Posts

AMAT DISAYANGKAN, BANYAK SEDEKAH HANYA UNTUK MEMERLANCAR REZEKI

AMAT DISAYANGKAN, BANYAK SEDEKAH HANYA UNTUK MEMERLANCAR REZEKI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahTauhid

AMAT DISAYANGKAN, BANYAK SEDEKAH HANYA UNTUK MEMERLANCAR REZEKI

Alhamdullillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu Robbunaa wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

Itulah yang sering kita lihat pada umat Islam saat ini. Mereka memang gemar melakukan puasa sunnah (yaitu puasa Senin-Kamis dan lainnya), namun semata-mata hanya untuk menyehatkan badan, sebagaimana saran dari beberapa kalangan. Ada juga yang gemar sekali bersedekah, namun dengan tujuan untuk memerlancar rezeki dan karir. Begitu pula ada yang rajin bangun di tengah malam untuk bertahajud, namun tujuannya hanyalah ingin menguatkan badan. Semua yang dilakukan memang suatu amalan yang baik. Tetapi niat di dalam hati senyatanya tidak ikhlash karena Allah, namun hanya ingin mendapatkan tujuan-tujuan duniawi semata. Kalau memang demikian, mereka bisa termasuk orang-orang yang tercela, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut.

Dengan amalan saleh hanya mengharap keuntungan dunia, sungguh akan sangat merugi. Allah ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16)

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memeroleh di Akhirat, kecuali Neraka, dan lenyaplah di Akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud [11] : 15-16)

Yang dimaksud dengan “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia” yaitu, barang siapa yang menginginkan kenikmatan dunia dengan melakukan amalan Akhirat.

Yang dimaksud “Perhiasan dunia” adalah harta dan anak.

Mereka yang beramal seperti ini: “Niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”. Maksudnya adalah mereka akan diberikan dunia yang mereka inginkan. Ini semua diberikan bukan karena mereka telah berbuat baik, namun semata-mata akan membuat terlena dan terjerumus dalam kebinasaan karena rusaknya amalan mereka. Dan juga mereka tidak akan pernah yubkhosuun, yaitu dunia yang diberikan kepada mereka tidak akan dikurangi. Ini berarti mereka akan diberikan dunia yang mereka cari seutuhnya (sempurna).

Dunia mungkin saja mereka peroleh. Dengan banyak melakukan amalan saleh, boleh jadi seseorang akan bertambah sehat, rezeki semakin lancar dan karir terus meningkat.  Dan itu senyatanya yang mereka peroleh dan Allah pun tidak akan mengurangi hal tersebut sesuai yang Dia tetapkan. Namun apa yang mereka peroleh di Akhirat?

Lihatlah firman Allah selanjutnya (yang artinya): “Itulah orang-orang yang tidak memeroleh di Akhirat, kecuali Neraka”. Inilah akibat orang yang hanya beribadah untuk mendapat tujuan dunia saja. Mereka memang di dunia akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Adapun di Akhirat, mereka tidak akan memeroleh pahala, karena mereka dalam beramal tidak menginginkan Akhirat. Ingatlah, balasan Akhirat hanya akan diperoleh oleh orang yang mengharapkannya. Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al Israa’: 19)

Orang-orang seperti ini juga dikatakan: “Lenyaplah di Akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. Ini semua dikarenakan mereka dahulu di dunia beramal tidak ikhlas untuk mengharapkan wajah Allah, sehingga ketika di Akhirat, sia-sialah amalan mereka. (Lihat penjelasan ayat ini di I’aanatul Mustafid, 2/92-93)

Sungguh betapa banyak orang yang melaksanakan shalat malam, puasa sunnah dan banyak sedekah, namun itu semua dilakukan hanya bertujuan untuk menggapai kekayaan dunia, memerlancar rezeki, umur panjang, dan lain sebagainya.

Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu- menafsirkan surat Hud ayat 15-16. Beliau –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan: “Sesungguhnya orang yang riya’, mereka hanya ingin memeroleh balasan kebaikan yang telah mereka lakukan, namun mereka minta segera dibalas di dunia.”

Ibnu ‘Abbas juga mengatakan: “Barang siapa yang melakukan amalan puasa, shalat atau shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Namun amalannya akan sia-sia (lenyap) di Akhirat nanti, karena mereka hanya ingin mencari dunia. Di Akhirat mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.” Perkataan yang sama dengan Ibnu ‘Abbas ini juga dikatakan oleh Mujahid, Adh Dhohak dan selainnya.

Qotadah mengatakan: “Barang siapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan salehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun ketika di Akhirat, dia tidak akan memeroleh kebaikan apa-apa sebagai balasan untuknya. Adapun seorang Mukmin yang ikhlash dalam beribadah (yang hanya ingin mengharapkan wajah Allah), dia akan mendapatkan balasan di dunia, juga dia akan mendapatkan balasan di Akhirat.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, tafsir surat Hud ayat 15-16)

Hanya Beramal untuk Menggapai Dunia, Tidak Akan Dapat Satu Bagian Pun di Akhirat

Kenapa seseorang beribadah dan beramal hanya ingin menggapai dunia? Jika seseorang beramal untuk mencari dunia, maka dia memang akan diberi. Jika shalat tahajud, puasa Senin-Kamis yang dia lakukan hanya ingin meraih dunia, maka dunia memang akan dia peroleh dan tidak akan dikurangi. Namun apa akibatnya di Akhirat? Sungguh di Akhirat dia akan sangat merugi. Dia tidak akan memeroleh balasan di Akhirat disebabkan amalannya, yang hanya ingin mencari-cari dunia.

Namun bagaimana dengan orang yang beramal dengan ikhlash, hanya ingin mengharap wajah Allah? Di Akhirat dia akan memeroleh pahala yang berlipat ganda.

Allah ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di Akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya. Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di Akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)

Ibnu Katsir –rahimahullah- menafsirkan ayat di atas: “Barang siapa yang mencari keuntungan di Akhirat, maka Kami akan menambahkan keuntungan itu baginya, yaitu Kami akan kuatkan, beri nikmat padanya, karena tujuan Akhirat yang dia harapkan. Kami pun akan menambahkan nikmat padanya, dengan Kami balas setiap kebaikan dengan sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat, hingga kelipatan yang begitu banyak sesuai dengan kehendak Allah. … Namun jika yang ingin dicapai adalah dunia dan dia tidak punya keinginan menggapai Akhirat sama sekali, maka balasan Akhirat tidak akan Allah beri, dan dunia pun akan diberi sesuai dengan yang Allah kehendaki. Dan jika Allah kehendaki, dunia dan Akhirat sekaligus tidak akan dia peroleh. Orang seperti ini hanya merasa senang dengan keinginannya saja, namun barangkali Akhirat dan dunia akan lenyap seluruhnya dari dirinya.”

Ats Tsauri berkata, dari Mughiroh, dari Abul ‘Aliyah, dari Ubay bin Ka’ab -radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan:

بشر هذه الأمة بالسناء والرفعة والدين والتمكين في الأرض فمن عمل منهم عمل الآخرة للدنيا لم يكن له في الآخرة من نصيب

“Umat ini diberi kabar gembira dengan kemuliaan, kedudukan, agama dan kekuatan di muka bumi. Barang siapa dari umat ini yang melakukan amalan Akhirat untuk meraih dunia, maka di Akhirat dia tidak mendapatkan satu bagian pun.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, Al Hakim dan Al Baihaqi. Al Hakim mengatakan sanadnya Shahih. Syaikh Al Albani menshahihkan hadis ini dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib)

Terdapat pula riwayat dalam Al Baihaqi, Rasulullah ﷺ bersabda:

بشر هذه الأمة بالتيسير والسناء والرفعة بالدين والتمكين في البلاد والنصر فمن عمل منهم بعمل الآخرة للدنيا فليس له في الآخرة من نصيب

“Umat ini diberi kabar gembira dengan kemudahan, kedudukan dan kemulian dengan agama dan kekuatan di muka bumi, juga akan diberi pertolongan. Barang siapa yang melakukan amalan Akhirat untuk mencari dunia, maka dia tidak akan memeroleh satu bagian pun di Akhirat.”

Tanda Seseorang Beramal Untuk Tujuan Dunia

Al Bukhari membawakan hadis dalam Bab “Siapa Yang Menjaga Diri dari Fitnah Harta”.

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah ﷺ bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ ، وَالدِّرْهَمِ ، وَالْقَطِيفَةِ ، وَالْخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ

“Celakalah hamba Dinar, Dirham, Qothifah dan Khomishoh. Jika diberi, dia pun rida. Namun jika tidak diberi, dia tidak rida. Dia akan celaka, dan akan kembali binasa.” (HR. Bukhari).  Qothifah adalah sejenis pakaian yang memiliki beludru. Sedangkan khomishoh adalah pakaian yang berwarna hitam dan memiliki bintik-bintik merah. (I’aanatul Mustafid, 2/93)

Kenapa dinamakan hamba Dinar, Dirham dan pakaian yang mewah? Karena mereka yang disebutkan dalam hadis tersebut beramal untuk menggapai harta-harta tadi, bukan untuk mengharap wajah Allah. Demikianlah sehingga mereka disebut hamba Dinar, Dirham dan seterusnya. Adapun orang yang beramal karena ingin mengharap wajah Allah semata, mereka itulah yang disebut hamba Allah (sejati).

Di antara tanda bahwa mereka beramal untuk menggapai harta-harta tadi, atau ingin menggapai dunia disebutkan dalam sabda Nabi ﷺ selanjutnya: “Jika diberi, dia pun rida. Namun jika tidak diberi, dia pun tidak rida (murka). Dia akan celaka dan kembali binasa”. Hal ini juga yang dikatakan kepada orang-orang munafik, sebagaimana dalam firman Allah:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS. At Taubah: 58)

Itulah tanda seseorang dalam beramal hanya ingin menggapai tujuan dunia. Jika dia diberi kenikmatan dunia, dia rida. Namun, jika kenikmatan dunia tersebut tidak kunjung datang, dia akan murka dan marah. Dalam hatinya seraya berujar: “Sudah sebulan saya merutinkan shalat malam, namun rezeki dan usaha belum juga lancar.” Inilah tanda orang yang selalu berharap dunia dengan amalan salehnya.

Adapun seorang Mukmin, jika diberi nikmat, dia akan bersyukur. Sebaliknya, jika tidak diberi, dia pun akan selalu sabar. Karena orang Mukmin, dia akan beramal bukan untuk mencapai tujuan dunia. Sebagian mereka bahkan tidak menginginkan mendapatkan dunia sama sekali. Diceritakan bahwa sebagian sahabat tidak rida jika mendapatkan dunia sedikit pun. Mereka pun tidak mencari-cari dunia, karena yang selalu mereka harapkan adalah negeri Akhirat. Semua ini mereka lakukan untuk senantiasa komitmen dalam amalan mereka, agar selalu timbul rasa harap pada kehidupan Akhirat. Mereka sama sekali tidak menyukai untuk disegerakan balasan terhadap kebaikan yang mereka lakukan di dunia.

Akan tetapi, barang siapa diberi dunia tanpa ada rasa keinginan sebelumnya, dan tanpa ada rasa tamak terhadap dunia, maka dia boleh mengambilnya. Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadis dari ‘Umar bin Khottob:

قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُعْطِينِى الْعَطَاءَ فَأَقُولُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّى. حَتَّى أَعْطَانِى مَرَّةً مَالاً فَقُلْتُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « خُذْهُ وَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ فَخُذْهُ وَمَا لاَ فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ ».

“Rasulullah ﷺ memberikan suatu pemberian padaku.” Umar lantas mengatakan: “Berikan saja pemberian tersebut pada orang yang lebih butuh (lebih miskin) dariku. Sampai beberapa kali, beliau tetap memberikan harta tersebut padaku.” Umar pun tetap mengatakan: “Berikan saja pada orang yang lebih butuh (lebih miskin) dariku.” Rasulullah ﷺ pun bersabda: “Ambillah harta tersebut dan harta yang semisal dengan ini, di mana engkau tidak merasa mulia dengannya, dan sebelumnya engkau pun tidak meminta-mintanya. Ambillah harta tersebut. Selain harta semacam itu (yang di mana engkau punya keinginan sebelumnya padanya), maka biarkanlah, dan janganlah hatimu bergantung padanya.”  (HR. Bukhari dan Muslim).

Sekali lagi, begitulah orang beriman. Jika dia diberi nikmat atau pun tidak, amalan salehnya tidak akan pernah berkurang. Karena orang Mukmin sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Adapun orang yang selalu mengharap dunia dengan amalan salehnya, dia akan bersikap berbeda. Jika dia diberi nikmat, baru dia rida. Namun, jika dia tidak diberi, dia akan murka dan marah. Dia rida karena mendapat kenikmatan dunia. Sebaliknya, dia murka karena kenikmatan dunia yang tidak kunjung menghampirinya, padahal dia sudah gemar melakukan amalan saleh. Itulah sebabnya orang-orang seperti ini disebut hamba dunia, hamba Dinar, hamba Dirham dan hamba pakaian.

Beragamnya Niat dan Amalan Untuk Menggapai Dunia

Niat seseorang ketika beramal ada beberapa macam:

[Pertama] Jika niatnya adalah murni untuk mendapatkan dunia ketika dia beramal, dan sama sekali tidak punya keinginan mengharap wajah Allah dan kehidupan Akhirat. Maka orang semacam ini di Akhirat tidak akan mendapatkan satu bagian nikmat pun. Perlu diketahui pula, bahwa amalan semacam ini tidaklah muncul dari seorang Mukmin. Orang Mukmin walaupun lemah imannya, dia pasti selalu mengharapkan wajah Allah dan negeri Akhirat.

[Kedua] Jika niat seseorang adalah untuk mengharap wajah Allah dan untuk mendapatkan dunia sekaligus, entah niatnya untuk kedua-duanya sama atau mendekati, maka semacam ini akan mengurangi tauhid dan keikhlasannya. Amalannya dinilai memiliki kekurangan karena keikhlasannya tidak sempurna.

[Ketiga] Adapun jika seseorang telah beramal dengan ikhlas, hanya ingin mengharap wajah Allah semata, akan tetapi di balik itu dia mendapatkan upah atau hasil yang dia ambil untuk membantunya dalam beramal (semacam mujahid yang berjihad lalu mendapatkan harta rampasan perang, para pengajar dan pekerja yang menyokong agama yang mendapatkan upah dari negara setiap bulannya), maka tidak mengapa mengambil upah tersebut. Hal ini juga tidak mengurangi keimanan dan ketauhidannya, karena semula dia tidak beramal untuk mendapatkan dunia. Sejak awal dia sudah berniat untuk beramal saleh dan menyokong agama ini, sedangkan upah yang dia dapatkan adalah di balik itu semua, yang nantinya akan menolong dia dalam beramal dan beragama. (Lihat Al Qoulus Sadiid, 132-133)

Adapun amalan yang seseorang lakukan untuk mendapatkan balasan dunia ada dua macam:

[Pertama] Amalan yang tidak disebutkan di dalamnya balasan dunia. Namun seseorang melakukan amalan tersebut untuk mengharapkan balasan dunia, maka semacam ini tidak diperbolehkan bahkan termasuk kesyirikan.

Misalnya: Seseorang melaksanakan shalat Tahajud. Dia berniat dalam hatinya bahwa pasti dengan melakukan shalat malam ini, anaknya yang akan lahir nanti adalah laki-laki. Ini tidak dibolehkan, karena tidak ada satu dalil pun yang menyebutkan, bahwa dengan melakukan shalat Tahajud akan mendapatkan anak laki-laki.

[Kedua] Amalan yang disebutkan di dalamnya balasan dunia. Contohnya adalah silaturrahim dan berbakti kepada kedua orang tua. Semisal silaturrahim, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa senang untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturrahim (hubungan antar kerabat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang melakukan amalan semacam ini, namun hanya ingin mengharapkan balasan dunia saja dan tidak mengharapkan balasan Akhirat, maka orang yang melakukannya telah terjatuh dalam kesyirikan. Namun jika dia melakukannya tetap mengharapkan balasan Akhirat dan dunia sekaligus, juga dia melakukannya dengan ikhlas, maka ini tidak mengapa dan balasan dunia adalah sebagai tambahan nikmat untuknya, karena syariat telah menunjukkan adanya balasan dunia dalam amalan ini.

Perbedaan dan Kesamaan Beramal untuk Meraih Dunia dengan Riya’

Syaikh Muhammad At Tamimi –rahimahullah- membawakan pembahasan ini dalam Kitab Tauhid pada Bab “Termasuk Kesyirikan, Seseorang Beribadah Untuk Mencari Dunia”. Beliau –rahimahullah- membawakannya setelah membahas riya’. Kenapa demikian?

Riya’ dan beribadah untuk mencari dunia. Keduanya sama-sama adalah amalan hati dan terlihat begitu samar, karena tidak nampak di hadapan orang banyak. Namun keduanya termasuk amalan kepada selain Allah ta’ala. Ini berarti keduanya termasuk kesyirikan yaitu syirik khofi (syirik yang samar).  Keduanya memiliki perbedaan. Riya’ adalah beramal agar dilihat oleh orang lain, dan ingin tenar dengan amalannya. Sedangkan beramal untuk tujuan dunia adalah banyak melakukan amalan seperti shalat, puasa, sedekah dan amalan saleh lainnya, dengan tujuan untuk mendapatkan balasan segera di dunia, semacam mendapat rezeki yang lancar dan lainnya.

Tetapi perlu diketahui, para ulama mengatakan, bahwa amalan seseorang untuk mencari dunia lebih nampak hasilnya daripada riya’. Alasannya, kalau seseorang melakukan amalan dengan riya’, maka jelas dia tidak mendapatkan apa-apa. Namun, untuk amalan yang kedua, dia akan peroleh kemanfaatan di dunia. Akan tetapi keduanya tetap saja termasuk amalan yang membuat seseorang merugi di hadapan Allah ta’ala. Keduanya sama-sama bernilai syirik dalam niat maupun tujuan. Jadi kedua amalan ini memiliki kesamaan dari satu sisi dan memiliki perbedaan dari sisi yang lain.

Kenapa Engkau Tidak Ikhlas Saja dalam Beramal?

Sebenarnya jika seseorang memurnikan amalannya hanya untuk mengharap wajah Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya dunia pun akan menghampirinya, tanpa mesti dia cari-cari. Namun jika seseorang mencari-cari dunia, dan dunia yang selalu menjadi tujuannya dalam beramal, memang benar dia akan mendapatkan dunia, tetapi sekadar yang Allah takdirkan saja. Ingatlah ini!!

Semoga sabda Nabi ﷺ bisa menjadi renungan bagi kita semua:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barang siapa yang niatnya adalah untuk menggapai Akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai. Dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barang siapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Lihat penjelasan hadis ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7/139)

Marilah kita ikhlaskan selalu niat kita ketika kita beramal. Murnikanlah semua amalan hanya untuk menggapai rida Allah. Janganlah niatkan setiap amalanmu hanya untuk meraih kenikmatan dunia semata. Ikhlaskanlah amalan tersebut pada Allah, niscaya dunia juga akan engkau raih. Yakinlah hal ini …!!

Semoga Allah selalu memerbaiki akidah dan setiap amalan kaum Muslimin. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka ke jalan yang lurus.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala wa alihi wa shohbihi wa sallam.

 

Rujukan:

  • Al Qoulus Sadiid Syarh Kitab At Tauhid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Wizarotusy syu’un Al Islamiyyah wal Awqof wad Da’wah wal Irsyad-Al Mamlakah Al ‘Arobiyah As Su’udiyah.
  • I’aanatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Saleh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan.
  • At Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid, Saleh bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh, Daar At Tauhid.
  • Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurosyi Ad Dimasyqi, Tahqiq: Saami bin Muhammad Salamah, Dar Thobi’ah Lin Nasyr wat Tauzi’.
  • Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jaami’it Tirmidzi, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdirrahim Al Mubarakfuriy Abul ‘Alaa, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut.

 

 

****

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel https://rumaysho.com]

 

Sumber: https://rumaysho.com/641-amat-disayangkan-banyak-sedekah-hanya-untuk-memerlancar-rezeki.html

,

IKHLAS LILLAH

IKHLAS LILLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

IKHLAS LILLAH

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله :

“Tidak hilang fitnah dari hati, kecuali jika agama hamba itu sepenuhnya hanya untuk Allah ﷻ.” [Al-Fatawa (10/601)]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

, ,

TIGA AMALAN PEMBERSIH HATI

TIGA AMALAN PEMBERSIH HATI

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

TIGA AMALAN PEMBERSIH HATI

Rasulullah ﷺ bersabda:

ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

“Tiga hal yang tidak akan dibenci oleh hati seorang Muslim:
1. Mengikhlaskan amalan karena Allah,
2. Menasihati pemerintah kaum Muslimin,
3. Menetapi jamaah kaum Muslimin.
Karena sesungguhnya, mendoakan pemerintah kaum Muslimin akan menjadi pagar yang melindungi dari belakang mereka.” [HR. At-Tirmidzi, Asy-Syafi’i dan lain-lain dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Bahjatu Qulubil Abrar: 97]

Al-imam Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata:

أي لا يبقى في القلب غل ولا يحمل الغل مع هذه الثلاثة، بل تنفي عنه غله، وتنقيه منه، وتخرجه منه، فإن القلب يغل على الشرك أعظم غل. وكذلك يغل على الغش، وعلى خروجه عن جماعة المسلمين بالبدعة والضلال. فهذه الثلاثة تملؤه غلا ودغلا. ودواء هذا الغل واستخراج أخلاطه، بتجريد الإخلاص والنصح، ومتابعة السنة

Makna hadis ini adalah, tidak akan tersisa kebencian, dan tidak akan mengandungnya, apabila terdapat tiga perkara ini. Karena tiga perkara ini akan menghilangkannya, membersihkannya dan mengeluarkannya dari hati:

  • Karena hatinya akan membenci kesyirikan dengan sebesar-besarnya kebencian,
  • Membenci sifat khianat kepada pemerintah,
  • Membenci sikap keluar dari jamaah kaum Muslimin, yaitu membenci perbuatan bid’ah dan kesesatan.

Inilah tiga perkara yang akan memenuhi hati dengan kebencian dan kerusakan. Maka obat penyakit ini, dan solusi untuk mengeluarkan semuanya, adalah dengan tiga perkara:

  • Merealisasikan keikhlasan dalam ibadah,
  • Menasihati pemerintah,
  • Mengikuti Sunnah. [Bahjatu Qulubil Abrar, hal. 198]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/798087000340784:0

Simak Penjelasan Lebih Detail Insya Allah ta’ala:
https://www.youtube.com/watch?v=BDaG9xNW2zY

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus
#VideoKajian
#KajianSunnah

 

TIGA SYARAT AGAR AMAL IBADAH KITA DITERIMA ALLAH

TIGA SYARAT AGAR AMAL IBADAH KITA DITERIMA ALLAH

TIGA SYARAT AGAR AMAL IBADAH KITA DITERIMA ALLAH

Pertanyaan:

Apa saja syarat-syarat diterimanya amalan?

Jawaban:

Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullahu ta’ala menjawab:

Syarat-syarat diterimanya di sisi Allah ada tiga:

  • Pertama, beriman dan bertauhid kepada Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلاً

“Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan shalih, untuk merekalah surga-surga Firdaus.” [QS. Al Kahfi: 107]

Rasulullah ﷺ bersabda:

قُلْ أَمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

“Katakan, ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian istiqamah-lah.” [HR. Muslim]

  •  Kedua, ikhlas. Yaitu, beramal untuk Allah tanpa riya’ [1] dan sum’ah[2]. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ

“Maka, ibadahilah Allah dengan ikhlas untuk-Nya dalam [menjalankan] agama.” [QS. Az Zumar: 2]

  • Ketiga, sesuai dengan apa yang datang dari Rasulullah ﷺ. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Dan apa-apa yang datang kepada kalian dari Rasulullah, maka ambillah. Dan apa-apa yang beliau larang darinya untuk kalian, maka jauhilah.” [QS. Al Hasyr: 7]

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَادٌّ

“Siapa saja yang mengerjakan amalan yang tidak kami contohkan, maka amalannya tertolak.” [HR. Muslim]

 

RUJUKAN: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu. Hudz ‘Aqidatak min Al Kitab wa As Sunnah Ash Shahihah. TTp: TP. TTh, halaman 9.

Catatan Kaki

  • [1] Beramal agar dilihat orang [penerj.]
  • [2] Beramal agar orang-orang membicarakannya [penerj.]

 

Sumber: http://dakwahislam.net/tiga-syarat-agar-amal-ibadah-diterima-allah/

,

IBADAH PUASA LANGSUNG DIHITUNG SENDIRI OLEH ALLAH, KARENA ALLAH SENDIRILAH YANG AKAN MEMBALASNYA

IBADAH PUASA LANGSUNG DIHITUNG SENDIRI OLEH ALLAH, KARENA ALLAH SENDIRILAH YANG AKAN MEMBALASNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

IBADAH PUASA LANGSUNG DIHITUNG SENDIRI OLEH ALLAH, KARENA ALLAH SENDIRILAH YANG AKAN MEMBALASNYA

>> Pahala Puasa untuk Allah

Ingatlah puasa itu memiliki keistimewaan dibanding amalan lainnya. Amalan lainnya akan kembali untuk manusia, yaitu dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan hingga lebih dari itu. Namun tidak untuk amalan puasa. Amalan tersebut, Allah khususkan untuk diri-Nya. Sehingga pahala puasa pun bisa tak terhingga pahalanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya, disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka, dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” [HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151]

Pahala Puasa yang Tak Terhingga

Setiap amalan akan dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan yang semisal. Kemudian dikecualikan amalan puasa. Amalan puasa tidaklah dilipatgandakan seperti tadi. Amalan puasa TIDAK DIBATASI lipatan pahalanya. Oleh karena itu, amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan.

Kenapa bisa demikian? Ibnu Rajab Al Hambali, semoga Allah merahmati beliau mengatakan: ”Karena orang yang menjalani puasa berarti menjalani kesabaran”. Mengenai ganjaran orang yang bersabar, Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [QS. Az Zumar: 10]

Sabar itu ada tiga macam, yaitu:

  • (1) Sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah,
  • (2) Sabar dalam meninggalkan yang haram dan
  • (3) Sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan.

Ketiga macam bentuk sabar ini, semuanya terdapat dalam amalan puasa. Dalam puasa tentu saja di dalamnya ada bentuk melakukan ketaatan. Di dalamnya ada pula menjauhi hal-hal yang diharamkan. Begitu juga dalam puasa seseorang berusaha bersabar dari hal-hal yang menyakitkan seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak terhingga, sebagaimana sabar.

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Kajian Ramadhan 4: Pahala Puasa untuk Allah” yang ditulis oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://muslim.or.id/17313-kajian-ramadhan-4-pahala-puasa-untuk-allah.html

BERUNTUNGLAH ORANG YANG MENINGGALKAN SYAHWAT DI HADAPANNYA

BERUNTUNGLAH ORANG YANG MENINGGALKAN SYAHWAT DI HADAPANNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

BERUNTUNGLAH ORANG YANG MENINGGALKAN SYAHWAT DI HADAPANNYA

Dalam amalan puasa terdapat bentuk meninggalkan berbagai macam syahwat yang tidak kita jumpai pada amalan lainnya.

Jika seseorang telah melakukan ini semua, seperti meninggalkan hubungan badan dengan istri dan meninggalkan makan-minum ketika puasa, dan dia meninggalkan itu semua karena Allah, padahal tidak ada yang memerhatikan apa yang dia lakukan tersebut selain Allah, maka ini menunjukkan benarnya iman orang yang melakukan semacam ini.

Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Rajab:
“Inilah yang menunjukkan benarnya iman orang tersebut.”

Orang yang melakukan puasa seperti itu selalu menyadari, bahwa dia berada dalam pengawasan Allah, meskipun dia berada sendirian. Dia telah mengharamkan melakukan berbagai macam syahwat yang dia sukai. Dia lebih suka menaati Rabb-nya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena takut pada siksaan dan selalu mengharap ganjaran-Nya.

Sebagian salaf mengatakan: “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya, karena mengharap janji Rabb-nya yang tidak nampak di hadapannya”.

Oleh karena itu, Allah membalas orang yang melakukan puasa seperti ini dan Dia pun mengkhususkan amalan puasa tersebut untuk-Nya, dibanding amalan-amalan lainnya.

Sumber: [Muslim.Or.Id]

,

KENAPA PUASA DIKHUSUSKAN DALAM FIRMAN ALLAH TA’ALA (HADIS QUDSI): “PUASA UNTUKKU DAN AKU YANG AKAN MEMBALASNYA”

KENAPA PUASA DIKHUSUSKAN DALAM FIRMAN ALLAH TA’ALA (HADIS QUDSI): "PUASA UNTUKKU DAN AKU YANG AKAN MEMBALASNYA"

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

KENAPA PUASA DIKHUSUSKAN DALAM FIRMAN ALLAH TA’ALA (HADIS QUDSI): “PUASA UNTUKKU DAN AKU YANG AKAN MEMBALASNYA”

>> Mengapa Allah subhanahu wa ta’ala mengkhususkan balasan puasa dari-Nya?

Diriwayatkan oleh Bukhari, 1761 dan Muslim, 1946 dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah berfirman: ‘Semua amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”

Ketika semua amal untuk Allah dan Dia yang akan membalasnya, maka para ulama berbeda pendapat dalam firman-Nya: “Puasa untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”

Mengapa puasa dikhususkan?

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah telah menyebutkan sepuluh alasan dari perkataan para ulama yang menjelasakan makna hadis dan sebab pengkhususan puasa dengan keutamaan ini. Alasan yang paling kuat adalah sebagai berikut:

1. Bahwa puasa tidak terkena riya sebagaimana (amalan) lainnya terkena riya. Al-Qurtuby rahimahullah berkata: “Ketika amalan-amalan yang lain dapat terserang penyakit riya, maka puasa tidak ada yang dapat mengetahui amalan tersebut kecuali Allah. Maka Allah sandarkan puasa kepada Diri-Nya. Oleh karena itu dikatakan dalam hadis: ‘Meninggalkan syahwatnya karena diri-Ku.’ Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata: ‘Semua ibadah terlihat amalannya. Dan sedikit sekali yang selamat dari godaan (yakni terkadang bercampur dengan sedikit riya). Berbeda halnya dengan puasa.

  1. Maksud dari ungkapan ‘Aku yang akan membalasnya’, adalah bahwa pengetahuan tentang kadar pahala dan pelipatan kebaikannya hanya Allah yang mengetahuinya. Al-Qurtuby rahimahullah berkata: ‘Artinya bahwa amalan-amalan telah terlihat kadar pahalanya untuk manusia. Bahwa ia akan dilipatgandakan dari sepuluh sampai tujuh ratus kali, sampai sekehendak Allah. Kecuali puasa, maka Allah sendiri yang akan memberi pahala tanpa batasan. Hal ini dikuatkan dari periwayatan Muslim, 1151 dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

( كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ )

“Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah azza wa jallah berfirman: ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.”

Yakni “Aku akan memberikan pahala yang banyak tanpa menentukan kadarnya.” Hal ini seperti firman Allah ta’ala: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [QS. Az-Zumar: 10]

  1. Makna ungkapan ‘Puasa untuk-Ku’, maksudnya adalah, bahwa dia termasuk ibadah yang paling Aku cintai dan paling mulia di sisi-Ku. Ibnu Abdul Bar berkata: “Cukuplah ungkapan ‘Puasa untuk-Ku’ menunjukkan keutamaannya dibandingkan ibadah-ibadah lainnya. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i, 2220 dari Abu Umamah rahdiallahu anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Hendaklah kalian berpuasa, karena tidak ada yang menyamainya.” [Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Nasai]
  1. Penyandaran di sini adalah penyandaran kemuliaan dan keagungan. Sebagaimana diungkapkan ‘Baitullah (rumah Allah)’, meskipun semua rumah milik Allah. Az-Zain bin Munayyir berkata: “Pengkhususan pada teks keumuman seperti ini tidak dapat dipahami, melainkan untuk pengagungan dan pemuliaan.”

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Hadis yang agung ini menunjukkan akan keutamaan puasa dari beberapa sisi:

Pertama: Sesungguhnya Allah khususkan puasa untuk diri-Nya dari amalan-amalan lainnya. Hal itu karena keutamaannya di sisi-Nya, cintanya padanya dan tampak keikhlasan padanya untuk-Nya subhanahu. Karena puasa merupakan rahasia seorang hamba dengan Tuhannya. Tidak ada yang melihatnya kecuali Allah. Karena orang yang berpuasa, di tempat yang sepi, mungkin baginya mengonsumsi apa yang diharamkan oleh Allah. (Akan tetapi) dia tidak mengonsumsikannya, karena dia mengetahui punya Tuhan yang melihat di tempat yang sunyi. Dan Dia telah mengharamkan hal itu. Maka dia tinggalkan karena takut akan siksa-Nya, serta berharap pahala dari-Nya. Maka, Allah berterimakasih akan keikhlasan ini, dengan mengkhususkan puasa untuk diri-Nya dibandingkan amalan-amalan lainnya.

Oleh karena itu (Allah) berfirman: “Dia meninggalkan syahwat dan makanannya karena diri-Ku”

Keistimewaan ini akan terlihat nanti di Hari Kiamat, sebagaimana yang dikatakan oleh Sofyan bin Uyainah rahimahullah: “Ketika Hari Kiamat, Allah akan menghisab hamba-Nya. Dan mengembalikan tanggungan dari kezalimannya dari seluruh amalnya. Sampai ketika tidak tersisa kecuali puasa, maka Allah yang akan menanggung sisa kezaliman, dan dia dimasukkan Surga karena puasanya.”

Kedua: Allah berfirman dalam puasa “Dan Aku yang akan membalasnya.” Maka balasannya disandarkan kepada diri-Nya yang Mulia. Karena amalan-amalan saleh akan dilipatgandakan pahalanya dengan bilangan. Satu kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali sampai berlipat-lipat. Sementara puasa, maka Allah sandarkan pahalanya kepada diri-Nya, TANPA ADA KADAR BILANGAN. Maka Dia subhanahu adalah zat yang paling dermawan dan paling mulia. Pemberian sesuai dengan apa yang diberikannya. Maka pahala orang puasa sangat besar tanpa batas. Puasa adalah sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari yang diharamkan Allah dan sabar terhadap takdir Allah yang menyakitkan dari lapar, haus dan lemahnya badan serta jiwa. Maka terkumpul di dalamnya tiga macam kesabaran. Maka layak orang puasa termasuk golongan orang-orang sabar. Sementara Allah telah berfirman: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [QS. Az-Zumar: 10]

[Majalis Syahru Ramadan, hal. 13]

Wallahu’alam.

 

Sumber: https://islamqa.info/id/50388

,

PUASA TIDAK TERKENA RIYA DI DALAMNYA

PUASA TIDAK TERKENA RIYA DI DALAMNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi

PUASA TIDAK TERKENA RIYA DI DALAMNYA

Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah berfirman: ‘Semua amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” [Diriwayatkan oleh Bukhari, 1761 dan Muslim, 1946 dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu]

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya, disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka, dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” [HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151]

Bahwa puasa tidak terkena riya sebagaimana (amalan) lainnya terkena riya. Al-Qurtuby rahimahullah berkata: “Ketika amalan-amalan yang lain dapat terserang penyakit riya, maka puasa tidak ada yang dapat mengetahui amalan tersebut kecuali Allah. Maka Allah sandarkan puasa kepada Diri-Nya. Oleh karena itu dikatakan dalam hadis: ‘Meninggalkan syahwatnya karena diri-Ku.’ Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata: ‘Semua ibadah terlihat amalannya. Dan sedikit sekali yang selamat dari godaan (yakni terkadang bercampur dengan sedikit riya). Berbeda halnya dengan puasa.

 

Sumber:

https://islamqa.info/id/50388

 

BERUSAHA UNTUK IKHAS DALAM BERAMAL

BERUSAHA UNTUK IKHAS DALAM BERAMAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

BERUSAHA UNTUK IKHAS DALAM BERAMAL

Definisi Ikhlas

Pengertian Ikhlas Menurut Bahasa

Akar kata Ikhlas dalam bahasa Arab adalah “خلص” , “يخلص”, “خلوصا”

yang jika dalam bahasa Indonesia bermakna : kesucian, kebeningan dan tanpa ada campuran sedikit pun.

Menurut istilah Syar’i (Islam), yang dimaksud dengan makna ikhlas itu ialah mengerjakan ibadah atau kebajikan karena Allah semata-mata dan mengharapkan keridaan-Nya.

Di dalam Alquran, Allah mengibaratkan ikhlas itu laksana susu yang bersih-mumi, yang enak rasanya apabila diminum, bahkan yang dapat menyehatkan dan menyegarkan badan manusia. Allah berfirman:

وَإِنَّ لَكُمْ فِى ٱلْأَنْعَٰمِ لَعِبْرَةً نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِى بُطُونِهِۦ مِنۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَآئِغًا لِّلشَّٰرِبِينَ

Dan sesungguhnya tentang kehidupan binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih, antara tahi dan darah, yang mudah dan sedap ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. [QS An-Nahl 16:66]

Pada ayat ini, Allah memberikan contoh tentang ikhlas itu laksana susu murni binatang ternak. Sebelum menjadi susu murni, yaitu tatkala masih berada dalam perut binatang, susu itu terdiri dari dua zat yang kotor dan tidak memberikan faidah, yaitu tahi dan darah. Setelah melalui proses, maka terjadilah susu yang bersih-murni, tidak bercampur dengan kotoran dan zat-zat lainnya. Allah mengibaratkan bahwa sesuatu amal yang ikhlas tak ubahnya laksana susu murni itu.

Di Antara Dalil-Dalil Ikhlas dalam Alquran

Allah ta’ala berfirman:

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥

Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecualisupaya beribadah kepada Allah, dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus… [QS Al-Bayyinah : 5]

Allah ta’ala berfirman:

 ….فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ ٢ أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُۚ …….. ٣

Artinya: ….maka beribadahlah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)….. [QS Az-Zumar : 2-3]

Allah ta’ala juga berfirman:

قُلۡ إِنِّيٓ أُمِرۡتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ ١١

Artinya: Katakanlah, sesungguhnya aku diperintahkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaantan kepada-Nya, dalam (menjalankan) agama. [QS Az-Zumar : 11]

Pengertian Ikhlas Menurut Para Ulama

Para ulama menjelaskan ikhlas dengan beberapa pengertian, namun sebenarnya hakikatnya sama. Berikut perkataan ulama-ulama tersebut. [Kami ambil perkataan-perkataan ulama tersebut dari kitab At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, An Nawawi, hal. 50-51, Maktabah Ibnu ‘Abbas, cetakan pertama, tahun 1426 H]

Abul Qosim Al Qusyairi mengatakan: “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk . Atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri pada Allah.”

Abul Qosim juga mengatakan: “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.”

Jika kita sedang melakukan suatu amalan, maka hendaklah kita tidak bercita-cita ingin mendapatkan pujian makhluk. Cukuplah Allah saja yang memuji amalan kebajikan kita. Dan seharusnya yang dicari adalah rida Allah, bukan komentar dan pujian manusia.

Hudzaifah Al Mar’asiy mengatakan: “Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seorang hamba antara zahir (lahiriyah) dan batin.” Berkebalikan dengan riya’. Riya’ adalah amalan zahir (yang tampak) lebih baik dari amalan batin yang tidak ditampakkan. Sedangkan ikhlas, minimalnya adalah sama antara lahiriyah dan batin.

Dzun Nuun menyebutkan tiga tanda ikhlas:

  • Tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain.
  • Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat.
  • Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia).

Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan: “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’. Beramal karena manusia termasuk kesyirikan. Sedangkan ikhlas adalah engkau terselamatkan dari dua hal tadi.”

Ada empat definisi dari ikhlas yang bisa kita simpulkan dari perkataan ulama di atas:

  • Meniatkan suatu amalan hanya untuk Allah.
  • Tidak mengharap-harap pujian manusia dalam beramal.
  • Kesamaan antara sesuatu yang tampak dan yang tersembunyi.
  • Mengharap balasan dari amalannya di Akhirat.

 

Sumber: https://rumaysho.com/654-berusaha-untuk-ikhlas.html dengan sedikit penambahan oleh tim redaksi Nasihat Sahabat.

 

JANGAN LAGI PERNAH KATAKAN, IKHLAS ITU BAGAIKAN BUANG AIR BESAR

JANGAN LAGI PERNAH KATAKAN, IKHLAS ITU BAGAIKAN BUANG AIR BESAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

JANGAN LAGI PERNAH KATAKAN, IKHLAS ITU BAGAIKAN BUANG AIR BESAR

>> Buang Air Besar (Sekilas Nampak Cerdas Namun Ternyata Kejam)

Dalam banyak kesempatan, bisa jadi kita berpikir pintas dan bertindak ceroboh. Akibatnya, di kemudian hari kita menyesali ucapan dan sikap kita . Terlebih setelah kita terbentur dan menyadari konsekwensi ucapan atau sikap kita.

Imam Al Hasan Al Bashri mengisahkan:

” كَانُوا يَقُولُونَ إِنَّ لِسَانَ الْحَكِيمِ مِنْ وَرَاءِ قَلْبِهِ ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُولَ رَجَعَ إِلَى قَلْبِهِ فَإِنْ كَانَ لَهُ قَالَ ، وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ أَمْسَكَ . وَإِنَّ الْجَاهِلَ قَلْبُهُ عَلَى طَرْفِ لِسَانِهِ ، لَا يَرْجِعُ إِلَى قَلْبِهِ ، مَا أَتَى عَلَى لِسَانِهِ تَكَلَّمَ ” .

“Dahulu orang orang bijak/ulama berkata: Sesungghnya lisan orang bijak selalu diposisikan di belakang akalnya, sehingga setiap hendak berkata sesuatu, terlebih dahulu ia memikirkannya. Bila ia merasa ucapan itu bermanfaat baginya, maka ia mengucapkannya. Namun bila ia anggap dapat merugikannya, maka ia menahan dirinya.”

Sedangkan orang pandir, akal pikirannya seakan berada di ujung lisannya, sehingga ia tidak pernah memikirkan ucapannya (ceroboh). Apapun yang ingin ia ucapkan, maka spontan ia ucapkan .

Di antara ucapan ceroboh ialah perkataan: Gambaran orang ikhlas bagaikan orang yang buang air besar atau air kecil, tidak pernah ada pamrih atau keberatan, benar-benar direlakan. Bahkan kalaupun harus bayar untuk dapat BAB atau BAK, maka kitapun rela membayar.

Sekilas ilustrasi ini tampak baik. Namun bila dipikirkan baik-baik, hal ini adalah GAMBARAN KEJI yang tidak pantas dilakukan oleh orang yang beriman.

BAB atau BAK kita lakukan karena kita sadar, itu adalah sampah, dan kita terganggu dengan keduanya. Sehingga kita pun rela membuangnya, kalaupun tidak ada yang tahu, kita tidak lagi sudi menyimpannya, apalagi memanfaatkannya lagi.

Sedangkan ibadah, sedekah dan amal kebaikan lainnya, maka bukan sampah yang kita berikan atau kita lakukan, namun harta yang paling bagus atau minimal bagus, dan kita menyayanginya.

Harta yang kita cintailah yang kita sedekahkan, dan amal kebaikan yang kita lakukan. Andai bukan karena mengharap balasan dari Allah, niscaya kita tidak rela memberikannya, dan dengan senang menyimpannya. Demikianlah gambaran sedekah yang kita salurkan dengan ikhlas. Allah ta’ala berfirman:

لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kalian tidaklah dapat mencapai derajat kebajikan hingga kalian rela menginfakkan sebagian harta yang kalian sayangi. Dan tidaklah ada harta sedikit pun yang engkau infakkan, melainkan Allah pasti mengetahuinya ( dan membalasnya).” [QS Ali Imran 92]

Dan pada ayat lain, Allah mencela orang yang hanya menginfakkan harta yang telah rusak atau cacat, sehingga pemiliknya saja risih untuk melihat atau memilikinya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلَّا أَن تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Wahai orang orang yang beriman, infakkanlah sebagian harta yang baik dari yang kalian peroleh, dan dari sebagian dari yang Kami keluarkan dari perut bumi untuk kalian. Janganlah engkau sengaja memilih harta yang buruk, lalu darinya kalian berinfak. Padahal kalian tidak lagi sudi mengambilnya, kecuali dalam kondisi memercingkan mata ( risih). Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [QS Al Baqarah 267]

 

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri

Sumber: https://bahterailmu.wordpress.com/2014/11/14/ikhlas-itu-bagaikan-buang-air-besar/