Posts

, ,

BAGAIMANA SYARATNYA AGAR MLM MENJADI HALAL?

BAGAIMANA SYARATNYA AGAR MLM MENJADI HALAL?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BAGAIMANA SYARATNYA AGAR MLM MENJADI HALAL?

Bandingkan Dengan MLM Yang Ada Di Indonesia

Kontroversi mengenai bisnis dengan metode Multi Level Marketing (MLM) telah lama menyebar. Para ulama pun telah mevonis aktivitas ini sebagai cara bisnis yang menzalimi orang lain dan memakan harta atau hasil keringat orang lain tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat.

Namun demikian, masih ada pihak-pihak yang tetap menggandrungi bisnis ini dan tidak memerdulikan status hukumnya dalam kaca mata syariat Islam. Berikut ini ada sebuah artikel menarik, bagaimana MLM yang telah divonis terlarang tersebut bisa menjadi diperbolehkan dan halal, apabila memenuhi kriteria yang dihalalkan.

Ada tiga syarat yang harus dipenuhi agar marketing dengan sistem MLM hukumnya halal:

  • Pertama, orang yang ingin memasarkan produk TIDAK diharuskan untuk membeli produk tersebut.
  • Kedua, harga produk yang dipasarkan dengan sistem MLM itu tidak boleh lebih mahal dari pada harga wajar untuk produk sejenis. Hanya ada dua pilihan harga semisal dengan harga produk sejenis atau malah lebih murah.
  • Ketiga, orang yang ingin memasarkan produk tersebut tidak disyaratkan harus membayar sejumlah uang tertentu untuk menjadi anggota.

Jika tiga syarat ini bisa dipenuhi, maka sistem MLM yang diterapkan adalah sistem yang tidak melanggar syariat.

Namun bisa dipastikan bahwa tiga syarat ini tidak mungkin bisa direalisasikan oleh perusahaan yang menggunakan MLM sebagai sistem marketingnya. Jika demikian, maka sistem marketing ini TERLARANG, karena merupakan upaya untuk memakan harta orang lain dengan cara cara yang tidak bisa dibenarkan.

Demikian penjelasan Syaikh Dr. Abdullah bin Nashir al Sulmi sebagaimana bisa disimak di sini: https://youtu.be/Ij5swUzbBWU

[Artikel www.PengusahaMuslim.com]

Sumber: https://aslibumiayu.net/9054-bagaimana-syaratnya-agar-mlm-menjadi-halal-bandingkan-dengan-mlm-yang-ada-di-indonesia.html

,

SYURUT UMAR BIN KHATAB

SYURUT UMAR BIN KHATAB

#DakwahTauhid

#SelamatkanAkidahmu

SYURUT UMAR BIN KHATAB

  • Salah Satu Contoh Bentuk Toleransi dalam Islam

Untuk yang pernah menyimak sejarah Khalifah Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, tentu pernah mendengar tentang Syurut Umar, aturan dan tata tertib yang dibuat Umar untuk orang Nasrani yang tinggal di dataran Syam (Palestina, Yordania, Suriah, dan Lebanon). Orang Nasrani di daerah Syam TIDAK DIPAKSA untuk pindah ke agama Islam dan tetap bertahan di agama Nasraninya, dan status mereka sebagai Ahlu Dzimmah.

Di bagian akhir tata tertib itu Umar menyatakan:

فإن خالفوا شيئاً مما اشترطوا عليهم فلا ذمة لهم وقد حل للمسلمين منهم ما يحل من أهل المعاندة والشقاق‏

“Apabila mereka melanggar salah satu dari aturan untuk mereka, maka tidak ada jaminan perlindungan untuk mereka dan kaum Muslimin berhak untuk menyikapi mereka sebagaimana mana layaknya orang kafir yang melawan dan menentang.”

Umar radhiyallahu ‘anhu, menetapkan tata tertib ini menjadi aturan baku bagi kaum Muslimin daerah Syam, karena ketika itu daerah Syam telah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan kaum Muslimin. Saking pentingnya perjanjian ini, hingga kasus melanggar perjanjian ini akan mendapat ANCAMAN BERAT, diperlakukan layaknya orang non-Muslim yang menentang. Bisa dihukum bunuh, penjaga, atau pengusiran.

Seberat apa Syurut Umar bagi orang Nasrani itu? Berikut di antara poin-poin aturan yang ditetapkan Umar untuk orang Nasrani:

ولا نضرب نواقيسنا إلا ضربا خفيا في جوف كنائسنا

”Kami tidak boleh membunyikan lonceng, kecuali pelan dan dibunyikan di dalam gereja.”

ولا نظهر عليها صليبا

”Kami tidak boleh menampakkan salib di atas gereja.”

ولا نخرج صليبا ولا كتابا في أسواق المسلمين

”Kami tidak boleh menampakkan salib dan Injil di pasar kaum Muslimin.”

وألا نخرج باعوثا ولا شعانين ولا نرفع أصواتنا مع موتانا ولا نظهر النيران معهم في أسواق المسلمين

”Kami tidak keluar dalam rangka merayakan hari raya, kami tidak membunyikan suara ketika mengiring mayat kami, dan tidak membawa api (ibadah), ketika bersama kaum Muslimin di pasar.”

Syurut ini menjadi kesepakatan bersama antara kaum Muslimin dan orang Nasrani yang tinggal di negeri Muslim. Syurut Umar menjadi salah satu acuan bagi para ulama setelah generasi sahabat, untuk menjawab setiap kasus yang berkaitan perayaan agama di luar Islam.

Dalam kitab Ahkam Ahli Dzimmah dinyatakan:

وكما أنهم لا يجوز لهم إظهاره فلا يجوز للمسلمين ممالأتهم عليه ولا مساعدتهم ولا الحضور معهم باتفاق أهل العلم الذين هم أهله

”Sebagaimana mereka (orang Nasrani) tidak diizikan untuk menampakkan hari rayanya, maka tidak boleh bagi kaum Muslimin untuk turut serta bersama mereka dalam perayaan itu, atau membantu mereka, atau menghadiri Natalan bersama mereka, dengan sepakat ulama, yang mereka memahami kasus ini.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 3/87).

Abul Qosim, Hibatullah bin Hasan as-Syafii mengatakan:

ولا يجوز للمسلمين أن يحضروا أعيادهم لأنهم على منكر وزور وإذا خالط أهل المعروف أهل المنكر بغير الإنكار عليهم كانوا كالراضين به المؤثرين له فنخشى من نزول سخط الله على جماعتهم فيعم الجميع نعوذ بالله من سخطه

Kaum Muslimin tidak boleh menghadiri hari raya mereka, karena mereka berada di atas kemungkaran. Jika orang baik berada di tempat yang sama dengan orang yang melakukan kemungkaran, tanpa ada pengingkaran kepada mereka, statusnya sebagaimana orang yang ridha terhadap kemungkaran itu, dan akan memberikan dampak kepadanya. Kami khawatir akan turut murka Allah kepada jamaah itu, sehingga mengenai semuanya. Kami berlindung kepada Allah dari murka-Nya.

Umar bin Khatab mengatakan:

ولا تدخلوا على المشركين في كنائسهم يوم عيدهم، فإنَّ السَّخطة تنزل عليهم

”Janganlah kalian bergabung bersama orang musyrik dalam gereja mereka ketika hari raya mereka. Karena murka Allah sedang turun kepada mereka.” (HR. Abdurazaq dalam Mushanaf 9061, al-Baihaqi dalam al-Kubro, 9/432).

Umar bin Khatab juga mengatakan:

اجتنبوا أعداء الله في عيدهم

”Hindari para musuh Allah di hari raya mereka.”

Diriwayatkan oleh Abdul Malik bin Habib, bahwa Ibnul Qosim , murid Imam Malik, pernah ditanya tentang hukum naik perahu, yang saat itu ditumpangi banyak orang Nasrani untuk menghadiri perayaan Natal mereka. Ibnul Qosim melarangnya, karena takkut akan turun murka Allah kepada mereka, disebabkan perbuatan kesyirikan yang mereka lakukan.

Ibnu Habib juga mengatakan:

وكره ابن القاسم للمسلم أن يهدي إلى النصراني في عيده مكافأة له ورآه من تعظيم عيده وعونا له على كفره

Ibnul Qosim juga membenci ketika kaum Muslimin memberikan hadiah kepada orang Nasrani di hari raya mereka, sebagai balas budi baginya. Beliau menganggap itu termasuk memuliakan perayaan mereka dan membantu mereka melakukan kekufuran [Ahkam Ahli Dzimmah, 3/87].

Kita merenung sejenak, andaikan umat Muslim saat ini hidup di zaman Umar, kemudian ada salah satu ’Generasi Liberal’ yang memfatwakan, boleh mengucapkan selamat Natal, kira-kira, apa yang akan dilakukan Umar kepada ’Generasi Liberal’ ini? Bukankah ini pengkhianatan?

Suami Muslim Berhak Melarang Istrinya yang Nasrani untuk Merayakan Natal

Pernyataan di atas ditegaskan oleh Al-Imam As-Syafii dalam bukunya al-Umm:

وله منعها من الكنيسة والخروج إلى الاعياد وغير ذلك مما تريد الخروج إليه ، إذا كان له منع المسلمة إتيان المسجد وهو حق ، كان له في النصرانية منع إتيان الكنيسة لانه باطل

”Suami BOLEH melarang istrinya yang Nasrani untuk mendatangi gereja dan mendatangi perayaan mereka atau acara lainnya yang mengundang pengikut Nasrani. Jika seorang suami boleh melarang istrinya yang Muslimah untuk menghadiri jamaah di masjid, dan itu dibenarkan, maka suami Muslim berhak melarang istrinya yang Nasrani untuk mendatangi gereja, karena itu tindakan kebatilan.” (al-Umm, 5/8 – 9).

Apakah sikap Imam as-Syafii bertentangan dengan asas toleransi beragama?  Jawabannya TIDAK.

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Sikap Ulama Terhadap Natal’ yang ditulis oleh:  Al-Ustadz Ammi Nur Baits hafizhahullah  (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/21391-fatwa-mui-dan-sikap-ulama-terhadap-Natal.html

KEHORMATAN SEORANG MUSLIM KETIKA SUDAH MATI STATUSNYA SAMA DENGAN KEHORMATANNYA KETIKA MASIH HIDUP

KEHORMATAN SEORANG MUSLIM KETIKA SUDAH MATI STATUSNYA SAMA DENGAN KEHORMATANNYA KETIKA MASIH HIDUP

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

KEHORMATAN SEORANG MUSLIM KETIKA SUDAH MATI STATUSNYA SAMA DENGAN KEHORMATANNYA KETIKA MASIH HIDUP

Jenazah muslim wajib disikapi sebagaimana orang hidup. Artinya tidak boleh dikerasi, tidak boleh dilukai, atau diambil bagian tubuhnya, apalagi dipatahkan tulangnya. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:

كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا

”Mematahkan tulang mayit, statusnya sama dengan mematahkan tulangnya ketika masih hidup.” (HR. Abu Daud 3207, Ibnu Majah 1616, dan yang lainnya).

Mengingat hadis ini, Fatawa Syabakah Islamiyah menegaskan satu kaidah:

فمن المقرر شرعاً أن حرمة المسلم وهو ميت كحرمته وهو حي، ومن ثم فلا يجوز التعدي على حرمته

”Bagian prinsip penting dalam syariat, kehormatan seorang Muslim ketika sudah mati statusnya sama dengan kehormatannya ketika masih hidup. Karena itu, tidak boleh dilanggar kehormatannya.” (Fatawa Syabakah islamiyah, no. 12511)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/21085-gigi-palsu-di-jasad-mayit.html

EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

Apakah Disunahkan Sholat Tahiyyatul Masjid di Musholla?

 

Pertanyaan:
Jika ada bangunan “langgar” namun belum diwakafkan, terkadang di tempat tersebut digunakan untuk sholat jamaah Maghrib dan Isya, apakah sudah dihukumi sebagai masjid dan padanya hukum-hukum terkait masjid?

Jawaban:
Al-Lajnah Al-Iftaa’ Al-Urduniyyah berkata:

“Alhamdulillah, shalawat dan salam tercurah pada Sayyidina Rasulillah.

Setiap tempat di permukaan bumi yang seorang sah sholat di atasnya teranggap sebagai masjid. Nabi ﷺ bersabda:

وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا

“Bumi ini dijadikan untukku sebagai masjid dan tempat yang suci” [HR. Al-Bukhari]

Namun masjid yang berlaku di dalamnya hukum-hukum fikih, adalah tempat yang diwakafkan untuk sholat, yaitu tempat yang diwakafkan dan disediakan khusus untuk sholat. Adapun definisi mushalla adalah tempat yang digunakan untuk sholat dan berdoa tanpa disyaratkan wakaf. Setiap tempat yang digunakan untuk sholat dan berdoa, baik statusnya wakaf atau bukan, disebut mushalla. Oleh karena itu, mushalla mencakup masjid dan selainnya. Setiap masjid adalah mushalla dan tidak setiap mushalla adalah masjid.

Terdapat perbedaan hukum fikih di antara keduanya:

[Pertama] Masjid adalah tempat yang diwakafkan untuk sholat, tidak sah melakukan transaksi jual-beli dan semisalnya di masjid. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

الأظهر أن الملك في رقبة الموقوف ينتقل إلى الله تعالى، أي ينفك عن اختصاص لآدمي فلا يكون للواقف ولا للموقوف عليه

“Yang nampak bahwa kepemilikan tanah yang diwakafkan berpindah pada Allah ta’ala, maksudnya terlepas dari kepemilikan manusia, bukan lagi menjadi hak milik orang yang mewakafkan, maupun pihak yang menerima wakaf” [Minhaaj Ath-Thalibin, 1/70]

Sedangkan mushalla masih mungkin dimiliki oleh pihak tertentu sehingga diperbolehkan melakukan transaksi jual-beli dan sewa-menyewa di dalamnya, serta boleh pula memindahkan mushalla ke tempat yang lain.

[Kedua] Diharamkan bagi wanita junub dan haid menetap di masjid, dan sebaliknya diperbolehkan bagi mereka menetap di mushalla. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

ويحرم بها – أي بالجنابة – ما حرم بالحدث، والمكث بالمسجد لا عبوره

“Menetap di masjid diharamkan bagi orang yang junub, namun diperbolehkan bagi orang yang berhadats atau seorang yang hanya sekedar lewat” [Minhaaj Ath-Thalibin, 1/21]

[Ketiga] Tidak sah melakukan I’tikaf dan sholat Tahiyyatul Masjid kecuali di masjid. Al-Khathiib Asy-Syirbiini rahimahullah berkata:

ولا يفتقر شيء من العبادات إلى مسجد إلا التحية والاعتكاف والطواف

“Seluruh ibadah tidak disyaratkan dilakukan di masjid, kecuali sholat Tahiyyatul masjid, I’tikaf dan Thawaf” [Mughniy Al-Muhtaaj, 5/329]

[Keempat] Diharamkan membangun lantai atau bangunan khusus di atas masjid. Disebutkan dalam Hasyiyah Ibni ‘Abidiin:

لو تمت المسجدية ثم أراد البناء – أي بناء بيت للإمام فوق المسجد – مُنع

“Seandainya pembangunan masjid telah sempurna, kemudian ia ingin menambah bangunan lain –seperti membangun rumah imam di atas masjid- maka hal itu terlarang” [Hasyiyah Ibni ‘Abidin, 3/371]

Sedangkan diperbolehkan melakukan hal itu di mushalla, karena mushalla bukan tempat wakaf, namun dengan tetap menjaga kebersihan dan kesucian tempat dari najis.

Melakukan sholat Jumat di mushalla hukumnya sah, namun yang lebih utama dilakukan di masjid. Pensyarah kitab Al-Minhaj berkata:

لأن إقامتها في المسجد ليست بشرط

“Karena melakukan sholat Jumat di masjid bukanlah syarat” [Syarh Al-Minhaaj, 2/238]. Wallahu ta’ala a’lam”

Berikut teks fatwanya:

الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله
كل بقعة من الأرض تصح الصلاة فيها تعد مسجداً؛ لقوله صلى الله عليه وسلم: (وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا) رواه البخاري. لكن المسجد الذي تترتب عليه أحكام فقهية هو المكان الموقوف للصلاة، أي الذي وُقف وحُبس ليكون مخصصاً للصلاة.
وأما المصلى فهو موضع الصلاة والدعاء، ولا يشترط فيه أن يكون موقوفاً، بل يصح أن يكون موقوفاً وغيره، فالمصلى إذن يشمل المسجد وغير المسجد، فكل مسجد مصلى وليس كل مصلى مسجداً.

ويفارق المسجد المصلى في بعض الأحكام منها:

أولاً: المسجد – كما ذكرنا -: المكان الموقوف للصلاة؛ فلا يصح التصرف فيه ببيع ونحوه. قال الإمام النووي: ” الأظهر أن الملك في رقبة الموقوف ينتقل إلى الله تعالى، أي ينفك عن اختصاص لآدمي فلا يكون للواقف ولا للموقوف عليه ” “منهاج الطالبين (1/70)، أما المصلى فيصح كونه مملوكاً لشخص معين، ويصح بيعه أو تحويله إلى مكان آخر، ويصح كونه مستأجراً.

ثانياً: يحرم على الحائض والجنب اللبث في المسجد، بينما يصح لهما المكث في المصلى. قال الإمام النووي: “ويحرم بها – أي بالجنابة – ما حرم بالحدث، والمكث بالمسجد لا عبوره” “منهاج الطالبين” 1/ 12.

ثالثاً: الاعتكاف أو تحية المسجد لا يصحان إلا في المسجد. قال الخطيب الشربيني: “ولا يفتقر شيء من العبادات إلى مسجد إلا التحية والاعتكاف والطواف” “مغني المحتاج” (5/ 329.

رابعاً: يحرم اعتلاء المسجد ببناء أو طوابق. جاء في “حاشية ابن عابدين”: “لو تمت المسجدية ثم أراد البناء – أي بناء بيت للإمام فوق المسجد – مُنع” (3/ 371)، أما المصلى فيصح ذلك لأنه ليس بموقوف، مع مراعاة المحافظة على نظافة المصلى وتنزيهه عن النجاسة.

وتصح صلاة الجمعة في المصلى، والأفضل كونها في المسجد. قال الشيخ الجمل عن صلاة الجمعة: “لأن إقامتها في المسجد ليست بشرط” “حاشية الجمل على شرح المنهج” (2/ 238). والله تعالى أعلم.

Sumber: Fatawaa Lajnah Al-Iftaa’ Al-Urduniyyah no. 2064, tertanggal 12/06/2012

Asy-Syaikh Abdul Aziiz bin Baz rahimahullah berkata:

السنة لمن أتى مصلى العيد لصلاة العيد، أو الاستسقاء أن يجلس ولا يصلي تحية المسجد؛ لأن ذلك لم ينقل عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه رضي الله عنهم فيما نعلم إلا إذا كانت الصلاة في المسجد فإنه يصلي تحية المسجد؛ لعموم قول النبي صلى الله عليه وسلم: ((إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين)) متفق على صحته.
والمشروع لمن جلس ينتظر صلاة العيد أن يكثر من التهليل والتكبير؛ لأن ذلك هو شعار ذلك اليوم، وهو السنة للجميع في المسجد وخارجه حتى تنتهي الخطبة. ومن اشتغل بقراءة القرآن فلا بأس، والله ولي التوفيق.

“Bagi seorang yang mendatangi mushalla untuk sholat ‘Ied atau mushalla untuk sholat Istisqaa, tidak disunahkan mengerjakan sholat Tahiyyatul Masjid. Hendaklah ia duduk, karena perbuatan tersebut tidak pernah dinukil dari Nabi ﷺ dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum, sebatas apa yang kami ketahui. Kecuali jika sholat Ied tersebut dilakukan di masjid, maka hukumnya tetap disunahkan berdasarkan keumuman hadis Nabi ﷺ:

إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين

“Jika salah seorang kalian memasuki masjid, janganlah ia duduk hingga melakukan sholat dua rakaat” -disepakati keshahihannya-

Disunahkan baginya untuk memerbanyak tahlil dan takbir saat menunggu ditegakannya sholat Ied, baik jamaah yang berada di dalam maupun di luar masjid, hingga selesai khutbah, karena itulah yang merupakan syi’ar di hari Ied. Barang siapa yang menyibukkan diri dengan membaca Alquran, ini pun diperbolehkan. Wallahu waliyyut taufiiq”

Sumber: Majmuu’ Fataawaa wa Maqaalaat Mutanawwi’ah jilid 13

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah pernah ditanya:

هل هناك ركعتان تحية المسجد في مصلى العيد؟

“Apakah disyariatkan melakukan sholat Tahiyyatul Masjid di mushalla Ied?

Beliau rahimahullah menjawab:

طبعا هذا ليس مسجدا فليس له تحية مسجد

“Ini bukan masjid, sehingga tidak ada sholat Tahiyyatul Masjid di dalamnya”.

 

Diterjemahkan oleh Abul-Harits

http://abul-harits.blogspot.co.id/2014/01/4-perbedaan-masjid-dan-musholla-apakah.html

 

Yang berikut adalah “Tanya Jawab dengan Al Ustadz Abul Harits”

Pertanyaan:

Menurut saya, kalau kalau musholla itu berdiri di tanah wakaf dan dipergunakan setiap hari untuk sholat berjamaah, maka berhak untuk sholat Tahiyyatul Masjid di situ. wallahu a’llam

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Anda benar. Musholla yang berdiri di atas tanah wakaf dan digunakan untuk shalat berjamaah, disunahkan shalat Tahiyyatul Masjid di dalamnya. Karena musholla tersebut telah berstatus masjid. Jadi perbedaan masjid dan musholla bukan bergantung pada besar kecilnya bangunan.

Seringkali, istilah musholla yang dimaksud oleh masyarakat kita adalah masjid yang berukuran kecil, ini KELIRU. Hal mendasar yang membedakan keduanya adalah TANAH WAKAF. Bangunan tanah wakaf yang didirikan untuk tempat shalat adalah masjid, meskipun berukuran kecil. Bangunan yang didirikan untuk tempat shalat tanpa ada tanah wakaf adalah musholla, meskipun berukuran besar. Contoh bangunan musholla yang sering kita jumpai: musholla di kantor, musholla di mall pusat perbelanjaan, musholla di sekolah, dan lainnya.

Pertanyaan:

Kalau dasar yang membedakan itu tanah wakaf [sebagaimana di kampung kami], tapi niat awal diperuntukan untuk musholla, apakah bisa dialihkan fungsi ke masjid? Atau secara tersirat seperti masjid? Mohon pencerahan. Terima kasih

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Musholla bisa dialihfungsikan sebagai masjid jika tanahnya diwakafkan. Jika dari awal memang tanahnya merupakan tanah wakaf, maka statusnya sudah masjid, meskipun dinamakan musholla oleh masyarakat. Wabillahittaufiq

Komentar:

Benar, status awal sudah tanah wakaf dan karena statusnya sudah MASJID [walau tanpa merubah kata MUSHOLLA ], artinya sudah bisa dipakai niat sholat Tahyatul Masjid atau kalau memungkinkan sholat Jumat.Terima kasih atas penjelasannya.

Pertanyaan:

Kalau tidak pernah dipakai Jumatan, sholat Lima Waktu jarang, azan tidak setiap waktu, apakah tetap disebut masjid, walaupun tanah wakaf.

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Seandainya ada masjid agung yang terletak di komplek alun-alun kota, kemudian jarang didirikan shalat Jamaah 5 waktu dan shalat Jumat, statusnya tetap sebagai masjid, meskipun tidak dimakmurkan (sepi). Jadi alasan tersebut bukan merupakan kriteria masjid.

Masjid yang dipakai shalat Jumat sering diistilahkan dengan masjid Jami’. Namun bukan berarti masjid selain masjid jami’ tidak berstatus sebagai masjid. Mudah-mudahan bisa dipahami, Allahua’lam

Pertanyaan:

Saya tinggal di sebuah Komplek Pertokoan. Di Komplek tersebut ada Mushalla sekira 8 x 8 meter….. tak jauh dari komplek (sekitar 200m) ada sebuah masjid…. ketika shalat Lima waktu tiba….. tempat mana yang harus saya pilih… apakah saya mendirikan shalat berjamaah di Mushalla komplek atau ikut berjamaah di Masjid (dan mengabaikan Mushalla komplek). Mohon pencerahan, terima kasih

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Anda boleh memilih shalat Jamaah di musholla atau di masjid. Namun yang lebih utama (afdhal), Anda shalat di masjid, karena masjid memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki oleh musholla.

Jika ada pertimbangan lain, misalkan absennya Anda dari musholla komplek menimbulkan fitnah atau salah paham, maka lebih baik Anda shalat di musholla. Jika tidak ada kekhawatiran tersebut, Anda tetap shalat di masjid, Allahua’lam

Pertanyaan:

Di dalam cluster ada tanah fasum. Karena belum ada masjid, di perumahan dibangun mushola cukup 50-60 orang. Apakah bisa dibilang masjid tanah fasum?

Beberapa tahun kemudian developer membuat masjid di luar cluster buat Jumatan.

Apakah harus pindah? Apakah masih boleh jamaah di mushola? Adakah hadis yg menyebutkan sholat fardhu di masjid jami lebih utama daripada di masjid dalam cluster?

Mohon jawabannya yang segera, untuk pemahaman ke warga.

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Kalau tanah fasum itu memang khusus disediakan untuk masjid, bukan hanya untuk sementara saja, maka musholla tersebut berstatus masjid. Namun kalo ke depannya akan dibangun masjid yang tetap, kemudian tanah fasum itu dialihkan untuk fungsi yang lain setelah dibangun masjid, maka bangunan untuk shalat itu hanya berstatus musholla.

Baik masjid maupun musholla, keduanya boleh dipakai untuk shalat jamaah lima waktu. Banyak faktor yang menjadikan shalat di salah satu masjid lebih utama dari masjid yang lain, di antaranya bacaan quran imam, jumlah jamaah shalat, jauh dekatnya, dihidupkannya sunah-sunah nabi di masjid tersebut dan faktor lainnya. Shalat berjamaah di masjid jami’ tidak lebih utama dibandingkan shalat di masjid lain. Namun shalat di masjid (baik masjid jami’ atau bukan) lebih utama dari shalat di muholla. Keutamaan suatu masjid berbeda-beda dilihat dari beberapa faktor yang saya sebutkan tadi.

 

Allahua’lam