Posts

KEBERKAHAN PADA UCAPAN ULAMA SALAF

KEBERKAHAN PADA UCAPAN ULAMA SALAF

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

KEBERKAHAN PADA UCAPAN ULAMA SALAF
 
Ditanyakan kepada Hamdun bin Ahmad Al-Qashshar:
“Kenapa Ucapan para salaf lebih bermanfaat dari ucapan kita?”
Hamdun menjawab:
“Karena mereka berbicara untuk keagungan Islam, keselamatan jiwa-jiwa (manusia), dan (meraih) rida Ar-Rahman. Sedang kita berbicara untuk kemulian diri sendiri, mencari dunia, dan penerimaan manusia.” [Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Al-Hilyah dan Al-Baihaqy dalam Syu’abul Îman]
 
قِيلَ لِحَمْدُونَ بْنِ أَحْمَدَ: مَا بَالُ كَلامِ السَّلَفِ أَنْفَعُ مِنْ كَلامِنَا؟ قَالَ: ” لأَنَّهُمْ تَكَلَّمُوا لِعِزِّ الإِسْلامِ، وَنَجَاةِ النُّفُوسِ، وَرِضَاءِ الرَّحْمَنِ، وَنَحْنُ نَتَكَلَّمُ لِعِزِّ النَّفْسِ، وَطَلَبِ الدُّنْيَا، وَقَبُولِ الْخَلْقِ،
 
 
Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah
Sumber: dzulqarnain.net
 
#MutiaraSalaf, #SalafusSholih, #SalafusShaleh, #Salafyyin, #Salafi, #ManhajSalaf, #KeberkahanUcapanUlamaSalaf, #KenapaSalafi

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

MANFAAT BANGUN SUBUH

MANFAAT BANGUN SUBUH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MutiaraSunnah

MANFAAT BANGUN SUBUH

Apa ada keutamaan bangun Subuh? Kita tahu setiap Muslim punya kewajiban untuk bangun Subuh, karena ada shalat fardhu yang mesti ditunaikan kala itu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan: “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” [HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776]

Setan akan membuat ikatan di tengkuk manusia ketika ia tidur. Ikatan tersebut seperti sihir yang dijalankan oleh setan untuk menghalangi seseorang untuk bangun malam. Karena ikatan itu ada, akhirnya setan terus membisikkan atau merayu, supaya orang yang tidur tetap terus tidur dengan mengatakan ‘Malam itu masih panjang’.

Lantas bagaimanakah solusinya untuk bisa lepas dari tiga ikatan setan yang terus merayu agar tidak bangun malam? Nabi ﷺ memberikan solusinya:
(1) Bangun tidur lalu berzikir pada Allah
(2) Kemudian berwudhu
(3) Mengerjakan shalat
Disebutkan di akhir hadis, bahwa orang yang bangun dan terlepas darinya tiga ikatan setan, ia akan semangat dan fit di pagi harinya. Jika tiga ikatan tersebut tidaklah lepas, maka akan malas dan tidak sehat di pagi harinya.

Mari terus semangat bangun malam dan bangun Subuh. Semoga kita termasuk golongan yang mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang banyak lewat doa Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” [HR. Abu Daud no. 2606, Tirmidzi no. 1212 dan Ibnu Majah no. 2236. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/10045-keutamaan-bangun-shubuh.html

,

DOA UNTUK PENGANTIN

DOA UNTUK PENGANTIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DoaZikir

DOA UNTUK PENGANTIN

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Adalah Nabi ﷺ bila memberi ucapan kegembiraan terhadap seorang yang menikah, beliau ﷺ mendoakan:

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

 Barokallahu laka, wa baroka ‘alayka wa jama’a baynakuma fii khoyr.

Artinya:

“Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepadamu dan keberkahan atas pernikahanmu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, An-Nasa`iy, dan Ibnu Majah]

 

Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah

@dzulqarnainms

,

SAMBUTLAH WAKTU PAGIMU

SAMBUTLAH WAKTU PAGIMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SAMBUTLAH WAKTU PAGIMU

 

اللهم بارك لأمتى فى بكورها

 

“YA ALLAH BERIKANLAH KEBERKAHAN UNTUK UMATKU DI WAKTU PAGI MEREKA.“ [HR At Thabrani dalam Al Aushat: 771 dan disahihkan oleh syaikh Al Albany]

Begitulah doa yang diucapkan oleh Rasul yang mulia ﷺ, untuk mereka yang melakukan aktivitasnya di pagi hari. Tentunya sudah sepantasnya bagi seorang Muslim untuk menggunakan waktu yang mulia ini untuk yang terbaik dalam kehidupannya.

Apa yang dilakukan oleh seseorang di awal harinya, akan menentukan keadaan akhir harinya. Sehingga datang sebuah hadis dalam Sahih Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa beliau selalu bertasbih di pagi hari sampai terbit matahari. Ketika matahari terbit beliau mengatakan:

الحمد لله الذي أقالنا يومنا هذا، ولم يؤاخذنا بذنوبنا

“Segala puji hanya milik Allah yang telah menjagaku di hari ini, dan tidak menyiksaku dengan dosa dosaku”.

Mari kita lihat bagaimana Abdullah bin Mas’ud menganggap dirinya telah dijaga oleh Allah di harinya, padahal beliau baru melewati waktu paginya. Hal ini menunjukkan, bahwa siapa yang menjaga di waktu paginya, maka Allah akan menjaga sisa di hari tersebut.

Oleh karena itu para ulama salaf terdahulu, mereka berusaha untuk tidak tidur setelah Subuh, walaupun mereka sangat lelah. Kemudian mereka berzikir dan bertasbih sampai terbit matahari, baru mereka tidur.

Subhanallah.

Berikut adalah keutamaan yang akan diraih oleh mereka yang selalu menjaga waktu pagi mereka dengan ketaatan:

  1. Mendapatkan keutamaan Qabliyah Subuh dan shalat Subuh secara berjamaah. Rasulullah ﷺ bersabda:

ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها

“Dua rakaat sebelum Subuh itu lebih baik dari dunia dan seisinya.” [HR muslim]

Beliau ﷺ juga bersabda:

لن يلج النار أحد صلى قبل طلوع الشمس وقبل غروبها يعني الفجر والعصر

“Tidak akan masuk Neraka seorang yang shalat sebelum terbit matahari, dan sebelum tenggelam [Subuh dan Ashar]. [HR Muslim dari Sahabat Umarah Bin Ruwaibah]

  1. Mendapatkan barakah doanya Rasulullah ﷺ, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Sehingga ada seorang sahabat yang selalu mengirimkan perniagaan di pagi hari, sehingga dia menjadi kaya dan banyak hartanya.

Berkata Syaikh Bin Ustaimin rahimahullah:

“Itu semua dikarenakan, bahwa waktu siang adalah waktu yang Allah menjadikannya sebagai tempat untuk mencari nafkah. Sehingga jika seseorang menyambut waktu siang dengan bergegas melakukan aktivitas di waktu pagi, maka dia akan mendapatkan berkah. Namun kebanyakan dari kita melewatkan kesempatan yang mulia ini, sehingga mereka tertidur di waktu pagi, dan tidak terbangun, kecuali di waktu Dhuha, sehingga terluputkan keberkahan di waktu pagi . Selesai dari Syarh Riyadhussalihin.

Berkata Al Imam An Nawawi: Disunnahkan bagi mereka yang memiliki tugas seperti membaca atau belajar ilmu syari atau tasbih atau i’tikaf , atau pekerjaan, maka hendaknya melakuannya di awal pagi. [Lihat Faidhul Qadir Syarh Jami’ As Saghir]

  1. Mendapatkan waktu dibaginya rezeki

Abdullah bin Abbas pernah melihat seorang tertidur di waktu pagi, lalu beliau berkata kepadanya: Bangunlah engkau. Apakah engkau tertidur di waktu yang dibagikan di dalamnya rezeki? “

[Lihat Adab As Syariyyah karya ibnu muflih]

Semoga Allah selalu memberikan semangat untuk melakukan aktivitas kita semua di waktu pagi.

Wallahu A’lam bishowab.

 

Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah Imam hafizhahullah

Sumber: http://www.el-imam.com/2015/10/sambutlah-waktu-pagimu.html

, ,

RAIHLAH KEBERKAHAN DENGAN MAKAN SAHUR

RAIHLAH KEBERKAHAN DENGAN MAKAN SAHUR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SeriPuasaRamadan
#SifatPuasaNabi

RAIHLAH KEBERKAHAN DENGAN MAKAN SAHUR

Pertama: Makna Makan Sahur

Makan sahur artinya:

كل طعامٍ أو شرابٍ يَتَغَذَّى به آخر الليل في السحر من أراد الصيام

“Setiap makanan dan minuman yang dimakan oleh orang yang hendak berpuasa di akhir malam, di waktu sahur.” [Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 247]

Kedua: Hukum Makan Sahur

Ulama seluruhnya sepakat, bahwa makan sahur hukumnya sunnah, sebagaimana yang dinukil oleh Ibnul Mundzir rahimahullah. [Lihat Fathul Baari, 4/139]. Karena itu, makan sahur tidak memengaruhi sah atau tidaknya puasa. Andaikan seseorang berpuasa tanpa makan sahur, maka puasanya sah. Bahkan tetap wajib baginya untuk berpuasa Ramadhan, walau tidak sempat makan sahur. Dan tidak ada dosa baginya apabila tidak makan sahur dengan sengaja. Namun ia tidak mendapatkan keutamaan dan keberkahan sahur yang melimpah.

Ketiga: Waktu Makan Sahur

Waktu sahur adalah sepertiga malam yang terakhir sampai terbit fajar. [Lihat Lisaanul Arab, 4/350, sebagaimana dalam Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 247] Disebut makan sahur, karena dilakukan di waktu sahur. Dan yang lebih afdhal dilakukan di akhir waktu sahur. Rasulullah ﷺ bersabda:

بكِّروا بالإفطارِ، وأخِّروا السحورَ

“Segerakanlah berbuka dan akhirkanlah sahur.” [HR. Ibnu Adi dan Ad-Dailami dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1773]

Tabi’in yang Mulia ‘Amr bin Maimun rahimahullah berkata:

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَعْجَلَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهَمْ سُحُورًا

“Dahulu para sahabat Rasulullah ﷺ paling cepat berbuka dan paling lambat makan sahur.” [Diriwayatkan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro: 8127]

Keempat: Akhir Waktu Sahur

Akhir waktu sahur adalah mendekati waktu Subuh seukuran membaca 50 ayat, dan itulah waktu terbaik untuk makan sahur. Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhu, beliau berkata:

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

“Kami makan sahur bersama Nabi ﷺ, kemudian beliau bangkit untuk sholat Subuh.” Aku (Anas bin Malik) berkata: Berapa jarak antara azan dan sahur? Beliau (Zaid bin Tsabit) berkata: “Seukuran membaca 50 ayat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً أَيْ مُتَوَسِّطَةً لَا طَوِيلَةً وَلَا قَصِيرَةً لَا سَرِيعَةً وَلَا بَطِيئَةً

“Seukuran 50 ayat adalah yang pertengahan, tidak panjang dan tidak pendek, tidak dibaca cepat dan tidak pula lambat.” [Fathul Baari, 4/138]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

خمسون آية: من عشر دقائق إلى ربع الساعة إذا قرأ الإنسان قراءة مرتلة أو دون ذلك وهذا يدل على أن الرسول صلى الله عليه وسلم يؤخر السحور تأخيرا بالغا وعلى أنه يقدم صلاة الفجر ولا يتأخر

“Seukuran membaca 50 ayat adalah sekitar 10 sampai 15 menit, apabila seseorang membaca dengan perlahan-lahan atau sedikit lambat. Dan ini menunjukkan bahwa Rasul ﷺ benar-benar mengakhirkan waktu makan sahur dan bahwa beliau bersegera untuk sholat Subuh dan tidak terlambat.” [Syarhu Riyadhis Shaalihin, 5/285]

Hadis yang mulia ini juga menunjukkan, bahwa selesainya makan sahur sebelum terbit fajar. Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata:

فِيهِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّ الْفَرَاغَ مِنَ السُّحُورِ كَانَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ

“Dalam hadis ini ada petunjuk, bahwa selesai makan sahur sebelum terbit fajar.” [Fathul Baari, 4/138-139]

 

Bahkan azan yang dimaksud dalam hadis yang mulia ini adalah iqomah, sebagaimana ditegaskan dalam lafal yang lain, dari Anas bin Malik, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhuma, beliau berkata:

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ: كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: خَمْسِينَ آيَةً

“Kami makan sahur bersama Rasulullah ﷺ, kemudian kami bangkit menuju sholat. Aku (Anas) berkata: Berapa ukuran antara selesainya makan sahur dan sholat? Beliau (Zaid) berkata: Seukuran membaca 50 ayat.” [HR. Muslim]

Dan kata azan sering kali digunakan untuk makna iqomah, di antaranya dalam sabda Rasulullah ﷺ,

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ، قَالَهَا ثَلَاثًا، قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: ِمَنْ شَاءَ

“Di antara setiap dua azan ada sholat. Beliau mengatakannya tiga kali, dan beliau berkata pada yang ketiga: Bagi siapa yang mau melakukannya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mughoffal radhiyallahu’anhu]

Kelima: Permasalahan Waktu Imsak

Kapan mulai Imsak (menahan diri, tidak boleh lagi makan dan minum serta melakukan seluruh pembatal puasa)? Hadis yang mulia di atas menunjukkan, bahwa waktu selesainya makan sahur Rasulullah ﷺ dan sholat Subuh adalah seukuran membaca 50 ayat. Akan tetapi itu tidak bermakna puasa telah dimulai dan tidak boleh makan dan minum lagi, karena mulainya puasa adalah setelah terbitnya fajar (masuk waktu Subuh), sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” [Al-Baqoroh: 187]

Fajar yang dimaksud adalah fajar yang kedua atau Fajar Shodiq, yaitu garis putih atau cahaya putih yang membentang secara horizontal di ufuk, dari Utara ke Selatan. [Dalam istilah Astronomi disebut: “Zodiacal light”]. Apabila fajar tersebut telah muncul, maka masuklah waktu Subuh dan itulah awal waktu puasa, tidak boleh lagi makan dan minum, atau melakukan satu pembatal puasa.

Sedang fajar yang pertama atau Fajar Kadzib adalah garis putih atau cahaya putih yang memanjang secara vertikal, [Dalam istilah Astronomi disebut: “Twilight”] tidak membentang. [Lihat Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 248-252]

Adapun penetapan waktu Imsak sebelum terbit fajar maka termasuk mengada-ada dalam agama, tidak ada contohnya dari Rasulullah ﷺ. [Lihat Fathul Baari, 4/199]

Keenam: Anjuran Makan Sahur Bersama

Dalam hadis yang mulia di atas juga terdapat anjuran makan sahur bersama-sama, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhu. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وَفِيهِ الِاجْتِمَاعُ عَلَى السُّحُورِ

“Dalam hadis ini ada anjuran bersama-sama makan sahur.” [Fathul Baari, 4/138]

Ketujuh: Adakah Menu Makan Sahur yang Dianjurkan?

Tidak ada jenis makanan yang diharuskan untuk makan sahur. Namun dianjurkan makan kurma, dan dibolehkan memakan apa saja yang halal, walau hanya seteguk air. Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

“Sebaik-baik makanan sahur seorang Mukmin adalah kurma.” [HR. Abu Daud dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallaahu’ahu, Ash-Shahihah: 562]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

تَسَحَّرُوا وَلَوْ بِجَرْعَةٍ مِنْ مَاء

“Makan sahurlah kalian, walau hanya dengan seteguk air.” [HR. Ibnu Hibban dari Ibnu ‘Amr radhiyallaahu’anhuma, Shahihut Targhib: 1071]

Kedelapan: Apa Saja Keberkahan Makan Sahur?

Keberkahan maknanya adalah kebaikan yang melimpah dan terus-menerus ada, dan sungguh keberkahan makan sahur sangat banyak. Rasulullah ﷺ bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَة

“Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makan sahur itu ada keberkahan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

Di antara keberkahan makan sahur: [Lihat Syarhu Riyadhis Shaalihin, 5/284-285.]

  • 1) Ibadah kepada Allah ta’ala.
  • 2) Menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ.
  • 3) Lebih menguatkan orang yang berpuasa untuk dapat berpuasa sampai terbenam matahari, dan tetap melakukan ibadah-ibadah yang lain.
  • 4) Memudahkan sholat Subuh berjamaah, karena itulah disunnahkan makan sahur mendekati waktu Subuh.
  • 5) Menyelisihi puasa Yahudi dan Nasrani. Rasulullah ﷺ bersabda:

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

“Pembeda antara puasa kita dan puasa Ahlul Kitab adalah makan sahur.” [HR. Muslim dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallaahu’anhuma]

  • 6) Memanfaatkan waktu terbaik untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah di waktu sahur, karena sepertiga malam yang terakhir adalah waktu terbaik untuk berdoa, [Lihat Fathul Baari. 4/140]. Dan makan sahur itu sendiri adalah doa ibadah, karena doa terbagi dua: Doa ibadah dan doa permohonan. [Sebagaimana telah kami terangkan secara ringkas dalam buku Tauhid, Pilar Utama Membangun Negeri]
  • Maka merugilah orang yang menghabiskan waktu sahur untuk bermain-main atau menonton acara-acara hiburan, yang pada umumnya mengandung maksiat kepada Allah jalla wa ‘ala.
  • 7) Mendapatkan sholawat Allah ta’ala dan malaikat, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

“Sahur adalah makan yang penuh berkah. Maka janganlah kalian tinggalkan, walau seorang dari kalian hanya meminum seteguk air, karena sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla dan para malaikat-Nya bersholawat untuk orang-orang yang makan sahur.” [HR. Ahmad dan Ibnu Hibban dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 3683]

Sholawat Allah ta’ala atas mereka maknanya mencakup pemaafan-Nya, rahmat-Nya dan ampunan-Nya dicurahkan untuk mereka. Adapun sholawat malaikat atas mereka adalah mendoakan dan memohonkan ampun kepada Allah ta’ala untuk mereka.

  • 8) Mendapatkan pahala ibadah makan sahur karena meneladani Rasulullah ﷺ. [Lihat Fathul Baari, 4/140]
  • 9) Menambah semangat dan menghilangkan kemalasan yang disebabkan oleh rasa lapar. [Lihat Fathul Baari, 4/140]
  • 10) Menjadi sebab bersedekah kepada orang yang membutuhkan makan sahur, dan atau makan bersamanya. [Lihat Fathul Baari, 4/140]

Kesembilan: [Faidah Penting] Amalan Batin Saat Makan Sahur

Hendaklah orang yang makan sahur memilik amalan batin, tidak sekedar makan biasa. Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

إنه ينبغي للإنسان حين تسحره أن يستحضر أنه يتسحر امتثالا لأمر الله ورسوله ويتسحر مخالفة لأهل الكتاب وكرها لما كانوا عليه ويتسحر رجاء البركة في هذا السحور ويتسحر استعانة به على طاعة الله حتى يكون هذا السحور الذي يأكله خيرا وبركة وطاعة والله الموفق

“Sungguh sepatutnya bagi seseorang, ketika makan sahur hendaklah menghadirkan dalam hatinya, bahwa ia melakukannya dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan demi menyelisihi Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani), serta membenci perbuatan mereka yang tidak mau makan sahur. Dan hendaklah ia makan sahur dalam rangka mengharap keberkahan dari Allah, dan menguatkannya untuk taat kepada Allah. Sehingga dengan niat-niat tersebut, makan sahurnya bernilai kebaikan, keberkahan dan ketaatan kepada Allah. Wallaahul muwaafiq.” [Syarhu Riyadhis Shaalihin, 5/285]

Kesepuluh: Apabila Mendengar Azan Subuh Saat Makan Sahur

Apa yang harus dilakukan oleh orang yang sedang makan sahur dan mendengar azan Subuh? Apabila ia yakin bahwa waktu sholat Subuh telah masuk, yaitu mu’adzin tidak salah waktu, maka wajib baginya untuk segera menghentikan makan sahurnya saat itu juga. Namun apabila ia masih ragu maka boleh baginya meneruskan makannya sampai ia yakin bahwa waktu Subuh telah masuk, karena pada asalnya adalah tetapnya malam. [Lihat Taudhihul Ahkam, 3/472 dan Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/284, no. 6468]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

——————————

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

http://sofyanruray.info/raihlah-keberkahan-dengan-makan-sahur/

,

TAKDIR DAPAT DITOLAK DENGAN DOA

TAKDIR DAPAT DITOLAK DENGAN DOA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

TAKDIR DAPAT DITOLAK DENGAN DOA

>> Menolak Takdir Dengan Doa

Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Yang dapat menolak takdir hanyalah doa. Yang dapat menambah umur hanyalah amalan kebaikan.” [HR. Tirmidzi, no. 6 dalam Kitab Al-Qadr, Bab “Tidak Ada Yang Menolak Takdir Kecuali Doa”]

Yang dimaksud doa bisa menolak takdir terdapat dua makna:

  • Kalau seseorang tidak berdoa, maka takdirnya seperti itu saja.
  • Kalau seseorang berdoa, takdir akan dijalani dengan mudah. Yang terjadi seakan-akan takdir yang jelek itu tertolak.

Yang dimaksud umur tidaklah bertambah melainkan dengan kebaikan terdapat dua makna:

  • Kalau seseorang tidak melakukan kebaikan, maka umurnya pendek.
  • Kalau seseorang melakukan kebaikan, umurnya bertambah, yaitu bertambah berkah.

Jika dilihat dari pengertian di atas, berarti umur bertambah bisa bermakna hakiki. Atau ada yang mengatakan, bahwa semakin banyak amalan kebaikan, semakin bertambah umur. Sebagaimana pula semakin sering memanjatkan doa, musibah akan terus tertolak.

Artinya yang disebutkan di atas, berarti Allah memberkahi umur. Apa maksud Allah memberkahi umurnya? Ia cukup beramal saleh dalam waktu yang singkat, di mana dengan waktu seperti itu, yang lainnya tidak bisa melakukan amalan yang banyak. Maksud kedua di sini, bertambah umur berarti bertambah secara majaz.

Faidah penting yang bisa diambil:

  • Dorongan untuk memerbanyak kebaikan, serta bersegera melakukan kebaikan dan sebab-sebabnya.
  • Amalan kebaikan menyebabkan umur bertambah, baik secara hakiki atau majazi.
  • Doa punya kedudukan yang begitu mulia. Segala sesuatu yang telah Allah takdirkan pada hamba berupa hal yang dibenci, dapat tertolak dan dipalingkan dengan doa, asalkan seseorang ikhlas dan benar dalam niat.

Semoga bermanfaat.

 

Referensi:

Arba’una Haditsan, Kullu Haditsin fii Khaslatain. Cetakan kedua, tahun 1421 H. Prof. Dr. Shalih bin Ghanim As-Sadlan. Penerbit Dar Balansia.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/15647-menolak-takdir-dengan-doa.html

, , ,

BAGAIMANAKAH CARA MENGOBATI ORANG YANG TERKENA PENYAKIT ‘AIN?

BAGAIMANAKAH CARA MENGOBATI ORANG YANG TERKENA PENYAKIT 'AIN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#DoaZikir

BAGAIMANAKAH CARA MENGOBATI ORANG YANG TERKENA PENYAKIT ‘AIN?

Memandikan Pelaku ‘Ain

1. Jika telah diketahui pelaku ‘Ain-nya, maka perintahkanlah ia (si pelaku ‘ain -penj) agar mandi, kemudian air yang dipakai mandi tersebut diambil dan disiramkan kepada orang yang terkena ‘Ain dari arah belakangnya.

عن أبي أمامة بن سهل بن حنيف أن أباه حدثه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج وساروا معه نحو مكة حتى إذا كانوا بشعب الخرار من الجحفة أغتسل سهل بن حنيف وكان رجلا أبيض حسن الجسم والجلد فنظر إليه عامر بن ربيعة أخو بني عدي بن كعب وهو يغتسل فقال ما رأيت كاليوم ولا جلد مخبأة فلبط فسهل فأتى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقيل له يا رسول الله هل لك في سهل والله ما يرفع رأسه وما يفيق قال هل تتهمون فيه من أحد قالوا نظر إليه عامر بن ربيعة فدعا رسول الله صلى الله عليه وسلم عامرا فتغيظ عليه وقال علام يقتل أحدكم أخاه هلا إذا رأيت ما يعجبك بركت ثم قال له أغتسل له فغسل وجهه ويديه ومرفقيه وركبتيه وأطراف رجليه وداخلة إزاره في قدح ثم صب ذلك الماء عليه يصبه رجل على رأسه وظهره من خلفه ثم يكفئ القدح وراءه ففعل به ذلك فراح سهل مع الناس ليس به بأس

Dari Umamah bin Sahl bin Hunaif, bahwasannya ayahnya telah menceritakan kepadanya: Bahwa Rasulullah ﷺ pergi bersamanya menuju Makkah. Ketika sampai di satu celah bukit Kharar di daerah Juhfah, maka Sahl bin Hunaif mandi. Ia adalah seorang yang yang berkulit sangat putih dan sangat bagus. Maka ‘Amir bin Rabi’ah – kerabat Bani ‘Adi bin Ka’b – memandangnya ketika ia sedang mandi. ‘Amir berkata: ‘Aku belum pernah melihat seperti sekarang, juga tidak pernah melihat kulit wanita perawan bercadar’. Maka tiba-tiba Sahl jatuh terguling. Maka datang Rasulullah ﷺ dan dikatakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, apa kira-kira yang terjadi pada Sahl? Ia (Sahl) tidak bisa mengangkat kepalanya dan sekarang ia belum juga sadar”. Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya: “Apakah ada seseorang yang kalian curigai?”. Mereka berkata: “Amir bin Rabi’ah telah memandangnya”. Kemudian Rasulullah ﷺ memanggilnya, lalu memarahinya dan bersabda: ‘Mengapa salah seorang di antara kalian hendak membunuh saudaranya? Mengapa ketika kamu melihat sesuatu hal yang menakjubkanmu, kamu tidak memberkahi?” Kemudian beliau ﷺ berkata kepadanya: “Mandilah untuknya!”. Kemudian ‘Amir mencuci mukanya, kedua tangannya, kedua sikunya, kedua lututnya, jari-jari kedua kakinya, dan bagian dalam kainnya di dalam bejana. Kemudian (air bekas mandi itu) disiramkan kepadanya (Sahl) oleh seseorang ke kepalanya dan punggungnya dari arah belakangnya. Kemudian bejana terebut ditumpahkan isinya di belakangnya. Maka setelah hal itu dilakukan, Sahl kembali bersama orang-orang dalam keadaan tidak kurang suatu apa (sehat kembali). ” [HR. Ahmad 3/486 no. 16023, Malik 2/938 no. 1678, dan Nasa’i dalam Al-Kubraa 4/380 no. 7616; dishahihkan oleh Al-Arnauth dalam dalam Ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad dan Al-Albani dalam Shahihul-Jaami’ no. 4020].

2. Bisa juga pelaku ‘Ain cukup berwudhu saja dan kemudian air bekas wudhunya dipakai mandi oleh orang yang terkena ‘Ain.

عن عائشة رضى الله تعالى عنها قالت كان يؤمر العائن فيتوضأ ثم يغتسل منه المعين

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhu ia berkata: “Orang yang melakukan ‘Ain diperintahkan agar berwudhu, kemudian orang yang terkena ‘Ain mandi dari air (bekas wudhu tadi).” [HR. Abu Dawud no. 3880; dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 2/467].

Meletakan tangan ke atas kepala penderita ‘Ain dengan membaca:

بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ، مِنْ كُلِ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيْكَ بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ

BISMILLAH ARQIKA MIN KULLI SYA-IN YU’DZIKA, MIN SYARRI KULLI NAFSIN AW ’AINI HASIDIN. ALLAHU YASYFIKA.
BISMILLAH ARQIKA.

Artinya:
“Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari setiap sesuatu yang menyakitimu dan dari kejelekan (kejahatan) setiap jiwa atau mata yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku meruqyahmu” [HR. Muslim no. 2186].

بِسْمِ اللهِ يُبْرِيْكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيْكَ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَمِنْ شَرِّ ذِيْ عَيْنٍ

Artinya:

“Dengan nama Allah, mudah-mudahan Dia membebaskanmu, dari setiap penyakit. Mudah-mudahan Dia akan menyembuhkanmu, melindungimu dari kejahatan orang dengki, jika dia mendengki, dan dari kejahatan setiap orang yang memunyai ‘Ain (mata dengki)” [HR. Muslim no 2185].

Meletakkan tangan di bagian atas yang sakit dan meruqyah dengan QS. Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas [Muttafaqun ‘alaih].

Penulis: Abul-Jauzaa’ Al-Bogory

Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2008/05/al-ain-pandangan-mata.html

 

, , ,

BAHAYA PENYAKIT ‘AIN (PENGARUH PANDANGAN MATA DENGKI ATAU TAKJUB)

BAHAYA PENYAKIT ‘AIN (PENGARUH PANDANGAN MATA DENGKI ATAU TAKJUB)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#AdabAkhlak

BAHAYA PENYAKIT ‘AIN (PENGARUH PANDANGAN MATA DENGKI ATAU TAKJUB)

Di antara dalil-dalil yang ada tentang al-‘Ain adalah sebagai berikut:

عن أبي ذر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن العين لتولع بالرجل بإذن الله تعالى حتى يصعد حالقا ثم يتردى منه

Dari Abi Dzarr radliyallaahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: Sesungguhnya Al-‘Ain dapat memerdaya seseorang dengan ijin Allah, sehingga ia naik ke tempat yang tinggi, lalu jatuh darinya [Yaitu, sesungguhnya Al-’Ain dapat menimpa seseorang, kemudian memengaruhinya hingga (jika) orang itu naik ke tempat yang tinggi, kemudian jatuh dari atas, karena pengaruh Al-’Ain]” [HR. Ahmad 5/146 no. 21340, 6/13 no. 5372, Al-Bazzar 9/386 no. 3972, dan Al-Haarits dalam Bughyatul-Bahits 2/603 no. 566; dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul-Jaami’ no. 1681].

عن جابر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم العين تدخل الرجل القبر و تدخل الجمل القدر

Dari Jabir radliyallaahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: “Al-‘Ain adalah haq (benar). Dapat memasukkan seseorang ke dalam kuburan, dan dapat memasukkan unta ke dalam kuali [Maksudnya: Sesungguhnya Al’Ain dapat menimpa seseorang hingga membunuhnya lalu mati, dan dikuburkan ke dalam kuburan. Dan bisa menimpa unta hingga nyaris mati, dan disembelih pemiliknya kemudian dimasak di dalam kuali]” [HR. Ibnu ‘Adi 6/407 biografi no. 1890 dari Mu’awiyyah bin Hisyam Al-Qashshaar, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 7/90, Al-Khathiib 9/244, Al-Qadlaa’I 2/140 no. 1059; dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahiihul-Jaami’ no. 4144].

عن جابر ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أكثر من يموت من أمتى بعد قضاء الله وقدره بالأنفس يعنى بالعين

Dari Jabir radliyallaahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: “Kebanyakan orang yang meninggal dari umatku setelah qadha dan qadar Allah, adalah karena Al-‘Ain” [HR. Ath-Thayalisi hal. 242 no. 1760, Bukhari dalam At-Tarikh Al-Kabir 4/360, no. 3144, Al-Hakim 3/46 no. , Al-Bazzar dalam Kasyful-Istaar 3/403 no. 3052, Ad-Dailami 1/364 no. 1467, dan Ibnu Abi ‘Ashim 1/136 no. 311; dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahiihul-Jaami’ no. 1206].

Ibnul-Qayyim berkata:

فَأَبْطَلَتْ طَائِفَةٌ مِمّنْ قَلّ نَصِيبُهُمْ مِنْ السّمْعِ وَالْعَقْلِ أَمْرَ الْعَيْنِ وَقَالُوا: إنّمَا ذَلِكَ أَوْهَامٌ لَا حَقِيقَةَ لَهُ وَهَؤُلَاءِ مِنْ أَجْهَلِ النّاسِ بِالسّمْعِ وَالْعَقْلِ وَمِنْ أَغْلَظِهِمْ حِجَابًا وَأَكْثَفِهِمْ طِبَاعًا وَأَبْعَدِهِمْ مَعْرِفَةً عَنْ الْأَرْوَاحِ وَالنّفُوسِ . وَصِفَاتِهَا وَأَفْعَالِهَا وَتَأْثِيرَاتِهَا وَعُقَلَاءُ الْأُمَمِ عَلَى اخْتِلَافِ مِلَلِهِمْ وَنِحَلِهِمْ لَا تَدْفَعُ أَمْرَ الْعَيْنِ وَلَا تُنْكِرُهُ وَإِنْ اخْتَلَفُوا فِي سَبَبِ وَجِهَةِ تَأْثِيرِ الْعَيْنِ .

“Sekelompok orang yang tidak banyak mendengar dan berfikir menolak masalah (hakikat) Al-‘Ain mengatakan: “Itu hanyalah khayalan yang tidak memunyai hakikat”. Mereka ini termasuk orang yang paling bodoh, karena tidak banyak mendengar dan berfikir. Termasuk orang-orang yang paling tebal dinding penutupnya, paling keras tabiatnya, dan paling jauh pengetahuannya tentang ruh dan jiwa. Padahal, sifat-sifat, perbuatan-perbuatan, dan pengaruh-pengaruh Al-‘Ain itu – demikian pula orang-orang yang berakal sehat di kalangan umat dari berbagai aliran dan madzhab – tidak menolak dan tidak mengingkari masalah Al-‘Ain ini, sekalipun mereka berselisih pendapat tentang sebabnya dan bagaimana pengaruh Al-‘Ain itu” [Zaadul-Ma’ad 4/152].

Perbedaan Antara Al-‘Ain (Mata Kedengkian) dan Kedengkian [Lihat Al-‘Ainu haqq hal. 28]

  1. Orang yang dengki lebih umum daripada orang yang memunyai ‘Ain. Orang yang memunyai ‘Ain adalah orang dengki jenis tertentu. Setiap pelaku ‘Ain adalah pendengki, akan tetapi tidak setiap pendengki adalah pelaku ‘Ain. Oleh sebab itu disebutkan isti’adzah (memohon perlindungan) di dalam QS. Al-Falaq itu adalah dari kedengkian. Jika seorang Muslim ber-isti’adzah dari kejahatan orang yang mendengki, maka sudah termasuk di dalamnya (isti’adzah kepada) pelaku ‘Ain. Ini adalah termasuk kemukjizatan dan balaghah Alquran.
  2. Kedengkian muncul dari rasa iri, benci, dan mengharapkan lenyapnya nikmat. Sedangkan Al-‘Ain disebabkan oleh kekaguman, kehebatan, dan keindahan.
  3. Kedengkian dan Al-‘Ain (mata kedengkian) memiliki kesamaan dalam hal pengaruh, yaitu menimbulkan bahaya bagi orang yang didengki dan dipandang dengan ‘Ain. Keduanya berbeda dalam soal sumber penyebab. Sumber penyebab kedengkian adalah terbakarnya hati, dan mengharapkan lenyapnya nikmat dari orang yang didengki, sedangkan sumber penyebab Al-‘Ain adalah panahan pandangan mata. Oleh sebab itu, kadang-kadang menimpa orang yang tidak didengki, seperti benda mati, binatang, tanaman, atau harta. Bahkan bisa jadi menimpa dirinya sendiri. Jadi, pandangannya terhadap sesuatu adalah pandangan kekaguman, dan pelototan disertai penyesuaian jiwanya dengan hal tersebut, sehingga bisa menimbulkan pengaruh terhadap orang yang dipandang.
  4. Orang yang mendengki bisa saja mendengki sesuatu yang diperkirakan akan terjadi (belum terjadi). Sedangkan pelaku ‘Ain tidak akan melayangkan pandangan matanya, kecuali pada sesuatu yang telah terjadi.
  5. Orang tidak akan mendengki dirinya atau hartanya sendiri, tetapi bisa jadi dia menatap keduanya (yaitu kepada dirinya dan hartanya itu) dengan ‘Ain (sehingga terjadilah sesuatu pada dirinya).
  6. Kedengkian tidak mungkin muncul kecuali dari orang yang berjiwa buruk dan iri. Tetapi Al-‘Ain kadang-kadang terjadi dari orang yang saleh, ketika dia mengagumi sesuatu tanpa ada maksud darinya untuk melenyapkannya. Hal ini sebagaimana yang dialami oleh ‘Amir bin Rabi’ah, ketika tatapannya menimpa Sahl bin Hunaif. Padahal ‘Amir radliyallaahu ‘anhu termasuk generasi awal, bahkan termasuk Mujahidin Badr. Di antara ulama yang membedakan antara kedengkian dan Al-‘Ain (mata kedengkian) adalah Ibnul-Jauzi, Ibnul-Qayyim, Ibnu Hajar, An-Nawawi dan lainnya.

Oleh karena itu, setiap Muslim yang melihat sesuatu yang menakjubkan, dianjurkan agar mendoakan keberkahannya, baik sesuatu itu miliknya, ataupun milik orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ dalam hadis Sahl bin Hunaif: “Mengapa kamu tidak memberkahinya?” Yaitu mendoakan keberkahannya, karena doa ini bisa mencegah Al-‘Ain.

Cara Pengobatan Mata Kedengkian

Memandikan Pelaku ‘Ain

  1. Jika telah diketahui pelaku ‘Ain-nya, maka perintahkanlah ia (si pelaku ‘ain -penj) agar mandi, kemudian air yang dipakai mandi tersebut diambil dan disiramkan kepada orang yang terkena ‘Ain dari arah belakangnya.

عن أبي أمامة بن سهل بن حنيف أن أباه حدثه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج وساروا معه نحو مكة حتى إذا كانوا بشعب الخرار من الجحفة أغتسل سهل بن حنيف وكان رجلا أبيض حسن الجسم والجلد فنظر إليه عامر بن ربيعة أخو بني عدي بن كعب وهو يغتسل فقال ما رأيت كاليوم ولا جلد مخبأة فلبط فسهل فأتى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقيل له يا رسول الله هل لك في سهل والله ما يرفع رأسه وما يفيق قال هل تتهمون فيه من أحد قالوا نظر إليه عامر بن ربيعة فدعا رسول الله صلى الله عليه وسلم عامرا فتغيظ عليه وقال علام يقتل أحدكم أخاه هلا إذا رأيت ما يعجبك بركت ثم قال له أغتسل له فغسل وجهه ويديه ومرفقيه وركبتيه وأطراف رجليه وداخلة إزاره في قدح ثم صب ذلك الماء عليه يصبه رجل على رأسه وظهره من خلفه ثم يكفئ القدح وراءه ففعل به ذلك فراح سهل مع الناس ليس به بأس

Dari Umamah bin Sahl bin Hunaif, bahwasannya ayahnya telah menceritakan kepadanya: Bahwa Rasulullah ﷺ pergi bersamanya menuju Makkah. Ketika sampai di satu celah bukit Kharar di daerah Juhfah, maka Sahl bin Hunaif mandi. Ia adalah seorang yang yang berkulit sangat putih dan sangat bagus. Maka ‘Amir bin Rabi’ah – kerabat Bani ‘Adi bin Ka’b – memandangnya ketika ia sedang mandi. ‘Amir berkata: ‘Aku belum pernah melihat seperti sekarang, juga tidak pernah melihat kulit wanita perawan bercadar’. Maka tiba-tiba Sahl jatuh terguling. Maka datang Rasulullah ﷺ dan dikatakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, apa kira-kira yang terjadi pada Sahl? Ia (Sahl) tidak bisa mengangkat kepalanya dan sekarang ia belum juga sadar”. Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya: “Apakah ada seseorang yang kalian curigai?”. Mereka berkata: “Amir bin Rabi’ah telah memandangnya”. Kemudian Rasulullah ﷺ memanggilnya, lalu memarahinya dan bersabda: ‘Mengapa salah seorang di antara kalian hendak membunuh saudaranya? Mengapa ketika kamu melihat sesuatu hal yang menakjubkanmu, kamu tidak memberkahi?” Kemudian beliau ﷺ berkata kepadanya: “Mandilah untuknya!”. Kemudian ‘Amir mencuci mukanya, kedua tangannya, kedua sikunya, kedua lututnya, jari-jari kedua kakinya, dan bagian dalam kainnya di dalam bejana. Kemudian (air bekas mandi itu) disiramkan kepadanya (Sahl) oleh seseorang ke kepalanya dan punggungnya dari arah belakangnya. Kemudian bejana terebut ditumpahkan isinya di belakangnya. Maka setelah hal itu dilakukan, Sahl kembali bersama orang-orang dalam keadaan tidak kurang suatu apa (sehat kembali). ” [HR. Ahmad 3/486 no. 16023, Malik 2/938 no. 1678, dan Nasa’i dalam Al-Kubraa 4/380 no. 7616; dishahihkan oleh Al-Arnauth dalam dalam Ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad dan Al-Albani dalam Shahihul-Jaami’ no. 4020].

  1. Bisa juga pelaku ‘Ain cukup berwudhu saja dan kemudian air bekas wudhunya dipakai mandi oleh orang yang terkena ‘Ain.

عن عائشة رضى الله تعالى عنها قالت كان يؤمر العائن فيتوضأ ثم يغتسل منه المعين

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhu ia berkata: “Orang yang melakukan ‘Ain diperintahkan agar berwudhu, kemudian orang yang terkena ‘Ain mandi dari air (bekas wudhu tadi)” [HR. Abu Dawud no. 3880; dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 2/467].

Meletakan tangan ke atas kepala penderita ‘Ain dengan membaca:

بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ، مِنْ كُلِ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيْكَ بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ

BISMILLAH ARQIKA MIN KULLI SYA-IN YU’DZIKA, MIN SYARRI KULLI NAFSIN AW ’AINI HASIDIN. ALLAHU YASYFIKA.

BISMILLAH ARQIKA.

“Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari setiap sesuatu yang menyakitimu dan dari kejelekan (kejahatan) setiap jiwa atau mata yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku meruqyahmu” [HR. Muslim no. 2186].

بِسْمِ اللهِ يُبْرِيْكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيْكَ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَمِنْ شَرِّ ذِيْ عَيْنٍ

 “Dengan nama Allah, mudah-mudahan Dia membebaskanmu, dari setiap penyakit, mudah-mudahan Dia akan menyembuhkanmu, melindungimu dari kejahatan orang dengki, jika dia mendengki, dan dari kejahatan setiap orang yang memunyai ‘Ain (mata dengki)” [HR. Muslim no 2185].

Meletakkan tangan di bagian atas yang sakit dan meruqyah dengan QS. Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas [Muttafaqun ‘alaih].

 

Penulis: Abul-Jauzaa’ Al-Bogory

Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2008/05/al-ain-pandangan-mata.html

, ,

PENYAKIT ‘AIN, SEBAB, PENCEGAHAN DAN TERAPI

PENYAKIT ‘AIN, SEBAB, PENCEGAHAN DAN TERAPI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#DoaZikir

PENYAKIT ‘AIN, SEBAB, PENCEGAHAN DAN TERAPI

Pertanyaan:
Mohon penjelasan tentang penyakit ‘ain. Apakah dengan memajang foto di FB atau BB bisa menimbulkan penyakit ‘ain?

Jawaban:
Penyakit ‘ain, yaitu penyakit yang disebabkan oleh pandangan mata. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

والعين نظر باستحسان مشوب بحسد من خبيث الطبع يحصل للمنظور منه ضرر

“Dan ‘ain itu adalah pandangan suka disertai hasad yang berasal dari kejelekan tabiat, yang dapat menyebabkan orang yang dipandang itu tertimpa suatu bahaya.” [Fathul Bari, 10/200]

Penyakit ‘ain adalah sesuatu yang benar-benar ada secara hakiki. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْعَيْنُ حَق وَلَوْ كَانَ شَىْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا

“’Ain itu benar adanya. Andaikan ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, maka ‘ain akan mendahuluinya. Dan apabila kalian diminta untuk mandi, maka mandilah.” [HR. Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma]

Beberapa Faidah:

1) Apabila seseorang melihat sesuatu yang mengagumkan pada diri saudaranya, hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya (seperti mengucapkan, BaarokaLlaahu fiyk: Semoga Allah memberkahimu). Inilah cara untuk mencegah penyakit ‘ain. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيه ، أَوْ مِنْ نَفْسِهِ ، أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ ، فَلْيُبَرِّكْهُ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

“Apabila seorang dari kalian melihat sesuatu dari saudaranya, atau melihat diri saudaranya, atau melihat hartanya yang menakjubkan, maka hendaklah ia mendoakan keberkahan untuk saudaranya tersebut, karena sesungguhnya penyakit ‘ain benar-benar ada.” [HR. Ahmad dari Abdullah bin ‘Amir, Ash-Shahihah, no. 2572]

2) Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma di atas menjelaskan kepada kita salah satu cara untuk mengobati penyakit ‘ain adalah dengan meminta kepada orang yang memandang untuk mandi, kemudian bekas air mandinya disiramkan kepada orang yang dipandangnya. Adapun bagaimana tata caranya, dijelaskan dalam hadis berikut:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ ، قَالَ : مَرَّ عَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ بِسَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ ، وَهُوَ يَغْتَسِلُ فَقَالَ : لَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ ، وَلاَ جِلْدَ مُخَبَّأَةٍ فَمَا لَبِثَ أَنْ لُبِطَ بِهِ ، فَأُتِيَ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ فَقِيلَ لَهُ : أَدْرِكْ سَهْلاً صَرِيعًا ، قَالَ مَنْ تَتَّهِمُونَ بِهِ قَالُوا عَامِرَ بْنَ رَبِيعَةَ ، قَالَ : عَلاَمَ يَقْتُلُ أَحَدُكُم أَخَاهُ ، إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ مَا يُعْجِبُهُ ، فَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ ، فَأَمَرَ عَامِرًا أَنْ يَتَوَضَّأَ ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ، وَرُكْبَتَيْهِ وَدَاخِلَةَ إِزَارِهِ ، وَأَمَرَهُ أَنْ يَصُبَّ عَلَيْهِ.

قَالَ سُفْيَانُ : قَالَ مَعْمَرٌ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ : وَأَمَرَهُ أَنْ يَكْفَأَ الإِنَاءَ مِنْ خَلْفِهِ.

“Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, ia berkata: Amir bin Rabi’ah melewati Sahl bin Hunaif ketika ia sedang mandi, lalu Amir berkata: Aku tidak melihat seperti hari ini, kulit yang lebih mirip (keindahannya) dengan kulit wanita yang dipingit. Maka tidak berapa lama kemudian Sahl terjatuh, lalu beliau dibawa kepada Nabi ﷺ, seraya dikatakan: “Selamatkanlah Sahl yang sedang terbaring sakit.” Beliau ﷺ bersabda: “Siapa yang kalian curigai telah menyebabkan ini?” Mereka berkata: “Amir bin Rabi’ah.” Beliau ﷺ bersabda: “Kenapakah seorang dari kalian membunuh saudaranya? Seharusnya apabila seorang dari kalian melihat sesuatu pada diri saudaranya yang menakjubkan, hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya.” Kemudian beliau ﷺ meminta air, lalu menyuruh Amir untuk berwudhu. Amir mencuci wajahnya, kedua tangannya sampai ke siku, dua lututnya dan bagian dalam sarungnya. Dan Nabi ﷺ memerintahkannya untuk menyiramkan (bekas air wudhunya) kepada Sahl.” Berkata Sufyan, berkata Ma’mar dari Az-Zuhri: Beliau ﷺ memerintahkannya untuk menyiramkan air dari arah belakangnya.”  [HR. Ibnu Majah dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, Shahih Ibni Majah, no. 2828]

3) Cara penyembuhan lainnya adalah dengan diruqyah. Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَة

“Tidak ada ruqyah (yang lebih bermanfaat), kecuali untuk penyakit ‘ain, atau penyakit yang diakibatkan sengatan binatang berbisa.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallahu’anhu]

4) Rasulullah ﷺ memerlindungkan anak-anak kepada Allah ta’ala dari penyakit ‘ain, sebagaimana dalam hadis Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ الله التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّة

“Nabi ﷺ pernah memerlindungkan Al-Hasan dan Al-Husain (kepada Allah ta’ala):

أَعُيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

“U’idzukuma bi kalimaatillaahit taammati min kulli syaithonin wa haamatin wa min kulli ‘ainin laamatin.”

Artinya:

“Aku memerlindungkan kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang Maha Sempurna dari setan, binatang berbisa dan mata yang dengki (makna yang lain: segala macam bahaya).”

Dan beliau ﷺ bersabda (kepada Al-Hasan dan Al-Husain), sesungguhnya bapak kalian berdua (yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam) memerlindungkan Ismail dan Ishaq dengan doa ini.” [HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma]

5) Hadis Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif di atas menunjukkan, bahwa orang yang terkena penyakit ‘ain karena dipandang secara langsung. Adapun apakah mungkin terkena penyakit ‘ain jika dipandang melalui fotonya atau gambarnya, maka kami belum mengetahui penjelasan ulama akan hal tersebut. Silakan ditanyakan kepada para Ustadz lainnya. Akan tetapi membuat gambar-gambar bernyawa, apakah yang dibuat oleh tangan maupun mesin, adalah terlarang, berdasarkan keumuman dalil diharamkannya gambar bernyawa, tanpa memberikan pengecualiaan untuk gambar yang dibuat oleh mesin. Berdasarkan banyak hadis, di antaranya:

عَنْ عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا اشْتَرَتْ نُمْرُقَةً فِيهَا تَصَاوِيرُ فَلَمَّا رَآهَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَامَ عَلَى الْبَابِ فَلَمْ يَدْخُلْ فَعَرَفَتْ فِي وَجْهِهِ الْكَرَاهِيَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ أَتُوبُ إِلَى اللهِ وَإِلَى رَسُولِهِ مَاذَا أَذْنَبْتُ قَالَ مَا بَالُ هَذِهِ النُّمْرُقَةِ فَقَالَتِ اشْتَرَيْتُهَا لِتَقْعُدَ عَلَيْهَا وَتَوَسَّدَهَا ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ – وَقَالَ – إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لاَ تَدْخُلُهُ الْمَلاَئِكَةُ

“Dari Aisyah radhiyallahu’anha, seorang istri Nabi ﷺ, bahwasanya beliau mengabarkan kepada Nabi ﷺ, bahwa beliau telah membeli bantal yang padanya terdapat gambar-gambar bernyawa. Ketika Rasulullah ﷺ melihatnya, maka beliau ﷺ hanya berdiri di pintu, tidak mau memasuki rumah. Aisyah pun mengetahui ketidaksukaan Rasulullah ﷺ yang tergambar pada wajah beliau. Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, aku kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Apakah dosaku?” Beliau bersabda: “Untuk apa bantal ini?” Aisyah menjawab: “Aku belikan untuk engkau duduk di atasnya dan bersandar padanya.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya para pemilik gambar-gambar ini akan diazab pada Hari Kiamat dan dikatakan kepada mereka: Hidupkan yang telah kalian ciptakan.”

Dan Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya rumah yang terdapat padanya gambar-gambar bernyawa tidak akan dimasuki oleh malaikat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Terlebih lagi jika gambar seorang wanita disebarkan di internet, maka sisi keharamannya bertambah, di antaranya:

  • Pertama: Menimbulkan fitnah (godaan) bagi laki-laki, dan bisa berdampak pada maraknya perzinahan.
  • Kedua: Dosa menampakkan aurat, dan mungkin disalahgunakan oleh pihak-pihak yang menginginkan kejelekan.
  • Ketiga: Menjadikan suami dan mahramnya sebagai orang-orang yang kehilangan sifat cemburu (dayuts), satu sifat yang pernah diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ sebagai penghalang masuk Surga.

Maka janganlah membuat gambar bernyawa, baik dengan tangan maupun mesin, jangan pula memajangnya di internet, dalam rangka taat kepada Allah ta’ala dan kehati-hatian dalam menaati-Nya.

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

https://nasihatonline.wordpress.com/2013/03/05/penyakit-ain-sebab-pencegahan-dan-terapi/