Posts

,

APA MAKSUD ISTILAH HAJI AKBAR?

APA MAKSUD ISTILAH HAJI AKBAR?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

APA MAKSUD ISTILAH HAJI AKBAR?
>> Kapankah Hari Haji Akbar Itu?
 
Barangkali pembaca sering mendengar istilah Haji Akbar. Berbagai macam asumsi tentang Haji Akbar ini berkembang di tengah masyarakat, semisal, bahwa Haji Akbar adalah Wuquf di Padang Arafah yang bertepatan pada waktu Jumat. Sebagian berasumsi, bahwa Haji Akbar adalah hari Idul Adha yang bertepatan dengan Jumat.
 
Yang menjadi pertanyaan, dari manakah istilah Haji Akbar itu? Adakah dasar penggunaan istilah Haji Akbar ini? Kalaupun ada, apa yang dimaksud dengan Haji Akbar itu?
 
Asal-Usul Istilah Haji Akbar
 
Istilah Haji Akbar telah digunakan Alquran, yaitu dalam surat At Taubah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
 
وَأَذَانٌ مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الحَجِّ اْلأَكْبَرِ أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ فَإِن تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللهِ وَبَشِّرِ الَّذِينَ كَفَرُوا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
 
“Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari Haji Akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu. Dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakan kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” [QS At -Taubah/9:3].
 
Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang Haji Akbar yang dimaksudkan dalam ayat di atas. Imam Al Bukhari meriwayatkan sebuah hadis dalam Shahihnya berkenaan dengan tafsir ayat di atas, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
 
أَنهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعَثَهُ فِي الْحَجَّةِ الَّتِي أَمَّرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا قَبْلَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ فِي رَهْطٍ يُؤَذِّنُونَ فِي النَّاسِ أَنْ لَا يَحُجَّنَّ بَعْدَ الْعَامِ مُشْرِكٌ وَلَا يَطُوفَ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ
 
“Dia mengabarkan, bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq mengutusnya pada musim haji yang beliau diangkat sebagai amir haji oleh Rasulullah ﷺ sebelum Haji Wada’ dalam satu rombongan, untuk mengumumkan kepada manusia, agar jangan ada seorang pun dari kaum musyrikin yang mengerjakan haji setelah tahun ini. Dan agar jangan ada seorang pun yang mengerjakan Thawaf dalam keadaan telanjang”.
 
Humaid (salah seorang perawi) berkata: “Hari Nahar (hari penyembelihan hewan kurban atau hari Idul Adha) adalah hari Haji Akbar berdasarkan hadis Abu Hurairah ini.” [Silakan lihat Shahih Al Bukhari, hadis nomor 4657, dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu]
 
Ada pendapat yang menyebutkan, bahwa Ahli Jahiliyah dahulu Wuquf di Arafah, sedangkan kaum Quraisy Wuquf di Muzdalifah. Lalu pada pagi hari Nahar, mereka semua berkumpul di Muzdalifah. Oleh karena itu, disebutlah hari itu sebagai hari Haji Akbar, karena seluruhnya (Ahli Jahiliyah dan Kaum Quraisy) berkumpul di Muzdalifah.”
 
Diriwayatkan pula dari Mujahid, bahwa yang dimaksud Haji Akbar adalah Haji Qiran. Sedangkan Haji Ashgar adalah Haji Ifrad. Ada pula ulama yang mengatakan, yang dimaksud dengan Haji Ashgar adalah Hari Arafah, dan Haji Akbar adalah Hari Nahar, karena pada hari itu disempurnakan manasik haji yang tersisa.
 
Menurut Sufyan Ats Tsauri, seluruh hari-hari haji (termasuk Hari Arafah, Hari Nahar dan Tasyriq) adalah hari Haji Akbar, seperti halnya istilah hari Fath, hari Jamal, hari Shiffin dan sejenisnya. Pendapat seperti ini juga dinukil dari Mujahid dan Abu Ubaid. Pendapat ini didukung oleh As Suhaili. Dia menyebutkan, bahwa Ali membacakannya pada seluruh hari-hari haji.
 
Abu Ishaq pernah bertanya kepada Abu Juhiifah tentang hari Haji Akbar, ia menjawab: ”Hari Arafah!” Abu Ishaq bertanya: ”Apakah menurut pendapatmu saja, atau pendapat seluruh sahabat Rasulullah ﷺ?” Beliau menjawab: ”Dari pendapat seluruhnya.”
 
Oleh karena itulah Umar bin Al Kaththab Radhiyallahu ‘anhu secara tegas mengatakan, bahwa hari Haji Akbar adalah hari Arafah. Pendapat ini diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas, Abdullah bin Az Zubair, Mujahid, Ikrimah, Atha’ dan Thawus.
 
Sementara itu, para sahabat yang berpendapat bahwa hari Haji Akbar adalah hari Nahar, di antaranya ialah Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abi Aufa, Al Mughirah bin Syu’bah, sebuah riwayat lain dari Abdullah bin Abbas, Abu Juhaifah, Sa’id bin Jubair, Abdullah bin Syaddad bin Al Haad, Nafi’ bin Jubair bin Muth’im, Asy Sya’bi, Ibrahim An-Nakha’i, Mujahid, Ikrimah, Abu Ja’far Al Baqir, Az Zuhri, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, bahwa mereka semua mengatakan hari Haji Akbar ialah hari Nahar.
Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir Ath Thabari dalam tafsirnya, berdasarkan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al Bukhaari di atas dan beberapa hadis lainnya.
 
Ibnu Jarir Ath Thabari menyebutkan hadis lain dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata,”Rasulullah ﷺ berdiri di Jumrah pada hari Nahar ketika haji Wada’. Rasulullah ﷺ berkata:’Ini adalah hari Haji Akbar’.”
 
Riwayat-riwayat di atas menguatkan pendapat yang mengatakan, bahwa hari Haji Akbar adalah hari Nahar. Sementara itu, diriwayatkan dari Sa’id bin Al Musayyib, bahwa hari Haji Akbar adalah hari kedua dari hari Nahar. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya.
 
Kesimpulannya, dalam masalah ini, ada beberapa pendapat ulama, sebagai berikut:
 
1. Pendapat yang mengatakan hari Haji Akbar adalah Haji Arafah.
2. Pendapat yang mengatakan hari Haji Akbar adalah Haji Nahar (Haji Idul Adha).
3. Pendapat yang mengatakan, bahwa hari Haji Akbar adalah hari kedua dari Haji Nahar.
4. Pendapat yang mengatakan, bahwa Haji Akbar adalah Haji Qiran, sedangkan Haji Ashgar adalah Haji Ifrad.
5. Pendapat yang mengatakan, bahwa hari Haji Akbar adalah seluruh hari-hari haji.
6. Sebagian ulama berpendapat, bahwa Haji Akbar adalah Haji Arafah, dan Haji Ashgar adalah Haji Nahar.
7. Sebagian ulama lainnya berpendapat, Haji Akbar adalah haji, dan Haji Ashgar adalah umrah.
 
Namun seluruh pendapat tersebut dapat disatukan kepada pendapat yang kelima. Yaitu hari Haji Akbar adalah seluruh hari-hari haji, termasuk di dalamnya Hari Arafah, Hari Mina, Hari Muzdalifah, Hari Nahar dan Hari-hari Tasyriq. Karena para sahabat maupun tabi’in yang berpendapat Haji Akbar adalah hari Nahar tidak menafikan jika Haji Akbar itu juga Hari Arafah. Bahkan ada sebagian sahabat yang berpendapat, bahwa hari Haji Akbar adalah Hari Arafah dan Juga Hari Nahar, misalnya seperti Turjumanul Al Qur’an Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma. Demikian pula sebaliknya.
 
Wallahu a’lam bish shawab.
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun VI/1422H/2001M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
 
 
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

BACALAH TAKBIR, SETIAP SELESAI SHALAT FARDHU, 9-13 DZULHIJJAH

BACALAH TAKBIR, SETIAP SELESAI SHALAT FARDHU, 9-13 DZULHIJJAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#DoaZikir

BACALAH TAKBIR, SETIAP SELESAI SHALAT FARDHU, 9-13 DZULHIJJAH

Antara 9 -13 Dzulhijjah, kita disyariatkan untuk membaca takbir setiap selesai sholat lima waktu. Dimulai sejak Subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai akhir hari Tasyriq (13 Dzulhijjah). Takbir ini dinamakan Takbir Muqoyyad, yaitu takbir yang TERKAIT dengan waktu shalat.

Hal ini disyariatkan berdasarkan Ijma’ dan perbuatan sahabat radhiyallahu’anhum [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 8/312 no. 10777]

Takbir ini disyariatkan bagi selain jamaah haji. Adapun bagi jamaah haji, disunnahkan untuk memperbanyak ucapan Talbiyah sampai melempar Jamrah ‘Aqobah pada 10 Dzulhijjah. Barulah dibolehkan bertakbir, dan boleh mulai bertakbir sejak lemparan pertama pada Jamrah ‘Aqobah tersebut sampai akhir hari Tasyriq.

 

Sumber: TaawunDakwah.Com

,

PISAU LEPAS KETIKA MENYEMBELIH, KURBAN HARAM DIMAKAN?

PISAU LEPAS KETIKA MENYEMBELIH, KURBAN HARAM DIMAKAN?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#FikihKurban
 
PISAU LEPAS KETIKA MENYEMBELIH, KURBAN HARAM DIMAKAN?
 
Pertanyaan:
Jika pisau lepas saat menyembelih, apakah hewan sembelihannya jadi haram dimakan? Lalu kurbannya batal?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Allah berfirman, memberikan rincian binatang-binatang yang diharamkan:
 
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ
 
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya. [QS. Al-Maidah: 3]
 
Di antara hewan yang diharamkan Allah adalah hewan yang mati karena terluka, baik karena tercekik, terpukul, jatuh, ditanduk, atau karena diterkam binatang buas. Kecuali ketika dalam kondisi terluka, hewan ini masih bertahan hidup, lalu sempat disembelih seorang Muslim, sehingga hewan ini mati karena sembelihan, bukan karena kondisi dia yang terluka.
 
Ketika seseorang sedang menyembelih, lalu pisaunya jatuh, atau dia angkat tangannya, sementara hewan itu belum mati, statusnya seperti hewan yang terluka. Karena itu, jika penyembelih ini langsung mengulangi sembelihannya, hingga hewan itu mati, statusnya sah dan halal dimakan.
 
Imam ad-Dirdir – ulama Malikiyah mengatakan:
 
فإن عاد عن قرب أكلت رفع يده اختيارا أو اضطرارا، والقرب والبعد بالعرف، فالقرب مثل أن يسن السكين أو يطرحها ويأخذ أخرى من حزامه أو قربه
 
Jika penyembelih segera mengulang penyembelihan, maka hewannya halal, baik dia mengangkat tangannya sengaja atau tidak sengaja. Cepat dan lama ukurannya adalah urf (sesuai yang dipahami masyarakat). Yang dekat seperti mengasah pisau, atau menggantinya dengan pisau yang lain, yang dia ikat di sabuknya atau di dekatnya. [As-Syarh al-Kabir, 2/99]
 
Sayid Sabiq juga menjelaskan yang semisal. Beliau menuliskan:
 
وإذارفع المذكي يده قبل تمام الذكاة ثم رجع فورا وأكمل الذكاة فإن هذا جائز لأنه جرحها ثم ذكاها بعد وفيها الحياة فهي داخلة في وقول الله تعالى {إلا ما ذكيتم}.
 
Apabila orang yang menyembelih mengangkat tangannya sebelum penyembelihan sempurna, lalu dia segera kembali menyempurnakan sembelihannya, ini dibolehkan. Karena yang terjadi, dia melukai hewan itu, kemudian dia sembelih dan ketika itu hewan masih hidup. Sehingga termasuk dalam cakupan firman Allah, (yang artinya), kecuali yang sempat kamu menyembelihnya. [Fiqhus Sunah, 3/304]
 
Karena itu, ketika pisau jatuh saat mengiris pertama, kemudian penyembelih langsung mengambilnya dan menyempurnakan sembelihan, insyaAllah sembelihan sah dan kurban juga sah.
 
Demikian, Allahu a’lam.
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
,

JATAH MAKSIMAL SHAHIBUL QURBAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#FikihKurban

JATAH MAKSIMAL SHAHIBUL QURBAN

Pertanyaan:

Kalau Shahibul Qurban minta jatah  selain dari sepertiga kurbannya bagaimana? Misal minta kepala/hati?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah perintahkan dalam Alquran untuk memakan sebagian dari hasil kurban, dan memberikan sebagian kepada orang yang membutuhkan maupun orang yang berkemampuan. Allah berfirman:

فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ

Apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya, dan berikanlah kepada orang yang tidak meminta-minta dan orang yang meminta… (QS. al-Hajj: 36)

Diberikan kepada orang yang tidak meminta-minta, yaitu mereka yang mampu. Statusnya sebagai hadiah.

Dan diberikan kepada orang yang meminta, yaitu mereka yang tidak mampu, statusnya sebagai sedekah.

Dalam ayat ini, Allah ta’ala tidak menjelaskan nilai pembagiannya.

Karena itu, ulama berbeda pendapat, apakah boleh semua hasil kurban dimanfaatkan oleh Shahibul Qurban, tanpa ada yang disedekahkan?

Perbedaan pendapat ini disebutkan an-Nawawi dalam al-Majmu’:

وهل يشترط التصدق منها بشيء أم يجوز أكلها جميعا، فيه وجهان مشهوران ذكرهما المصنف بدليلهما

Apakah disyaratkan harus menyedekahkan sebagian dari hasil kurban, ataukah boleh dimakan sendiri semuanya? Ada dua pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafiiyah. Telah disebutkan oleh penulis (penulis al-Muhadzab) masing-masing pendapat, berikut dalilnya:

أحدهما: يجوز أكل الجميع، قاله ابن سريج وابن القاص والإصطخري وابن الوكيل، وحكاه ابن القاص عن نص الشافعي، قالوا: وإذا أكل الجميع ففائدة الأضحية حصول الثواب بإراقة الدم بنية القربة

Pertama: Shahibul Qurban Boleh Makan Semuanya

Ini pendapat Ibnu Suraij, Ibnul Qash, al-Ishthakhiri, dan Ibnul Wakil. Ibnul Qash menyebutkan ada riwayat dari Imam as-Syafii. Mereka mengatakan: “Apabila Shahibul Qurban makan semuanya, maka manfaat berkurban adalah mendapatkan pahala dengan ibadah menyembelih dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.”

والقول الثاني وهو قول جمهور أصحابنا المتقدمين وهو الأصح عند جماهير  المصنفين، ومنهم المصنف في التنبيه يجب التصدق بشيء يطلق عليه الاسم، لأن المقصود إرفاق المساكين، فعلى هذا إن أكل الجميع لزمه الضمان

Kedua, ini pendapat jumhur ulama madzhab kami di masa silam, dan ini pendapat yang kuat menurut mayoritas penulis kitab fikih madzhab, termasuk di antaranya adalah penulis kitab al-Muhadzab seperti yang disebutkan dalam kitab at-Tanbih, bahwa wajib untuk bersedekah dengan bagian dari hasil kurban dengan nilai yang layak untuk bisa disebut sedekah. Karena tujuan kurban adalah menyantuni orang miskin. Karena itu, jika Shahibul Qurban makan keseluruhan, wajib ganti rugi. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 8/416).

Yang dimaksud memberi ganti rugi adalah memberi ganti rugi sedekah senilai daging yang seharusnya dia ambilkan dari hasil kurban, untuk diberikan kepada fakir miskin. Mengingat dia memakan dan menghabiskan semua hasil kurbannya. Artinya kurbannya sah dan tidak perlu diulangi.

Di tempat lain, an-Nawawi lebih menguatkan pendapat yang mengatakan, bahwa harus ada yang disedekahkan dengan nilai yang layak untuk bisa disebut sedekah. dan dianjurkan lebih banyak yang disedekahkan.

فأما الصدقة منها إذا كانت أضحية تطوع، فواجبة على الصحيح عند أصحابنا بما يقع عليه الاسم منها، ويستحب أن تكون بمعظمها

Untuk masalah menyedekahkan hasil kurban, jika itu kurban anjuran, pendapat yang kuat menurut ulama madzhab kami hukumnya wajib. Disedekahkan dengan ukuran yang layak untuk disebut sedekah. Dan dianjurkan yang disedekahkan lebih banyak. (Syarh Shahih Muslim, 13/131).

Dan kita bisa mengukur, berapa nilai pemberian hasil kurban yang layak, sehingga bisa disebut sedekah? Dengan hanya memberikan daging 1 kg kepada orang yang membutuhkan, sudah bisa disebut sedekah.

Keterangan yang lain juga disampaikan al-Buhuti – ulama Madzhab Hambali –, bahwa sedekah dari hasil kurban itu harus, meskipun hanya sedikit, selama layak disebut sedekah.

فإن أكل أكثر الأضحية أو أهدى أكثرها أو أكلها كلها إلا أوقية تصدق بها جاز، … لأنه يجب الصدقة ببعضها نيئا على فقير مسلم لعموم “وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ”

Jika Shahibul Qurban makan sebagian besar hasil kurban, atau sebagian besar dia hadiahkan, atau dia makan semua hasil kurban, kecuali satu Uqiyah* yang dia sedekahkan, hukumnya boleh… karena wajib menyedekahkan sebagian hasil kurban dalam bentuk mentahan kepada orang miskin yang Muslim. Berdasarkan teks dari perintah Allah, “Berikanlah kepada orang yang tidak meminta dan kepada orang yang meminta-minta.” (Kasyaf al-Qana’, 3/23).

Al-Buhuti juga menegaskan, jika Shahibul Qurban memakan semua hasil kurban, tanpa ada yang disedekahkan, maka dia wajib mengganti dengan sedekah senilai yang layak disebut sedekah, misalnya satu Uqiyah. (Kasyaf al-Qana’, 3/23)

*Ulama sepakat, 1 Uqiyah senilai 40 Dirham. Menurut jumhur itu beratnya senilai kurang lebih 201 gr. Sementara menurut Hanafiyah, itu beratnya senilai 200,8 gr. Selisih 0,2 gr yang sebenarnya tidak signifikan.

Kita tidak hendak menyimpulkan mengenai hukum Shahibul Qurban makan semua hasil kurbannya. Tapi dari penjelasan mereka kita bisa menyimpulkan, bahwa jatah untuk Shahibul Qurban, tidak ada angka tertentu. Artinya, tidak harus sepertiga dan ini juga bukan angka maksimal. Shahibul Qurban bisa mendapat lebih dari itu, atau kurang dari itu. Jika Shahibul Qurban minta lebih dari sepertiga, panitia tidak berhak untuk menolaknya, karena memang itu haknya. Meskipun semakin banyak yang disedekahkan, semakin baik.

Allahu a’lam,

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28308-jatah-maksimal-sohibul-kurban.html

,

BAGAIMANA HUKUMNYA MENJUAL KULIT HASIL SEMBELIHAN QURBAN?

BAGAIMANA HUKUMNYA MENJUAL KULIT HASIL SEMBELIHAN QURBAN?

BAGAIMANA HUKUMNYA MENJUAL KULIT HASIL SEMBELIHAN QURBAN?

Pemanfaatan Hasil Sembelihan Qurban Yang Terlarang

Ada dua bentuk pemanfaatan hasil sembelihan qurban yang terlarang, yaitu:

[1] Menjual sebagian dari hasil sembelihan qurban dan

[2] Memberi upah pada jagal dari hasil sembelihan qurban.

Berikut penjelasannya:

Larangan pertama: Menjual sebagian dari hasil sembelihan qurban, baik berupa kulit, wol, rambut, daging, tulang dan bagian lainnya. Dalil terlarangnya hal ini adalah hadis Abu Sa’id, Nabi ﷺ bersabda:

وَلاَ تَبِيعُوا لُحُومَ الْهَدْىِ وَالأَضَاحِىِّ فَكُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَاسْتَمْتِعُوا بِجُلُودِهَا وَلاَ تَبِيعُوهَا

“Janganlah menjual hewan hasil sembelihan hadyu [Hadyu adalah binatang ternak (unta, sapi atau kambing) yang disembelih oleh orang yang berhaji dan dihadiahkan kepada orang-orang miskin di Mekkah] dan sembelian udh-hiyah (qurban).Tetapi makanlah, bershodaqohlah, dan gunakanlah kulitnya untuk bersenang-senang, namun jangan kamu menjualnya.” Hadis ini adalah hadis yang Dho’if (Lemah) [HR. Ahmad no. 16256, 4/15. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini Dho’if (Lemah). Ibnu Juraij yaitu ‘Abdul Malik bin ‘Abdul ‘Aziz adalah seorang Mudallis. Zubaid yaitu Ibnul Harits Al Yamiy sering meriwayatkan dengan Mu’an’an. Zubaid pun tidak pernah bertemu dengan salah seorang sahabat. Sehingga hadis ini dihukumi Munqothi’ (sanadnya terputus)].

Walaupun hadis di atas Dho’if, menjual hasil sembelihan qurban tetap TERLARANG. Alasannya, qurban disembahkan sebagai bentuk taqorrub pada Allah, yaitu mendekatkan diri pada-Nya, sehingga tidak boleh diperjualbelikan. Sama halnya dengan zakat. Jika harta zakat kita telah mencapai Nishob (ukuran minimal dikeluarkan zakat) dan telah memenuhi haul (masa satu tahun), maka kita harus serahkan kepada orang yang berhak menerima, tanpa harus menjual padanya. Jika zakat tidak boleh demikian, maka begitu pula dengan qurban, karena sama-sama bentuk taqorrub pada Allah. Alasan lainnya lagi adalah kita tidak diperkenankan memberikan upah kepada jagal dari hasil sembelihan qurban, sebagaimana nanti akan dijelaskan [Lihat keterangan Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah, 2/379].

Dari sini, TIDAK tepatlah praktik sebagian kaum Muslimin ketika melakukan ibadah yang satu ini, dengan menjual hasil qurban, termasuk yang sering terjadi adalah menjual kulit. Bahkan untuk menjual kulit, terdapat hadis khusus yang MELARANGNYA. Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلاَ أُضْحِيَّةَ لَهُ

“Barang siapa menjual kulit hasil sembelihan qurban, maka tidak ada qurban baginya.” [HR. Al Hakim. Beliau mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Adz Dzahabi mengatakan bahwa dalam hadis ini terdapat Ibnu ‘Ayas yang didho’ifkan oleh Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Hasan. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1088].

Maksudnya, ibadah qurbannya TIDAK ADA NILAINYA.

Larangan menjual hasil sembelihan qurban adalah pendapat para Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad. Imam Asy Syafi’i mengatakan: “Binatang qurban termasuk Nusuk (hewan yang disembelih untuk mendekatkan diri pada Allah). Hasil sembelihannya BOLEH dimakan, BOLEH diberikan kepada orang lain dan BOLEH disimpan. Aku TIDAK menjual sesuatu dari hasil sembelihan qurban (seperti daging atau kulitnya, pen). Barter antara hasil sembelihan qurban dengan barang lainnya termasuk jual beli.” [Lihat Tanwirul ‘Ainain bi Ahkamil Adhohi wal ‘Idain, hal. 373, Syaikh Abul Hasan Musthofa bin Isma’il As Sulaimani, terbitan Maktabah Al Furqon, cetakan pertama, tahun 1421 H].

Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat dibolehkannya menjual hasil sembelihan qurban, namun hasil penjualannya disedekahkan [Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/379]. Akan tetapi, yang lebih selamat dan lebih tepat, hal ini TIDAK diperbolehkan, berdasarkan larangan dalam hadis di atas dan alasan yang telah disampaikan. Wallahu a’lam.

Catatan penting yang perlu diperhatikan: Pembolehan menjual hasil sembelihan qurban oleh Abu Hanifah adalah ditukar dengan barang, karena seperti ini masuk kategori pemanfaatan hewan qurban menurut beliau. Jadi beliau tidak memaksudkan jual beli di sini adalah menukar dengan uang. Karena menukar dengan uang secara jelas merupakan penjualan yang nyata. Inilah keterangan dari Syaikh Abdullah Ali Bassam dalam Tawdhihul Ahkam [Lihat Tawdhihul Ahkam min Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah Ali Bassam, 4/465, Darul Atsar, cetakan pertama, tahun 1425 H 6] dan Ash Shon’ani dalam Subulus Salam [Lihat Subulus Salam Syarh Bulughul Marom, Muhammad bin Isma’il Ash Shon’ani, 4/177, Darul Fikr, cetakan tahun 1411 H].

Sehingga TIDAK tepat menjual kulit atau bagian lainnya, lalu mendapatkan uang, sebagaimana yang dipraktikan sebagian panitia qurban saat ini. Mereka sengaja menjual kulit agar dapat menutupi biaya operasional atau untuk makan-makan panitia.

Mengenai penjualan hasil sembelihan qurban dapat dirinci:

TERLARANG menjual daging qurban (udh-hiyah atau pun hadyu) berdasarkan kesepakatan (ijma’) para ulama [Lihat Tawdhihul Ahkam, 4/465].

Tentang menjual kulit qurban, para ulama berbeda pendapat:

Pertama: Tetap terlarang. Ini pendapat Mayoritas Ulama berdasarkan hadis di atas. Inilah pendapat yang lebih kuat karena berpegang dengan dzahir hadis (tekstual hadis) yang melarang menjual kulit, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Al Hakim. Berpegang pada pendapat ini lebih selamat, yaitu TERLARANGNYA jual beli kulit secara mutlak.

Kedua: Boleh, asalkan ditukar dengan barang (bukan dengan uang). Ini pendapat Abu Hanifah. Pendapat ini TERBANTAH, karena menukar juga termasuk jual beli. Pendapat ini juga telah disanggah oleh Imam Asy Syafi’i dalam Al Umm (2/351). Imam Asy Syafi’i mengatakan: “Aku tidak suka menjual daging atau kulitnya. Barter hasil sembelihan qurban dengan barang lain juga termasuk jual beli.” [Lihat pendapat Imam Asy Syafi’i ini dalam Tanwirul ‘Ainain bi Ahkamil Adhohi wal ‘Idain, hal. 373].

Ketiga: Boleh secara mutlak. Ini pendapat Abu Tsaur sebagaimana disebutkan oleh An Nawawi [Syarh Muslim, An Nawawi, 4/453, Mawqi’ Al Islam]. Pendapat ini jelas LEMAH karena bertentangan dengan dzahir hadis yang melarang menjual kulit.

Sebagai nasihat bagi yang menjalani ibadah qurban:

Hendaklah kulit tersebut diserahkan secara cuma-cuma kepada siapa saja yang membutuhkan, bisa kepada fakir miskin atau Yayasan Sosial. Setelah diserahkan kepada mereka, terserah mereka mau manfaatkan untuk apa. Kalau yang menerima kulit tadi mau menjualnya kembali, maka itu dibolehkan. Namun hasilnya tetap dimanfaatkan oleh orang  yang menerima kulit qurban tadi, dan bukan dimanfaatkan oleh Shohibul Qurban atau Panitia Qurban (Wakil Shohibul Qurban).

Larangan kedua: Memberi upah pada jagal dari hasil sembelihan qurban.

Dalil dari hal ini adalah riwayat yang disebutkan oleh ‘Ali bin Abi Tholib:

أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لاَ أُعْطِىَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ « نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا ».

“Rasulullah ﷺ memerintahkanku untuk mengurusi unta-unta qurban beliau. Aku menyedekahkan daging, kulit, dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin). Aku tidak memberi sesuatu pun dari hasil sembelihan qurban kepada tukang jagal. Beliau bersabda: “Kami akan memberi upah kepada tukang jagal dari uang kami sendiri”.” [HR. Muslim no. 1317].

Dari hadis ini, An Nawawi rahimahullah mengatakan: “Tidak boleh memberi tukang jagal sebagian hasil sembelihan qurban sebagai upah baginya. Inilah pendapat ulama-ulama Syafi’iyah, juga menjadi pendapat Atho’, An Nakho’i, Imam Malik, Imam Ahmad dan Ishaq.” [Syarh Muslim, An Nawawi, 4/453].

Namun sebagian ulama ada yang membolehkan memberikan upah kepada tukang jagal dengan kulit semacam Al Hasan Al Bashri. Beliau mengatakan: “Boleh memberi jagal upah dengan kulit.”  An Nawawi lantas menyanggah pernyataan tersebut: “Perkataan beliau ini telah membuang sunnah.” [Syarh Muslim, An Nawawi, 4/453].

Sehingga yang tepat, upah jagal BUKAN diambil dari hasil sembelihan qurban. Namun Shohibul Qurban hendaknya menyediakan upah khusus dari kantongnya sendiri untuk tukang jagal tersebut.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

 

Dinukil dari: https://rumaysho.com/665-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html

 

EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

Apakah Disunahkan Sholat Tahiyyatul Masjid di Musholla?

 

Pertanyaan:
Jika ada bangunan “langgar” namun belum diwakafkan, terkadang di tempat tersebut digunakan untuk sholat jamaah Maghrib dan Isya, apakah sudah dihukumi sebagai masjid dan padanya hukum-hukum terkait masjid?

Jawaban:
Al-Lajnah Al-Iftaa’ Al-Urduniyyah berkata:

“Alhamdulillah, shalawat dan salam tercurah pada Sayyidina Rasulillah.

Setiap tempat di permukaan bumi yang seorang sah sholat di atasnya teranggap sebagai masjid. Nabi ﷺ bersabda:

وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا

“Bumi ini dijadikan untukku sebagai masjid dan tempat yang suci” [HR. Al-Bukhari]

Namun masjid yang berlaku di dalamnya hukum-hukum fikih, adalah tempat yang diwakafkan untuk sholat, yaitu tempat yang diwakafkan dan disediakan khusus untuk sholat. Adapun definisi mushalla adalah tempat yang digunakan untuk sholat dan berdoa tanpa disyaratkan wakaf. Setiap tempat yang digunakan untuk sholat dan berdoa, baik statusnya wakaf atau bukan, disebut mushalla. Oleh karena itu, mushalla mencakup masjid dan selainnya. Setiap masjid adalah mushalla dan tidak setiap mushalla adalah masjid.

Terdapat perbedaan hukum fikih di antara keduanya:

[Pertama] Masjid adalah tempat yang diwakafkan untuk sholat, tidak sah melakukan transaksi jual-beli dan semisalnya di masjid. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

الأظهر أن الملك في رقبة الموقوف ينتقل إلى الله تعالى، أي ينفك عن اختصاص لآدمي فلا يكون للواقف ولا للموقوف عليه

“Yang nampak bahwa kepemilikan tanah yang diwakafkan berpindah pada Allah ta’ala, maksudnya terlepas dari kepemilikan manusia, bukan lagi menjadi hak milik orang yang mewakafkan, maupun pihak yang menerima wakaf” [Minhaaj Ath-Thalibin, 1/70]

Sedangkan mushalla masih mungkin dimiliki oleh pihak tertentu sehingga diperbolehkan melakukan transaksi jual-beli dan sewa-menyewa di dalamnya, serta boleh pula memindahkan mushalla ke tempat yang lain.

[Kedua] Diharamkan bagi wanita junub dan haid menetap di masjid, dan sebaliknya diperbolehkan bagi mereka menetap di mushalla. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

ويحرم بها – أي بالجنابة – ما حرم بالحدث، والمكث بالمسجد لا عبوره

“Menetap di masjid diharamkan bagi orang yang junub, namun diperbolehkan bagi orang yang berhadats atau seorang yang hanya sekedar lewat” [Minhaaj Ath-Thalibin, 1/21]

[Ketiga] Tidak sah melakukan I’tikaf dan sholat Tahiyyatul Masjid kecuali di masjid. Al-Khathiib Asy-Syirbiini rahimahullah berkata:

ولا يفتقر شيء من العبادات إلى مسجد إلا التحية والاعتكاف والطواف

“Seluruh ibadah tidak disyaratkan dilakukan di masjid, kecuali sholat Tahiyyatul masjid, I’tikaf dan Thawaf” [Mughniy Al-Muhtaaj, 5/329]

[Keempat] Diharamkan membangun lantai atau bangunan khusus di atas masjid. Disebutkan dalam Hasyiyah Ibni ‘Abidiin:

لو تمت المسجدية ثم أراد البناء – أي بناء بيت للإمام فوق المسجد – مُنع

“Seandainya pembangunan masjid telah sempurna, kemudian ia ingin menambah bangunan lain –seperti membangun rumah imam di atas masjid- maka hal itu terlarang” [Hasyiyah Ibni ‘Abidin, 3/371]

Sedangkan diperbolehkan melakukan hal itu di mushalla, karena mushalla bukan tempat wakaf, namun dengan tetap menjaga kebersihan dan kesucian tempat dari najis.

Melakukan sholat Jumat di mushalla hukumnya sah, namun yang lebih utama dilakukan di masjid. Pensyarah kitab Al-Minhaj berkata:

لأن إقامتها في المسجد ليست بشرط

“Karena melakukan sholat Jumat di masjid bukanlah syarat” [Syarh Al-Minhaaj, 2/238]. Wallahu ta’ala a’lam”

Berikut teks fatwanya:

الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله
كل بقعة من الأرض تصح الصلاة فيها تعد مسجداً؛ لقوله صلى الله عليه وسلم: (وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا) رواه البخاري. لكن المسجد الذي تترتب عليه أحكام فقهية هو المكان الموقوف للصلاة، أي الذي وُقف وحُبس ليكون مخصصاً للصلاة.
وأما المصلى فهو موضع الصلاة والدعاء، ولا يشترط فيه أن يكون موقوفاً، بل يصح أن يكون موقوفاً وغيره، فالمصلى إذن يشمل المسجد وغير المسجد، فكل مسجد مصلى وليس كل مصلى مسجداً.

ويفارق المسجد المصلى في بعض الأحكام منها:

أولاً: المسجد – كما ذكرنا -: المكان الموقوف للصلاة؛ فلا يصح التصرف فيه ببيع ونحوه. قال الإمام النووي: ” الأظهر أن الملك في رقبة الموقوف ينتقل إلى الله تعالى، أي ينفك عن اختصاص لآدمي فلا يكون للواقف ولا للموقوف عليه ” “منهاج الطالبين (1/70)، أما المصلى فيصح كونه مملوكاً لشخص معين، ويصح بيعه أو تحويله إلى مكان آخر، ويصح كونه مستأجراً.

ثانياً: يحرم على الحائض والجنب اللبث في المسجد، بينما يصح لهما المكث في المصلى. قال الإمام النووي: “ويحرم بها – أي بالجنابة – ما حرم بالحدث، والمكث بالمسجد لا عبوره” “منهاج الطالبين” 1/ 12.

ثالثاً: الاعتكاف أو تحية المسجد لا يصحان إلا في المسجد. قال الخطيب الشربيني: “ولا يفتقر شيء من العبادات إلى مسجد إلا التحية والاعتكاف والطواف” “مغني المحتاج” (5/ 329.

رابعاً: يحرم اعتلاء المسجد ببناء أو طوابق. جاء في “حاشية ابن عابدين”: “لو تمت المسجدية ثم أراد البناء – أي بناء بيت للإمام فوق المسجد – مُنع” (3/ 371)، أما المصلى فيصح ذلك لأنه ليس بموقوف، مع مراعاة المحافظة على نظافة المصلى وتنزيهه عن النجاسة.

وتصح صلاة الجمعة في المصلى، والأفضل كونها في المسجد. قال الشيخ الجمل عن صلاة الجمعة: “لأن إقامتها في المسجد ليست بشرط” “حاشية الجمل على شرح المنهج” (2/ 238). والله تعالى أعلم.

Sumber: Fatawaa Lajnah Al-Iftaa’ Al-Urduniyyah no. 2064, tertanggal 12/06/2012

Asy-Syaikh Abdul Aziiz bin Baz rahimahullah berkata:

السنة لمن أتى مصلى العيد لصلاة العيد، أو الاستسقاء أن يجلس ولا يصلي تحية المسجد؛ لأن ذلك لم ينقل عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه رضي الله عنهم فيما نعلم إلا إذا كانت الصلاة في المسجد فإنه يصلي تحية المسجد؛ لعموم قول النبي صلى الله عليه وسلم: ((إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين)) متفق على صحته.
والمشروع لمن جلس ينتظر صلاة العيد أن يكثر من التهليل والتكبير؛ لأن ذلك هو شعار ذلك اليوم، وهو السنة للجميع في المسجد وخارجه حتى تنتهي الخطبة. ومن اشتغل بقراءة القرآن فلا بأس، والله ولي التوفيق.

“Bagi seorang yang mendatangi mushalla untuk sholat ‘Ied atau mushalla untuk sholat Istisqaa, tidak disunahkan mengerjakan sholat Tahiyyatul Masjid. Hendaklah ia duduk, karena perbuatan tersebut tidak pernah dinukil dari Nabi ﷺ dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum, sebatas apa yang kami ketahui. Kecuali jika sholat Ied tersebut dilakukan di masjid, maka hukumnya tetap disunahkan berdasarkan keumuman hadis Nabi ﷺ:

إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين

“Jika salah seorang kalian memasuki masjid, janganlah ia duduk hingga melakukan sholat dua rakaat” -disepakati keshahihannya-

Disunahkan baginya untuk memerbanyak tahlil dan takbir saat menunggu ditegakannya sholat Ied, baik jamaah yang berada di dalam maupun di luar masjid, hingga selesai khutbah, karena itulah yang merupakan syi’ar di hari Ied. Barang siapa yang menyibukkan diri dengan membaca Alquran, ini pun diperbolehkan. Wallahu waliyyut taufiiq”

Sumber: Majmuu’ Fataawaa wa Maqaalaat Mutanawwi’ah jilid 13

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah pernah ditanya:

هل هناك ركعتان تحية المسجد في مصلى العيد؟

“Apakah disyariatkan melakukan sholat Tahiyyatul Masjid di mushalla Ied?

Beliau rahimahullah menjawab:

طبعا هذا ليس مسجدا فليس له تحية مسجد

“Ini bukan masjid, sehingga tidak ada sholat Tahiyyatul Masjid di dalamnya”.

 

Diterjemahkan oleh Abul-Harits

http://abul-harits.blogspot.co.id/2014/01/4-perbedaan-masjid-dan-musholla-apakah.html

 

Yang berikut adalah “Tanya Jawab dengan Al Ustadz Abul Harits”

Pertanyaan:

Menurut saya, kalau kalau musholla itu berdiri di tanah wakaf dan dipergunakan setiap hari untuk sholat berjamaah, maka berhak untuk sholat Tahiyyatul Masjid di situ. wallahu a’llam

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Anda benar. Musholla yang berdiri di atas tanah wakaf dan digunakan untuk shalat berjamaah, disunahkan shalat Tahiyyatul Masjid di dalamnya. Karena musholla tersebut telah berstatus masjid. Jadi perbedaan masjid dan musholla bukan bergantung pada besar kecilnya bangunan.

Seringkali, istilah musholla yang dimaksud oleh masyarakat kita adalah masjid yang berukuran kecil, ini KELIRU. Hal mendasar yang membedakan keduanya adalah TANAH WAKAF. Bangunan tanah wakaf yang didirikan untuk tempat shalat adalah masjid, meskipun berukuran kecil. Bangunan yang didirikan untuk tempat shalat tanpa ada tanah wakaf adalah musholla, meskipun berukuran besar. Contoh bangunan musholla yang sering kita jumpai: musholla di kantor, musholla di mall pusat perbelanjaan, musholla di sekolah, dan lainnya.

Pertanyaan:

Kalau dasar yang membedakan itu tanah wakaf [sebagaimana di kampung kami], tapi niat awal diperuntukan untuk musholla, apakah bisa dialihkan fungsi ke masjid? Atau secara tersirat seperti masjid? Mohon pencerahan. Terima kasih

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Musholla bisa dialihfungsikan sebagai masjid jika tanahnya diwakafkan. Jika dari awal memang tanahnya merupakan tanah wakaf, maka statusnya sudah masjid, meskipun dinamakan musholla oleh masyarakat. Wabillahittaufiq

Komentar:

Benar, status awal sudah tanah wakaf dan karena statusnya sudah MASJID [walau tanpa merubah kata MUSHOLLA ], artinya sudah bisa dipakai niat sholat Tahyatul Masjid atau kalau memungkinkan sholat Jumat.Terima kasih atas penjelasannya.

Pertanyaan:

Kalau tidak pernah dipakai Jumatan, sholat Lima Waktu jarang, azan tidak setiap waktu, apakah tetap disebut masjid, walaupun tanah wakaf.

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Seandainya ada masjid agung yang terletak di komplek alun-alun kota, kemudian jarang didirikan shalat Jamaah 5 waktu dan shalat Jumat, statusnya tetap sebagai masjid, meskipun tidak dimakmurkan (sepi). Jadi alasan tersebut bukan merupakan kriteria masjid.

Masjid yang dipakai shalat Jumat sering diistilahkan dengan masjid Jami’. Namun bukan berarti masjid selain masjid jami’ tidak berstatus sebagai masjid. Mudah-mudahan bisa dipahami, Allahua’lam

Pertanyaan:

Saya tinggal di sebuah Komplek Pertokoan. Di Komplek tersebut ada Mushalla sekira 8 x 8 meter….. tak jauh dari komplek (sekitar 200m) ada sebuah masjid…. ketika shalat Lima waktu tiba….. tempat mana yang harus saya pilih… apakah saya mendirikan shalat berjamaah di Mushalla komplek atau ikut berjamaah di Masjid (dan mengabaikan Mushalla komplek). Mohon pencerahan, terima kasih

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Anda boleh memilih shalat Jamaah di musholla atau di masjid. Namun yang lebih utama (afdhal), Anda shalat di masjid, karena masjid memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki oleh musholla.

Jika ada pertimbangan lain, misalkan absennya Anda dari musholla komplek menimbulkan fitnah atau salah paham, maka lebih baik Anda shalat di musholla. Jika tidak ada kekhawatiran tersebut, Anda tetap shalat di masjid, Allahua’lam

Pertanyaan:

Di dalam cluster ada tanah fasum. Karena belum ada masjid, di perumahan dibangun mushola cukup 50-60 orang. Apakah bisa dibilang masjid tanah fasum?

Beberapa tahun kemudian developer membuat masjid di luar cluster buat Jumatan.

Apakah harus pindah? Apakah masih boleh jamaah di mushola? Adakah hadis yg menyebutkan sholat fardhu di masjid jami lebih utama daripada di masjid dalam cluster?

Mohon jawabannya yang segera, untuk pemahaman ke warga.

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Kalau tanah fasum itu memang khusus disediakan untuk masjid, bukan hanya untuk sementara saja, maka musholla tersebut berstatus masjid. Namun kalo ke depannya akan dibangun masjid yang tetap, kemudian tanah fasum itu dialihkan untuk fungsi yang lain setelah dibangun masjid, maka bangunan untuk shalat itu hanya berstatus musholla.

Baik masjid maupun musholla, keduanya boleh dipakai untuk shalat jamaah lima waktu. Banyak faktor yang menjadikan shalat di salah satu masjid lebih utama dari masjid yang lain, di antaranya bacaan quran imam, jumlah jamaah shalat, jauh dekatnya, dihidupkannya sunah-sunah nabi di masjid tersebut dan faktor lainnya. Shalat berjamaah di masjid jami’ tidak lebih utama dibandingkan shalat di masjid lain. Namun shalat di masjid (baik masjid jami’ atau bukan) lebih utama dari shalat di muholla. Keutamaan suatu masjid berbeda-beda dilihat dari beberapa faktor yang saya sebutkan tadi.

 

Allahua’lam

 

,

TENTANG PEMBAGIAN SEPERTIGA DARI HASIL QURBAN

TENTANG PEMBAGIAN SEPERTIGA DARI HASIL QURBAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

TENTANG PEMBAGIAN SEPERTIGA DARI HASIL QURBAN

 

Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.

Sering ada yang menanyakan, apakah mesti hasil penyembelihan Qurban dibagi 1/3 untuk Shohibul Qurban, 1/3 untuk sedekah pada fakir miskin dan 1/3 sebagai hadiah. Lalu apakah hasil Qurban boleh dimakan oleh orang yang berkurban (Shohibul Qurban)? Pembahasan berikut ini semoga bisa memberikan jawaban.

Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah memberikan keterangan: “Kebanyakan ulama menyatakan, bahwa orang yang berkurban disunnahkan bersedekah dengan sepertiga hewan Qurban, memberi makan dengan sepertiganya dan sepertiganya lagi dimakan oleh dirinya dan keluarga. Namun riwayat-riwayat tersebut sebenarnya adalah riwayat yang LEMAH. Sehingga yang lebih tepat hal ini dikembalikan pada keputusan orang yang berkurban (Shohibul Qurban). Seandainya ia ingin sedekahkan seluruh hasil Qurbannya, hal itu diperbolehkan. Dalilnya, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu:

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ ، وَأَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا ، لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا ] فِى الْمَسَاكِينِ[  ، وَلاَ يُعْطِىَ فِى جِزَارَتِهَا شَيْئًا

Nabi ﷺ memerintahkan dia untuk mengurusi unta-unta hadyu. Beliau memerintah untuk membagi semua daging qurbannya, kulit dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin) untuk orang-orang miskin. Dan beliau tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun dari qurban itu kepada tukang jagal (sebagai upah).[ HR. Bukhari no. 1717 dan Muslim no. 1317]. ”[ Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, 2/378, Al Maktabah At Taufiqiyah]. Dalam hadis ini terlihat, bahwa Nabi ﷺ sampai menyedekahkan seluruh hasil sembelihan qurbannya kepada orang miskin.

 

Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) mengatakan:  “Hasil sembelihan qurban dianjurkan dimakan oleh Shohibul Qurban. Sebagian lainnya diberikan kepada fakir miskin, untuk memenuhi kebutuhan mereka pada hari itu. Sebagian lagi diberikan kepada kerabat, agar lebih mempererat tali silaturahmi. Sebagian lagi diberikan pada tetangga, dalam rangka berbuat baik. Juga sebagian lagi diberikan pada saudara Muslim lainnya, agar semakin memerkuat Ukhuwah.” [Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’, soal kesembilan dari Fatwa no. 5612, 11/423-424, Mawqi’ Al Ifta’. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz sebagai ketua, Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai Wakil Ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghodyan sebagai Anggota].

Dalam fatwa lainnya, Al Lajnah Ad Da-imah menjelaskan bolehnya pembagian hasil sembelihan qurban tadi lebih atau kurang dari 1/3. Mereka menjelaskan: “Adapun daging hasil sembelihan qurban, maka lebih utama sepertiganya dimakan oleh Shohibul Qurban; sepertiganya lagi dihadiahkan pada kerabat, tetangga, dan sahabat dekat; serta sepertiganya lagi disedekahkan kepada fakir miskin. Namun jika lebih/kurang dari sepertiga atau diserahkan pada sebagian orang tanpa lainnya (misalnya hanya diberikan pada orang miskin saja tanpa yang lainnya, pen), maka itu juga tetap diperbolehkan. Dalam masalah ini ada kelonggaran.” [Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’, soal ketiga dari Fatwa no. 1997, 11/424-425, Mawqi’ Al Ifta’. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz sebagai ketua, Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai Wakil Ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud sebagai Anggota]

Intinya, pemanfaatan hasil sembelihan Qurban yang dibolehkan adalah:

  • Dimakan oleh Shohibul Qurban.
  • Disedekahkan kepada fakir miskin untuk memenuhi kebutuhan mereka.
  • Dihadiahkan pada kerabat untuk mengikat tali silaturahmi, pada tetangga dalam rangka berbuat baik dan pada saudara Muslim lainnya agar memerkuat ukhuwah.

Pemanfaatan yang terlarang dari hasil qurban, silakan telusuri dalam tulisan lainnya di sini: https://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html.

Termasuk dalam bahasan qurban adalah permasalahan aqiqah, artinya pemanfaatan hewan aqiqah pun seperti yang dijelaskan di atas.

Wallahu waliyyut taufiq.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber:

https://rumaysho.com/1965-pembagian-sepertiga-dari-hasil-Qurban.html