Posts

, ,

KETERASINGAN YANG INDAH

KETERASINGAN YANG INDAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#KajianSunnah

KETERASINGAN YANG INDAH

Rasulullah ﷺ bersabda:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاء

“Islam bermula dalam keadaan asing (di tengah-tengah manusia), dan akan kembali terasing sebagaimana ia bermula. Maka beruntunglah Al-Ghuroba’ (orang-orang yang dianggap asing karena mengamalkan Islam).” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

السبب في كون القرن الأول خير القرون انهم كانوا غرباء في ايمانهم لكثرة الكفار حينئذ وصبرهم على اذاهم وتمسكهم بدينهم قال فكذلك اواخرهم إذا اقاموا الدين وتمسكوا به وصبروا على الطاعة حين ظهور المعاصي والفتن كانوا أيضا عند ذلك غرباء وزكت أعمالهم في ذلك الزمان كما زكت أعمال أولئك ويشهد له ما رواه مسلم عن أبي هريرة رفعه بدأ الإسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدأ فطوبى للغرباء

“Sebab yang menjadikan generasi pertama (para sahabat) sebagai generasi terbaik adalah karena mereka Ghuroba’ (orang-orang yang asing) dalam keimanan mereka, disebabkan banyaknya orang-orang kafir ketika itu. Dan karena kesabaran mereka atas penderitaan yang mereka hadapi, serta berpegang teguhnya mereka dengan agama.

Demikianlah generasi akhir mereka (umat Islam yang meneladani para sahabat di akhir zaman). Apabila mereka menegakkan agama, berpegang teguh dengannya, dan bersabar dalam ketaatan kepada Allah ketika kemaksiatan dan berbagai macam cobaan semakin merajalela, maka mereka juga termasuk Ghuroba,’ dan amalan mereka berlipat ganda di masa tersebut, sebagaimana amalan generasi pertama juga berlipat ganda.” [Fathul Bari, 7/9]

Dan kunci utama untuk istiqomah dalam keterasingan yang indah ini adalah mendalami ilmu agama, kemudian berusaha mengamalkannya dan mendakwahkannya.

 

Hadirilah dan perbanyaklah doa di majelis-majelis ilmu. Dalam Hadis Qudsi, Allah ta’ala berfirman:

قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا، وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا

“Sungguh Aku telah mengampuni mereka (yang hadir di majelis ilmu). Maka Aku berikan kepada mereka apa yang mereka minta (Surga), dan Aku lindungi mereka dari Neraka.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/788446774638140:0

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

Bolehkah melagukan bacaan Alquran? Bagaimana keutamaannya?

Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin membawakan judul bab “Sunnahnya Memerindah Suara Ketika Membaca Alquran Dan Meminta Orang Lain Membacanya Karena Suaranya Yang Indah Dan Mendengarkannya.”

Beberapa dalil yang disebutkan oleh beliau berikut ini:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَىْءٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِىِّ أَنْ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ

“Allah tidak pernah mendengarkan sesuatu, seperti mendengarkan Nabi yang indah suaranya, melantunkan Alquran dan mengeraskannya.” [HR. Bukhari no. 5024 dan Muslim no. 792]

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

يَا أَبَا مُوسَى لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

“Wahai Abu Musa, sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud.” (HR. Bukhari no. 5048 dan Muslim no. 793).

Sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ mengatakan kepada Abu Musa:

لَوْ رَأَيْتَنِى وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ الْبَارِحَةَ لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

“Seandainya engkau melihatku, ketika aku mendengarkan bacaan Alquranmu tadi malam. Sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud” (HR. Muslim no. 793).

Dari Al Bara’ bin ‘Aazib, ia berkata:

سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ( وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ ) فِى الْعِشَاءِ ، وَمَا سَمِعْتُ أَحَدًا أَحْسَنَ صَوْتًا مِنْهُ أَوْ قِرَاءَةً

“Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ membaca dalam surat Isya surat Ath Thiin (Wath thiini waz zaituun), maka aku belum pernah mendengar suara yang paling indah daripada beliau, atau yang paling bagus bacaannya dibanding beliau.” [HR. Bukhari no. 7546 dan Muslim no. 464]

Beberapa faidah yang diambil dari beberapa hadis di atas:

1- Dibolehkan memerindah suara bacaan Alquran, dan perbuatan seperti itu tidaklah makruh. Bahkan memerindah suara bacaan Alquran itu disunnahkan.

2- Memerbagus bacaan Alquran memiliki pengaruh, yaitu hati semakin lembut, air mata mudah untuk menetes, anggota badan menjadi khusyu’, hati menyatu untuk menyimak. Beda bila yang dibacakan yang lain.

Itulah keadaan hati sangat suka dengan suara-suara yang indah. Hati pun jadi lari ketika mendengar suara yang tidak mengenakkan.

3- Diharamkan Alquran itu dilagukan, sehingga keluar dari kaidah dan aturan Tajwid, atau huruf yang dibaca tidak seperti yang diperintahkan. Pembacaan Alquran pun tidak boleh serupa dengan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan. Bentuk seperti itu diharamkan.

4- Termasuk bid’ah kala membaca Alquran, adalah membacanya dengan nada musik.

5- Disunnahkan mendengarkan bacaan Alquran yang sedang dibaca dan diam kala itu.

6- Disunnahkan membaca pada shalat ‘Isya’ dengan surat Qishorul mufashol seperti surat At Tiin.

Apa yang Dimaksud “Yataghonna bil Quran”?

Kata Imam Nawawi, bahwa Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah, juga kebanyakan ulama memaknakan dengan:

يُحَسِّن صَوْته بِهِ

“Memerindah suara ketika membaca Alquran.”

Namun bisa pula makna ‘Yataghonna bil Quran’ adalah mencukupkan diri dengan Alquran. Makna lain pula adalah menjaherkan Alquran. Demikian keterangan Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 6: 71.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
  • Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 472.
  • Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin, Dr. Musthofa Al Bugho dkk, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 209.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/10681-melagukan-Alquran-bolehkah.html

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

Pertanyaan:
Apa yang dimaksud melagukan bacaan Alquran? Katanya ada hadis yang menganjurkan melagukan Alquran.

Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Yang dimaksud melagukan bacaan Alquran adalah tahsin al-qiraah, memerindah bacaan Alquran. Bukan membaca dengan meniru lagu. (Baca: Membaca Alquran dengan Langgam Jawa: https://konsultasisyariah.com/24837-membaca-Alquran-dengan-langgam-jawa.html)

Ada beberapa hadis yang menganjurkan untuk memerindah bacaan Alquran. Di antaranya:

Hadis dari al-Barra bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ berpesan:

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

Hiasilah Alquran dengan suara kalian. [HR. Ahmad 18994, Nasai 1024, dan diShahihkan Syuaib al-Arnauth]

 

Kemudian hadis dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Siapa yang tidak memerindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari golongan kami.” [HR. Abu Daud 1469, Ahmad 1512 dan diShahihkan Syuaib al-Arnauth].

Ada beberapa keterangan yang disampaikan para ulama tentang makna ‘Yataghanna bil Qur’an’. Di antaranya adalah memerindah bacaan Alquran. Karena itu, hadis di atas dijadikan dalil anjuran memerbagus suara ketika membaca Alquran.

Imam an-Nawawi mengatakan:

أجمع العلماء رضي الله عنهم من السلف والخلف من الصحابة والتابعين ومن بعدهم من علماء الأمصار أئمة المسلمين على استحباب تحسين الصوت بالقرآن

“Para ulama Salaf maupun generasi setelahnya di kalangan para sahabat maupun tabiin, dan para ulama dari berbagai negeri mereka sepakat, dianjurkannya memerindah bacaan Alquran.” [Aat-Tibyan, hlm. 109]

Selanjutnya an-Nawawi menyebutkan makna hadis kedua:

قال جمهور العلماء معنى لم يتغن لم يحسن صوته،… قال العلماء رحمهم الله فيستحب تحسين الصوت بالقراءة ترتيبها ما لم يخرج عن حد القراءة بالتمطيط فإن أفرط حتى زاد حرفا أو أخفاه فهو حرام

Mayoritas ulama mengatakan: Makna ‘Siapa yang tidak Yataghanna bil Quran’ adalah siapa yang tidak memerindah suaranya dalam membaca Alquran. Para ulama juga mengatakan: Dianjurkan memerindah bacaan Alquran dan membacanya dengan urut, selama tidak sampai keluar dari batasan cara baca yang benar. Jika berlebihan sampai menambahi huruf atau menyembunyikan sebagian huruf, hukumnya haram. [At-Tibyan, hlm. 110]

Konsekuensi melagukan Alquran dengan dalam arti mengikuti irama lagu, bisa dipastikan dia akan memanjangkan bacaan atau menambahkan huruf, atau membuat samar sebagian huruf, karena tempo nada yang mengharuskan demikian. Dan ini semua termasuk perbuatan haram, sebagaimana keterangan an-Nawawi.

Makna yang benar untuk melagukan Alquran adalah melantunkannya dengan suara indah, membuat orang bisa lebih khusyu. Diistilahkan Imam as-Syafii dengan at-Tahazun (membuat sedih hati). [Sebagaimana dinyatakan al-Hafidz dalam Fathul Bari, Syarh Shahih Bukhari (9/70)].

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/24847-adakah-anjuran-melagukan-bacaan-Alquran.html

YANG TIDAK MELAGUKAN ALQURAN, TERCELAKAH?

Yang Tidak Melagukan Alquran, Tercelakah?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

YANG TIDAK MELAGUKAN ALQURAN, TERCELAKAH?

Kalau tidak membaguskan bacaan Alquran atau tidak melagukannya, apakah tercela? Apa syaratnya jika boleh melagukan Alquran?

Hadis berikut barangkali bisa jadi renungan. Dari Abu Lubababh Basyir bin ‘Abdul Mundzir radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Barang siapa yang tidak memerindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari golongan kami.” [HR. Abu Daud no. 1469 dan Ahmad 1: 175. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Kata Imam Nawawi, bahwa Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah juga kebanyakan ulama memaknakan ‘Yataghonna bil Qur’an’ adalah:

يُحَسِّن صَوْته بِهِ

“Memerindah suara ketika membaca Alquran.”

Sedangkan menurut Sufyan bin ‘Uyainah, yang dimaksud adalah mencukupkan diri dengan Alquran. Ada yang katakan pula, yang dimaksud adalah mencukupkan Alquran dari manusia. Ada pendapat lain pula yang menyatakan, mencukupkan diri dengan Alquran dari hadis dan berbagai kitab lainnya.

Al Qadhi ‘Iyadh menyatakan, bahwa sebenarnya ada dua pendapat yang dinukil dari Ibnu ‘Uyainah.

Adapun ulama Syafi’i dan yang sependapat dengannya menyatakan, bahwa yang dimaksud adalah memerindah dan memerbagus bacaan Alquran. Ulama Syafi’iyah berdalil dengan hadis lainnya:

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

“Baguskanlah suara bacaan Alquran kalian.” [HR. Abu Daud no. 1468 dan An Nasai no. 1016. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini Shahih].

Al Harawi menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan “Yataghonna bil Quran” adalah menjaherkan (mengeraskan) bacaannya.

Abu Ja’far Ath Thobari sendiri mengingkari pendapat yang menyatakan, bahwa yang dimaksud Yataghonna bil Quran adalah mencukupkan diri. Ath Thobari tidak menyetujuinya, karena bertentangan dengan makna bahasa dan maknanya itu sendiri.

Ada perbedaan pula dalam pemaknaan hadis lainnya: “Barang siapa yang tidak memerindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari golongan kami.” Pendapat yang lebih kuat, yang dimaksud “Yataghonna bil Qur’an” adalah membaguskan suara bacaan Alquran. Riwayat lain menguatkan maksud tersebut, “Yataghonna bil qur’an adalah mengeraskannya.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 71).

Adapun yang dimaksud dengan tidak termasuk golongan kami ,orang yang tidak memerindah bacaan Alquran adalah ditafsirkan dengan dua makna:

  • Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak membaguskan bacaan Alquran
  • Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak mencukupkan dengan Alquran dari selainnya. [‘Aunul Ma’bud, 4: 271].

Kalau kita lihat dari pendapat yang dikuatkan oleh Imam Nawawi sebelumnya, yang dimaksud adalah tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak membaguskan bacaan Alquran.

Namun aturan dalam melagukan Alquran harus memenuhi syarat berikut:

  • Tidak dilagukan dengan keluar dari kaidah dan aturan Tajwid.
  • Huruf yang dibaca tetap harus jelas sesuai yang diperintahkan.
  • Tidak boleh serupa dengan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan. [Lihat Bahjatun Nazhirin, 1: 472]

Wallahu a’lam. Wabillahit taufiq was sadaad.

 

Referensi:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
  • ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Abu ‘Abdirrahman Saroful Haqq Muhammad Asyrof Ash Shidiqi Al ‘Azhim Abadi, terbitan Darul Faiha’, cetakan pertama, tahun 1430 H.
  • Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

 

Sumber: https://rumaysho.com/10711-yang-tidak-melagukan-Alquran-tercelakah.html

,

SAUDARIKU, KAPANKAH ENGKAU SADAR, BAHWA DIRIMU ADALAH FITNAH (COBAAN) TERBESAR BAGIKU?

SAUDARIKU, KAPANKAH ENGKAU SADAR, BAHWA DIRIMU ADALAH FITNAH (COBAAN) TERBESAR BAGIKU?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#MutiaraSunnah

SAUDARIKU, KAPANKAH ENGKAU SADAR, BAHWA DIRIMU ADALAH FITNAH (COBAAN) TERBESAR BAGIKU?

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki, melebihi cobaan wanita.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid radhiyallahu’ahuma]

#Beberapa_Pelajaran:

1) Hadis yang mulia ini menegaskan, bahwa wanita adalah cobaan yang paling berbahaya bagi kaum lelaki. Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

وَفِي الْحَدِيثِ أَنَّ الْفِتْنَةَ بِالنِّسَاءِ أَشَدُّ مِنَ الْفِتْنَةِ بِغَيْرِهِنَّ وَيَشْهَدُ لَهُ قَوْلُهُ تَعَالَى زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ فَجَعَلَهُنَّ مِنْ حُبِّ الشَّهَوَاتِ وَبَدَأَ بِهِنَّ قَبْلَ بَقِيَّةِ الْأَنْوَاعِ إِشَارَةً إِلَى أَنَّهُنَّ الْأَصْلُ فِي ذَلِك

“Dalam hadis ini ada pelajaran, bahwa fitnah wanita lebih dahsyat daripada fitnah yang lainnya, dan itu dipersaksikan oleh firman Allah ta’ala:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini (syahwat), yaitu: wanita-wanita…” (Ali Imron: 14)

Maka Allah menjadikan para wanita bagian dari kecintaan lelaki terhadap syahwat. Dan Allah memulai dengan penyebutan wanita sebelum berbagai bentuk syahwat yang lain, sebagai isyarat, bahwa para wanita adalah pokok dalam hal tersebut.” [Fathul Baari, 9/138]

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menguasakannya kepada kalian. Lalu Allah melihat bagaimana kalian beramal. Maka berhati-hatilah terhadap cobaan dunia, dan berhati-hatilah terhadap cobaan wanita, karena fitnah (cobaan) pertama yang menimpa Bani Israil adalah pada wanita.” [HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu]

2) Wajib berhati-hati dan menjauhi fitnah wanita, tidak boleh merasa aman. Al-‘Allamah Al-Faqih Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

وإخبار النبي صلى الله عليه وسلم بذلك يريد به الحذر من فتنة النساء، وأن يكون الناس منها على حذر؛ لأن الإنسان بشر إذا عرضت عليه الفتن، فإنه يخشى عليه منها.

“Maksud pengabaran Nabi ﷺ dalam hadis ini adalah agar berhati-hati dari godaan wanita. Dan manusia hendaklah selalu waspada, karena manusia hanyalah orang biasa. Apabila diperhadapkan kepada cobaan maka dikhawatirkan ia akan terjerumus.” [Syarhu Riyadhus Shaalihin, 3/151]

3) Wajib menutup semua pintu fitnah dari kedua belah pihak, baik laki-laki maupun wanita, di antaranya:

  • Kaum lelaki diperintahkan menjaga pandangan,
  • Kaum wanita diperintahkan untuk berhijab; menutup aurat,
  • Dilarang bercampur baur antara lelaki dan wanita.

Baca Selengkapnya:

🌹 SAUDARIKU, KAPANKAH ENGKAU SADAR BAHWA DIRIMU ADALAH FITNAH (COBAAN) TERBESAR BAGIKU…?✅ Rasulullah shallallahu’…

Nai-post ni Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info noong Linggo, Marso 19, 2017

,

MENJAGA KEBERSIHAN ANAK [PARENTING NABAWI (2)]

MENJAGA KEBERSIHAN ANAK [PARENTING NABAWI (2)]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

#DakwahSunnah

MENJAGA KEBERSIHAN ANAK [PARENTING NABAWI (2)]

Kebersihan badan dan pakaian dari kotoran dan najis adalah sesuatu yang dituntut dalam Islam. Bahkan menjadi syarat untuk melakukan berbagai amalan ibadah utama seperti shalat.

Islam juga mensyariatkan penampilan terbaik, bersih, rapi, jauh dari kesan kumuh dan jorok.

Allah ta’ala memerintahkan hamba-Nya agar memerbagus penampilan saat pergi ke masjid. Allah ta’ala berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al- A’raf: 31)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini:

ولهذه الآية وما ورد في معناها من السنة يستحب التجمل عند الصلاة ولا سيما يوم الجمعة ويوم العيد والطيب لأنه من الزينة والسواك لأنه من تمام ذلك

“Berdasarkan ayat ini dan makna yang ditunjukkan oleh hadis-hadis Nabi ﷺ, dianjurkan bagi seseorang untuk memerindah diri (memerbagus penampilan), ketika shalat, terlebih bila di hari Jumat dan hari raya. Juga disunnahkan memakai wangi-wangian (bagi laki-laki), karena ini termasuk zinah (perhiasan) dan bersiwak, karena (dengan kebersihan gigi), penampilan semakin sempurna.”(Tafsir Ibnu Katsir)

Di ayat lain Allah ta’ala perintahkan:

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al Muddatstsir: 4)

Ibnu Sirin berkata:

أي غسلها بالماء

“Yaitu mencuci pakaian dengan air.” (Tafsir Ibnu Kastir)

Ayat-ayat di atas menunjukkan, bahwa Islam sangat menekankan kebersihan, kerapian dan keindahan. Namun sangat disayangkan, sebagian orangtua melalaikan kebersihan anak-anaknya. Baju mereka dibiarkan kotor, wajah dan rambut dibiarkan berdebu, belum lagi ingus bersampur debu dibiarkan begitu saja tanpa diseka, mengundang lalat bertengger di atas hidungnya. Ditambah aroma tak sedap dari air liur anak yang tidak dibersihkan. Orang tua seperti ini tidak memerhatikan perintah Rasulullah ﷺ, yang menganjurkan kebersihan badan dan pakaian.

Berikut beberapa kisah yang mengajarkan kepada kita, agar menjaga kebersihan anak-anak:

  1. Rasulullah ﷺ yang digelari pemimpin seluruh anak Adam, beliau berkenan membersihkan ingus Usamah bin Zaid, dan membersihkan kotoran yang menempel di luka Usamah.

At Tirimidzi meriwayatkan dengan sanad hasan, bahwa ‘Aisyah radhiyallahu’anha berkata:

أراد رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أن يمسح مخاط أسامة ، فقلت : دعني حتى أكون أنا التي أفعل . فقال : يا عائشة ، أحبيه ، فإني أحبه

“Saat Nabi bermaksud membersihkan ingus Usamah, saya (‘Aisyah) berkata: “Biar saya saja yang melakukannya.” Nabi berkata: “Wahai ’Aisyah, cintailah dia, karena aku pun mencintainya.”(HR. At Tirmidzi no. 3818)

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang Shahih Lighairihi, bahwa ‘Aisyah radhiyallahu’anha berkata:

عَثَرَ أُسَامَةُ بِعَتَبَةِ الْبَابِ فَشُجَّ فِي وَجْهِهِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( أَمِيطِي عَنْهُ الْأَذَى ) ، فَتَقَذَّرْتُهُ ، فَجَعَلَ يَمُصُّ عَنْهُ الدَّمَ وَيَمُجُّهُ عَنْ وَجْهِهِ ثُمَّ قَالَ : ( لَوْ كَانَ أُسَامَةُ جَارِيَةً لَحَلَّيْتُهُ وَكَسَوْتُهُ حَتَّى أُنَفِّقَهُ

“Ketika Usamah terbentur ambang pintu, wajahnya terluka. Lalu Rasulullah ﷺ berkata kepadaku: “Bersihkanlah lukanya.” Maka aku pun menyiapkannya. Lalu beliau menghisap darah yang keluar dari luka Usamah, kemudian meludah dan berkata: “Seandainya Usamah itu anak perempuan, pastilah aku akan memakaikan perhiasan dan pakaian yang indah, hingga ia menjadi terkenal.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 12356, Ahmad 6/139, 222)

  1. Begitu pula yang dilakukan Fathimah, pemimpin para wanita di Surga, juga membersihkan dan memandikan anaknya.

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata:

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طَائِفَةِ النَّهَارِ، لاَ يُكَلِّمُنِي وَلاَ أُكَلِّمُهُ، حَتَّى أَتَى سُوقَ بَنِي قَيْنُقَاعَ، فَجَلَسَ بِفِنَاءِ بَيْتِ فَاطِمَةَ، فَقَالَ «أَثَمَّ لُكَعُ، أَثَمَّ لُكَعُ» فَحَبَسَتْهُ شَيْئًا، فَظَنَنْتُ أَنَّهَا تُلْبِسُهُ سِخَابًا، أَوْ تُغَسِّلُهُ، فَجَاءَ يَشْتَدُّ حَتَّى عَانَقَهُ، وَقَبَّلَهُ وَقَالَ: «اللَّهُمَّ أَحْبِبْهُ وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّهُ»

“Di satu siang yang terik Rasulullah ﷺ (bersama saya) berangkat menuju suatu tempat. Beliau ﷺ tidak berbicara padauk, dan aku pun tidak berbicara kepada beliau ﷺ. Hingga kami tiba di pasar Bani Qainuqa’. Setelah itu beliau ﷺ duduk di halaman rumah Fathimah dan berkata: “Di mana anak-anak (Hasan dan Husein)?

Terlihat fathimah menahan anaknya yang bergegas menemui Rasulullah ﷺ. Saya (Abu Hurairah) mengira, Fathimah telah memakaian kalung atau memandikan anaknya. Lalu Hasan bergegas menemui Rasulullah ﷺ dan Rasulullah ﷺ langsung memeluk dan menciumnya seraya bersabda: “ Ya Allah, cintailah anak ini, dan orang yang mencintainya.” (HR. Bukhari no 2122 dan Muslim no. 2422)

Semoga sedikit ulasan ini bermanfaat, agar kita para orangtua, terlebih ibu, selalu berusaha dengan segala keterbatasannya, untuk menghadirkan hati, meluruskan niat dan tujuan kita, dalam setiap interaksi dengan anak-nak. Momen-momen penuh pahala jangan dilewatkan begitu saja, seperti saat saat memandikan anak-anak, mencuci baju, menyetrika, menyisir rambut mereka, memakaikan pakaian, menabur bedak dan aktivitas lainnya.

Apa yang kita lakukan tersebut bukan semata-mata tuntutan profesionalitas seorang ibu, akan tetapi lebih dari itu, kita niatkan dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan sunnah Rasulullah ﷺ.

Meskipun aktivitas di atas terlihat remeh dan sepele, namun jika kita niatkan dengan niat yang benar, niscaya akan berpahala besar dan melimpah. Wallahu waliyyuttaufiq.

 

****

Penyusun: Ummu Fatimah Abdul Mu’ti

Sumber:

Tarbiyatul Abna’ (terj), Syaikh Musthafa Al Adawi, Media Hidayah.

Tafsir Ibnu Katsir via Quran Android.

Artikel Wanitasalihah.Com

 

Sumber: http://wanitasalihah.com/parenting-nabawi-2-menjaga-kebersihan-anak/

 

,

APAKAH TABARRUJ DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

APAKAH TABARRUJ DAN BAGAIMANA HUKUMNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

APAKAH TABARRUJ DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

Makna Tabarruj

Tabarruj adalah apabila perempuan menampakkan perhiasan atau kecantikannya, dan hal-hal yang indah dari dirinya kepada laki-laki yang bukan mahramnya. Jadi perempuan yang ber-tabarruj adalah perempuan yang menampakkan wajahnya. Sehingga bila ada perempuan yang menampakkan atau memerlihatkan kecantikan wajah dan lehernya, maka dikatakan perempuan itu ber-tabarruj. (Lihat Lisanul Arab Oleh Ibnu Manzhur: 3/33).

Tabarruj adalah perkara haram, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil dari Alquran dan Sunnah Rasulullah ﷺ.

Dan juga kaum Muslimin sepakat tentang haramnya Tabarruj, sebagaimana yang dinukil oleh Al-’Allamah Ash-Shon’any dalam Hasyiyah Minhatul Ghoffar ‘Ala Dhau`in Nahar 4/2011, 2012. Lihat: kitab Hirasyatul Fadhilah hal.92 (cet.ke 7).

Berikut ini dalil-dalil yang menunjukkan tentang haramnya tabarruj:

Satu: Allah Rabbul ‘Izzah berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 33:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu bertabarruj dengan tabarruj orang-orang Jahiliyah yang dahulu”.

Berkata Imam Al-Qurtuby tentang ayat ini: “Ayat ini adalah perintah untuk tetap berdiam/tinggal di rumah. Dan sekalipun yang diperintah dalam ayat ini adalah para istri nabi ﷺ, namun secara makna termasuk pula selain dari istri-istri nabi”. (Lihat Tafsir Al-Qurthuby: 14/179 ).

Berkata Mujahid tentang makna “Tabarrujal Jahiliyah”: “Perempuan yang keluar dan berjalan di depan laki-laki, maka itulah yang dimaksud dengan “Tabarrujal Jahiliyah”.(Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 3/482 dan Ahkamul Qur`an Oleh Al-Jashshas: 3/360).

Berkata Muqatil Bin Hayyan tentang makna “Tabarrujal Jahiliyah”: “Tabarruj adalah perempuan yang melepaskan Khimar (tutup kepala) dari kepalanya sehingga terlihat kalung, anting-anting dan lehernya”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 3/482-483).

Dan Qatadah berkata dalam menafsirkan ayat “Dan janganlah kamu bertabarruj dengan tabarruj orang-orang Jahiliyah yang dahulu”: “Perempuan yang berjalan dengan bergoyang dan bergaya. Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang perempuan mealakukan itu”. (Lihat Ahkamul Qur`an  Oleh Al-Jashshas: 3/360 dan Fathul Bayan: 7/391).

Adapun makna tabarruj dalam Tafsir Al-Alusi 21/8 yakni: “Perempuan yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya, yang seharusnya tidak dinampakkan”.

Sementara Abu Ubaidah dalam menafsirkan makna Tabarruj: ” Perempuan yang menampakkan kecantikan yang dapat membangkitkan syahwat laki-laki, maka itulah yang dimaksud Tabarruj“. (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir: 3/33 ).

Dua: Firman Allah Ta’ala:

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung), yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) untuk tabarruj dengan (menampakkan) perhiasan. Dan menjaga kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. An-Nur: 60)

Maksud dari “Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka”, yaitu pakaian yang zahir yang menutupi muka dan telapak tangan. Demikian dalam kitab Hirasyatul Fadhilah hal.54 (cet.ke 7).

Kalau para perempuan tua dengan kreteria yang tersebut dalam ayat tidak boleh ber-tabarruj, apalagi para perempuan yang masih muda. Wallahul Musta’an.

Tiga: Firman Allah Jalla wa ‘Ala:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَائِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung”.(QS. An-Nur: 31)

Empat: Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسُ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُؤْوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا.

“Dua golongan dari penduduk Neraka yang saya belum pernah melihatnya sebelumnya: Kaum yang memunyai cambuk-cambuk seperti ekor-ekor sapi untuk memukul manusia dengannya, dan para perempuan yang berpakaian tapi telanjang, berjalan berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk onta. Mereka tidaklah masuk Surga, dan tidak (pula) menhirup baunya, padahal baunya dihirup dari jarak begini dan begini”.

Berkata Imam An-Nawawy dalam Syarah Muslim (14/110) dalam menjelaskan makna “Berpakaian tapi telanjang”, yaitu mereka berpakaian, tetapi hanya menutup sebagian badannya, dan menampakkan sebagian yang lain, untuk memerlihatkan kecantikan dirinya. Atau memakai pakaian tipis sehingga menampakkan kulit badannya”.

Dan Syaikh Bin Bazz Rahimahullah dalam Majmu‘ah Ar-Rosa`il Fil Hijab Wa Ash-Shufur hal.52: “Dalam Hadis ini ada ancaman yang sangat keras bagi yang melakukan perbuatan tabarruj, membuka wajah dan memakai pakaian yang tipis. Ini terbukti dari ancaman Rasulullah ﷺ terhadap pelakunya, bahwa mereka diharamkan masuk Surga”.

Tabarruj termasuk Dosa Besar

Imam Adz-Dzahaby rahimahullah menggolongkan tabarruj termasuk dari dosa-dosa besar. Beliau berkata dalam kitab Al-Kaba`ir hal. 146-147: “Termasuk perbuatan-perbuatan yang menyebabkan terlaknatnya seorang perempuan, bila ia menampakkan perhiasan emas dan permata yang berada di bawah cadarnya, memakai wangi-wangian bila keluar rumah dan yang lainnya. Semuanya itu termasuk dari tabarruj yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala membencinya, dan membenci pula pelakunya di dunia dan di Akhirat. Dan perbuatan inilah yang banyak dilakukan oleh kaum perempuan, sehinga Nabi ﷺ bersabda tentang para perempuan, bahwa: “Aku menengok ke dalam Neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah perempuan”. Dan bersabda Nabi ﷺ:

مَا تَرَكْتُ بِعْدِيْ فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Saya tidaklah meninggalkan suatu fitnah setelahku yang paling berbahaya atas kaum lelaki, daripada fitnah perempuan”.

Dan dari bahaya fitnah perempuan terhadap laki-laki, yakni keluarnya perempuan dari rumah-rumah mereka dalam keadaan ber-tabarruj, karena hal itu dapat menjadi sebab bangkitnya syahwat laki-laki, dan terkadang hal itu membawa kepada perbuatan yang tidak senonoh. (Lihat: Al-Mufashshol Fii Ahkamil Mar`ah: 3/416).

 

Dari uraian di atas, telah jelas bahwa tabarruj yang dilarang adalah tabarruj yang dilakukan bila keluar rumah. Adapun bila perempuan tersebut berhias di rumahnya dan menampakkan perhiasan dan kecantikan kepada suaminya, maka hal ini tidak mengapa, dan tidak berdosa, bahkan agama memerintahkan hal tersebut.

Akibat-Akibat Yang Ditimbulkan dari Fitnah Ikhtilath dan Tabarruj

Ikhtilath adalah jalan dan sarana yang mengantar kepada segala bentuk perzinahan, yakni zina menyentuh, melihat dan mendengar. Dan zina yang paling keji adalah zina kemaluan, yang mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengancam pelakunya dalam surah Al-Furqan ayat 68-69 dan surah Al-Isra` ayat 32. (Lihat: Ahkamun Nisa` 4/357).

Ikhtilath dan Tabarruj menyebabkan perkelahian dan peperangan di antara kaum Muslimin. Hal ini disebabkan karena dalam ikhtilath terjadi kedengakian dan kebencian,  serta permusuhan di antara laki-laki, karena memerebutkan perempuan. Atau sebaliknya terjadi kedengkian, kebencian dan permusuhan antara perempuan, karena memerebutkan laki-laki. (Lihat: Ahkamun Nisa` 4/355-357).

Ikhtilath dan Tabarruj menyebabkan perempuan tidak punya harga diri, sebab ketika bercampur dengan laki-laki, maka perempuan tersebut dapat dipandang dan dilihat oleh laki-laki, sekedar untuk dinikmati. Ibarat boneka yang hanya dilihat dari kecantikan raut muka dan keindahannya. (Lihat Majmu‘ah Ar-Rosa`il Fil Hijab Wa Ash-Shufur oleh Lajnah Da`imah hal. 119).

Ikthilath dan Tabarruj menyebabkan hilangnya rasa malu pada diri perempuan, yang mana hal itu adalah ciri keimanan dalam dirinya. Karena ketika terjadi ikhtilath dan tabarruj, maka perempuan tidak lagi memunyai rasa malu dalam menampakkan auratnya. (Lihat Risalatul Hijab oleh Syeikh Al-’Utsaimin hal. 65).

Ikhtilath dan Tabarruj menyebabkan ketundukan dan keterikatan pria yang sangat besar terhadap perempuan yang dia kenal dan dilihatnya. Dan hal inilah yang menyebabkan kerusakan besar pada diri laki-laki, sampai membawanya kepada perbuatan yang kadang tergolong kedalam kesyirikan. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا تَرَكْتُ بِعْدِيْ فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Saya tidaklah meninggalkan suatu fitnah setelahku yang paling berbahaya atas kaum lelaki, daripada fitnah perempuan”.

Perbuatan ikhtilath dan tabarruj adalah perbuatan yang menyerupai perilaku orang-orang kafir dari Yahudi dan Nasrani, karena hal itu adalah kebiasaan-kebiasaan mereka. Sedangkan Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari golongan mereka”.

(Lihat perkataan sekelompok ulama dalam kitab Majmu’ Rosa`il  hal. 52).

 

 

Penulis: Al-Ustadz Abul Fadhl Shobaruddin Bin Arif hafizhahulla

Sumber:

Majalah An-Nashihah Vol.5 (www.an-nashihah.com)

 

,

APAKAH IKHTILATH DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

APAKAH IKHTILATH DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

APAKAH IKHTILATH DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

Makna Ikhtilath

Makna ikhtilath secara bahasa adalah bercampurnya sesuatu dengan sesuatu yang lain (Lihat: Lisanul ‘Arab 9/161-162).

 

Adapun maknanya secara syari, yaitu percampurbauran antara laki-laki dan perempuan yang tidak ada hubungan mahram pada tempat. (Lihat: Al-Mufashshol Fii Ahkamil Mar`ah: 3/421 dan Al-Mar`atul Muslimah Baina Ijtihadil Fuqoha` wa Mumarosat Al-Muslimin hal. 111).

Hukum Ikhtilath

Hukum ikhtilath adalah haram berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut:

Satu: Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surah Al-Ahzab ayat 33:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu”.

Berkata Imam Al-Qurthuby dalam menafsirakan ayat ini: “Makna ayat ini adalah perintah untuk tetap berdiam atau tinggal di rumah, walaupun yang diperintah dalam ayat ini adalah para istri Nabi ﷺ, namun secara makna masuk pula selain dari istri-istri beliau ﷺ“. (Lihat Tafsirul Qurthuby: 4/179).

 

Dan Ibnu Katsir berkata tentang makna ayat ini: “Tinggallah kalian di rumah-rumah kalian. Janganlah kalian keluar, kecuali bila ada keperluan”.

Dua: Firman Allah ‘Azza Wa Jalla dalam surah Al-Isra` ayat 32:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا

“Dan janganlah kalian mendekati zina”.

Larangan dalam ayat ini dengan konteks “Jangan kalian mendekati” menunjukkan, bahwa Alquran telah mengharamkan zina, begitu pula pendahuluan-pendahuluan yang dapat mengantar kepada perbuatan zina, serta sebab-sebabnya secara keseluruhan seperti melihat, ikhtilath, berkhalwat, tabarruj dan lain-lain”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/39).

Tiga: Hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang dikeluarkan oleh Abu Daud dengan sanad yang Hasan dari seluruh jalan-jalannya, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَمْنَعُوْا نِسَائَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kalian melarang para perempuan kalian (untuk menghadiri) masjid, dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”.

Dan dengan lafazh yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Imam Muslim dari hadis Ibnu ‘Umar pula, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ.

“Janganlah kalian melarang hamba-hamba Allah yang perempuan (untuk menghadiri) masjid-masjid Allah.

Hadis ini menjelaskan tentang tidak wajibnya perempuan menghadiri sholat jamaah bersama laki-laki di masjid. Ini berarti boleh bagi perempuan untuk menghadiri sholat jamaah di masjid, akan tetapi rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka. Dan para ulama fuqaha` sepakat tentang tidak wajibnya hal tersebut. Dan sebagian dari mereka memakruhkan untuk perempuan muda. Adapun untuk perempuan yang telah tua, maka mereka membolehkannya. Dan yang rojih adalah hukumnya boleh. (Lihat: Al-Mufashshol Fii Ahkamil Mar`ah: 3/424).

Berkata Imam An-Nawawy dalam Syarah Shohih Muslim (2/83): “Ini menunjukkan bolehnya perempuan ke masjid untuk menghadiri sholat jamaah, tentunya bila memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh syariat. Di antaranya tidak keluar dengan menggunakan wangi-wangian, tidak berpakaian yang menyolok, dan termasuk di dalamnya tidak bercampur atau ikhtilath dengan laki-laki yang bukan mahramnya”.

Empat: Hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha yang dikeluarkan oleh Imam Bukhary, beliau berkata:

اسْتَأْذَنْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ: جِهَادُكُنَّ الْحَجُّ.

“Saya meminta izin kepada Nabi ﷺ untuk berjihad, maka Rasulullah ﷺ bersabda: Jihad kalian adalah berhaji”.

Berkata Ibnu Baththal dalam Syarahnya, sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bary (6/75-76): “Hadis ini menjelaskan, bahwa jihad tidak diwajibkan bagi perempuan. Hal ini disebabkan, karena perempuan apabila berjihad, maka tidak akan mampu menjaga dirinya, dan juga akan terjadi percampur bauran antara laki-laki dan perempuan”.

Lima: Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّه‍َا أَوَّلُهَا.

“Sebaik-baik shafff laki-laki adalah yang paling depan, dan sejelek-jeleknya adalah yang paling belakang. Dan sebaik-baik shaff perempuan adalah yang paling belakang, dan sejelek-jeleknya adalah yang paling awal”.

Berkata Imam An-Nawawy dalam Syarah Shohih Muslim: “Bahwa sesungguhnya shaff perempuan yang paling baik adalah yang paling belakang, dan shaff laki-laki yang paling baik adalah yang paling awalnya. Hal ini dikarenakan agar keadaan shaff perempuan dan shaff laki-laki saling menjauh, sehingga tidak terjadi ikhtilath, dan saling memandang satu dengan yang lainnya”.

Berkata Ash-Shon’any dalam Subulus Salam: “Dalam hadis ini menjelaskan sebab sunnahnya shafff perempuan berada di belakang shafff laki-laki, agar supaya keadaan tempat perempuan dan laki-laki dalam sholat saling menjauh, sehingga tidak terjadi ikhtilath di antara mereka”.

Berkata Asy-Syaukany dalam Nailul Authar (3/189): “Penyebab kebaikan shafff perempuan berada di belakang shafff laki-laki adalah karena tidak terjadi iktilath antara mereka”.

Enam: Hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha yang dikeluarkan oleh Imam Bukhary, beliau berkata:

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّيْ الصُّبْحَ بِغَلَسٍ فَيَنْصَرِفْنَ نِسَاءُ الْمُؤْمِنِيْنَ لَا يُعْرَفْنَ مِنْ الْغَلَسِ أَوْ لَا يَعْرِفُ بَعْضُهُنَّ بَعْضًا.

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ sholat Subuh pada saat masih gelap. Maka para perempuan kaum mukminin kembali, dan mereka tidak dikenali karena gelap, atau sebagian mereka tidak mengenal sebagian yang lain”.

Hadis ini menjelaskan disunnahkannya bagi perempuan keluar dari masjid lebih dahulu daripada laki-laki ketika selesai shalat jamaah, agar supaya tidak terjadi ikhtilath, saling pandang memandang atau hal-hal yang tidak dibenarkan oleh syariat.

Hal serupa dijelaskan pula dalam hadis Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha riwayat Imam Bukhary, beliau berkata:

أَنَّ النِّسَاءَ فِيْ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ كُنَّ إِذَا سَلَّمْنَ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ قُمْنَ وَثَبَتَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَمَنْ صَلَّى مِنَ الرِّجَالِ مَا شَاءَ اللهُ فَإِذَا قَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ قَامَ الرِّجَالُ.

“Sesungguhnya para perempuan di zaman Rasulullah ﷺ, bila mereka salam dari sholat wajib, maka mereka berdiri dan Rasulullah ﷺ dan orang yang sholat bersama beliau dari kalangan laki-laki tetap di tempat mereka, selama waktu yang diinginkan oleh Allah. Bila Rasulullah ﷺ berdiri, maka para lelaki juga berdiri”.

Berkata Asy-Syaukany dalam Nailul Authar (2/315): “Dalam hadis ini terdapat hal yang menjelaskan tentang dibencinya ikhtilath antara laki-laki dan perempuan dalam perjalanan, dan hal ini lebih terlarang lagi ketika ikhtilath terjadi dalam suatu tempat”.

Berkata Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny (2/560): “Jika dalam jamaah sholat terdapat laki-laki dan perempuan, maka di sunnahkan bagi laki-laki untuk tidak meninggalkan tempat, sampai perempuan keluar meninggalkan jamaah. Sebab kalau tidak, maka hal ini dapat membawa pada ikhtilath“.

Tujuh: Hadis Jabir Bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma riwayat Imam Bukhary, beliau berkata:

قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ فَصَلَّى فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ ثُمَّ خَطَبَ فَلَمَّا فَرَغَ نَزَلَ فَأَتَى النِّسَاءَ فَذَكَّرَهُنَّ.

“Rasulullah ﷺ berdiri pada hari Idul Fitri untuk sholat. Maka beliau ﷺ pun memulai dengan sholat, kemudian berkhutbah. Tatkala beliau ﷺ selesai, beliau ﷺ turun, lalu mendatangi para perempuan, kemudian memeringati (baca: menasihati) mereka”.

Berkata Al-Hafizh dalam Al-Fath (2/466): “Perkataan “Kemudian beliau ﷺ mendatangi para perempuan” menunjukkan, bahwa tempat perempuan terpisah dari tempat laki-laki, tidak dalam keadaan ikhtilath“.

Berkata Imam An-Nawawy dalam Syarah Shohih Muslim (2/535): “Hadis ini menjelaskan, bahwa perempuan-perempuan, apabila menghadiri sholat jamaah di mana jamaah tersebut dihadiri pula oleh laki-laki, maka tempat perempuan berpisah dari tempat laki-laki. Hal ini untuk menghindari fitnah, saling memandang dan berbicara”.

Beberapa Masalah Seputar Ikhtilath

1. Hukum belajar di sekolah-sekolah dan universitas yang terjadi ikhtilath di dalamnya.

Berkata Syaikh Ibnu Jibrin sebagaimana dalam Fatawa Fii An-Nazhor Wal Khalwat Wal Ikhtilath hal. 23: “Kami menasihatkan pada seorang Muslim yang ingin menyelamatkan dan menjauhkan dirinya dari sebab-sebab kerusakan dan fitnah, tidak ada keraguan, bahwa sesungguhnya ikhtilath di sekolah-sekolah adalah penyebab terjadinya kerusakan dan pengantar terjadinya perzinahan”.

Berkata Syaikh Al Utsaimin sebagaimana dalam kitab yang sama hal. 26: “Pendapat saya, sesungguhnya tidak boleh bagi setiap orang, baik laki-laki dan perempuan, untuk belajar di sekolah-sekolah yang terjadi ikhtilath di dalamnya, disebabkan karena bahaya besar akan mengancam kesucian dan akhlak mereka. Tidak ada keraguan, bahwa orang yang bagaimana pun sucinya dan memunyai akhlak yang tinggi, bagaimana pun bila di samping kursinya ada perempuan, terlebih lagi bila perempuannya canti, lalu menampakkan kecantikannya, maka sangat sedikit yang bisa selamat dari fitnah dan kerusakan. Oleh karena itu, segala yang membawa kepada kerusakan dan fitnah adalah haram”.

Berkata Syaikh Ibnu Bazz sebagaimana dalam kitab yang sama pula hal. 10: “Barang siapa yang mengatakan boleh Ikhtilath di sekolah-sekolah dan yang lainnya, dengan alasan bahwa perintah berhijab hanya khusus untuk istri-istri Rasulullah ﷺ, maka perkataan ini jauh dari petunjuk serta menyelisihi Alquran dan Sunnah yang telah menunjukkan hukum hijab berlaku umum, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”.

Dan juga kita ketahui, bahwa Rasulullah ﷺ diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk seluruh manusia tanpa kecuali, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan”.

Dan para sahabat yang mereka adalah sebaik-baik manusia dalam keimanan dan takwa dan sebaik-baik zaman, di masanya ternyata masih di perintahkan untuk berhijab, demi kesucian hati-hati mereka. Maka tentu orang-orang yang setelah mereka lebih membutuhkan, dan lebih harus berhijab, untuk menucikan hati-hati mereka, karena mereka berada pada zaman fitnah dan kerusakan”.

2. Hukum Bekerja Di Tempat yang Terjadi Ikhtilath di Dalamnya

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin sebagaimana dalam Fatawa Fii An-Nazhor Wal Khalwat Wal Ikhtilat hal.44: “Pendapat saya, yakni tidak boleh Ikhtilath antara laki-laki dan perempuan, baik di instansi negeri maupun swasta, karena ikhtilath adalah penyebab terjadinya banyak kerusakan”.

Berkata para Ulama yang tergolong dalam Lajnah Daimah:: “Adapun hukum bekerja di tempat yang (terdapat) ikhtilath adalah haram, karena ikhtilath adalah penyebab kerusakan yang terjadi pada manusia”.

Berkata Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah dalam kitab Musyarakatul Mar`ah Lir Rijal Fii Midan ‘Amal hal. 7: “Bekerjanya perempuan di tempat yang terdapat laki-laki di dalamnya adalah perkara yang sangat berbahaya. Dan di antara penyebab besar munculnya kerusakan, adalah disebabkan karena ikhtilath, yang mana hal itu merupakan jalan-jalan yang paling banyak menyebabkan terjadinya perzinahan”.

 

Penulis: Al-Ustadz Abul Fadhl Shobaruddin Bin Arif hafizhahullah

Sumber: http://an-nashihah.com/?p=329

,

APA ITU KHALWAT DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

APA ITU KHALWAT DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

APA ITU KHALWAT DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

Pengertian Khalwat

Khalwat adalah seorang laki-laki berada bersama perempuan yang bukan mahramnya, dan tidak ada orang ketiga bersamanya. (Lihat Al-Mar`atul Muslimah Baina Ijtihadil Fuqoha` wa Mumarosat Al-Muslimin  hal. 111).

Khalwat adalah perkara yang DIHARAMKAN dalam agama ini, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil – dalil. Di antara  dalil-dali itu adalah sebagai berikut:

Satu: Hadis ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Bukhary-Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ.

“Hati-hati kalian terhadap masuk (bertemu) dengan para perempuan. Maka berkata seorang lelaki dari Anshar: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu dengan Al-Hamwu. Beliau berkata: “Al-Hamwu  adalah maut”.

Imam Muslim mengeluarkan dengan sanad yang shohih dari Al-Lais bin Sa’ad, Ahli Fikih negeri Mesir rahimahullah. Beliau berkata: “Al–Hamwu adalah saudara laki-laki suami dan yang serupa dengannya dari kerabat sang suami; anak paman dan yang semisalnya”.

Berkata Imam Nawawi: “Sepakat ahli bahasa, bahwa makna Al–Hamwu adalah kerabat suami sang istri seperti bapaknya, ibunya, saudara laki-lakinya, anak saudara laki-lakinya, anak pamannya dan yang semisalnya”.

Kemudian Imam An-Nawawy berkata: “Dan yang diinginkan dengan Al-Hamwu di sini (dalam hadis di atas,-pent.) adalah kerabat suami selain bapak-bapaknya dan anak-anaknya. Adapun bapak-bapak dan anak-anaknya, mereka adalah mahram bagi istrinya, boleh bagi mereka ber-khalwat dengannya dan tidaklah mereka disifatkan sebagai maut”. Baca: Syarah Shohih Muslim 14/154.

Adapun sabda Rasulullah ﷺ: “Al-Hamwu  adalah maut”, ada beberapa penjelasan dari para ‘ulama tentang maksudnya:

Maksudnya bahwa ber-khalwat dengan Al-Hamwu akan mengantar kepada kehancuran agama seseorang, yaitu dengan terjatuhnya kedalam maksiat, atau mengantar kepada mati itu sendiri, yaitu apabila ia melakukan maksiat dan mengakibatkan ia dihukum rajam. Atau bisa kehancuran bagi perempuan itu sendiri, yaitu ia akan diceraikan oleh suaminya, bila sebab kecemburaannya.

Berkata Ath-Thobary: “Maknanya adalah seorang lelaki ber-khalwat dengan istri saudara laki-lakinya atau (istri) anak saudara laki-lakinya, kedudukannya seperti kedudukan maut, dan orang Arab menyifatkan sesuatu yang tidak baik dengan maut”.

Ibnul ‘A’raby menerangkan, bahwa orang Arab kalau berkata: “Singa adalah maut”, artinya berjumpa dengan singa adalah maut, yaitu hati-hatilah kalian dari singa, sebagaimana kalian hati-hati dari maut.

Berkata pengarang Majma’ Al-Ghora’ib: “Yaitu tidak boleh seorang pun ber-khalwat dengannya kecuali maut”.

Berkata Al-Qodhi ‘Iyadh: “Maknanya bahwa ber-khalwat dengan Al-Hamwu adalah pengantar kepada fitnah dan kebinasaan”.

Berkata Al-Qurthuby: “Maknanya bahwa masuknya kerabat suami (bertemu) dengan istrinya, menyerupai maut dalam jeleknya dan rusaknya, yaitu hal tersebut diharamkan (dan) dimaklumi pengharamannya”.

Lihat: Fathul Bary 9/332 karya Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Syarah Shohih Muslim karya Imam An-Nawawy 14/154.

Dua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma riwayat Bukhary, Rasulullah ﷺ berkata:

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ امْرَأَتِيْ خَرَجَتْ حَاجَّةً وَاكْتُتِبْتُ فِيْ غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا قَالَ ارْجِعْ فَحَجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ.

“Janganlah  seorang laki-laki ber-khalwat dengan perempuan, kecuali bersama mahramnya. Maka berdirilah seorang lelaki lalu berkata: “Wahai Rasulullah, istriku keluar untuk haji dan saya telah terdaftar di perang ini dan ini”. Beliau ﷺ berkata: “Kembalilah engkau, kemudian berhajilah bersama istrimu”.

Berkata Al -Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathur Bari (4/ 32 – 87): “Hadis ini menunjukkan pengharaman khalawat antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang tidak semahram, dan hal ini disepakati oleh para ‘ulama dan tidak ada khilaf didalamnya”.

Tiga: Nabi ﷺ bersabda:

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ.

“Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan perempuan, karena yang ketiga bersama mereka adalah setan”. (Dishohihkan oleh Syeikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah no. 430).

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/490 setelah tentang disyariatkannya melihat kepada perempuan yang dipinang, beliau menjelaskan beberapa hukum yang berkaitan dengannya, di antaranya beliau berkata: “Dan tidak boleh ber-khalwat dengannya, karena khalwat adalah haram, dan tidak ada dalam syariat (pembolehan), selain dari melihat, karena dengan khalwat itu tidak ada jaminan tidak terjatuh ke dalam hal yang terlarang”.

 

Empat: Hadis Jabir yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا لَا يَبِيْتَنَّ رَجُلٌ عِنْدَ امْرَأَةٍ ثَيِّبٍ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ نَاكِحًا أَوْ ذَا مَحْرَمٍ.

“Janganlah seorang laki-laki bermalam di tempat seorang janda, kecuali ia telah menjadi suaminya atau sebagai mahramnya”.

Imam An-Nawawi berkata dalam Syarah Shohih Muslim (14/153): “Hadis ini dan hadis-hadis setelahnya (menunjukkan) haramnya ber-khalwat dengan perempuan ajnabiyah (bukan mahram) dan (menunjukkan) bolehnya ber-khalwat dengan siapa yang merupakan mahramnya. Dan dua perkara ini disepakai (d ikalangan para ‘ulama,-pent.)”.

Dan perlu diketahui, bahwa pengharaman khalawat tersebut adalah berlaku umum, baik itu di rumah maupun di luar rumah, serta tempat yang lainnya. Lihat Al-Mufashshol Fii Ahkamil Mar`ah (3/ 422).

Lima: Hadis ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ.

“Perempuan itu adalah aurat. Kalau dia keluar, maka dibuat agung/indah oleh setan”. (HR. At-Tirmidzi no. 1173 dan lain-lainnya dan dishohihkan oleh Syeikh Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shohih).

 

Penulis: Al-Ustadz Abul Fadhl Shobaruddin Bin Arif hafizhahullah

Sumber: http://an-nashihah.com/?p=329

 

, ,

ISLAM SEMUANYA MEMBAWA KEBAIKAN DAN KEMUDAHAN

ISLAM SEMUANYA MEMBAWA KEBAIKAN DAN KEMUDAHAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

ISLAM SEMUANYA MEMBAWA KEBAIKAN DAN KEMUDAHAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

‏«إن الإسلام لم يطلب منكم أمرًا يشق عليكم ولا أمرا تفوت به مصالحكم، بل هو نفسه مصالح وخيرات وأنوار وبركات، فتمسكوا به»

“Sesungguhnya Islam tidak menuntut dari kalian sebuah perkara pun yang akan memberatkan kalian, dan tidak pula sebuah perkara yang akan menelantarkan maslahat kalian. Bahkan Islam itu sendiri merupakan maslahat, kebaikan, cahaya, dan keberkahan. Karena itu, maka hendaklah kalian berpegang teguh dengannya.” [Adh-Dhiya’ul Lami’, jilid 1 hlm. 447].

Sumber || https://twitter.com/imamothaimeen/status/797433698954215424?s=08

Instagram, Twitter & Telegram Channel: @JakartaMengaji

 

Sumber:https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/657506281096800/?type=3&theater