Posts

, , ,

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong. “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” [HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadis ini Maudhu’]. Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [Madarijus Salikin, 1: 176]

Hadis di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadis berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain), dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan [Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri]

Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihati berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan, dan merasa diri lebih baik dari orang lain.

Jangan sombong sampai merasa bersih dari dosa, atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.

Semoga Allah memberikan hidayah demi hidayah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/11241-mengejek-orang-yang-berbuat-dosa.html

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

MEMBELA DIRI DARI TUKANG BEGAL HINGGA MATI SYAHID

MEMBELA DIRI DARI TUKANG BEGAL HINGGA MATI SYAHID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

MEMBELA DIRI DARI TUKANG BEGAL HINGGA MATI SYAHID

Ternyata orang yang membela diri dari tukang bekal atau perampok, lantas ia mati, maka ia bisa dicatat syahid. Adapun jika ia membela diri dan ia berhasil membunuh tukang begal tersebut, tukang begal itulah yang masuk Neraka. Karena orang yang masih hidup itu cuma membela diri, sedangkan yang mati punya niatan untuk membunuh.

Di antaranya ada tiga hadis tentang masalah ini yang membahas bolehnya membela diri ketika berhadapan dengan tukang rampas, tukang rampok atau tukang begal yang ingin merampas harta kita.

Hadis Pertama

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِى قَالَ « فَلاَ تُعْطِهِ مَالَكَ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِى قَالَ « قَاتِلْهُ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِى قَالَ « فَأَنْتَ شَهِيدٌ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ قَالَ « هُوَ فِى النَّارِ »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada seseorang yang menghadap Rasulullah ﷺ. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika ada seseorang yang mendatangiku dan ingin merampas hartaku?”

Beliau ﷺ bersabda: “Jangan kau beri padanya.”

Ia bertanya lagi: “Bagaimana pendapatmu jika ia ingin membunuhku?”

Beliau ﷺ bersabda: “Jangan kau beri padanya.”
Ia bertanya lagi: “Bagaimana pendapatmu jika ia ingin membunuhku?”
Beliau ﷺ bersabda: “Bunuhlah dia.”
“Bagaimana jika ia malah membunuhku?”, ia balik bertanya.
“Engkau dicatat syahid”, jawab Nabi ﷺ.
“Bagaimana jika aku yang membunuhnya?”, ia bertanya kembali.
“Ia yang di Neraka”, jawab Nabi ﷺ. (HR. Muslim no. 140).

Hadis Kedua

عَنْ قَابُوسَ بْنِ مُخَارِقٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ وَسَمِعْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ يُحَدِّثُ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ يَأْتِينِي فَيُرِيدُ الِي قَالَ ذَكِّرْهُ بِاللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَذَّكَّرْ قَالَ فَاسْتَعِنْ عَلَيْهِ مَنْ حَوْلَكَ مِنْ الْمُسْلِمِينَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ حَوْلِي أَحَدٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ قَالَ فَاسْتَعِنْ عَلَيْهِ بِالسُّلْطَانِ قَالَ فَإِنْ نَأَى السُّلْطَانُ عَنِّي قَالَ قَاتِلْ دُونَ مَالِكَ حَتَّى تَكُونَ مِنْ شُهَدَاءِ الْآخِرَةِ أَوْ تَمْنَعَ مَالَكَ

Dari Qabus bin Mukhariq, dari bapaknya, dari ayahnya, ia berkata bahwa ia mendengar Sufyan Ats Tsauri mengatakan hadis berikut ini:

Ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata: “Ada seseorang datang kepadaku dan ingin merampas hartaku.”

Beliau ﷺ bersabda: “Nasihatilah dia supaya mengingat Allah.”
Orang itu berkata: “Bagaimana kalau ia tak ingat?”
Beliau ﷺ bersabda: “Mintalah bantuan kepada orang-orang Muslim di sekitarmu.”
Orang itu menjawab: “Bagaimana kalau tak ada orang Muslim di sekitarku yang bisa menolong?”
Beliau ﷺ bersabda: “Mintalah bantuan penguasa (aparat berwajib).”
Orang itu berkata: “Kalau aparat berwajib tersebut jauh dariku?”
Beliau ﷺ bersabda: “Bertarunglah demi hartamu sampai kau tercatat syahid di Akhirat atau berhasil memertahankan hartamu.” (HR. An Nasa’i no. 4086 dan Ahmad 5: 294. Hadis ini Shahih menurut Al Hafizh Abu Thohir)

Hadis Ketiga

عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: « مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ أَوْ دُونَ دَمِهِ أَوْ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ »

Dari Sa’id bin Zaid, dari Nabi ﷺ, beliau ﷺ bersabda: “Siapa yang dibunuh karena membela hartanya, maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela keluarganya, maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela darahnya, atau karena membela agamanya, ia syahid.” (HR. Abu Daud no. 4772 dan An Nasa’i no. 4099. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih).

Maksud Syahid dan Macamnya

Di antara maksud syahid sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Ambari:

لِأَنَّ اللَّه تَعَالَى وَمَلَائِكَته عَلَيْهِمْ السَّلَام يَشْهَدُونَ لَهُ بِالْجَنَّةِ . فَمَعْنَى شَهِيد مَشْهُود لَهُ

“Karena Allah ta’ala dan malaikatnya ‘alaihimus salam menyaksikan orang tersebut dengan Surga. Makna syahid di sini adalah disaksikan untuknya.” (Syarh Shahih Muslim, 2: 142).

Imam Nawawi menjelaskan bahwa syahid itu ada tiga macam:

  1. Syahid yang mati ketika berperang melawan Kafir Harbi (yang berhak untuk diperangi). Orang ini dihukumi syahid di dunia, dan mendapat pahala di Akhirat. Syahid seperti ini tidak dimandikan dan tidak dishalatkan.
  2. Syahid dalam hal pahala namun tidak disikapi dengan hukum syahid di dunia. Contoh syahid jenis ini adalah mati karena melahirkan, mati karena wabah penyakit, mati karena reruntuhan, dan mati karena membela hartanya dari rampasan. Begitu pula penyebutan syahid lainnya yang disebutkan dalam hadis Shahih. Mereka tetap dimandikan, dishalatkan, namun di Akhirat mendapatkan pahala syahid. Namun pahalanya tidak harus seperti syahid jenis pertama.
  3. Orang yang khianat dalam harta ghanimah (harta rampasan perang), dalam dalil pun menafikan syahid pada dirinya ketika berperang melawan orang kafir. Namun hukumnya di dunia tetap dihukumi sebagai syahid, yaitu tidak dimandikan dan tidak dishalatkan. Sedangkan di Akhirat, ia tidak mendapatkan pahala syahid yang sempurna. Wallahu a’lam. (Syarh Shahih Muslim, 2: 142-143).

Kesimpulan

Boleh membela diri ketika berhadapan dengan tukang begal atau tukang rampok, saat tidak ada di sekitar kita yang menolong, dan tidak ada aparat juga yang bisa menyelamatkan. Membela diri dari tukang begal atau tukang rampok saat itu hingga mati dicatat sebagai syahid di Akhirat. Sedangkan untuk hukum di dunia, ia tetap dimandikan dan dishalatkan.

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1433 H.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/10453-membela-diri-dari-tukang-begal-hingga-syahid.html

KARENA LIMA DAN LIMA

KARENA LIMA DAN LIMA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatuNufus

KARENA LIMA DAN LIMA

Nabi Adam ‘alaihis salam berbahagia karena lima hal:

1- Mengakui dosa
2- Menyesali dosa
3- Menyalahkan dirinya sendiri
4- Bersegera bertaubat
5- Tidak putus asa dari rahmat Allah

Iblis sengsara karena lima hal:

1- Tidak mengakui dosa
2- Tidak menyesali dosa
3- Tidak mencela diri sendiri
4- Tidak bertaubat dari dosa
5- Putus asa dari rahmat Allah

[Dinukil dari Al-Bahr Al-Muhith, Abu Hayan, diambil dari status telegram Syaikh Shalih Al-Munajjid]

Semoga bermanfaat.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/15702-karena-lima-dan-lima.html

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#MuslimahSholihah

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

>> Ketika dia shalat sendirian di dalam kamar tidurnya dan lampu dipadamkan

Di masa jahiliah, kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, wanita biasa thawaf di Kakbah dalam keadaan tanpa busana. Yang tertutupi hanyalah bagian kemaluannya. Mereka thawaf seraya bersyair:

  • Pada hari ini tampak tubuhku, sebagiannya ataupun seluruhnya
  • Maka apa yang tampak darinya, tidaklah daku halalkan

Maka turunlah ayat:

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ

“Wahai anak Adam, kenakanlah zinah (hiasan/pakaian) kalian setiap kali menuju masjid.” (al-A’raf: 31) [Shahih, HR. Muslim no. 3028]

Zinah (hiasan) adalah sesuatu yang dikenakan untuk berhias/memerindah diri. [Mukhtarush Shihah, hlm. 139], seperti pakaian.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Dahulu orang-orang jahiliah thawaf di Kakbah dalam keadaan telanjang. Mereka melemparkan pakaian mereka, dan membiarkannya tergeletak di atas tanah terinjak-injak oleh kaki orang-orang yang lalu lalang. Mereka tidak lagi mengambil pakaian tersebut selamanya, hingga usang dan rusak. Demikian kebiasaan jahiliah ini berlangsung hingga kedatangan Islam, dan Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan mereka untuk menutup aurat sebagaimana firman-Nya:

بَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ

“Wahai anak Adam, kenakanlah hiasan kalian setiap kali shalat di masjid.” (al-A’raf: 31)

Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ عُرْياَنٌ

“Tidak boleh orang yang telanjang thawaf di Kakbah.” (Shahih, HR. al-Bukhari no. 1622 dan Muslim no. 1347) [Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, 18/162—163]

Hadis di atas selain disebutkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah pada nomor di atas, pada Kitab al-Haj, Bab “Tidak Boleh Orang Yang Telanjang Thawaf Di Baitullah dan Tidak Boleh Orang Musyrik Melaksanakan Haji”, disinggung pula oleh beliau dalam Kitab ash-Shalah, Bab “Wajibnya Shalat dengan Mengenakan Pakaian.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam syarahnya (penjelasan) terhadap hadis di atas dalam Kitab ash-Shalah berkata: “Sisi pendalilan hadis ini terhadap judul bab yang diberikan al-Imam al-Bukhari rahimahullah adalah, apabila dalam thawaf dilarang telanjang, pelarangan hal ini di dalam shalat lebih utama lagi. Sebab apa yang disyaratkan di dalam shalat, sama dengan apa yang disyaratkan di dalam thawaf, bahkan dalam shalat ada tambahan. Jumhur berpendapat menutup aurat termasuk syarat shalat.” [Fathul Bari, 1/582]

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya: “Mereka diperintah untuk mengenakan zinah (hiasan) ketika datang ke masjid,untuk melaksanakan shalat atau thawaf di Baitullah. Ayat ini dijadikan dalil untuk menunjukkan wajibnya menutup aurat di dalam shalat. Demikian pendapat yang dipegangi oleh jumhur ulama. Bahkan menutup aurat hukumnya wajib dalam segala keadaan, sekalipun seseorang shalat sendirian, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis yang Shahih.” [Fathul Qadir, 2/200]

Ada perbedaan antara batasan aurat yang harus ditutup di dalam shalat, dan aurat yang harus ditutup di hadapan seseorang yang tidak halal untuk melihatnya, sebagaimana ada perbedaan yang jelas antara aurat laki-laki di dalam shalat, dan aurat wanita.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Mengenakan pakaian di dalam shalat adalah dalam rangka menunaikan hak Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu, seseorang tidak boleh shalat ataupun thawaf dalam keadaan telanjang, walaupun sendirian di malam hari. Dengan demikian diketahuilah, bahwa mengenakan pakaian di dalam shalat bukanlah karena ingin menutup tubuh (berhijab) dari pandangan manusia. Sebab, ada perbedaan antara pakaian yang dikenakan untuk berhijab dari pandangan manusia, dan pakaian yang dikenakan ketika shalat.” [Majmu’ Fatawa, 22/113—114]

Perlu diperhatikan di sini, menutup aurat di dalam shalat tidaklah cukup dengan berpakaian ala kadarnya. Yang penting menutup aurat, tidak peduli pakaian itu terkena najis, bau, dan kotor misalnya. Namun perlu diperhatikan pula sisi keindahan dan kebersihannya. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya memerintahkan untuk mengenakan zinah (pakaian sebagai perhiasan) ketika shalat, sebagaimana ayat di atas. Jadi, seorang hamba sepantasnya shalat mengenakan pakaiannya yang paling bagus dan paling indah, karena dia akan bermunajat dengan Rabb semesta alam, dan berdiri di hadapan-Nya.

Demikian secara makna dikatakan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam al-Ikhtiyarat (hlm. 43), sebagaimana dinukil dalam asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’ (2/145).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah membawakan beberapa syarat pakaian yang dikenakan dalam shalat. Ringkasnya adalah sebagai berikut:

  • Tidak menampakkan kulit tubuh yang ada di balik pakaian
  • Bersih dari najis
  • Bukan pakaian yang haram untuk dikenakan, seperti sutra bagi laki-laki, atau pakaian yang melampaui/melebihi mata kaki bagi laki-laki (isbal)
  • Pakaian tersebut tidak menimbulkan mudarat/bahaya bagi pemakainya. [Lihat pembahasan dan dalil-dalil masalah ini dalam asy-Syarhul Mumti’, 2/148—151]

Bagian Tubuh yang Harus Ditutup

Al-Khaththabi rahimahullah berkata: “Ulama berbeda pendapat tentang bagian tubuh yang harus ditutup oleh wanita merdeka (bukan budak) dalam shalatnya.

Al-Imam asy-Syafi’i dan al-Auza’i rahimahumallah berkata: ‘Wanita menutupi seluruh badannya ketika shalat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya.’ [Diriwayatkan hal ini dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan ‘Atha rahimahullah].

Lain lagi yang dikatakan oleh Abu Bakr bin Abdirrahman bin al-Harits bin Hisyam radhiyallahu ‘anhu: ‘Semua anggota tubuh wanita merupakan aurat, sampai pun kukunya.’

Al-Imam Ahmad rahimahullah sejalan dengan pendapat ini, beliau berkata: ‘Dituntunkan bagi wanita untuk melaksanakan shalat dalam keadaan tidak terlihat sesuatu pun dari anggota tubuhnya, tidak terkecuali kukunya’.” (Ma’alimus Sunan, 2/343)[ Sebagaimana dinukil dalam Jami’ Ahkamin Nisa’ (1/321)]

Sebenarnya dalam permasalahan ini TIDAK ADA DALIL YANG JELAS yang bisa menjadi pegangan, kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. (asy-Syarhul Mumti’, 2/156)

Oleh karena itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat, seluruh tubuh wanita merdeka itu aurat (di dalam shalatnya), kecuali bagian tubuh yang biasa tampak darinya ketika di dalam rumahnya, yaitu wajah, dua telapak tangan, dan telapak kaki. [Majmu’ Fatawa, 22/109—120]

Dengan demikian, ketika seorang wanita shalat sendirian atau di hadapan sesama wanita, atau di hadapan mahramnya, dibolehkan baginya untuk membuka wajah, dua telapak tangan, dan dua telapak kakinya. [Jami’ Ahkamin Nisa’, 1/333—334]

Walaupun yang lebih utama ialah ia menutup dua telapak kakinya. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Apabila ada laki-laki yang bukan mahramnya, ia menutup seluruh tubuhnya termasuk wajah. [Bagi yang berpendapat wajibnya menutup wajah. (-red)] (asy-Syarhul Mumti’, 2/157)

Pakaian Wanita Di Dalam Shalat

Di sekitar kita banyak dijumpai wanita shalat mengenakan mukena/rukuh yang tipis transparan, sehingga terlihat rambut panjangnya tergerai di balik mukena. Belum lagi pakaian yang dikenakan di balik mukena terlihat tipis, tanpa lengan, pendek dan ketat, menggambarkan lekuk-lekuk tubuhnya. Pakaian seperti ini jelas TIDAK BISA dikatakan menutup aurat.

Bila ada yang berdalih: “Saya mengenakan pakaian shalat yang seperti itu hanya di dalam rumah, sendirian di dalam kamar, dan lampu saya padamkan!”, kita katakan, bahwa pakaian shalat seperti itu (mukena ditambah pakaian minim di baliknya) tidak boleh dikenakan, walaupun ketika shalat sendirian, tanpa ada seorang pun yang melihat. Sebab, pakaian itu tidak cukup untuk menutup aurat. Padahal ketika shalat, wanita tidak boleh terlihat bagian tubuhnya kecuali wajah, telapak tangan, dan telapak kaki. [Lihat ucapan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa sebagaimana dinukilkan di atas]

Terlebih lagi pelarangan, bahkan pengharamannya, ketika pakaian seperti ini dipakai keluar rumah untuk shalat di masjid, atau di hadapan laki-laki yang bukan mahram.

Jika demikian, bagaimana sebenarnya pakaian yang boleh dikenakan oleh wanita di dalam shalatnya?

Masalah pakaian wanita di dalam shalat ini disebutkan dalam beberapa hadis yang marfu’. Namun, kedudukan hadis-hadis tersebut diperbincangkan oleh ulama.

Di antaranya, hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha:

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِخِمَارٍ

“Allah tidak menerima shalat wanita yang telah haid (baligh), kecuali apabila ia mengenakan kerudung (dalam shalatnya).” [HR. Abu Dawud no. 641 dan selainnya]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam at-Talkhisul Habir (2/460), hadis ini dianggap cacat oleh ad-Daraquthni karena Mauquf-nya (hadis yang berhenti hanya sampai sahabat).

Adapun al-Hakim menganggapnya mursal (hadis yang terputus antara tabi’in dan Rasulullah ﷺ).

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Apakah wanita boleh shalat dengan mengenakan dira’ dan kerudung tanpa izar?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُوْرَ قَدَمَيْهِ

“(Boleh), apabila dira’nya itu luas/lapang, hingga menutupi punggung kedua telapak kakinya.” [HR. Abu Dawud no. 640]

Dira’ adalah pakaian lebar/lapang yang menutupi sampai kedua telapak kaki, kata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. [Asy-Syarhul Mumti’, 2/164]

Sedangkan izar adalah milhafah (al-Qamushul Muhith, hlm. 309). Makna milhafah sendiri diterangkan dalam al-Qamush (hlm. 767) adalah pakaian yang dikenakan di atas seluruh pakaian (sehingga menutup/menyelubungi seluruh tubuh seperti abaya dan jilbab. [Lihat asy-Syarhul Mumti’, 2/164—165]

Hadis Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha ini tidak Shahih sanadnya, baik secara marfu’ maupun mauquf, karena hadis ini berporos pada Ummu Muhammad bin Zaid. Padahal dia adalah rawi yang majhul (tidak dikenal). [Demikian diterangkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 161)].

Meski demikian, ada riwayat-riwayat yang Shahih dari para sahabat dalam pemasalahan ini sebagaimana akan kita baca berikut ini:

Abdur Razzaq ash-Shan‘ani rahimahullah meriwayatkan dari jalan Ummul Hasan, ia berkata: “Aku melihat Ummu Salamah istri Nabi ﷺ, shalat dengan mengenakan dira’ dan kerudung.” (al-Mushannaf, 3/128) [Isnadnya Shahih, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 162)]

Ubaidullah al-Khaulani, anak asuh Maimunah radhiyallahu ‘anha mengabarkan, bahwa Maimunah shalat dengan memakai dira’ dan kerudung tanpa izar. [Diriwayatkan oleh al-Imam Malik dalam al-Muwaththa’ dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf] [Isnadnya Shahih, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 162)]

Masih ada atsar lain dalam masalah ini, yang semuanya menunjukkan, bahwa shalat wanita dengan mengenakan dira’ dan kerudung adalah perkara yang biasa, serta dikenal di kalangan para sahabat. Dan ini merupakan pakaian yang mencukupi bagi wanita untuk menutupi auratnya di dalam shalat.

Apabila wanita itu ingin lebih sempurna dalam berpakaian ketika shalat, ia bisa menambahkan izar atau jilbab pada dira’ dan kerudungnya. Ini yang lebih sempurna dan lebih utama, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah. Dalilnya ialah riwayat dari Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Wanita shalat dengan mengenakan tiga pakaian yaitu dira‘, kerudung, dan izar.” [Riwayat Ibnu Abi Syaibah dengan isnad yang Shahih, lihat Tamamul Minnah, hlm. 162]

Jumhur ulama sepakat, pakaian yang mencukupi bagi wanita dalam shalatnya adalah dira’ dan kerudung. [Bidayatul Mujtahid, hlm. 100]

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan: “Disenangi bagi wanita untuk shalat mengenakan dira’ – pakaian yang sama dengan gamis, namun lebar dan panjang sampai menutupi kedua telapak kaki, kemudian mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan lehernya, dilengkapi dengan jilbab yang diselimutkan ke tubuhnya di atas dira’. Demikian yang diriwayatkan dari ‘Umar, putra beliau (Ibnu ‘Umar), ‘Aisyah, Abidah as-Salmani, dan ‘Atha. Ini juga merupakan pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Beliau berkata: ‘Kebanyakan ulama bersepakat untuk pemakaian dira’ dan kerudung, apabila ditambahkan pakaian lain, itu lebih baik dan lebih menutup’.” [Al-Mughni, 1/351]

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Disenangi bagi wanita untuk shalat dengan mengenakan tiga pakaian: dira’, kerudung, dan jilbab, yang digunakan untuk menyelubungi tubuhnya, kain sarung di bawah dira’, atau sirwal (celana panjang yang lapang dan lebar) karena lebih utama daripada sarung.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Wanita shalat dengan mengenakan dira’, kerudung, dan milhafah.’

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah shalat dengan mengenakan kerudung, izar, dan dira’. Ia memanjangkan izarnya untuk berselubung dengannya. Ia pernah berkata: ‘Wanita yang shalat harus mengenakan tiga pakaian, apabila ia mendapatkannya, yaitu kerudung, izar, dan dira’. [Syarhul ‘Umdah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 4/322]

Bolehkah Shalat dengan Satu Pakaian?

Di dalam shalat, wanita dituntunkan untuk menutup seluruh tubuhnya kecuali bagian yang boleh terlihat, walaupun ia hanya mengenakan satu pakaian yang menutupi kepala, dua telapak tangan, dua telapak kaki, dan seluruh tubuhnya kecuali wajah.

Seandainya ia berselimut dengan satu kain sehingga seluruh tubuhnya tertutupi kecuali muka, dua telapak tangan, dan telapak kakinya, maka ini mencukupi baginya, menurut pendapat yang mengatakan, dua telapak tangan dan telapak kaki tidak termasuk bagian tubuh yang wajib ditutup. [Asy-Syarhul Mumti’, 2/165]

Ikrimah rahimahullah berkata: “Seandainya seorang wanita shalat dengan menutupi tubuhnya dengan satu pakaian/kain, maka hal itu dibolehkan.” [Shahih al-Bukhari, “Kitab ash-Shalah bab Berapa Pakaian yang Boleh Dikenakan Wanita Ketika Shalat”]

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyatakan: “Setelah menghikayatkan pendapat jumhur, bahwa wajib bagi wanita untuk shalat memakai dira’ dan kerudung, Ibnul Mundzir rahimahullah berkata: ‘Yang diinginkan dengan pendapat tersebut adalah, ketika shalat seorang wanita harus menutupi tubuh dan kepalanya. Seandainya pakaian yang dikenakan itu lapang/lebar, lalu ia menutupi kepalanya dengan sisa/kelebihan pakaiannya, maka hal itu dibolehkan.’

Ibnul Mundzir juga berkata: ‘Apa yang kami riwayatkan dari Atha’ rahimahullah bahwasanya ia berkata: [Wanita shalat dengan mengenakan dira’, kerudung, dan izar], demikian pula riwayat yang semisalnya dari Ibnu Sirin rahimahullah dengan tambahan milhafah, maka aku menyangka hal ini dibawa pemahamannya kepada istihbab.” [Fathul Bari, 1/602—603]. Yakni satu pakaian yang menutupi seluruh tubuh sebenarnya sudah mencukupi, namun disenangi apabila ditambah dengan pakaian-pakaian yang disebutkan.

Mujahid dan ‘Atha rahimahumallah pernah ditanya tentang wanita yang memasuki waktu shalat, sementara ia tidak memiliki kecuali satu baju, apa yang harus dilakukannya?

Mereka menjawab: “Ia berselimut dengannya.”

Demikian pula yang dikatakan Muhammad bin Sirin rahimahullah. [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 2/226]

Demikian apa yang dapat kami nukilkan dalam permasalahan ini untuk pembaca. Semoga memberi manfaat!

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah

 

 

 

 

 

, ,

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

عَقِدَ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan: “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” [HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776]

Setan akan membuat ikatan di tengkuk manusia ketika ia tidur. Ikatan tersebut seperti sihir yang dijalankan oleh setan untuk menghalangi seseorang untuk bangun malam. Karena ikatan itu ada akhirnya setan terus membisikkan atau merayu supaya orang yang tidur tetap terus tidur, dengan mengatakan ‘Malam itu masih panjang’.

Lantas bagaimanakah solusinya untuk bisa lepas dari tiga ikatan setan yang terus merayu agar tidak bangun malam? Nabi ﷺ memberikan solusinya:

(1) Bangun tidur lalu berzikir pada Allah, kemudian
(2) Berwudhu, kemudian
(3) Mengerjakan shalat

Faidah dari berzikir pada Allah ketika bangun tidur, ini kembali pada faidah dari zikir secara umum. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, bahwa zikir dapat mengusir setan, mendatangkan kebahagiaan, mencerahkan wajah dan hati, menguatkan badan dan melapangkan rezeki. [Lihat mengenai Fawaid Zikir dalam Shahih Al Wabilush Shoyyib hal. 83-153].

Di antara zikir yang bisa dibaca setelah bangun tidur adalah zikir berikut ini:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY AHYAANAA BA’DA MAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSYUUR

Artinya:

Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan. [HR. Bukhari no. 6325]

Atau bisa pula membaca zikir berikut:

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ، وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY ‘AAFAANIY FIY JASADIY, WA RODDA ‘ALAYYA RUUHIY, WA ADZINA LIY BIDZIKRIH

Artinya:

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan telah mengembalikan ruhku serta mengizinkanku untuk berzikir kepada-Nya]. [HR. Tirmidzi no. 3401. Hasan menurut Syaikh Al Albani]

Adapun shalat malam sendiri adalah kebiasaan yang baik bagi orang beriman, di mana waktu akhir malam adalah waktu dekatnya Allah pada hamba-Nya. Dari ‘Amr bin ‘Abasah, ia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِى تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

“Waktu yang seorang hamba dengan Allah adalah di tengah malam yang terakhir. Siapa yang mampu untuk menjadi bagian dari orang yang mengingat Allah pada waktu tersebut, maka lakukanlah.” [HR. Tirmidzi no. 3579. Shahih menurut Syaikh Al Albani].

Adapun orang yang tidak bangun Subuh, hakikatnya masih terikat dengan tiga ikatan tadi. Ia terus dibisikkan oleh setan, sehingga tidak bisa bangkit untuk bangun.

Apa Manfaat Bangun Subuh?

Disebutkan di akhir hadis, bahwa orang yang bangun dan terlepas darinya tiga ikatan setan, ia akan semangat dan fit di pagi harinya. Jika tiga ikatan tersebut tidaklah lepas, maka akan malas dan tidak sehat di pagi harinya.

Mari terus semangat bangun malam dan bangun Subuh. Semoga kita termasuk golongan yang mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang banyak lewat doa Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” [HR. Abu Daud no. 2606, Tirmidzi no. 1212 dan Ibnu Majah no. 2236. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Wallahu waliyyut taufiq.

 

Referensi:

  • Kunuz Riyadhis Sholihin, Rais Al Fariq: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliyaa, cetakan pertama, tahun 1430 H.
  • Shahih Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ke-11, tahun 1427 H.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/10045-keutamaan-bangun-Subuh.html

 

,

BENARKAH RASULULLAH MELARANG ALI BIN ABI THALIB POLIGAMI?

BENARKAH RASULULLAH MELARANG ALI BIN ABI THALIB POLIGAMI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#ShirahNabawiyah
#KisahMuslim

BENARKAH RASULULLAH MELARANG ALI BIN ABI THALIB POLIGAMI?

Kisah Rasulullah ﷺ melarang Ali berpoligami adalah kisah yang Shahih diriwayatkan dalam Shahihain. Namun bagaimana penjelasan yang benar mengenai hal ini?

Poligami itu dibolehkan dalam Islam. Seseorang yang tidak mau berpoligami, atau wanita yang tidak mau dipoligami, itu tidak mengapa. Namun jangan sampai ia menolak syariat poligami, atau menganggap poligami itu tidak disyariatkan. Sebagian orang yang menolak syariat poligami seringkali berdalih dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu yang tidak melakukan poligami. Bahkan mereka mengatakan, bahwa dari Nabi ﷺ sebenarnya melarang poligami, sebagaimana beliau ﷺ melarang Ali bin Abi Thalib berpoligami.

Poligami Disyariatkan dalam Islam

Dalam suatu kesempatan Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman ditanya:

“Apakah benar Nabi ﷺ melarang Ali untuk menikah lagi setelah memiliki istri yaitu Fathimah (putri Rasulullah ﷺ). Dan apakah itu berarti Nabi ﷺ melarang poligami?”

Beliau menjawab:

Kisah yang dimaksud oleh penanya tersebut adalah kisah yang Shahih diriwayatkan dalam Shahihain. Dari Miswar bin Makhramah, bahwa Nabi ﷺ berkhutbah di atas mimbar:

إن بني هشام بن المغيرة استأذنوني أن ينكحوا ابنتهم علي بن أبي طالب فلا آذن لهم، ثم لا آذن لهم ثم لا آذن لهم، إلا أن يحب ابن أبي طالب أن يطلق ابنتي وينكح ابنتهم. فإنما ابنتي بضعة مني، يريبني ما أرابها، ويؤذيني ما آذاها

“Sesungguhnya Hisyam bin Al Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Namun aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya. Kecuali jika ia menginginkan Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, baru menikahi putri mereka. Karena putriku adalah bagian dariku. Apa yang meragukannya, itu membuatku ragu. Apa yang mengganggunya, itu membuatku terganggu“

Dalam riwayat lain:

وإني لست أحرم حلالاُ، ولكن والله لا تجتمع بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم، وبنت عدو الله مكاناُ واحد أبداً

“Sungguh aku tidak mengharamkan yang halal. Tapi demi Allah, tidak akan bersatu putri Rasulullah ﷺ dengan putri dari musuh Allah dalam satu tempat, selama-lamanya“

Maka poligami itu dibolehkan, bahkan dianjurkan. Bagaimana tidak? Sedangkan Rabb kita berfirman:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

“Nikahilah yang baik bagi kalian dari para wanita, dua atau tiga atau empat” (QS. An Nisa: 3).

Dan firman Allah ta’ala: “Nikahilah yang baik bagi kalian dari para wanita, dua atau tiga atau empat” ini mengisyaratkan bahwa poligami itu wajib. Namun lafal “Nikahilah yang baik bagi kalian” menunjukkan, bahwa menikahi istri kedua itu terkadang baik dan terkadang tidak.

Dan hukum asal dari pernikahan adalah poligami, karena Allah ta’ala memulainya dengan al matsna (dua). Dan terdapat hadis Shahih dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, bahwa beliau ﷺ bersabda:

خير الناس أكثرهم أزواجاً

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak istrinya.“

Yang dimaksud oleh Ibnu Abbas di sini adalah Nabi ﷺ. Karena beliau ﷺ menikahi 13 wanita, namun yang pernah berjimak dengannya hanya 11 orang. Dan beliau ﷺ ketika wafat meninggalkan 9 orang istri. Maka poligami itu disyariatkan dalam agama kita. Adapun klaim bahwa hadis ini menghilangkan syariat poligami, maka ini adalah kedustaan kepalsuan dan kebatilan. Dan hadis ini perlu dipahami dengan benar.

Syaikh Masyhur juga mengatakan:

Sungguh disesalkan, di sebagian negeri kaum Muslimin saat ini, mereka melarang poligami. Ini adalah kejahatan yang dibuat oleh undang-undang (buatan manusia)! Sebagian dari mereka mengatakan, bahwa poligami ini perkara mubah dan waliyul amr boleh membuat undang-undang yang mengatur perkara mubah! Ini adalah sebuah KEDUSTAAN! Dan tidak boleh bagi waliyul amr untuk berbuat melebihi batas, terhadap perkara yang Allah halalkan dalam syariat. Padahal berselingkuh mereka anggap boleh dalam undang-undang! Sedangkan “selingkuhan” yang berupa istri (selain istri pertama), justru dilarang dan beri hukuman dalam undang-undang! Laa haula walaa quwwata illa billaah! Dan ini merupakan bentuk pemerkosaan dan perlawanan terhadap moral, kemanusiaan dan agama.

Penjelasan Kisah Ali Bin Abi Thalib

Syaikh Masyhur Hasan menjelaskan kerancuan pendalilan dengan kisah Ali bin Abi Thalib tersebut. Beliau mengatakan:

Adapun kisah Ali dan Fathimah radhiallahu’anhuma, Nabi ﷺ tidak melarangnya untuk berpoligami. Keputusan Nabi ﷺ melarang poligami bagi Ali tersebut adalah karena beliau ﷺ sebagai wali bagi Ali, bukan karena hal tersebut disyariatkan. Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh aku tidak mengharamkan yang halal. Tapi demi Allah, tidak akan bersatu putri Rasulullah ﷺ dengan putri dari musuh Allah dalam satu tempat, selama-lamanya“”.

Beliau juga melanjutkan: “Dan dalam kisah ini juga Nabi ﷺ menjelaskan, bahwa yang halal adalah apa yang Allah halalkan, dan yang haram adalah apa yang Allah haramkan. Dan bahwasanya poligami itu halal. Namun beliau ﷺ melarang Ali memilih putrinya Abu Jahal (sebagai istri keduanya).

Sebagaimana diketahui, Abu Jahal Amr bin Hisyam adalah tokoh Quraisy yang sangat keras dan keji perlawanannya terhadap Rasulullah ﷺ.

Syaikh Masyhur menambahkan:

Jawaban lainnya, sebagian ulama mengatakan, bahwa hal tersebut khusus bagi putri Nabi ﷺ. Namun pendapat ini kurang tepat, pendapat pertama lebih kuat. Para ulama yang berpendapat demikian berdalil dengan sabda Nabi ﷺ: “Karena putriku adalah bagian dariku. Apa yang meragukannya, itu membuatku ragu. Apa yang mengganggunya, itu membuatku terganggu“. Dan kata mereka, ini dijadikan oleh Nabi ﷺ untuk melarang Ali berpoligami. Selain itu dikuatkan lagi dengan fakta, bahwa Ali tidak pernah menikah lagi semasa hidupnya, setelah menikah dengan Fathimah. Namun sekali lagi, pendapat yang pertama lebih rajih, karena syariat itu berlaku umum.

Wallahu a’lam.

Sehingga jelaslah bahwa kisah di atas tidak bisa menjadi dalil untuk menolak syariat poligami.

Demikian, semoga yang sedikit ini bermanfaat.

 

***

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/30974

Penyusun: Yulian Purnama

Sumber: https://muslim.or.id/27264-benarkah-rasulullah-melarang-ali-bin-abi-thalib-poligami.html

 

, ,

MENUNTUT ILMU BAGIAN DARI JIHAD

MENUNTUT ILMU BAGIAN DARI JIHAD

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MenuntutIlmuSyari

MENUNTUT ILMU BAGIAN DARI JIHAD

Jihad ternyata bukan hanya dengan berperang mengangkat senjata. Menuntut ilmu agama bisa pula disebut jihad. Bahkan sebagian ulama berkata: bahwa jihad dengan ilmu ini lebih utama daripada dengan senjata. Karena setiap jihad mesti pula didahului dengan ilmu.

Perkataan Ulama: Menuntut Ilmu Bagian dari Jihad

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Menuntut ilmu adalah bagian dari jihad di jalan Allah, karena agama ini bisa terjaga dengan dua hal, yaitu dengan ilmu dan berperang (berjihad) dengan senjata.

Sampai-sampai sebagian ulama berkata: “Sesungguhnya menuntut ilmu lebih utama daripada jihad di jalan Allah dengan pedang.”

Karena menjaga syariat adalah dengan ilmu. Jihad dengan senjata pun harus berbekal ilmu. Tidaklah bisa seseorang berjihad, mengangkat senjata, mengatur strategi, membagi ghonimah (harta rampasan perang), menawan tahanan, melainkan harus dengan ilmu. Ilmu itulah dasar segalanya”. [Syarh Riyadhus Sholihin, 1: 108]

Di halaman yang sama, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, bahwa ilmu yang dipuji di sini adalah ilmu agama yang memelajari Alqurandan As Sunnah.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz pernah ditanya: “Apakah afdhol saat ini untuk berjihad di jalan Allah, ataukah menuntut ilmu (agama), sehingga dapat bermanfaat pada orang banyak, dan dapat menghilangkan kebodohan mereka? Apa hukum jihad bagi orang yang tidak diizinkan oleh kedua orang tuanya, namun ia masih tetap pergi berjihad?”

Jawab beliau:

“Perlu diketahui, bahwa menunut ilmu adalah bagian dari jihad. Menuntut ilmu dan memelajari Islam dihukumi wajib. Jika ada perintah untuk berjihad di jalan Allah dan jihad tersebut merupakan semulia-mulianya amalan, namun tetap menuntut ilmu harus ada. Bahkan menuntut ilmu lebih didahulukan daripada jihad. Karena menuntut ilmu itu wajib. Sedangkan jihad bisa jadi dianjurkan, bisa pula fardhu kifayah. Artinya, jika sebagian sudah melaksanakannya, maka yang lain gugur kewajibannya. Akan tetapi menuntut ilmu adalah suatu keharusan. Jika Allah mudahkan bagi dia untuk berjihad, maka tidaklah masalah. Boleh ia ikut serta, asal dengan izin kedua orang tuanya. Adapun jihad yang wajib saat kaum Muslimin diserang oleh musuh, maka wajib setiap Muslim di negeri tersebut untuk berjihad. Mereka hendaknya menghalangi serangan musuh tersebut. Termasuk pula kaum wanita hendaklah menghalanginya sesuai kemampuan mereka. Adapun jihad untuk menyerang musuh di negeri mereka, jihad seperti ini dihukumi fardhu kifayah bagi setiap pria.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 24: 74)

Dalil Pendukung

Adapun dalil yang mendukung bahwa menuntut ilmu termasuk jihad adalah firman Allah ta’ala:

وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا (51) فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا (52)

“Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri, seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Alquran dengan jihad yang besar” [QS. Al Furqon: 51-52].

Ibnul Qayyim berkata dalam Zaadul Ma’ad:

“Surat ini adalah Makkiyyah (turun sebelum Nabi ﷺ berhijrah, -pen). Di dalam ayat ini berisi perintah berjihad melawan orang kafir dengan hujjah dan bayan (dengan memberi penjelasan atau ilmu, karena saat itu kaum Muslimin belum punya kekuatan berjihad dengan senjata, -pen). … Bahkan berjihad melawan orang munafik itu lebih berat dibanding berjihad melawan orang kafir. Jihad dengan ilmu inilah jihadnya orang-orang yang khusus dari umat ini, yang menjadi pewaris para Rasul.”

Dalam hadis juga menyebutkan, bahwa menuntut ilmu adalah bagian dari jihad. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِى هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ

“Siapa yang mendatangi masjidku (Masjid Nabawi), lantas ia mendatanginya hanya untuk niatan baik, yaitu untuk belajar atau mengajarkan ilmu di sana, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Jika tujuannya tidak seperti itu, maka ia hanyalah seperti orang yang menilik-nilik barang lainnya.” [HR. Ibnu Majah no. 227 dan Ahmad 2: 418, Shahih kata Syaikh Al Albani]

Semoga kita terus semangat berjihad dengan ilmu. Moga Allah beri petunjuk.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/3383-menuntut-ilmu-bagian-dari-jihad.html

, ,

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#StopBidah
#ManhajSalaf

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?
>> Belum ditemukan satu pun riwayat yang Shahih, yang menganjurkan amalan khusus maupun ibadah tertentu ketika Nisfu Syaban, baik berupa puasa atau sholat.
>> Hadis Shahih tentang malam Nisfu Syaban hanya menunjukkan, bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam Nisfu Syaban, tanpa dikaitkan dengan amal tertentu.
>> Karena itu, praktik sebagian kaum Muslimin yang melakukan sholat khusus di malam itu, dan dianggap sebagai sholat malam Nisfu Syaban, adalah anggapan yang TIDAK BENAR.
>> Ulama yang membolehkan memerbanyak amal di malam Nisfu Syaban menegaskan, bahwa TIDAK BOLEH mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri, di malam Nisfu Syaban, karena tidak ada amalan sunah khusus di malam Nisfu Syaban.

Pertanyaan:

Apakah sholat “Nisfu Syaban” itu ada dan sesuai dengan Sunah? Saya sering mendengar adanya pelaksanaan sholat tersebut secara berjamaah, biasanya dalam rangka menyambut Ramadan.

Jawaban:

Keutamaan Malam Nisfu Syaban

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran di malam yang berkah, dan sesungguhnya Kami yang memberi peringatan. Di malam itu diturunkan setiap takdir dari Yang Maha Bijaksana.” (QS. Ad-Dukkhan: 3 – 4).

Diriwayatkan dari Ikrimah – rahimahullah –, bahwa yang dimaksud malam pada ayat di atas adalah malam Nisfu Syaban. Ikrimah mengatakan:

أن هذه الليلة هي ليلة النصف من شعبان ، يبرم فيها أمر السنة

Sesungguhnya malam tersebut adalah malam Nisfu Syaban. Di malam ini Allah menetapkan takdir setahun. (Tafsir Al-Qurtubi, 16/126).

Sementara itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa malam yang disebutkan pada ayat di atas adalah Lailatul Qadar dan BUKAN Nisfu Syaban. Sebagaimana keterangan Ibnu Katsir, setelah menyebutkan ayat di atas, beliau mengatakan:

يقول تعالى مخبراً عن القرآن العظيم أنه أنزله في ليلة مباركة ، وهي ليلة القدر كما قال عز وجل :{ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر} وكان ذلك في شهر رمضان، كما قال: تعالى: { شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزلَ فِيهِ الْقُرْآنُ }

Allah berfirman menceritakan tentang Alquran bahwa Dia menurunkan kitab itu pada malam yang berkah, yaitu Lailatul Qadar. Sebagaimana yang Allah tegaskan di ayat yang lain, (yang artinya): “Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran di Lailatul Qadar.” Dan itu terjadi di bulan Ramadan, sebagaimana yang Allah tegaskan, (yang artinya); “Bulan Ramadan, yang mana di bulan ini diturunkan Alquran.” (Tafsir Ibn Katsir, 7/245).

Selanjutnya Ibnu Katsir menegaskan lebih jauh:

ومن قال : إنها ليلة النصف من شعبان -كما روي عن عكرمة-فقد أبعد النَّجْعَة فإن نص القرآن أنها في رمضان

Karena itu, siapa yang mengatakan: yang dimaksud malam pada ayat di atas adalah malam Nisfu Syaban – sebagaimana riwayat dari Ikrimah – maka itu pendapat yang terlalu jauh, karena nash Alquran dengan tegas bahwa malam itu terjadi di bulan Ramadan. (Tafsir Ibn Katsir, 7/246).

Dengan demikian, pendapat yang kuat tentang malam yang berkah, yang disebutkan pada surat Ad-Dukhan di atas adalah Lailatul Qadar di bulan Ramadan dan BUKAN malam Nisfu Syaban. Karena itu, ayat dalam surat Ad-Dukhan di atas, TIDAK bisa dijadikan dalil untuk menunjukkan keutamaan malam Nisfu Syaban.

Hadis Seputar Nisfu Syaban

Terdapat beberapa hadis yang menunjukkan keutamaan Nisfu Syaban. Ada yang shahih, ada yang dhaif, bahkan ada yang palsu. Berikut beberapa hadis tentang Nisfu Syaban yang tenar di masyarakat;

Pertama:

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Jika datang malam pertengahan bulan Syaban, maka lakukanlah Qiyamul Lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berfirman: ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia, dst…?’ (Allah berfirman tentang hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah, 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman, 3/378)

Keterangan:

Hadis di atas diriwayatkan dari jalur Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, secara marfu’ (sampai kepada Nabi ﷺ).

Hadis dengan redaksi di atas adalah Hadis Maudhu’ (Palsu), karena perawi bernama Ibnu Abi Sabrah statusnya Muttaham Bil Kadzib (Tertuduh berdusta), sebagaimana keterangan Ibnu Hajar dalam At-Taqrib. Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentang Ibnu Abi Sabrah: “Dia adalah perawi yang memalsukan hadis.”[ Lihat Silsilah Dha’ifah, no. 2132]

Kedua:

Riwayat dari A’isyah, bahwa beliau menuturkan:

فقدت النبي صلى الله عليه وسلم فخرجت فإذا هو بالبقيع رافعا رأسه إلى السماء فقال: “أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله” فقلت يا رسول الله ظننت أنك أتيت بعض نسائك فقال: ” إن الله تبارك وتعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب

Aku pernah kehilangan Nabi ﷺ. Kemudian aku keluar, ternyata beliau ﷺ di Baqi, sambil menengadahkan wajah ke langit. Nabi ﷺ bertanya: “Kamu khawatir Allah dan Rasul-Nya akan menipumu?” (maksudnya, Nabi ﷺ tidak memberi jatah Aisyah). Aisyah mengatakan: Wahai Rasulullah, saya hanya menyangka Anda mendatangi istri yang lain. Kemudian Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam Nisfu Syaban, kemudian Dia mengampuni lebih dari jumlah bulu domba Bani Kalb.”

Keterangan:

Hadis ini diriwayatkan At-Turmudzi, Ibn Majah dari jalur Hajjaj bin Arthah dari Yahya bin Abi Katsir dari Urwah bin Zubair dari Aisyah. At-Turmudzi menegaskan: “Saya pernah mendengar Imam Bukhari mendhaifkan hadis ini.” Lebih lanjut, Imam Bukhari menerangkan: “Yahya tidak mendengar dari Urwah, sementara Hajaj tidak mendengar dari Yahya.” (Asna Al-Mathalib, 1/84).

Ibnul Jauzi mengutip perkataan Ad-Daruquthni tentang hadis ini:

“Diriwayatkan dari berbagai jalur, dan sanadnya goncang, tidak kuat.” (Al-Ilal Al-Mutanahiyah, 3/556).

Akan tetapi hadis ini dishahihkan Al-Albani, karena kelemahan dalam hadis ini bukanlah kelemahan yang parah, sementara hadis ini memiliki banyak jalur, sehingga bisa terangkat menjadi Shahih dan diterima. (lihat Silsilah Ahadis Dhaifah, 3/138).

Ketiga:

Hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Syaban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Keterangan:

Hadis ini memiliki banyak jalur, diriwayatkan dari beberapa sahabat, di antaranya Abu Musa, Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al-Khusyani, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhum. Hadis dishahihkan oleh Imam Al-Albani dan dimasukkan dalam Silsilah Ahadis Shahihah, no. 1144. Beliau menilai hadis ini sebagai hadis shahih, karena memiliki banyak jalur dan satu sama saling menguatkan. Meskipun ada juga ulama yang menilai hadis ini sebagai hadis lemah, dan bahkan mereka menyimpulkan semua hadis yang menyebutkan tentang keutamaan Nisfu Syaban sebagai hadis dhaif.

Sikap Ulama Terkait Nisfu Syaban

Berangkat dari perselisihan mereka dalam menilai status keshahihan hadis, para ulama berselisish pendapat tentang keutamaan malam Nisfu Syaban. Setidaknya, ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut ini rinciannya:

  • Pendapat pertama: Tidak Ada Keutamaan Khusus Untuk Malam Nisfu Syaban

Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Syaban adalah hadis lemah. Al-Hafizh Abu Syamah mengatakan: “Al-Hafizh Abul Khithab bin Dihyah, dalam kitabnya tentang bulan Syaban, mengatakan: ‘Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan: ‘TIDAK TERDAPAT SATU PUN hadis Shahih yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Syaban.”” (Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, hlm. 33)

Dalam nukilan yang lain, Ibnu Dihyah mengatakan:

لم يصح في ليلة نصف من شعبان شيء ولا نطق بالصلاة فيها ذو صدق من الرواة وما أحدثه إلا متلاعب بالشريعة المحمدية راغب في زي المجوسية

“TIDAK ADA SATU PUN RIWAYAT YANG SHAHIH TENTANG MALAM NISFU SYABAN, dan para perowi yang jujur tidak menyampaikan adanya sholat khusus di malam ini. Sementara yang terjadi di masyarakat berasal dari mereka yang suka memermainkan syariat Muhammad, dan yang masih mencintai kebiasaan orang Majusi (baca: Syiah). (Asna Al-Mathalib, 1/84)

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz. Beliau MENGINGKARI adanya keutamaan malam Nisfu Syaban. Beliau rahimahullahu ta’ala mengatakan: “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, yang TIDAK BOLEH dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan sholat di malam Nisfu Syaban, semuanya statusnya PALSU, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At-Tahdzir min Al-Bida’, hlm. 11)

  • Pendapat kedua: Ada Keutamaan Khusus Untuk Malam Nisfu Syaban

Para ulama yang menilai shahih beberapa dalil tentang keutamaan Nisfu Syaban, mereka mengimaninya dan menegaskan adanya keutamaan malam tersebut. Di antara hadis pokok yang mereka jadikan landasan adalah hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari;

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Syaban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (H.R. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Di antara jajaran ulama Ahlus Sunah yang memegang pendapat ini adalah Ahli Hadis abad ini, Imam Muhammad Nasiruddin Al-Albani. Bahkan beliau menganggap sikap sebagian orang yang menolak semua hadis tentang malam Nisfu Syaban termasuk tindakan yang gegabah. Setelah menyebutkan salah satu hadis tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, Syaikh Al-Albani mengatakan:

فما نقله الشيخ القاسمي رحمه الله تعالى في ” إصلاح المساجد ” (ص 107) عن أهل التعديل والتجريح أنه ليس في فضل ليلة النصف من شعبان حديث صحيح، فليس مما ينبغي الاعتماد عليه، ولئن كان أحد منهم أطلق مثل هذا القول فإنما أوتي من قبل التسرع وعدم وسع الجهد لتتبع الطرق على هذا النحو الذي بين يديك. والله تعالى هو الموفق

Keterangan yang dinukil oleh Syekh Al-Qosimi –rahimahullah– dalam buku beliau; ‘Ishlah Al-Masajid’ dari beberapa ulama Ahli Hadis, bahwa tidak ada satu pun hadis shahih tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, termasuk keterangan yang tidak layak untuk dijadikan sandaran. Sementara, sikap sebagian ulama yang menegaskan tidak ada keutamaan malam Nisfu Syaban secara mutlak, sesungguhnya dilakukan karena terlalu terburu-buru dan tidak berusaha mencurahkan kemampuan untuk meneliti semua jalur untuk riwayat ini, sebagaimana yang ada di hadapan Anda. Dan hanyalah Allah yang memberi taufiq. (Silsilah Ahadis Shahihah, 3/139)

Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syekhul Islam mengatakan: “… Pendapat yang dipegang mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Mazhab Hanbali adalah meyakini adanya keutamaan malam Nisfu Syaban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para shahabat dan tabi’in ….” (Majmu’ Fatawa, 23/123)

Ibnu Rajab mengatakan: “Terkait malam Nisfu Syaban, dahulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu ….” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 247)

Kesimpulan:

Dari keterangan di atas, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan:

  • Pertama: Malam Nisfu Syaban termasuk malam yang memiliki keutamaan. Hal ini berdasarkan hadis, sebagaimana yang telah disebutkan. Meskipun sebagian ulama menyebut hadis ini hadis yang dhaif, namun, insya Allah yang lebih kuat adalah penilaian Syekh Al-Albani, yaitu bahwa hadis tersebut berstatus sahih.
  • Kedua: Belum ditemukan satu pun riwayat yang shahih, yang menganjurkan amalan khusus maupun ibadah tertentu ketika Nisfu Syaban, baik berupa puasa atau sholat. Hadis shahih tentang malam Nisfu Syaban hanya menunjukkan, bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam Nisfu Syaban, tanpa dikaitkan dengan amal tertentu. Karena itu, praktik sebagian kaum Muslimin yang melakukan sholat khusus di malam itu dan dianggap sebagai sholat malam Nisfu Syaban, adalah anggapan yang TIDAK BENAR.
  • Ketiga: Ulama berselisih pendapat tentang apakah dianjurkan menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan banyak beribadah. Sebagian ulama menganjurkan, seperti sikap beberapa ulama tabi’in yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sebagian yang lain menganggap bahwa mengkhususkan malam Nisfu Syaban untuk beribadah adalah bid’ah.
  • Keempat: Ulama yang membolehkan memerbanyak amal di malam Nisfu Syaban menegaskan, bahwa TIDAK BOLEH mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri, di malam Nisfu Syaban, karena tidak ada amalan sunah khusus di malam Nisfu Syaban. Untuk itu, menurut pendapat ini, seseorang diperbolehkan memerbanyak ibadah secara mutlak, apa pun bentuk ibadah tersebut.

Allahu a’lam

 

Artikel terkait:

https://konsultasisyariah.com/malam-nisfu-syaban-catatan-amal-ditutup/

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

https://konsultasisyariah.com/5541-sholat-nishfu-syaban.html

, ,

KARENA DOA, UTANG JADI KEKAYAAN

KARENA DOA, UTANG JADI KEKAYAAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir #UtangPiutang #PinjamMeminjam #FikihMuamalah

KARENA DOA, UTANG JADI KEKAYAAN

Penulis: Ustadz Sufyan Baswedan

Pertanyaan:

Saya punya utang yang cukup banyak, salah satunya karena usaha yang gagal. Saya tidak berniat sedikit pun untuk lari dari utang. Saya takut kalau suatu saat saya meninggal, namun utang saya belum dilunasi.
Satu-satunya usaha yang sekarang sedang saya jalani ikut bisnis online. Pertimbangannya: sudah ada internet dan komputer.
Usia saya 45 tahun. Tentunya tidak memungkinkan melamar kerja, karena kerja di mana pun pasti usianya dibatasi, maksimal 30 tahunan.
Mau usaha dagang ini butuh modal yang tidak sedikit, dan butuh tempat. Ini juga tidak memungkinkan. Di samping itu tenaga saya juga lemah.
Kira-kira bagaimana solusinya ya Ustadz? Mohon doanya juga agar masalah saya cepat selesai.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam shahihnya, Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Zubeir radhiyallahu anhu, katanya:

“Di hari Perang Jamal, Zubeir sempat memanggilku. Setelah aku berdiri di sampingnya, ia berkata kepadaku: “Hai putraku, yang akan terbunuh hari ini hanyalah orang zalim atau yang terzalimi. Dan kurasa aku akan terbunuh hari ini sebagai pihak yang terzalimi. Akan tetapi beban pikiran terberatku di dunia ini ialah utangku. Apakah menurutmu, utang kita akan menyisakan harta kita walau sedikit?”

“Wahai putraku, jual-lah aset yang kita miliki untuk menutup utang-utangku,” kata Zubeir kepada Abdullah. Zubeir lalu berwasiat kepada anaknya agar sepersembilan hartanya yang tersisa diperuntukkan bagi anak-anak Abdullah, atau cucu-cucunya. Waktu itu ada dua anak Abdullah seusia dengan anak-anak Zubeir. Yakni Khubaib dan Abbad. Zubeir sendiri waktu itu meninggalkan sembilan anak laki-laki dan sembilan anak perempuan.

 

Kata Abdaullah, Zubeir berpesan kepadanya: “Hai putraku, jika engkau tak sanggup melakukan sesuatu demi melunasi utang ini, minta tolonglah kepada tuanku,” kata Zubeir.
“Demi Allah, aku tidak paham apa maksudnya. Maka aku bertanya kepadanya:” kata Abdullah bin Zubeir. “Wahai Ayah, siapakah tuanmu itu?”
“Allah,” jawab Zubeir.
“Sungguh demi Allah, setiap kali aku terhimpit musibah dalam melunasi utang tersebut, aku selalu berkata: “Wahai tuannya Zubeir, lunasilah utang-utangnya”… dan Allah pun melunasinya, kata Abdullah.
Tak lama berselang, Zubeir radhiyallahu ‘anhu terbunuh. Ia tak meninggalkan sekeping Dinar maupun Dirham. Peninggalannya hanyalah dua petak tanah, yang salah satunya ada di Ghabah (Madinah), 11 unit rumah di Madinah, dua unit rumah di Basrah, satu unit di Kufah, dan satu lagi di Mesir. Sedangkan utang-utangnya timbul karena Zubeir sering dititipi uang oleh orang-orang.
“Anggap saja ini sebagai utang, karena aku takut uang ini hilang,” kata Zubeir.
Zubeir tidak pernah menjabat sebagai gubernur maupun pengumpul zakat, atau yang lainnya. Ia hanya mendapat bagian dari perangnya bersama Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, Umar bin Khattab atau Utsman bin Affan radhiyallaahu ‘anhum.
“Maka kuhitung total utang yang ditanggungnya, dan jumlahnya mencapai 2,2 juta Dirham!” Hakim bin Hizam pernah menemui Abdullah bin Zubeir dan bertanya: “Wahai putra saudaraku, berapa utang yang ditanggung saudaraku?”
Ibnu Zubeir merahasiakannya, dan hanya mengatakan “Seratus ribu.”
Hakim berkomentar: “Demi Allah, harta kalian takkan cukup untuk melunasinya menuruntuku.”
“Lantas bagaimana menurutmu jika utang tadi berjumlah 2,2 juta?!” tanya Ibnu Zubeir.
“Kalian takkan sanggup melunasinya. Dan jika kalian memang tidak sanggup, maka minta tolonglah kepadaku,” jawab Hakim.
Abdullah lantas mengumumkan: “Siapa yang pernah mengutangi Zubeir, silakan menemui kami di Ghabah.” Maka datanglah Abdullah bin Ja’far yang dahulu pernah mengutangi Zubeir sebesar 400 ribu Dirham.
Ibnu Ja’far berkata kepada Ibnu Zubeir, “Kalau kau setuju, utang itu untuk kalian saja.”
“Tidak”, jawab Ibnu Zubeir.
“Kalau begitu, biarlah ia utang yang paling akhir dilunasi,” kata Ibnu Ja’far.
“Jangan begitu,” jawab Ibnu Zubeir.
“Kalau begitu, berikan aku sekapling tanah dari yang kalian miliki,” pinta Ibnu Ja’far.
“Baiklah. Kau boleh mengambil kapling dari sini hingga sana,” kata Ibnu Zubeir.
Ibnu Ja’far lantas menjual bagiannya dan mendapat pelunasan atas utangnya. Sedangkan tanah tersebut masih tersisa 4,5 kapling. Ibnu Zubeir lantas menghadap Mu’awiyah yang kala itu sedang bermajelis dengan ‘Amru bin Utsman, Mundzir bin Zubeir, dan Ibnu Zam’ah.
Mu’awiyah bertanya: “Berapa harga yang kau berikan untuk tanah Ghabah?”
“Seratus ribu per kapling,” jawab Ibnu Zubeir.
“Berapa kapling yang tersisa?” tanya Mu’awiyah.
“Empat setengah kapling,” jawab Ibnu Zubeir.
‘Amru bin Utsman berkata: “Aku membeli satu kapling seharga seratus ribu.” Sedangkan Mundzir bin Zubeir dan Ibnu Zam’ah juga mengatakan yang sama. Mu’awiyah bertanya: “Berapa kapling yang tersisa?”
“Satu setengah kapling” jawab Ibnu Zubeir.
“Kubeli seharga 150 ribu,” kata Mu’awiyah.

Sebelumnya, Abdullah bin Ja’far menjual kaplingnya kepada Mu’awiyah seharga 600 ribu Dirham. Dan setelah Ibnu Zubeir selesai melunasi utang ayahnya. Datanglah anak-anak Zubeir kepadanya untuk minta jatah warisan. Tapi kata Ibnu Zubeir, “Tidak, demi Allah. Aku takkan membaginya kepada kalian, sampai kuumumkan selama empat tahun di musim haji, bahwa siapa saja yang pernah mengutangi Zubeir, hendaklah mendatangi kami agar kami lunasi.” Maka Ibnu Zubeir pun mengumumkannya selama empat tahun.

Setelah berlalu empat tahun, barulah Ibnu Zubeir membagi sisa warisannya. Ketika itu, Zubeir meninggalkan empat istri, dan setelah dikurangi sepertiganya, masing-masing istrinya mendapatkan 1,2 juta. Dan setelah ditotal, nilai total harta peninggalannya mencapai 50,2 juta! [HR. Bukhari No. 3129]

Sungguh luar biasa memang pengaruh doa. Tak hanya menolak musibah dan meringankan bencana. Namun doa membalik itu semua menjadi karunia yang tak terhingga. Walau secara matematis jumlah hartanya takkan cukup untuk melunasi 10% dari utangnya, tapi lewat doa, itu semua teratasi. Kalaulah Zubeir mengajarkan doa tersebut kepada putranya, doa apa kiranya yang harus kita baca agar bebas dari lilitan utang?

Dalam Sahih Muslim disebutkan, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita membaca doa berikut setiap hendak tidur:

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ مُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ أَنْتَ الْأَوَّلُ لَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ لَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ لَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ لَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنْ الْفَقْرِ

Allahumma robbas-samaawaatis sab’i wa robbal ‘arsyil ‘azhiim, robbanaa wa robba kulli syai-in, faaliqol habbi wan-nawaa wa munzilat-tawrooti wal injiil wal furqoon. A’udzu bika min syarri kulli syai-in anta aakhidzum binaa-shiyatih. Allahumma antal awwalu falaysa qoblaka syai-un wa antal aakhiru falaysa ba’daka syai-un, wa antazh zhoohiru fa laysa fawqoka syai-un, wa antal baathinu falaysa duunaka syai-un, iqdhi ‘annad-dainaa wa aghninaa minal faqri.

Artinya:

“Ya Allah, Rabb yang menguasai langit yang tujuh, Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Alquran). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya (semua makhluk atas kuasa Allah). Ya Allah, Engkau-lah yang awal, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang terakhir, setelah-Mu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang lahir, tidak ada sesuatu di atas-Mu. Engkau-lah yang batin, tidak ada sesuatu yang luput dari-Mu. Lunasilah utang kami, dan berilah kami kekayaan (kecukupan), hingga terlepas dari kefakiran.” [HR. Muslim no. 2713]

Tulisan di atas merupakan artikel yang ditulis oleh Ustadz Sufyan Fuad Baswedan, M.A. yang diterbitkan oleh Majalah Pengusaha Muslim edisi 33. Secara khusus, Ustadz Sufyan Fuad Baswedan, M.A. merupakan kolumnis Majalah Pengusaha Muslim untuk rubrik adab dan doa. Ada banyak hal baru yang bisa kita dapatkan dari tulisan beliau. Sederhana, namun sarat makna.

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/15787-karena-doa-utang-jadi-kekayaan.html

, ,

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihJualBeli
#AdabAkhlak

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Islam tidak pernah menyia-nyiakan amal hamba. Sampai pun sekadar memberikan bantuan yang ringan bagi orang lain. Termasuk memberikan utang kepada orang lain, yang itu pasti dikembalikan. Padahal kita tahu, dalam memberikan utang untuk tempo pendek, tidak ada harta kita yang berkurang, selain karena pengaruh propaganda orang kafir, penurunan nilai mata uang (time value of money).

Namun umumnya orang yang memberi utang, merasa cemas ketika uangnya yang berada di tangan orang lain. Dan Allah yang Maha Pemurah tidak menyia-nyiakan kebaikan hamba, sekalipun yang dia koribuankan hanya perasaaan dan kecemasan, karena menyerahkan uang kepada orang lain. Allah gantikan ini dengan pahala.

Dalam hadis, dari Ibn Mas’ud, Nabi ﷺ bersabda:

كل قرض صدقة

“Setiap mengutangi orang lain adalah sedekah.” [HR. Thabrani dengan sanad Hasan, al-Baihaqi, dan dishahihkan al-Albani]

Kemudian, dari Abu Umamah, Nabi ﷺ bersabda: “Ada seseorang yang masuk Surga, kemudian dia melihat ada tulisan di pintunya:

الصدقة بعشر أمثالها والقرض بثمانية عشر

“Sedekah itu nilainya sepuluh kalinya, dan utang nilainya 18 kali.” [HR. Thabrani, al-Baihaqi dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib]

Juga dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَقْرَضَ اللَّهَ مَرَّتَيْنِ، كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ أحدهما لو تصدق به

Siapa yang memberi utang dua kali karena Allah, maka dia mendapat pahala seperti sedekah dengannya sekali. [HR. Ibnu Hibban 5040 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth].

Terlebih lagi ketika orang yang berutang mengalami kesulitan, kemudian dia memberikan penundaan pembayaran. Rasulullah ﷺ janjikan pahala yang besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ، أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ

Barang siapa yang memberi waktu tunda pelunasan bagi orang yang kesusahan membayar utang atau membebaskannya, maka Allah akan menaunginya dalam naungan (Arsy)-Nya pada hari Kiamat, yang tidak ada naungan selain naungan (Arsy)-Nya. [HR. Ahmad, 2/359, Muslim 3006,  dan Turmudzi 1306, dan dishahihkan al-Albani].

Beberapa Aturan dalam Menagih Utang

Islam memberikan aturan dalam masalah utang-piutang, agar orang yang memberikan utang (kreditur) tidak terjebak dalam kesalahan dan dosa besar, yang akan membuat amalnya sia-sia. Dosa itu adalah dosa riba dan kezaliman. Karena umumnya riba dan tindakan kezaliman, terjadi dalam masalah utang piutang.

Kaidah Pertama

Islam menyarankan agar dilakukan pencatatan dalam transaksi utang piutang. Terlebih ketika tingkat kepercayaanya kurang sempurna. Semua ini dalam rangka menghendari sengketa di belakang. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. [QS. al-Baqarah: 282]

Dalam tafsir as-Sa’di dinyatakan:

الأمر بكتابة جميع عقود المداينات إما وجوبا وإما استحبابا لشدة الحاجة إلى كتابتها، لأنها بدون الكتابة يدخلها من الغلط والنسيان والمنازعة والمشاجرة شر عظيم

Perintah untuk mencatat semua transaksi utang piutang, bisa hukumnya wajib, dan bisa hukumnya sunah. Mengingat beratnya kebutuhan untuk mencatatnya. Karena jika tanpa dicatat, rentan tercampur dengan bahaya besar, kesalahan, lupa, sengketa dan pertikaian. [Tafsir as-Sa’di, hlm. 118].

Kaidah Kedua

Allah memerintahkan kepada orang yang memberikan utang, agar memberi penundaan waktu pembayaran, ketika orang yang berutang mengalami kesulitan pelunasan.

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan  menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu  mengetahui. [QS. al-Baqarah: 280]

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan:

يأمر تعالى بالصبر على المعسر الذي لا يجد وفاء، فقال: { وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَة } لا كما كان أهل الجاهلية يقول أحدهم لمدينه إذا حل عليه الدين: إما أن تقضي وإما أن تربي ثم يندب إلى الوضع عنه، ويعد على ذلك الخير والثواب الجزيل

Allah perintahkan kepada orang yang memberi utang untuk bersabar terhadap orang yang kesulitan, yang tidak mampu melunasi utangnya. ”Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.” Tidak seperti tradisi jahiliyah, mereka mengancam orang yang berutang kepadanya, ketika jatuh tempo pelunasan telah habis: ’Kamu lunasi utang, atau ada tambahan pembayaran (riba).’ Kemudian Allah menganjurkan untuk menggugurkan utangnya, dan Allah menjanjikan kebaikan dan pahala yang besar baginya [Tafsir Ibnu Katsir, 1/717].

Rasulullah ﷺ menjanjikan baginya pahala sedekah selama masa penundaan. Beliau ﷺ bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا كَانَ لَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ، وَمَنْ أَنْظَرَهُ بَعْدَ حِلِّهِ كَانَ لَهُ مِثْلُهُ، فِي كُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ

Siapa yang memberi tunda orang yang kesulitan, maka dia mendapatkan pahala sedekah setiap harinya. Dan siapa yang memberi tunda kepadanya setelah jatuh tempo, maka dia mendapat pahala sedekah seperti utang yang diberikan setiap harinya. [HR. Ahmad 23046, Ibnu Majah 2418 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth].

Kaidah Ketiga

Memberikan utang termasuk transaksi sosial, amal saleh yang berpahala. Karena itu, orang yang memberi utang dilarang mengambil keuntungan karena utang yang diberikan, apapun bentuknya, selama utang belum dilunasi.

Sahabat Fudhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu mengatakan:

كل قرض جر منفعة فهو ربا

“Setiap piutang yang memberikan keuntungan, maka (keuntungan) itu adalah riba.”

Keuntungan yang dimaksud dalam riwayat di atas mencakup semua bentuk keuntungan, bahkan sampai bentuk keuntungan pelayanan. Dari Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ، أَوْ حِمْلَ قَتٍّ، فَلاَ تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا

“Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas kepadamu dengan membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak, maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” [HR. Bukhari 3814].

Kemudian, diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

إذا أقرض أحدكم قرضا فأهدى له أو حمله على الدابة فلا يركبها ولا يقبله

“Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi, atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya.” [HR. Ibnu Majah 2432]

Keempat

Terkait nilai penurunan mata uang

Orang yang memberi utang, hendaknya siap menerima risiko penurunan nilai mata uang. Karena ulama sepakat, orang yang memberi utang hanya berhak meminta pengembalian sebesar uang yang dia berikan, tanpa memerhatikan keadaan penurunan nilai mata uang.

Dalam Mursyid al-Hairan – kitab mumalah Madzhab Hanafi – dinyatakan:

وإن استقرض شيئا من المكيلات والموزونات والمسكوكات من الذهب والفضة فرخصت أسعارها أو غلت فعليه رد مثلها ولا عبرة برخصها أو غلائها

Apabila orang berutang sesuatu berupa barang yang ditakar, atau ditimbang atau emas perak yang dicetak, kemudian harganya mengalami penurunan atau kenaikan, maka dia wajib mengembalikan utangnya sama seperti yang dia pinjam. Tanpa memerhitungkan penurunan maupun kenaikan harga. [Mursyid al-Hairan ila Ma’rifah Ahwalil Insan fil Muamalat ’ala Madzhabi Abu hanifah an-Nu’man, keterangan no. 805].

Ibnu Abidin mengatakan semisal:

إنه لا يلزم لمن وجب له نوعٌ منها سواه بالإجماع

Tidak ada kewajiban bagi orang yang memiliki utang selain yang sama dengannya, dengan sepakat ulama. [Tanbih ar-Ruqud ’ala Masail an-Nuqud, hlm. 64]

Demikian keterangan dalam Madzhab Hanafi. Keterangan yang sama juga disampaikan dalam Madzhab Syafiiyah.

As-Syairazi mengatakan:

ويجب على المستقرِض ردُّ المثل فيما له مثل؛ لأن مقتضى القرض: رد المثل

Wajib bagi orang yang berutang untuk mengembalikan yang semisal, untuk harta yang ada padanannya. Karena konsekuensi utang adalah mengembalikan dengan yang semisal. [al-Muhadzab, 2/81].

Kemudian, keterangan dalam Madzhab Hambali, kita simpulkan dari penjelasan Ibnu Qudamah:

 

الْمُسْتَقْرِضَ يَرُدُّ الْمِثْلَ فِي الْمِثْلِيَّاتِ، سَوَاءٌ رَخُصَ سِعْرُهُ أَوْ غَلَا، أَوْ كَانَ بِحَالِهِ

Orang yang berutang wajib mengembalikan yang semisal, untuk barang yang memiliki padanan. Baik harganya turun maupun naik atau sesuai keadaan awal. [al-Mughni, 4/244].

Di tempat lain, beliau mengatakan, bahwa itu sepakat ulama:

ويجب رد المثل في المكيل والموزون. لا نعلم فيه خلافا. قال ابن المنذر: أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم، على أن من أسلف سلفا، مما يجوز أن يسلف، فرد عليه مثله، أن ذلك جائز وأن للمسلف أخذ ذلك

Wajib mengembalikan yang semisal untuk barang yang ditakar maupun ditimbang. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini.

Ibnul Mundzir mengatakan:

”Semua ulama yang kami ketahui, mereka sepakat, bahwa orang yang berutang sesuatu yang halal, kemudian dia mengembalikan dengan semisal, maka hukumnya boleh dan bagi pemberi utang, bisa menerimanya.” [al-Mughni, 4/239].

Kelima

Apabila uang yang dulu tidak berlaku

Utang dengan uang masa silam, kemudian masyarakat tidak lagi memberlakukannya, dengan apapun sebabnya, maka yang wajib dilakukan adalah mengembalikan dengan mata uang yang senilai dengan mata uang yang tidak berlaku itu, atau dengan emas atau perak. Karena untuk mengembalikan yang semisal (al-Mitsl) tidak memungkinkan, sehingga dikembalikan dalam bentuk nilai (al-Qimah).

Ibnu Qudamah mengatakan:

وَإِنْ كَانَ الْقَرْضُ فُلُوسًا أو مكسرة فَحَرَّمَهَا السُّلْطَانُ، وَتُرِكَتْ الْمُعَامَلَةُ بِهَا، كَانَ لِلْمُقْرِضِ قِيمَتُهَا، وَلَمْ يَلْزَمْهُ قَبُولُهَا، سَوَاءٌ كَانَتْ قَائِمَةً فِي يَدِهِ أَوْ اسْتَهْلَكَهَا ؛ لِأَنَّهَا تَعَيَّبَتْ فِي مِلْكِهِ

Apabila utang dalam bentuk uang kertas atau uang logam, kemudian pemerintah menariknya dan tidak lagi menggunakan jenis uang ini, maka orang mengutangi berhak mendapat uang yang senilai. Dan dia tidak harus menerima uang kuno itu, baik uang yang diutangkan itu masih ada di tangan, maupun sudah rusak. Karena tidak memungkinkan untuk memilikinya. [al-Mughni, 4/244].

Kemudian beliau menegaskan:

يقومها كم تساوي يوم أخذها؟ ثم يعطيه، وسواء نقصت قيمتها قليلا أو كثيرا

Dia tentukan berapa nilai uang ketika dia mengambilnya. Kemudian dia berikan uang itu. Baik nilainya turun sedikit maupun banyak. [al-Mughni, 4/244].

Sebagai ilustrasi, pada 1991 si A memberi utang 50 ribu bergambar Presiden Oribua. Pada 2011 si B melunasi dengan uang 50 ribu bergambar I Gusti Ngurah Rai. Karena uang kuno, tidak berlaku. Meskipun nilai 50 ribu dari 1991 hingga 2011 mengalami penurunan yang sangat tajam.

Keenam

Pembayaran utang dalam bentuk yang lain

Dibolehkan menerima pembayaran utang dalam bentuk yang lain, misalnya utang uang dibayar emas, atau utang Rupiah dibayar Dollar, atau semacamnya dengan syarat:

 

  • Kesepakatan beda jenis pembayaran ini tidak dilakukan pada saat utang, namun baru disepakati pada saat pelunasan.
  • Menggunakan standar harga waktu pelunasan, dan bukan harga waktu utang.

[Fatwa Dar al-Ifta’ Yordan: http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2032#.VAfLYdeSz6d]

Keterangan di atas, berdasarkan keputusan Majma’ al-Fiqhi al-Islami no. 75 (6/7], yang menyatakan:

 يجوز أن يتفق الدائن والمدين يوم السداد – لا قبله – على أداء الدين بعملة مغايرة لعملة الدين، إذا كان ذلك بسعر صرفها يوم السداد

 Boleh dilakukan kesepakatan antara kreditur dan debitur pada waktu pelunasan – bukan pada waktu sebelumnya – untuk pelunasan utang dengan mata uang yang beribueda dengan mata uang ketika utang. Jika standar harga sesuai harga tukar uang itu, waktu pelunasan.

Dalil bolehnya hal ini adalah hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau menjual onta di Baqi’ dengan Dinar, dan mengambil pembayarannya dengan Dirham. Kemudian beliau mengatakan:

 أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: إِنِّي أَبِيعُ الْإِبِلَ بِالْبَقِيعِ بِالدَّنَانِيرِ وَآخُذُ الدَّرَاهِمَ، قَالَ: «لَا بَأْسَ أَنْ تَأْخُذَ بِسِعْرِ يَوْمِهَا مَا لَمْ تَفْتَرِقَا، وَبَيْنَكُمَا شَيْءٌ»

 Aku mendatangi Nabi ﷺ dan kusampaikan: ”Saya menjual onta di Baqi’ dengan Dinar secara kredit dan aku menerima pembayarannya dengan Dirham. Beliau ﷺ bersabda:

”Tidak masalah kamu mengambil dengan harga hari pembayaran, selama kalian tidak berpisah, sementara masih ada urusan jual beli yang belum selesai.” [HR. Ahmad 5555, Nasai 4582, Abu Daud 3354, dan yang lainnya].

Sebagai ilustrasi:

Misal, pada 1991 harga emas 25 ribu/gr. Tahun 2014 harga emas 400 ribu/gr. Pada 1991, uang Rp 1 juta mendapat 40 gr emas, sedangkan pada 2014, hanya mendapat 2,5 gr.

Pada 1991 si A utang 1 juta ke si B. Selanjutnya mereka berpisah lama. Tahun 2014, mereka ketemu dan si B meminta utang si A dilunasi dengan emas. Ada beberapa kasus di sini:

  • Poin A: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan 40 gr emas.
  • Poin B: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan uang senilai 40 gr emas, sekitar 16 juta.
  • Poin C: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan 2,5 gr emas.
  • Poin D: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan uang senilai 2,5 gr emas, sehingga nilainya tetap 1 juta.

Dari keempat kasus di atas, untuk kasus Poin A dan Poin B statusnya TERLARANG, karena termasuk riba dalam utang piutang. Dan ini tidak memenuhi syarat kedua seperti yang disebutkan dalam fatwa di atas, meskipun pada 1991, mereka tidak pernah melakukan kesepakatan ini.

Sementara kasus Poin C dan Poin D ini yang BENAR, memenuhi kedua syarat yang disebutkan dalam fatwa di atas.

Secara sederhana, si B mengalami kerugian, karena nilai 1 juta dulu dan sekarang jauh berbeda. Namun sekali lagi, inilah konsekuensi utang piutang. Pemberi utang mendapatkan pahala, karena membantu orang lain. Di sisi lain, dia harus siap dengan konsekuensi penurunan nilai mata uang.

Ketujuh

Kelebihan dalam pelunasan utang

Dibolehkan adanya kelebihan dalam pelunasan utang dengan syarat:

  1. Tidak ada kesepakatan di awal
  2. Dilakukan murni atas inisiatif orang yang berutang
  3. Bukan tradisi masyarakat setempat

Dalilnya hadis dari Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan:

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم اسْتَسْلَفَ من رَجُلٍ بَكْرًا، فَقَدِمَتْ عليه إِبِلٌ من إِبِلِ الصَّدَقَةِ، فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِيَ الرَّجُلَ بَكْرَهُ، فَرَجَعَ إليه أبو رَافِعٍ، فقال: لم أَجِدْ فيها إلا خِيَارًا رَبَاعِيًا، فقال: أَعْطِهِ إِيَّاهُ إِنَّ خِيَارَ الناس أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً

 Pada suatu saat Rasulullah ﷺ berutang seekor anak unta dari seseorang. Lalu datanglah kepada Nabi ﷺ unta-unta zakat. Maka beliau ﷺ memerintahkan Abu Raafi’ untuk mengganti anak unta yang beliau ﷺ utang dari orang tersebut. Tak selang beberapa saat, Abu Raafi’ kembali menemui beliau ﷺ dan berkata: “Aku hanya mendapatkan unta yang telah genap berumur  enam tahun.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: “Berikanlah unta itu kepadanya, karena sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik pada saat melunasi piutangnya.” [Muttafaqun ‘alaih]

Akan tetapi, jika keberadaan tambahan ini diberikan karena ada kesepakatan di awal, atau permintaan pihak yang mengutangi (kreditor), atau karena masyarakat setempat memiliki kebiasaan bahwa setiap utang harus bayar lebih, maka tambahan semacam ini terhitung riba.

Demikian beberapa kaidah terkait penagihan utang. Semoga Allah menjadikan kita Muslim yang selalu menyesuaikan diri dengan aturan syariat.

 

Sumber:

http://pengusahamuslim.com/4201-7-kaidah-dalam-menagih-utang-bagian-01.html

http://pengusahamuslim.com/4205-7-kaidah-dalam-menagih-utang-bagian-02-selesai.html