Posts

,

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FaidahSholatJumat

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya jika saya sering ngantuk saat khotbah Jumat. Mohon penjelasannya.

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Apabila penanya sengaja tidak istirahat, maksimal di malam atau pagi sebelum pelaksanaan shalat Jumat, sehingga penanya mengantuk dan sampai mengantarkan penanya kepada tidur pulas, maka penanya telah melakukan kesalahan.

Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Ulama’ yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi:

“Sebagian orang, termasuk saya sendiri, tidur pada saat khotbah Jumat disampaikan. Apa hukum tindakan ini?”

Mereka menjawab: Seorang Muslim wajib diam menyimak khotbah Jumat yang disampaikan, dan menjauhi hal-hal yang bisa menghalangi itu, seperti berbicara, tidur atau mengantuk. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis dalam kitab Sahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu, yang mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«من اغتسل ثم أتى الجمعة فصلى ما قدر له ثم أنصت حتى يفرغ الإمام من خطبته ثم يصلي معه غفر له ما بينه وبين الجمعة الأخرى وفضل ثلاثة أيام

“Barang siapa mandi, kemudian mendatangi shalat Jumat, lalu mengerjakan shalat (sunnah) sesuai kemampuannya, lalu tenang mendengarkan khotbah sampai imam selesai berkhotbah, kemudian mengerjakan shalat Jumat bersama imam, maka diampuni dosa-dosanya, antara Jumat itu dan Jumat berikutnya, serta tambahan tiga hari.”

Dan juga sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

من تكلم يوم الجمعة والإمام يخطب فهو كمثل الحمار يحمل أسفارا، والذي يقول له أنصت ليس له جمعة

“Barang siapa yang berbicara pada saat imam khotbah Jumat, maka ia seperti keledai yang memikul lembaran-lembaran (artinya: ibadahnya sia-sia, tidak ada manfaat). Siapa yang diperintahkan untuk diam (lalu tidak diam), maka tidak ada Jumat baginya (artinya: ibadah Jumatnya tidak sempurna).”

Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata: “Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan status sanad yang bisa diterima. Dan semua ini karena eksistensi khotbah yang sangat agung yang terkandung di dalamnya, berikut dengan pelajaran, bimbingan, dakwah kepada kebaikan, dan mengingatkan seorang Muslim kepada Allah ta’ala.”

Oleh sebab itu, seorang Muslim wajib menyadari akan hal ini, tidak bermain-main dan lalai, karena mengingat ancaman yang sangat keras, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

  • Bakar Abu Zaid  selaku Anggota
  • Shalih al-Fawzan selaku Anggota
  • Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota
  • Abdul Aziz Alu asy-Syaikh selaku Wakil Ketua
  • Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
  • [Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 7/135-136 Pertanyaan ketiga dari Fatwa nomor 18192 ]

Terkait hukumnya tidur dilihat dari sisi batalnya wudhu, mereka juga ditanya:

“Sebagian orang tidur di masjid sambil bertasbih dengan alat tasbih. Apakah dia wajib berwudu kembali sebelum menunaikan shalat?”

Mereka menjawab: “Segala puji hanyalah bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul-Nya, kerabat dan sahabat beliau.

Tidur lelap memiliki risiko membatalkan wudhu. Oleh sebab itu, orang yang tidur lelap di dalam masjid atau di tempat lain, maka dia wajib berwudhu kembali, baik tidur dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring, meskipun sambil memegang alat tasbih ataupun tidak. Namun, jika dia tidak tertidur lelap — seperti mengantuk yang tidak kehilangan kesadaran– maka tidak wajib berwudhu kembali. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadis shahih dari Nabi ﷺ yang menerangkan hal tersebut secara detail.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

  • Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
  • Abdullah bin Qu’ud selaku Anggota
  • Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota
  • Abdurrazzaq `Afifi selaku Wakil Ketua
  • Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
  • [Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 5/283-284  Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor 3030]

 

Sumber: http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/6295-ngantuk-saat-khotbah-jumat

, , ,

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT WITIR DI WAKTU DHUHA ESOK HARINYA?

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT WITIR DI WAKTU DHUHA ESOK HARINYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#FatwaUlama

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT WITIR DI WAKTU DHUHA  ESOK HARINYA?

Pertanyaan:

إذا نمت عن صلاة الوتر ولم أؤدها في الليل فهل أقضيها وفي أي وقت؟

Jika saya ketiduran (kelewatan)  shalat Witir, dan saya tidak menunaikannya di malam itu, kapan boleh saya meng-qadhanya?

السنة قضاؤها ضحى بعد ارتفاع الشمس وقبل وقوفها، شفعاً لا وتراً، فإذا كانت عادتك الإيتار بثلاث ركعات في الليل فنمت عنها أو نسيتها شرع لك أن تصليها نهاراً أربع ركعات في تسليمتين، وإذا كان عادتك الإيتار بخمس ركعات في الليل فنمت عنها أو نسيتها شرع لك أن تصلي ست ركعات في النهار في ثلاث تسليمات، وهكذا الحكم فيما هو أكثر من ذلك، لما ثبت عن عائشة رضي الله عنها قالت: (كان رسول الله، صلى الله عليه وسلم إذا شغل عن صلاته بالليل بنومٍ أو مرض صلى من النهار اثنتي عشرة ركعة) رواه مسلم في صحيحه.

وكان وتره صلى الله عليه وسلم، في الغالب إحدى عشرة ركعة، والسنة أن يصلي القضاء شفعاً ركعتين ركعتين لهذا الحديث الشريف ولقوله صلى الله عليه وسلم: ((صلاة الليل والنهار مثنى مثنى)) أخرجه أحمد وأهل السنن بإسنادٍ صحيح وأصله في الصحيحين من حديث ابن عمر رضي الله عنهما لكن بدون ذكر النهار وهذه الزيادة ثابتة عند من ذكرنا آنفاً وهم أحمد وأهل السنن. والله ولي التوفيق.

Jawaban:

Yang sunnah diqadha (esok harinya) waktu Dhuha, ketika matahari telah meninggi, dan sebelum berhenti ( menjelang masuk waktu Zuhur) dengan jumlah rakaat genap, bukan ganjil.

  • Jika kebiasaan engkau shalat Witir ganjil tiga rakaat pada malam hari, kemudian engkau tertidur atau terlupa, maka disyariatkan bagimu (qadha) shalat siang hari, empat rakaat dalam dua kali salam (dua rakaat-dua rakaat).
  • Jika kebiasaan engkau shalat ganjil lima rakaat malam hari, kemudian engkau tertidur atau terlupa, maka disyariatkan bagimu (qadha) shalat siang hari enam rakaat, dalam tiga kali salam (dua rakaat-dua rakaat).

Demikianlah hukumnya dan umumnya seperti itu, sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata:

“Dahulu jika Rasulullah ﷺ terluput dari shalat malam (termasuk Witir) karena ketiduran atau sakit, maka ia shalat (qadha) pada (besok) siang (Dhuha) 12 rakaat” [HR. Muslim]

Kebanyakan jumlah shalat Witir Rasulullah ﷺ adalah 11 rakaat, dan termasuk sunnah meng-qadhanya dengan rakaat yang genap, dengan cara dua rakaat-dua rakaat (salam setiap dua rakaat), sebagaimana dalam hadis yang mulia, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Shalat malam dan siang itu dua rakaat-dua rakaat” [HR. Ahmad]

Dan hadis Shahih dari Ibnu Umar, akan tetapi tanpa penyebutan kata “siang”. Ini adalah tambahan dari apa yang kami baru saja sebutkan.

Wallahu waliyyut taufiq

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/4532

 

Penulis: dr Raehanul Bahraen

[Artikel www.muslimafiyah.com]

Sumber: https://muslimafiyah.com/mengqadha-shalat-witir-besok-di-waktu-dhuha.html

,

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT TAHAJUD?

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT TAHAJUD?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT TAHAJUD?

Pertanyaan:

Bagaimana tata cara mengqadha shalat Tahajud di waktu Dhuha? Bagaimana niatnya dan berapa rakaat?

Jawaban:

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Bagi orang yang memiliki kebiasaan Tahajud, kemudian tidak sempat mengerjakannya karena sebab tertentu, dianjurkan untuk menqadhanya. Waktunya adalah antara Subuh sampai menjelang Zuhur. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

من نام عن حزبه أو عن شيء منه فقرأه فيما بين صلاة الفجر وصلاة الظهر كتب له كأنما قرأه من الليل

“Siapa saja yang ketiduran, sehingga tidak melaksanakan kebiasaan shalat malamnya, kemudian dia baca (mengerjakannya) di antara shalat Subuh dan shalat Zuhur, maka dia dicatat seperti orang yang melaksanakan shalat Tahajud di malam hari.” [HR. Muslim, Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah]

Penulis kitab Aunul Ma’bud mengatakan: “Hadis ini menunjukkan disyariatkannya melakukan amal saleh di malam hari. Dan menunjukkan disyariatkannya mengqadha amalan tersebut jika tidak sempat melaksanakannya, karena ketiduran atau uzur lainnya. Siapa saja yang melaksanakan qadha amal ini di antara shalat Subuh dan shalat Zuhur, maka dia seperti melaksanakannya di malam hari.” (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, 4:139)

Jumlah Rakaat Shalat Tahajud

Jumlah rakaatnya sama dengan jumlah rakaat shalat Tahajud, ditambah satu (digenapkan). Misalnya seseorang memiliki kebiasaan Tahajud 11 rakaat, maka nanti diganti di waktu Dhuha sebanyak 12 rakaat. Barang siapa yang memiliki kebiasaan Tahajud 3 rakaat, maka diganti di waktu Dhuha sebanyak 4 rakaat, dan seterusnya. Berdasarkan hadis riwayat Aisyah radhiallahu ‘anha; beliau mengatakan:

كان رسول الله إذا عمل عملاً اثبته، وكان إذا نام من الليل أو مرض، صلّى من النهار ثنتي عشرة ركعة

“Apabila Rasulullah ﷺ melakukan satu amalan, beliau melakukannya dengan istiqamah. Dan apabila beliau ketiduran di malam hari atau karena sakit, maka beliau shalat 12 rakaat di siang hari.” (Hr. Muslim dan Ibnu Hibban)

Nabi ﷺ melaksanakan shalat qadha 12 rakaat, karena beliau ﷺ memiliki kebiasaan shalat malam sebanyak 11 rakaat. Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

Sumber: https://konsultasisyariah.com/7581-qadhashalat-Tahajud.html

,

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

Pertanyaan:

Saya pernah mendengar, bahwa Rasul ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat  dua rakaat Qabliyah Subuh. Bagaimana menjalankan sunnah ini, bila saya telat datang ke masjid, sehingga muazin mengumandangkan Iqamat?!

Jawaban:

Alhamdulillah was sholatu was salamu ala rosulillah wa ala aalihi wa shahbihi wa maw waalaah…

Pertama: Memang benar, beliau ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat sunat 2 rakaat sebelum Subuh, sebagaimana diceritakan oleh Ibunda kita Aisyah radhiallahu anha, bahwa Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat sunnah dua rakaat sebelum (sholat) fajar (Dishahihkan oleh Syeikh Albani dalam Silsilah Shahihah 7/527)

Kedua: Bila telat datang masjid dan Iqamat sedang dikumandangkan, maka kita harus langsung sholat Subuh bersama imam, dan TIDAK BOLEH menjalankan sholat Qabliyah, saat Iqamat sudah dikumandangkan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

Dari Abu Huroiroh radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Bila telah dikumandangkan Iqamat, maka tidak (boleh) ada sholat, kecuali sholat yang diwajibkan” (HR. Muslim: 1160).

عن ابن بحينة قال: أقيمت صلاة الصبح، فرأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يصلي والمؤذن يقيم، فقال: أتصلي الصبح أربعا؟

Ibnu Buhainah mengatakan: (Suatu hari) dikumandangkan Iqamat untuk sholat Subuh, lalu Rasulullah ﷺ melihat seseorang sholat, padahal muadzin sedang mengumandangkan Iqamat, maka beliau ﷺ mengatakan: “Apakah kamu sholat Subuh empat rakaat?!” (HR. Muslim: 1163 )

وعنه أيضا قال: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر برجل يصلي وقد أقيمت صلاة الصبح، فكلمه بشيء لا ندري ما هو؟ فلما انصرفنا أحطناه نقول: ماذا قال لك رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: قال لي: يوشك أن يصلي أحدكم الصبح أربعا؟

Diriwayatkan dari Ibnu Buhainah juga, bahwa Rasulullah ﷺ melewati seseorang sedang sholat, padahal Iqamat sholat Subuh telah dikumandangkan, maka beliau ﷺ pun mengatakan kepadanya, sesuatu yang tidak ku ketahui. Lalu ketika kami selesai, kami berusaha mencari tahu, kami mengatakan: Apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ kepadamu? Dia menjawab: “Hampir saja salah seorang dari kalian sholat Subuh empat rakaat” (HR. Muslim: 1162).

Kedua: Sebaiknya kita meng-qodho’ sholat Qabliyah Subuhnya setelah itu, sebagaimana pernah terjadi di zaman Rasulullah ﷺ:

عَنْ قَيْسٍ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الصُّبْحَ، ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أُصَلِّي، فَقَالَ: «مَهْلًا يَا قَيْسُ، أَصَلَاتَانِ مَعًا»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ رَكَعْتُ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ، قَالَ: «فَلَا إِذَنْ» رواه الترمذي وصححه الألباني

Qois mengatakan: Rasulullah ﷺ pernah (suatu ketika) keluar, lalu dikumandangkanlah Iqamat sholat, maka aku pun sholat Subuh bersamanya. Kemudian beliau ﷺ beranjak pergi dan mendapatiku akan sholat, beliau ﷺ mengatakan: “Sebentar wahai Qois, apakah dua sholat bersamaan?!” Aku pun mengatakan: Ya Rasulullah, sebenarnya aku belum sholat dua rakaat Qabliyah Fajar, maka beliau ﷺ mengatakan: “Jika demikian, maka tidak apa-apa” (HR. Tirmidzi: 387, dan dishahihkan oleh Syeikh Albani).

Ketiga: Meng-qodho sholat sunnah yang waktunya tertentu, dibolehkan bila tertinggalnya sholat sunat tersebut tidak disengaja. Karena meng-qodho adalah keringanan bagi mereka yang punya uzur. Dan orang yang meninggalkan dengan sengaja, tidak memiliki uzur. Wallahu a’lam.

Dalil dari pembedaan ini adalah sabda Rasulullah ﷺ:

من نام عن الوتر أو نسيه فليصل إذا ذكر وإذا استيقظ

Barang siapa ketiduran atau lupa sehingga tidak sholat Witir, maka hendaklah ia sholat Witir, ketika ia ingat atau ketika ia bangun (HR. Tirmidzi: 427 dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Syeikh Albani)

ٌقال ابن رجب:وفي تقييد الأمر بالقضاء لمن نام أو نسيه يدل على أن العامد بخلاف ذلك، وهذا متوجه؛ فإن العامد قد رغب عن هذه السنة وفوتها في وقتها عمداً، فلا سبيل لهُ بعد ذَلِكَ إلى استدراكها، بخلاف النائم والناسي

Ibnu Rojab mengatakan: Adanya taqyid dalam perintah qodho’ itu (yakni); “Bagi orang yang tidur atau lupa” menunjukkan, bahwa orang yang sengaja (meninggalkan), hukumnya lain. Dan ini benar, karena orang yang sengaja (meninggalkan) itu tidak menyukai sholat sunnah ini, dan telah meninggalkannya pada waktunya dengan sengaja, sehingga tidak ada jalan lagi baginya untuk mendapatkannya. Berbeda dengan orang yang tidur atau lupa (Fathul Bari 9/160).

Sekian, semoga bermanfaat.

Wa shallallahu ala nabiyyillah ala aalihi wa shahbihi wa maw waalaah… Walhamdulillah.

 

Disarikan dari web resmi Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA dengan disertai pengeditan bahasa oleh Tim KonsultasiSyariah.com

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28877-Qabliyah-Subuh-saat-Iqamat-sholatnya-batal.html

 

,

ZIKIR KETIKA TERBANGUN DI TENGAH TIDUR DI WAKTU MALAM

ZIKIR KETIKA TERBANGUN DI TENGAH TIDUR DI WAKTU MALAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

ZIKIR KETIKA TERBANGUN DI TENGAH TIDUR DI WAKTU MALAM

عَنْ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ. ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، أَوْ دَعَا، اسْتُجِيبَ. فَإِنْ تَوَضَّأَ قُبِلَتْ صَلاَتُهُ.

Dari ‘Ubadah bin Ash Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, bersabda:

“Barang siapa yang bangun dari (tidur) malam lalu mengucapkan:

LAA ILAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAH, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QODIIR

ALHAMDULILLAH WA SUBHANALLAH WA LA ILAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR, WA LA HAWLA WA LA QUWWATA ILLA BILLAH

Artinya:

Tidak ada Sesembahan yang haq kecuali Allah, satu-satunya. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi Allah seluruh kerajaan dan bagi Allah segala pujian. Dan Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

Segala puji hanya milik Allah. Maha Suci Allah, Tidak ada Sesembahan yang haq kecuali Allah. Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan -pertolongan- Allah.

Kemudian dia mengucapkan:

ALLAHUMMAGHFIR LII

Artinya:

Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku, atau

Dia berdoa (dengan doa apa saja), niscaya istigfar maupun doanya itu akan dikabulkan. Jika dia berwudhu, maka sholatnya pasti diterima.” [Hadis Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhory no. 1154. Abu Daud no. 5060. Turmudzy no. 3414. Ibnu Majah no. 3878. Ahmad: 5 / 313]

 

Rujukan:

Menjadi Muslim Sepanjang Hari (Kehidupan Muslim)

Penulis:  Muhammad Hasan Yusuf

Penerjemah: Ustadz Suharlan Madi Ahya, Lc

Penerbit Darus Sunnah Jakarta

 

, ,

HUKUM MENINGGALKAN DAN MENANGGUHKAN SHOLAT SUBUH

HUKUM MENINGGALKAN DAN MENANGGUHKAN SHOLAT SUBUH

HUKUM MENINGGALKAN DAN MENANGGUHKAN SHOLAT SUBUH

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:

Saya seorang pemuda yang bersemangat melaksanakan sholat, hanya saja saya sering pulang larut malam. Maka saya men-setting jam (wekker) pada jam tujuh pagi, yakni setelah terbitnya matahari. Lalu saya sholat, baru kemudian saya berangkat kuliah. Kadang-kadang pada Kamis atau Jumat, saya bangun lebih telat lagi, yaitu sekitar satu atau dua jam sebelum Zuhur, lalu saya sholat Subuh saat bangun tidur. Perlu diketahui pula, bahwa keseringan saya sholat di kamar asrama, padahal masjid asrama tidak jauh dari tempat tinggal saya. Pernah ada seseorang yang mengingatkan saya, karena hal itu tidak boleh. Saya berharap Syaikh bisa menjelaskan hukum tersebut. Jazakumullah khairan.

Jawaban:

Barang siapa yang sengaja men-setting jam wekker pada waktu setelah terbit matahari, sehingga tidak melaksanakan sholat Subuh pada waktunya, maka dianggap telah SENGAJA meninggalkannya. Maka ia KAFIR karena perbuatannya itu, menurut kesepakatan Ahlul Ilmi. Semoga Allah melepaskan kebiasannya sengaja meninggalkan sholat. Demikian juga orang yang sengaja menangguhkan sholat Subuh hingga menjelang Zuhur, kemudian sholat Subuh pada waktu Zuhur.

Adapun orang yang KETIDURAN, sehingga terlewatkan waktunya, maka itu tidak mengapa. Ia hanya wajib melaksanakannya saat terbangun dan tidak berdosa. Demikian juga jika ia ketiduran atau karena lupa. Adapun orang yang sengaja menangguhkannya hingga keluar waktunya, atau dengan sengaja men-setting jam hingga keluar waktunya, sehingga mengakibatkan ia tidak bangun pada waktu sholat, maka ia dianggap sengaja meninggalkan, dan berarti ia telah melakukan kemungkaran yang besar menurut semua ulama.

Akan Tetapi, Apakah Ia Menjadi Kafir Atau Tidak?

Mengenai ini ada perbedaan pendapat di antara ulama, jika ia tidak mengingkari kewajibannya. Jumhur Ulama berpendapat, bahwa itu tidak menjadikannya kafir dengan kekufuran besar tersebut. Sebagian Ahlul Ilmi berpendapat, bahwa ia menjadi kafir karena kekufuran yang besar tersebut. Demikian pendapat yang dinukil dari para sahabat Radhiyallahu Ajmain, Nabi ﷺ bersabda:

“Artinya: Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat”. [Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, kitab Al-Iman 82]

Dalam hadis lain Nabi ﷺ bersabda:

“Artinya: Perjanjian antara kita dengan mereka adalah sholat. Maka barang siapa yang meninggalkannya, berarti ia telah kafir”. [Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 5/346 dan para penyusun kitab Sunan dengan isnad Shahih; At-Turmudzi 2621, An-Nasa’i 1/232, Ibnu Majah 1079]

Lain dari itu, meninggalkan sholat jamaah merupakan suatu kemungkaran. Ini tidak boleh dilakukan. Yang wajib bagi seorang mukallaf adalah melaksanakan sholat di masjid, berdasarkan riwayat dalam hadis Ibnu Ummi Maktum, bahwa seorang laki-laki buta berkata kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid”. Ia minta kepada Rasulullah ﷺ untuk memberikannya keringanan, agar bisa sholat di rumahnya. Maka beliau ﷺ mengizinkan. Namun ketika orang itu hendak beranjak, beliau ﷺ bertanya:

“Artinya: Apakah engkau mendengar seruan untuk sholat ? Ia menjawab: ‘Ya’. Beliau ﷺ berkata lagi: ‘Kalau begitu, penuhilah”. [Hadis Riwayat Muslim, kitab Al-Masajid 653]

Itu orang buta yang tidak ada penuntunnya. Namun demikian Nabi ﷺ tetap memerintahkannya untuk sholat di masjid. Maka orang yang sehat dan dapat melihat tentu lebih wajib lagi. Maksudnya, bahwa diwajibkan atas setiap Mukmin untuk sholat di masjid, dan tidak boleh meremehkannya dengan melaksanakan sholat di rumah jika masjidnya dekat.

Dalil lain tentang hal ini adalah sabda Nabi ﷺ:

“Artinya: Barang siapa yang mendengar adzan lalu ia tidak memenuhinya, maka tidak ada sholat baginya, kecuali karena uzur”. [Dikeluarkan oleh Ibnu Majah, kitab Al-Masajid 793, Ad-Daru Quthni 1/420,421 Ibnu Hibban 2064, Al-Hakim 1/246, dari Ibnu Abbas dengan isnad sesuai syarat Muslim]

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu pernah ditanya tentang uzur ini, ia menjawab, “Takut atau sakit”

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:

Ada seorang pemuda multazim, Alhamdulillah, namun ia sering kelelahan karena pekerjaannya, sehingga ia tidak dapat melaksanakan sholat Subuh pada waktunya, karena sangat kelelahan dan kecapaian. Bagaimana hukumnya menurut Syaikh, tentang orang yang kondisinya seperti itu. Dan apa pula nasihat Syaikh untuknya ? Jazzkumullah khaiaran.

Jawaban:

Yang wajib baginya adalah meninggalkan pekerjaan yang menyebabkannya menangguhkan sholat Subuh, karena sebab musabab itu ada hukumnya. Jika ia tahu bahwa apabila ia tidak terlalu keras bekerja tentu ia bisa melaksanakan sholat Subuh pada waktunya, maka ia wajib untuk tidak memaksakan dirinya bekerja keras, agar ia bisa sholat Subuh pada waktunya bersama kaum muslimin.

[Dari Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin yang ditanda tanganinya]

 

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/621-hukum-meninggalkan-sholat-Subuh-dari-waktunya.html

 

,

CARA QODHO SHOLAT ISYA SAAT SUBUH KEESOKAN HARINYA

CARA QODHO SHOLAT ISYA SAAT SUBUH KEESOKAN HARINYA

CARA QODHO SHOLAT ISYA SAAT SUBUH KEESOKAN HARINYA

Pertanyaan:

Bagaimana cara mengqodho sholat Isya karena ketiduran, pada waktu Subuh keesokan harinya?

Jawaban:

Yang benar, wajib mengqodho sholat Isya’ tersebut langsung ketika bangun, kemudian melaksanakan sholat Subuh. Barakallahu fik.

 

Dijawab oleh al- Ustadz Muhammad as-Sarbini.

http://tanyajawab.asysyariah.com/qadha-shalat-isya-saat-shubuh/

,

TATA CARA SHOLAT DAN QODHO ORANG YANG PINGSAN DAN KOMA

TATA CARA SHOLAT DAN QODHO ORANG YANG PINGSAN DAN KOMA

TATA CARA SHOLAT DAN QODHO ORANG YANG PINGSAN DAN KOMA

Pertanyaan:
Bagaimana tata cara sholat bagi seseorang yang sedang koma?

Jawaban:
Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama, dalam masalah hukum qodho sholat orang yang pingsan atau koma. Yang dirajihkan oleh Ibnu ‘Utsaimin dalam asy-Syarh al-Mumti’ (pada awal Kitab ash-Shalah) dan difatwakan al-Lajnah ad-Da’imah (diketuai oleh Ibnu Baz) adalah, TIDAK ADA kewajiban qodho atasnya, lantaran ia bukan mukallaf saat pingsan/ komanya. Masalah ini TIDAK bisa diqiyas dengan orang tidur, karena dua perbedaan:

1. Orang tidur bisa dibangunkan, sedangkan orang pingsan/koma tidak demikian.

2. Tidur adalah keadaan yang banyak terjadi dan terulang-ulang setiap hari, sedangkan pingsan/koma adalah hal yang jarang terjadi pada diri seseorang.

Jadi, tidak ada kewajiban qodho sholat hari-hari koma yang dialami oleh seseorang.
Wallahu a’lam.

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini.

Sumber: http://tanyajawab.asysyariah.com/shalat-orang-yang-sedang-koma/