Posts

,

ANCAMAN UNTUK ORANG YANG SUKA TERLAMBAT MENGHADIRI KHUTBAH DAN SHALAT JUMAT

ANCAMAN UNTUK ORANG YANG SUKA TERLAMBAT MENGHADIRI KHUTBAH DAN SHALAT JUMAT
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
ANCAMAN UNTUK ORANG YANG SUKA TERLAMBAT MENGHADIRI KHUTBAH DAN SHALAT JUMAT
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
احْضُرُوا الذِّكْرَ وَادْنُوا مِنَ الإِمَامِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لاَ يَزَالُ يَتَبَاعَدُ حَتَّى يُؤَخَّرَ فِى الْجَنَّةِ وَإِنْ دَخَلَهَا
 
“Hadirilah khutbah dan mendekatlah kepada imam, karena sesungguhnya ada orang yang senantiasa menjauh sampai ia diakhirkan di Surga, meski ia memasukinya.” [HR. Abu Daud dari Samuroh bin Jundub radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 365]
 
Beberapa Pelajaran:
 
1) Celaan terhadap orang-orang yang tidak bersegera untuk menghadiri khutbah dan shalat Jumat. Abu Ath-Thayyib rahimahullah berkata:
 
وَفِيهِ تَوْهِين أَمْر الْمُتَأَخِّرِينَ وَتَسْفِيه رَأْيهمْ حَيْثُ وَضَعُوا أَنْفُسهمْ مِنْ أَعَالِي الْأُمُور إِلَى أَسَافِلهَا
 
“Dalam hadis ini terdapat perendahan terhadap perbuatan orang-orang yang suka terlambat dan celaan terhadap kebodohan mereka karena telah menurunkan diri-diri mereka sendiri dari amalan yang tinggi kepada yang amalan yang rendah.” [‘Aunul Ma’bud, 3/457]
 
2) Melambatkan diri dalam menghadiri khutbah dan shalat Jumat adalah sebab diakhirkannya seseorang untuk masuk Surga. Bisa juga bermakna derajatnya di Surga diturunkan.
 
3) Perintah bersegera menghadiri khutbah sebelum khatib naik mimbar.
 
4) Pentingnya mendengarkan khutbah, menyimak dan memahaminya dengan baik (apabila khutbahnya berdasarkan dalil Alquran dan As-Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Salaf), jangan tidur dan jangan berbuat sia-sia. Inilah maksud perintah mendekati imam.
 
5) Keutamaan shalat Jumat di shaf pertama. Ini juga maksud perintah mendekati imam.
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#janganterlambatshalatJumat #jangantelatdatangshalatJumat #shalat #sholat #solat #salat #Jumat #adabhariJumat #maksudmendekatiimam #makna #arti #dekatiimam #telatmasukSurga, #terlambatmasukSurga #khutbahJumat, #khotbahJumat
, ,

APABILA JUMAT TIBA, BERGEGASLAH MENUJU RUMAH-NYA

JUMAT BERGEGASLAH MENUJU RUMAH-NYA MASJID SEGERA SHALAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

APABILA JUMAT TIBA, BERGEGASLAH MENUJU RUMAH-NYA

 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إذا كان يومُ الجمعةِ كان على كلِّ بابٍ من أبوابِ المسجدِ الملائكة يكتبون الأولَ فالأولَ، فإذا جلس الإمامُ طوَوُا الصحفَ وجاؤوا يستمعون الذكرَ.
 
“Apabila Jumat tiba maka akan ada para malaikat di setiap pintu-pintu masjid. Mereka akan mencatat orang yang pertama kali datang, lalu berikutnya, dan berikutnya, sampai apabila Imam telah duduk di mimbarnya, mereka pun melipat catatan-catatan tersebut. Lantas mereka pun datang dan ikut mendengarkan khutbah.” [HR. Bukhari 3211]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adabhariJumat #adabJumat #sholat #shalat #solat #salat #Jumat #bersegera #bergegaslah #menujumasjid #pergikemasjid, #malaikatmenunggudipintupintumasjid
, ,

PERAYAAN MAULID BERTASYABBUH KEPADA AGAMA NASRANI & RAFIDHAH

PERAYAAN MAULID BERTASYABBUH KEPADA AGAMA NASRANI & RAFIDHAH
PERAYAAN MAULID BERTASYABBUH KEPADA AGAMA NASRANI & RAFIDHAH
>> Agama ini sejatinya telah sempurna dengan perayaan yang syari
 
Tiga perayaan yang syari (dalam Islam, -pent.):
1. Hari Raya Idul Adha
2. Hari Raya Idul Fitri
3. Hari Raya Jumat
 
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah ﷺ memasuki Madinah dan pada mereka ada dua hari yang mereka bermain-main padanya. Maka beliau ﷺ berkata: “Dua hari apakah ini?”
Mereka menjawab: “Dahulu kami bermain pada dua hari tersebut di masa Jahiliyah.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan keduanya untuk kalian yang lebih baik darinya:
• Hari Adha dan
• Hari Fitri.” [HR Abu Dawud, dan al-Albani telah menshahihkannya]
 
Berkata Rasulullah ﷺ mengenai Jumat:
“Sesungguhnya ini adalah hari raya, Allah telah menjadikannya untuk kaum Muslimin.” [HR Ibnu Majah, dan al-Albani telah menghasankannya]
 
Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah:
 
Pertanyaan:
Siapakah yang pertama kali mengadakan bidah Maulid Nabi dan bagaimanakah sejarahnya?
 
Beliau menjawab:
Yang pertama kali mengadakan bidah tersebut adalah al Fathimiyyun (yang berkuasa) di Mesir pada abad ke-4 Hijriyah. Lalu pada abad ke-7 Hijriyah disemarakkan oleh Raja Irbil di Irak, hingga tersebarlah di tengah-tengah kaum Muslimin.
 
Adapun sebabnya sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Iqtidha’ Shirathil Mustaqim:
 
Sebabnya:
• Bisa jadi karena kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Mereka menyangka, bahwa ini merupakan konsekuensi dari kecintaan tersebut.
 
• Bisa jadi pula sebabnya adalah menyerupai orang-orang Kristen, karena mereka mengadakan peringatan hari kelahiran al-Masih alaihissalam.
 
Terlepas apa sebab yang sebenarnya, maka setiap bidah adalah sesat. [Fatawa Liqa’ al Bab al Maftuh, hlm. 210]
 
Sumber: http://www.alfawaaid.net/2017/12/agama-ini-telah-sempurna-dengan.html
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
#Fiqh #Ibadah #sunnah #bidah #perayaan #maulidnabi #fiqh #fiqih #fikih #bidah #perayaanIslami #harirayaorangIslam, #Jumat, #harirayamingguan, #IdulFitri, #IdulFithri, #IdulAdha #tigaharirayaumatIslam, #3harirayaumatIslam #syiah #rafidhah #rafidhoh #alFathimiyyun #setiapbidahsesat #sejarahmaulidnabi #tasyabbuh #Nasrani
,

SUNNAH-SUNNAH JUMAT

SUNNAH-SUNNAH JUMAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SUNNAH-SUNNAH JUMAT
 
Allah ta’ala berfirman (yang artinya):
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian diseru untuk shalat Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Hal itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” [QS. Al Jumuah: 9]
 
Jumat adalah satu hari di mana Allah mengistimewakannya dengan beberapa hal, sebagaimana dalam hadis:
“Hari terbaik di mana matahari terbit di hari itu adalah Jumat. Di hari itu Adam diciptakan. Di hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam Surga dan juga dikeluarkan dari Surga. Dan Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada waktu Jumat.” [HR. Muslim]
 
Jumat juga termasuk hari ‘ied (hari raya) pekanan umat Islam, sebagaimana ucapan sahabat ‘Abdullah bin Zubair ketika pernah di masa beliau Idul Fitri jatuh pada waktu Jumat: “Dua hari raya dalam satu waktu.” [HR. Abu Dawud, dinilai Shahih Al Albani]
 
Di hari Jumat, seorang laki-laki Muslim yang telah baligh wajib melaksanakan shalat Jumat secara berjamaah di masjid. Nabi ﷺ bersabda: “Shalat Jumat berjamaah adalah kewajiban bagi setiap Muslim, kecuali empat golongan, yaitu budak, wanita, anak kecil, dan orang yang sakit” [HR. Abu Dawud, dinilai shahih oleh Al Albani]
 
Sbagai seorang Muslim yang mengetahui betapa agungnya Jumat, pasti akan bersemangat untuk melaksanakan berbagai macam ibadah yang dituntunkan pada hari ini. Salah satu contoh langka yang mungkin sebagian kaum Muslimin belum tahu adalah membaca surat Al Kahfi.
 
Sunnah-sunnah ibadah yang Nabi ﷺ tuntunkan untuk dikerjakan pada waktu Jumat sangatlah banyak, baik sunnah-sunnah secara umum, maupun terkait khusus bagi laki-laki yang hendak melaksanakan shalat Jumat.
 
Sunnah-Sunnah Secara Umum
 
[1] Memperbanyak Shalawat Nabi ﷺ
 
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah Jumat. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku di dalamnya, karena shalawat kalian akan disampaikan kepadaku.” Para sahabat berkata: “Bagaimana ditunjukkan kepadamu, sedangkan engkau telah menjadi tanah?” Nabi ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” [HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An Nasa-i]
 
[2] Membaca Surat AlKahfi
 
Nabi ﷺ bersabda: 
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
“Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada waktu Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.” [HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470]
 
[3] Perbanyak Doa
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ menyebut hari Jumat kemudian berkata: “Pada waktu Jumat itu terdapat satu waktu, yang jika seseorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.” Lalu beliau ﷺ memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu. [HR. Bukhari dan Muslim]
Yang dimaksud dengan detik terakhir dari Jumat adalah saat menjelang Maghrib, yaitu ketika matahari hendak terbenam.
 
[4] Perbanyak Zikir Mengingat Allah
 
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian diseru untuk shalat Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah…” [QS. AlJumu’ah: 9]
 
[5] Imam Membaca Surat Assajdah di Rakaat Kesatu dan Surat Alinsan di Rakaat Kedua pada Waktu Shalat Subuh
 
Dari Abu Harairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ biasa membaca pada shalat Subuh pada waktu Jumat “Alif Lam Mim Tanzil …” (Surat As Sajdah) pada rakaat pertama dan “Hal ataa ‘alal insaani a¸Yiinum minad dahri lam yakun syai-am madzkuuraa” (Surat Al Insan) pada rakaat kedua.” [HR. Muslim]
 
Tapi seorang imam hendaknya tidak memaksakan diri untuk membaca kedua surat tersebut ketika kondisi makmumnya tidak mampu berdiri terlalu lama.
 
Sunnah-Sunnah Terkait Shalat Jumat
 
[1] Mandi Jumat
Di antara hadis yang menyebutkan dianjurkannya mandi pada waktu Jumat adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang mandi pada waktu Jumat, maka ia mandi seperti mandi janabah…” [HR. Bukhari dan Muslim]
 
Sebagian ulama ada yang mewajibkan mandi Jumat dalam rangka kehati-hatian berdasarkan hadis dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi ﷺ bersabda: “Mandi pada waktu Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang telah baligh.” [HR. Bukhari dan Muslim]
 
 
[2] Membersihkan Diri dan Menggunakan Minyak Wangi
Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang mandi pada waktu Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu shalat sesuai dengan kemampuan dirinya, dan ketika imam memulai khutbah, ia diam dan mendengarkannya, maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” [HR. Bukhari dan Muslim]
 
 
[3] Memakai Pakaian Terbaik
Nabi ﷺ bersabda: “Wajib bagi kalian membeli dua pakaian untuk shalat Jumat, kecuali pakaian untuk bekerja.” [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dinilai Shahih oleh Al Albani]
 
Di dalam hadis ini Nabi ﷺ mendorong umatnya agar membeli pakaian khusus untuk digunakan shalat Jumat.
 
 
[4] Bersegera Berangkat ke Masjid
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah shalat Jumat.” [HR. Bukhari]
 
Ibnu Hajar Al ‘Asqalani berkata dalam Fathul Bari: “Makna hadis ini, yaitu para shahabat memulai shalat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang. Berbeda dengan kebiasaan mereka pada shalat Zuhur ketika panas. Sesungguhnya para shahabat tidur terlebih dahulu, kemudian shalat ketika matahari telah berkurang panasnya.”
 
[5] Perbanyak Shalat Sunnah Sebelum Khatib Naik Mimbar
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Barang siapa yang mandi kemudian datang untuk shalat Jumat, lalu ia shalat semampunya dan dia diam mendengarkan khutbah hingga selesai, kemudian shalat bersama imam, maka akan diampuni dosanya mulai Jumat tersebut sampai Jumat berikutnya ditambah tiga hari.” [HR. Muslim]
 
Hadis di atas juga menunjukkan terlarangnya berbicara saat khatib sedang berkhutbah, dan wajib bagi setiap jamaah untuk mendengarkannya.
 
[6] Shalat Sunnah Setelah Shalat Jumat
Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila kalian telah selesai mengerjakan shalat Jumat, maka shalatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata: “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka shalatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” [HR. Muslim, Tirmidzi]
 
Penutup
Demikian sebagian sunnah-sunnah pada waktu Jumat. Semoga kita senantiasa diberikan semangat dalam menjalankan sunnah-sunnah Nabi ﷺ, dan bersegera menjauhi amalan yang tidak pernah beliau ﷺ ajarkan. Wallahul muwaffiq.
 
 
Penulis: Wiwit Hardi P (Alumni Ma’had Al‘Ilmi Yogyakarta)
Muroja’ah: Ustadz Abu Salman, B.I.S
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sunnahsunnahJumat, #Jumat, #Jumat, #Jumuah, #Jumuah, #shalawat, #sholawat, #adabadabhariJumat, #hariJumat, #dalildalil, #keutamaanJumat, #fadhilahJumat, #sholat, #shalat, #solat, #salat #waktumustajabuntukberdoa, #setelahAsharsebelumMaghrib, #harirayapekanan #solawat #salawat
,

APA HUKUM MEMBERI UCAPAN  “JUMAT MUBARAK” DAN SEMISALNYA?

APA HUKUM MEMBERI UCAPAN  "JUMAT MUBARAK" DAN SEMISALNYA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
APA HUKUM MEMBERI UCAPAN  “JUMAT MUBARAK” DAN SEMISALNYA?
 
Pertanyaan:
Apa hukum memberi ucapan untuk hari Jumat? Kebiasaan di antara kami sekarang pada hari Jumat mengirim SMS satu sama lain, lalu memberikan ucapan selamat dengan mengatakan ‘Jumat yang berbarokah’ atau ‘Jumat yang baik’ atau “Jumat Mubarak”.
 
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Pertama:
Tidak diragukan, bahwa hari Jumat adalah hari raya bagi umat Islam, sebagaimana terdapat dalam hadis dari Ibnu Abbas radhiAllahu’anhuma berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ ، فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ ، وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ ، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ (رواه ابن ماجه، 1098، وحسَّنه الألباني في “صحيح ابن ماجه
 
“Sesungguhnya hari ini adalah hari raya yang Allah jadikan untuk umat Islam. Barang siapa yang mendatangi (shalat) Jumat, maka hendaklah mandi (besar). Kalau mempunyai wewangian hendaknya dia pakai dan pergunakan siwak.” [HR. Ibnu Majah, 1098 dan diHasankan oleh Al-Albany dalam Shahih
Ibnu Majah]
 
Ibnu Qayyi rahimahullah menjelaskan tentang kekhususan hari Jumat:
Ketiga belas, bahwa (Jumat) adalah hari raya yang terulang setiap minggu. [Zadul Ma’ad, 1/369]
 
Oleh karena itu umat Islam mempunyai tiga hari raya, Idul Fitri, Idul Adha, keduanya setiap tahun terulang, dan Jumat, dan ia terulang pada setiap minggu.
 
Kedua:
Ucapan selamat umat Islam satu sama lain pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha DIANJURKAN dan hal itu telah ada riwayatnya dari para shahabat radhiAllahu’anhum. Telah dijelaskan dalam soal jawab https://islamqa.info/id/49021 dan https://islamqa.info/id/36442.
 
Adapun ucapan selamat untuk Jumat, yang nampak pada kami, hal itu TIDAK DIANJURKAN, karena Jumat adalah hari raya yang telah diketahui oleh para shahabat radhiAllahu’anhum. Mereka lebih mengetahui keutamaannya dibandingkan kita. Mereka lebih menjaga untuk mengagungkan dan melakukan haknya. Ternyata TIDAK ADA RIWAYAT, bahwa mereka memberikan ucapan selamat sebagian kepada sebagian lainnya untuk Jumat. Dan semua kebaikan itu adalah mengikuti mereka radhiAllahu’anhum.
 
Syaikh Sholeh Fauzan Al-Fauzan hafidhohullah ditanya, ‘Apa hukum mengirimkan SMS setiap Jumat dan diakhiri dengan kata Jumat Mubarak’.
 
Beliau menjawab:
‘Para ulama’ salaf terdahulu TIDAK PERNAH saling memberikan ucapan selamat pada waktu Jumat. Maka kita TIDAK PERLU melakukan yang mereka tidak lakukan.’ [Soal jawab ‘Majalah Ad-Dakwah Islamiyah’]
 
Fatwa yang sama juga dikatakan oleh Syaikh Sulaiman Al-Majid hafizahullah, beliau berkata:
 
“Kami berpendapat TIDAK DIANJURKAN memberikan ucapan selamat untuk Jumat, seperti ucapan sebagian orang ‘Jumat Mubarokah’ atau semisal itu, karena itu termasuk dalam bab doa, zikir, yang mana HARUS BERHENTI (sampai ada dalilnya) ketika ada. Dan ini termasuk sisi ibadah saja.
Kalau sekiranya itu baik, pasti Nabi ﷺ dan para shahabat radhiAllahu’anhum akan mendahului. JIKA ada seorang yang memperbolehkan, maka berarti dianjurkan berdoa dan saling memberikan ucapan barokah ketika selesai melaksanakan shalat fardu yang lima dan ibadah-ibadah lainnya. (Sementara) doa di tempat-tempat ini TIDAK PERNAH dilakukan oleh ulama salaf.’ [Website Syaikh hafidhohullah]
 
Jika seorang Muslim mendoakan saudaranya pada waktu Jumat dengan maksud menyatukan hati, memasukkan kegembiraan pada waktu ijabah, maka hal itu tidak mengapa.
 
Wallahu’alam.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#hukum, #hari raya, #Idul Fitri, #Idul Adha, #Iedul, #Fitri, #Fithri,Adha, #Jum’at, #Jumat, #ucapan, #Doa, #do’a, #hukum ibadah haram, #sampai ada dalilnya, #bolehkah mengucapkan, #ucapan,Jumat Mubarak, #Jumat Mubarok, #Jumat Berberkah, #Jumat Barokah, #Jumat Barakah #harirayatahunan #harirayamingguan
,

APAKAH BOLEH SHALAT TAHIYATUL MASJID KETIKA KHATIB TELAH NAIK MIMBAR?

APAKAH BOLEH SHALAT TAHIYATUL MASJID KETIKA KHATIB TELAH NAIK MIMBAR?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatSholatNabi
 
APAKAH BOLEH SHALAT TAHIYATUL MASJID KETIKA KHATIB TELAH NAIK MIMBAR?
 
Dari Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda:
 
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ
 
“Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk.” [HR. Al-Bukhari no. 537 dan Muslim no. 714]
 
Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu dia berkata:
 
جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ, فَجَلَسَ. فَقَالَ لَهُ: يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا! ثُمَّ قَالَ: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا
 
“Sulaik Al-Ghathafani datang pada hari Jumat, sementara Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah. Dia (Sulaik Al-Ghathafani -pent) pun duduk. Maka beliau ﷺ pun bertanya padanya: “Wahai Sulaik, bangun dan shalatlah dua rakaat. Kerjakanlah dengan ringan.” Kemudian beliau ﷺ bersabda: “Jika salah seorang dari kalian datang pada waktu Jumat, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah dia shalat dua rakaat, dan hendaknya dia mengerjakannya dengan ringan.” [HR. Al-Bukhari no. 49 dan Muslim no. 875]
 
Penjelasan Ringkas:
 
Berikut beberapa masalah berkenaan dengan shalat Tahiyatul Masjid secara ringkas:
 
1. Para ulama bersepakat akan disyariatkannya shalat dua rakaat bagi siapa saja yang masuk masjid dan mau duduk di dalamnya. Hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai hukumnya. Mayoritas ulama berpendapat sunnahnya, dan sebagian lainnya berpendapat wajibnya. Yang jelas tidak sepatutnya seorang Muslim meninggalkan syariat ini.
 
2. Syariat ini berlaku untuk siapa saja, lelaki dan wanita. Hanya saja para ulama mengecualikan darinya khatib Jumat, di mana tidak ada satu pun dalil yang menunjukkan, bahwa Nabi alaihishshalatu wassalam shalat Tahiyatul Masjid sebelum khutbah. Akan tetapi beliau ﷺ datang dan langsung naik ke mimbar. [Al-Majmu’: 4/448]
 
3. Syariat ini berlaku untuk semua masjid, termasuk Masjidil Haram. Sehingga orang yang masuk Masjidil Haram tetap disyariatkan baginya untuk melakukan Tahiyatul Masjid jika dia ingin duduk. Adapun hadis yang masyhur di lisan manusia, “Tahiyat bagi Al-Bait (Ka’bah) adalah Thawaf,” maka tidak ada asalnya. [Lihat Adh-Dhaifah no. 1012 karya Al-Albani rahimahullah]
 
4. Yang dimaksud dengan Tahiyatul Masjid adalah shalat dua rakaat sebelum duduk di dalam masjid. Karenanya maksud ini sudah tercapai dengan SHALAT APA SAJA yang dikerjakan sebelum duduk. Karenanya, Shalat Sunnah Wudhu, Shalat Sunnah Rawatib, bahkan Shalat Wajib, SEMUANYA merupakan Tahiyatul Masjid, jika dikerjakan sebelum duduk.
 
Karenanya suatu hal yang keliru jika Tahiyatul Masjid diniatkan tersendiri, karena pada hakikatnya tidak ada dalam hadis ada shalat yang namanya ‘Tahiyatul Masjid.’ Akan tetapi ini hanyalah penamaan ulama untuk shalat dua rakaat sebelum duduk. Karenanya jika seorang masuk masjid setelah azan lalu Shalat Qabliah atau Sunnah wudhu, maka itulah Tahiyatul Masjid baginya.
 
5. Tahiyatul Masjid disyariatkan pada setiap waktu seseorang itu masuk masjid dan ingin duduk di dalamnya. Termasuk di dalamnya waktu-waktu yang terlarang untuk shalat, menurut pendapat yang paling kuat di kalangan ulama. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i dan selainnya, dan yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiah, Asy-Syaikh Ibnu Baz, dan Ibnu Al-Utsaimin rahimahumullah.
 
6. Orang yang duduk SEBELUM mengerjakan Tahiyatul Masjid ada dua keadaan:
 
6a. Sengaja tidak Tahiyatul Masjid. Maka yang seperti ini tidak disyariatkan baginya untuk berdiri kembali guna mengerjakan Tahiyatul Masjid, hal itu karena waktu pengerjaannya telah lewat.
 
6b. Dia lupa atau belum tahu ada shalat Tahiyatul Masjid. Maka yang seperti ini disyariatkan bagi dia untuk segera berdiri dan shalat Tahiyatul Masjid, berdasarkan kisah Sulaik pada hadis Jabir di atas. Akan tetapi ini dengan catatan, selang waktu antara duduk dan shalatnya (setelah ingat/tahu) tidak terlalu lama. [Fathul Bari: 2/408]
 
7. Jika seorang masuk masjid ketika azan dikumandangkan maka:
 
7a. Jika hari itu adalah Jumat dan imam sudah di atas mimbar, hendaknya dia shalat Tahiyatul Masjid dan tidak menunggu sampai muazzin selesai. Hal itu karena mendengar khutbah adalah wajib. Hanya saja hendaknya dia memerpendek shalatnya, sebagaimana yang tersebut dalam hadis Jabir di atas.
 
7 b. Jika selain dari itu, maka hendaknya dia menjawab azan terlebih dahulu, baru kemudian shalat Tahiyatul Masjid, agar dia bisa mendapatkan kedua keutamaan tersebut.
Wallahu a’lam bishshawab
 
Catatan Khusus:
Jika khatib telah berada di atas mimbar dan muazin berkumandang, maka seorang yang melaksanakan Shalat Tahiyyatul Masjid atau Shalat Sunat Mutlak, ia terus dalam shalatnya, tanpa harus membatalkan shalatnya, berdasarkan hadis-hadis yang shahih. Bahkan ia boleh berbicara dengan temannya dalam kondisi itu, jika ada hajat mendesak. Adapun hadis di bawah ini yang menjelaskan tentang tidak bolehnya shalat dan bicara dalam kondisi tersebut, maka hadis ini batil. Berikut perinciannya:
 
إِذَا صَعِدَ الْخَطِيْبُ الْمِنْبَرَ ؛ فَلاَ صَلَاةَ وَلَا كَلاَمَ
 
“Apabila khatib sudah naik mimbar, maka tidak ada lagi shalat dan tidak ada lagi ucapan.”
 
Hadis ini batil karena tidak ada asalnya sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Adh-Dho’ifah (87). Namun perlu diketahui, bahwa jika azan sudah selesai ketika khatib berada di atas mimbar siap untuk berkhutbah, maka seorang tidak boleh lagi berbicara dan melakukan aktivitas apapun selain shalat Tahiyatul Masjid, agar seluruh jamaah memfokuskan diri untuk mendengarkan khutbah. [Rubrik Hadis Lemah Buletin Jumat Al-Atsariyyah edisi 58 Tahun I. Penerbit: Pustaka Ibnu Abbas]
 

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

KETIKA HARI RAYA JATUH PADA WAKTU JUMAT

KETIKA HARI RAYA JATUH PADA WAKTU JUMAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KETIKA HARI RAYA JATUH PADA WAKTU JUMAT
 
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Salah satu pertanyaan yang mulai banyak diangkat adalah mengenai hari raya yang bertepatan dengan Jumat, mengingat ada yang istimewa di sana. Kaum Muslimin menghadapi dua hari raya sekaligus, hari raya tahunan dan hari raya pekanan. Mereka melakukan ibadah besar dua kali, shalat Ied dan Jumatan.
 
Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah orang yang telah mengikuti jamaah shalat Ied boleh meninggalkan Jumatan?
 
Kita akan simak beberapa dalil berikut untuk menyimpulkan hukum Jumatan, ketika hari raya jatuh pada waktu Jumat.
 
Pertama: Hadis dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma pernah bertanya kepadanya: ”Apakah kamu pernah mengalami dua hari raya dalam sehari di zaman Nabi ﷺ? Lalu apa yang beliau ﷺ lakukan?”
 
Jawab Zaid bin Arqam:
 
نعم، صَلَّى الْعِيدَ، ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ، فَقَالَ: «مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَلْيُصَلِّ»
 
Ya, beliau ﷺ melakukan shalat Ied, kemudian beliau memberikan rukhshah untuk menghadiri Jumatan. Beliau ﷺ bersabda: ”Siapa yang ingin Jumatan, silakan datang Jumatan.” [HR. Ahmad 19318, Abu Daud 1070, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth].
 
Kedua: Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ pernah berkhutbah ketika hari Ied yang bertepatan dengan Jumat,
 
قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ
 
Di hari ini ada dua hari raya. Siapa yang telah hadir shalat Ied, dia boleh tidak Jumatan. Tapi kami akan menyelenggarakan Jumatan. [HR. Abu Daud 1073, al-Hakim 1064, al-Baihaqi dalam al-Kubro, dan dishahihkan al-Albani].
 
Ketiga: Hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Di masa Rasulullah ﷺ, pernah terjadi hari raya yang bertepatan dengan Jumat. Kemudian beliau ﷺ bersabda:
 
مَنْ شَاءَ أَنْ يَأْتِيَ الْجُمُعَةَ فَلْيَأْتِهَا، وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتَخَلَّفَ فَلْيَتَخَلَّفْ
 
Siapa yang hendak menghadiri Jumatan, silakan dia datang. Siapa yang ingin tidak hadir, silakan tidak hadir. [HR. Ibnu Majah 1312 dan statusnya Shahih Li Ghairih]
 
Keempat: Dari ulama tabiin, Atha’ bin Abi Rabah, beliau menceritakan pengalamannya di zaman kepemimpinan Ibnu Zubair.
 
”Ibnu Zubair pernah mengimami shalat Ied di waktu Dhuha yang bertepatan dengan Jumat. Kemudian ketika kami berangkat Jumatan, ternyata Ibnu Zubair tidak datang. Akhirnya kami shalat (Zuhur) sendiri-sendiri. Ketika itu Ibnu Abbas berada di Thaif. Ketika Ibnu Abbas datang, beliau mengatakan:
 
أَصَابَ السُّنَّةَ
 
Telah sesuai sunnah. [HR. Abu Daud 1071 dan dishahihkan al-Albani].
 
Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah (no. 1465) terdapat tambahan:
 
قال ابن الزبير: رأيت عمر بن الخطاب إذا اجتمع عيدان صنع مثل هذا
 
Ibnu Zubair mengatakan: “Saya melihat Umar bin Khatab, ketika hari raya terjadi pada waktu Jumat, beliau melakukan semacam ini.”
 
Kelima: Hadis dari Abu Ubaid, beliau menceritakan pengalamannya di zaman Utsman, ketika Ied bertepatan dengan Jumat. Ketika khutbah Ied, Utsman mengatakan:
 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ العَوَالِي فَلْيَنْتَظِرْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ
 
Wahai manusia, hari ini terjadi dua hari raya. Siapa di antara penduduk desa pelosok yang ingin menunggu Jumatan, silakan dia menunggunya. Siapa yang ingin pulang (dan tidak Jumatan), aku izinkan untuk pulang. [HR. Bukhari 5572].
 
Keenam: Ali bin Abi Thalib pernah menyampaikan khutbah ketika hari raya yang bertepatan dengan Jumat:
 
مَنْ أَرَادَ أَنْ يُجَمِّعَ فَلْيُجَمِّعْ، وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ
 
Siapa yang ingin Jumatan, silakan Jumatan. Siapa yang ingin duduk (di rumah), silakan diam di rumah. [HR. Abdurrazaq dalam al-Mushannaf, 5731]
 
Kesimpulan:
 
Pertama: Berdasarkan semua hadis dan riwayat dari para sahabat di atas, mayoritas ulama berpendapat, bahwa orang yang telah menghadiri shalat Ied, BOLEH TIDAK MENGHADIRI JUMATAN. Sebaliknya, siapa yang tidak hadir shalat Ied, kewajiban Jumatan tidak gugur baginya.
 
Kedua: Status bolehnya tidak Jumatan adalah rukhshah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis yang pertama. Karena itu, jika tidak ada uzur dan kebutuhan mendesak, dianjurkan agar mengambil azimah (lawan rukhshah), dengan tetap menghadiri Jumatan.
 
Di masa Utsman (simak hadis kelima), rukhshah ini beliau berikan kepada Ahlul Awali (Penduduk daerah pelosok). Di pagi hari mereka datang untuk shalat Ied di Madinah. Akan sangat merepotkan jika mereka pulang kemudian balik lagi ke Madinah siang hari untuk Jumatan.
 
Ketiga: Bagi yang tidak menghadiri Jumatan, tetap wajib mengerjakan shalat Zuhur. Baik shalat di rumah, atau di masjid yang tidak ada Jumatannya. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis keempat.
 
Keempat: Jika di masjid utama tidak ada Jumatan karena takmir tidak menyelenggarakan, maka makmum tidak menggalang Jumatan sendiri. Namun mereka shalat Zuhur sendiri-sendiri. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis keempat.
 
Kelima: Tidak disyariatkan azan di masjid selain untuk Jumatan.
 
Dalam Fatwa Lajnah dinyatakan:
لا يشرع في هذا الوقت الأذان إلا في المساجد التي تقام فيها صلاة الجمعة، فلا يشرع الأذان لصلاة الظهر ذلك اليوم
 
Di hari itu, tidak disyariatkan azan, kecuali di masjid yang menyelenggarakan Jumatan. Tidak disyariatkan azan untuk shalat Zuhur di hari itu. [Fatwa Lajnah Daimah, no. 21160]
 
Demikian,
 
Allahu a’lam
 
Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
, ,

KEUTAMAAN MANDI JUMAT

KEUTAMAAN MANDI JUMAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MutiaraSunnah

KEUTAMAAN MANDI JUMAT

Mandi Jumat adalah salah satu amalan yang diperintahkan di hari yang penuh berkah, hari Jumat. Di antara keutamaannya adalah sebab mendapatkan ampunan pada waktu Jumat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّىَ مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى وَفَضْلَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ

“Barang siapa yang mandi kemudian mendatangi Jumat, lalu ia shalat semampunya dan diam (mendengarkan khutbah) hingga selesai, kemudian ia lanjutkan dengan shalat bersama Imam, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dan Jumat yang lain. Dan bahkan hingga lebih tiga hari.” [HR. Muslim no. 857].

Dari Salman Al Farisi, ia berkata bahwa Rasul ﷺ bersabda:

“Apabila seseorang mandi pada waktu Jumat, dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak dan harum-haruman dari rumahnya, kemudian ia keluar rumah. Lantas ia tidak memisahkan di antara dua orang, kemudian ia mengerjakan shalat yang diwajibkan, dan ketika imam berkhutbah, ia pun diam, maka ia akan mendapatkan ampunan antara Jumat yang satu dan Jumat lainnya.” [HR. Bukhari no. 883]

Silakan di-share, semoga bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/2074-keutamaan-mandi-jumat.html

TIDAK DILARANG DUDUK MEMELUK LUTUT KETIKA KHUTBAH JUMAT

TIDAK DILARANG DUDUK MEMELUK LUTUT KETIKA KHUTBAH JUMAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah, #DakwahSunnah

TIDAK DILARANG DUDUK MEMELUK LUTUT KETIKA KHUTBAH JUMAT

Pertanyaan:

Saya membaca satu hadis di dalam Kitab Riyadhus Shalihin tentang larangan duduk dengan menaikkan paha dan memeluk lutut, ketika khatib sedang menyampaikan Khutbah dari Mimbar ketika Shalat Jumat. Saya harap Anda dapat membantu saya memberi pencerahan tentang hal ini.

Jawaban oleh Tim Fatwa IslamQA, di bawah pengawasan Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid

Alhamdulillah.

Pertama:

Hadis tentang duduk memeluk lutut diriwayatkan oleh Imam Ahmad (24/393) dan At-Tirmizi (514) dari Muadz bin Anas radhiyallahuanhu, yang berbunyi:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الحبْوَة يَوْمَ الجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ

“Rasulullah ﷺ melarang duduk Ihtiba’ (memeluk atau mendekap lutut) di hari Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah.” Imam At-Tirmizi mengatakan “Hadis ini Hadis Hasan.”

Duduk di dalam hadis tersebut adalah duduk dengan bersandar pada punggung, dengan paha dan betis diangkat hingga menempel atau mendekati perut, lalu memeluknya dengan kedua tangan. [Lihat al-Mu‘jam al-Waseet (1/154, 2/729)].

Para ulama berbeda pendapat tentang hadis di atas. Beberapa dari mereka menglasifikasikan hadis tersebut sebagai Hasan, seperti Syekh Al-Albani Rahimahullah di dalam Sahih At-Tirmizi, dan juga pensyarah Musnad Al-Imam Ahmad.

Beberapa ulama lainnya mengklasifikasikan hadis tersebut sebagai Dhaif, seperti Imam Nawawi di dalam Al-Majmu (4/592), Ibnul Arabi di dalam Aaridat al-Ahwadhi (1/469) dan Ibnu Muflih di dalam Al-Furuu’ (2/127).

Imam An-Nawawi di dalam Al-Majmu, setelah menyatakan bahwa Imam At-Tirmizi mengklasifikasikan hadis ini sebagai Hasan, berkata:

“Di dalam sanadnya terdapat dua perawi yang Dhaif (lemah), sehingga kami tidak bisa menerima klasifikasi (hadis tersebut) sebagai Hasan.”

Akhir kutipan.

Kedua:

Perawi Dhaif yang disebutkan oleh Imam Nawawi adalah Sahl bin Muadz dan Abdurrahim bin Maymun.

Tentang  Sahl bin Muadz, Ibnu Ma’in berkata:

“Beliau Dhaif.”

Ibnu Hibban berkata:

“Hadisnya sangat aneh.”

Abdurrahim bin Maimun juga disebut sebagai perawi yang Dhaif oleh Ibnu Ma’in. Abu Hatim berkata:

“Hadisnya boleh ditulis, tetapi tidak boleh dikutip sebagai hujjah.” [Lihat: Tahdheeb at-Tahdheeb (4/258, 6/308)].

Diriwayatkan pula bahwa beberapa sahabat juga duduk memeluk lutut pada waktu Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah, seperti Ibnu Umar dan Anas radhiyallahuanhum. Oleh karena itu, sebagian besar ulama (termasuk empat imam) berpendapat, bahwa duduk seperti ini TIDAK MAKRUH.

Ibnu Qudamah, di dalam Al-Mughni (2/88), berkata:

“Tidak ada yang salah dengan duduk sambil mengangkat dengkul ketika Imam sedang menyampaikan kutbah. Hal ini diiriwayatkan dari Ibnu Umar dan banyak sahabat Rasulullah ﷺ lainnya. Inilah pendapat Said bin Al-Musayyib, Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, Imam Malik, Asy-Syafii, dan Ashabur Ra’yi.”

Abu Dawud berkata:

“Saya tidak mendengar ada seseorang yang menganggapnya Makruh kecuali Ubaadah bin Nasiy, karena Sahl bin Muadz meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ melarang duduk dengan mengangkat kaki pada waktu Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah.”

Ibnu Qudamah Rahimahullah melanjutkan: “Akan tetapi, kami memiliki riwayat dari Ya’la bin Awas yang berkata:

“Saya berada di Baitul Maqdis (Jerusalem) dengan Muawiyah. Beliau berkumpul bersama kami, kemudian saya mengetahui dan melihat, bahwa sebagian besar dari mereka yang berada di dalam masjid adalah para sahabat Rasulullah ﷺ, dan saya melihat mereka duduk memeluk lutut ketika Imam sedang menyampaikan khutbah. Hal ini dilakukan oleh Ibnu Umar dan Anas, dan kami tidak melihat adanya seseorang yang tidak setuju dengan mereka; sehingga dari sini ada konsensus (Ijma).

“Sanad dari hadis tersebut masih terus diperbincangkan, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Mundzir. Akan tetapi, akan lebih bagi kita untuk tidak melakukannya. Meskipun riwayat tersebut Dhaif, duduk dengan cara tersebut (Ihtiba’) lebih berpotensi membuat seseorang ketiduran, atau terjatuh (karena tidur), sehingga membatalkan wudhunya. Oleh karena itu, lebih baik tidak melakukannya.”

Akhir kutipan.

Imam An-Nawawi, di dalam Al-Majmu (4/457), berkata:

“Duduk dengan memeluk kaki pada waktu Jumat bagi seseorang yang mendatangi khutbah, ketika Imam sedang menyampaikan khutbah:

“Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Imam Asy-Syafii, bahwa beliau tidak menganggapnya sebagai Makruh. Ibnu Mundzir meriwayatkannya dari Ibnu Umar, Ibnu Al-Musayyab, Al-Hasan Al-Bashri, Ata’ bin Rabbah, Ibnu Sirin, Abu Zubair, Salim bin Abdullah, Suraih Al-Qadi, Ikrimah bin Khalid, Nafi, Malik, At-Tsauri, Al-Auzai, Ashabur Ra’yi, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur.”

Beliau (Imam An-Nawawi) melanjutkan:

“Beberapa ulama hadis menganggapnya sebagai Makruh, karena sebuah hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ tentang hal tersebut, padahal sanadnya masih diperdebatkan.”

Akhir kutipan.

Beberapa ulama menyebutkan alasan kenapa duduk Ihtiba’ (memeluk lutut) ketika Imam menyampaikan Khutbah adalah Makruh.

Al-Baihaqi Rahimahullah berkata:

“Apa yang diriwayatkan di dalam hadis Muadz bin Anas, bahwa Rasulullah ﷺ melarang duduk dengan memeluk lutut atau kaki pada waktu Jumat, jika terbukti sahih, itu karena duduk dengan cara tersebut dapat membuat seseorang mudah tertidur, sehingga wudhunya kemungkinan besar menjadi batal. Jika tidak khawatir akan hal tersebut, maka tidak ada yang salah dengan duduk sambil memeluk lutut.“

Akhir kutipan.

Ma‘rifat as-Sunan wa’l-Athaar (1814)

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata:

“Rasulullah ﷺ melarang Ihtiba (duduk memeluk lutut) pada waktu Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah, karena dua alasan:

Satu, karena posisi seperti ini akan menyebabkan mengantuk lalu orang tersebut tertidur dan tidak mendengarkan khutbah.”

Kedua, karena jika dia bergerak, maka auratnya akan tersingkap. Ini karena kebanyakan orang di zaman dulu hanya memakai Izar (semacam sarung) dan Rida’ (semacam jubah atasan). Dan jika seseorang bergerak atau tersungkur, maka auratnya akan terbuka.”

“Akan tetapi jika tidak ada kekhawatiran akan hal tersebut, maka hukumnya boleh. Jika sebuah larangan didasarkan pada logika (alasan), maka ketika alasan tersebut hilang, maka larangannya pun batal.”

Akhir kutipan.

Sharh Riyadh as-Saaliheen (4/730-731).

Kesimpulan:

Lebih disukai untuk tidak duduk memeluk lutut ketika imam sedang menyampaikan khutbah pada waktu Jumat. Tetapi jika seseorang duduk memeluk lutut dan tidak ada kekhawatiran bahwa auratnya akan terbuka atau tertidur, maka dalam hal ini hukumnya boleh.

Wallahu’alam bish shawwab.

[Fatwa No: 129182 – Tanggal: 2014-12-04]

 

Sumber: http://islamqa.info/en/129182

 

Penerjemah: Irfan Nugroho

Staf pengajar di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran At-Taqwa Sukoharjo

JUMAT – HARI PALING MULIA DAN MERUPAKAN PENGHULU DARI HARI-HARI

JUMAT - HARI PALING MULIA DAN MERUPAKAN PENGHULU DARI HARI-HARI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

JUMAT – HARI PALING MULIA DAN MERUPAKAN PENGHULU DARI HARI-HARI

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ berkata:

“Hari paling baik di mana matahari terbit pada hari itu adalah Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam Surga, serta dikeluarkan dari Surga. Pada hari itu juga Kiamat akan terjadi. Pada hari tersebut terdapat suatu waktu, di mana tidaklah seorang Mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan, kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim)

Dari Abu Lubabah bin Ibnu Mundzir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Jumat adalah penghulu hari-hari dan hari yang paling mulia di sisi Allah. Jumat ini lebih mulia dari Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha di sisi Allah. Pada waktu Jumat terdapat lima peristiwa, diciptakannya Adam dan diturunkannya ke bumi, pada waktu Jumat juga Adam dimatikan. Pada Jumat terdapat waktu, yang mana jika seseorang meminta kepada Allah, maka akan dikabulkan, selama tidak memohon yang haram. Dan pada waktu Jumat pula akan terjadi Kiamat. Tidaklah seseorang malaikat yang dekat di sisi Allah, di bumi dan di langit, kecuali dia dikasihi pada waktu Jumat.” (HR. Ahmad)

Ada beberapa peristiwa yang terjadi pada waktu Jumat ini, antara lain:

  • Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissallam dan mewafatkannya.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam dimasukkan ke dalam Surga.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam diturunkan dari Surga menuju bumi.
  • Hari akan terjadinya Kiamat.

 

Sumber: https://muslimah.or.id/74-ternyata-hari-Jumat-itu-istimewa.html