Posts

, ,

TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM

TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM
 
Kondisi paling aman bagi Muslimah adalah berwudhu di ruangan tertutup, sehingga ketika Muslimah hendak menyempurnakan mengusap atau membasuh anggota tubuh yang wajib dikenakan air wudhu, auratnya tidak terlihat oleh orang-orang yang bukan mahramnya. Sayangnya, tidak semua masjid menyediakan tempat wudhu yang berada di ruangan tertutup.

Lalu, bagaimana cara berwudhu jika kita berada di tempat umum yang terbuka?  Berdasarkan riwayat dari ‘Amru bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu, dari bapaknya, beliau berkata:

 
رأيت النبي صلّى الله عليه وسلّم، يمسح على عمامته وخفَّيه
 
“Aku pernah melihat Nabi ﷺ mengusap bagian atas surbannya dan kedua khufnya.” [HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari (1/308 no. 205) dan lainnya]
 
Juga dari Bilal radhiyallahu ‘anhu:
 
أن النبي صلّى الله عليه وسلّم، مسح على الخفين والخمار
 
“Bahwasanya Nabi ﷺ mengusap kedua khuf dan khimarnya.” [HR. Muslim (1/231) no. 275]
Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Ummu Salamah (istri Nabi ﷺ), bahwa beliau berwudhu dan mengusap kerudungnya. [Disebutkan oleh Ibnu Qudamah dari Ibnu Al-Mundzir]. Karena itu, wanita yang berwudhu di tempat umum TIDAK BOLEH melepas jilbabnya, namun cukup mengusap bagian atas jilbabnya.
 
Catatan:
Dijelaskan oleh ulama bahwa tutup kepala boleh diusap, jika memenuhi dua syarat:
1. Menutupi seluruh bagian kepala.
2. Terdapat kesulitan untuk melepaskannya.
Karena itu, sebatas (menggunakan) peci (menyebabkan peci) tidak boleh diusap, tetapi (bagian kepalalah yang) harus (tetap) diusap. [Shifat Wudhu Nabi ﷺ, hlm. 28]
Alternatif lain adalah dengan wudhu di kamar mandi. Sebagian orang merasa khawatir dan ragu-ragu, bila wudhu di kamar mandi wudhunya tidak sah, karena kamar mandi merupakan tempat yang biasa digunakan untuk buang hajat, sehingga kemungkinan besar terdapat najis di dalamnya. Wudhu di kamar mandi hukumnya boleh, asalkan tidak dikhawatirkan terkena/ terpercik najis yang mungkin ada di kamar mandi.
 
Kita ingat kaidah yang menyebutkan: “Sesuatu yang yakin tidak bisa hilang dengan keraguan.” Keragu-raguan atau kekhawatiran kita terkena najis TIDAK BISA dijadikan dasar tidak bolehnya wudhu di kamar mandi, kecuali setelah kita benar-benar yakin, bahwa jika wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terpeciki najis. Jika kita telah memastikan bahwa lantai kamar mandi bersih dari najis, dan kita yakin tidak akan terkena/ terperciki najis, maka insya Allah tak mengapa wudhu di kamar mandi.
 
Sedangkan pelafalan “Bismillah” di kamar mandi, menurut pendapat yang lebih tepat adalah BOLEH melafalkannya di kamar mandi. Hal ini dikarenakan membaca Bismillah pada saat wudhu hukumnya wajib, sedangkan menyebut nama Allah di kamar mandi hukumnya makruh. Kaidah mengatakan, bahwa “Makruh itu berubah menjadi mubah jika ada hajat. Dan melaksanakan kewajiban adalah hajat.”
 
Adapun membaca zikir setelah wudhu dapat dilakukan setelah keluar kamar mandi, yaitu setelah membaca doa keluar kamar mandi. Untuk itu disarankan setelah berwudhu, tidak berlama-lama di kamar mandi (segera keluar).
 
Bagaimana bila kita yakin bahwa bila wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terperciki najis?
 
> Dengan alasan terkena najis, maka sebaiknya tidak wudhu di kamar mandi atau disiram dulu sampai bersih.
 
> Alternatif lainnya adalah dengan cara mengusap khuf. jaurab, dan jilbab tanpa harus membukanya. Pembahasan tentang ini masuk dalam bab mengusap khuf. Tentu timbul pertanyaan lain, bagaimana dengan tangan? Jika jilbab kita sesuai dengan syariat, insya Allah hal ini bisa diatasi. Karena bagian tangan yang perlu dibasuh bisa dilakukan di balik jilbab kita yang terulur panjang. Sehingga tangan kita tidak akan terlihat oleh umum, insya Allah.
 
Wallahu a’lam bi shawab.
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tempatumum, #mallmall,  #luar rumah #tatacara, #cara, #wudhuk, #wudluk, #muslimah, #wanita, #perempuan, #kerudung, #hijab, #jilbab, #khuff, #kaoskaki, #kauskaki, #sepatu, #sandal, #kaidah, #kaedah, #fikih, #fiqih, #fiqh
,

SALAFI ATAU SELFIE?

SALAFI ATAU SELFIE?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

SALAFI ATAU SELFIE?
Ketika di lubuk terdalam hatimu ada cuitan:
“Wah, sungguh cantik jika memakai gamis ini.”
“Anggun rasanya setelah memakai jenis cadar ini.”
“wah, banyak yang muji bagus ketika makai jubah ini.”
 
Sunggu saat itu engkau telah terperdaya.
Karena biasamu dan tak tergerak rasa kagum dalam pandangan Adam, itulah keindahan dari kecantikan yang hakiki.

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#muslimah, #wanita, #perempuan, #Hijab, #Jilbab, #Niqah, #niqob, #kerudung, #tabarruj, #tabarruj, #,Salafi, #Salafi atau Selfie #dandan #berdandan #hias #berhias #menampakkanperhiasan

,

HUKUM MEMBUKA HIJAB DI HADAPAN WANITA NON-MUSLIMAH

HUKUM MEMBUKA HIJAB DI HADAPAN WANITA NON-MUSLIMAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM MEMBUKA HIJAB DI HADAPAN WANITA NON-MUSLIMAH
Bolehkah Menampakkan Rambut Di Hadapan Wanita Kafir?
Ahli Ilmu terbagi dua pendapat dalam masalah ini:
 
Pendapat Pertama:
Mereka memandang wajib bagi Muslimah untuk berhijab di hadapan wanita non-Muslimah, dan haram baginya untuk membuka sesuatu dari bagian tubuhnya di depan wanita Nasrani, Yahudi atau musyrikah, bila tidak ada keperluan yang darurat/ mendesak. Sehingga dalam hal memandang ini, wanita kafirah sama dengan laki-laki ajnabi (bukan mahram) bagi seorang Muslimah.
 
Demikian pendapat Madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, dan yang paling shahih dari madzhab Syafi’iyyah, serta satu riwayat dari Al-Imam Ahmad. Di antara ulama mutaakhirin yang berpegang dengan pendapat ini adalah Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah. Beliau berkata: “Dzahir dari apa yang diinginkan dalam ayat ini adalah wanita-wanita dari kalangan Muslimin, karena wanita-wanita kafir bisa jadi ketika melihat seorang wanita Muslimah, ia akan menceritakan/menggambarkan si Muslimah kepada suaminya. Sementara Nabi ﷺ telah melarang seorang wanita ketika bergaul dengan wanita lain lalu ia menggambarkan wanita lain itu kepada suaminya…”. [Ijabatus Sail ‘ala Ahammil Masail, hal. 557]
 
Mereka berdalil dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surat An-Nur ayat 31 yang artinya:
 
“Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali di depan suami-suami mereka…. sampai pada firman-Nya: … atau di hadapan wanita-wanita mereka….”.
 
Kata wanita di dalam ayat disandarkan (di-idhafah-kan) kepada mereka, wanita-wanita Mukminah. Hal ini menunjukkan pengkhususan. Ibnu Athiyyah berkata: “Seandainya wanita non-Muslimah boleh melihat ke tubuh Muslimah, niscaya tidak tersisa faidah bagi pengkhususan tersebut.”
 
Selain itu mereka juga berdalil dengan atsar-atsar dari para shahabat dan ulama salaf, namun kebanyakan dari atsar-atsar ini lemah, wallahu a’lam.
 
Pendapat Kedua:
Mereka yang berpandangan, bahwa dalam hal memandang, wanita non-Muslimah sama dengan wanita Muslimah ketika memandang sesama Muslimah. Sehingga wanita non-Muslimah ini boleh melihat seluruh tubuhnya kecuali antara pusar dan lututnya. Pendapat ini ada dalam Madzhab Syafi’iyyah dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad yang merupakan pendapat yang masyhur dalam madzhab pengikut beliau.
 
Mereka yang memegang pendapat kedua ini berdalil dengan hadis Asma bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma. Ia berkata “Ibuku datang menemuiku dalam keadaan ia musyrikah di masa Rasulullah ﷺ. Maka aku pun minta fatwa kepada Rasulullah ﷺ. “Ibuku datang dalam keadaan raghibah. [Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata: “Maknanya, ibu Asma’ datang menemui putrinya, meminta agar putrinya berbuat baik padanya, dalam keadaan ia khawatir putrinya akan menolaknya, sehingga ia pulang dengan kecewa. Demikian penafsiran jumhur.” [Fathul Bari, 5/286)]. Apakah boleh aku menyambung hubungan dengannya?”, tanyaku. “Iya, sambunglah hubungan dengan ibumu,” jawab beliau ﷺ.” [HR. Al-Bukhari no. 2620, 3183, 5978, 5979 dan Muslim no. 1003]
 
Hadis ini menunjukkan, bahwa Rasulullah ﷺ mengizinkan Asma radhiallahu ‘anha untuk menyambung hubungan dengan ibunya yang musyrikah, dan tidak dinukilkan adanya perintah ataupun berita, bahwa Asma berhijab dari ibunya.
 
Hadis lain yang menjadi dalil pendapat kedua ini adalah hadis Aisyah radhiallahu ‘anha:
 
Seorang wanita Yahudi pernah masuk menemui Aisyah lalu ia menyebutkan tentang azab kubur. Ia berkata: “Semoga Allah melindungimu dari azab kubur”. Aisyah pun menanyakan tentang azab kubur kepada Rasulullah ﷺ. “Ya, memang ada azab kubur,” jawab beliau ﷺ. Aisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ selesai dari mengerjakan satu shalat pun, melainkan beliau mesti berlindung dari azab kubur.” [HR. Al-Bukhari no. 1372 dan Muslim no. 586]
 
Hadis di atas menunjukkan wanita-wanita kafir biasa masuk menemui Ummahatul Mukminin untuk suatu keperluan, bersamaan dengan itu Rasulullah ﷺ tidak memerintahkan istri-istri beliau untuk berhijab dari mereka.
 
Dari perselisihan pendapat yang ada, wallahu ta’ala a’lam bish-shawab, yang rajih (kuat), dengan melihat dalil masing-masingnya, adalah pendapat kedua, sehingga TIDAK ADA LARANGAN bagi seorang Muslimah untuk melepas hijabnya di hadapan wanita non-Muslimah [Jika sekiranya aman dari fitnah, kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam fatwanya]. Yang demikian ini kita beralasan sebagaimana ucapan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu:
 
1. Wanita berhijab dari lelaki disebabkan karena kekhawatiran munculnya syahwat dan fitnah. Sementara antara Muslimah dan wanita non-Muslimah tidak didapati kekhawatiran yang demikian, sehingga TIDAK ADA KEHARUSAN bagi Muslimah untuk mengenakan hijabnya di hadapan non-Muslimah.
 
2. Tidak ada dalil yang mewajibkan Muslimah berhijab dari non-Muslimah, dan juga dalam hal ini tidak dapat dikiaskan dengan perintah berhijab dari lelaki.
 
3. Muslimah dan non-Muslimah sama-sama berjenis wanita. Maka sebagaimana lelaki boleh melihat sesama lelaki tanpa dibedakan apakah lelaki itu Muslim atau kafir. Maka dibolehkan pula wanita memandang wanita tanpa dibedakan, apakah dia Muslimah atau non-Muslimah [Al-Mughni, 9/505]
 
Adapun ayat ( أَوْ نِساَئِهِنَّ ), di mana dhamirnya (kata ganti ‎هُنَّ yang artinya mereka para wanita) kembali pada wanita-wanita Mukminah yang menjadi sasaran pembicaraan di dalam ayat, TIDAKLAH menunjukkan pengkhususan, sehingga wanita selain Mukminah dikeluarkan darinya. Namun sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakar ibnul Arabi rahimahullahu: “Yang shahih menurutku, firman Allah ini boleh diarahkan kepada seluruh wanita. Adapun dhamir (‎‏(هُنَّ dalam ayat ini didatangkan dalam rangka ittiba’ (pengikutan dengan lafal sebelumnya, bukan menunjukkan pengkhususan, pen.) karena ayat ini merupakan ayat dhamir, di mana disebutkan di dalamnya 25 dhamir. Tidak ada satu ayat pun dalam Alquran yang menyamainya dalam hal ini.” [Ahkamul Qur’an, 3/1359]
 
Untuk lebih memantapkan hati, berikut ini kami nukilkan fatwa dua ‘Alim Kabir dari kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mendukung pendapat kedua ini:
 
Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata:
“Ayat ‎أَوْ نِساَئِهِنَّ , mencakup seluruh wanita, Mukminah ataupun non-Mukminah. Inilah pendapat yang paling shahih, sehingga TIDAK ADA kewajiban bagi wanita Mukminah untuk berhijab dari wanita kafir, berdasarkan keterangan yang tsabit (kokoh) tentang masuknya wanita-wanita Yahudi di Madinah di masa Nabi ﷺ.
 
Demikian pula wanita-wanita penyembah berhala menemui istri-istri beliau ﷺ, sementara tidak disebutkan keterangan istri-istri Nabi ﷺ ini berhijab dari mereka.
 
Seandainya berhijab dari non-Muslimah ini terjadi dari istri-istri Nabi ﷺ atau dari selain mereka (dari kalangan shahabiyyah), niscaya akan dinukilkan. Karena para shahabat radhiallahu ‘anhum tidaklah meninggalkan sesuatu perkara, melainkan mereka mesti menukilkannya. Inilah pendapat yang terpilih dan paling kuat.” [Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 6/361]
 
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang permasalahan ini beliau menjawab: “Perkara ini dibangun di atas perbedaan pendapat ulama dalam menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surat An-Nur ayat 31 tentang dhamir dalam أَوْ نِساَئِهِنَّ .
 
Beliau menyebutkan perbedaan pendapat yang ada, kemudian beliau berkata:
“Kami sendiri condong kepada pendapat pertama (mencakup seluruh wanita, termasuk non-Muslimah) dan pendapat inilah yang lebih dekat kepada kebenaran, karena wanita memandang sesama wanita tidaklah dibedakan antara Muslimah dengan non-Muslimah. Namun tentunya hal ini diperkenankan bila di sana tidak ada fitnah. Adapun bila dikhawatirkan terjadi fitnah seperti si wanita non-Muslimah itu akan menceritakan keberadaan si Muslimah kepada kerabat-kerabatnya dari kalangan lelaki, maka ketika itu wajib untuk berhati-hati menjaga diri dari fitnah, sehingga si wanita Muslimah tidak membuka sesuatu dari anggota tubuhnya seperti kedua kaki atau rambutnya di hadapan wanita lain. Sama saja dalam hal ini (bila ada fitnah, pen.) apakah di hadapan wanita Muslimah ataupun non-Muslimah.” [Fatawa Al-Mar’ah, kumpulan dan susunan Muhammad Al-Musnad hal. 177]
 
 
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
 
Sumber: [asysyariah.com]
#hukum, #membukahijab, #jilbab, #hijab, #kerudung, #khimar, #copot, #buka, #nonmuslimah, #wanita, #perempuan, #kafir, #nonmuslimah, #bukanIslam, #ulamaberbedapendapat, #menampakkanrambut, #tampakkanrambut, #aurat #batasanaurat
,

MENEPIS SYUBHAT MODE DALAM BERHIJAB

MENEPIS SYUBHAT MODE DALAM BERHIJAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

MENEPIS SYUBHAT MODE DALAM BERHIJAB

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang mengatur segalanya, hingga sampai saat ini kita bisa membaca tulisan ini menggunakan penglihatan kita yang sempurna, di bumi Allah ini. Tempat mana lagi yang bisa kita tinggali selain di bumi Allah ini. Maka tidaklah pantas sedikit pun bagi kita sebagai seorang hamba Allah, tidak mematuhi perintah Allah, terlebih melanggar larangan Allah.

Tidaklah lupa shalawat serta salam kita curahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, karena dengannya segala jalan kebaikan telah dibukakan, dan segala jalan keburukan telah ditutup. Tinggal kitalah yang memilih jalan mana yang kita tempuh.

Saudariku, tidakkah kau perhatikan pada akhir zaman ini sudah banyak yang menggunakan hijab? Dari kalangan anak kecil sampai orang tua semua tahu tentang hijab. Namun apakah motif kita dalam menggunakan hijab tersebut? Ingin syari tapi tetap modern? Ingin syari tapi tetap cantik? Atau bahkan, dengan menggunakan hijab jadi tambah cantik?

Namun itu semua hanyalah syubhat saja saudariku. Tulisan ini akan menepis segala syubhat mengenai mode dalam berhijab. Berikut pemaparannya:

Sebagian Muslimah yang tidak berhijab mengulang-ulang syubhat, yang intinya, tidak ada yang disebut hijab secara hakiki, ia sekedar mode. Maka, jika itu hanya mode, kenapa harus dipaksakan untuk mengenakannya?

Mereka lalu menyebutkan beberapa kenyataan serta penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian ukhti berhijab yang pernah mereka saksikan. Sebelum membantah syubhat ini, kami perlu ketengahkan enam macam alas an, yang karenanya seorang ukhti mengenakan hijab.

Pertama, ia berhijab untuk menutupi sebagian cacat tubuh yang dideritanya.

Kedua, ia berhijab untuk bisa mendapat jodoh. Sebab sebagian besar pemuda yang taat menjalankan syariat agama atau tidak, selalu mengutamakan wanita yang berhijab.

Ketiga, ia berhijab untuk mengelabui orang lain, bahwa dirinya orang baik-baik. Padahal ia sebenarnya suka melanggar syariat Allah. Dengan berhijab, maka keluarganya akan percaya terhadap kesalehannya, orang tidak ragu-ragu tentangnya. Akhirnya, dia bisa bebas keluar rumah kapan dan ke mana dia suka. Dan tidak akan ada seorang pun yang menghalanginya.

Keempat, ia memakai hijab untuk mengikuti mode. Hal ini lazim disebut dengan “Hijab ala Perancis”. Mode itu biasanya menampakkan sebagian jalinan rambutnya, memerlihatkan bagian atas dadanya, memakai rok hingga pertengahan betis, memerlihatkan lekuk tubuhnya. Terkadang memakai kain tipis sekali, sehingga tampak jelas warna kulitnya. Kadang-kadang juga memakai celana panjang. Untuk melengkapi mode tersebut, ia memoles wajahnya dengan berbagai macam make up, juga menyemprotkan parfum, sehingga menebar bau harum pada setiap orang yang dilewatinya. Dia menolak syariat Allah, yakni perintah mengenakan hijab. Selanjutnya lebih mengutamakan mode-mode buatan manusia. Seperti Christian Dior, Valentino, Saint Lauren dan merek nama orang-orang kafir yang dimurkai Allah lainnya.

Kelima, ia berhijab karena paksaan dari kedua orang tuanya yang mendidiknya secara keras di bidang agama. Atau karena keluarganya semua berhijab, sehingga ia terpaksa menggunakannya. Padahal dalam hatinya ia tidak suka. Jika tidak mengenakannya, ia takut akan mendapatkan teguran dan hardikan dari keluarganya.

Keenam, ia mengenakan hijab karena mengikuti aturan-aturan syariat. Ia percaya bahwa hijab adalah wajib, sehingga ia takut melepaskannya. Ia berhijab hanya karena mengaharap rida Allah, tidak karena makhluk.

Wanita berhijab jenis keenam, akan selalu memerhatikan ketentuan-ketentuan berhijab, di antaranya:

  1. Hijab itu longgar, sehingga tidak menampakkan lekuk-lekuk tubuh (tubuh bukan hanya kepala).
  2. Tebal, hingga tidak kelihatan sedikit pun bagian tubuhnya.
  3. Tidak memakai wangi-wangian.
  4. Tidak meniru mode pakaian wanita-wanita kafir sehingga Muslimah memiliki identitas pakaian yang dikenal.
  5. Tidak memilih warna kain yang kontras (menyala) sehingga menjadi pusat perhatian orang.
  6. Hendaknya menutupi seluruh tubuh, selain wajah dan kedua telapak tangan, menurut suatu pendapat, atau menutupi seluruh tubuh dan yang tampak hanya mata, menurut pendapat yang lain.
  7. Hendaknya tidak menyerupai pakaian laki-laki sehingga bab hal ini dilarang oleh syara’.
  8. Tidak memakai pakaian yang sedang menjadi mode dengan tujuan pamer sehingga ia terjerumus kepada sifat membanggakan diri yang dilarang oleh agama.

[Kitab Hijab al-Mar’ah al-Muslimah fi al-Kitab wa as-Sunnah, karya al-Albani dan kitab Ila Kulli Fatatin Tu’minu Billah, karya al-Buthi]

Selain berhijab yang disebutkan terakhir, maka alasan-alasan mengenakan hijab adalah KELIRU dan BUKAN KARENA MENGHARAP RIDA ALLAH. Ini bukan berarti tidak ada orang yang menginginkan rida Allah dalam berhijab. Berhijablah sesuai dengan batas-batas yang ditentukan syariat, sehingga Anda termasuk dalam golongan wanita yang berhijab karena mencari rida Allah, dan takut akan murka-Nya.

Saudariku, pakaian bermode itu boleh kau pakai asal di depan mahrammu, karena dirimu terlalu berharga untuk dinikmati oleh sembarangan mata. Tidakkah kita berpikir, bahwa sesuatu yang amat berharga itu pantas dipertontonkan di muka umum? Tentulah tidak.

 

————————-

Artikel Muslimah.or.id

Tulis ulang dari kitab “Ila Ukhti Ghairil Muhajjabah Mal Mani’ Minal Hijab?” “Saudariku, Apa yang Menghalangimu Berhijab?” karya Abdul Hamid al-Bilali, penerjemah Ainul Haris bin Umar Aridin, Lc.

 

Sumber: https://Muslimah.or.id/7631-jilbabku-syari-ataukah-modis.html

,

HAKIKAT JILBAB

HAKIKAT JILBAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#KisahNyata

HAKIKAT JILBAB

>> Sebuah Kisah yang Sangat Perlu Dibaca Para Wanita

Kisah nyata ini berasal dari kawan saya bekerja. Semoga berguna bagi yang membacanya, terutama kaum hawa. Juga bagi yang punya istri, anak perempuan, adik perempuan, saudara perempuan, kakak perempuan, yang masih punya ibu, yang punya keponakan perempuan, dan lain lain.

Begini cerita sahabatku:

Ini cerita tentang adikku Nur Annisa, gadis yang baru beranjak dewasa, namun rada bengal dan tomboy. Pada saat umur adikku menginjak 17 tahun, perkembangan dari tingkah lakunya agak mengkhawatirkan ibuku. Banyak teman cowoknya yang datang ke rumah, dan hal itu tidak mengenakkan ibuku yang berprofesi sebagai seorang guru ngaji.

Untuk mengantisipasi hal itu, ibuku menyuruh adikku memakai jilbab, namun selalu ditolaknya. Hingga timbul pertengkaran pertengkaran kecil di antara mereka.

Pernah satu kali adikku berkata dengan suara yang agak keras: “Mama coba lihat deh, tetangga sebelah anaknya pakai jilbab, namun kelakuannya tidak ada bedanya sama kita-kita. Malah teman teman Ani yang di sekolah pakai jilbab dibawa om-om, sering jalan-jalan. Masih mending Ani, walaupun begini-gini, Ani tidak pernah ma, seperti itu.” Bila sudah seperti itu, ibuku hanya bisa mengelus dada. Kadangkala di akhir malam kulihat ibuku menangis, lirih terdengar doanya:

“Ya Allah, kenalkan Ani dengan hukum-Mu ya Allah“.

Pada satu hari, di dekat rumahku ada tetangga yang baru pindah. Satu keluarga dengan enam anak yang masih kecil-kecil. Suaminya bernama Abu Khoiri (entah nama aslinya siapa). Aku kenal dengannya waktu di masjid.

Setelah beberapa lama mereka pindah, timbul desas-desus mengenai istri Abu Khoiri yang tidak pernah keluar rumah, hingga dijuluki si buta, bisu dan tuli. Hal ini terdengar pula oleh adikku, dan dia bertanya kepadaku: “Kak, memang yang baru pindah itu istrinya buta, bisu dan tuli?

“Hus,” aku jawab sambil lalu. “Kalau kamu mau tahu, datang saja langsung ke rumahnya”.

Eehhh, adikku benar-benar datang ke rumah tetangga baru.

Sekembalinya dari rumah tetanggaku, kulihat perubahan yang drastis pada dirinya. Wajahnya yang biasanya cerah tidak pernah muram atau lesu, tiba-tiba berubah mejadi pucat pasi. Entah apa yang terjadi.

Namun tidak kusangka, selang dua hari kemudian dia meminta ibuku untuk membuatkannya jilbab yang panjang, rok panjang, lengan panjang.

Aku sendiri menjadi bingung. Aku tambah bingung bercampur syukur kepada Allah, karena kulihat perubahan yang ajaib. Yah kubilang ajaib, karena dia berubah total.

Tidak banyak lagi anak cowok atau teman-teman wanitanya yang datang ke rumah, untuk sekedar bicara yang tidak karuan.

Kulihat dia banyak merenung, banyak membaca-baca majalah Islam, yang biasanya dia suka beli. Majalah anak muda seperti majalah Gadis atau Femina berganti menjadi majalah-majalah Islam, dan kulihat ibadahnya pun melebihi aku.

Tak ketinggalan tahajudnya, baca Alqurannya, sholat sunnahnya. Dan yang lebih menakjubkan lagi, bila temanku datang, dia menundukkan pandangannya.

Segala puji bagi Engkau ya Allah, jerit hatiku.

Tidak berapa lama kemudian aku mendapat panggilan kerja di Kalimantan, untuk bekerja di satu perusahaan asing (PMA).

Dua bulan aku bekerja di sana, aku mendapat kabar, bahwa adikku sakit keras, hingga ibuku memanggilku untuk pulang ke rumah (rumahku di Madiun).

Di pesawat tak henti-hentinya aku berdoa kepada Allah, agar adikku diberikan kesembuhan. Namun aku hanya berusaha. Ketika aku tiba di rumah, di depan pintu sudah banyak orang. Tak dapat kutahan, aku lari masuk ke dalam rumah. Kulihat ibuku menangis. Aku langsung menghampiri dan memeluk ibuku. Sambil tersendat-sendat, ibuku berkata:

“Dhi, adikmu bisa ucapkan Dua Kalimat Syahadat di akhir hidupnya.“ Tak dapat kutahan air mata ini.

Setelah selesai acara penguburan dan lainnya, iseng-iseng aku masuk ke kamar adikku dan kulihat buku catatan harian di atas mejanya.

Buku catatan harian yang selalu dia tulis, tempat dia menghabiskan waktunya sebelum tidur, kala kulihat sewaktu adikku rahimahullah masih hidup. Kemudian kubuka selembar demi selembar, hingga tertuju pada satu halaman yang menguak misteri, dan pertanyaan yang selalu timbul di hatiku. Perubahan yang terjadi ketika adikku sehabis pulang dari rumah Abu Khoiri.

Di situ kulihat tanya jawab antara adikku dan istri dari tetanggaku, isinya seperti ini:

Tanya jawab (kulihat di lembaran itu banyak bekas tetesan air mata):

Annisa: Aku bergumam (wajah wanita ini cerah dan bersinar layaknya bidadari): “Ibu, wajah ibu sangat muda dan cantik.”

Istri Tetanggaku: “Alhamdulillah, sesungguhnya kecantikan itu datang dari lubuk hati.”

Annisa: “Ibu kan sudah punya anak enam, tapi masih kelihatan cantik.”

Istri Tetanggaku: “Subhanallah. Sesungguhnya keindahan itu milik Allah. Dan bila Allah  berkehendak, siapakah yang bisa menolaknya?”

Annisa: “Ibu, selama ini aku selalu disuruh memakai jilbab oleh ibuku, namun aku selalu menolak, karena aku pikir tidak masalah kalau aku tidak pakai jilbab, asalka aku tidak macam-macam. Dan kulihat banyak wanita memakai jilbab, namun kelakuannya melebihi kami yang tidak memakai jilbab, hingga aku tidak pernah mau untuk pakai jilbab. Menurut ibu bagaimana?”

Istri Tetanggaku: Duhai Annisa, sesungguhnya Allah menjadikan seluruh tubuh wanita ini perhiasan, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Segala sesuatu dari tubuh kita yang terlihat oleh bukan mahram kita, semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala di Akhirat nanti. Jilbab adalah hijab untuk wanita.”

Annisa: “Tapi yang kulihat banyak wanita yang memakai jilbab yang kelakuannya nggak enak, nggak karuan.”

Istri Tetanggaku: “Jilbab hanyalah kain. Namun hakikat atau arti dari jilbab itu sendiri yang harus kita pahami.”

Annisa: “Apa itu hakikat jilbab?”

Istri Tetanggaku: “Hakikat jilbab adalah hijab lahir batin.

  • Hijab matamu dari memandang lelaki yang bukan mahrammu.
  • Hijab lidahmu dari berghibah (gosip) dan kesia-siaan. Usahakan selalu berzikir kepada Allah.
  • Hijab telingamu dari mendengar perkara yang mengundang mudharat, baik untuk dirimu maupun masyarakat.
  • Hijab hidungmu dari mencium cium segala yang berbau busuk.
  • Hijab tangan-tanganmu dari berbuat yang tidak senonoh.
  • Hijab kakimu dari melangkah menuju maksiat.
  • Hijab pikiranmu dari berpikir yang mengundang setan untuk memerdayai nafsmu.
  • Hijab hatimu dari sesuatu selain Allah.

Bila kamu sudah bisa maka jilbab, yang kamu pakai akan menyinari hatimu, itulah hakikat jilbab.”

Annisa: “Ibu, sekarang jadi jelas buatku, arti jilbab. Mudah mudahan aku bisa pakai jilbab. Namun bagaimana aku bisa melaksanakan semuanya?”

Istri Tetanggaku: “Duhai Anisa. Bila kamu memakai jilbab, itulah karunia dan rahmat yang datang dari Allah Yang Maha Pemberi Rahmat, Yang Maha Penyayang. Bila kamu mensyukuri rahmat itu, kamu akan diberi kekuatan untuk melaksanakan amalan-amalan jilbab, hingga mencapai kesempurnaan yang diinginkan Allah.

  • Duhai Anisa, ingatlah akan satu hari, di mana seluruh manusia akan dibangkitkan dari kuburnya.
  • Ketika ditiup Sangkakala yang kedua kali, pada saat ruh-ruh manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan dikumpulkan dalam satu padang yang tiada batas, yang tanahnya dari logam yang panas, tidak ada rumput maupun tumbuhan.
  • Ketika matahari didekatkan di atas kepala kita, namun keadaan gelap gulita.
  • Ketika seluruh Nabi ketakutan.
  • Ketika ibu tidak memerdulikan anaknya, anak tidak memerdulikan ibunya, sanak saudara tidak kenal satu sama lain lagi, kadang satu sama lain bisa menjadi musuh. Satu kebaikan lebih berharga dari segala sesuatu yang ada di alam ini.
  • Ketika manusia berbaris dengan barisan yang panjang, dan masing-masing hanya memerdulikan nasib dirinya. Dan pada saat itu ada yang berkeringat karena rasa takut yang luar biasa, hingga menenggelamkan dirinya. Dan rupa bentuk manusia bermacam-macam, tergantung dari amalannya. Ada yang melihat ketika hidupnya, namun buta ketika dibangkitkan. Ada yang berbentuk seperti hewan. Ada yang berbentuk seperti setan. Semuanya menangis. Menangis, karena hari itu Allah murka. Belum pernah Allah murka sebelum dan sesudah hari itu, hingga ribuan tahun manusia didiamkan Allah  di Padang Mahsyar yang panas membara, hingga Timbangan Mizan digelar. Itulah hari Yaumul Hisab.

Duhai Annisa, bila kita tidak berusaha untuk beramal di hari ini, entah dengan apa nanti kita menjawab, bila kita disidang oleh Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar, Yang Maha Kuat, Yang Maha Agung, Allah. Di Yaumul Hisab nanti! Di Hari Perhitungan nanti!!”

Sampai di sini aku baca buku catatan hariannya. Kulihat banyak tetesan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Subhanallah, kubalik lembar berikutnya dan kulihat tulisan kecil di bawahnya: Buta, tuli dan bisu, wanita yang tidak pernah melihat lelaki selain mahramnya. Wanita yang tidak pernah mau mendengar perkara yang dapat mengundang murka Allah ta’ala. Wanita yang tidak pernah berbicara ghibah, gosip dan segala sesuatu yang mengundang dosa dan sia sia. Tak tahan air mata ini pun jatuh membasahi buku catatan harian itu.

Itulah yang dapat saya baca dari buku catatan hariannya. Semoga Allah menerima adikku di sisi-Nya. Aamiin.

Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudaraku, adik-adikku dan anak-anakku yang semoga dimuliakan Allah, khususnya kaum hawa.

Saya mengharap kisah nyata ini bisa menjadi iktibar, menjadi pelajaran bagi kita, bagi putri-putri kita semua. Semoga meresap di hati yang membacanya, dan semoga Allah ta’ala senantiasa memberi petunjuk, memberi rahmat, hidayah bagi yang membaca dan menghayatinya.

Semoga Allah  senantiasa memberikan kekuatan iman kita untuk menjalankan (memenuhi) segala perintah-Nya dan menjauhi segala apa-apa yang dilarang-Nya, dan mendapat derajat takwa yang tinggi, selamat di dunia sampai di Akhirat nanti, mendapat pertolongan dan syafaat di hari Yaumul Hisab dan mendapat Surga yang tinggi. Aamiin.

Wallaahu a’lam bish shawab, billaahi taufik wal hidayah.
Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

 

Sumber: FB Maktabah Ilmu (dengan sedikit perbaikan kata)

http://enkripsi.wordpress.com/2010/11/24/hakikat-jilbab/

https://aslibumiayu.net/2949-hakikat-jilbab-sebuah-kisah-yang-wajib-kamu-baca.html

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#MuslimahSholihah

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

>> Ketika dia shalat sendirian di dalam kamar tidurnya dan lampu dipadamkan

Di masa jahiliah, kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, wanita biasa thawaf di Kakbah dalam keadaan tanpa busana. Yang tertutupi hanyalah bagian kemaluannya. Mereka thawaf seraya bersyair:

  • Pada hari ini tampak tubuhku, sebagiannya ataupun seluruhnya
  • Maka apa yang tampak darinya, tidaklah daku halalkan

Maka turunlah ayat:

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ

“Wahai anak Adam, kenakanlah zinah (hiasan/pakaian) kalian setiap kali menuju masjid.” (al-A’raf: 31) [Shahih, HR. Muslim no. 3028]

Zinah (hiasan) adalah sesuatu yang dikenakan untuk berhias/memerindah diri. [Mukhtarush Shihah, hlm. 139], seperti pakaian.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Dahulu orang-orang jahiliah thawaf di Kakbah dalam keadaan telanjang. Mereka melemparkan pakaian mereka, dan membiarkannya tergeletak di atas tanah terinjak-injak oleh kaki orang-orang yang lalu lalang. Mereka tidak lagi mengambil pakaian tersebut selamanya, hingga usang dan rusak. Demikian kebiasaan jahiliah ini berlangsung hingga kedatangan Islam, dan Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan mereka untuk menutup aurat sebagaimana firman-Nya:

بَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ

“Wahai anak Adam, kenakanlah hiasan kalian setiap kali shalat di masjid.” (al-A’raf: 31)

Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ عُرْياَنٌ

“Tidak boleh orang yang telanjang thawaf di Kakbah.” (Shahih, HR. al-Bukhari no. 1622 dan Muslim no. 1347) [Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, 18/162—163]

Hadis di atas selain disebutkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah pada nomor di atas, pada Kitab al-Haj, Bab “Tidak Boleh Orang Yang Telanjang Thawaf Di Baitullah dan Tidak Boleh Orang Musyrik Melaksanakan Haji”, disinggung pula oleh beliau dalam Kitab ash-Shalah, Bab “Wajibnya Shalat dengan Mengenakan Pakaian.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam syarahnya (penjelasan) terhadap hadis di atas dalam Kitab ash-Shalah berkata: “Sisi pendalilan hadis ini terhadap judul bab yang diberikan al-Imam al-Bukhari rahimahullah adalah, apabila dalam thawaf dilarang telanjang, pelarangan hal ini di dalam shalat lebih utama lagi. Sebab apa yang disyaratkan di dalam shalat, sama dengan apa yang disyaratkan di dalam thawaf, bahkan dalam shalat ada tambahan. Jumhur berpendapat menutup aurat termasuk syarat shalat.” [Fathul Bari, 1/582]

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya: “Mereka diperintah untuk mengenakan zinah (hiasan) ketika datang ke masjid,untuk melaksanakan shalat atau thawaf di Baitullah. Ayat ini dijadikan dalil untuk menunjukkan wajibnya menutup aurat di dalam shalat. Demikian pendapat yang dipegangi oleh jumhur ulama. Bahkan menutup aurat hukumnya wajib dalam segala keadaan, sekalipun seseorang shalat sendirian, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis yang Shahih.” [Fathul Qadir, 2/200]

Ada perbedaan antara batasan aurat yang harus ditutup di dalam shalat, dan aurat yang harus ditutup di hadapan seseorang yang tidak halal untuk melihatnya, sebagaimana ada perbedaan yang jelas antara aurat laki-laki di dalam shalat, dan aurat wanita.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Mengenakan pakaian di dalam shalat adalah dalam rangka menunaikan hak Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu, seseorang tidak boleh shalat ataupun thawaf dalam keadaan telanjang, walaupun sendirian di malam hari. Dengan demikian diketahuilah, bahwa mengenakan pakaian di dalam shalat bukanlah karena ingin menutup tubuh (berhijab) dari pandangan manusia. Sebab, ada perbedaan antara pakaian yang dikenakan untuk berhijab dari pandangan manusia, dan pakaian yang dikenakan ketika shalat.” [Majmu’ Fatawa, 22/113—114]

Perlu diperhatikan di sini, menutup aurat di dalam shalat tidaklah cukup dengan berpakaian ala kadarnya. Yang penting menutup aurat, tidak peduli pakaian itu terkena najis, bau, dan kotor misalnya. Namun perlu diperhatikan pula sisi keindahan dan kebersihannya. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya memerintahkan untuk mengenakan zinah (pakaian sebagai perhiasan) ketika shalat, sebagaimana ayat di atas. Jadi, seorang hamba sepantasnya shalat mengenakan pakaiannya yang paling bagus dan paling indah, karena dia akan bermunajat dengan Rabb semesta alam, dan berdiri di hadapan-Nya.

Demikian secara makna dikatakan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam al-Ikhtiyarat (hlm. 43), sebagaimana dinukil dalam asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’ (2/145).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah membawakan beberapa syarat pakaian yang dikenakan dalam shalat. Ringkasnya adalah sebagai berikut:

  • Tidak menampakkan kulit tubuh yang ada di balik pakaian
  • Bersih dari najis
  • Bukan pakaian yang haram untuk dikenakan, seperti sutra bagi laki-laki, atau pakaian yang melampaui/melebihi mata kaki bagi laki-laki (isbal)
  • Pakaian tersebut tidak menimbulkan mudarat/bahaya bagi pemakainya. [Lihat pembahasan dan dalil-dalil masalah ini dalam asy-Syarhul Mumti’, 2/148—151]

Bagian Tubuh yang Harus Ditutup

Al-Khaththabi rahimahullah berkata: “Ulama berbeda pendapat tentang bagian tubuh yang harus ditutup oleh wanita merdeka (bukan budak) dalam shalatnya.

Al-Imam asy-Syafi’i dan al-Auza’i rahimahumallah berkata: ‘Wanita menutupi seluruh badannya ketika shalat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya.’ [Diriwayatkan hal ini dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan ‘Atha rahimahullah].

Lain lagi yang dikatakan oleh Abu Bakr bin Abdirrahman bin al-Harits bin Hisyam radhiyallahu ‘anhu: ‘Semua anggota tubuh wanita merupakan aurat, sampai pun kukunya.’

Al-Imam Ahmad rahimahullah sejalan dengan pendapat ini, beliau berkata: ‘Dituntunkan bagi wanita untuk melaksanakan shalat dalam keadaan tidak terlihat sesuatu pun dari anggota tubuhnya, tidak terkecuali kukunya’.” (Ma’alimus Sunan, 2/343)[ Sebagaimana dinukil dalam Jami’ Ahkamin Nisa’ (1/321)]

Sebenarnya dalam permasalahan ini TIDAK ADA DALIL YANG JELAS yang bisa menjadi pegangan, kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. (asy-Syarhul Mumti’, 2/156)

Oleh karena itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat, seluruh tubuh wanita merdeka itu aurat (di dalam shalatnya), kecuali bagian tubuh yang biasa tampak darinya ketika di dalam rumahnya, yaitu wajah, dua telapak tangan, dan telapak kaki. [Majmu’ Fatawa, 22/109—120]

Dengan demikian, ketika seorang wanita shalat sendirian atau di hadapan sesama wanita, atau di hadapan mahramnya, dibolehkan baginya untuk membuka wajah, dua telapak tangan, dan dua telapak kakinya. [Jami’ Ahkamin Nisa’, 1/333—334]

Walaupun yang lebih utama ialah ia menutup dua telapak kakinya. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Apabila ada laki-laki yang bukan mahramnya, ia menutup seluruh tubuhnya termasuk wajah. [Bagi yang berpendapat wajibnya menutup wajah. (-red)] (asy-Syarhul Mumti’, 2/157)

Pakaian Wanita Di Dalam Shalat

Di sekitar kita banyak dijumpai wanita shalat mengenakan mukena/rukuh yang tipis transparan, sehingga terlihat rambut panjangnya tergerai di balik mukena. Belum lagi pakaian yang dikenakan di balik mukena terlihat tipis, tanpa lengan, pendek dan ketat, menggambarkan lekuk-lekuk tubuhnya. Pakaian seperti ini jelas TIDAK BISA dikatakan menutup aurat.

Bila ada yang berdalih: “Saya mengenakan pakaian shalat yang seperti itu hanya di dalam rumah, sendirian di dalam kamar, dan lampu saya padamkan!”, kita katakan, bahwa pakaian shalat seperti itu (mukena ditambah pakaian minim di baliknya) tidak boleh dikenakan, walaupun ketika shalat sendirian, tanpa ada seorang pun yang melihat. Sebab, pakaian itu tidak cukup untuk menutup aurat. Padahal ketika shalat, wanita tidak boleh terlihat bagian tubuhnya kecuali wajah, telapak tangan, dan telapak kaki. [Lihat ucapan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa sebagaimana dinukilkan di atas]

Terlebih lagi pelarangan, bahkan pengharamannya, ketika pakaian seperti ini dipakai keluar rumah untuk shalat di masjid, atau di hadapan laki-laki yang bukan mahram.

Jika demikian, bagaimana sebenarnya pakaian yang boleh dikenakan oleh wanita di dalam shalatnya?

Masalah pakaian wanita di dalam shalat ini disebutkan dalam beberapa hadis yang marfu’. Namun, kedudukan hadis-hadis tersebut diperbincangkan oleh ulama.

Di antaranya, hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha:

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِخِمَارٍ

“Allah tidak menerima shalat wanita yang telah haid (baligh), kecuali apabila ia mengenakan kerudung (dalam shalatnya).” [HR. Abu Dawud no. 641 dan selainnya]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam at-Talkhisul Habir (2/460), hadis ini dianggap cacat oleh ad-Daraquthni karena Mauquf-nya (hadis yang berhenti hanya sampai sahabat).

Adapun al-Hakim menganggapnya mursal (hadis yang terputus antara tabi’in dan Rasulullah ﷺ).

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Apakah wanita boleh shalat dengan mengenakan dira’ dan kerudung tanpa izar?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُوْرَ قَدَمَيْهِ

“(Boleh), apabila dira’nya itu luas/lapang, hingga menutupi punggung kedua telapak kakinya.” [HR. Abu Dawud no. 640]

Dira’ adalah pakaian lebar/lapang yang menutupi sampai kedua telapak kaki, kata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. [Asy-Syarhul Mumti’, 2/164]

Sedangkan izar adalah milhafah (al-Qamushul Muhith, hlm. 309). Makna milhafah sendiri diterangkan dalam al-Qamush (hlm. 767) adalah pakaian yang dikenakan di atas seluruh pakaian (sehingga menutup/menyelubungi seluruh tubuh seperti abaya dan jilbab. [Lihat asy-Syarhul Mumti’, 2/164—165]

Hadis Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha ini tidak Shahih sanadnya, baik secara marfu’ maupun mauquf, karena hadis ini berporos pada Ummu Muhammad bin Zaid. Padahal dia adalah rawi yang majhul (tidak dikenal). [Demikian diterangkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 161)].

Meski demikian, ada riwayat-riwayat yang Shahih dari para sahabat dalam pemasalahan ini sebagaimana akan kita baca berikut ini:

Abdur Razzaq ash-Shan‘ani rahimahullah meriwayatkan dari jalan Ummul Hasan, ia berkata: “Aku melihat Ummu Salamah istri Nabi ﷺ, shalat dengan mengenakan dira’ dan kerudung.” (al-Mushannaf, 3/128) [Isnadnya Shahih, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 162)]

Ubaidullah al-Khaulani, anak asuh Maimunah radhiyallahu ‘anha mengabarkan, bahwa Maimunah shalat dengan memakai dira’ dan kerudung tanpa izar. [Diriwayatkan oleh al-Imam Malik dalam al-Muwaththa’ dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf] [Isnadnya Shahih, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 162)]

Masih ada atsar lain dalam masalah ini, yang semuanya menunjukkan, bahwa shalat wanita dengan mengenakan dira’ dan kerudung adalah perkara yang biasa, serta dikenal di kalangan para sahabat. Dan ini merupakan pakaian yang mencukupi bagi wanita untuk menutupi auratnya di dalam shalat.

Apabila wanita itu ingin lebih sempurna dalam berpakaian ketika shalat, ia bisa menambahkan izar atau jilbab pada dira’ dan kerudungnya. Ini yang lebih sempurna dan lebih utama, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah. Dalilnya ialah riwayat dari Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Wanita shalat dengan mengenakan tiga pakaian yaitu dira‘, kerudung, dan izar.” [Riwayat Ibnu Abi Syaibah dengan isnad yang Shahih, lihat Tamamul Minnah, hlm. 162]

Jumhur ulama sepakat, pakaian yang mencukupi bagi wanita dalam shalatnya adalah dira’ dan kerudung. [Bidayatul Mujtahid, hlm. 100]

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan: “Disenangi bagi wanita untuk shalat mengenakan dira’ – pakaian yang sama dengan gamis, namun lebar dan panjang sampai menutupi kedua telapak kaki, kemudian mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan lehernya, dilengkapi dengan jilbab yang diselimutkan ke tubuhnya di atas dira’. Demikian yang diriwayatkan dari ‘Umar, putra beliau (Ibnu ‘Umar), ‘Aisyah, Abidah as-Salmani, dan ‘Atha. Ini juga merupakan pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Beliau berkata: ‘Kebanyakan ulama bersepakat untuk pemakaian dira’ dan kerudung, apabila ditambahkan pakaian lain, itu lebih baik dan lebih menutup’.” [Al-Mughni, 1/351]

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Disenangi bagi wanita untuk shalat dengan mengenakan tiga pakaian: dira’, kerudung, dan jilbab, yang digunakan untuk menyelubungi tubuhnya, kain sarung di bawah dira’, atau sirwal (celana panjang yang lapang dan lebar) karena lebih utama daripada sarung.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Wanita shalat dengan mengenakan dira’, kerudung, dan milhafah.’

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah shalat dengan mengenakan kerudung, izar, dan dira’. Ia memanjangkan izarnya untuk berselubung dengannya. Ia pernah berkata: ‘Wanita yang shalat harus mengenakan tiga pakaian, apabila ia mendapatkannya, yaitu kerudung, izar, dan dira’. [Syarhul ‘Umdah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 4/322]

Bolehkah Shalat dengan Satu Pakaian?

Di dalam shalat, wanita dituntunkan untuk menutup seluruh tubuhnya kecuali bagian yang boleh terlihat, walaupun ia hanya mengenakan satu pakaian yang menutupi kepala, dua telapak tangan, dua telapak kaki, dan seluruh tubuhnya kecuali wajah.

Seandainya ia berselimut dengan satu kain sehingga seluruh tubuhnya tertutupi kecuali muka, dua telapak tangan, dan telapak kakinya, maka ini mencukupi baginya, menurut pendapat yang mengatakan, dua telapak tangan dan telapak kaki tidak termasuk bagian tubuh yang wajib ditutup. [Asy-Syarhul Mumti’, 2/165]

Ikrimah rahimahullah berkata: “Seandainya seorang wanita shalat dengan menutupi tubuhnya dengan satu pakaian/kain, maka hal itu dibolehkan.” [Shahih al-Bukhari, “Kitab ash-Shalah bab Berapa Pakaian yang Boleh Dikenakan Wanita Ketika Shalat”]

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyatakan: “Setelah menghikayatkan pendapat jumhur, bahwa wajib bagi wanita untuk shalat memakai dira’ dan kerudung, Ibnul Mundzir rahimahullah berkata: ‘Yang diinginkan dengan pendapat tersebut adalah, ketika shalat seorang wanita harus menutupi tubuh dan kepalanya. Seandainya pakaian yang dikenakan itu lapang/lebar, lalu ia menutupi kepalanya dengan sisa/kelebihan pakaiannya, maka hal itu dibolehkan.’

Ibnul Mundzir juga berkata: ‘Apa yang kami riwayatkan dari Atha’ rahimahullah bahwasanya ia berkata: [Wanita shalat dengan mengenakan dira’, kerudung, dan izar], demikian pula riwayat yang semisalnya dari Ibnu Sirin rahimahullah dengan tambahan milhafah, maka aku menyangka hal ini dibawa pemahamannya kepada istihbab.” [Fathul Bari, 1/602—603]. Yakni satu pakaian yang menutupi seluruh tubuh sebenarnya sudah mencukupi, namun disenangi apabila ditambah dengan pakaian-pakaian yang disebutkan.

Mujahid dan ‘Atha rahimahumallah pernah ditanya tentang wanita yang memasuki waktu shalat, sementara ia tidak memiliki kecuali satu baju, apa yang harus dilakukannya?

Mereka menjawab: “Ia berselimut dengannya.”

Demikian pula yang dikatakan Muhammad bin Sirin rahimahullah. [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 2/226]

Demikian apa yang dapat kami nukilkan dalam permasalahan ini untuk pembaca. Semoga memberi manfaat!

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah

 

 

 

 

 

, ,

PUASA BISA JADI TIDAK BERNILAI GARA-GARA TIDAK BERJILBAB

PUASA-BISA-JADI-TIDAK-BERNILAI-GARA-GARA-TIDAK-BERJILBAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#SifatPuasaNabi

PUASA BISA JADI TIDAK BERNILAI GARA-GARA TIDAK BERJILBAB

>> Wahai Muslimah, Janganlah Engkau Sia-Siakan Puasamu dengan Tidak Berjilbab

Nabi ﷺ bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia TIDAK mendapatkan dari puasanya tersebut, melainkan hanya rasa lapar dan dahaga.” [HR. Ahmad 2/373. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya Jayyid].

Hal ini menunjukkan, bahwa puasa, termasuk puasa Ramadan, bukanlah dengan menahan lapar dan dahaga saja. Namun puasa juga hendaknya dilakukan dengan menahan diri dari hal-hal yang diharamkan. Yang termasuk maksiat adalah buka-bukaan aurat, dan meninggalkan shalat. Ini adalah maksiat.

Jabir bin ‘Abdillah menyampaikan wejangan:

“Seandainya engkau berpuasa, maka hendaknya pendengaran, penglihatan dan lisanmu turut berpuasa. Yaitu menahan diri dari dusta dan segala perbuatan haram, serta janganlah engkau menyakiti tetanggamu. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.”

Itulah sejelek-jelek puasa yang hanya menahan lapar dan dahaga saja ketika berpuasa. Sedangkan maksiat masih terus jalan, masih buka-buka aurat dan enggan berjilbab. Kesadaran untuk berhenti dari maksiat tak kunjung datang. Ucapan sebagian salaf berikut patut jadi renungan:

أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ

“Tingkatan puasa yang paling rendah adalah hanya meninggalkan minum dan makan saja.” [Lihat Latho’if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H, hal. 277]

 

Sumber: https://rumaysho.com/1164-menutup-aurat-hanya-musiman.html

,

FIKIH WUDHU

FIKIH WUDHU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatWudhuNabi

#DoaZikir

FIKIH WUDHU

Pertanyaan: Niat apakah yang dimaksudkan dalam berwudhu dan mandi (wajib)? Apa hukum perbuatan yang dilakukan tanpa niat dan apa dalilnya?

Jawaban: Niat yang dimaksud dalam berwudhu dan mandi (wajib) adalah niat untuk menghilangkan hadats atau untuk menjadikan boleh suatu perbuatan yang diwajibkan bersuci. Oleh karenanya, amalan-amalan yang dilakukan tanpa niat tidak diterima. Dalilnya adalah firman Allah:

“Dan mereka tidaklah diperintahkan, melainkan agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Dan hadis dari Umar bin al-Khaththab, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat. Dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memeroleh balasan dari), apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya. Barang siapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.”

Pertanyaan: Apakah wudhu itu? Apa dalil yang menunjukkan wajibnya wudhu? Dan apa (serta berapa macam) yang mewajibkan wudhu?

Jawaban: Yang dimaksud wudhu adalah menggunakan air yang suci dan menyucikan, dengan cara yang khusus di empat anggota badan, yaitu, wajah, kedua tangan, kepala, dan kedua kaki. Adapun sebab yang mewajibkan wudhu adalah hadats, yaitu apa saja yang mewajibkan wudhu atau mandi [terbagi menjadi dua macam, (Hadats Besar) yaitu segala yang mewajibkan mandi dan (Hadats Kecil) yaitu semua yang mewajibkan wudhu].

Adapun dalil wajibnya wudhu adalah firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6)

Pertanyaan: Apa dalil yang mewajibkan membaca Basmalah dalam berwudhu, dan gugur kewajiban tersebut kalau lupa atau tidak tahu?

Jawaban: Dalil yang mewajibkan membaca Basmalah adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau ﷺ bersabda: “Tidak sah sholat bagi orang yang tidak berwudhu, dan tidak sah wudhu orang yang tidak menyebut nama Allah atas wudhunya.”

Adapun dalil gugurnya kewajiban mengucapkan Basmalah kalau lupa atau tidak tahu adalah hadis, “Dimaafkan untuk umatku, kesalahan dan kelupaan.”

Pertanyaan: Apa sajakah syarat-syarat wudhu itu?

Jawaban: Syarat-syarat (sahnya) wudhu adalah sebagai berikut:

(1). Islam,

(2). Berakal,

(3). Tamyiz (dapat membedakan antara baik dan buruk),

(4). Niat,

(5). Istishab hukum niat,

(6). Tidak adanya yang mewajibkan wudhu,

(7). Istinja dan istijmar sebelumnya (bila setelah buang hajat),

(8). Air yang thahur (suci lagi mensucikan),

(9). Air yang mubah (bukan hasil curian -misalnya-),

(10). Menghilangkan sesuatu yang menghalangi air meresap dalam pori-pori.

Pertanyaan: Ada berapakah fardhu (rukun) wudhu itu? Dan apa saja?

Jawaban: Fardhu (rukun) wudhu ada 6 (enam), yaitu:

  1. Membasuh muka (temasuk berkumur dan memasukkan sebagian air ke dalam hidung lalu dikeluarkan).
  2. Membasuh kedua tangan sampai kedua siku.
  3. Mengusap (menyapu) seluruh kepala (termasuk mengusap kedua daun telinga).
  4. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki.
  5. Tertib (berurutan).
  6. Muwalah (tidak diselingi dengan perkara-perkara yang lain).

Pertanyaan: Sampai di mana batasan wajah (muka) itu? Bagaimana hukum membasuh rambut/bulu yang tumbuh di (daerah) muka ketika berwudhu?

Jawaban: Batasan-batasan wajah (muka) adalah mulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala yang normal, sampai jenggot yang turun dari dua cambang dan dagu (janggut) memanjang (atas ke bawah), dan dari telinga kanan sampai telinga kiri melebar. Wajib membasuh semua bagian muka bagi yang tidak lebat rambut jenggotnya, (atau bagi yang tidak tumbuh rambut jenggotnya), beserta kulit yang ada di balik rambut jenggot yang jarang (tidak lebat). Karena kita lihat sendiri, kalau rambut jenggotnya lebat, maka wajib membasuh bagian luarnya, dan di sunnahkan menyela-nyelanya. Karena masing-masing bagian luar jenggot yang lebat dan bagian bawah jenggot yang jarang bisa terlihat dari depan, sebagai bagian muka, maka wajib membasuhnya.

Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan tertib (urut)? Apa dalil yang mewajibkannya dari Alquran dan As-Sunnah?

Jawaban: Yang dimaksud dengan tertib (urut) adalah sebagaimana yang tertera dalam ayat yang mulia, yaitu membasuh wajah, kemudian kedua tangan (sampai siku), kemudian mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kaki.

Adapun dalilnya adalah sebagaimana tersebut dalam ayat di atas (ayat 6 surat al-Maidah). Di dalam ayat tersebut telah dimasukkan kata mengusap di antara dua kata membasuh. Orang Arab tidak melakukan hal ini, melainkan untuk suatu faidah tertentu yang tidak lain adalah tertib (urut).

Kedua, sabda Rasulullah ﷺ: “Mulailah dengan apa yang Allah telah memulai dengannya.”

Ketiga, hadis yang diriwayatkan dari ‘Amr bin ‘Abasah. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang wudhu” Rasulullah ﷺ berkata: “Tidaklah salah seorang dari kalian mendekati air wudhunya, kemudian berkumur-kumur, memasukkan air ke hidungnya lalu mengeluarkannya kembali, melainkan gugurlah dosa-dosa di (rongga) mulut dan rongga hidungnya bersama air wudhunya. Kemudian (tidaklah) ia membasuh mukanya sebagaimana yang Allah perintahkan, melainkan gugurlah dosa-dosa wajahnya, melalui ujung-ujung janggutnya bersama tetesan air wudhu. Kemudian (tidaklah) ia membasuh kedua tangannya sampai ke siku, melainkan gugurlah dasa-dosa tangannya bersama air wudhu, melalui jari-jari tangannya. Kemudian (tidaklah) ia mengusap kepalanya, melainkan gugur dosa-dasa kepalanya, bersama air melalui ujung-ujung rambutnya, kemudian (tidaklah) ia membasuh kedua kakinya, melainkan gugur dosa-dasa kakinya, bersama air melalui ujung-ujung jari kakinya.” (HR. Muslim)

Dan dalam riwayat Ahmad terdapat ungkapan: “Kemudian mengusap kepalanya (sebagaimana yang Allah perintahkan),… kemudian membasuh kedua kakinya sampai mata kaki sebagaimana yang Allah perintahkan.”

Dan di dalam riwayat Abdullah bin Shanaji terdapat apa yang menunjukkan akan hal itu. Wallahu A’lam.

Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan Muwalah dan apa dalilnya?

Jawaban: Maksudnya adalah jangan mengakhirkan membasuh anggota wudhu, sampai mengering anggota sebelumnya, setelah beberapa saat.

Dalilnya, hadis yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud dari Nabi ﷺ, bahwa beliau ﷺ melihat seorang laki-laki di kakinya ada bagian sebesar mata uang logam yang tidak terkena air wudhu, maka beliau ﷺ memerintahkan untuk mengulangi wudhunya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Umar bin al-Khathab, bahwa seorang laki-laki berwudhu, tetapi meninggalkan satu bagian sebesar kuku di kakinya (tidak membasahinya dengan air wudhu). Rasulullah ﷺ melihatnya, maka beliau ﷺ berkata: “Berwudhulah kembali, kemudian sholatlah.” Sedangkan dalam riwayat Muslim tidak menyebutkan lafaz, “Berwudhulah kembali.”

Pertanyaan: Bagaimana tata cara wudhu yang sempurna? Dan apa yang dibasuh oleh orang yang buntung ketika berwudhu?

Jawaban: Hendaknya berniat, kemudian membaca Basmalah, dan membasuh tangannya sebanyak tiga kali. Kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung (lalu mengeluarkannya), sebanyak tiga kali dengan tiga kali cidukan. Kemudian, membasuh mukanya sebanyak tiga kali. Kemudian membasuh kedua tangannya beserta kedua sikunya sebanyak tiga kali. Kemudian mengusap kepalanya sekali, dari mulai tempat tumbuh rambut bagian depan sampai akhir tumbuhnya rambut dekat tengkuknya, kemudian mengembalikan usapan itu (membalik) sampai kembali ketempat semula memulai. Kemudian memasukkan masing-masing jari telunjuknya ke telinga dan menyapu bagian daun telinga dengan kedua jempolnya. Kemudian membasuh kedua kakinya beserta mata kakinya tiga kali, dan bagi yang cacat membasuh bagian-bagian yang wajib (dari anggota tubuhnya) yang tersisa. Jika yang buntung adalah persendiannya, maka memulainya dari bagian lengan yang terputus. Demikian pula jika yang buntung adalah dari persendian tumit kaki, maka membasuh ujung betisnya.

Pertanyaan: Apa dalil dari tata cara wudhu yang sempurna? Sebutkan dalil-dalil tersebut secara lengkap?

Jawaban: Adapun niat dan membaca Basmalah, telah disebutkan dalilnya di atas. Dan dalam riwayat Abdullah bin Zaid tentang tata cara wudhu (terdapat lafaz): “Kemudian Rasulullah ﷺ memasukkan tangannya, kemudian berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung dengan satu tangan sebanyak tiga kali.” (Mutafaq ‘alaih)

“Dan dari Humran, bahwa Utsman pernah meminta dibawakan air wudhu. Maka ia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian membasuh tangan kanannya sampai ke siku tiga kali. Kemudian tangan kirinya seperti itu pula. Kemudian mengusap kepalanya. Kemudian membasuh kaki kanannya sampai mata kaki tiga kali, kemudian kaki kirinya seperti itu pula, kemudian berkata: ‘Aku melihat Rasulullah ﷺ berwudhu seperti wudhuku ini.’” (Mutafaq alaih)

Dan dari Abdullah bin Zaid bin Ashim dalam tata cara wudhu, ia berkata: “Dan Rasulullah ﷺ mengusap kepalanya, menyapukannya ke belakang dan ke depan.” (Mutafaq alaih)

Dan lafaz yang lain, “(Beliau) memulai dari bagian depan kepalanya sampai ke tengkuk, kemudian menariknya lagi ke bagian depan tempat semula memulai.”

Dan dalam riwayat Ibnu Amr tentang tata cara berwudhu, katanya: “Kemudian (Rasulullah ﷺ) mengusap kepalanya, dan memasukkan dua jari telunjuknya ke masing-masing telinganya, dan mengusapkan kedua jari jempolnya ke permukaan daun telinganya.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

Pertanyaan: Apa saja yang termasuk sunnah-sunnah wudhu beserta dalilnya?

Jawaban: Yang termasuk sunnah-sunnah wudhu adalah:

  1. Menyempurnakan wudhu.
  2. Menyela-nyela antara jari jemari.
  3. Melebihkan dalam memasukkan air ke dalam hidung kecuali bagi yang berpuasa.
  4. Mendahulukan anggota wudhu yang kanan.
  5. Bersiwak
  6. Membasuh dua telapak tangan sebanyak tiga kali.
  7. Mengulangi setiap basuhan dua kali atau tiga kali.
  8. Menyela-nyela jenggot yang lebat.

Dalil tentang siwak telah lalu penjelasannya. Adapun tentang membasuh dua telapak tangan sebelum berwudhu, yaitu apa yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa’i dari Aus bin Aus ats-Tsaqafi ia berkata: “Aku melihat Nabi ﷺ berwudhu, maka beliau ﷺ mencuci dua telapak tangannya sebanyak tiga kali.”

Adapun tentang menyempurnakan wudhu, menyela-nyela jari jemari dan melebihkan (dalam memasukkan air ke hidung) kecuali bagi yang berpuasa, sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Laqith bin Shabrah, katanya, “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang wudhu?’” Nabi ﷺ berkata: “Sempurnakan wudhu-mu, dan sela-selalah antara jari-jemarimu, dan bersungguh sungguhlah dalam memasukkan air ke dalam hidung, kecuali jika kamu dalam keadaan berpuasa.” (Diriwayatkan oleh lima imam, dishahihkan oleh Tirmidzi)

Dan dari ‘Aisyah, ia berkata: “Nabi suka mengawali sesuatu dengan yang kanan, dalam memakai terompah, bersisir, bersuci, dan dalam segala sesuatu.” (Mutafaq alaih)

Adapun menyela-nyala jenggot, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Utsman: “Bahwa Nabi ﷺ ada menyela-nyala jenggotnya.” (HR. Ibnu Majah dan Turmudzi dan ia menshahihkannya). Cara menyela-nyela jenggot ini dengan mengambil seraup air dan meletakkannya dari bawahnya dengan jari-jemarinya, atau dari dua sisinya dan menggosokkan keduanya. Dan dalam riwayat Abu Dawud dari Anas, “Bahwa Nabi ﷺ jika berwudhu mengambil seraup air, kemudian meletakkannya di bawah dagunya dan berkata: ‘Demikianlah yang diperintahkan oleh Tuhan kepadaku.’”

Pertanyaan: Berapa takaran air yang dibutuhkan ketika berwudhu atau mandi (junub)?

Jawaban: Takaran air dalam berwudhu adalah satu mud (Satu mud sama dengan 1 1/3 liter menurut ukuran orang Hijaz dan 2 liter menurut ukuran orang Irak. (Lihat Lisanul Arab Jilid 3 hal 400). Adapun untuk mandi sebanyak satu sha’ sampai lima mud. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Anas, katanya: “Adalah Rasulullah ﷺ ketika berwudhu dengan (takaran air sebanyak) satu mud dan mandi (dengan takaran sebanyak) satu sha’ sampai lima mud.” (HR. Muttafaq alaih). Dan makruh (dibenci) berlebih-lebihan, yaitu yang lebih dari tiga kali dalam berwudhu.

Pertanyaan: Bacaan apa yang disunnahkan ketika selesai berwudhu?

Jawaban: Bacaan yang disunnahkan adalah mengucapkan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar, katanya: “Berkata Rasulullah ﷺ: ‘Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

ASYHADU ALLA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKALAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WAROSUULUH

Artinya:

[Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah semata, yang tidak ada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya], melainkan dibukakan untuknya delapan pintu Surga. Ia dapat masuk dari mana saja yang ia kehendaki.’” (HR. Muslim)

Dan Tirmidzi menambahkan:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

ALLOOHUMMAJ’ALNI MINAT TAWWABIINA WAJ’ALNII MINAL MUTATHOHHIRIIN

Artinya:

Ya Allah jadikan aku termasuk orang-orang yang bertaubat, dan jadikan aku termasuk orang-orang yang suka menyucikan diri.”

Boleh juga ditambah dengan doa berikut, dari Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:“Siapa saja yang berwudhu, kemudian berkata setelah wudhunya selesai:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

SUBHAANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA ASSYHADU ALAA ILAHA ILLA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIK

Artinya:

[Maha Suci Engkau, Ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Engkau. Saya memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu], pastilah akan dicetak untuknya sebuah cetakan, kemudian akan diangkat di bawah Arsy, dan tidak akan pecah hingga Hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh An-Nasa`iy dalam ‘Amalul Yaum Wal Lailah dengan sanad Shahih di atas syarat Al-Bukhary dan Muslim. Memiliki hukum Marfu’, walaupun dari ucapan Abu Sa’id].

***

Sumber: Majalah Fatawa

Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id

 

https://muslim.or.id/85-fikih-wudhu.html

, ,

APAKAH PEMBANTU PEREMPUAN HARUS BERHIJAB DARI MAJIKANNYA?

APAKAH PEMBANTU PEREMPUAN HARUS BERHIJAB DARI MAJIKANNYA?

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

APAKAH PEMBANTU PEREMPUAN HARUS BERHIJAB DARI MAJIKANNYA?

Fatwa Ulama Seputar Pembantu Rumah Tangga

Jawab:

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullah menjawab:

“Ya, pembantu wajib berhijab dari majikannya dan tidak boleh bertabarruj – memertontonkan perhiasannya- di hadapan tuannya. Majikannya pun haram untuk khalwat/berdua-duaan dengannya, berdasarkan keumuman dalil. Bila si pembantu tidak berhijab, bahkan bertabarruj, hal tersebut merupakan sebab yang membangkitkan fitnah. Demikian pula, khalwat majikannya dengannya, merupakan sebab setan akan menghias-hiasi si majikan untuk terfinah dengannya. Wallahul musta’an. (Al-Fatawa libni Baz, Kitab Ad-Da’wah, 2/226)

 

[Sumber: Majalah Asy Syariah no. 61/VI/1431 H/2010, hal. 94-95]

 

,

JANGAN KAU SANGKA …….

JANGAN KAU SANGKA …….

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

JANGAN KAU SANGKA …….

Jangan kau sangka panjang dan lebar kerudungku tanda alimnya diriku.
Aku juga sepertimu,
Masih mencari-cari segenap cahaya buat menerangi sepanjang perjalanan untuk mendekatkan diri pada sang Ilahi

Karena kerudungku ini bukan sekedar untuk menutupi
Tetapi juga mengingatkan diri ini, serta menjaga gerak gerik diri dari godaan setan yang terus mendekati. Karena sesungguhnya akhlak itu adalah bunga diri.

 

Berani berhijrah

 

Baca artikel lengkap di:

┄┄┉┉✽̶»̶̥ »̶̥✽̶┉┉┄┄
Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
? www.nasihatsahabat.com