Posts

,

LENGAN WANITA TERMASUK AURAT

LENGAN WANITA TERMASUK AURAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
LENGAN WANITA TERMASUK AURAT
 
Allah taala berfirman:
 
. يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ .
 
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” [QS. Al Ahzab: 59]
 
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu‘anha, beliau berkata:
 
. أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ .
 
Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah ﷺ dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah ﷺ pun berpaling darinya dan bersabda:
“Wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haid (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini.” Beliau ﷺ menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. [HR. Abu Daud 4140, dalam Al Irwa (6/203) Al Albani berkata: “Hasan dengan keseluruhan jalannya”]
 
Az Zarqaani berkata: “Aurat wanita di depan lelaki Muslim Ajnabi adalah seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan.” [Syarh Mukhtashar Khalil, 176] . Sehingga dari sini kita ketahui, bahwa para ulama menyatakan lengan wanita termasuk aurat yang wajib ditutup. Karena yang masyhur diperselisihkan adalah wajah dan telapak tangan. Maka tidak dibenarkan sebagian Muslimah, walaupun sudah berjilbab, namun membiarkan lengannya terbuka.
 
Wallahu a’lam.

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#hijabjilbab #batasanauratwanita #batasanauratperempuan #muslimah #lengantermasukauratwanita #lengantermasukauratperempuan #telapaktangandanwajah #auratwanitayangwajibditutup

, , ,

HARUSKAH WANITA MEMAKAI JILBAB KETIKA MEMBACA ALQURAN?

HARUSKAH WANITA MEMAKAI JILBAB KETIKA MEMBACA ALQURAN?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HARUSKAH WANITA MEMAKAI JILBAB KETIKA MEMBACA ALQURAN?
 
Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafidzahullah
 
Pertanyaan:
Apa yang seharusnya kami lakukan sebelum membaca Alquran? Apakah diwajibakan bagi wanita memakai hijab sempurna tatkala membaca Alquran?
 
Jawaban:
Alhamdulillah,
TIDAK DIWAJIBKAN bagi wanita memakai hijab ketika membaca Alquran, dengan alasan karena tidak adanya dalil yang menunjukkan kewajiban tersebut.
 
Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan:
“Tatkala membaca Alquran tidak disyaratkan harus menutup kepala.” [Fatawa Ibni’Ustaimin, 1/420]
 
Syaikh Ibnu’Ustaimin juga pernah menegaskan hal serupa tatkala membahas permasalahan Sujud Tilawah:
“Sujud Tilawah dilakukan ketika sedang membaca Alquran. Tidak mengapa sujud dalam kondisi apapun walaupun dengan kepala yang terbuka dan kedaan lainnya. Karena Sujud Tilawah tidak memiliki hukum yang sama dengan shalat. [Al Fatawa Al Jami’ah Lil Marati Al Muslimah, 1/249]. (Sumber: https://islamqa.info/ar/8950)
 
Fatwa Asy Syabakah Al Islamiyyah
 
Pertanyaan:
Apakah diwajibakan bagi wanita untuk meletakkan hijab di atas kepalanya ketika tengah membaca Alquran di dalam rumah?
 
Jawaban:
Alhamdulillah washshaltu wassalamu ala Rasulillah wa ala aalihi washahbih ammaba’d,
 
Diperbolehkan bagi wanita membaca Alquran TANPA memakai hijab di atas kepalanya, dikarenakan tidak adanya dalil, baik Alquran atapun As Sunnah yang memerintahkan agar wanita menutup kepalanya ketika membaca Alquran. Meskipun menutup kepala dengan jilbab termasuk menjaga kesempurnaan adab kepada Kitabullah, maka diharapkan baginya pahala atas perbuatan tersebut-insyaallah-. Allah taala berfirman:
 
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
 
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [QS. Al Hajj: 32]
 
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, jika beliau hendak membahas sebuah hadis Nabi ﷺ, beliau memakai pakaian terbagus, memakai minyak wangi terbaik yang beliau miliki dan beliau duduk dengan posisi duduk paling sempurna, sehingga beliau memiliki ketenangan dan wibawa.
(Sumber: www.islamweb.net)
 
Namun perlu diperhatikan bagi saudari-saudariku yang hendak membaca Alquran di tempat umum atau tempat lain yang terdapat laki-laki yang bukan mahram, atau dikhawatirkan akan ada laki-laki yang melihat, maka menutup aurat dengan sempurna adalah sebuah kewajiban. Sebagaimana hal ini bukanlah sesuatu yang asing lagi bagi kita. Wallahua’lam.
 
 
***
 
 
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.com
[Artikel wanitasalihah.com]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
#haruskahwanitamemakaijilbabketikamembacaAlquran #hukumperempuanpakaikerudungwakubacaAlQuran #bolehkahmuslimahtidakmemakaihijabsyarisewaktumembacaAlQuran #jilbab #muslimah #hijab #kerudung, #dzikir #zikir #tanpahijab #tanpajilbab #hukum #bacaAlqurantanpakerudungbolehkah? #fatwaulama
,

HIJAB ITU MENJAGAMU, WAHAI WANITA

HIJAB ITU MENJAGAMU, WAHAI WANITA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

 

HIJAB ITU MENJAGAMU, WAHAI WANITA

Wahai kaum muslimah, sesungguhnya hijab itu akan menjagamu dari pandangan beracun yang bersumber dari penyakit-penyakit hati. [Asy Syaikh Al Alamah Sholih Fauzan hafizahullah]

 

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

#hijabsyari #jilbab #kerudung #wanita #perempuan #muslimah #hijabmelindungimuwahaimuslimah #pandanganain #ain #pandanganberacun #penyakithati

, ,

ANCAMAN TIDAK MEMAKAI HIJAB SYARI

ANCAMAN TIDAK MEMAKAI HIJAB SYARI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
ANCAMAN TIDAK MEMAKAI HIJAB SYARI
 
Kenapa sih sahabatmu sering sekali mengingatkan tentang jilbab yang sesuai syariat?
Apa hubungannya dengan Surga dan Neraka?
Tak lain karena rasa cintanya pada kalian sahabat.💖💖
Ancaman untuk yang memakai jilbab gaul / tidak memenuhi syarat hijab.
 
Rasulullah ﷺ bahkan telah memperingatkan kita dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya, yaitu
(1) Suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor-ekor sapi betina, yang mereka pakai untuk mencambuk manusia;
(2) Wanita-wanita yang berpakaian (namun) telanjang, yang kalau berjalan berlenggak-lenggok menggoyang-goyangkan kepalanya lagi durhaka (tidak taat). Kepalanya seperti punuk-punuk unta yang meliuk-liuk. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak dapat mencium bau wanginya, padahal bau wanginya itu sudah tercium dari jarak sekian dan sekian.” [Hadis Shahih. Riwayat Muslim (no. 2128) dan Ahmad (no. 8673)]
 
Semoga Muslimah yang belum berjilbab segera memakai jilbab, dan yang sudah memakai jilbab yang belum syari semoga segera memakai jilbab yang syari.
 
Semua membutuhkan proses. Kami doakan semoga bisa istiqamah dalam berhijrah.
 
Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin
 
 
 
Sumber: indonesiabertauhidofficial
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
#hijabsyari #jilbab #kerudung #khimar #gamis #wanita #perempuan #muslimah #rumushijabsyarimuslimah #ayatAlqurantentanghijab #akhwatzamannow #perintahberhijabdalamAlquran #kaummembawacambuk #berpakaiantapitelanjang #punukpunukunta #punukonta #jilbabyangsesuaisyariat #hijabyangsesuaisyariat
, ,

RUMUS HIJAB SYARI MUSLIMAH

RUMUS HIJAB SYARI MUSLIMAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
RUMUS HIJAB SYARI MUSLIMAH
 
Yang namanya hijab syari itu sangat sederhana.
Hanya kebanyakan kita lebih suka yang rumit.
Allah turunkan Islam dan syariat-Nya itu bukan untuk menyusahkan, tapi seringkali kita yang menyulitkan diri sendiri memakai hawa nafsu.
 
Hijab itu untuk menutupi perhiasan, sederhana,
Dibuat sulit dengan jadi perhiasan baru, pernak-pernik nan pelik.
Hijab yang asalnya pakaian taat, malah dijadikan penarik perhatian.
Apakah rida Allah yang kita cari, atau decak kagumnya manusia?
 
Kesana kemari mengikut tren, mencari-cari gaya terbaru.
Sementara hijab itu adalah kewajiban, identitas ketaatan Muslimah.
 
“Wanita kan juga ingin cantik!!!”
Iya betul, di mata manusia atau di mata Allah?
Sedang Allah menginginkan niat kita secara sempurna.
Ingin rapi tentu baik, ingin tampil cantik boleh saja, bagi suaminya saja, bagi yang sudah halal baginya.
 
Tetapi hijabmu dalam kesederhanaan, karena iman itu sangat sederhana,
ketaatan itu sederhana, dan hijab syari itu harusnya sederhana.
 
Rumus Hijab Syari Muslimah = Khimar (QS. 24:31) + Jilbab (QS. 33:59) – Tabarruj (QS. 33:33)
 
 
 
 
Sumber: Indonesiabertauhidofficial

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#hijabsyari #jilbab #kerudung #khimar #gamis #wanita #perempuan #muslimah #rumushijabsyarimuslimah #ayatAlqurantentanghijab #akhwatzamannow #perintahberhijabdalamAlquran

, ,

TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM

TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM
 
Kondisi paling aman bagi Muslimah adalah berwudhu di ruangan tertutup, sehingga ketika Muslimah hendak menyempurnakan mengusap atau membasuh anggota tubuh yang wajib dikenakan air wudhu, auratnya tidak terlihat oleh orang-orang yang bukan mahramnya. Sayangnya, tidak semua masjid menyediakan tempat wudhu yang berada di ruangan tertutup.

Lalu, bagaimana cara berwudhu jika kita berada di tempat umum yang terbuka?  Berdasarkan riwayat dari ‘Amru bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu, dari bapaknya, beliau berkata:

 
رأيت النبي صلّى الله عليه وسلّم، يمسح على عمامته وخفَّيه
 
“Aku pernah melihat Nabi ﷺ mengusap bagian atas surbannya dan kedua khufnya.” [HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari (1/308 no. 205) dan lainnya]
 
Juga dari Bilal radhiyallahu ‘anhu:
 
أن النبي صلّى الله عليه وسلّم، مسح على الخفين والخمار
 
“Bahwasanya Nabi ﷺ mengusap kedua khuf dan khimarnya.” [HR. Muslim (1/231) no. 275]
Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Ummu Salamah (istri Nabi ﷺ), bahwa beliau berwudhu dan mengusap kerudungnya. [Disebutkan oleh Ibnu Qudamah dari Ibnu Al-Mundzir]. Karena itu, wanita yang berwudhu di tempat umum TIDAK BOLEH melepas jilbabnya, namun cukup mengusap bagian atas jilbabnya.
 
Catatan:
Dijelaskan oleh ulama bahwa tutup kepala boleh diusap, jika memenuhi dua syarat:
1. Menutupi seluruh bagian kepala.
2. Terdapat kesulitan untuk melepaskannya.
Karena itu, sebatas (menggunakan) peci (menyebabkan peci) tidak boleh diusap, tetapi (bagian kepalalah yang) harus (tetap) diusap. [Shifat Wudhu Nabi ﷺ, hlm. 28]
Alternatif lain adalah dengan wudhu di kamar mandi. Sebagian orang merasa khawatir dan ragu-ragu, bila wudhu di kamar mandi wudhunya tidak sah, karena kamar mandi merupakan tempat yang biasa digunakan untuk buang hajat, sehingga kemungkinan besar terdapat najis di dalamnya. Wudhu di kamar mandi hukumnya boleh, asalkan tidak dikhawatirkan terkena/ terpercik najis yang mungkin ada di kamar mandi.
 
Kita ingat kaidah yang menyebutkan: “Sesuatu yang yakin tidak bisa hilang dengan keraguan.” Keragu-raguan atau kekhawatiran kita terkena najis TIDAK BISA dijadikan dasar tidak bolehnya wudhu di kamar mandi, kecuali setelah kita benar-benar yakin, bahwa jika wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terpeciki najis. Jika kita telah memastikan bahwa lantai kamar mandi bersih dari najis, dan kita yakin tidak akan terkena/ terperciki najis, maka insya Allah tak mengapa wudhu di kamar mandi.
 
Sedangkan pelafalan “Bismillah” di kamar mandi, menurut pendapat yang lebih tepat adalah BOLEH melafalkannya di kamar mandi. Hal ini dikarenakan membaca Bismillah pada saat wudhu hukumnya wajib, sedangkan menyebut nama Allah di kamar mandi hukumnya makruh. Kaidah mengatakan, bahwa “Makruh itu berubah menjadi mubah jika ada hajat. Dan melaksanakan kewajiban adalah hajat.”
 
Adapun membaca zikir setelah wudhu dapat dilakukan setelah keluar kamar mandi, yaitu setelah membaca doa keluar kamar mandi. Untuk itu disarankan setelah berwudhu, tidak berlama-lama di kamar mandi (segera keluar).
 
Bagaimana bila kita yakin bahwa bila wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terperciki najis?
 
> Dengan alasan terkena najis, maka sebaiknya tidak wudhu di kamar mandi atau disiram dulu sampai bersih.
 
> Alternatif lainnya adalah dengan cara mengusap khuf. jaurab, dan jilbab tanpa harus membukanya. Pembahasan tentang ini masuk dalam bab mengusap khuf. Tentu timbul pertanyaan lain, bagaimana dengan tangan? Jika jilbab kita sesuai dengan syariat, insya Allah hal ini bisa diatasi. Karena bagian tangan yang perlu dibasuh bisa dilakukan di balik jilbab kita yang terulur panjang. Sehingga tangan kita tidak akan terlihat oleh umum, insya Allah.
 
Wallahu a’lam bi shawab.
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tempatumum, #mallmall,  #luar rumah #tatacara, #cara, #wudhuk, #wudluk, #muslimah, #wanita, #perempuan, #kerudung, #hijab, #jilbab, #khuff, #kaoskaki, #kauskaki, #sepatu, #sandal, #kaidah, #kaedah, #fikih, #fiqih, #fiqh
,

SALAFI ATAU SELFIE?

SALAFI ATAU SELFIE?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

SALAFI ATAU SELFIE?
Ketika di lubuk terdalam hatimu ada cuitan:
“Wah, sungguh cantik jika memakai gamis ini.”
“Anggun rasanya setelah memakai jenis cadar ini.”
“wah, banyak yang muji bagus ketika makai jubah ini.”
 
Sunggu saat itu engkau telah terperdaya.
Karena biasamu dan tak tergerak rasa kagum dalam pandangan Adam, itulah keindahan dari kecantikan yang hakiki.

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#muslimah, #wanita, #perempuan, #Hijab, #Jilbab, #Niqah, #niqob, #kerudung, #tabarruj, #tabarruj, #,Salafi, #Salafi atau Selfie #dandan #berdandan #hias #berhias #menampakkanperhiasan

,

HUKUM MEMBUKA HIJAB DI HADAPAN WANITA NON-MUSLIMAH

HUKUM MEMBUKA HIJAB DI HADAPAN WANITA NON-MUSLIMAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM MEMBUKA HIJAB DI HADAPAN WANITA NON-MUSLIMAH
Bolehkah Menampakkan Rambut Di Hadapan Wanita Kafir?
Ahli Ilmu terbagi dua pendapat dalam masalah ini:
 
Pendapat Pertama:
Mereka memandang wajib bagi Muslimah untuk berhijab di hadapan wanita non-Muslimah, dan haram baginya untuk membuka sesuatu dari bagian tubuhnya di depan wanita Nasrani, Yahudi atau musyrikah, bila tidak ada keperluan yang darurat/ mendesak. Sehingga dalam hal memandang ini, wanita kafirah sama dengan laki-laki ajnabi (bukan mahram) bagi seorang Muslimah.
 
Demikian pendapat Madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, dan yang paling shahih dari madzhab Syafi’iyyah, serta satu riwayat dari Al-Imam Ahmad. Di antara ulama mutaakhirin yang berpegang dengan pendapat ini adalah Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah. Beliau berkata: “Dzahir dari apa yang diinginkan dalam ayat ini adalah wanita-wanita dari kalangan Muslimin, karena wanita-wanita kafir bisa jadi ketika melihat seorang wanita Muslimah, ia akan menceritakan/menggambarkan si Muslimah kepada suaminya. Sementara Nabi ﷺ telah melarang seorang wanita ketika bergaul dengan wanita lain lalu ia menggambarkan wanita lain itu kepada suaminya…”. [Ijabatus Sail ‘ala Ahammil Masail, hal. 557]
 
Mereka berdalil dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surat An-Nur ayat 31 yang artinya:
 
“Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali di depan suami-suami mereka…. sampai pada firman-Nya: … atau di hadapan wanita-wanita mereka….”.
 
Kata wanita di dalam ayat disandarkan (di-idhafah-kan) kepada mereka, wanita-wanita Mukminah. Hal ini menunjukkan pengkhususan. Ibnu Athiyyah berkata: “Seandainya wanita non-Muslimah boleh melihat ke tubuh Muslimah, niscaya tidak tersisa faidah bagi pengkhususan tersebut.”
 
Selain itu mereka juga berdalil dengan atsar-atsar dari para shahabat dan ulama salaf, namun kebanyakan dari atsar-atsar ini lemah, wallahu a’lam.
 
Pendapat Kedua:
Mereka yang berpandangan, bahwa dalam hal memandang, wanita non-Muslimah sama dengan wanita Muslimah ketika memandang sesama Muslimah. Sehingga wanita non-Muslimah ini boleh melihat seluruh tubuhnya kecuali antara pusar dan lututnya. Pendapat ini ada dalam Madzhab Syafi’iyyah dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad yang merupakan pendapat yang masyhur dalam madzhab pengikut beliau.
 
Mereka yang memegang pendapat kedua ini berdalil dengan hadis Asma bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma. Ia berkata “Ibuku datang menemuiku dalam keadaan ia musyrikah di masa Rasulullah ﷺ. Maka aku pun minta fatwa kepada Rasulullah ﷺ. “Ibuku datang dalam keadaan raghibah. [Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata: “Maknanya, ibu Asma’ datang menemui putrinya, meminta agar putrinya berbuat baik padanya, dalam keadaan ia khawatir putrinya akan menolaknya, sehingga ia pulang dengan kecewa. Demikian penafsiran jumhur.” [Fathul Bari, 5/286)]. Apakah boleh aku menyambung hubungan dengannya?”, tanyaku. “Iya, sambunglah hubungan dengan ibumu,” jawab beliau ﷺ.” [HR. Al-Bukhari no. 2620, 3183, 5978, 5979 dan Muslim no. 1003]
 
Hadis ini menunjukkan, bahwa Rasulullah ﷺ mengizinkan Asma radhiallahu ‘anha untuk menyambung hubungan dengan ibunya yang musyrikah, dan tidak dinukilkan adanya perintah ataupun berita, bahwa Asma berhijab dari ibunya.
 
Hadis lain yang menjadi dalil pendapat kedua ini adalah hadis Aisyah radhiallahu ‘anha:
 
Seorang wanita Yahudi pernah masuk menemui Aisyah lalu ia menyebutkan tentang azab kubur. Ia berkata: “Semoga Allah melindungimu dari azab kubur”. Aisyah pun menanyakan tentang azab kubur kepada Rasulullah ﷺ. “Ya, memang ada azab kubur,” jawab beliau ﷺ. Aisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ selesai dari mengerjakan satu shalat pun, melainkan beliau mesti berlindung dari azab kubur.” [HR. Al-Bukhari no. 1372 dan Muslim no. 586]
 
Hadis di atas menunjukkan wanita-wanita kafir biasa masuk menemui Ummahatul Mukminin untuk suatu keperluan, bersamaan dengan itu Rasulullah ﷺ tidak memerintahkan istri-istri beliau untuk berhijab dari mereka.
 
Dari perselisihan pendapat yang ada, wallahu ta’ala a’lam bish-shawab, yang rajih (kuat), dengan melihat dalil masing-masingnya, adalah pendapat kedua, sehingga TIDAK ADA LARANGAN bagi seorang Muslimah untuk melepas hijabnya di hadapan wanita non-Muslimah [Jika sekiranya aman dari fitnah, kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam fatwanya]. Yang demikian ini kita beralasan sebagaimana ucapan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu:
 
1. Wanita berhijab dari lelaki disebabkan karena kekhawatiran munculnya syahwat dan fitnah. Sementara antara Muslimah dan wanita non-Muslimah tidak didapati kekhawatiran yang demikian, sehingga TIDAK ADA KEHARUSAN bagi Muslimah untuk mengenakan hijabnya di hadapan non-Muslimah.
 
2. Tidak ada dalil yang mewajibkan Muslimah berhijab dari non-Muslimah, dan juga dalam hal ini tidak dapat dikiaskan dengan perintah berhijab dari lelaki.
 
3. Muslimah dan non-Muslimah sama-sama berjenis wanita. Maka sebagaimana lelaki boleh melihat sesama lelaki tanpa dibedakan apakah lelaki itu Muslim atau kafir. Maka dibolehkan pula wanita memandang wanita tanpa dibedakan, apakah dia Muslimah atau non-Muslimah [Al-Mughni, 9/505]
 
Adapun ayat ( أَوْ نِساَئِهِنَّ ), di mana dhamirnya (kata ganti ‎هُنَّ yang artinya mereka para wanita) kembali pada wanita-wanita Mukminah yang menjadi sasaran pembicaraan di dalam ayat, TIDAKLAH menunjukkan pengkhususan, sehingga wanita selain Mukminah dikeluarkan darinya. Namun sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakar ibnul Arabi rahimahullahu: “Yang shahih menurutku, firman Allah ini boleh diarahkan kepada seluruh wanita. Adapun dhamir (‎‏(هُنَّ dalam ayat ini didatangkan dalam rangka ittiba’ (pengikutan dengan lafal sebelumnya, bukan menunjukkan pengkhususan, pen.) karena ayat ini merupakan ayat dhamir, di mana disebutkan di dalamnya 25 dhamir. Tidak ada satu ayat pun dalam Alquran yang menyamainya dalam hal ini.” [Ahkamul Qur’an, 3/1359]
 
Untuk lebih memantapkan hati, berikut ini kami nukilkan fatwa dua ‘Alim Kabir dari kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mendukung pendapat kedua ini:
 
Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata:
“Ayat ‎أَوْ نِساَئِهِنَّ , mencakup seluruh wanita, Mukminah ataupun non-Mukminah. Inilah pendapat yang paling shahih, sehingga TIDAK ADA kewajiban bagi wanita Mukminah untuk berhijab dari wanita kafir, berdasarkan keterangan yang tsabit (kokoh) tentang masuknya wanita-wanita Yahudi di Madinah di masa Nabi ﷺ.
 
Demikian pula wanita-wanita penyembah berhala menemui istri-istri beliau ﷺ, sementara tidak disebutkan keterangan istri-istri Nabi ﷺ ini berhijab dari mereka.
 
Seandainya berhijab dari non-Muslimah ini terjadi dari istri-istri Nabi ﷺ atau dari selain mereka (dari kalangan shahabiyyah), niscaya akan dinukilkan. Karena para shahabat radhiallahu ‘anhum tidaklah meninggalkan sesuatu perkara, melainkan mereka mesti menukilkannya. Inilah pendapat yang terpilih dan paling kuat.” [Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 6/361]
 
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang permasalahan ini beliau menjawab: “Perkara ini dibangun di atas perbedaan pendapat ulama dalam menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surat An-Nur ayat 31 tentang dhamir dalam أَوْ نِساَئِهِنَّ .
 
Beliau menyebutkan perbedaan pendapat yang ada, kemudian beliau berkata:
“Kami sendiri condong kepada pendapat pertama (mencakup seluruh wanita, termasuk non-Muslimah) dan pendapat inilah yang lebih dekat kepada kebenaran, karena wanita memandang sesama wanita tidaklah dibedakan antara Muslimah dengan non-Muslimah. Namun tentunya hal ini diperkenankan bila di sana tidak ada fitnah. Adapun bila dikhawatirkan terjadi fitnah seperti si wanita non-Muslimah itu akan menceritakan keberadaan si Muslimah kepada kerabat-kerabatnya dari kalangan lelaki, maka ketika itu wajib untuk berhati-hati menjaga diri dari fitnah, sehingga si wanita Muslimah tidak membuka sesuatu dari anggota tubuhnya seperti kedua kaki atau rambutnya di hadapan wanita lain. Sama saja dalam hal ini (bila ada fitnah, pen.) apakah di hadapan wanita Muslimah ataupun non-Muslimah.” [Fatawa Al-Mar’ah, kumpulan dan susunan Muhammad Al-Musnad hal. 177]
 
 
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
 
Sumber: [asysyariah.com]
#hukum, #membukahijab, #jilbab, #hijab, #kerudung, #khimar, #copot, #buka, #nonmuslimah, #wanita, #perempuan, #kafir, #nonmuslimah, #bukanIslam, #ulamaberbedapendapat, #menampakkanrambut, #tampakkanrambut, #aurat #batasanaurat
,

JILBABKU PENUTUP AURATKU

JILBABKU PENUTUP AURATKU
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
JILBABKU PENUTUP AURATKU
 
Definisi Jilbab
 
Secara bahasa, dalam kamus al Mu’jam al Wasith 1/128, disebutkan, bahwa jilbab memiliki beberapa makna, yaitu:
 
1. Qomish (sejenis jubah).
2. Kain yang menutupi seluruh badan.
3. Khimar (kerudung).
4. Pakaian atasan seperti milhafah (selimut).
5. Semisal selimut (baca: kerudung) yang dipakai seorang wanita untuk menutupi tubuhnya.
 
Adapun secara istilah, berikut ini perkataan para ulama’ tentang hal ini:
 
Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan: “Jilbab menurut bahasa Arab yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, bukan hanya sebagiannya.” Sedangkan Ibnu Katsir mengatakan: “Jilbab adalah semacam selendang yang dikenakan di atas khimar, yang sekarang ini sama fungsinya seperti izar (kain penutup).” [Syaikh Al Bani dalam Jilbab Muslimah]
 
Syaikh bin Baz (dari Program Mausu’ah Fatawa Lajnah wal Imamain) berkata: “Jilbab adalah kain yang diletakkan di atas kepala dan badan di atas kain (dalaman). Jadi jilbab adalah kain yang dipakai perempuan untuk menutupi kepala, wajah dan seluruh badan. Sedangkan kain untuk menutupi kepala disebut khimar. Jadi perempuan menutupi dengan jilbab, kepala, wajah dan semua badan di atas kain (dalaman).” [bin Baz, 289]. Beliau juga mengatakan: “Jilbab adalah rida’ (selendang) yang dipakai di atas khimar (kerudung) seperti abaya (pakaian wanita Saudi).” [bin Baz, 214]. Di tempat yang lain beliau mengatakan: “Jilbab adalah kain yang diletakkan seorang perempuan di atas kepala dan badannnya untuk menutupi wajah dan badan, sebagai pakaian tambahan untuk pakaian yang biasa (dipakai di rumah).” [bin Baz, 746]. Beliau juga berkata: “Jilbab adalah semua kain yang dipakai seorang perempuan untuk menutupi badan. Kain ini dipakai setelah memakai dar’un (sejenis jubah) dan khimar (kerudung kepala) dengan tujuan menutupi tempat-tempat perhiasan, baik asli (baca: aurat) ataupun buatan (misal, kalung, anting-anting, dll).” [bin Baz, 313]
 
Apakah beda antara jilbab dengan hijab? Syaikh Al Bani rahimahullah mengatakan: “Setiap jilbab adalah hijab, tetapi tidak semua hijab itu jilbab, sebagaimana yang tampak.” Sehingga memang terkadang kata hijab dimaksudkan untuk makna jilbab. Adapun makna lain dari hijab adalah sesuatu yang menutupi atau meghalangi dirinya, baik berupa tembok, sket ataupun yang lainnya. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah ﷻ dalam surat al-Ahzab ayat 53, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah nabi kecuali bila kamu diberi izin… dan apabila kamu meminta sesuatu keperluan kepda mereka (para istri Nabi), maka mintalah dari balik hijab…”
 
Syarat-Syarat Pakaian Muslimah
 
1. Menutup Seluruh Badan Kecuali Yang Dikecualikan
 
Allah ﷻ berfirman:
 
 
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
 
 
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al Ahzab: 59]
 
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا…
 
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…” [QS. An Nuur: 31]
 
Tentang ayat dalam surat An Nuur yang artinya “Kecuali yang (biasa) nampak dari padanya”, maka terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, sehingga membawa konsekuensi yang berbeda tentang hukum penggunaan cadar bagi seorang Muslimah. Untuk penjelasan rinci, silakan melihat pada artikel yang sangat bagus tentang masalah ini pada artikel Hukum Cadar di https://Muslim.or.id/6207-hukum-memakai-cadar-dalam-pandangan-4-madzhab.html.
 
Dari syarat pertama ini, maka jelaslah bagi seorang Muslimah untuk menutup seluruh badan, kecuali yang dikecualikan oleh syariat. Maka sangat menyedihkan ketika seseorang memaksudkan dirinya memakai jilbab, tapi dapat kita lihat rambut yang keluar, baik dari bagian depan ataupun belakang, lengan tangan yang terlihat sampai sehasta, atau leher dan telinganya terlihat jelas, sehingga menampakkan perhiasan yang seharusnya ditutupi.
 
Catatan penting dalam poin ini adalah penggunaan khimar yang merupakan bagian dari syariat penggunaan jilbab, sebagaimana terdapat dalam ayat selanjutnya dalam surat An Nuur ayat 31:
 
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
 
“Dan hendaklah mereka menutupkan khimar ke dadanya.”
 
Khumur merupakan jamak dari kata khimar, yang berarti sesuatu yang dipakai untuk menutupi bagian kepala. Sayangnya, pemakaian khimar ini sering dilalaikan oleh Muslimah, sehingga seseorang mencukupkan memakai jilbab saja, atau hanya khimar saja. Padahal masing-masing wajib dikenakan, sebagaimana terdapat dalam hadis dari Sa’id bin Jubair mengenai ayat dalam surat Al Ahzab di atas. Ia berkata: “Yakni agar mereka melabuhkan jilbabnya. Sedangkan yang namanya jilbab adalah qina’ (kudung) di atas khimar. Seorang Muslimah tidak halal untuk terlihat oleh laki-laki asing, kecuali dia harus mengenakan qina’ di atas khimarnya, yang dapat menutupi bagian kepala dan lehernya.” Hal ini juga terdapat dalam atsar dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:
 
لابد للمرأة من ثلاثة أثواب تصلي فيهن: درع و جلباب و خمار
 
“Seorang wanita dalam mengerjakan shalat harus mengenakan tiga pakaian: baju, jilbab dan khimar.” [HR. Ibnu Sa’ad, isnadnya Shahih berdasarkan syarat Muslim]
 
Namun terdapat keringanan bagi wanita yang telah menopause yang tidak ingin kawin, sehingga mereka diperbolehkan untuk melepaskan jilbabnya, sebagaimana terdapat dalam surat An Nuur ayat 60:
 
وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاء اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحاً فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ
 
“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan. Dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana.”
 
Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan kata “pakaian” pada ayat di atas adalah “jilbab” dan hal serupa juga dikatakan oleh Ibnu Mas’ud. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Al Baihaqi). Dapat pula diketahui di sini, bahwa pemakaian khimar yang dikenakan sebelum jilbab adalah menutupi dada. Lalu bagaimana bisa seseorang dikatakan memakai jilbab jika hanya sampai sebatas leher? Semoga ini menjadi renungan bagi saudariku sekalian.
 
Catatan penting lainnya dari poin ini adalah terdapat anggapan, bahwa pakaian wanita yang sesuai syariat adalah yang berupa jubah terusan (longdress), sehingga ada sebagian Muslimah yang memaksakan diri untuk menyambung-nyambung baju dan rok agar dikatakan memakai pakaian longdress. Lajnah Daimah pernah ditanya tentang hal ini, yaitu apakah jilbab harus “terusan” atau “potongan” (ada pakaian atasan dan rok bawahan). Maka jawaban Lajnah Daimah, “Hijab (baca: jilbab) baik terusan ataukah potongan, keduanya tidak mengapa (baca: boleh) asalkan bisa menutupi sebagaimana yang diperintahkan dan disyariatkan.” Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Baz sebagai ketua dan Abdullah bin Ghadayan sebagai anggota (Fatawa Lajnah Daimah 17/293, no fatwa: 7791, Maktabah Syamilah). Dengan demikian jelaslah tentang tidak benarnya anggapan sebagian Muslimah yang mempersyaratkan jubah terusan (longdress) bagi pakaian Muslimah.
 
2. Bukan Berfungsi Sebagai Perhiasan
 
Hal ini sebagaimana terdapat dalam surat An Nuur ayat 31: “…Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya…” Ketika jilbab dan pakaian wanita dikenakan agar aurat dan perhiasan mereka tidak nampak, maka tidak tepat ketika menjadikan pakaian atau jilbab itu sebagai perhiasan, karena tujuan awal untuk menutupi perhiasan menjadi hilang. Banyak kesalahan yang timbul karena poin ini terlewatkan, sehingga seseorang merasa sah-sah saja menggunakan jilbab dan pakaian indah dengan warna-warni yang lembut dengan motif bunga yang cantik, dihiasi dengan benang-benang emas dan perak, atau meletakkan berbagai pernak-pernik perhiasan pada jilbab mereka.
 
Namun terdapat kesalahpahaman juga, bahwa jika seseorang tidak mengenakan jilbab berwarna hitam, maka berarti jilbabnya berfungsi sebagai perhiasan. Hal ini berdasarkan beberapa atsar tentang perbuatan para sahabat wanita di zaman Rasulullah ﷺ yang mengenakan pakaian yang berwarna selain hitam. Salah satunya adalah atsar dari Ibrahim An Nakhai:
 
أنه كان يدخل مع علقمة و الأسود على أزواج النبي صلى الله عليه و سلم و يرا هن في اللحف الحمر
 
“Bahwa ia bersama Alqomah dan Al Aswad pernah mengunjungi para istri Nabi ﷺ dan ia melihat mereka mengenakan mantel-mantel berwarna merah.” [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al Mushannaf]
 
Catatan: Masalah warna ini berlaku bagi wanita. Adapun bagi pria, terdapat hadis yang menerangkan pelarangan penggunaan pakaian berwarna merah.
 
Dengan demikian, tolak ukur “Pakaian perhiasan ataukah bukan adalah berdasarkan ‘urf (kebiasaan).” (keterangan dari Syaikh Ali Al Halabi). Sehingga suatu warna atau motif menarik perhatian pada suatu masyarakat, maka itu terlarang dan hal ini boleh jadi tidak berlaku pada masyarakat lain.
 
3. Kainnya Harus Tebal, Tidak Tipis
 
Rasulullah ﷺ bersabda tentang dua kelompok yang termasuk Ahli Neraka dan beliau ﷺ belum pernah melihatnya:
 
وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
 
“Dua kelompok termasuk Ahli Neraka, aku belum pernah melihatnya, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengan cambuknya, dan wanita yang kasiyat (berpakaian tapi telanjang, baik karena tipis atau pendek yang tidak menutup auratnya), mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang), kepala mereka seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal baunya didapati dengan perjalanan demikian dan demikian.” [HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421 – lihat majalah Al Furqon Gresik]
 
Karena ancamannya demikian keras, para ulama memasukkannya dalam dosa-dosa besar. Betapa banyak wanita Muslimah yang seakan-akan menutupi badannya, namun pada hakikatnya telanjang. Maka dalam pemilihan bahan pakaian yang akan kita kenakan juga harus diperhatikan, karena sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr: “Bahan yang tipis dapat menggambarkan bentuk tubuh dan tidak dapat menyembunyikannya.” Syaikh Al Bani juga menegaskan: “Yang tipis (transparan) itu lebih parah dari yang menggambarkan lekuk tubuh (tapi tebal).” Bahkan kita ketahui, bahan yang tipis terkadang lebih mudah dalam mengikuti lekuk tubuh, sehingga sekalipun tidak transparan, bentuk tubuh seorang wanita menjadi mudah terlihat.
 
4. Harus Longgar, Tidak Ketat
 
Selain kain yang tebal dan tidak tipis, maka pakaian tersebut haruslah longgar, tidak ketat, sehingga tidak menampakkan bentuk tubuh wanita Muslimah. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadis dari Usamah bin Zaid ketika ia diberikan baju Qubthiyah yang tebal oleh Rasulullah ﷺ, ia memberikan baju tersebut kepada istrinya. Ketika Rasulullah ﷺ mengetahuinya, beliau ﷺ bersabda:
 
مرْها فلتجعل تحتها غلالة فإني أخاف أن تصف حجم عظمها
 
 “Perintahkanlah ia agar mengenakan baju dalam di balik Qubthiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tubuh.” [HR. Ad Dhiya’ Al Maqdisi, Ahmad dan Baihaqi dengan sanad hasan]
 
Maka tidak tepat jika seseorang mencukupkan dengan memakai rok, namun ternyata tetap memperlihatkan pinggul, kaki atau betisnya. Maka jika pakaian tersebut telah cukup tebal dan longgar, namun tetap memperlihatkan bentuk tubuh, maka dianjurkan bagi seorang Muslimah untuk memakai lapisan dalam. Namun janganlah mencukupkan dengan kaos kaki panjang, karena ini tidak cukup untuk menutupi bentuk tubuh (terutama untuk para saudariku yang sering tersingkap roknya ketika menaiki motor, sehingga terlihatlah bentuk betisnya). Poin ini juga menjadi jawaban bagi seseorang yang membolehkan penggunaan celana dengan alasan longgar dan pinggulnya ditutupi oleh baju yang panjang. Celana boleh digunakan untuk menjadi lapisan, namun bukan inti dari pakaian yang kita kenakan. Karena bentuk tubuh tetap terlihat dan hal itu menyerupai pakaian kaum laki-laki. (lihat poin 6). Jika ada yang beralasan celana supaya fleksibel, maka tidakkah ia ketahui, bahwa rok bahkan lebih fleksibel lagi jika memang sesuai persyaratan (jangan dibayangkan rok yang ketat/span). Kalaupun rok tidak fleksibel (walaupun pada asalnya fleksibel), apakah kita menganggap logika kita (yang mengatakan celana lebih fleksibel) lebih benar daripada syariat yang telah Allah dan Rasul-Nya ﷺ tetapkan?
 
5. Tidak Diberi Wewangian atau Parfum
 
Perhatikanlah salah satu sabda Nabi ﷺ berkaitan tentang wanita-wanita yang memakai wewangian ketika keluar rumah:
 
ايّما امرأةٍ استعطرتْ فمَرّتْ على قوم ليَجِدُوا رِيْحِها، فهيا زانِيةٌٍ
 
“Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.” [HR. Tirmidzi]
 
أيما امرأة أصابت بخورا فلا تشهد معنا العشاء الاخرة
 
“Siapapun perempuan yang memakai bakhur, maka janganlah ia menyertai kami dalam menunaikan shalat Isya’.” [HR. Muslim]
 
Syaikh Al Bani berkata: “Wewangian itu selain ada yang digunakan pada badan, ada pula yang digunakan pada pakaian.” Syaikh juga mengingatkan tentang penggunaan bakhur (wewangian yang dihasilkan dari pengasapan). Yang ini lebih banyak digunakan untuk pakaian, bahkan lebih khusus untuk pakaian. Maka hendaknya kita lebih berhati-hati lagi dalam menggunakan segala jenis bahan yang dapat menimbulkan wewangian pada pakaian yang kita kenakan keluar, semisal produk-produk pelicin pakaian yang disemprotkan untuk menghaluskan dan mewangikan pakaian (bahkan pada kenyataannya, bau wangi produk-produk tersebut sangat menyengat dan mudah tercium ketika terbawa angin). Lain halnya dengan produk yang memang secara tidak langsung dan tidak bisa dihindari membuat pakaian menjadi wangi, semisal deterjen yang digunakan ketika mencuci.
 
6. Tidak Menyerupai Pakaian Laki-Laki
 
Terdapat hadis-hadis yang menunjukkan larangan seorang wanita menyerupai laki-laki atau sebaliknya (tidak terbatas pada pakaian saja). Salah satu hadis yang melarang penyerupaan dalam masalah pakaian adalah hadis dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata:
 
لعن رسول الله صلى الله عليه و سلم الرجل يلبس لبسة المرأة و المرأة تلبس لبسة الرجل
 
“Rasulullah ﷺ melaknat pria yang memakai pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian pria.” [HR. Abu Dawud]
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Kesamaan dalam perkara lahir mengakibatkan kesamaan dan keserupaan dalam akhlak dan perbuatan.” Dengan menyerupai pakaian laki-laki, maka seorang wanita akan terpengaruh dengan perangai laki-laki, di mana ia akan menampakkan badannya dan menghilangkan rasa malu yang disyariatkan bagi wanita. Bahkan yang berdampak parah jika sampai membawa kepada maksiat lain, yaitu terbawa sifat kelaki-lakian, sehingga pada akhirnya menyukai sesama wanita. Wal’iyyadzubillah.
 
Terdapat dua landasan yang dapat digunakan sebagai acuan bagi kita untuk menghindari penggunaan pakaian yang menyerupai laki-laki.
 
1. Pakaian tersebut membedakan antara pria dan wanita.
2. Tertutupnya kaum wanita.
 
Sehingga dalam penggunaan pakaian yang sesuai syariat, ketika menghadapi yang bukan mahromnya adalah tidak sekadar yang membedakan antara pria dan wanita, namun tidak tertutup atau sekadar tertutup, tapi tidak membedakan dengan pakaian pria. Keduanya saling berkaitan. Lebih jelas lagi adalah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Kawakib yang dikutip oleh syaikh Al Bani, yang penulis ringkas menjadi poin-poin sebagai berikut untuk memudahkan pemahaman:
 
1. Prinsipnya bukan semata-mata apa yang dipilih, disukai dan biasa dipakai kaum pria dan kaum wanita.
2. Juga bukan pakaian tertentu yang dinyatakan Nabi ﷺ atau yang dikenakan oleh kaum pria dan wanita di masa beliau ﷺ.
3. Jenis pakaian yang digunakan sebagai penutup juga tidak ditentukan (sehingga jika seseorang memakai celana panjang dan kaos, kemudian menutup pakaian dan jilbab di atasnya yang sesuai perintah syariat sehingga bentuk tubuhnya tidak tampak, maka yang seperti ini tidak mengapa -pen)
 
Kesimpulannya, yang membedakan antara jenis pakaian pria dan wanita kembali kepada apa yang sesuai dengan apa yang diperintahkan bagi pria, dan apa yang diperintahkan bagi kaum wanita. Namun yang perlu diingat, pelarangan ini adalah dalam hal-hal yang tidak sesuai fitrahnya. Syaikh Muhammad bin Abu Jumrah rahimahullah sebagaimana dikutip oleh Syaikh Al Bani mengatakan: “Yang dilarang adalah masalah pakaian, gerak-gerik dan lainnya, bukan penyerupaan dalam perkara kebaikan.”
 
7. Tidak Menyerupai Pakaian Wanita-Wanita Kafir
 
Banyak dari poin yang telah disebutkan sebelumnya menjadi terasa berat untuk dilaksanakan oleh seorang wanita karena telah terpengaruh dengan pakaian wanita-wanita kafir. Betapa kita ketahui, mereka (orang kafir) suka menampakkan bentuk dan lekuk tubuh, memakai pakaian yang transparan, tidak peduli dengan penyerupaan pakaian wanita dengan pria. Bahkan terkadang mereka mendesain pakaian untuk wanita maskulin! Hanya kepada Allah-lah kita memohon perlindungan dan meminta pertolongan untuk dijauhkan dari kecintaan kepada orang-orang kafir. Allah ﷻ berfirman:
 
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” [QS. Al Hadid (57): 16]
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Firman Allah, ‘Janganlah mereka seperti…’ merupakan larangan mutlak dari tindakan menyerupai mereka….” (Al Iqtidha, dikutip oleh Syaikh Al Bani)
 
8. Bukan Pakaian Untuk Mencari Popularitas
 
 
“Barang siapa mengenakan pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan pada Hari Kiamat, kemudian membakarnya dengan api Naar.”
 
Adapun libas syuhrah (pakaian untuk mencari popularitas) adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal, yang dipakai seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah yang dipakai seseorang untuk menampakkan kezuhudan dan dengan tujuan riya. [Jilbab Muslimah]
 
Namun bukan berarti di sini seseorang tidak boleh memakai pakaian yang baik, atau bernilai mahal. Karena pengharaman di sini sebagaimana dikatakan oleh Imam Asy Syaukani adalah berkaitan dengan keinginan meraih popularitas. Jadi yang dipakai sebagai patokan adalah tujuan memakainya. Karena Allah ﷻ suka jika hambanya menampakkan kenikmatan yang telah Allah berikan padanya. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ
 
 
“Sesungguhnya Allah menyukai jika melihat bekas kenikmatan yang diberikan oleh-Nya ada pada seorang hamba.” [HR. Tirmidzi]
 
Penutup
 
Demikian sedikit penjelasan tentang pengertian jilbab dan penjelasan dari poin-poin tentang persyaratan jilbab Muslimah yang sesuai syariat. Janganlah kita terpedaya dengan segala aktivitas dan perkataan orang yang menjadikan seseorang cenderung merasa tidak mungkin untuk menggunakan jilbab yang sesuai syariat. Ingatlah, bahwa sesungguhnya tidak ada teman di Hari Akhir yang mau menanggung dosa yang kita lakukan. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan ketika menjalankan segala ibadah yang telah disyariatkan.
Wallahu a’lam.
 
Penyusun: Ummu Ziyad
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
 
Maraji’:
Majalah Al Furqon, edisi 12 tahun III
Jilbab Muslimah. Syaikh Al Bani. Pustaka At Tibyan
Maktabah Syamilah
***
 
 
[Artikel www.Muslimah.or.id]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#jilbab, #hijab, #khimar, #muslimah, #wanita, #perempuan, #punukunta, #punukonta, #pakaiantapitelanjang, #berpakaiantapitelanjang #pakaian yuhrah, #mencaripopularitas #syuhrah, #populer, #popularitas, #ngetrend, #trending, #model #syaratsyarat, #persyaratan #pakaianmuslimah
, ,

BOLEHKAH MEMBACA ALQURAN DENGAN AURAT TERBUKA?

BOLEHKAH MEMBACA ALQURAN DENGAN AURAT TERBUKA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BOLEHKAH MEMBACA ALQURAN DENGAN AURAT TERBUKA?

Pertanyaan:

Bolehkah kita membaca Ayat suci Alquran dengan keadaan aurat terbuka seperti mengaji, baik laki-laki maupun perempuan?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin ditanya tentang hukum wanita yang membaca Alquran tanpa memakai jilbab. Apakah semacam ini dibolehkan?

Beliau menjawab: “Untuk membaca Alquran, tidak ada persyaratan bagi wanita untuk menutup kepalanya, karena tidak disyaratkan untuk menutup aurat ketika membaca Alquran. Berbeda dengan shalat. Shalat seseorang bisa tidak sah kecuali dengan menutup aurat.”

Fatawa Nurun ala ad-Darb: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_4805.shtml

Pertanyaan semisal juga pernah diajukan di Syabakah Al-Fatwa Asy-Syar’iyah. Syaikh Prof. Dr. Ahmad Hajji Al-Kurdi memberi jawaban:

“Jika tidak ada dalil yang menunjukkan, bahwa tindakan itu termasuk melecehkan atau tidak menghormati Alquran, maka perbuatan semacam ini tidak haram. Hanya saja tidak sesuai dengan adab yang diajarkan ketika membaca Alquran.”

Allahu a’lam.

Sumber: http://www.islamic-fatwa.net/fatawa

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/9115-membaca-alquran-dengan-aurat-terbuka.html