Posts

,

ADAB-ADAB KETIKA UJIAN

ADAB-ADAB KETIKA UJIAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak

ADAB-ADAB KETIKA UJIAN

Pertama: Berusaha Disertai Tawakal

Inilah langkah awal yang selayaknya dilakukan oleh setiap yang mengharapkan keberhasilan. Usaha merupakan modal pertama meraih kesuksesan, karena sukses tidaklah serta merta turun dari langit. Perubahan hanya akan terjadi, ketika orangnya mau berusaha untuk berubah. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidaklah mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” [QS. Ar-Ra’du: 11]

Karena itu, dalam Islam tidak ada kamus tawakal tanpa usaha, karena setiap tawakal harus diawali usaha. Tawakal tanpa usaha, diistilahkan dengan tawaaakal (pura-pura tawakal).

Namun ingat, juga jangan terlalu bersandar pada usaha dan kemampuan kita. karena semuanya berada di bawah kehendak Sang Maha Kuasa. Sehebat apapun usaha kita, jangan sampai membuat kita terlalu PeDe, sehingga mengesankan tidak membutuhkan pertolongan Allah.

Allah menjanjikan, orang yang bertawakal akan dicukupi oleh Allah. sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” [QS. At-Thalaq: 3].

Sebaliknya, orang yang tidak bertawakal, maka dikhawatirkan akan diuji dengan kegagalan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ pernah bercerita: “Nabi Sulaiman pernah berikrar: “Malam ini aku akan menggilir 100 istriku. Semuanya akan melahirkan seorang anak yang akan berjihad di jalan Allah.” Beliau mengucapkan demikian, dan tidak mengatakan: “InsyaaAllah”. Akhirnya tidak ada satupun yang melahirkan, kecuali salah satu dari istrinya yang melahirkan setengah manusia (baca: manusia cacat). kemudian Nabi ﷺ bersabda:

لَوِ اسْتَثْنَى، لَوُلِدَ لَهُ مِائَةُ غُلَامٍ كُلُّهُمْ يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Andaikan Sulaiman mau mengucapkan InsyaaAllah, niscaya akan terlahir 100 anak, dan semuanya berjihad di jalan Allah.” [HR. Ahmad 7137 dan dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Siapa kita dibandingkan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam? Keinginan seorang Nabi yang tidak disertai tawakal, ternyata bisa menuai kegagalan.

Kedua: Hindari Sebab Yang Tidak Memenuhi Syariat

Ada sebagian orang yang ketika hendak ujian, dia menempuh jalan pintas. Dia menggunakan sebab yang bertolak belakang dengan syariat. Ada yang datang ke orang pintar untuk minta perewangan. Ada yang makan kitab biar bisa cepat hapal. Ada yang zikir tengah malam dengan membaca ribuan wirid yang tidak disyariatkan, dan seabreg trik lainnya untuk menggapai sukses.

Perlu kita tanamkan dalam lubuk hati kita, bahwa segala sesuatu itu bisa dijadikan sebagai sebab, jika memenuhi dua kriteria:

  • Ada hubungan sebab akibat yang terbukti secara ilmiah. Misalnya belajar dan menghapal adalah sebab untuk mendapatkan pengetahuan.
  • Jika syarat pertama tidak terpenuhi, maka harus ada syarat kedua, yaitu sebab tersebut ditentukan oleh dalil. Sehingga meskipun sebab tersebut tidak terbukti secara ilmiah memiliki hubungan dengan akibat,namun selama ada dalil, maka boleh dijadikan sebagai sebab. Contoh, meruqyah dengan bacaan Alquran untuk mengobati orang sakit. Meskipun secara ilmiah tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, apakah hubungan antara bacaan Alquran dengan pengobatan, namun mengingat ada dalil yang menegaskan hal tersebut, maka itu bisa dijadikan sebagai sebab.

Jika ada sebab yang TIDAK memenuhi dua kriteria di atas, maka menggunakan sebab tersebut hukumnya SYIRIK KECIL. Karena berarti dia telah berdusta atas nama Allah. Dia meyakini, bahwa hal itu bisa dijadikan sebab, padahal sama sekali Allah tidak menjadikan hal itu sebagai sebab.

Dan jika sebab yang ditempuh itu berupa amal, maka syaratnya harus ada dalilnya. Jika tidak, bisa jadi terjerumus ke dalam jurang dosa bid’ah.

Ketiga: Perbanyak Istighfar

Sesungguhnya salah satu sumber utama kegagalan yang terjadi pada manusia adalah dosa dan maksiat. Allah tegaskan:

وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا

“Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” [QS. As-Syura: 40]

Salah satu dampak buruk dosa adalah bisa menghalangi kelancaran rezeki, sebagaimana dinyatakan dalam hadis:

إن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه

Sesungguhnya seseorang terhalangi untuk mendapat rezeki, disebabkan dosa yang dia perbuat. [HR. Ahmad 22386 dan dihasankan Al-Albani].

Karena itu, agar kita terhindar dari dampak buruk perbuatan maksiat yang kita lakukan, perbanyaklah memohon ampunan kepada Allah. Perbanyak istighfar dalam setiap waktu yang memungkinkan untuk berizkir. Kita berharap, dengan banyak istighfar, semoga Allah memberi ampunan dan memudahkan kita untuk mendapatkan apa yang diharapkan.

Dalam sebuah hadis dinyatakan:

مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا ، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا ، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Siapa yang membiasakan istigfar, Allah akan memberikan kelonggaran di setiap kesempitan, memberikan jalan keluar di setiap kebingungan, dan Allah berikan dia rezeki dari arah yang tidak dia sangka. [HR. Abu Daud, Ibn Majah, Ahmad, Ad-Daruquthni, al-baihaqi dan yang lainnya].

Hadis ini dinilai dhaif oleh sebagian ulama. Hanya saja maknanya sejalan dengan perintah Allah di Surat Hud:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ

Perbanyaklah meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu, sampai kepada waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang memunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. [QS. Hud: 3]

Keempat: Banyak berdoa

Perbanyaklah berdoa kepada Allah, meminta segala hal yang kita butuhkan, baik dalam urusan Akhirat maupun dunia. Karena semakin sering mengetuk pintu, maka semakin besar peluang untuk dibukakan pintu tersebut. Semakin sering kita berdoa, semakin besar peluang untuk dikabulkan. Namun perlu diingat, jangan suka minta didoakan orang lain. Karena berdoa sendiri itu lebih berpeluang untuk dikabulkan, daripada harus melalui orang lain. Lebih-lebih di saat kita sedang membutuhkan pertolongan. Akan ada perasaan berharap yang lebih besar, bila dibandingkan dengan doa yang diwakilkan orang lain. Di samping itu, berdoa sendiri lebih menunjukkan ketergantungan kita kepada Allah secara langsung. Dan kita melepaskan diri dari ketergantungan pada orang lain.

Kelima: Pegang Prinsip Kejujuran dan Hindari Bentuk Penipuan

Pernahkah kita menyadari, bahwa plagiat dan mencontek ketika ujian termasuk bentuk penipuan? Adakah di antara kita yang sadar, bahwa melakukan pelanggaran dalam ujian termasuk bentuk kedustaan? Pernahkah kita merasa, bahwa hal itu membawa konsekuensi dosa? Mungkin ada di antara kita yang beranggapan, kalau itu tidak ada hubungannya dengan agama. Ini lain urusan, antara UN dengan agama. Tak ada kaitannya dengan urusan Akhirat.

Perlu kita sadari, bahwa apapun bentuk pelanggaran yang kita lakukan ketika ujian, baik itu bentuknya mencontek, plagiat, catatan, pemalsuan data dan pelanggaran lainnya, hukumnya haram dan dosa besar. Tinjauannya:

  1. Perbuatan itu terhitung sebagai bentuk penipuan, karena orang yang melihat nilai kita beranggapan, bahwa itu murni usaha kita yang dilakukan dengan jujur dan sportif. Padahal hakikatnya itu adalah hasil kerja gabungan, kerja kita dan teman-teman sekitar kita. Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa yang menipu kami, maka bukan termasuk golongan kami.” [HR. Muslim].

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, bahwa perbuatan menipu ini termasuk dosa besar, karena diancam dengan kalimat: “Bukan termasuk golongan kami”. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin Syarh hadis Bab: Banyaknya Jalan Menuju Kebaikan].

Komite Tetap Tim Fatwa Saudi pernah ditanya tentang masalah pelanggaran ketika ujian, mereka menjawab: “Menipu dalam ujian pembelajaran atau yang lainnya itu haram. Orang yang melakukannya termasuk pelaku salah satu dosa besar.

Berdasarkan hadis dari Nabi ﷺ: “Barang siapa yang menipu kami, maka dia bukan bagian kami.” Dan tidak ada perbedaan antara materi pelajaran agama maupun non agama.”

Dalam kesempatan yang sama Komite Fatwa ini juga pernah ditanya tentang hadis “Barangs iapa yang menipu kami…” kemudian mereka menjawab:

“Hadis ini statusnya Shahih. Mencakup segala bentuk penipuan, baik dalam jual beli, perjanjian, amanah, ujian sekolah atau pesantren. Baik bentuk penipuannya itu dengan melihat buku ajar, mencontek teman, memberikan jawaban kepada yang lain, atau dengan melemparkan kertas pada yang lain.”

  1. Perbuatan ini termasuk di antara sifat orang yang diancam dengan azab. Allah ta’ala berfirman yang artinya:

وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ

“…dan mereka yang suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan. Jangan sekali-kali kamu mengira, bahwa mereka akan lolos dari azab…” [QS. Ali Imran: 188].

Kita yakin, orang yang suka melakukan pelanggaran ketika ujian pasti tidak lepas dari tujuan mencari nilai bagus. Disadari maupun tidak, ketika ada orang yang memuji nilai UN yang kita peroleh, pasti akan ada perasaan bangga dalam diri kita. Meskipun kita yakin betul kalau itu bukan murni kerja kita. Oleh karena itu, bagi yang punya kebiasaan demikian, segeralah bertakwa kepada Allah. Mudah-mudahan kita tidak digolongkan seperti ayat di atas.

  1. Perbuatan semacam tergolong sebagai orang yang mengenakan pakaian kedustaan. Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لم يعط كلابس ثوب زور

“Orang yang merasa bangga dengan apa yang tidak dia dapatkan, maka seolah dia memakai dua pakaian kedustaan.” [HR. Ahmad & Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan Al Albani].

Dijelaskan oleh An Nawawi bahwa yang dimaksud; “Orang yang merasa bangga dengan apa yang tidak dia dapatkan” adalah orang yang menampakkan, bahwa dirinya telah mendapatkan keutamaan, padahal aslinya dia tidak mendapatkannya. [Lihat Faidhul Qodir 6/338].

Orang semacam ini termasuk orang yang menipu orang lain. Dia menampakkan seolah dirinya orang pintar, nilainyanya bagus, padahal aslinya….

Ujian adalah amanah untuk dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Sebagai Muslim yang baik, selayaknya kita jaga amanah ini dengan baik. Amanah ilmiah yang selayaknya kita tunaikan dengan penuh tanggung jawab, karena itulah yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan. Bukan jaminan, orang yang nilai UN-nya baik, pasti mendapatkan peluang hidup yang lebih nyaman. Ingat, kedustaan dan kecurangan akan mengundang kita untuk melakukan kedustaan berikutnya, dalam rangka menutupi kedustaan sebelumnya. Dan bisa jadi itu terjadi secara terus-menerus. Berbeda dengan kejujuran, dia akan mengantarkan pada ketenangan, dan selanjutnya mengantarkan pada jalan kebaikan dan Surga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى البِرِّ، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا. وَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada Surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada Neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” [HR. Muslim no. 2607]

Keenam: Tips dalam Menghadapi Kegagalan

a. Tanamkan Bahwa Semuanya Telah Ditakdirkan

Sebagai bukti, bahwa kita adalah orang yang beriman pada takdir, kita yakini, bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini semuanya telah ditakdirkan oleh Allah. Kita yakini bahwa tidak ada perbuatan Allah yang sia-sia. Semua pasti ada hikmahnya, baik kita ketahui maupun tidak. Kita tutup rapat-rapat, jangan sampai kita berburuk sangka kepada Allah. Sebagai penyempurna keimanan kita pada takdir adalah kita pasrahkan semuanya kepada Allah, dan tidak terlalu disesalkan. Kegagalan bukanlah tanda, bahwa Allah membenci kita. Demikian pula, sukses bukanlah tanda, bahwa Allah membenci kita. Bahkan ini termasuk anggapan cupet manusia yang telah dibantah dalam Alquran. Allah ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ( ) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ( ) كَلَّا…

Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata: “Rabbku memuliakan aku.”(15) Namun apabila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku.”(16) sekali-kali tidak…..”[QS. Al Fajr: 15-17].

b. Bersabar dengan Penuh Mengharapkan Pahala

Jika gagal ini adalah bagian dari ujian hidup, maka berusahalah untuk bersabar. Lebih-lebih jika kita mampu untuk bersikap rida, atau bahkan bersyukur. Sesuatu yang berat ini akan menjadi terasa ringan. Nabi ﷺ bersabda:

 

مَا يَزَالُ البَلَاءُ بِالمُؤْمِنِ وَالمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Tidak henti-hentinya ujian itu akan menimpa setiap Mukmin laki-laki maupun wanita, terkait dengan dirinya, anaknya, dan hartanya, sampai dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” [HR. At Turmudzi dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Riyadhus Shalihin].

Kegagalan ini akan menjadi penebus dosa, jika orang yang tertimpa kegagalan tersebut mampu bersabar.

c. Yakini Ada yang Lebih Buruk Dari Pada Kita

Inilah di antara cara yang diajarkan Islam, agar kita tetap bisa bersyukur kepada Allah, terhadap nikmat yang telah Dia berikan. Nabi ﷺ bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang lebih bawah dari pada kamu, dan jangan melihat orang yang lebih banyak nikmatnya dari pada kamu. Karena akan memberi kekuatan kamu, untuk tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.” [HR. Muslim]d

d. Hindari Ber-Andai-Andai

Jangan sampai terbetik dalam diri kita teriakan perasaan “Andai aku tadi pinjam bukunya si A, pasti aku bisa mengerjakannya..” “Andai aku tadi…pasti…” “Andai aku…kan harusnya gak…” dan seterusnya. Umumnya perasaan ini muncul, ketika orang itu dalam posisi gagal. Karena perasaan ini merpakan awal dari godaan setan, agar manusia mengingkari takdir Allah. Nabi ﷺ bersabda:

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Apabila kamu tertimpa kegagalan, janganlah kamu mengatakan: “Seandainya aku bersikap demikian, tentu yang terjadi demikian..” Tetapi katakanlah: “Ini telah ditakdirkan oleh Allah, dan Allah berbuat sesuai apa yang Dia kehendaki.” Karena sesungguhnya ucapan berandai-andai itu membuka (pintu) perbuatan setan.” [HR. Muslim]

Berdasarkan hadis di atas, ada ungkapan yang sunnah untuk kita ucapkan, ketika sedang mengalami kegagalan:

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Ini telah ditakdirkan oleh Allah, dan Allah berbuat sesuai apa yang Dia kehendaki”

e. Berusaha Untuk Memerbaikinya dan Jangan Putus Asa

Nabi ﷺ bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Bersemangatlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah kepada Allah (dalam segala urusanmu), serta jangan sekali-kali kamu bersikap lemah (karena putus asa)…” [HR. Muslim].

Selamat menempuh ujian, semoga sukses menyertai kita semua… Amiin

 

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits [Artikel www.KonsultasiSyariah.com]

Sumber: https://konsultasisyariah.com/17430-adab-dalam-ujian-nasional-untaian-nasehat-peserta-un.html

, ,

HARAMNYA PERAYAAN HARI KELAHIRAN (ULANG TAHUN)

HARAMNYA PERAYAAN HARI KELAHIRAN (ULANG TAHUN)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah, amma ba’du,

HARAMNYA PERAYAAN HARI KELAHIRAN (ULANG TAHUN)

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Tidak diragukan lagi bahwa Allah telah mensyariatkan dua hari raya bagi kaum Mslimin, yang pada kedua hari tersebut mereka berkumpul untuk berzikir dan sholat, yaitu hari raya ledul Fitri dan ledul Adha, sebagai pengganti hari raya-hari raya jahiliyah. Di samping itu Allah pun mensyariatkan hari raya-hari raya lainnya yang mengandung berbagai zikir dan ibadah, seperti Jumat, hari Arafah dan hari-hari Tasyriq. Namun Allah tidak mensyariatkan perayaan hari kelahiran, tidak untuk kelahiran Nabi ﷺ dan tidak pula untuk yang lainnya. Bahkan dalil-dalil syari dari Al-Kitab dan As-Sunnah menunjukkan, bahwa, perayaan-perayaan hari kelahiran merupakan BID’AH dalam agama, dan termasuk TASYABBUH (menyerupai) musuh-musuh Allah, dari kalangan Yahudi, Nasrani dan lainnya. Maka yang wajib atas para pemeluk Islam untuk MENINGGALKANNYA, MEWASPADAINYA, MENGINGKARINYA, terhadap yang melakukannya dan tidak menyebarkan atau menyiarkan apa-apa yang dapat mendorong pelaksanaannya, atau mengesankan pembolehannya, baik di radio, media cetak maupun televisi, berdasarkan sabda Nabi ﷺ dalam sebuah hadis Shahih:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَالَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak.” [Muttafaq ‘Alaih: Al-Bukhari dalam Ash-Shulh (2697). Mslim dalam Al-Aqdhiyah (1718).]

Dan sabda beliau ﷺ:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak.” [Al-Bukhari menganggapnya mu’allaq dalam Al-Buyu’ dan Al-I’tisham. Imam Mslim menyambungnya dalam Al-Aqdhiyah (18-1718)]

Dikeluarkan oleh Mslim dalam kitab Shahihnya dan dianggap mu’allaq oleh Al-Bukhari, namun ia menguatkannya.

Kemudian disebutkan dalam Shahih Mslim dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, bahwa dalam salah satu khutbah Jumat beliau ﷺ mengatakan:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرُ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّه وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرُّ اْلأُمُوْرِ مُحدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad ﷺ, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru adalah sesat.” [HR. Mslim dalam Al-Jumu’ah (867)].

Dan masih banyak lagi hadis lainnya yang semakna. Disebutkan pula dalam Musnad Ahmad dengan isnad jayyid dari Ibnu Umar , bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, berarti ia dari golongan mereka.” [HR. Abu Dawud (4031), Ahmad (5093, 5094, 5634]

Dalam Ash-Shahihain disebutkan, dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda:

لَتَتَّبِعَنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُم شِبْرًا شِبْرًاوَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْدَخَلُوْا جُحْرَضُبٍّ تَبَعْتُمُوْهُم، قُلنَا يَا رَسُوْلَ اللَّهِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Bahkan, seandainya mereka masuk ke dalam sarang biawak pun kalian mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Ya Rasulullah, itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau ﷺ berkata, “Siapa lagi.” [HR. AI-Bukhari dalam Al-I’tisham bil Kitab was Sunnah (7320). Mslim dalam Al-Ilm (2669)]

Masih banyak lagi hadis lainnya yang semakna dengan ini. Semuanya menunjukkan kewajiban untuk waspada, agar tidak menyerupai musuh-musuh Allah dalam perayaan-perayaan mereka dan lainnya. Makhluk paling mulia dan paling utama, NABI KITA MUHAMMAD ﷺ, TIDAK PERNAH MERAYAKAN HARI KELAHIRANNYA SEMASA HIDUPNYA, tidak pula para sahabat beliau pun, dan tidak juga para tabi’in yang mengikuti jejak langkah mereka dengan kebaikan pada tiga generasi pertama yang diutamakan. Seandainya perayaan hari kelahiran Nabi ﷺ atau lainnya merupakan perbuatan baik, tentulah para sahabat dan tabi’in sudah lebih dulu melaksanakannya daripada kita. Dan sudah barang tentu Nabi ﷺ mengajarkan kepada umatnya dan menganjurkan mereka merayakannya, atau beliau ﷺ sendiri melaksanakannya. Namun ternyata tidak demikian. Maka kita pun tahu, bahwa perayaan hari kelahiran termasuk bid’ah, termasuk hal baru yang diada-adakan dalam agama, yang harus ditinggalkan dan diwaspadai, sebagai pelaksanaan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perintah Rasulullah ﷺ.

Sebagian ahli ilmu menyebutkan, bahwa yang pertama kali mengadakan perayaan hari kelahiran ini adalah golongan Syi’ah Fathimiyah pada abad keempat, kemudian diikuti oleh sebagian orang yang berafiliasi kepada As-Sunnah, karena tidak tahu dan karena meniru mereka, atau meniru kaum Yahudi dan Nasrani. Kemudian bid’ah ini menyebar ke masyarakat lainnya. Seharusnya para ulama kaum Mslimin menjelaskan hukum Allah dalam bid’ah-bid’ah ini, mengingkarinya dan memeringatkan bahayanya, karena keberadaannya melahirkan kerusakan besar, tersebarnya bid’ah-bid’ah dan tertutupnya sunnah-sunnah. Di samping itu, terkandung tasyabbuh (penyerupaan) dengan musuh-musuh Allah dari golongan Yahudi, Nasrani dan golongan-golongan kafir lainnya yang terbiasa menyelenggarakan perayaan-perayaan semacam itu. Para ahli dahulu dan kini telah menulis dan menjelaskan hukum Allah mengenai bid’ah-bid’ah ini. Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan, dan menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan.

Pada kesempatan yang singkat ini, kami bermaksud mengingatkan kepada para pembaca tentang bid’ah ini, agar mereka benar-benar mengetahui. Dan mengenai masalah ini telah diterbitkan tulisan yang panjang dan diedarkan melalui media cetak-media cetak lokal dan lainnya. Tidak diragukan lagi, bahwa wajib atas para pejabat pemerintahan kita dan kementrian penerangan secara khusus serta para penguasa di negara-negara Islam, untuk mencegah penyebaran bid’ah-bid’ah ini dan propagandanya, atau penyebaran sesuatu yang mengesankan pembolehannya. Semua ini sebagai pelaksanaan perintah loyal terhadap Allah dan para hamba-Nya, dan sebagai pelaksanaan perintah yang diwajibkan Allah, yaitu mengingkari kemungkaran, serta turut dalam memerbaiki kondisi kaum Mslimin, dan membersihkannya dari hal-hal yang menyelisihi syariat yang suci. Hanya Allah-lah tempat meminta dengan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang luhur. Semoga Allah memerbaiki kondisi kaum Muslimin dan menunjuki mereka agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ, serta waspada dari segala sesuatu yang menyelisihi keduanya. Dan semoga Allah memerbaiki para pemimpin mereka, dan menunjuki mereka agar menerapkan syariat Allah pada hamba hamba-Nya, serta memerangi segala sesuatu yang menyelisihinya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas hal itu.

Sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya

[Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 4.hal.81]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al Masa’il Al-Ashriyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]

 

Sumber: http://almanhaj.or.id/content/498/slash/0/perayaan-hari-kelahiran-ulang-tahun/

,

DAN PENUHILAH JANJI, SESUNGGUHNYA JANJI ITU PASTI DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABANNYA

DAN PENUHILAH JANJI, SESUNGGUHNYA JANJI ITU PASTI DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABANNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak

DAN PENUHILAH JANJI, SESUNGGUHNYA JANJI ITU PASTI DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABANNYA

Di antara akhlak terpuji yang terdepan adalah menepati janji. Sungguh Alquran telah memerhatikan permasalahan janji ini, dan memberi dorongan serta memerintahkan untuk menepatinya. Allah ﷻ berfirman:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلاَ تَنْقُضُوا اْلأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيْدِهَا …

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah, apabila kamu berjanji. Dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah meneguhkannya….” (An-Nahl: 91)

Allah ﷻ juga berfirman:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُوْلاً

“Dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra`: 34)

Demikianlah perintah Allah ﷻ kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa menjaga, memelihara, dan melaksanakan janjinya. Hal ini mencakup janji seorang hamba kepada Allah ﷻ, janji hamba dengan hamba, dan janji atas dirinya sendiri seperti nadzar. Masuk pula dalam hal ini apa yang telah dijadikan sebagai persyaratan dalam akad pernikahan, akad jual beli, perdamaian, gencatan senjata, dan semisalnya.

Menjaga Ikatan Perjanjian Walaupun Terhadap Orang Kafir

Orang yang membaca sirah (sejarah) Nabi ﷺ dan generasi Salafush Shalih akan mendapati, bahwa menepati janji dan ikatan perjanjian tidak terbatas hanya sesama kaum Muslimin. Bahkan terhadap lawan pun demikian. Sekian banyak perjanjian yang telah diikat antara Nabi ﷺ dan orang-orang kafir dari Ahlul Kitab dan musyrikin, tetap beliau ﷺ jaga, sampai mereka sendiri yang memutus tali perjanjian itu. Allah ﷻ berfirman:

إِلاَّ الَّذِيْنَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ثُمَّ لَمْ يَنْقُصُوْكُمْ شَيْئًا وَلَمْ يُظَاهِرُوا عَلَيْكُمْ أَحَدًا فَأَتِمُّوا إِلَيْهِمْ عَهْدَهُمْ إِلَى مُدَّتِهِمْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ

“Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka, penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 4)

Dahulu antara Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma dengan bangsa Romawi ada ikatan perjanjian (gencatan senjata). Suatu waktu Mu’awiyah bermaksud menyerang mereka, di mana dia tergesa-gesa satu bulan (sebelum habis masa perjanjiannya). Tiba-tiba datang seorang lelaki mengendarai kudanya dari negeri Romawi seraya mengatakan: “Tepatilah janji dan jangan berkhianat!” Ternyata dia adalah seorang sahabat Nabi ﷺ yang bernama ‘Amr bin ‘Absah. Mu’awiyah lalu memanggilnya. Maka ‘Amr berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda (yang artinya): “Barang siapa antara ia dengan suatu kaum ada perjanjian, maka tidak halal baginya untuk melepas ikatannya, sampai berlalu masanya, atau mengembalikan perjanjian itu kepada mereka, dengan cara yang jujur.” Akhirnya Mu’awiyah menarik diri beserta pasukannya. (Lihat Syu’abul Iman no. 4049-4050 dan Ash-Shahihah 5/472 hadits no. 2357)

Kalau hal itu bisa dilakukan terhadap kaum musyrikin, tentu lebih-lebih lagi terhadap kaum Muslimin. Kecuali perjanjian yang maksiat, maka tidak boleh dilaksanakan. Nabi ﷺ bersabda:

وَالْمُسْلِمُوْنَ عَلىَ شُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

“Dan kaum Muslimin (harus menjaga) atas persyaratan/perjanjian mereka, kecuali persyaratan yang mengharamkan yang dihalalkan atau menghalalkan yang haram.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 1352, lihat Irwa`ul Ghalil no. 1303)

Surga Firdaus bagi yang Menepati Janji

Tidak akan masuk Surga, kecuali jiwa yang beriman lagi bersih. Dan Surga bertingkat-tingkat keutamaannya, sedangkan yang tertinggi adalah Firdaus. Darinya memancar sungai-sungai yang ada dalam Surga dan di atasnya adalah ‘Arsy Ar-Rahman. Tempat kemuliaan yang besar ini diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang baik, di antaranya adalah menepati janji. Allah ﷻ berfirman:

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (Al-Mu`minun: 8)

Nabi ﷺ bersabda (yang artinya): “Jagalah enam perkara dari kalian, niscaya aku jamin bagi kalian Surga:

  1. Jujurlah bila berbicara,
  2. Tepatilah jika berjanji,
  3. Tunaikanlah apabila kalian diberi amanah,
  4. Jagalah kemaluan,
  5. Tundukkanlah pandangan dan
  6. Tahanlah tangan-tangan kalian (dari sesuatu yang dilarang).” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Ash-Shahihah no. 1470)

 

Dinukil dari tulisan berjudul “DAN PENUHILAH JANJI, SESUNGGUHNYA JANJI ITU PASTI DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABANNYA” yang ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc

Sumber: http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.co.id/2011/10/dan-penuhilah-janji-sesungguhnya-janji.html

 

 

 

.

,

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

Pertanyaan:

Saya pernah mendengar, bahwa Rasul ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat  dua rakaat Qabliyah Subuh. Bagaimana menjalankan sunnah ini, bila saya telat datang ke masjid, sehingga muazin mengumandangkan Iqamat?!

Jawaban:

Alhamdulillah was sholatu was salamu ala rosulillah wa ala aalihi wa shahbihi wa maw waalaah…

Pertama: Memang benar, beliau ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat sunat 2 rakaat sebelum Subuh, sebagaimana diceritakan oleh Ibunda kita Aisyah radhiallahu anha, bahwa Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat sunnah dua rakaat sebelum (sholat) fajar (Dishahihkan oleh Syeikh Albani dalam Silsilah Shahihah 7/527)

Kedua: Bila telat datang masjid dan Iqamat sedang dikumandangkan, maka kita harus langsung sholat Subuh bersama imam, dan TIDAK BOLEH menjalankan sholat Qabliyah, saat Iqamat sudah dikumandangkan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

Dari Abu Huroiroh radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Bila telah dikumandangkan Iqamat, maka tidak (boleh) ada sholat, kecuali sholat yang diwajibkan” (HR. Muslim: 1160).

عن ابن بحينة قال: أقيمت صلاة الصبح، فرأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يصلي والمؤذن يقيم، فقال: أتصلي الصبح أربعا؟

Ibnu Buhainah mengatakan: (Suatu hari) dikumandangkan Iqamat untuk sholat Subuh, lalu Rasulullah ﷺ melihat seseorang sholat, padahal muadzin sedang mengumandangkan Iqamat, maka beliau ﷺ mengatakan: “Apakah kamu sholat Subuh empat rakaat?!” (HR. Muslim: 1163 )

وعنه أيضا قال: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر برجل يصلي وقد أقيمت صلاة الصبح، فكلمه بشيء لا ندري ما هو؟ فلما انصرفنا أحطناه نقول: ماذا قال لك رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: قال لي: يوشك أن يصلي أحدكم الصبح أربعا؟

Diriwayatkan dari Ibnu Buhainah juga, bahwa Rasulullah ﷺ melewati seseorang sedang sholat, padahal Iqamat sholat Subuh telah dikumandangkan, maka beliau ﷺ pun mengatakan kepadanya, sesuatu yang tidak ku ketahui. Lalu ketika kami selesai, kami berusaha mencari tahu, kami mengatakan: Apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ kepadamu? Dia menjawab: “Hampir saja salah seorang dari kalian sholat Subuh empat rakaat” (HR. Muslim: 1162).

Kedua: Sebaiknya kita meng-qodho’ sholat Qabliyah Subuhnya setelah itu, sebagaimana pernah terjadi di zaman Rasulullah ﷺ:

عَنْ قَيْسٍ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الصُّبْحَ، ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أُصَلِّي، فَقَالَ: «مَهْلًا يَا قَيْسُ، أَصَلَاتَانِ مَعًا»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ رَكَعْتُ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ، قَالَ: «فَلَا إِذَنْ» رواه الترمذي وصححه الألباني

Qois mengatakan: Rasulullah ﷺ pernah (suatu ketika) keluar, lalu dikumandangkanlah Iqamat sholat, maka aku pun sholat Subuh bersamanya. Kemudian beliau ﷺ beranjak pergi dan mendapatiku akan sholat, beliau ﷺ mengatakan: “Sebentar wahai Qois, apakah dua sholat bersamaan?!” Aku pun mengatakan: Ya Rasulullah, sebenarnya aku belum sholat dua rakaat Qabliyah Fajar, maka beliau ﷺ mengatakan: “Jika demikian, maka tidak apa-apa” (HR. Tirmidzi: 387, dan dishahihkan oleh Syeikh Albani).

Ketiga: Meng-qodho sholat sunnah yang waktunya tertentu, dibolehkan bila tertinggalnya sholat sunat tersebut tidak disengaja. Karena meng-qodho adalah keringanan bagi mereka yang punya uzur. Dan orang yang meninggalkan dengan sengaja, tidak memiliki uzur. Wallahu a’lam.

Dalil dari pembedaan ini adalah sabda Rasulullah ﷺ:

من نام عن الوتر أو نسيه فليصل إذا ذكر وإذا استيقظ

Barang siapa ketiduran atau lupa sehingga tidak sholat Witir, maka hendaklah ia sholat Witir, ketika ia ingat atau ketika ia bangun (HR. Tirmidzi: 427 dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Syeikh Albani)

ٌقال ابن رجب:وفي تقييد الأمر بالقضاء لمن نام أو نسيه يدل على أن العامد بخلاف ذلك، وهذا متوجه؛ فإن العامد قد رغب عن هذه السنة وفوتها في وقتها عمداً، فلا سبيل لهُ بعد ذَلِكَ إلى استدراكها، بخلاف النائم والناسي

Ibnu Rojab mengatakan: Adanya taqyid dalam perintah qodho’ itu (yakni); “Bagi orang yang tidur atau lupa” menunjukkan, bahwa orang yang sengaja (meninggalkan), hukumnya lain. Dan ini benar, karena orang yang sengaja (meninggalkan) itu tidak menyukai sholat sunnah ini, dan telah meninggalkannya pada waktunya dengan sengaja, sehingga tidak ada jalan lagi baginya untuk mendapatkannya. Berbeda dengan orang yang tidur atau lupa (Fathul Bari 9/160).

Sekian, semoga bermanfaat.

Wa shallallahu ala nabiyyillah ala aalihi wa shahbihi wa maw waalaah… Walhamdulillah.

 

Disarikan dari web resmi Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA dengan disertai pengeditan bahasa oleh Tim KonsultasiSyariah.com

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28877-Qabliyah-Subuh-saat-Iqamat-sholatnya-batal.html

 

, ,

GAYA PAK HABIB RIZIEQ DALAM MENASIHATI PENGUASA, ITU AJARAN FPI, BUKAN AJARAN RASULULLAH

GAYA PAK HABIB RIZIEQ DALAM MENASIHATI PENGUASA, ITU AJARAN FPI, BUKAN AJARAN RASULULLAH

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

GAYA PAK HABIB RIZIEQ DALAM MENASIHATI PENGUASA, ITU AJARAN FPI, BUKAN AJARAN RASULULLAH

Jakarta, hari ini, Jumat yang diberkahi (30/3/2012), sekitar 10.000 massa Forum Umat Islam (FUI) yang tengah melakukan aksi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM, masih bertahan di depan Istana Negara.

Massa gabungan dari berbagai ormasi Islam itu melakukan long march sejak tadi siang, usai melaksanakan sholat Jumat dari bundaran HI menuju Istana Negara.

Usai sholat Isya berjamaah dilaksanakan, massa FUI masih berkumpul melakukan konsolidasi massa untuk mengadakan aksi dan orasi kembali.

Habib Muhammad Rizieq Syihab, ketua umum DPP Front Pembela Islam (FPI) yang ikut serta dalam aksi di depan Istana menyampaikan orasinya. Habib Rizieq mengatakan, bahwa massa siap menurunkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jika pemerintah tidak membatalkan kenaikan BBM.

“Jika pemerintah tidak membatalkan kenaikan BBM, massa Islam siap menurunkan SBY!,” kata Habib Rizieq.

Sementara itu, massa FUI juga turut prihatin atas peristiwa pemukulan dan penembakan terhadap rakyat dan mahasiswa yang menggelar aksi demonstrasi. Tindakan represif pemerintah itu yang telah memakan korban jiwa, mendapat kecaman dari kalangan mahasiswa dan juga Massa FUI khususnya. Bahkan  Habib Rizieq mengancam bahwa massa Islam akan angkat senjata jika SBY tidak menghentikan pasukannya yang brutal itu.

“Jika SBY masih tak tahu diri, masih melakukan pemukulan dan penembakan terhadap rakyat dan mahasiswa, maka kita akan angkat senjata!,” ujar Habib Rizieq.

Hingga saat ini, penembakan masih terjadi di depan gedung DPR terhadap mahasiswa yang tengah menggelar aksi demonstrasi menolak kenaikan BMM. Sementara ini belum ada laporan lebih lanjut terkait hal tersebut.

Tidakkah pak Habib membaca hadis berikut ini:

Dalam pandangan para sahabat, sudah menjadi sebuah ketetapan di kalangan para sahabat, bahwa menasihati penguasa di depan umum akan MEMBUKA PINTU FITNAH. Oleh karenanya, Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma memegangi prinsip yang agung ini. Pendapat ini berdasarkan hadis Nabi ﷺ:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ

“Barang siapa ingin menasihati sulthan (penguasa) dengan suatu masalah, janganlah menampilkan kepadanya secara terang-terangan. Tetapi, hendaknya menggandeng tangannya dan untuk berduaan dengannnya. Apabila ia menerima darinya, maka itulah (yang diharapkan). Kalau tidak, berarti telah melaksanakan kewajibannya”. [Hadis Hasan, HRTirmidxi 4/502, Musthafa Al-Babi, Cet II, Ash-Shahihah 5/376]

Demikianlah yang dipaparkan oleh Nabi ﷺ. Maksudnya, orang yang akan menasihati penguasa, tidak memerlihatkannya di depan massa, supaya tidak memancing kemarahan masyarakat terhadap penguasa. Adapun komentar tentang kesalahan-kesalahan penguasa di atas mimbar-mimbar, atau dilakukan secara terang-terangan, ini bukan disebut nasihat, tetapi justru merupakan celaan, pendiskreditan, dan penghinaan. Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ

“Barang siapa menghina Sulthan Allah di dunia, niscaya Allah akan menghinakannya.” [HR At-Tirmidzi 4/502, Musthafa Al-Babi, Cet II, Ash-Shahihah, 5/376]

Janganlah meniru cara-cara orang Khawarij dalam mengingkari penguasa, sebagaimana kisah berikut:

Ibnu ‘Amir adalah seorang gubernur. Suatu ketika ia keluar untuk melakukan khutbah Jumat dengan mengenakan pakaian yang transparan. Maka Abu Bilal al Khariji (dari Khawarij) berkomentar: “Lihatlah pemimpin kita. Dia mengenakan baju orang fasik,”. Maka Abu Bakrah Radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Nabi ﷺ menyanggah: “Diamlah engkau. Aku pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda: ’Barang siapa menghina sulthan Allah di dunia, niscaya Allah akan menghinakannya.” [Hadis Hasan li Ghairihi, As-Sunnah Ibnu Abi Ashim (2/494]

Lihatlah sikap orang Khawarij terhadap kesalahan pemimpin, dan bandingkan dengan sikap sahabat Nabi ﷺ tersebut. Maka seharusnya, pilihlah cara orang yang engkau cintai. Sesungguhnya pada Hari Kiamat, seseorang akan bersama orang yang dicintainya.

Apa yang dilakukan pak Habib JAUH DARI KEBENARAN ISLAM, BUKAN ajaran Islam, walaupun dia adalah pimpinan Front Pembela Islam (FPI).

Janganlah tertipu oleh nama. Jangan membawa-bawa Islam, jika ternyata yang Anda serukan bukanlah dari ajaran Islam. Salah satunya menentang penguasa Muslim, mengompori masyarakat untuk melawan pemerintah, apalagi menggulingkan kekuasaan. Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun.

Pemimpin Indonesia masih Muslim, pak Habib, bukan orang kafir. Berhati-hatilah, jangan mudah mengafirkan sebagaimana ceramah Anda yang menuduh Ustadz Yazid, mudah mengafirkan kaum Muslimin, dan ini tuduhan dusta. Tapi Anda dengan mudah mengafirkan kaum Muslimin. Itu Anda ucapkan di rekaman bantahan kepada Ustadz Yazid, bisa dilihat di sini: https://aslibumiayu.net/4507-jawaban-terhadap-sang-habib-tokoh-fpi-yang-menuduh-ust-salafi-sebagai-pemecah-belah-umat.html

 

Sumber: https://aslibumiayu.net/4536-gaya-pak-Habib-dalam-menasihati-penguasa.html

 

, ,

SATU-SATUNYA SEBAB KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT ADALAH KETAKWAAN

SATU-SATUNYA SEBAB KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT ADALAH KETAKWAAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

SATU-SATUNYA SEBAB KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT ADALAH KETAKWAAN

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’dy rahimahullah berkata:

القيام بفرائض الله وترك محارمه الذي هو التقوى، سبب لتفريج الكربات والمخارج من كل ضيق وشدة، وسبب لتيسير الأمور كلها، وتيسير الأرزاق المتنوعة، وتكفير السيئات وتعظيم الأجور.

“Melaksanakan hal-hal yang diwajibkan oleh Allah dan meninggalkan hal-hal yang Dia haramkan, yang ini adalah bentuk ketakwaan. Ini merupakan sebab dihilangkannya kesusahan, dan jalan keluar dari semua kesempitan dan penderitaan, sebab dimudahkannya semua perkara, dimudahkannya rezeki yang bermacam-macam, dihapuskannya dosa-dosa kecil, dan dibesarkannya pahala.”

[Ar-Riyadhun Nadhirah yang menjadi satu dalam Majmu’ Muallafatis Sa’dy, hlm. 158].

Instagram, Twitter & Telegram Channel: @JakartaMengaji

Sumber: https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/662078347306260/?type=3&theater

, ,

SHOLAT SUNNAH WITIR

SHOLAT SUNNAH WITIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

SHOLAT SUNNAH WITIR

Hukum Sholat Witir

Sholat sunnah Witir adalah sholat Sunnah Muakkadah (sangat ditekankan), berdasarkan hadis Rasulullah ﷺ:

“Witir adalah hak atas setiap muslim. Barang siapa yang suka berwitir tiga rakaat hendaknya ia melakukannya. Dan barang siapa yang berwitir satu rakaat, hendaknya ia melakukannya” [Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Al-Witr, bab: Jumlah Witir, no. 1422. Diriwayatan oleh An-Nasaa’i dalam kitab Al-Lail, bab: Pembahasan Tentang Ikhtilaf Terhadap Az-Zuhri Tentang Hadis Abu Ayyub dalam Witir, no. 712. diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Iqamatush Shalah, bab: Witir Dengan Tiga atau Lima Rakaat no 1190, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud I: 267].

Demikian juga dengan hadis Ali Radhiyallahu ‘anhu ketika ia berkata: “Witir tidaklah wajib sebagaimana sholat fardhu kalian. Akan tetapi ia adalah sunnah yang ditetapkan oleh Rasulullah ﷺ” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al-Witr, bab: Riwayat Tentang Witr Yang Bukan Wajib no. 454. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam kitab Qiyamul Lail, bab ; Perintah Untuk Berwitir, no. 1677, diriwayatkan juga oleh Al-Hakim, I: 300, 301. Diriwayatkan pula oleh Ahmad I: 148, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasaa’i, I: 368].

Di antara yang menunjukkan bahwa Witir termasuk sunnah yang ditekankan (bukan wajib) adalah riwayat shahih dari Thalhah bin Ubaidillah, bahwa ia menceritakan:

”Ada seorang lelaki dari kalangan penduduk Nejed yang datang menemui Rasulullah ﷺ dengan rambut acak-acakan. Kami mendengar suaranya, tetapi kami tidak mengerti apa yang diucapkannya, sampai ia mendekat. Ternyata ia bertanya tentang Islam. Ia berkata: “ Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku sholat apa yang diwajibkan kepadaku?” Beliau ﷺ menjawab: “Sholat yang lima waktu, kecuali engkau mau melakukan sunnah tambahan”. Lelaki itu bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku puasa apa yang diwajibkan kepadaku?” Beliau ﷺ menjawab: “Puasa Ramadan, kecuali bila engkau ingin menambahkan”. Lelaki itu bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku zakat apa yang diwajibkan kepadaku?” Beliau ﷺ menjawab: (Menyebutkan beberapa bentuk zakat). Lelaki itu bertanya lagi: ‘Apakah ada kewajiban lain untuk diriku?” Beliau ﷺ menjawab lagi: “Tidak, kecuali bila engkau mau menambahkan’. Rasulullah ﷺ memberitahukan kepadanya syariat-syariat Islam. Lalu lelaki itu berbalik pergi, sambil berujar: “Semoga Allah memuliakan dirimu. Aku tidak akan melakukan tambahan apa-apa, dan tidak akan mengurangi yang diwajibkan Allah kepadaku sedikit pun. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh ia akan beruntung, bila ia jujur, atau ia akan masuk Surga bila ia jujur” []. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Iman, bab: Zakat dalam Islam, no. 46 dan Kitabush Shaum, bab: Wajibnya puasa Ramadhan, no. 1891. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Al-Iman, bab: Sholat yang Merupakan Salah Satu Rukun Islam, no 1].

Juga berdasarkan hadis Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi pernah mengutus Muadz ke Yaman. Dalam perintahnya: “Beritahukan kepada mereka, bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu sehari semalam [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Maghazi, bab: Diutusnya Abu Musa dan Muadz ke Yaman, no. 347. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Al-Iman, bab: Ajakan Menuju Dua Kalimat Syahadat Dan Syariat Islam, no. 19].

Kedua hadis ini menunjukkan, bahwa Witir BUKANLAH WAJIb. Itulah madzhab mayoritas ulama. Yang berpendapat bahwa Witir itu wajib adalah Abu Hanifah rahimahullah, berdasarkan zahir hadis-hadis Ahad yang mengesankan bahwa itu wajib. Akan tetapi ada hadis-hadis lain yang mengeluarkannya dari indikasi mewajibkan [ Lihat “Nailul Authar” II: 205-206]. Itu juga pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah, bahwa Witir itu wajib bagi orang-orang yang Tahajjud di malam hari. Beliau mengatakan:”Itu adalah madzhab sebagian orang yang mewajibkannya secara mutlak” (Al-Ikhtiyaarat Al-Fiqhiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, oleh Al-Ba’li hal. 96).

Sholat Witir adalah sunnah yang ditekankan sekali. Oleh sebab itu Rasulullah ﷺ TIDAK PERNAH MENINGGALKAN sholat sunnah Witir dengan sunnah Qobliyah Subuh,baik ketika bermukim, atau ketika bepergian  [Lihat Zaadul Ma’aad, I: 315 dan Al-Mughni, III: 196, dan II: 240].

Hukum Orang Yang Terus Menerus Meninggalkan Sholat Witir

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah berkata: “Sholat Witir adalah Sunnah Muakkadah, berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Barang siapa yang terus-menerus meninggalkannya, maka persaksiannya ditolak (tidak diterima).” [Majmuu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (XXIII/88)].

Beliau rahimahullaah pernah ditanya tentang orang yang tidak menekuni (biasa meninggalkan) sholat-sholat sunnah Rawatib. Maka beliau menjawab: “Barang siapa terus-menerus meninggalkannya, maka hal itu menunjukkan sedikitnya (pemahaman) agamanya, dan persaksiannya ditolak (tidak diterima), berdasarkan pendapat Imam Ahmad dan Imam asy-Syafi’i dan selain keduanya” [Majmuu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (XXIII/127)]

Keutamaan Witir

Witir memiliki banyak sekali keutamaan, berdasarkan hadis Kharijah bin Hudzafah Al-Adwi. Ia menceritakan Nabi ﷺ pernah keluar menemui kami. Beliau ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menambahkan kalian dengan satu sholat, yang sholat itu lebih baik untuk dirimu dari pada unta yang merah, yakni sholat Witir. Waktu pelaksanaannya Allah berikan kepadamu dari sehabis Isya hingga terbit Fajar” [Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam kitab Al-Witr, bab: Dianjurkannya Sholat Witr, dengan no. 1418. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Sunan-nya dalam kitab Al-Witr bab: Riwayat Tentang Keutamaan Witir dengan no. 452. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Iqamatush Shalah, bab: Riwayat Tentang Witr, dengan no, 1168. Diriwayatkan juga oleh Al-Hakim dan dishahihkan oleh beliau serta disetujui oleh Adz-Dzahabi I: 306. Hadis ini memiliki penguat diriwayatkan oleh Ahmad, I: 148. Dishahihkan oleh Al-Albani, tanpa tambahan kalimat: Yang sholat itu lebih baik untuk dirimu dari pada unta yang merah. Lihat Irwaaul Ghalil II: 156].

Di antara dalil yang menujukkan keutamaan dan sekaligus di sunnahkannya sholat Witir adalah hadis Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia menceritakan:”Rasulullah ﷺ pernah berwitir, kemudian bersabda: “Wahai ahli Qur’an lakukanlah sholat Witir. Sesungguhnya Allah itu Witir (ganjil) dan menyukai sesuatu yang ganjil” [Dikeluarkan oleh An-Nasaa’i dengan lafazhnya dalam kitab Qiyamul Lail, bab: Perintah Melakukan Witir, no. 1676. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al-Witr, bab: Riwayat Bahwa Witr Itu Bukan Wajib no 453. Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Al-Witr, bab: Dianjurkannya Sholat Witr, no. 1416. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Iqamatush Shalah, bab: Riwayat Tentang Witir, no. 1169. Diriwayatkan oleh Ahmad, I: 86, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah I: 19].

 

Sumber:

Tulisan berjudul: “Shalat Witir” oleh: Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani

Tulisan berjudul: “Shalat Sunnah Witir” oleh: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

 

,

HUKUM BEROBAT DENGAN STEM CELL

HUKUM BEROBAT DENGAN STEM CELL

HUKUM BEROBAT DENGAN STEM CELL

Terdapat metode pengobatan yang disebut dengan Stem Cell atau Sel Punca yang bisa menggantikan sel yang rusak atau sel yang mati. Misalnya mengganti sel jantung pada kerusakan jantung, mengganti sel saraf pada kasus stroke dan sebagainya.

Metode yang kami ketahui yaitu menggunakan plasenta bayi atau sel darah yang ada di plasenta bayi. Sehingga poin yang perlu dibahas dalam masalah ini adalah:

1) Hukum berobat dengan plasenta manusia dan bagiannya

2) Hukum berobat dengan zat darah Manusia

Hukum Berobat dengan Plasenta Manusia

Kami mendapatkan fatwa Syaikh Muhammad bi Shalih Al-Utsaimin MEMBOLEHKANNYA. Secara kedokteran ilmu embriologi, hakikatnya plasenta bukanlah bagian dari organ tubuh bayi tersebut. Jika memang teranggap organ, maka organ manusia hukum asalnya suci.

Pertanyaan berikut diajukan kepada Fadhilatus syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin:

“Apa hukum menyimpan plasenta untuk pengobatan kanker dan menghilangkan kerutan di wajah?”

Beliau menjawab:

“Secara zahir hal tersebut tidak mengapa, selama berita tersebut benar (bisa menyembuhkan)”.

Tanya:

“Apakah bisa diterapkan kaidah “Apa yang terpotong dari orang hidup, maka dianggap mayyit”

Beliau menjawab:

“Mayyit manusia hukumnya suci”.

Tanya:

“Jika ternyata tidak bermanfaat (tidak bisa mengobati), apakah wajib menguburkannya? Atau dibuang di mana saja?”

Beliau menjawab:

“Secara zahir, plasenta sebagaimana kuku dan rambut (jadi bisa dikubur di mana saja dan tidak ada ritual khusus, pent), Wallahu ‘alam” [Sumber: http://islamqa.info/ar/ref/3794].

Hukum Berobat dengan Zat Darah Manusia

Terkait hal ini ada dua pembahasan juga:

1) Apakah darah manusia itu najis atau tidak, sehingga bisa digunakan, semisal dioleskan atau dicampurkan?

2) Apa hukum memanfaatkan darah manusia?

1) Apakah darah najis atau tidak?

Pendapat yang lebih mendekati kebenaran, wallahu a’lam, DARAH manusia TIDAKLAH najis. Berikut sedikit penjelasannya:

Dalil yang menyatakan darah adalah najis

Berdasarkan ayat:

قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor.” (Al An’am: 145).

Bahkan Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan ijma’, bahwa darah adalah najis. Beliau berkata:

الدلائل على نجاسة الدم متظاهرة ، ولا أعلم فيه خلافا عن أحد من المسلمين

“Dalil-dalil mengenai kenajisan darah jelas. Aku tidak mengetahui adanya khilaf salah satu pun di antara kaum Muslimin” [Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab, 2/576 ].

Imam Ahmad rahimahullah ditanya mengenai darah:

لدم والقيح عندك سواء ؟

“Apakah darah dan muntahan sama menurutmu?”

فقال : الدم لم يختلف الناس فيه ، والقيح قد اختلف الناس فيه

Beliau menjawab: “Darah tidak diperselisihkan oleh manusia (kenajisannya). Adapun muntahan maka diperselisihkan” [Syarh Umdatul Fiqh, 1/105].

Begitu juga Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya: “Orang yang ada sedikit darah di bajunya, apakah ia sholat dengan baju tersebut, atau ia menunggu (misalnya kedaaan dokter setelah operasi), sampai ada baju yang bersih baginya?”.

Beliau menjawab:

“Ia sholat dengan keadaannya saat itu, jika tidak memungkinkan membersihkan/mencucinya atau menggantinya dengan yang bersih/suci, ia sholat sebelum keluar waktunya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah semampu kalian” (At-Taghabun: 16).

Wajib bagi seorang Muslim agar mencuci/ membersihkan darah, atau menggantinya dengan pakaian yang bersih, jika ia mampu. Jika tidak mampu, maka ia sholat sebagaimana keadaannya. Ia tidak perlu mengulang sholatnya, sebagaimana keterangan dari ayat, dan sebagaimana pula Sabda Rasulullah ﷺ:

ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم

“Apa yang aku larang maka jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan, maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian” (Muttafakun ‘alaihi) [Sumber: http://www.binbaz.org.sa/fatawa/2458].

Dalil yang menyatakan darah tidak najis

Inilah pendapat yang lebih kuat dengan beberapa alasan:

Pertama: Hukum asal sesuatu suci, sampai ada dalil yang mengharamkan

Kedua: Makna rijs (dalam surat Al-An’am 145) bukan najis secara hakikat, akan tetapi najis maknawi. sebagaiman Allah Ta’ala berfirman tentang kaum munafikin: “Berpalinglah kalian darinya, karena sesungguhnya mereka adalah rijs,” (QS. At-Taubah: 95). Yakni najis kekafirannya, tapi tidak kafir tubuhnya.

Ketiga: para sahabat dahulunya berperang dengan luka di tubuh dan baju, tetapi tidak ada perintah untuk membersihkannya. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

مَا زَالَ الْمُسْلِمُونَ يُصَلُّونَ فِى جِرَاحَاتِهِمْ

“Kaum Muslimin (yaitu para sahabat) biasa mengerjakan sholat dalam keadaan luka” [HR. Bukhari secara mu’allaq (tanpa sanad) dalam kitab shahihnya].

Begitu juga kisah ketika Umar bin Khattab ditusuk oleh Abu Lu’luah Al Majusi, beliau berkata:

وَلَا حَظَّ فِي الْإِسْلَامِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ

“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan sholat.” Lalu ‘Umar sholat dalam keadaan darah yang masih mengalir” [HR. Malik dalam Muwatha’nya (2/54)].

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

“Perlu diketahui, bahwa darah yang keluar dari manusia selain dua jalan (keluar dari qubul dan dubur), tidak membatalkan wudhu, baik sedikit ataupun banyak, semisal darah mimisan dan darah yang keluar dari luka” [Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Syaikh Ibnu Al Utaimin].

Keempat: Mayat manusia adalah suci, maka terlebih lagi darah yang ada di dalamnya. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ المُؤْمِنَ لَا يَنْجُسُ

“Jasad seorang Mukmin tidaklah najis.”

Dalam Shahih Al Hakim disebutkan:

حَيًّا وَلَا مَيتًا

“Baik hidup ataupun saat mati.”

2) Apakah hukum memanfaatkan darah manusia?

Secara umum darah diharamkan untuk dimakan sebagaimana dalam ayat berikut:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi…” (QS. Al- Baqarah: 173).

Ulama menjelaskan suatu kaidah berdasarkan hadis, jika sesuatu diharamkan memakannya, maka di haramkan juga untuk menjualnya dan memanfaatkannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيْءٍ حَرَّمَ عَلَيْهِم ثَمَنَهُ

“Sesungguhnya jika Allah mengharamkan kepada suatu kaum memakan sesuatu, maka (Allah) haramkan harganya atas mereka” [HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya 1/247, 293 dan 322 dan Abu Dawud no. 3488].

Dewan fatwa Islamweb di bawah bimbingan Syaikh Abdullah Al-Faqih menjelaskan:

“Adapun menjual darah, maka tidak ada khilaf para ulama akan keharamannya, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan darah, dan menegaskan haramnya langsung dinisbatkan pada zatnya (yaitu darah). Maka haram di sini mencakup secara umum penggunaan dari berbagai bentuk pemanfaatan” [Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=7041].

Adapun jika daurat dan hanya jalan satu-satunya, maka boleh menggunakan darah sebagaimana fatwa ulama yang sudah sangat banyak, mengenai bolehnya tranfusi darah manusia, asalkan darah tersebut tidak diperjualbelikan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu, apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya” (Al-An’am : 199)

Ibnu ‘Abidin berkata:

يجوز للعليل شرب البول والدم والميتة للتداوي إذا أخبره طبيب مسلم أن شفاءه فيه ، ولم يجد من المباح ما يقوم مقامه

“Boleh berobat dengan meminum kencing, darah, mengonsumsi mayat, jika memang diberitahu oleh dokter Muslim yang terpercaya, dan tidak didapatkan obat mubah lainnya” [. Raddul Muhtaar ‘Alad durri mukhtaar].

Dari sini bisa kita simpulkan, bahwa darah penggunaan/memanfaatkan darah, hukum asalnya adalah haram, kecuali jika keadaan darurat dan merupakan satu-satunya jalan.

Kesimpulan

Kesimpulan dari pembahasan di atas:

1) Boleh menggunakan plasenta manusia untuk pengobatan.

2) Pendapat terkuat darah manusia adalah tidak najis.

3) Hukum asalnya haram memanfaatkan darah manusia, kecuali jika darurat.

4) Stem sel dengan menggunakan darah para plasenta termasuk hukum memanfaatkan darah manusia, maka hukum asalnya adalah haram. Kecuali jika digunakan untuk pengobatan darurat dan merupakan jalan satu-satunya sebagaimana transfusi darah, dan terbukti berhasil secara ilmiah melalui penelitian, bukan hanya berdasarkan praduga saja, atau masih belum jelas hasilnya.

Demikian semoga bermanfaat.

 

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

[www.Muslim.or.id]

 

https://Muslim.or.id/28415-hukum-berobat-dengan-stem-cell.html

 

 

, ,

HUKUM MENINGGALKAN DAN MENANGGUHKAN SHOLAT SUBUH

HUKUM MENINGGALKAN DAN MENANGGUHKAN SHOLAT SUBUH

HUKUM MENINGGALKAN DAN MENANGGUHKAN SHOLAT SUBUH

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:

Saya seorang pemuda yang bersemangat melaksanakan sholat, hanya saja saya sering pulang larut malam. Maka saya men-setting jam (wekker) pada jam tujuh pagi, yakni setelah terbitnya matahari. Lalu saya sholat, baru kemudian saya berangkat kuliah. Kadang-kadang pada Kamis atau Jumat, saya bangun lebih telat lagi, yaitu sekitar satu atau dua jam sebelum Zuhur, lalu saya sholat Subuh saat bangun tidur. Perlu diketahui pula, bahwa keseringan saya sholat di kamar asrama, padahal masjid asrama tidak jauh dari tempat tinggal saya. Pernah ada seseorang yang mengingatkan saya, karena hal itu tidak boleh. Saya berharap Syaikh bisa menjelaskan hukum tersebut. Jazakumullah khairan.

Jawaban:

Barang siapa yang sengaja men-setting jam wekker pada waktu setelah terbit matahari, sehingga tidak melaksanakan sholat Subuh pada waktunya, maka dianggap telah SENGAJA meninggalkannya. Maka ia KAFIR karena perbuatannya itu, menurut kesepakatan Ahlul Ilmi. Semoga Allah melepaskan kebiasannya sengaja meninggalkan sholat. Demikian juga orang yang sengaja menangguhkan sholat Subuh hingga menjelang Zuhur, kemudian sholat Subuh pada waktu Zuhur.

Adapun orang yang KETIDURAN, sehingga terlewatkan waktunya, maka itu tidak mengapa. Ia hanya wajib melaksanakannya saat terbangun dan tidak berdosa. Demikian juga jika ia ketiduran atau karena lupa. Adapun orang yang sengaja menangguhkannya hingga keluar waktunya, atau dengan sengaja men-setting jam hingga keluar waktunya, sehingga mengakibatkan ia tidak bangun pada waktu sholat, maka ia dianggap sengaja meninggalkan, dan berarti ia telah melakukan kemungkaran yang besar menurut semua ulama.

Akan Tetapi, Apakah Ia Menjadi Kafir Atau Tidak?

Mengenai ini ada perbedaan pendapat di antara ulama, jika ia tidak mengingkari kewajibannya. Jumhur Ulama berpendapat, bahwa itu tidak menjadikannya kafir dengan kekufuran besar tersebut. Sebagian Ahlul Ilmi berpendapat, bahwa ia menjadi kafir karena kekufuran yang besar tersebut. Demikian pendapat yang dinukil dari para sahabat Radhiyallahu Ajmain, Nabi ﷺ bersabda:

“Artinya: Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat”. [Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, kitab Al-Iman 82]

Dalam hadis lain Nabi ﷺ bersabda:

“Artinya: Perjanjian antara kita dengan mereka adalah sholat. Maka barang siapa yang meninggalkannya, berarti ia telah kafir”. [Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 5/346 dan para penyusun kitab Sunan dengan isnad Shahih; At-Turmudzi 2621, An-Nasa’i 1/232, Ibnu Majah 1079]

Lain dari itu, meninggalkan sholat jamaah merupakan suatu kemungkaran. Ini tidak boleh dilakukan. Yang wajib bagi seorang mukallaf adalah melaksanakan sholat di masjid, berdasarkan riwayat dalam hadis Ibnu Ummi Maktum, bahwa seorang laki-laki buta berkata kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid”. Ia minta kepada Rasulullah ﷺ untuk memberikannya keringanan, agar bisa sholat di rumahnya. Maka beliau ﷺ mengizinkan. Namun ketika orang itu hendak beranjak, beliau ﷺ bertanya:

“Artinya: Apakah engkau mendengar seruan untuk sholat ? Ia menjawab: ‘Ya’. Beliau ﷺ berkata lagi: ‘Kalau begitu, penuhilah”. [Hadis Riwayat Muslim, kitab Al-Masajid 653]

Itu orang buta yang tidak ada penuntunnya. Namun demikian Nabi ﷺ tetap memerintahkannya untuk sholat di masjid. Maka orang yang sehat dan dapat melihat tentu lebih wajib lagi. Maksudnya, bahwa diwajibkan atas setiap Mukmin untuk sholat di masjid, dan tidak boleh meremehkannya dengan melaksanakan sholat di rumah jika masjidnya dekat.

Dalil lain tentang hal ini adalah sabda Nabi ﷺ:

“Artinya: Barang siapa yang mendengar adzan lalu ia tidak memenuhinya, maka tidak ada sholat baginya, kecuali karena uzur”. [Dikeluarkan oleh Ibnu Majah, kitab Al-Masajid 793, Ad-Daru Quthni 1/420,421 Ibnu Hibban 2064, Al-Hakim 1/246, dari Ibnu Abbas dengan isnad sesuai syarat Muslim]

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu pernah ditanya tentang uzur ini, ia menjawab, “Takut atau sakit”

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:

Ada seorang pemuda multazim, Alhamdulillah, namun ia sering kelelahan karena pekerjaannya, sehingga ia tidak dapat melaksanakan sholat Subuh pada waktunya, karena sangat kelelahan dan kecapaian. Bagaimana hukumnya menurut Syaikh, tentang orang yang kondisinya seperti itu. Dan apa pula nasihat Syaikh untuknya ? Jazzkumullah khaiaran.

Jawaban:

Yang wajib baginya adalah meninggalkan pekerjaan yang menyebabkannya menangguhkan sholat Subuh, karena sebab musabab itu ada hukumnya. Jika ia tahu bahwa apabila ia tidak terlalu keras bekerja tentu ia bisa melaksanakan sholat Subuh pada waktunya, maka ia wajib untuk tidak memaksakan dirinya bekerja keras, agar ia bisa sholat Subuh pada waktunya bersama kaum muslimin.

[Dari Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin yang ditanda tanganinya]

 

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/621-hukum-meninggalkan-sholat-Subuh-dari-waktunya.html

 

KEUTAMAAN ORANG YANG BERSYUKUR MESKIPUN TIDAK BERPUASA SUNNAH

KEUTAMAAN ORANG YANG BERSYUKUR MESKIPUN TIDAK BERPUASA SUNNAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Mutiara_Sunnah

KEUTAMAAN ORANG YANG BERSYUKUR MESKIPUN TIDAK BERPUASA SUNNAH

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ لِلطَّاعِمِ الشَّاكِرِ مِنَ الأَجْرِ مِثْل ما للصَّائِمِ الصَّابِرِ

“Sesungguhnya orang yang makan, yang benar-benar bersyukur, mendapatkan pahala semisal yang diperoleh orang berpuasa yang sabar.”

___________________________

HR. Ahmad 7876, shahih oleh al-Albany, ash-Shahihah, 1 : 469

Telegram: Shahih Fiqih