Posts

,

LENGAN WANITA TERMASUK AURAT

LENGAN WANITA TERMASUK AURAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
LENGAN WANITA TERMASUK AURAT
 
Allah taala berfirman:
 
. يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ .
 
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” [QS. Al Ahzab: 59]
 
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu‘anha, beliau berkata:
 
. أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ .
 
Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah ﷺ dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah ﷺ pun berpaling darinya dan bersabda:
“Wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haid (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini.” Beliau ﷺ menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. [HR. Abu Daud 4140, dalam Al Irwa (6/203) Al Albani berkata: “Hasan dengan keseluruhan jalannya”]
 
Az Zarqaani berkata: “Aurat wanita di depan lelaki Muslim Ajnabi adalah seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan.” [Syarh Mukhtashar Khalil, 176] . Sehingga dari sini kita ketahui, bahwa para ulama menyatakan lengan wanita termasuk aurat yang wajib ditutup. Karena yang masyhur diperselisihkan adalah wajah dan telapak tangan. Maka tidak dibenarkan sebagian Muslimah, walaupun sudah berjilbab, namun membiarkan lengannya terbuka.
 
Wallahu a’lam.

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#hijabjilbab #batasanauratwanita #batasanauratperempuan #muslimah #lengantermasukauratwanita #lengantermasukauratperempuan #telapaktangandanwajah #auratwanitayangwajibditutup

, , ,

HARUSKAH WANITA MEMAKAI JILBAB KETIKA MEMBACA ALQURAN?

HARUSKAH WANITA MEMAKAI JILBAB KETIKA MEMBACA ALQURAN?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HARUSKAH WANITA MEMAKAI JILBAB KETIKA MEMBACA ALQURAN?
 
Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafidzahullah
 
Pertanyaan:
Apa yang seharusnya kami lakukan sebelum membaca Alquran? Apakah diwajibakan bagi wanita memakai hijab sempurna tatkala membaca Alquran?
 
Jawaban:
Alhamdulillah,
TIDAK DIWAJIBKAN bagi wanita memakai hijab ketika membaca Alquran, dengan alasan karena tidak adanya dalil yang menunjukkan kewajiban tersebut.
 
Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan:
“Tatkala membaca Alquran tidak disyaratkan harus menutup kepala.” [Fatawa Ibni’Ustaimin, 1/420]
 
Syaikh Ibnu’Ustaimin juga pernah menegaskan hal serupa tatkala membahas permasalahan Sujud Tilawah:
“Sujud Tilawah dilakukan ketika sedang membaca Alquran. Tidak mengapa sujud dalam kondisi apapun walaupun dengan kepala yang terbuka dan kedaan lainnya. Karena Sujud Tilawah tidak memiliki hukum yang sama dengan shalat. [Al Fatawa Al Jami’ah Lil Marati Al Muslimah, 1/249]. (Sumber: https://islamqa.info/ar/8950)
 
Fatwa Asy Syabakah Al Islamiyyah
 
Pertanyaan:
Apakah diwajibakan bagi wanita untuk meletakkan hijab di atas kepalanya ketika tengah membaca Alquran di dalam rumah?
 
Jawaban:
Alhamdulillah washshaltu wassalamu ala Rasulillah wa ala aalihi washahbih ammaba’d,
 
Diperbolehkan bagi wanita membaca Alquran TANPA memakai hijab di atas kepalanya, dikarenakan tidak adanya dalil, baik Alquran atapun As Sunnah yang memerintahkan agar wanita menutup kepalanya ketika membaca Alquran. Meskipun menutup kepala dengan jilbab termasuk menjaga kesempurnaan adab kepada Kitabullah, maka diharapkan baginya pahala atas perbuatan tersebut-insyaallah-. Allah taala berfirman:
 
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
 
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [QS. Al Hajj: 32]
 
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, jika beliau hendak membahas sebuah hadis Nabi ﷺ, beliau memakai pakaian terbagus, memakai minyak wangi terbaik yang beliau miliki dan beliau duduk dengan posisi duduk paling sempurna, sehingga beliau memiliki ketenangan dan wibawa.
(Sumber: www.islamweb.net)
 
Namun perlu diperhatikan bagi saudari-saudariku yang hendak membaca Alquran di tempat umum atau tempat lain yang terdapat laki-laki yang bukan mahram, atau dikhawatirkan akan ada laki-laki yang melihat, maka menutup aurat dengan sempurna adalah sebuah kewajiban. Sebagaimana hal ini bukanlah sesuatu yang asing lagi bagi kita. Wallahua’lam.
 
 
***
 
 
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.com
[Artikel wanitasalihah.com]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
#haruskahwanitamemakaijilbabketikamembacaAlquran #hukumperempuanpakaikerudungwakubacaAlQuran #bolehkahmuslimahtidakmemakaihijabsyarisewaktumembacaAlQuran #jilbab #muslimah #hijab #kerudung, #dzikir #zikir #tanpahijab #tanpajilbab #hukum #bacaAlqurantanpakerudungbolehkah? #fatwaulama
, ,

TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM

TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM
 
Kondisi paling aman bagi Muslimah adalah berwudhu di ruangan tertutup, sehingga ketika Muslimah hendak menyempurnakan mengusap atau membasuh anggota tubuh yang wajib dikenakan air wudhu, auratnya tidak terlihat oleh orang-orang yang bukan mahramnya. Sayangnya, tidak semua masjid menyediakan tempat wudhu yang berada di ruangan tertutup.

Lalu, bagaimana cara berwudhu jika kita berada di tempat umum yang terbuka?  Berdasarkan riwayat dari ‘Amru bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu, dari bapaknya, beliau berkata:

 
رأيت النبي صلّى الله عليه وسلّم، يمسح على عمامته وخفَّيه
 
“Aku pernah melihat Nabi ﷺ mengusap bagian atas surbannya dan kedua khufnya.” [HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari (1/308 no. 205) dan lainnya]
 
Juga dari Bilal radhiyallahu ‘anhu:
 
أن النبي صلّى الله عليه وسلّم، مسح على الخفين والخمار
 
“Bahwasanya Nabi ﷺ mengusap kedua khuf dan khimarnya.” [HR. Muslim (1/231) no. 275]
Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Ummu Salamah (istri Nabi ﷺ), bahwa beliau berwudhu dan mengusap kerudungnya. [Disebutkan oleh Ibnu Qudamah dari Ibnu Al-Mundzir]. Karena itu, wanita yang berwudhu di tempat umum TIDAK BOLEH melepas jilbabnya, namun cukup mengusap bagian atas jilbabnya.
 
Catatan:
Dijelaskan oleh ulama bahwa tutup kepala boleh diusap, jika memenuhi dua syarat:
1. Menutupi seluruh bagian kepala.
2. Terdapat kesulitan untuk melepaskannya.
Karena itu, sebatas (menggunakan) peci (menyebabkan peci) tidak boleh diusap, tetapi (bagian kepalalah yang) harus (tetap) diusap. [Shifat Wudhu Nabi ﷺ, hlm. 28]
Alternatif lain adalah dengan wudhu di kamar mandi. Sebagian orang merasa khawatir dan ragu-ragu, bila wudhu di kamar mandi wudhunya tidak sah, karena kamar mandi merupakan tempat yang biasa digunakan untuk buang hajat, sehingga kemungkinan besar terdapat najis di dalamnya. Wudhu di kamar mandi hukumnya boleh, asalkan tidak dikhawatirkan terkena/ terpercik najis yang mungkin ada di kamar mandi.
 
Kita ingat kaidah yang menyebutkan: “Sesuatu yang yakin tidak bisa hilang dengan keraguan.” Keragu-raguan atau kekhawatiran kita terkena najis TIDAK BISA dijadikan dasar tidak bolehnya wudhu di kamar mandi, kecuali setelah kita benar-benar yakin, bahwa jika wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terpeciki najis. Jika kita telah memastikan bahwa lantai kamar mandi bersih dari najis, dan kita yakin tidak akan terkena/ terperciki najis, maka insya Allah tak mengapa wudhu di kamar mandi.
 
Sedangkan pelafalan “Bismillah” di kamar mandi, menurut pendapat yang lebih tepat adalah BOLEH melafalkannya di kamar mandi. Hal ini dikarenakan membaca Bismillah pada saat wudhu hukumnya wajib, sedangkan menyebut nama Allah di kamar mandi hukumnya makruh. Kaidah mengatakan, bahwa “Makruh itu berubah menjadi mubah jika ada hajat. Dan melaksanakan kewajiban adalah hajat.”
 
Adapun membaca zikir setelah wudhu dapat dilakukan setelah keluar kamar mandi, yaitu setelah membaca doa keluar kamar mandi. Untuk itu disarankan setelah berwudhu, tidak berlama-lama di kamar mandi (segera keluar).
 
Bagaimana bila kita yakin bahwa bila wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terperciki najis?
 
> Dengan alasan terkena najis, maka sebaiknya tidak wudhu di kamar mandi atau disiram dulu sampai bersih.
 
> Alternatif lainnya adalah dengan cara mengusap khuf. jaurab, dan jilbab tanpa harus membukanya. Pembahasan tentang ini masuk dalam bab mengusap khuf. Tentu timbul pertanyaan lain, bagaimana dengan tangan? Jika jilbab kita sesuai dengan syariat, insya Allah hal ini bisa diatasi. Karena bagian tangan yang perlu dibasuh bisa dilakukan di balik jilbab kita yang terulur panjang. Sehingga tangan kita tidak akan terlihat oleh umum, insya Allah.
 
Wallahu a’lam bi shawab.
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tempatumum, #mallmall,  #luar rumah #tatacara, #cara, #wudhuk, #wudluk, #muslimah, #wanita, #perempuan, #kerudung, #hijab, #jilbab, #khuff, #kaoskaki, #kauskaki, #sepatu, #sandal, #kaidah, #kaedah, #fikih, #fiqih, #fiqh
,

SALAFI ATAU SELFIE?

SALAFI ATAU SELFIE?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

SALAFI ATAU SELFIE?
Ketika di lubuk terdalam hatimu ada cuitan:
“Wah, sungguh cantik jika memakai gamis ini.”
“Anggun rasanya setelah memakai jenis cadar ini.”
“wah, banyak yang muji bagus ketika makai jubah ini.”
 
Sunggu saat itu engkau telah terperdaya.
Karena biasamu dan tak tergerak rasa kagum dalam pandangan Adam, itulah keindahan dari kecantikan yang hakiki.

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#muslimah, #wanita, #perempuan, #Hijab, #Jilbab, #Niqah, #niqob, #kerudung, #tabarruj, #tabarruj, #,Salafi, #Salafi atau Selfie #dandan #berdandan #hias #berhias #menampakkanperhiasan

,

PENGHALANG-PENGHALANG WARIS

PENGHALANG-PENGHALANG WARIS
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
PENGHALANG-PENGHALANG WARIS
 
Penghalang waris adalah sesuatu yang dapat menghalangi Ahli Waris untuk mendapatkan hak warisnya (baik secara keseluruhan ataupun sebagian besarnya, pen.), meskipun telah terpenuhi padanya sebab-sebab waris. [Lihat Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 45]
 
Penghalang Waris secara garis besar terbagi menjadi dua:
Pertama: Penghalang dalam bentuk sifat/kriteria tertentu yang dapat menghalangi Ahli Waris dari jatah warisnya secara keseluruhan, dan
Kedua: Penghalang dalam bentuk Ahli Waris yang berposisi lebih kuat. Artinya keberadaan Ahli Waris yang secara posisi lebih kuat itu bisa menyebabkan terhalangnya Ahli Waris tertentu untuk mendapatkan hak warisnya, baik secara keseluruhan ataupun sebagian besarnya. Proses penghalangan ini dalam Ilmu al-Faraidh dikenal dengan istilah Hajb. Seorang yang terhalang dari harta warisnya disebut Mahjub, sedangkan penghalangnya disebut Hajib.
 
Berikut ini adalah rincian dari masing-masing Penghalang Waris:
 
Penghalang Waris Pertama:
Penghalang dalam bentuk sifat/kriteria tertentu yang dapat menghalangi Ahli Waris dari jatah warisnya secara keseluruhan. Penghalang jenis ini bisa menimpa seluruh Ahli Waris tanpa terkecuali [Lihat Al-Fawa’idul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 26, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II], yang dalam Ilmu al-Faraidh dikenal dengan istilah Mawani’ul Irtsi (Penghalang-Penghalang Waris).
 
Adapun rincian Penghalang-Penghalang Waris jenis ini ada sembilan:
 
1) Perbudakan: Seorang yang berstatus budak tidaklah bisa mewarisi, karena dia dan hartanya menjadi milik tuannya. Tidak adanya hak milik bagi seseorang merupakan penghalang syari baginya untuk mendapatkan harta waris. Jika si budak tersebut mendapatkan harta waris, maka harta waris itu akan menjadi milik tuannya, padahal si tuan tersebut bukan bagian dari Ahli Waris si mayit. Atas dasar itulah, jika seorang mayit Muslim meninggalkan seorang anak Muslim yang berstatus budak dan seorang cucu Muslim dari kalangan merdeka, maka yang mewarisi hartanya adalah sang cucu walaupun ada bapaknya. Mengapa? Karena si bapak statusnya masih budak dan budak tidak bisa mewarisi, sedangkan sang cucu dari kalangan merdeka. [Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 46 dan Tashilul Faraidh, hal. 28]
 
2) Pembunuhan yang dilakukan terhadap pemilik harta waris (Muwarrits): Jika seorang Ahli Waris membunuh Muwarrits-nya, maka si pembunuh tersebut TIDAK BERHAK mendapatkan harta waris darinya.
Gambaran kasusnya adalah seorang anak (Ahli Waris) membunuh bapaknya (pemilik harta waris), maka si anak tersebut tidak berhak mendapatkan harta waris yang ditinggalkan bapaknya. Di antara hikmah dari ketentuan di atas adalah mencegah bermudahannya Ahli Waris dari perbuatan keji tersebut, hanya karena untuk mendapatkan harta waris.
Hal ini didasarkan kaidah fikih yang berbunyi:
Orang yang menyegerakan sesuatu sebelum waktunya, maka diberi sanksi untuk tidak mendapatkannya (وكلُّ مَنْ تَعَجَّلَ الشيءَ عَلَى وجهٍ مُحَرَّمٍ فمنعُه جَلا)
 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:
 
وكلُّ مَنْ تَعَجَّلَ الشيءَ عَلَى وجهٍ مُحَرَّمٍ فمنعُه جَلا
 
“Dan setiap orang yang menyegerakan sesuatu yang diharamkan, maka hendaknya ia dicegah.”
 
Kaidah ini adalah kaidah yang sudah maruf yang seringkali digunakan oleh para ulama. Di antara contoh penerapan kaidah ini adalah:
 
– Barang siapa yang membunuh orang yang (sebenarnya bisa) mewariskan harta kepadanya, maka ia tidak mendapatkan warisannya. Hal ini dikarenakan ia telah menyegerakan seseuatu sebelum waktunya.
 
– Orang yang minum khamer (minuman keras) ketika di dunia, maka ia tidak akan minum khamer ketika di Akhirat kelak. Padahal khamer di Akhirat itu tidak memabukan. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Nabi ﷺ.
– Dan seterusnya
 
Membunuh pewaris berarti menyegerakan kematian si pewaris dengan maksud untuk segera mendapat warisannya. Akan tetapi justru hukum melarang apa yang ingin disegerakannya yaitu dengan tidak diberikan hak mendapat warisan kepadanya.
 
Lalu apakah setiap jenis pembunuhan dapat menghalangi seseorang dari jatah warisnya? Para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Namun menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, bahwa pembunuhan yang menyebabkan terhalangnya seseorang dari jatah warisnya adalah pembunuhan yang bersifat Bighairil Haq (tidak dibenarkan secara syari), yaitu pembunuhan yang mengakibatkan Qishash, membayar Diyat (Tebusan), atau membayar kafarah, seperti misalnya:
– Pembunuhan dengan sengaja (Qatlul ‘Amd),
– Pembunuhan semi sengaja (Syibhul ‘Amd – contohnya seseorang memukul orang lain dengan menggunakan sandal, kemudian mati. Disebut semi sengaja, karena di satu sisi sengaja memukul orang tersebut, namun di sisi lain tidak berniat untuk membunuhnya] dan
– Pembunuhan karena kekeliruan (Khatha’an – contohnya seseorang membidikkan tembakan ke arah rusa, namun ternyata tembakan tersebut justru mengenai orang yang kebetulan sedang melintas di jalan tidak jauh dari rusa tersebut, hingga mati. Disebut keliru karena tidak ada niatan untuk membunuhnya, dan tidak ada upaya sama sekali untuk melakukan sesuatu terhadap orang tersebut] [Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 50-52 dan Tashilul Faraidh, hal. 29]
 
Dikecualikan darinya adalah pembunuhan Bil Haq (dengan cara yang dibenarkan secara syari), misalnya seorang eksekutor yang ditugasi Waliyul Amr (Pemerintah) untuk mengeksekusi seorang pembunuh sebagai bentuk qishash (balasan bunuh) baginya, seseorang yang membela diri hingga mengakibatkan terbunuhnya si pelaku aniaya tersebut, dll.
 
3) Perbedaan agama antara pemilik harta waris (Muwarrits) dengan Ahli Warisnya. Gambaran kasusnya: Si mayit yang meninggalkan harta waris adalah seorang Muslim, sedangkan Ahli Warisnya non-Muslim (kafir). Atau sebaliknya, si mayit yang meninggalkan harta waris adalah seorang non-Muslim (kafir), sedangkan Ahli Warisnya seorang Muslim. Menurut Jumhur (Mayoritas) Ulama, masing-masingnya tidak bisa saling mewarisi. Karena secara tinjauan syari, hubungan di antara mereka telah terputus. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala kepada Nabi Nuh alaihisalam:
“Allah berfirman: ‘Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan) dia adalah perbuatan yang tidak baik’.” [QS Hud: 46]
Demikian pula sabda Rasulullah ﷺ:
 
لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ
 
“Tidaklah seorang Muslim mewarisi seorang non-Muslim (kafir) dan tidak pula seorang non-Muslim (kafir) mewarisi seorang Muslim.” [HR. Al-Bukhari no. 6383 dan Muslim no. 1614, dari hadits Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu) [Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 53 dan Tashilul Faraidh, hal. 31]
 
Namun apabila si Ahli Waris yang tadinya kafir kemudian masuk Islam sebelum harta dibagi, maka si Ahli Waris yang mualaf ini berhak mendapatkan warisan. Jadi apabila pada waktu Muwarrits meninggal dunia ada ahli waris yang berbeda agama, kemudian sebelum harta warisan dibagi-bagi si Ahli Waris masuk Islam, maka dia berhak mendapat warisan.
 
4. Wanita yang sudah ditalak (raj’i) habis masa iddahnya.
 
5. Wanita yang ditalak tiga (Talak Bain Qubro – tidak bisa rujuk lagi).
 
6. Anak angkat. Sifatnya dua arah: Orang tua angkat tidak bisa mewarisi dari anak angkatnya, demikian pula sebaliknya, anak angkat tidak bisa mewarisi dari orang tua angkatnya.
 
7. Ibu tiri dan bapak tiri
 
8. Anak Lian. Lian adalah sumpah seorang suami untuk meneguhkan tuduhannya bahwa istrinya telah berzina dengan laki-laki lain. Sumpah itu dilakukan suami karena istrinya telah menyanggah tuduhan suaminya itu, sementara suami sendiri tidak memiliki bukti-bukti atas tuduhan zinanya.
 
9. Anak hasil zina
 
Penghalang Waris Kedua:
Penghalang dalam bentuk Ahli Waris yang berposisi lebih kuat. Artinya keberadaan Ahli Waris yang secara posisi lebih kuat itu bisa menyebabkan terhalangnya Ahli Waris tertentu untuk mendapatkan hak warisnya, baik secara keseluruhan ataupun sebagian besarnya. Proses penghalangan ini dalam Ilmu al-Faraidh dikenal dengan istilah Hajb. Seorang yang terhalang dari harta warisnya disebut Mahjub, sedangkan penghalangnya disebut Hajib.
 
Penghalang jenis ini terbagi menjadi dua:
 
a. Hajb Hirman (menghalangi secara keseluruhan). Jika penghalangnya dari jenis pertama ini, maka dapat menghalangi seorang Ahli Waris dari jatah warisnya secara keseluruhan. Penghalang jenis ini bisa menimpa semua Ahli Waris kecuali enam orang; bapak, ibu, anak lelaki, anak perempuan, suami, dan istri.
 
b. Hajb Nuqshan (menghalangi dari jatah waris yang terbesar). Jika ada penghalang dari jenis kedua ini, maka dapat menghalangi seorang Ahli Waris dari jatah warisnya terbesar, sehingga ia bergeser dari jatahnya yang besar kepada jatahnya yang lebih sedikit. Penghalang jenis ini terbagi menjadi tujuh macam:
 
1) Menghalangi Ahli Waris tertentu dari jatah waris tertentu (Fardh) dengan menggesernya kepada jatah waris tertentu (Fardh) yang lebih sedikit. Misalnya, bergesernya suami dari jatah waris ½ kepada ¼. Demikian pula bergesernya satu orang istri atau lebih dari jatah waris ¼ kepada 1/8.
 
2) Menghalangi Ahli Waris tertentu dengan menggesernya dari suatu Tashib kepada Tashib yang lebih sedikit. Misalnya, saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan sebapak yang bergeser dari Ashabah Ma’al Ghair kepada Ashabah Bil Ghair.
 
3) Menghalangi Ahli Waris tertentu dengan menggesernya dari jatah waris tertentu (Fardh) kepada Tashib yang lebih sedikit. Misalnya, bergesernya jatah waris ½ dari para pemiliknya kepada Ashabah Bil Ghair.
 
4) Menghalangi Ahli Waris tertentu dengan menggesernya dari Tashib kepada jatah waris tertentu (Fardh) yang lebih sedikit. Misalnya, bergesernya bapak dan kakek dari Tashib kepada jatah waris tertentu (Fardh).
 
5) Saling berserikat dalam jatah waris tertentu (Fardh). Misalnya, berserikatnya para istri pada jatah waris ¼ dan 1/8, berserikatnya para pemilik jatah waris 1/3 dan juga para pemilik jatah waris 2/3 pada jatah tersebut.
 
6) Saling berserikat dalam Tashib tertentu, seperti berserikatnya Ashabah pada suatu harta secara utuh atau pada apa yang tersisa dari Ashhabul Furudh.
 
7) Saling berserikat dalam masalah ‘aul [Masalah ‘aul adalah masalah berlebihnya jumlah jatah/saham Ahli Waris di atas jumlah Ashlul Mas’alah (Pokok masalah), saat proses penghitungan], di mana masing-masingnya mendapatkan jatah yang lebih (di atas kertas), namun dalam praktik nyatanya tidak demikian. [Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 26-27 program Al-Maktabah Asy-Syamilah II]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#mawaniul irtsi #penghalang-penghalang waris #Muwarrits #warrits #Tashib, #jatahwaris1/3, #jatahwaris2/3, #jumlahjatahsaham, #AhliWaris, #AshlulMasalah, #Pokokmasalah, #salingberserikat, #berserikat, #AshhabulFurudh, #HajbNuqshan, #HajbHirman, #Hijab, #Hajib, #TalakBainQubro, #jatahwarisbekasistri, #AshabahMaalGhair, #AshabahBilGhair. #Ashabah, #Ashobah, #furu, #hayashi, #ilmu faraidh, #faraidh, #faroidh, #ilmufaroidh, #ilmuwarisan, #rukunwarisan, #syaratsahnyawarisan, #sebabwarisan, #warismewarisi, #budak, #perbudakan, #murtad, #kafir, #tidakbisamewarisi, #hukum, #ikatanwala, #pembagianhartawarisan, #pembagianhartapusaka, #hartawarisan, #hartapusaka, #keutamaan, #fadhilah, #fadilah, #keutamaa ilmuwarisan, #fadhilahilmuwarisan, #warisan
,

HUKUM MEMBUKA HIJAB DI HADAPAN WANITA NON-MUSLIMAH

HUKUM MEMBUKA HIJAB DI HADAPAN WANITA NON-MUSLIMAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM MEMBUKA HIJAB DI HADAPAN WANITA NON-MUSLIMAH
Bolehkah Menampakkan Rambut Di Hadapan Wanita Kafir?
Ahli Ilmu terbagi dua pendapat dalam masalah ini:
 
Pendapat Pertama:
Mereka memandang wajib bagi Muslimah untuk berhijab di hadapan wanita non-Muslimah, dan haram baginya untuk membuka sesuatu dari bagian tubuhnya di depan wanita Nasrani, Yahudi atau musyrikah, bila tidak ada keperluan yang darurat/ mendesak. Sehingga dalam hal memandang ini, wanita kafirah sama dengan laki-laki ajnabi (bukan mahram) bagi seorang Muslimah.
 
Demikian pendapat Madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, dan yang paling shahih dari madzhab Syafi’iyyah, serta satu riwayat dari Al-Imam Ahmad. Di antara ulama mutaakhirin yang berpegang dengan pendapat ini adalah Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah. Beliau berkata: “Dzahir dari apa yang diinginkan dalam ayat ini adalah wanita-wanita dari kalangan Muslimin, karena wanita-wanita kafir bisa jadi ketika melihat seorang wanita Muslimah, ia akan menceritakan/menggambarkan si Muslimah kepada suaminya. Sementara Nabi ﷺ telah melarang seorang wanita ketika bergaul dengan wanita lain lalu ia menggambarkan wanita lain itu kepada suaminya…”. [Ijabatus Sail ‘ala Ahammil Masail, hal. 557]
 
Mereka berdalil dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surat An-Nur ayat 31 yang artinya:
 
“Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali di depan suami-suami mereka…. sampai pada firman-Nya: … atau di hadapan wanita-wanita mereka….”.
 
Kata wanita di dalam ayat disandarkan (di-idhafah-kan) kepada mereka, wanita-wanita Mukminah. Hal ini menunjukkan pengkhususan. Ibnu Athiyyah berkata: “Seandainya wanita non-Muslimah boleh melihat ke tubuh Muslimah, niscaya tidak tersisa faidah bagi pengkhususan tersebut.”
 
Selain itu mereka juga berdalil dengan atsar-atsar dari para shahabat dan ulama salaf, namun kebanyakan dari atsar-atsar ini lemah, wallahu a’lam.
 
Pendapat Kedua:
Mereka yang berpandangan, bahwa dalam hal memandang, wanita non-Muslimah sama dengan wanita Muslimah ketika memandang sesama Muslimah. Sehingga wanita non-Muslimah ini boleh melihat seluruh tubuhnya kecuali antara pusar dan lututnya. Pendapat ini ada dalam Madzhab Syafi’iyyah dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad yang merupakan pendapat yang masyhur dalam madzhab pengikut beliau.
 
Mereka yang memegang pendapat kedua ini berdalil dengan hadis Asma bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma. Ia berkata “Ibuku datang menemuiku dalam keadaan ia musyrikah di masa Rasulullah ﷺ. Maka aku pun minta fatwa kepada Rasulullah ﷺ. “Ibuku datang dalam keadaan raghibah. [Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata: “Maknanya, ibu Asma’ datang menemui putrinya, meminta agar putrinya berbuat baik padanya, dalam keadaan ia khawatir putrinya akan menolaknya, sehingga ia pulang dengan kecewa. Demikian penafsiran jumhur.” [Fathul Bari, 5/286)]. Apakah boleh aku menyambung hubungan dengannya?”, tanyaku. “Iya, sambunglah hubungan dengan ibumu,” jawab beliau ﷺ.” [HR. Al-Bukhari no. 2620, 3183, 5978, 5979 dan Muslim no. 1003]
 
Hadis ini menunjukkan, bahwa Rasulullah ﷺ mengizinkan Asma radhiallahu ‘anha untuk menyambung hubungan dengan ibunya yang musyrikah, dan tidak dinukilkan adanya perintah ataupun berita, bahwa Asma berhijab dari ibunya.
 
Hadis lain yang menjadi dalil pendapat kedua ini adalah hadis Aisyah radhiallahu ‘anha:
 
Seorang wanita Yahudi pernah masuk menemui Aisyah lalu ia menyebutkan tentang azab kubur. Ia berkata: “Semoga Allah melindungimu dari azab kubur”. Aisyah pun menanyakan tentang azab kubur kepada Rasulullah ﷺ. “Ya, memang ada azab kubur,” jawab beliau ﷺ. Aisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ selesai dari mengerjakan satu shalat pun, melainkan beliau mesti berlindung dari azab kubur.” [HR. Al-Bukhari no. 1372 dan Muslim no. 586]
 
Hadis di atas menunjukkan wanita-wanita kafir biasa masuk menemui Ummahatul Mukminin untuk suatu keperluan, bersamaan dengan itu Rasulullah ﷺ tidak memerintahkan istri-istri beliau untuk berhijab dari mereka.
 
Dari perselisihan pendapat yang ada, wallahu ta’ala a’lam bish-shawab, yang rajih (kuat), dengan melihat dalil masing-masingnya, adalah pendapat kedua, sehingga TIDAK ADA LARANGAN bagi seorang Muslimah untuk melepas hijabnya di hadapan wanita non-Muslimah [Jika sekiranya aman dari fitnah, kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam fatwanya]. Yang demikian ini kita beralasan sebagaimana ucapan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu:
 
1. Wanita berhijab dari lelaki disebabkan karena kekhawatiran munculnya syahwat dan fitnah. Sementara antara Muslimah dan wanita non-Muslimah tidak didapati kekhawatiran yang demikian, sehingga TIDAK ADA KEHARUSAN bagi Muslimah untuk mengenakan hijabnya di hadapan non-Muslimah.
 
2. Tidak ada dalil yang mewajibkan Muslimah berhijab dari non-Muslimah, dan juga dalam hal ini tidak dapat dikiaskan dengan perintah berhijab dari lelaki.
 
3. Muslimah dan non-Muslimah sama-sama berjenis wanita. Maka sebagaimana lelaki boleh melihat sesama lelaki tanpa dibedakan apakah lelaki itu Muslim atau kafir. Maka dibolehkan pula wanita memandang wanita tanpa dibedakan, apakah dia Muslimah atau non-Muslimah [Al-Mughni, 9/505]
 
Adapun ayat ( أَوْ نِساَئِهِنَّ ), di mana dhamirnya (kata ganti ‎هُنَّ yang artinya mereka para wanita) kembali pada wanita-wanita Mukminah yang menjadi sasaran pembicaraan di dalam ayat, TIDAKLAH menunjukkan pengkhususan, sehingga wanita selain Mukminah dikeluarkan darinya. Namun sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakar ibnul Arabi rahimahullahu: “Yang shahih menurutku, firman Allah ini boleh diarahkan kepada seluruh wanita. Adapun dhamir (‎‏(هُنَّ dalam ayat ini didatangkan dalam rangka ittiba’ (pengikutan dengan lafal sebelumnya, bukan menunjukkan pengkhususan, pen.) karena ayat ini merupakan ayat dhamir, di mana disebutkan di dalamnya 25 dhamir. Tidak ada satu ayat pun dalam Alquran yang menyamainya dalam hal ini.” [Ahkamul Qur’an, 3/1359]
 
Untuk lebih memantapkan hati, berikut ini kami nukilkan fatwa dua ‘Alim Kabir dari kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mendukung pendapat kedua ini:
 
Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata:
“Ayat ‎أَوْ نِساَئِهِنَّ , mencakup seluruh wanita, Mukminah ataupun non-Mukminah. Inilah pendapat yang paling shahih, sehingga TIDAK ADA kewajiban bagi wanita Mukminah untuk berhijab dari wanita kafir, berdasarkan keterangan yang tsabit (kokoh) tentang masuknya wanita-wanita Yahudi di Madinah di masa Nabi ﷺ.
 
Demikian pula wanita-wanita penyembah berhala menemui istri-istri beliau ﷺ, sementara tidak disebutkan keterangan istri-istri Nabi ﷺ ini berhijab dari mereka.
 
Seandainya berhijab dari non-Muslimah ini terjadi dari istri-istri Nabi ﷺ atau dari selain mereka (dari kalangan shahabiyyah), niscaya akan dinukilkan. Karena para shahabat radhiallahu ‘anhum tidaklah meninggalkan sesuatu perkara, melainkan mereka mesti menukilkannya. Inilah pendapat yang terpilih dan paling kuat.” [Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 6/361]
 
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang permasalahan ini beliau menjawab: “Perkara ini dibangun di atas perbedaan pendapat ulama dalam menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surat An-Nur ayat 31 tentang dhamir dalam أَوْ نِساَئِهِنَّ .
 
Beliau menyebutkan perbedaan pendapat yang ada, kemudian beliau berkata:
“Kami sendiri condong kepada pendapat pertama (mencakup seluruh wanita, termasuk non-Muslimah) dan pendapat inilah yang lebih dekat kepada kebenaran, karena wanita memandang sesama wanita tidaklah dibedakan antara Muslimah dengan non-Muslimah. Namun tentunya hal ini diperkenankan bila di sana tidak ada fitnah. Adapun bila dikhawatirkan terjadi fitnah seperti si wanita non-Muslimah itu akan menceritakan keberadaan si Muslimah kepada kerabat-kerabatnya dari kalangan lelaki, maka ketika itu wajib untuk berhati-hati menjaga diri dari fitnah, sehingga si wanita Muslimah tidak membuka sesuatu dari anggota tubuhnya seperti kedua kaki atau rambutnya di hadapan wanita lain. Sama saja dalam hal ini (bila ada fitnah, pen.) apakah di hadapan wanita Muslimah ataupun non-Muslimah.” [Fatawa Al-Mar’ah, kumpulan dan susunan Muhammad Al-Musnad hal. 177]
 
 
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
 
Sumber: [asysyariah.com]
#hukum, #membukahijab, #jilbab, #hijab, #kerudung, #khimar, #copot, #buka, #nonmuslimah, #wanita, #perempuan, #kafir, #nonmuslimah, #bukanIslam, #ulamaberbedapendapat, #menampakkanrambut, #tampakkanrambut, #aurat #batasanaurat
,

JILBABKU PENUTUP AURATKU

JILBABKU PENUTUP AURATKU
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
JILBABKU PENUTUP AURATKU
 
Definisi Jilbab
 
Secara bahasa, dalam kamus al Mu’jam al Wasith 1/128, disebutkan, bahwa jilbab memiliki beberapa makna, yaitu:
 
1. Qomish (sejenis jubah).
2. Kain yang menutupi seluruh badan.
3. Khimar (kerudung).
4. Pakaian atasan seperti milhafah (selimut).
5. Semisal selimut (baca: kerudung) yang dipakai seorang wanita untuk menutupi tubuhnya.
 
Adapun secara istilah, berikut ini perkataan para ulama’ tentang hal ini:
 
Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan: “Jilbab menurut bahasa Arab yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, bukan hanya sebagiannya.” Sedangkan Ibnu Katsir mengatakan: “Jilbab adalah semacam selendang yang dikenakan di atas khimar, yang sekarang ini sama fungsinya seperti izar (kain penutup).” [Syaikh Al Bani dalam Jilbab Muslimah]
 
Syaikh bin Baz (dari Program Mausu’ah Fatawa Lajnah wal Imamain) berkata: “Jilbab adalah kain yang diletakkan di atas kepala dan badan di atas kain (dalaman). Jadi jilbab adalah kain yang dipakai perempuan untuk menutupi kepala, wajah dan seluruh badan. Sedangkan kain untuk menutupi kepala disebut khimar. Jadi perempuan menutupi dengan jilbab, kepala, wajah dan semua badan di atas kain (dalaman).” [bin Baz, 289]. Beliau juga mengatakan: “Jilbab adalah rida’ (selendang) yang dipakai di atas khimar (kerudung) seperti abaya (pakaian wanita Saudi).” [bin Baz, 214]. Di tempat yang lain beliau mengatakan: “Jilbab adalah kain yang diletakkan seorang perempuan di atas kepala dan badannnya untuk menutupi wajah dan badan, sebagai pakaian tambahan untuk pakaian yang biasa (dipakai di rumah).” [bin Baz, 746]. Beliau juga berkata: “Jilbab adalah semua kain yang dipakai seorang perempuan untuk menutupi badan. Kain ini dipakai setelah memakai dar’un (sejenis jubah) dan khimar (kerudung kepala) dengan tujuan menutupi tempat-tempat perhiasan, baik asli (baca: aurat) ataupun buatan (misal, kalung, anting-anting, dll).” [bin Baz, 313]
 
Apakah beda antara jilbab dengan hijab? Syaikh Al Bani rahimahullah mengatakan: “Setiap jilbab adalah hijab, tetapi tidak semua hijab itu jilbab, sebagaimana yang tampak.” Sehingga memang terkadang kata hijab dimaksudkan untuk makna jilbab. Adapun makna lain dari hijab adalah sesuatu yang menutupi atau meghalangi dirinya, baik berupa tembok, sket ataupun yang lainnya. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah ﷻ dalam surat al-Ahzab ayat 53, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah nabi kecuali bila kamu diberi izin… dan apabila kamu meminta sesuatu keperluan kepda mereka (para istri Nabi), maka mintalah dari balik hijab…”
 
Syarat-Syarat Pakaian Muslimah
 
1. Menutup Seluruh Badan Kecuali Yang Dikecualikan
 
Allah ﷻ berfirman:
 
 
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
 
 
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al Ahzab: 59]
 
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا…
 
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…” [QS. An Nuur: 31]
 
Tentang ayat dalam surat An Nuur yang artinya “Kecuali yang (biasa) nampak dari padanya”, maka terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, sehingga membawa konsekuensi yang berbeda tentang hukum penggunaan cadar bagi seorang Muslimah. Untuk penjelasan rinci, silakan melihat pada artikel yang sangat bagus tentang masalah ini pada artikel Hukum Cadar di https://Muslim.or.id/6207-hukum-memakai-cadar-dalam-pandangan-4-madzhab.html.
 
Dari syarat pertama ini, maka jelaslah bagi seorang Muslimah untuk menutup seluruh badan, kecuali yang dikecualikan oleh syariat. Maka sangat menyedihkan ketika seseorang memaksudkan dirinya memakai jilbab, tapi dapat kita lihat rambut yang keluar, baik dari bagian depan ataupun belakang, lengan tangan yang terlihat sampai sehasta, atau leher dan telinganya terlihat jelas, sehingga menampakkan perhiasan yang seharusnya ditutupi.
 
Catatan penting dalam poin ini adalah penggunaan khimar yang merupakan bagian dari syariat penggunaan jilbab, sebagaimana terdapat dalam ayat selanjutnya dalam surat An Nuur ayat 31:
 
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
 
“Dan hendaklah mereka menutupkan khimar ke dadanya.”
 
Khumur merupakan jamak dari kata khimar, yang berarti sesuatu yang dipakai untuk menutupi bagian kepala. Sayangnya, pemakaian khimar ini sering dilalaikan oleh Muslimah, sehingga seseorang mencukupkan memakai jilbab saja, atau hanya khimar saja. Padahal masing-masing wajib dikenakan, sebagaimana terdapat dalam hadis dari Sa’id bin Jubair mengenai ayat dalam surat Al Ahzab di atas. Ia berkata: “Yakni agar mereka melabuhkan jilbabnya. Sedangkan yang namanya jilbab adalah qina’ (kudung) di atas khimar. Seorang Muslimah tidak halal untuk terlihat oleh laki-laki asing, kecuali dia harus mengenakan qina’ di atas khimarnya, yang dapat menutupi bagian kepala dan lehernya.” Hal ini juga terdapat dalam atsar dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:
 
لابد للمرأة من ثلاثة أثواب تصلي فيهن: درع و جلباب و خمار
 
“Seorang wanita dalam mengerjakan shalat harus mengenakan tiga pakaian: baju, jilbab dan khimar.” [HR. Ibnu Sa’ad, isnadnya Shahih berdasarkan syarat Muslim]
 
Namun terdapat keringanan bagi wanita yang telah menopause yang tidak ingin kawin, sehingga mereka diperbolehkan untuk melepaskan jilbabnya, sebagaimana terdapat dalam surat An Nuur ayat 60:
 
وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاء اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحاً فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ
 
“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan. Dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana.”
 
Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan kata “pakaian” pada ayat di atas adalah “jilbab” dan hal serupa juga dikatakan oleh Ibnu Mas’ud. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Al Baihaqi). Dapat pula diketahui di sini, bahwa pemakaian khimar yang dikenakan sebelum jilbab adalah menutupi dada. Lalu bagaimana bisa seseorang dikatakan memakai jilbab jika hanya sampai sebatas leher? Semoga ini menjadi renungan bagi saudariku sekalian.
 
Catatan penting lainnya dari poin ini adalah terdapat anggapan, bahwa pakaian wanita yang sesuai syariat adalah yang berupa jubah terusan (longdress), sehingga ada sebagian Muslimah yang memaksakan diri untuk menyambung-nyambung baju dan rok agar dikatakan memakai pakaian longdress. Lajnah Daimah pernah ditanya tentang hal ini, yaitu apakah jilbab harus “terusan” atau “potongan” (ada pakaian atasan dan rok bawahan). Maka jawaban Lajnah Daimah, “Hijab (baca: jilbab) baik terusan ataukah potongan, keduanya tidak mengapa (baca: boleh) asalkan bisa menutupi sebagaimana yang diperintahkan dan disyariatkan.” Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Baz sebagai ketua dan Abdullah bin Ghadayan sebagai anggota (Fatawa Lajnah Daimah 17/293, no fatwa: 7791, Maktabah Syamilah). Dengan demikian jelaslah tentang tidak benarnya anggapan sebagian Muslimah yang mempersyaratkan jubah terusan (longdress) bagi pakaian Muslimah.
 
2. Bukan Berfungsi Sebagai Perhiasan
 
Hal ini sebagaimana terdapat dalam surat An Nuur ayat 31: “…Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya…” Ketika jilbab dan pakaian wanita dikenakan agar aurat dan perhiasan mereka tidak nampak, maka tidak tepat ketika menjadikan pakaian atau jilbab itu sebagai perhiasan, karena tujuan awal untuk menutupi perhiasan menjadi hilang. Banyak kesalahan yang timbul karena poin ini terlewatkan, sehingga seseorang merasa sah-sah saja menggunakan jilbab dan pakaian indah dengan warna-warni yang lembut dengan motif bunga yang cantik, dihiasi dengan benang-benang emas dan perak, atau meletakkan berbagai pernak-pernik perhiasan pada jilbab mereka.
 
Namun terdapat kesalahpahaman juga, bahwa jika seseorang tidak mengenakan jilbab berwarna hitam, maka berarti jilbabnya berfungsi sebagai perhiasan. Hal ini berdasarkan beberapa atsar tentang perbuatan para sahabat wanita di zaman Rasulullah ﷺ yang mengenakan pakaian yang berwarna selain hitam. Salah satunya adalah atsar dari Ibrahim An Nakhai:
 
أنه كان يدخل مع علقمة و الأسود على أزواج النبي صلى الله عليه و سلم و يرا هن في اللحف الحمر
 
“Bahwa ia bersama Alqomah dan Al Aswad pernah mengunjungi para istri Nabi ﷺ dan ia melihat mereka mengenakan mantel-mantel berwarna merah.” [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al Mushannaf]
 
Catatan: Masalah warna ini berlaku bagi wanita. Adapun bagi pria, terdapat hadis yang menerangkan pelarangan penggunaan pakaian berwarna merah.
 
Dengan demikian, tolak ukur “Pakaian perhiasan ataukah bukan adalah berdasarkan ‘urf (kebiasaan).” (keterangan dari Syaikh Ali Al Halabi). Sehingga suatu warna atau motif menarik perhatian pada suatu masyarakat, maka itu terlarang dan hal ini boleh jadi tidak berlaku pada masyarakat lain.
 
3. Kainnya Harus Tebal, Tidak Tipis
 
Rasulullah ﷺ bersabda tentang dua kelompok yang termasuk Ahli Neraka dan beliau ﷺ belum pernah melihatnya:
 
وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
 
“Dua kelompok termasuk Ahli Neraka, aku belum pernah melihatnya, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengan cambuknya, dan wanita yang kasiyat (berpakaian tapi telanjang, baik karena tipis atau pendek yang tidak menutup auratnya), mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang), kepala mereka seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal baunya didapati dengan perjalanan demikian dan demikian.” [HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421 – lihat majalah Al Furqon Gresik]
 
Karena ancamannya demikian keras, para ulama memasukkannya dalam dosa-dosa besar. Betapa banyak wanita Muslimah yang seakan-akan menutupi badannya, namun pada hakikatnya telanjang. Maka dalam pemilihan bahan pakaian yang akan kita kenakan juga harus diperhatikan, karena sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr: “Bahan yang tipis dapat menggambarkan bentuk tubuh dan tidak dapat menyembunyikannya.” Syaikh Al Bani juga menegaskan: “Yang tipis (transparan) itu lebih parah dari yang menggambarkan lekuk tubuh (tapi tebal).” Bahkan kita ketahui, bahan yang tipis terkadang lebih mudah dalam mengikuti lekuk tubuh, sehingga sekalipun tidak transparan, bentuk tubuh seorang wanita menjadi mudah terlihat.
 
4. Harus Longgar, Tidak Ketat
 
Selain kain yang tebal dan tidak tipis, maka pakaian tersebut haruslah longgar, tidak ketat, sehingga tidak menampakkan bentuk tubuh wanita Muslimah. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadis dari Usamah bin Zaid ketika ia diberikan baju Qubthiyah yang tebal oleh Rasulullah ﷺ, ia memberikan baju tersebut kepada istrinya. Ketika Rasulullah ﷺ mengetahuinya, beliau ﷺ bersabda:
 
مرْها فلتجعل تحتها غلالة فإني أخاف أن تصف حجم عظمها
 
 “Perintahkanlah ia agar mengenakan baju dalam di balik Qubthiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tubuh.” [HR. Ad Dhiya’ Al Maqdisi, Ahmad dan Baihaqi dengan sanad hasan]
 
Maka tidak tepat jika seseorang mencukupkan dengan memakai rok, namun ternyata tetap memperlihatkan pinggul, kaki atau betisnya. Maka jika pakaian tersebut telah cukup tebal dan longgar, namun tetap memperlihatkan bentuk tubuh, maka dianjurkan bagi seorang Muslimah untuk memakai lapisan dalam. Namun janganlah mencukupkan dengan kaos kaki panjang, karena ini tidak cukup untuk menutupi bentuk tubuh (terutama untuk para saudariku yang sering tersingkap roknya ketika menaiki motor, sehingga terlihatlah bentuk betisnya). Poin ini juga menjadi jawaban bagi seseorang yang membolehkan penggunaan celana dengan alasan longgar dan pinggulnya ditutupi oleh baju yang panjang. Celana boleh digunakan untuk menjadi lapisan, namun bukan inti dari pakaian yang kita kenakan. Karena bentuk tubuh tetap terlihat dan hal itu menyerupai pakaian kaum laki-laki. (lihat poin 6). Jika ada yang beralasan celana supaya fleksibel, maka tidakkah ia ketahui, bahwa rok bahkan lebih fleksibel lagi jika memang sesuai persyaratan (jangan dibayangkan rok yang ketat/span). Kalaupun rok tidak fleksibel (walaupun pada asalnya fleksibel), apakah kita menganggap logika kita (yang mengatakan celana lebih fleksibel) lebih benar daripada syariat yang telah Allah dan Rasul-Nya ﷺ tetapkan?
 
5. Tidak Diberi Wewangian atau Parfum
 
Perhatikanlah salah satu sabda Nabi ﷺ berkaitan tentang wanita-wanita yang memakai wewangian ketika keluar rumah:
 
ايّما امرأةٍ استعطرتْ فمَرّتْ على قوم ليَجِدُوا رِيْحِها، فهيا زانِيةٌٍ
 
“Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.” [HR. Tirmidzi]
 
أيما امرأة أصابت بخورا فلا تشهد معنا العشاء الاخرة
 
“Siapapun perempuan yang memakai bakhur, maka janganlah ia menyertai kami dalam menunaikan shalat Isya’.” [HR. Muslim]
 
Syaikh Al Bani berkata: “Wewangian itu selain ada yang digunakan pada badan, ada pula yang digunakan pada pakaian.” Syaikh juga mengingatkan tentang penggunaan bakhur (wewangian yang dihasilkan dari pengasapan). Yang ini lebih banyak digunakan untuk pakaian, bahkan lebih khusus untuk pakaian. Maka hendaknya kita lebih berhati-hati lagi dalam menggunakan segala jenis bahan yang dapat menimbulkan wewangian pada pakaian yang kita kenakan keluar, semisal produk-produk pelicin pakaian yang disemprotkan untuk menghaluskan dan mewangikan pakaian (bahkan pada kenyataannya, bau wangi produk-produk tersebut sangat menyengat dan mudah tercium ketika terbawa angin). Lain halnya dengan produk yang memang secara tidak langsung dan tidak bisa dihindari membuat pakaian menjadi wangi, semisal deterjen yang digunakan ketika mencuci.
 
6. Tidak Menyerupai Pakaian Laki-Laki
 
Terdapat hadis-hadis yang menunjukkan larangan seorang wanita menyerupai laki-laki atau sebaliknya (tidak terbatas pada pakaian saja). Salah satu hadis yang melarang penyerupaan dalam masalah pakaian adalah hadis dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata:
 
لعن رسول الله صلى الله عليه و سلم الرجل يلبس لبسة المرأة و المرأة تلبس لبسة الرجل
 
“Rasulullah ﷺ melaknat pria yang memakai pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian pria.” [HR. Abu Dawud]
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Kesamaan dalam perkara lahir mengakibatkan kesamaan dan keserupaan dalam akhlak dan perbuatan.” Dengan menyerupai pakaian laki-laki, maka seorang wanita akan terpengaruh dengan perangai laki-laki, di mana ia akan menampakkan badannya dan menghilangkan rasa malu yang disyariatkan bagi wanita. Bahkan yang berdampak parah jika sampai membawa kepada maksiat lain, yaitu terbawa sifat kelaki-lakian, sehingga pada akhirnya menyukai sesama wanita. Wal’iyyadzubillah.
 
Terdapat dua landasan yang dapat digunakan sebagai acuan bagi kita untuk menghindari penggunaan pakaian yang menyerupai laki-laki.
 
1. Pakaian tersebut membedakan antara pria dan wanita.
2. Tertutupnya kaum wanita.
 
Sehingga dalam penggunaan pakaian yang sesuai syariat, ketika menghadapi yang bukan mahromnya adalah tidak sekadar yang membedakan antara pria dan wanita, namun tidak tertutup atau sekadar tertutup, tapi tidak membedakan dengan pakaian pria. Keduanya saling berkaitan. Lebih jelas lagi adalah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Kawakib yang dikutip oleh syaikh Al Bani, yang penulis ringkas menjadi poin-poin sebagai berikut untuk memudahkan pemahaman:
 
1. Prinsipnya bukan semata-mata apa yang dipilih, disukai dan biasa dipakai kaum pria dan kaum wanita.
2. Juga bukan pakaian tertentu yang dinyatakan Nabi ﷺ atau yang dikenakan oleh kaum pria dan wanita di masa beliau ﷺ.
3. Jenis pakaian yang digunakan sebagai penutup juga tidak ditentukan (sehingga jika seseorang memakai celana panjang dan kaos, kemudian menutup pakaian dan jilbab di atasnya yang sesuai perintah syariat sehingga bentuk tubuhnya tidak tampak, maka yang seperti ini tidak mengapa -pen)
 
Kesimpulannya, yang membedakan antara jenis pakaian pria dan wanita kembali kepada apa yang sesuai dengan apa yang diperintahkan bagi pria, dan apa yang diperintahkan bagi kaum wanita. Namun yang perlu diingat, pelarangan ini adalah dalam hal-hal yang tidak sesuai fitrahnya. Syaikh Muhammad bin Abu Jumrah rahimahullah sebagaimana dikutip oleh Syaikh Al Bani mengatakan: “Yang dilarang adalah masalah pakaian, gerak-gerik dan lainnya, bukan penyerupaan dalam perkara kebaikan.”
 
7. Tidak Menyerupai Pakaian Wanita-Wanita Kafir
 
Banyak dari poin yang telah disebutkan sebelumnya menjadi terasa berat untuk dilaksanakan oleh seorang wanita karena telah terpengaruh dengan pakaian wanita-wanita kafir. Betapa kita ketahui, mereka (orang kafir) suka menampakkan bentuk dan lekuk tubuh, memakai pakaian yang transparan, tidak peduli dengan penyerupaan pakaian wanita dengan pria. Bahkan terkadang mereka mendesain pakaian untuk wanita maskulin! Hanya kepada Allah-lah kita memohon perlindungan dan meminta pertolongan untuk dijauhkan dari kecintaan kepada orang-orang kafir. Allah ﷻ berfirman:
 
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” [QS. Al Hadid (57): 16]
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Firman Allah, ‘Janganlah mereka seperti…’ merupakan larangan mutlak dari tindakan menyerupai mereka….” (Al Iqtidha, dikutip oleh Syaikh Al Bani)
 
8. Bukan Pakaian Untuk Mencari Popularitas
 
 
“Barang siapa mengenakan pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan pada Hari Kiamat, kemudian membakarnya dengan api Naar.”
 
Adapun libas syuhrah (pakaian untuk mencari popularitas) adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal, yang dipakai seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah yang dipakai seseorang untuk menampakkan kezuhudan dan dengan tujuan riya. [Jilbab Muslimah]
 
Namun bukan berarti di sini seseorang tidak boleh memakai pakaian yang baik, atau bernilai mahal. Karena pengharaman di sini sebagaimana dikatakan oleh Imam Asy Syaukani adalah berkaitan dengan keinginan meraih popularitas. Jadi yang dipakai sebagai patokan adalah tujuan memakainya. Karena Allah ﷻ suka jika hambanya menampakkan kenikmatan yang telah Allah berikan padanya. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ
 
 
“Sesungguhnya Allah menyukai jika melihat bekas kenikmatan yang diberikan oleh-Nya ada pada seorang hamba.” [HR. Tirmidzi]
 
Penutup
 
Demikian sedikit penjelasan tentang pengertian jilbab dan penjelasan dari poin-poin tentang persyaratan jilbab Muslimah yang sesuai syariat. Janganlah kita terpedaya dengan segala aktivitas dan perkataan orang yang menjadikan seseorang cenderung merasa tidak mungkin untuk menggunakan jilbab yang sesuai syariat. Ingatlah, bahwa sesungguhnya tidak ada teman di Hari Akhir yang mau menanggung dosa yang kita lakukan. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan ketika menjalankan segala ibadah yang telah disyariatkan.
Wallahu a’lam.
 
Penyusun: Ummu Ziyad
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
 
Maraji’:
Majalah Al Furqon, edisi 12 tahun III
Jilbab Muslimah. Syaikh Al Bani. Pustaka At Tibyan
Maktabah Syamilah
***
 
 
[Artikel www.Muslimah.or.id]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#jilbab, #hijab, #khimar, #muslimah, #wanita, #perempuan, #punukunta, #punukonta, #pakaiantapitelanjang, #berpakaiantapitelanjang #pakaian yuhrah, #mencaripopularitas #syuhrah, #populer, #popularitas, #ngetrend, #trending, #model #syaratsyarat, #persyaratan #pakaianmuslimah
, ,

BOLEHKAH MEMBACA ALQURAN DENGAN AURAT TERBUKA?

BOLEHKAH MEMBACA ALQURAN DENGAN AURAT TERBUKA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BOLEHKAH MEMBACA ALQURAN DENGAN AURAT TERBUKA?

Pertanyaan:

Bolehkah kita membaca Ayat suci Alquran dengan keadaan aurat terbuka seperti mengaji, baik laki-laki maupun perempuan?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin ditanya tentang hukum wanita yang membaca Alquran tanpa memakai jilbab. Apakah semacam ini dibolehkan?

Beliau menjawab: “Untuk membaca Alquran, tidak ada persyaratan bagi wanita untuk menutup kepalanya, karena tidak disyaratkan untuk menutup aurat ketika membaca Alquran. Berbeda dengan shalat. Shalat seseorang bisa tidak sah kecuali dengan menutup aurat.”

Fatawa Nurun ala ad-Darb: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_4805.shtml

Pertanyaan semisal juga pernah diajukan di Syabakah Al-Fatwa Asy-Syar’iyah. Syaikh Prof. Dr. Ahmad Hajji Al-Kurdi memberi jawaban:

“Jika tidak ada dalil yang menunjukkan, bahwa tindakan itu termasuk melecehkan atau tidak menghormati Alquran, maka perbuatan semacam ini tidak haram. Hanya saja tidak sesuai dengan adab yang diajarkan ketika membaca Alquran.”

Allahu a’lam.

Sumber: http://www.islamic-fatwa.net/fatawa

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/9115-membaca-alquran-dengan-aurat-terbuka.html

,

KAMU AKHWAT SALAFIYAH ATAU ‘SELFIE-YAH’…?!

KAMU AKHWAT SALAFIYAH ATAU 'SELFIE-YAH'...?!

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

KAMU AKHWAT SALAFIYAH ATAU ‘SELFIE-YAH’…?!

>> Akibat Salah Kaprah Tentang Foto Akhwat Di Medsos

Sebagian Ikhwan dan Akhwat yang sudah ngaji mengira, bahwa seorang wanita, apabila telah menutup auratnya, terlebih telah bercadar, boleh kemudian difoto, baik difoto sendiri (selfie) atau orang lain, lalu kemudian diunggah ke internet dan media-media sosial seperti Facebook dan Twitter, atau dijadikan foto profil BBM, WA dan lain-lain.

Ini adalah KESALAHAN BESAR, karena wanita adalah aurat dan fitnah (godaan) yang muncul darinya bagi laki-laki sangat besar. Walau dimaklumi, bahwa foto wanita yang tidak menutup aurat pada umumnya lebih besar godaannya, tetapi bukan berarti foto wanita yang sudah menutup aurat tidak lagi menggoda kaum lelaki. Bahkan bagi sebagian lelaki (yang di hatinya ada penyakit syahwat), wanita yang menutup aurat malah lebih menggoda, lebih membuat penasaran…!

Dan sungguh sangat ironis, ketika seseorang dinasihati agar tidak melakukannya, maka ia berkata: Banyak Ikhwan dan Akhwat “Salafi” atau “bermanhaj salaf” yang melakukannya. Padahal dalil adalah Alquran dan As-Sunnah, dengan pemahaman Salaf. Bukan pemahaman atau selera sendiri.

Adapula yang beralasan untuk dakwah atau syiar Islam. Padahal dakwah dan syiar haruslah bersesuaian dengan dalil syari. Bukan malah menyelisihinya.

Perhatikanlah ayat yang mulia berikut ini:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada kaum laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” [An-Nur: 30]

Ayat yang mulia ini memerintahkan untuk menahan pandangan dari wanita yang tidak halal. Perhatikanlah dengan baik, apakah ayat ini bersifat umum, atau memberi pengkhususan, bahwa apabila wanita sudah menutup aurat boleh dipandang…?!

Jelas ayat tersebut berlaku umum, mencakup semua wanita. Kecuali yang dikhususkan dalam kondisi hajat atau darurat, seperti melihat untuk keperluan pernikahan, menjadi saksi, pengobatan dan lain-lain, dibolehkan, sebatas keperluan, dan tidak disertai syahwat.

Perhatikan juga sabda Rasulullah ﷺ:

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِى نَفْسِهِ

“Sesungguhnya wanita itu datang dalam rupa setan, dan pergi dalam rupa setan. Maka apabila seorang dari kalian melihat wanita, hendaklah ia mendatangi istrinya, karena dengan begitu akan menentramkan gejolak syahwat di jiwanya.” [HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu’anhu]

Apakah Rasulullah ﷺ mengatakan: bahwa wanita yang membuka aurat datang dalam rupa setan, dan wanita yang sudah menutup aurat datang dalam rupa malaikat…?!

Tidak, beliau ﷺ hanya mengatakan wanita. Maka berlaku umum, apakah yang sudah menutup aurat atau belum, hukumnya sama saja, tidak boleh dilihat tanpa alasan yang dibenarkan syariat.

Oleh karena itu Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

قال العلماء معناه الاشارة إلى الهوى والدعاء إلى الفتنة بها لما جعله الله تعالى في نفوس الرجال من الميل إلى النساء والالتذاذ بنظرهن وما يتعلق بهن فهي شبيهة بالشيطان في دعائه إلى الشر بوسوسته وتزيينه له ويستنبط من هذا أنه ينبغى لها أن لا تخرج بين الرجال الا لضرورة وأنه ينبغى للرجل الغض عن ثيابها والاعراض عنها مطلقا

“Ulama berkata: makna hadis ini adalah peringatan dari hawa nafsu dan (bahaya) ajakan kepada fitnah (godaan) wanita, karena Allah telah menjadikan di hati-hati kaum lelaki adanya kecenderungan terhadap para wanita, dan merasa nikmat ketika memandang mereka, dan apa yang terkait dengan mereka. Maka wanita menyerupai setan dari sisi ajakannya kepada kejelekan, dengan bisikannya dan tipuannya.

Dan dapat diambil kesimpulan hukum dari hadis ini, bahwa TIDAK BOLEH bagi wanita untuk keluar di antara kaum lelaki, kecuali karena satu alasan darurat (sangat mendesak). Dan hendaklah kaum lelaki menundukkan pandangan; tidak boleh melihat pakaiannya dan hendaklah berpaling darinya secara mutlak.” [Syarhu Muslim, 9/178]

Perhatikanlah beberapa poin penjelasan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah di atas:

  1. Beliau rahimahullah berkata: “Makna hadis ini adalah peringatan dari hawa nafsu dan (bahaya) ajakan kepada fitnah (godaan) wanita”. Maka hadis yang mulia ini menjelaskan tentang fitnah wanita secara umum, tidak khusus yang membuka aurat. Walau dimaklumi, pada umumnya yang membuka aurat lebih besar fitnahnya, tetapi tidak berarti yang menutup aurat tidak ada fitnahnya sama sekali.
  2. Beliau rahimahullah berkata: “Karena Allah telah menjadikan di hati-hati kaum lelaki adanya kecenderungan terhadap para wanita, dan merasa nikmat ketika memandang mereka, dan apa yang terkait dengan mereka”, apakah ‘kecenderungan’ atau ‘kecondongan’ laki-laki hanya kepada wanita yang membuka aurat, atau kepada semua wanita termasuk yang menutup aurat…?! Bahkan sebagian laki-laki, lebih cenderung (menyukai) kepada wanita yang telah menutup aurat.
  3. Beliau rahimahullah berkata: “Wanita menyerupai setan dari sisi ajakannya kepada kejelekan dengan bisikannya dan tipuannya”, apakah yang sanggup menjerumuskan kaum lelaki dalam hubungan terlarang, hanya wanita yang membuka aurat, ataukah semua wanita, termasuk yang sudah menutup aurat, bahkan yang sudah bersuami mungkin untuk melakukannya…?!
  4. Beliau rahimahullah berkata: “Dan dapat diambil kesimpulan hukum dari hadis ini, bahwa tidak boleh bagi wanita untuk keluar di antara kaum lelaki, kecuali karena satu alasan darurat (sangat mendesak)”. Ucapan beliau ini juga umum, mencakup wanita yang sudah menutup aurat, apalagi yang tidak menutup aurat.
  5. Beliau rahimahullah berkata: “Dan hendaklah kaum lelaki menundukkan pandangan; tidak boleh melihat pakaiannya”, inilah ucapan beliau yang paling jelas menunjukkan, bahwa wanita tidak boleh dilihat tanpa alasan yang dibenarkan syariat, walau sudah menutup aurat, berdasarkan hadis yang mulia di atas. Dan apabila telapak kakinya dan pakaiannya tidak boleh dilihat, apalagi wajahnya.
  6. Beliau rahimahullah berkata: “Dan hendaklah berpaling darinya secara mutlak”, mutlak artinya umum, tidak boleh sama sekali melihatnya, kecuali dengan alasan yang sesuai syariat seperti untuk pernikahan, persaksian di pengadilan dan lain-lain.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَإِنَّهَا أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى اللَّهِ وَهِيَ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

“Wanita adalah aurat. Apabila ia keluar dari rumahnya, maka setan akan menghiasinya. Dan sesungguhnya seorang wanita lebih dekat kepada Allah ta’ala ketika ia berada di dalam rumahnya.” [HR. At-Tirmidzi dan Ath-Thabarani, dan lafal ini milik beliau, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 2688]

Perhatikanlah beberapa poin dalam hadis yang mulia ini;

  1. Rasulullah ﷺ mengatakan: “Wanita itu adalah aurat”. Ini adalah lafal umum, mencakup wanita yang sudah menutup aurat atau belum.
  2. Beliau ﷺ mengatakan: “Apabila ia keluar dari rumahnya, maka setan akan menghiasinya”. Beliau ﷺ tidak mengatakan: “Apabila ia keluar dari rumahnya ‘tanpa menutup aurat’ maka setan akan menghiasinya”. Jadi sama saja, penampakkan wanita terhadap kaum lelaki, apakah secara langsung atau melalui foto, membuka aurat atau menutup aurat, akan dihiasi oleh setan.
  3. Beliau ﷺ mengatakan: “Dan sesungguhnya seorang wanita lebih dekat kepada Allah ta’ala ketika ia berada di dalam rumahnya.” Hadis yang mulia ini menunjukkan, bahwa wanita hendaklah diam di rumah agar tidak terlihat. Dan lafalnya umum, mencakup wanita yang menutup aurat, dan terlebih lagi yang membuka aurat. Apakah masuk akal jika seorang wanita berdiam di rumah, tapi menampakkan dirinya lewat media-media…?!

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki, melebihi cobaan wanita.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid radhiyallahu’ahuma]

Perhatikanlah hadis yang mulia ini menegaskan, bahwa wanita adalah fitnah terbesar bagi kaum lelaki, tanpa membedakan apakah fitnahya ketika ia membuka aurat, atau menutup aurat.

Dan renungkanlah hadis yang mulia ini, Rasulullah ﷺ mengingatkan, bahwa wanita adalah fitnah terbesar bagi lelaki. Koq ada orang yang sudah mengenal Sunnah, kemudian bergampangan mengunggah foto-foto wanita di medsos…?!

Al-‘Allamah Al-Faqih Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

وإخبار النبي صلى الله عليه وسلم بذلك يريد به الحذر من فتنة النساء، وأن يكون الناس منها على حذر؛ لأن الإنسان بشر إذا عرضت عليه الفتن، فإنه يخشى عليه منها

“Maksud pengabaran Nabi ﷺ dalam hadis ini adalah agar berhati-hati dari godaan wanita. Dan manusia hendaklah selalu waspada, karena manusia hanyalah orang biasa. Apabila diperhadapkan kepada cobaan, maka dikhawatirkan ia akan terjerumus.” [Syarhu Riyadhus Shaalihin, 3/151]

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

ويستفاد منه سد كل طريق يوجب الفتنة بالمرأة، فكل طريق يوجب الفتنة بالمرأة؛ فإن الواجب على المسلمين سده، ولذلك وجب على المرأة أن تحتجب عن الرجال الأجانب، فتغطي وجهها، وكذلك تغطي يديها ورجليها عند كثير من أهل العلم، ويجب عليها كذلك أن تبتعد عن الاختلاط بالرجال؛ لأن الاختلاط بالرجال فتنة وسبب للشر من الجانبين، من جانب الرجال ومن جانب النساء

“Dapat dipetik pelajaran dari hadis ini, untuk menutup semua jalan yang memunculkan fitnah dengan wanita. Maka setiap jalan yang memunculkan fitnah dengan wanita, wajib bagi kaum Muslimin untuk menutupnya. Makanya wajib bagi seorang wanita untuk berhijab dari laki-laki non-mahram. Hendaklah ia menutup wajahnya, demikian pula menutup kedua tangan dan kakinya, menurut pendapat banyak ulama. Demikian pula wajib atas seorang wanita untuk menjauhi ikhtilat (campur baur) dengan kaum lelaki. Karena ikhtilat dengan kaum lelaki adalah fitnah dan sebab terjerumus dalam kejelekan dari kedua belah pihak, baik dari pihak lelaki maupun wanita.” [Syarhu Riyadhus Shaalihin, 3/151-152]

Ini salah kaprah yang pertama. Salah kaprah yang kedua terkait gambar makhluk bernyawa, sebagian orang yang memegang pendapat, bahwa foto tidak termasuk gambar bernyawa, karena ada sebagian ulama seperti Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah yang berfatwa demikian. Maka mereka kembali salah kaprah dua kali dalam permasalahan ini:

Pertama: Mereka mengira para ulama yang berfatwa, bahwa foto tidak termasuk gambar bernyawa, kemudian membolehkan para wanita difoto dan disebarkan di media-media. Padahal tidak seorang ulama pun yang membolehkannya, tanpa alasan darurat, karena besarnya fitnah wanita, sependek yang kami ketahui.

Kedua: Mereka mengira, para ulama tersebut membolehkan dalam semua keadaan. Pendapat yang benar insya Allah ta’ala, ulama yang tidak menganggap foto termasuk gambar bernyawa, hanya membolehkan ketika ada hajat (kebutuhan atau keperluan) seperti untuk KTP, paspor dan lain-lain.

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

فلو أن شخصا صور إنسانا لما يسمونه بالذكرى، سواء كانت هذه الذكرى للتمتع بالنظر إليه أو التلذذ به أو من أجل الحنان والشوق إليه; فإن ذلك محرم ولا يجوز لما فيه من اقتناء الصور; لأنه لا شك أن هذه صورة ولا أحد ينكر ذلك وإذا كان لغرض مباح كما يوجد في التابعية والرخصة والجواز وما أشبهه; فهذا يكون مباحا

“Andai seseorang memotret orang lain yang biasa mereka namakan foto kenangan, sama saja foto kenangan ini agar senang atau gembira ketika melihatnya, ataukah karena sayang dan kangen kepadanya, maka itu haram dan tidak boleh, karena terkandung padanya kepemilikan gambar bernyawa. Karena tidak diragukan lagi, bahwa foto itu adalah gambar (bukan aslinya), dan tidak ada seorang pun yang mengingkari kenyataan tersebut. Dan apabila memotret untuk tujuan yang mubah, sebagaimana dalam aturan kependudukan, perizinan, imigrasi dan yang semisalnya, maka hukumnya mubah.” [Al-Qoulul Mufid, 2/440]

Penjelasan Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah ini juga menunjukkan, bahwa foto-foto Ikhwan (laki-laki) tanpa suatu hajat juga terlarang, atau sepatutnya dihindari. Ini pendapat terkuat insya Allah ta’ala, dalam rangka berhati-hati dan mencegah serta menutup semua pintu yang dapat mengantarkan kepada yang haram.

Dan sebagian ulama berpendapat, bahwa foto termasuk gambar bernyawa, karena dalil-dalil yang melarangnya bersifat umum, tidak membedakan antara gambar yang dibuat dengan tangan atau dengan alat, seperti dalam hadis berikut:

عَنْ عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا اشْتَرَتْ نُمْرُقَةً فِيهَا تَصَاوِيرُ فَلَمَّا رَآهَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَامَ عَلَى الْبَابِ فَلَمْ يَدْخُلْ فَعَرَفَتْ فِي وَجْهِهِ الْكَرَاهِيَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ أَتُوبُ إِلَى اللهِ وَإِلَى رَسُولِهِ مَاذَا أَذْنَبْتُ قَالَ مَا بَالُ هَذِهِ النُّمْرُقَةِ فَقَالَتِ اشْتَرَيْتُهَا لِتَقْعُدَ عَلَيْهَا وَتَوَسَّدَهَا ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ – وَقَالَ – إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لاَ تَدْخُلُهُ الْمَلاَئِكَةُ

“Dari Aisyah radhiyallahu’anha, seorang istri Nabi ﷺ, bahwasanya beliau mengabarkan kepada Nabi ﷺ, bahwa beliau telah membeli bantal yang padanya terdapat gambar-gambar bernyawa. Ketika Rasulullah ﷺ melihatnya, maka beliau hanya berdiri di pintu, tidak mau memasuki rumah. Aisyah pun mengetahui ketidaksukaan Rasulullah ﷺ yang tergambar pada wajah beliau. Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah, aku kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Apakah dosaku?” Beliau ﷺ bersabda: “Untuk apa bantal ini?” Aisyah menjawab: “Aku belikan untuk engkau duduk di atasnya dan bersandar padanya.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya para pemilik gambar-gambar ini akan diazab pada Hari Kiamat dan dikatakan kepada mereka: Hidupkan yang telah kalian ciptakan.” Dan Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya rumah yang terdapat padanya gambar-gambar bernyawa tidak akan dimasuki oleh malaikat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Sahabat yang mulia Abu Juhaifah radhiyallahu’anhu berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الدَّمِ، وَثَمَنِ الكَلْبِ، وَكَسْبِ الأَمَةِ، وَلَعَنَ الوَاشِمَةَ وَالمُسْتَوْشِمَةَ، وَآكِلَ الرِّبَا، وَمُوكِلَهُ، وَلَعَنَ المُصَوِّرَ

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melarang harga anjing, harga darah dan penghasilan budak wanita dari zina. Dan melaknat wanita yang membuat tato dan meminta ditato, melaknat pemakan riba dan pemberi makannya, dan melaknat tukang gambar (yang bernyawa).” [HR. Al-Bukhari]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

📲 KAMU AKHWAT SALAFIYAH ATAU 'SELFIE-YAH'…?!📷 AKIBAT SALAH KAPRAH TENTANG FOTO AKHWAT DI MEDSOS➡ Sebagian Ikhwan…

Posted by Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info on Saturday, May 20, 2017

#MuslimahSholihah
#FatwaUlama
#DakwahSunnah

 

,

APAKAH MENINGGALKAN HIJAB (JILBAB) MERUSAK PUASA?

APAKAH MENINGGALKAN HIJAB (JILBAB) MERUSAK PUASA?

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

#SeriPuasaRamadan

APAKAH MENINGGALKAN HIJAB (JILBAB) MERUSAK PUASA?

Pertanyaan:
Saya wanita yang tidak berjilbab, apakah hal itu merusak puasaku di bulan Ramadan?
 
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Pertama,

Seorang wanita Mukminah diperintahkan berjilbab. Telah ada dalam website ini (https://islamqa.info/) pendapat seputar jilbab di banyak jawaban. Jawaban tersebut dalam berbagai bentuk, di antaranya penjelasan tentang hukum jilbab, bahwa hal itu wajib, sebagaimana dalam soal jawab no. 21536. Di antaranya disebutkan dalil yang menunjukkan akan kewajiban berjilbab, sebagaimana di soal jawab no. 13998 dan no. 11774. Di antaranya penjelasan sifat jilbab yang sesuai agama, sebagaimana dalam soal jawab no. 6991, dan jawaban lain yang menunjukkan akan urgensinya jilbab dalam kehidupan seoarang wanita Muslimah.

Kedua,

Kalau wanita meninggalkan jilbab, maka dia telah berbuat maksiat kepada Tuhannya, akan tetapi puasanya tetap sah. Karena kemaksiatan, di antaranya meninggalkan jilbab, tidak merusak puasa, cuma MENGURANGI pahala, bahkan bisa hilang semua pahalanya. Kami ajak Anda untuk komitmen berjilbab   dengan berpuasa. Karena maksud dari puasa bukan sekadar menahan dari makan dan minum saja.  Akan tetapi maksud puasa adalah (menahan dari) yang diharamkan.

Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda:

ليس الصيام من الأكل والشرب ، إنما الصيام من اللغو والرفث (رواه الحاكم وصححه الألباني في صحيح الجامع، رقم 5376)

“Puasa tidak hanya (menahan dari) makan dan minum. Akan tetapi (hakikat) puasa adalah (menahan) dari perbuatan sia-sia dan perkataan jorok.” [HR. Hakim dishahihkan Al-Albany dalam shahih Al-Jami, 5376]

Kata Al-Laghwu adalah perkataan batil. Pendapat lain mengatakan sesuatu yang tidak ada faidahnya

Dan kata Ar-Rafats adalah perkataan jorok.

Maka hendaknya puasa Anda sebagai pemicu untuk taat kepada Allah ta’ala dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.

Kami memohon kepada Allah ta’ala agar memberi taufik kepada Anda, kepada apa yang dicintai dan diridai.

Wallau’alam.

 

Sumber: https://islamqa.info/id/107624