Posts

,

HIKMAH DI BALIK MELEMPAR JAMARAT

HIKMAH DI BALIK MELEMPAR JAMARAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
#FikihHajiUmrah
HIKMAH DI BALIK MELEMPAR JAMARAT
 
Ringkasan Kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA hafizhahullah
Tempat: Masjid Nabawi Madinah
Hari dan Tanggal: Kamis, 16 Dzul Hijjah 1438H
 
1. Harus bersyukur bisa menunaikan ibadah agung, yaitu berhaji, karena haji mahal dan berharga. Di dalamnya terdapat Wukuf di Arafah, Mabit di Muzdalifah dan Mina, yang mana tidak semua orang diberi petunjuk dan kemudahan. Keberadaan Anda bermunajaat di Padang Arafah sungguh merupakan kenikmatan yang diimpikan jutaan Muslim di penjuru dunia. Dan Andalah yang telah terpilih.
 
2. Haji Mabrur bukan kalimat sederhana karena:
– Tidak ada pahala yang setimpal kecuali Surga.
– Membersihkan dari dosa, bahkan dosa besar, sebagaimana ia keluar dari rahim ibunya, sebagaimana kisah masuk Islamnya ‘Amr bin Al Ash radhiyallahu ‘anhu, yang Rasulullah ﷺ bersabda: “…Bahwa haji akan menghapuskan dosa-dosa sebelumnya.”
 
3. Hikmah suatu amal ibadah, jika kita mengetahuinya, maka ini adalah baik, dan menambah keteguhan iman. Tetapi jika hikmahnya tidak diketahui, maka yang harus dilakukan oleh seorang Muslim adalah tunduk dan patuh.
 
4. Secara global, hikmah ibadah haji adalah untuk berzikir mengingat Allah taala. Dalam hadis: “Sesungguhnya Thawaf di Baitullah, Sai antara Shafa dan Marwah, serta melepar Jamarat, adalah untuk mengingat Allah taala”.
 
5. Sebagian amalan haji diketahui hikmahnya seperti Sai; yaitu ketika Hajar mencari air untuk minum anaknya. yaitu Ismail. Tetapi BUKAN berarti saat sekarang seorang yang melakukan Sai, ia sedang mencari air untuk anaknya.
 
6. Asal kisah pelemparan Jamarat adalah ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ingin menyembelih Ismail atas perintah dan wahyu dari Allah. Akan tetapi ia diganggu setan sebanyak tiga kali.
 
7. Kisah penyembelihan terjadi khilaf antara versi Agama Islam dan versi Ahlu Kitab. Menurut agama Islam, yang disembelih adalah Ismail. Sedangkan menurut Ahlu Kitab yang disembelih adalah Ishaq. Namun yang benar adalah Ismail, karena kejadian penyembelihan di Mekah, dan yang tinggal di Mekah adalah Ismail, dan kaum Musliminlah yang memperingati peristiwa tersebut dengan Hari Raya Kurban setiap tahun.
 
8. TIDAK ADA SETAN di lubang Jamarat tatkala melempar, sebagaimana keyakinan sebagian orang.
 
9. Begitu juga Sai, tidak boleh meyakini mencari air, sebagaimana Hajar.
 
10. Ibrahim ‘alaihissalam saja digoda dan diganggu oleh setan, apalagi manusia biasa seperti kita. Maka harus selalu berhati-hati dan jangan merasa aman dari gangguan setan.
 
11. Nabi Ibrahim alaihissalam berdakwah kepada tauhid dari mulai muda. Ini menjadi pemicu agar kita menggunakan waktu untuk berdakwah semasa muda dan saat masih mampu.
 
12. Di antara teman yang baik adalah anak yang saleh, sebagaimana Nabi Ibrahim ketika ditolak oleh kaumnya, dan saat itu tidak ada yang beriman, maka Ibrahim berdoa untuk dianugrahkan anak saleh dan ia pun dianugrahi Ismail.
 
13. Selalu BERBAIK SANGKA KEPADA ALLAH TAALA. Mungkin sebab doa belum dikabulkan karena saat itu belum cocok untuknya dikabulkan doanya. Seperti dikabulkannya doa Nabi Ya’qub setelah puluhan tahun agar bisa bertemu dengan Yusuf, baru bertemu ketika Yusuf alaihissalam setelah dia menjadi pejabat agung di Mesir, agar bermanfaat untuk Ya’qub dan keluarganya. Begitu juga Nabi Ibrahim alaihissalam ketika berdoa minta anak semenjak berumur 20 tahun, baru dikabulkan setelah berumur 80-an tahun.
 
14. Wanita godaan terbesar bagi laki-laki, kisah Sarah dengan Raja pemimpin jahat.
 
15. Jika punya istri dua, maka jangan menceritakan kepada istri pertama kebaikan istri kedua, karena akan menjadikan istri pertama cemburu.
 
16. Salah satu sebab Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ismail, di mana Ibrahim sudah mulai terlalu cinta kepada Ismail, adalah agar tidak tercampur cintanya dengan kecintaan kepada Allah taala, karena Nabi Ibrahim adalah Khalilullah, kekasih Allah terdekat.
 
17. Mimpi seorang nabi adalah wahyu yang paling rendah.
 
18. Kalimat “Saya sedang melihat di dalam mimpi saya “, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab tafsir menunjukkan kesabaran Nabi Ibrahim untuk memberitahukan dengan lembut perkara tersebut kepada anaknya. Ini bekal untuk mendidik anak, yaitu agar santun kepada anak dalam berbuat dan berkata-kata.
 
19. Di antara sikap ujub dalam beramal adalah menyerahkan diri dan urusannya kepada dirinya sendiri, dan lupa dengan kuasa dan kekuatan Allah taala.
 
20. Ketika hendak menyembelih, posisi wajah Nabi Ismail di balik (di atas pelipis), agar Ibrahim tidak terlalu sedih melihat wajah anaknya yang sedang disembelih. Yang hal ini bisa saja menggoda beliu untuk mundur dari perintah Allah
 
21. Ujian para nabi adalah ujian yang paling berat.
 
22. Ujian terkadang bertahap-tahap. Dan jika ujiannya tambah berat. maka berarti jalan keluar sebentar lagi datang.
 
23. Seseorang diuji berdasarkan kekuatan imannya.
 
24. Di antara beratnya ujian Nabi Ibrahim:
– Diperintahkan menyembelih anak yang sangat diharapkan kehadirannya, setelah berdoa sekian lama.
– Diperintahkan menyembelih anak yang sudah sangat diharapkan sebagai penerus.
– Diperintahkan menyembelih anak yang sangat dicintai.
– Apalagi anak tersebut anak semata wayang.
– Apalagi anak tersebut sangat saleh.
 
25. Beratnya ujian Nabi Ibrahim karena beliau adalah Khalilullah.
 
26. Terkadang seseorang diuji dengan perkara sangat yang dicintai, agar yang paling patut dicintai adalah hanya Allah semata.
 
27. Di antara beratnya ujian Nabi Muhammad ﷺ:
– Diwafatkan bapak beliau sebelum beliau lahir.
– Diwafatkan ibunya ketika beliau masih belum baligh.
– Diwafatkan dua anak laki-laki beliau ﷺ, padahal masih bayi dan kecil.
– Diwafatkan sebelum beliau, tiga anak perempuan beliau sebelum beliau wafat.
 
28. Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad ﷺ, dan Nabi Isa berdoa. Ini menunjukkan, bahwa mereka bukan sembahan, tetapi mereka adalah makhluk.
 
29. Bermusyawarah dengan anak, salah satu metode dalam mendidik anak, meskipun orangtua sudah mempunyai keputusan.
28. Ujian tidak akan lebih dari kemampuan manusia, maka teruslah bersabar tatkala diuji.
 
30. Terkadang Allah memberikan pertolongan di puncak kesulitan, seperti kisah Nabi Ishaq.
 
31. Versi Ahlu Kitab bahwa yang disembelih adalah Ishaq.
 
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin Al Banjary
,

APAKAH DENGAN MEMBACA TALBIYAH BERARTI KITA BERNIAT MEMASUKI IBADAH HAJI?

APAKAH DENGAN MEMBACA TALBIYAH BERARTI KITA BERNIAT MEMASUKI IBADAH HAJI?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#FikihHajiUmrah
APAKAH DENGAN MEMBACA TALBIYAH BERARTI KITA BERNIAT MEMASUKI IBADAH HAJI?
 
Pertanyaan:
Apakah niat masuk ibadah haji itu dimulai ketika kita membaca bacaan Talbiyah?
 
Jawaban:
Talbiyah adalah dengan mengatakan “Labbaika umrotan” jika untuk umrah dan “Labbaika hajjan” jika untuk haji. Sedangkan NIAT TIDAK BOLEH DILAFALKAN. Sehingga kita TIDAK BOLEH -misalnya- mengatakan: “Ya Allah, saya berniat umrah atau berniat haji.” Cara semacam ini tidak diriwayatkan dari Nabi ﷺ.
 
[Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Darul Falah, 2007].
(Dengan pengubahan tata bahasa oleh www.konsultasi syariah.com)
 
 
,

MANA DALILNYA?

MANA DALILNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

MANA DALILNYA?

Jika kamu sudah mulai bertanya: “Mana Dalilnya?”, maka itu tanda kamu mula serius memerhatikan agamamu.

TERUSLAH MENUNTUT ILMU SYARI!

YANG MENCELA BID’AH ADALAH LISAN NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WASSALLAM

YANG MENCELA BID'AH ADALAH LISAN NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WASSALLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SayNoToBidah, #StopBidah, #MutiaraSunnah

YANG MENCELA BID’AH ADALAH LISAN NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WASSALLAM

Jika ada postingan yang membahas larangan bid’ah, selalu muncul komentar ketidaksukaan, seakan larangan bid’ah bukan perkara yang penting dalam agama ini. Dan menganggap larangan perbuatan bid’ah berasal dari seseorang ulama seperti ustadz, syaikh atau seorang imam paham tertentu. Padahal yang mencela bid’ah adalah Nabi Muhammad ﷺ sendiri, sebagaimana disebutkan di banyak hadis.

Jadi, lisan yang mencela bid’ah dan mewanti-wanti umat dari bid’ah adalah lisan Nabi ﷺ sendiri, sebagaimana terdapat dalam hadis-hadis berikut ini:

Hadis 1

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Hadis 2

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

Hadis 3

Rasulullah ﷺ setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan. Setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)

Dalam riwayat An Nasa’i:

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ، إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka” (HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i)

Hadis 4

Rasulullah ﷺ bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan taat kepada pemimpin, walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada Sunnah-ku dan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin, yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan, karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadis ini Hasan Shahih”)

Hadis 5

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ

“Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah, sampai ia meninggalkan bid’ahnya” (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath no.4334. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 54)

Hadis 6

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Aku akan mendahului kalian di Al Haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari Al Haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata: ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman: ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’ “ (HR. Bukhari no. 6576, 7049).

Dalam riwayat lain dikatakan:

إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

“(Wahai Rabb), sungguh mereka bagian dari pengikutku. Lalu Allah berfirman: ‘Sungguh engkau tidak tahu, bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu”. Kemudian Rasulullah ﷺ mengatakan: “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku”(HR. Bukhari no. 7050).

Al’Aini ketika menjelaskan hadis ini beliau berkata: “Hadis-hadis yang menjelaskan orang-orang yang demikian, yaitu yang dikenal oleh Nabi sebagai umatnya, namun ada penghalang antara mereka dan Nabi, dikarenakan yang mereka ada-adakan setelah Nabi wafat. Ini menunjukkan, setiap orang yang mengada-adakan suatu perkara dalam agama yang tidak diridai Allah, itu tidak termasuk jamaah kaum Muslimin. Seluruh Ahlul Bid’ah itu adalah orang-orang yang gemar mengganti (ajaran agama) dan mengada-ada, juga orang-orang zalim dan ahli maksiat. Mereka bertentangan dengan Al Haq. Orang-orang yang melakukan itu semua, yaitu mengganti (ajaran agama), dan mengada-ada apa yang tidak ada ajarannya dalam Islam, termasuk dalam bahasan hadis ini” (Umdatul Qari, 6/10)

Hadis 7

Rasulullah ﷺ bersabda:

انَّهُ سَيَلِي أَمْرَكُمْ مِنْ بَعْدِي رِجَالٌ يُطْفِئُونَ السُّنَّةَ ، وَيُحْدِثُونَ بِدْعَةً ، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا ” ، قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ بِي إِذَا أَدْرَكْتُهُمْ ؟ قَالَ : ” لَيْسَ يَا ابْنَ أُمِّ عَبْدٍ طَاعَةٌ لِمَنْ عَصَى اللَّهَ ” ، قَالَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Sungguh di antara perkara yang akan datang pada kalian sepeninggalku nanti, yaitu akan ada orang (pemimpin) yang mematikan sunnah dan membuat bid’ah. Mereka juga mengakhirkan shalat dari waktu sebenarnya’. Ibnu Mas’ud lalu bertanya: ‘Apa yang mesti kami perbuat jika kami menemui mereka?’ Nabi ﷺ bersabda: ‘Wahai anak Adam, tidak ada ketaatan pada orang yang bermaksiat pada Allah’”. Beliau ﷺ mengatakannya tiga kali. (HR. Ahmad no.3659, Ibnu Majah no.2860. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ahadis Shahihah, 2864)

 

Referensi dari “Hadis-hadis bid’ah”, karya Yulian Purnama di web Muslim.or.id

,

SAMBUTLAH WAKTU PAGIMU

SAMBUTLAH WAKTU PAGIMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SAMBUTLAH WAKTU PAGIMU

 

اللهم بارك لأمتى فى بكورها

 

“YA ALLAH BERIKANLAH KEBERKAHAN UNTUK UMATKU DI WAKTU PAGI MEREKA.“ [HR At Thabrani dalam Al Aushat: 771 dan disahihkan oleh syaikh Al Albany]

Begitulah doa yang diucapkan oleh Rasul yang mulia ﷺ, untuk mereka yang melakukan aktivitasnya di pagi hari. Tentunya sudah sepantasnya bagi seorang Muslim untuk menggunakan waktu yang mulia ini untuk yang terbaik dalam kehidupannya.

Apa yang dilakukan oleh seseorang di awal harinya, akan menentukan keadaan akhir harinya. Sehingga datang sebuah hadis dalam Sahih Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa beliau selalu bertasbih di pagi hari sampai terbit matahari. Ketika matahari terbit beliau mengatakan:

الحمد لله الذي أقالنا يومنا هذا، ولم يؤاخذنا بذنوبنا

“Segala puji hanya milik Allah yang telah menjagaku di hari ini, dan tidak menyiksaku dengan dosa dosaku”.

Mari kita lihat bagaimana Abdullah bin Mas’ud menganggap dirinya telah dijaga oleh Allah di harinya, padahal beliau baru melewati waktu paginya. Hal ini menunjukkan, bahwa siapa yang menjaga di waktu paginya, maka Allah akan menjaga sisa di hari tersebut.

Oleh karena itu para ulama salaf terdahulu, mereka berusaha untuk tidak tidur setelah Subuh, walaupun mereka sangat lelah. Kemudian mereka berzikir dan bertasbih sampai terbit matahari, baru mereka tidur.

Subhanallah.

Berikut adalah keutamaan yang akan diraih oleh mereka yang selalu menjaga waktu pagi mereka dengan ketaatan:

  1. Mendapatkan keutamaan Qabliyah Subuh dan shalat Subuh secara berjamaah. Rasulullah ﷺ bersabda:

ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها

“Dua rakaat sebelum Subuh itu lebih baik dari dunia dan seisinya.” [HR muslim]

Beliau ﷺ juga bersabda:

لن يلج النار أحد صلى قبل طلوع الشمس وقبل غروبها يعني الفجر والعصر

“Tidak akan masuk Neraka seorang yang shalat sebelum terbit matahari, dan sebelum tenggelam [Subuh dan Ashar]. [HR Muslim dari Sahabat Umarah Bin Ruwaibah]

  1. Mendapatkan barakah doanya Rasulullah ﷺ, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Sehingga ada seorang sahabat yang selalu mengirimkan perniagaan di pagi hari, sehingga dia menjadi kaya dan banyak hartanya.

Berkata Syaikh Bin Ustaimin rahimahullah:

“Itu semua dikarenakan, bahwa waktu siang adalah waktu yang Allah menjadikannya sebagai tempat untuk mencari nafkah. Sehingga jika seseorang menyambut waktu siang dengan bergegas melakukan aktivitas di waktu pagi, maka dia akan mendapatkan berkah. Namun kebanyakan dari kita melewatkan kesempatan yang mulia ini, sehingga mereka tertidur di waktu pagi, dan tidak terbangun, kecuali di waktu Dhuha, sehingga terluputkan keberkahan di waktu pagi . Selesai dari Syarh Riyadhussalihin.

Berkata Al Imam An Nawawi: Disunnahkan bagi mereka yang memiliki tugas seperti membaca atau belajar ilmu syari atau tasbih atau i’tikaf , atau pekerjaan, maka hendaknya melakuannya di awal pagi. [Lihat Faidhul Qadir Syarh Jami’ As Saghir]

  1. Mendapatkan waktu dibaginya rezeki

Abdullah bin Abbas pernah melihat seorang tertidur di waktu pagi, lalu beliau berkata kepadanya: Bangunlah engkau. Apakah engkau tertidur di waktu yang dibagikan di dalamnya rezeki? “

[Lihat Adab As Syariyyah karya ibnu muflih]

Semoga Allah selalu memberikan semangat untuk melakukan aktivitas kita semua di waktu pagi.

Wallahu A’lam bishowab.

 

Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah Imam hafizhahullah

Sumber: http://www.el-imam.com/2015/10/sambutlah-waktu-pagimu.html

TIDAK ADA LIBUR DALAM BERAMAL

TIDAK ADA LIBUR DALAM BERAMAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

TIDAK ADA LIBUR DALAM BERAMAL

>> Penutup Setiap Amalan Ketaatan

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا

“Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji kalian, maka berzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kalian menyebut-nyebut ayah-ayah/nenek moyang kalian, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu.” [Al-Baqarah: 200]

Allah memerintah untuk menutup ibadah haji dengan banyak berzikir kepada Allah. Dan di ayat sebelum ayat di atas kita diperintah untuk banyak beristighfar ‘Memohon ampun’ kepada Allah. Pada shalat lima waktu, kita dianjurkan untuk menutupnya dengan zikir-zikir yang dibaca selepas shalat dan shalat-shalat Rawatib. Pada syariat puasa Ramadan, kita diwajibkan untuk menutupnya dengan zakat Fitri, dan disunnahkan puasa enam hari di bulan Syawal. Demikianlah setiap ibadah agung dalam syariat Islam, agar penutup amalannya melengkapi dan menyempurnakan kekurangan yang terjadi dalam ibadah.

Itulah kaidah dalam beribadah. Tidak ada waktu beristirahat guna beramal kepada Allah. Tidak perlu berlibur di kehidupan yang kita tidak mengetahui kapan ajal datang menjemput. Allah berfirman kepada Nabi-Nya:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ، وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabb-mulah hendaknya kamu berharap.” [Asy-Syarh: 7-8]

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan beribadahlah kepada Rabb-mu, sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” [Al-Hijr: 99]

 

Penulis: Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi

Sumber: twitter.com/markazdakwahbt

 

BANGUN YA AKHI, YA UKHTI… RAMADAN AKAN PERGI!

BANGUN YA AKHI, YA UKHTI... RAMADAN AKAN PERGI!

#raihberkahnya

BANGUN YA AKHI, YA UKHTI… RAMADAN AKAN PERGI!

▶️1. Allahu musta’an. Ramadan masih di sini. Di detik-detik akhirnya. Qum ya akhi. Qum ya akhi. Qum. Bangun.. Bangun.. Bangun.. Tamu itu mau pergi. Tamu itu siap meninggalkan kita.

▶️2. Ini masa emas. Kesempatan terakhir, kesempatan paling tersisa untuk memayahkan diri demi mengejar kemuliaan Ramadan. Ia mau pergi.

▶️3. Mari lelahkan diri. Berpayah-payahlah. Naikkan keseriusan. Teladani Nabi ﷺ, Sahabat, Tabi’in yang jauh lebih saleh dari kita, demi mengejar Ramadan yang tak panjang ini.

▶️4. Mari bermujahadah seperti Umar radhiallahu’anhu, yang sepulang shalat Isya, beliau kembali mengerjakan shalat sepanjang malam, sampai terdengar azan Subuh.

▶️5. Juga Utsman radhiallahu’anhu. Setelah panjang berpuasa di siang hari, beliau menghabiskan malamnya dengan shalat. Beliau hanya tidur sedikit, yaitu sebagian malam pertama. Lalu bangun dengan shalat, yang setiap rakaatnya beliau menghatamkan seluruh Alquran.

▶️6. Di satu kitab syarah, diriwayat Abu Thalib Al-Makki yang Mutawatir menyebutkan tentang empat puluh tabi’in yang biasa melakukan shalat Subuh dengan wudhu shalat Isya.

▶️7. Syaddad rahimahullah, salah seorang sahabat, ia biasa berbaring namun tidak tidur sepanjang malam, sambil miring ke kanan dan ke kiri sampai waktu fajar kemudian berkata: “Ya Allah, ketakutan terhadap Neraka Jahanam telah mengusir kantukku.”

▶️8. Aswad bin Yazid, setelah tidur sebentar antara Maghrib dan Isya, beliau biasa beribadah sepanjang malam hingga Subuh, pada waktu Ramadan.

▶️9. Diceritakan bahwa Said bin Musayyab rahimahullah selama 50 tahun selalu melakukan shalat Isya dan shalat Fajar dengan wudhu yang sama.

▶️10. Shilah bin Ashyim biasa menghabiskan seluruh malamnya untuk beribadah kepada Allah hingga waktu Subuh. Lalu setelah matahari terbit, ia berdoa: “Ya Allah, (hamba seperti merasa) tidak pantas meminta Surga kepada-Mu, tetapi hamba hanya memohon kepada-Mu agar Engkau menyelamatkan hamba dari Jahannam.”

▶️11. Qatadah biasa membaca seluruh Alquran setiap tiga malam pada waktu Ramadan, tetapi sepuluh malam terakhir dia mengkhatamkan seluruh Alquran setiap malam.

▶️12. Imam Abu Hanifah terkenal karena selama 40 tahun melakukan shalat Isya dan shalat Fajar dengan wudhu yang sama. Apabila para sahabatnya bertanya, bagaimana ia memeroleh kekuatan untuk mengerjakannya, beliau menjawab: “Ini karena doa khusus aku mohon kepada Allah melalui Asma Allah yang agung.” Beliau hanya tidur sebentar di siang hari demi ikuti sunnah.

▶️13. Imam Abu Hanifah juga sering menangis sedemikian rupa ketika membaca Alquran, sehingga tetangga-tetangganya merasa kasihan kepadanya.

▶️14. Ibrahim bin Adham bahkan diriwayatkan tidak tidur sama sekali pada wajty Ramadan, baik siang atau malam.

▶️15. Seberapa lelah kau khatamkan Alquran? Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Alquran 60 kali dalam satu Ramadan.

▶️16. Sa’id bin Musayyib tidak pernah terlewat dari Takbiratul Ihram imam selama lima puluh tahun. Burd Mawla berkata: “Tidaklah dikumandangkan azan selama empat puluh tahun ,melainkan Sa’id bin Musayib telah berada di dalam masjid.”

▶️17. Dan banyak lagi cerita keseriusan orang-orang saleh yang mengejar keridaan Allah, meski lelah dan payah rontokan jasad mereka.

▶️18. Bangun ya akhi. Ramadan akan pergi. Ramadan akan berakhir, besok tak lama lagi.

 

———————————–

 

Abu Hurairah menangis menjelang akhir hayatnya, lalu berkata:

“Duhai perjalanan yang akan teramat panjang, ….. Duhai bekal yang teramat sedikit.”

Ya Allah tolong kami..

Penulis: Ustad Zainal Abidin

 

TIGA SYARAT AGAR AMAL IBADAH KITA DITERIMA ALLAH

TIGA SYARAT AGAR AMAL IBADAH KITA DITERIMA ALLAH

TIGA SYARAT AGAR AMAL IBADAH KITA DITERIMA ALLAH

Pertanyaan:

Apa saja syarat-syarat diterimanya amalan?

Jawaban:

Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullahu ta’ala menjawab:

Syarat-syarat diterimanya di sisi Allah ada tiga:

  • Pertama, beriman dan bertauhid kepada Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلاً

“Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan shalih, untuk merekalah surga-surga Firdaus.” [QS. Al Kahfi: 107]

Rasulullah ﷺ bersabda:

قُلْ أَمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

“Katakan, ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian istiqamah-lah.” [HR. Muslim]

  •  Kedua, ikhlas. Yaitu, beramal untuk Allah tanpa riya’ [1] dan sum’ah[2]. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ

“Maka, ibadahilah Allah dengan ikhlas untuk-Nya dalam [menjalankan] agama.” [QS. Az Zumar: 2]

  • Ketiga, sesuai dengan apa yang datang dari Rasulullah ﷺ. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Dan apa-apa yang datang kepada kalian dari Rasulullah, maka ambillah. Dan apa-apa yang beliau larang darinya untuk kalian, maka jauhilah.” [QS. Al Hasyr: 7]

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَادٌّ

“Siapa saja yang mengerjakan amalan yang tidak kami contohkan, maka amalannya tertolak.” [HR. Muslim]

 

RUJUKAN: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu. Hudz ‘Aqidatak min Al Kitab wa As Sunnah Ash Shahihah. TTp: TP. TTh, halaman 9.

Catatan Kaki

  • [1] Beramal agar dilihat orang [penerj.]
  • [2] Beramal agar orang-orang membicarakannya [penerj.]

 

Sumber: http://dakwahislam.net/tiga-syarat-agar-amal-ibadah-diterima-allah/

,

KENAPA ALLAH MENYANDARKAN AMALAN PUASA UNTUK-NYA?

KENAPA ALLAH MENYANDARKAN AMALAN PUASA UNTUK-NYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan
KENAPA ALLAH MENYANDARKAN AMALAN PUASA UNTUK-NYA?

Sebuah hadis agung yang diriwayatkan langsung oleh Nabi ﷺ dari Rabb-nya:

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى

“Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Setiap amalan anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.” [HR. Bukhari no. 1904]

Ini merupakan hadis yang mengandung fadhilah puasa dan keistimewaannya, dibandingkan dengan ibadah lainnya. Dan bahwa Allah ta’ala telah mengkhususkan ibadah puasa ini untuk-Nya.

Riwayat ini menunjukkan, bahwa setiap amalan manusia adalah untuk dirinya sendiri. Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah menyandarkan amalan tersebut untuk-Nya.

Kenapa Allah bisa menyandarkan amalan puasa untuk-Nya?

Pertama, karena di dalam puasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dan berbagai syahwat. Hal ini tidak didapati dalam amalan lainnya. Dalam ibadah ihram, memang ada perintah meninggalkan jima’ (berhubungan badan dengan istri) dan meninggalkan berbagai harum-haruman. Namun bentuk kesenangan lain dalam ibadah ihram tidak ditinggalkan. Begitu pula dengan ibadah shalat. Dalam shalat memang kita dituntut untuk meninggalkan makan dan minum. Namun itu terjadi dalam waktu yang singkat. Bahkan ketika hendak shalat, jika makanan telah dihidangkan dan kita merasa butuh pada makanan tersebut, kita dianjurkan untuk menyantap makanan tadi, dan boleh menunda shalat, ketika dalam kondisi seperti itu.

Jadi dalam amalan puasa terdapat bentuk meninggalkan berbagai macam syahwat yang tidak kita jumpai pada amalan lainnya. Jika seseorang telah melakukan ini semua, seperti meninggalkan  hubungan badan dengan istri dan meninggalkan makan-minum ketika puasa, dan dia meninggalkan itu semua karena Allah, padahal tidak ada yang memerhatikan apa yang dia lakukan tersebut selain Allah, maka ini menunjukkan benarnya iman orang yang melakukan semacam ini. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Rajab: “Inilah yang menunjukkan benarnya iman orang tersebut.” Orang yang melakukan puasa seperti itu selalu menyadari, bahwa dia berada dalam pengawasan Allah, meskipun dia berada sendirian. Dia telah mengharamkan melakukan berbagai macam syahwat yang dia sukai. Dia lebih suka menaati Rabb-nya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena takut pada siksaan dan selalu mengharap ganjaran-Nya. Sebagian salaf mengatakan: “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya, karena mengharap janji Rabb-nya yang tidak nampak di hadapannya”. Oleh karena itu, Allah membalas orang yang melakukan puasa seperti ini dan Dia pun mengkhususkan amalan puasa tersebut untuk-Nya dibanding amalan-amalan lainnya.

Kedua, puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-nya, yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Amalan puasa berasal dari niat batin, yang hanya Allah saja yang mengetahuinya, dan dalam amalan puasa ini terdapat bentuk meninggalkan berbagai syahwat. Oleh karena itu, Imam Ahmad dan selainnya mengatakan: “Dalam puasa sulit sekali terdapat riya’ (ingin dilihat/dipuji orang lain).” Dari dua alasan inilah, Allah menyandarkan amalan puasa pada-Nya. Berbeda dengan amalan lainnya.

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Kajian Ramadhan 4: Pahala Puasa untuk Allah” yang ditulis oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://muslim.or.id/17313-kajian-ramadhan-4-pahala-puasa-untuk-allah.html

BERUSAHA UNTUK IKHAS DALAM BERAMAL

BERUSAHA UNTUK IKHAS DALAM BERAMAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

BERUSAHA UNTUK IKHAS DALAM BERAMAL

Definisi Ikhlas

Pengertian Ikhlas Menurut Bahasa

Akar kata Ikhlas dalam bahasa Arab adalah “خلص” , “يخلص”, “خلوصا”

yang jika dalam bahasa Indonesia bermakna : kesucian, kebeningan dan tanpa ada campuran sedikit pun.

Menurut istilah Syar’i (Islam), yang dimaksud dengan makna ikhlas itu ialah mengerjakan ibadah atau kebajikan karena Allah semata-mata dan mengharapkan keridaan-Nya.

Di dalam Alquran, Allah mengibaratkan ikhlas itu laksana susu yang bersih-mumi, yang enak rasanya apabila diminum, bahkan yang dapat menyehatkan dan menyegarkan badan manusia. Allah berfirman:

وَإِنَّ لَكُمْ فِى ٱلْأَنْعَٰمِ لَعِبْرَةً نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِى بُطُونِهِۦ مِنۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَآئِغًا لِّلشَّٰرِبِينَ

Dan sesungguhnya tentang kehidupan binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih, antara tahi dan darah, yang mudah dan sedap ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. [QS An-Nahl 16:66]

Pada ayat ini, Allah memberikan contoh tentang ikhlas itu laksana susu murni binatang ternak. Sebelum menjadi susu murni, yaitu tatkala masih berada dalam perut binatang, susu itu terdiri dari dua zat yang kotor dan tidak memberikan faidah, yaitu tahi dan darah. Setelah melalui proses, maka terjadilah susu yang bersih-murni, tidak bercampur dengan kotoran dan zat-zat lainnya. Allah mengibaratkan bahwa sesuatu amal yang ikhlas tak ubahnya laksana susu murni itu.

Di Antara Dalil-Dalil Ikhlas dalam Alquran

Allah ta’ala berfirman:

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥

Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecualisupaya beribadah kepada Allah, dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus… [QS Al-Bayyinah : 5]

Allah ta’ala berfirman:

 ….فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ ٢ أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُۚ …….. ٣

Artinya: ….maka beribadahlah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)….. [QS Az-Zumar : 2-3]

Allah ta’ala juga berfirman:

قُلۡ إِنِّيٓ أُمِرۡتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ ١١

Artinya: Katakanlah, sesungguhnya aku diperintahkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaantan kepada-Nya, dalam (menjalankan) agama. [QS Az-Zumar : 11]

Pengertian Ikhlas Menurut Para Ulama

Para ulama menjelaskan ikhlas dengan beberapa pengertian, namun sebenarnya hakikatnya sama. Berikut perkataan ulama-ulama tersebut. [Kami ambil perkataan-perkataan ulama tersebut dari kitab At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, An Nawawi, hal. 50-51, Maktabah Ibnu ‘Abbas, cetakan pertama, tahun 1426 H]

Abul Qosim Al Qusyairi mengatakan: “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk . Atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri pada Allah.”

Abul Qosim juga mengatakan: “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.”

Jika kita sedang melakukan suatu amalan, maka hendaklah kita tidak bercita-cita ingin mendapatkan pujian makhluk. Cukuplah Allah saja yang memuji amalan kebajikan kita. Dan seharusnya yang dicari adalah rida Allah, bukan komentar dan pujian manusia.

Hudzaifah Al Mar’asiy mengatakan: “Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seorang hamba antara zahir (lahiriyah) dan batin.” Berkebalikan dengan riya’. Riya’ adalah amalan zahir (yang tampak) lebih baik dari amalan batin yang tidak ditampakkan. Sedangkan ikhlas, minimalnya adalah sama antara lahiriyah dan batin.

Dzun Nuun menyebutkan tiga tanda ikhlas:

  • Tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain.
  • Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat.
  • Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia).

Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan: “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’. Beramal karena manusia termasuk kesyirikan. Sedangkan ikhlas adalah engkau terselamatkan dari dua hal tadi.”

Ada empat definisi dari ikhlas yang bisa kita simpulkan dari perkataan ulama di atas:

  • Meniatkan suatu amalan hanya untuk Allah.
  • Tidak mengharap-harap pujian manusia dalam beramal.
  • Kesamaan antara sesuatu yang tampak dan yang tersembunyi.
  • Mengharap balasan dari amalannya di Akhirat.

 

Sumber: https://rumaysho.com/654-berusaha-untuk-ikhlas.html dengan sedikit penambahan oleh tim redaksi Nasihat Sahabat.