Posts

,

TAHUN BARU PERAYAAN JAHILIYAH

TAHUN BARU PERAYAAN JAHILIYAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TAHUN BARU PERAYAAN JAHILIYAH
 
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, dahulu orang-orang Jahiliyyah memiliki dua hari di setiap tahun, yang mana mereka biasa bersenang-senang ketika itu. Ketika Nabi ﷺ datang ke kota Madinah, beliau ﷺ bersabda:
“Dahulu kalian memiliki dua hari di mana kalian bersenang-senang ketika itu. Sekarang Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari besar yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” [HR. Abu Daud no. 1134; An-Nasa’i no. 1556. Sanad hadis ini Shahih menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 4: 142]
 
Yakin masih ingin merayakan Tahun Baru?
  • Yang menyalakan kembang api seperti kaum Majusi,
  • Meniup terompet seperti kaum Yahudi,
  • Bernyanyi layaknya kaum Nasrani, dst.
 
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
‘Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka” [HR Abu Dawud]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tahunbaru #bidah #NewYear #perayaantahunbaru, #tahunbarujahiliyah, #jahiliyyah, #jahiliyah, #tahunbarujahiliyah #Yahudi, #Majusi, #Nasrani, #Nashrani, #Nasharoh #duahariIed, #IdulFitri, #IdulFithri, #IdulAdha #bersenangsenang #bermainmain
, ,

PERAYAAN MAULID BERTASYABBUH KEPADA AGAMA NASRANI & RAFIDHAH

PERAYAAN MAULID BERTASYABBUH KEPADA AGAMA NASRANI & RAFIDHAH
PERAYAAN MAULID BERTASYABBUH KEPADA AGAMA NASRANI & RAFIDHAH
>> Agama ini sejatinya telah sempurna dengan perayaan yang syari
 
Tiga perayaan yang syari (dalam Islam, -pent.):
1. Hari Raya Idul Adha
2. Hari Raya Idul Fitri
3. Hari Raya Jumat
 
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah ﷺ memasuki Madinah dan pada mereka ada dua hari yang mereka bermain-main padanya. Maka beliau ﷺ berkata: “Dua hari apakah ini?”
Mereka menjawab: “Dahulu kami bermain pada dua hari tersebut di masa Jahiliyah.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan keduanya untuk kalian yang lebih baik darinya:
• Hari Adha dan
• Hari Fitri.” [HR Abu Dawud, dan al-Albani telah menshahihkannya]
 
Berkata Rasulullah ﷺ mengenai Jumat:
“Sesungguhnya ini adalah hari raya, Allah telah menjadikannya untuk kaum Muslimin.” [HR Ibnu Majah, dan al-Albani telah menghasankannya]
 
Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah:
 
Pertanyaan:
Siapakah yang pertama kali mengadakan bidah Maulid Nabi dan bagaimanakah sejarahnya?
 
Beliau menjawab:
Yang pertama kali mengadakan bidah tersebut adalah al Fathimiyyun (yang berkuasa) di Mesir pada abad ke-4 Hijriyah. Lalu pada abad ke-7 Hijriyah disemarakkan oleh Raja Irbil di Irak, hingga tersebarlah di tengah-tengah kaum Muslimin.
 
Adapun sebabnya sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Iqtidha’ Shirathil Mustaqim:
 
Sebabnya:
• Bisa jadi karena kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Mereka menyangka, bahwa ini merupakan konsekuensi dari kecintaan tersebut.
 
• Bisa jadi pula sebabnya adalah menyerupai orang-orang Kristen, karena mereka mengadakan peringatan hari kelahiran al-Masih alaihissalam.
 
Terlepas apa sebab yang sebenarnya, maka setiap bidah adalah sesat. [Fatawa Liqa’ al Bab al Maftuh, hlm. 210]
 
Sumber: http://www.alfawaaid.net/2017/12/agama-ini-telah-sempurna-dengan.html
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
#Fiqh #Ibadah #sunnah #bidah #perayaan #maulidnabi #fiqh #fiqih #fikih #bidah #perayaanIslami #harirayaorangIslam, #Jumat, #harirayamingguan, #IdulFitri, #IdulFithri, #IdulAdha #tigaharirayaumatIslam, #3harirayaumatIslam #syiah #rafidhah #rafidhoh #alFathimiyyun #setiapbidahsesat #sejarahmaulidnabi #tasyabbuh #Nasrani
,

APA HUKUM MEMBERI UCAPAN  “JUMAT MUBARAK” DAN SEMISALNYA?

APA HUKUM MEMBERI UCAPAN  "JUMAT MUBARAK" DAN SEMISALNYA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
APA HUKUM MEMBERI UCAPAN  “JUMAT MUBARAK” DAN SEMISALNYA?
 
Pertanyaan:
Apa hukum memberi ucapan untuk hari Jumat? Kebiasaan di antara kami sekarang pada hari Jumat mengirim SMS satu sama lain, lalu memberikan ucapan selamat dengan mengatakan ‘Jumat yang berbarokah’ atau ‘Jumat yang baik’ atau “Jumat Mubarak”.
 
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Pertama:
Tidak diragukan, bahwa hari Jumat adalah hari raya bagi umat Islam, sebagaimana terdapat dalam hadis dari Ibnu Abbas radhiAllahu’anhuma berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ ، فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ ، وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ ، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ (رواه ابن ماجه، 1098، وحسَّنه الألباني في “صحيح ابن ماجه
 
“Sesungguhnya hari ini adalah hari raya yang Allah jadikan untuk umat Islam. Barang siapa yang mendatangi (shalat) Jumat, maka hendaklah mandi (besar). Kalau mempunyai wewangian hendaknya dia pakai dan pergunakan siwak.” [HR. Ibnu Majah, 1098 dan diHasankan oleh Al-Albany dalam Shahih
Ibnu Majah]
 
Ibnu Qayyi rahimahullah menjelaskan tentang kekhususan hari Jumat:
Ketiga belas, bahwa (Jumat) adalah hari raya yang terulang setiap minggu. [Zadul Ma’ad, 1/369]
 
Oleh karena itu umat Islam mempunyai tiga hari raya, Idul Fitri, Idul Adha, keduanya setiap tahun terulang, dan Jumat, dan ia terulang pada setiap minggu.
 
Kedua:
Ucapan selamat umat Islam satu sama lain pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha DIANJURKAN dan hal itu telah ada riwayatnya dari para shahabat radhiAllahu’anhum. Telah dijelaskan dalam soal jawab https://islamqa.info/id/49021 dan https://islamqa.info/id/36442.
 
Adapun ucapan selamat untuk Jumat, yang nampak pada kami, hal itu TIDAK DIANJURKAN, karena Jumat adalah hari raya yang telah diketahui oleh para shahabat radhiAllahu’anhum. Mereka lebih mengetahui keutamaannya dibandingkan kita. Mereka lebih menjaga untuk mengagungkan dan melakukan haknya. Ternyata TIDAK ADA RIWAYAT, bahwa mereka memberikan ucapan selamat sebagian kepada sebagian lainnya untuk Jumat. Dan semua kebaikan itu adalah mengikuti mereka radhiAllahu’anhum.
 
Syaikh Sholeh Fauzan Al-Fauzan hafidhohullah ditanya, ‘Apa hukum mengirimkan SMS setiap Jumat dan diakhiri dengan kata Jumat Mubarak’.
 
Beliau menjawab:
‘Para ulama’ salaf terdahulu TIDAK PERNAH saling memberikan ucapan selamat pada waktu Jumat. Maka kita TIDAK PERLU melakukan yang mereka tidak lakukan.’ [Soal jawab ‘Majalah Ad-Dakwah Islamiyah’]
 
Fatwa yang sama juga dikatakan oleh Syaikh Sulaiman Al-Majid hafizahullah, beliau berkata:
 
“Kami berpendapat TIDAK DIANJURKAN memberikan ucapan selamat untuk Jumat, seperti ucapan sebagian orang ‘Jumat Mubarokah’ atau semisal itu, karena itu termasuk dalam bab doa, zikir, yang mana HARUS BERHENTI (sampai ada dalilnya) ketika ada. Dan ini termasuk sisi ibadah saja.
Kalau sekiranya itu baik, pasti Nabi ﷺ dan para shahabat radhiAllahu’anhum akan mendahului. JIKA ada seorang yang memperbolehkan, maka berarti dianjurkan berdoa dan saling memberikan ucapan barokah ketika selesai melaksanakan shalat fardu yang lima dan ibadah-ibadah lainnya. (Sementara) doa di tempat-tempat ini TIDAK PERNAH dilakukan oleh ulama salaf.’ [Website Syaikh hafidhohullah]
 
Jika seorang Muslim mendoakan saudaranya pada waktu Jumat dengan maksud menyatukan hati, memasukkan kegembiraan pada waktu ijabah, maka hal itu tidak mengapa.
 
Wallahu’alam.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#hukum, #hari raya, #Idul Fitri, #Idul Adha, #Iedul, #Fitri, #Fithri,Adha, #Jum’at, #Jumat, #ucapan, #Doa, #do’a, #hukum ibadah haram, #sampai ada dalilnya, #bolehkah mengucapkan, #ucapan,Jumat Mubarak, #Jumat Mubarok, #Jumat Berberkah, #Jumat Barokah, #Jumat Barakah #harirayatahunan #harirayamingguan

KENAPA IDUL ADHA LEBIH AGUNG DARIPADA IDUL FITRI?

KENAPA IDUL ADHA LEBIH AGUNG DARIPADA IDUL FITRI?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

KENAPA IDUL ADHA LEBIH AGUNG DARIPADA IDUL FITRI?

Dari Abdullah bin Qurath radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَعْظَمُ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ

“Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari An-Nahr, kemudian hari Al-Qarr.” [1]

An-Nahr berarti penyembelihan. 10 Dzulhijjah disebut dengan Hari An-Nahr sebab hari tersebut adalah permulaan syariat penyembelihan hewan kurban. 11 Dzulhijjah disebut Hari Al Qarr (hari menetap) karena, pada 11 Dzulhijjah, orang-orang yang mengerjakan ibadah haji bermalam dan menetap di Mina.

Hadis di atas menunjukkan, bahwa hari An-Nahr adalah hari yang paling agung di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Hari An-Nahr adalah hari haji Akbar yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam [2], dan termasuk hari ‘Id umat Islam, sebagaimana keterangan yang telah berlalu dalam hadis ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu.

Hari An-Nahr, atau ‘Id An-Nahr, LEBIH UTAMA daripada ‘Idul Fitri. Hal ini karena pada ‘Id An-Nahr terdapat pelaksanaan shalat, penyembelihan, keutamaan dalam sepuluh hari Dzulhijjah, serta keutaman tempat dan waktu yang agung bagi orang-orang yang melaksanakan ibadah haji. Sedangkan pada ‘Idul Fitri hanya terdapat pelaksanaan shalat dan sedekah saja. Tentunya, sembelihan lebih utama daripada sedekah.

 

Catatan Kaki:

[1] Hadis ini di atas diriwayatkan oleh Ahmad 4/350, Abu Dawud no. 1765, An-Nasa`iy dalam As-Sunan Al-Kubra` no. 4098, Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al-Ahad wal Matsany no. 2407-2408, Ibnu Khuzaimah no. 2866, 2917, 2966, Al-Hakim 4/246, dan Al-Baihaqy 5/241, 7/288, serta dishahih­kan oleh Al-Albany dalam lrwa’ul Ghalîl no. 1958.

[2] Sebagaimana dalam hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary –secara mu’allaq-, Abu Dawud, Ibnu Majah no. 3059, Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat2/183-184, Ath-Thabarany 2/377, Al-Hakim 2/361, serta Al-Baihaqy 5/139 dan dalam Syu’abul Îman 3/469. Dishahihkan oleh Al-Albany rahimahullah dalam beberapa buku beliau.

Sumber: http://markazdakwah.or.id/keutamaan-hari-nahr/

 

,

TIDAK ADA HARI KHUSUS UNTUK ZIARAH KUBUR

TIDAK ADA HARI KHUSUS UNTUK ZIARAH KUBUR

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Nasihat_Ulama

?TIDAK ADA HARI KHUSUS UNTUK ZIARAH KUBUR

?Keterangan Komite Tetap untuk Penelitian Ilmiah dan Fatwa:

لا يجوز تخصيص يوم معين من السنة لا الجمعة ولا أول يوم من رجب، ولا آخر يوم، في زيارة المقابر؛ لعدم الدليل على ذلك، وإنما المشروع أن تزار متى تيسر ذلك، من غير تخصيص يوم معين للزيارة

⚠“Tidak boleh mengkhususkan hari tertentu dalam setahun untuk berziarah kubur, tidak Jumat, tidak awal Rajab maupun akhirnya, karena TIDAK ADA dalil yang menunjukkannya. Hanyalah yang disyariatkan adalah engkau berziarah kapan saja engkau mudah melakukannya, TANPA mengkhususkan hari tertentu untuk ziarah kubur.”

? [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 9/114 no. 8818]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

✏ Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

Sumber: http://www.taawundakwah.com/petuah-ulama/tidak-ada-hari-khusus-untuk-ziarah-kubur/

 

EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

Apakah Disunahkan Sholat Tahiyyatul Masjid di Musholla?

 

Pertanyaan:
Jika ada bangunan “langgar” namun belum diwakafkan, terkadang di tempat tersebut digunakan untuk sholat jamaah Maghrib dan Isya, apakah sudah dihukumi sebagai masjid dan padanya hukum-hukum terkait masjid?

Jawaban:
Al-Lajnah Al-Iftaa’ Al-Urduniyyah berkata:

“Alhamdulillah, shalawat dan salam tercurah pada Sayyidina Rasulillah.

Setiap tempat di permukaan bumi yang seorang sah sholat di atasnya teranggap sebagai masjid. Nabi ﷺ bersabda:

وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا

“Bumi ini dijadikan untukku sebagai masjid dan tempat yang suci” [HR. Al-Bukhari]

Namun masjid yang berlaku di dalamnya hukum-hukum fikih, adalah tempat yang diwakafkan untuk sholat, yaitu tempat yang diwakafkan dan disediakan khusus untuk sholat. Adapun definisi mushalla adalah tempat yang digunakan untuk sholat dan berdoa tanpa disyaratkan wakaf. Setiap tempat yang digunakan untuk sholat dan berdoa, baik statusnya wakaf atau bukan, disebut mushalla. Oleh karena itu, mushalla mencakup masjid dan selainnya. Setiap masjid adalah mushalla dan tidak setiap mushalla adalah masjid.

Terdapat perbedaan hukum fikih di antara keduanya:

[Pertama] Masjid adalah tempat yang diwakafkan untuk sholat, tidak sah melakukan transaksi jual-beli dan semisalnya di masjid. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

الأظهر أن الملك في رقبة الموقوف ينتقل إلى الله تعالى، أي ينفك عن اختصاص لآدمي فلا يكون للواقف ولا للموقوف عليه

“Yang nampak bahwa kepemilikan tanah yang diwakafkan berpindah pada Allah ta’ala, maksudnya terlepas dari kepemilikan manusia, bukan lagi menjadi hak milik orang yang mewakafkan, maupun pihak yang menerima wakaf” [Minhaaj Ath-Thalibin, 1/70]

Sedangkan mushalla masih mungkin dimiliki oleh pihak tertentu sehingga diperbolehkan melakukan transaksi jual-beli dan sewa-menyewa di dalamnya, serta boleh pula memindahkan mushalla ke tempat yang lain.

[Kedua] Diharamkan bagi wanita junub dan haid menetap di masjid, dan sebaliknya diperbolehkan bagi mereka menetap di mushalla. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

ويحرم بها – أي بالجنابة – ما حرم بالحدث، والمكث بالمسجد لا عبوره

“Menetap di masjid diharamkan bagi orang yang junub, namun diperbolehkan bagi orang yang berhadats atau seorang yang hanya sekedar lewat” [Minhaaj Ath-Thalibin, 1/21]

[Ketiga] Tidak sah melakukan I’tikaf dan sholat Tahiyyatul Masjid kecuali di masjid. Al-Khathiib Asy-Syirbiini rahimahullah berkata:

ولا يفتقر شيء من العبادات إلى مسجد إلا التحية والاعتكاف والطواف

“Seluruh ibadah tidak disyaratkan dilakukan di masjid, kecuali sholat Tahiyyatul masjid, I’tikaf dan Thawaf” [Mughniy Al-Muhtaaj, 5/329]

[Keempat] Diharamkan membangun lantai atau bangunan khusus di atas masjid. Disebutkan dalam Hasyiyah Ibni ‘Abidiin:

لو تمت المسجدية ثم أراد البناء – أي بناء بيت للإمام فوق المسجد – مُنع

“Seandainya pembangunan masjid telah sempurna, kemudian ia ingin menambah bangunan lain –seperti membangun rumah imam di atas masjid- maka hal itu terlarang” [Hasyiyah Ibni ‘Abidin, 3/371]

Sedangkan diperbolehkan melakukan hal itu di mushalla, karena mushalla bukan tempat wakaf, namun dengan tetap menjaga kebersihan dan kesucian tempat dari najis.

Melakukan sholat Jumat di mushalla hukumnya sah, namun yang lebih utama dilakukan di masjid. Pensyarah kitab Al-Minhaj berkata:

لأن إقامتها في المسجد ليست بشرط

“Karena melakukan sholat Jumat di masjid bukanlah syarat” [Syarh Al-Minhaaj, 2/238]. Wallahu ta’ala a’lam”

Berikut teks fatwanya:

الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله
كل بقعة من الأرض تصح الصلاة فيها تعد مسجداً؛ لقوله صلى الله عليه وسلم: (وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا) رواه البخاري. لكن المسجد الذي تترتب عليه أحكام فقهية هو المكان الموقوف للصلاة، أي الذي وُقف وحُبس ليكون مخصصاً للصلاة.
وأما المصلى فهو موضع الصلاة والدعاء، ولا يشترط فيه أن يكون موقوفاً، بل يصح أن يكون موقوفاً وغيره، فالمصلى إذن يشمل المسجد وغير المسجد، فكل مسجد مصلى وليس كل مصلى مسجداً.

ويفارق المسجد المصلى في بعض الأحكام منها:

أولاً: المسجد – كما ذكرنا -: المكان الموقوف للصلاة؛ فلا يصح التصرف فيه ببيع ونحوه. قال الإمام النووي: ” الأظهر أن الملك في رقبة الموقوف ينتقل إلى الله تعالى، أي ينفك عن اختصاص لآدمي فلا يكون للواقف ولا للموقوف عليه ” “منهاج الطالبين (1/70)، أما المصلى فيصح كونه مملوكاً لشخص معين، ويصح بيعه أو تحويله إلى مكان آخر، ويصح كونه مستأجراً.

ثانياً: يحرم على الحائض والجنب اللبث في المسجد، بينما يصح لهما المكث في المصلى. قال الإمام النووي: “ويحرم بها – أي بالجنابة – ما حرم بالحدث، والمكث بالمسجد لا عبوره” “منهاج الطالبين” 1/ 12.

ثالثاً: الاعتكاف أو تحية المسجد لا يصحان إلا في المسجد. قال الخطيب الشربيني: “ولا يفتقر شيء من العبادات إلى مسجد إلا التحية والاعتكاف والطواف” “مغني المحتاج” (5/ 329.

رابعاً: يحرم اعتلاء المسجد ببناء أو طوابق. جاء في “حاشية ابن عابدين”: “لو تمت المسجدية ثم أراد البناء – أي بناء بيت للإمام فوق المسجد – مُنع” (3/ 371)، أما المصلى فيصح ذلك لأنه ليس بموقوف، مع مراعاة المحافظة على نظافة المصلى وتنزيهه عن النجاسة.

وتصح صلاة الجمعة في المصلى، والأفضل كونها في المسجد. قال الشيخ الجمل عن صلاة الجمعة: “لأن إقامتها في المسجد ليست بشرط” “حاشية الجمل على شرح المنهج” (2/ 238). والله تعالى أعلم.

Sumber: Fatawaa Lajnah Al-Iftaa’ Al-Urduniyyah no. 2064, tertanggal 12/06/2012

Asy-Syaikh Abdul Aziiz bin Baz rahimahullah berkata:

السنة لمن أتى مصلى العيد لصلاة العيد، أو الاستسقاء أن يجلس ولا يصلي تحية المسجد؛ لأن ذلك لم ينقل عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه رضي الله عنهم فيما نعلم إلا إذا كانت الصلاة في المسجد فإنه يصلي تحية المسجد؛ لعموم قول النبي صلى الله عليه وسلم: ((إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين)) متفق على صحته.
والمشروع لمن جلس ينتظر صلاة العيد أن يكثر من التهليل والتكبير؛ لأن ذلك هو شعار ذلك اليوم، وهو السنة للجميع في المسجد وخارجه حتى تنتهي الخطبة. ومن اشتغل بقراءة القرآن فلا بأس، والله ولي التوفيق.

“Bagi seorang yang mendatangi mushalla untuk sholat ‘Ied atau mushalla untuk sholat Istisqaa, tidak disunahkan mengerjakan sholat Tahiyyatul Masjid. Hendaklah ia duduk, karena perbuatan tersebut tidak pernah dinukil dari Nabi ﷺ dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum, sebatas apa yang kami ketahui. Kecuali jika sholat Ied tersebut dilakukan di masjid, maka hukumnya tetap disunahkan berdasarkan keumuman hadis Nabi ﷺ:

إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين

“Jika salah seorang kalian memasuki masjid, janganlah ia duduk hingga melakukan sholat dua rakaat” -disepakati keshahihannya-

Disunahkan baginya untuk memerbanyak tahlil dan takbir saat menunggu ditegakannya sholat Ied, baik jamaah yang berada di dalam maupun di luar masjid, hingga selesai khutbah, karena itulah yang merupakan syi’ar di hari Ied. Barang siapa yang menyibukkan diri dengan membaca Alquran, ini pun diperbolehkan. Wallahu waliyyut taufiiq”

Sumber: Majmuu’ Fataawaa wa Maqaalaat Mutanawwi’ah jilid 13

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah pernah ditanya:

هل هناك ركعتان تحية المسجد في مصلى العيد؟

“Apakah disyariatkan melakukan sholat Tahiyyatul Masjid di mushalla Ied?

Beliau rahimahullah menjawab:

طبعا هذا ليس مسجدا فليس له تحية مسجد

“Ini bukan masjid, sehingga tidak ada sholat Tahiyyatul Masjid di dalamnya”.

 

Diterjemahkan oleh Abul-Harits

http://abul-harits.blogspot.co.id/2014/01/4-perbedaan-masjid-dan-musholla-apakah.html

 

Yang berikut adalah “Tanya Jawab dengan Al Ustadz Abul Harits”

Pertanyaan:

Menurut saya, kalau kalau musholla itu berdiri di tanah wakaf dan dipergunakan setiap hari untuk sholat berjamaah, maka berhak untuk sholat Tahiyyatul Masjid di situ. wallahu a’llam

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Anda benar. Musholla yang berdiri di atas tanah wakaf dan digunakan untuk shalat berjamaah, disunahkan shalat Tahiyyatul Masjid di dalamnya. Karena musholla tersebut telah berstatus masjid. Jadi perbedaan masjid dan musholla bukan bergantung pada besar kecilnya bangunan.

Seringkali, istilah musholla yang dimaksud oleh masyarakat kita adalah masjid yang berukuran kecil, ini KELIRU. Hal mendasar yang membedakan keduanya adalah TANAH WAKAF. Bangunan tanah wakaf yang didirikan untuk tempat shalat adalah masjid, meskipun berukuran kecil. Bangunan yang didirikan untuk tempat shalat tanpa ada tanah wakaf adalah musholla, meskipun berukuran besar. Contoh bangunan musholla yang sering kita jumpai: musholla di kantor, musholla di mall pusat perbelanjaan, musholla di sekolah, dan lainnya.

Pertanyaan:

Kalau dasar yang membedakan itu tanah wakaf [sebagaimana di kampung kami], tapi niat awal diperuntukan untuk musholla, apakah bisa dialihkan fungsi ke masjid? Atau secara tersirat seperti masjid? Mohon pencerahan. Terima kasih

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Musholla bisa dialihfungsikan sebagai masjid jika tanahnya diwakafkan. Jika dari awal memang tanahnya merupakan tanah wakaf, maka statusnya sudah masjid, meskipun dinamakan musholla oleh masyarakat. Wabillahittaufiq

Komentar:

Benar, status awal sudah tanah wakaf dan karena statusnya sudah MASJID [walau tanpa merubah kata MUSHOLLA ], artinya sudah bisa dipakai niat sholat Tahyatul Masjid atau kalau memungkinkan sholat Jumat.Terima kasih atas penjelasannya.

Pertanyaan:

Kalau tidak pernah dipakai Jumatan, sholat Lima Waktu jarang, azan tidak setiap waktu, apakah tetap disebut masjid, walaupun tanah wakaf.

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Seandainya ada masjid agung yang terletak di komplek alun-alun kota, kemudian jarang didirikan shalat Jamaah 5 waktu dan shalat Jumat, statusnya tetap sebagai masjid, meskipun tidak dimakmurkan (sepi). Jadi alasan tersebut bukan merupakan kriteria masjid.

Masjid yang dipakai shalat Jumat sering diistilahkan dengan masjid Jami’. Namun bukan berarti masjid selain masjid jami’ tidak berstatus sebagai masjid. Mudah-mudahan bisa dipahami, Allahua’lam

Pertanyaan:

Saya tinggal di sebuah Komplek Pertokoan. Di Komplek tersebut ada Mushalla sekira 8 x 8 meter….. tak jauh dari komplek (sekitar 200m) ada sebuah masjid…. ketika shalat Lima waktu tiba….. tempat mana yang harus saya pilih… apakah saya mendirikan shalat berjamaah di Mushalla komplek atau ikut berjamaah di Masjid (dan mengabaikan Mushalla komplek). Mohon pencerahan, terima kasih

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Anda boleh memilih shalat Jamaah di musholla atau di masjid. Namun yang lebih utama (afdhal), Anda shalat di masjid, karena masjid memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki oleh musholla.

Jika ada pertimbangan lain, misalkan absennya Anda dari musholla komplek menimbulkan fitnah atau salah paham, maka lebih baik Anda shalat di musholla. Jika tidak ada kekhawatiran tersebut, Anda tetap shalat di masjid, Allahua’lam

Pertanyaan:

Di dalam cluster ada tanah fasum. Karena belum ada masjid, di perumahan dibangun mushola cukup 50-60 orang. Apakah bisa dibilang masjid tanah fasum?

Beberapa tahun kemudian developer membuat masjid di luar cluster buat Jumatan.

Apakah harus pindah? Apakah masih boleh jamaah di mushola? Adakah hadis yg menyebutkan sholat fardhu di masjid jami lebih utama daripada di masjid dalam cluster?

Mohon jawabannya yang segera, untuk pemahaman ke warga.

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Kalau tanah fasum itu memang khusus disediakan untuk masjid, bukan hanya untuk sementara saja, maka musholla tersebut berstatus masjid. Namun kalo ke depannya akan dibangun masjid yang tetap, kemudian tanah fasum itu dialihkan untuk fungsi yang lain setelah dibangun masjid, maka bangunan untuk shalat itu hanya berstatus musholla.

Baik masjid maupun musholla, keduanya boleh dipakai untuk shalat jamaah lima waktu. Banyak faktor yang menjadikan shalat di salah satu masjid lebih utama dari masjid yang lain, di antaranya bacaan quran imam, jumlah jamaah shalat, jauh dekatnya, dihidupkannya sunah-sunah nabi di masjid tersebut dan faktor lainnya. Shalat berjamaah di masjid jami’ tidak lebih utama dibandingkan shalat di masjid lain. Namun shalat di masjid (baik masjid jami’ atau bukan) lebih utama dari shalat di muholla. Keutamaan suatu masjid berbeda-beda dilihat dari beberapa faktor yang saya sebutkan tadi.

 

Allahua’lam