Posts

BERWUDHU DAN TIDAK BERKUMUR ATAU ISTINSYAQ (MENGHISAP AIR KE HIDUNG), TIDAK SAH WUDHUNYA

BERWUDHU DAN TIDAK BERKUMUR ATAU ISTINSYAQ (MENGHISAP AIR KE HIDUNG), TIDAK SAH WUDHUNYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatWudhuNabi
 
BERWUDHU DAN TIDAK BERKUMUR ATAU ISTINSYAQ (MENGHISAP AIR KE HIDUNG), TIDAK SAH WUDHUNYA
 
Pertanyaan:
Salah seorang temanku pernah bertanya kepadaku, yaitu apakah sah wudhunya tanpa berkumur dan istinsyaq (memasukkan air ke hidung) karena ayat Alquran tidak merinci masalah ini. Akan tetapi dijelaskan secara umum yaitu membasuh wajah. Apakah wudhu saya sah kalau saya lupa atau sengaja hanya membasuh wajah tanpa berkumur dan istinsyaq. Apakah dibolehkan kalau hari ini saya mandi dengan niat wudhu tanpa berkumur atau istinsyaq. Apakah hal itu sah seperti halnya dalam berwudhu?
 
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berkumur dan beristinsyaq (memasukkan air ke hidung) dalam wudhu dan mandi. Yang kuat di antara pendapat tersebut adalah bahwa keduanya WAJIB. Maka TIDAK SAH berwudhu dan mandi kecuali dengan melakukan keduanya, karena kedunya masuk wajah yang diperintahkan dalam ayat yang mulia.
 
Al-Hijawi dalam kitab ‘Az-Zad’ dalam bab Furudhul Wudhu Wa Sifatuhu, hal. 29 mengatakan: “Fardhu (Rukun) wudhu ada 6 (enam), yaitu:
1. Membasuh wajah (temasuk berkumur dan memasukkan sebagian air ke dalam hidung lalu dikeluarkan).
2. Membasuh kedua tangan sampai kedua siku.
3. Mengusap (menyapu) seluruh kepala (termasuk mengusap kedua daun telinga).
4. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki.
5. Tertib (berurutan).
6. Muwalah (tidak diselingi dengan perkara-perkara yang lain, yaitu tidak mengakhirkan membasuh anggota tubuh sampai kering anggota tubuh sebelumnya)
 
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam penjelasannya mengatakan: “Perkataan ‘termasuk mulut dan hidung’ maksudnya dari wajah. Karena keberadaannya di sana, maka dianggap masuk dalam pengertian wajah. Dengan demikian, maka berkumur dan istinsyaq termasuk kewajiban wudhu. Akan tetapi keduanya tidak sendirian. Keduanya seperti sabda Nabi ﷺ:
 
أمرت أن أسجد على سبعة أعظم ، على الجبهة ، وأشار بيده على أنفه
 
“Saya diperintahkan bersujud di atas tujuh anggota tubuh; Di atas kening dan beliau memberikan isyarat ke hidungnya.”
 
Meskipun persamaannya tidak pada semua sisi.” (As-Syarhul Mumti, 1/119)
 
Para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Daimah Lil ifta’ mengatakan: “Dinyatakan ketetapan, bahwa berkumur dan istinsyaq dalam wudhu termasuk perbuatan Nabi ﷺ dan sabdanya ﷺ. Keduanya masuk dalam membasuh muka. Maka wudhu TIDAK SAH bagi orang yang meninggalkan keduanya atau salah satunya.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 4/78)
 
Syekh Sholeh Al-Fauzan rahimahullah berkata: “Siapa yang membasuh wajahnya dan meninggalkan berkumur dan istinsyaq atau salah satunya, maka wudhunya tidak sah, karena mulut dan hidung termasuk wajah, sebagaimana firman Allah ta’ala: “Maka basuhlah wajah-wajah kalian.” Maka Allah memerintahkan untuk membasuh semua wajahnya. Siapa yang meninggallkan sesuatu, maka dia tidak termasuk orang yang melaksanakan perintah Allah ta’ala. Dan Nabi ﷺ berkumur dan beristinsyaq.” (Al-Mulakhas Al-Fiqhi, 1/41).
 
Adapun keberadaan ayat yang tidak menyebutkan berkumur dan istinsyaq, hal itu bukan berarti tidak wajib. Karena Sunnah merupakan penjelasan Alquran. Sementara Sunnah menjelaskan berkumur dan istinsyaq. Dan dari Nabi ﷺ tidak pernah melalaikan keduanya atau salah satunya dalam berwudhu. Maka hal ini merupakan penjelasan perintah yang ada dalam Alquran, dengan membasuh wajah ketika bersuci.
 
Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Al-Mughni, 1/83 mengatakan: “Semua orang yang menyebutkan cara wudhu Nabi ﷺ secara rinci menyebutkan, bahwa beliau ﷺ berkumur dan beristisnyaq terus menerus akan keduanya menunjukkan akan kewajibannya. Karena perilaku beliau ﷺ layak dijadikan sebagai penjelasan dan perincian dalam berwudhu yang diperintahkan dalam Kitabullah.”
 
Siapa yang Meninggalkan Berkumur Atau Beristinsyaq dalam Bersuci, Maka Tidak Sah Bersucinya, Baik Secara Sengaja atau Lupa
 
Al-Mardawi dalam kitab Al-Inshaf, 1/153 mengatakan: “Perkataan (Keduanya wajib dalam bersuci) maksudnya adalah berkumur dan beristinsyaq. Ini adalah pendapat secara umum dalam madzhab, dan termasuk (pendapat) teman-teman. Apakah gugur kalau lupa atau tidak? Ada dua riwayat… Az-Zarkasyi mengatakan: “Beliau mengatakan wajib. Maka meninggalkan keduanya atau salah satunya meskipun lupa, tidak sah wudhunya. Hal itu adalah pendapat Jumhur. Dalam kitab ‘Ar-Ri’ayah Al-Kubra’ mengatakan: “Tidak gugur meskipun lupa menurut (pendapat) yang terkenal. Dan didahulukan dalam kitab (Ri’ayatus) Sugro.”
 
Para ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Lil Ifta’ mengatakan: “Kalau seseorang lupa membasuh salah satu anggota tubuh atau bagian tubuh meskipun itu kecil. Jika di tengah wudhu atau langsung setelahnya dan bekas air masih ada di anggota tubuhnya sementara airnya belum kering, maka dia harus membasuh bagian yang terlupakan dan setelahnya saja. Tapi, kalau dia sadar bahwa dia lupa membasuh salah satu anggota wudhu atau sebagian dari anggota wudhu setelah airnya kering dari anggota tubuh, atau di tengah shalat atau setelah menunaikan shalat, maka dia harus memulai wudhu yang baru, sebagaimana yang Allah perintahkan dan mengulangi shalat secara penuh. Karena ketiadaan muwalah (berurutan) dalam kondisi ini dan lamanya (waktu) terpisah. Sementara Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan membasuh semua anggota tubuh wudhu. Barang siapa meninggalkan bagian anggota wudhu, meskipun sebagian di antara anggota wudhu, maka dia bagaikan meninggalkan membasuh semuanya. Yang menunjukkan akan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Umar bin Khatab radhiallahu anhu, dia berkata:
 
رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا توضأ فترك موضع الظفر على قدمه ، فأمره أن يعيد الوضوء والصلاة . قال : فرجع فصلى (أخرجه مسلم، رقم 243 وابن ماجه، رقم 666)
 
“Rasulullah ﷺ melihat seseorang berwudhu dengan meninggalkan (tidak membasuh) sebesar kuku di kakinya. Maka beliau ﷺ menyuruhnya untuk mengulangi wudhu dan shalat. Lalu dia dia mengulangi (wudhunya) dan shalat lagi.” (HR. Muslim, 243 Ibnu Majah, 666)
 
[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 4/92]
 
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Tertib dalam wudhu termasuk wajib. Oleh karena itu, kalau dia berwudhu, kemudian setelah keluar dari tempat wudhu melihat sikunya tidak terkena air. Maka dia harus kembali dan membasuhnya kemudian mengusap kepala dan membasuh kedua kakinya. Sementara kalau dia mendapatkan kedua kakinya tidak terkena air, maka cukup membasuh kedua kakinya saja. Karena kedua kaki termasuk bagian terakhir anggota tubuh wudhu.
 
Kalau dia lupa berkumur dan beristinsyaq, maka dia harus melakukan keduanya, kemudian membasuh kedua tangan sampai siku. Mengusap kepada dan membasuh kedua kakinya. Jadi dia mengulangi bagian wudhu yang kurang sempurna dan anggota wudhu setelahnya. Kecuali kalau jeda waktunya lama, maka dia harus mengulangi wudhu secara sempurna.” (As-Syarhul Al-Mukhtasor ‘Ala Bulughil Maram, 2/73)
 
Silakan merujuk di link berikut ini: islam-universe.com/audio/94.html. Untuk tambahan manfaat, silakan melihat jawaban soal no. 149908: https://islamqa.info/id/149908
 
Wallahua’lam .
 
Catatan Tambahan:
 
Madhmadhah adalah memasukkan air ke dalam mulut, kemudian berkumur-kumur dengannya, lalu disemburkan keluar. (Fathul Bari, 1/335)
 
Istinsyaq adalah memasukkan air ke dalam hidung dengan menghirupnya sampai jauh ke dalam hidung. (al-Mughni, 1/74, Nailul Authar, 1/203)
Sedangkan istintsar adalah mengeluarkan air dari hidung setelah istinsyaq. (Syarah Shahih Muslim, 3/105)
 
Disunnahkan untuk bersungguh-sungguh dalam ber-istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung) kecuali bila sedang puasa. (al-Mughni, 1/74, al-Majmu’ 1/396, Subulus Salam, 1/73, Nailul Authar, 1/212)
,

KEWAJIBAN AGAMA UNTUK PENDERITA AUTIS

KEWAJIBAN AGAMA UNTUK PENDERITA AUTIS

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

KEWAJIBAN AGAMA UNTUK PENDERITA AUTIS
>> Status Orang yang Tidak Pernah Mengenal Islam
Pertanyaan:
Bagaimana kewajiban agama untuk anak autis?
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Di beberapa kesempatan, konsultasisyariah.com mendapat pertanyaan tentang status orang yang belum sampai kepadanya dakwah Islam, baik karena dia tinggal di lingkungan yang sama sekali tidak ada Islam, atau karena kemampuan akalnya kurang, sehingga tidak memahami dakwah Islam.

Pertama: Hukum di Dunia Berbeda dengan Hukum di Akhirat

Perlu dibedakan antara hukum di dunia dan hukum di Akhirat. Hukum di dunia dibangun di atas prinsip indikasi yang zahir/tampak. Sedangkan hukum di Akhirat dibangun di atas prinsip pasrah kepada pengetahuan dan keadilan Allah.

Prinsip ini berdasarkan hadis dari Abu Said al-Khudri, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنِّي لَمْ أُومَرْ أَنْ أَنْقُبَ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ وَلاَ أَشُقَّ بُطُونَهُمْ

“Aku tidaklah diperintahkan untuk membuka isi hati manusia, dan tidak pula membedah isi perutnya.” [HR. Bukhari 4351, Muslim 1064, dan lainnya]

Bahkan para ulama menegaskan adanya kesepakatan terhadap prinsip ini, sebagaimana yang dinyatakan Ibnu Abdil Bar dan al-Qurthubi:

وقد أجمعوا أن أحكام الدنيا على الظاهر وأن السرائر إلى الله عز وجل

Merekan sepakat, bahwa hukum di dunia sesuai dengan yang zahir, sedangkan yang tersembunyi dikembalikan kepada Allah ta’ala. [At-Tamhid, 10:157, dan Tafsir Qurthubi, 12:203].

Berdasarkan prinsip ini, status orang yang belum sampai kepadanya dakwah Islam, atau orang yang tidak pernah mendengar syariat, disikapi sebagaimana zahirnya, yang ini bisa diketahui dengan mengacu pada lingkungan atau orang tuanya. Misalnya: Anak kecil keturunan orang kafir yang meninggal sebelum baligh, dia disikapi sebagaimana orang tuanya, sehingga tidak boleh dishalati dan dimakamkan di pemakaman kaum Muslimin. Demikian pula orang pedalaman yang sama sekali tidak mengenal Islam, dia disikapi sebagaimana orang kafir, tidak dishalati dan tidak didoakan ketika meninggal, karena secara lahiriyah dia non-Muslim. Hal yang sama juga berlaku untuk orang gila sejak sebelum baligh. Dia disikapi sesuai dengan keluarganya atau lingkungannya. Jika orang gila ini berada di tengah keluarga non-Muslim atau berada di negeri kafir, maka dia diberlakukan sebagaimana orang non-Muslim lainnya.

Kedua: Hukum Akhirat

Ulama berbeda pendapat tentang hukum orang yang tidak memahami syariat semasa hidupnya di dunia, ketika dia dihisab di Hari Akhir. Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini, orang yang belum sampai kepadanya dakwah Islam, dia akan diuji oleh Allah dengan suatu perintah. Siapa yang sanggup taat pada perintah ini, maka Allah akan selamatkan dia. Sebaliknya, jika dia enggan dan membangkang, maka dia akan dicampakkan ke Neraka. Pendapat ini didukung beberapa dalil, di antaranya:

Firman Allah ta’ala:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً

“Aku tidak akan memberikan azab, sampai Aku mengutus seorang rasul.” [QS. Al-Isra’: 15].

Makna ayat ini ditegaskan dengan hadis dari Al-Aswad bin Sari’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَرْبَعَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَصَمُّ لَا يَسْمَعُ شَيْئًا، وَرَجُلٌ أَحْمَقُ، وَرَجُلٌ هَرَمٌ، وَرَجُلٌ مَاتَ فِي فَتْرَةٍ، فَأَمَّا الْأَصَمُّ فَيَقُولُ: رَبِّ، لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَسْمَعُ شَيْئًا، وَأَمَّا الْأَحْمَقُ فَيَقُولُ: رَبِّ، لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُونِي بِالْبَعْرِ، وَأَمَّا الْهَرَمُ فَيَقُولُ: رَبِّ، لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَعْقِلُ شَيْئًا، وَأَمَّا الَّذِي مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ فَيَقُولُ: رَبِّ، مَا أَتَانِي لَكَ رَسُولٌ، فَيَأْخُذُ مَوَاثِيقَهُمْ لَيُطِيعُنَّهُ، فَيُرْسِلُ إِلَيْهِمْ أَنْ ادْخُلُوا النَّارَ، قَالَ: فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوْ دَخَلُوهَا لَكَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلَامًا

Ada empat jenis manusia (yang akan diuji) pada Hari Kiamat:

  1. Orang budeg yang sama sekali tidak bisa mendengar apapun,
  2. Orang idiot,
  3. Orang pikun, dan
  4. Orang yang hidup di zaman Fatrah (belum mendengar dakwah Islam).

Orang budeg beralasan: ‘Ya Allah, Islam datang, namun aku sama sekali tidak bisa mendengar dakwah Islam.’ Orang idiot beralasan: ‘Ya Allah, Islam datang, sementara anak-anak melempariku dengan kotoran (karena gila).’ Orang pikun beralasan: ‘Ya Allah, Islam datang dan aku tidak paham sama sekali.’ Dan orang yang hidup di zaman Fatrah mengatakan: ‘Ya Allah, belum ada seorang pun utusan-Mu yang datang kepadaku.’

Kemudian Allah mengambil janji kepada mereka, bahwa mereka wajib menaati-Nya. Kemudian datang perintah kepada mereka, bahwa mereka semua harus masuk ke dalam Neraka. Rasulullah ﷺ menegaskan: “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, andai mereka masuk ke dalam Neraka itu, tentu mereka akan mendapatkan rasa dingin dan keselamatan.” [HR. Ahmad 16301. Syuaib al-Arnauth menilai: Hadis Hasan].

Dalam riwayat yang lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, terdapat tambahan:

فَمَنْ دَخَلَهَا كَانَتْ عَلَيْهِ بَرْدًا وَسَلَامًا، وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا يُسْحَبُ إِلَيْهَا

“Siapa yang memasuki Neraka itu, dia akan mendapatkan rasa dingin dan keselamatan. Dan siapa yang tidak memasukinya, dia akan dipanggang di Neraka.” [HR. Ahmad 16301 dan sanadnya Hasan]

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/17206-status-orang-yang-tidak-pernah-mengenal-Islam.html

BUAT YANG MALAS-MALASAN MENGHADIRI MAJELIS ILMU

BUAT YANG MALAS-MALASAN MENGHADIRI MAJELIS ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

BUAT YANG MALAS-MALASAN MENGHADIRI MAJELIS ILMU

Asy Syaikh Al ‘Allamah DR. Muhammad Aman bin ‘Ali Al Jami rahimahullahu ta’alaa:

Taklim di masa ini adalah merupakan suatu kewajiban bagi setiap individu, disebabkan banyaknya kekacauan, keserampangan, pemalsuan dan penyesatan. [ Syarhu al Wasithiyyah 276 ]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

,

KESALAHAN MENDAHULUKAN PUASA SYAWAL DARIPADA UTANG PUASA RAMADAN

KESALAHAN MENDAHULUKAN PUASA SYAWAL DARIPADA UTANG PUASA RAMADAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#SifatPuasaNabi

KESALAHAN MENDAHULUKAN PUASA SYAWAL DARIPADA UTANG PUASA RAMADAN

Perlu diketahui, bahwa tidak boleh mendahulukan puasa Syawal sebelum meng-qadha’ puasa atau membayar utang puasa. Seharusnya yang dilakukan adalah puasa qadha’ dahulu, lalu puasa Syawal. Karena jika kita mendahulukan puasa Syawal dari qadha’, sama saja dengan mendahulukan yang sunnah dari yang wajib. Ini TIDAKLAH TEPAT. Lebih-lebih lagi yang melakukannya TIDAK mendapatkan keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal, sebagaimana disebutkan dalam hadis:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh” (HR. Muslim no. 1164).

Untuk mendapatkan keutamaan puasa setahun penuh, PUASA RAMADAN HARUSLAH DIRAMPUNGKAN SECARA SEMPURNA terlebih dahulu, baru diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal.

Selain itu, qadha’ puasa berkaitan dengan dzimmah (kewajiban), sedangkan puasa Syawal tidaklah demikian. Dan seseorang tidak mengetahui kapankah ia masih hidup dan akan mati. Oleh karena itu, wajib mendahulukan yang wajib dari yang sunnah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: [Muslim.or.id]

 

,

SYARAT WAJIB DAN CARA MENGELUARKAN ZAKAT MAAL

SYARAT WAJIB DAN CARA MENGELUARKAN ZAKAT MAAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SYARAT WAJIB DAN CARA MENGELUARKAN ZAKAT MAAL

Syarat seseorang wajib mengeluarkan zakat adalah sebagai berikut:

  • Islam
  • Merdeka
  • Berakal dan baligh
  • Memiliki nishab

Makna nishab di sini adalah ukuran atau batas terendah yang telah ditetapkan oleh syari (agama), untuk menjadi pedoman menentukan kewajiban mengeluarkan zakat bagi yang memilikinya. Jika telah sampai ukuran tersebut, orang yang memiliki harta dan telah mencapai nishab atau lebih, diwajibkan mengeluarkan zakat dengan dasar firman Allah:

“Dan mereka bertanya kepadamu, apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, supaya kamu berpikir.” [QS.. Al Baqarah: 219]

Makna Al Afwu (dalam ayat tersebut-red), adalah harta yang telah melebihi kebutuhan. Oleh karena itu, Islam menetapkan nishab sebagai ukuran kekayaan seseorang.

Syarat-syarat nishab adalah sebagai berikut:

  1. Harta tersebut di luar kebutuhan yang harus dipenuhi seseorang, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan alat yang dipergunakan untuk mata pencaharian.
  2. Harta yang akan dizakati telah berjalan selama satu tahun (haul), terhitung dari hari kepemilikan nishab, dengan dalil hadis Rasulullah ﷺ.

“Tidak ada zakat atas harta, kecuali yang telah melampaui satu haul (satu tahun).” [HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al AlBani]

Dikecualikan dari hal ini, yaitu zakat pertanian dan buah-buahan. Karena zakat pertanian dan buah-buahan diambil ketika panen. Demikian juga zakat harta karun (rikaz) yang diambil ketika menemukannya.

Misalnya, jika seorang Muslim memiliki 35 ekor kambing, maka ia tidak diwajibkan zakat, karena nishab bagi kambing itu 40 ekor. Kemudian jika kambing-kambing tersebut berkembang biak sehingga mencapai 40 ekor, maka kita mulai menghitung satu tahun setelah sempurna nishab tersebut.

Nishab, Ukuran dan Cara Mengeluarkan Zakatnya

  1. Nishab Emas

Nishab emas sebanyak 20 Dinar. Dinar yang dimaksud adalah Dinar Islam.

  • 1 Dinar = 4,25 gr emas
  • Jadi, 20 Dinar = 85gr emas murni.

Dalil nishab ini adalah sabda Rasulullah ﷺ:

“Tidak ada kewajiban atas kamu sesuatu pun, yaitu dalam emas, sampai memiliki 20 Dinar. Jika telah memiliki 20 Dinar dan telah berlalu satu haul, maka terdapat padanya zakat ½ Dinar. Selebihnya dihitung sesuai dengan hal itu, dan tidak ada zakat pada harta, kecuali setelah satu haul.” [HR. Abu Daud, Tirmidzi]

Dari nishab tersebut, diambil 2,5% atau 1/40. Dan jika lebih dari nishab dan belum sampai pada ukuran kelipatannya, maka diambil dan diikutkan dengan nishab awal. Demikian menurut pendapat yang paling kuat.

Contoh:

Seseorang memiliki 87 gr emas yang disimpan. Maka jika telah sampai haulnya, wajib atasnya untuk mengeluarkan zakatnya, yaitu 1/40 x 87gr = 2,175 gr atau uang seharga tersebut.

  1. Nishab Perak

Nishab perak adalah 200 Dirham, setara dengan 595 gr perak, sebagaimana hitungan Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ 6/104 dan diambil darinya 2,5% dengan perhitungan sama dengan emas.

  1. Nishab Binatang Ternak

Syarat wajib zakat binatang ternak sama dengan di atas, ditambah satu syarat lagi, yaitu binatanngya lebih sering digembalakan di padang rumput yang mubah daripada dicarikan makanan.

“Dan dalam zakat kambing yang digembalakan di luar, kalau sampai 40 ekor sampai 120 ekor…” [HR. Bukhari]

Sedangkan ukuran nishab dan yang dikeluarkan zakatnya adalah sebagai berikut:

a. Unta

Nishab unta adalah 5 ekor.

Dengan pertimbangan di negara kita tidak ada yang memiliki ternak unta, maka nishab unta tidak kami jabarkan secara rinci -red.

b. Sapi

Nishab sapi adalah 30 ekor. Apabila kurang dari 30 ekor, maka tidak ada zakatnya.

Cara perhitungannya adalah sebagai berikut:

Jumlah sapi yang dimiliki: 30-39 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 1 ekor tabi’ atau tabi’ah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 40-59 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 1 ekor musinah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 60 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 2 ekor tabi’ atau 2 ekor tabi’ah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 70 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 1 ekor tabi dan 1 ekor musinnah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 80 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 2 ekor musinnah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 90 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 3 ekor tabi’
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 100 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 2 ekor tabi’ dan 1 ekor musinnah

Keterangan:

Tabi’ dan tabi’ah adalah sapi jantan dan betina yang berusia setahun.

Musinnah adalah sapi betina yang berusia 2 tahun.

Setiap 30 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor tabi’ dan setiap 40 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor musinnah.

c. Kambing

Nishab kambing adalah 40 ekor. Perhitungannya adalah sebagai berikut:

Jumlah Kambing: 40 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: 1 ekor kambing
 
Jumlah Kambing: 120 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: 2 ekor kambing
 
Jumlah Kambing: 201 – 300 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: 3 ekor kambing
 
Jumlah Kambing: > 300 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: setiap 100 ekor kambing adalah 1 ekor kambing
  1. Nishab hasil pertanian

Zakat hasil pertanian dan buah-buahan disyariatkan dalam Islam dengan dasar firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” [QS.. Al-An’am: 141]

Adapun nishabnya ialah 5 Wasaq, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

“Zakat itu tidak ada yang kurang dari 5 Wasaq.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Satu Wasaq setara dengan 60 sha’ [menurut kesepakatan ulama, silakan lihat penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/364]. Sedangkan 1 sha’ setara dengan 2,175 kg atau 3 kg. Demikian menurut takaran Lajnah Daimah li Al Fatwa wa Al Buhuts Al Islamiyah (Komite Tetap Fatwa dan Penelitian Islam Saudi Arabia). Berdasarkan fatwa dan ketentuan resmi yang berlaku di Saudi Arabia, maka nishab zakat hasil pertanian adalah 300 sha’ x 3 kg = 900 kg. Adapun ukuran yang dikeluarkan, bila pertanian itu didapatkan dengan cara pengairan (atau menggunakan alat penyiram tanaman), maka zakatnya sebanyak 1/20 (5%). Dan jika pertanian itu diairi dengan hujan (tadah hujan), maka zakatnya sebanyak 1/10 (10%). Ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

“Pada yang disirami oleh sungai dan hujan, maka sepersepuluh (1/10); dan yang disirami dengan pengairan (irigasi), maka seperduapuluh (1/20).” [HR. Muslim 2/673]

Misalnya: Seorang petani berhasil menuai hasil panennya sebanyak 1000 kg. Maka ukuran zakat yang dikeluarkan bila dengan pengairan (alat siram tanaman) adalah 1000 x 1/20 = 50 kg. Bila tadah hujan, sebanyak 1000 x 1/10 = 100 kg

  1. Nishab Barang Dagangan

Pensyariatan zakat barang dagangan masih diperselisihkan para ulama. Menurut pendapat yang mewajibkan zakat perdagangan, nishab dan ukuran zakatnya sama dengan nishab dan ukuran zakat emas.

Adapun syarat-syarat mengeluarkan zakat perdagangan sama dengan syarat-syarat yang ada pada zakat yang lain, dan ditambah dengan tiga syarat lainnya:

  • 1) Memilikinya dengan tidak dipaksa, seperti dengan membeli, menerima hadiah, dan yang sejenisnya.
  • 2) Memilikinya dengan niat untuk perdagangan.
  • 3) Nilainya telah sampai nishab.

Seorang pedagang harus menghitung jumlah nilai barang dagangan dengan harga asli (beli), lalu digabungkan dengan keuntungan bersih setelah dipotong utang.

Misalnya: Seorang pedagang menjumlah barang dagangannya pada akhir tahun dengan jumlah total sebesar Rp. 200.000.000 dan laba bersih sebesar Rp. 50.000.000. Sementara itu, ia memiliki utang sebanyak Rp. 100.000.000. Maka perhitungannya sebagai berikut:

Modal – Utang:

  • Rp. 200.000.000 – Rp. 100.000.000 = Rp. 100.000.000
  • Jadi jumlah harta zakat adalah:
  • Rp. 100.000.000 + Rp. 50.000.000 = Rp. 150.000.000
  • Zakat yang harus dibayarkan:
  • Rp. 150.000.000 x 2,5 % = Rp. 3.750.000
  1. Nishab Harta Karun

Harta karun yang ditemukan wajib dizakati secara langsung, tanpa mensyaratkan nishab dan haul, berdasarkan keumuman sabda Rasulullah ﷺ:

“Dalam harta temuan terdapat seperlima (1/5) zakatnya.” [HR. Muttafaqun alaihi]

Cara Menghitung Nishab

Dalam menghitung nishab terjadi perbedaan pendapat. Yaitu pada masalah, apakah yang dilihat nishab selama setahun, ataukah hanya dilihat pada awal dan akhir tahun saja?

Imam Nawawi berkata: “Menurut mazhab kami (Syafi’i), mazhab Malik, Ahmad, dan jumhur, adalah disyaratkan pada harta yang wajib dikeluarkan zakatnya – dan (dalam mengeluarkan zakatnya) berpedoman pada hitungan haul, seperti: emas, perak, dan binatang ternak- keberadaan nishab pada semua haul (selama setahun). Sehingga, kalau nishab tersebut berkurang pada satu ketika dari haul, maka terputuslah hitungan haul. Dan kalau sempurna lagi setelah itu, maka dimulai perhitungannya lagi, ketika sempurna nishab tersebut.” [Dinukil dari Sayyid Sabiq dari ucapannya dalam Fiqh as-Sunnah 1/468]. Inilah pendapat yang rajih (paling kuat -ed) insya Allah. Misalnya nishab tercapai pada Muharram 1423 H, lalu Rajab pada tahun itu ternyata hartanya berkurang dari nishabnya. Maka terhapuslah perhitungan nishabnya. Kemudian pada Ramadhan (pada tahun itu juga) hartanya bertambah hingga mencapai nishab, maka dimulai lagi perhitungan pertama dari Ramadhan tersebut. Demikian seterusnya sampai mencapai satu tahun sempurna, lalu dikeluarkannya zakatnya. Demikian tulisan singkat ini, mudah-mudahan bermanfaat.

 

***

Diringkas dari tulisan: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Dipublikasikan ulang oleh www.Muslim.or.id

Sumber: https://Muslim.or.id/367-syarat-wajib-dan-cara-mengeluarkan-zakat-mal.html

 

,

MESKI SUDAH SHALAT, TETAP DIPERINTAHKAN SHALAT LAGI. KENAPA?

MESKI SUDAH SHALAT, TETAP DIPERINTAHKAN SHALAT LAGI. KENAPA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

MESKI SUDAH SHALAT, TETAP DIPERINTAHKAN SHALAT LAGI. KENAPA?

Seseorang telah melaksanakan shalat di suatu masjid, kemudian dia berangkat menuju masjid yang lain untuk acara kegiatan tertentu, seperti kajian atau yang lainnya. Sesampainya di masjid kedua, ternyata shalat belum selesai. Apa yang harus dia lakukan?

Jawaban:

Hendaknya dia masuk masjid dan langsung ikut shalat berjamaah, dan dia niatkan sebagai shalat sunnah. Shalat ini boleh dilakukan, meskipun dilakukan di waktu-waktu yang terlarang untuk shalat. Dalilnya adalah hadis dari Yazid bin Aswad radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

Aku ikut haji bersama Nabi ﷺ. Kemudian aku shalat Subuh bersama beliau ﷺ di Masjid Khaif. Setelah selesai shalat, beliau ﷺ berbalik. Tiba-tiba ada dua orang duduk di belakang yang tidak ikut shalat bersama beliau ﷺ. Beliau ﷺ bersabda: “Suruh dua orang itu ke sini.” Keduanya pun disuruh menghadap Nabi ﷺ, sementara badannya gemetaran (karena takut). Beliau ﷺ bertanya: “Apa yang menghalangimu sehingga tidak shalat jamaah bersama kami?” Mereka menjawab: Wahai Rasulullah, kami tadi sudah shalat di jalan. Kemudian beliau ﷺ bersabda: “Jangan kamu lakukan itu. Jika kalian telah shalat di jalan, kemudian kalian singgah di masjid yang sedang dilaksanakan jamaah, ikutlah shalat bersama mereka. Sesungguhnya shalat yang kedua ini menjadi shalat sunnah bagi kalian.” [HR. Turmudzi no. 219 dan dishahihkan al-Albani]

Syaikh Muhammad Munajid mengatakan:

Dalam hadis di atas disebutkan, bahwa kedua orang tersebut datang ke masjid setelah melaksanakan shalat Subuh. Dan ini termasuk waktu terlarang. Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwatha’, dari Mihjan radliallahu ‘anhu, bahwa beliau berada di majelis Nabi ﷺ. Tiba-tiba azan dikumandangkan. Rasulullah ﷺ pun melaksanakan shalat bersama jamaah, sementara Mihjan tetap berada di tempat duduknya dan tidak ikut shalat berjamaah. Rasulullah ﷺ bertanya: “Apa yang menghalangimu untuk ikut shalat jamaah, bukankah kamu seorang Muslim?” Mihjan menjawab: “Betul, wahai Rasulullah, akan tetapi saya sudah shalat di rumahku.” Nabi ﷺ bersabda: “Jika kamu datang (di masjid), shalatlah berjamaah bersama masyarakat. Meskipun kamu sudah shalat.” [Al-Muwatha’, 1:130 dan dishahihkan al-Albani]

 

***

[Muslimah.or.id]

Penyusun dan Penerjemah: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: https://Muslimah.or.id/2161-apa-yang-harus-anda-lakukan-ketika-kondisi-berikut-bagian-2.html

,

APAKAH MENINGGALKAN HIJAB (JILBAB) MERUSAK PUASA?

APAKAH MENINGGALKAN HIJAB (JILBAB) MERUSAK PUASA?

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

#SeriPuasaRamadan

APAKAH MENINGGALKAN HIJAB (JILBAB) MERUSAK PUASA?

Pertanyaan:
Saya wanita yang tidak berjilbab, apakah hal itu merusak puasaku di bulan Ramadan?
 
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Pertama,

Seorang wanita Mukminah diperintahkan berjilbab. Telah ada dalam website ini (https://islamqa.info/) pendapat seputar jilbab di banyak jawaban. Jawaban tersebut dalam berbagai bentuk, di antaranya penjelasan tentang hukum jilbab, bahwa hal itu wajib, sebagaimana dalam soal jawab no. 21536. Di antaranya disebutkan dalil yang menunjukkan akan kewajiban berjilbab, sebagaimana di soal jawab no. 13998 dan no. 11774. Di antaranya penjelasan sifat jilbab yang sesuai agama, sebagaimana dalam soal jawab no. 6991, dan jawaban lain yang menunjukkan akan urgensinya jilbab dalam kehidupan seoarang wanita Muslimah.

Kedua,

Kalau wanita meninggalkan jilbab, maka dia telah berbuat maksiat kepada Tuhannya, akan tetapi puasanya tetap sah. Karena kemaksiatan, di antaranya meninggalkan jilbab, tidak merusak puasa, cuma MENGURANGI pahala, bahkan bisa hilang semua pahalanya. Kami ajak Anda untuk komitmen berjilbab   dengan berpuasa. Karena maksud dari puasa bukan sekadar menahan dari makan dan minum saja.  Akan tetapi maksud puasa adalah (menahan dari) yang diharamkan.

Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda:

ليس الصيام من الأكل والشرب ، إنما الصيام من اللغو والرفث (رواه الحاكم وصححه الألباني في صحيح الجامع، رقم 5376)

“Puasa tidak hanya (menahan dari) makan dan minum. Akan tetapi (hakikat) puasa adalah (menahan) dari perbuatan sia-sia dan perkataan jorok.” [HR. Hakim dishahihkan Al-Albany dalam shahih Al-Jami, 5376]

Kata Al-Laghwu adalah perkataan batil. Pendapat lain mengatakan sesuatu yang tidak ada faidahnya

Dan kata Ar-Rafats adalah perkataan jorok.

Maka hendaknya puasa Anda sebagai pemicu untuk taat kepada Allah ta’ala dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.

Kami memohon kepada Allah ta’ala agar memberi taufik kepada Anda, kepada apa yang dicintai dan diridai.

Wallau’alam.

 

Sumber: https://islamqa.info/id/107624

,

INI DALILNYA: ORANG KAFIR PUN TERKENA BEBAN KEWAJIBAN SYARIAT ISLAM

INI DALILNYA: ORANG KAFIR PUN TERKENA BEBAN KEWAJIBAN SYARIAT ISLAM

#DakwahTauhid

INI DALILNYA: ORANG KAFIR PUN TERKENA BEBAN KEWAJIBAN SYARIAT ISLAM

Sesungguhnya, orang kafir pun juga mendapatkan beban kewajiban syariat. Sekali pun andai dia beramal, amalnya tidak diterima, sampai dia masuk Islam. An-Nawawi mengatakan:

والمذهب الصحيح الذي عليه المحققون والأكثرون : أن الكفار مخاطبون بفروع الشرع ، فيحرم عليهم الحرير ، كما يحرم على المسلمين

Pendapat yang benar yang diikuti oleh para ulama Ahli Tahqiq (peneliti) dan Mayoritas Ulama, bahwa orang kafir mendapatkan beban dengan syariat-syariat Islam. Sehingga mereka juga diharamkan memakai sutra, sebagaimana hal itu juga diharamkan bagi kaum Muslimin. [Syarh Shahih Muslim, 14/39]

Di antara dalil bahwa orang kafir juga dihukum karena meninggalkan syariat-syariat Islam, adalah firman Allah ketika menceritakan dialog antara penduduk Surga dengan penduduk Neraka:

إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ( ) فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ( ) عَنِ الْمُجْرِمِينَ ( ) مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ( ) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ ( ) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ

Kecuali golongan kanan berada di dalam Surga, mereka tanya menanya tentang (keadaan) orang-orang kafir, apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (Neraka)?”

Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. [QS. al-Muddatsir: 39 – 44]

Dalam obrolan pada ayat di atas, Allah menceritakan pertanyaan penduduk Surga kepada penduduk Neraka: ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk Neraka?’

Jawab mereka: “Karena kami tidak shalat dan tidak berinfak.”

Padahal jika mereka shalat atau infak, amal mereka juga tidak diterima, sampai mereka masuk Islam.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/hukum-buka-warung-di-siang-ramadhan

,

APAKAH UTANG WAJIB DICATAT? [FATWA ULAMA]

APAKAH UTANG WAJIB DICATAT? [FATWA ULAMA]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#UtangPiutang
#FatwaUlama

APAKAH UTANG WAJIB DICATAT? [FATWA ULAMA]

>> Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Pertanyaan:

Apakah mengutangi orang itu mendapatkan pahala? Dan apakah wajib mencatat utang?

Jawaban:

Al Qardh (utang), atau yang dikenal banyak orang dengan At Taslif (memberi pinjaman) hukumnya sunnah, dan di dalamnya terdapat pahala, berdasarkan keumuman firman Allah ta’ala:

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” [QS. Al Baqarah: 195].

Dan tidak mengapa seseorang untuk berutang, karena Nabi ﷺ terkadang berutang. Maka utang hukumnya mubah, bagi orang yang hendak berutang, dan sunnah bagi orang yang mengutangi.

Namun orang yang mengutangi wajib untuk menjauhi sikap gemar menyebut-nyebut utang tersebut kepada orang yang ia utangi. Atau juga memberikan gangguan kepadanya dengan mengatakan misalnya: “Saya kan sudah berbuat baik kepadamu dengan memberikan utang kepadamu…” atau semisalnya. Berdasarkan firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأَذَى

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” [QS. Al Baqarah: 264].

Adapun soal mencatat utang, jika harta yang diutangkan adalah milik sendiri, maka yang afdhal (sunnah) adalah mencatatnya. Berdasarkan firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar” [QS. Al Baqarah: 282].

 

Dan boleh saja jika tidak mencatatnya, apalagi jika utangnya dalam perkara-perkara yang kecil, yang biasanya secara adat orang-orang tidak terlalu serius di dalamnya.

Adapun jika harta yang diutangkan adalah miliki orang lain, misalnya jika ia mengelola harta anak yatim, dan karena suatu maslahah ia mengutangkannya kepada orang lain, maka ia wajib mencatatnya. Karena ini merupakan bentuk penjagaan terhadap harta anak yatim. Allah ta’ala berfirman:

وَلا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.” [QS. Al An’am: 154]

[Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 2/16, Asy Syamilah]

 

Penerjemah: Yulian Purnama

Sumber: https://muslim.or.id/24150-fatwa-ulama-apakah-utang-wajib-dicatat.html

,

HAKIKAT KEHIDUPAN HAMBA

HAKIKAT KEHIDUPAN HAMBA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

HAKIKAT KEHIDUPAN HAMBA

Al-Marrudzy berkata:

“Suatu hari aku masuk menjumpai (Imam) Ahmad, lalu saya bertanya: ‘Bagaimana engkau di pagi ini?’ Beliau menjawab: “Aku masuk di waktu pagi dalam keadaan Rabb-ku menuntut (diriku) untuk menunaikan kewajiban, Nabi-Nya menuntut untuk menunaikan Sunnah, dua malaikat menuntut untuk memerbaiki amalan, jiwaku menuntut (mengikuti) hawa nafsu, Iblis menuntut untuk kekejian, Malakul Maut menuntut nyawa, dan keluarga menuntut nafkah.”

 
[Thabaqat Al-Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’lâ 1/570, dengan perantara kitab Kasykûl karya guru kami, Syaikh Abdul Aziz Ibnu Aqil]