Posts

,

PERINGATAN UNTUK PENYEBAR BERITA

PERINGATAN UNTUK PENYEBAR BERITA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Bismillah
 
PERINGATAN UNTUK PENYEBAR BERITA
 
Dari Bilal bin Harits Al-Muzany radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَكْتُبُ اللَّهُ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَكْتُبُ اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ
 
“Sesungguhnya salah seorang dari kalian berbicara dengan sebuah kalimat berupa keridaan Allah, tidak pernah dia menyangka akan tersebar sedemikian rupa, maka lantaran (kalimat itu) Allah menulis keridaan baginya hingga hari tatkala dia menghadap kepada-Nya. Dan sungguh seorang lelaki di antara kalian berbicara dengan sebuah kalimat berupa kemurkaan Allah, tidak pernah dia menyangka akan tersebar sedemikian rupa, maka lantaran (kalimat itu) Allah menulis kemurkaan baginya hingga hari saat dia menghadap kepada-Nya.” [Diriwayatkan oleh Imam Malik, Ahmad, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, Ibnu HIbban, Al-Hakim, dan selainnya. Ash-Shahihah no. 888]
 
Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah
Sumber: dzulqarnain.net
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#AdabAkhlak, #MenyebarkanBerita, #PenyebaranBerita, #AdabBerita, #AdabPosting

JIKA TIDAK SENGAJA MENYEBARKAN BERITA HOAX

JIKA TIDAK SENGAJA MENYEBARKAN BERITA HOAX

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

JIKA TIDAK SENGAJA MENYEBARKAN BERITA HOAX

Pertanyaan:

Bagaimana jika sudah terlanjur menyebarkan berita dusta? Setelah disebarkan baru tahu, bahwa itu hoax.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Salah satu yang dibenci oleh Allah adalah terlalu aktif menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Dalam hadis dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا قِيلَ وَقَالَ ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

 Sesungguhnya Allah membenci tiga hal untuk kalian:

[1] Menyebarkan berita burung (katanya-katanya);

[2] Menyia-nyiakan harta; dan

[3] Banyak bertanya. (HR. Bukhari 1477 & Muslim 4582).

Terlebih ketika berita itu bisa bikin geger di masyarakat. Allah mencela orang yang suka menyebarkan berita yang membuat masyarakat ribut. Dalam Alquran, Allah menyebut mereka dengan Al-Murjifuun (Manusia pembuat onar).

Ketika Nabi ﷺ di Madinah, beberapa orang tukang penyebar berita terkadang membuat geger masyarakat, terutama berita yang terkait keluarga Nabi ﷺ. Allah mengancam, jika mereka tidak menghentikan kebiasaan ini, maka mereka akan diusir dari Madinah. Allah berfirman:

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

Jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah), melainkan dalam waktu yang sebentar. (QS. al-Ahzab: 60)

Sehingga, sebelum menyebarkan, pastikan berita Anda benar. Hentikan kebiasaan buruk mudah menyebarkan berita. Tanamkan dalam diri kita, menyebarkan berita itu bukan prestasi… prestasi itu adalah menyebarkan ilmu yang bermanfaat, bukan menyebarkan berita.

Bagaimana ketika tidak sengaja menyebarkan berita dusta? Setelah disebarkan, baru diingatkan bahwa ternyata itu hoax.

Pertama, orang yang melakukan kesalahan tanpa disengaja, maka tidak ada dosa baginya, antara dia dengan Allah. Allah berfirman:

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Tidak ada dosa bagimu terhadap kesalahan yang kalian lakukan tanpa sengaja, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. (QS. al-Ahzab: 5).

Namun jika itu merugikan hak orang lain, maka dia bertanggung jawab atas kerugian itu.

Ketika Nabi Daud menjadi penguasa, ada kasus, hewan ternak milik si A masuk ke lahan pertanian milik si B, dan merusak tanamannya. Akhirnya mereka meminta keputusan Nabi Daud. Beliau memutuskan, hewan si A harus diserahkan ke si B, sebagai ganti dari tanaman yang dirusak.

Sementara Sulaiman memiliki pemahaman berbeda. Beliau memutuskan, hewan si A diserahkan ke si B untuk diperah susunya sampai menutupi nilai kerugian tanaman yang dirusak. Dan Allah memuji keputusan Sulaiman. Allah menceritakan:

وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ . فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ

(Ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat). (QS. al-Anbiya: 78 – 79)

Kedua, ketika sudah tersebar di forum, berikan penjelasan di forum yang sama, bahwa berita itu dusta, agar Anda bisa lepas dari tanggung jawab.

Bagi mereka yang pernah menyebarkan kesesatan, kemudian bertaubat, dia berkewajiban untuk menjelaskan kepada masyarakatnya, tentang kesesatan yang pernah dia ajarkan.

Beberapa ulama yang bertaubat dari kesesatan, mereka mengarang buku  yang membantah pendapat lamanya. Di antaranya Abul Hasan al-Asy’ari. Setelah beliau taubat dari akidah Kullabiyah, beliau menulis beberapa buku sebagai bantahan untuk akidah beliau yang lama. Seperti al-Ibanah ‘An Ushul Diyanah, dan Maqalat Islamiyin.

 

Allah menjelaskan:

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya, dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. al-Baqarah: 160).

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/27977-jika-tidak-sengaja-menyebarkan-berita-hoax.html

 

,

KENAPA “MEMILIH PEMIMPIN KAFIR” DIANCAM KEKAL DI NERAKA, SEDANGKAN “PEMINUM MINUMAN KERAS” TIDAK?

KENAPA “MEMILIH PEMIMPIN KAFIR” DIANCAM KEKAL DI NERAKA, SEDANGKAN “PEMINUM MINUMAN KERAS” TIDAK?

#DakwahTauhid
#ManhajSalaf

KENAPA “MEMILIH PEMIMPIN KAFIR” DIANCAM KEKAL DI NERAKA, SEDANGKAN “PEMINUM MINUMAN KERAS” TIDAK?

Pertanyaan:
“Peminum Minuman Keras” dan “Memilih Pemimpin Kafir”, keduanya sama-sama melanggar syariat Islam dan keduanya sama-sama melakukan dosa besar. Tetapi kenapa pelaku “Memilih Pemimpin Kafir” diancam masuk Neraka dan kekal di dalamnya? Sedangkan “Peminum Minuman Keras” tidak diancam dengan kekekalan di Neraka? Apakah bisa, seorang peminum minuman keras menjadi kafir dan kekal di Neraka?

Jawaban:
Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah, amma ba’du,

Sangatlah jelas dalam Alquran ada larangan, agar tidak menjadikan non-Muslim sebagai pemimpin. Para ulama sudah ijma (konsesus) dalam hal ini. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). Sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah: 51),

Jelas sekali bahwa ayat ini larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin atau orang yang memegang posisi-posisi strategis yang bersangkutan dengan kepentingan kaum muslimin. Kita bisa perhatikan di bagian akhir surat ini:

“Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka…” Golongan mereka artinya golongan Yahudi dan Nasrani.

Karena itulah, sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:

ليتق أحدكم أن يكون يهوديا أو نصرانيا وهو لا يشعر

“Hendaknya kalian khawatir, jangan sampai menjadi Yahudi atau Nasrani, sementara dia tidak merasa.”

Kemudian Hudzaifah membaca ayat di atas, al-Maidah: 51.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya ketika beliau menjelaskan al-Maidah: 51 mengatakan:

أي من يعاضدهم ويناصرهم على المسلمين فحكمه حكمهم ، في الكفر والجزاء وهذا الحكم باق إلى يوم القيامة

Arti dari ayat ini, bahwa orang yang mendukung orang kafir, dan menolong mereka untuk mengalahkan kaum Muslimin, maka HUKUM PENDUKUNG INI SAMA DENGAN MEREKA (ORANG KAFIR). SAMA DALAM KEKUFURAN DAN BALASAN. Dan hukum ini berlaku sampai Hari Kiamat. (Tafsir al-Qurthubi, 6/217)

Ayat lain yang memberikan ancaman keras bagi pendukung orang kafir adalah firman Allah:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ

“Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali, dengan MENINGGALKAN orang-orang Mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.” (QS. Ali Imran: 28)

Imam mufassir, at-Thabari menjelaskan ayat ini:

يعني فقد بريء من الله ، وبريء الله منه ، بارتداده عن دينه ودخوله في الكفر

Artinya, dia telah berlepas diri dari Allah, dan Allah berlepas diri darinya, karena dia MURTAD dari agamanya dan MASUK KE AGAMA KEKUFURAN.

Sebagai contoh yang jelas adalah “Teman A-Hog”. “Teman A-Hog” bukanlah sebatas teman saja. Sebagian besar di antara mereka menghasung A-Hog untuk menjadi pemimpin, mendukungnya, mengampanyekannya, bahkan memuliakannya, karena anggapan, dia lebih mulia dibandingkan Muslim yang lain. Kita tidak menilai status “Teman A-Hog”, tetapi kita bisa menilai dengan menyimpulkan beberapa dalil dan penjelasan ulama terhadap dalil.

Setidaknya di antara mereka melakukan kemunafikan. Munafik, karena khianat terhadap ajaran agamanya. Sikap dan perilaku jahat kaum munafik – yang secara lahir mengaku beriman, tetapi batinnya mencintai kekufuran – bahkan diabadikan dalam satu surat khusus, yaitu Surat al-Munafiqun (surat ke-63). Mereka dikenal sebagai pendusta. Mengaku-aku iman, padahal selalu memusuhi kaum Muslimin dan membela orang kafir.

Dalam peristiwa semacam ini, kita sudah bisa menebak arah gerakan mereka. Mereka akan selalu menjadi garda terdepan pembela si calon gubernur kafir itu. Mereka sangat berharap, agar yang menang adalah si calon gubernur kafir. Mari kita baca ayat ini:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا . الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik, bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (QS An-Nisa 138)

(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan MENINGGALKAN orang-orang Mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (QS An-Nisa 139)

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (QS An-Nisa :145)

Sedangkan dalam hal “Peminum Minuman Keras”, tidak ditemukan satu dalil pun, baik dari Alquran maupun hadis, yang menyatakan, bahwa pelakunya diancam dengan kekafiran. Memang, sesungguhnya meminum minuman keras (khamr) adalah perbuatan yang diharamkan oleh Alquran, hadis dan ijma’ para ulama. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.

“Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr (arak), berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu, agar kamu mendapatkan keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kami, lantaran (meminum) khamr (arak) dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat. Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul (Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” [Al-Maidah : 90-92]

Dan Rasulullah ﷺ bersabda, artinya:

“Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr adalah haram”.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, seluruh umat Islam sepakat, bahwa khamr adalah minuman yang diharamkan secara baku, dan tidak ada perbedaan di antara para ulama. Sehingga sebagian ulama mengatakan, bahwa haramnya khamr termasuk masalah agama yang diketahui tanpa menggunakan dalil. Sehingga mereka mengatakan, bahwa barang siapa yang mengingkari haramnya khamr, sedang dia hidup di tengah masyarakat, maka dia dianggap kafir dan wajib disuruh bertaubat. Bila tidak mau bertaubat, maka harus dibunuh. [Fatawa Nurun Ala Darb Syaikh Utsaimin, hal. 86]

Misalnya seseorang yang meminum khamr dengan keyakinan, bahwa khamr itu halal, padahal ia sudah mengetahui, bahwa Islam melarangnya, para ulama menyebut hal ini sebagai kafir juhud (kafir karena menentang Al-quran). Yaitu orang yang meyakini kebenaran ajaran Rasulullah ﷺ, namun lisannya mendustakan, bahkan memerangi dengan anggota badannya, menentang karena kesombongan. Ini seperti kufurnya iblis terhadap Allah, ketika diperintahkan sujud kepada Adam ‘alaihissalam, padahal iblis mengakui Allah sebagai Rabb:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka, kecuali iblis. Ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (QS. Al Baqarah: 34)

Juga kufurnya Fir’aun terhadap Nabi Musa ‘alaihissalam dan kufurnya orang Yahudi terhadap Nabi Muhammad ﷺ.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan: “Seorang hamba, jika ia melakukan dosa dengan keyakinan, bahwa sebenarnya Allah mengharamkan perbuatan dosa tersebut, dan ia juga berkeyakinan, bahwa wajib taat kepada Allah atas segala larangan dan perintah-Nya, maka ia tidak kafir”. Lalu beliau melanjutkan, “..barang siapa yang melakukan perbuatan haram dengan keyakinan bahwa itu halal baginya, maka ia kafir dengan kesepatakan para ulama” (Ash Sharimul Maslul, 1/521).

Wallahu ta’ala a’lam.

Sumber:

https://konsultasisyariah.com/28521-apakah-teman-a-Hok-kafir.html

Isteri Meminta Talak Karena Suami Pemabuk

BERSABARLAH PAK, ALLAH BERSAMA HAMBA-NYA YANG SALEH

BERSABARLAH PAK, ALLAH BERSAMA HAMBA-NYA YANG SALEH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SabarTakwaTawakalKepadaAllah

#PatrialisAkbarUntukPresidenRI

BERSABARLAH PAK, ALLAH BERSAMA HAMBA-NYA YANG SALEH

Oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah As Sidawi hafizhahullah

Baru-baru saja kita dikejutkan dengan berita penangkapan Bapak Patrialis Akbar, yang dikenal dekat dengan dunia dakwah sunnah.

Media-media penebar berita-berita hoax langsung menggoreng secepat kilat dengan cara-cara politik yang kotor dan culas.

Berikut ini, kami nasihatkan kepada diri kami dan saudara-saudaraku sekalian:

  1. Hendaknya bagi kita TIDAK MUDAH menelan berita-berita media yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, yang mencoreng kehormatan seorang Muslim yang gigih membela Islam dan dakwah Sunnah. (Baca: http://fokusislam.com/6730-inilah-berita-berita-hoax-seputar-penangkapan-patrialis-akbar.html)

Kewajiban bagi kita adalah husnu dzon dan membela kehormatan saudara kita sesama Muslim. Apalagi beliau telah bersumpah dengan nama Allah, bahwa dia dizalimi, dan tidak menerima serupiah pun.

  1. Hendaknya bagi kita untuk banyak berdoa kepada Allah, agar beliau dipermudah urusannya dan segera dibebaskan dari tuduhannya. Karena doa yang tulus dari kaum Mukminin dan Mukminat bisa menembus pintu-pintu langit yang Maha Adil dan Bijaksana.

Dan untuk saudara-saudara yang dekat dengan beliau, atau keluarga beliau, mari kita dukung dengan doa dan motivasi, agar beliau tegar menghadapi cobaan ini, dan bantu dengan bantuan langkah- langkah hukum di negeri ini.

  1. Hendaknya kita semua bersabar menghadapi ujian di zaman penuh dengan badai dan ombak fitnah ini. Jangan mudah terprovokasi, banyak debat sana sini. Mari kita fokus mendoakan dan membantu yang terbaik untuk beliau. Biarlah proses hukum berjalan, karena kita harus patuh hukum.
  1. Untuk beliau dan keluarganya serta sahabatnya: Bersabarlah dengan ujian ini, dan yakinlah, bahwa Allah akan menolong hamba-hamba yang beriman, lebih-lebih jika ia terzalimi. Optimislah, bahwa Allah sedang menginginkan kebaikan untukmu, meninggikan derajatmu, menghapus dosa-dosamu.
  1. Untuk siapa pun yang diberi amanat di negeri ini, hendaknya kita semua takut kepada Allah. Marilah kita ingat, bahwa Allah tidak akan tidur. Doa orang yang terzalimi adalah terkabul. Ingatlah, bahwa jabatan, harta dan tahta dunia hanyalah sementara, dan kita akan berdiri di pengadilan Akhirat nanti di hadapan Sang Maha Kuasa.

Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari badai fitnah yang menerpa negeri ini, dan semoga Allah memberikan keamanan dan keadilan di negeri ini.

Aamiin.

,

JANGAN KARENA ALMAIDAH AYAT 51 DIHINA, LALU LUPA THA-HA AYAT 43 – 44, PADAHAL DI SITU ADA SOLUSINYA

JANGAN KARENA ALMAIDAH AYAT 51 DIHINA, LALU LUPA THA-HA AYAT 43 – 44, PADAHAL DI SITU ADA SOLUSINYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajSalaf

#DakwahTauhid

JANGAN KARENA ALMAIDAH AYAT 51 DIHINA, LALU LUPA THA-HA AYAT 43 – 44, PADAHAL DI SITU ADA SOLUSINYA

  • Demontrasi Bukan Solusi, Lalu Seperti Apa Solusinya?

Di dalam Alquran, Allah memerintahkan kita agar menetapi jalan petunjuk yang lurus. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴿١٥٣﴾

“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutIlah Dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. Yang demikian itu diperintahkan Allah, agar kamu bertakwa” [QS. Al-an-am: 153]

Pertama:

Demontrasi ini digunakan untuk menolong agama Allah, dan menurut pelakunya, merupakan ibadah, bagian dari JIHAD. Dari sudut pandang ini, demontrasi merupakan bid’ah, dan perkara yang diada-adakan di dalam agama. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Siapa saja yang membuat ajaran baru dalam agama ini dan bukan termasuk bagian darinya, maka akan tertolak” [HR. Muttafaqun’alaih]

Kedua:

Di dalam demonstrasi ada Tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang orang kafir. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka” [Hasan. HR. Abu Dawud].

Ketiga:

Jika ada orang yang mengatakan: Demonstrasi merupakan amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka kita katakan: Kemungkaran tidak boleh diingkari dengan kemungkaran lagi. Karena kemungkaran tidak akan diingkari, kecuali oleh orang yang bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, sehingga dia akan mengingkari kemungkaran tersebut atas dasar ilmu dan pengetahuan. Tidak mungkin kemungkaran bisa diingkari dengan cara seperti ini.

Keempat:

Islam memberikan prinsip, bahwa segala sesuatu yang kerusakannya lebih banyak dari kebaikannya, maka dihukumi Haram.

Kelima:

Demontrasi merupakan kunci yang akan menyeret pelakunya untuk memberontak terhadap penguasa. Padahal kita dilarang melakukan pemberontakan, dengan cara tidak membangkang terhadap mereka. Betapa banyak demontrasi yang mengantarkan suatu negara dalam kehancuran, sehingga timbul pertumpahan darah, perampasan kehormatan dan harta benda, serta tersebarlah kerusakan yang begitu luas. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Hilangnya dunia lebih ringan di sisi Allah, di bandingkan tertumpahnya darah satu orang Muslim” [HR. an-Nasa’i]

Coba lihat negara negara Timur Tengah seperti Mesir, Yaman, Irak, Suriah, Libia, dan yang lainya. Apakah kalian mau seperti mereka? Negerinya tidak aman. Anak anak tidak bisa belajar, tidak bisa beribadah dengan tenang, para orang tua tidak bisa mencari nafkah dengan tenang. Awalnya dari DEMONTRASI. Alaahul Musta’aan

Keenam:

Para pendemo hakikatnya mengantarkan jiwa mereka menuju pembunuhan dan siksaan, berdasarkan firman-Nya:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا﴿٢٩﴾

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” [QS. An-Nisaa: 29]

Karena pasti akan terjadi bentrokan antara para demontrasi dan penguasa keamanan, sehingga mereka akan disakiti dan dihina. Nabi ﷺ bersabda:

“Seorang Mukmin tidak boleh menghinakan dirinya. Beliau ﷺ ditanya: Bagaimana seorang Mukmin menghinakan dirinya? Beliau ﷺ menjelaskan: (yakni) dia menanggung bencana di luar batas kemampuannya” [Hasan. HR. Turmudzi]

Solusi

Allah Subhanahu wa ta’ala mengabadikan kisah seorang penguasa kafir yang sangat zalim, yaitu Fir’aun. Dan Allah juga mengabadikan orang saleh di zaman itu, yaitu Nabi Musa a’laihi sallam dan Nabi Harun ‘alaihi sallam. Lihat bagaimana mereka menasihati penguasa yang kafir dan zalim. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ﴿٤٣﴾

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ﴿٤٤﴾

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia benar-benar telah melampau batas. Maka bicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah mudahan dia sadar dan takut” [QS. Tha-ha: 43, 44]

Beginilah cara beragama yang benar. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh, siapa saja di antara kalian yang hidup setelahku, pasti akan menjumpai perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah al-Khulafa’ar-Rasyidin yang telah diberi petunjuk sepeninggalku”. [Shahih. HR. Tirmidzi dan Abu Dawud]

Alquran itu bukan surah Ma’idah ayat 51 saja. Akan tetapi Allah juga menurunkan surah Tha-ha ayat 43 dan 44 sebagai solusinya. Coba kita lihat dan baca dan pahami, lalu kita amalkan surah Tha-ha ini. InsyaALLAH kita tidak akan seperti ini.

  • Kalau dibandingkan, mana yang lebih besar kekafirannya, Fir’aun atau orang-orang yang kafir yang ada di zaman sekarang ini?
  • Kalau dibandingkan mana yang lebih saleh, Nabi Musa atau orang-orang yang ada di zaman sekarang ini?

Nabi Musa saja diperintahkan oleh Allah untuk menasihati penguasa yang kafir (Fir’aun) dengan lemah lembut. Masa kita yang jauh kesalehannya apabila di bandingkan dengan Nabi Musa ‘alahi sallam, menyikapi penguasa yang kafir dengan demontrasi, dengan turun ke jalan?

Mau di ke manakankah surah Tha-ha ini?

Ingat, hidayah milik Allah

Berdoalah kepada Allah, supaya kita istiqomah di dalam jalan yang lurus. Tidak lupa pula, semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada para penguasa Muslim, agar mereka memberikan yang terbaik bagi negeri dan rakyatnya. Dan lebih dari itu, semoga Allah menolong para penguasa Muslim tersebut untuk berhukum dengan Alquran dan Sunnah Nabi-Nya… Aamiin.

Semoga Allah memberikan shalawat dan salam-Nya kepada Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘a’laihi wa sallam, beserta keluarganya…. Aamiin

Semoga bermanfaat

Janji Allah

Allah Subhanahu wa ta ‘ala berjanji akan memberikan (HADIAH) KEKUASAAN (KEKHILAFAHAN) di muka bumi ini kepada hambanya dengan syarat MENAUHIDKAN ALLAH

Allah Subhanahu wa ta ‘ala berfirman (yang artinya):

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴿٥٥﴾

“Allah telah MENJANJIKAN orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal saleh, Dia akan benar-benar MEMBERIKAN (HADIAH) KEPADAMU KEKUASAAN (KEKHILAFAHAN ISLAM) di atas bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa.

MEREKA TETAP MENYEMBAH-KU DENGAN TIDAK MEMERSEKUTUKAN SESUATU APAPUN DENGAN-KU (MENAUHIDKAN ALLAH)

Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik [QS. An-Nur: 55].

Benahi Akidahmu

Syeikh Al-Albani berkata:

Kita semua adalah tauladan dalam mengatasi setiap masalah umat di zaman kita sekarang ini, bahkan di setiap masa. Artinya kita WAJIB memrioritaskan, apa apa yang diprioritaskan, yakni:

➡ Memerbaiki kerusakan AKIDAH kaum Muslimin. Maka jadikanlah DAKWAH PERTAMAMU agar mereka MENAUHIDKAN ALLAH Subhanahu wa ta’ala.

➡ Memerbaiki PERIBADAHAN mereka dengan memerhatikan SYARAT diterimanya IBADAH:

  1. Ibadah yang kita lakukan harus IKHLAS.
  1. Ibadah yang kita lakukan harus SESUAI dengan apa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.

➡ Memerbaiki perilaku mereka, AKHLAK mereka

KHILAFAH atau KEKUASAAN bukanlah tujuan agama. Tujuan agama adalah MENAUHIDKAN ALLAH.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan) BERIBADAHLAH HANYA KEPADA ALLAH (saja), dan jauhilah Thagut [QS. An-Nahl: 36]

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ﴿٢٥﴾

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwa tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi dengan benar) selain Aku. Maka IBADAHILAH AKU oleh kamu sekalian [QS. Al-Anbiya: 25].

InIlah DAKWAH para Nabi dan Rasul diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala ke Dunia ini, yakni: DAKWAH TAUHID.

 

Sumber: Majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyyah Vol 5 No. 5 Edisi 29-Rabiuts Tsani 1428H

 

INGAT, PILKADA TINGGAL BERAPA HARI LAGI. JANGAN SAMPAI HOAK LOLOS. SEKALI LAGI FOKUS PADA KASUS HOAK

INGAT, PILKADA TINGGAL BERAPA HARI LAGI. JANGAN SAMPAI HOAK LOLOS. SEKALI LAGI FOKUS PADA KASUS HOAK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

INGAT, PILKADA TINGGAL BERAPA HARI LAGI. JANGAN SAMPAI HOAK LOLOS. SEKALI LAGI FOKUS PADA KASUS HOAK

  • Patrialis Akbar Tumbal Slogan Munafiqun “Kafir Yang Penting Tidak Korupsi”

Badai kencang sedang menerpa Hoak. Strategi mereka runtuh berantakan, gara gara kasus penistaan ayat Al Maidah. Sudah sekian lama para munafiqun mereka danai untuk menanamkan slogan “Kafir asal tidak korupsi” daripada “Muslim tapi korupsi”.

Doktrin sesat tersebut kalah pamor, alias kalah kelas, dengan penistaan ayat Alquran.

Untuk menghidupkannya alias menjadikannya LAKER alias laku keras, kembali mereka membutuhkan momentum dan sekaligus tumbal. Maka tumbal paling gemuk saat ini ya Patrialis Akbar, penampilan Islami, bicara Islami, dan cukup lantang membuat Hoak telanjag.

Munafiqun … oh munafiqun, apa kalian kira seluruh umat Islam mudah untuk kalian tipu atau kelabuhi dengan permainan sampah seperti ini? Dan apa kalian lupa, cepat atau lambat, kalian pasti mempertanggungjawabkan amalan kalian di Akhirat?

Saudaraku umat Islam, tenang dan tetap fokus pada kasus Hoak penista Alquran, dan pejuang Komunis, dan pemurtadan, atau tepatnya Nasharosasi.

Mari kita tetap fokus pada kasus Hoak, dan terus menyosialisasikan, bahwa Hoak ancaman masa depan bangsa secara umum, dan umat Islam secara khusus.

Ingat, tinggal berapa hari Pilkada. Jangan sampai Hoak lolos. Sekali lagi fokus dan fokus pada kasus Hoak.

Teman teman media dan nitizen, kembali segarkan ingatan umat dan masyarakat luas dengan kasus kasus Hoak, dan abaikan kasus Patrialis Akbar.

Ya Allah, lindungilah umat Islam di negri keturunan Fatahillah dari kepemimpinan Hoak si kafir lagi fajir ini.

Penulis: al-ustadz Dr Muhammad Arifin Badri hafizhahullah

 

,

ALASAN-ALASAN PENDUKUNG DEMONSTRASI, ALASAN YANG RAPUH DAN BUKAN DI ATAS ILMU

ALASAN-ALASAN PENDUKUNG DEMONSTRASI, ALASAN YANG RAPUH DAN BUKAN DI ATAS ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#ManhajSalaf

ALASAN-ALASAN PENDUKUNG DEMONSTRASI, ALASAN YANG RAPUH DAN BUKAN DI ATAS ILMU

  • Syubhat-Syubhat dan BantahanPembolehannya Demonstrasi
  1. Bagaimana Islam Bisa Dibela, Kalau Cuma Ta’lim (Penyebaran Ilmu) dan Ibadah Di Masjid Atau di Rumah?

Rasulullah ﷺ bersabda:

العبادةُ فِي الْهَرَجِ كَهِجْرةٍ إِليَّ

“Ibadah di masa fitnah/ujian: (pahalanya) seperti Hijrah kepadaku.” HR. Muslim (no. 7588).

Hadis ini sebagai arahan dari Nabi ﷺ yang mulia, bahwa justru dalam masa fitnah ini kita diharuskan BANYAK BERIBADAH. Dan itulah yang menolong kaum Muslimin. Bukan berkata dan berbuat gegabah, yang jelas dilarang oleh Rasulullah ﷺ. Bahkan Allah ta’aalaa berfirman:

…وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“…Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 120)

Dalam ayat ini pun Allah menerangkan dan menegaskan kepada kita, bahwa Dia mengetahui makar orang kafir, dan akan menolong orang beriman, dengan syarat SABAR dan TAKWA (melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya).

  1. Anda dan Orang Semisal Anda Yang Tidak Berdemo, Tidak Juga Menasihati Pemerintah dan Mendatanginya. Cuma Omong Doang!

Kita katakana, bahwa kita serahkan pada Ustadz Kibar tentang permasalahan ini, yang bisa langsung menasihati pemerintah. Dan siapa bilang kita diam saja?! Apakah apabila kami dan Ustadz kami menasihati pemerintah, kemudian harus bilang ke wartawan untuk direkam, difoto, disebarkan, bawa bendera partai, bawa spanduk buat promosi, dan lain-lain. Manhaj macam apa ini?!

Kita hanya meneladani para sahabat dan para Salaf. Oleh karena itulah kita disebut SALAFI!

عَنْ شَقِيقٍ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، قَالَ: قِيْلَ لَهُ: أَلاَ تَدْخُلُ عَلَى عُثْمَانَ؛ فَتُكَلِّمَهُ؟ فَقَالَ: أَتُرَوْنَ أَنِّى لاَ أُكَلِّمُهُ إِلاَّ أُسْمِعُكُمْ؟! وَاللَّهِ! لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيْمَا بَيْنِيْ وَبَيْنَهُ؛ مَا دُوْنَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُوْنَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ، وَلاَ أَقُوْلُ لأَحَدٍ يَكُوْنُ عَلَىَّ أَمِيْرًا إِنَّهُ خَيْرُ النَّاسِ

Dari Syaqiq, dari Usamah bin Zaid, ada yang berkata kepadanya:

Kenapa Anda tidak masuk menemui ‘Utsman dan engkau menasihatinya?”

Maka dia berkata: “Apakah kalian menganggap, bahwa jika aku berbicara padanya (‘Utsman), lantas aku harus memerdengarkannya kepada kalian?!

Demi Allah!

Aku telah berbicara empat mata dengannya, tanpa perlu saya membuka satu perkara yang saya tidak suka menjadi orang pertama yang membukanya, (yaitu menasihati pemimpin terang-terangan). Dan tidakklah aku mengatakan kepada seorang: “Saya memiliki pemimpin, yang dia adalah manusia terbaik.” [HR. Muslim (no. 7674)].

  1. Bukankah Ahok Kafir, Sehingga Kita Boleh Untuk Mendemo Dia? Bukankah Yang Tidak Diperbolehkan Adalah Mendemo Pemerintahan Muslim?

Kita katakan: Anda dan orang semisal Anda, pada hakikatnya berdemo kepada pemerintah yang di atas Ahok, yaitu: Presiden, agar Ahok diadili. Bukankah ini demo terhadap pemerintahan Muslim??!!

Kalaupun pemerintah Anda adalah kafir, di Cina, Rusia, Amerika, dan lainnya, tidak lantas menjadi halal mendemo mereka karena mudharat yang ditimbulkan akan besar. Dan hukum asal demo adalah perbuatan haram.

Lihat kepada Suriah sekarang ini!

Pemerintah Basyar Assad dari dulu memang sudah kafir, akan tetapi Ulama Rabbani, seperti Syaikh Al-Albani, Syaikh Bin Baz, dan Syaikh ‘Utsaimin, tidak memerintahkan masyarakat Suriah untuk berdemo dan menggulingkan pemerintahan. Karena mereka mengerti keadaan umat yang lemah apabila memberontak. Namun terjadilah apa yang kita lihat sekarang.

Kalaupun mau menggulingkan pemerintahan kafir, maka lakukanlah dengan cara yang benar, dan ukurlah kekuatan, serta mintalah fatwa dari Ulama Rabbani. Karena ini menyangkut darah kaum Muslimin yang akan tercecer. Jangan sampai sia-sia dan banyak memakan korban!

Lihatlah Nabi Musa dan Nabi Harun -‘alaihimas salaam- yang berdakwah langsung bertemu dengan penista agama terbesar: Fir’aun. Tidaklah mereka berdua berdemonstrasi, padahal Bani Israil amat banyak. Akan tetapi inilah perintah langsung dari Allah Ta’aalaa:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى * فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Firaun, karena dia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 43-44)

  1. Ini Bukan Demonstrasi, Tapi Aksi Damai!

Kita katakan: Terserah kalian mau menamakan aksi kalian dengan nama apa saja, karena Islam menghukumi sesuatu bukan dari namanya, akan tetapi melihat kepada hakikatnya. Apakah kalian namakan aksi damai, protes atau lainnya -atau bahkan: Jihad???!!!- HAKIKATNYA ADALAH DEMONSTRASI!!!

Di antara tipu daya iblis dan bala tentaranya untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan adalah  dengan teknik branding strategi, memberi nama baru untuk mengaburkan hakikat. Riba sekarang dinamakan bunga oleh bank konvensional dan dinamakan sedekah dan tabrru’ oleh kor Syariah dan pegadaian Syariah. Dan hal itu TIDAKLAH mengubah hakikat. Khamr diubah namanya dengan banyak nama: anggur, arak, bir, Whiski, dan lainnya untuk mengaburkan hakikat. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ؛ يُسَمُّوْنَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا

“Sungguh, akan ada manusia dari umatku yang meminum khamr, dengan memberikan nama kepadanya bukan dengan namanya (khamr)” [HR. Abu Dawud (no. 3690)]

  1. Kami Tidak Berbuat Rusak dan Anarkis, Sehingga Tidak Termasuk Orang Yang Berbuat Kerusakan

Pertama: Siapa yang menjamin, bahwa tidak akan terjadi kerusakan dan anarkisme dari luapan banyak orang seperti itu?! Bisa jadi ada penyusup yang merusak dari dalam, sebagaimana dalam perang Jamal.

Kedua: Kerusakan apalagi yang lebih besar dari bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya?:

وَلاَ تُفْسِدُوْا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيْبٌ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah Allah memerbaikinya. Berdoalah kepada Allah dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raaf: 56)

Abu Bakar bin ‘Ayasy berkata tentang ayat ini: “Allah mengutus Muhammad ﷺ ke permukaan bumi, sedangkan mereka (manusia) berada dalam keburukan. Maka Allah memerbaiki mereka dengan Muhammad ﷺ. Sehingga, barang siapa yang mengajak manusia kepada hal-hal menyelisihi apa yang datang dari Nabi ﷺ, maka dia termasuk orang yang berbuat kerusakan di muka bumi.” [Lihat Ad-Durr Al-Mantsuur (III/476)]

Silakan lihat tafsiran ulama lainnya yang bertebaran, yang menunjukkan, bahwa berbuat kerusakan yang dimaksud di sini adalah: bermaksiat.

  1. Ini Negeri Demokrasi, Demonstrasi Dibolehkan Oleh Pemerintah dan Difasilitasi, Sehingga Dibolehkan

Ini hujjah yang lemah sekali. Tidaklah apa yang dibolehkan oleh pemerintah, lantas semua menjadi halal. Bahkan yang diperintahkan oleh pemerintah pun harus dilihat: apakah itu suatu hal yang ma’ruf atau justru kemungkaran. Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf” [HR. Al-Bukhari (no. 7257)]

Ada Perda tentang bolehnya tempat hiburan dan diskotek, lantas apa kemudian menjadi halal?! Ada juga Perda tentang bolehnya khamr, dengan ketentuan khusus. Lantas apa kemudian menjadi boleh??!! Silakan jawab sendiri…

  1. Mereka Yang Melarang Demo: Membawakan Fatwa, Kita Juga Menggunakan Fatwa Yang Membolehkan. Ulama Yang Melarang Tidak Mengerti Keadaan Indonesia

Subhaanallah! Ulama mana dulu yang berfatwa membolehkan demonstrasi? Apakah ad-Damiji yang punya kitab Al-Imaamah Al-‘Uzhmaa yang dilarang terbit di Saudi, atau fatwanya Salman Al-‘Audah dan teman-temannya?? PERMASALAHANNYA ADALAH BUKAN BANYAKNYA FATWA, AKAN TETAPI KUALITASNYA (KESELARASANNYA DENGAN DALIL-DALIL DAN KAIDAH-KAIDAH SYARIAT)!!!

Kalaupun ulama berfatwa, maka tidak ditelan mentah-mentah sebagai landasan hukum, akan tetapi dilihat dalil pendukungnya.

Kalau kalian menuduh ulama yang berfatwa tentang Indonesia dari negeri lain tidak tahu keadaan sini, bagaimana dengan Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi dan Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily yang belasan tahun mondar-mandir di negeri kita ini, untuk membahas masalah dakwah di Indonesia. Apakah Anda juga menuduhnya tidak paham Waqi’ (realita)???!!! Fatwa siapapun apabila berbenturan dengan dalil, maka buanglah dia ke belakangmu.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah (beliau adalah ulama yang paling mengumpulkan As-Sunnah dan paling berpegang kepadanya) berkata:

لاَ تُقَلِدْنِيْ، وَلاَ تُقَلِّدْ مَالِكًا، وَلاَ الشَّافِعِيَّ، وَلاَ الأَوْزَاعِيَّ، وَلاَ الثَّوْرِيَّ! وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوْا!!

“Janganlah engkau taqlid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, ataupun Ats-Tsauri! Ambillah (hukum) dari sumber yang mereka mengambil darinya (yakni: dalil-dalil)!!”

[Lihat: Shifatush Shalaatin Nabiyy (hlm. 47), karya Imam Al-Albani -rahimahullaah]

  1. Pemerintah Yang Tidak Boleh Di-Demo Adalah Pemerintah Yang Berjalan Di Atas Alquran Dan As-Sunnah. Adapun Kalau Pemerintah Tidak Berasaskan Keduanya, Maka Boleh Di-Demo

Jawablah dengan hadis Hudzaifah di atas:

يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْ جُثْمَانِ إِنْسٍ. قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذٰلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ؛ فَاسْمَعْ، وَأَطِعْ

[Rasulullah ﷺ bersabda:] “Akan ada setelahku para imam (pemimpin) yang tidak mengambil petunjuk dariku, dan tidak mengambil Sunnah-ku. Dan akan ada sekelompok lelaki di antara mereka yang hati mereka adalah hati setan dalam tubuh manusia.” Aku berkata: Apa yang aku lakukan wahai Rasulullah, apabila aku menemui yang demikian? Beliau ﷺ bersabda: “Engkau dengar dan engkau taat kepada pemimpin, walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu. Maka dengar dan taatlah!” HR. Muslim (no. 4891)

JELAS DALAM HADIS INI BAHWA: PEMIMPIN YANG DIPERINTAHKAN DITAATI, TIDAK MENGAMBIL SUNNAH NABI ﷺ!!!

  1. Ini Adalah Masalah Ijtihad, Masing-Masing Punya Hujjah dan Jangan Saling Mengingkari, Apalagi Ini Masalah Furu’ Bukan Ushul

Adapun kaidah:

الاِجْتِهَادُ لاَ يُنْقَضُ بِالاِجْتِهَادِ

Ijtihad Tidak Bisa Dibatalkan Dengan Ijtihad

لاَ إِنْكَارَ فِيْ مَسَائِلِ الْخِلاَفِ

Tidak Ada Pengingkaran Dalam Masalah Khilaf

 Maka kaidah ini perlu ada tafshiil (perincian).

a. Apabila ijtihad tersebut jelas-jelas bertabrakan dengan dalil yang Shahih, maka tidak boleh kita mengambil ijtihad dan meninggalkan Nash/dalil.

Contoh: Dalam masalah nikah dengan tanpa wali, maka jelas bertentangan dengan dalil, sehingga kita wajib untuk menolak dan membantahnya.

Ijtihad yang menghalalkan musik, isbal dan lain-lain, maka wajib kita membantah ijtihad tersebut.

b. Apabila ijtihad tersebut menggunakan dalil yang lemah, maka kita juga boleh menjelaskan kelemahannya, bahkan membantahnya.

c. Apabila perbedaan pendapat memiliki dalil yang sama kuat, maka di sini berlaku: Tidak mengingkari perbedaan. Itu pun tetap harus berpegang dengan dalil (tidak hanya mencari-cari rukhshah atau pendapat yang sesuai keinginan (hawa nafsu).

Semoga Allah merahmati Imam Adz-Dzahabi yang mengatakan:

الْعِلْمُ: قَالَ اللهُ، قَالَ رَسُوْلُهُ

قَالَ الصَّحَابَةُ لَيْسَ بِالتَّمْوِيْهِ

مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلاَفِ سَفَاهَةً

بَيْنَ الرَّسُوْلِ وَبَيْنَ رَأْيِ فَقِيْهٍ!!!

 

Artinya:

Ilmu itu adalah: firman Allah dan sabda Rasul-Nya ﷺ

Serta perkataan Sahabat. Bukan hanya sekedar kamuflase

Bukanlah ilmu itu dengan engkau mempertentangkan perselisihan karena kebodohan

(Mempertentangkan) antara Rasul ﷺ dengan pendapat Ahli Fiqih!!!

Adapun kalau Anda mengatakan ini adalah masalah Furu’ (cabang) dan bukan Ushul (prinsip), maka yang benar dalam Islam adalah tidak membedakan masalah Ushul dan Furu’ dalam penting atau tidaknya. Yakni bahwa semuanya adalah penting. Betapa banyak hal yang dianggap kecil akan berubah menjadi bencana dan fitnah yang hebat ketika diremehkan.

Lihat saja kisah zikir jamaah dengan kerikil yang diingkari oleh Abdullah bin Mas’ud, yang mereka mengatakan bahwa tujuan mereka adalah baik.

Akhirnya perbuatan bid’ah yang kecil berubah tersebut berubah menjadi bencana besar, dan orang-orang tersebut semuanya ada di barisan pemberontak melawan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu. Lihat pembahasan ini dalam Kitab: ‘Ilmu Ushulil Bida’, Baab: Baina Qisyr Wal Lubaab (Antara Kulit Dan Inti) (hlm. 247), karya Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi hafizhahullaah.

  1. Ulama Terdahulu Seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Telah Berdemo Ketika Ada Pencaci Rasul, Sehingga Beliau Menulis Kitab Ash-Shaarim Al-Masluul, dan Asy-Syirazi (Juga Berdemo), dan lain-lain

Pertama: Ibnu Taimiyah rahimahullaah tidak berdemo. Justru beliau mengadukan pencaci rasul kepada pemerintah, dan kebetulan diikuti oleh masyarakat, sehingga terjadilah kerusuhan.

Kedua: Pendapat Ulama Bukan Dalil

Para ulama berkata:

أَقْوَالُ أَهْلِ الْعِلْمِ يُحْتَجُّ لَهَا وَلاَ يُحْتَجُّ بِهَا

“Pendapat para ulama itu butuh dalil dan ia bukanlah dalil.”

Imam Abu Hanifah rahimahullaah berkata:

لاَ يَحِلُّ لأَحَدٍ أَنْ يَأْخُذَ بِقَوْلِنَا؛ مَا لَمْ يَعْلَمْ مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ

“Tidak halal bagi siapa pun untuk mengambil pendapat kami, selama dia tidak mengetahui darimana kami mengambil (dalil)nya”

Imam Asy-Syafi’I rahimahullaah berkata:

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ مَنْ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-؛ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Para ulama telah ijma’ (sepakat), bahwa barang siapa yang jelas sunah Rasulullah ﷺ baginya, maka tidak boleh baginya untuk meninggalkan Sunnah tersebut, dikarenakan mengikuti perkataan seseorang.”

Dan juga telah kita sebutkan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah:

لاَ تُقَلِدْنِيْ، وَلاَ تُقَلِّدْ مَالِكًا، وَلاَ الشَّافِعِيَّ، وَلاَ الأَوْزَاعِيَّ، وَلاَ الثَّوْرِيَّ! وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوْا!!

“Janganlah engkau taqlid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, ataupun Ats-Tsauri! Ambillah (hukum) dari sumber yang mereka mengambil darinya (yakni: dalil-dalil)!!”

[Lihat: Muqaddimah Shifatush Shalaatin Nabiyy, karya Imam Al-Albani rahimahullaah]

Para ulama bukan manusia makshum yang selalu benar dan tidak pernah terjatuh ke dalam kesalahan. Terkadang masing-masing dari mereka berpendapat dengan pendapat yang salah, karena bertentangan dengan dalil. Mereka terkadang tergelincir dalam kesalahan. Imam Malik rahimahullaah berkata:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيْبُ، فَانْظُرُوْا فِيْ رَأْيِيْ؛ فَكُلُ مَا وَافَقَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ؛ فَخُذُوْهُ، وَكُلُّ مَا لَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ؛ فَاتْرُكُوْهُ

“Saya ini hanya seorang manusia, kadang salah dan kadang benar. Cermatilah pendapatku. Setiap yang sesuai dengan Alquran dan As-Sunnah, maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Alquran dan As-Sunnah, maka tinggalkanlah.”

[Lihat: Muqaddimah Shifatush Shalaatin Nabiyy, karya Imam Al-Albani rahimahullaah]

Orang yang hatinya berpenyakit, maka dia akan mencari-cari pendapat yang salah dan aneh dari para ulama, demi untuk mengikuti nafsunya dalam menghalalkan yang haram, dan mengharamkan yang halal. Sulaiman At-Taimi rahimahullaah berkata:

لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ أَوْ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ؛ اجْتَمَعَ فِيْكَ الشَّرُّ كُلُّهُ

“Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan.” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 3172]

  1. Demonstrasi Adalah Amar Ma’ruf Nahi Munkar -Dan Pemimpin Wajib Dinasihati-, Dan Hal Itu Merupakan Seutama-Utama Jihad

Inilah perkataan mereka, dan di antara yang mereka bawakan adalah Hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟْﺠِﻬَﺎﺩِ ﻛَﻠِﻤَﺔُ ﻋَﺪْﻝٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺳُﻠْﻄَﺎﻥٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ ﺃَﻭْ ﺃَﻣِﻴْﺮٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ

“Jihad yang paling utama adalah mengatakan perkataan yang adil di sisi penguasa atau pemimpin yang zalim.” [HR. Abu Dawud (no. 4344), At-Tirmidzi (no. 2174), dan Ibnu Majah (no. 4011)].

Dan dalam riwayat Ahmad (V/251 & 256):

كَلِمَةُ حَقٍّ

“Perkataan yang haq (benar).”

[Hadis ini Shahih. Lihat Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah (no. 491), karya Imam Al-Albani rahimahullaah]

Bahkan jika seseorang mati karena dibunuh oleh penguasa yang zalim disebabkan amar ma’ruf nahi munkar, maka dia termasuk pemimpin para Syuhada.

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺳَﻴِّﺪُ ﺍﻟﺸُّﻬَﺪَﺍﺀِ: ﺣَﻤْﺰَﺓُ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻤُﻄَﻠِّﺐِ، ﻭَﺭَﺟُﻞٌ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻟَﻰ ﺇِﻣَﺎﻡٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ؛ ﻓَﺄَﻣَﺮَﻩُ ﻭَﻧَﻬَﺎﻩُ، ﻓَﻘَﺘَﻠَﻪُ

“Penghulu para Syuhada adalah: Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, dan orang yang berkata melawan penguasa kejam, di mana dia melarang dan memerintah (penguasa tersebut), namun akhirnya dia mati terbunuh.”

[HR. Al-Hakim (no. 4872), dia menyatakan Shahih. Aakan tetapi Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Adz-Dzahabi menyepakatinya. Syaikh Al-Albani mengatakan: Hasan. Lihat Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah (no. 374)].

Jawabannya: Hadisnya Benar Akan Tetapi Pemahamannya Yang Salah

Pertama: Kata-kata dalam Hadis (عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ) menunjukkan, bahwa menasihatinya di dekat penguasa dengan mendatangi, dan tidak menunjukkan terang-terangan, sebagaimana,diisyaratkan oleh kata عِنْدَ yang artinya di sisi.

Demikian dalam riwayat kedua kata ﺭَﺟُﻞٌ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻟَﻰ ﺇِﻣَﺎﻡٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ dan lelaki yang berkata dan datang kepada imam yang zalim. Ada kata (إلى) berarti kata di Tadhmin, memiliki makna: mendatangi, bukan turun ke jalan dan demonstrasi.

Kalau memang Anda mampu, maka silakan datang langsung ke dalam istana dan amar ma’ruf dan nahi munkar kepada pemerintah, walaupun sampai terbunuh. Itu baru sesuai dengan Hadis, bukan demo di jalanan yang tidak sesuai dengan Hadis di atas.

Kedua: Hadis Nabi ﷺ adalah saling menjelaskan satu sama lainnya, sehingga terbentuklah pemahamannya yang benar. Maka hadis di atas dijelaskan dengan cara: menasihati pemimpin dengan cara yang baik dan benar dengan tidak dengan terang-terangan. Dan ber-amar ma’ruf serta nahi munkar kepadanya adalah dengan mendatanginya secara langsung, sebagaimana pemahaman dan pengamalan para Sahabat.

  1. Demonstrasi Pernah Dilakukan Sahabat

Pertama: Kisah Islamnya ‘Umar Yang Thawaf Berbaris Bersama Hamzah

Kita Jawab: Kisahnya lemah sekali, Syaikh Al-Albani mengatakan: Munkar, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. [Lihat: Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dha’iifah (no. 6531)]

Kalaupun Shahih, maka bukanlah menjadi dalil untuk demonstrasi, karena ini adalah pengumuman Islamnya Hamzah dan ‘Umar, maka di mana letak demonstrasinya? Dan dalam rangka menentang apa?

Kedua: Kisah Wanita Yang Mendatangi Nabi ﷺ Untuk Mengadukan Perilaku Suaminya Yang Kasar Terhadap Istri

Kita Jawab: Ini Bukan Demo

Bahkan inilah yang di syariatkan: Mengadukan permasalahan langsung dengan menghadap pemerintah, bukan berdemo di jalan. Karena Shahabiyat langsung datang ke rumah Nabi ﷺ dan bukan keliling kota Madinah berjalan-jalan meneriakkan yel-yel, bahwa suami mereka berbuat kasar.

Bantahan kedua: Ini terjadi bukan karena kesepakatan, bahkan hanya kebetulan banyak para wanita yang mengadukan kepada Nabi ﷺ perihal suami mereka. Lantas bagaimana dengan demonstrasi yang menggerakkan masa?? Alangkah jauhnya perbedaan antara keduanya!

Masih banyak syubhat (kerancuan) dalam masalah Demonstrasi yang lebih lemah dari syubhat di atas. Insyaa Allaah jika masih ada kesempatan, akan ada bantahan jilid selanjutnya terhadap syubhat mereka.

Semoga bermanfaat.

 

Penulis: Dika Wahyudi Lc.

 

Sumber:

https://www.facebook.com/dika.wahyudi.140/posts/764094400411089

https://aslibumiayu.net/17256-alasan-alasan-pendukung-demonstrasi-alasan-yang-rapuh-dan-bukan-di-atas-ilmu.html

 

,

MENYIKAPI PENYEBARAN BERITA TENTANG KESESATAN TOKOH-TOKOH SYIAH DI INDONESIA

MENYIKAPI PENYEBARAN BERITA TENTANG KESESATAN TOKOH-TOKOH SYIAH DI INDONESIA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Syiah_Bukan_Islam

MENYIKAPI PENYEBARAN BERITA TENTANG KESESATAN TOKOH-TOKOH SYIAH DI INDONESIA

Pertanyaan:

Beredar broadcast tentang nama-nama/tokoh orang Syiah. Yang saya tanyakan, apakah benar mereka orang Syiah. Dan apa dasarnya mereka menyebutnya orang itu Syiah? Contoh Jalaludin Rakhmat dan beberapa yang lain.

Jawaban:

Jalaludin Rakhmat dan teman-temannya yang dianggap sebagai orang-orang Syiah karena keyakinan dan amalan mereka sama dengan sekte sesat Syiah.

Sebagai contoh, kesesatan Syiah adalah mencerca para sahabat radhiyallahu’anhum. Ini bertebaran di buku-buku karya Jalaluddin Rakhmat. Padahal sahabat adalah orang-orang yang Allah ta’ala pilih untuk menjadi murid Rasulullah ﷺ dan berjuang bersama beliau.

Demikian pula Alquran dan As-Sunnah sampai kepada kita, dikarenakan para sahabat memelajarinya dengan baik dari Rasulullah ﷺ dan mengajarkannya kepada generasi berikutnya. Oleh karena itu, dalam banyak ayat Alquran dan As-Sunnah, Allah ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ telah memuji para sahabat.

Dan Nabi ﷺ berpesan:

لَا تَسُبُّو أَصْحَابِي لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَ لَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencerca sahabatku. Janganlah kalian mencerca sahabatku. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, andaikan seorang dari kalian bersedekah emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai segenggam emas yang disedekahkan oleh sahabatku, tidak pula separuhnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Dan masih banyak lagi kesesatan Syiah lainnya yang diikuti oleh Jalal dan tokoh-tokoh tersebut. Maka sudah sepatutnya kaum Muslimin diingatkan akan bahaya kesesatan mereka.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

Sumber: https://nasihatonline.wordpress.com/2013/08/19/menyikapi-penyebaran-berita-tentang-kesesatan-tokoh-tokoh-syiah-di-indonesia/

Artikel Terkait:

Memperingatkan Bahaya Kelompok Sesat, Antara Nasihat dan Cacian

JANGAN MEMBELA KELOMPOK SESAT !

 

, ,

IMBAUAN UNTUK TIDAK IKUT BERDEMO 4 NOVEMBER 2016

IMBAUAN UNTUK TIDAK IKUT BERDEMO 4 NOVEMBER 2016
IMBAUAN UNTUK TIDAK IKUT BERDEMO 4 NOVEMBER 2016
 
Dikarenakan banyaknya yang menanyakan sikap saya terkait rencana demo 4 Nov 2016, maka yang berikut ini adalah rangkuman poin-poin saya:
 
1. Kejadian yang melanda kaum Muslimin di Indonesia dengan ibu kota yang dipimpin orang kafir adalah salah satu bentuk musibah yang mencambuk kaum Muslimin untuk kembali kepada Allah (dengan mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya dalam Alquran dan as-Sunnah) Lihat QS. Asy-Syuuro: 30 dan Ar-Ruum: 41.
 
2. GHIRAH seorang Muslim atas agamanya adalah harga mati. Maka kita mengutuk kemungkaran-kemungkaran, khususnya masalah penghinaan Alquran ini.
 
3. Pembelaan terhadap Islam menjadi kewajiban bagi setiap Muslim, dan Al-hamdulillaah, hal itu telah dilaksanakan oleh sebagian kaum Muslimin dengan menempuh jalur hukum, sesuai aturan yang ada. Sebagaimana yang dilakukan oleh MUI dan yang lainnya.
 
4. Adapun langkah merealisasikan tuntutan hukum dengan keluar demontrasi, mengangkat senjata, maka kita harus menimbangnya melalui Alquran dan Sunnah, serta memertimbangkan maslahat dan madhorotnya. Sementara demonstrasi adalah produk orang kafir dan kaum Khawarij di masa Utsman. Sementara Nabi ﷺ melarang kita mengikuti cara-cara mereka.
 
5. Jika demontrasi akan mengakibatkan bentrok antara aparat keamanan (TNI POLRI) dengan rakyat Islam Indonesia, maka betapa ruginya kita, jika korban berjatuhan SEMENTARA penghina Alquran ini (A-Hog) DIJAGA DENGAN KETAT. “Hancurnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah, dibandingkan terbunuhnya nyawa seorang Muslim”
 
6. Kita tempuh dengan cara cara yang lebih kecil mudhorotnya terhadap umat Islam, dengan menempuh jalur hukum dengan sabar.
 
7. Memberikan peringatan kepada umat Islam untuk tidak mengulang kesalahan dengan memilih pemimpin kafir.
 
8. Mengajak kaum Muslimin turun ke jalan menuju majlis-majlis ilmu untuk memelajari Alquran dan As-Sunnah. Karena kemenangan Islam terbukti bukan dengan banyaknya jumlah, akan tetapi ketika mereka beriman dan bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan menyemarakkan majlis-majlis ilmu.
 
9. Adapun kepada para pemegang kekuasaan, hendaknya kalian bertakwa kepada Allah dengan menindak orang-orang yang menghina Alquran ini, karena kewajiban kalian lebih besar daripada kewajiban rakyat jelata yang tidak memiliki kekuasaan. Rakyat telah berlepas diri dari kemungkaran tersebut dengan mengadukannya kepada para pemegang kekuasaan.
 
Semoga Allah melindungi kita semua dari segala bentuk makar dan memenangkan kaum Muslimin di mana pun mereka berada.
 
Pertanyaan:
Saya sudah mendengar ceramah beberapa ustadz, yang sepanjang saya ketahui, sepertinya menampakkan sunnahnya. Tapi mengapa mereka katakan, bahwa aksi demo tersebut dibolehkan tergantung situasinya …
 
Masalahnya, pemerintah sudah diingatkan melalui saluran-saluran resmi, tapi tetap tidak mengindahkannya.
 
Jawaban:
Di sinilah letak ujiannya. Akan nampak siapa yang benar-benar komitmen di atas Sunnah dan yang tidak, karena demonstrasi termasuk prinsip dasar yang membedakan Ahlus Sunnah dengan yang lainnya.
 
Namun yang ingin ditekankan di sini adalah:
 
Jangan gegabah untuk cepat memvonis orang yang tidak ikut berdemo, dengan menilai bahwa mereka tidak ingin membela Alquran dan tidak cinta ulama. Bukan seperti itu. Tahan dulu lisan di zaman fitnah. Mereka yang tidak ikut berdemo, tentu ada cara lain untuk menurunkan Gubernur sang pencela Alquran dan untuk mengadilinya dengan cara yang lain. Yang mana cara tersebut tidak harus berdemo. Yang jelas mereka sangat benci, jika Alquran diinjak-injak kehormatannya. Namun cara mereka tidak dengan berdemo.
 
Begitu pula untuk orang yang tidak ikut berdemo, jangan gegabah untuk mencela habis-habisan saudara-saudara kita yang ikut berdemo. Sekali lagi, jaga lisan di zaman fitnah. Cukup jelaskan pandangan kita. Kalau dia tetap enggan, maka tak perlu kita mencelanya, sehingga saling mencaci maki sesama Muslim. Cukup doakanlah saudara-saudara kita yang ikut berdemo, agar terhindar dari makar dan tipu daya kafir. Dan semoga Allah selalu melindungi mereka, dan agar sang pencela Alquran itu segera diadili.
 
Wabillaahit taufiiq.
 
Penulis: Al Ustadz Abdulloh Sya’roni hafizhahullah

NASIB “TEMAN FIRAUN”

NASIB "TEMAN FIRAUN"

NASIB “TEMAN FIRAUN”

Stop jadi “Teman Firaun”

Allah menceritakan dalam Alquran:

فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ وَهُوَ مُلِيمٌ

Maka Kami siksa dia dan tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut dalam keadaan tercela. (adz Dzariyat: 40)

Mungkin “Teman Firaun” ini tidak sezalim Firaun, tidak sekejam dan sebengis Firaun. Tapi coba perhatikan hukumannya, sama saja, bareng-bareng sama Firaun. Sama-sama ditenggelamkan ke laut, sama-sama mati su-ul khotimah.

Makanya, jangan mau jadi “Teman Firaun” atau teman orang-orang zalim lainnya buat mendukung mereka. Ngeri akibatnya.

Walau Anda tidak sezalim dia, walau Anda tidak selicik dia, walau mulut Anda tidak sekotor mulutnya, boleh jadi kalau dia kena hukuman, Anda juga kena hukuman yang sama.

Sudahlah … Stop jadi “Teman Firaun”. Kembali ke masjid, mari kita belajar agama kita dengan benar

 

Sumber: Telegram @AmrullahAK (dengan pengubahan redaksi seperlunya oleh Tim Redaksi Nasihat Sahabat)