Posts

JAGALAH DIRI UNTUK TIDAK MENINGGAL DALAM KEADAAN BERBUAT SYIRIK

JAGALAH DIRI UNTUK TIDAK MENINGGAL DALAM KEADAAN BERBUAT SYIRIK

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

JAGALAH DIRI UNTUK TIDAK MENINGGAL DALAM KEADAAN BERBUAT SYIRIK

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang meninggal dalam keadaan menyeru (berdoa/menyembah) kepada selain Allah sebagai tandingan (bagi Allah), niscaya ia masuk ke dalam Neraka”. [HR. al-Bukhari]

Sumber: Markaz Dakwah untuk Bimbingan, Taklim, dan Keamanan Berpikir

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#DakwahTauhid, #Tauhid, #matisyirik, #meninggalsyirik, #wafatsyirik, #kesyirikan, #janganlahmati, #janganlahmeninggal

, ,

INTI SYUKUR

INTI SYUKUR

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#TazkiyatunNufus, #NasihatUlama
 
INTI SYUKUR
 
Allah ﷻ berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
 
“Ingatlah ketika Tuhanmu mengumumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” [QS. Ibrahim: 7]
 
Imam As-Sa’di menjelaskan, inti syukur ada tiga:
 
1. Mengakui bahwa nikmat itu dari Allah, dan bukan semata hasil karyanya
2. Memuji Allah atas nikmat yang telah Dia anugerahkan
3. Menggunakan nikmat itu untuk kegiatan yang Allah ridhai, dan bukan untuk sesuatu yang terlarang.
 
Kebalikan dari hal itu adalah kufur nikmat yang hukumnya terlarang. [Tafsir As-Sa’di, 422].
 
 
,

KEPADA SIAPAKAH KITA BEROBAT?

KEPADA SIAPAKAH KITA BEROBAT?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
KEPADA SIAPAKAH KITA BEROBAT?
>> Hukum Berobat Alternatif dalam Islam
 
Kesehatan adalah sebagian di antara nikmat Allah yang banyak dilupakan oleh manusia. Benarlah ketika Rasulullah ﷺ bersabda:
”Ada dua nikmat yang sering kali memperdaya kebanyakan manusia, yaitu nikmat kesehatan dan nikmat kelapangan waktu” (HR. Bukhari).
 
Dan tidaklah seseorang merasakan arti penting nikmat sehat, kecuali setelah jatuh sakit. Kesehatan adalah nikmat yang sangat agung dari Allah ta’ala, di antara sekian banyak nikmat lainnya. Dan kewajiban kita sebagai seorang hamba adalah bersyukur kepada-Nya, sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya:
”Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS Al Baqarah: 152).
 
Ada beberapa kondisi ketika sebagian orang sedang diuji oleh Allah ta’ala dengan dicabutnya nikmat kesehatan ini (baca: jatuh sakit). Di antara mereka ada yang bersabar dan rida dengan ketetapan dari Allah. Mereka tetap bertawakal dengan menempuh pengobatan yang diizinkan oleh syariat, sehingga mereka pun mendulang pahala yang berlimpah dari Allah ta’ala, karena sabar dan tawakalnya kepada Allah ta’ala. Namun di antara mereka ada pula yang berputus asa dari rahmat-Nya, berburuk sangka kepada-Nya, dan menempuh jalan-jalan yang dilarang oleh syariat, demi mencari sebuah kesembuhan. Bahkan sampai menjerumuskan dirinya ke dalam kesyirikan. Yang mereka dapatkan tidak lain hanyalah penderitaan di atas penderitaan, penderitaan di dunia, setelah itu penderitaan abadi di Neraka jika tidak bertobat sebelum meninggal dunia. Karena Allah ta’ala berfirman yang artinya:
”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni segala dosa yang lebih rendah dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 48).
 
Setiap Penyakit Pasti Ada Obatnya
 
Satu hal yang dapat memotivasi kita untuk terus berusaha mencari kesembuhan adalah jaminan dari Allah ta’ala, bahwa seluruh jenis penyakit yang menimpa seorang hamba pasti ada obatnya. Rasulullah ﷺ bersabda: ”Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan akan menurunkan pula obat untuk penyakit tersebut” (HR. Bukhari).
 
Hadis ini menunjukkan, bahwa seluruh jenis penyakit memiliki obat yang dapat digunakan untuk mencegah, menyembuhkan, atau untuk meringankan penyakit tersebut. Hadis ini juga mengandung dorongan untuk mempelajari pengobatan penyakit-penyakit badan, sebagaimana kita juga mempelajari obat untuk penyakit-penyakit hati. Karena Allah telah menjelaskan kepada kita, bahwa seluruh penyakit memiliki obat, maka hendaknya kita berusaha mempelajarinya dan kemudian mempraktikkannya. (Lihat Bahjatul Quluubil Abraar hal. 174-175, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di)
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
”Untuk setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, penyakit tersebut akan sembuh dengan seizin Allah ta’ala” (HR. Muslim).
 
Maksud hadis tersebut adalah, apabila seseorang diberi obat yang sesuai dengan penyakit yang dideritanya, dan waktunya sesuai dengan yang ditentukan oleh Allah, maka dengan seizin-Nya, orang sakit tersebut akan sembuh. Dan Allah ta’ala akan mengajarkan pengobatan tersebut kepada siapa saja yang Dia kehendaki, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: ”Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali menurunkan pula obatnya. Ada yang tahu, ada juga yang tidak tahu” (HR. Ahmad. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah).
 
Berobat = Mengambil Sebab
 
Berobat sangat erat kaitannya dengan hukum mengambil sebab. Maksud mengambil sebab adalah seseorang melakukan suatu usaha/sarana (“sebab”) untuk dapat meraih apa yang dia inginkan. Misalnya seseorang mengambil sebab berupa belajar, agar dapat meraih prestasi akademik. Demikian pula seseorang “mengambil sebab” berupa berobat, agar dapat meraih kesembuhan dari penyakitnya.
 
Di antara ketentuan yang telah dijelaskan oleh para ulama berkaitan dengan hukum-hukum dalam mengambil sebab adalah, bahwa sebab (sarana) yang ditempuh TIDAK BOLEH menggunakan sarana yang haram, apalagi sampai menjerumuskan ke dalam kesyirikan, meskipun metode pengobatan tersebut terbukti menyembuhkan, berdasarkan pengalaman atau penelitian ilmiah. Selain itu, ketika mengambil sebab tersebut, hatinya harus senantiasa bertawakal kepada Allah ta’ala, dan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah, demi berpengaruhnya sebab tersebut. Hatinya TIDAK bersandar kepada sebab, sehingga dirinya pun merasa aman setelah mengambil sebab tersebut. Seseorang yang berobat, setelah dia berusaha maksimal mencari pengobatan yang diizinkan oleh syariat, maka dia bersandar/bertawakal kepada Allah ta’ala, BUKAN kepada dokter yang merawatnya –betapa pun hebatnya dokter tersebut. Dan bukan pula kepada obat yang diminumnya –betapa pun berkhasiatnya obat tersebut. Hal ini karena seseorang harus memiliki keyakinan, bahwa betapa pun hebatnya sebuah sebab (obat atau semacamnya), namun hal itu tetap berada di bawah TAKDIR ALLAH TA’ALA.
 
Bentuk-Bentuk Pengobatan Alternatif yang Diharamkan
 
Di antara pengobatan alternatif yang diharamkan adalah pengobatan yang mengandung unsur kesyirikan, seperti berobat dengan menggunakan metode sihir. Sihir merupakan ungkapan tentang jimat-jimat, mantra-mantra, dan sejenisnya, yang dapat berpengaruh pada hati dan badan. Di antaranya ada yang membuat sakit, membunuh, dan memisahkan antara suami dan istri. Namun pengaruh sihir tersebut tetap tergantung pada izin Allah ta’ala. Sihir ini merupakan bentuk kekufuran dan kesesatan. Rasulullah ﷺ bersabda: ”Jauhilah tujuh hal yang membinasakan!” Para sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah! Apa saja itu?” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ”Yaitu syirik kepada Allah, sihir, …” (HR. Bukhari dan Muslim).
 
Pelaku sihir memiliki tanda-tanda yang dapat dikenali. Apabila dijumpai salah satu di antara tanda-tanda tersebut pada seorang ahli pengobatan, maka dapat diduga, bahwa ia melakukan praktik sihir, atau melakukan praktik yang amat dekat dengan sihir. Di antara tanda-tanda tersebut adalah:
 
1) Mengambil bekas pakaian yang dipakai oleh pasien semisal baju, tutup kepala, kaos dalam, celana dalam, dan lain-lainnya;
 
2) Meminta binatang dengan sifat-sifat tertentu untuk disembelih, dan tidak menyebut nama Allah ketika menyembelihnya, dan kadang-kadang melumurkan darah binatang tersebut pada bagian anggota badan yang sakit;
 
3) Menuliskan jimat atau jampi-jampi yang tidak dapat difahami maksudnya;
 
4) Memerintahkan pasien untuk menyepi beberapa waktu di kamar yang tidak tembus cahaya matahari;
 
5) Memerintahkan pasien untuk tidak menyentuh air selama jangka waktu tertentu, dan kebanyakan selama 40 hari;
 
6) Membaca mantra-mantra yang tidak dapat difahami maknanya;
7) Kadang ia memberitahukan nama, tempat tinggal, dan semua identitas pasien serta masalah yang dihadapi pasien, tanpa pemberitahuan pasien kepadanya.
 
Demikian pula diharamkan bagi seseorang untuk berobat kepada dukun. Pada hakikatnya, dukun tidak berbeda dengan tukang sihir dari sisi, bahwa keduanya meminta BANTUAN KEPADA JIN, dan mematuhinya demi mencapai tujuan yang dia inginkan. Sedangkan perbuatan meminta bantuan kepada jin sendiri termasuk SYIRIK BESAR. Karena meminta bantuan kepada jin dalam hal-hal seperti ini tidaklah mungkin, kecuali dengan mendekatkan diri kepada jin dengan suatu ibadah atau “ritual” tertentu. Seorang dukun harus mendekatkan diri kepada jin dengan melaksanakan ibadah tertentu, seperti menyembelih, istighatsah, kufur kepada Allah dengan menghina mushaf Alquran, mencela Allah ta’ala, atau amalan kesyirikan dan kekufuran yang semisal, agar mereka dibantu untuk diberitahu tentang perkara yang gaib. (Lihat Fathul Majiid hal. 332, Syaikh Abdurrahman bin Hasan; At-Tamhiid hal. 317, Syaikh Shalih Alu Syaikh)
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
”Barang siapa mendatangi seorang dukun dan memercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad” (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Al-Irwa’ no. 2006).
Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata:
”Di dalam hadis tersebut terdapat dalil kafirnya dukun dan tukang sihir, karena keduanya mengaku mengetahui hal yang gaib. Padahal hal itu adalah kekafiran. Demikian pula orang-orang yang membenarkannya, meyakininya, dan rida terhadapnya” (Fathul Majiid, hal. 334).
 
Satu hal yang cukup memrihatinkan bagi kita adalah menyebarnya dukun dan tukang sihir yang berkedok sebagai tabib, yang mampu mengobati berbagai penyakit. Di antara mereka banyak juga yang berani memasang iklan di surat kabar dan mengklaim dirinya mampu mengetahui hal yang gaib. Wal ‘iyadhu billah! Di antara contoh praktik-praktik pengobatan yang mereka lakukan misalnya:
 
1. Pengobatan melalui jarak jauh, di mana keluarga pasien cukup membawa selembar foto pasien. Setelah itu, si tabib akan mengetahui bahwa ia menderita (misalnya) sakit jantung dan gagal ginjal. Oleh si tabib, penyakit itu kemudian ditransfer jarak jauh ke binatang tertentu, misalnya kambing. Hal ini jelas-jelas termasuk berobat kepada dukun, karena apakah hanya melihat foto seseorang kemudian diketahui bahwa jantungnya bengkak, ginjalnya tidak berfungsi, dan lain-lain?
 
2. Pengobatan metode lainnya, pasien hanya diminta menyebutkan nama, tanggal lahir, dan kalau perlu wetonnya. Bisa hanya dengan telepon saja. Setelah itu, si tabib akan mengatakan, bahwa pasien tersebut memiliki masalah dengan paru-paru atau jantungnya, atau masalah-masalah kesehatan lainnya.
 
3. Dukun lainnya hanya meminta pasiennya untuk mengirimkan sehelai rambutnya lewat pos. Setelah itu dia akan “menerawang gaib” untuk mendeteksi, merituali, dan memberikan sarana gaib kepada pasiennya.
 
4. Pengobatan dengan “ajian-ajian” yang dapat ditransfer jarak jauh atau dengan menggunakan “benda-benda gaib” tertentu seperti “batu gaib”, “gentong keramat” (cukup dimasukkan air ke dalam gentong, kemudian airnya diminum), dan lain sebagainya.
 
Praktik perdukunan dan sihir seolah-olah memang tidak dapat dipisahkan. Demikian pula pelakunya. Orang yang mengaku sebagai dukun, paranormal, atau orang pintar juga melakukan sihir. Dan demikian pula sebaliknya. Demikianlah salah satu kerusakan yang sudah tersebar luas di Indonesia ini. Semoga Allah ta’ala melindungi kita semua dari kesyirikan.
 
Bentuk pengobatan syirik lainnya adalah berobat dengan menggunakan jimat. Termasuk kerusakan pada masa sekarang ini adalah penggunaan jimat untuk mencegah atau mengobati penyakit tertentu. Tidak sungkan-sungkan pula pemilik jimat tersebut akan menawarkan jimatnya tersebut di koran-koran agar menghasilkan uang. Di antaranya jimat dalam bentuk batu “mustika” atau cincin yang dapat mengeluarkan sinar tertentu, yang dapat menyembuhkan penyakit apa pun bentuknya. Hal ini termasuk kesyirikan karena Rasulullah ﷺ bersabda:
”Barang siapa menggantungkan jimat (tamimah), maka dia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 492).
 
Pengobatan dengan Sesuatu yang Haram
 
Tidak boleh pula seseorang berobat dengan menggunakan sesuatu yang haram, meskipun tidak sampai derajat syirik. Rasulullah ﷺ bersabda: ”Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram” (HR. Thabrani. Dinilai hasan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1633).
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
”Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian dalam sesuatu yang diharamkan-Nya” (HR. Bukhari). Hadis-hadis ini beserta dalil yang lain, semuanya tegas melarang berobat dengan sesuatu yang haram.
 
Misalnya bentuk pengobatan dengan menggunakan air kencingnya sendiri. Air seni yang diminum, terutama air seni pertama kali yang dikeluarkan pada waktu pagi hari setelah bangun tidur. Pengobatan seperti ini tidak boleh dilakukan. Karena air seni adalah najis, dan setiap barang najis pasti haram. Maka air seni termasuk ke dalam larangan ini. Begitu pula berobat dengan memakan binatang-binatang yang haram dimakan.
 
Semoga pembahasan yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semua. Semoga Allah ta’ala senantiasa mengaruniakan nikmat berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh kepada kita semua. Dan semoga Allah ta’ala memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita dapat menjadi hamba-Nya yang bersih tauhidnya dan jauh dari kesyirikan.
 
Penulis: dr. M. Saifudin Hakim
[Artikel www.muslim.or.id]
 
 
,

NASIHAT UNTUK MEREKA YANG MASIH SUKA MENGOLOK-OLOK SYARIAT ISLAM

NASIHAT UNTUK MEREKA YANG MASIH SUKA MENGOLOK-OLOK SYARIAT ISLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

NASIHAT UNTUK MEREKA YANG MASIH SUKA MENGOLOK-OLOK SYARIAT ISLAM

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, kamu selalu berolok-olok?” TIDAK USAH KAMU MINTA MAAF, karena kamu TELAH KAFIR sesudah beriman.” (QS. At-Taubah 9: 65-66)

Termasuk dalam hal ini adalah mengolok-olok masalah tauhid, shalat, zakat, puasa, haji atau berbagai macam hukum dalam agama ini yang telah disepakati.

Kami menasihati kepada orang-orang yang melakukan perbuatan olok-olok seperti ini untuk segera bertaubat kepada Allah, dan hendaklah komitmen dengan syariat-Nya. Kami menasihati untuk berhati-hati melakukan perbuatan mengolok-olok orang yang berpegang teguh dengan syariat ini, dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Hendaklah seseorang takut akan murka dan azab (siksaan) Allah, serta takut akan murtad dari agama ini, sedangkan dia TIDAK MENYADARINYA. Kami memohon kepada Allah agar kami dan kaum muslimin sekalian mendapatkan maaf atas segala kejelekan, dan Allah-lah sebaik-baik tempat meminta. Wallahu waliyyut taufiq. [Lihat Kayfa Nuhaqqiqut Tauhid, Madarul Wathon Linnashr, hal.61-62]

Setelah diketahui, bahwa bentuk mengolok-olok atau mengejek orang yang berkomitmen dengan ajaran Nabi ﷺ termasuk kekafiran, maka seseorang hendaknya MENJAUHI dirinya dari perbuatan mengolok-olok ini. Dan jika telah terjatuh dalam perbuatan semacam ini, hendaknya segera BERTAUBAT.

Ada catatan di sini. Tolong dibedakan antara HUKUM MASALAH dan HUKUM PERORANGAN. Sudah dijelaskan bahwa perbuatan mengolok-olok ajaran Nabi ﷺ adalah sesuatu kekufuran. Namun bagaimanakah mengenai hukum perorangan? Jawabannya, ini mesti dilihat dari kondisi/kasus setiap orang per orang, dan kita tidak bisa menghukumi secara pasti bahwa orang itu adalah kafir. Karena barangkali ada PENGHALANG atau SYARAT yang BELUM terpenuhi, sehingga ia tidak bisa dinyatakan kafir. Misalnya, karena orang itu belum tahu, bahwa sesungguhnya hal itu adalah termasuk syariat Islam, dsb, maka kita tidak bisa menghukumi orang itu sebagai kafir, meski secara hukum masalah, PERBUATAN orang tersebut adalah perbuatan kekufuran. Wallahu a’lam.

Semoga firman Allah ta’ala berikut bisa menjadi pelajaran:

”Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” [QS. Az Zumar 39: 53]

 

Sumber: https://muslim.or.id/5409-bahaya-mengejek-ajaran-nabi-shallallahu-%E2%80%98alaihi-wa-sallam.html

Dengan penambahan seperlunya dari redaksi Nasihat Sahabat.

,

TAHUKAH ANDA PERBEDAAN ANTARA KESYIRIKAN DAN KEKUFURAN?

TAHUKAH ANDA PERBEDAAN ANTARA KESYIRIKAN DAN KEKUFURAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahTauhid, #FatwaUlama

TAHUKAH ANDA PERBEDAAN ANTARA KESYIRIKAN DAN KEKUFURAN?

Asy-Syaikh al-Muhaddits al-Albani rahimahullah

Pertanyaan:

Apakah ada perbedaan antara KESYIRIKAN dan KEKUFURAN?

Jawaban:

TIDAK ADA PERBEDAAN antara keduanya.

  • Sehingga setiap kekufuran adalah kesyirikan.
  • Dan setiap kesyirikan adalah kekufuran.

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh percakapan seorang Mukmin dengan dua pemilik kebun yang disebutkan dalam surat al-Kahfi.

Perhatikan penjelasan ini sehingga akan hilang darimu sekian banyak permasalahan.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya, sempurnalah amal saleh.

[Fatawa asy-Syaikh al-Albani 54]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

 

TAWASSUL YANG BISA MEMBAWA KESYIRIKAN

TAWASSUL YANG BISA MEMBAWA KESYIRIKAN

TAWASSUL YANG BISA MEMBAWA KESYIRIKAN

Apabila seseorang menjadikan seorang wali, nabi atau malaikat sebagai perantara untuk berdoa kepada Allah ta’ala, maka ini BUKANLAH Tawassul yang dibolehkan. Bahkan termasuk SYIRIK menurut kesepakatan (Ijma’) Ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“Barang siapa menjadikan makhluk sebagai perantara antara dirinya dengan Allah ta’ala, sehingga ia berdoa kepada para perantara tersebut, memohon dan bertawakal kepada mereka, maka ia kafir berdasarkan Ijma’.”  [Al-Mulakhkhosul Fiqhi, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, 2/450]

 

Sumber: http://sofyanruray.info/peringatan-dari-bahaya-syirik-2/

DUA MACAM DOA DAN KESYIRIKAN YANG KITA BISA TERJATUH KE DALAMNYA

DUA MACAM DOA DAN KESYIRIKAN YANG KITA BISA TERJATUH KE DALAMNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

DUA MACAM DOA DAN KESYIRIKAN YANG KITA BISA TERJATUH KE DALAMNYA

Pertama: Doa Ibadah

Seperti misalnya shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain. Karena seorang yang melakukan ibadah-ibadah tersebut berarti ia memohon rahmat dan ampunan kepada Allah ta’ala dengan ibadah yang ia lakukan. Bentuk yang pertama ini, apabila dipersembahkan kepada selain Allah ta’ala, adalah termasuk perbuatan syirik besar (secara mutlak).

Kedua: Doa Permohonan (Tholab)

Seperti misalnya memohon suatu kemanfaatan atau terhindar dari suatu kemudharatan. Bentuk yang kedua ini, apabila dipersembahkan atau diminta kepada selain Allah ta’ala, maka termasuk syirik jika tidak terpenuhi padanya tiga syarat:

  • 1) Permohonan tersebut masih dalam batas kemampuannya untuk mengabulkan.
  • 2) Orang tersebut masih hidup.
  • 3) Orang tersebut hadir dan atau mampu mendengarkan permohonan kepadanya.

Maka meminta sesuatu yang hanya mampu dikabulkan oleh Allah, seperti memohon hidayah, keselamatan di Akhirat, minta hujan, perlindungan dari setan dan lain-lain, adalah termasuk syirik. Demikian pula meminta kepada orang yang sudah mati, atau orang yang tidak hadir sesuatu yang tidak mungkin dikabulkan, kecuali oleh Allah, maka termasuk syirik.

[Lihat Syarhu Tsalatsatil Ushul, Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah, dicetak dalam Jami’ Syuruh Tsalatsatil Ushul, hal. 141-142]

Termasuk Kategori Syirik dalam Doa Permohonan:

  • ➡ Isti’anah (meminta tolong) kepada selain Allah ta’ala
  • ➡ Istighotsah (meminta tolong ketika musibah) kepada selain Allah ta’ala
  • ➡ Isti’adzah (mohon perlindungan) kepada selain Allah ta’ala

Apabila seseorang ber-isti’anah, istighotsah dan isti’adzah kepada makhluk yang tidak terpenuhi padanya tiga syarat di atas, maka termasuk kategori syirik.

  • ➡ Memohon syafaat kepada selain Allah ta’ala.
  • ➡ Berdoa kepada para wali yang sudah meninggal dengan dalih Tawassul

Apabila seseorang menjadikan seorang wali, nabi atau malaikat sebagai perantara untuk berdoa kepada Allah ta’ala, maka ini bukanlah Tawassul yang dibolehkan. Bahkan termasuk syirik menurut kesepakatan (ijma’) Ulama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“Barang siapa menjadikan makhluk sebagai perantara antara dirinya dengan Allah ta’ala, sehingga ia berdoa kepada para perantara tersebut, memohon dan bertawakal kepada mereka, maka ia kafir berdasarkan Ijma’.” [Al-Mulakhkhosul Fiqhi, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, 2/450]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:  http://sofyanruray.info/peringatan-dari-bahaya-syirik-2/

 

TIDAK ADA ORANG KAFIR YANG AMANAH

TIDAK ADA ORANG KAFIR YANG AMANAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

TIDAK ADA ORANG KAFIR YANG AMANAH

Karena asas amanah adalah rasa takut kepada Allah. Dan orang yang tidak pernah takut kepada Allah, tidak mungkin memilikinya.

[Faidah Kajian bersama Ustadz Aris Munandar]

, ,

ORANG KAFIR TIDAK AKAN MASUK SURGA, SAMPAI ADA UNTA MASUK LUBANG JARUM!

ORANG KAFIR TIDAK AKAN MASUK SURGA, SAMPAI ADA UNTA MASUK LUBANG JARUM!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahSunnah #MutiaraAyat
#DakwahTauhid
ORANG KAFIR TIDAK AKAN MASUK SURGA, SAMPAI ADA UNTA MASUK LUBANG JARUM!

Oleh: Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari

Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ ﴿٤٠﴾ لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ ﴿٤١﴾ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka memunyai tikar tidur dari api Neraka, dan di atas mereka ada selimut (api Neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekadar kesanggupannya. Mereka itulah penghuni-penghuni Surga; mereka kekal di dalamnya.” [Al-A’raf/7:40-42].

Muqaddimah

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beriman dan beribadah kepada-Nya. Namun di antara mereka ada yang beriman dan ada juga yang kafir. Orang-orang beriman akan mendapatkan kebahagiaan, sedangkan orang-orang kafir akan mendapatkan kecelakaan.

Di antara KECELAKAAN TERBESAR bagi orang-orang kafir adalah mereka TIDAK AKAN MASUK SURGA, hingga ada unta masuk ke lubang jarum. Dan ini mustahil, sebagaimana Allah Azza wa Jalla telah memberitakan hakikat ini di dalam ayat-ayat di atas.

Penjelasan Ayat

Firman Allah Azza wa Jalla:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata: “Allah Yang Maha Tinggi sebutan-Nya berfirman: ‘Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan’ hujjah-hujjah dan dalil-dalil Kami, tidak membenarkannya, dan tidak mengikuti rasul-rasul Kami, ‘dan menyombongkan diri terhadapnya,’ takabbur dari membenarkannya, enggan mengikuti dan tunduk kepadanya karena sombong.” [Tafsir Thabari, 12/421]

Firman Allah Azza wa Jalla:

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ

Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit.

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata: “Pintu-pintu langit tidak akan dibukakan bagi mereka untuk ruh-ruh mereka yang keluar dari jasad mereka. Perkataan dan perbuatan dalam kehidupan mereka tidak akan naik menuju Allah Azza wa Jalla, karena perbuatan-perbuatan mereka itu buruk. Sedangkan yang akan diangkat keharibaan Allah hanyalah perkataan yang baik dan perbuatan yang saleh, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. [Fathir/35:10]”. [Tafsir ath-Thabari, 12/421]

Firman Allah Azza wa Jalla:

وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

Dan mereka tidak (pula) masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: “Maksudnya adalah mereka tidak akan masuk Surga selamanya. Karena, jika (penetapan) sesuatu disyaratkan dengan perkara yang mustahil terjadi, maka itu menunjukkan adanya PENEKANAN pada KEMUSTAHILANNYA. Seperti dikatakan (dalam bahasa Arab) ‘Aku tidak melakukannya hingga burung gagak beruban, atau hingga aspal menjadi putih’, maksudnya, aku tidak melakukannya selamanya”. [Tafsir al-Baghawi, 3/229]

Firman Allah Azza wa Jalla:

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Yaitu orang-orang yang banyak kejahatannya dan sikapnya yang melewati batas”. [Taisir Karimir-Rahman]

Firman Allah Azza wa Jalla:

لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ

(Mereka memunyai tikar tidur dari api Neraka dan di atas mereka ada selimut (api Neraka).

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: “Allah menghendaki, Neraka meliputi mereka dari seluruh sisi, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ

Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka, dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). [az-Zumar/39:16]. [Tafsir al-Baghawi, 3/229]

Firman Allah Azza wa Jalla:

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ ﴿٤١﴾ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim, dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Setelah Allah menyebutkan hukuman bagi orang-orang yang bermaksiat lagi zalim, Dia Azza wa Jalla menyebutkan pahala orang-orang yang taat. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang beriman dengan hati mereka dan mengerjakan amal-amal yang saleh dengan anggota badan mereka, sehingga mereka menggabungkan antara iman dan amal, antara amal-amal lahir dan batin, antara melakukan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan.” [Taisir Karimir-Rahman, 1/289]

Firman Allah Azza wa Jalla:

لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

(Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekadar kesanggupannya).

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Karena firman-Nya “Mengerjakan amal-amal yang saleh,” adalah lafal umum yang mencakup seluruh amal-amal saleh, baik yang wajib maupun yang mustahab, dan bisa jadi sebagiannya tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba, (maka) Allah Azza wa Jalla berfirman: “Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekadar kesanggupannya”, yaitu seukuran dengan kekuatannya, dan tidak berat terhadapnya. Dalam kondisi seperti ini, kewajibannya adalah bertakwa kepada Allah sesuai dengan kemampuannya. Jika tidak mampu melakukan sebagian kewajiban yang orang lain mampu melakukannya, maka kewajiban itu gugur darinya, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. [al-Baqarah/2:286]

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا

Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya. [Ath-Thalaq/65:7].

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Dia sekali-kali Dia (Allah) tidak menjadikan suatu kesempitan untuk kamu dalam agama. [Al-Hajj/22:78]

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. [At-Taghabun/64:16].

Maka tidak ada kewajiban jika tidak mampu, dan tidak ada yang haram ketika dalam keadaan darurat.” [Taisir Karimir-Rahman]

Firman Allah Azza wa Jalla:

أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Mereka itulah penghuni-penghuni Surga; mereka kekal di dalamnya.

Yaitu mereka tidak akan berpindah darinya dan mereka tidak akan mencari ganti terhadap Surga, karena di dalamnya mereka melihat bermacam-macam kelezatan dan perkara-perkara yang disukai yang berada pada puncaknya, dan tidaklah dicari yang lebih tinggi darinya. [Taisir Karimir-Rahman]

Faidah Ayat

Sangat banyak faidah, pelajaran dan petunjuk dari ayat-ayat ini, antara lain:

  1. Mendustakan ayat Allah Azza wa Jalla dan bersikap arogan terhadapnya merupakan kufur akbar (kekafiran besar).
  2. Penjelasan balasan orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah Azza wa Jalla dan bersikap sombong terhadapnya, balasannya adalah tidak akan masuk Surga selamanya.
  3. Pintu-pintu langit tidak akan dibukakan untuk untuk ruh-ruh orang-orang kafir ketika mereka mati.
  4. Perkataan dan perbuatan orang-orang kafir tidak diterima oleh Allah, karena di antara syarat diterima amal adalah iman.
  5. Kewajiban agama yang tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba, maka kewajiban itu gugur darinya.
  6. Iman dan amal saleh akan menghantarkan kemuliaan di dunia dan Akhirat dan sebab masuk Surga.

Peringatan

Sebagian orang beranggapan, bahwa ayat ke-40 dari surat al-A’raf ini sebagai dalil bahwa “Orang-orang Mukmin yang masuk Neraka tidak akan keluar selama-lamanya.” Maka ini merupakan kesesatan dan kebodohan yang nyata. Karena awal ayat ini jelas menunjukkan, bahwa ini balasan untuk orang-orang kafir.

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.

Karena perbuatan mendustakan ayat-ayat Allah dan menyombongkan diri terhadapnya adalah kufur akbar (kekafiran yang besar). Sehingga orang-orang kafir akan masuk Neraka, dan tidak akan keluar selama-lamanya. Dan ayat ini tidak menunjukkan, bahwa semua orang-orang yang masuk Neraka tidak akan keluar selama-lamanya.

Demikian juga anggapan, bahwa “Orang-orang yang masuk Neraka tidak akan keluar selama-lamanya” secara umum, adalah pendapat firqah (golongan sesat) Khawarij dan Mu’tazilah. Sedangkan Ahlus-Sunnah berkeyakinan, bahwa orang-orang yang akan memasuki Neraka ada dua golongan, yaitu:

  • (1) Orang-orang kafir, mereka kekal di dalam Neraka,
  • (2) Orang -orang Mukmin yang berbuat dosa besar, mereka akan keluar dari Neraka dan akan masuk Surga.

Hadis-hadis yang memberitakan, bahwa sebagian orang-orang Mukmin akan masuk Neraka dengan sebab dosa-dosa mereka, kemudian akan keluar dan masuk Surga sangat banyak. Dan hal itu tidak bertentangan dengan ayat-ayat Alquran.

Di antara hadis-hadis tersebut adalah sabda Nabi ﷺ:

أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُهَا فَإِنَّهُمْ لَا يَمُوتُونَ فِيهَا وَلَا يَحْيَوْنَ وَلَكِنْ نَاسٌ أَصَابَتْهُمُ النَّارُ بِذُنُوبِهِمْ أَوْ قَالَ بِخَطَايَاهُمْ فَأَمَاتَهُمْ إِمَاتَةً حَتَّى إِذَا كَانُوا فَحْمًا أُذِنَ بِالشَّفَاعَةِ فَجِيءَ بِهِمْ ضَبَائِرَ ضَبَائِرَ فَبُثُّوا عَلَى أَنْهَارِ الْجَنَّةِ ثُمَّ قِيلَ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ أَفِيضُوا عَلَيْهِمْ فَيَنْبُتُونَ نَبَاتَ الْحِبَّةِ تَكُونُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ

Adapun penduduk Neraka, yang mereka merupakan penduduknya, maka sesungguhnya mereka tidak akan mati di dalam Neraka dan tidak akan hidup. Tetapi orang-orang yang dibakar oleh Neraka dengan sebab dosa-dosa mereka, maka Dia (Allah) akan mematikan mereka. Sehingga apabila mereka telah menjadi arang, diizinkan mendapatkan syafaat. Maka mereka didatangkan dalam keadaan kelompok-kelompok yang berserakan. Lalu mereka ditebarkan di sungai-sungai Surga, kemudian dikatakan: “Wahai penduduk Surga tuangkan (air) kepada mereka!” Maka mereka pun tumbuh sebagaimana tumbuhnya bijian yang ada pada sisa-sisa banjir. [HR Muslim no. 185].

Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus. Aamiin, al-hamdulillahi rabbil-‘alamin.

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XVII/1435H/2013M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/4116-orang-kafir-tidak-akan-masuk-Surga-sampai-ada-unta-masuk-loba+ng-jarum.html