Posts

,

BAGAIMANAKAH HUKUM ASURANSI DALAM ISLAM?

BAGAIMANAKAH HUKUM ASURANSI DALAM ISLAM?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

BAGAIMANAKAH HUKUM ASURANSI DALAM ISLAM?

Berdasarkan fatwa [Majmu’ Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, 14/277-286, Fatwa no. 18047 – lihat di sini: https://pengusahamuslim.com/1104-bagaimanakah-hukum-asuransi-dalam-islam-23.html],  jelaslah bagi kita alasan DIHARAMKANNYA asuransi dengan berbagai macamnya:

  1. ASURANSI BUKANLAH TERMASUK BENTUK PERNIAGAAN YANG DIHALALKAN DALAM ISLAM, sebab perusahaan asuransi tidaklah pernah melakukan praktik perniagaan sedikit pun dengan nasabahnya.
  2. Asuransi diharamkan karena mengandung unsur riba, yaitu bila nasabah menerima uang klaim, dan ternyata jumlah uang klaim yang ia terima melebihi jumlah total setoran yang telah ia bayarkan.
  3. Asuransi mengandung tindak kezhaliman, yaitu perusahaan asuransi memakan harta nasabah dengan cara-cara yang tidak dibenarkan dalam syariat. Hal ini dapat terjadi pada dua kejadian:

Kejadian Pertama:

Apabila nasabah selama hidupnya tidak pernah mengajukan klaim, sehingga seluruh uang setorannya tidak akan pernah kembali, alias hangus.

Banyak perusahaan asuransi mengklaim bahwa produk-produk mereka telah selaras dengan prinsip syariah. Secara global, mereka menawarkan dua jenis pilihan:

  1. Asuransi Umum Syariah

Pada pilihan ini, mereka mengklaim bahwa mereka menerapkan metode bagi hasil/ Mudharabah. Yaitu bila telah habis masa kontrak, dan tidak ada klaim, maka perusahaan asuransi akan mengembalikan sebagian dana/ premi yang telah disetorkan oleh nasabah, dengan ketentuan 60:40 atau 70:30. Adapun berkaitan dana yang tidak dapat ditarik kembali, mereka mengklaimnya sebagai dana Tabarru’ atau Hibah.

2. Asuransi Jiwa Syariah

Pada pilihan ini, bila nasabah hingga jatuh tempo tidak pernah mengajukan klaim, maka premi yang telah disetorkan, akan hangus. Perilaku ini diklaim oleh perusahaan asuransi sebagai hibah dari nasabah kepada perusahaan (Majalah MODAL edisi 36, 2006, hal. 16).

Subhanallah. Bila kita pikirkan dengan seksama, dari kedua jenis produk asuransi syariat di atas, niscaya kita akan dapatkan bahwa yang terjadi hanyalah manipulasi istilah. Adapun prinsip-prinsip perekonomian syariat, di antaranya yang berkaitan dengan Mudharabah dan hibah, sama sekali tidak terwujud. Yang demikian itu dikarenakan:

– Pada transaksi Mudharabah, yang di bagi adalah hasil/ keuntungan, sedangkan pada asuransi umum syariah di atas, yang dibagi adalah modal atau jumlah premi yang telah disetorkan.

– Pada akad Mudharabah, pelaku usaha (perusahaan asuransi) mengembangkan usaha riil dengan dana nasabah guna mendapatkan keuntungan. Sedangkan pada asuransi umum syariat, perusahaan asuransi, sama sekali tidak mengembangkan usaha guna mengelola dana nasabah.

– Pada kedua jenis asuransi syariat di atas, perusahaan asuransi telah memaksa nasabah untuk menghibahkan seluruh atau sebagian preminya. Disebut pemaksaan, karena perusahaan asuransi sama sekali tidak akan pernah siap bila ada nasabah yang ingin menarik seluruh dananya, tanpa menyisakan sedikitpun. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

(لا يحل مال امرئ مسلم إلا بطيب نفس منه (رواه أحمد والدارقطني والبيهقي، وصححه الحافظ والألباني

“Tidaklah halal harta seorang muslim kecuali dengan dasar kerelaan jiwa darinya.” (HR. Ahmad, ad-Daraquthny, al-Baihaqy dam dishahihkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dan al-Albany).

– Pengunaan istilah Mudharabah dan Tabarru’ untuk mengambil dana/ premi nasabah ini tidak dapat mengubah hakikat yang sebenarnya, yaitu dana nasabah hangus. Dengan demikian, perusahaan asuransi telah mengambil dana nasabah dengan cara-cara yang tidak dihalalkan. Ini sama halnya dengan minum khamr yang sebelumnya telah diberi nama lain, misalnya minuman penyegar, atau suplemen.

عن عُبَادَةَ بن الصَّامِتِ رضي الله عنه قال: قال رسول اللَّهِ صلّى الله عليه وصلّم (لَيَسْتَحِلَّنَّ طَائِفَةٌ من أمتي الْخَمْرَ بِاسْمٍ يُسَمُّونَهَا إِيَّاهُ). رواه أحمد وابن ماجة وصححه الألباني

Dari sahabat Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sunggung-sungguh akan ada sebagian orang dari umatku yang akan menghalalkan khamr, hanya karena sebutan/ nama (baru) yang mereka berikan kepada khamr.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Albani).

Sungguh perbuatan semacam inilah yang jauh-jauh hari dilarang oleh Rasulullah ﷺ  melalui sabdanya:

(لا ترتكبوا ما ارتكبت اليهود فتستحلوا محارم الله بأدنى الحيل (رواه ابن بطة، وحسنه ابن تيمية وتبعه ابن القيم وابن كثير

“Janganlah kalian melakukan apa yang pernah dilakukan oleh bangsa Yahudi, sehingga kalian menghalalkan hal-hal yang diharamkan Allah hanya dengan sedikit rekayasa.” (HR. Ibnu Baththah, dan dihasankan oleh Ibnu Taimiyyah dan diikuti oleh dua muridnya yaitu Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir).

Kejadian Kedua:

Apabila nasabah menerima uang klaim, dan ternyata uang klaim yang ia terima lebih sedikit dari jumlah total setoran yang telah ia bayarkan. Kedua kejadian ini diharamkan, karena termasuk dalam keumuman firman Allah ta’ala:

يَأَيُّها الَّذين آمَنُوا لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesama kamu dengan cara-cara yang bathil, kecuali dengan cara perniagan dengan asas suka sama suka di antara kamu.”

 

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A.

https://pengusahamuslim.com/1895-bagaimanakah-hukum-asuransi-dalam-islam-33.html

, ,

NASIHAT ULAMA UNTUK PALESTINA, MENJAGA AGAMA DAN AKIDAH LEBIH UTAMA DARI MENJAGA JIWA DAN TANAH

NASIHAT ULAMA UNTUK PALESTINA, MENJAGA AGAMA DAN AKIDAH LEBIH UTAMA DARI MENJAGA JIWA DAN TANAH

NASIHAT ULAMA UNTUK PALESTINA, MENJAGA AGAMA DAN AKIDAH LEBIH UTAMA DARI MENJAGA JIWA DAN TANAH

>> Benarkah Syaikh Al-Bani Fatwakan Rakyat Palestina Harus Keluar (Hijrah) dari Negaranya?

Fatwa ini sangat bikin heboh. Perhatikan ucapan sebagian mereka: “Sebagian pakar menganggap Fatwa al-Albani ini membuktikan, bahwa logika yang dipakai al-Albani adalah logika Yahudi, bukan logika Islam, karena Fatwa ini sangat menguntungkan orang-orang yang berambisi menguasai Palestina. Mereka menilai Fatwa al-Albani ini menyalahi Sunnah, dan sampai pada tingkatan pikun. Bahkan Dr. Ali al-Fuqayyir, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Yordania menilai, bahwa Fatwa ini keluar dari Setan“. [Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU.. hlm. 244].

Faidah: Para penulis buku “Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU…” dalam hujatan mereka terhadap al-Albani banyak berpedoman kepada buku “Fatawa Syaikh al-Albani wa Muqoronatuha bi Fatawa Ulama” karya Ukasyah Abdul Mannan. Padahal buku ini telah diingkari sendiri oleh Syaikh al-Albani secara keras, sebagaimana diceritakan oleh murid-murid beliau seperti Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi dan Syaikh Salim al-Hilali. (Lihat Fatawa Ulama Akabir Abdul Malik al-Jazairi hlm. 106 dan Shofahat Baidho’ Min Hayati Imamil Al-Albani Syaikh Abu Asma’ hlm. 88).

Dengan demikian, jatuhlah nilai hujatan mereka terhadap al-Albani dari akarnya. Alhamdulillah.

Untuk menjawab masalah ini, maka kami akan menjelaskan duduk permasalahan Fatwa Syaikh al-Albani tentang masalah Palestina ini dalam beberapa poin berikut [Lihat As-Salafiyyun wa Qodhiyyatu Falestina hal. 14-37. Lihat pula Silsilah Ahadits ash-Shohihah no. 2857, Madha Yanqimuna Minas Syaikh, Muhammad Ibrahim Syaqroh hlm. 21-24, al-Fashlul Mubin fi Masalatil Hijrah wa Mufaroqotil Musyirikin, Husain al-Awaisyah, Majalah Al-Asholah edisi 7/Th. II, Rabiu Tsani 1414 H]:

  1. Hijrah dan jihad terus berlanjut hingga Hari Kiamat tiba.
  2. Fatwa tersebut tidak diperuntukkan kepada negeri atau bangsa tertentu.
  3. Nabi Muhammad ﷺ sebagai Nabi yang mulia, beliau hijrah dari kota yang mulia, yaitu Mekkah.
  4. Hijrah hukumnya wajib ketika seorang Muslim tidak mendapatkan ketetapan dalam tempat tinggalnya yang penuh dengan ujian agama, dia tidak mampu untuk menampakkan hukum-hukum syari yang dibebankan Allah kepadanya, bahkan dia khawatir terhadap cobaan yang menimpa dirinya sehingga menjadikannya murtad dari agama.

>> Inilah inti Fatwa Syaikh al-Albani yang seringkali disembunyikan!!

Imam Nawawi berkata dalam Roudhatut Tholibin 10/282:

“Apabila seorang Muslim merasa lemah di Negara kafir, dia tidak mampu untuk menampakkan agama Allah, maka haram baginya untuk tinggal di tempat tersebut, dan wajib baginya untuk hijrah ke negeri Islam…”.

  1. Apabila seorang Muslim menjumpai tempat terdekat dari tempat tinggalnya untuk menjaga dirinya, agamanya dan keluarganya, maka hendaknya dia hijrah ke tempat tersebut, tanpa harus ke luar negerinya. Karena hal itu lebih mudah baginya untuk kembali ke kampung halaman bila fitnah telah selesai.
  2. Hijrah sebagaimana disyariatkan dari Negara ke Negara lainnya, demikian juga dari kota ke kota lainnya atau desa ke desa lainnya yang masih dalam negeri.

Poin ini juga banyak dilalaikan oleh para pendengki tersebut, sehingga mereka berkoar di atas mimbar dan menulis di koran-koran, bahwa Syaikh al-Albani memerintahkan penduduk Palestina untuk keluar darinya!!! Demikian, tanpa perincian dan penjelasan!!!

  1. Tujuan hijrah adalah untuk memersiapkan kekuatan untuk melawan musuh-musuh Islam, dan mengembalikan hukum Islam seperti sebelumnya.
  2. Semua ini apabila ada kemampuan. Apabila seorang Muslim tidak mendapati tanah untuk menjaga diri dan agamanya, kecuali tanah tempat tinggalnya tersebut, atau ada halangan-halangan yang menyebabkan dia tidak bisa hijrah, atau dia menimbang bahwa tempat yang akan dia hijrah ke sana sama saja, atau dia yakin bahwa keberadaannya di tempatnya lebih aman untuk agama, diri dan keluarganya, atau tidak ada tempat hijrah kecuali ke negeri kafir juga, atau keberadaannya untuk tetap di tempat tinggalnya lebih membawa maslahat yang lebih besar, baik maslahat untuk umat atau untuk mendakwahi musuh, dan dia tidak khawatir terhadap agama dan dirinya, maka dalam keadaan seperti ini hendaknya dia tetap tinggal di tempat tinggalnya. Semoga dia mendapatkan pahala hijrah. Imam Nawawi berkata dalam Roudhah 10/282: “Apabila dia tidak mampu untuk hijrah, maka dia diberi uzur sampai dia mampu“.

Demikian juga dalam kasus Palestina secara khusus, Syaikh al-Albani mengatakan: “Apakah di Palestina ada sebuah desa atau kota yang bisa dijadikan tempat untuk tinggal dan menjaga agama dan aman dari fitnah mereka?! Kalau memang ada, maka hendaknya mereka hijrah ke sana, dan tidak keluar dari Palestina. Karena hijrah dalam negeri adalah mampu dan memenuhi tujuan”.

Demikianlah perincian Syaikh al-Albani. Lantas apakah setelah itu kemudian dikatakan, bahwa beliau berfatwa untuk mengosongkan tanah Palestina atau untuk menguntungkan Yahudi?!! Diamlah wahai para pencela dan pendeki, sesungguhnya kami berlindung kepada Allah dari kejahilan dan kezaliman kalian!!

  1. Hendaknya seorang Muslim meyakini, bahwa menjaga agama dan akidah lebih utama daripada menjaga jiwa dan tanah.
  2. Anggaplah Syaikh al-Albani keliru dalam Fatwa ini. Apakah kemudian harus dicaci maki dan divonis dengan sembrangan kata?!! Bukankah beliau telah berijtihad dengan ilmu, hujjah dan kaidah?!! Bukankah seorang ulama apabila berijtihad, dia dapat dua pahala dan satu pahala bila dia salah?! Lantas, seperti inikah balasan yang beliau terima?!!
  3. Syaikh Zuhair Syawisy mengatakan dalam tulisannya yang dimuat dalam Majalah Al Furqon, edisi 115, hlm. 19, bahwa Syaikh al-Albani telah bersiap-siap untuk melawan Yahudi. Hampir saja beliau sampai ke Palestina, tetapi ada larangan pemerintah untuk para mujahidin”.

Syaikh al-Albani sampai ke Palestina pada 1948 dan beliau shalat di Masjidil Aqsho dan kembali sebagai pembimbing pasukan Saudi yang tersesat di jalan. Lihat kisah selengkapnya dalam bukunya berjudul “Rihlatii Ila Nejed”. (perjalananku ke Nejed).

 

Sumber: http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/

,

DOA TERHINDAR DARI POKOK-POKOK PENGGANGGU JIWA

DOA TERHINDAR DARI POKOK-POKOK PENGGANGGU JIWA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA TERHINDAR DARI POKOK-POKOK PENGGANGGU JIWA

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Saya banyak mendengar Rasulullah ﷺ berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ، وَالعَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالبُخْلِ وَالجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

ALLAHUMMA INNI A’UUDZU BIKA MINAL HAMMI WAL HAZNI WAL ‘AJZI WAl KASALI WA BUKHLI, WAL JUBNI WAD DAINI WA GHALABATIR RIJAL.

Artinya:

‘Ya Allah sesungguhnya saya berlindung kepada-Mu dari kegelisan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kebakhilan dan sifat pengecut, dan dari penumpukan utang dan penaklukan kaum lelaki yang zalim (penindasan para penguasa).” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary]

 

Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizahullah

 

,

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah ﷺ biasa membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat.

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, sifat pengecut, pikun, dan sifat kikir (bakhil). Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” [HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706]

Nabi ﷺ berlindung dari tujuh perkara, yaitu:

  1. Kelemahan
  2. Kemalasan

Perbedaan antara lemah dan malas adalah, bahwa lemah itu tidak adanya kemampuan, sedangkan malas adalah enggannya jiwa melakukan kebaikan, dan kurang terdorong kepadanya, padahal mampu melakukannya. Kedua hal ini adalah penyakit yang membuat seseorang duduk dan meninggalkan kewajiban, sehingga terbuka baginya pintu-pintu keburukan.

  1. Sifat pengecut
  2. Kebakhilan (kekikiran)

Sifat pengecut terkait dengan jiwa, sedangkan sifat bakhil (pelit) terkait dengan harta. Siapa saja yang kehilangan keberanian untuk melawan hawa nafsu, was-was setan, melawan musuh, menghadapi lawan yang membela yang batil, maka dia adalah pengecut. Dan siapa saja yang tidak mau memberi kaum fakir dengan hartanya, mengeluarkan hartanya untuk para mujahid fii sabilillah, dan mengeluarkan pada jalur-jalur kebaikan, maka dia adalah orang yang bakhil. Dalam banyak ayat, Allah subhaanahu wa ta’ala memerintahkan berjihad dengan jiwa dan hartanya. Dan penyakit yang dapat menghalangi seseorang dari berjihad mengorbankan jiwa dan hartanya adalah penyakit pengecut dan bakhil.

Nabi ﷺ berlindung dari sifat pengecut dan bakhil, karena keduanya dapat menghalangi kewajiban, menghalangi dari memenuhi hak-hak Allah ta’ala, menghalangi dari mencegah kemungkaran, bersikap tegas kepada para pelaku maksiat. Di samping itu, dengan seseorang memiliki keberanian dan kekuatan, maka ibadah dapat sempurna, orang yang terzalimi dapat tertolong, jihad dapat dilakukan. Sedangkan dengan selamat dari kebakhilan, maka ia dapat memenuhi hak-hak harta, adanya keinginan untuk berinfak, bersikap dermawan, dan berakhlak mulia serta terhalang dari sifat tamak kepada apa yang tidak dimilikinya.

  1. Pikun

Yang dimaksud pikun adalah dikembalikan kepada usia yang paling buruk. Sebab mengapa beliau ﷺ berlindung darinya adalah, karena ketika sudah pikun terkadang ucapan menjadi ngelantur, akal dan ingatan menjadi kurang, panca indera menjadi lemah, dan lemah dari melakukan ketaatan, serta meremehkan sebagiannya. Cukuplah seseorang berlindung darinya, karena Allah menamai usia tersebut sebagai Ardzalul ‘Umur (Usia paling buruk).

  1. Siksa Kubur

Hadis di atas menunjukkan adanya siksa kubur, di samping adanya nikmat kubur dan fitnah(ujian)nya. Hadis lain yang menunjukkan adanya siksa kubur adalah hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ المَدِينَةِ، أَوْ مَكَّةَ، فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِي قُبُورِهِمَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ» ثُمَّ قَالَ: «بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ» . ثُمَّ دَعَا بِجَرِيدَةٍ، فَكَسَرَهَا كِسْرَتَيْنِ، فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَا كِسْرَةً، فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا» أَوْ: «إِلَى أَنْ يَيْبَسَا»

“Nabi ﷺ pernah melewati salah satu di antara kebun-kebun Madinah atau Mekkah, lalu beliau ﷺ mendengar suara dua orang yang diazab dalam kuburnya, kemudian Nabi ﷺ bersabda: “Keduanya sedang diazab, dan keduanya tidaklah diazab, menurut keduanya terhadap dosa besar.” Selanjutnya beliau ﷺ bersabda: “Bahkan sesungguhnya itu dosa besar. Adapun salah satunya, maka ia tidak menjaga diri dari kencingnya, sedangkan yang satu lagi berjalan kesana-kemari mengadu domba.” Kemudian beliau ﷺ meminta dibawakan pelepah kurma, lalu beliau ﷺ mematahkan menjadi dua bagian, dan meletakkan belahannya di masing-masing kubur itu, lalu beliau ﷺ ditanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan hal itu?” Beliau ﷺ menjawab, “Mudah-mudahan azab keduanya diberi keringanan selama belahan itu belum kering,” atau bersabda: “Sampai kedua belahan kering.” [HR. Bukhari]

 

  1. Fitnah Hidup dan Mati (Bencana Kehidupan dan Kematian)

Fitnah hidup artinya cobaan dan hujian hidup, baik berupa fitnah syahwat dan fitnah syubhat, d imana kedua cobaan ini banyak yang membuat manusia tergelincir, lalai dari kewajibannya dan terbawa oleh arus fitnah yang menggiringnya kepada kebinasaan. Maka dalam doa ini kita berlindung, agar kita mampu menghadapi cobaan-cobaan itu dengan tetap bersabar menjalankan ketaatan kepada Allah, bersabar menjauhi maksiat, dan istiqamah di atas agama-Nya. Ini adalah cara untuk menghadapi fitnah syahwat. Adapun cara untuk menghadapi fitnah syubhat adalah dengan yakin di atas kebenaran dan teguh, tidak mudah berubah oleh situasi dan kondisi; berbekal ilmu syari.

Sedangkan fitnah mati, maka maksudnya ujian ketika di kubur, yaitu pertanyaan yang diajukan oleh malaikat Munkar dan Nakir yang akan menanyakan kepada seseorang tentang siapa Tuhannya, apa agamanya, dan siapa nabinya.

Wallahu a’lam.

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Dinukil dari tulisan berjudul: “RASULULLAH BERDOA MOHON PERLINDUNGAN DARI HAL-HAL BERIKUT” yang ditulis oleh: Marwan Hadidi, S.Pd.I

[Artikel Muslim.Or.Id]

Sumber: https://muslim.or.id/22107-rasulullah-berdoa-mohon-perlindungan-dari-hal-hal-berikut.html

 

 

 

, ,

BAHAYA ORANG YANG ENGGAN MELUNASI UTANGNYA

BAHAYA ORANG YANG ENGGAN MELUNASI UTANGNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BAHAYA ORANG YANG ENGGAN MELUNASI UTANGNYA

Alhamdulillahi robbil ‘alamin. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Keutamaan Orang yang Terbebas dari Utang

Dari Tsauban, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ

“Barang siapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal:

[1] Sombong,
[2] Ghulul (khianat), dan
[3] Utang, maka dia akan masuk Surga”. [HR. Ibnu Majah no. 2412. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]. Ibnu Majah membawakan hadis ini pada Bab “Peringatan Keras Mengenai Utang.”

Mati Dalam Keadaan Masih Membawa Utang, Kebaikannya Sebagai Ganti

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ

“Barang siapa yang mati dalam keadaan masih memiliki utang satu Dinar atau satu Dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di Hari Kiamat nanti), karena di sana (di Akhirat) tidak ada lagi Dinar dan Dirham.” [HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]. Ibnu Majah juga membawakan hadis ini pada Bab “Peringatan Keras Mengenai Utang.”

Itulah keadaan orang yang mati dalam keadaan masih membawa utang dan belum juga dilunasi. Maka untuk membayarnya akan diambil dari pahala kebaikannya. Itulah yang terjadi ketika Hari Kiamat, karena di sana tidak ada lagi Dinar dan Dirham untuk melunasi utang tersebut.

Urusan Orang yang Berutang Masih Menggantung

Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda:

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

“Jiwa seorang Mukmin masih bergantung dengan utangnya, hingga dia melunasinya.” [HR. Tirmidzi no. 1078. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih, sebagaimana Shahih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi]

Al ‘Iroqiy mengatakan: “Urusannya masih menggantung, tidak ada hukuman baginya, yaitu tidak bisa ditentukan, apakah dia selamat ataukah binasa, sampai dilihat bahwa utangnya tersebut lunas atau tidak.” [Tuhfatul Ahwadzi, 3/142]

Orang yang Berniat Tidak Mau Melunasi Utang Akan Dihukumi Sebagai Pencuri

Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا

“Siapa saja yang berutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada Hari Kiamat) dalam status sebagai pencuri.” [HR. Ibnu Majah no. 2410. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Hasan Shahih]

Al Munawi mengatakan: “Orang seperti ini akan dikumpulkan bersama golongan pencuri dan akan diberi balasan sebagaimana mereka.” [Faidul Qodir, 3/181]

Ibnu Majah membawakan hadis di atas pada Bab “Barang Siapa Berutang Dan Berniat Tidak Ingin Melunasinya.”

Ibnu Majah juga membawakan riwayat lainnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

“Barang siapa yang mengambil harta manusia dengan niat ingin menghancurkannya, maka Allah juga akan menghancurkan dirinya.” [HR. Bukhari no. 18 dan Ibnu Majah no. 2411]. Di antara maksud hadis ini adalah barang siapa yang mengambil harta manusia melalui jalan utang, lalu dia berniat tidak ingin mengembalikan utang tersebut, maka Allah pun akan menghancurkannya. Ya Allah, lindungilah kami dari banyak berutang dan enggan untuk melunasinya.

Masih Ada Utang, Enggan Dishalati

Dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

Kami duduk di sisi Nabi ﷺ. Lalu didatangkanlah satu jenazah. Lalu beliau ﷺ bertanya: “Apakah dia memiliki utang?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Tidak ada.” Lalu beliau ﷺ mengatakan: “Apakah dia meninggalkan sesuatu?”. Lantas mereka (para sahabat) menjawab: “Tidak.” Lalu beliau ﷺ menyalati jenazah tersebut.

Kemudian didatangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah shalatkanlah dia!” Lalu beliau ﷺ bertanya, “Apakah dia memiliki utang?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Iya.” Lalu beliau ﷺ mengatakan: “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Lantas mereka (para sahabat) menjawab: “Ada, sebanyak 3 Dinar.” Lalu beliau ﷺ menyalati jenazah tersebut.

Kemudian didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu para sahabat berkata: “Shalatkanlah dia!” Beliau ﷺ bertanya: “Apakah dia meningalkan sesuatu?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Tidak ada.” Lalu beliau ﷺ bertanya: “Apakah dia memiliki utang?” Mereka menjawab: “Ada tiga Dinar.” Beliau ﷺ berkata: “Shalatkanlah sahabat kalian ini.” Lantas Abu Qotadah berkata: “Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung utangnya.” Kemudian beliau ﷺ pun menyalatinya.” [HR. Bukhari no. 2289]

Dosa Utang Tidak Akan Terampuni Walaupun Mati Syahid

Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah ﷺ bersabda:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utang.” [HR. Muslim no. 1886]

Oleh karena itu, seseorang hendaknya berpikir: “Mampukah saya melunasi utang tersebut dan mendesakkah saya berutang?” Karena ingatlah, utang pada manusia tidak bisa dilunasi hanya dengan istighfar.

Nabi ﷺ Sering Berlindung dari Berutang Ketika Shalat

Bukhari membawakan dalam  kitab Shahihnya pada Bab “Siapa Yang Berlindung Dari Utang”. Lalu beliau rahimahullah membawakan hadis dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

كَانَ يَدْعُو فِى الصَّلاَةِ وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ » . فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ قَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ » .

“Nabi ﷺ biasa berdoa di akhir shalat (sebelum salam):

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang.”

Lalu ada yang berkata kepada beliau ﷺ: “Kenapa engkau sering meminta perlindungan adalah dalam masalah utang?” Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika orang yang berutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” [HR. Bukhari no. 2397]

Al Muhallab mengatakan: “Dalam hadis ini terdapat dalil tentang wajibnya memotong segala perantara yang menuju pada kemungkaran. Yang menunjukkan hal ini adalah doa Nabi ﷺ ketika berlindung dari utang dan utang sendiri dapat mengantarkan pada dusta.” [Syarh Ibnu Baththol, 12/37]

Adapun utang yang Nabi ﷺ berlindung darinya adalah tiga bentuk utang:

[1] Utang yang dibelanjakan untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah dan dia tidak memiliki jalan keluar untuk melunasi utang tersebut.
[2] Berutang bukan pada hal yang terlarang, namun dia tidak memiliki cara untuk melunasinya. Orang seperti ini sama saja menghancurkan harta saudaranya.
[3] Berutang namun dia berniat tidak akan melunasinya. Orang seperti ini berarti telah bermaksiat kepada Rabbnya.

Orang-orang semacam inilah yang apabila berutang lalu berjanji ingin melunasinya, namun dia mengingkari janji tersebut. Dan orang-orang semacam inilah yang ketika berkata akan berdusta. [Syarh Ibnu Baththol, 12/38]

Itulah sikap jelek orang yang berutang, sering berbohong dan berdusta. Semoga kita dijauhkan dari sikap jelek ini.

Kenapa Nabi ﷺ sering berlindung dari utang ketika shalat?

Ibnul Qoyyim dalam Al Fawa’id (hal. 57, Darul Aqidah] mengatakan:

“Nabi ﷺ meminta perlindungan kepada Allah dari berbuat dosa dan banyak utang, karena banyak dosa akan mendatangkan kerugian di Akhirat, sedangkan banyak utang akan mendatangkan kerugian di dunia.”

Inilah doa yang seharusnya kita amalkan agar terlindung dari utang:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang.

Berbahagialah Orang yang Berniat Melunasi Utangnya

Ibnu Majah dalam sunannya membawakan dalam Bab “Siapa Saja Yang Memiliki Utang Dan Dia Berniat Melunasinya.” Lalu beliau membawakan hadis dari Ummul Mukminin Maimunah:

كَانَتْ تَدَّانُ دَيْنًا فَقَالَ لَهَا بَعْضُ أَهْلِهَا لاَ تَفْعَلِى وَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهَا قَالَتْ بَلَى إِنِّى سَمِعْتُ نَبِيِّى وَخَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا ».

Dulu Maimunah ingin berutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan: “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan: “Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku ﷺ bersabda: “Jika seorang Muslim memiliki utang, dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi utang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi utang tersebut di dunia”. [HR. Ibnu Majah no. 2399. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih kecuali kalimat fid dunya –di dunia-]

Dari hadis ini ada pelajaran yang sangat berharga, yaitu boleh saja kita berutang, namun harus berniat untuk mengembalikannya. Perhatikanlah perkataan Maimunah di atas.

Juga terdapat hadis dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ

“Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya), sampai dia melunasi utang tersebut, selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” [HR. Ibnu Majah no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar utang. Ketika dia mampu, dia langsung melunasinya. Atau melunasi sebagiannya, jika dia tidak mampu melunasi seluruhnya. Sikap seperti inilah yang akan menimbulkan hubungan baik antara orang yang berutang dan yang memberi utangan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

“Sesungguhnya yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar utang.” [HR. Bukhari no. 2393]

Ya Allah, lindungilah kami dari berbuat dosa dan beratnya utang. Mudahkanlah kami untuk melunasinya.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyiina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

 

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel https://rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/187-bahaya-orang-yang-enggan-melunasi-utangnya.html

,

DOA MENGHILANGKAN SEDIH, GUNDAH, GALAU

DOA MENGHILANGKAN SEDIH, GUNDAH, GALAU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA MENGHILANGKAN SEDIH, GUNDAH, GALAU

Ada tiga jenis perasaan yang mengganggu jiwa seorang manusia:
1. Huzn (Kesedihan terhadap apa yang terjadi di masa lalu),
2. Hamm (Keresahan lantaran kekhawatiran akan masa depan)
3. Ghamm (Perasaan gundah saat menghadapi kenyataan yang sulit yang tengah dihadapi sekarang).

Tiga perasaan ini tak bisa lenyap dari jiwa seseorang, kecuali melalui ketulusan penuh untuk kembali kepada Allah, kesempurnaan perasaan hina di hadapan-Nya, kerendahan hati kepada-Nya, ketundukan dan kepasrahan terhadap perintah-Nya, percaya akan ketentuan-Nya, mengenal-Nya dan mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, percaya kepada kitab-Nya, selalu membaca dan merenungi serta mengamalkan segala kandungannya.

Dengan itu semua, bukan dengan yang lain, segala kekacauan hati itu akan sirna, dada menjadi lapang, dan kebahagiaan pun akan datang.

Dalam Musnad Ahmad dan Shahih Ibni Hibban serta lainnya, ‘Abdullah bun Mas’ud meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Tidaklah seorang hamba mengucapkan doa berikut (ini), tatkala ia didera keresahan atau kesedihan, melainkan Allah pasti akan menghilangkan keresahannya, dan akan menggantikan kesedihannya dengan kegembiraan. Para Sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, sudah seharusnya kami memelajari doa tersebut. Rasulullah ﷺ menjawab: “Benar. Sudah seharusnya orang yang mendengarnya mau memelajarinya”. [HR. Musnad Ahmad 1/391 (Ash-Shahihah no 199)]

Doa tersebut adalah sebagai berikut:


اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجِلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي

ALLAHUMMA INNI ‘ABDUKA WAB-NU ‘ABDIKA WAB-NU AMATIKA
NAASHIYATII BIYADIKA, MAADHIN FIYYA HUKMUKA, ADLUN FIYYA QODHOOUKA
ASALUKA BIKULLISMIN HUWALAKA SAMMAITA BIHI NAFSAKA
AW ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHOLQIKA, AW ANZALTAHU FII KITAABIKA
AWISTA’ TSARTA BIHI FII ‘ILMILGHOIBI ‘INDAKA
AN TAJ’ALAL QUR AANA ROBII’A QOLBII WA NUURO SHODRII
WAJILAAA HUZNII, WA DZAHAABA HAMMII

Artinya:

“Wahai Allah, sesungguhnya saya adalah Hamba-Mu, dan anak lelaki dari hamba-Mu lelaki, dan anak lelaki dari hamba-Mu perempuan. Nasib saya di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku pada saya. Ketetapan-Mu adil pada saya. Saya memohon kepada-Mu, dengan setiap nama yang ia milik-Mu, Engkau telah menamai diri-Mu dengannya, atau telah Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-makhluk-Mu, atau yang telah Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu, atau Engkau sembunyikan di dalam ilmu gaib milik-Mu. Jadikanlah Alquran sebagai penyejuk hati saya, cahaya dada saya, dan hilangnya kesedihan saya, dan lenyap resah saya,” kecuali Allah menghilangkan darinya rasa resah dan sedihnya dan menggantikannya dengan kegembiraan.” Lalu beliau ﷺ ditanya: “Wahai Rasulullah, Alangkah baiknya kita memelajarinya?” Beliau ﷺ menjawab: “Tentu, bagi siapa yang mendengarnya untuk memelajarinya.” [HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 199)]

 

Diringkas dari:
http://klikuk.com/doa-nabi-di-kala-galau-resah-perasaan-sedih-melanda/

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

Bolehkah melagukan bacaan Alquran? Bagaimana keutamaannya?

Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin membawakan judul bab “Sunnahnya Memerindah Suara Ketika Membaca Alquran Dan Meminta Orang Lain Membacanya Karena Suaranya Yang Indah Dan Mendengarkannya.”

Beberapa dalil yang disebutkan oleh beliau berikut ini:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَىْءٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِىِّ أَنْ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ

“Allah tidak pernah mendengarkan sesuatu, seperti mendengarkan Nabi yang indah suaranya, melantunkan Alquran dan mengeraskannya.” [HR. Bukhari no. 5024 dan Muslim no. 792]

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

يَا أَبَا مُوسَى لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

“Wahai Abu Musa, sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud.” (HR. Bukhari no. 5048 dan Muslim no. 793).

Sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ mengatakan kepada Abu Musa:

لَوْ رَأَيْتَنِى وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ الْبَارِحَةَ لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

“Seandainya engkau melihatku, ketika aku mendengarkan bacaan Alquranmu tadi malam. Sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud” (HR. Muslim no. 793).

Dari Al Bara’ bin ‘Aazib, ia berkata:

سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ( وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ ) فِى الْعِشَاءِ ، وَمَا سَمِعْتُ أَحَدًا أَحْسَنَ صَوْتًا مِنْهُ أَوْ قِرَاءَةً

“Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ membaca dalam surat Isya surat Ath Thiin (Wath thiini waz zaituun), maka aku belum pernah mendengar suara yang paling indah daripada beliau, atau yang paling bagus bacaannya dibanding beliau.” [HR. Bukhari no. 7546 dan Muslim no. 464]

Beberapa faidah yang diambil dari beberapa hadis di atas:

1- Dibolehkan memerindah suara bacaan Alquran, dan perbuatan seperti itu tidaklah makruh. Bahkan memerindah suara bacaan Alquran itu disunnahkan.

2- Memerbagus bacaan Alquran memiliki pengaruh, yaitu hati semakin lembut, air mata mudah untuk menetes, anggota badan menjadi khusyu’, hati menyatu untuk menyimak. Beda bila yang dibacakan yang lain.

Itulah keadaan hati sangat suka dengan suara-suara yang indah. Hati pun jadi lari ketika mendengar suara yang tidak mengenakkan.

3- Diharamkan Alquran itu dilagukan, sehingga keluar dari kaidah dan aturan Tajwid, atau huruf yang dibaca tidak seperti yang diperintahkan. Pembacaan Alquran pun tidak boleh serupa dengan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan. Bentuk seperti itu diharamkan.

4- Termasuk bid’ah kala membaca Alquran, adalah membacanya dengan nada musik.

5- Disunnahkan mendengarkan bacaan Alquran yang sedang dibaca dan diam kala itu.

6- Disunnahkan membaca pada shalat ‘Isya’ dengan surat Qishorul mufashol seperti surat At Tiin.

Apa yang Dimaksud “Yataghonna bil Quran”?

Kata Imam Nawawi, bahwa Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah, juga kebanyakan ulama memaknakan dengan:

يُحَسِّن صَوْته بِهِ

“Memerindah suara ketika membaca Alquran.”

Namun bisa pula makna ‘Yataghonna bil Quran’ adalah mencukupkan diri dengan Alquran. Makna lain pula adalah menjaherkan Alquran. Demikian keterangan Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 6: 71.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
  • Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 472.
  • Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin, Dr. Musthofa Al Bugho dkk, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 209.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/10681-melagukan-Alquran-bolehkah.html

, , ,

APAKAH PENYAKIT ‘AIN HANYA DARI PANDANGAN YANG DENGKI SAJA?

APAKAH PENYAKIT 'AIN HANYA DARI PANDANGAN YANG DENGKI SAJA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#AdabAkhlak

APAKAH PENYAKIT ‘AIN HANYA DARI PANDANGAN YANG DENGKI SAJA?

Penyakit ‘ain adalah penyakit, baik pada badan maupun jiwa, yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki, ataupun takjub/kagum, sehingga dimanfaatkan oleh setan, dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena. Jadi penyakit ‘ain bukan hanya disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki saja, tapi bisa juga diakibatkan oleh pandangan mata orang yang takjub, senang, ataupun kagum terhadap kita. Ibnul Atsir rahimahullah berkata:

ﻳﻘﺎﻝ: ﺃﺻَﺎﺑَﺖ ﻓُﻼﻧﺎً ﻋﻴْﻦٌ ﺇﺫﺍ ﻧَﻈﺮ ﺇﻟﻴﻪ ﻋَﺪُﻭّ ﺃﻭ ﺣَﺴُﻮﺩ ﻓﺄﺛَّﺮﺕْ ﻓﻴﻪ ﻓﻤَﺮِﺽ ﺑِﺴَﺒﺒﻬﺎ

Dikatakan bahwa Fulan terkena ’ain , yaitu apabila musuh atau orang-orang dengki memandangnya, lalu pandangan itu memengaruhinya, hingga menyebabkannya jatuh sakit.” [An-Nihayah 3/332]

Sekilas ini terkesan mengada-ada atau sulit diterima oleh akal. Akan tetapi Rasulullah ﷺ menegaskan, bahwa ‘ain adalah nyata dan ada. Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺍﻟﻌﻴﻦ ﺣﻖُُّ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺷﻲﺀ ﺳﺎﺑﻖ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻟﺴﺒﻘﺘﻪ ﺍﻟﻌﻴﻦ

Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada. Seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya” [HR. Muslim]

Contoh kasus:

  • Foto anak yang lucu dan imut diposting di sosial media, kemudian bisa saja si anak tersebut terkena ‘ain. Tiba-tiba anak tersebut sakit, menangis terus dan tidak berhenti, padahal sudah diperiksakan ke dokter dan tidak ada penyakit.
  • Bisa juga gejalanya tiba-tiba tidak mau menyusui sehingga kurus kering, tanpa ada sebab penyakit.
  • Ada teman memuji handphone kita yang baru. Tiba-tiba tanpa sebab yang disadari, handphone itu hilang begitu saja. Oleh karena itu disyariatkan, bila kita memuji atau mengagumi sesuatu, kita ucapkan “Baarakallahufiik (Semoga Allah memberkahimu). Yaitu mendoakan keberkahannya, karena doa ini bisa mencegah al-‘Ain.

Hal ini terjadi karena ada pandangan hasad atau pandangan takjub kepada foto anak atau handphone itu. Dan yang PENTING diketahui, bahwa penyakit ‘ain bisa muncul, meskipun mata pelakunya tidak berniat membahayakannya (ia takjub dan kagum saja, dan tidak ada rasa iri di dalam dirinya -pen).

Wallahu a’lam.

Dinukil dari: https://muslim.or.id/28858-penyakit-ain-melalui-foto-dan-video.html dengan penambahan seperlunya oleh redaksi Nasihat Sahabat.

,

UMAT ISLAM AKAN MENJADI 73 GOLONGAN DAN HANYA ADA SATU GOLONGAN YANG AKAN MASUK SURGA

UMAT ISLAM AKAN MENJADI 73 GOLONGAN DAN HANYA ADA SATU GOLONGAN YANG AKAN MASUK SURGA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#ManhajAkidah
 
UMAT ISLAM AKAN MENJADI 73 GOLONGAN DAN HANYA ADA SATU GOLONGAN YANG AKAN MASUK SURGA
 
Bukankah Rasulullah ﷺ sudah mengabarkan, umat Islam akan menjadi 73 kelompok, dan hanya ada satu kelompok yang akan masuk SURGA, dan yang 72 kelompok diancam Neraka?
 
Nah ikutlah yang SATU golongan itu.
Siapa yang satu golongan tersebut?
Rasulullah ﷺ sudah memberitahukannya:
Yaitu orang yang mengikuti Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya (Manhaj Salaf). Pengikut Manhaj Salaf disebut Salafi. Yang perlu ditekankan di sini adalah mengikuti cara pemahaman sahabat.
 
Dari sahabat ‘Auf bin Malik Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “asulullah ﷺ bersabda:
“Umat Yahudi berpecah-belah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan. Maka hanya satu golongan yang masuk Surga, dan 70 (tujuh puluh) golongan masuk Neraka.
Umat Nasrani berpecah-belah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, dan 71 (tujuh puluh satu) golongan masuk Neraka dan hanya satu golongan yang masuk Surga.
Dan demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, sungguh akan berpecah-belah umatku menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan. Hanya satu (golongan) masuk Surga dan 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk Neraka.’
 
Rasulullah ﷺ ditanya:
“Wahai Rasulullah, siapakah mereka (satu golongan yang selamat) itu ?”
 
Rasulullah ﷺ menjawab:
“al-Jama’ah.”
 
Takhrij Hadis 
Hadis ini diriwayatkan oleh:
1. Ibnu Majah dan lafal ini miliknya, dalam Kitabul Fitan, Bab Iftiraqul Umam (no. 3992).
2. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitabus Sunnah (no. 63).
3. al-Lalika-i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (no. 149).
Hadis ini Hasan. Lihat Silsilatul Ahadits ash-Shahihah (no. 1492).
 
Dalam riwayat lain disebutkan tentang golongan yang selamat, yaitu orang yang mengikuti Rasulullah ﷺ dan para shahabatnya Radhiyallahu anhum. Beliau ﷺ bersabda:
 
…كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.
 
“… Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu, (yaitu) yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya.”
 
Nah, orang yang mengikuti Nabi ﷺ dan para sahabatnya, itu disebut mengikuti Manhaj Salaf. Agar simpel disebutnya SALAFI.
Dan SALAFI itu bukan cuma mengaku-ngaku saja …
Tapi butuh BUKTI….
 
Apa buktinya?
Buktinya adalah Ittiba kepada Nabi ﷺ dan sesuai pengamalannya dengan pemahaman para sahabat.
Misalnya, sahabat tidak pernah DEMO. Maka jika ada orang yang ikutan DEMO, atau malah menyatakan DEMO itu sebagai SYIAR Islam, maka dia telah BERDUSTA terhadap kesalafiannya….
Walaupun dia seorang USTADZ yang katanya SALAFI.
 

DOSA KITA MEMECAH BELAH KITA

DOSA KITA MEMECAH BELAH KITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

DOSA KITA MEMECAH BELAH KITA

Nabi kita Muhammad ﷺ bersabda:

{والذي نفس محمد بيده ما توادَّ اثنان في الله ففرق بينهما إلا بذنب يحدثه أحدهما }

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah ada dua jiwa yang saling mencintai karena Allah, kemudian keduanya berpecah-belah, melainkan karena sebab dosa yang mereka lakukan.”

(HR Ahmad dishahihkan oleh Imam Al-Albani di dalam Irwa’ul Ghalil : 8/99)

Imam Al-Muzani berkata ketika menjelaskan makna hadis ini:

«إذا وجدت من إخوانك جفاء، فتب إلى الله، فإنك أحدثت ذنبا، وإذا وجدت منهم زيادة وُدٍّ، فذلك لطاعة أحدثتها، فاشكر الله تعالى»

“Jika engkau mendapatkan dari saudaramu sikap yang buruk, maka bertaubatlah engkau kepada Allah. Karena sesungguhnya engkau telah melakukan dosa.

Dan jika engkau mendapatkan dari mereka kecintaan yang makin bertambah, maka itu disebabkan oleh ketaatan yang engkau lakukan.” [Faidhul Qadir : 5/437].

Semoga kita senantiasa dimudahkan oleh Allah ﷻ untuk sering mawas diri, dan diberikan kekuatan serta kesabaran untuk meninggalkan kemaksiatan, lahir maupun batin, agar tali ukhuwah tetap kekal hingga ajal menjelang …

Barokallohu fiikum.

Penulis: Ustadz Abul Aswad Al Bayati

[Sumber: Tausiyah Bimbingan Islam]