Posts

,

MEREKA YANG GILA KEKUASAAN

MEREKA YANG GILA KEKUASAAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah

MEREKA YANG GILA KEKUASAAN

Siapa saja yang tamak pada kekuasaan akan, menuai penyesalan pada Hari Kiamat. Di dunia orang yang gila kekuasaan seperti ini tidak akan menjalankan amanat dengan baik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah ﷺ bersabda:

إنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإمَارَةِ ، وَسَتَكونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَة

“Nanti engkau akan begitu tamak pada kekuasaan. Namun kelak di Hari Kiamat, engkau akan benar-benar menyesal” [HR. Bukhari no. 7148]

Imam Nawawi membawakan hadis di atas dalam kitab Riyadhus Sholihin pada Bab “Larangan Meminta Kepemimpinan Dan Memilih Meninggalkan Kekuasaan Apabila Ia Tidak Diberi Atau Karena Tidak Ada Hal Yang Mendesak Untuk Itu.”

Sedangkan Imam Bukhari rahimahullah membawakan hadis di atas dalam Bab “Terlarang Tamak Pada Kekuasaan.”

Kata Imam Ibnu Batthol, bahwa ketamakan manusia pada kepemimpinan begitu nyata. Itulah yang membuat adanya pertumpahan darah, menginjak kehormatan yang lain, terjadinya kerusakan sampai kekuasaan itu diraih. Gara-gara rakusnya pada kekuasaan inilah yang membuat keadaan menjadi jelek. Karena merebut kekuasaan terjadi pembunuhan, saling meninggalkan, saling merendahkan, atau mati karenanya. Itulah yang menjadi penyesalan pada Hari Kiamat. [Syarh Al Bukhari karya Ibnu Batthol].

Badaruddin Al ‘Aini, penulis kitab ‘Umdatul Qori: “Siapa saja yang tamak pada kekuasaan, maka umumnya ia tidak bisa menjalankan amanah dengan baik.”

Hanya Allah yang memberi taufik.

 

Sumber: https://rumaysho.com/6910-mereka-yang-gila-kekuasaan.html

, ,

HUKUM PUASA WANITA YANG TIDAK BERJILBAB

HUKUM PUASA WANITA YANG TIDAK BERJILBAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#MuslimahSholihah

HUKUM PUASA WANITA YANG TIDAK BERJILBAB

Pertanyaan:

Benarkah puasanya wanita yang tidak berhijab tidak diterima?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kita meyakini amal saleh di bulan Ramadan, pahalanya dilipat gandakan. Dan kita juga perlu sadar, bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan manusia di bulan Ramadan, dosanya juga dilipat gandakan.

Al-Allamah Ibnu Muflih dalam kitabnya Adab Syar’iyah menyatakan:

فصل زيادة الوزر كزيادة الأجر في الأزمنة والأمكنة المعظمة

Pembahasan tentang kaidah, bertambahnya dosa sebagaimana bertambahnya pahala, (ketika dilakukan) di waktu dan tempat yang mulia.

Selanjutnya, Ibnu Muflih menyebutkan keterangan gurunya, Taqiyuddin Ibnu Taimiyah:

قال الشيخ تقي الدين: المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان

Syaikh Taqiyuddin mengatakan, maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumnya dilipatkan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut. (al-Adab as-Syar’iyah, 3/430).

Orang yang melakukan maksiat di bulan Ramadan, dia melakukan dua kesalahan:

  • Pertama, melanggar larangan Allah
  • Kedua, menodai kehormatan Ramadan dengan maksiat yang dia kerjakan.

Karena itulah, Rasulullah ﷺ memberi ancaman keras orang yang masih rajin bermaksiat ketika puasa. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” [HR. Bukhari 1903, Turmudzi 711 dan yang lainnya].

Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan keterangan dari Ibnul Munayir:

هو كناية عن عدم القبول ، كما يقول المغضب لمن رد عليه شيئا طلبه منه فلم يقم به : لا حاجة لي بكذا . فالمراد رد الصوم المتلبس بالزور وقبول السالم منه

Ini merupakan ungkapan TIDAK DITERIMANYA PUASANYA. Seperti orang yang sedang marah, ketika dia menyuruh orang lain, tapi tidak dilakukannya, kemudian dia mengatakan, “Aku nggak butuh itu.” Sehingga maksud hadis, menolak puasa orang yang masih aktif berbuat dosa, dan tidak menerima dengan baik darinya. [Fathul Bari, 4/117]

Buka Aurat, Menebar Dosa

Ketika wanita memamerkan auratnya, yang terjadi, dia sedang menjadi sumber dosa. Dosa bagi setiap lelaki yang melihat dirinya. Itulah para wanita yang menjadi sebab banyak lelaki melakukan zina mata. Para wanita yang mengobral harga diri dan auratnya di depan umum, tanpa rasa malu.

Karena itu, cara memahaminya bukan sekali memamerkan aurat, sekali berbuat dosa, bukan demikian. Tapi juga perlu diperhatikan berapa jumlah lelaki yang terkena dampak dari dosa yang dia lakukan.

Karena itu, wajar jika Nabi ﷺ memberikan ancaman sangat keras untuk model manusia semacam ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua jenis penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat. (1) Sekelompok orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dan dia gunakan untuk memukuli banyak orang. (2) Para wanita yang berpakaian tapi telanjang, jalan berlenggak-lenggok, kepalanya seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan harumnya Surga, padahal bau harum Surga bisa dicium sejarak perjalanan yang sangat jauh.” (HR. Ahmad 8665 dan Muslim 2128).

Puasanya Tidak Diterima

Jika puasa seseorang menjadi tidak bernilai gara-gara dosa yang dia kerjakan, apa yang bisa Anda bayangkan, ketika ada orang yang menjadi sumber dosa?? Layakkah dia berharap puasanya diterima? Bahkan karena sebab dia, banyak lelaki yang pahala puasanya berkurang.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/25088-puasa-wanita-yang-tidak-berjilbab-tidak-diterima.html

ORANG-ORANG MUKMIN ADALAH BERSAUDARA

ORANG-ORANG MUKMIN ADALAH BERSAUDARA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#MutiaraSunnah

ORANG-ORANG MUKMIN ADALAH BERSAUDARA

Bersaudara dan bersahabat yang hakiki adalah atas dasar keimanan. Dari bangsa dan negara mana pun, seorang Muslim adalah saudara kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya, orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” [Al-Hujurat: 10]

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang Mukmin dengan Mukmin yang lain bagaikan sebuah bangunan, satu dengan yang lainnya saling menguatkan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi dan berlemah lembut di antara mereka, bagaikan satu tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit, hingga tidak bisa tidur dan merasa demam.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ bersabda:

إن المؤمن من أهل الإيمان بمنزلة الرأس من الجسد, يألم المؤمن لأهل الإيمان كما يألم الجسد في الرأس

”Sesungguhnya (hubungan) orang Mukmin dengan orang-orang yang beriman adalah seperti (hubungan) kepala dengan seluruh badan. Seorang Mukmin akan merasakan sakit karena orang Mukmin lainnya, sebagaimana badan akan merasa sakit karena sakit pada kepala” [Hadis ini diriwayatkan sendiri oleh Imam Ahmad].

Rasulullah ﷺ bersabda:

المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يسلمه

”Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Tidak boleh menzalimi dan membiarkannya (dizalimi).” [HR. Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad].

Rasulullah ﷺ bersabda:

والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه

”Allah akan terus menolong seorang hamba, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya.”

Rasulullah ﷺ bersabda:
إذا دعا المسلم لأخيه بظهر الغيب قال الملك آمين ولك مثله

”Jika seorang Muslim mendoakan saudaranya dari kejauhan, maka malaikat akan mengucapkan: Aamiin, dan bagimu sepertinya.”

 

Sumber:

✅ ALHAMDULILLAH TELAH TERBENTUK POROS SAUNESIA (SAUDI – INDONESIA)📝 [Sebuah Catatan dari Balik Layar Kunjungan Raja…

Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info 发布于 2017年3月1日

http://abul-jauzaa.blogspot.ca/2008/05/hukum-memanggil-non-muslim-sebagai.html

,

PERSAUDARAAN HAKIKI KHUSUS BAGI SESAMA MUSLIM

PERSAUDARAAN HAKIKI KHUSUS BAGI SESAMA MUSLIM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#FaidahTafsir

PERSAUDARAAN HAKIKI KHUSUS BAGI SESAMA MUSLIM

Allah ta’ala telah berfirman:

إِنّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

”Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara” (QS. Al-Hujuraat: 10).

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di berkata ketika menjelaskan ayat di atas:

هذا عقد، عقده الله بين المؤمنين، أنه إذا وجد من أي شخص كان، في مشرق الأرض ومغربها، الإيمان بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، فإنه أخ للمؤمنين، أخوة توجب أن يحب له المؤمنون، ما يحبون لأنفسهم، ويكرهون له، ما يكرهون لأنفسهم

“Yang demikian ini merupakan ketetapan yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala di antara orang-orang yang beriman, yaitu bahwa siapa pun, baik di belahan Barat maupun Timur, yang di dalam dirinya terdapat keimanan kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para Rasul-Nya, dan Hari Akhir, berarti dia itu saudara orang-orang Mukmin. Persaudaraan yang mengharuskan orang-orang mencintainya, sebagaimana mereka mencintai diri mereka sendiri, serta membenci hal-hal bagi mereka, seperti mereka membencinya untuk diri mereka sendiri” [Taisir Karimir-Rahman fii Tafsiiril-Kalaamil-Manaan 7/133].

Al-Qurthubi menjelaskan:

أي في الدين والحرمة لا في النسب، ولهذا قيل: أخوة الدين أثبت من أخوة النسب، فإن أخوة النسب تنقطع بمخالفة الدين، وأخوة الدين لا تنقطع بمخالفة النسب.

“Yaitu persaudaraan dalam agama dan kehormatan, bukan dalam nasab. Oleh karena itu dikatakan: ‘Persaudaraan atas dasar agama itu lebih erat daripada persaudaraan karena hubungan nasab’. Sebab, persaudaraan karena hubungan nasab bisa terputus karena adanya perbedaan agama, tetapi persaudaraan atas dasar agama tidak akan terputus, hanya karena perbedaan nasab” [Tafsir Al-Qurthubi 16/322-323].

Ayat beserta penjelasannya di atas jelaslah bagi kita, bahwa persaudaraan hakiki yang dimaksud dikhususkan bagi sesama Muslim. BUKAN dengan non-Muslim. Hal yang menguatkan pernyataan tersebut adalah firman Allah ta’ala:

فَإِن تَابُواْ وَأَقَامُواْ الصّلاَةَ وَآتَوُاْ الزّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدّينِ وَنُفَصّلُ الاَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, maka (mereka adalah) saudara-saudaramu seagama” [QS. At-Taubah: 11].

Sifat bertaubat, mendirikan zakat, dan menunaikan zakat adalah sifat yang dimiliki oleh orang-orang Muslim. Dengan itulah mereka dikatakan Allah saling bersaudara. Adapun orang-orang yang tidak memunyai sifat-sifat tersebut (baca: kalangan non-Muslim), maka dia BUKANLAH termasuk saudara kita dalam agama; dan itu telah jelas.

Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.ca/2008/05/hukum-memanggil-non-muslim-sebagai.html

 

,

SYARAT WANITA BEKERJA DAN BERKARIR

SYARAT WANITA BEKERJA DAN BERKARIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

SYARAT WANITA BEKERJA DAN BERKARIR

  • Yang Lebih Baik Bagi Wanita

Sebelum pertanyaan di atas dijawab, perlu dipahami, bahwa sebaik-baik tempat bagi wanita adalah di rumahnya. Inilah yang dipuji dalam berbagai ayat. Allah ta’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandanan ala jahiliah terdahulu.” (QS Al Ahzab: 33).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas, bahwa janganlah wanita keluar rumah, kecuali ada hajat, seperti ingin menunaikan shalat di masjid, selama memenuhi syarat-syaratnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 182).

Wanita yang betah di rumah inilah yang lebih menjaga diri. Wanita karir begitu bebas bergaul dengan lawan jenis di kantor, tanpa kenal batas. Padahal Allah Ta’ala memuji wanita yang menjaga dirinya. Allah ta’ala berfirman:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Sebab itu, maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah, lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.” (QS. An Nisa’: 34).

Ath-Thabari berkata dalam kitab tafsirnya (6: 692): “Wanita tersebut menjaga dirinya ketika tidak ada suaminya, juga ia menjaga kemaluan dan harta suami. Di samping itu ia wajib menjaga hak Allah dan hak selain itu.”

Alasan wanita lebih baik di rumah, menjadi IRT (Ibu Rumah Tangga) karena wanita itu aurat. Disebutkan dalam hadis dari ‘Abdullah, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ: مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

“Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah, maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1685 dan Tirmidzi no. 1173. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih)

Syarat Wanita Bekerja dan Berkarir di Luar Rumah

Syaikh Saleh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah, guru kami saat belajar di Riyadh menyebutkan dalam kitab Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat (hlm. 12) mengenai syarat wanita boleh bekerja di luar rumah sebagai berikut:

Pertama:

Pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang ia butuhkan, atau pekerjaan yang dibutuhkan masyarakat, karena tidak mungkin tergantikan oleh laki-laki.

Kedua:

Bekerja di luar rumah dilakukan setelah pekerjaan pokok di rumah beres.

Ketiga:

Pekerjaan yang dilakukan berada di lingkungan para wanita (jauh dari interaksi dengan pria), seperti sebagai pengajar bagi murid-murid perempuan dan merawat pasien wanita.

Semoga Allah menjadikan para wanita sebagai Qurrata a’yun bagi suaminya.

Referensi:

Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat. Cetakan kelima, tahun 1429 H. Syaikh Dr. Saleh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan. Penerbit Darul Ifta’.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Sumber: https://rumaysho.com/14618-syarat-wanita-bekerja-dan-berkarir.html

 

,

BOLEHKAH WANITA BEKERJA?

BOLEHKAH WANITA BEKERJA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

BOLEHKAH WANITA BEKERJA?

Pertanyaan:

Saya ibu dengan satu bayi putri. Saya bekerja sebagai PNS di Depdiknas. Mohon nasihatnya, setelah saya belajar Islam dengan Manhaj Salaful Ummah ini, timbul dilema antara melanjutkan karir atau memersiapkan diri untuk keluar dari pekerjaan dan menjadi ibu yang full time di rumah. Masalahnya adalah saya kurang pandai bekerja di rumah. Sekarang ini walau tak ada pembantu, saya masih bisa mengurus rumah walaupun seadanya.

Khawatirnya jika saya tetap bekerja, akan bertentangan dengan surat Al Ahzab ayat 33, bahwa tempat wanita adalah rumahnya. Mohon nasihatnya ustadz, agar ana ikhlas bekerja tanpa pembantu dan mendapatkan yang lebih baik dari sekadar khadimat dengan zikir sebelum tidur. Namun, bolehkah saya punya khadimat ya ustadz. Masalahnya jadi ada non-mahram di rumah kami. Jazaakumullah Khair wa Barakallahu fikum, Wassallam

Jawaban Ustadz Musyaffa Ad Darini, Lc.:

Bismillah, walhamdulillah wash shalatu wassalamu ala Rasulillah, wa’ala alihi washahbihi wa man waalah, amma ba’du,

Semoga Allah mencurahkan rahmat, berkah dan taufik-Nya kepada Anda, karena semangat Anda menetapi manhaj yang lurus ini. Aamiin. Agar lebih fokus dan mudah dipahami, jawaban pertanyaan Anda kami jabarkan dalam poin-poin berikut ini:

Pertama: Islam adalah syariat yang diturunkan oleh Allah Sang Pencipta Manusia, hanya Dia-lah yang Maha Mengetahui seluk beluk ciptaan-Nya. Hanya Dia yang Maha Tahu, mana yang baik dan memerbaiki hamba-Nya, serta mana yang buruk dan membahayakan mereka. Oleh karena itu, Islam menjadi aturan hidup manusia yang paling baik, paling lengkap dan paling mulia. Hanya Islam yang bisa mengantarkan manusia menuju kebaikan, kemajuan, dan kebahagiaan dunia Akhirat. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu (ajaran) yang memberi kehidupan kepadamu“. (QS. Al-Anfal: 24).

Allah adalah Dzat yang Maha Pengasih, Maha Penyayang dan terus mengurusi makhluk-Nya, oleh karena itu Dia takkan membiarkan makhluknya sia-sia. Allah berfirman:

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa ada perintah, larangan dan pertanggung-jawaban)?!” (QS. Al-Qiyamah:36, lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/283).

Oleh karena itulah, Allah menurunkan syariat-Nya, dan mengharuskan manusia untuk menerapkannya dalam kehidupan, tidak lain agar kehidupan mereka menjadi lebih baik, lebih maju, lebih mulia, dan lebih bahagia di dunia dan di Akhirat.

Kedua: Islam menjadikan lelaki sebagai kepala keluarga. Di pundaknyalah tanggung jawab utama lahir batin keluarga. Islam juga sangat proporsional dalam membagi tugas rumah tangga. Kepala keluarga diberikan tugas utama untuk menyelesaikan segala urusan di luar rumah, sedang sang ibu memiliki tugas utama yang mulia, yakni mengurusi segala urusan dalam rumah.

Norma-norma ini terkandung dalam firman-Nya:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Para lelaki (suami) itu pemimpin bagi para wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (yang lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (yang lelaki) telah memberikan nafkah dari harta mereka” (QS. An-Nisa: 34).

Begitu pula firman-Nya:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Hendaklah kalian (para istri) tetap di rumah kalian” (QS. Al-Ahzab:33).

Ahli Tafsir ternama Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan perkataannya: “Maksudnya, hendaklah kalian (para istri) menetapi rumah kalian, dan janganlah keluar kecuali ada kebutuhan. Termasuk di antara kebutuhan yang syari adalah keluar rumah untuk shalat di masjid dengan memenuhi syarat-syaratnya” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/409).

Inilah keluarga yang ideal dalam Islam. Kepala keluarga sebagai penanggung jawab utama urusan luar rumah, dan ibu sebagai penanggung jawab utama urusan dalam rumah. Sungguh, jika aturan ini benar-benar kita terapkan, dan kita saling memahami tugas masing-masing, niscaya terbangun tatanan masyarakat yang maju dan berimbang dalam bidang moral dan materialnya, tercapai ketentraman lahir batinnya, dan juga teraih kebahagiaan dunia Akhiratnya.

Ketiga: Bolehkah Wanita Bekerja?

Memang bekerja adalah kewajiban seorang suami sebagai kepala rumah tangga, tapi Islam juga tidak melarang wanita untuk bekerja. Wanita boleh bekerja, jika memenuhi syarat-syaratnya dan tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh syariat.

Syaikh Abdul Aziz Bin Baz mengatakan: “Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bisnis, karena Allah jalla wa’ala mensyariatkan dan memerintahkan hamba-Nya untuk bekerja dalam firman-Nya:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! Maka Allah, Rasul-Nya, dan para Mukminin akan melihat pekerjaanmu“  (QS. At-Taubah:105)

Perintah ini mencakup pria dan wanita. Allah juga mensyariatkan bisnis kepada semua hamba-Nya, Karenanya seluruh manusia diperintah untuk berbisnis, berikhtiar dan bekerja, baik itu pria maupun wanita. Allah berfirman (yang artinya):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang tidak benar. Akan tetapi hendaklah kalian berdagang atas dasar saling rela di antara kalian” (QS. An-Nisa:29),

Perintah ini berlaku umum, baik pria maupun wanita.

AKAN TETAPI, wajib diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan dan bisnisnya. Hendaklah pelaksanaannya bebas dari hal-hal yang menyebabkan masalah dan kemungkaran. Dalam pekerjaan wanita, harusnya tidak ada ikhtilat (campur) dengan pria dan tidak menimbulkan fitnah. Begitu pula dalam bisnisnya, harusnya dalam keadaan tidak mendatangkan fitnah, selalu berusaha memakai hijab syari, tertutup, dan menjauh dari sumber-sumber fitnah.

Karena itu, jual beli antara mereka bila dipisahkan dengan pria itu boleh, begitu pula dalam pekerjaan mereka. Yang wanita boleh bekerja sebagai dokter, perawat, dan pengajar khusus untuk wanita, yang pria juga boleh bekerja sebagai dokter dan pengajar khusus untuk pria. Adapun bila wanita menjadi dokter atau perawat untuk pria, sebaliknya pria menjadi dokter atau perawat untuk wanita, maka praktik seperti ini tidak dibolehkan oleh syariat, karena adanya fitnah dan kerusakan di dalamnya.

Bolehnya bekerja, harus dengan syarat tidak membahayakan agama dan kehormatan, baik untuk wanita maupun pria. Pekerjaan wanita harus bebas dari hal-hal yang membahayakan agama dan kehormatannya, serta tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan moral pada pria. Begitu pula pekerjaan pria, harus tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan bagi kaum wanita.

Hendaklah kaum pria dan wanita itu masing-masing bekerja dengan cara yang baik, tidak saling membahayakan antara satu dengan yang lainnya, serta tidak membahayakan masyarakatnya.

Kecuali dalam keadaan darurat, jika situasinya mendesak, seorang pria boleh mengurusi wanita. Misalnya pria boleh mengobati wanita, karena tidak adanya wanita yang bisa mengobatinya, begitu pula sebaliknya. Tentunya dengan tetap berusaha menjauhi sumber-sumber fitnah, seperti menyendiri, membuka aurat, dll yang bisa menimbulkan fitnah. Ini merupakan pengecualian (hanya boleh dilakukan jika keadaannya darurat). (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz, jilid 28, hal: 103-109)

Keempat: Ada hal-hal yang perlu diperhatikan, jika istri ingin bekerja, di antaranya:

  1. Pekerjaannya tidak mengganggu kewajiban utamanya dalam urusan dalam rumah, karena mengurus rumah adalah pekerjaan wajibnya, sedang pekerjaan luarnya bukan kewajiban baginya. Dan sesuatu yang wajib tidak boleh dikalahkan oleh sesuatu yang tidak wajib.
  1. Harus dengan izin suaminya, karena istri wajib menaati suaminya.
  1. Menerapkan adab-adab Islami, seperti: Menjaga pandangan, memakai hijab syari, tidak memakai wewangian, tidak melembutkan suaranya kepada pria yang bukan mahrom, dll.
  1. Pekerjaannya sesuai dengan tabiat wanita, seperti: mengajar, dokter, perawat, penulis artikel, buku, dll.
  1. Tidak ada ikhtilat di lingkungan kerjanya. Hendaklah ia mencari lingkungan kerja yang khusus wanita, misalnya: Sekolah wanita, perkumpulan wanita, kursus wanita, dll.
  1. Hendaklah mencari dulu pekerjaan yang bisa dikerjakan di dalam rumah. Jika tidak ada, baru cari pekerjaan luar rumah yang khusus di kalangan wanita. Jika tidak ada, maka ia tidak boleh cari pekerjaan luar rumah yang campur antara pria dan wanita. Kecuali jika keadaannya darurat atau keadaan sangat mendesak sekali, misalnya suami tidak mampu mencukupi kehidupan keluarganya, atau suaminya sakit, dll.

Kelima: Jawaban pertanyaan Anda sangat bergantung dengan pekerjaan dan keadaan Anda

Apa suami mengijinkan Anda untuk bekerja? Apa pekerjaan Anda tidak mengganggu tugas utama Anda dalam rumah? Apa tidak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan dalam rumah? Jika lingkungan kerja Anda sekarang keadaannya ikhtilat (campur antara pria dan wanita), apa tidak ada pekerjaan lain yang lingkungannya tidak ikhtilat? Jika tidak ada, apa Anda sudah dalam kondisi darurat, sehingga apabila Anda tidak bekerja itu, Anda akan terancam hidupnya? Atau paling tidak hidup Anda akan terasa berat sekali, bila Anda tidak bekerja? Jika memang demikian, sudahkah Anda menerapkan adab-adab Islami ketika Anda keluar rumah? InsyaAllah dengan uraian kami di atas, Anda bisa menjawab sendiri pertanyaan Anda.

Memang, seringkali kita butuh waktu dan step by step dalam menerapkan syariat dalam kehidupan kita, tapi peganglah terus firman-Nya:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kepada Allah semampumu!” (QS. At-Taghabun:16)

Dan firman-Nya (yang artinya):

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

“Jika tekadmu sudah bulat, maka tawakkal-lah kepada Allah!” (QS. Al Imran:159),

Juga sabda Rasul ﷺ: “Ingatlah kepada Allah ketika dalam kemudahan, niscaya Allah akan mengingatmu ketika dalam kesusahan!” (HR. Ahmad, dan di-shahih-kan oleh Albani). Dan juga sabdanya ﷺ:

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ (رواه أحمد وقال الألباني: سنده صحيح على شرط مسلم)

“Sungguh kamu tidak meninggalkan sesuatu karena takwamu kepada Allah azza wajalla, melainkan Allah pasti akan memberimu ganti yang lebih baik darinya” (HR. Ahmad, dan di-shahih-kan oleh Albani).

Terakhir: Kadang terbetik dalam benak kita, mengapa Islam terkesan mengekang wanita?!

Inilah doktrin yang selama ini sering dijejalkan para musuh Islam. Mereka menyuarakan pembebasan wanita. Padahal di balik itu mereka ingin menjadikan para wanita sebagai obyek nafsunya. Mereka ingin bebas menikmati keindahan wanita, dengan lebih dahulu menurunkan martabatnya. Mereka ingin merusak wanita yang teguh dengan agamanya, agar mau memertontonkan auratnya, sebagaimana mereka telah merusak kaum wanita mereka.

Lihatlah kaum wanita di negara-negara Barat. Meski ada yang terlihat mencapai posisi yang tinggi dan dihormati, tapi kebanyakan mereka dijadikan sebagai obyek dagangan hingga harus menjual kehormatan mereka, penghias motor dan mobil dalam lomba balap, penghias barang dagangan, pemoles iklan-iklan di berbagai media informasi, dll. Wanita mereka dituntut untuk berkarir, padahal itu bukan kewajiban mereka, sehingga menelantarkan kewajiban mereka untuk mengurus dan mendidik anaknya sebagai generasi penerus. Selanjutnya rusaklah tatanan kehidupan masyarakat mereka. Tidak berhenti di sini. Mereka juga ingin kaum wanita kita rusak, sebagaimana kaum wanita mereka rusak lahir batinnya. Dan di antara langkah awal menuju itu adalah dengan mengajak kaum wanita kita -dengan berbagai cara- agar mau keluar dari rumah mereka.

Cobalah lihat secuil pengakuan orang Barat sendiri, tentang sebab rusaknya tatanan masyarakat mereka berikut ini:

Lord Byron: “Andai para pembaca mau melihat keadaan wanita di zaman Yunani kuno, tentu Anda akan dapati mereka dalam kondisi yang dipaksakan dan menyelisihi fitrahnya. Dan tentunya Anda akan sepakat denganku, tentang wajibnya menyibukkan wanita dengan tugas-tugas dalam rumah, dibarengi dengan perbaikan gizi dan pakaiannya, dan wajibnya melarang mereka untuk campur dengan laki-laki lain”.

Samuel Smills: “Sungguh aturan yang menyuruh wanita untuk berkarir di tempat-tempat kerja, meski banyak menghasilkan kekayaan untuk negara, tapi akhirnya justru menghancurkan kehidupan rumah tangga, karena hal itu merusak tatanan rumah tangga, merobohkan sendi-sendi keluarga, dan merangsek hubungan sosial kemasyarakatan. Karena hal itu jelas akan menjauhkan istri dari suaminya, dan menjauhkan anak-anaknya dari kerabatnya, hingga pada keadaan tertentu tidak ada hasilnya kecuali merendahkan moral wanita, karena tugas hakiki wanita adalah mengurus tugas rumah tangganya…”.

Dr. Iidaylin: “Sesungguhnya sebab terjadinya krisis rumah tangga di Amerika, dan rahasia dari banyak kejahatan di masyarakat, adalah karena istri meninggalkan rumahnya untuk meningkatkan penghasilan keluarga. Hingga meningkatlah penghasilan, tapi di sisi lain tingkat akhlak malah menurun… Sungguh pengalaman membuktikan, bahwa kembalinya wanita ke lingkungan (keluarga)-nya adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan generasi baru dari kemerosotan yang mereka alami sekarang ini”. (lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, jilid 1, hal: 425-426)

Lihatlah, bagaimana mereka yang obyektif mengakui imbas buruk dari keluarnya wanita dari rumah untuk berkarir… Sungguh Islam merupakan aturan dan syariat yang paling tepat untuk manusia. Aturan itu bukan untuk mengekang, tapi untuk mengatur jalan hidup manusia, menuju perbaikan dan kebahagiaan dunia dan Akhirat… Islam dan pemeluknya, ibarat terapi dan tubuh manusia. Islam akan memerbaiki keadaan pemeluknya, sebagaimana terapi akan memerbaiki tubuh manusia… Islam dan pemeluknya, ibarat UU dan penduduk suatu negeri. Islam mengatur dan menertibkan kehidupan manusia, sebagaimana UU juga bertujuan demikian…

Jadi Islam tidak mengekang wanita, tapi mengatur wanita agar hidupnya menjadi baik, selamat, tentram, dan bahagia dunia Akhirat. Begitulah cara Islam menghormati wanita, menjauhkan mereka dari pekerjaan yang memberatkan mereka, menghindarkan mereka dari bahaya yang banyak mengancam mereka di luar rumah, dan menjaga kehormatan mereka dari niat jahat orang yang hidup di sekitarnya…

Sekian jawaban kami, wallahu a’lam. Semoga bermanfaat dan bisa dimengerti. Wassalam.

BERSABARLAH PAK, ALLAH BERSAMA HAMBA-NYA YANG SALEH

BERSABARLAH PAK, ALLAH BERSAMA HAMBA-NYA YANG SALEH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SabarTakwaTawakalKepadaAllah

#PatrialisAkbarUntukPresidenRI

BERSABARLAH PAK, ALLAH BERSAMA HAMBA-NYA YANG SALEH

Oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah As Sidawi hafizhahullah

Baru-baru saja kita dikejutkan dengan berita penangkapan Bapak Patrialis Akbar, yang dikenal dekat dengan dunia dakwah sunnah.

Media-media penebar berita-berita hoax langsung menggoreng secepat kilat dengan cara-cara politik yang kotor dan culas.

Berikut ini, kami nasihatkan kepada diri kami dan saudara-saudaraku sekalian:

  1. Hendaknya bagi kita TIDAK MUDAH menelan berita-berita media yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, yang mencoreng kehormatan seorang Muslim yang gigih membela Islam dan dakwah Sunnah. (Baca: http://fokusislam.com/6730-inilah-berita-berita-hoax-seputar-penangkapan-patrialis-akbar.html)

Kewajiban bagi kita adalah husnu dzon dan membela kehormatan saudara kita sesama Muslim. Apalagi beliau telah bersumpah dengan nama Allah, bahwa dia dizalimi, dan tidak menerima serupiah pun.

  1. Hendaknya bagi kita untuk banyak berdoa kepada Allah, agar beliau dipermudah urusannya dan segera dibebaskan dari tuduhannya. Karena doa yang tulus dari kaum Mukminin dan Mukminat bisa menembus pintu-pintu langit yang Maha Adil dan Bijaksana.

Dan untuk saudara-saudara yang dekat dengan beliau, atau keluarga beliau, mari kita dukung dengan doa dan motivasi, agar beliau tegar menghadapi cobaan ini, dan bantu dengan bantuan langkah- langkah hukum di negeri ini.

  1. Hendaknya kita semua bersabar menghadapi ujian di zaman penuh dengan badai dan ombak fitnah ini. Jangan mudah terprovokasi, banyak debat sana sini. Mari kita fokus mendoakan dan membantu yang terbaik untuk beliau. Biarlah proses hukum berjalan, karena kita harus patuh hukum.
  1. Untuk beliau dan keluarganya serta sahabatnya: Bersabarlah dengan ujian ini, dan yakinlah, bahwa Allah akan menolong hamba-hamba yang beriman, lebih-lebih jika ia terzalimi. Optimislah, bahwa Allah sedang menginginkan kebaikan untukmu, meninggikan derajatmu, menghapus dosa-dosamu.
  1. Untuk siapa pun yang diberi amanat di negeri ini, hendaknya kita semua takut kepada Allah. Marilah kita ingat, bahwa Allah tidak akan tidur. Doa orang yang terzalimi adalah terkabul. Ingatlah, bahwa jabatan, harta dan tahta dunia hanyalah sementara, dan kita akan berdiri di pengadilan Akhirat nanti di hadapan Sang Maha Kuasa.

Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari badai fitnah yang menerpa negeri ini, dan semoga Allah memberikan keamanan dan keadilan di negeri ini.

Aamiin.

,

JANGAN KARENA ALMAIDAH AYAT 51 DIHINA, LALU LUPA THA-HA AYAT 43 – 44, PADAHAL DI SITU ADA SOLUSINYA

JANGAN KARENA ALMAIDAH AYAT 51 DIHINA, LALU LUPA THA-HA AYAT 43 – 44, PADAHAL DI SITU ADA SOLUSINYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajSalaf

#DakwahTauhid

JANGAN KARENA ALMAIDAH AYAT 51 DIHINA, LALU LUPA THA-HA AYAT 43 – 44, PADAHAL DI SITU ADA SOLUSINYA

  • Demontrasi Bukan Solusi, Lalu Seperti Apa Solusinya?

Di dalam Alquran, Allah memerintahkan kita agar menetapi jalan petunjuk yang lurus. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴿١٥٣﴾

“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutIlah Dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. Yang demikian itu diperintahkan Allah, agar kamu bertakwa” [QS. Al-an-am: 153]

Pertama:

Demontrasi ini digunakan untuk menolong agama Allah, dan menurut pelakunya, merupakan ibadah, bagian dari JIHAD. Dari sudut pandang ini, demontrasi merupakan bid’ah, dan perkara yang diada-adakan di dalam agama. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Siapa saja yang membuat ajaran baru dalam agama ini dan bukan termasuk bagian darinya, maka akan tertolak” [HR. Muttafaqun’alaih]

Kedua:

Di dalam demonstrasi ada Tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang orang kafir. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka” [Hasan. HR. Abu Dawud].

Ketiga:

Jika ada orang yang mengatakan: Demonstrasi merupakan amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka kita katakan: Kemungkaran tidak boleh diingkari dengan kemungkaran lagi. Karena kemungkaran tidak akan diingkari, kecuali oleh orang yang bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, sehingga dia akan mengingkari kemungkaran tersebut atas dasar ilmu dan pengetahuan. Tidak mungkin kemungkaran bisa diingkari dengan cara seperti ini.

Keempat:

Islam memberikan prinsip, bahwa segala sesuatu yang kerusakannya lebih banyak dari kebaikannya, maka dihukumi Haram.

Kelima:

Demontrasi merupakan kunci yang akan menyeret pelakunya untuk memberontak terhadap penguasa. Padahal kita dilarang melakukan pemberontakan, dengan cara tidak membangkang terhadap mereka. Betapa banyak demontrasi yang mengantarkan suatu negara dalam kehancuran, sehingga timbul pertumpahan darah, perampasan kehormatan dan harta benda, serta tersebarlah kerusakan yang begitu luas. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Hilangnya dunia lebih ringan di sisi Allah, di bandingkan tertumpahnya darah satu orang Muslim” [HR. an-Nasa’i]

Coba lihat negara negara Timur Tengah seperti Mesir, Yaman, Irak, Suriah, Libia, dan yang lainya. Apakah kalian mau seperti mereka? Negerinya tidak aman. Anak anak tidak bisa belajar, tidak bisa beribadah dengan tenang, para orang tua tidak bisa mencari nafkah dengan tenang. Awalnya dari DEMONTRASI. Alaahul Musta’aan

Keenam:

Para pendemo hakikatnya mengantarkan jiwa mereka menuju pembunuhan dan siksaan, berdasarkan firman-Nya:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا﴿٢٩﴾

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” [QS. An-Nisaa: 29]

Karena pasti akan terjadi bentrokan antara para demontrasi dan penguasa keamanan, sehingga mereka akan disakiti dan dihina. Nabi ﷺ bersabda:

“Seorang Mukmin tidak boleh menghinakan dirinya. Beliau ﷺ ditanya: Bagaimana seorang Mukmin menghinakan dirinya? Beliau ﷺ menjelaskan: (yakni) dia menanggung bencana di luar batas kemampuannya” [Hasan. HR. Turmudzi]

Solusi

Allah Subhanahu wa ta’ala mengabadikan kisah seorang penguasa kafir yang sangat zalim, yaitu Fir’aun. Dan Allah juga mengabadikan orang saleh di zaman itu, yaitu Nabi Musa a’laihi sallam dan Nabi Harun ‘alaihi sallam. Lihat bagaimana mereka menasihati penguasa yang kafir dan zalim. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ﴿٤٣﴾

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ﴿٤٤﴾

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia benar-benar telah melampau batas. Maka bicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah mudahan dia sadar dan takut” [QS. Tha-ha: 43, 44]

Beginilah cara beragama yang benar. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh, siapa saja di antara kalian yang hidup setelahku, pasti akan menjumpai perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah al-Khulafa’ar-Rasyidin yang telah diberi petunjuk sepeninggalku”. [Shahih. HR. Tirmidzi dan Abu Dawud]

Alquran itu bukan surah Ma’idah ayat 51 saja. Akan tetapi Allah juga menurunkan surah Tha-ha ayat 43 dan 44 sebagai solusinya. Coba kita lihat dan baca dan pahami, lalu kita amalkan surah Tha-ha ini. InsyaALLAH kita tidak akan seperti ini.

  • Kalau dibandingkan, mana yang lebih besar kekafirannya, Fir’aun atau orang-orang yang kafir yang ada di zaman sekarang ini?
  • Kalau dibandingkan mana yang lebih saleh, Nabi Musa atau orang-orang yang ada di zaman sekarang ini?

Nabi Musa saja diperintahkan oleh Allah untuk menasihati penguasa yang kafir (Fir’aun) dengan lemah lembut. Masa kita yang jauh kesalehannya apabila di bandingkan dengan Nabi Musa ‘alahi sallam, menyikapi penguasa yang kafir dengan demontrasi, dengan turun ke jalan?

Mau di ke manakankah surah Tha-ha ini?

Ingat, hidayah milik Allah

Berdoalah kepada Allah, supaya kita istiqomah di dalam jalan yang lurus. Tidak lupa pula, semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada para penguasa Muslim, agar mereka memberikan yang terbaik bagi negeri dan rakyatnya. Dan lebih dari itu, semoga Allah menolong para penguasa Muslim tersebut untuk berhukum dengan Alquran dan Sunnah Nabi-Nya… Aamiin.

Semoga Allah memberikan shalawat dan salam-Nya kepada Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘a’laihi wa sallam, beserta keluarganya…. Aamiin

Semoga bermanfaat

Janji Allah

Allah Subhanahu wa ta ‘ala berjanji akan memberikan (HADIAH) KEKUASAAN (KEKHILAFAHAN) di muka bumi ini kepada hambanya dengan syarat MENAUHIDKAN ALLAH

Allah Subhanahu wa ta ‘ala berfirman (yang artinya):

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴿٥٥﴾

“Allah telah MENJANJIKAN orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal saleh, Dia akan benar-benar MEMBERIKAN (HADIAH) KEPADAMU KEKUASAAN (KEKHILAFAHAN ISLAM) di atas bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa.

MEREKA TETAP MENYEMBAH-KU DENGAN TIDAK MEMERSEKUTUKAN SESUATU APAPUN DENGAN-KU (MENAUHIDKAN ALLAH)

Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik [QS. An-Nur: 55].

Benahi Akidahmu

Syeikh Al-Albani berkata:

Kita semua adalah tauladan dalam mengatasi setiap masalah umat di zaman kita sekarang ini, bahkan di setiap masa. Artinya kita WAJIB memrioritaskan, apa apa yang diprioritaskan, yakni:

➡ Memerbaiki kerusakan AKIDAH kaum Muslimin. Maka jadikanlah DAKWAH PERTAMAMU agar mereka MENAUHIDKAN ALLAH Subhanahu wa ta’ala.

➡ Memerbaiki PERIBADAHAN mereka dengan memerhatikan SYARAT diterimanya IBADAH:

  1. Ibadah yang kita lakukan harus IKHLAS.
  1. Ibadah yang kita lakukan harus SESUAI dengan apa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.

➡ Memerbaiki perilaku mereka, AKHLAK mereka

KHILAFAH atau KEKUASAAN bukanlah tujuan agama. Tujuan agama adalah MENAUHIDKAN ALLAH.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan) BERIBADAHLAH HANYA KEPADA ALLAH (saja), dan jauhilah Thagut [QS. An-Nahl: 36]

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ﴿٢٥﴾

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwa tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi dengan benar) selain Aku. Maka IBADAHILAH AKU oleh kamu sekalian [QS. Al-Anbiya: 25].

InIlah DAKWAH para Nabi dan Rasul diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala ke Dunia ini, yakni: DAKWAH TAUHID.

 

Sumber: Majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyyah Vol 5 No. 5 Edisi 29-Rabiuts Tsani 1428H

 

BERDAGANG DAN BERMUAMALAH DENGAN ORANG KAFIR

BERDAGANG DAN BERMUAMALAH DENGAN ORANG KAFIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BERDAGANG DAN BERMUAMALAH DENGAN ORANG KAFIR

Selama perjalanan sejarah dakwahnya, Nabi ﷺ dan para sahabat melakukan aktivitas muamalah dengan orang Yahudi. Realita ini memberi panduan pada kita mengenai cara memboikot yang benar terhadap produk-produk perusahaan milik orang-orang Yahudi. Perjalanan sejarah umat Islam mengalami pasang dan surut. Awalnya umat Islam dalam kondisi lemah, sehingga ditindas oleh umat lain. Penindasan, intimidasi, dan bahkan pembunuhan sebagian umat Islam, mewarnai awal sejarah agama ini. Namun kondisi menyedihkan tersebut berlangsung tak lama, karena kemudian berubah menjadi kejayaan dan kemenangan.

Suatu hari seorang lelaki datang menemui Nabi ﷺ guna mengeluhkan kemiskinan yang melilitnya. Tidak selang beberapa lama datang lelaki lain yang mengeluhkan perihal para perampok yang merajalela. Menanggapi keluhan kedua sahabatnya itu, beliau ﷺ bersabda: “Wahai Adi bin Hatim, apakah engkau pernah pergi ke kota Al-Hairah?” Sahabat Adi menjawab: ”Aku belum pernah mengunjunginya, namun aku pernah mendengar perihal kota tersebut.”Nabi ﷺ bersabda:” Jika engkau berumur panjang, niscaya suatu saat nanti engkau akan menyaksikan, seorang wanita yang bepergian dari kota Al-Hairah menuju kota Makkah untuk menunaikan ibadah tawaf di Kakbah, tanpa ada yang ia takuti selain Allah.” (HR. Bukhari)

Hadis tersebut memberi gambaran tentang perkembangan sejarah Islam di zaman Rasulullah ﷺ. Kejayaan demi kejayaan terus dipetik oleh umat Islam di bawah bimbingan Nabi ﷺ, yang kemudian dilanjutkan oleh para Khulafa’ Ar Rasyidin. Hingga pada saatnya di zaman khilafah Umar bin Al-Khatthab, umat Islam berhasil mencapai puncak kejayaannya, sehingga mampu menundukkan dua negara adi daya kala itu, yaitu Persia dan Romawi.

Dengan mengamati perkembangan sejarah Islam sejak awal hingga pada saat Islam mencapai puncak kejayaannya, kita mendapatkan satu hal unik yang patut untuk kita cermati bersama. Walau Nabi ﷺ berhasil menundukkan kabilah-kabilah Yahudi, namun tetap saja beliau ﷺ menjalin hubungan dagang dengan mereka. Beliau ﷺ memercayakan pengolahan ladang-ladang beliau ﷺ di Negeri Khaibar kepada orang-orang Yahudi, dengan ketentuan bagi hasil. (Muttafaqun ‘alaihi). Bahkan hingga akhir hayatnya, beliau ﷺ tiada pernah merasa sungkan bertransaksi dengan orang-orang Yahudi.

Aisyah, isteri Nabi ﷺ mengisahkan, pada akhir hayatnya, Nabi ﷺ membeli beberapa takar gandum dari seorang pedagang Yahudi. Namun karena beliau ﷺ belum mampu membayarnya, beliau ﷺ menggadaikan perisai perangnya kepada pedagang Yahudi tersebut. Dan hingga ajal menjemputnya, beliau ﷺ belum juga mampu menebus perisai perangnya itu dari pedagang Yahudi tersebut. Demikian kisah ini diabadikan oleh Imam Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya dalam kitab-kitab hadisnya.

Kejayaan yang telah terwujud bagi umat Islam tidaklah menghalanginya untuk berinterasi niaga dengan para penganut agama lain. Kondisi ini terus berlangsung sampai pun umat Islam telah berhasil mencapai puncak kejayaannya di zaman Amirul Mukminin Umar bin Al-Khatthab Radhiyallallahu ‘anhu. Hubungan dagang antara umat Islam dan para penganut agama lain terus berlangsung, walaupun permusuhan antara umat Islam dan orang-orang kafir juga terus berlanjut.

Ibnu Abi Syaibah dan Al-Baihaqi mengisahkan, sahabat Abu Musa Al-Asy’ary mengadukan perlakuan musuh-musuh Islam (Kafir Harby) terhadap para pedagang Muslim yang berdagang di negeri mereka. Mereka memungut upeti dari para setiap pedagang Muslim yang berdagang ke negeri mereka sebesar 10 % dari penghasilannya. Menyikapi perilaku negeri-negeri musuh Islam tersebut, Khalifah Umar memerintahkan agar sahabat Abu Musa memerlakukan para pedagang negeri kafir yang masuk ke negeri Islam dengan cara yang sama.

Sikap umat Islam ini membuktikan, bahwa menjalin hubungan dagang dengan orang-orang kafir adalah sah-sah saja, selama TIDAK MENGANCAM kehormatan atau MELANGGAR hukum syariat. Terlebih bila kondisi umat Islam tidak memungkinkan berkonfrontasi dengan negara-negara kafir. Karena itu dahulu, Nabi ﷺ mengadakan perjanjian damai dengan sebagian kabilah Yahudi, dan juga dengan orang-orang kafir Quraisy.

Wallahu Ta’ala a’alam bisshawab.

 

Sumber: http://pengusahamuslim.com/3553-berdagang-dan-bermuamalah-dengan-non-muslim-1811.html

 

KEHORMATAN SEORANG MUSLIM KETIKA SUDAH MATI STATUSNYA SAMA DENGAN KEHORMATANNYA KETIKA MASIH HIDUP

KEHORMATAN SEORANG MUSLIM KETIKA SUDAH MATI STATUSNYA SAMA DENGAN KEHORMATANNYA KETIKA MASIH HIDUP

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

KEHORMATAN SEORANG MUSLIM KETIKA SUDAH MATI STATUSNYA SAMA DENGAN KEHORMATANNYA KETIKA MASIH HIDUP

Jenazah muslim wajib disikapi sebagaimana orang hidup. Artinya tidak boleh dikerasi, tidak boleh dilukai, atau diambil bagian tubuhnya, apalagi dipatahkan tulangnya. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:

كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا

”Mematahkan tulang mayit, statusnya sama dengan mematahkan tulangnya ketika masih hidup.” (HR. Abu Daud 3207, Ibnu Majah 1616, dan yang lainnya).

Mengingat hadis ini, Fatawa Syabakah Islamiyah menegaskan satu kaidah:

فمن المقرر شرعاً أن حرمة المسلم وهو ميت كحرمته وهو حي، ومن ثم فلا يجوز التعدي على حرمته

”Bagian prinsip penting dalam syariat, kehormatan seorang Muslim ketika sudah mati statusnya sama dengan kehormatannya ketika masih hidup. Karena itu, tidak boleh dilanggar kehormatannya.” (Fatawa Syabakah islamiyah, no. 12511)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/21085-gigi-palsu-di-jasad-mayit.html