Posts

,

SEDEKAH DAPAT MENCEGAH PEDAGANG MELAKUKAN MAKSIAT DALAM JUAL-BELI

SEDEKAH DAPAT MENCEGAH PEDAGANG MELAKUKAN MAKSIAT DALAM JUAL-BELI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SEDEKAH DAPAT MENCEGAH PEDAGANG MELAKUKAN MAKSIAT DALAM JUAL-BELI
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah.” [HR. Tirmidzi no. 1208, ia berkata: “Hasan shahih”)
 
Wallahu a’lam. Kebanyakan dari kita barangkali memahami, bahwa pedagang mungkin memberi kelebihan barang kepada si pembeli sebagai sedekah, atau si pembeli membayar lebih kepada si pedagang sebagai sedekah.
 
Namun jika ditilik secara lebih mendalam, konsep bersedekah ketika jual-beli ini seperti tidaklah melibatkan pemberian tambahan, tetapi lebih bertumpu kepada ridai meridai dan keimanan.
 
Jika seorang penjual menawarkan satu barang dengan harganya, lalu pembeli membelinya tanpa meminta dikurangkan harga, maka di situ ibarat pembeli telah ‘bersedekah’ kepada yang menjual. Ini karena pembeli memenuhi hasrat dan permintaan penjual. Jika pembeli penuh rida, maka hal itu menjadi ibarat sedekah.
 
Sebaliknya jika pembeli meminta dikurangkan harga, dirundingkan harga, jika terjadi jual-beli, maka itu ibarat penjual yang bersedekah, karena ia memenuhi permintaan dan harapan pembeli dengan bersandar kepada rida mereka berdua.
 
Harus diingat, setiap penjual ada tanggungannya seperti anak istri yang perlu rezeki. Begitu juga pembeli. Maka bila berlaku jual-beli yang penuh rida, janganlah merasa rugi dalam urusan jual-beli. Sebaliknya keimananlah yang berperan di sini, yaitu niatlah berjual-beli juga sebagai memenuhi permintaan baik dari pembeli atau penjual demi rezeki. Jika terasa ‘rugi’ dalam jual-beli, semoga Allah gantikan dengan yang lebih baik. Karena jika konsep bersedekah ada dalam jual-beli, niscaya diluaskan lagi rezeki kepada jual-beli yang bersandar kepada konsep sedekah.
Sebaik-baik jual-beli adalah dengan sesama Islam, karena mungkin berlaku ucapan pujian kepada Allah seperti Alhamdulillah dan akad rida meridai dalam jual-beli. Perbedaan harga tidaklah akan setanding dibandingkan dengan ganjaran pahala di sisi Allah, karena berlaku jual-beli sesama Islam yang ada konsep bersedekah.
 
Sesungguhnya setiap pembeli ibarat membawa rezeki yang Allah kirim kepada penjual, dan penjual juga ibarat membawa rezeki yang Allah kirim untuk memenuhi hasrat pembeli. Lihatlah betapa jual-beli sesama Muslim lebih menguntungkan di sisi Allah, walau sedikit kerugian pada dunia. Para pedagang juga harus menyadari, bahwa keuntungan Akhirat lebih besar berbanding keuntungan dunia. Maka jangan utamakan keuntungan dunia yang berlebihan. Jika rugi pada penjual atau pembeli, ingatlah kita ada keuntungan lebih besar di sisi Allah, jika jual-beli berlaku dengan konsep bersedekah ini.
 
Mari kita mengikis sikap terlalu “berhitung” dalam jual-beli. Jangan “berbuat keji” terhadap barang jualan penjual. Biarlah jual-beli berlaku dengan penuh rida dan keimanan. Jika kita langsung membayar harga satu barang tanpa menawarnya lagi, itu ibarat kita telah bersedekah kepada penjual. Jika kita tawar menawar harga, ibaratnya kita telah menerima sedekah dari penjual. Jika penjual menurunkan harga tanpa diminta, lebih jelas lagi konsep bersedekah di sini. Jadilah jual-beli itu terhias dengan sedekah, walaupun tidak berlaku tambahan barang yang diberi oleh penjual atau pembeli yang membayar lebih.
 
Wallahua’lam.
 
 

#sedekah, #shodaqoh, #shadaqah, #mencegah, #pedagang, #dagang, #perniagaan, #melakukanmaksiat, #jualbeli, #maksiyat #konsepsedekahdalamberdagang #iringidengansedekah

HUKUM MAKAN KATAK HALAL ATAU HARAM?

HUKUM MAKAN KATAK HALAL ATAU HARAM?
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM MAKAN KATAK HALAL ATAU HARAM?
Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya memakan katak dan hukum jual belinya?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Hukum Makan Katak
 
Pendapat yang kuat, katak TERLARANG untuk dimakan. Hal ini berdasarkan hadis dari Abdurrahman bin Utsman radhiallallahu ‘anhu:
 
ذكر طبيب عند رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله وسلم دواء وذكر الضفدع يجعل فيه فنهى رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله وسلم عن قتل الضفدع
 
Ada seorang dokter yang menjelaskan tentang suatu penyakit di dekat Nabi ﷺ. Dokter itu menjelaskan bahwa katak bisa dijadikan obat untuk penyakit itu. Ternyata Nabi ﷺ melarang membunuh katak. [HR. Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Syu’aib Al-Arnauth]
 
Dalam riwayat yang lain, dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi:
 
أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن خمسة: “النملة، والنحلة، والضفدع والصرد والهدهد
 
Bahwa Nabi ﷺ melarang membunuh lima hal: Semut, lebah, katak, burung suradi, dan burung hudhud. [HR. Baihaqi]
 
Sebagian ulama menetapkan kaidah: “Setiap binatang yang dilarang untuk dibunuh, maka haram untuk dikonsumsi.” Karena tidak ada cara yang sesuai syariat untuk memakan binatang, kecuali dengan menyembelihnya. Sementara kita tidak mungkin menyembelih yang dilarang untuk dibunuh.
 
Ketika menjelaskan hadis dari Abdurrahman bin Utsman, As-Syaukani menyatakan:
 
فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ أَكْلِهَا بَعْدَ تَسْلِيمٍ، أَنَّ النَّهْيَ عَنْ الْقَتْلِ يَسْتَلْزِمُ تَحْرِيمَ الْأَكْلِ
 
Hadis ini dalil HARAMNYA memakan katak, setelah kita menerima kaidah, bahwa larang membunuh berkonsekuensi haram untuk dimakan. [Nailul Authar, 8:143]
 
Setelah kita menyimpulkan KATAK HUKUMNYA HARAM dikonsumsi, konsekuensi selanjutnya adalah haram untuk diperjual-belikan, sebagaimana dinyatakan dalam hadis:
 
إنَّ الله إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيءٍ حَرَّمَ عَلَيهِمْ ثَمَنَهُ
 
“Sesungguhnya jika Allah mengharamkan suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Dia akan mengharamkan hasil penjualan barang itu.” [HR. Ahmad dan Abu Dawud]
 
Allahu a’lam
 
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#hukum, #makan, #memakan, #kodok, #katak, #hewanduaalam, #hewan2alam, #binatang, #hewan, #dilarangdibunuh, #jualbeli, #dimakan #haramkan, #diharamkan, #hasilpenjualan, #harammembunuh, #bunuh, #limahewandilarangdibunuh #bernapasdenganinsanglautdaratan #Semutlebahkatakburunsuradiburunghudhudtawonkodok #SwieKie, #Swiekie

HUKUM DONOR GINJAL DALAM TINJAUAN SYARIAT

HUKUM DONOR GINJAL DALAM TINJAUAN SYARIAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

HUKUM DONOR GINJAL DALAM TINJAUAN SYARIAT

 
Pertanyaan:
Apa hukum donor ginjal? Ada kakak beradik. Sang kakak mendonorkan salah satu ginjalnya kepada adiknya. Alhamdulillah, keduanya tetap bertahan hidup.
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
 
Islam memotivasi kita untuk menjaga kelestarian hidup bersama. Allah berfirman:
وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
 
Barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS. Al-Maidah: 32)
 
Dalam banyak hadis, Rasulullah ﷺ juga memotivasi kita untuk meringankan beban penderitaan orang lain,
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
 
Siapa yang meringankan salah satu beban penderitaan seorang Muslim di dunia, Allah akan ringankan beban penderitaannya di Hari Kiamat. (HR. Muslim 2699, Abu Daud 4946, dan yang lainnya).
 
Apapun wujud manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain, Rasulullah ﷺ memotivasi kita untuk memberikannya. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ
 
Siapa yang bisa memberikan manfaat bagi saudaranya, hendaknya dia lakukan. (HR. Muslim 2199, Ahmad 14584, dan yang lainnya).
 
Berdasarkan beberapa dalil di atas para ulama menyimpulkan, bahwa donor ginjal, atau donor darah, termasuk amal besar yang wujudnya menolong orang lain.
 
Dr. Abdul Hayyi Yusuf – guru besar fakultas Tsaqafah Islamiyah di Khourtom University, Sudan – pernah ditanya tentang hukum donor ginjal, jawaban beliau:
 
فالتبرع بالكلى لمن احتاج إليها من أعمال البر وخصال الخير
 
Donor ginjal, bagi orang yang membutuhkan, termasuk amal saleh dan tindakan kebajikan.
 
Kemudian beliau menyebutkan beberapa dalil di atas. Selanjutnya beliau menyebutkan beberapa persyaratan donor ginjal:
 
وذلك بالشروط الشرعية: ألا يكون ذلك معاوضة، وأن يغلب على الظن انتفاع المتبرَّع إليه بها، وألا يترتب على المتبرِّع ضرر شديد.وأما من اضطر إلى شرائها؛ لكونه لم يجدها إلا بالثمن فإنه يشتريها والإثم على من باع، والله تعالى أعلم.
 
Donor itu dibolehkan dengan syarat:
 
1. Tidak boleh diperjual belikan
2. Ada dugaaan kuat ginjal itu sangat bermanfaat bagi penerima
3. Tidak menyebabkan ancaman yang membahayakan bagi pihak yang mendonor.
 
Jika ada orang yang terpaksa harus membeli ginjal, sementara dia hanya bisa mendapatkannya hanya dengan membeli, maka dia boleh membeli dan dosanya ditanggung oleh pihak yang menjual.
 
 
Allahu a’lam.
 
Mengapa Tidak Boleh Dijual?
 
Ketika seseorang melakukan donor salah satu bagian tubuhnya, darah, ginjal atau lainnya, dia sama sekali TIDAK diperbolehkan untuk menjualnya, atau menetapkan harga tertentu.
 
Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, dijelaskan alasan larangan melakukan jual beli anggota badan:
 
فلا يجوز بيع الأعضاء البشرية مطلقاً لعدة وجوه:
الأول: أن هذه الأعضاء ليست ملكاً للإنسان حتى يعاوض عليها، وكذلك ليست ملكاً لورثته حتى يعاوضوا عليها بعد وفاته.
الثاني: أن هذه الأعضاء الآدمية محترمة مكرمة، والبيع ينافي الاحترام والتكريم.
الثالث: أنه لو فتح الباب للناس في هذا المجال لتسارعوا إلى بيع أعضائهم غير ناظرين إلى ما قد يعود عليهم من ضرر بسبب ذلك، فوجب منع هذا البيع سداً للذريعة المفضية إلى الضرر.
 
Tidak dibolehkan menjual anggota badan manusia secara mutlak, dengan alasan:
 
1. Anggota badan bukan milik manusia pribadi, sehingga dia boleh seenaknya menjualnya. Demikian pula anggota badan bukan milik ahli warisnya, sehingga mereka boleh seenaknya menjualnya setelah kalurganya wafat.
 
2. Sesungguhnya anggoa badan manusia adalah barang mulia dan terhormat. Menjual benda semacam ini merusak kehormatan dan kemuliaannya.
 
3. Jika manusia diizinkan melakukan jual beli anggota badannya, bisa jadi mereka akan berlomba menjual anggota badannya, tanpa memikirkan dampak buruk yanga akan dia dapatkan karena kesalahannya. Karena itu wajib untuk mencegah jual beli semacam ini, dalam rangka menutup celah yang bisa mengantarkan kepada dampak buruk yang lebih besar.
[Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 50060]
 
Allah berfirman, memuliakan Bani Adam:
 
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
 
Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS. Al-Isra: 70)
 
Sekalipun anggota badan ini ada pada kita, bukan berarti kita dibolehkan memperlakukan semau kita. Karena kepemilikan ini dibatasi aturan. Orang tidak boleh bunuh diri atau menyakiti dirinya dengan alasan, ini badannya sendiri. Dan ini termasuk tindakan kriminal dalam Islam.
 
Allahu a’lam
 
 
Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#hukum, #hukumdonorginjal, #donorginjal, #jualbeliginjal, #transplantasiginjal, #darah, #jual beli, #diperjualbelikan, #anggotabadanmanusia, #bukanmilikpribadi
, , ,

JUAL BELI AS SALAM

JUAL BELI AS SALAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihJualBeli
#FatwaUlama

JUAL BELI AS SALAM

Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.

Di antara bukti kesempurnaan agama Islam ialah dibolehkannya jual beli dengan cara Salam, yaitu akad pemesanan suatu barang dengan kriteria yang telah disepakati, dan dengan pembayaran tunai pada saat akad dilaksanakan. Yang demikian itu dikarenakan, dengan akad ini kedua belah pihak mendapatkan keuntungan, tanpa ada unsur tipu-menipu atau ghoror (untung-untungan).

Pembeli (biasanya) mendapatkan keuntungan berupa:

  1. Jaminan untuk mendapatkan barang sesuai dengan yang ia butuhkan, dan pada waktu yang ia inginkan.
  2. Sebagaimana ia juga mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah, bila dibandingkan dengan pembelian pada saat ia membutuhkan kepada barang tersebut.

Sedangkan penjual juga mendapatkan keuntungan yang tidak kalah besar dibanding pembeli, di antaranya:

  1. Penjual mendapatkan modal untuk menjalankan usahanya dengan cara-cara yang halal, sehingga ia dapat menjalankan dan mengembangkan usahanya tanpa harus membayar bunga. Dengan demikian selama belum jatuh tempo, penjual dapat menggunakan uang pembayaran tersebut untuk menjalankan usahanya, dan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa ada kewajiban apapun.
  2. Penjual memiliki keleluasaan dalam memenuhi permintaan pembeli, karena biasanya tenggang waktu antara transaksi dan penyerahan barang pesanan berjarak cukup lama.

Jual-beli dengan cara Salam merupakan solusi tepat yang ditawarkan oleh Islam, guna menghindari riba. Dan mungkin ini merupakan salah satu hikmah disebutkannya syariat Jual-Beli Salam seusai larangan memakan riba. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak dengan secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya.” (QS. Al Baqarah: 282)

Sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata:

أشهد أن السلف المضمون إلى أجل مسمى قد أحله الله في الكتاب وأذن فيه، قال الله عز وجل يا أيها الذين آمنوا إذا تداينتم بدين إلى أجل مسمى فاكتبوه الآية. رواه الشافعي والطبري عبد الرزاق وابن أبي شيبة والحاكم والبيهقي وصححه الألباني

“Saya bersaksi, bahwa jual-beli As Salaf yang terjamin hingga tempo yang ditentukan, telah dihalalkan dan diizinkan Allah dalam Alquran. Allah ta’ala berfirman (artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak dengan secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya.” (Riwayat As Syafi’i, At Thobary, Abdurrazzaq, Ibnu Abi Syaibah, Al Hakim dan Al Baihaqy, dan dishohihkan oleh Al Albany)

Di antara dalil yang menguatkan penafsiran sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu di atas ialah akhir dari ayat tersebut yang berbunyi:

وَلاَ تَسْأَمُوْاْ أَن تَكْتُبُوْهُ صَغِيرًا أَو كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِندَ اللّهِ وَأَقْومُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلاَّ تَرْتَابُواْ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلاَّ تَكْتُبُوهَا

“Janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar, sampai batas waktu pembayarannya.Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah, dan lebih dapat menguatkan persaksian, dan lebih dekat kepada tidak menimbulkan keraguanmu. (Tulislah muamalah itu), kecuali bila muamalah itu berupa perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu. Maka tiada dosa atasmu, bila kamu tidak menulisnya.” (QS. Al Baqarah: 282)

Dengan demikian, ayat di atas merupakan dalil disyariatkannya Jual-Beli Salam. Di antara dalil lain disyariatkannya Salam ialah hadis berikut:

عن ابن عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قال: قَدِمَ النبي صلى الله عليه و سلم الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمْرِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلَاثَ. فقال: من أَسْلَفَ في شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ . متفق عليه

Dari sahabat Ibnu Abbas radhiallhu ‘anhuma, ia berkata: “Ketika Nabi ﷺ tiba di kota Madinah, sedangkan penduduk Madinah telah biasa memesan buah kurma dalam tempo waktu dua tahun dan tiga tahun, maka beliau ﷺ bersabda: ‘Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.’” (Muttafaqun ‘alaih)

Syarat-Syarat Jual Beli Salam

Berdasarkan dalil di atas dan juga lainnya, para ulama’ telah menyepakati akan disyariatkanya Jual-Beli Salam.

Walau demikian, sebagaimana dapat dipahami dari hadis di atas, Jual-Beli Salam memiliki beberapa ketentuan (persyaratan) yang harus diindahkan. Persyaratan-persyaratan tersebut bertujuan untuk mewujudkan maksud dan hikmah dari disyariatkannya Salam, serta menjauhkan Akad Salam dari unsur riba dan ghoror (untung-untungan/spekulasi) yang dapat merugikan salah satu pihak.

Syarat Pertama: Pembayaran Dilakukan di Muka (kontan)

Sebagaimana dapat dipahami dari namanya, yaitu as Salam, yang berarti penyerahan, atau as salaf, yang artinya mendahulukan, maka para ulama’ telah menyepakati, bahwa pembayaran pada akad as Salam harus dilakukan di muka atau kontan, tanpa ada sedikit pun yang terutang atau ditunda.

Adapun bila pembayaran ditunda (diutang), sebagaimana yang sering terjadi, yaitu dengan memesan barang dengan tempo satu tahun, kemudian ketika pembayaran, pemesan membayar dengan menggunakan cek atau bank garansi, yang hanya dapat dicairkan setelah beberapa bulan yang akan datang, maka akad seperti ini terlarang dan haram hukumnya. Hal ini berdasarkan hadis berikut:

عن بن عمر  ضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه و سلم نهى عن بيع الكالئ بالكالئ. رواه الدارقطني والحاكم والبيهقي وضعَّفه غير واحد من أهل العلم، منهم الشافعي وأحمد وأقرهما الألباني.

“Dari sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi ﷺ melarang jual-beli piutang dengan piutang.” (Riwayat Ad Daraquthny, Al Hakim dan Al Baihaqy dan hadis ini dilemahkan oleh banyak ulama’ di antaranya Imam As Syafi’i, Ahmad, dan disetujui oleh Al Albany)

Walau demikian halnya, banyak ulama’ yang menyatakan, bahwa kesepakatan ulama’ telah bulat untuk melarang jual-beli piutang dengan piutang.

Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Tidak ada satu hadis pun yang Shahih tentang hal ini (larangan menjual piutang dengan piutang-pen), akan tetapi kesepakatan ulama’ telah bulat, bahwa tidak boleh memerjual-belikan piutang dengan piutang.”

Ungkapan senada juga diutarakan oleh Ibnul Munzir. [Silakan baca At Talkhisu Al Habir oleh Ibnu Hajar Al Asqalany 3/406 & Irwa’ul Ghalil oleh Al Albany 5/220-222]

Ibnul Qayyim berkata: “Allah mensyaratkan pada Akad Salam agar pembayaran dilakukan dengan kontan. Karena bila ditunda, niscaya kedua belah pihak sama-sama berutang tanpa ada faidah yang didapat. Oleh karena itu, akad ini dinamakan dengan as Salam, dikarenakan adanya pembayaran di muka. Sehingga bila pembayaran ditunda, maka termasuk ke dalam penjualan piutang dengan piutang. Bahkan itulah sebenarnya penjualan piutang dengan piutang, dan berisiko tinggi, serta termasuk praktik untung-untungan.” [I’lamul Muwaqqi’in oleh Ibnul Qayyim 2/20]

Syarat Kedua: Dilakukan Pada Barang-barang yang Memiliki Kriteria Jelas

Telah diketahui, bahwa Akad Salam ialah akad penjualan barang dengan kriteria tertentu dan pembayaran di muka. Maka menjadi suatu keharusan, apabila barang yang dipesan adalah barang yang dapat ditentukan melalui penyebutan kriteria. Penyebutan kriteria ini bertujuan untuk menentukan barang yang diinginkan oleh kedua belah pihak, seakan-akan barang yang dimaksud ada d ihadapan mereka berdua. Dengan demikian, ketika jatuh tempo, diharapkan tidak terjadi percekcokan kedua belah pihak seputar barang yang dimaksud.

Adapun barang-barang yang tidak dapat ditentukan kriterianya, misalnya: kulit binatang [Kulit binatang, sebelum diolah, misalnya kulit domba, yang sudah dapat dipastikan lebar, dan mutu pengulitannya berbeda-beda.  Ini pada zaman dahulu. Akan tetapi bila pada zaman sekarng telah ditemukan suatu cara yang dapat menjadikan kulit dapat ditentukan kriterianya, maka tidak ada alasan untuk melarang  Akad Salam pada kulit. Misalnya dengan menggunakan meteran panjang dan lebar], sayur mayur dll. Maka tidak boleh diperjual-belikan dengan cara Salam, karena itu termasuk jual-beli ghoror (untung-untungan) yang nyata-nyata dilarang dalam hadis berikut:

أنَّ النبي صلى الله عليه و سلم نهى عن بيع الغرر. رواه مسلم

“Bahwasannya Nabi ﷺ melarang jual-beli untung-untungan.” (Riwayat Muslim)

Syarat Ketiga: Penyebutan Kriteria Barang Pada Saat Akad Dilangsungkan

Dari hadis di atas dapat dipahami pula, bahwa pada Akad Salam, penjual dan pembeli berkewajiban untuk menyepakati kriteria barang yang dipesan. Kriteria yang dimaksud di sini ialah segala hal yang bersangkutan dengan jenis, macam, warna, ukuran, jumlah barang, serta setiap kriteria yang diinginkan dan dapat memengaruhi harga barang.

Sebagai contoh: Bila A hendak memesan beras kepada B, maka A berkewajiban untuk menyebutkan: Jenis beras yang dimaksud, tahun panen, mutu beras, daerah asal serta jumlah barang.

Masing-masing kriteria ini memengaruhi harga beras, karena sebagaimana diketahui bersama, harga beras akan berbeda sesuai dengan perbedaan jenisnya. Misalnya: beras Rojo Lele lebih mahal dibanding dengan beras IR.

Sebagaimana beras hasil panen 5 tahun lalu, biasanya lebih murah bila dibanding dengan beras hasil panen tahun ini. Beras grade 1 lebih mahal dari grade 2, dan beras yang dihasilkan di daerah Cianjur, lebih mahal dari beras hasil daerah lainnya, dan seterusnya.

Adapun jumlah barang, maka pasti memengaruhi harga beras, sebab beras 1 ton sudah barang tentu lebih mahal bila dibandingkan dengan beras 1 kwintal dari jenis yang sama. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ pada hadis di atas bersabda:

من أَسْلَفَ في شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ . متفق عليه

“Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih)

Bila warna barang memiliki pengaruh pda harga barang, maka warna pun harus disepakati kedua belah pihak. Misalnya kendaraan, harganya selain dipengaruhi oleh hal-hal di atas, juga dipengaruhi oleh warnanya. Kendaraan berwarna putih lebih murah dibanding dengan yang berwarna metalik atau yang serupa. Karenanya, bila seseorang memesan kendaraan, ia harus menentukan warna kendaraan yang diinginkan.

Setelah kriteria barang yang diperlukan telah disepakati, maka kelak ketika telah jatuh tempo, ada beberapa kemungkinan yang terjadi:

A. Kemungkinan Pertama:

Penjual berhasil mendatangkan barang sesuai kriteria yang dinginkan, maka pembeli harus menerimanya, dan tidak berhak untuk membatalkan akad penjualan, kecuali atas persetujuan penjual.

Rasulullah ﷺ bersabda:

المسلمون على شروطهم. رواه أحمد والبيهقي وغيرهما وصححه الألباني

“Kaum Muslimin berkewajiban memenuhi persyaratan mereka.” (Riwayat Ahmad, Al Baihaqy dan lainnya, dan hadis ini diShahihkan oleh Al Albani)

B. Kemungkinan Kedua:

Penjual hanya berhasil mendatangkan barang yang kriterianya lebih rendah, maka pembeli berhak untuk membatalkan pesanannya, dan mengambil kembali uang pembayaran yang telah ia serahkan kepada penjual. Sebagaimana ia juga dibenarkan untuk menunda, atau membuat perjanjian baru dengan penjual, baik yang berkenaan dengan kriteria barang atau harga barang, dan hal lainnya yang berkenaan dengan akad tersebut. Atau menerima barang yang telah didatangkan oleh penjual, walaupun kriterianya lebih rendah, dan memaafkan penjual atau dengan membuat akad  jual-beli baru.

Sikap apapun yang ditentukan oleh pemesan pada keadaan seperti ini, maka ia tidak dicela karenanya.

Walau demikian, ia dianjurkan untuk memaafkan, yaitu dengan menerima barang yang telah didatangkan penjual, atau dengan memberikan tenggang waktu lagi, agar penjual dapat mendatangkan barang yang sesuai dengan pesanan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

رَحِمَ الله رَجُلاً سَمْحاً إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى. رواه البخاري.

Dari sahabat Jabir bin Abdillah semoga Allah meridhai keduanya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Semoga Allah senantiasa merahmati seseorang yang senantiasa berbuat mudah ketika ia menjual, ketika membeli dan ketika menagih.” (Riwayat Bukhary)

Selain dianjurkan untuk memaafkan, pemesan juga disyariatkan untuk tetap menampakkan budi dan perilaku luhur sebagai seorang Muslim, sehingga tidak hanyut dalam amarah, dan bersikap kurang terpuji. Rasulullah ﷺ bersabda:

من طلب حقا فليطلبه في عفاف واف أو غير واف. رواه الترمذي وابن ماجه وابن حبان والحاكم

“Barang siapa yang menagih haknya, hendaknya ia menagihnya dengan cara yang terhormat, baik ia berhasil mendapatkannya atau tidak.” (Riwayat At Tirmizy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al Hakim. [Hadis yang mengandung ajaran mulia nan indah ini, merupakan setetes dari lautan keindahan syariat Islam, sekaligus bukti, bahwa Islam adalah ajaran yang datang dari Allah ta’ala, Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana])

C. Kemungkinan Ketiga:

Penjual mendatangkan barang yang lebih bagus dari yang telah dipesan, dengan tanpa meminta tambahan bayaran, maka para ulama’ berselisih pendapat, apakah pemesan berkewajiban untuk menerimanya atau tidak?

Sebagian ulama’ menyatakan, bahwa pemesan berkewajiban untuk menerima barang tersebut, dan ia tidak berhak untuk membatalkan pemesanannya.

Mereka berdalih, bahwa penjual telah memenuhi pesanannya tanpa ada sedikit pun kriteria yang terkurangi. Dan bahkan ia telah berbuat baik kepada pemesan, dengan mendatangkan barang yang lebih baik tanpa meminta tambahan uang. [Al ‘Aziz oleh Ar Rafi’i 4/425, Al Mughni oleh Ibnu Ghudamah 6/421, Mughni Al Muhtaj oleh As Syarbini 2/115,  & As Syarah Al Mumti’ oleh Syeikh Ibnu Utsaimin 9/69]

Sebagian ulama’ lainnya berpendapat, bahwa pemesan berhak untuk menolak barang yang didatangkan oleh penjual, apabila ia menduga, bahwa suatu saat penjual akan menyakiti perasaannya, yaitu dengan mengungkit-ungkit kejadian tersebut di hadapan orang lain. Akan tetapi bila ia yakin, bahwa penjual tidak akan melakukan hal itu, maka ia wajib untuk menerima barang tersebut. Hal ini karena penjual telah berbuat baik, dan setiap orang yang berbuat baik, tidak layak untuk dicela atau disusahkan:

مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ. التوبة 91

“Tiada jalan sedikitp un untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At Taubah: 91) [Al ‘Aziz oleh Ar Rafi’i 4/425, Al Mughni oleh Ibnu Ghudamah 6/421, Mughni Al Muhtaj oleh As Syarbini 2/115,  & As Syarah Al Mumti’ oleh Syeikh Ibnu Utsaimin 9/69]

Pendapat kedua inilah yang lebih moderat dan kuat, karena padanya tergabung seluruh dalil dan alasan yang ada pada permasalahan ini. Wallahu a’alam bis showab.

Syarat Keempat: Penentuan Tempo Penyerahan Barang Pesanan

Tidak aneh bila pada Akad Salam, kedua belah pihak diwajibkan untuk mengadakan kesepakatan tentang tempo pengadaan barang pesanan. Dan tempo yang disepakati, menurut kebanyakan ulama’, haruslah tempo yang benar-benar memengaruhi harga barang. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ . متفق عليه

“Hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih)

Sebagai contoh: Bila A memesan kepada B, 1 ton beras jenis Cisadane, hasil panen tahun ini, dan mutu no 1, maka keduanya harus menyepakati tempo/waktu penyediaan beras, dan tempo tersebut benar-benar memengaruhi harga beras, misalnya 2 atau 3 bulan.

Akan tetapi bila keduanya menyepakati tempo yang tidak berpengaruh pada harga beras, misalnya: 1 atau 2 minggu atau kurang, atau bahkan tidak ada tempo sama sekali, maka menurut Jumhur Ulama’, akad mereka berdua tidak dibenarkan.

Ini adalah pendapat Jumhur Ulama’. Mereka berdalil dengan teks hadis di atas:

إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ . متفق عليه

“Hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih)

Pada hadis ini, Nabi ﷺ mensyaratkan, agar pada Akad Salam ditentukan tempo yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Sebagaimana mereka juga berdalil dengan hikmah dan tujuan disyariatkannya Akad Salam, yaitu pemesan mendapatkan barang dengan harga yang murah, dan penjual mendapatkan keuntungan dari usaha yang ia jalankan dengan dana dari pemesan tersebut, yang telah dibayarkan di muka. Oleh karenanya, bila tempo yang disepakati tidak memenuhi hikmah dari disyariatkannya Salam, maka tidak ada manfaatnya Akad Salam yang dijalin. [Baca Bada’ius Shanai’i oleh Al Kasaany 4/448,  Al Bidayatul Mujtahid oleh Ibnu Rusyd 7/394-396, & Al Mughni oleh Ibnu Qudamah 6/402-404]

Pendapat kedua: Ulama’ mazhab Syafi’i tidak sependapat dengan Jumhur Ulama’. Mereka menyatakan, bahwa penentuan tempo dalam Akad Salam bukanlah persyaratan yang baku, sehingga dibenarkan bagi pemesan untuk memesan barang dengan tanpa tenggang waktu yang memengaruhi harga barang, atau bahkan dengan tidak ada tenggang waktu sama-sekali.

Mereka beralasan, bahwa bila pemesanan barang yang pemenuhannya dilakukan setelah berlalu waktu cukup lama dibenarkan, yang mungkin saja penjual tidak berhasil memenuhi pesanan, maka pemesanan yang langsung dipenuhi seusai akad lebih layak untuk dibenarkan. [Baca Al ‘Aziz oleh Ar Rafi’i 4/396 & Mughnil Muhtaj oleh As Syarbiny 2/105]

Bila kita cermati kedua pendapat di atas, maka kita dapatkan, pendapat kedualah yang lebih kuat. Hal ini berdasarkan alasan-alasan berikut:

  1. Hukum asal setiap perniagaan adalah halal, kecuali yang nyata-nyata diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Sedangkan pada permasalahan kita ini, tidak ada satu dalil pun yang nyata-nyata melarang Akad Salam yang tidak mengandung tenggang waktu pada proses penyerahan barang pesanan.
  2. Berdasarkan alasan di atas, sebagian ulama’ menyatakan, bahwa selama suatu akad dapat ditafsiri dengan suatu penafsiran yang benar, maka penafsiran itulah yang semestinya dijadikan sebagai dasar penilaian.
  3. Adapun hadis di atas, maka tidak tegas dalam pensyaratan tempo, sebagaimana hadis ini dapat ditafsirkan: “Bila kalian memesan hingga tempo tertentu, maka tempo tersebut haruslah diketahui/disepakati oleh kedua belah pihak.” Penafsiran ini nampak kuat bila kita kaitkan dengan hal lain yang disebutkan pada hadis di atas, yaitu timbangan dan takaran. Para ulama’ telah sepakat, bahwa timbangan dan takaran tidak wajib ada pada setiap Akad Salam. Timbangan dan takaran wajib diketahui bersama, bila Akad Salam dijalin pada barang-barang yang membutuhkan kepada takaran atau timbangan. Adapun pada barang yang penentuan jumlahnya dilakukan dengan menentukan hitungan, misalnya Salam pada kendaraan, maka sudah barang tentu takaran dan timbangan tidak ada perlunya disebut-sebut. [Baca Ikhtiyarat Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah (dicetak bersama Al Fatawa Al Kubra 5/393 & As Syarhul Mumti’ oleh Syeikh Ibnu Utsaimin 9/77-78]

Setelah persyaratan tempo pengadaan barang ini disepakati oleh kedua belah pihak, maka ada tiga kemungkinan yang dapat terjadi pada saat jatuh tempo:

A. Kemungkinan Pertama: Pedagang berhasil mendatangkan barang pesanan tepat pada tempo yang telah disepakati. Maka pada keadaan ini, pemesan berkewajiban untuk menerimanya.

B. Kemungkinan Kedua: Pedagang tidak dapat mendatangkan barang pesanan, maka pemesan berhak menarik kembali uang pembayaran yang telah ia serahkan, atau memerbaharui perjanjian, dengan membuat tempo baru. [Baca Al Mughni oleh Ibnu Qudamah 6/407]

C. Kemungkinan Ketiga: Pedagang mendatangkan barang sebelum tempo yang telah disepakati. Pada keadaan ini, apabila pemesan tidak memiliki alasan untuk menolak barang yang ia pesan, maka ia diwajibkan untuk menerimanya. Hal ini dikarenakan pedagang telah berbuat baik, yaitu dengan menyegerakan pesanan, dan orang yang berbuat baik tidak layak untuk disalahkan:

مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ. التوبة 91

“Tiada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At Taubah: 91)

Adapun bila pemesan memiliki tujuan yang dibenarkan untuk tidak menerima pesanannya kecuali pada tempo yang telah disepakati, maka ia dibenarkan untuk menolaknya. Hal ini berdasarkan hadis berikut:

لا ضَرَرَ ولا ضِرَار. رواه احمد وابن ماجة وحسنه الألباني.

“Tidak ada kemadhorotan atau pembalasan kemadhorotan dengan yang lebih besar dari perbuatan.” (Riwayat Ahmad, Ibhnu Majah dan dihasankan oleh Al Albany)

Sebagai contoh: Bila barang yang dipesan adalah buah-buahan sehingga cepat rusak, padahal pemesan bermaksud menjualnya pada tempo yang telah disepakati, karena pada saat itu harga buah tersebut lebih mahal, atau banyak peminatnya, maka pemesan dibenarkan untuk tidak menerima pesanannya, kecuali pada tempo yang telah disepakati.

Atau barang pesanannya membutuhkan gudang yang luas, sedangkan saat itu gudang yang dimiliki oleh pemesan sedang penuh, maka ia dibenarkan untuk tidak menerima pesanannya, kecuali pada tempo yang telah disepakati.

Syarat Kelima: Barang Pesanan Tersedia di Pasar Pada Saat Jatuh Tempo

Pada saat menjalankan Akad Salam, kedua belah pihak diwajibkan untuk memerhitungkan ketersediaan barang pada saat jatuh tempo. Persyaratan ini demi menghindarkan Akad Salam dari praktik tipu-menipu dan untung-untungan, yang keduanya nyata-nayata diharamkan dalam syariat Islam.

Sebagai contoh: Bila seseorang memesan buah musiman seperti durian atau mangga dengan perjanjian: “Barang harus diadakan pada selain waktu musim buah durian dan mangga”, maka pemesanan seperti ini tidak dibenarkan. Selain mengandung unsur ghoror (untung-untungan), akad semacam ini juga akan menyusahkan salah satu pihak. Padahal di antara prinsip dasar perniagaan dalam Islam ialah “memudahkan”, sebagaimana disebutkan pada hadis berikut:

لا ضَرَرَ ولا ضِرَار. رواه احمد وابن ماجة وحسنه الألباني.

“Tidak ada kemadhorotan atau pembalasan kemadhorotan dengan yang lebih besar dari perbuatan.” (Riwayat Ahmad, Ibhnu Majah dan dihasankan oleh Al Albany)

Ditambah lagi pengabaian syarat tersedianya barang di pasaran pada saat jatuh tempo akan memancing terjadinya percekcokan dan perselisihan yang tercela. Padahal setiap perniagaan yang rentan menimbulkan percekcokan antara penjual dan pembeli pasti dilarang. Oleh karenanya Rasulullah ﷺ bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: لا تحاسدوا ولا تناجشوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم على بيع بعض وكونوا عباد الله إخوانا، المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يخذله ولا يحقره. متفق عليه

Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia menuturkan: Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah engkau saling hasad. Janganlah saling menaikkan penawaran barang (padahal tidak ingin membelinya). Janganlah saling membenci. Janganlah saling merencanakan kejelekan. Janganlah sebagian dari kalian melangkahi pembelian sebagian lainnya, dan jadilah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara orang Muslim lainnya. Tidaklah ia menzalimi saudaranyanya, dan tidaklah ia membiarkannya dianiaya orang lain, dan tidaklah ia menghinanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Syarat Keenam: Barang Pesanan Adalah Barang yang Pengadaannya Dijamin Pengusaha

Yang dimaksud dengan barang yang terjamin adalah barang yang dipesan tidak ditentukan selain kriterianya. Adapun pengadaannya, maka diserahkan sepenuhnya kepada pengusaha, sehingga ia memiliki kebebasan dalam hal tersebut. Pengusaha berhak untuk mendatangkan barang dari ladang atau persedian yang telah ada, atau dengan membelinya dari orang lain.

Persyaratan ini bertujuan untuk menghindarkan Akad Salam dari unsur ghoror (untung-untungan). Sebab bisa saja kelak ketika jatuh tempo, pengusaha, dikarenakan suatu hal, tidak bisa mendatangkan barang dari ladangnya, atau dari perusahaannya.

Sebagai contoh: Bila seorang pedagang memesan gabah kepada seorang petani dengan kriteria yang telah disepakati, maka pada Akad Salam ini, petani tidak boleh dibatasi ruang kerjanya, yaitu dengan menyatakan: gabah yang didatangkan harus dari hasil ladang miliknya sendiri. Akan tetapi petani harus diberi kebebasan, sehingga ketika jatuh tempo, ia berhak menyerahkan gabah dari hasil ladang sendiri, atau dari hasil ladang orang lain, yang telah ia beli terlebih dahulu .

Contoh lain: Seorang pedagang yang di tokonya telah tersedia 100 bungkus semen, @ 50 kg dari merek tertentu, tatkala Anda memesan 50 bungkus semen dari merek tersebut yang beratnya @ 50 kg, untuk tempo 4 bulan yang akan datang, maka ketika Anda membuat perjanjian Salam dengannya, Anda berdua tidak dibenarkan untuk mensyaratkan, agar semen yang diserahkan kelak adalah dari ke 100 bungkus semen yang sekarang ini telah dimiliki oleh pedagang. Karena mungkin saja semen yang serang telah ada ketika telah jatuh tempo menjadi rusak, atau dicuri orang.

Persyaratan ini adalah pendapat Jumhur Ulama’. Sedangkan sebagian ulama berpendapat, bahwa persyaratan ini tidak diperlukan [Untuk lebih luas membaca keterangan ulama’ tentang persyaratan ini, silakan baca buku: Al ‘Aziz oleh Ar Rafi’i 4/394-396, Al Mughni oleh Ibnu Qudamah 6/406, & Fathul Bary oleh Ibnu Hajar al ‘Asqalaany 4/433], dengan alasan:

  1. Hukum asal setiap perniagaan adalah halal, kecuali yang telah nyata-nyata diharamkan dalam dalil.
  2. Berdasarkan hukum asal di atas, sebagian ulama’ menyatakan, selama suatu akad dapat ditafsiri dengan suatu penafsiran yang benar, maka penafsiran itulah yang semestinya dijadikan sebagai dasar penilaian.

Oleh karena itu, ulama’ yang berpendapat dengan pendapat kedua ini menyatakan, bahwa akad pemesanan dari barang yang telah ada dan terbatas jumlahnya, pada hakikatnya bukanlah Akad Salam/pemesanan, akan tetapi akad jual beli biasa. Hanya saja diiringi dengan akad lain, yaitu penitipan barang dalam tempo waktu yang disepakati.

Dengan demikian, pada contoh kasus pemesanan semen di atas, pemesan telah membeli 50 bungkus semen, ketika akad berlangsung, dan sekaligus menitipkan semen yang telah ia beli kepada pemilik toko hingga tempo 4 bulan. [Baca As Syarhul Mumti’ oleh Syeikh Ibnu Utsaimin 9/84]

Permasalahan ini tercakup oleh kaidah fikih yang sangat masyhur, yaitu:

هَلْ العِبْرَةُ بِصِيَغِ العُقُودِ أَوْ بِمَعَانِيهَا ؟

“Apakah yang menjadi pedoman dalam menghukumi suatu akad adalah kata-kata yang diucapkan ketika menjalankan akad, atau maknanya?” [Yang lebih kuat ialah pendapat yang menyatakan, bahwa yang menjadi pedoman dalam menghukumi suatu akad ialah maksud dan maknanya, bukan sekedar lahir dari kata-kata yang diucapkan oleh pelaku transaksi tersebut. Bagi yang ingin mendapatkan keterangan lebih lanjut tentang kaidah ini, silakan baca kitab Al Fatawa Al Kubra oleh Ibnu Taimiyyah 6/31-dst, I’ilamul Muwaqi’in oleh Ibnul Qayyim 3/98-dst, Taqrirul Qawaid oleh Ibnu Rajab 1/267-273, Al Mantsur oleh Az Zarkasyi 2/371, Al Asybah wa An Nazhair oleh As Suyuthi hal: 166]

Bila demikian adanya, maka pendapat yang lebih kuat ialah pendapat kedua. [Baca As Syarhul Mumti’ oleh Syeikh Ibnu Utsaimin 9/83-84]

Inilah persyaratan Akad Salam secara global, dan yang berdasarkan ilmu saya yang sempit, rajih dari berbagai persyaratan yang disebutkan dalam berbagai buku fikih.

Fatwa-Fatwa Seputar Transaksi Salam

Selanjutnya, di bawah ini beberapa fatwa Komite Tetap Untuk Riset Ilmiyyah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia yang berkaitan dengan berbagai transaksi Salam:

A. Pertanyaan:

Apabila ada seseorang yang sedang dalam kebutuhan, lalu ia mengambil dari orang lain sejumlah uang, dengan perjanjian: pengutang akan membayarnya setelah beberapa lamanya dengan beberapa sho’ gandum atau kurma. Dan perjanjian ini dilakukan sebelum gandum dan kurma menua siap dipanen?

Jawaban:

Bila pengutang berjanji untuk membayar piutang dengan sejumlah sho’ yang telah disepakati, maka kasus ini tergolong ke dalam permasalahan Salam. Dan Salam adalah salah satu bentuk transaksi jual-beli yang dibolehkan dengan beberapa persyaratan, yaitu:

  • Pertama: Dilakukan pada barang-barang yang dapat ditentukan kriterianya.
  • Kedua: Kedua belah pihak menyepakati berbagai kriteria barang yang memengaruhi harganya.
  • Ketiga: Hendaknya jumlah barang ditentukan, baik dengan takaran pada komoditi yang ditakar, atau dengan timbangan pada komoditi yang ditimbang, atau dengan meteran pada komoditi yang dihitung panjangnya. [Persyaratan ini, pada pembahasan sebelumnya, sengaja saya gabungkan dengan persyaratan kedua]
  • Keempat: Hendaknya pengadaan barang dilakukan setelah berlalunya tempo yang disepakati.
  • Kelima: Hendaknya komoditi yang dipesan adalah komoditi yang banyak diperoleh pada saat jatuh tempo.
  • Keenam: Hendaknya pembayaran dilakukan pada saat transaksi berlangsung.
  • Ketujuh: Hendaknya barang pesanan adalah barang yang pengadaannya dijamin oleh pengusaha, dan bukan barang yang telah ada.

Dasar dihalalkannya transaksi Salam dari Alquran adalah firman Allah ta’ala berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak dengan secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya.” (QS. Al Baqarah: 282)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “Saya bersaksi, bahwa transaksi Salaf (Salam) yang terjamin hingga tempo yang ditentukantelah dihalalkan dan diizinkan Allah dalam Alquran, kemudian beliau membaca ayat tersebut. (Diriwayatkan oleh Sa’id -bin Manshur-pen)

Dan di antara dalil dari As Sunnah ialah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, bahwa tatkala Nabi ﷺ tiba di kota Madinah, (beliau mendapatkan penduduknya) memesan buah-buahan dalam tempo satu atau  dua tahun, maka beliau ﷺ bersabda:

من أسلف في شيء فليسلف في كيل معلوم ووزن معلوم إلى اجل معلوم. متفق عليه

“Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih)

Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. [Majmu’ Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah 14/94, Fatwa no: 437]

B. Pertanyaan:

Seseorang memberikan sejumlah pinjaman uang kepada pengusaha lebah madu, dengan perjanjian: ketika musim panen tiba, pemberi pinjaman berhak mengambil madu yang ia suka seharga pinjaman tersebut. Dan kadang kala musim panen tiba, sedangkan pengusaha lebah madu tidak mendapatkan madu sesuai kriteria pemberi piutang, atau mungkin pengusaha lebah telah menjual lebahnya atau lebahnya pergi. Apa hukum uang pinjaman tersebut? Berilah kami arahan, semoga Allah membalas kebaikan Anda.

Jawaban:

Transaksi jual beli yang disebutkan pada pertanyaan adalah salah satu bentuk transaksi Salam. Hanya saja transaksi tersebut terlaksana dengan cara-cara yang tidak dibenarkan, karena menyelisihi ketentuan Akad Salam. Yang demikian itu karena Salam adalah akad jual-beli terhadap sesuatu barang yang telah ditentukan kriterianya dan dijamin pengadaanya oleh pengusaha, dengan disertai persyaratan berikut:

  1. Penentuan kriterianya dimulai dari jumlah takaran atau timbangan, atau meteran, dan juga jenis serta segala kriteria yang memengaruhi harganya.
  2. Adanya praduga kuat tentang kemampuan pengusaha untuk mengadakan barang ketika jatuh tempo.
  3. Penentuan tempo pengadaan barang.
  4. Pembayaran sepenuhnya dilakukan di muka, ketika akad berlangsung.

Sedangkan kasus yang disebutkan pada pertanyaan, maka itu adalah transaksi terhadap suatu barang yang pengadaannya tidak dijamin oleh pengusaha, dikarenakan ia memesan hanya dari hasil ladang lebah yang telah dimiliki. Sebagaimana halnya mereka berdua belum menyepakati jumlah madu dalam hitungan kilo yang dipesan, serta tidak menyebutkan tempo penyerahan madu.

Transaksi ini serupa dengan transaksi yang dahulu dilakukan oleh penduduk Madinah yang menerima pesanan kurma dari hasil kebun mereka sendiri. Tatkala Nabi ﷺ tiba di kota Madinah, beliau ﷺ melarang akan hal itu, dengan alasan  ghoror (untung-untungan) yang ada padanya. Karena mungkin saja kebun tersebut terkena musibah, sehingga tidak menghasilkan.

Ibnu Hajar dalam kitab (Fathul Bary 4/433) berkata: “Ibnu Munzir menukilkan kesepakatan Jumhur Ulama’ yang melarang transaksi Salam pada ladang tertentu; karena itu adalah ghoror/untung-untungan.”

Oleh karenanya dinyatakan pada hadis Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu:

قَدِمَ النبي صلى الله عليه و سلم الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمَارِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلاَثَ. فقال: من أَسْلَفَ في شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ . متفق عليه

Ketika Nabi ﷺ tiba di kota Madinah, sedangkan penduduk Madinah telah biasa memesan buah kurma dalam tempo waktu dua tahun dan tiga tahun, maka beliau ﷺ bersabda: “Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih)

Berdasarkan itu, maka transaksi Salam yang disebutkan pada pertanyaan tidak sah, karena tidak memenuhi kebanyakan dari persyaratan Salam. Dengan demikian, transaknya tidak sempurna, dan wajib atas pengusaha (lebah) untuk mengembalikan uang tersebut kepada pemesan.

Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. [Majmu’ Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah 14/108, Fatwa no: 19612]

C. Pertanyaan:

Di Sudan ada seseorang yang biasa memanfaatkan perekonomian masyarakat (kaum Muslimin) yang susah, dengan membeli hasil panen mereka jauh-jauh hari sebelum musim panen tiba, dengan harga yang sangat murah. Dan ketika musim panen tiba, ia benar-benar menerima seluruh hasil panen mereka. Menurut syariat, apa hukum perbuatannya tersebut?

Jawaban:

Bila orang tersebut membeli dari para petani atau lainnya hasil panen ladang mereka, dengan persyaratan yang sesuai dengan Jual-Beli Salam, yaitu dengan cara menyebutkan kriteria hasil ladang, dalam takaran atau timbangan yang telah disepakati, serta pembayaran sepenuhnya dilakukan pada saat transaksi, tanpa menentukan, bahwa hasil ladang yang ia beli adalah hasil dari ladang tertentu, maka transaksi ini dibolehkan, dan itulah transaksi Salam yang disyariatkan, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

من أسلف في شيء فليسلف في كيل معلوم ووزن معلوم إلى اجل معلوم. متفق عليه

“Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih)

Adapun bila orang tersebut membeli hasil panen ladang tertentu sebelum masa tanaman menua dan siap panen, maka itu tidak dibolehkan. Hal itu karena Nabi ﷺ melarang kita untuk menjual buah-buahan hingga menua dan biji-bijian hingga mengeras.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Kitab Shohihnya dari sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma:

أنَّ رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن بيع النخل حتى يزهو، وعن بيع السنبل حتى يبيض ويأمن العاهة، نهى البائع والمشتري. متفق عليه

“Bahwa Rasulullah ﷺ melarang jual-beli kurma hingga menua, dan jual-beli biji-bijian hingga memutih dan selamat dari bencana (puso). Beliau melarang penjual dan pembeli.” (Muttafaqun ‘alaih)

Tanda menuanya buah-buahan ialah dengan berwarna merah atau kuning dan enak untuk dimakan.

Apabila ia membeli hasil ladang setelah buah-buahan menua dan biji-bijian mengeras, maka itu adalah transaksi yang dibolehkan, dan tidak mengapa.

Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. [Majmu’ Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah 14/88, Fatwa no: 19690]

D. Pertanyaan:

Apa hukumnya menyewakan kebun kelapa? Maksudnya: Seseorang yang memiliki kebun kelapa, kemudian ia menerima dari orang lain uang sebesar 1000 Peso, dengan perjanjian: Buah kelapa kebun tersebut menjadi milik penyewa selama lima tahun. Apakah transaksi in dibolehkan dalam Islam atau tidak?

Jawaban:

Transaksi ini terlarang, dikarenakan padanya terdapat unsur ketidak jelasan dan ghoror (untung-untungan). Yang demikian itu karena mereka tidak dapat mengetahui, seberapa banyak buah kelapa yang akan dihasilkan oleh kebun tersebut selama lima tahun ke depan. Mungkin saja kebun itu berbuah dan mungkin juga tidak berbuah, mungkin berbuah sedikit dan mungkin juga berbuah banyak. Dan telah tetap, bahwa Nabi ﷺ “Melarang dari jual-beli buah-buahan hingga memerah atau menguning” [Riwayat Imam Ahmad, Bukhory, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Hibban, At Thoyalisi, At Thohawy dan Al Baihaqy dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu], dan telah tetap pula, bahwa beliau ﷺ “Melarang dari jual-beli biji-bijian hingga mengeras.” [Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah, Ad Daraquthny, Ibnu Hibban, Abu Ya’la, Al Hakim, At Thohawy, dan Al Baihaqy dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu]. Sebagaimana beliau ﷺ juga melarang dari “Jual-beli Al Mu’awamah/tahunan” [Diriwayatkan dengan lafadz Al Mu’awamah oleh Imam Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At Tirmizy, An Nasa’i, Ibnu Abi Syaibah, Abu Ya’la, Ibnu Hibban, At Thohawy, Ibnul Jarud, dan Al Baihaqy],  serta jual-beli As Sinin/Tahunan.” [Diriwayatkan dengan lafadz As sinin oleh Imam As Syafi’i, Ahmad, Muslim, Abu Dawud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Daraquthni, Al Humaidy, Ibnu Bai Syaibah, Ibnu Hibban, Abu Ya’la, Ibnul Jarud, At Thohawy, dan Al Baihaqy]

Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.” [Majmu’ Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah, 14/84, Fatwa no: 12990]

E. Pertanyaan

Salah seorang masyarakat mendatangi seseorang yang kaya raya untuk memesan satu unit mobil. Pada saat itu disepakati jenis dan model mobil yang diinginkan. Kemudian orang tersebut menyerahkan sejumlah uang yang ia mampu bayarkan, dengan perjanjian ia akan memberi keuntungan, misalnya sebesar sepuluh ribu atau lebih, sesuai dengan harga mobil di show room. Setelah kesepakatan itu orang kaya tersebut akan pergi ke show room guna membeli mobil dimaksud, kemudian ia menyerahkannya kepada pemesan. Pada gilirannya pemesan melunasi sisa pembayaran dengan dicicil sesuai dengan perjanjian.

Jawaban:

Bila perjanjian jual-beli antara kedua belah pihak dengan harga dan mobil, dan setelah keduanya menyepakati kriteria mobil tanpa menentukan barangnya, dan sebelum pengusaha tersebut membeli mobil dimaksud. Bila demikian adanya, maka itu termasuk Akad Salam tanpa ada tempo, dikarenakan pembayaran atau sebagainnya terutang, sehingga termasuk jual-beli piutang dengan piutang. Disebabkan dengan disepakatinya akad jual-beli, maka mobil pembeli menjadi terutang oleh pengusaha, sebagaimana harga mobil terutang oleh pemesan, karena keduanya sama-sama belum menyelesaikan tanggungannya. Dan transaksi semacam ini adalah terlarang.

Metode yang benar ialah: Hendaknya kedua belah pihak tidak terlebih dahulu membuat akad jual-beli, akan tetapi pengusaha membeli mobil dan membawanya pulang terlebih dahulu. Setelahnya ia dibolehkan untuk menjual mobil tersebut dengan harga yang mereka sepakati. Dengan pembayaran dicicil beberapa kali atau dengan sekali pembayaran pada tempo tertentu. Metode ini disebut dengan jual-beli dengan pembayaran diutang, dan itu dibolehkan.

Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.” [Majmu’ Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah, 14/99, Fatwa no: 6097]

***

 

Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.

[Artikel www.pengusahaMuslim.com]

Sumber: http://pengusahamuslim.com/1154-jual-beli-as-salam.html

,

TRANSFER PIUTANG (HAWALAH)

TRANSFER PIUTANG (HAWALAH)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#IlmuFikih

TRANSFER PIUTANG (HAWALAH)

Hawalah adalah transaksi untuk mengalihkan utang, dari seseorang menjadi tanggungan orang lain.

Secara sederhana, akad Hawalah dapat digambarkan sebagai berikut:

A memberi utang pada B dengan tenggang waktu pelunasan yang telah ditentukan. Ternyata B juga pernah memberikan utang pada C, dengan jumlah yang sama dan waktu pelunasan yang sama pula. Ketika tiba waktunya pelunasan utang, A ingin menagih dari B, namun B mengalihkan pelunasan utangnya kepada C, dan meminta A agar menagih utang tersebut dari C.

Jadi, proses Hawalah terjadi di antara tiga orang, yaitu:

(1) A sebagai pemberi piutang pada B;

(2) B sebagai penerima utang dari A dan sekaligus memberi piutang pada C; dan

(3) C, penerima utang dari B.

Dalil Hawalah

Disebutkan dalam hadis shahih dari Abu Hurairah Radliallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, yang artinya:

“Menunda pembayaran utang, padahal mampu untuk melunasinya adalah perbuatan zalim. Apabila kamu memberi piutang kemudian hendak menagih piutang tersebut, namun kamu ditawari untuk menagihnya dari orang lain yang mampu untuk melunasinya, maka hendaklah  kamu  menerima tawaran tersebut” [HR Bukhari & Muslim].

Perlu diperhatikan, Hawalah BUKANLAH proses jual-beli. Karena itu, B tidak dikatakan sedang menjual piutangnya kepada C untuk melunasi utangnya pada A. Hawalah juga BUKAN bentuk wakalah (mewakilkan). Karena dalam Hawalah, A menagih utang dari C untuk dirinya, bukan untuk diserahkan kepada B. Tetapi Hawalah merupakan bentuk akad tersendiri, sebagai salah satu bentuk cara pelunasan utang.

Rukun dan Syarat Hawalah

Agar proses Hawalah sempurna, ada beberapa rukun dan syarat yang harus dipenuhi.

Rukun Hawalah terdiri dari tiga unsur, yaitu:

  1. Shigho: Segala bentuk ucapan maupun tulisan, yang menandakan bahwa B menawari A untuk menagih utangnya kepada C, dan menerima tawaran tersebut.
  2. Adanya tiga pihak seperti yang disebutkan sebelumnya. Dalam istilah Ilmu Fikih, mereka dinamakan Muhiil (B – Orang yang memindahkan penagihan yaitu orang yang berutang), Muhaal (A – Orang yang dipindahkan hak penagihannya kepada orang lain, yaitu orang yang memunyai piutang) dan Muhaal ‘Alaihi (C – Orang yang dipindahkan kepadanya, objek penagihan)
  3. Adanya utang yang hendak ditagih.

Sementara Syarat Hawalah antara lain:

  1. Adanya kerelaan dari ketiga pihak tersebut. B rida kalau piutangnya pada C ditagih oleh A. B rida kalau utangnya pada A dialihkan pelunasannya ke C. C juga rida kalau utangnya pada B ditagih oleh A.
  2. Ketiga pihak tersebut disahkan oleh syariat untuk mengadakan transaksi, seperti: orang yang sudah baligh dan berakal (tidak gila).

Konsekuensi Akad Hawalah

Dalam setiap akad ada konsekuensi yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh pelakunya. Begitu pula dengan Hawalah. Di antara Konsekwensi Akad Hawalah adalah:

  1. Apabila telah terlaksana akad Hawalah sesuai dengan ketentuan dan syaratnya, konsekuensi dari akad tersebut adalah lepasnya tanggung jawab B untuk membayar utang kepada A. Artinya, A hanya berhak menagih utang dari C, dan C hanya berkewajiban membayar utang kepada A.
  1. Hawalah bukanlah akad jual-beli, namun masuk dalam akad utang-piutang, karena salah satu pihak tidak diperbolehkan mengambil keuntungan sedikit pun dari piutangnya.

Dalam sebuah hadis dinyatakan:

“Segala bentuk piutang yang dimaksudkan untuk memeroleh keuntungan adalah bentuk perbuatan riba.” [HR Baihaqi secara Mauquf dalam Sunan Kubro 5/305].

Para ulama juga sepakat dalam hal ini, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni 6/436

Beberapa Kondisi dalam Hawalah

  1. Apabila B mengalihkan pelunasan utangnya ke C, sedangkan C tidak punya utang pada B, proses akad Hawalah TETAP SAH, dengan syarat, C bersedia MEMBANTU melunasi utang B ke A. Dalam kondisi ini, kedudukan C bukanlah sebagai orang yang berkewajiban membayar utang, tetapi dia hanyalah seorang dermawan yang ingin membantu melunasi utang B kepada si A.

2. Apabila utang B pada A dalam mata uang Rupiah, sedangkan utang C pada B berupa Dolar, Hawalah TETAP BISA DIJALANKAN jika ketiganya rida. Dengan syarat, ketika A menagih utang ke C, keduanya mengadakan akad Shorf (Penukaran valuta asing). Kurs yang dipakai ketika proses pembayaran haruslah kurs harga di pasaran saat itu. Tidak boleh mengambil keuntungan dengan cara menetapkan sendiri kurs harga tukar.

3. Apabila C mengalami pailit sebelum akad Hawalah, sehingga tidak mungkin bisa melunasi utangnya, dan B tahu tentang keadaan tersebut, tapi TIDAK dia sampaikan kepada A, padahal A tidak mengetahuinya, kemudian mereka mengadakan akad Hawalah, maka A BERHAK UNTUK MEMBATALKAN Hawalah, karena dia berada pada posisi tertipu. Dengan demikian, A tetap menagih piutangnya pada B.

4. Apabila ketiga pihak telah sepakat untuk melakukan akad Hawalah, namun sebelum A menagih dari  C, ternyata C meninggal dunia atau terjadi sesuatu yang menyebabkan ia pailit, maka A tidak berhak lagi untuk menagih utangnya yang dulu dari B. Artinya, akad Hawalah tetap berlaku. Karena demikianlah konsekuensi akad Hawalah.

Jalan keluarnya: bila C meninggal dunia, A menagih piutangnya dari ahli waris C. Bila C jatuh pailit, A hanya bisa menunggu dan memerpanjang tempo pembayaran sampai keluarga C mampu melunasi. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Dan jika orang yang berutang itu dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memeroleh kelapangan.” [QS Al-Baqarah: 280].

5. Apabila piutang A pada B telah jatuh tempo, namun ketika ditagih, B mengalihkan pelunasannya ke C karena alasan tertentu, sementara  piutang B pada C belum jatuh tempo, maka jika A dengan rida menerima penawaran Hawalah dari B, A TIDAK BERHAK langsung menagih dari C, kecuali setelah jatuh tempo pelunasan utang C. Dengan demikian, ketika A menerima tawaran Hawalah, seakan-akan ia rida terhadap penangguhan pelunasannya dari tempo semula.***

 

Penulis: Ustadz Muhammad Yasir, MA hafizhahullahu ta’ala

Sumber: http://pengusahamuslim.com/5518-oper-utang-piutang-fikih-Hawalah.html

 

Catatan Tambahan:

Istilah dalam Hawalah:

  • Muhil (Orang yang memindahkan penagihan, yaitu orang yang berutang).
  • Muhal (Orang yang dipindahkan hak penagihannya kepada orang lain, yaitu orang yang memunyai piutang).
  • Muhal ‘alaih (Orang yang dipindahkan kepadanya objek penagihan).
  • Muhal bih (Hak yang dipindahkan, yaitu utang).
, , ,

AL HILAH, MELAKUKAN REKAYASA TERHADAP HUKUM ALLAH

AL HILAH, MELAKUKAN REKAYASA TERHADAP HUKUM ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

AL HILAH, MELAKUKAN REKAYASA TERHADAP HUKUM ALLAH

Oleh: Ustadz Muhammad Asim Musthofa

Allah telah mengatur manusia melalui lisan Rasul-Nya ﷺ dengan syariat, sebagaimana tertuang dalam ajaran din (agama) ini. Demikian pula perihal perkara halal dan haram dalam bermuamalah. Dalam salah satu hadis shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, ada disebutkan, bahwa yang halal maupun yang haram sudah sangat jelas. Namun, di antara halal dan haram tersebut terdapat perkara syubhat (samar), yang belum jelas hukumnya bagi kebanyakan orang. Yang belum jelas ini harus diwaspadai dan dijauhi oleh seorang Muslim, demi keselamatan diri dan din-nya. Bukan sebaliknya.

Ironisnya, banyak juga dijumpai di antara kaum Muslimin yang tidak mengindahkan masalah tersebut. Bahkan lebih tragis lagi, ada di antaranya yang sengaja mencari celah-celah untuk merekayasa, membuat-buat trik atau tipu daya, hal-hal yang telah jelas haram, dengan upaya menyamarkan keadaan, sehingga akan nampak menjadi halal atau boleh. Dalam istilah syariat, perbuatan seperti ini disebut melakukan Al Hilah الحيلة.

Berbagai cara dilakukan untuk mengelabui kebanyakan orang, atau untuk memerdaya orang-orang yang kurang wara` dalam agamanya, sehingga mendapatkan label halal atau label boleh dalam bermuamalah atau jual-beli mereka. Padahal, jika diamati, pada hakikatnya cara yang mereka tempuh tidak jauh berbeda dengan hukum aslinya. Sekedar memutar cara atau jalan untuk melampiaskan keserakahan hawa nafsu, agar bisa menikmati yang haram maupun yang syubhat.

Menentukan Halal dan Haram Merupakan Hak Allah

Di dalam Alquran, Allah ﷻ telah menjelaskan, bahwa menentukan yang halal dan haram bukan menjadi kewenangan manusia, tetapi merupakan hak Allah. Di antaranya Allah ﷻ berfirman:

“Apakah mereka memunyai Sembahan-sembahan selain Allah, yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” [asy Syura/42:21]

“Mereka menjadikan orang-orang ‘alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka memertuhankan) Al Masih putra Maryam. Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. [at Taubah/9:31]

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”. [an Nahl/16:116].

Dari ayat-ayat di atas sangat jelas, bahwa menyematkan halal dan haramnya sesuatu merupakan hak Allah dan Rasul-Nya. Adapun para ulama, ketika mengatakan sesuatu ini halal, sesuatu itu haram, tentunya mereka tidak keluar dari apa yang telah disyariatkan Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ. Karenanya, setiap Muslim harus menerima tuntunan syariat manakala bermuamalah. Tidak melakukan khilah, dengan mencari-cari celah untuk menghalalkan yang diharamkan, ataupun mengharamkan yang telah dihalalkan Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Setiap Yang Haram Adalah Buruk

Kita harus meyakini, tatkala Allah atau Rasul-Nya ﷺ mengharamkan sesuatu, pasti dalam perkara yang diharamkan tersebut dapat berakibat jelek bagi pelakunya. Sebaliknya, setiap yang dihalalkan ataupun diperintahkan Allah, pasti mengandung banyak kemaslahatan bagi kehidupan manusia, baik dalam kehidupan di dunia ataupun Akhirat.

Telah dinyatakan Allah ﷻ dalam kitab-Nya: “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi, yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar, dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk”. [al A’raf/7:157].

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. [al Baqarah/2:219]

Membuat Hilah (Rekayasa) Sesuatu Yang Haram, Adalah Haram

Al Hilah, atau melakukan rekayasa, tipu daya dalam perkara yang haram, atau yang mengarah kepada sesuatu yang haram, adalah haram. Kaidah fikih yang berlaku adalah: “Setiap wasilah dihukumi dengan maksud atau tujuan yang terkandung di dalamnya”. Oleh karena itu, seseorang yang berniat menghalalkan yang telah Allah haramkan, maka hukum sesuatu tersebut tetap haram, walaupun ia memolesnya dengan banyak tipu daya, membuat rekayasa.

Definisi Al Hilah

Secara bahasa, kata Al Hilah الحيلة) ), sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar di dalam Fat-hul Bari, memunyai arti: Segala cara yang mengantarkan kepada tujuan dengan cara yang tersembunyi (lembut) [Fat-hul Bari (12/326). Lihat kitab Qawa’idul Qasa-il fisy-Syari’ah al Islamiyah]. Adapun secara istilah, Al Hilah adalah, melakukan suatu amalan yang zahirnya boleh, untuk membatalkan hukum syari, serta memalingkannya kepada hukum yang lainnya [Al Muwafaqat (4/201), asy Syatibi. Lihat kitab Qawa’idul Qasa-il fisy-Syari’ah al Isla].

Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: ”Sesungguhnya kata umum Al Hilah, bila diarahkan menurut pemahaman ulama fikih, mengandung arti tipu daya, atau cara yang dipakai untuk menghalalkan hal-hal yang haram, sebagaimana tipu dayanya orang-orang Yahudi.” [Al Fatawa al Kubra (3/223)].

Ibnu Qudamah berkata: ”Yaitu dengan menampakkan transaksi yang mubah, sebagai tipu daya dalam melakukan hal yang diharamkan, atau jalan yang mengantarkan kepada sesuatu yang telah Allah haramkan…”. [Al Mughni (4/179). Lihat Qawa’idul Qasa-il fisy-Syari’ah al Islamiy].

Sehingga, dapat dikatakan, trik atau tipu daya yang diharamkan adalah, tipu daya dalam perkara-perkara yang haram, dengan menggunakan cara tidak langsung atau terselubung.

Jenis Al Hilah Secara Umum

Menurut Ibnul Qayyim, terdapat dua jenis Al Hilah:

Pertama:

Jenis yang mengantarkan kepada amalan yang diperintahkan oleh Allah ﷻ dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Menghentikan dari sesuatu yang haram. Memenangkan yang haq dari kezaliman yang menghalang. Membebaskan orang yang dizalimi dari penindasan orang-orang yang zalim. Jenis ini termasuk baik, dan pelaku atau penyeru (yang mengajaknya) akan mendapatkan pahala.

Kedua:

Yang bertujuan untuk menggugurkan kewajiban, menghalalkan perkara yang haram, membolak-balikkan keadaan dari orang yang teraniaya menjadi pelaku aniaya dan orang yang zalim seakan menjadi orang yang terzalimi. Mengubah kebenaran menjadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran. Jenis hilah seperti ini, para salaf telah bersepakat tentang kenistaannya…) [Ighatsatul Lahfan (1/339). Lihat kitab Qawa’idul Qasa-il fisy-Syari’ah al Islamiyah].

Imam asy Syatibi memberikan catatan kepada jenis hilah yang tercela (yaitu jenis yang kedua) di atas, bahwa yang dimaksudkan dengan Al Hilah, (yang seperti itu) adalah, sesuatu yang akan menghancurkan sumber syari yang sebenarnya, serta meniadakan maslahat syari yang terdapat di dalamnya. Sesuatu yang akan menghancurkan sumber asli yang syari, serta meniadakan maslahat yang syari [Al Muwafaqat (2/387). Lihat kitab Qawa’idul Qasa-il fisy-Syari’ah al Islamiyah].

Macam-Macam Hilah Yang Terlarang

Menurut Ibnu Qayyim, hilah yang terlarang, atau semisalnya (yang terlarang, Pen), semua kaum Muslimin, seorang pun tidak ada yang meragukan, bahwa hal ini termasuk bagian dari dosa-dosa besar, dan merupakan perbuatan paling jelek dari perkara-perkara yang diharamkan. Perbuatan seperti ini termasuk dalam kategori memermainkan agama Allah dan memerolok ayat-ayat-Nya. Dari sisi perbuatannya saja adalah haram, karena adanya kedustaan dan tipu daya di dalamnya. Ditinjau dari maksud dan tujuannya pun, hilah juga haram, karena untuk meniadakan kebenaran dan ingin menghidupkan melanggengkan kebatilan [I’lamul Muwaqi’in, Ibnu Qayyim (3/287, 288)].

Ibnu Qayyim rahimahullah membagi hilah (tipu daya terlarang) di atas menjadi tiga macam:

Pertama: Hilah haram ditujukan kepada sesuatu yang haram pula

Semisal, melakukan rekayasa untuk menghalalkan amalan yang mengandung unsur riba. Misalnya, seperti dalam masalah Mud ‘ajwa, yaitu seseorang yang menjual jenis barang yang masuk dalam masalah riba` dengan sejenisnya, dengan disertakan (disyaratkan) bersama keduanya atau salah satunya sesuatu yang lain jenisnya [Al Mughni (4/155-156). Lihat kitab Qawa’idul Qasa-il fisy-Syari’ah al Islamiyah].

Kedua:

Cara atau perbuatan asalnya boleh, akan tetapi dipergunakan untuk sesuatu yang haram. Seperti melakukan safar yang digunakan untuk merampok, membunuh orang, dan lain-lain.

Ketiga:

Cara yang dipakai pada asalnya tidak dipergunakan untuk sesuatu yang haram, bahkan dimaksudkan untuk sesuatu yang disyariatkan, seperti menikah, melakukan jual-beli, memberikan hadiah, dan sebagainya; namun kemudian dipakai sebagai tangga untuk menuju sesuatu yang diharamkan.

Hilah Merupakan Akhlak dan Kebiasaan Yahudi

Allah ﷻ telah menjelaskan dalam beberapa ayat, yang menerangkan akhlak orang-orang Yahudi dalam masalah tipu daya ini. Mereka berusaha mengubah hukum-hukum yang telah diajarkan oleh para nabi mereka. Semisal laknat dan kemurkaan Allah Ta’ala tatkala orang-orang Yahudi dilarang berburu pada hari Sabtu. Pada hari tersebut banyak didapatkan ikan, yang tidak didapatkan pada hari lainnya. Kemudian, untuk melakukan rekayasa, mereka pun menempatkan perangkap (jaring) pada hari sebelumnya dan mengambil hasilnya pada hari Ahad. Perbuatan ini merupakan tipu daya mereka, yaitu dengan mengabaikan perintah Rabb. Sebagaimana Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang telah diberi al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Alquran) yang membenarkan kitab yang ada pada kamu sebelum Kami mengubah muka(mu). Lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuk mereka, sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku”. [an Nisaa`/4:47].

“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut, ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka, disebabkan mereka berlaku fasik” [al A’raf/7:163].

Contoh Muamalah Yang Menggunakan Hilah

Bila kita perhatikan, banyak dijumpai praktik muamalah yang menggunakan tipu daya atau rekayasa, baik yang telah jelas keharamannya berdasarkan dalil-dalil dari nash, maupun dari masalah-masalah baru yang belum pernah terjadi. Namun jika diperhatikan, masalah-masalah yang berkembang atau baru tersebut, akan didapatkan, masalah yang baru tersebut tidak jauh dari permasalahan lama, yang bersumber dari nash-nash ataupun kaidah yang telah ada. Para ulama, seperti Ibnul Qayyim [I’lamul Muwaqi’in, Ibnul Qayyim (3/158-342)], atau sebagian ulama lainnya telah memberikan contoh mengenai muamalah yang menggunakan praktik hilah atau tipu daya ini.

Sebagai contoh, dapat disebutkan beberapa amalan yang sekiranya berhubungan erat dengan masalah hilah ini, yang dimaksudkan sebagai usaha mengubah ketentuan syari yang telah ditetapkan syariat Islam. Contoh-contoh hilah tersebut antara lain ialah:

– Hilah seorang suami yang ingin berbuat jahat kepada istrinya, dengan berusaha menggugurkan hak dia untuk mendapatkan warisan dari hartanya, tatkala sedang sakit keras, ia segera mentalaknya sebanyak tiga kali.

– Hilah seorang yang ingin menghindari hukuman bersetubuh pada bulan Ramadan dengan berpura-pura sakit atau meminum khamr terlebih dahulu, baru kemudian ia bersetubuh dengan istrinya.

– Hilah orang yang tidak mau berpuasa Ramadan, dengan cara merencanakan safar setiap bulan Ramadan datang.

– Hilah seseorang yang ingin menggugurkan kewajiban zakat hartanya yang akan mencapai satu tahun (Masa Haul), dengan menukarkannya dengan barang semisal, atau dengan menjualnya karena takut zakat, yang kemudian uangnya dibelikan barang sejenis atau yang lainnya. Sehingga ia akan memulai hitungan awal tahun dari barang baru tersebut. Bagitu seterusnya dan seterusnya, setiap akan mencapai waktu satu tahun umur hartanya tersebut. Dengan berbuat seperti itu, menurutnya, selamanya ia akan terbebas dari kewajiban zakat.

– Dua orang memunyai barang yang berkategori riba, tetapi masing-masing memiliki keadaan berbeda. Yang satu bagus dan yang kedua jelek. Mereka menaksir harga setiap barang di ingatan, tanpa ada wujud uang yang nyata. Sehingga yang ditaksir dengan harga rendah harus menambah sesuatu (uang) kepada yang memunyai barang bagus.

Semacam ini termasuk cara (tipu daya) untuk menghalalkan transaksi riba. Riba yang dimaksud di sini adalah jual beli emas dengan emas, atau Rupiah dengan Rupiah, atau yang lainnya dengan perbedaan jumlah. Padahal syarat yang harus dipenuhi dalam transaksi seperti ini ada dua, yaitu jumlah (timbangannya sama), dan diberikan langsung di tempat, pada waktu terjadi transksi (yadan bi yadin).

– Penjual yang ingin berlepas diri dari barang yang dipenuhi cacat, ia takut nantinya pembeli akan mengembalikannya, maka iapun memberikan syarat, barang yang telah dibeli tidak boleh dikembalikan lagi, bagaimana pun keadaannya. Alasannya, karena barang tersebut sudah keluar dari toko. Praktik semacam ini banyak dilakukan. Maka seharusnya kita menghindarinya.

– Mengambil pendapat yang lemah, serta berpendirian dengan apa yang sesuai dengan hawa nafsunya, padahal tidak ada dalil shahih dan jelas sebagai landasan amalannya.

Hilah yang diambil ialah dengan cara pengamalan kaidah Ushul Fiqih لا إنكار في مسائل الخلاف (Tidak boleh mengingkari dalam permasalahan khilaf). Pengambilan kaidah yang tidak benar ini sebagai tipu daya (merekayasa) untuk melampiaskan apa yang diinginkannya, tatkala ia menemukan adanya perkataan yang berselisih (berbeda), dan cocok dengan yang ia inginkan. Yang benar dalam penggunaan kaidah tersebut adalah, apabila dalam suatu permasalahan memang tidak didapatkan dalil sharih (jelas) dari Kitab, Sunnah maupun Ijma`, sehingga dibutuhkan ijtihad seorang mujtahid, maka berlakulah kaidah di atas, dengan tidak mengingkari adanya perbedaan yang muncul dari ijtihad para ulama tersebut.

– Hilah seseorang yang ingin mengugurkan kewajiban berhaji atau zakat, dengan memberikan hartanya kepada anak atau istrinya, sehingga ia menganggap dirinya orang yang tidak berharta.

– Hilah orang yang ingin memiliki barang dengan tanpa hak, dengan merusak atau mengubah bentuk barang tersebut.

– Hilah orang yang berusaha membatalkan hukuman potong tangan karena mencuri, dengan mengklaim bahwa barang yang diambilnya adalah barang miliknya sendiri, atau barang serikat antara dirinya dengan pemilik barang yang diambilnya.

– Hilah orang yang sedang berihram untuk haji ataupun umrah. Karena terkait dengan larangan berburu, maka ia menaruh parangkap sebelum memakai ihram, supaya dikatakan yang ia dapatkan tersebut merupakan hasil buruan sebelum ihram.

– Hilah seseorang yang senang melakukan ghibah, dengan mengatakan bahwa ia sedang melakukan amar ma`ruf nahi mungkar. Padahal maslahatnya tidak ada. Atau dalam mentahdzir seseorang, ia sama sekali tidak menggunakan kaidah yang benar.

– Hilah sebagian Muslimin yang mengumbar hawa nafsu dan kemaksiatannya, serta tidak ingin dianggap hina. Misalnya dengan mengatakan:

  • “Saya berada di atas sunnah, pembela sunnah, walaupun fasiq termasuk sebagai wali Allah. Sedangkan pelaku bid’ah, ia adalah musuh Allah, walaupun akhlaknya bagus”.
  • “Kubur seorang pembela sunnah, walau bagaimanapun kefasikannya, adalah termasuk salah satu taman dari taman-taman Surga. Sedangkan kubur ahli bid’ah adalah lubang Neraka”.
  • “Berpegang teguh dengan sunnah dan akidah yang benar, pasti akan dapat menghapuskan kamaksiatan yang saya lakukan”.
  • “Akhlak tidak baik, no problem. Yang penting akidah saya benar”.

Ungkapan-ungkapan seperti tersebut di atas merupakan hilah atau tipu daya, untuk tetap mengumbar apa yang menjadi keinginan hawa nafsunya.

– Hilah seorang yang ingin menghalalkan zina dengan mengatakan, dirinya telah melaksanakan kawin kontrak atau mut’ah. Padahal syarat-syarat nikah tidak dapat terpenuhi.

– Hilah seorang wanita yang ingin melepaskan diri dari suaminya, dengan cara berzina dengan anak suaminya. Dia beranggapan, setelah digauli oleh anak suaminya, maka ia harus dipisahkan dari suaminya. Atau sebaliknya, seorang suami yang berhilah seperti ini.

– Hilah orang yang tidak mau shalat, ngaji dan sebagainya dengan anggapan, bahwa percuma shalat atau ngaji, kalau nantinya masih melakukan kemaksiatan.

– Hilah seseorang yang ingin menghalalkan jual beli ‘inah dengan mengatakan:

“Sangat wajar, bila si penjual membeli kembali barang yang telah dijualnya dari si pembeli dengan harga yang lebih murah. Karena, bisa jadi barang tersebut telah lama dipakai, atau ada aib yang bisa menurunkan harganya” [Lihat Fiqh wa Fatawa Buyu`, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, hlm. 39].

Contoh jual beli ‘inah. Misalnya seseorang yang menjual sesuatu kepada pembeli dengan harga tempo. Kemudian sebelum lunas pembayarannya, orang itu (si penjual) membeli kembali barang yang telah dijualnya tersebut secara cash, dengan harga lebih rendah dari pembelian tempo yang sebelumnya. (Lihat Fiqh wa Fatawa Buyu`, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, hlm. 24, 60).

– Hilah untuk menyembunyikan cacat yang ia ketahui kepada calon pembelinya, dengan mengatakan:

“Lihat dan coba sendiri barangnya,” dan tatkala ia ditanya keadaan barang yang dijualnya, si penjual ini tidak mau menjelaskan cacat yang terdapat pada barang tersebut [Lihat Fiqh wa Fatawa Buyu`, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, hlm. 4].

– Hilah untuk menghalalkan riba, dengan mengatakan kepada orang yang sedang membutuhkan mobil atau barang lainnya:

“Cari mobil yang kamu inginkan. Nanti saya membereskan pembayarannya dari toko tersebut. Baru kemudian, kamu bayar kepada saya secara kredit dengan nominal yang kita sepakati”.

Perbuatan seperti ini sama bentuknya dengan melakukan hilah (tipu daya, rekayasa) untuk menghalalkan riba. Yang nampak seakan ingin membantu, tetapi kenyataannya ingin meraih keuntungan dengan memanfaatkan kesusahan orang lain. Seakan-akan ia mengatakan “Aku pinjamkan uang kepada kamu, tetapi nanti kamu kembalikan uang tersebut (untuk membeli barang itu) dengan tambahan bunga yang kita sepakati”.

Takwa dan Iman Kunci Utama dalam Bermuamalah

Seorang hamba hendaklah menyadari, bahwa kehidupan yang dijalaninya tidak lepas dari kewajiban untuk selalu beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, kewajiban manusia adalah mengikuti ketentuan yang telah disyariatkan Allah, sehingga kita akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman, disebabkan ketakwaan dan keimanan yang selalu terjaga.

Masih adanya kesusahan dan perasaan berat menjalankan syariat Allah, seorang hamba tidak seharusnya melampiaskannya dengan melakukan tipu daya, melakukan rekayasa untuk mengubah hukum Allah. Yang haram tetaplah haram, meskipun diupayakan dengan berbagai cara, ia tetap tidak berubah hukumnya. Bahkan, jika seorang hamba sengaja memerindah dosa dengan sedikit polesan ketaatan dalam menghalalkan yang diharamkan-Nya dan mengharamkan yang dilarang-Nya, niscaya kemurkaan Allah semakin besar. Maka, dengan bersabar dan selalu bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan kemudahan. Allah berfirman:

“Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”. [ath Thalaq/65:5].

“Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”. [Yusuf/12:90].

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar”. [ath Thalaq/65:2].

Semoga uraian ini bisa menjadi peringatakan bagi kita, untuk terus membenahi segala amal baik. Yaitu dengan senantiasa jujur dalam perilaku dan ibadah, serta menjauhi dari segala dosa dan kenistaan. Wallahu a’lam bish-Shawab.

 

Sumber:

– Fiqh wa Fatawa Buyu`, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, Cetakan Adwa-us Salaf.

– Asy Syarhul-Mumti` ‘ala Zadil Mustaqni`, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, Cetakan Muassasah Salam, Jilid 8.

– Qawa-idul Qasa-il fisy-Syari’ah al Islamiyah, Dr. Mustafa bin Karamatullah Makhdum, Cetakan Daar Syibiliya, Riyadh.

– I’lamul Muwaqi’in, Ibnul Qayyim, Cetakan Darul Kitab al ‘Arabi, Beirut.

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

 

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/2890-al-hilah-melakukan-rekayasa-terhadap-hukum-allah.html

 

,

PENGARUH GHARAR JUAL BELI DALAM SYARIAT ISLAM

PENGARUH GHARAR JUAL BELI DALAM SYARIAT ISLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Fikih_Jual_Beli

PENGARUH GHARAR JUAL BELI DALAM SYARIAT ISLAM

Islam melarang setiap akad jual beli yang mengandung unsur gharar (ketidakjelasan status). Para ulama menegaskan, bahwa ketentuan ini juga berlaku pada berbagai akad yang semakna dengan jual beli. Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu meriwayatkan:

أنَّ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهىَ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

“Bahwasanya Nabi ﷺ melarang jual beli gharar (tidak jelas statusnya).” [iwayat Muslim hadis no. 3881]

Model perniagaan yang tercakup oleh hadis ini sangatlah banyak, bahkan tidak terhitung jumlahnya. Namun secara global, ketidakpastian pada suatu akad dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok.

Al-Baji menjelaskan: “Bila hal ini telah diketahui dengan baik, maka ketahuilah, bahwa gharar dapat terjadi dari tiga arah: akad, harga, atau barang yang diperjualbelikan dan tempo pembayaran atau penyerahan barang.” [al-Muntaqa. Karya. Al-Baji:5/41]

Ibnu Rusyd al-Maliki lebih terperinci menegaskan: “Di antara akad jual beli yang terlarang ialah berbagai jenis akad jual beli yang berpotensi menimbulkan kerugian pada orang lain, karena adanya ketidakjelasan status. Dan ketidakjelasan status dalam akad jual beli dapat ditemukan pada:

  1. Ketidakpastian dalam penentuan barang yang diperjualbelikan
  2. Ketidakpastian akad
  3. Ketidakpastian harga
  4. Ketidakpastian barang yang diperjualbelikan
  5. Ketidakpastian kadar harga atau barang
  6. Ketidakpastian tempo pembayaran atau penyerahan barang (bila pembayaran atau penyerahan barang ditunda)
  7. Ketidakpastian ada atau tidaknya barang, atau ketidakpastian apakah penjual kuasa menyerahkan barang yang ia jual
  8. Dan ketidakpastian utuh tidaknya barang yang diperjualbelikan. [Bidayah al-Mujtahid: 2/148]

Tidak diragukan, bahwa adanya ketidakpastian pada salah satu hal di atas rentan memicu terjadinya persengketaan dan permusuhan antara sesama Muslim. Tentu syariat Islam tidak menginginkan terjadinya perpecahan dan perselisihan semacam ini. Oleh karena itu, syariat Islam menutup pintu ini, guna menjaga utuhnya persatuan dan terjaganya hubungan yang harmonis, antara seluruh komponen umat Islam.

Ibnu Rusyd al-Maliki berkata: “Secara global, seluruh ulama ahli fiqih sepakat, bahwa tidak dibenarkan adanya ketidakpastian (gharar) yang besar pada setiap akad jual beli. Sebagaimana mereka juga sepakat bahwa gharar yang kecil dimaafkan. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat dalam beberapa bentuk akad jual beli, apakah gharar yang terdapat padanya termasuk gharar yang besar sehingga terlarang, atau termasuk yang kecil sehingga dimaafkan? Perbedaan itu terjadi dikarenakan gharar yang ada berada di tengah-tengah antara gharar yang besar dan ghoror yang kecil.” [Bidayah al-Mujtahid: 2/154-155]

Penjelasan senada juga dipaparkan oleh al-Baji al-Maliki dalam kitabnya, al-Muntaqa (5/41).

Kadang kala sebagian gharar dimaafkan, terutama bila ada alasan yang dibenarkan. Contoh gharar yang dibenarkan: Kita dibolehkan membeli atau menjual rumah, walaupun kita atau pembeli tidak mengetahui fondasinya. Contoh lain, kita dibolehkan membeli atau menjual kambing yang sedang bunting- sehingga dalam kambingnya terdapat susu- walaupun kita tidak mengetahui seberapa kadar susu yang ada didalamnya. Yang demikian itu dikarenakan status dan hukum fondasi mengikuti bagian dari rumah, agar fondasi rumah mengikuti bagian dari rumah yang tampak oleh penglihatan. Andai disyaratkan agar fondasi rumah diketahui oleh kedua pihak, pasti merepotkan mereka berdua. Demikian juga halnya dengan menjual hewan bunting yang telah mengeluarkan susu dari kambingnya.

Walau demikian, bukan berarti kita bebas sesuka hati dalam membuat kesimpulan, karena ternyata para ulama telah meletakkan kaidah yang jelas dalam menilai, apakah gharar yang ada termasuk yang terlarang atau yang dimaafkan.

Al-Imam al-Mawardi asy-Syafi’i rahimahullah memberikan pedoman kepada kita metode yang benar-benar bagus dan jelas dalam mengidentifikasi gharar yang ada pada suatu akad. Beliau berkata:

وَحَقِيْقَةُ الْغَرَرِ فَيْ الْبَيْعِ، مَا تَرَدَّدَ بَيْنَ جَائِزَيْنِ أَخْوَفُهُمَا أَغْلَبُهُمَا

“Hakikat gharar yang terlarang dalam akad jual beli ialah suatu keadaan yang memiliki dua kemungkinan, tetapi kemungkinan buruklah yang paling besar peluangnya.” [al-Hawi al-Kabir: 5/25]

Dan pada kesempatan lain beliau berkata:

الْغَرَرُ مَا تَرَدَّدَ بَيْنَ جَائِزَيْنِ عَلَىسَوَاءٍ، أَوْ بِتَرَجُّحِ اْلأَخْوَفِ مِنْهُمَا

“Gharar ialah suatu keadaan yang memiliki dua kemungkinan, dengan peluang yang sama-sama besar, atau kemungkinan buruknya lebih besar peluangnya.” [al-Hawi al-Kabir:7/869]

Dari keterangan al-Mawardi dan juga lainnya dapat disimpulkan, bahwa batasan gharar yang terlarang dari yang dimaafkan ialah: Bila keadaan mengharuskan kita untuk mengesampingkan unsur gharar yang ada, dikarenakan gharar itu tidak mungkin untuk dihindari kecuali dengan mendatangkan hal-hal yang sangat menyusahkan. Maka gharar yang demikian itu adanya dianggap gharar yang remeh, sehingga tidak memengaruhi hukum jual beli. Sebaliknya, bila gharar itu dapat dihindarkan tanpa mendatangkan kesusahan yang besar, maka jual beli yang mengandung gharar menjadi terlarang alias batal.

Perselisihan para ulama pada sebagian akad yang ada kaitannya dengan masalah ini bersumber dari perbedaan mereka dalam menerapkan ketentuan ini. Sebagian mereka beranggapan, bahwa unsur gharar yang terdapat pada akad itu adalah kecil, sehingga tidak layak untuk dipertimbangkan, dan hasilnya, akadnya pun dianggap sah. Sebaliknya, sebagian lainnya menganggap besar gharar itu, sehingga ia pun menganggap tidak sah akad itu. Wallahu A’lam.

Beberapa Contoh Nyata Akad Yang Mengandung Unsur Gharar

  1. Sistem Ijon

Di antara bentuk jual beli yang mengandung gharar dan yang nyata-nyata telah dilarang oleh Nabi ﷺ ialah jual beli dengan sistem ijon.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَى تَزْهِىَ قَالُوا وَمَاتُزْهِىَ قَالَ تَحْمَرُّ فَقَالَ إِذَا مَنَعَ اللَّهُ الثَّمَرَةَ فَبِمَ تَسْتَحِلُّ مَالَ أَخِيْكَ؟

Dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ melarang penjualan buah-buahan (hasil tanaman) hingga menua. Para Sahabat bertanya:” Apa maksudnya telah menua?” Beliau ﷺ menjawab:”Bila telah berwarna merah.” Kemudian beliau ﷺ bersabda,”Bila Allah menghalangi masa panen buah-buahan tersebut (gagal panen), maka dengan sebab apa engkau memakan harta saudaramu (uang pembeli)?” [Riwayat al-Bukhari hadis no. 1488 dan Muslim hadis no. 4061]

Dan pada riwayat lain sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu juga meriwayatkan:

أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْعِنَبِ حَتَّى يَسْوَدَّ وَعَنْ بَيْعِ الْحَبِّ حَتَّى يشْتَدَّ

“Bahwa Nabi ﷺ melarang penjualan anggur hingga berbuah menjadi kehitam-hitaman, dan penjualan biji-bijian hingga mengeras.” [Riwayat Abu Dawud hadis no.3371]

Dengan demikian jelaslah, bahwa sistem ijon adalah penjualan yang TERLARANG dalam syariat Islam, baik sistem ijon yang hanya untuk sekali panen, atau untuk berkali-kali, hingga beberapa tahun lamanya.

  1. Membeli Janin Hewan

Di antara bentuk jual beli yang mengandung unsur gharar sehingga terlarang dalam syariat ialah memerjualbelikan janin hewan.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ حَبَلِ الْحَبَلَةِ، وَكَانَ بَيْعًايَتَبَايَعُهُ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ، كَانَ الرَّجُلُ يَبْتَاعُ الْجَزُورَإِلَى أَنْ تُنْتَجَ النَّاقَةُ، ثُمَّ تُنْتَجُ الَّتِى فِى بَطْنِهَا

Sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhu mengisahkan, bahwa Rasulullah ﷺ melarang jual beli janin (hewan) yang masih ada dalam perut induknya. Akad ini dahulu biasa dilakukan di zaman jahiliah. Dahulu seseorang membeli seekor unta, dan tempo penyerahannya ialah bila unta yang ia miliki telah melahirkan seekor anak, dan selanjutnya anaknya tersebut juga telah beranak. [Riwayat al-Bukhari hadis no.2143 dan Muslim hadis no.3882]

Para ulama pensyarah hadis ini menjelaskan, bahwa jual beli gharar semacam ini dapat terwujud dalam dua model:

  1. Model Pertama

Bila terlahirnya janin kedua ini dijadikan sebagai tempo pembayaran atau penyerahan barang yang dibeli, tentu ini adalah tempo yang tidak jelas, karena bisa saja unta betina yang ia miliki tidak pernah bunting. Dan kalaupun bunting, bisa saja ia tidak pernah melahirkan janin betina. Dan kalaupun berhasil melahirkan janin betina, belum tentu janin tersebut bertahan hidup dan melahirkan janin, dan seterusnya.

Oleh karena itu, di antara etika utang piutang yang seyogianya diindahkan oleh setiap Muslim ialah senantiasa menentukan batas pembayaran atau penyerahan barang. Dengan demikian, tidak ada peluang untuk terjadinya persengketaan masalah waktu pelunasan atau penyerahan barang.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. [Al-Baqarah (2):282]

Dan ketika Nabi ﷺ menjelaskan tentang akad pemesanan dengan pembayaran lunas di muka, atau yang disebut dengan akad salam, beliau ﷺ bersabda:

مَنْ أَسْلَفَ فِى شَيْ ءٍ فَفِي كَيْلِ مَعْلُوْمٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعلُومٍ

“Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” [Riwayat al-Bukhari hadis no. 2240 dan Muslim hadis no. 4202]

  1. Model Kedua

Bila yang dijadikan objek jual beli ialah janin yang akan dilahirkan oleh janin yang sekarang masih berada dalam perut induknya. Tentu ini gharar yang besar, karena barang yang dijadikan objek akad jual beli tidak jelas. Bisa saja janin tersebut mati sebelum terlahirkan. Dan kalaupun terlahirkan, bisa saja terlahirkan dalam keadaan cacat, atau ternyata berkelamin jantan, dan seterusnya.

Akad jual beli seperti ini masih didapati pada sebagian masyarakat di negeri kita, terutama pada para pemilik kuda pacuan, sapi jenis tertentu di sebagian daerah.

  1. Jual Beli Mulamasah dan Munabadzah

Di antara akad yang mengandung unsur gharar ialah akad Melamasah dan Munabadzah, sehingga keduanya termasuk akad yang diharamkan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الْمُلاَ مَسَةِ وَالْمُنَا بَذَةِ

Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia menuturkan, “Rasulullah ﷺ melarang dari penjualan dengan cara Mulamasah (Hanya dengan cara saling menyentuh) dan dengan cara Munabadzah (Saling melempar).” [Riwayat al-Bukhari hadis no. 2146 dan Muslim hadis no. 3874]

Yang dimaksud dengan penjualan dengan cara Mulamasah ialah seperti yang disebutkan oleh sahabat Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu berikut:

وَالْمُلاَمَسَةُ لَمْسُ الثَّوْبِ لاَ يَنْطُرُ إِلَيْهِ، وَفَيْ رِوَايَةٍ : أَمَّا أَلْمُلاَ مَسَةُ فَأَنْ يَلْمِسَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ثَؤْبَ صَاحِبِهِ بِغَيْرِ تَأَمُّلٍ

“Mulamasah ialah (berjual beli dengan hanya) menyentuh baju tanpa melihatnya.” Dan pada riwayat lain: “Adapun mulamasah ialah masing-masing dari penjual dan pembeli hanya menyentuh pakaian milik lawan transaksinya tanpa diamati.” [Riwayat al-Bukhari hadis no. 2144 dan Muslim hadis no. 3879]

Adapun penjualan dengan cara Munabadzah ialah seperti yang ditafsiri oleh Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu berikut ini:

وَالْمُنَابَذَةُ أَنْ يَنْبِذَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ثَؤْبَهُ إِلَى اْلآخَرِ وَلَمْ يَنْظُرْ وَاحِدٌ مِنْهُمَا إِلَى ثَؤْبِ صَاحِبِهِ

“Dan munabadzah ialah masing-masing dari keduanya saling melemparkan pakaiannya kepada lawan transaksinya, dan keduanya tidak melihat dengan seksama pakaian lawan transaksinya tersebut.” [Riwayat al-Bukhari hadis no. 5820 dan Muslim hadis no. 3879].

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah setelah menyebutkan penafsiran tentang kedua bentuk akad ini mengatakan: “Tentu ini termasuk dalam perjudian.” [Fath al-Bari: 4/359]

Mungkin Saudara akan bertanya-tanya: “Mungkinkah pada zaman sekarang akad semacam ini masih bisa terjadi, karena penerangan telah begitu mudah di dapat?”

Benar, akad semacam ini masih mungkin terjadi. Sebagai salah satu contohnya ialah apa yang dilakukan oleh para pedagang pakaian bekas. Mereka membeli pakaian dalam jumlah besar yang dibungkus. Dan mereka membeli dengan hitungan per bungkus, padahal di dalam bungkus tersebut terdapat berbagai jenis pakaian, ada yang masih bagus, ada yang jelek, dan seterusnya.

  1. Menjual Barang Yang Belum Menjadi Miliknya

Di antara bentuk akad penjualan yang terlarang karena mengandung gharar ialah menjual barang yang belum menjadi milik penjual. Hal ini berdasarkan hadis berikut:

عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ قَالَ سَاَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ يَاْ تِيْنِي الرَّجُلُ فَيَسْأَلُنِى الْبَيْعِ لَيْسَ عِنْدِي أَبِيْعُهُ مِنْهُ ثَمَّ أَبْتَاعُهُ لَهُ مِنْ السُّوقِ قَالَ لاَتَنِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

Dari sahabat Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu ia mengisahkan: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, ada sebagian orang yang datang kepadaku, lalu ia meminta agar aku menjual kepadanya barang yang belum aku miliki, dengan terlebih dahulu aku membelinya dari pasar? “Rasulullah ﷺ menjawab: “Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu.”[ Riwayat Ahmad Abu Dawud hadis no. 3505]

Di antara salah satu bentuk dari menjual barang yang belum menjadi milik kita ialah menjual barang yang belum sepenuhnya diserahterimakan kepada kita, walaupun barang itu telah kita beli, dan mungkin saja pembayaran telah lunas. Larangan (pengaharaman) ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

عَنْ ابْنِ عَبَّا سٍ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنِ ابْتَاعَ طَعَامَا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ زَادَأبو بَكْرٍ قَالَ ابْنُ عَبَّا سٍ وَأَحْسِبُ كُلَّ شَيْءٍ بِمَنْزِلَةِ الطَّعَامِ

Dari sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu ia menuturkan, “Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barang siapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya.’”Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata: “Dan saya berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya seperti bahan makanan.” [Riwayat al-Bukhari hadis no 2132 dan Muslim hadis no. 3915]

Pemahaman Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu ini didukung oleh riwayat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis berikut: Dari sahabat Ibnu Umar Radhiyallah anhuma ia mengisahkan:

“Pada suatu saat saya membeli minyak di pasar. Dan ketika saya telah selesai membelinya, ada seorang lelaki yang menemui saya dan menawar minyak tersebut. Kemudian ia memberi saya keuntungan yang cukup banyak. Saya pun hendak menyalami tangannya (guna menerima tawaran dari orang tersebut). Namun tiba-tiba ada seseorang dari belakang saya yang memegang lengan saya. Saya pun menoleh, dan ternyata ia adalah Zaid bin Tsabit, kemudian ia berkata: ’Janganlah engkau jual minyak itu di tempat engkau membelinya, hingga engkau pindahkan ke tempatmu, karena Rasulullah ﷺ melarang dari menjual kembali barang di tempat barang tersebut dibeli, hingga barang tersebut DIPINDAHKAN oleh para pedagang ke tempat mereka masing-masing.’” [Riwayat Abu Dawud hadis no. 3501. pada sanadnya ada Muhammad bin Ishaq, tetapi ia telah menyatakan dengan tegas bahwa ia mendengar langsung hadis ini dari gurunya, sebaagaimana hal ini dinyatakan dalam kitab al-Tahqiq. Baca Nasbu al-Rayah: 4/43, dan al-Tahqiq:2/181].

Para ulama menyebutkan hikmah dari larangan ini, di antaranya ialah karena barang yang belum diterimakan kepada pembeli bisa saja batal, karena suatu sebab, misalnya barang tersebut hancur terbakar, atau rusak terkena air, dan lain-lain, sehingga ketika ia telah menjualnya kembali, ia tidak dapat menyerahkannya kepada pembeli kedua tersebut.

Hikmah kedua, seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, ketika muridnya yaitu Thawus memertanyakan sebab larangan ini:

قُلْتُ لاِبْنِ عَبَّاسٍ كَيْفَ ذََاكَ قالَ ذّاكَ دَرَاهِمُ بِدَرَاهِمَ وَالطَّعَامُ مُرْجَأٌ

“Saya bertanya kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu ‘Bagaimana kok demikian?’ Ia menjawab: ‘Itu karena sebenarnya yang terjadi adalah menjual Dirham dengan Dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda.’” [Riwayat al-Bukhori hadis no. 2132 dan Muslim hadis no. 3916].

Ibnu Hajar menjelaskan perkataan Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu di atas sebagaimana berikut:

”Bila seseorang membeli bahan makanan seharga 100 Dinar-misalnya- dan ia telah membayarkan uang tersebut kepada penjual, sedangkan ia belum menerima bahan makanan yang ia beli. Kemudian ia menjualnya kembali kepada orang lain seharga 120 Dinar dan ia langsung menerima uang pembayaran tersebut, padahal bahan makanan masih tetap berada di penjual pertama. Maka seakan-akan orang ini telah menjual (menukar) uang 100 Dinar dengan harga 120 Dinar. Dan berdasarkan penafsiran ini, maka larangan ini tidak hanya berlaku pada bahan makanan saja.” [Fath al-Bari kar. Ibnu Hajar al-Asqalani: 4/348-349]

Oleh: Dr. Muhammad Arifin Badri MA

[Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi 08, Tahun ke-10/Rabi’ul Awal 1432 (Feb – 2011. Diterbitkan Oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon Al-Islami, Alamat : Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]

Sumber: https://almanhaj.or.id/3255-kejelasan-status-dalam-jual-beli.html

 

, ,

MENGENAL JUAL-BELI GHARAR

MENGENAL JUAL-BELI GHARAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Fikih_Jual_Beli

MENGENAL JUAL-BELI GHARAR

Menurut bahasa Arab, makna al-gharar adalah, al-khathr (pertaruhan) [Lihat Al-Mu’jam Al-Wasith, hal. 648]. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan: al-gharar adalah yang tidak jelas hasilnya (majhul al-‘aqibah) []. Majmu Fatawa, 29/22]. Sedangkan menurut Syaikh As-Sa’di, al-gharar adalah al-mukhatharah (pertaruhan) dan al-jahalah (ketidak jelasan). Perihal ini masuk dalam kategori perjudian [Bahjah Qulub Al-Abrar wa Qurratu Uyuuni Al-Akhyaar Fi Syarhi Jawaami Al-Akhbaar, Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Tahqiq Asyraf Abdulmaqshud, Cet. II, Th 1992M, Dar Al-Jail. Hal.164].

Sehingga , dari penjelasan ini dapat diambil pengertian, yang dimaksud jual beli gharar adalah, semua jual beli yang mengandung ketidakjelasan; pertaruhan, atau perjudian [Al-Waaji Fi Fiqhu Sunnah wa Kitab Al-Aziz, Abdul Azhim Badawi, Cet. I, Th.1416H, Dar Ibnu Rajab, Hal. 332].

Hukum Gharar

Dalam syariat Islam, jual beli gharar ini terlarang. Dengan dasar sabda Rasulullah ﷺ dalam hadis Abu Hurairah yang berbunyi: “Artinya: Rasulullah ﷺ melarang jual beli al-hashah dan jual beli gharar.” [HR Muslim, Kitab Al-Buyu, Bab: Buthlaan Bai Al-Hashah wal Bai Alladzi Fihi Gharar, 1513]

Dalam sistem jual beli gharar ini terdapat unsur memakan harta orang lain dengan cara batil. Padahal Allah melarang memakan harta orang lain dengan cara batil, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

“Artinya: Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil. Dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 188)

“Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (Qs. An-Nisaa: 29)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan, dasar pelarangan jual beli gharar ini adalah larangan Allah dalam Alquran, yaitu (larangan) memakan harta orang dengan batil. Begitu pula dengan Nabi ﷺ, beliau melarang jual beli gharar ini [Majmu Fatawa, 29/22].

Pelarangan ini juga dikuatkan dengan pengharaman judi, sebagaimana ada dalam firman Allah:

“Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu, agar kamu mendapat keberuntungan.” (Qs. Al-Maidah: 90)

Sedangkan jula-beli gharar, menurut keterangan Syaikh As-Sa’di, termasuk dalam katagori perjudian. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sendiri menyatakan: Semua jual beli gharar, seperti menjual burung di udara, onta dan budak yang kabur, buah-buahan sebelum tampak buahnya, dan jual beli al-hashaah, seluruhnya termasuk perjudian yang diharamkan Allah di dalam Alquran [Mukhtashar Al-Fatawa Al-Mishriyyah, Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Abdulmajid Sulaim, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, hal. 342].

Hikmah Larangan Jual Beli Gharar

Di antara hikmah larangan julan beli ini adalah, karena nampak adanya pertaruhan dan menimbulkan sikap permusuhan pada orang yang dirugikan. Yakni bisa menimbulkan kerugian yang besar kepada pihak lain [Bahjah, Op.Cit, 165]. Larangan ini juga mengandung maksud untuk menjaga harta agar tidak hilang, dan menghilangkan sikap permusuhan yang terjadi pada orang, akibat jenis jual beli ini.

Pentingnya Mengenal Kaidah Gharar

Dalam masalah jual beli, mengenal kaidah gharar sangatlah penting, karena banyak permasalahan jual-beli yang bersumber dari ketidak jelasan dan adanya unsur taruhan di dalamnya. Imam Nawawi mengatakan: “Larangan jual beli gharar merupakan pokok penting dari kitab jual-beli. Oleh karena itu, Imam Muslim menempatkannya di depan. Permasalahan yang masuk dalam jual-beli jenis ini sangat banyak, tidak terhitung.” [Syarah Shahih Muslim, 10/156].

Jenis Gharar

Dilihat dari PERISTIWANYA, jual-beli gharar bisa ditinjau dari tiga sisi:

Pertama: Jual-beli barang yang belum ada (Ma’dum), seperti jual beli Habal Al Habalah (janin dari hewan ternak).

Kedua: Jual beli barang yang tidak jelas (majhul), baik yang Mutlak, seperti pernyataan seseorang: “Saya menjual barang dengan harga seribu Rupiah,” tetapi barangnya tidak diketahui secara jelas. Atau seperti ucapan seseorang: “Aku jual mobilku ini kepadamu dengan harga sepuluh juta,” namun jenis dan sifat-sifatnya tidak jelas. Atau bisa juga karena ukurannya tidak jelas, seperti ucapan seseorang: “Aku jual tanah kepadamu seharga lima puluh juta”, namun ukuran tanahnya tidak diketahui.

Ketiga: Jual-beli barang yang tidak mampu diserah terimakan. Seperti jual beli budak yang kabur, atau jual beli mobil yang dicuri [Catatan Penulis dari pelajaran Nailul Authar yang disampaikan Syaikh Abdulqayyum bin Muhammad As-Sahibaani di Fakultas Hadis Universitas Islam Madinah, Lihat juga Al-Fiqhu Al-Muyassar, Bagian Fiqih Mu’amalah, karya Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Ath-Thayaar, Prof. Dr Abdullah bin Muhammad Al-Muthliq dan Dr Muhammad bin Ibrahim Alimusaa, Cet. I, Th. 1425H, hal. 34].

KETIDAK JELASAN ini juga terjadi pada HARGA, BARANG dan pada AKAD JUAL BELINYA. Ketidak jelasan pada HARGA dapat terjadi karena jumlahnya, seperti segenggam Dinar. Sedangkan ketidak jelasan pada BARANG, yaitu sebagaimana dijelaskan di atas. Adapun ketidak-jelasan pada AKAD, seperti menjual dengan harga 10 Dinar bila kontan, dan 20 Dinar bila diangsur, tanpa menentukan salah satu dari keduanya sebagai pembayarannya [Catatan penulis dari pelajaran Bidayatul Mujtahid, oleh Syaikh Hamd Al-Hamaad, di Fakultas Hadis Universitas Islam Madinah, KSA].

Syaikh As-Sa’di menyatakan: “Kesimpulan jual-beli gharar kembali kepada jual-beli Ma’dum (belum ada wujudnya), seperti habal al habalah dan as-sinin, atau kepada jual-beli yang tidak dapat diserahterimakan, seperti budak yang kabur dan sejenisnya, atau kepada ketidak-jelasan, baik mutlak pada barangnya, jenisnya atau sifatnya.” [Bahjah, Op.Cit,. 166].

Gharar Yang Diperbolehkan

Jual-beli yang mengandung gharar, menurut HUKUMNYA ada tiga macam:

[1]. Yang disepakati larangannya dalam jual-beli, seperti jual-beli yang belum ada wujudnya (ma’dum).

[2]. Disepakati kebolehannya, seperti jual-beli rumah dengan pondasinya, padahal jenis dan ukuran serta hakikat sebenarnya tidak diketahui. Hal ini dibolehkan karena kebutuhan dan karena merupakan satu kesatuan, tidak mungkin lepas darinya.

[3]. Gharar yang masih diperselisihkan, apakah diikutkan pada bagian yang pertama atau kedua? Misalnya ada keinginan menjual sesuatu yang terpendam di tanah, seperti wortel, kacang tanah, bawang dan lain-lainnya.

Walaupun gharar asalnya terlarang, namun ada beberapa jual beli bentuk gharar yang dibolehkan, asalkan memenuhi beberapa syarat berikut ini:

  1. Yang mengandung spekulasi kerugian yang sedikit. Sebagaimana Ibnu Rusyd berkata:

الفقهاء متّفقون على أنّ الغرر الكثير في المبيعات لا يجوز وأنّ القليل يجوز

“Para pakar fikih sepakat bahwa gharar pada barang dagangan yang mengandung kerugian yang banyak itulah yang tidak boleh. Sedangkan jika hanya sedikit, masih ditolerir (dibolehkan)”.

  1. Merupakan ikutan dari yang lain, bukan ashl (pokok). Jika kita membeli janin dalam kandungan hewan ternak, itu tidak boleh. Karena ada gharar pada barang yang dibeli. Sedangkan jika yang dibeli adalah yang hewan ternak yang bunting dan ditambah dengan janinnya, maka itu boleh.
  1. Dalam keadaan hajat (butuh). Semacam membeli rumah di bawahnya ada pondasi, tentu kita tidak bisa melihat kondisi pondasi tersebut, artinya ada gharar. Namun tetap boleh membeli rumah walau tidak terlihat pondasinya karena ada hajat ketika itu.
  2. Pada akad tabarru’at (yang tidak ditarik keuntungan), seperti dalam pemberian hadiah. Kita boleh saja memberi hadiah pada teman dalam keadaan dibungkus sehingga tidak jelas apa isinya. Ini sah-sah saja. Beda halnya jika transaksinya adalah mu’awadhot, ada keuntungan di dalamnya semacam dalam jual beli.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian tersebut di atas, menjadi jelaslah, bahwa tidak semua jual-beli yang mengandung unsur gharar dilarang. Permasalahan ini, sebagaimana nampak dari pandangan para ulama, karena permasalahan yang menyangkut gharar ini sangat luas dan banyak. Dengan mengetahui pandangan para ulama, mudah-mudahan Allah membimbing kita dalam tafaqquh fiddin, dan lebih dalam mengenai persoalan halal dan haram.

Wabillahit Taufiq.

 

Sumber:

Tulisan berjudul: “Jual Beli Gharar” yang ditulis oleh: Ustadz Abu Asma Kholid Syamhudi (https://almanhaj.or.id/2649-jual-beli-gharar.html)

Tulisan berjudul: “Bentuk Jual Beli yang Terlarang (1)” yang ditulis oleh: Muhammad Abduh Tuasikal  (https://rumaysho.com/2314-bentuk-jual-beli-yang-terlarang-1.html)

 

 

,

SYARAT-SYARAT ORANG YANG MELAKUKAN AKAD JUAL BELI

SYARAT-SYARAT ORANG YANG MELAKUKAN AKAD JUAL BELI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Fikih_Jual_Beli

SYARAT-SYARAT ORANG YANG MELAKUKAN AKAD JUAL BELI

Ada tujuh syarat yang berkaitan dengan orang yang melakukan akad jual beli:

Pertama: Ridho antara penjual dan pembeli

Jual beli tidaklah sah jika di dalamnya terdapat paksaan tanpa jalan yang benar. Jual beli baru sah jika ada saling ridho di dalamnya, sebagaiamana firman Allah Ta’ala:

إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka (saling ridho) di antara kalian” (QS. An Nisa’: 29).

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ

“Sesungguhnya jual beli dituntut adanya keridhoan” (HR. Ibnu Majah no. 2185. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih).

Namun jika ada pemaksaan dalam jual beli dengan cara yang benar, semisal seorang hakim memutuskan untuk memaksa menjual barang orang yang jatuh pailit untuk melunasi utang-utangnya, maka semisal itu dibolehkan.

Kedua: Orang yang melakukan akad jual beli diizinkan oleh syariat untuk membelanjakan harta. Mereka yang diizinkan adalah:

(1) Merdeka,

(2) Mukallaf (telah terbebani syari’at),

(3) Akil, akalnya waras,

(3) Memiliki sifat rusydu/rasyid (dapat membelanjakan harta dengan baik atau memiliki kemampuan dalam mengatur uang)

Kedua belah pihak harus berkompeten dalam melakukan praktik jual beli. Sehingga tidak sah transaksi yang dilakukan oleh anak kecil, orang gila, orang yang kurang akal (idiot), orang yang dipaksa, atau orang yang tidak bisa membelanjakan harta dengan benar. Begitu pula dengan seorang budak, kecuali dengan seizin tuannya. Hal ini merupakan salah satu bukti keadilan agama ini, yang berupaya melindungi hak milik manusia dari kezaliman. Karena seseorang yang gila, safiih (tidak cakap dalam bertransaksi) atau orang yang dipaksa, tidak mampu untuk membedakan transaksi mana yang baik dan buruk bagi dirinya, diri mereka rentan dirugikan dalam transaksi yang mereka lakukan. Wallahu a’lam.

Catatan: Rusydu/rasyid menurut mayoritas ulama adalah ketika telah mencapi masa baligh. Ketika telah mencapai baligh atau telah tua renta namun belum memiliki sifat rusydu, maka keadaannya di-hajr, yaitu dilarang untuk melakukan jual beli. Sifat rusydu ini datang bersama masa baligh, namun pada sebagian orang sifat rusydu ini datang telat, ada yang sebentar atau lama setelah baligh (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 22: 212-214).

Ketiga: Orang yang melakukan akad adalah sebagai pemilik barang atau alat tukar, atau bertindak sebagai wakil

Hakim bin Hizam pernah bertanya pada Rasulullah ﷺ:

يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِي الرَّجُلُ فَيَسْأَلُنِي الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِي أَبِيعُهُ مِنْهُ ثُمَّ أَبْتَاعُهُ لَهُ مِنْ السُّوقِ قَالَ لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Wahai Rasulullah, ada seseorang yang mendatangiku lalu ia meminta agar aku menjual kepadanya barang yang belum aku miliki, dengan terlebih dahulu aku membelinya dari pasar” Rasulullah ﷺ menjawab, “Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu.” (HR. Abu Daud no. 3503, An Nasai no. 4613, Tirmidzi no. 1232 dan Ibnu Majah no. 2187. Syaikh Al Albani mengatakan hadis ini Shahih).

Di antara salah satu bentuk dari menjual belikan barang yang belum menjadi milik kita ialah menjual barang yang belum sepenuhnya diserahterimakan kepada kita, walaupun barang itu telah kita beli, dan mungkin saja pembayaran telah lunas. Larangan ini berdasarkan hadis Ibnu ‘Abbas, Nabi ﷺ bersabda:

مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ

“Barang siapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya.” Ibnu ‘Abbas mengatakan:

وَأَحْسِبُ كُلَّ شَىْءٍ مِثْلَهُ

“Aku berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya sama dengan bahan makanan.” (HR. Bukhari no. 2136 dan Muslim no. 1525).

Ibnu ‘Umar mengatakan:

وَكُنَّا نَشْتَرِى الطَّعَامَ مِنَ الرُّكْبَانِ جِزَافًا فَنَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نَبِيعَهُ حَتَّى نَنْقُلَهُ مِنْ مَكَانِهِ.

“Kami biasa membeli bahan makanan dari orang yang berkendaraan tanpa diketahui ukurannya. Kemudian Rasulullah ﷺ melarang kami menjual barang tersebut, sampai barang tersebut dipindahkan dari tempatnya” (HR. Muslim no. 1527).

Dalam riwayat lain, Ibnu ‘Umar juga mengatakan:

كُنَّا فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَبْتَاعُ الطَّعَامَ فَيَبْعَثُ عَلَيْنَا مَنْ يَأْمُرُنَا بِانْتِقَالِهِ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِى ابْتَعْنَاهُ فِيهِ إِلَى مَكَانٍ سِوَاهُ قَبْلَ أَنْ نَبِيعَهُ.

“Kami dahulu di zaman Rasulullah ﷺ membeli bahan makanan. Lalu seseorang diutus pada kami. Dia disuruh untuk memerintahkan kami agar memindahkan bahan makanan yang sudah dibeli tadi ke tempat yang lain, sebelum kami menjualnya kembali” (HR. Muslim no. 1527).

Bentuk serah terima di sini tergantung dari jenis barang yang dijual. Untuk rumah, cukup dengan nota pembelian atau balik nama; untuk motor adalah dengan balik nama kepada pemilik yang baru; barang lain mesti dengan dipindahkan dan semisalnya.

Bentuk pelanggaran dalam syarat jual beli ini adalah seperti yang terjadi dalam jual beli kredit dengan deskripsi sebagai berikut:

Pihak bank menelpon showroom dan berkata “Kami membeli mobil X dari Anda.” Selanjutnya pembayarannya dilakukan via transfer, lalu pihak bank berkata kepada pemohon: “Silakan Anda datang ke showroom tersebut dan ambil mobilnya.”

Bank pada saat itu menjual barang yang belum diserahterimakan secara sempurna, belum ada pindah nama atau pemindahan lainnya. Ini termasuk pelanggaran dalam jual beli seperti yang diterangkan dalam hadis Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar di atas.

Keempat: Barang yang diperjual-belikan dan harganya harus diketahui oleh pembeli dan penjual

Barang bisa diketahui dengan cara melihat fisiknya, atau mendengar penjelasan dari si penjual, kecuali untuk barang yang bila dibuka bungkusnya akan menjadi rusak seperti; telur, kelapa, durian, semangka dan selainnya. Maka sah jual beli tanpa melihat isinya dan si pembeli tidak berhak mengembalikan barang yang dibelinya, seandainya didapati isi rusak. Kecuali dia mensyaratkan di saat akad jual-beli, akan mengembalikan barang tersebut, bilamana isinya rusak. Atau si penjual bermaksud menipu si pembeli dengan cara membuka sebuah semangka yang bagus, atau jeruk yang manis rasanya dan memajangnya sebagai contoh. Padahal dia tahu, bahwa sebagian besar semangka dan jeruk yang dimilikinya bukan dari jenis contoh yang dipajang. Maka ini termasuk jual-beli gharar (penipuan) yang diharamkan syariat. Karena Nabi ﷺ  melarang jual beli yang mengandung unsur gharar (ketidak jelasan/penipuan). (HR. Muslim)

Adapun harga barang bisa diketahui dengan cara menanyakan langsung kepada si penjual atau dengan melihat harga yang tertera pada barang, kecuali bila harga yang ditulis pada barang tersebut direkayasa dan bukan harga sesungguhnya, ini juga termasuk jual-beli gharar (penipuan). wallahu a’lamu bish-showab.

Kelima: Barang yang diperjual-belikan memiliki manfaat yang dibenarkan syariat, bukan najis dan bukan benda yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَىْءٍ حَرَّمَ عَلَيْهِمْ ثَمَنَهُ

“Sesungguhnya Allah, apabila mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Dia pasti mengharamkan harganya”. (HR. Abu Dawud dan Baihaqi dengan sanad shahih)

Oleh karena itu tidak halal uang hasil penjualan barang-barang haram sebagai berikut: Minuman keras dengan berbagai macam jenisnya, bangkai, babi, anjing dan patung. Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ

“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamer, bangkai, babi dan patung”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis yang lain riwayat Ibnu Mas’ud beliau berkata:

“Sesungguhnya Nabi ﷺ melarang (makan) harga anjing, bayaran pelacur dan hasil perdukunan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Termasuk dalam barang-barang yang haram diperjual-belikan ialah kaset atau DVD musik dan porno. Maka uang hasil keuntungan menjual barang ini tidak halal dan tentunya tidak berkah, karena musik telah diharamkan Allah dan rasul-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

“Akan ada di antara umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat musik”. (HR. Bukhari no.5590)

Keenam: Objek jual beli dapat diserahterimakan

Sehingga tidak sah menjual burung yang terbang di udara, menjual unta atau sejenisnya yang kabur dari kandang dan semisalnya, atau menjual ikan yang masih di kolam dan belum ditangkap. Transaksi yang mengandung objek jual beli seperti ini diharamkan, karena mengandung gharar (spekulasi) dan menjual barang yang tidak dapat diserahkan. Abu Said berkata: “Sesungguhnya Nabi ﷺ melarang membeli hamba sahaya yang kabur”. (HR.Ahmad)

Ketujuh: Objek jual beli dan jumlah pembayarannya diketahui secara jelas oleh kedua belah pihak sehingga terhindar dari gharar

Abu Hurairah berkata: “Rasulullah ﷺ melarang jual beli Hashaath (jual beli dengan menggunakan kerikil yang dilemparkan, untuk menentukan barang yang akan dijual) dan jual beli gharar.” (HR. Muslim: 1513)

Selain itu, tidak diperkenankan seseorang menyembunyikan cacat/aib suatu barang ketika melakukan jual beli. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ أَخِيهِ بَيْعًا فِيهِ عَيْبٌ إِلَّا بَيَّنَهُ لَهُ

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Tidak halal bagi seorang Muslim menjual barang dagangan yang memiliki cacat kepada saudaranya sesama Muslim, melainkan ia harus menjelaskan cacat itu kepadanya” (HR. Ibnu Majah nomor 2246, Ahmad IV/158, Hakim II/8, Baihaqi V/320; dishahihkan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali)

Beliau ﷺ juga bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا ، وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ

“Barang siapa yang berlaku curang terhadap kami, maka ia bukan dari golongan kami. Perbuatan makar dan tipu daya tempatnya di Neraka” (HR. Ibnu Hibban 567, Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir 10234, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah IV/189; dihasankan Syaikh Salim Al Hilaly)

Sumber:

https://rumaysho.com/2306-aturan-jual-beli-2-syarat-bagi-orang-yang-melakukan-akad-jual-beli.html

http://Muslim.or.id/222-jual-beli-dan-syarat-syaratnya.html

MEMAHAMI RUKUN DAN SYARAT SAHNYA JUAL BELI

,

HUKUM-HUKUM UMUM SEPUTAR AKAD JUAL BELI

HUKUM-HUKUM UMUM SEPUTAR AKAD JUAL BELI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Fikih_Jual_Beli

HUKUM-HUKUM UMUM SEPUTAR AKAD JUAL BELI

Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.

Beberapa ketentuan penting yang harus diperhatikan oleh pembeli, sebelum ia memanfaatkan barang pembeliannya, agar ia dapat bertindak sesuai dengan kewenangannya, tanpa melanggar aturan dan hukum syariat:

  • Ketentuan Pertama: Pemindahan Kepemilikan
  • Ketentuan Kedua: Manfaat dan Kerugian Barang
  • Ketentuan Ketiga: Menjual Kembali (Resale)
  • Ketentuan Keempat: Tidak Dapat Membatalkan Penjualan atau Pembelian
  • Ketentuan Kelima: Bebas Menentukan Harga Jual

Yang berikut ini adalah rincian dari masing-masing poin di atas:

Ketentuan Pertama: Pemindahan Kepemilikan

Telah kita ketahui bersama bahwa manfaat utama akad jual beli ialah memindahkan kepemilikan barang. Dengan demikian, barang yang telah kita jual secara sah menjadi milik pembeli, sehingga kita tidak lagi berhak menggunakannya kecuali atas izin darinya, sebagaimana tidak ada orang lain yang berhak memanfaatkannya kecuali seizin pembeli.

Ketentuan ini berlaku, walaupun pembeli belum melakukan pembayaran sama sekali, atau hanya membayar sebagiannya saja. Karena itu, bila masih merasa perlu untuk memanfaatkan barang hingga batas waktu tertentu, kita dibenarkan untuk mengajukan persyaratan kepada pembeli. Kita mensyaratkan kepadanya untuk diizinkan menggunakan barang, hingga batas waktu yang disepakati. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Sahabat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu, ketika menjual untanya kepada Rasulullah ﷺ.

Sahabat Jabir Radhiyallahu anhu mengisahkan: bahwa pada suatu hari ia menunggang unta yang telah kelelahan, sehingga ia berencana melepaskan untanya. Namun sebelum ia melakukan rencananya, tiba-tiba Rasulullah ﷺ, yang sebelumnya berada di akhir rombongan, berhasil menyusulnya. Selanjutnya Rasulullah ﷺ mendoakannya, dan memukul unta tunggangan sahabat Jabir Radhiyallahu anhu. Di luar dugaan, unta Sahabat Jabir Radhiyallahu anhu sekejap berubah menjadi gesit dan lincah melebihi kebiasaannya. Setelah melihat unta Sahabat Jabir Radhiyallahu anhu pulih gesit kembali, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Sahabat Jabir Radhiyallahu anhu: “Juallah unta itu kepadaku seharga 40 Dirham.” Sahabat Jabir Radhyallahu anhu menolak tawaran Rasulullah ﷺ ini dan berkata:”Tidak”. Namun kembali Rasulullah ﷺ bersabda: “Juallah untamu kepadaku.” Setelah penawaran kedua ini Sahabat Jabir Radhiyallahu anhu pun menjual untanya seharga 40 Dirham. Namun beliau mensyaratkan, agar diizinkan tetap menungganginya, hingga tiba di rumahnya. Dan setibanya di rumah, Sahabat Jabir Radhiyallahu anhu segera menyerahkan untanya dan Rasulullah ﷺ menyerahkan bayarannya.” [Riwayat al-Bukhori hadis no. 2569 dan Muslim hadis no. 4182]

Cermatilah, bagaimana Sahabat Jabir Radhiyallahu anhu merasa perlu untuk mengajukan persyaratan, agar dapat tetap menunggangi untanya, walaupun ia telah menjualnya. Sikap ini menunjukkan, bahwa tanpa adanya persyaratan ini, ia tidak dapat lagi menunggangi unta itu, karena telah berpindah kepemilikan.

Ketentuan Kedua: Manfaat dan Kerugian Barang

Sebagai konsekuensi langsung dari ketentuan pertama, maka segala manfaat barang setelah akad penjualan menjadi hak pembeli. Dan sebaliknya, segala kerugian atau kerusakan barang menjadi tanggung jawab pembeli. Ketentuan ini telah ditegaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadis berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلاً ابْتَاعَ غُلاَمًا فأَقَامَ عِنْدَهُ مَاشَاءَ اللَّهُ أَنْ يُقِيْمَ ثُمَّ وَجَدَ بِهِ عَيْبًا فَخَاصَمَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّهُ عَلَيْهِ فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدِ اسْتَغَلَّ غُلاَمِي فَقَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الخَراجُ بِالضَّمَانِ

Aisyah Radhyallahu anhuma mengisahkan: “Ada seorang lelaki yang membeli seorang budak. Tidak berapa lama setelahnya, ia mendapatkan suatu cacat pada budak tersebut. Karena tidak mau rugi, ia mengembalikannya (kepada penjual). Akibatnya penjual mengadu (kepada Rasulullah ﷺ) dan berkata: ‘Wahai, Rasulullah, sesungguhnya ia telah mengerjakan budakku.’ Maka Rasulullah ﷺ menjawab keluhannya dengan bersabda: ’Keuntungan adalah imbalan atas tanggung jawab/jaminan.’ [Riwayat Abu Dawud hadis no. 3512, dan dinyatakan Hasan oleh al-Albani dalam kitab Irwaul Ghalil hadis no. 1315]

Pada kisah ini, dengan tegas Rasulullah ﷺ menjelaskan, bahwa kegunaan barang adalah imbalan, merupakan konsekuensi langsung dari kepemilikan kita atas suatu barang. Dengan demikian, sebagai pembeli, maka kita harus siap menerima ketentuan ini, dan sebagai penjual kita pun sewajarnya rela dengan kenyataan ini.

Ketentuan ini sepenuhnya berlaku, apabila barang yang menjadi objek akad jual beli telah kita serahkan kepada pembeli. Adapun bila barang belum kita serahkan kepada pembeli, maka sudah barang tentu akad jual beli belum selesai. Dan sebagai konsekuensinya, segala risiko kerusakan barang masih menjadi tanggung jawab si penjual.

Peringatan

Hukum ini berlaku pada penjualan barang selain buah-buahan atau biji-bijian yang masih di atas pohonnya. Adapun buah atau biji-bijian yang telah menua, namun masih berada di atas pohonnya, dan kemudian karena suatu hal gagal panen, maka risiko menjadi tanggung jawab penjual. Hukum ini berlaku, walaupun kita sebagai penjual telah memberikan kesempatan (menyerahkan) kepada pembeli untuk memanen buah atau biji-bijian yang telah ia beli. Pengecualian ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

لَوْ بِعْتَ مِنْ أَخِيْكَ ثَمَرًا فَأَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ فَلاَ يَحِلُّ لَكَ أَنْ تَأْ خُذَ مِنْهُ شَيْئًا بِمَ تَأْ خُذُ مَالَ أَخِيكَ بِغَيْرِ حَقًّ

“Bila engkau membeli buah-buahan dari saudaramu, lalu ditimpa bencana, maka tidak halal bagimu sedikit pun dari pembayarannya. Atas dasar apa engkau memakan uang pembayarannya, tanpa alasan yang dibenarkan?” [Riwayat Muslim hadis no. 1554]

Ketentuan hukum ini berlaku dikarenakan pembeli belum sepenuhnya menerima barang yang ia beli, walaupun kita telah memberikan kesempatan kepadanya untuk memanennya. Musibah gagal panen yang menimpa, terjadi di luar kemampuannya sebagai manusia biasa. Karena itu, bila kita tetap memungut uang pembayaran, padahal pembeli gagal mendapatkan buah yang ia beli, berarti kita telah memakan hartanya, tanpa ada imbalan yang kita berikan kepadanya.

Ketentuan Ketiga: Menjual Kembali (Resale)

Di antara konsekuensi dari kepemilikan barang, pembeli berhak menggunakan barang yang telah ia beli, termasuk dengan cara menjualnya kembali. Hanya, ada tiga pantangan yang harus DIHINDARI pada penjualan kembali barang yang telah kita beli:

Pantangan Pertama: Jangan Menjual Kembali Kepada Penjual

Dalam beberapa kesempatan, dikarenakan suatu alas an, pembeli menjual kembali kepada penjual. Penjualan kembali kepada penjual pertama tentu menimbulkan tanda tanya besar, mengapa dan apa untungnya? Karena itu, wajar bila Islam mewaspadai praktik-praktik semacam ini.

Secara umum, menjual kembali kepada penjual pertamal-setidaknya- dua kemungkinan:

Kemungkinan Pertama: Membeli dengan pembayaran terutang dan menjual kembali dengan pembayaran tunai. Bila kemungkinan ini yang terjadi, maka praktik semacam ini merupakan celah nyata terjadinya praktik riba. Betapa tidak, biasanya penjual pertama menjual dengan harga lebih mahal, kemudian membeli kembali dengan harga yang lebih murah, karena pembeliannya dengan cara tunai [Demikian dijelaskan oleh Ibnu Qayyim dalam kitabnya I’lamul Muwaqiin 3/196-197]. Dan praktik semacam ini disebut dengan JUAL BELI ‘INAH yang nyata-nyata TERLARANG. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا تَبَايَعتُمْ بِالْعِيْنَةِوَأأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِوَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاَيَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِغُواإلَى دِيْنِكُمْ

“Bila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah, sibuk dengan peternakan sapi, puas dengan pertanian dan meninggalkan jihad, niscaya Allah menimpakan kehinaan kepada kalian. Dan Allah tidak akan mengangkat kehinaan itu dari kalian, hingga kalian kembali ke jalan agama kalian.” [Abu Dawud hadis no.3464]

Kemungkinan Kedua: Hadis di atas juga mengisyaratkan, bahwa bila penjualan kembali dengan pembayaran tunai atau terutang dengan harga yang sama atau lebih mahal dari harga penjualan pertama, maka tidak mengapa. Yang demikian itu dikarenakan kekhawatiran adanya praktik riba tidak terwujud, sehingga tidak ada alasan untuk melarang penjualan ini. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ berikut:

مَنْ بَاعَ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ فَلَهُ أَوْكَسُهُمَا أَوِالرِّبَا

“Barang siapa melakukan dua akad penjualan dalam satu transaksi jual beli, maka ia harus menggunakan harga yang termurah. Bila tidak, maka ia telah terjerumus dalam praktik riba.” [Riwayat Abu Dawud hadis no. 3463]

Pantangan Kedua: Menjual Kembali Di Tempat Penjual Pertama

Barang yang kita beli pada dasarnya telah menjadi milik kita, sehingga idealnya kita harus bertanggung jawab penuh atas segala yang terjadi padanya. Keuntungan menjadi milik kita, dan sebaliknya, kerugian pun kita yang menanggungnya- sebagaimana telah dijelaskan diatas. Namun kadang kala, karena keinginan untuk memerkecil risiko, maka sebagian pedagang melakukan penjualan kembali barang yang telah ia beli, sedangkan barang tersebut masih berada di tempat penjual pertama.

Kita bisa tebak, siapakah yang rela membeli barang dari kita, sedangkan kita, dan juga barang yang kita jual, masih berada ditempat penjual pertama. Secara logika, apa untungnya membeli dari kita, padahal pembeli mampu membeli langsung dari penjual pertama.

Dengan merenungkan hal ini kita dapat melihat, bahwa pada praktik semacam ini, yaitu menjual kembali, padahal barang masih berada di tempat penjual pertama, terdapat celah terjadinya praktik riba. Biasanya, yang sudi membeli dari penjual kedua, sedangkan ia-calon pembeli- telah sampai di tempat penjual pertama, adalah orang yang tidak mampu melakukan pembayaran tunai. Dengan demikian, sejatinya penjual kedua hanya sebatas mengutangi sejumlah uang kepada pembeli kedua, dan kemudian penjual kedua mendapatkan keuntungan dari piutang tersebut.

عَنِ ابنِ عُمَرَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : ابْتَعْتُ زَيْتًا فِي السُّوقِ فَلَمَّااسْتَوْجَبْتُهُ لِنَفْسِى لَقِيَنِي رَجُلٌ فَأعْطَانِي بِهِ رِجْحًا حَسَنًا فَأَرَدْتُ أَنْ أَضْرِبَ عَلَى يَدِهِ فَأَخَذَ رَجُلٌ مِنْ خَلْفِي بِذِرَاعِي فَالْتَفَتُّ فَإِذَا زَيْدُ بْنُ ثَابِتِ فَقَالَ لاَ تَبِعهُ حَيْثْهُ ابْتَعْتَهُ حَتَّى تَحُوزَهُ إِلَى رَحْلِكَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ تُبَاعَ السَّلَعُ حَيْثُ تُبْتَاعُ حَنَّى يَحُوزَهَا التُّجَّارُ إِلَى رِحَالِهِمْ

“Sahabat Ibnu Umar Radhiyallahu anhu mengisahkan: “Pada suatu saat saya membeli minyak di pasar. Ketika saya telah selesai membelinya, ada seorang lelaki menemuiku dan menawar minyak tersebut. Ia menawarkan keuntungan yang cukup banyak. Tanpa pikir panjang aku pun hendak menyalami tangannya (guna menerima tawaran darinya). Namun, tiba-tiba ada seseorang dari belakangku yang memegang lenganku. Maka aku pun menoleh, dan ternyata ia adalah Zaid bin Tsabit. Lalu ia berkata: ’Janganlah engkau jual minyak itu di tempat engkau membelinya, hingga engkau pindahkan ke tempatmu. Rasulullah ﷺ melarang dari menjual kembali barang di tempat pembeliannya, hingga barang tersebut dipindahkan oleh para pembeli ke tempatnya sendiri.” [Riwayat Abu Dawud hadis no. 3501 dan oleh al-Albani dinyatakan sebagai hadis Hasan dalam kitabnya, Shahih sunan Abu Dawud hadis no.3499]

Pantangan Ketiga: Menjual Sebelum Menerima Barang

Di antara hal yang harus kita waspadai sebelum kita menjual kembali barang pembelian kita ialah keberadaan barang tersebut. Bila barang yang kita beli belum kita terima, karena dalam proses pengiriman atau bahkan sedang dalam proses produksi, maka kita TIDAK DIBENARKAN untuk menjualnya kembali, sampai barang itu benar-benar tiba di tangan kita. Yang demikian itu demi menutup berbagai celah praktik-praktik riba. Kita bisa bayangkan, bila pembeli dibenarkan menjual kembali sebelum menerima barangnya, maka pembeli selanjutnya pun akan melakukan hal yang serupa dan demikian seterusnya. Dan bila ini telah terjadi, maka sudah dapat kita tebak, praktik-praktik riba tidak dapat dihindarkan. Praktik riba yang berupa uang melahirkan uang tanpa ada pergerakan barang atau jasa.

عَنِ ابْنِ عَبَّا سٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُوْ لُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا وَأَحْسِبُ كُلَّ شَيْءٍ بِمَنْزِلَةِ الطَّعَامِ

“Sahabat Ibnu Abbas Radhiyalllahu anhuma menuturkan: “Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barang siapa membeli bahan makanan, maka JANGANLAH ia menjualnya kembali, hingga ia benar-benar telah menerimanya.’” Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma berkata: ”Dan saya berpendapat, bahwa segala sesuatu hukumnya seperti bahan makanan.” [Riwayat Bukhari hadis no. 2025 dan Muslim hadis no. 1525]

Tahwus merasa heran dengan larangan ini, sehingga beliau bertanya kepada gurunya, yaitu Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma:

قُلْتُ لاِبْنِ عَبَّاسٍ : كَيْفَ ذَاكَ؟ قَالَ : ذَكَ دَرَهِمُ بِدَرَاهِمَ وَالطَّعَامُ مُرْجَأٌ

“Saya bertanya kepada Ibnu Abbas: ’Bagaimana bisa demikian?’ Ia menjawab: ‘Itu karena sebenarnya yang terjadi adalah menjual Dirham dengan Dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda.’”[Riwayat Bukhari hadis no. 2025]

Ibnu Hajar menjelaskan perkataan Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu di atas sebagaimana berikut:

“Bila seseorang membeli bahan makanan seharga 100 Dinar-misalnya-, dan ia telah membayarkan uang tersebut kepada penjual, sedangkan ia belum menerima bahan makanan yang ia beli, kemudian ia menjualnya kembali kepada orang lain seharga 120 Dinar, dan ia langsung menerima uang pembayaran tersebut, padahal bahan makanan masih tetap berada di penjual pertama, maka seakan-akan orang ini telah menjual/ menukar uang 100 Dinar dengan harga 120 Dinar. Dan berdasarkan penafsiran ini, maka larangan ini tidak hanya berlaku pada bahan makanan saja.” [Fathul Bari oleh Ibnu Hajar al-Asqalani 4/348-349]

Ketentuan Keempat: Tidak Dapat Membatalkan Penjualan atau Pembelian

Di antara konsekuensi akad jual beli ialah, kedua belah pihak tidak dapat membatalkan akad yang terjalin antara mereka, tanpa izin pihak kedua. Hal ini berlaku selama tidak ditemukan cacat atau tindak kecurangan. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu”. [Al-Maidah : 1]

Keumuman ayat ini mencakup akad jual beli, sehingga kita wajib memenuhi akad yang telah kita sepakati. Rasulullah ﷺ menjelaskan hal ini dengan gamblang pada sabdanya:

إِذَا تَبَايَعَ الرَّجُلاَنِ فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا وَكَانَا جَمِعًا أَوْيُخَيِّرُ أَحَدُ هُمَا الآخَرَ فَإِنْ خَيَّرَ أَحَدُ هُمَاالآخَرَ فَتَبَايَعَا عَلَى ذَلِكَ فَقَدْ وَجَبَ الْبَيْعُ وَإِنْ تَفَرَّقَا بَعْدَ أَنْ تَبَايَعَا وَلَمْ يَتْرُكْ وَاحِدٌ مِنْهُمَا الْبَيْعَ فَقَدْ وَجَبَ الْبَيْعُ

“Bila dua orang saling berjual beli, maka masing-masing dari keduanya memiliki hak pilih, selama keduanya belum berpisah dan masih bersama-sama, atau salah satu dari keduanya menawarkan pilihan kepada kawannya. Bila salah satu dari keduanya menawarkan pilihan yang ditawarkan tersebut, maka telah selesailah akad jual beli tersebut. Bila lalu mereka berpisah setelah mereka menjalankan akad jual beli, dan tidak ada seorang pun dari keduanya yang membatalkan akad penjualan, maka telah selesailah akad penjualan tersebut.” [Bukhari hadis no. 2006 dan Muslim hadis no. 1531]

Ketentuan Kelima: Bebas Menentukan Harga Jual

Di antara konsekuensi atas kepemilikan kita terhadap suatu barang yang telah kita beli, maka kita berhak menentukan berapa pun harga jualnya. Sebagaimana kita pun bebas memasang batas nilai keuntungan yang kita kehendaki darinya. Yang demikian itu karena tidak ditemukan satu dalil pun yang membatasi nominal keuntungan yang boleh kita pungut. Bahkan dalil-dalil yang ada mengindikasikan, bahwa kita bebas memasang target keuntungan yang kita suka.

Kisah berikut adalah salah satu dalil yang menguatkan penjelasan ini:

عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَاهُ دِينَارًا يَشْتَرٍى بِهِ شَاةً، فَاشْتَرَى لَهُ بِهِ شَاتَيْنِ، فَبَاعَ إِحْدَا هُمَا بِدِينَارٍ وَجَاءَهُ بِدِيْنَارٍ وَشَاةٍ، فَدَعَالَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ، وَكَانَ لَوِ اشْتَرَى التُّرَابَ لَرَبحَ فِيهِ

“Sahabat Urwah al-Bariqy Radhiyallahu anhu mengisahkan: “Rasulullah ﷺ memberiku uang satu Dinar untuk membeli seekor kambing kurban, atau seekor kambing. Berbekal uang satu Dinar, aku membeli dua ekor kambing, dan kemudian aku menjual kembali salah satunya seharga satu Dinar. Selanjutnya aku datang menemui beliau dengan membawa seekor kambing dan uang satu Dinar.” Mendapatkan ulah cerdas sahabatnya ini, Rasulullah ﷺ mendoakan keberkahan pada perniagaan Sahabat Urwah, sehingga andai ia membeli debu, niscaya ia mendapatkan laba darinya.” [Riwayat Bukhari hadis no.3443]

Diringkas dari tulisan berjudul: “Hukum-Hukum Umum Seputar Akad Jual Beli” oleh Al-Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA hafizhahullah

Sumber: https://almanhaj.or.id/3269-hukum-hukum-umum-seputar-akad-jual-beli.html

[Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi 06, Tahun ke-11/Al-Muharram 1433 (Des’ 11 – Jan – 2012. Diterbitkan Oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon Al-Islami, Alamat : Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]