Posts

INI RAHASIANYA KENAPA IBLIS LEBIH MENYUKAI PELAKU BIDAH DARIPADA PELAKU MAKSIAT

INI RAHASIANYA KENAPA IBLIS LEBIH MENYUKAI PELAKU BIDAH DARIPADA PELAKU MAKSIAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
INI RAHASIANYA KENAPA IBLIS LEBIH MENYUKAI PELAKU BIDAH DARIPADA PELAKU MAKSIAT
 
Jangan menjadi orang yang dicintai oleh IBLIS.
Dan apa RAHASIANYA, amalan BID’AH itu LEBIH disukai oleh IBLIS daripada MAKSIAT ?
 
Perkataan seorang tabiin bernama Sufyan ats Tsauri:
 
قال وسمعت يحيى بن يمان يقول سمعت سفيان يقول: البدعة أحب إلى إبليس من المعصية المعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها
 
Ali bin Ja’d mengatakan, bahwa dia mendengar Yahya bin Yaman berkata, bahwa dia mendengar Sufyan (ats Tsauri) berkata:
  • BID’AH itu lebih disukai IBLIS dibandingkan dengan MAKSIAT biasa.
  • Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertobat.
  • Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertobat.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnadnya no 1809 dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis hal 22]
Faktor terpenting yang mendorong seseorang untuk bertobat adalah merasa berbuat salah dan merasa berdosa. Perasaan ini banyak dimiliki oleh pelaku kemaksiatan, tapi tidak ada dalam hati orang yang gemar dengan bid’ah.
 
Oleh karena itu, bagaimana mungkin seorang pelaku bid’ah bertobat ketika dia tidak merasa bersalah? Bahkan dia merasa mendapat pahala dan mendekatkan diri kepada Allah dengan bid’ah yang dia lakukan. Itulah rahasianya kenapa IBLIS suka sekali dengan pelaku BID’AH.
 
Allah berfirman:
 
أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآَهُ حَسَنًا
 
“Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap BAIK pekerjaannya yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)?” [QS. Fathir:8]
 
Sufyan ats Tsauri mengatakan:
“Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertobat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertobat.”
 
Dalam sebuah atsar (perkataan salaf) Iblis berkata:
“Kubinasakan anak keturunan Adam dengan DOSA, namun mereka membalas membinasakanku dengan ISTIGHFAR dan ucapan La ilaha illallah.
Setelah kuketahui hal tersebut, maka kusebarkan di tengah-tengah mereka hawa nafsu (baca:BID’AH).
Akhirnya mereka berbuat dosa namun TIDAK MAU BERTOBAT, karena mereka merasa sedang berbuat BAIK.” [Lihat al Jawab al Kafi 58, 149-150 dan al I’tisham 2/62]
 
Oleh karena itu secara umum bid’ah itu lebih BERBAHAYA dibandingkan maksiat. Hal ini dikarenakan pelaku bid’ah itu MERUSAK agama. Sedangkan pelaku maksiat sumber kesalahannya adalah karena mengikuti keinginan yang terlarang. [Al Jawab al Kafi hal 58 dan lihat Majmu Fatawa 20/103]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 

#alasan, #iblis, #setan, #syaithan, #syaithon, #lebihsuka, #lebihmenyukai, #bidah, #pelakubidah, #pelakumaksiat, #maksiat, #maksiyat, #tobat, #taubat, #bertobat, #bertaubat #lebihmudahbertobat, #sulitbertobat #aparahasianya, #inirahasianya

,

MAKSIAT ITU RACUN, PENAWARNYA ADALAH TOBAT

MAKSIAT ITU RACUN, PENAWARNYA ADALAH TOBAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MAKSIAT ITU RACUN, PENAWARNYA ADALAH TOBAT
>> Peringatan dari Bahaya Maksiat
 
Al-‘Allaamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
 
الذنب بمنزلة شرب السم، والتوبة ترياقه ودواؤه، والطاعة هي الصحة والعافية.
 
“Berbuat dosa bagaikan meminum racun, tobat adalah penawarnya dan obatnya, sedangkan ketaatan adalah kesehatan dan keselamatan.” [Madaarijus Saalikin, 1/222]
 
Beliau rahimahullah juga berkata:
 
أَنَّ الذُّنُوبَ وَالْمَعَاصِيَ تَضُرُّ، وَلَا بُدَّ أَنَّ ضَرَرَهَا فِي الْقَلْبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهَا فِي الضَّرَرِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا سَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي
 
“Sungguh dosa dan maksiat sangat membahayakan. Bahayanya pasti berpengaruh pada hati, seperti bahaya racun pada badan, sesuai perbedaan tingkatan bahayanya. Dan tidaklah kejelekan dan penyakit di dunia dan Akhirat, kecuali sebabnya adalah dosa dan maksiat.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal. 42]
 
• Dosa adalah sebab dikeluarkannya manusia dari Surga yang penuh kenikmatan ke dunia yang penuh penderitaan.
• Dosa adalah sebab diusirnya iblis dari alam langit, kemudian dilaknat dan dimurkai.
• Dosa adalah sebab tenggelamnya kaum Nabi Nuh ‘alaihissalaam dengan banjir besar laksana gunung.
• Dosa adalah sebab dihancurkannya kaum ‘Ad dengan angin kencang.
• Dosa adalah sebab musnahnya kaum Tsamud dengan suara keras yang bergemuruh.
• Dosa adalah sebab petaka yang menimpa kaum Homoseks di masa Nabi Luth ‘alaihissalaam dengan cara diangkat negeri mereka kemudian dibalik ke bawah dan disusul dengan lemparan batu.
• Dosa adalah sebab hujan api yang menimpa kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalaam.
• Dosa adalah sebab Firaun dan tentaranya ditenggelamkan di laut.
• Dosa adalah sebab dibenamkannya Qorun beserta istananya, hartanya dan keluarganya ke dalam bumi.
• Dan berbagai malapetaka lainnya yang menimpa umat manusia tidak lain karena dosa dan maksiat.
 
Allah jalla wa ‘ala telah mengingatkan:
 
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ, أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ, أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ, أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ.
 
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah, kecuali orang-orang yang merugi.” [QS. Al-A’raf: 96-99]
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
 
يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ
لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ ، حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا ، إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ ، وَالأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا
وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ، إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ ، وَشِدَّةِ الْمَؤُونَةِ ، وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ
وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ ، إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ ، وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا
وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللهِ ، وَعَهْدَ رَسُولِهِ ، إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ
وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ ، وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ ، إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
 
“Wahai kaum Muhajirin, waspadailah lima perkara apabila menimpa kalian, dan aku berlindung kepada Allah, semoga kalian tidak menemuinya:
 
(1) Tidaklah perzinahan nampak (terang-terangan) pada suatu kaum pun, hingga mereka selalu menampakkannya, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada generasi sebelumnya.
 
(2) Dan tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan diazab dengan kelaparan, kerasnya kehidupan dan kezaliman penguasa atas mereka.
 
(3) Dan tidaklah mereka menahan zakat harta-harta mereka, kecuali akan dihalangi hujan dari langit. Andaikan bukan karena hewan-hewan niscaya mereka tidak akan mendapatkan hujan selamanya.
 
(4) Dan tidaklah mereka memutuskan perjanjian Allah dan perjanjian Rasul-Nya, kecuali Allah akan menguasakan atas mereka musuh dari kalangan selain mereka, yang merampas sebagian milik mereka.
 
(5) Dan tidaklah para penguasa mereka tidak berhukum dengan kitab Allah, dan hanya memilih-milih dari hukum yang Allah turunkan, kecuali Allah akan menjadikan kebinasaan mereka berada di antara mereka.” [HR. Ibnu Hibban, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah: 106]
 
#maksiatituracun, #penawarnyaadalahtobat, #taubat, #tobat, #maksiat, #maksiyat #nasihatulama, #petuahulama, #dosakaumparanabi
,

OLAHRAGA PUN BISA MENJADI IBADAH KITA

OLAHRAGA PUN BISA MENJADI IBADAH KITA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
OLAHRAGA PUN BISA MENJADI IBADAH KITA
 
Maksudnya adalah ibadah Ghairu Mahdhah (tidak murni seperti halnya ibadah shalat dan puasa), karena hakikat hidup kita adalah ibadah, asalkan dalam bimbingan syariat.
 
Pola hidup di zaman modern ini kurang baik untuk kesehatan, mulai dari makanan junk food dan siap saji yang identik dengan pengawet dan pemanis buatan, kemudian tekanan dan stresor kerja yang menuntut kerja keras, lembur, cepat dan dinamis, kemudian pola pikir yang menuntut harus berhasil, hasil yang cepat, dan mudah putus asa.
 
Beberapa faktor tersebut menggeser panyakit akibat degeneratif dan penuaan menjadi penyakit akibat pola hidup seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kanker ganas sampai penyakit aneh yang belum pernah ada sebelumnya.
 
Jadi olahraga bagi masyarakat di zaman modern adalah penting, karena olahraga sangat banyak manfaatnya, mulai dari melancarkan peredaran darah, menguatkan fungsi organ utama terutama jantung dan paru-paru, serta saat berolahraga kita mengeluarkan hormon endorphin, yaitu hormon antistress.
 
Menjaga Kesehatan adalah Anjuran Agama
 
Menjaga kesehatan adalah anjuran Islam. Salah satunya adalah dengan berolahraga. Dan menjaga kesehatan agar menjadi Mukmin yang kuat fisik dan imannya adalah anjuran agama Islam.
 
Dalam hadis:
“Hendaklah kalian memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan/kesehatan. Setelah dikaruniai keyakinan (iman), sesungguhnya seorang hamba tidak diberi karunia yang lebih baik daripada keselamatan/kesehatan.” [HR. Tirmidzi no. 3481, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh Al-Hakim dan Al-Albani]
 
Yang dimaksud dengan [الْعَافِيَةِ] “afiyah” adalah keselamatan dunia dan Akhirat. Keselamatan dunia yaitu selamat dari penyakit. Dengan kata lain adalah kesehatan.
 
Olah raganya ulama adalah menjaga batasan-batasan Allah, maka jiwa raga mereka dijaga Allah. Mereka yang dekat dengan Rabb-nya menjaga kesehatan dengan sebab syari, yaitu mereka umumnya bisa lebih menjaga tubuh mereka dari maksiat, maka Allah menjaga tubuh mereka dari penyakit dan kelemahan. Sebagaimana hadis:
 
احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ
 
“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” [HR. Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad 1/303. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]
 
Maka salah satu bentuk penjagaan Allah, jika kita menjaga diri dari maksiat kepada-Nya, adalah penjagaan kesehatan.
 
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata menjelaskan hadis ini:
 
كان بعض العلماء قد جاوز المائة سنة وهو ممتع بقوته وعقله، فوثب يوما وثبة شديدة، فعوتب في ذلك، فقال: هذه جوارح حفظناها عن المعاصي في الصغر، فحفظها الله علينا في الكبر. وعكس هذا أن بعض السلف رأى شيخا يسأل الناس فقال: إن هذا ضعيف ضيع الله في صغره، فضيعه الله في كبره
 
“Sebagian ulama ada yang sudah berusia di atas 100 tahun. Namun ketika itu mereka masih diberi kekuatan dan kecerdasan. Ada seorang ulama yang pernah melompat dengan lompatan yang sangat jauh. Kemudian ia diperingati dengan lembut, maka ulama tersebut mengatakan:
 
 
“Anggota badan ini selalu aku jaga dari berbuat maksiat ketika aku muda. Maka Allah menjaga anggota badanku ketika waktu tuaku.”
 
Namun sebaliknya, ada yang melihat seorang sudah jompo/ dan biasa mengemis pada manusia. Maka ia berkata:
 
“Ini adalah orang lemah yang selalu melalaikan hak Allah di waktu mudanya, maka Allah pun melalaikan dirinya di waktu tuanya.” [Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al-Hambali, hal. 249, Darul Aqidah, cet. Ke-1, 142 H]
 
Pola Olahraga yang Benar dan yang Salah
 
Olahraga sebaiknya dilakukan dengan rutin dan teratur. Teori idealnya olahraga 3-4 kali seminggu selama 30 menit. Namun ini bukan sesuatu yang mutlak. Yang bagus adalah yang teratur dan istiqamah, sebagaimana jika beramal juga harus istiqamah. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
 
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah amalan yang terus-menerus (istiqamah), walaupun itu sedikit.” [HR. Muslim no. 783]
 
Dan pola yang salah adalah misalnya olahraga hari ini, tiga hari kemudian olahraga, kemudian dua minggu lagi olaharaga, kemudian satu bulan lagi olahraga, dan tiga hari lagi olahraga. Artinya tidak teratur waktunya. Ini kurang baik bagi tubuh.
 
Olahraga Bisa Menjadi Ibadah
 
Tidak hanya olahraga. Pada hakikatnya, semua yang kita lakukan bisa menjadi ibadah. Bahkan hal-hal yang mubah bisa menjadi ibadah dengan niat yang baik. Sebagaimana kaidah:
 
الوسائل لها أحكام المقاصد
“Wasilah/sarana sesuai dengan hukum tujuannya.”
 
Dan memang ibadahlah tujuan kita hidup di dunia, sebagaimana firman Allah ta’ala:
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” [QS Adz Dzaariyaat: 56)
 
Masih Malas Berolahraga?
 
Memang pola hidup yang kurang baik tidak akan terasa dampaknya ketika masih muda. Akan tetapi dampak pola hidup tersebut baru terasa mulai menginjak usia tua. Bisa berupa kelemahan atau penyakit, sehingga membuat orang semakin malas berolahraga. Mungkin dengan sering-sering membaca doa ini, insya Allah akan bermanfaat. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah ﷺ biasa membaca doa:
 
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
 
“Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat.
Artinya:
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” [HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706]
 
 
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#DoaZikir, #doa, #zikir, #dzikir, #mohon, #memohon, #olahraga, #olahraga, #jagalahAllah, #Allahakanmenjagamu, #penjagaanAllah, #maksiat, #maksiyat, #janganmalasolahraga, #afiyah, #afiyyahberolahraga, #berolahraga #kesehatan
,

MUJAHIRIN: GOLONGAN MANUSIA YANG DIKECUALIKAN DARI MENDAPAT AMPUNAN ALLAH

MUJAHIRIN: GOLONGAN MANUSIA YANG DIKECUALIKAN DARI MENDAPAT AMPUNAN ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
MUJAHIRIN: GOLONGAN MANUSIA YANG DIKECUALIKAN DARI MENDAPAT AMPUNAN ALLAH
>> Mujahirin adalah Orang Yang Bermaksiat Secara Terang-Terangan
 
Seperti telah kita ketahui, setiap Muslim akan mendapatkan ampunan dari Allah, selama dia menjauhi kesyirikan. Walaupun demikian, ada satu golongan manusia yang dikecualikan dari mendapat ampunan Allah. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam hadis berikut ini:
 
عن سالم بن عبد اللّه قال: سمعت أبا هريرة يقول سمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم- يقول: كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره اللّه فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربّه، ويصبح يكشف ستر اللّه عنه
 
Dari Salim bin Abdullah, dia berkata, Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu bercerita, bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali Mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut. Yang mana dia berkata: ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.” [H.R. Bukhari (6069) dalam kitab Fathul Bari dan lafal ini milik Bukhari, dan riwayat Muslim (2990)]
 
Apa maksud dari معافى yang terdapat dalam hadis?
 
Syaikh Shalih al-Utsaimin mengatakan, bahwa yang dimaksud معافى dalam hadis adalah bahwa setiap umat Muslim akan Allah ampuni dosa-dosanya. [Lihat Syarh Riyadh ash-Shalihin hal 24, jilid 3]
 
Akan tetapi kata tersebut juga bisa dimaknai dengan apa yang dikatakan oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly. Beliau mengatakan, bahwa makna kata tersebut adalah setiap umat Muslim akan selamat dari lisan manusia dan gangguan mereka. [Lihat Bahjatun Nadzirin hal 299, jilid 1]
 
Apa saja bentuk terang-terangan dalam berbuat dosa?
 
1. Orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan di hadapan manusia. Seperti apa yang dilakukan para pemain sinetron dan pelawak yang bermain di layar televisi. Jenis orang yang seperti ini telah melakukan dua perbuatan dosa sekaligus, yaitu:
1a). Menampakkan kemaksiatannya
1b). Mencampurinya dengan lawakan dan kebohongan. Dan telah kita ketahui bersama, bahwasanya kedua hal tersebut adalah perbuatan tercela berdasarkan syariat Islam, dan juga pandangan manusia.
 
2. Orang yang telah menyingkap apa yang telah Allah tutupi dari perbuatan maksiatnya. Seakan-akan, mereka itu menceritakan perbuatan maksiatnya karena bangga dan meremehkan dosa yang telah dia lakukan itu. Mereka ini tidak bisa merasakan nikmatnya ampunan Allah yang Dia berikan kepada para hamba-Nya.
 
3. Seperti apa yang dilakukan pelaku maksiat yang mengumumkan perbuatan maksiatnya kepada khalayak umum. [Lihat Nadhratun Na’im, hal 5548, jilid 11]
 
Dampak bahaya dari terang-terangan berbuat dosa:
 
• Pelaku perbuatan ini menyebabkan Allah Azza wa Jalla marah terhadapnya.
• Pelaku perbuatan ini telah mengharamkan bagi dirinya sendiri ampunan Allah ta’ala.
• Manusia akan merendahkan pelaku perbuatan ini dan meninggalkannya.
• Diperbolehkan bagi kita untuk memperbincangkannya karena keburukannya tersebut.
Dan masih banyak yang lain. [Lihat Nadhratun Na’im hal 5555, jilid 11]
 
Beberapa faidah yang bisa kita ambil dari pembahasan ini:
 
• Kerasnya celaan bagi para pelaku perbuatan ini.
• Menceritakan perbuatan maksiat kepada khalayak umum menyebabkan pelakunya melakukan kemaksiatannya secara terus menerus. Dan hal ini juga menyebabkan manusia ikut mengamalkan perbuatan maksiat tersebut, sehingga dia akan mendapatkan dosa dari dosa-dosa para pengikutnya tersebut tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka. Karena penunjuk kepada keburukan seperti pelaku keburukan itu sendiri.
• Pelaku perbuatan ini membuat dosanya menjadi besar, walaupun pada asalnya dosa yang dia lakukan itu kecil.
• Meng-ghibah pelaku mujaharah tidak termasuk dari perbuatan tercela. Para ulama telah mengecualikan hal ini dalam beberapa hal.
• Terang-terangan dalam kemaksiatan adalah dosa tersendiri selain dari dosa maksiat itu sendiri, karena dia telah meremehkan kebesaran Allah azza wa jalla.
• Terang-terangan dalam kemaksiatan menyebabkan tersebarnya kemungkaran di antara kaum muslimin.
• Barang siapa yang Allah tutupi aibnya di dunia, maka Allah akan menutupi aibnya di Akhirat dan tidak akan memperlihatkannya di hadapan manusia yang lain. Dan ini termasuk dari luasnya rahmat Allah ta’ala untuk para hamba-Nya.
Dan masih banyak yang lain. [Lihat Al-Manahi asy-Syar’iyyah hal 306, jilid IV dan Bahjatun Naadzirin, hal 299, jilid I]
 
Ibnu hajar rahimahullahu dalam kitabnya Fathul Bari mengatakan, bahwa barang siapa yang berkeinginan untuk menampakkan kemaksiatan dan menceritakan perbuatan maksiat tersebut, maka dia telah menyebabkan Rabb-nya marah kepadanya sehingga Dia tidak menutupi aibnya tersebut. Dan barang siapa yang berkeinginan untuk menutupi perbuatan maksiatnya tersebut karena malu terhadap Rabb-nya dan manusia, maka Allah tabaraka wa ta’ala akan memberikan penutup yang akan menutupi aibnya itu. [Lihat Nadhratun Na’im hal 555. – 5554]
 
Semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan kita taufik dan istiqamah di atas jalan-Nya. Aamiin.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#akibatburuk, #terangterangan, #terusterang, #buatdosa, #bikindosa, #berbuatdosa, #maksiat, #maksiyat, #ampunanAllah, #muhajirin, #mujahirin, #golongantidakmendapatkanampunanAllah #golonganmanusia, #dikecualikan, #kecuali #maksiatsecaraterangterangan #Allahtutupiaibnyadidunia, #AllahtutupiaibnyadiAkhirat #Mujahirin #arti, #definisi,  #aib #makna
,

MUSIBAH DATANG KARENA MAKSIAT DAN DOSA

MUSIBAH DATANG KARENA MAKSIAT DAN DOSA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
MUSIBAH DATANG KARENA MAKSIAT DAN DOSA
 
Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan:
 
مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ
 
“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taobat.” [Al Jawabul Kaafi, hal. 87]
 
Perkataan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu di sini selaras dengan firman Allah Ta’ala:
 
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
 
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [QS. Asy Syuraa: 30]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#DisebabkanOlehPerbuatanTanganmuSendiri #DosaDanMaksiat #SebabMusibah #Dosa #SebabKesusahan #MalapetakaDanBahayaAkanHilang #MasalahKarenaDosamusibah, #bencana, #malapetaka, #datang, #turun, #tiba, #maksiyat, #maksiat, #tobat, #taubat, #angkat, #diangkat
, , ,

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong. “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” [HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadis ini Maudhu’]. Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [Madarijus Salikin, 1: 176]

Hadis di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadis berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain), dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan [Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri]

Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihati berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan, dan merasa diri lebih baik dari orang lain.

Jangan sombong sampai merasa bersih dari dosa, atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.

Semoga Allah memberikan hidayah demi hidayah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/11241-mengejek-orang-yang-berbuat-dosa.html

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

LARANGAN MENGGANGGU MERPATI DAN SEKADAR BERNIAT MAKSIAT DI MAKKAH DAN MADINAH

LARANGAN MENGGANGGU MERPATI DAN SEKADAR BERNIAT MAKSIAT DI MAKKAH DAN MADINAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
LARANGAN MENGGANGGU MERPATI DAN SEKADAR BERNIAT MAKSIAT DI MAKKAH DAN MADINAH
 
Larangan berbuat kerusakan, secara jelas kita dapatkan pada hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
حَرَّمَ اللَّهُ مَكَّةَ فَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَلَا لِأَحَدٍ بَعْدِي أُحِلَّتْ لِي سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ لَا يُخْتَلَى خَلَاهَا وَلَا يُعْضَدُ شَجَرُهَا وَلَا يُنَفَّرُ صَيْدُهَا
 
Allah telah mengharamkan kota Makkah. Maka tidak dihalalkan buat seorang pun sebelum dan sesudahku melakukan pelanggaran di sana, yang sebelumnya pernah dihalalkan buatku beberapa saat dalam suatu hari. Di Makkah tidak boleh diambil rumputnya, dan tidak boleh ditebang pohonnya, dan tidak boleh diburu hewan buruannya. [HR Bukhari]
 
Allah juga mengkisahkan doa Nabi Ibrahim dalam Al Baqarah ayat 126:
 
{وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
 
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan Hari Kemudian.
 
Juga dalam surat Ibrahim: 35:
 
{وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ} [ابراهيم: 35]
 
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.
 
Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al Badr menjelaskan:
 
Allah menyeru dalam kitab-Nya hal penjagaan keamanan negeri tersebut ( Makkah ). Dan Allah memperingatkan dengan keras, bagi siapa saja yang berupaya untuk merusak keamanan dan mengganggu ketenangan di negeri tersebut, atau berupaya membuat ketakutan, kepanikan, kecemasan pada penduduk dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.
 
Bahkan Allah azza wa jalla menjadikan keamanan di negeri tersebut termasuk kepada binatang-binatang ternak, hewan-hewan dan termasuk juga tanaman-tanaman. Tidak boleh berburu dan tidak boleh mengganggu (membuat lari), juga tidak boleh asal memotong pohon-pohon. Dan semua tindakan di atas adalah upaya menjaga keamanan negeri tersebut. Sebagaimana firman Allah:
 
و من دخله كان ءامنا
 
“Dan barang siapa memasukinya, amanlah dia” [QS Ali Imron 97]
 
Dan ayat-ayat mengenai perkara menjaga keamanan (Makkah) sangat banyak, di antaranya firman Allah:
 
{وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ} [الحج: 25]
 
Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih. [QS Al Hajj: 25]
 
Bahkan ayat tersebut menjelaskan, Man yurid, siapa yang sekadar berniat, mempunyai keinginan di hati untuk berbuat penyimpangan, kejahatan, diancam oleh Allah dengan siksa yang pedih.
 
وقال الثوري ، عن السدي ، عن مرة ، عن عبد الله قال: ما من رجل يهم بسيئة فتكتب عليه
 
Sufyan Ats Tsauri telah meriwayatkan dari As Saddi, dari Murrah, dari Abdullah Ibnu Mas’ud yang mengatakan, bahwa tiada seorang yang berniat akan melakukan suatu perbuatan jahat (di Tanah Suci), melainkan dicatatkan baginya niat jahatnya itu [Lihat tafsir ibnu Katsir].
 
Kembali lagi, berhati-hatilah untuk sekadar menghalau atau mengusir burung-burung merpati di Tanah Haram, karena dalam Shahih Bukhari, disebutkan lebih detail lagi hadis di atas:
 
وَعَنْ خَالِدٍ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ هَلْ تَدْرِي مَا لَا يُنَفَّرُ صَيْدُهَا هُوَ أَنْ يُنَحِّيَهُ مِنْ الظِّلِّ يَنْزِلُ مَكَانَهُ
 
Dan dari Khalid dari ‘Ikrimah: “Apakah kamu mengerti yang dimaksud dengan dilarang memburu binatang buruan? Yaitu menyingkirkannya dari tempat berlindung yang dijadikannya tempat bersinggah”.
 
Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata:
 
لو رأَيْتُ الظِّباءَ بالمدينةِ تَرتَعُ ما ذَعَرْتُها، قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: ما بينَ لابَتَيْها حَرامٌ
 
Seandainya aku melihat seekor rusa berkeliaran di Madinah, aku tidak akan membuatnya terkejut (mengganggunya). Sebab Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Antara dua kawasan berbatu hitam (Madinah) adalah Tanah Haram” [HR Bukhari]
 
Semua hal ini berlaku untuk Makkah dan Madinah, sebagaimana sabda nabi ﷺ:
 
إنَّ إبراهيمَ حرَّم مكةَ ، و دعا لها ، و إنِّي حرَّمتُ المدينةَ ، كما حرَّم إبراهيمُ مكةَ ، و دعوتُ لها في مُدِّها و صاعِها مثلَ ما دعا إبراهيمُ لمكةَ .
 
Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Makkah serta berdoa untuknya. Dan aku telah mengharamkan Madinah, sebagaimana Ibrahim mengharamkan Makkah. Dan berdoa untuknya, agar mud dan sho’nya diberkahi, sebagaimana Ibrahim berdoa untuk Makkah. [HR Bukhari].
 
Nah, berhati-hatilah. Bahkan hanya sekadar berniat untuk berbuat suatu maksiat, kezaliman atau kejahatan… Naudzubillahi min dzalik.
 
 
– Amnu Bilad, Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Badr, penjelasan dari ustadz Aris Munandar
– Tafsir Ibnu Katsir
– Fathul Bari, Ibnu Hajar Asqolaniy.
,

KITA YANG ISTIRAHAT ATAU MEREKA?

KITA YANG ISTIRAHAT ATAU MEREKA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
#TazkiyatunNufus
KITA YANG ISTIRAHAT ATAU MEREKA?
 
Dari Abu Qotadah Rib’i Al Anshori radhiyallahu ‘anhu:
 
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجَنَازَةٍ فَقَالَ مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ فَقَالُوا مَا الْمُسْتَرِيحُ وَمَا الْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
 
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah dilewati pengiringan jenazah. Kemudian beliau ﷺ bersabda:
 “Ada orang yang mendapatkan kenyamanan (istirahat) dan ada pula yang orang lain menjadi nyaman (istirahat) karena ketiadaannya”.
 
Para shahabat bertanya:
‘”Siapa itu orang yang mendapatkan kenyamanan (istirahat) dan orang yang orang lain menjadi aman (istirahat) karena ketiadaannya ?” 
 
Beliau ﷺ menjawab:
“Seorang hamba yang Mukmin adalah orang yang beristirahat dari keletihan dunia dan kesulitannya. Sedangkan seorang hamba yang fajir/gemar maksiat, maka hamba Allah yang lain, negeri dan pepohonan serta hewan yang beristirahat dari gangguannya” [HR. Bukhori no. 6512, Muslim no. 950]
 
Sumber: Indonesia Bertauhid
 
,

SABAR DALAM MENCARI YANG HALAL

SABAR DALAM MENCARI YANG HALAL

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#AkidahTauhid

SABAR DALAM MENCARI YANG HALAL

Ada yang memang berputus asa mencari kerja. Dalam pikirannya yang penting dapat rezeki. Mau itu cara haram pun tak peduli. Hal itu sudah diisyaratkan oleh Nabi ﷺ dalam hadis berikut ini. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

“Sesungguhnya Ruh Qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku, bahwa setiap jiwa tidak akan mati, sampai sempurna ajalnya, dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh, kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadis Shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866).

Dalam hadis di atas kita diperintahkan untuk mencari rezeki yang halal. Janganlah rezeki tadi dicari dengan cara bermaksiat atau dengan menghalalkan segala cara. Kenapa ada yang menempuh cara yang haram dalam mencari rezeki? Di antaranya karena sudah putus asa dari rezeki Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas.

Semoga Allah menganugerahkan pada kita rezeki yang halal, yang membuat kita rajin bersyukur dengan menaati-Nya, serta menjauhi maksiat. Aamiin.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

 

TIGA PERKARA YANG PALING BERAT

TIGA PERKARA YANG PALING BERAT
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#NasihatUlama, #TazkiyatunNufus
TIGA PERKARA YANG PALING BERAT

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

Tiga perkara yang paling berat:
1) Kedermawanan dalam kekurangan.
2) Menjaga diri dari maksiat dalam kesendirian.
3) Mengucapkan yang benar di hadapan orang yang diharapkan, maupun orang yang ditakuti.

[Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam, hal. 162]

Sumber: Bimbingan Islam