Posts

,

JADILAH ANAK-ANAK AKHIRAT

JADILAH ANAK-ANAK AKHIRAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
JADILAH ANAK-ANAK AKHIRAT
 
“Dunia itu membelakangi/membokongi kita, sedangkan Akhirat itu menghadap kepada kita. Para ulama mengatakan, alangkah anehnya orang yang menghadap kepada sesuatu yang membelakangi dia, dan membelakangi sesuatu yang menghadap kepadanya.
 
Aneh, seharusnya kita menghadap kepada sesuatu yang menghadap kepada kita, dan membelakangi kepada sesuatu yang membelakangi kita. Manusia tertipu dunia, dunia memberikan belakangnya. Masing-masing dunia dan Akhirat memiliki anak-anak.
 
Jadilah kamu anak-anak Akhirat , dan janganlah kamu menjadi anak-anak dunia. Karena pada hari ini adalah tempat untuk beramal, kita tidak dihisab di dunia ini. Dan besok ketika kita mati dan berada di Akhirat, akan ada hisab dan tidak ada amal.”
 
[Ustaadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafidzhahullahu]

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
www.nasihatsahabat.com

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

#jadilahanakanakAkhirat, #larangan, #dilarang, #jadianakanakdunia, #duniainihina, #duniapenjarabagiorangmukmin, #duniaSurgabagiorangkafir

,

MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA KEPADA ORANG KAFIR BISA MURTAD TANPA SADAR

MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA KEPADA ORANG KAFIR BISA MURTAD TANPA SADAR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA KEPADA ORANG KAFIR BISA MURTAD TANPA SADAR
 
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:
 
ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﺑﺎﻷﻋﻴﺎﺩ ﻓﻬﺬﻩ ﺣﺮﺍﻡ ﺑﻼ ﺷﻚ، ﻭﺭﺑﻤﺎ ﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮ؛ ﻷﻥ ﺗﻬﻨﺌﺘﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﺭﺿﺎ ﺑﻬﺎ، ﻭﺍﻟﺮﺿﺎ ﺑﺎﻟﻜﻔﺮ ﻛﻔﺮ، ﻭﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺗﻬﻨﺌﺘﻬﻢ ﺑﻤﺎ ﻳﺴﻤﻰ ﺑﻌﻴﺪ ﺍﻟﻜﺮﺳﻤﺲ، ﺃﻭ ﻋﻴﺪ ﺍﻟﻔَﺼْﺢ ﺃﻭ ﻣﺎ ﺃﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ، ﻓﻬﺬﺍ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﻃﻼﻗﺎً
 
“Adapun mengucapkan selamat hari raya (agama lain), maka ini HARAM tanpa diragukan lagi. Dan bisa jadi seseorang tidak selamat dari kekafiran, karena mengucapkan selamat hari raya kepada orang-orang kafir merupakan bentuk keridaan terhadap hari raya mereka. Padahal RIDA TERHADAP KEKAFIRAN MERUPAKAN KEKAFIRAN, termasuk mengucapkan “Selamat hari Natal” atau”Hari Paskah” atau yang semisalnya. Jadi semacam ini TIDAK BOLEH SAMA SEKALI.
 
ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻬﻨﺌﻮﻧﺎ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻧﺎ ﻓﺈﻧﻨﺎ ﻻ ﻧﻬﻨﺌﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ،
 
Walaupun mereka juga mengucapkan selamat terhadap hari raya kita, maka kita tetap tidak boleh untuk mengucapkan selamat terhadap hari raya mereka.
 
ﻭﺍﻟﻔﺮﻕ ﺃﻥّ ﺗﻬﻨﺌﺘﻬﻢ ﺇﻳﺎﻧﺎ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻧﺎ ﺗﻬﻨﺌﺔ ﺑﺤﻖ، ﻭﺃﻥ ﺗﻬﻨﺌﺘﻨﺎ ﺇﻳﺎﻫﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﺗﻬﻨﺌﺔ ﺑﺒﺎﻃﻞ
 
Perbedaannya, karena ucapan selamat mereka terhadap hari raya kita adalah ucapan selamat terhadap kebenaran, sedangkan ucapan selamat kita terhadap hari raya mereka adalah ucapan selamat terhadap kebatilan.
 
ﻓﻼ ﻧﻘﻮﻝ: ﺇﻧﻨﺎ ﻧﻌﺎﻣﻠﻬﻢ ﺑﺎﻟﻤﺜﻞ ﺇﺫﺍ ﻫﻨﺆﻭﻧﺎ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻧﺎ ﻓﺈﻧﻨﺎ ﻧﻬﻨﺌﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻟﻠﻔﺮﻕ ﺍﻟﺬﻱ سمعتم
 
Jadi kita tidak mengatakan, bahwa kita membalas perbuatan mereka dengan cara yang sama, yaitu jika mereka mengucapkan selamat terhadap hari raya kita, maka kita membalas dengan mengucapkan selamat terhadap hari raya mereka, karena adanya perbedaan yang telah kalian dengar.”
 
 https://youtu.be/_FENNzaK15Q
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#ucapan, #selamatnatal, #selamathariraya, #orangkafir, #bisamurtadtanpasadar, #murtadtanpasadar, #murtad, #larangan, #dilarang, #mengucapkan#Natalan #MerryChristmas,#ChristmaskeluardariIslam
,

BOLEHKAH KITA BERPUASA PADA HARI JUMAT SAJA?

BOLEHKAH KITA BERPUASA PADA HARI JUMAT SAJA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

BOLEHKAH KITA BERPUASA PADA HARI JUMAT SAJA?
>> Hukum Puasa Qadha Di Hari Jumat
 
Pertanyaan:
Saya pernah mendengar, kita dilarang melakukan puasa di hari Jumat saja. Apakah larangan ini berlaku untuk puasa qadha? Artinya, jika saya mengqadha utang puasa Ramadan di hari Jumat saja, apakah dibolehkan?
 
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du
 
Pertanyaan semacam ini pernah disampaikan kepada Imam Ibnu Baz, beliau menjelaskan:
Ya, boleh berpuasa pada hari Jumat, baik puasa sunah maupun qadha, tidak masalah. Hanya saja, tidak boleh mengkhususkan hari Jumat untuk puasa sunah. Namun jika dia berpuasa sehari sebelum atau sehari setelahnya, tidak masalah. Nabi ﷺ bersabda:
 
لا يصومن أحد يوم الجمعة إلا أن يصوم يوماً قبله أو يوماً بعده
 
“Janganlah kalian berpuasa pada hari Jumat, kecuali dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” [HR. Bukhari]
 
Selanjutnya beliau menegaskan:
 
المقصود المنهي عنه هو أن يصومه وحده تطوعاً، فرداً هذا هو المنهي عنه.
 
“Maksud dari larangan itu adalah berpuasa sunah pada hari Jumat saja. Itulah yang dilarang.” [Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/13464]
 
Hal yang sama jjuga difatwakan oleh Lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih. Dinyatakan;
 
Disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
لا تخصوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالي، ولا تخصوا يوم الجمعة بصيام من بين الأيام؛ إلاّ أن يكون في صوم يصومه أحدكم
 
“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat untuk tahajud, sementara malam yang lain tidak. Dan jangan mengkhususkan Jumat untuk berpuasa tanpa hari yang lain. Kecuali jika puasa hari Jumat itu bagian rangkaian puasa kalian.” [HR. Muslim]
 
Hadis ini menjadi dalil, makruhnya mengkhususkan hari Jumat untuk puasa. Dan Nabi ﷺ memberikan pengecualian, itu boleh jika bertepatan dengan rangkaian puasa seseorang.
 
Oleh karena itu, kami nyatakan:
 
Puasa di hari Jumat saja hukumnya sah, hanya saja makruh. Karena itu, jika kita mampu untuk melakukan puasa qadha sehari sebelum atau sesudah Jumat, maka itu lebih baik, sehingga tidak melanggar yang makruh. Tapi jika kita tidak mampu, maka kita boleh melakukan puasa pada hari Jumat untuk qadha, insyaaAllah tidak masalah.
 
 
 
 
Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sifatpuasaNabi, #hukum, #qadhapuasa, #qodhopuasa, #puasahariJumat, #larangan, #dilarang, #puasasunnah
,

DILARANG MENGERASKAN SENDAWA

DILARANG-MENGERASKAN-SENDAWA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
DILARANG MENGERASKAN SENDAWA
>> Hukum Bersendawa
Pertanyaan:
Kalau makan setelah kenyang bersendawa, apa boleh bersendawanya dengan bunyi atau suara yang kencang?
 
Jawaban
Bismillah, Alhamdulillah wash-shalatu was-salam ‘ala Nabiyyina Muhammad, amma ba’du.
 
Terdapat hadis dari Abdullah bin Umar, Abu Juhaifah, Abdullah bin ‘Amru, Abdullah bin ‘Abbas dan dari hadis Salman tentang tidak disenanginya bersendawa. Hadis tersebut dengan lafal:
 
كف عنا جشاءك ، فإن أكثرهم شبعا في الدنيا ، أطولهم جوعا يوم القيامة
 
“Tahanlah dari kami sendawamu, karena sesungguhnya seseorang yang paling sering kenyang di dunia makan, dia akan paling panjang rasa laparnya di Hari Kiamat.”
 
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi di dalam as-Sunan,Ibnu Majah di dalam as-Sunan, al-Hakim di dalam al-Mustadrak dan selain mereka, Asy-Syaikh al-Albani menghukumi hadis ini dengan hukum Hasan Lighairihi dengan berbagai macam jalur periwayatannya.
 
Namun jalan-jalan periwayatan hadis ini TIDAK satu pun yang luput dari cela. Bahkan sanadnya sangat lemah. Ibnu Abi Hatim di dalam al-‘Ilal no. 1910 mengutip dari bapak beliau, “Hadis ini adalah hadis yang mungkar.” Dan di bagian lainnya, beliau mengatakan, “Hadis ini adalah hadis yang batil, …”
 
Dengan demikian, bersendawa BUKANLAH hal terlarang secara syari. Namun walau bersendawa dengan suara yang kencang/keras di hadapan kaum manusia bukanlah suatu yang haram, akan tetapi merupakan prilaku yang tidak sejalan dengan adab dan akhlak yang mulia. Dan sepatutnya bilamana seseorang hendak bersendawa, dia menahannya semampunya, ataulah menutup mulutnya dengan tangan kirinya.
Wallahul ta’ala A’lam bish-shawab.
Penulis: Ustadz Rishky AR
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#dilarang, #larangan, #mengeraskan, #keraskan, #sendawa, #hukumnya, #bersendeawa, #sendawa, #glegean, #masukangin #mungkar, #batil, #bathil, #hadist, #hadits #palingseringkenyangdidunia, #palingpanjangrasalaparnyadiHariKiamat
, , ,

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong. “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” [HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadis ini Maudhu’]. Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [Madarijus Salikin, 1: 176]

Hadis di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadis berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain), dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan [Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri]

Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihati berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan, dan merasa diri lebih baik dari orang lain.

Jangan sombong sampai merasa bersih dari dosa, atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.

Semoga Allah memberikan hidayah demi hidayah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/11241-mengejek-orang-yang-berbuat-dosa.html

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

LARANGAN MENGGANGGU MERPATI DAN SEKADAR BERNIAT MAKSIAT DI MAKKAH DAN MADINAH

LARANGAN MENGGANGGU MERPATI DAN SEKADAR BERNIAT MAKSIAT DI MAKKAH DAN MADINAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
LARANGAN MENGGANGGU MERPATI DAN SEKADAR BERNIAT MAKSIAT DI MAKKAH DAN MADINAH
 
Larangan berbuat kerusakan, secara jelas kita dapatkan pada hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
حَرَّمَ اللَّهُ مَكَّةَ فَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَلَا لِأَحَدٍ بَعْدِي أُحِلَّتْ لِي سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ لَا يُخْتَلَى خَلَاهَا وَلَا يُعْضَدُ شَجَرُهَا وَلَا يُنَفَّرُ صَيْدُهَا
 
Allah telah mengharamkan kota Makkah. Maka tidak dihalalkan buat seorang pun sebelum dan sesudahku melakukan pelanggaran di sana, yang sebelumnya pernah dihalalkan buatku beberapa saat dalam suatu hari. Di Makkah tidak boleh diambil rumputnya, dan tidak boleh ditebang pohonnya, dan tidak boleh diburu hewan buruannya. [HR Bukhari]
 
Allah juga mengkisahkan doa Nabi Ibrahim dalam Al Baqarah ayat 126:
 
{وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
 
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan Hari Kemudian.
 
Juga dalam surat Ibrahim: 35:
 
{وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ} [ابراهيم: 35]
 
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.
 
Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al Badr menjelaskan:
 
Allah menyeru dalam kitab-Nya hal penjagaan keamanan negeri tersebut ( Makkah ). Dan Allah memperingatkan dengan keras, bagi siapa saja yang berupaya untuk merusak keamanan dan mengganggu ketenangan di negeri tersebut, atau berupaya membuat ketakutan, kepanikan, kecemasan pada penduduk dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.
 
Bahkan Allah azza wa jalla menjadikan keamanan di negeri tersebut termasuk kepada binatang-binatang ternak, hewan-hewan dan termasuk juga tanaman-tanaman. Tidak boleh berburu dan tidak boleh mengganggu (membuat lari), juga tidak boleh asal memotong pohon-pohon. Dan semua tindakan di atas adalah upaya menjaga keamanan negeri tersebut. Sebagaimana firman Allah:
 
و من دخله كان ءامنا
 
“Dan barang siapa memasukinya, amanlah dia” [QS Ali Imron 97]
 
Dan ayat-ayat mengenai perkara menjaga keamanan (Makkah) sangat banyak, di antaranya firman Allah:
 
{وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ} [الحج: 25]
 
Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih. [QS Al Hajj: 25]
 
Bahkan ayat tersebut menjelaskan, Man yurid, siapa yang sekadar berniat, mempunyai keinginan di hati untuk berbuat penyimpangan, kejahatan, diancam oleh Allah dengan siksa yang pedih.
 
وقال الثوري ، عن السدي ، عن مرة ، عن عبد الله قال: ما من رجل يهم بسيئة فتكتب عليه
 
Sufyan Ats Tsauri telah meriwayatkan dari As Saddi, dari Murrah, dari Abdullah Ibnu Mas’ud yang mengatakan, bahwa tiada seorang yang berniat akan melakukan suatu perbuatan jahat (di Tanah Suci), melainkan dicatatkan baginya niat jahatnya itu [Lihat tafsir ibnu Katsir].
 
Kembali lagi, berhati-hatilah untuk sekadar menghalau atau mengusir burung-burung merpati di Tanah Haram, karena dalam Shahih Bukhari, disebutkan lebih detail lagi hadis di atas:
 
وَعَنْ خَالِدٍ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ هَلْ تَدْرِي مَا لَا يُنَفَّرُ صَيْدُهَا هُوَ أَنْ يُنَحِّيَهُ مِنْ الظِّلِّ يَنْزِلُ مَكَانَهُ
 
Dan dari Khalid dari ‘Ikrimah: “Apakah kamu mengerti yang dimaksud dengan dilarang memburu binatang buruan? Yaitu menyingkirkannya dari tempat berlindung yang dijadikannya tempat bersinggah”.
 
Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata:
 
لو رأَيْتُ الظِّباءَ بالمدينةِ تَرتَعُ ما ذَعَرْتُها، قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: ما بينَ لابَتَيْها حَرامٌ
 
Seandainya aku melihat seekor rusa berkeliaran di Madinah, aku tidak akan membuatnya terkejut (mengganggunya). Sebab Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Antara dua kawasan berbatu hitam (Madinah) adalah Tanah Haram” [HR Bukhari]
 
Semua hal ini berlaku untuk Makkah dan Madinah, sebagaimana sabda nabi ﷺ:
 
إنَّ إبراهيمَ حرَّم مكةَ ، و دعا لها ، و إنِّي حرَّمتُ المدينةَ ، كما حرَّم إبراهيمُ مكةَ ، و دعوتُ لها في مُدِّها و صاعِها مثلَ ما دعا إبراهيمُ لمكةَ .
 
Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Makkah serta berdoa untuknya. Dan aku telah mengharamkan Madinah, sebagaimana Ibrahim mengharamkan Makkah. Dan berdoa untuknya, agar mud dan sho’nya diberkahi, sebagaimana Ibrahim berdoa untuk Makkah. [HR Bukhari].
 
Nah, berhati-hatilah. Bahkan hanya sekadar berniat untuk berbuat suatu maksiat, kezaliman atau kejahatan… Naudzubillahi min dzalik.
 
 
– Amnu Bilad, Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Badr, penjelasan dari ustadz Aris Munandar
– Tafsir Ibnu Katsir
– Fathul Bari, Ibnu Hajar Asqolaniy.

JANGAN SUKA MENGHITUNG-HITUNG SEDEKAH

JANGAN SUKA MENGHITUNG-HITUNG SEDEKAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
JANGAN SUKA MENGHITUNG-HITUNG SEDEKAH
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
أنفقي ولا تحصي فيحصي الله عليك ولا توعي فيوعي الله عليك
 
“Berinfaklah dan jangan menghitung-hitung, niscaya Allah akan hitung-hitung rezeki-Nya padamu. Dan jangan kamu menahan-nahan, niscaya Allah akan menahan-nahan rezeki-Nya padamu.” [HR Al Bukhari].
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ
 
“Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau menyedekahkannya). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan berkah rezeki tersebut [Lihat tafsiran hadis ini sebagaimana yang disampaikan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, 3/300, Darul Ma’rifah, 1379]. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” [HR. Bukhari no. 1433 dan Muslim no. 1029, 88]
 
Hadis ini dibawakan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi dalam Riyadhus Shalihin pada Bab “Kemuliaan, berderma dan berinfaq”, hadis no. 559 (60/16).
 
Sumber:
,

TIDAK ADA WASIAT UNTUK AHLI WARIS

TIDAK ADA WASIAT UNTUK AHLI WARIS
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#FikihWarisan
 
TIDAK ADA WASIAT UNTUK AHLI WARIS
>> Apakah Warisan Boleh Pakai Wasiat?
 
Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
 
Pertanyaan:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Kenapa Islam melarang wasiat untuk Ahli Waris?
 
Jawaban:
Islam MELARANG WASIAT UNTUK AHLI WARIS karena hal ini akan melanggar ketentuan-ketentuan Allah Azza wa Jalla. Sebab Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan hukum-hukum pembagian waris, sebagaimana firman-Nya:
 
“Artinya: (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya. Niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga, yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya. Dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api Neraka, sedang ia kekal di dalamnya.Dan baginya siksa yang menghinakan”. [An-Nisa 13-14]
 
Jika seseorang mempunyai seorang anak perempuan dan seorang saudara perempuan sekandung umpamanya, maka si anak mempunyai hak setengahnya sebagai bagian yang telah ditetapkan (fardh), sementara saudara perempuannya berhak atas sisanya sebagai ashabah. Jika DIWASIATKAN sepertiganya untuk anak perempuannya, umpamanya, berarti si anak akan mendapat dua pertiga bagian, sementara saudara perempuannya mendapat sepertiga bagian saja. Ini berarti PELANGGARAN terhadap ketetapan Allah.
 
Demikian juga jika ia mempunyai dua anak laki-laki, maka ketentuannya, bahwa masing-masing berhak atas setengah bagian. Jika DIWASIATKAN sepertiganya untuk salah seorang mereka, maka harta tersebut menjadi tiga bagian. Ini merupakan PELANGGARAN terhadap ketetapan Allah dan haram dilakukan.
 
Demikian ini jika memang dibolehkan mewasiatkan harta warisan untuk Ahli Waris, maka tidak ada gunanya ketentuan pembagian warisan itu. Dan tentu saja manusia akan bermain-main dengan wasiat sekehendaknya, sehingga ada Ahli Waris mendapat bagian lebih banyak, sementara yang lain malah bagiannya berkurang.
 
[Fatawa Nur Ala Ad-Darb, Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 2, hal 558]
 
[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Muthofa Aini dkk, Penerbit Darul Haq]
 
 
,

YANG MAU BERQURBAN JANGAN POTONG RAMBUT DAN KUKU

YANG MAU BERKURBAN JANGAN POTONG RAMBUT DAN KUKU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#FikihKurban

 

YANG MAU BERKURBAN JANGAN POTONG RAMBUT DAN KUKU

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

“Siapa saja yang ingin berkurban, dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berkurban.” [HR. Muslim no. 1977]

Maka hadis ini menunjukkan TERLARANGNYA memotong rambut dan kuku bagi orang yang ingin berkurban, setelah memasuki 10 hari awal Dzulhijah (mulai dari 1 Dzulhijah).

Maka Diingatkan!

Bagi Shahibul Qurban yang ingin berkurban diingatkan. bahwa 1 Dzulhijjah, diperkirakan jatuh pada 22 Agustus 2017 waktu tenggelam matahari (Maghrib), dilarang memotong kuku dan rambut. Makanya sebelum waktu tersebut sebaiknya sudah bersih-bersih diri dengan memotong kuku dan rambut.

Sesuai hadis, maka larangan ini berlaku hingga hewan kurban disembelih.

Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, @rumayshocom
Sumber: Twitter @IslamDiaries

 

, ,

BOLEHKAH WANITA HAID MEMANDIKAN JENAZAH DAN MENGAFANINYA?

BOLEHKAH WANITA HAID MEMANDIKAN JENAZAH DAN MENGAFANINYA?

سْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MuslimahSholihah, #FikihJenazah

BOLEHKAH WANITA HAID MEMANDIKAN JENAZAH DAN MENGAFANINYA?

Pertanyaan:

Bolehkah wanita yang dalam keadaan haid (menstruasi) memandikan jenazah dan mengafaninya?

Jawaban:

BOLEH bagi wanita yang dalam keadaan haid (menstruasi) memandikan jenazah wanita dan mengafaninya, dan boleh pula bagi wanita memandikan jenazah dari kalangan laki-laki hanya suaminya saja (Adapun selain suaminya dari kalangan laki-laki, TIDAK BOLEH bagi wanita memandikannya). Jadi haid BUKAN penghalang untuk memandikan jenazah sesama wanita atau suaminya.  [Lihat Fatawa al-Lajnah ad-Da`imah no. 6193]

 

Sumber: