Posts

,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com
,

MUKJIZAT NABI SEPUTAR DEMAM

MUKJIZAT-NABI-SEPUTAR-DEMAM

#DakwahTauhid

MUKJIZAT NABI SEPUTAR DEMAM

Rasulullah ﷺ bersabda:

( إن الحمى من فيح جهنم فأبردوها بالماء ) رواه البخاري

”Sesungguhnya penyakit demam (panas) adalah berasal dari panas Neraka Jahanam. Karena itu dinginkanlah (kompres) dengan air.”(HR. Imam al-Bukhari rahimahullah)

Dan sabda beliau ﷺ, ketika disebutkan kata demam di hadapan beliau ﷺ dan ada seseorang laki-laki yang mencelanya:

( لا تسبها فإنها تنقى الذنوب كما تنقى النار خبث الحديد ) رواه مسلم

”Jangalah engkau mencelanya (demam), karena sesungguhnya ia membersikan dosa, sebagaimana api membersikan kotoran dari besi.”(HR. Muslim)

[Telah terbukti bahwa ketika seseorang menderita demam dengan suhu panas yang sangat tinggi hingga sampai 41 derajat Celcius, dan itu yang telah disifati oleh Rasulullah ﷺ sebagai luapan (hembusan) dari Neraka Jahanam. Hal itu dapat menyebabkan gejolak dan penurunan kondisi rubuh, kemudian koma dan terkadang dapat menyebabkan kematian.

Oleh karena itu merupakan suatu keharusan untuk mengurangi panas yang membara di dalam tubuh sesegera mungkin, sehingga pusat pengaturan panas di otak dan menjadi teratur kembali. Dan tidak ada cara lain untuk menurunkan panas tersebut selain dengan mengompres pasien dengan air, atau air dingin dan es, yang mana ketika panas tubuh turun, kembalilah kondisi tubuh seperti kondisi semula, setelah pusat pengaturan panas di otak menjadi normal. Dan panas ini bisa dikurangi dengan cara yang berbeda beda, baik dengan cara penguapan, penyinaran dan lain-lain.

Oleh sebab itu, dahulu Rasulullah ﷺ, apabila merasakan demam (panas), beliau ﷺ meminta untuk diambilkan bejana berisi air, lalu beliau ﷺ siramkan ke kepala beliau ﷺ dan beliau ﷺ mandi dari air tersebut. Dan ketika demam mengharuskan seseorang untuk menjaga diri dari mengonsumsi makanan yang buruk, dan mengharuskan dia mengonsumsi makanan dan obat yang bermanfaat. Dan hal ini membantu untuk membersihkan badan dari unsur-unsur yang jelek yang bekerja dalam tubuh, sebagaimana yang dilakukan terhadap besi, ketika menghilangkan kotoran-kotorannya (dengan api), dan untuk memurnikan kandungan inti besinya.

Dan telah terbukti secara ilmiah, bahwa saat demam, kadar zat interferon meningkat dengan persentase yang besar. Sebagaimana terbukti pula, bahwa zat yang diproduksi oleh sel darah putih ini dapat mematikan virus yang menyerang tubuh, dan menjadikan tubuh lebih mampu untuk membentuk antibodi yang melindungi tubuh (dari penyakit). Selain itu telah terbukti, bahwa zat interferon yang keluar dalam jumlah yang berlimpah selama demam, tidak hanya membersihkan tubuh dari virus dan bakteri saja, akan tetapi ia meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit dan (meningkatkan) kemampuannya untuk membasmi sel-sel kanker sejak awal sebelum kemunculannya. Yang pada akhirnya, hal tersebut melindungi tubuh dari munculnya (tumbuhnya) sel-sel kanker yang dapat menyebabkan penyakit kanker.

Oleh sebab itu, beberapa dokter berkata, bahwa kita merasa senang dengan adanya demam pada kebanyakan penyakit, sebagaimana seorang pasien merasa senang dengan kesembuhannya. Maka jadilah demam dalam penyakit tersebut lebih bermanfaat daripada minum obat.

Dan dari sini kita mengetahui hikmah, ketika Rasulullah ﷺ menolak untuk menghina demam dan bahkan beliau ﷺ memujinya, dengan menyifatinya sebagai pembersih dosa, sebagaimana api memurnikan besi dari kerak/kotorannya, sesuai dengan apa ang diisyaratkan oleh hadis yang menjadi pembahasan kita.

 

(Sumber: “Keajaiban Ilmiah dalam Islam dan Sunnah Nabi” oleh Muhammad Kamil ‘Abdushshamad dari http://www.eajaz.com/agaz%20snaah/.htm . Diterjemahkan dan diposting oleh Abu Yusuf Sujono)

https://alsofwah.or.id/cetakmujizat.php?id=199

 

JIKA ADA DUA SRIGALA

JIKA ADA DUA SRIGALA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

JIKA ADA DUA SRIGALA

Abu Fairuz Ahmad Ridwan

Bagaikan kanker stadium empat yang menggerogoti tubuh pasien dan membinasakannya, demikian pulalah dengan ambisi mengejar dunia dan jabatan, akan segera menggerongoti agama seseorang dan kemudian membinasakannya.

Nabi ﷺ mengumpamakan cepatnya binasa agama seseorang disebabkan ambisi terhadap harta dan jabatan, bagaikan sekawanan domba di tengah padang, yang porak poranda tercabik-cabik, hanya disebabkan masuknya dua ekor srigala. Beliau ﷺ bersabda dari jalur Ka’ab bin Malik:

 ((ما ذئبان جائعان أُرسِلا في غنَمٍ، بأفسَدَ لها من حِرص المرء على المالِ والشرف لدينه)).

Tidaklah kerusakan yang ditimbulkan dua srigala terhadap kawanan domba itu lebih dahsyat dibandingkan kerusakan agama seseorang, disebabkan oleh ambisinya terhadap harta dan jabatan (Hr. Tirmidzi,Ibnu Hibban, Ahmad dll dan disahihkan Al Albani).

Semakin kuat ambisinya untuk meraih dunia dan jabatan, maka semakin cepat pula binasa agamanya. Naudzubillah min dzalik.

Penulis: Al-Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan hafizhahullah

Instagram, Twitter & Telegram Channel: @JakartaMengaji

Sumber: https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/655999327914162/?type=3&theater

, ,

HUKUM MEMAKAN KURAS (BAWANG DAUN), BAWANG PUTIH ATAU BAWANG MERAH DAN DATANG KE MASJID

HUKUM MEMAKAN KURAS (BAWANG DAUN), BAWANG PUTIH ATAU BAWANG MERAH DAN DATANG KE MASJID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

HUKUM MEMAKAN KURAS (BAWANG DAUN), BAWANG PUTIH ATAU BAWANG MERAH DAN DATANG KE MASJID

Pertanyaan:

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya: Telah diriwayatkan dalam hadis Shahih, larangan terhadap orang yang makan bawang merah, bawang putih, atau kuras (bawang daun) lalu pergi ke masjid. Apakah dapat ditambahkan pada hal-hal tersebut sesuatu yang memunyai bau busuk dan haram seperti rokok? Dan apakah hal itu berarti bahwa orang yang telah makan hal-hal tersebut diberi kelonggaran untuk meninggalkan sholat berjamaah, sehingga ia tidak berdosa bila meninggalkannya?

Jawaban:

Telah diriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda:

“Artinya: Barang siapa makan bawang putih atau bawang merah, maka janganlah ia mendekati masjid kami dan hendaklah ia sholat di rumahnya” [Al-Bukhari, kitab Al-Adzan 855, Muslim, kitab Al-Masajid 73, 564]

Dan telah diriwayatkan pula dari beliau bahwasanya beliau bersabda:

“Artinya: Sesungguhnya para malaikat itu juga terganggu dengan apa-apa yang mengganggu manusia” [Al-Bukhari, kitab Al-Adzan 854, Muslim, kitab Al-Masajid 564]

Semua yang beraroma busuk, hukumnya sama dengan hukum bawang putih dan bawang merah, seperti menghisap rokok, juga orang yang ketiaknya bau atau lainnya, yang mengganggu orang lain yang di dekatnya, maka ia dimakruhkan untuk sholat berjamaah, sampai ia mengggunakan sesuatu yang dapat menghilangkan bau tersebut. Yang wajib baginya ialah melakukan hal itu (meghilangkan baunya) semaksimal mungkin, agar ia dapat melakukan sholat berjamaah sesuai yang diwajibkan oleh Allah.

Adapun merokok, maka hal itu HARAM SECARA MUTLAK, wajib untuk ditinggalkan setiap saat, karena bisa membahayakan terhadap agama, badan dan harta. Semoga Allah memerbaiki kondisi kaum Muslimin, dan memberi petunjuk kepada mereka untuk kebaikan.

[Fatawa MuhimmahTataallaqu Bish Shalah, hal. 61-62]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Penerjmah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/1511-hukum-memakan-bawang-putih-bawang-merah-sebelum-sholat-berjamaah-di-masjid.html

 

 

, ,

MENGAPA TIDAK ADA DALIL KHUSUS YANG MELARANG ROKOK?

MENGAPA TIDAK ADA DALIL KHUSUS YANG MELARANG ROKOK?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

MENGAPA TIDAK ADA DALIL KHUSUS YANG MELARANG ROKOK?

Bagi Yang Masih Bingung Tentang Hukum Rokok dalam Islam
Tembakau yang merupakan bahan baku rokok telah dikenal oleh umat Islam pada akhir abad ke-10 Hijriyah, yang dibawa oleh para pedagang Spanyol. Semenjak itulah kaum muslimin mulai mengenal rokok. Sebagian kalangan berpendapat, bahwa merokok hukumnya boleh.

Mereka berdalil bahwa segala sesuatu hukum asalnya mubah, kecuali terdapat dalil yang melarangnya, berdasarkan firman Allah:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dia-lah Allah, yang telah menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (QS. Al Baqarah: 29).

Ayat di atas menjelaskan, bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah di atas bumi ini halal untuk manusia, termasuk tembakau yang digunakan untuk bahan baku rokok.

Sanggahan:

Berdalil dengan ayat ini tidak kuat, karena segala sesuatu yang diciptakan Allah hukumnya halal, bila tidak mengandung hal-hal yang merusak dan membahayakan tubuh.

Sementara rokok mengandung ribuan racun yang secara kedokteran telah terbukti merusak dan membahayakan kesehatan. Bahkan membunuh penggunanya secara perlahan, padahal Allah telah berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisaa: 29).

Lebih dari itu, mengapa tidak ada dalil khusus yang melarang rokok?

Karena rokok baru ada 500 tahun yang lalu, dan tidak dikenal di masa Rasulullah ﷺ, para sahabat, tabiin, tabi’ tabiin, maupun ulama penulis hadis setelahnya. Bagaimana mungkin akan dicari dalil khusus yang melarang rokok?

Sebagian kalangan yang lain berpendapat, bahwa merokok hukumnya makruh, karena orang yang merokok mengeluarkan bau tidak sedap. Hukum ini diqiyaskan dengan memakan bawang putih mentah yang mengeluarkan bau yang tidak sedap. Sebagaimana ditunjukkan dalam sabda Nabi ﷺ:

من أكل البصل والثوم والكراث فلا يقربن مسجدنا، فإن الملائكة تتأذى مما يتأذى منه بنو آدم

“Barang siapa yang memakan bawang merah, bawang putih (mentah) dan karats, maka janganlah dia menghampiri masjid kami, karena para malaikat terganggu dengan hal yang mengganggu manusia (yaitu: bau tidak sedap).” (HR. Muslim).

Sanggahan:

Analogi ini SANGAT TIDAK KUAT, karena dampak negatif dari rokok bukan hanya sekedar bau tidak sedap. Lebih dari itu, rokok menyebabkan berbagai penyakit berbahaya, di antaranya kanker paru-paru. Mengingat keterbatasan ulama masa silam dalam memahami dampak kesehatan ketika morokok, mereka hanya melihat bagian luar yang nampak saja. Itulah bau rokok dan bau mulut perokok. Jelas ini adalah tinjauan yang sangat terbatas.

Sebagian ulama yang lain berpendapat, bahwa merokok hukumnya haram. Pendapat ini ditegaskan oleh Qalyubi (Ulama Mazhab Syafi’i, wafat: 1069 H). Dalam kitab Hasyiyah Qalyubi ala Syarh al-Mahalli (jilid I, Hal. 69), beliau mengatakan: “Ganja dan segala obat bius yang menghilangkan akal, zatnya suci, sekalipun haram untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, para ulama kami berpendapat, bahwa rokok hukumnya juga haram, karena rokok dapat membuka jalan agar tubuh terjangkit berbagai penyakit berbahaya”.

Ibnu Allan (ulama Madzhab Syafi’i, wafat: 1057H), as-Sanhury (Mufti Mazhab Maliki di Mesir, wafat 1015 H), al-Buhuty (Ulama Mazhab Hanbali, wafat: 1051 H), as-Surunbulaly (Ulama Madzhab Hanafi, wafat: 1069 H) juga menfatwakan haram hukumnya merokok.

Merokok juga pernah dilarang oleh penguasa khilafah Utsmani pada abad ke-12 Hijriyah dan orang yang merokok dikenakan sanksi, serta rokok yang beredar disita pemerintah, lalu dimusnahkan.

Para ulama menegaskan haramnya merokok berdasarkan kesepakatan para dokter di masa itu, yang menyatakan bahwa rokok sangat berbahaya terhadap kesehatan tubuh. Ia dapat merusak jantung, penyebab batuk kronis, memersempit aliran darah, yang menyebabkan tidak lancarnya darah dan berakhir dengan kematian mendadak.

Padahal Allah telah mengharamkan seseorang untuk membinasakan dirinya melalui firman-Nya:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al Baqarah: 195).

Nabi ﷺ juga bersabda:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat mudharat bagi orang lain, baik permulaan ataupun balasan.” (HR. Ibnu Majah. Hadis ini di shahihkan oleh Albani).

Hasil penelitian kedokteran di zaman sekarang memerkuat penemuan dunia kedokteran di masa lampau, bahwa merokok menyebabkan berbagai jenis penyakit kanker, penyakit pernafasan, penyakit jantung, penyakit pencernaan, berefek buruk bagi janin, juga merusak sistem reproduksi. Pendeknya merokok merusak seluruh sistem tubuh.

Oleh karena itu, seluruh negara menetapkan undang-undang yang mewajibkan dicantumkannya peringatan pada setiap bungkus rokok, bahwa merokok dapat mebahayakan kesehatan tubuh.

Karena itu, sangat tepat fatwa yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga fatwa di dunia Islam, seperti fatwa MUI yang mengharamkan rokok, begitu juga Dewan Fatwa Arab Saudi yang mengharamkan rokok, melalui Fatwa nomor: (4947), yang menyatakan, “Merokok hukumnya haram, menanam bahan bakunya (tembakau) juga haram, serta memerdagangkannya juga haram, karena rokok menyebabkan bahaya yang begitu besar”.

Keterangan di atas disadur dari artikel Dr. Erwandi Tarmidzi yang diterbitkan di Majalah Pengusaha Muslim edisi September 2011. Bagi Anda yang berminat mendapatkan rujukan aslinya, Anda bisa mengunjungi: shop.pengusahamuslim.com

Di samping tulisan di atas, terdapat ceramah menarik yang disampaikan Prof. Dr. Yunahar Ilyas (Ketua PP Muhammadiyah). Anda bisa download di:

http://www.mediafire.com/?395gm22cj0322yx

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

sumber : http://www.konsultasisyariah.com/hukum-rokok-dalam-islam/

Video-video nasIhat bagi para penyedot api

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=WB7HzAmIqPk&rel=0]

Monyet saja bisa merokok diajarin oleh manusia

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=JabBLPHH8ik&rel=0]

Sumber: https://aslibumiayu.net/9595-bagi-yang-masih-bingung-tentang-hukum-rokok.html