Posts

,

MASIH SUKA SIBUK WAKTU “BANDING-BANDINGKAN” DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

MASIH SUKA SIBUK WAKTU "BANDING-BANDINGKAN" DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

MASIH SUKA SIBUK WAKTU “BANDING-BANDINGKAN” DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

Kita lihat disekitar kita,

Berapa banyak kita jumpai orang-orang yang masih suka “ngurusin+banding-bandingin” orang lain. Setiap bertemu temannya, dia membicarakan temannya yang lain. Setiap bertemu saudaranya, dia membicarakan saudara yang lain. Dimulai dari cerita ini itu, berdalih dengan alasan ini itu, hingga sering tanpa sadar dia jatuh dan larut, bagai garam di dalam air, ke dalam hal-hal yang diharamkan Allah, seperti hasutan, ghibah dan namimah. Bahkan terlampau sering tazkiyah terucap bagi diri sendiri. Subhanallah..

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:

“Berbangga diri, sampai-sampai dikhayalkan, “Bahwa engkau lebih baik dari pada saudaramu”. Padahal bisa jadi engkau tidak mampu mengamalkan sebuah amalan, yang mana dia mampu melakukannya. Padahal bisa jadi dia lebih berhati-hati dari perkara-perkara haram dibandingkan engkau, dan dia lebih suci amalannya dibandingkan engkau.” (Hilyatu al-Auliya’ juz 6, 391)

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain. Boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya. Boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat 11)

Ingatlah wahai saudaraku,

Sesungguhnya Allah mengetahui semuanya. Dan tidak ada yang lepas dari perhitungan Allah, meskipun sebesar zarrah. Semua dicatat, meskipun dalam bisikan-bisikan. Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ * إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ * مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia, dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf 16-18)

Ibnu ‘Abbas menafsirkan ayat ini:

“Yang dicatat adalah setiap perkataan yang baik atau buruk. Sampai pula perkataan “aku makan, aku minum, aku pergi, aku datang, sampai aku melihat, semuanya dicatat. Ketika Kamis, perkataan dan amalan tersebut akan dihadapkan kepada Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13: 187).

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:

من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه

“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara, kecuali dalam hal yang bermanfaat”. Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291)

Oleh karenanya, benarlah sabda Rasulullah ﷺ saat menjelaskan salah satu tanda baiknya keislaman kita:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi 2317, Ibnu Majah 3976) Shahih oleh Syaikh Al Albani.

وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami, dan kejelekan amal perbuatan kami.” (HR. Nasa’i III/104, Ibnu Majah I/352/1110. Lihat Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah hal. 144-145)

Nasihat bagi saya pribadi khususnya dan semoga bermanfaat bagi saudara sekalian.

 

Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

, , ,

HUKUM GAMBAR ATAU FOTO UNTUK SESUATU YANG PENTING, KTP, PASPOR, SIM

HUKUM GAMBAR ATAU FOTO UNTUK SESUATU YANG PENTING, KTP, PASPOR, SIM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

HUKUM GAMBAR ATAU FOTO UNTUK SESUATU YANG PENTING, KTP, PASPOR, SIM

Oleh: Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Iftasw

Pertanyaan:
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta ditanya: Tidak dapat dipungkiri, bahwa manusia sangat memerlukan gambar atau foto untuk diletakkan pada Kartu Tanda Pengenal (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), kartu jaminan sosial, ijazah, paspor dan untuk keperluan lainnya. Yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah kita boleh untuk keperluan tersebut. Jika tidak boleh, bagaimana dengan mereka yang berkecimpung dalam suatu bidang (memiliki jabatan tertentu), apakah mereka harus keluar atau terus berkecimpung di dalamnya?

Jawaban:
Mengambil gambar atau berfoto hukumnya haram, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadis-hadis shahih dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau ﷺ melaknat siapa saja yang membuat gambar, dan penjelasan beliau ﷺ, bahwa mereka adalah orang-orang yang paling berat mendapatkan siksa. Hal itu disebabkan, bahwa gambar atau lukisan merupakan sarana kepada kemusyrikan, dan kerena perbuatan tersebut sama dengan menyerupakan makhluk Allah.

Tetapi jika hal itu terpaksa dilakukan untuk keperluan pembuatan Kartu Tanda Pengenal, Paspor, Ijazah, atau untuk keperluan yang sangat penting lainnya, maka ada pengecualian (rukhsah) dalam hal yang demikian, sesuai dengan kadar kepentingannya, jika ia tidak menemukan cara lain untuk menghindarinya. Sedangkan bagi mereka yang berkecimpung dalam suatu bidang dan tidak menemukan cara selain dengan cara yang demikian, atau pekerjaannya dilakukan demi kemaslahatan umum, yang hanya dapat dilakukan dengan cara itu, maka bagi mereka ada pengecualian (rukhshah), karena adanya kepentingan tersebut, sebagaimana firman Allah:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang kalian dipaksa kepadanya” [Al-An’am : 119]

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta (1/494)]

FOTO ATAU GAMBAR WANITA

Pertanyaan:
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta ditanya : Apakah foto wanita yang terdapat di Paspor atau Tanda Pengenal lainnya merupakan aurat bagi wanita? Apakah dibenarkan bagi seorang wanita yang menolak berfoto untuk mewakilkan hajinya kepada orang lain, disebabkan ia tidak mendapatkan Paspor? Sampai di manakah batas-batas pakaian yang harus dikenakan oleh seorang wanita yang terdapat dalam Alquran dan Hadis?

Jawaban:
Tidak diperkenankan bagi seorang wanita untuk berfoto dengan menampakkan wajahnya, baik untuk keperluan paspor maupun untuk keperluan lainnya, karena wajah merupakan aurat bagi seorang wanita. Dan menampakkan wajahnya di dalam Paspor atau kartu identitas lainnya dapat menimbulkan fitnah bagi dirinya. Tetapi jika ia tidak dapat menunaikan ibadah haji disebabkan hal itu, maka ia mendapatkan pengecualian (rukhshah) dalam hal pengambilan gambar wajah, guna menunaikan ibadah haji, dan ia tidak boleh mewakilkan ibadah hajinya kepada orang lain.

Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat sebagaimana yang dijelaskan dalam Alquran dan As-Sunnah. Maka wajib bagi mereka untuk menutup seluruh anggauta tubuh dari yang bukan mahramnya, sebagaimana Allah berfirman:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ

“..Dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami merea…” [An-Nur : 31]

Dan firman Allah:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“… Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka …” [Al-Ahzab : 53]

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta (1/494)]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Amir Hamzah dkk, Penerbit Darul Haq]

Sumber: https://almanhaj.or.id/143-gambar-atau-foto-untuk-sesuatu-yang-penting-kartu-tanda-pengenal-pasport.html

,

JIKA PUASA DAUD, JANGAN PIKIR PUASA SUNNAH LAINNYA

JIKA PUASA DAUD, JANGAN PIKIR PUASA SUNNAH LAINNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi

JIKA PUASA DAUD, JANGAN PIKIR PUASA SUNNAH LAINNYA

Pertanyaan:

Misalkan saya menjalankan ibadah puasa sunnah Nabi Daud, sehari puasa sehari tidak. Kemudian apabila hari ini saya puasa dan besoknya saya puasa lagi disebabkan  karena puasa Arafah, apakah hal itu diperbolehkan?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Puasa Daud merupakan puasa sunnah TERBAIK. Terdapat banyak hadis yang menyebutkan hal itu. Di antaranya hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud. Beliau sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa.” [HR. Bukhari 3420, Muslim 1159, dan yang lainnya].

Sebagian ulama berpendapat, di antara aturan puasa Daud yang perlu diperhatikan, bahwa orang yang merutinkan puasa Daud, maka dia TIDAK diperbolehkan melakukan puasa sunnah yang lainnya. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah riwayat yang menceritakan tentang rencana puasa sunah tiap hari yang hendak dilakukan Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma.

Berikut hadis selengkapnya:

Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma pernah menyampaikan kepada Nabi ﷺ tentang rencananya untuk berpuasa setiap hari. Mendengar rencana ini, Nabi ﷺ melarangnya dan menasihatinya, agar puasa tiga hari tiap bulan. Namun Abdullah bin Amr tetap mendesak untuk melakukan lebih: “Aku mampu untuk mengerjakan yang lebih dari itu.”

Hingga Nabi ﷺ menasihatkan puasa Daud:

صُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا، وَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام، وَهُوَ أَعْدَلُ الصِّيَامِ

“Sehari puasa, sehari tidak puasa. Itulah puasa Daud ‘alaihis salam dan itu puasa paling baik.”

Abdullah bin Amr tetap mendesak untuk lebih: “Aku mampu untuk mengerjakan yang lebih dari itu.”

Namun Nabi ﷺ melarangnya, dan menegaskan:

لَا أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ

“Tidak ada yang lebih utama dari pada puasa Daud.” [HR. Bukhari 3418, Muslim 1159].

Dalam riwayat lain, ketika Abdullah bin Amr meminta puasa sunnah tambahan, Nabi ﷺ MELARANGNYA, untuk melakukan lebih dari puasa Daud:

فَصُمْ صِيَامَ نَبِيِّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ،  وَلاَ تَزِدْ عَلَيْهِ

“Lakukan puasa Nabi Daud ‘alaihis salam dan jangan kamu tambah melebihi hal itu.” [HR. Ahmad 6867, Bukhari 1975, dan yang lainnya].

Bahkan Ibnu Hazm berpendapat, bahwa orang yang melaksanakan puasa sunnah lebih dari rutinitas puasa Daudnya, maka dia tidak mendapat pahala untuk puasa tambahan yang dia lakukan. Dalam karyanya Al-Muhalla, Ibn Hazm menegaskan:

وإذا أخبَر عليه السلام أنه لا أفضل من ذلك فقد صح أن من صام أكثر من ذلك فقد انحطَّ فضلُه ، وإذا انحطَّ فضلُه فقد حبطت تلك الزيادة بلا شك ، وصار عملاً لا أجر له فيه ، بل هو ناقص من أجره ، فصح أنه لا يحلُّ أصلاً

Apabila Nabi ﷺ telah mengabarkan, bahwa tidak ada yang lebih afdhal dibandingkan puasa Daud, maka kesimpulan yang benar, bahwa orang yang berpuasa lebih dari puasa Daud telah menggugurkan nilai afdhalnya. Dan jika menggugurkan nilai afdhalnya, berarti tambahan puasa yang dia lakukan menjadi gugur tanpa ragu lagi, sehingga menjadi amal yang tidak berpahala. Bahkan ini mengurangi pahalanya, sehingga puasa semacam ini sama sekali tidak halal. [Al-Muhalla, 4/432]

Berdasarkan keterangan di atas, bagi kita yang sedang menjalani puasa Daud, rutinkan puasa terbaik ini secara istiqamah, dan kita tidak perlu memikirkan puasa sunnah yang lainnya, sekalipun tidak mendapatkan kesempatan puasa Arafah atau puasa Asyura. Karena jika orang yang menjalankan puasa Daud masih memikirkan puasa lainnya, akan mengganggu rutinitas puasa Daudnya.

Allahu a’lam.

 

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/jika-puasa-daud-jangan-mikir-puasa-sunah-lain/

 

TIDAK BERANI MENGAFIRKAN ORANG YANG JELAS-JELAS KAFIR, TERMASUK PEMBATAL KEISLAMAN KITA

TIDAK BERANI MENGAFIRKAN ORANG YANG JELAS-JELAS KAFIR, TERMASUK PEMBATAL KEISLAMAN KITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

TIDAK BERANI MENGAFIRKAN ORANG YANG JELAS-JELAS KAFIR, TERMASUK PEMBATAL KEISLAMAN KITA

>> Di Antara Sepuluh Pembatal Keislaman

Baik itu Yahudi, Nasrani (Kristen/Katolik), Majusi, Musyrik, Atheis, atau lainnya dari jenis bentuk kekufuran. Atau meragukan kekafiran mereka, membenarkan mazhab dan pemikiran mereka, yang demikian ini juga dihukumi kafir. Allah sendiri telah mengafirkan, namun orang ini menentang dengan mengambil sikap yang berlawanan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Karena itu, tidak mengafirkan orang yang dikafirkan Allah, ragu, dan bahkan membenarkan mazhab mereka, sama dengan artinya berpaling dari keputusan Allah.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ(6)

“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Bayyinah:6)

Yang dimaksud dengan Ahli Kitab adalah Yahudi dan Nasrani. Sedangkan yang dimaksud dengan musyrikin ialah orang yang menyembah Allah, sekaligus menyembah Sesembahan yang lain.

Allah ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(17)

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putra Maryam itu beserta ibunya, dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan apa yang di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Maidah: 17)

Allah ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam.” Padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang memersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (Al-Maidah: 72)

Allah ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ(73)

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga.” Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al-Maidah: 73).

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا(150)أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا(151)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memerbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian, dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (An-Nisa: 150-151)

Allah ﷻ berfirman:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا(140)

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Alquran, bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,” (An-Nisa’:140)

 

Sumber: http://www.alquran-sunnah.com/artikel/pilihan/10-pembatal-islam

 

, ,

HUKUM MEMANFAATKAN MAKANAN/ HARTA YANG DIGUNAKAN UNTUK TUMBAL/ SESAJEN

HUKUM MEMANFAATKAN MAKANAN/ HARTA YANG DIGUNAKAN UNTUK TUMBAL/ SESAJEN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#FatwaUlama

HUKUM MEMANFAATKAN MAKANAN/ HARTA YANG DIGUNAKAN UNTUK TUMBAL/ SESAJEN

Jika makanan tersebut berupa hewan sembelihan, maka TIDAK BOLEH dimanfaatkan dalam bentuk apapun, baik untuk dimakan atau dijual. Karena hewan sembelihan tersebut dipersembahkan kepada selain Allah ﷻ, maka dagingnya haram dimakan dan najis, sama hukumnya dengan daging bangkai. [Lihat keterangan Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz dalam catatan kaki beliau terhadap kitab Fathul Majiid (hal. 175)] Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah.” (QS. al-Baqarah: 173).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata: “Semua hewan yang disembelih untuk selain Allah, tidak boleh dimakan dagingnya.” [Kitab Daqa-iqut Tafsiir (2/130)]

Dan karena daging ini haram dimakan, maka berarti haram untuk diperjual-belikan, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya, Allah ﷻ jika mengharamkan memakan sesuatu, maka Dia (juga) mengharamkan harganya (diperjual-belikan).”[ HR Ahmad (1/293), Ibnu Hibban (no. 4938) dan lain-lain, Dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani dalam kitab Ghaayatul Maraam (no. 318)]

Adapun jika makanan tersebut SELAIN hewan sembelihan, demikian juga harta, maka sebagian ulama ada yang mengharamkannya dan menyamakan hukumnya dengan hewan sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah ﷻ [Lihat keterangan Syaikh Muhammad Hamid al-Faqiy dalam catatan kaki beliau terhadap kitab Fathul Majiid (hal. 174)]

Akan tetapi pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini, insya Allah, adalah pendapat yang dikemukakan oleh Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, yang membolehkan pemanfaatan makanan dan harta tersebut, SELAIN sembelihan, karena hukum asal makanan/harta tersebut adalah halal dan telah ditinggalkan oleh pemiliknya.

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz berkata: “(Pendapat yang mengatakan) bahwa uang (harta), makanan, minuman dan hewan yang masih hidup, yang dipersembahkan oleh pemiliknya kepada (sembahan selain Allah, baik itu) kepada Nabi, wali maupun (sembahan-sembahan) lainnya, haram untuk diambil dan dimanfaatkan, pendapat ini TIDAK BENAR. Karena semua itu adalah harta yang bisa dimanfaatkan dan telah ditinggalkan oleh pemiliknya, serta hukumya tidak sama dengan bangkai (yang haram dan najis), maka (hukumnya) boleh diambil (dan dimanfaatkan), sama seperti harta (lainnya) yang ditinggalkan oleh pemiliknya untuk siapa saja yang menginginkannya, seperti bulir padi dan buah kurma, yang ditinggalkan oleh para petani dan pemanen pohon kurma untuk orang-orang miskin.

Dalil yang menunjukkan kebolehan ini adalah (perbuatan) Nabi Muhammad ﷺ (ketika) beliau mengambil harta (yang dipersembahkan oleh orang-orang musyrik) yang (tersimpan) di perbendaharaan (berhala) al-Laata, dan beliau ﷺ (memanfaatkannya untuk) melunasi utang (sahabat yang bernama) ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. Rasulullah ﷺ (dalam hadis ini) tidak menganggap dipersembahkannya harta tersebut kepada (berhala) al-Laata sebagai (sebab) untuk melarang mengambil (dan memanfaatkan harta tersebut) ketika bisa (diambil).

Akan tetapi, orang yang melihat orang (lain) yang melakukan perbuatan syirik tersebut (memersembahkan makanan/harta kepada selain Allah ﷻ), dari kalangan orang-orang bodoh dan para pelaku syirik, wajib baginya untuk mengingkari perbuatan tersebut, dan menjelaskan kepada pelaku syirik itu, bahwa perbuatan tersebut adalah termasuk syirik, supaya tidak timbul prasangka, bahwa sikap diam dan tidak mengingkari (perbuatan tersebut), atau mengambil seluruh/sebagian dari harta persembahan tersebut, adalah bukti yang menunjukkan bolehnya perbuatan tersebut, dan bolehnya berkurban dengan harta tersebut, kepada selain Allah ﷻ. Karena perbuatan syirik adalah kemungkaran (kemaksiatan) yang paling besar (dosanya), maka wajib diingkari/dinasihati orang yang melakukannya.

Adapun kalau makanan (yang dipersembahkan untuk selain Allah ﷻ) tersebut terbuat dari daging hewan yang disembelih oleh para pelaku syirik, maka (hukumnya) HARAM (untuk dimakan/dimanfaatkan). Demikian juga lemak dan kuahnya, karena (daging) sembelihan para pelaku syirik hukumnya sama dengan (daging) bangkai, sehingga HARAM (untuk dimakan) dan menjadikan najis makanan lain yang tercampur dengannya. Berbeda dengan (misalnya) roti atau (makanan) lainnya yang tidak tercampur dengan (daging) sembelihan tersebut, maka ini semua halal bagi orang yang mengambilnya (untuk dimakan/dimanfaatkan). Demikian juga uang dan harta lainnya (halal untuk diambil), sebagaimana penjelasan yang lalu, wallahu a’lam.” [Catatan kaki Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz terhadap kitab Fathul Majiid (hal. 174-175)]

 

 

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A

[Artikel www.muslim.or.id]

 

Sumber: https://muslim.or.id/4952-tumbal-dan-sesajen-tradisi-syirik-warisan-jahiliyah.html

 

KUATNYA PERSAUDARAAN DI ANTARA AHLUT TAUHID

KUATNYA PERSAUDARAAN DI ANTARA AHLUT TAUHID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

KUATNYA PERSAUDARAAN DI ANTARA AHLUT TAUHID

Wajib mencintai dan menjalin persaudaraan, serta larangan merusak hubungan baik dengan orang-orang yang beriman dan bertakwa, yaitu orang-orang yang benar-benar menauhidkan Allah dan menjauhi kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan. Bahkan kewajiban tersebut termasuk prinsip penting dalam agama dan pokok Ahlus Sunnah wal Jamaah.

  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“Termasuk pondasi agama yang sangat agung, serta termasuk intisari agama adalah penyatuan hati, bersatunya kalimat dan baiknya hubungan, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ

“Sebab itu bertakwalah kepada Allah, dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” (Al-Anfal: 1)

Dan firman Allah ta’ala:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Ali Imron: 103)

Dan firman Allah ta’ala:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih, sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali Imron: 105)

Dan nash-nash yang semisalnya, yang memerintahkan untuk berjamaah dan bersatu, serta melarang berpecah belah dan berselisih. Maka orang-orang yang mengamalkan prinsip ini, merekalah Ahlul Jamaah, sebagaimana orang-orang yang tidak mengamalkannya adalaha Ahlul Furqoh (orang-orang yang suka berpecah belah, ahlul bid’ah).” [Majmu’ Al-Fatawa, 28/51]

Hubungan Erat antara Keimanan dengan Persaudaraan dan Sifat Kasih Sayang

Antara keimanan, dengan persaudaraan dan sifat kasih sayang terhadap orang-orang yang beriman, saling terkait erat. Oleh karena itu, dalam banyak ayat dan hadis, sering disebutkan bersamaan antara iman dengan persaudaraan dan kasih sayang. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” [Al-Hujurat: 10]

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang Mukmin dengan Mukmin yang lain bagaikan sebuah bangunan, satu dengan yang lainnya saling menguatkan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi dan berlemah lembut di antara mereka bagaikan satu tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit, hingga tidak bisa tidur dan merasa demam.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu]

 

[Disadur dari buku TAUHID, PILAR UTAMA MEMBANGUN NEGERI, Cet. Ke 2 1437 H, karya Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah]

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/768919443257540:0

 

 

INI DALILNYA KENAPA NABI ISA BUKAN TUHAN

INI DALILNYA KENAPA NABI ISA BUKAN TUHAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#BeSmartOpenYourEyes

INI DALILNYA KENAPA NABI ISA BUKAN TUHAN

  • Ayat Alquran Menjadi Dalil bagi Ketuhanan Nabi Isa ‘Alaihis Salam?
  • Nabi Isa adalah Tuhan karena dari Ruh-Nya Allah ta’ala?

Pertanyaan:

Apa bantahan Syaikh yang mulia terhadap mereka yang berdalil dengan ayat ini:

فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا

“Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya, sebagian dari ruh (ciptaan) Kami.” (QS at-Tahrim: 12)

Bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam adalah anak Allah. Maha Tinggi Allah dari apa saja yang dikatakan oleh orang-orang yang zalim?

Jawaban Syaikh Abdullah bin Jibrin:

Ayat ini terdapat dalam surat at-Tahrim:

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا

“Dan (ingatlah), Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya. Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya, sebagian dari ruh (ciptaan) Kami.” (QS at-Tahrim: 12)

Dan dalam surat al-Anbiya:

وَالَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهَا مِنْ رُوحِنَا

“Yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami.” (QS al-Anbiya: 91)

Ayat ini menegaskan, peniupan ruh itu pada diri Maryam, dan bahwa tiupan itu sampai ke kemaluannya, sehingga dia mengandung Nabi Isa ‘alaihis salam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا

“Lalu Kami mengutus ruh Kami (Jibril) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.” (QS Maryam: 17)

Dia adalah malaikat yang berkata:

إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لأهَبَ لَكِ غُلامًا زَكِيًّا

“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Rabbmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (QS Maryam: 19)

Disebutkan dalam kitab tafsir, bahwa malaikat tersebut meniupkan ruh ke dalam saku baju Maryam, sehingga tiupan itu sampai ke dalam rahimnya. Lalu ia pun mengandung Nabi Isa ‘alaihis salam.

Yang dimaksud dengan ruh di sini adalah ruh yang Allah ciptakan, yang menghasilkan kehidupan, sebagaimana terjadi pada Nabi Adam ‘alahis salam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS Hijr: 29)

Allah telah meniupkan ruh pada diri Nabi Adam ‘alaihis salam. Sama halnya dengan Nabi Isa ‘alaihis salam, beliau diciptakan dengan ruh ini, yang merupakan makhluk-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS al-Qadr: 4)

Dan firman-Nya:

يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلائِكَةُ صَفًّا

“Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf.” (QS an-Naba: 38)

Jadi Nabi Isa ‘alaihis salam adalah MAKHLUK yang diciptakan dari tiupan ini, yang merupakan ruh ciptaan Allah, yang dengannya Dia menciptakan SEMUA MANUSIA. Dan yang pertama dari mereka adalah Nabi Adam ‘alaihis salam. Allah berfirman:

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.” (QS as-Sajdah: 9)

Atas dasar ini, maka TIDAK ADA KEISTIMEWAAN BAGI NABI ISA DENGAN RUH TERSEBUT. Justru beliau seperti MAKHLUK lainnya, yang terdiri dari ruh dan jasad, yang bisa bergerak dan bisa berbolak-balik dalam kehidupan ini. Wallahu a’lam. (Syaikh Abdullah bin Jibrin)

 

Disadur dari Menjawab Ayat dan Hadits Kontroversi, Pustaka at-Tazkia 2010.

Ayat al-Qur’an Menjadi Dalil bagi Ketuhanan Nabi Isa ‘Alaihis Salam?

, ,

APAKAH RAJAB ITU BULAN ISTIMEWA?

APAKAH RAJAB ITU BULAN ISTIMEWA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama
#StopBid’ah

APAKAH RAJAB ITU BULAN ISTIMEWA?

Fadhilatus syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah:

Pertanyaan:

Apakah hukum mengkhususkan bulan Rajab dengan umroh, puasa, atau amal saleh?

Apakah Rajab memunyai keistimewaan dari bulan lainya, dari bulan-bulan haram?

Jawaban:

Tidaklah ada pada bulan Rajab itu keistimewaan daripada bulan lainnya dari bulan-bulan haram (mulia – pen). Maka JANGANLAH mengkhususkannya, tidak dengan umroh, puasa, sholat, dan tidak pula dengan membaca Alquran.

Bahkan Rajab seperti bulan lainnya dari bulan-bulan haram. Dan tiap hadis -hadis yang ada yang menyebutkan tentang keutamaan sholat pada bulan ini, atau puasa, KESEMUANYA adalah hadis yang lemah, tidak dibangun atasnya hukum syariat.

[Silsilah Al-Liqa As-Syahri (32)]

 

 

السؤال:

ما حكم تخصيص شهر رجب بعمرة أو صيام أو أي عمل صالح؟ وهل له ميزة عن سواه من الأشهر الحرم؟

الجواب:

ليس لشهر رجب ميزة عن سواه من الأشهر الحرم، ولا يخص، لا بعمرة، ولا بصيام، ولا بصلاة، ولا بقراءة قرآن، بل هو كغيره من الأشهر الحرم، وكل الأحاديث الواردة في فضل الصلاة فيه، أو الصوم فيه، فإنها ضعيفة، لا يبنى عليها حكم شرعي.

سلسلة اللقاء الشهري >> اللقاء الشهري: [32]

 

 

 

ORANG TERBAIK DI ANTARA KEDUANYA ADALAH YANG MEMULAI MENGUCAPKAN SALAM

ORANG TERBAIK DI ANTARA KEDUANYA ADALAH YANG MEMULAI MENGUCAPKAN SALAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#MutiaraSunnah

ORANG TERBAIK DI ANTARA KEDUANYA ADALAH YANG MEMULAI MENGUCAPKAN SALAM

Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ: فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ

“TIDAK HALAL bagi seorang Muslim memboikot sudaranya lebih dari tiga malam, yang mana keduanya saling bertemu, yang ini memalingkan wajahnya, dan ini juga memalingkan wajahnya. Sebaik-sebaik keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Al-Bukhari no.6077 dan Muslim no. 2560)

Larangan memboikot seorang Muslim dalam hadis ini berlaku, bila sebabnya adalah urusan dunia, seperti sakit hati, ketersinggungan, merasa tersaingi, dan sebab lainnya.

Adapun urusan agama, maka boleh memboikot seorang Muslim lebih dari tiga malam, sebagaimana dahulu Rasulullah ﷺ dan para sahabat memboikot Ka’ab bin Malik beserta dua orang temannya selama 50 malam.

Hanya saja, jangan sampai seseorang beralasan bahwa dia memboikot seorang Muslim karena urusan agama, padahal kenyataanya adalah karena urusan pribadi dan dunia.

 

ALASAN TIDAK SEMUANYA BERANGKAT BERJIHAD KE MEDAN PERANG, DAN TIDAK PULA SEMUANYA PERGI MENUNTUT ILMU

ALASAN TIDAK SEMUANYA BERANGKAT BERJIHAD KE MEDAN PERANG, DAN TIDAK PULA SEMUANYA PERGI MENUNTUT ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MenuntutIlmuSyari
#ManhajSalaf

ALASAN TIDAK SEMUANYA BERANGKAT BERJIHAD KE MEDAN PERANG, DAN TIDAK PULA SEMUANYA PERGI MENUNTUT ILMU

  • Mujahidin Penjaga Pertahanan Kaum Muslimin, Penuntut Ilmu Penjaga Syariat Islam

Allah ta’ala telah menjaga pertahanan kaum Muslimin dengan Mujahidin (orang-orang yang berjihad) dan menjaga syariat Islam dengan para penuntut ilmu, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang Mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka, beberapa orang untuk memerdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)

Pada ayat tersebut Allah ta’ala membagi orang-orang beriman menjadi dua kelompok:

  • Mewajibkan kepada salah satunya berjihad fi sabilillah, dan
  • Kepada yang lainnya memelajari ilmu agama.

Sehingga tidak berangkat untuk berjihad semuanya, karena hal ini menyebabkan rusaknya syariat, dan hilangnya ilmu. Dan tidak pula menuntut ilmu semuanya, sehingga orang-orang kafir akan mengalahkan agama ini. Karena itulah Allah ta’ala mengangkat derajat kedua kelompok tersebut [Hilyah al-‘Alim al-Mu’allim, Salim al-Hilaliy hal: 5-6].

Yang dimaksud dengan ilmu tersebut adalah ilmu syari, yaitu ilmu yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya ﷺ berupa keterangan dan petunjuk. Jadi ilmu yang dipuji dan disanjung adalah ilmu wahyu, ilmu yang Allah ta’ala turunkan saja. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Barang siapa yang Allah menghendaki padanya kebaikan, maka Dia akan menjadikannya mengerti masalah agama.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Beliau ﷺ bersabda pula:
“Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan Dinar dan Dirham. Hanya saja mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya, berarti ia mengambil nasib (bagian) yang banyak.”(HR. Abu-Dawud dan At-Tirmidzi)

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwasanya yang diwariskan oleh para nabi adalah ilmu syariat Allah ta’ala, dan bukan yang lainnya [Kitab al-‘Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 11].

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Adab Penuntut Ilmu Mengikhlaskan Niat Hanya Karena Allah Ta’ala” yang ditulis oleh: Abdullah Hadrami hafizahullah

 

Sumber: http://www.kajianislam.net/2012/02/adab-penuntut-ilmu-1-dari-12-mengikhlaskan-niat-hanya-karena-allah-taala/