, maka sudah bisa dikatakan bahwa itu adalah mani.

An-Nawawi menegaskan: “Tidak disyaratkan harus terkumpul ciri-ciri mani di atas. Bahkan sebaliknya, satu ciri saja sudah cukup untuk menghukumi sebagai mani.” (Al-majmu’ 3:222)

Ringkasnya ciri air mani wanita adalah:

  1. Keluar dengan syahwat dan terasa nikmat. Artinya seorang wanita merasakan kelezatan saat mani keluar.
  2. Terasa lemas setelah mani keluar.
  3. Memiliki bau seperti mayang pohon kurma atau adonan tepung.
  4. Warnanya kuning encer. Pada sebagian wanita warnanya putih.

Allahua’lam.

 

***

Diterjemahkan secara ringkas dari:

https://islamqa.info/ar/129888

https://islamqa.info/ar/2458

Oleh Tim Penerjemah wanitasalihah.com

[Artikel wanitasalihah.com]

 

Sumber: http://wanitasalihah.com/ciri-ciri-mani-wanita/

 

,

TINGKATAN NAHI MUNKAR

TINGKATAN NAHI MUNKAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

TINGKATAN NAHI MUNKAR

Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

فإنكار المنكر أربع درجات: الأولى أن يزول ويخلفه ضده. الثانية أن يقل وإن لم يزل بجملته. الثالثة أن يخلفه ما هو مثله. الرابعة أن يخلفه ما هو شر منه. فالدرجتان الأوليان مشروعتان والثالثة موضع اجتهاد والرابعة محرمة

“Melarang kemungkaran ada empat tingkatan:

1) Kemungkaran hilang dan berganti kebaikan.

2) Berkurang, walau tidak hilang seluruhnya.

3) Berganti dengan yang semisal.

4) Berganti dengan yang lebih jelek.

Tingkatan yang pertama dan kedua disyariatkan, ketiga boleh berijtihad dan keempat diharamkan.”

[I’laamul Muwaqqi’in, 3/4]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1910006795898789:0

,

MUSLIM YANG PALING CERDAS

MUSLIM YANG PALING CERDAS

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Renungan_Bermakna

#Mutiara_Sunnah

MUSLIM YANG PALING CERDAS

Saudaraku rahimakumullaah. Andai ada satu makanan yang sangat nikmat, namun beberapa saat setelah menyantapnya akan sakit parah berhari-hari, bahkan bisa mematikan, maka semua orang yang berakal pasti sepakat, bahwa orang yang memakannya adalah orang yang bodoh. Hanya demi kenikmatan sesaat dia rela menanggung derita berkepanjangan.

Demikianlah perumpamaan kehidupan dunia. Sungguh bodoh kita, jika hanya demi kenikmatan dan kemewahan dunia yang sementara ini, lalu kita harus menanggung derita yang tiada tara di negeri Akhirat yang kekal abadi.

Maka orang yang cerdas tentu rela bersabar dalam mengumpulkan bekal-bekal iman dan amal saleh di kehidupan dunia yang sangat singkat ini, untuk menempuh perjalanan panjang setelah kematian, agar sampai di tempat tujuan, yaitu Surga yang penuh kenikmatan.

Seorang Sahabat Anshar bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ: فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ؟ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا، وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ»

“Wahai Rasulullah, orang Mukmin manakah yang paling mulia? Beliau ﷺ bersabda: Yang paling baik akhlaknya. Sahabat tersebut bertanya lagi: Orang Mukmin manakah yang paling cerdas? Beliau ﷺ bersabda: Yang paling banyak mengingat mati, dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelahnya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.”

[HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah: 1384]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/731943056955179:0

,

MEMAHAMI BID’AH DENGAN BENAR

MEMAHAMI BID'AH DENGAN BENAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SayNoToBid’ah

#ManhafSalaf

MEMAHAMI BID’AH DENGAN BENAR

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan:

وَالْبِدْعَةُ : مَا خَالَفَتْ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنْ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْعِبَادَاتِ .

“Bid’ah adalah segala sesuatu yang menyelisihi Alquran dan as Sunnah, atau menyelisihi kesepakatan ulama salaf, baik berupa keyakinan ataupun ibadah.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/346).

Untuk mengetahui sesuatu dengan baik, kita perlu bertitik tolak dari definisi yang tepat tentang hal tersebut.

Dalam definisi di atas terkandung beberapa poin penting sekitar bid’ah:

  1. Bid’ah itu tidak hanya terdapat dalam praktik ritual ibadah. Bahkan ada bid’ah dalam i’tiqod (keyakinan, pemikiran dan pendapat), di samping ada bid’ah dalam ritual ibadah. Orang yang berkeyakinan, bahwa Zat Allah itu ada di mana-mana, sifat wajib Allah itu hanya dua puluh, sifat Allah itu sama dengan sifat makhluk, tidak ada penghuni Surga yang merupakan eks penghuni Neraka dan lain-lain, adalah sedikit contoh tentang keyakinan, yang memenuhi kriteria untuk dikategorikan sebagai bid’ah dalam keyakinan.
  2. Tidak ada istilah bid’ah untuk perkara yang diperselisihkan oleh para ulama salaf, karena bid’ah adalah yang menyelisihi kesepakatan ulama salaf. Sehingga perkara yang sudah diperselisihkan oleh para ulama sejak masa salaf (sahabat, tabiin dan tabi’ tabiin) tidak bisa masuk dalam kategori bid’ah. Ini adalah suatu hal yang perlu DIPERHATIKAN dengan seksama. Sebagian orang tidak bisa membedakan dengan baik, manakah permasalahan agama yang masuk ruang lingkup Sunnah-Bid’ah, dengan yang masuk dalam ruang lingkup Rajih-Marjuh (pendapat yang kuat dan pendapat yang kurang kuat). Karena demikian yakin, bahwa pendapat yang dipilih adalah pendapat yang benar berdasar Alquran dan Sunnah, maka ada orang yang kelewat batas dengan memvonis pendapat lain sebagai pendapat yang bid’ah. Andai dia tahu, bahwa ulama salaf sudah berselisih dalam masalah ini, tentu lontaran yang berbahaya tersebut tidak akan diucapkan.
  3. Adanya istilah bid’ah untuk permasalahan agama yang diperselisihkan oleh para ulama pasca masa salaf. Hal ini terjadi ketika pendapat ulama muta-akhirin (belakangan, bukan generasi salaf) tersebut menyelisihi dalil yang tegas kandungan maknanya yang terdapat dalam Alquran dan hadis, meskipun boleh jadi beliau tidak berdosa disebabkan hal itu, dikarenakan beliau dalam kondisi berijtihad. Namun ijtihad beliau tidaklah menghalangi tergelincirnya beliau dalam bid’ah. Akan tetapi, dalam kondisi ini kita yakini, beliau tidak berdosa karena berijtihad, meski hasil ijtihadnya adalah bid’ah yang tidak boleh diikuti, teriring lantunan doa kita, agar Allah melimpahkan kasih saying-Nya kepadanya dan mengumpulkan kita dan beliau dalam Surga-Nya yang luas.

Uraian di atas menunjukkan tidak tepatnya anggapan sebagian orang yang menutup rapat-rapat istilah bid’ah dalam masalah ijtihad, dan masalah yang diperselisihkan ulama, tanpa memerhatikan, apakah hal tersebut adalah perkara yang diperselisihkan sejak masa salaf, ataukah hal tersebut adalah perselisihan baru yang tidak ada di masa salaf.

  1. Yang dimaksud menyelisihi Alquran dan as Sunnah adalah menyelisihi dalil tegas yang terdapat dalam Alquran dan as Sunnah. Artinya, jika dalil yang suatu permasalahan bisa dipahami dengan beberapa pemahaman yang bisa diterima, karena pemahaman tersebut tidaklah timbul dengan dipaksa-paksakan, maka dalam hal ini tidak terdapat istilah bid’ah. Terlebih-lebih jika pemahaman tersebut sudah ada sejak generasi salaf.
  2. Urgensinya memelajari dan menelaah pemahaman dan pendapat yang ada di antara generasi salaf, sehingga kita bisa menilai dengan tepat, apakah suatu pendapat dan pemahaman terhadap Alquran dan sunnah masuk dalam kategori sunnah-bid’ah ataukah tidak.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafizhahullah