Posts

,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com
,

DOA AGAR TERHINDAR DARI MUDHARAT

DOA AGAR TERHINDAR DARI MUDHARAT

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA AGAR TERHINDAR DARI MUDHARAT

Barang siapa mengucapkan di awal harinya atau di awal malamnya:

بِسْمِ اللَّهِ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَا

Bismillahi la yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wala fis sama’.

Artinya:

Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama tersebut, tidak ada apapun di langit dan di bumi, mampu menimpakan mudharat (mendatangkan bahaya).

>> Sebanyak tiga kali, niscaya tidak akan ada apapun yang mampu menimpakan kemudharatan pada dirinya, di hari dan malam itu” [HR. Abu Daud: 5066, Ibnu Majah 3869, Shahih oleh Al Albany dalam Shahih Sunan Ibnu Majah: 2/332, hadis 3120]

 

, ,

ADAB DAN CARA BERDOA

ADAB DAN CARA BERDOA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak
#DoaZikir

ADAB DAN CARA BERDOA

>> Petunjuk Rahasia Agar Doa Kita Dikabulkan

  1. Memanfaatkan Waktu dan Tempat Yang Mustajab

Di antaranya: Sepertiga malam terakhir, di antara azan dan iqamah, di saat sujud akhir shalat fardhu, saat azan, setelah Ashar di hari Jumat, saat turun hujan, saat safar, saat mau berbuka puasa, bulan Ramadan, malam Lailatul Qadr, di hari Arafah, di Hijr Ismail, di bukit Shafa dan Marwah, saat minum Zamzam, saat terjadi perang, dll.

  1. Menghadap Kiblat

“Ketika berada di Padang Arafah, beliau ﷺ menghadap Kiblat, dan beliau ﷺ terus berdoa sampai matahari terbenam” (HR. Muslim)

  1. Mengangkat Tangan

“Sesungguhnya Tuhan kalian itu Malu dan Maha Memberi. Dia malu kepada hamba-Nya ketika mereka mengangkat tangan kepada-Nya, kemudian hambanya kembali dengan tangan kosong (tidak dikabulkan)” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, beliau Hasankan)

  1. Suara Lirih dan Tidak Dikeraskan

“Wahai manusia, kasihanilah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang tuli dan tidak ada. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat” (HR. Bukhari)

  1. Tidak Dibuat Bersajak

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al-A’raf: 55)

  1. Penuh Harap dan Cemas

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik, dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami” (QS. Al-Anbiya’: 90)

  1. Khusyu’ dan Yakin Akan Dikabulkan

“Berdoalah kepada Allah dan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai, dan lengah (dengan doanya)” (HR. Tirmidzi)

  1. Mengulang-Ulang Doa

“… Dan apabila beliau meminta kepada Allah, beliau mengulangi tiga kali” (HR. Muslim)

  1. Tidak Tergesa-Gesa Agar Segera Dikabulkan

“Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim, selama dia tidak terburu-buru.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud terburu-buru dalam berdoa?” Beliau ﷺ bersabda: “Orang yang berdoa ini berkata: ‘Saya telah berdoa, saya telah berdoa, dan belum pernah dikabulkan’. Akhirnya dia putus asa dan meninggalkan doa” (HR. Muslim, Abu Daud)

  1. Diawali Memuji Allah dan Bershalawat Atas Nabi ﷺ

“Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi ﷺ. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya” (HR. Ahmad, Abu Daud)

  1. Dimulai Doa Bagi Diri Sendiri Sebelum Untuk Orang Lain

“Apabila Rasulullah ﷺ ingat kepada seseorang, maka beliau mendoakannya. Dan sebelumnya, beliau ﷺ mendahulukan berdoa untuk dirinya sendiri” (HR. Tirmidzi)

  1. Memerbanyak Taubat

“Sesungguhnya Allah kagum kepada hamba-Nya apabila ia berkata: ‘Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Engkau. Sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnya, tidak ada yang mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau.’ Allah berfirman: ‘Hamba-Ku telah mengetahui, bahwa baginya ada Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum’” (HR. Al-Hakim)

  1. Mendoakan Saudara Sesama Muslim

“Tidak ada seorang Muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama Muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata: “Dan bagimu juga kebaikan yang sama” (HR. Muslim)

  1. Hindari Mendoakan Keburukan

“Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim” (HR. Muslim, Abu Daud)

  1. Hindari Makanan dan Harta Haram

“… Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku’. Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram. Maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan doanya?” (HR. Muslim)

 

Diambil dari berbagai sumber: konsultasisyariah.com, almanhaj.or.id, yufidia.com, FB Doa dan Dzikir Shahih Harian

HAL-HAL YANG MESTI DIHINDARI DALAM MENUNTUT ILMU

HAL-HAL YANG MESTI DIHINDARI DALAM MENUNTUT ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MenuntutIlmuSyari

HAL-HAL YANG MESTI DIHINDARI DALAM MENUNTUT ILMU

Ada beberapa hal yang harus dihindari oleh seorang penuntut ilmu, karena perkara-perkara tersebut ibarat penyakit ganas yang menjangkiti seorang pasien. Jika tidak menghindarinya, maka ia akan binasa.

  • Hasad

Yaitu membenci apa yang Allah karuniakan atas seorang hamba. Hampir tidak seorang pun yang lepas dari sifat ini. Jika sifat ini melekat pada seseorang, diwajibkan atas manusia untuk tidak berbuat jahat kepadanya dengan perkataan ataupun perbuatan.

  • Berfatwa Tanpa Ilmu

Berfatwa adalah kedudukan yang agung. Oleh karenanya, tidak boleh sembarangan dilakukan, kecuali oleh pribadi yang benar-benar pantas.

Al-Imam Ahmad berkata: “Sesungguhnya orang yang berfatwa kepada manusia, ia telah membawa urusan yang besar. Semestinya orang yang berfatwa mengetahui pendapat-pendapat ulama yang terdahulu. Kalau tidak, jangan berfatwa. Barang siapa berbicara pada sesuatu yang dia tidak memiliki sandaran (dalil) atas hal tersebut, saya khawatir dia akan salah.”

Abdurrahman bin Abi Laila mengatakan: “Saya mendapati 120 orang Anshar dari para sahabat Nabi ﷺ. Tidak seorang pun dari mereka menyebutkan sebuah hadis, kecuali ia berharap seandainya sahabat yang lain telah mencukupi. Dan tidaklah mereka dimintai fatwa tentang sesuatu, kecuali ia berharap bahwa sahabat yang lain telah mencukupinya dalam berfatwa.” [Adab Syar’iyyah, 2/63-64]

  • Sombong

Nabi ﷺ bersabda:

“…Tidak akan masuk Jannah (Surga), siapa yang terdapat dalam hatinya seberat dzarrah (atom) dari kesombongan.”

Para sahabat berkata:

“Wahai Rasulullah, bagaimana dengan seseorang yang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus?”

Nabi ﷺ menjawab:

“Sesungguhnya Allah indah dan mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” [Shahih, HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahuanhu]

  • Ta’ashub

Yaitu fanatik, baik kepada golongan, guru, kelompok, organisasi tertentu, syiar, tertentu atau yang semacamnya. Karena hal ini adalah syiar atau ciri khas Ahlul Bid’ah, yang menyimpang dari jalan Nabi ﷺ, yang merupakan sifat yang tercela, apalagi pada seorang penuntut ilmu. Seorang penuntut ilmu syari semestinya menjadikan ittiba’ kepada Nabi ﷺ sebagai syiar yang selalu ia junjung tinggi. Ia jadikan syiar itu sebagai landasannya dalam ber-wala‘ (loyalitas) dan ber-bara‘ (berlepas diri).

  • Tashaddur

Yaitu tampil sebelum waktunya. Karena ini menunjukkan kebanggaannya pada diri sendiri, dan ketidaktahuannya pada banyak permasalahan. Ini akan mengakibatkan dia terjerumus kepada dosa yang besar, yaitu berkata tentang agama Allah subhanahu wa ta’ala tanpa ilmu. Yaitu mengatakan sebuah hukum dengan mengatasnamakan, ini adalah hukum Allah subhanahu wa ta’ala, tanpa dilandasi ilmu yang benar, dan akan membawa dia kepada sifat sombong.

  • Ber-su‘uzhan

(Buruk sangka) kepada yang lain, baik temannya sendiri, lebih-lebih gurunya.

“Wahai orang-orang yang beriman jauhilah oleh kalian banyak sangkaan.” [Al-Hujurat: 12]

[Lihat Kitabul ‘Ilmi, hal. 71-83]

 

Sumber: Majalah Asy Syariah

ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?

ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?

Allah ta’ala berfirman tentang godaan wanita:

إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya tipu daya (godaan) kalian wahai para wanita, begitu besar.” [Yusuf: 28]

Allah ta’ala berfirman tentang godaan setan:

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sesungguhnya tipu daya (godaan) setan itu lemah.” [An-Nisa: 76]

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata:

هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ إِذَا ضُمَّتْ لَهَا آيَةٌ أُخْرَى حَصَلَ بِذَلِكَ بَيَانُ أَنَّ كَيْدَ النِّسَاءِ أَعْظَمُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ

“Ayat yang mulia ini (An-Nisa: 76), apabila dipadukan dengan ayat yang lain (Yusuf: 28), maka hasilnya adalah penjelasan, bahwa tipu daya (godaan) wanita lebih dahsyat dibanding tipu daya (godaan) setan.” [Adhwaul Bayan, 2/217]

As-Si’di rahimahullah berkata:

والكيد: سلوك الطرق الخفية في ضرر العدو، فالشيطان وإن بلغ مَكْرُهُ مهما بلغ فإنه في غاية الضعف

“Tipu daya yang dimaksudkan di sini adalah menempuh cara-cara yang samar dalam membahayakan musuh. Maka setan, meskipun tipu dayanya telah sedemikian rupa, akan tetapi ia sangat lemah.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 187]

Rasulullah ﷺ juga telah mengingatkan:

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِى نَفْسِهِ

“Sesungguhnya wanita itu datang dalam rupa setan, dan pergi dalam rupa setan. Maka apabila seorang dari kalian melihat wanita, hendaklah ia mendatangi istrinya, karena dengan begitu akan menentramkan gejolak syahwat di jiwanya.” [HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu’anhu]

An-Nawawi rahimahullah berkata:

“Ulama berkata: Makna hadis ini adalah peringatan bahaya hawa nafsu, dan bahaya ajakan kepada fitnah (godaan) wanita, karena Allah telah menjadikan di hati kaum lelaki adanya kecenderungan terhadap para wanita, dan merasa nikmat ketika memandang mereka, dan apa yang terkait keindahan dengan mereka. Maka wanita menyerupai setan dari sisi ajakannya kepada kejelekan, dengan bisikannya dan tipuannya.

Dan dapat diambil kesimpulan hukum dari hadis ini, bahwa tidak boleh bagi wanita untuk keluar di antara kaum lelaki, kecuali karena satu alasan darurat (sangat mendesak). Dan hendaklah kaum lelaki menundukkan pandangan, tidak boleh melihat pakaiannya, dan hendaklah berpaling darinya secara mutlak.” [Syarhu Muslim, 9/178]

Maka sungguh dahsyat godaan wanita, walaupun setan sudah mengerahkan segenap “potensi” yang ada pada dirinya untuk menyesatkan anak Adam. Namun ternyata godaannya tidak bisa sejajar, apalagi melebihi godaan wanita. Akan tetapi sayang seribu sayang, ternyata setan pun bisa memanfaatkan wanita sebagai kaki tangannya untuk menjerumuskan kaum lelaki dalam dosa, entah sang wanita sadar atau tidak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَإِنَّهَا أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى اللَّهِ وَهِيَ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

“Wanita adalah aurat. Apabila ia keluar dari rumahnya, maka setan akan menghiasinya. Dan sesungguhnya seorang wanita lebih dekat kepada Allah ta’ala ketika ia berada di dalam rumahnya.” [HR. At-Tirmidzi dan Ath-Thabarani, dan lafal ini milik beliau, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 2688]

Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata:

أَيْ زَيَّنَهَا فِي نَظَرِ الرِّجَالِ وَقِيلَ أَيْ نَظَرَ إِلَيْهَا لِيُغْوِيَهَا وَيُغْوِيَ بِهَا

“Maknanya adalah, setan menghiasi wanita di mata laki-laki. Juga dikatakan maknanya adalah setan melihat wanita tersebut untuk menyesatkannya, dan menyesatkan laki-laki dengannya.” [Tuhfatul Ahwadzi, 4/283]

 

Sumber:

👠 ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?➡ Allah ta’ala berfirman tentang godaan wanita,إِنّ…

Dikirim oleh Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info pada 25 Maret 2017

 

 

 

 

, ,

BAGAIMANAKAH CARA MENGAJARKAN TAUHID KEPADA ANAK?

BAGAIMANAKAH CARA MENGAJARKAN TAUHID KEPADA ANAK?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#FatwaUlama
#KeluargaMuslim
#PendidikanKeluarga

BAGAIMANAKAH CARA MENGAJARKAN TAUHID KEPADA ANAK?

Fatwa Syaikh Muhammad Saleh Al Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan:

Penanya program acara ini mengatakan:

‘Bagaimana cara seorang ayah mengajarkan tauhid kepada anak-anaknya?

Jawaban:

Alhamdulillah rabbil’aalamain. Aku mendoakan shalawat dan kesalamatan kepada Nabi kita, dan juga keluarga beliau, para sahabat beliau, dan siapa saja yang mengikuti mereka hingga Kiamat. Amma ba’du.

Mengajarkan perkara agama kepada anak-anak caranya sama seperti mengajarkan kepada orang selain mereka.

Materi yang paling bagus untuk pengajaran adalah kitab Tsalatul Ushul karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab.

Jika anak-anak mampu menghapalnya dengan hati (tanpa membaca kitab), kemudian sang ayah menjelaskan kepada mereka sesuai dengan daya tangkap anak dan nalar mereka, maka hal ini akan menjadi kebaikan yang banyak.

Karena kitab Tsalatul Ushul ini dikemas dengan metode tanya jawab, menggunakan istilah yang jelas dan mudah, tidak ada yang sulit.

Kemudian selanjutnya, memerlihatkan mereka tanda-tanda kebesaran Allah, untuk mengaplikasikan isi yang disebutkan di dalam kitab kecil ini.

Misalnya tentang matahari, bulan, bintang, malam,  siang. Tanyakan kepada mereka:

  • Siapa yang mengatur (mengendalikan) matahari? Allah.
  • Siapa yang mengatur bulan? Allah.
  • Siapa yang mengendalikan malam? Allah.
  • Siapa yang mengatur siang? Allah.

Semua alam semesta ini yang mengatur adalah Allah Azza wa Jalla. Ajarkan pada mereka, sampai pohon fitrah (pada manusia) mendapat asupan air. Karena setiap manusia itu sendiri berada di atas fitrahnya, yaitu menauhidkan Allah Azza wa Jalla.

Sebagaimana hadis Nabi ﷺ:

كل مولود يولد على الفطرة، فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (menauhidkan Allah), kemudian kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”

Demikian juga mengajarkan wudhu kepada mereka. Bagaimana cara berwudhu dengan mencontohkan. Hendaknya sang ayah mengatakan: ‘Begini cara berwudhu, lalu mempraktikkannya di depan mereka. Demikian juga cara mengajarkan shalat.

Dengan memohon pertolongan Allah ta’ala, serta meminta kepada Allah, agar memberi hidayah kepada mereka. Dan menghindari setiap perkataan yang menyelisihi perbuatan, dan menjauhi perbuatan haram di depan mereka. Jangan membiasakan mereka berdusta, ingkar janji dan akhlak tercela lainnya, meskipun sang ayah diuji dengan perbuatan buruk tersebut. Semisal jika seorang ayah diuji menjadi pecandu rokok, maka jangan sekali-kali menghisapnya di depan anak-anak, karena mereka akan terbiasa dengan rokok dan mengentengkan hukum rokok.

Perlu diketahui, setiap kepala rumah tangga akan dimintai pertanggungjawaban atas anggota keluarganya, berdasarkan firman AllahTa’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارا

“Wahai orang-orang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api Neraka.” (QS. At Tahrim: 6)

Penjagaan kita terhadap mereka dari api Neraka tidaklah tercapai, kecuali jika kita membiasakan mereka dengan melakukan amal saleh, dan menjauhi perbuatan buruk.

Rasulullah ﷺ menegaskan akan hal ini dalam sabda beliau:

الرجل راع في أهله ومسؤول عن رعيته

“Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan akan dimitai pertanggungjawaban atas mereka.”

Perlu ayah ketahui, bahwa perbaikan mereka adalah sumber kemashalatan di dunia dan Akhirat. Karena manusa yang paling dekat dengan para ayah dan para ibu, adalah anak-anak mereka yang saleh, baik laki-laki ataupun perempuan.

إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له

Jika manusia mati terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya.”

Kami memohon kepada Allah ta’ala, agar menolong kita semua, agar mampu memikul amanah dan tanggungjawab. (Silsilah Fatawa Nur Ala Darb No. 350)

 

Sumber: Tathbiiq Fatawa Ibn Utsaimin Lianduruwid

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.com

السؤال:

هذا سائل البرنامج يقول: كيف يعلم الأب أبناءه التوحيد؟

الجواب:

الشيخ: الحمد لله رب العالمين. وأصلي وأسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. يعلمهم التوحيد كما يعلمهم غيره من أمور الدين، ومن أحسن ما يكون في هذا الباب كتاب ثلاثة الأصول لشيخ الإسلام محمد بن عبد الوهاب، إذا حفظوه عن ظهر قلب وشرح لهم   على الوجه المناسب لأفهامهم وعقولهم صار في هذا خير كثير؛ لأنها مبنية على السؤال والجواب وبعبارة واضحة سهلة ليس فيها تعقيد، ثم يريهم من آيات الله ليطبق ما ذكر في هذا الكتاب الصغير: الشمس يقول: من الذي جاء بها؟ القمر، النجوم، الليل، النهار، ويقول لهم: الشمس من الذي جاء بها؟ الله. القمر؟ الله. الليل؟ الله. النهار؟ الله. كلها جاء بها الله عز وجل، حتى يسقي بذلك شجرة الفطرة؛ لأن الإنسان بنفسه مفطور على توحيد الله عز وجل، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: «كل مولود يولد على الفطرة، فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه». وكذلك يعلمهم الوضوء، كيف يتوضئون بالفعل، يقول: الوضوء هكذا ويتوضأ أمامهم، وكذلك الصلاة، مع الاستعانة بالله تعالى، وسؤاله عز وجل الهداية لهم، وأن يتجنب أمامهم كل قول مخالف للأخلاق أو كل فعل محرم، فلا يعودهم الكذب ولا الخيانة ولا سفاسف الأخلاق، حتى وإن كان مبتلىً، بها كما لو كان مبتلىً بشرب الدخان فلا يشربه أمامهم؛ لأنهم يتعودون ذلك ويهون عليهم. وليعلم أن كل صاحب بيت مسؤول عن أهل بيته؛ لقوله تبارك وتعالى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً﴾(التحريم: من الآية6). ولا يكون وقايتنا إياهم النار إلا إذا عودناهم على الأعمال الصالحة وترك الأعمال السيئة، ورسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم أكد ذلك في قوله: «الرجل راع في أهله ومسؤول عن رعيته». وليعلم الأب أن صلاحهم مصلحة له في الدنيا والآخرة، فإن أقرب الناس إلى آبائهم وأمهاتهم هم الأولاد الصالحون من ذكور وإناث. «إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له». نسأل الله تعالى أن يعيننا جميعاً على ما حملنا من الأمانة والمسئولية.

 

Sumber: http://wanitasalihah.com/bagaimanakah-cara-mengajarkan-tauhid-kepada-anak/

 

 

,

HUKUM BAIAT KEPADA SELAIN PEMERINTAH

HUKUM BAIAT KEPADA SELAIN PEMERINTAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Fatwa_Ulama

HUKUM BAIAT KEPADA SELAIN PEMERINTAH

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnu Baz rahimahullah berkata:

هذه البيعة باطلة ولا يجوز فعلها ؛ لأنها تفضي إلى شق العصا ، ووجود الفتن الكثيرة ، والخروج على ولاة الأمور بغير وجه شرعي . وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : « أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد ، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدي ، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة »

“Ini adalah baiat yang batil, tidak boleh dilakukan. Karena itu akan membawa kepada perpecahan, munculnya banyak kekacauan dan pemberontakan kepada pemerintah, dengan cara yang tidak syari.

Dan telah shahih dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

‘Aku wasiatkan kepada kalian, agar senantiasa bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat kepada pemimpin negara, meski pemimpin tersebut seorang budak dari Habasyah. Karena sesungguhnya, siapa pun di antara kalian yang hidup sepeninggalku, akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian (menghindari perselisihan tersebut), dengan berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Al-Khulafa’ur Rasyidin yang telah mendapat petunjuk. Peganglah sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara baru (bid’ah dalam agama), karena setiap bid’ah itu sesat.’ (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu).”

[Majmu’ Al-Fatawa, 28/250]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/738962502919901:0

, ,

HUKUM BAIAT KEPADA SELAIN PEMERINTAH

HUKUM BAIAT KEPADA SELAIN PEMERINTAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

#DakwahTauhid

HUKUM BAIAT KEPADA SELAIN PEMERINTAH

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnu Baz rahimahullah berkata:

هذه البيعة باطلة ولا يجوز فعلها ؛ لأنها تفضي إلى شق العصا ، ووجود الفتن الكثيرة ، والخروج على ولاة الأمور بغير وجه شرعي . وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : « أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد ، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدي ، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة »

“Ini adalah baiat yang batil. Tidak boleh dilakukan, karena itu akan membawa kepada perpecahan, munculnya banyak kekacauan dan pemberontakan kepada pemerintah dengan cara yang tidak syari.

Dan telah shahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

‘Aku wasiatkan kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat kepada pemimpin Negara, meski pemimpin tersebut seorang budak dari Habasyah. Karena sesungguhnya, siapa pun diantara kalian yang hidup sepeninggalku, akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian (menghindari perselisihan tersebut), dengan berpegang teguh kepada sunnahku, dan sunnah Al-Khulafa’ur Rasyidin ,yang telah mendapat petunjuk. Peganglah sunnah itu dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara baru (bid’ah dalam agama), karena setiap bid’ah itu sesat.’ (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu).”

[Majmu’ Al-Fatawa, 28/250]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/738962502919901:0

HAL-HAL YANG HARUS DIHINDARI KETIKA SAKIT

HAL-HAL YANG HARUS DIHINDARI KETIKA SAKIT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

HAL-HAL YANG HARUS DIHINDARI KETIKA SAKIT

Sakit adalah ujian. Semoga ketika sakit kita tidak menambah ujian itu dengan ujian-ujian yang lain lagi, karena perbuatan kita sendiri. Sakit merupakan keadaan, di mana seseorang lemah fisik dan psikologis, bahkan bisa membuat lemah iman. Oleh karena itu kita mesti berhati-hati, agar kondisi ini tidak di manfaatkan oleh setan.

Ada beberapa hal yang harus kita hindari ketika sakit:

  1. Berburuk sangka kepada Allah, atau merasa kecewa bahkan marah kepada takdir Allah. Karena prasangka Allah sebagaimana prasangka hamba-Nya, jika kita marah maka Allah marah kepada kita.

Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka Aku akan berbuat demikian terhadapnya. Jika ia berprasangka buruk, maka Aku akan berbuat demikian terhadapnya.” [HR. Ahmad dan Ibnu Hibban]

  1. Menyebarluaskan kabar sakit dan untuk mengeluhkannya

Merupakan salah satu tanda tauhid dan keimanan seseorang, bahwa ia berusaha hanya mengeluhkan keadaannya kepada Allah saja, karena hanya Allah yang bisa mengubah semuanya. Sebaliknya orang yang banyak mengeluh merupakan tanda, bahwa imannya sangat tipis. Kita boleh mengabarkan bahwa kita sakit, tetapi tidak untuk disebarluaskan dan kita keluhkan kepada orang banyak.

  1. Membuang waktu dengan melakukan pekerjaan yang sia-sia selama sakit

Misalnya banyak menonton acara-acara TV, mendengarkan musik, membaca novel khayalan dan mistik. Hendaknya waktu tersebut di isi dengan muhasabah, merenungi, berzikir, membaca Alquran dan lain-lain. Atau membaca kisah-kisah mencengangkan dan kepahlawanan para sabahat dan orang saleh, dengarkan murattal dengan berbagai gaya bacaan dari qari-qari bersuara bagus, dengarkan rekaman ceramah yang menggugah imam dan menambah tauhid kita dsb.

  1. Tidak memerhatikan kewajiban menutup aurat

Hal ini yang paling sering dilalaikan ketika sakit. Walaupun sakit, tetap saja kita berusaha menutup aurat kita selama sakit sebisa mungkin. Lebih-lebih bagi wanita, ia wajib menjaga auratnya, misalnya  kaki dan rambutnya, dan berusaha semaksimal mungkin agar tidak dilihat oleh laki-laki lain, misalnya perawat atau dokter laki-laki.

  1. Berobat dengan yang haram

Semisal berobat dengan air kencing yang najis atau berobat ke dukun dan paranormal yang mengajarkan praktik kesyirikan.

InsyaAllah pengobatan yang halal sangat banyak. Kita tidak boleh berobat dengan hal-hal yang haram, misalnya dengan obat atau vaksin yang mengandung babi, berobat dengan air kencing sendiri, karena Allah telah menciptakan obatnya yang halal.

Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit bersama obatnya, dan menciptakan obat untuk segala penyakit. Maka berobatlah, tetapi jangan menggunakan yang haram.” [HR. Abu Dawud].

Perbuatan haram yang paling berbahaya adalah berobat dengan mendatangi dukun mantra, dukun berkedok ustadz dan ahli sihir, karena ini merupakan bentuk kekafiran yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam serta kekal di Neraka.

Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang mendatangi dukun, lalu memercayai apa yang ia ucapkan, maka ia telah kafir terhadap ajaran yang diturunkan kepada nabi Muhammad ﷺ” [HR. Ahmad di dalam Al-Musnad (II/429). Al-Hakim (I/8) dari Abu Hurairah secara marfu’].

 Demikian semoga bermanfaat.

 

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

[artikel https://muslimafiyah.com]

 

,

TUJUH BELAS PERTAHANAN DIRI DARI GANGGUAN SETAN

TUJUH BELAS PERTAHANAN DIRI DARI GANGGUAN SETAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Dakwah_Tauhid

TUJUH BELAS PERTAHANAN DIRI DARI GANGGUAN SETAN

Seorang hamba selayaknya membentengi diri dari gangguan setan dengan pertahanan yang telah dijelaskan dalam Alquran dan hadis-hadis shahih berupa doa dan dzikir. Karena Alquran dan Al-Hadis adalah penawar, rahmat, petunjuk serta perlindungan dari kejahatan di dunia dan Akhirat dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Di antara bentuk pertahanan tersebut adalah:

Pertahanan Pertama: Isti’adzah (meminta perlindungan) kepada Allah Yang Maha Besar (yaitu dengan membaca: A’uzubillah)

Allah telah memerintahkan Rasul-Nya untuk memohon perlindungan kepada-Nya dalam setiap kondisi, khususnya saat hendak membaca Alquran, saat marah, saat was-was dan saat bermimpi buruk. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat: 36)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ إِنَّهُۥ لَيۡسَ لَهُۥ سُلۡطَٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ

“Apabila kamu membaca Alquran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya.” (QS. An Nahl: 98–99)

Pertahanan Kedua: Membaca Bismillah. Bismillah menghalangi setan ikut serta saat makan, minum, bersenggama, masuk rumah dan seluruh kondisinya

عن جابر قال: سمعت رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يقول: (إذا دخل الرجل بيته، فذكر اللَّه –تعالى- عند دخوله، وعند طعامه، قال الشيطان لأصحابه: لا مبيت لكم ولا عشاء، وإذا دخل فلم يذكر اللَّه –تعالى- عند دخوله، قال الشيطان: أدركتم المبيت، وإذا لم يذكر اللَّه –تعالى- عند طعامه، قال: أدركتم المبيت والعشاء) رَوَاهُ مُسلِمٌ

Dari Jabir radhiyallahu’anhu, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila seorang lelaki memasuki rumahnya lalu mengucapkan “Bismillah” ketika masuk dan ketika makan, maka setan berkata kepada teman-temannya: “Kalian tidak mendapatkan tempat menginap dan makan malam”. Namun apabila ia masuk rumahnya dan tidak mengucapkan “Bismillah”, maka setan berkata: “Kalian mendapatkan tempat menginap”. Lalu apabila ia tidak mengucapkan “Bismillah” ketika makan, setan berkata: Kalian telah mendapatkan tempat menginap dan makan.” [HR. Muslim]

عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (لو أن أحدكم إذا أتى أهله؛ قال: بِسْمِ اللَّهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا؛ فقضي بينهما ولد؛ لم يضره الشيطان أبدا) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Jika salah seorang kalian mendatangi istrinya (bersetubuh) lalu ia mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

(Bismillaah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari rezeki (anak) yang akan Engkau berikan kepada kami). Maka jika ditakdirkan dari hubungan tersebut lahirnya seorang anak baginya, niscaya setan tidak akan bisa menimpakan kemudharatan anak itu selamanya.” [Muttafaq ’alaih]

Pertahanan Ketiga: Membaca Mu’awwidzatain saat hendak tidur, setelah sholat, saat sakit dan lain-lain. Mu’awwidzatain adalah surat Al-Falaq dan An-Naas

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai Subuh.” (QS. Al-Falaq: 1) dan seterusnya sampai akhir surat.

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

“Katakanlah: “Aku berlidung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia.” (Q.S. An-Naas: 1) dan seterusnya sampai akhir surat.

عن عقبة بن عامر قال: بينا أنا أسير مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بين الجحفة والأبواء إذ غشيتنا ريحوظلمة شديدة، فجعل رسول الله صلى الله عليه وسلم يتعوذ بـ﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ﴾و﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ﴾ ويقول: ((يا عقبة تعوذ بهما، فما تعوذ بهما متعوذ بمثلهما)) قال: وسمعته يؤمنا بهما في الصلاة. أخرجه أحمد وأبو داود

Dari Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Saat aku berjalan bersama Rasulullah ﷺ antara Juhfah dan Abwa’, malam itu angin bertiup kencang dan gelap gulita. Maka Rasulullah ﷺ memohon perlindungan kepada Allah dengan membaca surat Al-Falaq:

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai Subuh.” (QS. Al-Falaq: 1) dan seterusnya sampai akhir surat.

Dan surat An-Naas:

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

“Katakanlah: Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.” (QS. An Naas: 1) dan seterusnya sampai akhir surat.

Lalu beliau ﷺ bersabda: Wahai Uqbah mohonlah perlindungan kepada Allah dengan membaca dua surat tersebut, karena tidak ada cara berlindung yang menyamai keduanya.”

Uqbah berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ membacanya saat mengimami sholat.” [HR. Ahmad dan Abu Daud]

Pertahan Keempat: Membaca Ayat Al-Kursy

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Berdasarkan hadis:

عن أبي هريرة قال: وكلني رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بحفظ زكاة رمضان، فأتاني آت فجعل يحثو من الطعام فأخذته فقلت: لأرفعنك إلى رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فقال: إذا أويت إلى فراشك فاقرأ آية الكرسي:﴿ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ…..﴾؛ فإنك لن يزال عليك من اللَّه حافظ، ولا يقربك شيطان حتى تصبح … قال النبي صلى الله عليه وسلم: (أما إنه قد صدقك، وهو كذوب، ذاك شيطان). رواه البخاري

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: “Rasulullah ﷺ memercayakanku menjaga harta zakat Ramadan. Lalu ada seseorang yang datang mencuri makanan, maka aku menangkapnya dan berkata: “Demi Allah, engkau akan kuadukan kepada Rasulullah”, ia berkata: “Bila engkau hendak berada di atas tempat tidurmu, bacalah Ayat Al-Kursiy:

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ

(Allah yang tidak ada Sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (mahluk-Nya)…dan seterusnya hingga akhir ayat. Sesungguhnya jika engkau membacanya, maka engkau akan selalu berada di dalam penjagaan Allah, dan setan tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi”. Maka Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya dia berkata jujur kepadamu dalam hal ini, sedang dia adalah seorang pendusta. Itulah setan.” [HR. Al-Bukhari]

Pertahanan Kelima: Membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, yaitu:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)

“Rasul telah beriman kepada Alquran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami, jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat, sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.” [Al-Baqoroh: 285-286]

Berdasarkan hadis:

عن أبي مسعود البدري قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من قرأ بالآيتين من آخر سورة البقرة في ليلة كفتاه) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Dari Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah di suatu malam, maka itu mencukupinya.” [Muttafaq ’alaih]

Pertahanan Keenam: Membaca surat Al-Baqarah

عن أبي هريرة أن رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال: (لا تجعلوا بيوتكم مقابر إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة) أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang di dalamnya dibaca surat Al-Baqarah.” [HR. Muslim]

Pertahanan Ketujuh: Banyak berzikir, membaca Alquran, bertasbih, bertahmid, bertakbir dan bertahlil

عن أبي هريرةأن رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال: (من قال لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، في يوم مائة مرة كانت له عدل عشر رقاب، وكتبت له مائة حسنة، ومحيت عنه مائة سيئة، وكانت له حرزاً من الشيطان يومه ذلك حتى يمسي، ولم يأت أحد بأفضل مما جاء به؛ إلا رجل عمل أكثر من ذلك) متق عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

(Tiada Sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Semua kerajaan adalah milik-Nya, dan bagi-Nya segala pujian dan Dia berkuasa terhadap segala sesuatu) dalam satu hari seratus kali, niscaya diberikan baginya pahala sebanding dengan memerdekakan sepuluh orang budak, dan ditulis untuknya seratus kebajikan, dihapuskan darinya seratus keburukan, dan ia terlindungi dari setan di hari itu hingga sore, dan tidak seorang pun yang lebih utama daripada dirinya kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak darinya.” [Muttafaq alaih]

Pertahanan Kedelapan: Membaca doa saat keluar rumah

عن أنس بن مالك أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إذا خرج الرجل من بيته فقال: بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. يقال له: هديت وكفيت ووقيت، فتنحى له الشيطان، فيقول له شيطان آخر: كيف لك برجل قد هدي وكفي ووقي). رواه أبو داود والترمذي

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Apabila seseorang keluar dari rumahnya lalu mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

(Bismillah aku bertawakal kepada Allah dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah) akan dikatakan kepadanya: “Engkau telah ditunjuki, telah dicukupi, dan telah dijaga. Setan pun menjauh darinya, dan setan yang lain berkata kepada setan yang berusaha menggodanya: Bagaimana mungkin engkau bisa menggoda seseorang yang telah ditunjuki, telah dicukupi, dan telah dijaga.” [HR Abu Daud, Tarmizi]

Pertahanan Kesembilan: Berdoa saat berada di suatu tempat

عن خولة بنت حكيم قالت سمعت رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يقول: (إذا نزل أحدكم منزلاً فليقل: أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، فإنه لا يضره شيء حتى يرتحل منه) رَوَاهُ مُسلِمٌ

Dari Khaulah binti Hakim radhiyallahu’anha berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila salah seorang kamu berada di suatu tempat maka ucapkanlah:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

(Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan mahluk-Nya), niscaya dia tidak akan terkena gangguan apa pun sampai dia meninggalkan tempat tersebut.” [HR. Muslim]

Pertahanan Kesepuluh: Menahan menguap dan meletakkan tangan di mulut ketika menguap

عن أبي سعيد الخدري قال: قال رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: (إذا تثاءب أحدكم؛ فليمسك بيده على فيه؛ فإن الشيطان يدخل) رَوَاهُ مُسلِمٌ

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila salah seorang kalian menguap, maka tahanlah dengan meletakkan tangan pada mulut, karena sesungguhnya setan berusaha masuk.” [HR. Muslim]

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (التثاؤب من الشيطان، فإذا تثاءب أحدكم فليكظم ما استطاع) متفق عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Menguap itu penyebabnya adalah setan. Maka apabila salah seorang kamu menguap hendaklah menahan semampunya.” [Muttafaq alaih]

Pertahanan Kesebelas: Azan

عن أبي هريرة أن رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال: (إذا نودي بالصلاة، أدبر الشيطان، وله ضراط حتى لا يسمع التأذين، فإذا قضي النداء، أقبل حتى إذا ثوب للصلاة أدب، حتى إذا قضي التثويب، أقبل حتى يخطر بين المرء ونفسه، يقول: اذكر كذا! واذكر كذا! لما لم يذكر من قبل، حتى يظل الرجل ما يدري كم صلى؟!) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda: “Bila azan sholat dikumandangkan, setan lari dengan mengeluarkan kentut, agar ia tidak mendengar suara azan. Dan apabila azan selesai dikumandangkan, setan datang kembali, hingga apabila iqomat dikumandangkan setan kembali lari. Hingga apabila iqomat selesai, setan datang lagi, kemudian mengganggu pikiran orang yang sedang sholat. Setan berkata: “Ingat ini, ingat itu”. Sesuatu yang tidak ia ingat sebelum sholat, hingga akhirnya dia tidak tahu lagi berapa rakaatkah dia sholat.” [Muttafaq ’alaih]

Pertahanan Keduabelas: Membaca doa memasuki masjid

عن عقبة قال: حدثنا عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه كان إذا دخل المسجد قال: (أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ) قال: أقط؟ قلت: نعم، قال: فإذا قال ذلك قال الشيطان: حفظ مني سائر اليوم. أخرجه أبو داود

Dari Uqbah radhiyallahu’anhu, ia berkata: Abdullah bin Amru radhiyallahu `anhuma menceritakan kepada kami dari Nabi ﷺ, bahwa beliau saat memasuki masjid membaca:

أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan wajah-Nya Yang Mulia dan kekuasaan-Nya yang abadi, dari setan yang terkutuk”. Uqbah berkata: “Apakah cukup itu saja? Abdullah berkata: “Ya”. Abdullah berkata: “Barang siapa yang membacanya, maka setan akan berkata: “Orang ini terlindungi dari gangguanku sepanjang hari ini.” [HR. Abu Daud]

Pertahanan Ketigabelas: Membaca doa keluar masjid

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (إذا دخل أحدكم المسجد فليسلم على النبي صلى الله عليه وسلم وليقل: اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وإذا خرج فليسلم على النبي صلى الله عليه وسلم وليقل: اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم). أخرجه ابن ماجه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian memasuki masjid, maka ucapkanlah shalawat kepada Nabi ﷺ dan ucapkan:

اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Ya Allah , bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.”

Dan bila keluar maka ucapkanlah shalawat kepada Nabi ﷺ dan ucapkan:

اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Ya Allah, lindungilah aku dari godaan setan yang terkutuk”.” [HR. Ibnu Majah]

Perlindungan Keempatbelas: Berwudhu dan sholat, terutama saat marah atau syahwat sedang membara. Karena wudhu sangat ampuh meredam amarah dan gejolak syahwat

Perlindungan Kelimabelas: Menaati Allah dan Rasul-Nya, dan menghindari: Banyak bicara, memandang hal yang haram, makan yang banyak dan banyak bergaul.

Pertahanan Keenambelas: Membersihkan rumah dari gambar bernyawa, foto makhluk bernyawa, patung, anjing dan lonceng.

عن أبي هريرة قال : قال رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: (لا تدخل الملائكة بيتا فيه تماثيل أو تصاوير) أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat patung atau gambar bernyawa.” [HR. Muslim]

عن أبي هريرة قال: قال رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: (لا تصحب الملائكة رفقة؛ فيها كلب أو جرس) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Para malaikat tidak menyertai suatu rombongan yang disertai anjing atau lonceng.” [HR. Muslim]

 

Pertahanan Ketujuhbelas: Menghindari tempat berdiamnya jin dan setan, yaitu pada reruntuhan rumah dan tempat-tempat najis, seperti: Jamban, tempat pembuangan sampah, dan tempat yang tidak dihuni, seperti: Gurun, tepian pantai yang jauh dari pemukiman, kandang unta dan lain-lain.

[Dinukil dari kitab Mulakhkhos Al-Fiqh Al-Islami karya Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri hafizhahullah]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

 

🛡 TUJUH BELAS PERTAHANAN DIRI DARI GANGGUAN SETANبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ✅ Seorang hamba selayaknya…

Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info 发布于 2017年1月10日