Posts

, ,

PEMUDA ZAMAN NOW

PEMUDA ZAMAN NOW
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ  
 
PEMUDA ZAMAN NOW
 
Padahal, pemuda yang ia selalu terkait dengan masjid, akan mendapat naungan pada Hari Kiamat kelak.
Yang dimaksudkan naungan di sini adalah naungan ‘Arsy Allah, sebagaimana dikuatkan riwayatnya oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari [2: 144]
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau ﷺ bersabda:
“Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:
(1) Imam yang adil,
(2) Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah,
(3) Seorang yang hatinya bergantung ke masjid,
(4) Dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya,
(5) Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata: ‘Aku benar-benar takut kepada Allah.’
(6) Seseorang yang bersedekah dengan satu sedekah, lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya, serta
(7) Seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sepi, lalu ia meneteskan air matanya.” [HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031]
 
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Barang siapa yang gembira bertemu dengan Allah besok dalam keadaan Muslim, maka jagalah shalat-shalat ini saat ia dipanggil untuk melaksanakannya. Karena Allah menyariatkan untuk Nabi kalian Sunanul Huda (Petunjuk). Dan shalat berjamaah termasuk Sunanul Huda (Petunjuk). Seandainya kalian shalat di rumah kalian sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, itu berarti kalian telah meninggalkan ajaran Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan ajaran Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat. Aku telah melihat, bahwa tidak ada yang tertinggal dari shalat berjamaah melainkan orang munafik yang jelas kemunafikannya. Dan sungguh adakalanya seseorang biasa dibawa di antara dua orang (dipapah) sampai ia diberdirikan di dalam shaf.” [HR. Muslim, no. 654]
 
Semoga bermanfaat.
 
Sumber: [Rumaysho.Com]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#pemudazamannow, #naungandiHariKiamat, #naunganArsyAllah, #hatiterkaitmasjid #shalat, #sholat, #salat, #solat, #jamaah #berjamaah
,

MENELADANI PARA SAHABAT NABI DALAM MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF SHALAT

MENELADANI PARA SAHABAT NABI DALAM MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF SHALAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SEMPURNANYA SHALAT ITU SESUAI RAPAT DAN LURUSNYA SHAF
 
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan anjuran Nabi ﷺ kepada para sahabat untuk merapatkan shaf. Di antaranya:
 
1. Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan makmumnya:
أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا
 
”Luruskan shaf kalian dan rapatkan.” [HR. Bukhari 719]
 
2. Juga dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ mengucapkan:
 
سوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَفِّ مِنْ تَماَمِ الصَّلَاةِ
 
”Luruskan shaf kalian, karena meluruskan shaf bagian dari kesempurnaan shalat.” [HR. Muslim 433]
 
3. Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
أقيموا الصَفِّ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ إِقَامَةَ الصَفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلَاةِ
 
Luruskan shaf dalam shalat, karena meluruskan shaf bagian dari kesempurnaan shalat. [HR. Muslim 435]
 
4. Hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
اِسْتَوُّوا وَلَا تَـخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ
 
Luruskan, dan jangan berselisih (dalam lurusnya shaf), sehingga hati kalian menjadi berselisih.
 
Kata Ibnu Mas’ud, Rasulullah ﷺ memerintahkan di atas, sambil mengusap pundak-pundak makmum. [HR. Muslim 122]
 
5. Hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ
 
”Luruskan shaf, rapatkan pundak, dan tutup celah, perlunak pundak kalian untuk saudaranya, dan jangan tinggalkan celah untuk setan.” [HR. Abu Daud 666 dan dishahihkan al-Albani]
 
Makna: “Perlunak pundak kalian untuk saudaranya” adalah hendaknya dia mempemudah setiap orang yang masuk shaf, dengan berusaha agar pundaknya tidak mengganggu orang lain.
 
6. Hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
أَتِـمُّوْا الصَّفَّ الـمُقَدَّمَ، ثُمَّ الَّذِي يَلِيْهِ
 
“Penuhi shaf depan, kemudian shaf berikutnya…” [HR. Abu Daud 671 dan dishahihkan al-Albani]
 
Dan masih terdapat beberapa riwayat lainnya, yang itu semua menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap kesempurnaan shalat jamaah, yang meliputi lurus dan rapatnya shaf, terpenuhinya shaf terdepan, tidak boleh ada yang berbeda, tidak mengganggu sesama jamaah, dst.
 
Apa Hukum Merapatkan dan Meluruskan Shaf dalam Shalat Berjamaah?
 
Jumhur Ulama (Mayoritas) berpandangan, bahwa hukum meluruskan shaf adalah sunnah. Sedangkan Ibnu Hazm, Imam Bukhari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Asy Syaukani menganggap meluruskan shaf itu wajib. Dalil kalangan yang mewajibkan adalah berdasarkan riwayat An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ
 
“Hendaknya kalian meluruskan shaf kalian, atau tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih.” [HR. Bukhari no. 717 dan Muslim no. 436]
 
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Tidak lurusnya shaf akan menimbulkan permusuhan dan kebencian, serta membuat hati kalian berselisih.” [Syarh Muslim, 4: 157]
 
Dalil dari hadis Anas bin Malik:
 
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّى أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِى » . وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ
 
“Dari Anas, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: ”Luruskanlah shaf kalian. Aku melihat kalian dari belakang punggungku.” Lantas salah seorang di antara kami melekatkan pundaknya pada pundak temannya, lalu kakinya pada kaki temannya.” [HR. Bukhari no. 725]
 
 
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sifatsholatNabi, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #tatacara, #cara, #rapatkan, #luruskan, #merapatkan, #meluruskan, #saff, #shaff, #sof, #shoff, #barisan, #jamaah, #berjamaah, #hukum #dalildalil, #perintah, #anjuran, #menganjurkan
, ,

CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID SETIAP JUMAT

CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID SETIAP JUMAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID SETIAP JUMAT
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إذا كان يومُ الجمعةِ كان على كلِّ بابٍ من أبوابِ المسجدِ الملائكة يكتبون الأولَ فالأولَ، فإذا جلس الإمامُ طوَوُا الصحفَ وجاؤوا يستمعون الذكرَ.
“Apabila Jumat tiba, maka akan ada para malaikat di setiap pintu-pintu masjid. Mereka akan mencatat orang yang pertama kali datang, lalu berikutnya, dan berikutnya, sampai apabila Imam telah duduk di mimbarnya, mereka pun melipat catatan-catatan tersebut. Lantas mereka pun datang dan ikut mendengarkan khutbah.” [HR. Bukhari 3211]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#shalat, #sholat, #solat, #salat, #catatanmalaikat, #menunggudipintupintumasjid, #jamaah, #berjamaahkeutamaan, #fadhilah, #datangawal
,

SATU KAMPUNG TIDAK SHALAT BERJAMAAH, BERARTI SUDAH DIKUASAI SETAN

SATU KAMPUNG TIDAK SHALAT BERJAMAAH, BERARTI SUDAH DIKUASAI SETAN
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SATU KAMPUNG TIDAK SHALAT BERJAMAAH, BERARTI SUDAH DIKUASAI SETAN
>> Hati-hati jika ada satu kampung tidak shalat berjamaah, berarti sudah dikuasai setan.
 
Bab Keutamaan Shalat Berjamaah, Hadis no. 1070
 
وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاء – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُوْلُ : ( مَا مِنْ ثَلاثَةٍ فِي قَرْيةٍ ، وَلاَ بَدْوٍ ، لا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاَةُ إلاَّ قَد اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِم الشَّيْطَانُ . فَعَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ ، فَإنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ مِنَ الغَنَمِ القَاصِيَة) رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ
 
Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Tidaklah terdapat tiga orang di satu desa atau kampung yang tidak ditegakkan shalat di sana, kecuali mereka telah dikalahkan oleh setan. Maka haruslah bagi kalian untuk berjamaah, sebab serigala hanya akan memakan domba yang jauh dari kawannya.” [Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad hasan) [HR. Abu Daud, no. 547 dan An-Nasa’i, no. 848. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini shahih]
 
Kesimpulan Mutiara Hadis
1. Wajibnya azan dan iqamah untuk shalat berjamaah.
2. Setan akan menguasai orang-orang yang lalai dari ketaatan dan ibadah.
3. Dorongan untuk shalat berjamaah karena berjamaah menolong untuk melakukan ketaatan.
4. Perintah untuk berjamaah (bersatu), karena berjamaah akan menyelamatkan iman dan agama.
5. Setan tidak mampu mengganggu mereka yang berjamaah. Setan mengganggu mereka yang sendirian dan terpisah dari saudara mereka.
 
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
 
 
Referensi:
  • Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:245-246.
  • Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Prof. Ahmad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Kunuz Isybiliyyah. 13:400.
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[Artikel Rumaysho.Com]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#satukampung, #satudesa, #satukota, #1kampung, #1desa, #1kota, #dikuasaisetan, #tidakshalatberjamaah, #sholat, #shalat, #salat, #solat, #sifatsholatnabi, #keutamaan, #fadhilah, #jamaah #shalatberjamaah,
,

PERGI DAN PULANG DARI MASJID AKAN MENDAPATKAN GANJARAN PAHALA

PERGI DAN PULANG DARI MASJID AKAN MENDAPATKAN GANJARAN PAHALA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
PERGI DAN PULANG DARI MASJID AKAN MENDAPATKAN GANJARAN PAHALA
>> Keutamaan Berjalan Kaki ke Masjid  untuk Menunaikan Shalat
 
Setiap Langkah Kaki Ke Masjid Akan Dihitung Sedekah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
وَكُلُّ خَطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ
 
“Setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah.” [HR. Muslim, no. 1009]
 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah mengatakan:
“Setiap langkah kaki menuju shalat adalah sedekah, baik jarak yang jauh maupun dekat”.
 
Setiap Langkah Kaki Ke Tempat Shalat Dicatat Sebagai Kebaikan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
كُلُّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلاَةِ يُكْتَبُ لَهُ بِهَا حَسَنَةٌ وَيُمْحَى عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةٌ
 
“Setiap langkah menuju tempat shalat akan dicatat sebagai kebaikan dan akan menghapus kejelekan.” [HR. Ahmad, 2:283. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih]
 
Berjalan ke Masjid akan Mendapat Dua Keutamaan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً
 
“Barang siapa bersuci di rumahnya lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah (yaitu masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan dosa, dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajatnya.” [HR. Muslim, no. 666]
 
Orang yang melakukan semacam ini akan mendapatkan dua kebaikan:
(1) Ditinggikan derajatnya,
(2) Akan dihapuskan dosa-dosa.
 
Apakah Perlu Memperpendek Langkah Kaki?
Ada sebagian ulama yang menganjurkan, bahwa setiap orang yang hendak ke masjid hendaknya memperpendek langkah kakinya. Akan tetapi ini adalah anjuran yang bukan pada tempatnya dan tidak ada dalilnya sama sekali. Karena Nabi ﷺ dalam hadis hanya mengatakan ‘Setiap langkah kaki menuju shalat’ dan beliau ﷺ tidak mengatakan ‘Hendaklah setiap orang memperpendek langkahnya.’ Seandainya perbuatan ini adalah perkara yang disyariatkan, tentu Nabi ﷺ akan menganjurkannya kepada kita. Yang dimaksudkan dalam hadis ini adalah bukan memanjangkan atau memendekkan langkah, namun yang dimaksudkan adalah berjalan seperti kebiasaannya. [Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pada penjelasan hadis no. 26]
 
Berjalan Pulang dari Masjid Akan Dicatat Sebagaimana Perginya
Hal ini berdasarkan hadis berikut:
 
عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ كَانَ رَجُلٌ لاَ أَعْلَمُ رَجُلاً أَبْعَدَ مِنَ الْمَسْجِدِ مِنْهُ وَكَانَ لاَ تُخْطِئُهُ صَلاَةٌ – قَالَ – فَقِيلَ لَهُ أَوْ قُلْتُ لَهُ لَوِ اشْتَرَيْتَ حِمَارًا تَرْكَبُهُ فِى الظَّلْمَاءِ وَفِى الرَّمْضَاءِ . قَالَ مَا يَسُرُّنِى أَنَّ مَنْزِلِى إِلَى جَنْبِ الْمَسْجِدِ إِنِّى أُرِيدُ أَنْ يُكْتَبَ لِى مَمْشَاىَ إِلَى الْمَسْجِدِ وَرُجُوعِى إِذَا رَجَعْتُ إِلَى أَهْلِى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « قَدْ جَمَعَ اللَّهُ لَكَ ذَلِكَ كُلَّهُ »
 
“Dulu ada seseorang yang tidak aku ketahui seorang pun yang jauh rumahnya dari masjid selain dia. Namun dia tidak pernah luput dari shalat. Kemudian ada yang berkata padanya, atau aku sendiri yang berkata padanya: “Bagaimana kalau engkau membeli keledai untuk dikendarai ketika gelap dan ketika tanah dalam keadaan panas?” Orang tadi lantas menjawab: “Aku tidaklah senang jika rumahku di samping masjid. Aku ingin dicatat bagiku langkah kakiku menuju masjid, dan langkahku ketika pulang kembali ke keluargaku.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh Allah telah mencatat bagimu seluruhnya.” [HR. Muslim, no. 663]
 
Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (5:149) mengatakan:
 
فِيهِ : إِثْبَات الثَّوَاب فِي الْخُطَا فِي الرُّجُوع مِنْ الصَّلَاة كَمَا يَثْبُت فِي الذَّهَابِ .
 
“Dalam hadis ini terdapat dalil, bahwa langkah kaki ketika pulang dari shalat akan diberi ganjaran sebagaimana perginya.”
 
Masya Allah, inilah keutamaan pergi dan pulang dari menunaikan shalat di masjid. Akankah kita masih melewatkannya?
 
Orang yang tahu di tempat lain kalau berdagang di tempat lain akan mendapat keuntungan berlipat-lipat daripada berdagang di rumah, tentu akan melangkahkan kakinya ke tempat jauh sekalipun.
 
Semoga Allah memberi taufik kepada kita, khususnya kaum pria, agar dapat merutinkan shalat jamaah di masjid.
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[Artikel Rumaysho.Com]

 

#BerjalanKeMasjid #HadisTentangPergiKeMasjid #KeutamaanBerjalanKakiKeMasjid #KeutamaanKeMasjid #LangkahOrangMenujuMesjid #sifatsholatnabi, #sifatshalatnabi, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #tatacara, #cara, #keutamaanjalan kakikemasjid, #berjalankakikemasjid, #pulangpergimasjid, #lelaki, #pria, #lakilaki, #jamaah, , #berjamaah #langkahkaki,#dihitungsedekah

,

MAU PAHALA SHALAT SEMALAM SUNTUK? INI CARANYA!

MAU PAHALA SHALAT SEMALAM SUNTUK INI CARANYA!
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MAU PAHALA SHALAT SEMALAM SUNTUK? INI CARANYA!
 
Dalam riwayat Tirmidzi, dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang menghadiri shalat Isya berjamaah, maka baginya shalat separuh malam. Dan barang siapa yang melaksanakan shalat Isya dan Subuh berjamaah, maka baginya seperti shalat semalaman.” [HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadis ini Hasan Shahih. HR. Tirmidzi, no. 221]
 
Faidah Hadis:
 
1. Dianjurkan menjaga shalat Subuh dan Isya secara berjamaah. Karena kalau dua shalat ini dijaga, tentu shalat lainnya dijaga pula.
2. Menjaga shalat Subuh dan Isya merupakan tanda iman. Karena ketika itu keadaan gelap dan sedang menikmati makan malam.
3. Yang meninggalkan shalat Subuh dan Isya hanyalah munafik dan orang yang punya uzur.
4. Keutamaan shalat Subuh berjamaah seperti melaksanakan shalat semalam penuh (semalam suntuk).
5. Keutamaan shalat Isya berjamaah seperti melaksanakan shalat separuh malam.
 
Semoga semakin manambah semangat kita untuk terus beramal saleh
 
Sumber: Rumaysho.Com
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

AYO SHALAT BERJAMAAH BAGI KAUM LAKI-LAKI

AYO SHALAT BERJAMAAH BAGI KAUM LAKI-LAKI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

AYO SHALAT BERJAMAAH BAGI KAUM LAKI-LAKI

Bagi laki-laki yang masih malas shalat jamaah di masjid, coba renungkan baik-baik pahala besar di balik shalat jamaah berikut ini:

1. Shalat jamaah lebih utama dari shalat sendirian sebanyak 27 derajat (27 kali).
2. Allah ta’ala akan melindungi orang yang melaksanakan shalat jamaah dari gangguan setan.
3. Keutamaan shalat jamaah semakin bertambah dengan semakin bertambahnya jamaah.
4. Orang yang menjaga shalat jamaah selama 40 hari, ia akan selamat dari kemunafikan.
5. Siapa yang shalat Subuh dalam keadaan berjamaah di pagi hari, ia akan mendapatkan rasa aman hingga petang (sore) hari.
6. Siapa yang shalat Subuh berjamaah di masjid lantas ia menunggu hingga matahari meninggi, lalu ia melaksanakan shalat dua rakaat ketika matahari meninggi (15 menit setelah matahari terbit), maka ia akan mendapatkan pahala haji dan umrah yang sempurna dan sempurna dan sempurna.
7. Siapa yang melaksanakan shalat Isya secara berjamaah, maka ia mendapatkan pahala shalat separuh malam. Sedangkan jika ia melaksanakan shalat Subuh secara berjamaah, ia akan mendapatkan pahala shalat semalam suntuk (semalam penuh).
8. Malaikat malam dan siang berkumpul di waktu Subuh dan Ashar.
9. Orang yang menunggu shalat jamaah, terhitung berada dalam keadaan shalat.
10. Siapa yang shalatnya membaca Aamiin setelah membaca Al-Fatihah, maka ia akan mendapatkan kecintaan dan ampunan Allah.

Semoga Allah beri hidayah bagi kaum pria untuk berjamaah di masjid.

 

Sumber: Rumaysho.Com

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

 

 

 

 

#sifat sholat nabi, #shalat, #sholat, #salat, #solat, #tatacara, #cara, #jamaah, #jama’ah, #berjamaah, #laki laki, #pria, #lelaki, #ayoshalatberjamaahdimasjid #ikhwan #akhi #hukum

TANDA MUNAFIK: MALAS MERUTINKAN SUBUH DAN ISYA

TANDA MUNAFIK: MALAS MERUTINKAN SUBUH DAN ISYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
TANDA MUNAFIK: MALAS MERUTINKAN SUBUH DAN ISYA
 
Tahukah munafik?
Kalau yang dimaksud munafik besar adalah menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran.
 
Al-Hasan Al-Bashri mengatakan:
“Di antara tanda kemunafikan adalah berbeda antara hati dan lisan, berbeda antara sesuatu yang tersembunyi dan sesuatu yang nampak, berbeda antara yang masuk dan yang keluar.” [Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:490]
 
Bagaimanakah keadaan munafik orang zaman ini dan masa silam? Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Orang munafik saat ini lebih jelek dari orang munafik di masa Rasulullah ﷺ. Dahulu kemunafikan disembunyikan, sedangkan saat ini terang-terangan.” [Hilyatul Auliya’, 1:280]
 
Salah satu tandanya yaitu malas merutinkan Shalat Subuh dan Shalat Isya. Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menyatakan:
“Jika kami tidak melihat seseorang dalam Shalat ‘Isya’ Dan Shalat Subuh, maka kami mudah untuk suuzhon (berprasangka jelek) padanya.” [HR. Ibnu Khuzaimah, 2:370 dan Al-Hakim 1:211, dengan sanad yang shahih sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:365]
 
 
Sumber: Rumaysho.Com
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
#sifatsholatnabi, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #Subuh, #Isya, #malasrutinkan, #malasmerutinkan, #Shubuh, #SubuhdanIsya, #tandamunafik, #munafik, #munafiqun #jamaah, #jama’ah, #berjamaah #shalatberjamaah #tandatanda #ciriciri
,

MAKMUM MASBUK, TAHIYATNYA BAGAIMANA?

MAKMUM MASBUK, TAHIYATNYA BAGAIMANA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#SifatSholatNabi
 
MAKMUM MASBUK, TAHIYATNYA BAGAIMANA?
 
Pertanyaan:
Jika masbuk dapat Tasyahud tiga kali, apakah kita baca dua Tasyahud Awal satu Tasyahud Akhir, atau dua kali baca seperti biasa, dan yang satu Tasyahud hanya ikuti gerakan imam tanpa baca?
 
Jawaban:
Setiap makmum masbuk, diperintahkan untuk menyusul jamaah shalat di mesjid dan mengikuti imamnya, dalam keadaan apa pun sang imam berada: berdiri kah, rukuk kah, sujud kah atau duduk kah. Kemudian ia harus meng qadha’ rakaat yang tertinggal setelah imamnya salam. Tidak ada pilihan lain baginya selain itu.
 
Berangkat dari sini, si masbuk tetap harus mengikuti imamnya membaca Tasyahud. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya sebagai berikut:
 
Ada seseorang yang menyusul imamnya ketika Tasyahud Akhir, apakah dia cukup membaca Tasyahud saja, ataukah juga membaca shalawat dan doa? Tolong sebutkan dalilnya!
 
Jawab beliau:
Jika ia mendapati imamnya pada saat Tasyahud, maka ia mengikutinya dan membaca Tasyahud dan melanjutkannya hingga selesai, sebab ia duduk dalam kondisi itu tidak lain ialah demi mengikuti imamnya, sehingga hendaknya ia mengikuti sang imam dalam duduk, sekaligus dalam membaca bacaan yang disyariatkan ketika duduk tersebut. Inilah yang masyru’ baginya.
 
Namun andai ia mencukupkan dengan bacaan Tasyahud Awal saja, maka kuharap tidak mengapa. Namun afdhalnya ialah ia mengikuti bacaan imamnya secara lengkap, dan ini berangkat dari keumuman sabda Nabi ﷺ:
 
(فما أدركتم فصلّوا)
 
Yang artinya: “Apa saja yang kalian dapati, maka shalatlah” Demikian pula dalam hadis lain, beliau ﷺ bersabda:
 
(إذا أتى أحدكم الصلاة والإمام على حال فليصنع كما يصنع الإمام)
 
Yang artinya, “Bila seseorang mendatangi shalat jamaah, sedangkan imamnya berada dalam kondisi tertentu, maka perbuatlah sebagaimana yang diperbuat Imam tersebut.” [Fatawa Islamiyah 1/300].
 
Kesimpulannya:
Antum membaca Tasyahud sesuai dengan imamnya. Kalau misalnya masbuk shalat Maghrib 1 rakaat, berarti Tasyahud yang pertama membaca Tasyahud saja, lalu yang kedua membaca Tasyahud di tambah shalawat dan doa, demikian pula bacaannya pada saat Tasyahud ketiga.
 
Namun jika mendapati imam Tasyahud Akhir, maka dia ikut membaca Tasyahud tambah shalawat dan doa, lalu pada Tasyahud kedua cukup membaca Tasyahud saja, sedangkan Tasyahud ketiga membaca Tasyahud tambah shalawat dan doa.
 
Wallahu a’lam
 
Referensi:
 
Konsultasi Bimbingan Islam
Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA
 
, ,

BAGAIMANA DUDUKNYA MAKMUM MASBUK KETIKA IMAM TASYAHUD AKHIR? (FATWA ULAMA)

BAGAIMANA DUDUKNYA MAKMUM MASBUK KETIKA IMAM TASYAHUD AKHIR? (FATWA ULAMA)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatSholatNabi
 
BAGAIMANA DUDUKNYA MAKMUM MASBUK KETIKA IMAM TASYAHUD AKHIR? (FATWA ULAMA)
>> Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Aqil
 
Pertanyaan:
Bagaimana pendapat kalian, semoga Allah memberikan ganjaran kepada kalian, tentang seorang makmum yang hendak shalat Maghrib bersama imam, ia telah tertinggal satu rakaat. Apakah jika imam duduk Tawaruk pada Tasyahud akhir, makmum mengikuti duduk sang imam dalam keadaan Tawaruk, ataukah Iftirasy? Karena duduk Tasyahud akhirnya imam adalah Tasyahud awal bagi si makmum.
 
Jawaban:
Yang ditegaskan oleh para ulama fikih kita, jika seorang makmum shalat bersama imam yang jumlah rakaatnya empat atau tiga, imam telah mendahuluinya dalam sebagian rakaat, maka makmum duduk Tasyahud akhir bersama imam dalam keadaan Tawaruk, bukan Iftirasy. Alasan mengikuti imam dalam rangka menjaga agar tidak terjadi perselisihan, berdasarkan hadis:
 
إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه
 
“Imam itu diangkat untuk ditaati. Maka janganlah kalian menyelisihinya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (722), dengan lafazh hadits Abu Hurairah (414) tanpa kata “diangkat”]
 
Dikatakan dalam Al-Iqna’ dan syarahnya Kasyful Qina’ [(1/248)]:
“Makmum masbuk duduk Tawaruk bersama imam ketika imam Tawaruk. Karena bagi imam, itu merupakan akhir dari shalat, walaupun bagi si makmum, itu bukan akhir shalat. Dalam kondisi ini, si masbuk duduk Tawaruknya sebagaimana ketika ia sedang Tasyahud kedua. Maka, seandainya makmum mendapatkan dua rakaat dari Ruba’iyyah (shalat yang jumlahnya 4 rakaat), duduklah bersama imam dalam keadaan Tawaruk, dalam rangka mengikuti imam, ketika ia (makmum) Tasyahud awal. Kemudian duduk Tawaruk lagi setelah menyelesaikan sisa dua rakaat lainnya, karena itu duduk Tasyahud yang diakhiri salam”.
 
Disebutkan dalam Al-Muntaha dan Syarahnya: “Makmum masbuk duduk Tawaruk bersama imam pada saat Tasyahud akhir dalam shalat yang jumlah rakaatnya empat dan shalat Maghrib”.
 
Disebutkan dalam Mathalib Ulin Nuhaa fi Syarhi Ghayatil Muntaha: “Makmum masbuk duduk Tawaruk bersama imam dalam duduk Tasyahud yang ia dapatkan bersama imam, disebabkan karena itu akhir shalat bagi si imam, walaupun bukan bagi si makum. Sebagaimana ia juga duduk Tawaruk pada Tasyahud kedua, yang setelah ia menyelesaikan rakaat sisanya. Maka, seandainya makmum mendapatkan dua rakaat dari Ruba’iyyah (shalat yang jumlahnya empat rakaat), duduklah bersama imam dalam keadaan Tawaruk, dalam rangka mengikuti imam, ketika ia (makmum) Tasyahud awal. Kemudian duduk Tawaruk lagi, setelah menyelesaikan sisa dua rakaat lainnya, karena itu duduk Tasyahud yang diakhiri salam”.
 
Wallahu A’lam.
 
 
 
Penerjemah: Wiwit Hardi Priyanto
[Artikel Muslim.Or.Id]