Posts

,

APAKAH UTANG WAJIB DICATAT? [FATWA ULAMA]

APAKAH UTANG WAJIB DICATAT? [FATWA ULAMA]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#UtangPiutang
#FatwaUlama

APAKAH UTANG WAJIB DICATAT? [FATWA ULAMA]

>> Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Pertanyaan:

Apakah mengutangi orang itu mendapatkan pahala? Dan apakah wajib mencatat utang?

Jawaban:

Al Qardh (utang), atau yang dikenal banyak orang dengan At Taslif (memberi pinjaman) hukumnya sunnah, dan di dalamnya terdapat pahala, berdasarkan keumuman firman Allah ta’ala:

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” [QS. Al Baqarah: 195].

Dan tidak mengapa seseorang untuk berutang, karena Nabi ﷺ terkadang berutang. Maka utang hukumnya mubah, bagi orang yang hendak berutang, dan sunnah bagi orang yang mengutangi.

Namun orang yang mengutangi wajib untuk menjauhi sikap gemar menyebut-nyebut utang tersebut kepada orang yang ia utangi. Atau juga memberikan gangguan kepadanya dengan mengatakan misalnya: “Saya kan sudah berbuat baik kepadamu dengan memberikan utang kepadamu…” atau semisalnya. Berdasarkan firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأَذَى

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” [QS. Al Baqarah: 264].

Adapun soal mencatat utang, jika harta yang diutangkan adalah milik sendiri, maka yang afdhal (sunnah) adalah mencatatnya. Berdasarkan firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar” [QS. Al Baqarah: 282].

 

Dan boleh saja jika tidak mencatatnya, apalagi jika utangnya dalam perkara-perkara yang kecil, yang biasanya secara adat orang-orang tidak terlalu serius di dalamnya.

Adapun jika harta yang diutangkan adalah miliki orang lain, misalnya jika ia mengelola harta anak yatim, dan karena suatu maslahah ia mengutangkannya kepada orang lain, maka ia wajib mencatatnya. Karena ini merupakan bentuk penjagaan terhadap harta anak yatim. Allah ta’ala berfirman:

وَلا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.” [QS. Al An’am: 154]

[Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 2/16, Asy Syamilah]

 

Penerjemah: Yulian Purnama

Sumber: https://muslim.or.id/24150-fatwa-ulama-apakah-utang-wajib-dicatat.html

,

ANCAMAN ORANG YANG TIDAK MAU HAJI PADAHAL DIA MAMPU

ANCAMAN ORANG YANG TIDAK MAU HAJI PADAHAL DIA MAMPU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#HajiUmrah

ANCAMAN ORANG YANG TIDAK MAU HAJI PADAHAL DIA MAMPU
>> Disuruh Pilih, Mau Mati Sebagai Yahudi atau Nasrani

Pertanyaan:

Apa hukum bagi orang yang tidak daftar haji, padahal dia mampu?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Orang yang mampu berangkat haji dan dia sengaja tidak berangkat haji, atau memiliki keinginan untuk tidak berhaji. maka dia melakukan dosa besar. Allah berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. ([QS. Ali Imran: 97]

Ketika menjelaskan tafsir ayat ini, Ibnu Katsir membawakan keterangan dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: مَنْ أَطَاقَ الْحَجَّ فَلَمْ يَحُجَّ، فَسَوَاءٌ عَلَيْهِ يَهُودِيًّا مَاتَ أَوْ نَصْرَانِيًّا، وَهَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ إِلَى عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Bahwa Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Siapa yang mampu haji dan dia tidak berangkat haji, sama saja, dia mau mati Yahudi atau mati Nasrani.”

Komentar Ibnu Katsir, ‘Riwayat ini sanadnya Shahih sampai ke Umar radhiyallahu ‘anhu.’

Kemudian diriwayatkan oleh Said bin Manshur dalam sunannya, dari Hasan al-Bashri, bahwa Umar bin Khatab mengatakan:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنَّ أَبْعَثَ رِجَالًا إِلَى هَذِهِ الْأَمْصَارِ فَيَنْظُرُوا كُلَّ مَنْ كَانَ لَهُ جَدَّةٌ فَلَمْ يَحُجَّ، فَيَضْرِبُوا عَلَيْهِمُ الْجِزْيَةَ مَا هُمْ بمسلمين، ما هم بمسلمين

“Saya bertekad untuk mengutus beberapa orang ke berbagai penjuru negeri ini, untuk memeriksa siapa di antara mereka yang memiliki harta, namun dia tidak berhaji, kemudian mereka diwajibkan membayar fidyah. Mereka bukan bagian dari kaum Muslimin. Mereka bukan bagian dari kaum Muslimin.” [Tafsir Ibnu Katsir, 2/85]

Belum Berhaji Hingga Mati

Orang yang mampu secara finansial, sementara tidak berhaji hingga mati, maka dia dihajikan orang lain, dengan biaya yang diambilkan dari warisannya. Meskipun selama hidup, dia tidak pernah berwasiat.

Al-Buhuti mengatakan:

وإن مات من لزماه أي الحج والعمرة أخرج من تركته من رأس المال ـ أوصى به أو لا ـ ويحج النائب من حيث وجبا على الميت، لأن القضاء يكون بصفة الأداء

Apabila ada orang yang wajib haji atau umrah meninggal dunia, maka diambil harta warisannya (untuk badal haji), baik dia berwasiat maupun tidak berwasiat. Sang badal melakukan haji dan umrah sesuai keadaan orang yang meninggal. Karena pelaksanaan qadha itu sama dengan pelaksanaan ibadah pada waktunya (al-Ada’). (ar-Raudh al-Murbi’, 1/249)

Keterangan:

Yang dimaksud ’Sang badal melakukan haji dan umrah sesuai keadaan orang yang meninggal’ adalah bahwa sang badal melaksanakan haji atau umrah sesuai miqat si mayit. Jika mayit miqatnya dari Yalamlam, maka badal juga harus mengambil miqat Yalamlam.

Miqat Boleh Beda

Al-Buhuti memersyaratkan, miqat orang yang menjadi badal haji harus sama dengan miqat mayit. Namun beberapa ulama lainnya berpendapat, bahwa miqat tidak harus sama. Dalam Hasyiyah ar-Raudh dinyatakan:

وقيل: يجزئ من ميقاته، وهو مذهب مالك، والشافعي، ويقع الحج عن المحجوج عنه

Ada yang mengatakan, badal haji boleh dari miqatnya sendiri. Ini pendapat Malik dan as-Syafii. Dan hajinya sah sebagai pengganti bagi orang yang dihajikan. (Hasyiyah ar-Raudh al-Murbi’, 3/519).

Dalam al-Mughni Ibnu Qudamah menyebutkan pendapat kedua ini:

ويستناب من يحج عنه حيث وجب عليه، إما من بلده أو من الموضع الذي أيسر فيه، وبهذا قال الحسن وإسحاق

Dia dibadalkan oleh orang berhaji atas namanya sesuai kondisinya, baik berangkat dari negerinya (mayit), atau dari tempat manapun yang mudah baginya. Ini adalah pendapat Hasan al-bashri dan Ishaq. (al-Mughni, 3/234).

Dan insyaaAllah pendapat kedua inilah yang lebih mendekati kebenaran, karena inti yang diinginkan adalah hajinya, bukan usaha keberangkatan hajinya. Demikian keterangan Imam Ibnu Utsaimin.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/23443-ancaman-orang-yang-tidak-mau-haji.html

, ,

BAHAYA ORANG YANG ENGGAN MELUNASI UTANGNYA

BAHAYA ORANG YANG ENGGAN MELUNASI UTANGNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BAHAYA ORANG YANG ENGGAN MELUNASI UTANGNYA

Alhamdulillahi robbil ‘alamin. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Keutamaan Orang yang Terbebas dari Utang

Dari Tsauban, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ

“Barang siapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal:

[1] Sombong,
[2] Ghulul (khianat), dan
[3] Utang, maka dia akan masuk Surga”. [HR. Ibnu Majah no. 2412. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]. Ibnu Majah membawakan hadis ini pada Bab “Peringatan Keras Mengenai Utang.”

Mati Dalam Keadaan Masih Membawa Utang, Kebaikannya Sebagai Ganti

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ

“Barang siapa yang mati dalam keadaan masih memiliki utang satu Dinar atau satu Dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di Hari Kiamat nanti), karena di sana (di Akhirat) tidak ada lagi Dinar dan Dirham.” [HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]. Ibnu Majah juga membawakan hadis ini pada Bab “Peringatan Keras Mengenai Utang.”

Itulah keadaan orang yang mati dalam keadaan masih membawa utang dan belum juga dilunasi. Maka untuk membayarnya akan diambil dari pahala kebaikannya. Itulah yang terjadi ketika Hari Kiamat, karena di sana tidak ada lagi Dinar dan Dirham untuk melunasi utang tersebut.

Urusan Orang yang Berutang Masih Menggantung

Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda:

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

“Jiwa seorang Mukmin masih bergantung dengan utangnya, hingga dia melunasinya.” [HR. Tirmidzi no. 1078. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih, sebagaimana Shahih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi]

Al ‘Iroqiy mengatakan: “Urusannya masih menggantung, tidak ada hukuman baginya, yaitu tidak bisa ditentukan, apakah dia selamat ataukah binasa, sampai dilihat bahwa utangnya tersebut lunas atau tidak.” [Tuhfatul Ahwadzi, 3/142]

Orang yang Berniat Tidak Mau Melunasi Utang Akan Dihukumi Sebagai Pencuri

Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا

“Siapa saja yang berutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada Hari Kiamat) dalam status sebagai pencuri.” [HR. Ibnu Majah no. 2410. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Hasan Shahih]

Al Munawi mengatakan: “Orang seperti ini akan dikumpulkan bersama golongan pencuri dan akan diberi balasan sebagaimana mereka.” [Faidul Qodir, 3/181]

Ibnu Majah membawakan hadis di atas pada Bab “Barang Siapa Berutang Dan Berniat Tidak Ingin Melunasinya.”

Ibnu Majah juga membawakan riwayat lainnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

“Barang siapa yang mengambil harta manusia dengan niat ingin menghancurkannya, maka Allah juga akan menghancurkan dirinya.” [HR. Bukhari no. 18 dan Ibnu Majah no. 2411]. Di antara maksud hadis ini adalah barang siapa yang mengambil harta manusia melalui jalan utang, lalu dia berniat tidak ingin mengembalikan utang tersebut, maka Allah pun akan menghancurkannya. Ya Allah, lindungilah kami dari banyak berutang dan enggan untuk melunasinya.

Masih Ada Utang, Enggan Dishalati

Dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

Kami duduk di sisi Nabi ﷺ. Lalu didatangkanlah satu jenazah. Lalu beliau ﷺ bertanya: “Apakah dia memiliki utang?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Tidak ada.” Lalu beliau ﷺ mengatakan: “Apakah dia meninggalkan sesuatu?”. Lantas mereka (para sahabat) menjawab: “Tidak.” Lalu beliau ﷺ menyalati jenazah tersebut.

Kemudian didatangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah shalatkanlah dia!” Lalu beliau ﷺ bertanya, “Apakah dia memiliki utang?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Iya.” Lalu beliau ﷺ mengatakan: “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Lantas mereka (para sahabat) menjawab: “Ada, sebanyak 3 Dinar.” Lalu beliau ﷺ menyalati jenazah tersebut.

Kemudian didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu para sahabat berkata: “Shalatkanlah dia!” Beliau ﷺ bertanya: “Apakah dia meningalkan sesuatu?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Tidak ada.” Lalu beliau ﷺ bertanya: “Apakah dia memiliki utang?” Mereka menjawab: “Ada tiga Dinar.” Beliau ﷺ berkata: “Shalatkanlah sahabat kalian ini.” Lantas Abu Qotadah berkata: “Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung utangnya.” Kemudian beliau ﷺ pun menyalatinya.” [HR. Bukhari no. 2289]

Dosa Utang Tidak Akan Terampuni Walaupun Mati Syahid

Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah ﷺ bersabda:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utang.” [HR. Muslim no. 1886]

Oleh karena itu, seseorang hendaknya berpikir: “Mampukah saya melunasi utang tersebut dan mendesakkah saya berutang?” Karena ingatlah, utang pada manusia tidak bisa dilunasi hanya dengan istighfar.

Nabi ﷺ Sering Berlindung dari Berutang Ketika Shalat

Bukhari membawakan dalam  kitab Shahihnya pada Bab “Siapa Yang Berlindung Dari Utang”. Lalu beliau rahimahullah membawakan hadis dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

كَانَ يَدْعُو فِى الصَّلاَةِ وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ » . فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ قَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ » .

“Nabi ﷺ biasa berdoa di akhir shalat (sebelum salam):

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang.”

Lalu ada yang berkata kepada beliau ﷺ: “Kenapa engkau sering meminta perlindungan adalah dalam masalah utang?” Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika orang yang berutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” [HR. Bukhari no. 2397]

Al Muhallab mengatakan: “Dalam hadis ini terdapat dalil tentang wajibnya memotong segala perantara yang menuju pada kemungkaran. Yang menunjukkan hal ini adalah doa Nabi ﷺ ketika berlindung dari utang dan utang sendiri dapat mengantarkan pada dusta.” [Syarh Ibnu Baththol, 12/37]

Adapun utang yang Nabi ﷺ berlindung darinya adalah tiga bentuk utang:

[1] Utang yang dibelanjakan untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah dan dia tidak memiliki jalan keluar untuk melunasi utang tersebut.
[2] Berutang bukan pada hal yang terlarang, namun dia tidak memiliki cara untuk melunasinya. Orang seperti ini sama saja menghancurkan harta saudaranya.
[3] Berutang namun dia berniat tidak akan melunasinya. Orang seperti ini berarti telah bermaksiat kepada Rabbnya.

Orang-orang semacam inilah yang apabila berutang lalu berjanji ingin melunasinya, namun dia mengingkari janji tersebut. Dan orang-orang semacam inilah yang ketika berkata akan berdusta. [Syarh Ibnu Baththol, 12/38]

Itulah sikap jelek orang yang berutang, sering berbohong dan berdusta. Semoga kita dijauhkan dari sikap jelek ini.

Kenapa Nabi ﷺ sering berlindung dari utang ketika shalat?

Ibnul Qoyyim dalam Al Fawa’id (hal. 57, Darul Aqidah] mengatakan:

“Nabi ﷺ meminta perlindungan kepada Allah dari berbuat dosa dan banyak utang, karena banyak dosa akan mendatangkan kerugian di Akhirat, sedangkan banyak utang akan mendatangkan kerugian di dunia.”

Inilah doa yang seharusnya kita amalkan agar terlindung dari utang:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang.

Berbahagialah Orang yang Berniat Melunasi Utangnya

Ibnu Majah dalam sunannya membawakan dalam Bab “Siapa Saja Yang Memiliki Utang Dan Dia Berniat Melunasinya.” Lalu beliau membawakan hadis dari Ummul Mukminin Maimunah:

كَانَتْ تَدَّانُ دَيْنًا فَقَالَ لَهَا بَعْضُ أَهْلِهَا لاَ تَفْعَلِى وَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهَا قَالَتْ بَلَى إِنِّى سَمِعْتُ نَبِيِّى وَخَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا ».

Dulu Maimunah ingin berutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan: “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan: “Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku ﷺ bersabda: “Jika seorang Muslim memiliki utang, dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi utang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi utang tersebut di dunia”. [HR. Ibnu Majah no. 2399. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih kecuali kalimat fid dunya –di dunia-]

Dari hadis ini ada pelajaran yang sangat berharga, yaitu boleh saja kita berutang, namun harus berniat untuk mengembalikannya. Perhatikanlah perkataan Maimunah di atas.

Juga terdapat hadis dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ

“Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya), sampai dia melunasi utang tersebut, selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” [HR. Ibnu Majah no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar utang. Ketika dia mampu, dia langsung melunasinya. Atau melunasi sebagiannya, jika dia tidak mampu melunasi seluruhnya. Sikap seperti inilah yang akan menimbulkan hubungan baik antara orang yang berutang dan yang memberi utangan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

“Sesungguhnya yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar utang.” [HR. Bukhari no. 2393]

Ya Allah, lindungilah kami dari berbuat dosa dan beratnya utang. Mudahkanlah kami untuk melunasinya.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyiina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

 

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel https://rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/187-bahaya-orang-yang-enggan-melunasi-utangnya.html

, , ,

APAKAH PENYAKIT ‘AIN HANYA DARI PANDANGAN YANG DENGKI SAJA?

APAKAH PENYAKIT 'AIN HANYA DARI PANDANGAN YANG DENGKI SAJA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#AdabAkhlak

APAKAH PENYAKIT ‘AIN HANYA DARI PANDANGAN YANG DENGKI SAJA?

Penyakit ‘ain adalah penyakit, baik pada badan maupun jiwa, yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki, ataupun takjub/kagum, sehingga dimanfaatkan oleh setan, dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena. Jadi penyakit ‘ain bukan hanya disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki saja, tapi bisa juga diakibatkan oleh pandangan mata orang yang takjub, senang, ataupun kagum terhadap kita. Ibnul Atsir rahimahullah berkata:

ﻳﻘﺎﻝ: ﺃﺻَﺎﺑَﺖ ﻓُﻼﻧﺎً ﻋﻴْﻦٌ ﺇﺫﺍ ﻧَﻈﺮ ﺇﻟﻴﻪ ﻋَﺪُﻭّ ﺃﻭ ﺣَﺴُﻮﺩ ﻓﺄﺛَّﺮﺕْ ﻓﻴﻪ ﻓﻤَﺮِﺽ ﺑِﺴَﺒﺒﻬﺎ

Dikatakan bahwa Fulan terkena ’ain , yaitu apabila musuh atau orang-orang dengki memandangnya, lalu pandangan itu memengaruhinya, hingga menyebabkannya jatuh sakit.” [An-Nihayah 3/332]

Sekilas ini terkesan mengada-ada atau sulit diterima oleh akal. Akan tetapi Rasulullah ﷺ menegaskan, bahwa ‘ain adalah nyata dan ada. Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺍﻟﻌﻴﻦ ﺣﻖُُّ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺷﻲﺀ ﺳﺎﺑﻖ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻟﺴﺒﻘﺘﻪ ﺍﻟﻌﻴﻦ

Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada. Seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya” [HR. Muslim]

Contoh kasus:

  • Foto anak yang lucu dan imut diposting di sosial media, kemudian bisa saja si anak tersebut terkena ‘ain. Tiba-tiba anak tersebut sakit, menangis terus dan tidak berhenti, padahal sudah diperiksakan ke dokter dan tidak ada penyakit.
  • Bisa juga gejalanya tiba-tiba tidak mau menyusui sehingga kurus kering, tanpa ada sebab penyakit.
  • Ada teman memuji handphone kita yang baru. Tiba-tiba tanpa sebab yang disadari, handphone itu hilang begitu saja. Oleh karena itu disyariatkan, bila kita memuji atau mengagumi sesuatu, kita ucapkan “Baarakallahufiik (Semoga Allah memberkahimu). Yaitu mendoakan keberkahannya, karena doa ini bisa mencegah al-‘Ain.

Hal ini terjadi karena ada pandangan hasad atau pandangan takjub kepada foto anak atau handphone itu. Dan yang PENTING diketahui, bahwa penyakit ‘ain bisa muncul, meskipun mata pelakunya tidak berniat membahayakannya (ia takjub dan kagum saja, dan tidak ada rasa iri di dalam dirinya -pen).

Wallahu a’lam.

Dinukil dari: https://muslim.or.id/28858-penyakit-ain-melalui-foto-dan-video.html dengan penambahan seperlunya oleh redaksi Nasihat Sahabat.

, ,

REMINDER SHAUM SUNNAH AYYAMUL BIIDH APRIL 2017

REMINDER SHAUM SUNNAH AYYAMUL BIIDH APRIL 2017
 
Bismillah
 
REMINDER SHAUM SUNNAH AYYAMUL BIIDH APRIL 2017
>> Untuk Indonesia
 
Yuuuk ….. saling memberi semangat…dan saling mengingatkan dalam kebaikan.
 
Mari kita melaksanakan Sunnah Rasulullah ﷺ. Jangan sia-siakan nikmat umur yang masih diberikan kepada kita.
 
Insya Allah Puasa Ayyamul Biidh April 2017 jatuh pada:
Senin, Selasa dan Rabu, 10, 11, 12, April 2017 (13, 14 dan 15 Rajab 1438 H).
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
 
أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ
 
“Kekasihku (yaitu Rasulullah ﷺ) mewasiatkan padaku tiga nasihat, yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati:
 
1. Berpuasa tiga hari setiap bulannya,
2. Mengerjakan shalat Dhuha,
3. Mengerjakan shalat Witir sebelum tidur.” [HR. Bukhari no. 1178]
 
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
 
“Puasa pada tiga hari setiap bulannya, adalah seperti puasa sepanjang tahun.” [HR. Bukhari no. 1979].
 
Semoga Allah memudahkan kita dalam mengamalkan Sunnah Rasulullah ﷺ. Aamiin.
 
Mohon disebarkan, semoga bermanfaat.
 
,

DELAPAN MACAM PUASA SUNNAH

DELAPAN MACAM PUASA SUNNAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi

DELAPAN MACAM PUASA SUNNAH

Sungguh, puasa adalah amalan yang sangat utama. Di antara ganjaran puasa disebutkan dalam hadis berikut:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal, hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka, dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah, daripada bau minyak kasturi” [HR. Muslim no. 1151].

Adapun puasa sunnah adalah amalan yang dapat melengkapi kekurangan amalan wajib. Selain itu pula, puasa sunnah dapat meningkatkan derajat seseorang menjadi wali Allah yang terdepan (As Saabiqun Al Muqorrobun). [Lihat Al furqon baina awliyair rohman wa awliyaisy syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 51, Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, tahun 1424 H]. Lewat amalan sunnah inilah seseorang akan mudah mendapatkan cinta Allah, sebagaimana disebutkan dalam Hadis Qudsi:

وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya, dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya” [HR. Bukhari no. 2506].

  1. Puasa Senin Kamis

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

“Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan, sedangkan aku sedang berpuasa.” [HR. Tirmidzi no. 747. Shahih dilihat dari jalur lainnya].

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.

“Rasulullah ﷺ biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” [HR. An Nasai no. 2360 dan Ibnu Majah no. 1739. Shahih]

  1. Puasa Tiga Hari Setiap Bulan Hijriyah

Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari apa saja.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

“Kekasihku (yaitu Rasulullah ﷺ) mewasiatkan padaku tiga nasihat, yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati:

[1] Berpuasa tiga hari setiap bulannya,
[2] Mengerjakan shalat Dhuha,
[3] Mengerjakan shalat Witir sebelum tidur.” [HR. Bukhari no. 1178]

Mu’adzah bertanya pada ‘Aisyah:

أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَتْ نَعَمْ. قُلْتُ مِنْ أَيِّهِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ كَانَ لاَ يُبَالِى مِنْ أَيِّهِ صَامَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Apakah Rasulullah ﷺ berpuasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab: “Iya.” Mu’adzah lalu bertanya: “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah menjawab: “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).” [HR. Tirmidzi no. 763 dan Ibnu Majah no. 1709. Shahih]

Namun, hari yang UTAMA untuk berpuasa adalah pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah, yang dikenal dengan Ayyamul Biidh. [Hari ini disebut dengan Ayyamul Biidh (Biidh = Putih, Ayyamul = Hari) sebab pada malam ke-13, 14, dan 15 malam itu bersinar putih, dikarenakan bulan purnama yang muncul pada saat itu]. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ

“Rasulullah ﷺ biasa berpuasa pada Ayyamul Biidh, ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” [HR. An Nasai no. 2345. Hasan].

Dari Abu Dzar, Rasulullah ﷺ bersabda padanya:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” [HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Hasan]

  1. Puasa Daud

Cara melakukan puasa Daud adalah sehari berpuasa dan sehari tidak. Rasulullah ﷺ bersabda:

أحَبُّ الصِّيَامِ إلى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وَأحَبُّ الصَّلاةِ إِلَى اللهِ صَلاةُ دَاوُدَ: كَانَ يَنَامُ نِصْفَ الليل، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَكَانَ يُفْطِرُ يَوْمًا وَيَصُوْمُ يَوْمًا

“Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” [HR. Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

أُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنِّى أَقُولُ وَاللَّهِ لأَصُومَنَّ النَّهَارَ وَلأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ . فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ الَّذِى تَقُولُ وَاللَّهِ لأَصُومَنَّ النَّهَارَ وَلأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ » قُلْتُ قَدْ قُلْتُهُ . قَالَ « إِنَّكَ لاَ تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ ، فَصُمْ وَأَفْطِرْ ، وَقُمْ وَنَمْ ، وَصُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ ، فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ، وَذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ » . فَقُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمَيْنِ » . قَالَ قُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ . قَالَ « فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا ، وَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ ، وَهْوَ عَدْلُ الصِّيَامِ » . قُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « لاَ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ » .

Disampaikan kabar kepada Rasulullah ﷺ, bahwa aku berkata: “Demi Allah, sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari, dan sungguh aku akan shalat malam sepanjang hidupku.” Maka Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya (‘Abdullah bin ‘Amru): “Benarkah kamu yang berkata: “Sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari, dan sungguh aku pasti akan shalat malam sepanjang hidupku?“ Kujawab: “Demi bapak dan ibuku sebagai tebusannya, sungguh aku memang telah mengatakannya“. Maka beliau ﷺ berkata: “Sungguh, kamu pasti tidak akan sanggup melaksanakannya. Akan tetapi berpuasalah dan berbukalah, shalat malam dan tidurlah, dan berpuasalah selama tiga hari dalam setiap bulan. Karena setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa, dan itu seperti puasa sepanjang tahun.” Aku katakan: “Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah“. Beliau ﷺ berkata: “Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah selama dua hari”. Aku katakan lagi: “Sungguh aku mampu yang lebih dari itu“. Beliau ﷺ berkata: “Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah sehari. Yang demikian itu adalah puasa Nabi Allah Daud ‘alaihi salam, yang merupakan puasa yang PALING UTAMA“. Aku katakan lagi: “Sungguh aku mampu yang lebih dari itu“. Maka beliau ﷺ bersabda: “Tidak ada puasa yang lebih utama dari itu“. [HR. Bukhari no. 3418 dan Muslim no. 1159]

Ibnu Hazm mengatakan: “Hadis di atas menunjukkan, bahwa Nabi ﷺ MELARANG dari melakukan puasa lebih dari puasa Daud, yaitu sehari puasa sehari tidak.” [Al Muhalla, Ibnu Hazm, 7/13, Mawqi’ Ya’sub]

Ibnul Qayyim Al Jauziyah mengatakan: “Puasa seperti puasa Daud, sehari berpuasa sehari tidak, adalah lebih afdhol dari puasa yang dilakukan terus menerus (setiap harinya).” [‘Aunul Ma’bud, 5/303, Mawqi’ Al Islam]

Syaikh Muhammad bin Saleh Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Puasa Daud sebaiknya hanya dilakukan oleh orang yang mampu, dan tidak merasa sulit ketika melakukannya. Jangan sampai ia melakukan puasa ini sampai membuatnya meninggalkan amalan yang disyariatkan lainnya. Begitu pula, jangan sampai puasa ini membuatnya terhalangi untuk belajar ilmu agama. Karena ingat, di samping puasa ini masih ada ibadah lainnya yang mesti dilakukan. Jika banyak melakukan puasa malah membuat jadi lemas, maka sudah sepantasnya tidak memerbanyak puasa. … Wallahul Muwaffiq.” [Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, 3/470, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, cetakan ketiga, 1424 H]

  1. Puasa Syaban

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Nabi ﷺ tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Syaban. Nabi ﷺ biasa berpuasa pada bulan Syaban seluruhnya.” [HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156].

Dalam lafal Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.

“Nabi ﷺ biasa berpuasa pada bulan Syaban seluruhnya. Namun beliau berpuasa hanya sedikit hari saja.” [HR. Muslim no. 1156]

Yang dimaksud di sini adalah berpuasa pada mayoritas harinya, (bukan seluruh harinya) [Karena kadang kata seluruh (kullu) dalam bahasa Arab bermakna mayoritas], sebagaimana diterangkan oleh Az Zain ibnul Munir. [Lihat Nailul Author, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, 4/621, Idarotuth Thob’ah Al Muniroh]. Para ulama berkata, bahwa Nabi ﷺ tidak menyempurnakan berpuasa sebulan penuh selain  Ramadan, agar tidak disangka puasa selain Ramadan adalah wajib. [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 8/37, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392]

  1. Puasa Enam Hari Syawal

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” [HR. Muslim no. 1164]

  1. Puasa di Awal Dzulhijjah

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah ﷺ bersabda:

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

“Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini, (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi ﷺ menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya, namun tidak ada yang kembali satu pun.” [HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968. Shahih]. Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijjah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu. Sehingga amalan tersebut bisa dalam bentuk shalat, sedekah, membaca Alquran, dan amalan saleh lainnya. [Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, hal. 116, 119-121, Dar Al Imam Ahmad] Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijjah adalah amalan puasa.

Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi ﷺ mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

“Rasulullah ﷺ biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya (Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi), …” [HR. Abu Daud no. 2437. Shahih].

  1. Puasa ‘Arofah

Puasa ‘Arofah ini dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Nabi ﷺ ditanya mengenai keutamaan puasa ‘Arofah. Beliau ﷺ menjawab: ”Puasa ‘Arofah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau ﷺ juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau ﷺ menjawab: ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu” [HR. Muslim no. 1162]. Sedangkan untuk orang yang berhaji, tidak dianjurkan melaksanakan puasa ‘Arofah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَفْطَرَ بِعَرَفَةَ وَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ أُمُّ الْفَضْلِ بِلَبَنٍ فَشَرِبَ

“Nabi ﷺ tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.” [HR. Tirmidzi no. 750. Hasan Shahih].

  1. Puasa ‘Asyura

Nabi ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” [HR. Muslim no. 1163]. An Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Hadis ini merupakan penegasan, bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/55]

Keutamaan puasa ‘Asyura sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Qotadah di atas. Puasa ‘Asyura dilaksanakan pada 10 Muharram. Namun Nabi ﷺ bertekad  di akhir umurnya, untuk melaksanakan puasa ‘Asyura tidak bersendirian, namun diikutsertakan dengan puasa pada hari sebelumnya (9 Muharram). Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa ‘Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata, bahwa ketika Nabi ﷺ melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum Muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ». قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.” Lantas beliau ﷺ mengatakan: “Apabila tiba tahun depan, insya Allah (jika Allah menghendaki), kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan: “Belum sampai tahun depan, Nabi ﷺ sudah keburu meninggal dunia.” [HR. Muslim no. 1134].

Ketentuan dalam Melakukan Puasa Sunnah

Pertama: Boleh berniat puasa sunnah setelah terbit fajar jika belum makan, minum dan selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Berbeda dengan puasa wajib yang niatnya harus dilakukan sebelum fajar.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ». ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ « أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ». فَأَكَلَ.

“Pada suatu hari Nabi ﷺ menemuiku dan bertanya: “Apakah kamu memunyai makanan?” Kami menjawab: “Tidak ada.” Beliau ﷺ berkata: “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau ﷺ datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata: “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin dan keju).” Maka beliau ﷺ pun berkata: “Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” [HR. Muslim no. 1154].

An Nawawi memberi judul dalam Shahih Muslim: “Bab: Bolehnya melakukan puasa sunnah dengan niat di siang hari sebelum waktu zawal (bergesernya matahari ke Barat), dan bolehnya membatalkan puasa sunnah meskipun tanpa uzur.”

Kedua: Boleh menyempurnakan atau membatalkan puasa sunnah. Dalilnya adalah hadis ‘Aisyah di atas. Puasa sunnah merupakan pilihan bagi seseorang, ketika ia ingin memulainya. Begitu pula ketika ia ingin meneruskan puasanya. Inilah pendapat dari sekelompok sahabat, pendapat Imam Ahmad, Ishaq, dan selainnya. Akan tetapi mereka semua, termasuk juga Imam Asy Syafi’i bersepakat, bahwa disunnahkan untuk tetap menyempurnakan puasa tersebut. [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/35]

Ketiga: Seorang istri TIDAK BOLEH berpuasa sunnah, sedangkan suaminya bersamanya, kecuali dengan seizin suaminya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Janganlah seorang wanita berpuasa, sedangkan suaminya ada, kecuali dengan seizinnya.” [HR. Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026]

An Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Yang dimaksudkan dalam hadis tersebut adalah, puasa sunnah yang tidak terikat dengan waktu tertentu. Larangan yang dimaksudkan dalam hadis di atas adalah larangan haram, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama Syafi’iyah. Sebab pengharaman tersebut, karena suami memiliki hak untuk bersenang-senang dengan istrinya setiap harinya. Hak suami ini wajib ditunaikan dengan segera oleh istri. Dan tidak bisa hak tersebut terhalang dipenuhi, gara-gara si istri melakukan puasa sunnah atau puasa wajib, yang sebenarnya bisa diakhirkan.” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/115]

Beliau rahimahullah menjelaskan pula: “Adapun jika si suami bersafar, maka si istri boleh berpuasa. Karena ketika suami tidak ada di sisi istri, ia tidak mungkin bisa bersenang-senang dengannya.” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/115]

Semoga Allah memberi kita taufik untuk beramal saleh.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/1127-8-macam-puasa-sunnah.html

 

,

PAHALA AMALAN PUASA, ALLAH SENDIRI YANG AKAN MEMBALASNYA

PAHALA AMALAN PUASA, ALLAH SENDIRI YANG AKAN MEMBALASNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi

PAHALA AMALAN PUASA, ALLAH SENDIRI YANG AKAN MEMBALASNYA

Sungguh, puasa adalah amalan yang sangat utama. Di antara ganjaran puasa disebutkan dalam hadis berikut:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal, hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka, dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah, daripada bau minyak kasturi” [HR. Muslim no. 1151].

 

Sumber: https://rumaysho.com/1127-8-macam-puasa-sunnah.html

 

,

PANDUAN RINGKAS SHALAT SUNNAH RAWATIB

PANDUAN RINGKAS SHALAT SUNNAH RAWATIB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

PANDUAN RINGKAS SHALAT SUNNAH RAWATIB

Berikut ini adalah hadis-hadis yang menjelaskan jumlah shalat sunnah Rawatib beserta letak-letaknya:

  1. Dari Ummu Habibah istri Nabi ﷺ, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Tidaklah seorang Muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena Allah sebanyak dua belas rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Surga.” (HR. Muslim no. 728)

Dan dalam riwayat At-Tirmizi dan An-Nasai, ditafsirkan ke-12 rakaat tersebut. Beliau ﷺ bersabda:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Barang siapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di Surga, yaitu empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya` dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR. At-Tirmizi no. 379 dan An-Nasai no. 1772 dari AIsyah)

  1. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu dia berkata:

حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ

“Aku menghapal sesuatu dari Nabi ﷺ berupa shalat sunnat sepuluh rakaat, yaitu: dua rakaat sebelum shalat Zuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah shalat Maghrib di rumah beliau, dua rakaat sesudah shalat Isya’ di rumah beliau, dan dua rakaat sebelum shalat Subuh.” (HR. Al-Bukhari no. 937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no. 729)

Dalam sebuah riwayat keduanya: “Dua rakaat setelah Jumat.”

Dalam riwayat Muslim: “Adapun pada shalat Maghrib, Isya, dan Jumat, maka Nabi ﷺ mengerjakan shalat sunnahnya di rumah.”

  1. Dari Ibnu Umar dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

“Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat (sunnah) empat rakaat sebelum Ashar.” (HR. Abu Daud no. 1271 dan At-Tirmizi no. 430)

  1. Hadis Ummu Habibah yang berbunyi:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang menjaga empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat setelahnya, maka Allah mengharamkannya dari Neraka”. [HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat, no. 428; Ibnu Majah, kitab ash-Shalat, no. 428; Abu Dawud kitab ash-Shalat, Bab: al-Arba’ Qablal-Zhuhri wa Ba’daha, no. 1269; dan Ibnu Majah kitab ash-Shalat was-Sunnah fiha, Bab: Ma Ja`a fiman Shalla Qablal-Zhuhri Arba’an wa Ba’daha Arba’an, no. 1160. Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, 1/191]

  1. Hadis yang berbunyi:

أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ قَبْل الظُّهْرِ يَعْدَلْنَ بِصَلاَةِ السَّجَرِ

Empat rakaat sebelum Zuhur menyamai shalat as-Sahar (menjelang terbit fajar). [HR Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (2/15/2), dan dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Silsilah Ahadits ash-Shahihah no. 1431. Lihat Silsilah (3/416)]

Dengan demikian, siapa saja yang menunaikan seluruh shalat sunnah Rawatib Zuhur, baik empat rakaat sebelum Zuhur maupun empat rakaat sesudahnya, maka ia telah melaksanakan sunnah. Namun yang muakkad (yang ditekankan), ialah empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnya, sebagaimana telah dirajihkan oleh Ibnul-Qayyim rahimahullah dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin. [Lihat pembahasan Majalah As-Sunnah, Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M, Rubrik Fiqh, halaman 49-52]

Maka dari sini kita bisa mengetahui, bahwa shalat sunnah Rawatib adalah:

  1. Dua rakaat sebelum Subuh, dan sunnahnya dikerjakan di rumah
  2. Dua rakaat sebelum Zuhur, dan bisa juga empat rakaat
  3. Dua rakaat setelah Zuhur, dan bisa juga empat rakaat
  4. Empat rakaat sebelum Ashar
  5. Dua rakaat setelah Jumat
  6. Dua rakaat setelah Maghrib, dan sunnahnya dikerjakan di rumah
  7. Dua rakaat setelah Isya, dan sunnahnya dikerjakan di rumah

Apakah shalat Rawatib empat rakaat dikerjakan dengan sekali salam atau dua kali salam?

As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Sunnah Rawatib terdapat di dalamnya salam. Seseorang yang shalat rawatib empat rakaat, maka dengan dua salam, bukan satu salam, karena sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: “Shalat (sunnah) di waktu malam dan siang dikerjakan dua rakaat salam, dua rakaat salam”. (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Al-Utsaimin 14/288)

Lalu apa hukum shalat sunnah setelah Subuh, sebelum Jumat, setelah Ashar, sebelum Maghrib, dan sebelum Isya?

Jawab:

Adapun dua rakaat sebelum Maghrib dan sebelum Isya, maka dia tetap disunnahkan dengan dalil umum:

Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

“Di antara setiap dua azan (azan dan iqamah) itu ada shalat (sunnah).” Beliau ﷺ mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau ﷺ bersabda: “Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 588 dan Muslim no. 1384)

Adapun setelah Subuh dan Ashar, maka TIDAK ADA shalat sunnah Rawatib saat itu. Bahkan TERLARANG untuk shalat sunnah mutlak pada waktu itu, karena kedua waktu itu termasuk dari lima waktu terlarang.

Dari Ibnu ‘Abbas dia berkata:

شَهِدَ عِنْدِي رِجَالٌ مَرْضِيُّونَ وَأَرْضَاهُمْ عِنْدِي عُمَرُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَشْرُقَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ

“Orang-orang yang diridai memersaksikan kepadaku, dan di antara mereka yang paling aku ridai adalah ‘Umar, (mereka semua mengatakan) bahwa Nabi ﷺ melarang shalat setelah Subuh hingga matahari terbit, dan setelah ‘Ashar sampai matahari terbenam.” (HR. Al-Bukhari no. 547 dan Muslim no. 1367)

Adapun shalat sunnah sebelum Jumat, maka pendapat yang rajih adalah TIDAK DISUNNAHKAN.

Wallahu Ta’ala a’lam.

 

Sumber:

http://al-atsariyyah.com/pembahasan-lengkap-shalat-sunnah-Rawatib.html

https://almanhaj.or.id/3506-shalat-sunah-rawatib-zhuhur.html

 

 

Tautan kajian video:

Berapa Jumlah Bilangan Shalat Sunnah Rawatib? – Ustadz Dr. Khalid Basalamah, MA: https://youtu.be/-NFMKRMXFQU

Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib – Ustadz Khalid Basalamah: https://youtu.be/asFV38G-CwY

Sholat Rawatib – Ustadz Firanda Andirja, MA: https://youtu.be/OejZ41XFFuw

KUATNYA PERSAUDARAAN DI ANTARA AHLUT TAUHID

KUATNYA PERSAUDARAAN DI ANTARA AHLUT TAUHID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

KUATNYA PERSAUDARAAN DI ANTARA AHLUT TAUHID

Wajib mencintai dan menjalin persaudaraan, serta larangan merusak hubungan baik dengan orang-orang yang beriman dan bertakwa, yaitu orang-orang yang benar-benar menauhidkan Allah dan menjauhi kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan. Bahkan kewajiban tersebut termasuk prinsip penting dalam agama dan pokok Ahlus Sunnah wal Jamaah.

  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“Termasuk pondasi agama yang sangat agung, serta termasuk intisari agama adalah penyatuan hati, bersatunya kalimat dan baiknya hubungan, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ

“Sebab itu bertakwalah kepada Allah, dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” (Al-Anfal: 1)

Dan firman Allah ta’ala:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Ali Imron: 103)

Dan firman Allah ta’ala:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih, sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali Imron: 105)

Dan nash-nash yang semisalnya, yang memerintahkan untuk berjamaah dan bersatu, serta melarang berpecah belah dan berselisih. Maka orang-orang yang mengamalkan prinsip ini, merekalah Ahlul Jamaah, sebagaimana orang-orang yang tidak mengamalkannya adalaha Ahlul Furqoh (orang-orang yang suka berpecah belah, ahlul bid’ah).” [Majmu’ Al-Fatawa, 28/51]

Hubungan Erat antara Keimanan dengan Persaudaraan dan Sifat Kasih Sayang

Antara keimanan, dengan persaudaraan dan sifat kasih sayang terhadap orang-orang yang beriman, saling terkait erat. Oleh karena itu, dalam banyak ayat dan hadis, sering disebutkan bersamaan antara iman dengan persaudaraan dan kasih sayang. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” [Al-Hujurat: 10]

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang Mukmin dengan Mukmin yang lain bagaikan sebuah bangunan, satu dengan yang lainnya saling menguatkan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi dan berlemah lembut di antara mereka bagaikan satu tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit, hingga tidak bisa tidur dan merasa demam.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu]

 

[Disadur dari buku TAUHID, PILAR UTAMA MEMBANGUN NEGERI, Cet. Ke 2 1437 H, karya Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah]

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/768919443257540:0

 

 

,

TATA CARA MANDI JUNUB

TATA CARA MANDI JUNUB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatMandiNabi

TATA CARA MANDI JUNUB

  • Kitab Thaharah (Perihal Bersuci)

Oleh: Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

a. Hal-Hal Yang Mewajibkan Mandi:

  1. Keluar Mani, Baik Saat Terjaga ataupun Tidur

Berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ.

“Sesungguhnya air (mandi) itu disebabkan air (keluarnya mani)” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/228 no. 130)], Shahiih Muslim (I/251 no. 313), dan Sunan at-Tirmidzi (I/80 no. 122)]

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, Ummu Sulaim Radhiyallahu anhuma, berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi jika mimpi bersetubuh?” Beliau ﷺ berkata: “Ya, jika dia melihat air.” [Sanadnya hasan shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (I/162)] dan Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (I/247 no. 82)]

Khusus dalam keadaan terjaga disyaratkan adanya syahwat, sedangkan pada tidur tidak disyaratkan.

Berdasarkan sabda beliau ﷺ:

إِذَا حَذَفَتِ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ مِنَ الْجَنَابَةِ, فَإِذَا لَمْ تَكُنْ حَاذِفًا فَلاَ تَغْتَسِلْ.

“Jika engkau memancarkan air (mani), maka mandilah karena junub. Jika tidak memancarkannya, maka engkau tidak wajib mandi.” [Nailul Authaar (I/275)]

Asy-Syaukani berkata: [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 216)], Sunan at-Tirmidzi (I/74 no. 113), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/399 no. 233)] “Memancarkan adalah melontarkan. Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali disebabkan syahwat. Karena itulah penulis berkata: “Di sini terdapat peringatan terhadap apa yang keluar dengan tidak disertai syahwat. Mungkin karena sakit atau hawa dingin, yang semua itu tidak mewajibkan mandi.”

Barang siapa mimpi bersetubuh dan tidak melihat adanya air mani, maka dia tidak wajib mandi. Dan barang siapa melihat air mani, sedangkan dia tidak ingat apakah dia mimpi bersetubuh, maka dia tetap wajib mandi.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah ﷺ ditanya tentang seorang laki-laki yang mendapati basah (bekas air mani), sedangkan dia tidak ingat apakah ia mimpi bersetubuh. Beliau menjawab: ‘Dia wajib mandi.’ Dan tentang seorang laki-laki yang mimpi bersetubuh namun tidak mendapati basah (bekas air mani). Beliau menjawab: ‘Dia tidak wajib mandi’.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 152)] dan Shahiih Muslim (I/271 no. 348)]

 

  1. Jima’, Walaupun Tidak Keluar Air Mani

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا اْلأَرْبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ.

“Jika ia telah duduk di antara keempat cabang istrinya, kemudian ia membuatnya kepayahan (kiasan untuk bersetubuh), maka ia wajib mandi, meskipun tidak keluar air mani.” [Shahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 128)], Sunan an-Nasa-i (I/109), Sunan at-Tirmidzi (II/58 no. 602), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/19 no. 351)]

  1. Masuk Islamnya Orang Kafir

Dari Qais bin ‘Ashim, ia menceritakan bahwa ketika masuk Islam, Nabi ﷺ menyuruhnya mandi dengan air dan bidara. [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/420 no. 320)], Shahiih Muslim (I/262 no. 333), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/466 no. 279), dan Sunan at-Tirmidzi (I/82 no. 125), Sunan an-Nasa-i (I/186), lafal mereka selain al-Bukhari adalah: … “Maka cucilah darah itu darimu.”]

  1. Terputusnya Haid dan Nifas

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma. Nabi ﷺ berkata kepada Fathimah binti Abi Khubaisy:

إِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِـي الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِيْ وَصَلِّي.

“Jika datang haid, maka tinggalkanlah shalat. Dan jika telah lewat, maka mandi dan shalatlah.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (357/2 no. 879)], Shahiih Muslim (II/580 no. 346), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/4, 5 no. 337), Sunan an-Nasa-i (III/93), dan Sunan Ibni Majah (I/346 no. 1089)]

Nifas dan haid dihukumi sama secara ijma’.

  1. Hari Jumat

Dari Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah ﷺ bersabda:

غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ.

“Mandi hari Jumat wajib bagi setiap orang yang telah baligh.” [Muttafaq ‘alaihi]

b. Rukun-Rukun Mandi

1. Niat

Berdasarkan hadis:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.

“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya.”

  1. Meratakan air pada sekujur badan.

c. Tata Cara yang Disunnahkan Ketika Mandi

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Dahulu, jika Rasulullah ﷺ hendak mandi janabah (junub), beliau ﷺ memulainya dengan membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat. Lalau beliau ﷺ mengambil air dan memasukkan jari-jemarinya ke pangkal rambut. Hingga jika beliau ﷺ menganggap telah cukup, beliau ﷺ tuangkan ke atas kepalanya sebanyak tiga kali tuangan. Setelah itu beliau ﷺ guyur seluruh badannya. Kemudian beliau ﷺ basuh kedua kakinya.” [Shahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 136)], Shahiih Muslim (I/259 no. 330), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/426 no. 248), Sunan an-Nasa-i (I/131), Sunan at-Tirmidzi (I/71 no. 105), dan Sunan Ibni Majah (I/198 no. 603)]

Catatan:

TIDAK WAJIB bagi seorang wanita mengurai rambutnya KETIKA MANDI JANABAH (JUNUB). Namun WAJIB dilakukan ketika MANDI SEHABIS HAID.

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita berkepang dengan kepangan yang sulit diurai. Apakah aku harus mengurainya ketika mandi janabah? Beliau ﷺ berkata:

لاَ، إِنَّمَا يَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تَفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِيْنَ.

“Tidak. Cukuplah engkau tuangkan air ke atas kepalamu sebanyak tiga kali. Kemudian guyurkan air ke seluruh tubuhmu. Maka, sucilah engkau.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 172)] dan Shahiih Muslim (I/261 no. 332 (61)]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Asma’ bertanya kepada Nabi ﷺ tentang mandi setelah selesai haid. Beliau ﷺ lalu bersabda: “Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air dan bidaranya, lalu bersuci (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’, sebagaimana tata cara mandi Nabi ﷺ -ed.) dengan sebaik-baiknya. Kemudian mengucurkannya ke atas kepala dan menguceknya kuat-kuat hingga ke pangkal kepalanya. Lantas mengguyur seluruh badannya dengan air. Setelah itu hendaklah ia mengambil secarik kapas yang diberi minyak misk, lalu bersuci dengannya.” Asma’ berkata: “Bagaimana cara dia bersuci dengannya?” Beliau ﷺ berkata: “Subhaanallaah, bersucilah dengannya.” ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata sambil seolah berbisik: “Ikutilah bekas-bekas darah itu dengannya.”

Dan aku (Asma’) bertanya lagi kepada beliau ﷺ tentang mandi (junub) janabah. Beliau ﷺ lalu bersabda:

تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءً فَتَطَهَّرَ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ أَوْ تَبْلُغُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتُدَلِّكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَفِيْضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ.

“Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air lalu bersuci, (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’-ed.) dengan sebaik-baiknya atau menyempurnakannya. Kemudian menuangkan air ke atas kepala dan menguceknya sampai ke dasar kepala. Setelah itu mengguyurkan air ke seluruh badannya.” [Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan]

Dalam hadis ini terdapat perbedaan jelas antara mandinya wanita karena haid dan karena (junub) janabah. Yaitu ditekankannya pada wanita yang haid agar bersuci dan mengucek dengan kuat dan sungguh-sungguh. Sedangkan pada MANDI JANABAH TIDAK ditekankan hal tersebut. Dan hadis Ummu Salamah adalah dalil bagi tidak wajibnya mengurai rambut saat mandi janabah. [Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan]

Tujuan mengurai rambut adalah untuk meyakinkan sampainya air hingga ke dasar rambut. Hanya saja pada mandi (junub) janabah masih ditolerir. Karena seringnya dilakukan, serta adanya kesulitan yang sangat ketika mengurainya. Lain halnya dengan mandi haid yang hanya terjadi setiap sebulan sekali.

Catatan:

Diperbolehkan bagi suami istri untuk mandi bersama dalam satu tempat. Diperbolehkan juga bagi masing-masing untuk melihat aurat pasangannya.

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma:

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ.

“Aku dan Rasulullah ﷺ pernah mandi dari satu bejana. Kami berdua dalam keadaan junub.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/256 no. 321)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/374 no. 263), dan Sunan an-Nasa-i (I/129)]

d. Mandi-Mandi yang Disunnahkan:

  1. Mandi Pada Setiap Selesai Jima’

Berdasarkan hadis Abu Rafi’: “Pada suatu malam Nabi ﷺ menggilir istri-istrinya. Beliau mandi setiap selesai dari Fulanah dan dari si Fulanah. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, kenapa Anda tidak mandi sekali saja?” Beliau ﷺ berkata: “Yang seperti ini lebih suci, lebih baik, dan lebih bersih.” [Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 480)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (1370 no. 216), dan Sunan Ibni Majah (I/194 no. 590)]

  1. Mandinya Wanita Mustahadhah (istihadhah – keluamya darah terus-menerus pada seorang wanita -pen) Setiap Akan Shalat

Atau sekali mandi untuk shalat Zuhur dan ‘Ashar. Juga sekali mandi untuk shalat Maghrib dan ‘Isya’. Serta untuk Subuh sekali mandi.

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Sesungguhnya Ummu Habibah istihadhah pada zaman Rasulullah ﷺ. Lalu beliau ﷺ menyuruhnya mandi pada setiap akan shalat…” [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 269)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/483 no. 289)]

Dan dalam satu riwayat lain dari ‘Aisyah, ia berkata: “Seorang wanita istihadhah pada zaman Rasulullah ﷺ. Lalu ia disuruh memajukan ‘Ashar dan mengakhirkan Zuhur, serta mandi satu kali untuk keduanya. Juga mengakhirkan Maghrib dan memajukan ‘Isya’, serta mandi satu kali untuk keduanya. Dan mandi satu kali untuk shalat Subuh. [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 273)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/487 no. 291), dan Sunan an-Nasa-i (I/184)]

  1. Mandi Setelah Pingsan

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah ﷺ sakit parah. Beliau ﷺ lalu berkata: ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata: ‘Belum, mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.’ Beliau ﷺ berkata: ‘Letakkanlah air di bejana untukku.’ Kami pun melakukannya. Beliau ﷺ lalu mandi lantas bangkit dengan semangat. Namun beliau ﷺ pingsan lagi, lalu tersadar dan berkata: ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata: ‘Belum. Mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.’” ‘Aisyah lalu menyebutkan penisbatan hadis ini ke Abu Bakar dan kelanjutannya. [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/311 no. 418)] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/172 no. 687)]

  1. Mandi Setelah Menguburkan Orang Musyrik

Berdasarkan hadis ‘Ali bin Thalib Radhiyallahu anhu. Dia mendatangi Nabi ﷺ dan berkata: “Sesungguhnya Abu Thalib telah meninggal dunia.” Beliau ﷺ berkata: “Pergi dan kuburkan dia.” Ketika aku telah menguburkannya, aku kembali kepada Nabi ﷺ. Beliau ﷺ bersabda: “Mandilah.” [Sanadnya Shahih: [Ahkaamul Janaa-iz (134)], Sunan an-Nasa-i (I/110), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IX/32 no. 3198)]

  1. Mandi Pada Dua Hari Raya dan Hari ‘Arafah

Berdasarkan riwayat al-Baihaqi dari jalur asy-Syafi’i dari Zadzan. Dia mengatakan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada ‘Ali Radhiyallahu anhu tentang mandi. ‘Ali menjawab: “Mandilah tiap hari jika kau suka.” Dia berkata: “Bukan, maksud saya mandi yang benar-benar mandi (yang disyariatkan dalam agama-pent).” Dia berkata: “(Mandi) hari Jumat, hari ‘Arafah, hari raya Qurban, dan hari ‘Idul Fithri.”

  1. Mandi Setelah Memandikan Mayat

Berdasarkan sabda beliau ﷺ:

مَنْ غَسَّلَ مَيْتاً فَلْيَغْتَسِلْ.

“Barang siapa memandikan mayat, maka hendaklah ia mandi.” [Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1195)] dan Sunan Ibni Majah (I/470 no. 1463)]

  1. Mandi Untuk Ihram ‘Umrah Atau Haji

Berdasarkan hadis Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu: “Dia melihat Nabi ﷺ melepas pakaian berjahit dan mengenakan pakaian ihram) serta mandi untuk ihram.” [Hasan: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 149)] dan Sunan at-Tirmidzi (II/163 no. 831)]

  1. Mandi Ketika Memasuki Kota Makkah

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa dia tidak mendatangi Makkah kecuali bermalam di Dzu Thuwa hingga datang pagi, dan dia pun mandi. Kemudian dia memasuki Makkah pada siang hari. Dia menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah melakukannya. [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (II/919 no. 1259 (227))], ini adalah lafal darinya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/435 no. 1573), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (V/318 no. 1848), dan Sunan at-Tirmidzi (II/172 no. 854)]

 

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/679-mandi.html