Posts

BOLEHKAH MEMAMERKAN BODY SIX PACK?

BOLEHKAH MEMAMERKAN BODY SIX PACK?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BOLEHKAH MEMAMERKAN BODY SIX PACK?
 
Tidak pantas seorang laki-laki memamerkan body-nya yang six pack. Lebih-lebih lagi di hadapan para wanita. Taruhlah dada tidak termasuk aurat. Namun memamerkan dada semacam itu termasuk khawarim al-muruah (menjatuhkan martabat dan wibawa seseorang). Memamerkan body seperti itu pula termasuk perilaku orang fasik yang tidak pantas untuk diikuti.
 
Kita berpakaian itu punya beberapa tujuan (hikmah):
  • Secara fitrah kita dituntut berpakaian.
  • Berpakaian untuk berpenampilan atau tampil menawan.
  • Berpakaian untuk melindungi diri dari panas dan dingin.
  • Berpakaian untuk menutup aurat.
 Namun ada pakaian yang lebih dituntut bagi kita untuk memakainya, yaitu Libasut Taqwa (Pakaian Takwa). Disebutkan dalam ayat Alqran:
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari Surga. Ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya, untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya.” [QS. Al-A’raf: 26-27]
 
 
 
Sumber: Rumaysho.Com
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#pamerkan, #hukum, #bolehkah, #memamerkan, #pamer, #body, #sixpack, #sixpackbody, #mubah, #jelek, #mafsadat #LibasutTaqwa #PakaianTakwa #tujuanhikmah #berpakaian #pakaian #tutup #menutupaurat #6pack #pakaiantaqwa
,

NASIHAT UNTUK PARA REMAJA

NASIHAT UNTUK PARA REMAJA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama, #FatwaUlama

NASIHAT UNTUK PARA REMAJA
Fatwa Nomor:13984

Pertanyaan:
Apa nasihat Anda untuk para pemuda yang masih berada di usia remaja?

Jawaban:

Wajib bagi para pemuda untuk bertakwa kepada Allah ﷻ dalam segala urusannya, mengamalkan rukun Islam, berpegang teguh dengan Sunnah Nabi Muhammad ﷺ, menjaga waktu, dan menggunakannya untuk hal yang bermanfaat di dunia dan Akhirat. Mereka juga sebaiknya sangat berhati-hati dari TEMAN YANG BURUK dan MENGHINDAR dari mereka sejauh mungkin, agar mereka selamat dari kejahatan teman yang buruk, dan terlindungi dari musibah.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

[Al-Lajnah ad-Daimah Lulbuhutsil Ilmiyyah wal Ifta’ | Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa].

Sumber: Twitter @IslamDiaries

IBU, TAHANLAH AMARAHMU

IBU, TAHANLAH AMARAHMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

IBU, TAHANLAH AMARAHMU

>> Ibu Yang Mendoakan Kejelekan Anaknya

Sebagian Ulama Salaf berkata:

“يستجاب دعاؤها عليه، و إن كانت ظالمة.”

“Doa ibu untuk kejelekan anaknya adalah doa yang terkabul, walau sang ibu adalah wanita yang zalim.” [Lihat kitab Al-Fath 6/388]

[Samahatu Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah]

فاحذري الدعاء عليهم بالشر. جاهدي النفس! لابد من جهاد، حتى يكون الدعاء طيباً، لا سيئاً. و أبشر بالخير، لابد من الصبر، و لابد من جهاد النفس، حتى يكون الدعاء طيباً، لا ضاراً.”

Maka waspadalah kamu (wahai para ibu), dari doa kejelekan untuk anak-anakmu. Tahanlah amarahmu!

Hawa nafsu harus dilawan, sehingga engkau bisa mendoakan kebaikan, BUKAN KEBURUKAN. Berilah kabar gembira dengan kebaikan, harus (ditangani) dengan kesabaran, menahan amarah, sehingga doa (yang keluar dari lisanmu) adalah doa yang baik, bukan doa keburukan.”

 

Sumber: Binbazorgsa

[[email protected]]

 

,

DOA BERLINDUNG DARI KEBURUKAN KAYA DAN MISKIN

DOA BERLINDUNG DARI KEBURUKAN KAYA DAN MISKIN

  بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA BERLINDUNG DARI KEBURUKAN KAYA DAN MISKIN

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Doa berikut ini disajikan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Riyadhus Sholihin. Doa yang akan kita angkat adalah doa berlindung dari keburukan kaya dan fakir.  Doa ini teramat penting bagi kita, karena kadang kekayaan dan kemiskinan mendatangkan kebaikan, kadang pula mendatangkan keburukan. Semoga bermanfaat.

Hadis selengkapnya sebagai berikut:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الرَّازِىُّ أَخْبَرَنَا عِيسَى حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَدْعُو بِهَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ ».

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa Ar Razi, telah memberitakan kepadaku Isa telah menceritakan kepada kami Hisyam dari ayahnya dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi ﷺ pernah berdoa dengan kalimat-kalimat ini, yaitu:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ

ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN FITNATIN NAAR WA ‘ADZAABIN NAAR, WA MIN SYARRIL GHINAA WAL FAQR

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Neraka dan azab Neraka, serta dari keburukan kekayaan dan kefakiran.” [HR. Abu Daud no. 1543. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Faidah dari doa di atas:

Pertama: Pentingnya berlindung dari azab (siksa) Neraka.

Kedua: Azab Neraka biasa ditimpakan bagi orang-orang kafir. Sedangkan Ahli Tauhid yang mereka mampir dulu di Neraka sebab dosa-dosa mereka, mereka bukan diazab. Mereka hanya dibersihkan dari dosa yang mereka perbuat. [‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Al ‘Azhim Abadi Abuth Thoyib, 4/282, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut, cetakan kedua, 1415 H]. Demikian keterangan dari penulis ‘Aunul Ma’bud, Al ‘Azhim Abadi rahimahullah.

Ini menunjukkan, bahwa selama seseorang bertauhid atau beriman dengan benar, jika ia masuk Neraka, ia tidak akan kekal di dalamnya.

Ketiga: Permintaan diselamatkan dari siksa Neraka mengandung permintaan, agar kita dibebaskan dari berbagai sebab yang menjerumuskan ke dalam Neraka, yaitu dengan dijauhkan dari berbagai perbuatan yang haram dan dosa, dan diberi petunjuk untuk meninggalkan hal-hal syubhat (yang masih samar/abu-abu) dan hal-hal yang haram. Demikian keterangan dari Ibnu Katsir rahimahullah. [Tafsir Al Qu’ran Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 2/263, Muassasah Qurthubah (Surat Al Baqarah ayat 201)]

Keempat: Di antara jalan selamat dari Neraka adalah dengan melatih diri untuk bersyukur, bersabar dan tidak melupakan zikir pada Allah. Ada perkataan yang amat baik dari Al Qosim bin ‘Abdirrahman:

من أعطي قلبا شاكرًا، ولسانًا ذاكرًا، وجسدًا صابرًا، فقد أوتي في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة، ووقي عذاب النار.

“Barang siapa yang dianugerahkan hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berzikir, jasad yang selalu bersabar, sungguh ia akan diberi kebahagiaan dunia, kebahagiaan Akhirat dan diselamatkan dari siksa Neraka.” [Tafsir Al Qu’ran Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 2/263, Muassasah Qurthubah (Surat Al Baqarah ayat 201)]

Kelima: Berlindung dari fitnah Neraka dapat berarti berlindung dari siksa yang akan menjerumuskan dalam Neraka, yang mana siksa tersebut akan terus berulang ketika seseorang di dalamnya.

Juga yang dimaksud dengan berlindung dari fitnah Neraka adalah berlindung dari pertanyaan penjaga Neraka, di mana maksud pertanyaan tersebut untuk menjelekkan orang yang masuk ke dalamnya. Pengertian kedua ini adalah isyarat dari firman Allah Ta’ala dalam surat Al Mulk:

كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْج سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِير

“Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (Neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” (QS. Al Mulk: 8). Demikian penjelasan menarik dari penulis ‘Aunul Ma’bud- [Lihat ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, 4/282].

Keenam: Pentingnya berlindung dari kekayaan yang dapat membawa pada keburukan. Yang dimaksudkan di sini adalah sifat sombong dan melampaui batas terhadap kekayaan yang diberikan. Yang dimaksudkan juga adalah menggunakan harta untuk hal-hal yang diharamkan atau hal maksiat, juga untuk saling berbangga dengan harta dan kedudukan. [Lihat ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, 4/282]. Semoga Allah melindungi kita dari sifat yang buruk karena harta.

Ketujuh: Pentingnya berlindung dari kefakiran (kemiskinan) yang mengandung kejelekan. Yang dimaksudkan di sini adalah sifat hasad (dengki) dengan orang-orang kaya, dan begitu tamak dengan harta-harta mereka. Juga yang dimaksudkan keburukan miskin adalah menghinakan diri (dengan meminta-minta atau mengemis), sehingga merendahkan kehormatan dan merusak agama. Yang dimaksudkan keburukannya lagi adalah tidak rida dengan ketentuan Allah yang telah membagi rezeki pada setiap makhluk dengan begitu adilnya.

Catatan:

Yang namanya hasad (dengki), kata para ulama, adalah sekadar benci terhadap nikmat yang diberikan pada orang lain. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

ان الحسد هو البغض والكراهة لما يراه من حسن حال المحسود

“Hasad adalah sekedar benci dan tidak suka terhadap kebaikan yang ada pada orang lain yang ia lihat.” (Amrodhul Qulub wa Syifauha, hal. 31, Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, 1424 H)

Kedelapan: Dalam lafal lainnya dalam sunan At Tirmidzi, digunakan lafal syarri fitnatil ghina (شَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى) dan syarri fitnatil faqr (شَرِّ فِتْنَةِ الْفَقْرِ ). [HR. At Tirmidzi no. 3495. Syaikh Al  Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih] .

Yang dimaksud fitnah kaya dan miskin bisa berarti ujian atau cobaan. [Lihat ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, 4/282]. Bisa jadi kekayaan dan kemiskinan adalah cobaan yang Allah beri. Dengan kekayaan mampukah seseorang untuk bersyukur. Dengan kemiskinan bernarkah ia mampu bersabar. Jadi keduanya bisa jadi ujian.

Kesembilan: Kekayaan dan kemiskinan kadang bisa membawa pada kebaikan dan kadang pula bisa membawa pada kerusakan.

Semoga sajian singkat ini bermanfaat dan bisa kita amalkan.

Hanya Alah yang beri taufik.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/1105-doa-berlindung-dari-keburukan-kaya-dan-miskin.html

,

SEJELEK-JELEK MUSIBAH

SEJELEK-JELEK MUSIBAH

SEJELEK-JELEK MUSIBAH

Sejelek-jelek musibah yang menimpa seorang Mukmin adalah:
Penyakit Kesombongan dan Tertipu
(Tertipu dengan dunia atau tertipu dengan rahmat Allah Azza wa Jalla, sehingga terus bermaksiat).
Itu adalah penyakit yang sulit untuk diobati.

[Syaikh Azzam Muhammad al Muhaisini, Imam Masjid Jami’ Aisyah, Mekkah, Arab Saudi]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

 

,

DOA MEMINTA PERLINDUNGAN DARI SIFAT MALAS

DOA MEMINTA PERLINDUNGAN DARI SIFAT MALAS

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA MEMINTA PERLINDUNGAN DARI SIFAT MALAS

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah ﷺ biasa membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat.

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” [HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706]

Faidah dari hadis di atas:

  1. Dianjurkan untuk membiasakan doa tersebut.
  2. Doa tersebut berisi permintaan, agar kita diberi keselamatan terhindar dari sifat-sifat jelek yang disebutkan di dalamnya.[ Nuhzatul Muttaqin Syarh Riyadhus Sholihin, Dr. Musthofa Sa’id Al Khin dkk, hal.1007, Muassasah Ar Risalah]
  3. Doa tersebut berisi permintaan, agar kita tidak terjerumus dalam sifat-sifat jelek tersebut. [Nuhzatul Muttaqin Syarh Riyadhus Sholihin, Dr. Musthofa Sa’id Al Khin dkk, hal.1007, Muassasah Ar Risalah]
  4. Meminta perlindungan dari sifat ‘Ajz, yaitu tidak adanya kemampuan untuk melakukan kebaikan. Demikian keterangan dari An Nawawi rahimahullah. [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 17/28, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi]
  5. Meminta perlindungan dari sifat Kasal, yaitu tidak ada atau kurangnya dorongan (motivasi) untuk melakukan kebaikan padahal dalam keadaan mampu untuk melakukannya. Inilah sebagaimana yang dijelaskan oleh An Nawawi rahimahullah. [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 17/28, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi] Jadi ‘ajz itu tidak ada kemampuan sama sekali, sedangkan kasal itu masih ada kemampuan namun tidak ada dorongan untuk melakukan kebaikan.
  6. Meminta perlindungan dari sifat Al Jubn, artinya berlindung dari rasa takut (lawan dari berani). Yaitu berlindung dari sifat takut untuk berperang atau tidak berani untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. [Aunul Ma’bud, Al ‘Azhim Abadi Abuthh Thoyib, 4/289, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah]. Juga doa ini bisa berarti meminta perlindungan dari hati yang lemah. [Nuhzatul Muttaqin, hal. 1007]
  7. Meminta perlindungan dari al harom, artinya berlindung dari kembali pada kejelekan umur (di masa tua). Ada apa dengan masa tua? Karena pada masa tua, pikiran sudah mulai kacau, kecerdasan dan pemahaman semakin berkurang, dan tidak mampu melakukan banyak ketaatan. [Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/28-29]
  8. Meminta perlindungan dari sifat bukhl, artinya berlindung dari sifat pelit (kikir). Yaitu doa ini berisi permintaan agar seseorang bisa menunaikan hak pada harta dengan benar, sehingga memotivasinya untuk rajin berinfak (yang wajib atau yang sunnah), bersikap dermawan dan berakhlak mulia. Juga doa ini memaksudkan agar seseorang tidak tamak dengan harta yang tidak ada padanya. [Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/30]
  9. Meminta perlindungan dari siksa kubur.
  10. Menunjukkan adanya siksa dan fitnah kubur, karena bagaimana mungkin sesuatu yang dimintai perlindungan, namun hal itu tidak ada. Sungguh mustahil!!! Ibnu Hajar Al Makki mengatakan, “Dalam doa perlindungan terhadap siksa kubur ini terdapat bantahan telak terhadap Mu’tzilah yang mengingkari adanya siksa kubur.” [Aunul Ma’bud, 3/94]
  11. Meminta perlindungan dari fitnah (cobaan) ketika hidup dan mati. Ibnu Daqi Al ‘Ied mengatakan, “Fitnah kehidupan adalah fitnah yang dihadapi manusia semasa ia hidup yaitu berupa fitnah-fitnah dunia (harta), fitnah syahwat, kebodohan dan yang paling besar dari itu semua –semoga Allah melindungi kita darinya- yaitu cobaan di ujung akhir menjelang kematian. Sedangkan fitnah kematian yang dimaksud adalah fitnah ketika mati. Fitnah kehidupan bisa kita maksudkan pada segala fitnah yang ada sebelum kematian. Boleh jadi fitnah kematian juga bermakna fitnah (cobaan) di kubur.” [Aunul Ma’bud, 3/95]

Semoga sajian yang singkat ini bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/1013-doa-meminta-perlindungan-dari-sifat-malas.html

,

KEUTAMAAN LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH

KEUTAMAAN LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus
#DakwahTauhid

KEUTAMAAN LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH

Kalimat ini adalah kalimat yang ringkas namun sarat makna, dan memiliki keutamaan yang luar biasa. Kata Nabi ﷺ pada ‘Abdullah bin Qois:

يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ . فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ

“Wahai ‘Abdullah bin Qois, katakanlah ‘Laa hawla wa laa quwwata illa billah’, karena ia merupakan simpanan pahala berharga di Surga.” [HR. Bukhari no. 7386]
Kalimat “Laa hawla wa laa quwwata illa billah” adalah kalimat yang berisi penyerahan diri dalam segala urusan kepada Allah ta’ala. Hamba tidaklah bisa berbuat apa-apa, dan tidak bisa menolak sesuatu, juga tidak bisa memiliki sesuatu, selain kehendak Allah.

Ada ulama yang menafsirkan kalimat tersebut: “Tidak ada kuasa bagi hamba untuk menolak kejelekan, dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan, selain dengan kuasa Allah.”

Ulama lain menafsirkan: “Tidak ada usaha, kekuatan dan upaya selain dengan kehendak Allah.”

Ibnu Mas’ud berkata:

لا حول عن معصية الله إلا بعصمته، ولا قوة على طاعته إلا بمعونته

“Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat, selain dengan perlindugan dari Allah. Tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan, selain dengan pertolongan Allah.”

Imam Nawawi menyebutkan berbagai tafsiran di atas dalam Syarh Shahih Muslim dan beliau katakan: “Semua tafsiran tersebut hampir sama maknanya.” [Syarh Shahih Muslim, 17: 26-27]

Semoga lisan ini selalu diberi taufik oleh Allah untuk selalu basah dengan zikir kepada Allah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/2530-keutamaan-laa-hawla-wa-laa-quwwata-illa-billah.html

,

DUA HAL YANG SALING BERIRINGAN

DUA HAL YANG SALING BERIRINGAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

DUA HAL YANG SALING BERIRINGAN
Abu Hatim Muhammad bin Hibban rahimahullah berkata:

مَنْ أَسَاءَسَمْعًا أَسَاءَإِجَابَةً

“Barang siapa yang buruk pendengarannya (penerimaannya), maka akan buruk juga jawabannya (reaksinya).” [Raudhah Al-Uqala wa Nuzhah Al-Fudhala, hal 126]

 

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

, ,

PAKAI HIJAB TETAPI AKHLAK MASIH BURUK

PAKAI HIJAB TETAPI AKHLAK MASIH BURUK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#AdabAkhlak

PAKAI HIJAB TETAPI AKHLAK MASIH BURUK

Kadangkala ada seorang Muslimah yang sudah mengenakan jilbab syari, tetapi ia kurang memerhatikan akhlak terhadap Muslimah lainnya yang belum berjilbab syari. Mungkin ia bersikap acuh, sombong dan meremehkan saudarinya yang belum mengenakan jilbab syari, sehingga menyebabkan timbulnya rasa kurang suka terhadap Muslimah yang sudah berjilbab syari. Hal ini terkadang dijadikan alasan bagi wanita yang belum berjilbab syari untuk tidak memakai jilbab yang syari. Padahal jilbab syari adalah perintah Allah yang wajib dijalankan oleh seorang Muslimah.

Yang seharusnya kita lakukan adalah memergauli para saudari kita Muslimah dengan akhlak yang baik dan lemah lembut, serta menyemangati dan menguatkan mereka untuk mengenakan jilbab syari. Karena mengamalkan sunnah di zaman penuh fitnah seperti sekarang ini sangatlah berat. Maka jangan diperberat dengan akhlak kita yang tidak baik.

Berikut ini ada sebuah pertanyaan  kepada Syaikh Falah bin Isma’il al-Mandakar hafidzohullah, seorang ulama sunnah dari Kuwait, tentang hijab dan akhlak.

Semoga bisa menjadi cermin bagi diri-diri kita untuk berintrospeksi, karena seorang Mukmin adalah cermin bagi saudaranya.

***

Oleh: Syaikh Falah bin Isma’il al-Mandakar hafidzohullah

Pertanyaan:

Aku adalah seorang gadis berusia 14 tahun. Aku ingin mengenakan hijab, akan tetapi ada teman-temanku yang mengenakan hijab, tapi perilakunya kurang baik, dan akhlak mereka membuatku tidak menyukai hijab. Apa yang seharusnya aku lakukan?

Jawaban:

بسم الله والحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه وبعد

Hijab adalah suatu perkara, dan akhlak wanita yang mengenakan hijab adalah perkara lain. Maka janganlah dicampur-adukkan. Hijab yang syari adalah perintah Allah azza wa jalla, sedangkan jika engkau melihat akhlak yang buruk dari para wanita yang mengenakan hijab, maka TIDAK ADA hubungannya dan TIDAK ADA kaitannya, antara akhlak orang yang mengenakan hijab, dengan perintah hijab dari nash Kalamulloh dan sabda Rasulullah ﷺ.

Maka keburukan akhlak mereka TIDAK ADA hubungannya denganmu. Bahkan kenakanlah hijab dan tampakkanlah akhlak yang baik dan muamalah yang baik. InsyaAllah engkau akan menjadi contoh yang baik dalam memberi hidayah dan petunjuk kepada saudari-saudarimu yang mengenakan hijab itu, kepada akhlak yang baik.

Dan yang perlu engkau perhatikan pertama kali adalah menerima perintah Allah dan Rasul-Nya ﷺ, serta mengharapkan ganjaran dalam mengenakan hijab, dan mengamalkan perintah tersebut dalam pakaian, akhlak dan perilaku, ibadah, dan akidah seluruhnya.

Semoga Allah memberikan taufik kepada semua.

***

Diterjemahkan dari website Syaikh Falah bin Isma’il al-Mandakar hafidzohullah.

***

السؤال: أنا فتاة عندي 14 سنة رغبت في ارتداء الحجاب ،ولكن هنالك من صديقاتي متحجبات وغير محترمات وسلوكهن كرهني في الحجاب فماذا أعمل؟

الجواب: بسم الله والحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه وبعد ، الحجاب شيء، وسلوك المحجبات شيء آخر،لا تخلطي. الحجاب الشرعي هذا أمر من الله عز وجل، وكونك رأيت سلوكا سيئا من فتيات محجبات فلا علاقة ولا ارتباط بين سلوك المحجبة وبين الأمر بالحجاب بنص كلام الله، وكلام رسوله عليه الصلاة والسلام. فلا علاقة لك بسوء خلقهن، بل تحجبي وأظهري حسن الخلق، وحسن التعامل، وستكونين قدوة إن شاء الله في هداية وإرشاد أخواتك المحجبات إلى السلوك الحسن ، الشاهد عليك أولا بالاستجابة لأمر الله وأمر رسوله وامتثال الأمر في اللباس والسلوك والأخلاق والعبادات والعقائد كلها ، وفق الله الجميع .

Penulis: Ummu Shofiyyah al-Balitariyyah

 

Sumber: https://ummushofi.wordpress.com/2010/03/08/hijab-akhlak/

, ,

ADAB DAN CARA BERDOA

ADAB DAN CARA BERDOA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak
#DoaZikir

ADAB DAN CARA BERDOA

>> Petunjuk Rahasia Agar Doa Kita Dikabulkan

  1. Memanfaatkan Waktu dan Tempat Yang Mustajab

Di antaranya: Sepertiga malam terakhir, di antara azan dan iqamah, di saat sujud akhir shalat fardhu, saat azan, setelah Ashar di hari Jumat, saat turun hujan, saat safar, saat mau berbuka puasa, bulan Ramadan, malam Lailatul Qadr, di hari Arafah, di Hijr Ismail, di bukit Shafa dan Marwah, saat minum Zamzam, saat terjadi perang, dll.

  1. Menghadap Kiblat

“Ketika berada di Padang Arafah, beliau ﷺ menghadap Kiblat, dan beliau ﷺ terus berdoa sampai matahari terbenam” (HR. Muslim)

  1. Mengangkat Tangan

“Sesungguhnya Tuhan kalian itu Malu dan Maha Memberi. Dia malu kepada hamba-Nya ketika mereka mengangkat tangan kepada-Nya, kemudian hambanya kembali dengan tangan kosong (tidak dikabulkan)” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, beliau Hasankan)

  1. Suara Lirih dan Tidak Dikeraskan

“Wahai manusia, kasihanilah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang tuli dan tidak ada. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat” (HR. Bukhari)

  1. Tidak Dibuat Bersajak

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al-A’raf: 55)

  1. Penuh Harap dan Cemas

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik, dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami” (QS. Al-Anbiya’: 90)

  1. Khusyu’ dan Yakin Akan Dikabulkan

“Berdoalah kepada Allah dan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai, dan lengah (dengan doanya)” (HR. Tirmidzi)

  1. Mengulang-Ulang Doa

“… Dan apabila beliau meminta kepada Allah, beliau mengulangi tiga kali” (HR. Muslim)

  1. Tidak Tergesa-Gesa Agar Segera Dikabulkan

“Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim, selama dia tidak terburu-buru.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud terburu-buru dalam berdoa?” Beliau ﷺ bersabda: “Orang yang berdoa ini berkata: ‘Saya telah berdoa, saya telah berdoa, dan belum pernah dikabulkan’. Akhirnya dia putus asa dan meninggalkan doa” (HR. Muslim, Abu Daud)

  1. Diawali Memuji Allah dan Bershalawat Atas Nabi ﷺ

“Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi ﷺ. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya” (HR. Ahmad, Abu Daud)

  1. Dimulai Doa Bagi Diri Sendiri Sebelum Untuk Orang Lain

“Apabila Rasulullah ﷺ ingat kepada seseorang, maka beliau mendoakannya. Dan sebelumnya, beliau ﷺ mendahulukan berdoa untuk dirinya sendiri” (HR. Tirmidzi)

  1. Memerbanyak Taubat

“Sesungguhnya Allah kagum kepada hamba-Nya apabila ia berkata: ‘Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Engkau. Sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnya, tidak ada yang mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau.’ Allah berfirman: ‘Hamba-Ku telah mengetahui, bahwa baginya ada Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum’” (HR. Al-Hakim)

  1. Mendoakan Saudara Sesama Muslim

“Tidak ada seorang Muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama Muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata: “Dan bagimu juga kebaikan yang sama” (HR. Muslim)

  1. Hindari Mendoakan Keburukan

“Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim” (HR. Muslim, Abu Daud)

  1. Hindari Makanan dan Harta Haram

“… Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku’. Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram. Maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan doanya?” (HR. Muslim)

 

Diambil dari berbagai sumber: konsultasisyariah.com, almanhaj.or.id, yufidia.com, FB Doa dan Dzikir Shahih Harian