Posts

,

DIMINTAKAN AMPUN OLEH PENDUDUK LANGIT DAN BUMI

DIMINTAKAN AMPUN OLEH PENDUDUK LANGIT DAN BUMI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
DIMINTAKAN AMPUN OLEH PENDUDUK LANGIT DAN BUMI
Di Antara Keutamaan Ilmu Agama
 
Jika kita mengetahui keutamaan ilmu ini, pasti akan semakin semangat untuk belajar Islam. Jika keutamaannya semakin membuat seseorang dekat dengan Allah, diridai malaikat dan membuat penduduk langit, juga bumi tunduk, maka itu sudah jadi keutamaan yang luar biasa.
 
Dari Katsir bin Qois, ia berkata, aku pernah duduk bersama Abu Darda’ di Masjid Damasqus. Lalu datang seorang pria yang lantas berkata, “Wahai Abu Ad Darda’, aku sungguh mendatangi dari kota Rasul ﷺ (Madinah Nabawiyah) karena ada suatu hadis yang telah sampai padauk, di mana engkau yang meriwayatkannya dari Rasulullah ﷺ. Aku datang untuk maksud mendapatkan hadis tersebut. Abu Darda’ lantas berkata, sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi ﷺbersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju Surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda rida pada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan Dinar dan tidak pula Dirham. Barang siapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” [HR. Abu Daud no. 3641. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih).
 
Dan sungguh sangat indah apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim:
“Seandainya keutamaan ilmu hanyalah kedekatan pada Rabbul ‘alamin (Rabb semesta alam), dikaitkan dengan para malaikat, berteman dengan penduduk langit, maka itu sudah mencukupi untuk menerangkan akan keutamaan ilmu. Apalagi kemuliaan dunia dan Akhirat senantiasa meliputi orang yang berilmu, dan dengan ilmulah syarat untuk mencapainya.” [Miftah Daaris Sa’adah, 1: 104]
 
Dari Mu’awiyah, Nabi ﷺ bersabda:
 
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
 
“Barang siapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” [HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037).
 
Yang dimaksud fakih dalam hadis bukanlah hanya mengetahui hukum syari, tetapi lebih dari itu. Dikatakan fakih jika seseorang memahami tauhid dan pokok Islam, serta yang berkaitan dengan syariat Allah. Demikian dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dalam Kitabul ‘Ilmi, hal. 21.
 
Semoga yang share juga mendapat keutamaan yang disebut hadis di atas. Aamiin.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#dimintakanampunolehpenduduklangitdanbumi #penduduklangitdanbumimintakanampun #diantarakeutamaanilmuagama #keutamaanilmuagama #fadhilahilmuagama #ilmuagamasyari #artifakih #artifaqih #fakih #faqih #artinya #maksudnya #maknanya

,

BAHAYA MENINGGALKAN SHALAT ASHAR

BAHAYA MENINGGALKAN SHALAT ASHAR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BAHAYA MENINGGALKAN SHALAT ASHAR
 
 
Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ ، فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُه
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka amalnya akan gugur.” [HR Bukhari no. 553, dari Buraiah bin Hushaib Al-Aslamy radhiallahu anhu]
 
Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, no. 26946, dari Abu Darda radhiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ مُتَعَمِّدًا ، حَتَّى تَفُوتَهُ ، فَقَدْ أُحْبِطَ عَمَلُهُ (وصححه الشيخ الألباني رحمه الله في “صحيح الترغيب والترهيب)
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja hingga habis waktunya, maka amalnya akan gugur.” [Dinyatakan shahih oleh Al-Albany rahimahullah dalam Shahih Targhib dan Tarhib]
 
 
Terdapat ancaman keras terhadap orang yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja hingga keluar waktu. Kata Al Muhallab, maknanya adalah meninggalkan dengan menyia-nyiakannya dan menganggap remeh keutamaan waktunya, padahal mampu untuk menunaikannya. [Syarh Al Bukhari karya Ibnu Batthol, 3: 221]
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:
“Terhapusnya amalan tidaklah ditetapkan, melainkan pada amalan yang termasuk dosa besar. Begitu juga meninggalkan shalat Ashar lebih parah daripada meninggalkan shalat lainnya. Karena shalat Ashar disebut dengan shalat Wustha yang dikhususkan dalam perintah untuk dijaga. Shalat Ashar ini juga diwajibkan kepada orang sebelum kita, di mana mereka melalaikan shalat ini. Jadi siapa saja yang menjaga shalat Ashar, maka ia mendapatkan dua ganjaran.” [Majmu’atul Fatawa, 22: 54]
 
Silakan di-share, semoga semakin banyak saudara kita yang tersadar lewat pesan singkat ini.
 
Sumber: [Rumaysho.Com]
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

#sifatsholatnabi, #sifatshalatnabi, #shalat, #sholat, #salat, #solat, #tatacara #cara, #alwustho, #alwustha, #Ashar, #Asar, #keutamaanshalatAshar #meninggalkanshalatAshar,#tinggalkanshalatAshar, #amalannyagugur, #menggugurkanamalannya, #menghapuskanamalannya, #amalanyaterhapus #apamaksudnya, #maknanya, #artinya, #definisinya #hapuskan, #gugurkan #larangantinggalkanshalatAshar

 

,

ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT ASHAR, APAKAH AMALNYA AKAN GUGUR SELURUHNYA?

ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT ASHAR, APAKAH AMALNYA AKAN GUGUR SELURUHNYA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT ASHAR, APAKAH AMALNYA AKAN GUGUR SELURUHNYA?
>> Bahaya Meninggalkan Shalat Ashar
 
Pertanyaan:
Saya mendengar, bahwa apabila shalat Ashar tidak dilakukan, akan menggugurkan amal saya seluruhnya. Kemudian saya mendengar, bahwa hal itu akan menggugurkan amal pada hari itu saja. Mana yang benar?
 
Jawaban:
Alhamdulillah.
 
Pertama:
Terdapat ancaman keras terhadap orang yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja hingga keluar waktu. Imam Bukhari telah meriwayatkan, no. 553, dari Buraiah bin Hushaib Al-Aslamy radhiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ ، فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُه
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka amalnya akan gugur.”
 
Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, no. 26946, dari Abu Darda radhiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ مُتَعَمِّدًا ، حَتَّى تَفُوتَهُ ، فَقَدْ أُحْبِطَ عَمَلُهُ (وصححه الشيخ الألباني رحمه الله في “صحيح الترغيب والترهيب)
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja hingga habis waktunya, maka amalnya akan gugur.” [Dinyatakan shahih oleh Al-Albany rahimahullah dalam Shahih Targhib dan Tarhib]
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata:
“Berakhirnya waktu Ashar (tanpa kita melakukan shalat Ashar pada waktu itu) lebih besar dari ketinggalan perkara lainnya. Sesungguhnya dia adalah Ash-Shalat Al-Wustha yang mendapatkan peringatan khusus untuk kita pelihara. Inilah yang diwajibkan kepada orang sebelum kita, namun mereka menyia-nyiakannya.” [Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, 22/54]
 
Kedua:
 
Para ulama berbeda pendapat tentang ancaman yang terdapat dalam hadis tentang orang yang meninggalkan shalat Ashar, apakah dipahami berdasarkan zahirnya atau tidak? Dalam hal ini ada dua pendapat:
 
Perndapat Pertama: Dipahami secara zahir. Maka orang yang meninggalkan sekali shalat Ashar dengan sengaja hingga keluar waktu, dianggap kafir. Inilah pendapat Ishaq bin Rahawaih, dan menjadi pendapat yang dipilih oleh ulama yang datang belakangan, seperti Syekh Ibnu Baz rahimahumallah.
 
Syekh Bin Baz rahimahullah berkata:
“Shalat Ashar kedudukannya sangat agung. Dia adalah Ashalat-Al-Wustha. Dia merupakan shalat yang paling utama. Allah ta’ala berfirman:
 
حَافِظُواْ عَلَى الصَّلَوَاتِ والصَّلاَةِ الْوُسْطَى (سورة البقرة : 238)
 
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat Wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” [SQ. Al-Baqarah: 238]
 
Dia dikhususkan penyebutannya dalam ayat ini. Maka wajib bagi setiap Muslim laki dan perempuan untuk memperhatikannya lebih besar dan menjaganya, dan wajib baginya untuk menjaga seluruh shalat yang lima waktu dengan bersucinya serta thuma’ninah di dalamnya, serta kewajiban lainnya. Bagi laki-laki hendaknya melakukannya dalam keadaan berjamaah. Rasulullah ﷺ mengkhususkan penyebutannya berdasarkan sabdanya:
 
من ترك صلاة العصر حبط عمله
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, gugurlah amalanya.”
 
Beliau ﷺ juga bersabda:
 
من فاتته صلاة العصر ، فكأنما وُتر أهله وماله
 
“Siapa yang ketinggalan shalat Ashar, seakan dia dirampas keluarga dan hartanya.”
 
Hal ini menunjukkan besarnya kedudukan shalat Ashar. Yang benar adalah, bahwa siapa yang meninggalkan shalat-shalat lainnya, gugur pula amalnya. Karena dia telah kafir berdasarkan pendapat yang shahih. Akan tetapi dalam hadis dikhususkan penyebutannya oleh Nabi ﷺ untuk menunjukkan keistimewaannya yang agung, sementara kedudukan hukumnya sama. Siapa yang meninggalkan shalat Zuhur, Maghrib, Isya atau Fajar dengan sengaja, maka gugurlah amalnya, karena dengan demikian, dia telah kufur. Seseorang harus menjaga seluruh shalat wajib, siapa yang meninggalkan satu saja, maka seakan-akan dia meninggalkan seluruhnya. Shalat lima waktu harus dijaga seluruhnya, baik oleh laki-laki maupun wanita. Akan tetapi shalat Ashar memiliki keistimewaan yang tinggi dengan hukuman yang berat bagi yang meninggalkannya, dan besarnya pahala bagi yang menjaganya dan istiqamah di atasnya bersama shalat-shalat lainnya.” [Fatawa Nurun Aladdarb]
 
 
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata ketika menjelaskan hadis berikut:
 
من ترك صلاة العصر فقد حَبِط عملُه
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Asar, maka amalannya gugur.”
 
Di antara keutamaan shalat Ashar secara khusus adalah, bahwa siapa yang meninggalkannya maka gugurlah amalnya, karena dia sangat agung. Berdasarkan hadis ini sebagian ulama ada yang berdalil, bahwa siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka dia kafir. Karena tidak ada sesuatu yang dapat menggugurkan amal, kecuali dia murtad. Sebagaimana firman Allah ta’ala:
 
وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ (سورة الأنعام: 88)
 
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [QS. Al-An’am: 88]
 
 
Dan firman Allah ta’ala:
 
وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (سورة البقرة: 217)
 
“Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di Akhirat. Dan mereka Itulah penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.” [QS. Al-Baqarah: 217]
 
Sebagian ulama berkata: Shalat Ashar memiliki kekhususan. Siapa yang meninggalkannya, sungguh telah kafir. Demikian pula siapa yang meninggalkan shalat secara umum, dia telah kafir. Pendapat ini tidak terlalu jauh dari kebenaran.” [Syarh Riyadhus-Shalihin]
 
Pendapat kedua: Ancaman yang terdapat dalam masalah shalat Ashar, tidak dipahami secara zahir. Mereka yang berpendapat demikian, berbeda pendapat tentang penafsiran dari kalimat ini. Di antaranya bahwa hadis ini diperuntukkan bagi mereka yang meninggalkan shalat tersebut dengan menganggapnya boleh (meninggalkan shalat).
 
Di antara mereka yang ada berpendapat, bahwa yang gugur adalah shalat itu sendiri. Siapa yang tidak shalat Ashar hingga habis waktunya, maka dia tidak mendapatkan pahala orang yang shalat pada waktunya. Maka yang dimaksud dengan amal yang gugur dalam hadis ini adalah shalat.
 
Ibnu Bathal rahimahullah berkata: “Bab orang yang meninggalkan shalat Ashar.” Di dalamnya terdapat perawi bernama Buraidah, dia berkata pada hari yang mendung, “Segeralah shalat Ashar, karena Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka gugurlah amalnya.” Al-Mihlab berkata: “Maknanya adalah, bahwa siapa yang menyia-nyiakannya, dan menganggap remeh keutamaan waktunya, padahal dia mampu melaksanakannya, maka gugurlah amalnya dalam shalat tersebut secara khusus. Maksudnya bahwa dia tidak mendapatkan pahala orang yang shalat pada waktunya, dan dia tidak memiliki amal yang diangkat malaikat.” [Syarh Shahih Bukhari, Ibnu Bathal, 2/176)]
 
Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan pendapat yang banyak tentang penafsiran makna hadis ini saat menjelaskan hadis tersebut. Beliau rahimahullah berkata: “Ulama kalangan Mazhab Hambali berpedoman dengan zahir hadis, serta mereka yang berpendapat seperti pendapat mereka, yaitu bahwa orang yang meninggalkan shalat, maka hukumnya kafir. Adapun Jumhur Ulama mencari penafsiran hadis tersebut, dan mereka berbeda pendapat dalam menafsirkannya kepada beberapa pendapat.
 
Di antara mereka ada yang menafsirkan sebab meninggalkannya, di antara mereka ada yang menafsirkan maksud kata-kata ‘gugur’, di antara mereka ada yang menafsirkan amalnya. Maka ada yang berpendapat; Yang dimaksud adalah siapa yang meninggalkannya dalam keadaan menentang kewajibannya. Ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud adalah siapa yang meninggalkannya karena malas, akan tetapi ancaman ini sebagai peringatan keras, tapi yang dimaksud tidak demikian. Seperti orang yang berkata: “Tidaklah berzina orang yang berzina sedangkan dia beriman.” Ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud gugurnya amal adalah berkurangnya amal dalam waktu itu.
 
Ada juga yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan amal dalam hadis tersebut adalah amal dunia, yang kesibukannya terhadapnya menyebabkan seseorang meninggalkan shalat. Maksudnya adalah, bahwa kesibukannya tidak dapat dia manfaatkan dan tidak dapat dia nikmati. Penafsiran yang paling dekat adalah pendapat yang berkata, bahwa hadis tersebut untuk menggambarkan ancaman berat, akan tetapi yang dimaksud bukan zahirnya. Wallahua’lam. [Syarh Al-Bukhari, 2/31]
 
Yang kuat wallahua’lam adalah bahwa orang yang meninggalkan shalat, tidak sunyi:
 
1- Dia meninggalkan shalat sama sekali, maka dia kafir, amalnya akan gugur karena kekufurannya.
 
2- Dia meninggalkan shalatnya kadang-kadang, kadang shalat, kadang meninggalkan shalat. Maka dia tidak kafir, meskipun amal hari itu dianggap gugur karena dia meninggalkan shalat Ashar.
 
Ibnu Qayim rahimahullah berkata: “Sejumlah orang telah berbicara tentang makna hadis, “Siapa yang meninggalkan shalat Ashar…” Mereka melakukan sesuatu yang tidak ada gunanya.
 
Al-Milhab mengatakan, maknanya adalah: Siapa yang meninggalkannya karena menyia-nyiakannya atau meremehkan keutaman waktunya, sementara dia mampu melakukannya, maka amalnya dalam shalat tersebut gugur. Maksudnya, dia tidak mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya pada waktunya, dan amalnya tidak diangkat malaikat. Kesimpulan dari pendapat ini, bahwa siapa yang meninggalkannya, maka dia kehilangan pahalanya. Redaksi dan makna hadis tidak menerima hal itu, dan tidak bermanfaat dikatakan amalnya gugur, karena telah ada dan terjadi. Inilah hakikat gugur dari segi bahasa dan syariat. Tidak dikatakan bagi orang yang kehilangan pahala sebuah amal bahwa amalnya telah gugur. Akan tetapi dikatakan bahwa dia telah kehilangan pahala amal itu.
 
Sebagian kelompok berpendapat, bahwa yang dimaksud gugur amalnya, adalah amal hari itu, bukan seluruh amal. Seakan-akan sulit bagi mereka menerima seluruh amal yang lalu dikatakan gugur dengan sebab meninggalkan satu shalat saja. Maka meninggalkannya menurut mereka tidak menyebabkan murtad yang menggugurkan amal.
 
Yang tampak dalam hadis tersebut, Allah yang lebih mengetahui maksud Rasul-Nya, bahwa meninggalkan itu ada dua macam:
• Meninggalkannya keseluruhan, yaitu tidak shalat sama sekali. Hal ini menggugurkan seluruh amal.
• Dan meninggalkan shalat tertentu dan pada hari tertentu. Maka ini menggugurkan amal hari itu saja. Gugurnya secara umum, sebanding apabila dia meninggalkan secara umum. Sedangkan gugurnya amal tertentu, berbanding jika dia meninggalkan secara tertentu.” [Ash-Shalat Wa Ahkamu Taarikiha, hal. 65]
 
Telah dijelaskan dalam situs ini penjelasan tentang batasan orang yang dikatakan meninggalkan shalat, sebagaimana terdapat dalam jawaban soal: https://islamqa.info/id/83165 dan https://islamqa.info/id/114426
 
Wallahua’lam..
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sifatsholatnabi, #sifatshalatnabi, #shalat, #sholat, #salat, #solat, #tatacara #cara, #alwustho, #alwustha, #Ashar, #Asar, #keutamaanshalatAshar #meninggalkanshalatAshar,#tinggalkanshalatAshar, #amalannya gugur, #menggugurkanamalannya, #menghapuskanamalannya, #amalanyaterhapus #apamaksudnya, #maknanya, #artinya, #definisinya #hapuskan, #gugurkan #larangantinggalkanshalatAshar
,

MAKNA LAKI-LAKI YANG HATINYA TERKAIT MASJID

MAKNA LAKI-LAKI YANG HATINYA TERKAIT MASJID
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MAKNA LAKI-LAKI YANG HATINYA TERKAIT MASJID
 
Inilah mereka yang mendapatkan naungan pada Hari Kiamat. Yang dimaksudkan naungan di sini adalah naungan ‘Arsy Allah, sebagaimana dikuatkan riwayatnya oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (2: 144).
 
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi ﷺ bersabda:
 
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَا
 
“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:
 
1. Pemimpin yang adil.
2. Pemuda yang tumbuh di atas kebiasaan ‘ibadah kepada Rabbnya.
3. Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid.
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah.
5. Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantic, lalu dia berkata: ‘Aku takut kepada Allah’.
6. Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.
7. Orang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.” [HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712]
 
Laki-laki Yang Hatinya Terpaut dengan Masjid
 
Sungguh Allah ta’ala telah memuji semua orang yang memakmurkan masjid secara umum di dalam firman-Nya:
 
في بيوت أذن الله أن ترفع ويذكر فيها اسمه يسبح له فيها بالغدو والآصال رجال لا تلهيهم تجارة ولا بيع عن ذكر الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة يخافون يوماً تتقلب فيه القلوب والأبصار ليجزيهم الله أحسن ما عملوا ويزيدهم من فضله والله يرزق من يشاء بغير حساب
 
“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari, yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” [QS. An-Nur: 36-38]
 
Terkaitnya hati dengan masjid hanya akan didapatkan oleh siapa saja yang menuntun jiwanya menuju ketaatan kepada Allah. Hal itu karena jiwa pada dasarnya cenderung memerintahkan sesuatu yang jelek. Sehingga jika dia meninggalkan semua ajakan dan seruan jiwa yang jelek itu dan lebih mendahulukan kecintaan kepada Allah, maka pantaslah dia mendapatkan pahala yang sangat besar.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#MutiaraSunnah, #mutiarasunnah, #lakilaki, #lelaki, #akhi, #pria, #hatinyaterkaitmasjid, #mesjid, #masjid, #artinya, #maknanya, #definisinya #tujuhgolonganmanusia, #naungan Allah #7golonganmanusia #hatinyaterpautdenganmasjid
,

MAKNA TAUHID YANG TERKANDUNG DALAM IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA‘IN

MAKNA TAUHID YANG TERKANDUNG DALAM IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA‘IN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

MAKNA TAUHID YANG TERKANDUNG DALAM IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA‘IN

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:
“Di dalam kalimat ‘IYYAKA NA’BUDU’ terkandung Tauhid Uluhiyah yaitu mengesakan Allah dengan perbuatan-perbuatan hamba yang disyariatkan oleh Allah untuk mereka, karena uluhiyah bermakna ibadah. Dan ibadah itu adalah bagian dari perbuatan hamba.

Adapun ‘WA IYYAKA NASTA‘IN’ mengandung Tauhid Rububiyah. Karena pertolongan adalah salah satu perbuatan Rabb Yang Maha Suci. Dan Tauhid Rububiyah itu adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya”.
[Lihat Silsilah Syarh Rasa‘il, Hal. 195]

Ketika mengomentari kalimat IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA‘IN, Qatadah rahimahullah berkata:
“Allah memerintahkan kalian untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, dan supaya kalian meminta pertolongan kepada-Nya dalam segala urusan kalian”.

Ayat ini bermakna “Kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu dan kami tidak bertawakal kecuali kepada-Mu”.
[Llihat Tafsir Surah al-Fatihah, Hal. 19 dan Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, (1/34)]

 

Sumber: indonesiabertauhidofficial

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#tauhid, #tawheed, #fatwaulama, #kalimattauhid, #kalimatsyahadat, #uluhiyah, #uluhiyyah, #rububiyah, #rububiyyah, #rubbubiyah, #iyyakanabudu, #waiyyakanastain, #AlFatihahAyat5, #artinya, #maknanya, #definisinya, #AlFatihah

,

SERBA SERBI WASIAT DALAM ISLAM

SERBA SERBI WASIAT DALAM ISLAM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#FikihWarisan

SERBA SERBI WASIAT DALAM ISLAM
>> Di Antara Contoh Kasus Wasiat yang Tidak Dibenarkan oleh Syariat

Setiap Muslim sudah seharusnya memahami apa itu wasiat. Salah memahami wasiat, bisa berdampak fatal. Salah berwasiat, bisa bernilai kezaliman. Sebagai Muslim yang baik, bagian ini wajib kita pahami, karena kita pasti akan mati.

Beberapa hari yang lewat, saya bincang-bincang dengan seseorang yang berasal dari keluarga poligami. Artinya, ayahnya memiliki dua istri, dan dia anak dari ibu kedua. Dari ibu pertama sang ayah mendapatkan sembilan anak, sedangkan dari ibu kedua dia mendapatkan lima anak. Sebelum sang ayah meninggal dunia, dia menuliskan wasiat berisi tata cara pembagian waris dari harta sang ayah. Anak-anak dari ibu kedua diberi warisan berupa dua lokasi, sedangkan anak-anak dari ibu pertama diberi warisan dari satu lokasi, yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan nilai dua lokasi di atas.

Inilah contoh kasus wasiat yang TIDAK DIBENARKAN OLEH SYARIAT. Mengapa wasiat di atas tergolong wasiat yang terlarang? Jawabannya bisa disimak di bawah ini:

Pengertian Wasiat

Kata Wasiat termasuk kosa kata bahasa Arab yang sudah menjadi bahasa Indonesia. Dalam bahasa aslinya bahasa Arab, wasiat itu bermakna perintah yang ditekankan.

Wasiat dalam makna yang luas adalah nasihat yang diberikan kepada seorang yang dekat di hati semisal anak, saudara, maupun teman dekat, untuk melaksanakan suatu hal yang baik, atau menjauhi suatu hal yang buruk. Wasiat dengan pengertian memberikan pesan yang penting ketika hendak berpisah dengan penerima pesan ini, biasanya diberikan saat merasa kematian sudah dekat, hendak bepergian jauh, atau berpisah karena sebab lainnya.

Sedangkan wasiat yang kita bahas kali ini adalah khusus terkait pesan yang disampaikan oleh orang yang hendak meninggal dunia.

Wasiat jenis ini bisa bagi menjadi dua kategori:

Pertama: Wasiat kepada orang yang hendak untuk melakukan suatu hal, semisal membayarkan utang, memulangkan pinjaman dan titipan, merawat anak yang ditinggalkan, dst.

Kedua: Wasiatkan dalam bentuk harta, agar diberikan kepada pihak tertentu, dan pemberian ini dilakukan setelah pemberi wasiat meninggal dunia.

Hukum Wasiat

Hukum wasiat tergantung pada kondisi orang yang menyampaikan wasiat. Berikut rinciannya:

  1. Menyampaikan wasiat hukumnya wajib untuk orang yang punya utang atau menyimpan barang titipan atau menanggung hak orang lain, yang dikhawatirkan manakala seorang itu tidak berwasiat maka hak tersebut tidak ditunaikan kepada yang bersangkutan.
  2. Berwasiat hukumnya dianjurkan untuk orang yang memiliki harta berlimpah dan Ahli Warisnya berkecukupan. Dia dianjurkan untuk wasiat agar menyedekahkan sebagian hartanya, baik sepertiga dari total harta atau kurang dari itu, kepada kerabat yang tidak mendapatkan warisan atau untuk berbagai kegiatan sosial.
  3. Berwasiat dengan harta hukumnya makruh jika harta milik seorang itu sedikit dan Ahli Warisnya tergolong orang yang hartanya pas-pasan. oleh karena itu banyak sahabat radhiyallahu ‘anhum, yang meninggal dunia dalam keadaan tidak berwasiat dengan hartanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu bersedekah kepada kalian dengan sepertiga harta kalian ketika kalian hendak meninggal dunia, sebagai tambahan kebaikan bagi kalian.” [HR. Ibnu Majah, dan dihasankan Al-Albani].

Dari Ibnu Umar, Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai manusia, ada dua hal yang keduanya bukanlah hasil jerih payahmu. Pertama, kutetapkan sebagian hartamu untukmu ketika engkau hendak meninggal dunia untuk membersihkan dan menyucikanmu. Kedua, doa hamba-hambaku setelah engkau meninggal dunia.” [HR. Ibnu Majah, dhaif].

Demikian pula hadis yang yang mengisahkan Nabi mengizinkan Saad bin Abi Waqash untuk wasiat sedekah sebesar sepertiga total kekayaannya [HR Bukhari dan Muslim].

Syarat Sah Wasiat

Pertama: Terkait wasiat dalam bentuk meminta orang lain untuk mengurusi suatu hal semisal membayarkan utang, merawat anak yang ditinggalkan, maka disyaratkan bahwa orang yang diberi wasiat tersebut adalah seorang Muslim dan berakal. Karena jika tidak, dikhawatirkan amanah dalam wasiat tidak bisa terlaksana dengan baik.

Kedua: Orang yang berwasiat adalah orang yang berakal sehat dan memiliki harta yang akan diwasiatkan.

Ketiga: Isi wasiat yang disampaikan hukumnya mubah. Tidak sah wasiat dalam hal yang haram, semisal wasiat agar diratapi setelah meninggal dunia, atau berwasiat agar sebagian hartanya diberikan kepada gereja, atau untuk membiayai acara bid’ah, acara hura hura, atau acara maksiat lainnya.

Keempat: Orang yang diberi wasiat bersedia menerima wasiat. Jika dia menolak, maka wasiat batal, dan setelah penolakan, orang tersebut tidak berhak atas apa yang diwasiatkan.

Di antara Ketentuan Wasiat

Pertama: Orang yang berwasiat boleh meralat atau mengubah-ubah isi wasiat. Berdasarkan perkataan Umar: “Seseorang boleh mengubah isi wasiat sebagaimana yang dia inginkan.” [Diriwayatkan oleh Baihaqi].

Kedua: Tidak boleh wasiat harta melebihi sepertiga dari total kekayaan. Mengingat sabda Nabi ﷺ kepada Saad bin Abi Waqash yang melarangnya untuk berwasiat dengan dua pertiga atau setengah dari total kekayaannya. Ketika Saad bertanya kepada Nabi ﷺ, bagaimana kalau sepertiga, maka jawaban Nabi ﷺ: “Sepertiga, namun sepertiga itu sudah terhitung banyak. Jika kau tinggalkan Ahli Warismu dalam kondisi berkecukupan, itu lebih baik dari pada kau tinggalkan mereka dalam kondisi miskin, lantas mereka mengemis-ngemis kepada banyak orang.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Ketiga: Dianjurkan agar kurang dari sepertiga, sebagaimana keterangan Ibnu Abbas: “Andai manusia mau menurunkan kadar harta yang diwasiatkan dari sepertiga menjadi seperempat mengingat sabda Nabi ﷺ ‘Sepertiga, akan tetapi sepertiga itu banyak’.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Keempat: Yang terbaik adalah mencukupkan diri dengan berwasiat seperlima dari total kekayaannya, mengingat perkataan Abu Bakar, “Aku rida dengan dengan apa yang Allah ridai untuk dirinya,” yaitu seperlima.” [Syarh Riyadhus Shalihin oleh Ibnu Utsaimin, 1/44].

Kelima: Larangan untuk berwasiat dengan lebih dari sepertiga itu hanya berlaku orang yang memiliki Ahli Waris. Sedangkan orang yang sama sekali tidak memiliki Ahli Waris, dia diperbolehkan untuk berwasiat dengan seluruh hartanya.

Keenam: Wasiat dengan lebih dari sepertiga boleh dilaksanakan, manakala SELURUH Ahli Waris MENYETUJUINYA, dan tidak memermasalahkannya.

Ketujuh: Tidak diperbolehkan [baca: Haram] dan tidak sah, wasiat harta yang diberikan kepada Ahli Waris yang mendapatkan warisan, meski dengan nominal yang kecil, kecuali jika seluruh Ahli Waris sepakat membolehkannya, setelah pemberi wasiat meninggal. Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu telah memberikan kepada semua yang memiliki hak apa yang menjadi haknya. Oleh karena itu tidak ada wasiat harta bagi orang yang mendapatkan warisan.” [HR Abu Daud, dinilai Shahih oleh al Albani].

Kedelapan: Jika wasiat harta untuk orang yang mendapatkan warisan itu ternyata hanya disetujui oleh sebagian Ahli Waris karena sebagian yang lain menyatakan ketidaksetujuannya, maka isi wasiat dalam kondisi ini hanya bisa dilaksanakan pada bagian yang menyetujui isi wasiat, namun tidak bisa diberlakukan pada bagian warisan yang tidak menyetujuinya.

Penutup

Pada kasus wasiat di bagian prolog tulisan, wasiat tersebut termasuk wasiat terlarang, karena wasiat tersebut menyebabkan aturan Islam dalam pembagian harta warisan tidak bisa dilaksanakan. Dalam aturan Islam, semua anak, baik dari ibu pertama maupun dari ibu yang kedua, memiliki hak yang sama atas harta peninggalan ayahnya. Sehingga seharusnya seluruh harta milik ayah diinventaris dengan baik, kemudian dibagikan kepada seluruh anak yang ada, baik dari ibu pertama maupun ibu kedua. Kemudian dibagi dengan aturan Islam, yaitu anak laki laki mendapatkan dua kali lipat bagian anak perempuan.

Allahu a’lam.

 

Ditulis oleh: Ustad Aris Munandar, M.P.I.

[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]

Sumber: https://konsultasisyariah.com/17822-serba-serbi-wasiat-dalam-islam.html

,

BERHATI-HATILAH DENGAN ISTIDRAJ

BERHATI-HATILAH DENGAN ISTIDRAJ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#NasihatUlama, #TazkiyatuNufus

BERHATI-HATILAH DENGAN ISTIDRAJ
Apa itu Istidraj?

Bisa jadi ada yang mendapatkan limpahan rezeki, namun ia adalah orang yang gemar maksiat. Ia tempuh jalan kesyirikan, lewat ritual pesugihan misalnya, dan benar ia cepat kaya. Ketahuilah, bahwa mendapatkan limpahan kekayaan seperti itu bukanlah suatu tanda kemuliaan, namun itu adalah istidraj. Istidraj artinya suatu jebakan berupa kelapangan rezeki, padahal yang diberi dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah.

Allah ta’ala berfirman:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka. Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” [QS. Al An’am: 44]

Syaikh As Sa’di menyatakan:

“Ketika mereka melupakan peringatan Allah yang diberikan pada mereka, maka dibukakanlah berbagi pintu dunia dan kelezatannya, mereka pun lalai. Sampai mereka bergembira dengan apa yang diberikan pada mereka. Akhirnya Allah menyiksa mereka dengan tiba-tiba. Mereka pun berputus asa dari berbagai kebaikan. Seperti itu lebih berat siksanya. Mereka terbuai, lalai, dan tenang dengan keadaan dunia mereka. Namun itu sebenarnya lebih berat hukumannya dan jadi musibah yang besar.” [Tafsir As Sa’di, hal. 260].

Semoga kita bisa terhindar dari hal demikian.
Silakan di-share, semoga bermanfaat.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

 

, ,

SIAPAKAH YANG DIMAKSUD AHLUL QURAN?

SIAPAKAH YANG DIMAKSUD AHLUL QURAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama, #FatwaUlama

SIAPAKAH YANG DIMAKSUD AHLUL QURAN?

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata:

المراد بأهل القرآن ليس الذين يحفظونه ويرتّلونه و إلى آخره .أهل القرآن هم الذين يعملون به حتّى ولو لم يحفظوه ، الذين يعملون بالقرآن بأوامره ونواهيه وحدوده ، هؤلاء هم أهل القرآن ، وهم أهل الله وخاصّته من خلقه . أمّا من , يحفظ القرآن , ويجيد التّلاوة , ويضبط الحروف , ويضيّع الحدود , فهذا ليس من أهل القرآن وليس من الخاصّة وإنّما هو عاص لله ولرسوله ومخالف للقرآن ، نعم. وكذلك أهل القرآن الذين يستدلّون به ولا يقدّمون عليه غيره في الاستدلال ويأخذون منه الفقه والأحكام والدّين هؤلاء هم أهل القرآن

Yang dimaksud dengan “Ahlul Quran” bukanlah semata-mata orang-orang yang menghapal Alquran, membacanya dengan tartil, dst..

Namun Ahlul Quran adalah orang-orang yang mengamalkan Alquran, meskipun dia belum menghapalnya. Orang yang mengamalkan Alquran, yaitu perintah-perintah, larangan-larangan, dan batasan-batasannya, merekalah “Ahlul Quran”, merekalah Ahlullah dan khaashshatuh (orang-orang khususNya) dari kalangan makhluk-Nya.

Adapun barang siapa yang menghapal Alquran, bagus bacaannya, tepat (pengucapan) huruf-hurufnya, NAMUN melanggar batas-batas, Maka dia TIDAK termasuk Ahlul Quran, tidak pula termasuk orang-orang khusus. Tapi dia adalah penentang Allah dan Rasul-Nya, menyelisihi Alquran.

Ahlul Quran juga adalah orang-orang yang berdalil dengan Alquran dan tidak mendahulukan apapun di atas Alquran dalam berdalil. Mengambil fikih dan hukum-hukum dari Alquran. Merekalah Ahlul Quran. [Syarh Kitab al-‘Ubudiyyah]

 

Sumber: https://shahihfiqih.com/nasehat-ulama/siapakah-yang-dimaksud-ahlul-quran/

LARANGAN MENYEBUT NON-MUSLIM YANG SUDAH MENINGGAL DUNIA DENGAN ALMARHUM

LARANGAN MENYEBUT NON-MUSLIM YANG SUDAH MENINGGAL DUNIA DENGAN ALMARHUM

  بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahSunnah

LARANGAN MENYEBUT NON-MUSLIM YANG SUDAH MENINGGAL DUNIA DENGAN ALMARHUM

Kata almarhum (المرحوم) adalah bentuk objek (maf’ul) dari kata kerja rahima-yarhamu (رحم – يرحم) yang artinya merahmati atau memberikan rahmat. Jadi almarhum (المرحوم) secara bahasa, maknanya adalah orang yang dirahmati, yakni dirahmati oleh Allah ta’ala.

Penggunaan dalam Bahasa Indonesia

Di Indonesia atau masyarakat rumpun Melayu pada umumnya, kata almarhum itu sudah menjadi semacam ‘gelar khusus’ bagi orang yang sudah meninggal dunia. Jadi kata almarhum atau almarhumah yang mengiringi sebuah nama, bisa dipastikan bahwa itu adalah orang yang sudah meninggal dunia. Nah, karena kata ini begitu akrab dengan bau-bau kematian, orang Indonesia yang masih hidup tidak akan mau disebut almarhum.

Penggunaan yang Salah Kaprah

Penggunaan kata almarhum sebagai kata pengganti orang yang telah mati tentu saja tidak tepat. Karena esensi kata almarhum itu sendiri BUKANLAH gelar, melainkan sebagai doa dari yang hidup kepada yang sudah meninggal dunia.Sebagaimana kata almarhum itu sendiri artinya orang yang dirahmati. Jadi penyebutan almarhum bermakna: Semoga Allah merahmatinya.

Demikianlah yang lazim ada dalam kitab-kitab para ulama kita temui. Biasanya bila disebutkan nama mereka, diberikan embel-embel gelar. Allahu yarham, al Marhum, atau rahimahullah.  Yang terakhir ini lebih lazim dan popular: Rahimahullah. Misalnya kita dapati dalam kitab-kitab kata: al Imam al Ghazali rahimahullah, al Imam Nawawi rahimahullah artinya: al Imam al Ghazali yang semoga Allah merahmatinya, al Imam Nawawi yang semoga Allah merahmatinya. Tapi almarhum juga digunakan, hanya biasanya ini diperuntukkan untuk ulama-ulama kontemporer semisal yang kita temui dalam al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah  (1/38) dan kitab al Fiqh al Islami waadillatuhu ( 1/37) ketika menyebut almarhum Fadhilatussyaikh Muhammad Abu Zuhrah.

Hukum Pengunaannya

Kata almarhum jika diniatkan sebagai bentuk doa kepada orang yang sudah meninggal, maka hukumnya boleh, asalkan yang disebut itu adalah orang Islam, terlebih bila semasa hidupnya dia dikenal sebagai orang yang saleh, apalagi ulama.[1].  Adapun bila kata almarhum itu digunakan kepada orang kafir, maka hukumnya HARAM, sebagaimana hukum haramnya mendoakan orang kafir yang telah meninggal dunia.

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Dan tidaklah layak bagi Nabi dan dan orang-orang beriman memohon ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun mereka itu orang-orang itu kerabatnya, setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu penghuni Neraka Jahanam” (QS. At-Taubah 113)

Wallahu a’lam.

 

Catatan Kaki:

[1] Demikian sebenarnya juga fatwa dari ulama-ulama yang dinukil oleh kalangan yang mengharamkan penggunaan kata almarhum, lihat Kutub wa Rasail Syaikh Ibnu Utsaimin 82/15-16, Liqa’ Al Bab Al Maftuh 11/28, Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 3/85).

ZUHUD DAN WARA

ZUHUD DAN WARA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

ZUHUD DAN WARA

Ibnul Qayyim mendengar gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

 . . الزهد ترك مالا ينفع في الآخرة والورع : ترك ما تخاف ضرره في الآخرة . .

“Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk Akhirat, sedangkan wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang membawa mudarat di Akhirat.” [Madarijus Salikin, 2 : 10]