Posts

PASTI DIGANTIKAN DENGAN YANG LEBIH BAIK

PASTI DIGANTIKAN DENGAN YANG LEBIH BAIK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

PASTI DIGANTIKAN DENGAN YANG LEBIH BAIK

Penulis: Ustadz Muhammad Yassir, Lc

Bekerja di tempat maksiat adalah haram hukumnya. Punya duit dari penghasilan haram adalah perbuatan tercela. Langkah berani yang harus kita lakukan bila masih berada di ruang lingkup pekerjaan haram adalah “Walk out”, keluar. Tidak ada kata lain.

Begitu pula anjuran kita pada orang lain, untuk keluar dari pekerjaan haram, mencari penghasilan yang halal.

Pernah kita mendengar, bahkan sering, ketika orang dinasihati untuk meninggalkan perbuatan haram atau pekerjaan yang haram, ia akan dijanjikan dengan hadis Rasulullah ﷺ yang berbunyi:

إنك لن تدع شيئا لله عز وجل إلا بدلك الله به ما هو خير لك منه “.

“Sungguh, jika kamu meninggalkan suatu hal karena Allah semata, maka Allah akan menggantikan untukmu yang lebih baik daripada itu.” [HR. Al Ashbahani dalam kitabnya At Targhib, Hadis dishahihkan oleh Al Bani]

Bahkan terkadang nasihat itu tidak berhenti hanya di situ saja, namun ikut menceritakan kisah-kisah orang lain. Seperti kisah temannya yang dulunya bekarja di bank, setelah dapat hidayah kemudian sadar hukumnya haram, ia pun keluar. Ternyata, kemudian ia bisa mendapatkan pekerjaan yang halal dengan penghasilan yang lebih besar.

Dan ditambah lagi kisah-kisah lainnya semisal dengan itu, yang mungkin kita sendiri pernah mendengarkannya.

Tapi, pernahkah terbayangkan jika orang yang anda nasihati tersebut ternyata setelah keluar dari pekerjaan haramnya, tetap tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih profit dari sebelumnya?

Kira-kira, apa komentar kita?

Perlu diketahui, bahwa di balik kisah-kisah yang kita ceritakan untuk menyemangati orang agar meninggalkan pekerjaan haram, ada satu poin yang harus terpatri di setiap dada orang Muslim:

  • Yaitu, harta halal walaupun secuil, jauh lebih baik dari pada segudang harta haram.
  • Berjalan di atas syariat Allah yang lurus, jauh lebih baik daripada bergelimangan dalam maksiat.

Maksudnya, memeroleh kembali pekerjaan halal dengan penghasilan lebih besar bukanlah suatu jaminan/kepastian yang akan di dapatkan oleh orang yang meninggalkan pekerjaan haram.

Contoh riil-nya adalah kisah seorang sahabat, Mush’ab bin Umair.

Kehidupan beliau di masa Jahiliyah penuh dengan kemewahan. Pakaian yang indah; bertaburkan minyak wangi harum semerbak; digemari oleh remaja putri Mekkah; ayah dan ibunya yang kaya raya siap memenuhi segala keinginannya.

Namun kita semua tahu bagaimana perubahan drastis terjadi dalam kehidupan beliau, setelah beliau memeluk agama Islam serta siap menerima syariat Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Terjadilah titik balik dari kehidupan dunianya. Bajunya berubah jadi compang-camping; penampilannya menjadi kumal bak seorang gelandangan.

Bahkan di akhir hayat beliau, saat mati syahid di Perang Badar, Rasulullah ﷺ menguburkan beliau sseraya berkata: “Dulu di Mekkah, tidak ada pemuda yang punya pakaian seindah dirimu, dan tidak ada yang berambut necis sepertimu. Namun sekarang engkau hanya dikuburkan dengan kain yang tidak cukup untuk menutupi sekujur tubuhmu”

Semua kegemerlapan dunia telah ditinggalkan Mush’ab bin Umair, karena kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah ﷺ. Tidak ada yang indah menurut beliau, kecuali hanya kelezatan iman dalam dadanya.

Dari kisah ini, marilah kita bertanya:

Apakah Mush’ab bin Umair tidak memeroleh janji Rasulullah ﷺ, bahwa Allah akan mengganti yang lebih baik, jika meninggalkan sesuatu karena Allah semata??

Bukankah Mush’ab waktu ia masih kafir dalam kehidupan mewah dan kaya raya?? Kenapa ketika ia masuk Islam tidak bertambah kaya dan mewah??

Kira-kira apa jawaban kita terhadap pertanyaan tadi?

Saya akan membantu untuk menjawabnya dengan tegas:

  • “Mush’ab telah mendapatkan janji Rasulullah ﷺ.”
  • “Mush’ab telah memeroleh ganti yang lebih baik, yaitu Surga Allah.”
  • “Mush’ab telah meraih kemegahan yang lebih mewah, yaitu kemewahan lezatnya iman dalam dada.”
  • “Mush’ab telah memakai pakaian yang lebih baik, yaitu pakaian Surga.”
  • “Mush’ab telah disambut kerinduan yang lebih baik dari pada remaja Mekkah, yaitu kerinduan bidadari Surga.”

Kesimpulannya: “Mush’ab telah mendapatkan ganti yang lebih baik dari kehidupan dunianya, yaitu indahnya kehidupan abadi di Akhirat”

Apakah ada kehidupan yang lebih baik daripada Akhirat?? Tentu tidak ada sama sekali.

Maka, sudah semestinya, tujuan Akhiratlah yang menjadi sasaran utama setiap Muslim dan Mukmin. Balasan pertama yang diharapkan dari setiap amalannya adalah balasan di Akhirat, bukan balasan dunia semata. Walaupun tidak kita pungkiri, terkadang ada juga orang yang langsung mendapat balasan di dunia dengan segera.

Kalau keyakinan ini tertanam di setiap jiwa kaum Muslimin, maka tidak akan sulit mengubah pola hidup dari satu sudut ke sudut kehidupan lain, karena tujuan hidupnya bukan dunia tapi hidup Akhirat. Tidak akan banyak tuntutan balasan dan ganjaran dunia, karena pahala Akhirat harapan utamanya.

Bila ia disarankan untuk keluar dari pekerjaan haram, tidak akan ada selentingan pertanyaan: “Terus saya mau kerja apa?”

“Memang kalau saya keluar, saya bisa dapat penghasilan sebanyak ini lagi?”

Karena tujuan utama dia ketika meninggalkan pekerjaan haram adalah tidak mau bergelimangan dosa di dunia, agar tidak hidup sengsara di Akhirat kelak.

Katahuilah wahai saudaraku kaum Muslimin. Allah dan Rasul-Nya ﷺ telah memanggil kita ke negeri Akhirat. Sekarang tinggal sikap kita dalam menjawab panggilan ini. Kalau kita penuhi panggilan ini, kita gerakkan hati dan anggota tubuh kita untuk berangkat menuju negeri Akhirat, maka Allah akan menggantikan dunia kita dengan balasan kenikmatan seluas langit dan bumi, di Surga kelak.

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

Bolehkah melagukan bacaan Alquran? Bagaimana keutamaannya?

Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin membawakan judul bab “Sunnahnya Memerindah Suara Ketika Membaca Alquran Dan Meminta Orang Lain Membacanya Karena Suaranya Yang Indah Dan Mendengarkannya.”

Beberapa dalil yang disebutkan oleh beliau berikut ini:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَىْءٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِىِّ أَنْ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ

“Allah tidak pernah mendengarkan sesuatu, seperti mendengarkan Nabi yang indah suaranya, melantunkan Alquran dan mengeraskannya.” [HR. Bukhari no. 5024 dan Muslim no. 792]

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

يَا أَبَا مُوسَى لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

“Wahai Abu Musa, sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud.” (HR. Bukhari no. 5048 dan Muslim no. 793).

Sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ mengatakan kepada Abu Musa:

لَوْ رَأَيْتَنِى وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ الْبَارِحَةَ لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

“Seandainya engkau melihatku, ketika aku mendengarkan bacaan Alquranmu tadi malam. Sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud” (HR. Muslim no. 793).

Dari Al Bara’ bin ‘Aazib, ia berkata:

سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ( وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ ) فِى الْعِشَاءِ ، وَمَا سَمِعْتُ أَحَدًا أَحْسَنَ صَوْتًا مِنْهُ أَوْ قِرَاءَةً

“Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ membaca dalam surat Isya surat Ath Thiin (Wath thiini waz zaituun), maka aku belum pernah mendengar suara yang paling indah daripada beliau, atau yang paling bagus bacaannya dibanding beliau.” [HR. Bukhari no. 7546 dan Muslim no. 464]

Beberapa faidah yang diambil dari beberapa hadis di atas:

1- Dibolehkan memerindah suara bacaan Alquran, dan perbuatan seperti itu tidaklah makruh. Bahkan memerindah suara bacaan Alquran itu disunnahkan.

2- Memerbagus bacaan Alquran memiliki pengaruh, yaitu hati semakin lembut, air mata mudah untuk menetes, anggota badan menjadi khusyu’, hati menyatu untuk menyimak. Beda bila yang dibacakan yang lain.

Itulah keadaan hati sangat suka dengan suara-suara yang indah. Hati pun jadi lari ketika mendengar suara yang tidak mengenakkan.

3- Diharamkan Alquran itu dilagukan, sehingga keluar dari kaidah dan aturan Tajwid, atau huruf yang dibaca tidak seperti yang diperintahkan. Pembacaan Alquran pun tidak boleh serupa dengan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan. Bentuk seperti itu diharamkan.

4- Termasuk bid’ah kala membaca Alquran, adalah membacanya dengan nada musik.

5- Disunnahkan mendengarkan bacaan Alquran yang sedang dibaca dan diam kala itu.

6- Disunnahkan membaca pada shalat ‘Isya’ dengan surat Qishorul mufashol seperti surat At Tiin.

Apa yang Dimaksud “Yataghonna bil Quran”?

Kata Imam Nawawi, bahwa Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah, juga kebanyakan ulama memaknakan dengan:

يُحَسِّن صَوْته بِهِ

“Memerindah suara ketika membaca Alquran.”

Namun bisa pula makna ‘Yataghonna bil Quran’ adalah mencukupkan diri dengan Alquran. Makna lain pula adalah menjaherkan Alquran. Demikian keterangan Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 6: 71.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
  • Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 472.
  • Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin, Dr. Musthofa Al Bugho dkk, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 209.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/10681-melagukan-Alquran-bolehkah.html

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

Pertanyaan:
Apa yang dimaksud melagukan bacaan Alquran? Katanya ada hadis yang menganjurkan melagukan Alquran.

Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Yang dimaksud melagukan bacaan Alquran adalah tahsin al-qiraah, memerindah bacaan Alquran. Bukan membaca dengan meniru lagu. (Baca: Membaca Alquran dengan Langgam Jawa: https://konsultasisyariah.com/24837-membaca-Alquran-dengan-langgam-jawa.html)

Ada beberapa hadis yang menganjurkan untuk memerindah bacaan Alquran. Di antaranya:

Hadis dari al-Barra bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ berpesan:

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

Hiasilah Alquran dengan suara kalian. [HR. Ahmad 18994, Nasai 1024, dan diShahihkan Syuaib al-Arnauth]

 

Kemudian hadis dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Siapa yang tidak memerindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari golongan kami.” [HR. Abu Daud 1469, Ahmad 1512 dan diShahihkan Syuaib al-Arnauth].

Ada beberapa keterangan yang disampaikan para ulama tentang makna ‘Yataghanna bil Qur’an’. Di antaranya adalah memerindah bacaan Alquran. Karena itu, hadis di atas dijadikan dalil anjuran memerbagus suara ketika membaca Alquran.

Imam an-Nawawi mengatakan:

أجمع العلماء رضي الله عنهم من السلف والخلف من الصحابة والتابعين ومن بعدهم من علماء الأمصار أئمة المسلمين على استحباب تحسين الصوت بالقرآن

“Para ulama Salaf maupun generasi setelahnya di kalangan para sahabat maupun tabiin, dan para ulama dari berbagai negeri mereka sepakat, dianjurkannya memerindah bacaan Alquran.” [Aat-Tibyan, hlm. 109]

Selanjutnya an-Nawawi menyebutkan makna hadis kedua:

قال جمهور العلماء معنى لم يتغن لم يحسن صوته،… قال العلماء رحمهم الله فيستحب تحسين الصوت بالقراءة ترتيبها ما لم يخرج عن حد القراءة بالتمطيط فإن أفرط حتى زاد حرفا أو أخفاه فهو حرام

Mayoritas ulama mengatakan: Makna ‘Siapa yang tidak Yataghanna bil Quran’ adalah siapa yang tidak memerindah suaranya dalam membaca Alquran. Para ulama juga mengatakan: Dianjurkan memerindah bacaan Alquran dan membacanya dengan urut, selama tidak sampai keluar dari batasan cara baca yang benar. Jika berlebihan sampai menambahi huruf atau menyembunyikan sebagian huruf, hukumnya haram. [At-Tibyan, hlm. 110]

Konsekuensi melagukan Alquran dengan dalam arti mengikuti irama lagu, bisa dipastikan dia akan memanjangkan bacaan atau menambahkan huruf, atau membuat samar sebagian huruf, karena tempo nada yang mengharuskan demikian. Dan ini semua termasuk perbuatan haram, sebagaimana keterangan an-Nawawi.

Makna yang benar untuk melagukan Alquran adalah melantunkannya dengan suara indah, membuat orang bisa lebih khusyu. Diistilahkan Imam as-Syafii dengan at-Tahazun (membuat sedih hati). [Sebagaimana dinyatakan al-Hafidz dalam Fathul Bari, Syarh Shahih Bukhari (9/70)].

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/24847-adakah-anjuran-melagukan-bacaan-Alquran.html

YANG TIDAK MELAGUKAN ALQURAN, TERCELAKAH?

Yang Tidak Melagukan Alquran, Tercelakah?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

YANG TIDAK MELAGUKAN ALQURAN, TERCELAKAH?

Kalau tidak membaguskan bacaan Alquran atau tidak melagukannya, apakah tercela? Apa syaratnya jika boleh melagukan Alquran?

Hadis berikut barangkali bisa jadi renungan. Dari Abu Lubababh Basyir bin ‘Abdul Mundzir radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Barang siapa yang tidak memerindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari golongan kami.” [HR. Abu Daud no. 1469 dan Ahmad 1: 175. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Kata Imam Nawawi, bahwa Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah juga kebanyakan ulama memaknakan ‘Yataghonna bil Qur’an’ adalah:

يُحَسِّن صَوْته بِهِ

“Memerindah suara ketika membaca Alquran.”

Sedangkan menurut Sufyan bin ‘Uyainah, yang dimaksud adalah mencukupkan diri dengan Alquran. Ada yang katakan pula, yang dimaksud adalah mencukupkan Alquran dari manusia. Ada pendapat lain pula yang menyatakan, mencukupkan diri dengan Alquran dari hadis dan berbagai kitab lainnya.

Al Qadhi ‘Iyadh menyatakan, bahwa sebenarnya ada dua pendapat yang dinukil dari Ibnu ‘Uyainah.

Adapun ulama Syafi’i dan yang sependapat dengannya menyatakan, bahwa yang dimaksud adalah memerindah dan memerbagus bacaan Alquran. Ulama Syafi’iyah berdalil dengan hadis lainnya:

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

“Baguskanlah suara bacaan Alquran kalian.” [HR. Abu Daud no. 1468 dan An Nasai no. 1016. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini Shahih].

Al Harawi menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan “Yataghonna bil Quran” adalah menjaherkan (mengeraskan) bacaannya.

Abu Ja’far Ath Thobari sendiri mengingkari pendapat yang menyatakan, bahwa yang dimaksud Yataghonna bil Quran adalah mencukupkan diri. Ath Thobari tidak menyetujuinya, karena bertentangan dengan makna bahasa dan maknanya itu sendiri.

Ada perbedaan pula dalam pemaknaan hadis lainnya: “Barang siapa yang tidak memerindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari golongan kami.” Pendapat yang lebih kuat, yang dimaksud “Yataghonna bil Qur’an” adalah membaguskan suara bacaan Alquran. Riwayat lain menguatkan maksud tersebut, “Yataghonna bil qur’an adalah mengeraskannya.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 71).

Adapun yang dimaksud dengan tidak termasuk golongan kami ,orang yang tidak memerindah bacaan Alquran adalah ditafsirkan dengan dua makna:

  • Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak membaguskan bacaan Alquran
  • Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak mencukupkan dengan Alquran dari selainnya. [‘Aunul Ma’bud, 4: 271].

Kalau kita lihat dari pendapat yang dikuatkan oleh Imam Nawawi sebelumnya, yang dimaksud adalah tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak membaguskan bacaan Alquran.

Namun aturan dalam melagukan Alquran harus memenuhi syarat berikut:

  • Tidak dilagukan dengan keluar dari kaidah dan aturan Tajwid.
  • Huruf yang dibaca tetap harus jelas sesuai yang diperintahkan.
  • Tidak boleh serupa dengan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan. [Lihat Bahjatun Nazhirin, 1: 472]

Wallahu a’lam. Wabillahit taufiq was sadaad.

 

Referensi:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
  • ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Abu ‘Abdirrahman Saroful Haqq Muhammad Asyrof Ash Shidiqi Al ‘Azhim Abadi, terbitan Darul Faiha’, cetakan pertama, tahun 1430 H.
  • Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

 

Sumber: https://rumaysho.com/10711-yang-tidak-melagukan-Alquran-tercelakah.html

, , ,

BOLEHKAH KITA SHALAT DALAM KEADAAN MEMAKAI PARFUM?

BOLEHKAH KITA SHALAT DALAM KEADAAN MEMAKAI PARFUM?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#FatwaUlama

BOLEHKAH KITA SHALAT DALAM KEADAAN MEMAKAI PARFUM?

  • Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah

Shalat dalam keadaan memakai parfum itu dibolehkan, bahkan dibolehkan bagi laki-laki dan perempuan yang beriman. Akan tetapi wanita hanya boleh menggunakan parfum ketika berada di rumah di sisi suaminya. Dan TIDAK BOLEH seorang wanita menggunakan parfum ketika ia keluar ke pasar atau ke masjid. Adapun bagi laki-laki, ia dibolehkan untuk mengenakan parfum ketika berada di rumah, ketika ke pasar, atau ke masjid. Bahkan mengenakan parfum bagi pria termasuk sunnah para Rasul.

Apabila seorang wanita shalat di rumahnya dalam keadaan memakai berbagai wangian …. , maka itu baik. Seperti itu tidaklah mengapa, bahkan dianjurkan mengenakannya. Akan tetapi ketika wanita tersebut keluar rumah, maka ia TIDAK BOLEH KELUAR dalam keadaan mengenakan parfum, yang orang-orang dapat mencium baunya. Janganlah seorang wanita keluar ke pasar atau ke masjid dalam keadaan mengenakan parfum semacam itu. Hal ini dikarenakan Rasulullah ﷺ telah melarangnya.

[Fatawa Nur ‘alad Darb, 7/291, cetakan Ar Riasah Al ‘Ammah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, Riyadh-KSA, cetakan pertama, thn 1429 H]

 

Sumber: https://rumaysho.com/3309-musibah-wanita-dengan-parfum-saat-keluar-rumah.html

,

BOLEHKAH JUAL BELI DENGAN SEKADAR MEMAJANG KATALOG DI INTERNET?

BOLEHKAH JUAL BELI DENGAN SEKADAR MEMAJANG KATALOG DI INTERNET?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihJualBeli

BOLEHKAH JUAL BELI DENGAN SEKADAR MEMAJANG KATALOG DI INTERNET?

Segala puji bagi Allah, Rabb pemberi segala nikmat. Shalawat dan Salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Sebagian orang agak sedikit rancu dengan jual beli Salam dan jual beli barang yang belum dimiliki. Ada yang masih bingung, sehingga ia anggap, bahwa jual beli Salam semacam di internet, yang hanya dengan memajang katalog barang yang akan dijual, itu tidak dibolehkan, karena dianggap termasuk larangan Nabi ﷺ menjual barang yang tidak dimiliki ketika akad. Inilah bahasan yang ingin kami angkat pada kesempatan kali ini. Semoga pembahasan singkat ini bisa menjawab kerancuan yang ada.

Pengertian Transaksi Salam

Jual beli Salam (biasa pula disebut “Salaf”) adalah jual beli dengan uang di muka secara kontan, sedangkan barang dijamin diserahkan tertunda. Istilahnya adalah, pembeli itu pesan dengan menyerahkan uang terlebih dahulu, sedangkan penjual mencarikan barangnya, walaupun saat itu barang tersebut belum ada di tangan penjual.

Jual beli Salam DIBOLEHKAN, berdasarkan dalil Alquran, As Sunnah, dan Ijma’ (kesepakatan ulama).

Bolehnya Transaksi Salam

Ayat yang menyebutkan bolehnya hal ini adalah firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah  tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al Baqarah: 282)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:

أَشْهَدُ أَنَّ السَّلَفَ الْمَضْمُونَ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَحَلَّهُ وَأَذِنَ فِيهِ وَقَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى)

“Aku bersaksi bahwa Salaf (transaksi Salam) yang dijamin hingga waktu yang ditentukan, telah dihalalkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Allah telah mengizinkannya”. Setelah itu Ibnu ‘Abbas menyebutkan firman Allah ta’ala (yang artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah  tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al Baqarah: 282) [HR. Al Baihaqi 6/18, Al Hakim 2/286 dan Asy Syafi’i dalam Musnadnya no. 597. Al Hakim mengatakan bahwa hadis ini Shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, namun keduanya tidak mengeluarkannya]

Ibnu’ Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga mengatakan:

قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ ، وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمْرِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلاَثَ ، فَقَالَ « مَنْ أَسْلَفَ فِى شَىْءٍ فَفِى كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ ، إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ »

“Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, mereka (penduduk Madinah) memraktikan jual beli buah-buahan dengan sistem Salaf (Salam), yaitu membayar di muka, dan diterima barangnya setelah kurun waktu dua atau tiga tahun kemudian. Lantas Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang memraktikkan Salam dalam jual beli buah-buahan, hendaklah dilakukannya dengan takaran yang diketahui dan timbangan yang diketahui, serta sampai waktu yang diketahui.” (HR. Bukhari no. 2240 dan Muslim no. 1604)

Adapun dalil ijma’ (kesepakatan para ulama) sebagaimana dinukil oleh Ibnul Mundzir, beliau rahimahullah mengatakan:

أجمع كلّ من نحفظ عنه من أهل العلم على أنّ السّلم جائز.

“Setiap ulama yang kami mengetahui perkataannya telah bersepakat (berijma’) tentang bolehnya jual beli Salam.” [Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq, 3/122, Darul Kutub Al ‘Arobi, Beirut, Lebanon]

Sayyid Sabiq rahimahullah menjelaskan:

“Jual beli Salam dibolehkan berdasarkan kaidah syariat yang telah disepakati. Jual beli semacam ini tidaklah menyelisihi qiyas. Sebagaimana dibolehkan bagi kita untuk melakukan pembayaran tertunda, begitu pula dibolehkan barangnya yang diserahkan tertunda seperti yang ditemukan dalam akad Salam, dengan syarat tanpa ada perselisihan antara penjual dan pembeli. Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya” (QS. Al Baqarah: 282).

Utang termasuk pembayaran tertunda, dari harta yang dijaminkan. Maka selama barang yang dijual disebutkan ciri-cirinya yang jelas dan dijaminkan oleh penjual, begitu pula pembeli sudah percaya, sehingga ia pun rela menyerahkan uang sepenuhnya kepada penjual, namun barangnya tertunda, maka ketika itu barang tersebut boleh diserahkan tertunda. Inilah yang dimaksud dalam surat Al Baqarah ayat 282, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.” [Fiqh Sunnah, 3/123]

Apakah Akad Salam Sama Dengan Jual Beli Barang yang Bukan Milikmu?

Mengenai larangan menjual barang yang tidak dimiliki, telah disebutkan dalam hadis Hakim bin Hizam. Ia berkata pada Rasulullah ﷺ:

يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِى الرَّجُلُ فَيُرِيدُ مِنِّى الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِى أَفَأَبْتَاعُهُ لَهُ مِنَ السُّوقِ فَقَالَ « لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ ».

“Wahai Rasulullah, seseorang mendatangiku, lantas ia menginginkan dariku menjual barang yang bukan milikku. Apakah aku harus membelikan untuknya dari pasar?” Nabi ﷺ bersabda: “Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu.” (HR. Abu Daud no. 3503, An Nasai no. 4613, At Tirmidzi)

Perlu diketahui, bahwa maksud larangan hadis di atas adalah jual beli sesuatu yang sudah tertentu yang bukan miliknya, ketika akad itu berlangsung. Sebagaimana diterangkan dalam Syarhus Sunnah:

“Yang dimaksud dalam hadis di atas adalah jual beli barang yang sudah tertentu (namun belum dimiliki ketika akad berlangsung). Dan ini bukanlah dimaksudkan larangan jual beli dengan menyebutkan ciri-ciri barang (sebagaimana terdapat dalam akad Salam). Oleh karena itu, transaksi Salam itu dibolehkan dengan menyebutkan ciri-ciri barang yang akan dijual, asalkan terpenuhi syarat-syaratnya, walaupun belum dimiliki ketika akad berlangsung. Sedangkan contoh jual beli barang yang tidak dimiliki yang terlarang, seperti jual beli budak yang kabur, jual beli barang sebelum diserahterimakan, dan yang semakna dengannya, adalah jual beli barang orang lain tanpa seizinnya, karena pada saat ini tidak diketahui, bahwa yang memiliki barang tersebut mengizinkan ataukah tidak.” [‘Aunul Ma’bud, Al ‘Azhim Abadi, 9/291, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah-Beirut, 1415]

Sayyid Sabiq, rahimahullah, menjelaskan: “Jual beli Salam tidaklah masuk dalam larangan Rasulullah ﷺ mengenai jual beli yang bukan miliknya. Larangan tersebut terdapat dalam hadis Hakim bin Hizam: “Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu.”

Yang dimaksud larangan yang disebutkan dalam hadis ini adalah larangan menjual harta yang mampu diserahterimakan ketika akad. Karena barang yang mampu diserahterimakan ketika akad, dan ia tidak memilikinya saat itu, maka jika ia jual, berarti hakikatnya barang tersebut tidak ada. Sehingga jual beli semacam ini menjadi jual beli ghoror (ada unsur ketidakjelasan).

Sedangkan jual beli barang yang disebutkan ciri-cirinya dan sudah dijaminkan oleh penjual, serta penjual mampu menyerahkan barang yang sudah dipesan sesuai waktu yang ditentukan, maka jual beli semacam ini tidaklah masalah.” [Fiqh Sunnah, 3/123-124]

Contoh riil jual beli Salam adalah seperti kita lihat pada jual beli di internet, baik dengan brosur, katalog atau toko online. Jual beli semacam ini menganut jual beli sistem Salam. Penjual hanya memajang kriteria atau ciri-ciri barang yang akan dijual, sedangkan pembeli diharuskan untuk menyerahkan uang pembayaran lebih dahulu, dan barangnya akan dikirim setelah itu. Jual beli semacam ini tidaklah masalah selama syarat-syarat transaksi Salam dipenuhi.

Sedangkan jual beli barang yang tidak dimiliki ketika akad berlangsung, seperti ketika seseorang meminjam HP milik si A, lalu ia katakan pada si B (tanpa izin si A): “Saya jual HP ini untukmu”. Ini tidak dibolehkan karena si pemilik HP (si A) belum tentu mengizinkan HP tersebut dijual kepada yang lain (si B). Ini sama saja orang tersebut menjual HP yang bukan miliknya, karena tidak adanya izin dari si pemilik barang. Namun jika dengan izin si pemilik, beda lagi statusnya. Semoga contoh yang sederhana ini dapat memberikan kepahaman.

Jadi jual beli Salam dimaksudkan, yang dijual adalah ciri-ciri atau sifat barang, sedangkan larangan jual beli barang yang belum dimiliki yang dimaksud adalah, barang tersebut sudah ditentukan, namun belum jadi milik si penjual. Semoga Allah beri kepahaman.

Syarat Transaksi Salam

Setelah kita mengetahui bolehnya transaksi Salam, transaksi dibolehkan tentu saja dengan memenuhi syarat-syarat. Syarat yang dipenuhi adalah berkenaan dengan upah yang diserahkan pembeli dan berkaitan dengan akad Salam.

Syarat yang berkaitan dengan upah yang diserahkan pembeli adalah:

[1] Jelas jenisnya;
[2] Jelas jumlahnya,
[3] Diserahkan secara tunai ketika akad berlangsung (tidak boleh dengan pembayaran tertunda) [Syarat ketiga ini wajib dipenuhi, karena inilah syarat yang disepakati oleh para ulama sebagaimana dikatakan oleh Asy Syaukani dan muridnya, Shidiq Hasan Khon. (Lihat Ar Roudhotun Nadiyah, 182, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1422)].

Syarat yang berkaitan dengan akad Salam adalah:

[1] Sudah dijamin oleh penjual;
[2] Barang yang dijual diketahui ciri-cirinya dan jumlahnya, sehingga bisa dibedakan dengan yang lain;
[3] Kapan barang tersebut sampai ke pembeli harus jelas waktunya. [Lihat Fiqh Sunnah, 3/124]

Demikian sedikit penjelasan kami mengenai akad Salam dan sedikit kerancuan mengenai jual beli barang yang tidak dimiliki. Semoga bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/1069-bolehkah-jual-beli-dengan-sekedar-memajang-katalog-di-internet.html

,

SISTEM DROPSHIPPING DAN SOLUSINYA

SISTEM DROPSHIPPING DAN SOLUSINYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihJualBeli

SISTEM DROPSHIPPING DAN SOLUSINYA

Sistem Dropshipping banyak diterapkan saat ini oleh para penggiat toko online. Mereka tidak mesti memiliki barang. Cukup mereka memasang iklan di website atau blog, lalu jika ada pesanan, mereka tinggal menghubungi pihak produsen atau grosir. Setelah itu pihak produsen atau grosir selaku Dropshipper yang mengirimkan barang langsung kepada buyer (pembeli). Bagaimana hukum jual beli dengan sistem Dropshipping semacam ini? Padahal bentuknya adalah menjual barang yang tidak dimiliki, dan ini dilarang dalam hadis. Adakah solusi syarinya?

Bentuk Dropshipping dan Siapakah Dropshipper?

Dropshipping adalah teknik manajemen rantai pasokan di mana reseller atau retailer (pengecer) tidak memiliki stok barang. Pihak produsen atau grosir selaku Dropshipper yang nantinya akan mengirim barang secara langsung pada pelanggan. Keuntungan didapat dari selisih harga antara harga grosir dan eceran. Tetapi beberapa reseller ada yang mendapatkan komisi yang disepakati dari penjualan yang nanti dibayarkan langsung oleh pihak grosir kepada reseller. Inilah bentuk bisnis yang banyak diminati dalam bisnis online saat ini.

Berikut ilustrasi mengenai sistem Dropshipping:

Barang dipasarkan lewat toko online atau dengan hanya memasang ‘display items’ atau ‘katalog. Lalu pihak buyer (pembeli) melakukan transaksi lewat toko online kepada reseller dropship. Setelah uang ditransfer, pihak Dropshipper (grosir) yang mengirim barang kepada buyer. Artinya, pihak reseller sebenarnya tidak memiliki barang saat itu, barangnya ada di pihak supplier, yaitu produsen atau grosir.

Menjual Barang yang Bukan Miliknya

Asalnya, yang dilakukan reseller adalah menjual barang yang bukan miliknya. Mengenai jual beli semacam ini termasuk dalam larangan dalam jual beli. Karena di antara syarat jual beli, orang yang melakukan akad adalah sebagai pemilik barang atau alat tukar, atau bertindak sebagai wakil. Jual beli barang yang bukan miliknya telah termaktub dalam beberapa hadis larangan jual beli sebagai berikut.

Hakim bin Hizam pernah bertanya pada Rasulullah ﷺ:

يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِي الرَّجُلُ فَيَسْأَلُنِي الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِي أَبِيعُهُ مِنْهُ ثُمَّ أَبْتَاعُهُ لَهُ مِنْ السُّوقِ قَالَ لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Wahai Rasulullah, ada seseorang yang mendatangiku, lalu ia meminta agar aku menjual kepadanya barang yang belum aku miliki, dengan terlebih dahulu aku membelinya untuk mereka dari pasar?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu.” (HR. Abu Daud no. 3503, An Nasai no. 4613, Tirmidzi no. 1232 dan Ibnu Majah no. 2187. Syaikh Al Albani mengatakan hadis ini Shahih).

Di antara salah satu bentuk dari menjual belikan barang yang belum menjadi milik kita ialah, menjual barang yang belum sepenuhnya diserahterimakan kepada kita, walaupun barang itu telah kita beli, dan mungkin saja pembayaran telah lunas. Larangan ini berdasarkan hadis Ibnu ‘Abbas, Nabi ﷺ bersabda:

مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ

“Barang siapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya.” Ibnu ‘Abbas mengatakan:

وَأَحْسِبُ كُلَّ شَىْءٍ مِثْلَهُ

“Aku berpendapat, bahwa segala sesuatu hukumnya sama dengan bahan makanan.” (HR. Bukhari no. 2136 dan Muslim no. 1525).

Ibnu ‘Umar mengatakan:

وَكُنَّا نَشْتَرِى الطَّعَامَ مِنَ الرُّكْبَانِ جِزَافًا فَنَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نَبِيعَهُ حَتَّى نَنْقُلَهُ مِنْ مَكَانِهِ.

“Kami biasa membeli bahan makanan dari orang yang berkendaraan tanpa diketahui ukurannya. Kemudian Rasulullah ﷺ melarang kami menjual barang tersebut, sampai barang tersebut dipindahkan dari tempatnya” (HR. Muslim no. 1527).

Dalam riwayat lain, Ibnu ‘Umar juga mengatakan:

كُنَّا فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَبْتَاعُ الطَّعَامَ فَيَبْعَثُ عَلَيْنَا مَنْ يَأْمُرُنَا بِانْتِقَالِهِ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِى ابْتَعْنَاهُ فِيهِ إِلَى مَكَانٍ سِوَاهُ قَبْلَ أَنْ نَبِيعَهُ.

“Kami dahulu di zaman Rasulullah ﷺ membeli bahan makanan. Lalu seseorang diutus pada kami. Dia disuruh untuk memerintahkan kami, agar memindahkan bahan makanan yang sudah dibeli tadi ke tempat yang lain, sebelum kami menjualnya kembali” (HR. Muslim no. 1527).

Bentuk serah terima di sini tergantung dari jenis barang yang dijual. Untuk rumah, cukup dengan nota pembelian atau balik nama. Untuk motor adalah dengan balik nama kepada pemilik yang baru; barang lain mesti dengan dipindahkan dan semisalnya. Lihat pembahasan syarat jual beli tersebut di sini: https://rumaysho.com/2306-aturan-jual-beli-2-syarat-bagi-orang-yang-melakukan-akad-jual-beli.html

Namun ada solusi yang ditawarkan oleh syariat untuk mengatasi perihal di atas. Silakan perhatikan fatwa dari Islamweb berikut ini.

Fatwa Islamweb (English Translation)

Pertanyaan:
Saya ingin bertanya mengenai sistem Dropshipping. Dalam masalah ini saya bertindak sebagai retailer (pengecer). Saya mendapatkan produk dari Dropshipper. Kemudian saya meminta pada pihak Dropshipper untuk mengirimkan gambar, dan saya akan mengiklankannya via eBay. Akan tetapi saya tidak memilki produk tersebut. Produk tersebut masih berada di pihak supplier.  Apakah situasi semacam ini termasuk dalam larangan hadis yang diceritakan oleh Hakim bin Hizaam, ia berkata bahwa ia bertanya pada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, ada seseorang yang mendatangiku, lalu ia meminta agar aku menjual kepadanya barang yang belum aku miliki, dengan terlebih dahulu aku membelinya untuk mereka dari pasar?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu.” (HR. Abu Daud no. 3503, Tirmidzi no. 1232, dan An Nasai no. 4613. Syaikh Al Albani mengatakan hadis ini Shahih dalam Shahih An Nasai).

Perlu diketahui, bahwa saya punya surat kesepakatan dengan pihak supplier untuk mengiklankan dan menjualkan produknya. Oleh karena itu, bisakah saya dianggap sebagai agen dalam kondisi semacam ini? Jika saya sebagai agen, apakah berarti dibolehkan dalam sistem ini?

Jawaban:
Segala pujian yang sempurna bagi Allah, Rabb semesta alam. Saya bersaksi bahwa tidak ada yang patut disembah kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Apa yang kami pahami dari pertanyaan Anda, bahwa Anda tidak membeli barang, baik dari pihak grosir maupun dari pihak produsen. Anda lebih berminat mengiklankan gambar produknya. Dan jika Anda menemukan seseorang yang memiliki keinginan untuk membeli barang tersebut, Anda akan menjualnya kepadanya dengan harga ecerean. Kemudian Anda membelinya dari pedagang grosir dengan harga grosir. Keuntungan yang diperoleh adalah dari selisih antara harga eceran dan harga grosir. Padahal dalam syariat Islam seperti itu dilarang, karena menjual apa yang tidak Anda miliki di tangan Anda, dan membuat keuntungan dari apa yang belum menjadi milik Anda (yaitu Anda tidak menanggung risiko dan bertanggung jawab pada barang tersebut).

Solusi syariat untuk permasalahan di atas adalah retailer (reseller) bertindak sebagai broker (makelar atau calo) atas nama pemilik barang dari produsen atau grosir. Dalam kondisi ini diperbolehkan bagi Anda untuk meminta komisi sebagai broker, sesuai yang disepakati dengan penjual (produsen atau grosir), atau dengan pembeli atau dengan kedua-duanya.

Jika Anda membeli barang dari produsen atau grosir untuk diri sendiri, dan kemudian ingin menjualnya, Anda harus terlebih dahulu memegangnya di tangan Anda. Perlu diketahui, bahwa kepemilikan apa pun berbeda sesuai dengan kenaturalan barang tersebut.

Solusi lain, Anda juga bisa bertindak sebagai agen sebagaimana yang Anda sebutkan, sehingga seakan-akan Anda memiliki barang tersebut atas nama Anda. Jika sebagai agen, Anda bisa menyimpan barang di tempat terpisah, di gudang pihak Dropshipper (produsen atau grosir) yang nanti bisa dipisahkan (dibedakan) dengan barang-barang mereka. Kemudian jika Anda menemukan seseorang yang ingin membelinya, Anda bisa menjualnya kepada dia dengan harga apa pun yang Anda dan grosir sepakati. Anda bisa mengirimkan barang tersebut kepada pembeli, atau bisa pula pihak Dropshipper (produsen atau grosir) yang melakukannya, jika ia merasa tidak masalah, dan ia memang yang menyediakan layanan pengiriman tersebut.

Fatwa Islamweb mengenai “Rulling on Dropshipping”.

Solusi Syari untuk Sistem Dropshipping

Ada tiga solusi yang ditawarkan dalam Fatwa di atas bagi pihak pengecer:

1- Bertindak sebagai calo atau broker. Dalam kondisi ini bisa mengambil keuntungan dari pihak pembeli atau produsen (grosir), atau keduanya sekaligus, sesuai kesepakatan. Lihat bahasan mengenai komisi makelar (broker): https://rumaysho.com/1671-hukum-komisi-bagi-broker-makelar.html

2- Bertindak sebagai agen atau wakil. Dalam kondisi ini barang masih boleh berada di tempat produsen (grosir), dan mereka pun bisa bertindak sebagai pengirim barang (Dropshipper) ke tangan konsumen atau buyer. Jika sebagai agen, berarti sudah disetujui oleh pihak produsen atau grosir, ada hitam di atas putih.

3- Jika menjual sendiri (misal atas nama toko online), tidak atas nama produsen, maka seharusnya barang sampai ke tangan, lalu boleh dijual pada pihak lain.

Bentuk dari solusi ketiga ini bisa menempuh dua cara:

a- Menggunakan sistem Bai’ Al Murabahah Lil Amir Bisy Syira’ (Memerintah untuk membelikan barang dengan keuntungan yang disepakati bersama). Sistem ini bentuknya adalah buyer (pembeli) melihat suatu barang yang ia tertarik di katalog toko online. Lalu buyer memerintahkan pada pihak toko online untuk membelikan barang tersebut dengan keuntungannya yang telah disepakati. Barang tersebut dibelikan dari pihak produsen (grosir). Namun catatan yang perlu diperhatikan, sistem Al Aamir Bisy Syiro’ tidak bersifat mengikat. Pihak buyer bisa saja membatalkan transaksi sebelum barang dikirimkan. Kemudian dalam sistem ini menunjukkan, bahwa barang tersebut sudah jadi milik penuh pihak toko online. Dalam sistem ini sebagai Dropshipper adalah pihak toko online itu sendiri, atau bisa jadi ia menyuruh pada supplier, namun ia yang bertanggungjawab penuh terhadap kerusakan barang. Lihat bahasan mengenai bai’ al murabahah lil amir bisy syira’: https://rumaysho.com/2201-murabahah-yang-mengandung-riba.html

b- Menggunakan sistem Bai’ Salam (uang tunai terlebih dahulu diserahkan, tidak bisa dicicil, lalu barang belakangan). Bentuknya adalah buyer (pembeli) mengirimkan uang tunai kepada pihak toko online seharga barang yang hendak dia beli, kemudian pihak toko online mencarikan barang pesanan pembeli. Lalu pihak toko online membeli barang, dan selanjutnya barang dikirim ke pembeli, tanpa disyaratkan pemilik toko online tersebut yang mengirimnya. Bisa saja pihak produsen (grosir) yang mengirimnya secara langsung pada buyer. Lihat bahasan mengenai jual beli salam: https://rumaysho.com/1069-bolehkah-jual-beli-dengan-sekedar-memajang-katalog-di-internet.html

Sebelumnya tertulis demikian dalam tulisan Rumaysho.com ini: Lalu pihak toko online membeli barang, dan selanjutnya barang dikirim ke pembeli oleh pihak toko online. Semua risiko selama pengiriman barang ditanggung oleh pihak toko online. Intinya di sini, toko online sudah membeli barang tersebut dari supplier. Ini KELIRU, karena jual beli salam yang terpenting adalah pihak toko online bersedia menyediakan barang, setelah uang tunai diberikan, tidak dipersyaratkan siapakah yang mesti mengirim. Jazakumullah khoiron kepada yang telah mengingatkan atas kekeliruan ini. Lihat sekali lagi keterangan lebih lanjut mengenai jual beli salam: https://rumaysho.com/1069-bolehkah-jual-beli-dengan-sekedar-memajang-katalog-di-internet.html

Semoga Allah senantiasa menunjuki kita pada penghidupan yang halal. Berilmulah sebelum beramal dan terjun dalam jual beli.

Imam Syafi’i juga berkata: “Siapa yang ingin dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Siapa yang ingin Akhirat, wajib baginya pula memiliki ilmu.” (Dinukil dari Mughnil Muhtaj)

Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata: “Barang siapa beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ia perbuat lebih banyak daripada mendatangkan maslahat.” (Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa Ibnu Taimiyah, 2: 382)

Kami sangat mengharapkan masukan dan saran jika ada yang menemukan kekeliruan dalam tulisan di atas. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad, hanya Allah yang memberikan taufik dan petunjuk.

 

Referensi:
1- http://www.islamweb.net/emainpage/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=161689
2- http://en.wikipedia.org/wiki/Drop_shipping
3- http://www.blog.epathchina.com/tag/dropship-distributor/
4- http://topDropshipping.blogspot.com/
5- http://www.gorilladropship.net/the-basics-of-drop-shipping/
6- http://pengusahamuslim.com/Dropshipping-usaha-tanpa-modal-dan-alternatif-transaksinya-yang-sesuai-syariat
7- http://islamqa.org/hanafi/askimam/58344

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[www.rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/3035-sistem-Dropshipping-dan-solusinya.html

TAUHID ADALAH MISI DAKWAH SELURUH NABI DAN RASUL ‘ALAIHIMUSSALAAM

TAUHID ADALAH MISI DAKWAH SELURUH NABI DAN RASUL ‘ALAIHIMUSSALAAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

TAUHID ADALAH MISI DAKWAH SELURUH NABI DAN RASUL ‘ALAIHIMUSSALAAM

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

“Tauhid adalah awal dakwah para rasul, landasan pertama dalam perjalanan, dan awal pijakan bagi orang yang menuju Allah subhanahu wa ta’ala.

  • Allah ta’ala berfirman (tentang Nabi Nuh ‘alaihissalaam):

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: Wahai kaumku, sembahlah Allah saja. Sekali-kali tak ada Sesembahan yang benar bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (Kiamat).” [Al-A’raf: 59]

  • Nabi Hud ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya:

اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Wahai kaumku, sembahlah Allah saja. Sekali-kali tak ada Sesembahan yang benar bagimu selain-Nya.” (Al-A’raf: 65)

  • Nabi Shalih ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya:

اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Wahai kaumku, sembahlah Allah saja. Sekali-kali tak ada Sesembahan yang benar bagimu selain-Nya.” [Al-A’raf: 73]

  • Nabi Syu’aib ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya:

اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Wahai kaumku, sembahlah Allah saja. Sekali-kali tak ada Sesembahan yang benar bagimu selain-Nya.” [Al-A’raf: 85]

  • Dan Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah saja, dan jauhilah thaghut (yang disembah selain Allah) itu.” [An-Nahl: 36]

Tauhid adalah Misi Dakwah Nabi ﷺ dan Sahabat Radhiyallahu’anhum

Maka tauhid adalah kunci dakwah para rasul. Oleh karena itu Nabi ﷺ berpesan kepada utusan beliau (untuk berdakwah di Negeri Yaman), Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu:

إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ: عِبَادَةُ اللَّهِ وَحْدَهُ، فَإِذَا شَهِدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum Ahli Kitab. Maka hendaklah pertama yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah beribadah kepada Allah yang satu saja. Apabila mereka telah bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka kabarkan kepada mereka, bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka untuk sholat lima waktu dalam sehari semalam…” [Muttafaq ‘alaih]

Dan Nabi ﷺ bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, sampai mereka bersaksi, bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.” (Muttafaq ‘alaihi)

  • Oleh karena itu yang benar adalah, awal kewajiban yang ditetapkan atas mukallaf adalah persaksian, bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah, bukan meneliti, bukan pula bermaksud meneliti. Tidak diragukan lagi bukan itu, seperti ucapan-ucapan Ahlul Kalam (Ahli Filsafat) yang tercela.
  • Maka tauhid adalah pintu pertama untuk masuk ke dalam Islam, dan pintu terakhir untuk keluar dari dunia, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؛ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa akhir ucapannya “Laa ilaaha illallah” ia akan masuk Surga.” [HR. Abu Daud, Shahihul Jaami’: 6470]

Maka tauhid adalah kewajiban pertama dan kewajiban terakhir; awal perkara dan akhirnya.” [Madaarijus Saalikin, 3/411-412]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/763881430428008:0

ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?

ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?

Allah ta’ala berfirman tentang godaan wanita:

إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya tipu daya (godaan) kalian wahai para wanita, begitu besar.” [Yusuf: 28]

Allah ta’ala berfirman tentang godaan setan:

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sesungguhnya tipu daya (godaan) setan itu lemah.” [An-Nisa: 76]

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata:

هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ إِذَا ضُمَّتْ لَهَا آيَةٌ أُخْرَى حَصَلَ بِذَلِكَ بَيَانُ أَنَّ كَيْدَ النِّسَاءِ أَعْظَمُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ

“Ayat yang mulia ini (An-Nisa: 76), apabila dipadukan dengan ayat yang lain (Yusuf: 28), maka hasilnya adalah penjelasan, bahwa tipu daya (godaan) wanita lebih dahsyat dibanding tipu daya (godaan) setan.” [Adhwaul Bayan, 2/217]

As-Si’di rahimahullah berkata:

والكيد: سلوك الطرق الخفية في ضرر العدو، فالشيطان وإن بلغ مَكْرُهُ مهما بلغ فإنه في غاية الضعف

“Tipu daya yang dimaksudkan di sini adalah menempuh cara-cara yang samar dalam membahayakan musuh. Maka setan, meskipun tipu dayanya telah sedemikian rupa, akan tetapi ia sangat lemah.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 187]

Rasulullah ﷺ juga telah mengingatkan:

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِى نَفْسِهِ

“Sesungguhnya wanita itu datang dalam rupa setan, dan pergi dalam rupa setan. Maka apabila seorang dari kalian melihat wanita, hendaklah ia mendatangi istrinya, karena dengan begitu akan menentramkan gejolak syahwat di jiwanya.” [HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu’anhu]

An-Nawawi rahimahullah berkata:

“Ulama berkata: Makna hadis ini adalah peringatan bahaya hawa nafsu, dan bahaya ajakan kepada fitnah (godaan) wanita, karena Allah telah menjadikan di hati kaum lelaki adanya kecenderungan terhadap para wanita, dan merasa nikmat ketika memandang mereka, dan apa yang terkait keindahan dengan mereka. Maka wanita menyerupai setan dari sisi ajakannya kepada kejelekan, dengan bisikannya dan tipuannya.

Dan dapat diambil kesimpulan hukum dari hadis ini, bahwa tidak boleh bagi wanita untuk keluar di antara kaum lelaki, kecuali karena satu alasan darurat (sangat mendesak). Dan hendaklah kaum lelaki menundukkan pandangan, tidak boleh melihat pakaiannya, dan hendaklah berpaling darinya secara mutlak.” [Syarhu Muslim, 9/178]

Maka sungguh dahsyat godaan wanita, walaupun setan sudah mengerahkan segenap “potensi” yang ada pada dirinya untuk menyesatkan anak Adam. Namun ternyata godaannya tidak bisa sejajar, apalagi melebihi godaan wanita. Akan tetapi sayang seribu sayang, ternyata setan pun bisa memanfaatkan wanita sebagai kaki tangannya untuk menjerumuskan kaum lelaki dalam dosa, entah sang wanita sadar atau tidak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَإِنَّهَا أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى اللَّهِ وَهِيَ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

“Wanita adalah aurat. Apabila ia keluar dari rumahnya, maka setan akan menghiasinya. Dan sesungguhnya seorang wanita lebih dekat kepada Allah ta’ala ketika ia berada di dalam rumahnya.” [HR. At-Tirmidzi dan Ath-Thabarani, dan lafal ini milik beliau, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 2688]

Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata:

أَيْ زَيَّنَهَا فِي نَظَرِ الرِّجَالِ وَقِيلَ أَيْ نَظَرَ إِلَيْهَا لِيُغْوِيَهَا وَيُغْوِيَ بِهَا

“Maknanya adalah, setan menghiasi wanita di mata laki-laki. Juga dikatakan maknanya adalah setan melihat wanita tersebut untuk menyesatkannya, dan menyesatkan laki-laki dengannya.” [Tuhfatul Ahwadzi, 4/283]

 

Sumber:

👠 ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?➡ Allah ta’ala berfirman tentang godaan wanita,إِنّ…

Dikirim oleh Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info pada 25 Maret 2017

 

 

 

 

, , ,

MEWASPADAI ‘FITNAH’ LAWAN JENIS WALAU SEDANG BERIBADAH

MEWASPADAI 'FITNAH' LAWAN JENIS WALAU SEDANG BERIBADAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#FatwaUlama

MEWASPADAI ‘FITNAH’ LAWAN JENIS WALAU SEDANG BERIBADAH

Asy-Syaikh Al-‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata:

وكان النساء في عهد النبي صلى الله عليه وسلم لا يختلطن بالرجال لا في المساجد ولا في الأسواق الاختلاط الذي ينهى عنه المصلحون اليوم ويرشد القرآن والسنة وعلماء الأمة إلى التحذير منه حذرا من فتنته، بل كان النساء في مسجده صلى الله عليه وسلم يصلين خلف الرجال في صفوف متأخرة عن الرجال وكان يقول صلى الله عليه وسلم: «خير صفوف الرجال أولها وشرها آخرها وخير صفوف النساء آخرها وشرها أولها» حذرا من افتتان آخر صفوف الرجال بأول صفوف النساء، وكان الرجال في عهده صلى الله عليه وسلم يؤمرون بالتريث في الانصراف حتى يمضي النساء ويخرجن من المسجد لئلا يختلط بهن الرجال في أبواب المساجد مع ما هم عليه جميعا رجالا ونساء من الإيمان والتقوى فكيف بحال من بعدهم، وكانت النساء ينهين أن يتحققن الطريق ويؤمرن بلزوم حافات الطريق حذرا من الاحتكاك بالرجال والفتنة بمماسة بعضهم بعضا عند السير في الطريق وأمر الله سبحانه نساء المؤمنين أن يدنين عليهن من جلابيبهن حتى يغطين بها زينتهن حذرا من الفتنة بهن، ونهاهن سبحانه عن إبداء زينتهن لغير من سمى الله سبحانه في كتابه العظيم حسما لأسباب الفتنة وترغيبا في أسباب العفة والبعد عن مظاهر الفساد والاختلاط

Dahulu, wanita di masa Nabi ﷺ tidak bercampur baur (ihktilat) dengan kaum lelaki. Tidak di masjid-masjid, tidak pula di pasar-pasar, seperti campur baur di hari ini yang telah dilarang oleh orang-orang yang melakukan perbaikan.

Alquran dan As-Sunnah serta para ulama umat membimbing untuk men-tahdzir dari perbuatan tersebut, demi menghindari ‘fitnah’ (godaan antara lawan jenis).

Bahkan dahulu ketika para wanita di masjid Nabi ﷺ, sholat di belakang kaum lelaki, di shaf-shaf paling belakang kaum lelaki. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا، وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling depannya, dan yang paling jeleknya adalah yang paling belakang. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling akhirnya, dan yang paling jeleknya adalah yang paling depan.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Hal itu demi berhati-hati dari ‘fitnah’ antara kaum lelaki yang ada di shaf akhir dan kaum wanita yang ada di shaf pertama.

Dahulu juga kaum lelaki diperintahkan untuk tidak keluar masjid sampai kaum wanita pergi lebih dulu meninggalkan masjid, agar tidak bercampur baur di pintu-pintu masjid. Padahal para sahabat semuanya, baik laki-laki maupun wanita, memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat. Maka bagaimana lagi dengan generasi setelahnya yang lebih lemah iman dan takwanya…?!

Demikian pula kaum wanita dahulu dilarang berjalan dengan mendominasi jalanan. Mereka diperintahkan untuk selalu berjalan di pinggir-pinggir jalan, agar tidak berpapasan dengan kaum lelaki, dan tergoda, karena saling bersentuhan antara satu dengan yang lainnya ketika berada di jalan.

Juga Allah ta’ala memerintahkan wanita-wanita beriman untuk menutupkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka, sehingga mereka dapat menutup perhiasan-perhiasan mereka, agar tidak menggoda.

Dan Allah melarang kaum wanita untuk menampakkan perhiasan kepada selain mahram yang telah Allah sebutkan dalam Kitab-Nya yang agung, untuk memutus sebab-sebab godaan, dan motivasi untuk menempuh sebab-sebab penjagaan terhadap kesucian diri, dan menjauhi penampilan yang merusak dan menjauhi campur baur dengan kaum lelaki.

[Majmu’ Fatawa, 4/250-251]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/774046872744797:0