Posts

, ,

HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH

HIDAYAH-HANYA-MILIK-ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH
 
Dalam shirah Nabi ﷺ dijelaskan, bahwa paman Nabi ﷺ, Abu Thalib, biasa melindungi Nabi ﷺ dari gangguan kaumnya. Perlindungan yang diberikan ini tidak ada yang menandinginya. Oleh karenanya Nabi ﷺ mengharapkan hidayah itu datang pada pamannya. Saat menjeleng wafatnya, Nabi ﷺ menjenguk pamannya tersebut dan ingin menawarkan pamannya masuk Islam. Beliau ﷺ ingin agar pamannya bisa menutupi hidupnya dengan kalimat “Laa ilaha illallah” karena kalimat inilah yang akan membuka pintu kebahagiaan di Akhirat. Berikut kisah yang disebutkan dalam hadis.
 
Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata: “Ketika menjelang Abu Thalib (paman Nabi ﷺ) meninggal dunia, Rasulullah ﷺ menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Ketika itu Nabi ﷺ mengatakan pada pamannya:
أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
 
“Wahai pamanku, katakanlah ‘Laa ilaha illalah’, yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”
 
Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah berkata:
 
يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
 
“Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthallib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Mutthalib.
 
Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan:
لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ
 
“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah.”
 
Kemudian turunlah ayat:
 
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
 
“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahanam.” [QS. At-Taubah: 113]
 
Allah ta’ala pun menurunkan ayat:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56] [HR. Bukhari no. 3884] 
 
Dari pembahasan hadis di atas dapat disimpulkan hidayah itu ada dua macam:
 
1. Hidayah Irsyad Wa Dalalah, maksudnya adalah hidayah berupa memberi petunjuk pada orang lain.
2. Hidayah Taufik, maksudnya adalah hidayah untuk membuat seseorang itu taat pada Allah.
 
Hidayah pertama bisa disematkan pada manusia. Contohnya pada firman Allah:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
 
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. Asy-Syura: 52] Memberi petunjuk yang dimaksud di sini adalah memberi petunjuk berupa penjelasan. Ini bisa dilakukan oleh Nabi dan yang lainnya.
 
Namun untuk hidayah kedua, yaitu hidayah supaya bisa beramal dan taat, TIDAK dimiliki kecuali hanya Allah saja. Seperti dalam firman Allah ta’ala:
 
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56]
 
Allah ta’ala berfirman:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
 
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]
 
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
, ,

HUKUM MENDOAKAN ORANG KAFIR AGAR DAPAT HIDAYAH

HUKUM MENDOAKAN ORANG KAFIR AGAR DAPAT HIDAYAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#ManhajSalaf

 
HUKUM MENDOAKAN ORANG KAFIR AGAR DAPAT HIDAYAH
 
Pertanyaan:
Bolehkah mendoakan orang non-Muslim agar mendapatkan hidayah? Karena ada yang pernah bilang, katanya nggak boleh.
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Ada dua hal yang perlu dibedakan terkait doa kebaikan untuk orang kafir:
Pertama: Istighfar (Permohonan Ampunan), dan
Kedua: Permohonan Hidayah
 
Pertama: Permohonan Ampunan (Istighfar)
 
Berdoa kepada Allah, memohonkan ampun untuk orang musyrik, HUKUMNYA HARAM dalam Islam. Allah berfirman:
 
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُوْلِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ( ) وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لأَبِيهِ إِلا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لأَوَّاهٌ حَلِيمٌ
 
“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” [QS. At-Taubah: 113 – 114]
 
Sabab Nuzul
 
Ayat ini diturunkan terkait peristiwa Nabi ﷺ mendakwahkan Islam kepada pamannya Abu Thalib di detik kematiannya. Namun dia enggan untuk menerima Islam, karena merasa malu dengan masyarakatnya. Dia pun mati dalam kondisi musyrik. Rasa sedih pun menyelimuti Rasulullah ﷺ, sampai beliau ﷺ bersabda:
 
لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ
 
“Sungguh aku akan memintakan ampunan untukmu, selama aku tidak dilarang.” Kemudian Allah menurunkan ayat di atas dan Surat Al-Qashas ayat 56. [HR. Bukhari 3884]
 
Keterangan as-Sa’di:
 
Maksud ayat, tidak selayaknya seorang nabi atau semua orang yang beriman kepada beliau, memohonkan ampunan untuk orang musyrik, meskipun mereka adalah kerabat dekatnya. Sementara permohonan ampun untuk orang musyrik yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim kepada bapaknya, itu karena suatu janji yang pernah beliau ikrarkan, seperti yang Allah ceritakan di surat Maryam. Dan itu sebelum dia mengetahui akhir kehidupan bapaknya. Namun, setelah Ibrahim menyadari bahwa ayahnya adalah musuh Allah, dan akan mati dalam kekufuran, serta berbagai nasihat tidak lagi bermanfaat baginya, Ibrahim pun berlepas diri dari ayahnya, menyesuaikan diri dengan aturan Allah. [Tafsir as-Sa’di, hlm. 353]
 
Dalil yang lain adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لأُمِّي فَلَمْ يَأْذَنْ لِي ، وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأَذِنَ لِي
 
“Saya minta izin Rabku untuk memohonkan ampun bagi ibuku, namun Dia tidak mengizinkanku. Lalu aku minta izin untuk menziarahi kuburnya, dan Dia mengizinkanku.” [HR. Muslim 976]
 
Mengapa Dilarang?
 
Sesungguhnya Nabi ﷺ dan orang yang beriman dituntut untuk mengimani segala sesuatu yang telah Allah tetapkan, mencintai apa yang Allah cintai dan membenci apa yang Allah benci, memberikan loyalitas kepada orang yang Allah beri loyalitas, dan memusuhi semua orang yang Allah musuhi. Sementara memohonkan ampun untuk ORANG YANG MATI KAFIR, bertentangan dengan prinsip ini. [Demikian keterangan as-Sa’di dalam Tafsirnya, hlm. 353]
 
Barangkali informasi yang Anda dengar, bahwa kita tidak boleh mendoakan orang kafir agar dapat hidayah, maksudnya adalah mendoakan orang kafir agar mendapatkan ampunan.
 
Kedua: Memohonkan Hidayah
 
Memohonkan ampun untuk orang musyrik, tentu berbeda dengan memohon hidayah untuk mereka. Kita DIBOLEHKAN memohonkan hidayah untuk mereka. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan hal ini, di antaranya:
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan:
 
Thufail bin Amir pernah mendatangi Nabi ﷺ mengadukan pembangkangan yang dilakukan kaumnya. Thufail mengatakan:
 
إِنَّ دَوْسًا قَدْ عَصَتْ وَأَبَتْ ، فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهِمْ
 
“Sesungguhya Suku Daus telah bermaksiat dan enggan menerima Islam. Doakanlah keburukan untuk mereka.”
 
Kemudian Nabi ﷺ berdoa:
 
اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ
 
“Ya Allah, berilah petunjuk kepada Suku Daus dan datangkanlah mereka (ke Madinah).” [HR. Bukhari 2937 dan Muslim 2524]
 
Imam Bukhari membuat judul bab untuk hadis ini dalam shahihnya:
 
بَابُ الدُّعَاءِ لِلْمُشْرِكِينَ بِالْهُدَى لِيَتَأَلَّفَهُمْ
 
Bab: Mendoakan Kebaikan untuk Orang Musyrik dalam Bentuk Permohonan Hidayah Agar Bisa Mengambil Hati Mereka (Shahih Bukhari]
 
Hadis selanjutnya adalah dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu:
 
كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ : يَرْحَمُكُمْ اللَّهُ ، فَيَقُولُ : يَهْدِيكُمُ اللَّهُ ، وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
 
Dulu orang-orang Yahudi bersin di dekat Nabi ﷺ, dengan harapan mereka mendapatkan doa Nabi ﷺ untuk orang bersin: “Semoga Allah merahmati kalian.” Namun doa yang diucapkan Nabi ﷺ: “Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kalian dan memperbaiki keadaan kalian.” [HR. Turmudzi 2739 dan dishahihkan al-Albani]
 
Allahu a’lam
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

══════

 

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

HIDAYAH ITU DICARI, BUKAN DITUNGGU

HIDAYAH ITU DICARI, BUKAN DITUNGGU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

HIDAYAH ITU DICARI, BUKAN DITUNGGU

Kita layak terpukau dengan kisah-kisah orang-orang yang mendapatkan hidayah, lalu hidayah itu merubah drastis jalan hidupnya. Tapi kita juga pantas bertanya, mengapa tingkat kebaikan kita tidak setinggi mereka tersebut? Kita sudah lama memeluk agama Islam, tapi mengapa Islam kita masih biasa-biasa saja? Baik dalam hal ilmu, amal, maupun peran yang dapat kita lakukan untuk kemajuan Islam.

Kemampuan seseorang untuk melahirkan amal, bergantung seberapa  besar kadar hidayah yang bersemayam di hatinya. Baik Hidayah Irsyad atau petunjuk yang berupa pengetahuan terhadap kebenaran, juga Hidayah Taufik yang menjadikan kebutuhan manusia untuk mendapatkan hidayah.  Karenanya, manusia memerlukan hidayah untuk memeroleh setiap maslahat, baik Duniawi maupun Ukhrowi.

Inilah jawabannya, meskipun kita telah mendapatkan hidayah Islam, mengapa masih tetap diperintahkan memohon hidayah kepada Allah, paling minim, 17 kali dalam sehari semalam kita membaca di dalam sholat,

“Tunjukkilah kami jalan yang lurus,” (QS. Al-Fatihah 6)

Selain hidayah Islam, kita juga membutuhkan hidayah yang bersifat tafshili. Untuk menjalani Islam dengan benar, kita perlu hidayah ilmu. Kita perlu petunjuk, apa yang harus kita imani, bagaimana cara kita beribadah kepada Allah, apa saja rincian kebaikan, sehingga kita bisa menjalankan, mana jenis kemaksiatan yang harus kita hindari. Ini semua butuh hidayah irsyad, memerlukan petunjuk ilmu.

Setelah mengetahui ilmunya, kita juga membutuhkan hidayah taufik, agar kita mampu menerapkan ilmu ke dalam amal, juga untuk istiqomah. Karena tidak sedikit orang yang telah mengetahui berbagai jenis amal saleh, namun tidak diberi kekuatan untuk menjalaninya. Meskipun ia orang yang kuat dan berotot, tanpa hidayah, ia tak mampu berbuat apa-apa. Ada pula yang sudah mengerti sederetan kemaksiatan dan segudang perkara yang haram, namun ia tak kuasa untuk melepaskan diri dari belengu syahwatnya. Kita membutuhkan hidayah untuk mengenali kebenaran, butuh pula hidayah untuk mampu berpegang di atasnya.

Mungkin tersisa dibenak kita, mengapa kita masih saja “Biasa”. Tidak tampak efek luar biasa, padahal kita juga berdoa kepada Allah, paling tidak 17 kali dalam sehari semalam. Allah tidak mungkin bakhil, tidak pula menyalahi janji-Nya atas hamba-Nya. Efek yang belum terasa, atau tidak begitu kuat pengaruhnya, boleh jadi karena kurangnya penghayatan kita terhadap doa yang kita panjatkan. Kita memohon kepadanya, namun tidak tau apa yang kita minta, atau tidak menyadari, permohonan apa yang kita panjatkan kepada-Nya. Allah tidak mengabulkan doa yang berangkat dari hati yang lalai.

“Ketahuilah, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai” (HR Tirmizi, Al-Albani menyatakan, “hadis Hasan”).

Atau bisa jadi pula, karena ikhtiar kita untuk mendapatkan hidayah belum optimal. Selain doa yang menuntut hadirnya hati, juga terhindarnya kita dari faktor-faktor penghalang terkabulnya doa, mestinya kita iringi doa dengan ikhtiar. Hidayah irsyad  kita cari dengan banyak belajar, menelaah Alquran dan As-Sunnah, mengaji kitab-kitab yang ditulis para ulama, maupun menghadiri majelis-majelis ilmu. Adapun hidayah taufik hendaknya kita cari dengan bergaul bersama orang-orang saleh dan bermujahadah untuk menjalankan amal-amal penyubur iman.

Salah jika berpikir, bahwa mendapat hidayah berarti Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan malaikat yang akan menurunkan seseorang sesat, lalu masuk Islam, bertaubat, menuntunnya melakukan amal kebaikan setiap saat sepanjang hidupnya, tanpa ada usaha dari orang tersebut.

Hidayah adalah petunjuk yang secara halus menunjukkan dan mengantarkan kepada sesuatu yang dicari. Dan yang paling dicari manusia semestinya adalah keselamatan di dunia dan Akhirat. Untuk mendapatkannya, Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi bekal bagi setiap manusia dengan berbagai arahan, yang akan membawa menuju keselamatan. Namun Allah subhanahu wa ta’ala juga memberinya pilihan, sehingga ada yang mengikuti petunjuk lalu selamat, dan ada yang tidak mengacuhkannya, lalu celaka.

Imam Ibnul Qayyim dan Imam al Fairusz Abadi menjelaskan, Allah telah memberikan petunjuk secara halus kepada setiap manusia agar selamat hingga Hari Kiamat, bahkan sejak hari kelahirannya. Beliau menyebutkan:

Tahapan pertama adalah memberikan Al Hidayah Al Amah, yaitu hidayah yang bersifat umum yang diberikan kepada setiap manusia, bahkan setiap mahluknya. Yaitu petunjuk berupa instink, akal, kecerdasan dan pengetahuan dasar, agar makhluknya bisa mencari dan mendapatkan berbagai hal, yang memberinya maslahat. Hidayah inilah yang dimaksud dalam ayat,

“Musa berkata; ‘Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (QS.Thaha: 50)

Dengan bekal ini, manusia bisa menyerap, memahami dan melaksanakan berbagai arahan dan bimbingan yang diberikan kepadanya.

Tahapan kedua adalah Hidayatul Dilalah Wal Bayan atau Hidayatul Irsayad, yaitu petunjuk berupa arahan dan penjelasan yang akan mengantarkan manusia kepada keselamatan dunia dan Akhirat. Semua itu terangkum dalam risalah yang disampaikan melalui Nabi dan Rasul-Nya.  Allah berfirman:

“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami.” (QS.21:73)

Risalah yang dibawa oleh Muhammad ﷺ adalah Hidayatul Bayan paripurna yang telah Allah berikan kepada manusia. Sifatnya hanya memberi penjelasan dan arahan, agar manusia bisa meraih keselamatan. Mengikuti atau tidak, Allah memberikan pilihan kepada setiap manusia berupa ikhtiar. Sehingga ada di antara mereka yang mengetahui, kemudian mengikuti dan terus melazimi hingga menjadi mukmin yang taat. Namun ada pula yang enggan bahkan menentang. Yang mengetahui, lalu mengikuti dan berusaha tetap berada di atas kebenaran, akan selamat. Sebaliknya, yang mengetahui lalu berpaling, akan binasa.

Kemudia, fase ketiga adalah Hidayatut Taufiq, yaitu petunjuk yang khusus diberikan kepada orang–orang yang dikehendaki Allah. Hidayah yang menuntun hati seseorang untuk beriman dan beramal sesuai dengan tuntunan-Nya. Cahaya yang menerangi hati dari gelapnya kesesatan dan membimbingnya menuju jalan kebaikan. Hidayah yang mutlak hanya dimiliki dan diberikan oleh Allah inilah yang melunakkan hati seseorang, hingga ia mau menjawab seruan dakwah. Dan hidayah ini pulalah yang menuntun mereka agar tetap berada di atas jalan yang lurus.

Hidayah ini adalah buah dari Hidayatul Irsyad. Seseorang tidak mungkin akan mendapat hidayah ini, jika belum mendapatkan Hidayatul Irsyad sebelumnya. Namun tidak semua orang yang sudah mendapat Hidayatul Irsyad pasti mendapatkan Hidayatut Taufiq.

Seperti sudah dipaparkan tadi, bahwa tugas dan kewenangan Nabi ﷺ, juga orang-orang yang menjadi pewaris para Nabi ﷺ hanyalah menjelaskan dan menyampaikan. Mereka tidak akan mampu membuat atau memaksa seseorang mengikuiti apa yang mereka dakwahkan, jika orang tersebut lebih memilih jalan kesesatan dan tidak diberi Hidayatut Taufiq oleh Allah. Allah berfirman:

”Sesungguhnya engkau takkan bisa memberikan hidayah (taufiq) kepada orang yang engkau cintai. Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa pun yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. “ (QS. Al-Qashash:56).

Yang terakhir adalah hidayah di Akhirat. Petunjuk di Akhirat yang menuntun manusia menuju Jannah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, salah seorang dari mereka lebih tahu arah menuju rumah-Nya di Jannah, daripada arah menuju rumahnya di dunia.“

Keempat fase ini saling terkait secara berurutan. Tanpa adanya hidayah pertama, seseorang tidak akan bisa mendapatkan hidayah yang kedua berupa Irsyad, arahan dan bimbingan dari Rasulullah ﷺ. Sebab orang yang akalnya tidak sempurna (gila maupun idiot) tidak bisa menyerap dan menalar berbagai ilmu dan bimbingan dari siapapun. Kalaupun bisa, daya serapnya sangat minim, sehingga mereka justru di bebaskan dari semua taklif dan tanggung jawab.

Sedang hidayah yang ketiga, tidak mungkin bisa diraih sebelum seseorang mendapatkan hidayah yang pertama dan kedua. Taufiq dari Allah hanya akan turun kepada orang yang telah mendengar risalah dan kebenaran. Demikian pula hidayah yang keempat. Dan Allah Maha Mengetahui siapa yang benar-benar mencari dan berhak mendapatkan hidayah dari-Nya.

Hidayah Al amah kita semua sudah memilikinya. Adapun hidayah di Akhirat, bukan lain adalah buah dari yang kedua dan ketiga. Sehingga yang harus kita cari semasa hidup di dunia adalah Hidayatul Irsyad dan Hidayatut Taufiq. Ibnu Katsier menjelaskan hidayah kita pinta dalam surat Al Fatihah adalah dua hidayah tersebut.

Hidayatul Irsyad adalah ilmu syari yang sahih, di mana kita bisa mengetahui kebenaran (Ma’rifatul Haq). Sedang hidayatut Taufiq adalah kelapangan hati untuk mengamalkan dan selalu berada di atas kebenaran. Dua hal ini tidak akan kita dapatkan, jika Allah tidak menghendaki kita mendapatkannya. Sehingga yang harus kita lakukan adalah mencari dan memohon kepada Pemiliknya. Mencari berbagai hal yang bisa mendatangkan hidayah dan berusaha menghancurkan semua yang menghalangi kita dari hidayah.

Syaikh Abdurahman bin Abdullah as Sahim, dalam risalahnya menjelaskan, ada beberapa hal yang bisa mendatangkan hidayah:

  • Pertama: Bertauhid dan menjauhi syirik.
  • Kedua: Menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
  • Ketiga: Inabah, bertaubat dan kembali kepada Allah.
  • Keempat: I’tisham, berpegang teguh kepada Kitabullah.
  • Kelima: Berdoa dan berusaha keras mencarinya.
  • Keenam: Memperbanyak zikir.

Selain sebab-sebab yang bisa mendatangkan hidayah, ada juga beberapa hal yang akan menghalangi masuknya cahaya hidayah ke dalam hati, di antaranya:

  • Pertama: Minimnya pengetahuan dan penghargaan atas nikmat hidayah

Ada sekian banyak manusia yang tergiur dengan dunia dan menjadikannya satu-satunya hal yang paling diharapkannya. Sukses di matanyanya adalah capaian harta dan kedudukan di mata manusia. Kesuksesan yang bersifat Ukhrowi dinomorduakan, dan berpkir, bahwa hal seperti itu bisa dicari lagi di lain kesempatan.

Meski sudah mendapatkan lingkungan yang baik, kesempatan belajar agama yang benar, rezeki yang halal meski sedikit, ia tidak segan meninggalkannya demi meraih dunianya. Itu karena rendahnya penghargaan atas hidayah Allah berupa teman yang saleh, dan ilmu dien yang telah diberikan kepadanya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Mereka hanya mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia, sedang tentang (kehidupan) Akhirat mereka lalai. (QS. Ar Rum 7)

  • Kedua: Hasad dan kesombongan.
  • Ketiga: Jabatan
  • Keempat: Syahwat dan harta, dan
  • Kelima: Kebencian.

Seseorang yang membenci orang lain, si A misalnya, ketika si A mendapatkan hidayah berupa masuk Islam, taubat dari suatu maksiat, semangat belajar Islam atau yang lain, kebenciannya akan menghalanginya untuk mengikuti jejak orang yang dia benci itu. Kesombongan, gengsi dan kejengkelan tumbuh subur di atas lahan kebenciannya, dan menghalangi cahaya hidayah masuk menerangi hatinya. Allah berfirman, yang artinya:

”Sesungguhnya seorang hamba jika telah beriman kepada Alquran dan mendapat petunjuk darinya secara global, mau menerima perintah dan membenarkan berita dari Alquran, semua itu adalah awal mula dari hidayah-hidayah. Selanjutnya yang akan ia peroleh secara lebih detail. Karena hidayah itu tak memiliki titik akhir, seberapa pun seorang hamba mampu mencapainya. Allah berfirman:

”Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu dan lebih baik kesudahannya. (QS.Maryam:76).”

Wallahua’lam.

 

(Abu Alfia,Tebar-Sunnah)

 

 

MAKNA, HAKIKAT DAN MACAM-MACAM HIDAYAH

MAKNA, HAKIKAT DAN MACAM-MACAM HIDAYAH

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DakwahTauhid

MAKNA, HAKIKAT DAN MACAM-MACAM HIDAYAH

Hidayah secara bahasa berarti ar-Rasyaad (Bimbingan) dan Ad-Dalaalah (Dalil/Petunjuk) [Lihat kitab “al-Qaamuushul muhiith” (hal. 1733)]

Adapun secara syari, maka Imam Ibnul Qayyim membagi hidayah yang dinisbatkan kepada Allah ta’ala menjadi empat macam:

  1. Hidayah yang bersifat umum dan diberikan-Nya kepada semua makhluk, sebagaimana yang tersebut dalam firman-Nya:

{قَال َرَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى}

“Musa berkata: “Rabb kami (Allah Ta’ala) ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada setiap makhluk bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (QS Thaahaa: 50).

Inilah hidayah (petunjuk) yang Allah ta’ala berikan kepada SEMUA MAKHLUK dalam hal yang berhubungan dengan kelangsungan dan kemaslahatan hidup mereka dalam urusan-urusan dunia, seperti melakukan hal-hal yang bermanfaat, dan menjauhi hal-hal yang membinasakan untuk kelangsungan hidup di dunia.

  1. Hidayah (yang berupa) PENJELASAN dan KETERANGAN tentang jalan yang baik dan jalan yang buruk, serta jalan keselamatan dan jalan kebinasaan. Hidayah ini TIDAK berarti melahirkan petunjuk Allah yang sempurna, karena ini hanya merupakan sebab atau syarat. Tapi tidak mesti melahirkan (hidayah Allah ta’ala yang sempurna). Inilah makna firman Allah:

{وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى}

“Adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk” (QS Fushshilat: 17).

Artinya: Kami jelaskan dan tunjukkan kepada mereka (jalan kebenaran), tapi mereka tidak mau mengikuti petunjuk.

Hidayah inilah yang mampu dilakukan oleh manusia, yaitu dengan berdakwah dan menyeru manusia ke jalan Allah, serta menjelaskan kepada mereka jalan yang benar dan memeringatkan jalan yang salah. Akan tetapi hidayah yang sempurna (yaitu taufik) hanya ada di tangan Allah ta’ala, meskipun tentu saja hidayah ini merupakan sebab besar untuk membuka hati manusia, agar mau mengikuti petunjuk Allah ta’ala dengan taufik-Nya.

Allah Ta’ala berfirman tentang Rasul-Nya:

{وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

“Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah ﷺ) benar-benar memberi petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus” (QS asy-Syuuraa: 52).

  1. Hidayah taufik, ilham (dalam hati manusia untuk mengikuti jalan yang benar) dan kelapangan dada untuk menerima kebenaran serta memilihnya. Inilah hidayah (sempurna) yang mesti menjadikan orang yang meraihnya akan mengikuti petunjuk Allah ta’ala. Inilah yang disebutkan dalam firman-Nya:

{فإن الله يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ}

“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS Faathir: 8). `

Dan firman-Nya:

{إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ}

“Jika engkau (wahai Muhammad ﷺ) sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya dan mereka tidak memunyai penolong” (QS an-Nahl: 37).

Juga firman-Nya:

{إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ}

“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad ﷺ) tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai. Tetapi Allah memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS al-Qashash: 56).

Maka dalam ayat ini Allah menafikan hidayah ini (taufik) dari Rasulullah ﷺ, dan menetapkan bagi beliau ﷺ hidayah dakwah (bimbingan/ajakan kepada kebaikan) dan penjelasan dalam firman-Nya:

{وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

“Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah ﷺ) benar-benar memberi petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus” (QS asy-Syuuraa: 52).

  1. Puncak hidayah ini, yaitu hidayah kepada Surga dan Neraka, ketika penghuninya digiring kepadanya.

 

Allah Ta’ala berfirman tentang ucapan penghuni Surga:

{وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ}

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (Surga) ini, dan kami tidak akan mendapat hidayah (ke Surga), kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami” (QS al-A’raaf: 43).

Adapun tentang penghuni Neraka, Allah ta’ala berfirman:

{احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ. مِنْ دُونِ اللهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ}

“Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman-teman yang bersama mereka dan apa yang dahulu mereka sembah selain Allah. Lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke Neraka” (QS ash-Shaaffaat: 22-23)” [Lihat kitab “Bada-i’ul fawa-id” (2/271-273) dengan ringkasan dan tambahan].

Dari sisi lain, Imam Ibnu Rajab al-Hambali membagi hidayah menjadi dua:

  • Hidayah yang bersifat Mujmal (garis besar/global), yaitu hidayah kepada agama Islam dan iman, yang ini dianugerahkan-Nya kepada setiap muslim.
  • Hidayah yang bersifat rinci dan detail, yaitu hidayah untuk mengetahui perincian cabang-cabang imam dan Islam, serta pertolongan-Nya untuk mengamalkan semua itu. Hidayah ini sangat dibutuhkan oleh setiap mukmin di siang dan malam” [Lihat kitab “Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam” (hal. 225)].

 

Dinukil dari artikel berjudul: “Makna Dan Hakikat Hidayah Allah” yang ditulis oleh: Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA.

[Artikel Muslim.Or.Id]

 

Sumber: https://muslim.or.id/19131-makna-dan-hakikat-hidayah-allah.html

DUA MACAM HIDAYAH

DUA MACAM HIDAYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

DUA MACAM HIDAYAH

Hidayah itu ada dua macam:

  • Hidayah berupa keterangan (Hidayatul Irsyad Wal Bayan) dan
  • Hidayah berupa pertolongan (Hidayatut Taufiq Wal Ilham).

Kedua macam hidayah ini bisa dirasakan oleh orang-orang yang bertakwa. Adapun selain mereka hanya mendapatkan Hidayatul Bayan saja. Artinya mereka tidak mendapatkan taufiq dari Allah untuk mengamalkan ilmu dan petunjuk yang sampai kepada dirinya. Padahal Hidayatul Bayan tanpa disertai Hidayatut Taufiq untuk beramal, bukanlah petunjuk yang hakiki dan sempurna.

Maka wajarlah jika Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan:

“Seorang ‘alim (orang yang berilmu) itu masih dianggap jahil (bodoh), selama dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia sudah mengamalkan ilmunya, maka barulah dia menjadi seorang yang benar-benar ‘alim.”

Berjalan Menuju dan Di Atas Jalan yang Lurus

Setelah mengemukakan bahwa hidayah yang dimaksud oleh ayat ‘Ihdinash Shirathal Mustaqim’ ada dua:

  • Ila Shirath (Menuju jalan yang lurus) dan
  • Fi Shirath (Di atas jalan yang lurus), Syaikh As Sa’di mengatakan:

“Hidayah ‘Ila Shirath’ yaitu berpegang teguh dengan agama Islam dan meninggalkan semua agama yang lain. Sedangkan hidayah ‘Fi Shirath’ yaitu mencakup petunjuk untuk menggapai semua rincian ajaran agama dengan cara mengilmui sekaligus mengamalkannya. Maka doa ini termasuk doa yang paling lengkap dan paling bermanfaat bagi hamba. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang untuk berdoa dengan doa ini di dalam setiap rakaat shalatnya, dikarenakan begitu mendesaknya kebutuhan dirinya terhadap hal itu.”

 

Sumber: https://muslim.or.id/95-menggapai-ketentraman-dan-hidayah.html

,

DOA MINTA PETUNJUK, KETAKWAAN, IFFAH DAN KECUKUPAN

DOA MINTA PETUNJUK, KETAKWAAN, IFFAH DAN KECUKUPAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir
DOA MINTA PETUNJUK, KETAKWAAN, IFFAH DAN KECUKUPAN

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

ALLAHUMA INI AS ALUKAL HUDA WAT TUQO WAL AFAF WAL GHINA

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu Petunjuk, Ketakwaan, ‘Iffah (penjaggaan diri dari hal yang tidak diperbolehkan), dan Kecukupan.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

 

Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizahullah

 

,

AKHIRNYA HIDAYAH ITU DATANG KEPADAKU

AKHIRNYA HIDAYAH ITU DATANG KEPADAKU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#KisahMuslim

AKHIRNYA HIDAYAH ITU DATANG KEPADAKU

Masjid Jami’ yang luas seakan menjadi sempit, lantaran padatnya kaum Muslimin yang berkumpul, disebabkan rasa cinta dan kagum terhadap Malik bin Dinar, tokoh besar dari kalangan ahli zuhud dan ahli ibadah. Beliau duduk di tempatnya dalam keadaan termenung. Sesaat kemudian beliau mendongakkan kepalanya. Semua orang yang hadir ketika itu menyaksikan suatu pemandangan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya pada diri Malik bin Dinar, sang ahli fikih Irak, seorang imam, dan pemberi nasihat di Masjid Kufah.

Air mata beliau berlinangan membasahi jenggotnya, karena rasa kagumnya terhadap antusiasme kaum Muslimin yang datang untuk mendengarkan ceramahnya pada hari itu. Memang, pada hari sebelumnya beliau mengumumkan kepada mereka, bahwa beliau akan menyampaikan sesuatu yang belum mereka ketahui dan hal-hal yang wajib mereka ketahui.

Imam Malik bin Dinar pun bertutur kata. Beliau membuka pembicaraannya dengan suara yang menyentuh lubuk hati para pendengarnya, dan orang-orang yang mengaguminya, sehingga seolah-olah suara tersebut berasal dari tempat yang jauh. Beliau memuji kepada Allah ﷻ, membaca shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mendoakan orang-orang yang mendengar dan orang-orang yang mengenalnya, agar mendapat kebaikan dan ampunan, karena mereka telah berbaik sangka kepada beliau.

Beliau menuturkan: “Kemarin aku telah menyampaikan kepada kalian, bahwa dengan izin Allah, besok aku akan bercerita mengenai seorang hamba yang butuh kepada Allah ﷻ, hamba yang kalian dengarkan ceramahnya, yakni mengenai Malik. Aku mengetahui pada diriku ada sesuatu yang tidak kalian ketahui, dan kalian selalu berbaik sangka kepada kepadaku. Semoga Allah ﷻ membalas kalian dengan kebaikan.”

“Ketika aku masih muda, aku adalah seorang polisi yang jahat. Waktu itu, aku diberi tugas untuk menjaga pasar. Tidak ada seorang pun yang selamat dari kejahatanku. Tidak ada seorang pun yang lepas dari kekejamanku. Betapa banyak orang yang telah kucelakakan dan kusakiti. Semoga Allah ﷻ mengampuniku. Aku tidak mengingat mereka lagi, kecuali tambatan hatiku telah putus lantaran meratapi diriku sendiri. Seandainya bukan karena iman yang diliputi rahmat Allah ﷻ dan karena rahmat-Nya pula, pastilah hari ini aku tidaklah seperti yang kalian lihat.”

“Wahai saudara-saudaraku! Dulu, aku sama sekali tidak pernah meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Aku meminum khamar, memukuli orang, ikut campur urusan orang-orang yang bukan urusanku, hingga dalam persoalan jual-beli. Aku membela orang yang menyenangkanku, meskipun dia berbuat jahat.”

“Suatu hari aku sedang berjalan di pasar, tiba-tiba aku bertemu dua lelaki yang sedang bersengketa mengenai suatu perkara. Satu pihak membeli barang, sedangkan satu pihak lain menjual barang, dan bersikeras mematok harga tertentu pada barang tersebut. Sedangkan si pembeli bahkan hampir saja aku memukulnya dengan tongkat aku, andai tidak ada sesuatu yang tidak aku ketahui menghalangi aku. Kemudian aku termenung memandangi si pembeli tersebut, dan aku baru menyadari, ternyata dia seorang yang rambutnya telah beruban. Dari raut mukanya tersirat, bahwa dia orang yang baik. Dia mengisyaratkan kepadaku dengan tangannya agar aku diam terlebih dahulu, sebelum menjatuhkan putusan. Dia menjelaskan letak perselisihan antara dirinya dengan si penjual.”

“Seumur-umur, baru kali inilah aku mau mendengarkan pengaduan seseorang. Dia menutup pembicaraannya dengan mengatakan, bahwa dia pernah mendengar hadis dari junjungan kita Rasulullah ﷺ yang bersabda mengenai hal ini: ‘Apabila salah seorang di antara kalain pergi ke pasar lalu dia membeli sesuatu yang dapat menggembirakan anak-anak perempuannya, niscaya Allah ﷻ melihat kepadanya.’ Kemudian dia melanjutkan: ‘Aku baru datang dari suatu perjalanan. Sebelum sampai rumah, aku ingin membeli oleh-oleh untuk menggembirakan ketiga putriku, agar Allah ﷻ memandang kepadaku.”

“Cerita lelaki tersebut membekas di hatiku. Kemudian aku pun membelikan barang-barang yang diinginkannya dan kuberikan padanya. Aku baru meninggalkan orang tersebut, setelah meminta kepadanya, agar anak-anak perempuannya mau mendoakanku.”

“Meski telah berlalu beberapa hari, cerita lelaki tersebut masih saja terngiang di telingaku, hingga suatu saat aku melihat seorang gadis (budak) yang sangat cantik yang dijual di pasar. Aku jatuh hati padanya, aku mencintainya. Kubeli dia untuk kubebaskan, kemudian kunikahi dan hidup bahagia dengannya selama beberapa waktu. Dia telah melupakan masa laluku yang kelabu. Aku mulai hidup istiqamah, terutama pada saat kami telah dikaruniai anak perempuan yang cantik. Akan tetapi, setelah berlalu beberapa hari sejak kelahiran anakku, istriku meninggal dunia. Dia meninggalkan anak kami dalam keadaan yatim. Setelah itu, selama dua tahun aku hidup dalam keadaan tidak beristri. Perhatianku hanyalah mengurus anak perempuanku, yang merupakan segala-galanya bagiku di dunia ini.”

“Pada suatu hari, ketika aku pulang kerja, aku mendapati putriku sedang sakit. Dengan segera kucarikan obat untuknya, bahkan dari sekian banyak dokter. Akan tetapi ketetapan Allah ﷻ lebih cepat. Putriku telah tiada, meninggalkan aku seorang diri. Aku pun mendekapnya erat di dadaku sembari berharap agar dia hidup kembali. Tubuh putriku kuyup karena deraian air mataku. Aku memanggil-manggilnya dengan penuh lara, disertai hati yang risau. Aku pun memasrahkan diri kepada Allah ﷻ, kemudian aku menguburkan putri tunggalku.”

“Namun setelah itu aku mendatangi kedai minuman keras, sebagai tempat pelarian dari apa yang telah menimpa diri dan hidupku. Akhirnya aku kembali menenggak khamar dan menjadi pemabuk berat. Aku ingin melupakan kesedihan dalam kehidupanku. Meskipun aku menyadari apa yang terjadi, akan tetapi aku masih merasakan betapa berat musibahku dan kesendirianku.”

“Kekejaman dan kekerasanku terhadap orang-orang kambuh lagi. Seolah-olah aku ingin balas dendam kepada mereka, dan seakan-akan merekalah yang merampas istri, putri, dan kebahagianku. Suatu hari aku sedang berkeliling pasar. Kemudian aku melihat perempuan yang sedang membawa sedikit makanan, lalu aku merampasnya dengan paksa. Aku pun tidak menghiraukan tangisan dan jeritannya, bahkan ratapan anaknya yang masih kecil.”

“Malam itu aku pulang ke rumah lebih awal, dan malam itu adalah malam Nisfu Sya’ban. Ketika aku tertidur pulas, aku bermimpi, bahwa Kiamat telah datang, Sangkakala telah ditiup, dan semua makhluk dikumpulkan jadi satu, termasuk juga diriku. Kemudian aku mendengar suara yang mengerikan dan menakutkan.”

“Lalu aku menoleh, dan tiba-tiba seekor ular besar berwarna hitam kebiru-biruan yang membuka mulutnya. Percikan api pun berhamburan dari matanya. Ular itu pun menyerangku. Lalu aku lari karena takut padanya, sehingga aku berjumpa dengan orang tua yang lemah.’

“Aku memanggilnya: ‘Tolonglah aku! Selamatkanlah aku dari ular ini! Semoga Allah ﷻ juga menyelamatkanmu.”

“Tetapi, dia justru menangis di hadapanku dan mengeluhkan kelemahannya.”

“Dia berkata: ‘Cepatlah! Semoga Allah ﷻ mendatangkan sesuatu yang dapat menyelamatkanmu dari ular tersebut.”

“Kemudian aku berlari semakin kencang, hingga aku naik ke puncak, tepi, dan ujung Kiamat. Aku naik di atas tingkat Neraka, dan hampir saja aku terjatuh ke dalamnya lantaran ketakutanku, sedangkan ular besar tersebut memburu di belakangku.”

“Tiba-tiba ada orang berteriak: ‘Kembalilah! Kamu bukan penduduk Neraka.”

“Lalu aku kembali mencari pertolongan, sedangkan ular besar mencariku. Aku kembali mendatangi orang tua tersebut. Aku terus memohon belas kasihan kepadanya untuk kali kedua. Dia pun mengeluhkan ketidakmampuannya menghadapi binatang liar yang menakutkan itu.”

“Kemudian dia berkata: ‘Berjalanlah ke gunung itu, karena di dalamnya terdapat beberapa titipan kaum Muslimin. Jika engkau memunyai titipan di sana, maka dia akan menolongmu.”

“Lalu aku memandang sebuah gunung yang bersinar dan terbuat dari perak. Di tempat tersebut juga terlihat tabir-tabir yang tergantung di atas tiap-tiap tempat, yang diberi daun pintu dari emas merah yang berkilau. Di atas tiap-tiap daun pintu terdapat tabir dari sutera yang keindahannya menyilaukan mata. Aku pun bergegas menuju tempat tersebut, sedangkan ular besar tadi masih membuntuti di belakangku.”

“Ketika aku telah mendekat dengan tempat tersebut, sebagian malaikat berteriak: ‘Angkatlah tabir-tabir dan bukalah pintu-pintu’.”

“Kemudian aku melihat anak-anak kecil bak rembulan. Sedangkan ular besar mendekat kepadaku. Aku bingung menghadapi masalah ini. Lantas sebagian anak-anak kecil berteriak: ‘Celaka kamu! Naiklah kalian semua. Sungguh, musuhnya telah dekat dengannya.”

“Mereka pun berdatangan secara bergiliran. Tiba-tiba aku melihat putriku yang telah meninggal dunia. Dia melihatku seraya menangis dan berkata: ‘Ayahku, demi Allah.’

“Kemudian aku melompat bagaikan melesatnya anak panah ke dalam piringan neraca dari cahaya sehingga dia berada di sisiku. Tangan kirinya diulurkan ke tangan kananku dan aku bergantung padanya. Sedangkan tangan kanannya dibentangkan ke arah ular besar, maka si ular pun lari terbirit-birit. Dia mendudukkanku. Sungguh, aku telah mengalami kelelahan dan kecapekan. Aku mendekapnya dan mengecupnya. Air mata membasahi mataku seakan-akan aku khawatir kehilangannya lagi. Aku menarik tangannya ke janggutku dan aku ajak dia bergurau. Kedua matanya yang indah memandangku dengan pandangan kasih sayang dan cinta tulus. Dia berkata kepadaku: “Wahai ayahku!

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah, mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka).” [QS. Al-Hadid: 16]

Tatkala aku mendengar ayat ini, aku menangis. Tidak pernah aku menangis seperti ini sebelumnya.”

“Aku berkata kepadanya: ‘Kalian mengetahui Alquran?’”

“Dia menjawab: ‘Kami lebih tahu tentang Alquran daripada engkau.”

“Aku melanjutkan: ‘Jelaskan kepadaku tentang ular yang hendak membinasakanku.’ ‘Ular tersebut adalah amal burukmu yang keji yang engkau kokohkan sendiri. Dia berbalik menyerangmu dan menginginkanmu masuk ke dalam Neraka,’ jawabnya.”

“Aku bertanya lagi: ‘Sedangkan kakek tua tersebut siapa?’”

“Dia menjawab: ‘Itu amal baikmu, dan engkau sendirilah yang melemahkannya, hingga dia tidak mampu menolongmu.”

“Aku berkata: ‘Wahai anakku! Apa yang kalian lakukan di gunung ini?”

“Dia menjawab: ‘Anak-anak kaum Muslimin berdiam di sini sampai Hari Kiamat datang. Kami menanti kalian datang dan kami memberi syafaat untuk kalian.”

“Tiba-tiba aku terkejut bukan kepalang, hingga akhirnya aku terbangun dari tidurku. Keringat mengucur membasahiku bagai hujan lebat yang menenggelamkanku. Aku meraih tongkatku, lalu aku hancurkan alat-alat musik dan botol-botol minuman keras. Hati nuraniku terpanggil untuk bertaubat kepada Allah ﷻ.”

“Setelah itu hingga berhari-hari, aku hanya bisa berbaring di tempat tidur. Aku tidak mampu bergerak. Dalam keadaan seperti ini, aku memohon ampun kepada Allah ﷻ, bertaubat kepada-Nya, dan memohon rahmat-Nya. Aku bertekad untuk memurnikan niat menuju jalan Allah ﷻ.”

“Pada hari-hari pertama taubatku, aku beribadah kepada Allah ﷻ disertai rasa takut yang luar biasa. Sebab, dalam sebagian besar waktu, aku selalu membayangkan sosok ular besar ada di hadapan aku dan hendak memangsaku.’

“Dalam kondisi yang sarat akan kekhawatiran dan ketakutan, aku pun membatasi diri dari banyak orang. Kebetulan ketika itu kami semua sedang mengalami paceklik, karena tidak pernah turun hujan. Maka kami mulai memohon kepada Allah ﷻ. Memang ketika itu tidak pernah turun hujan, sehingga tanaman menjadi kering, dan kami mengalami kehasuan.”

“Pada suatu hari, ketika orang-orang telah pergi dan tinggal aku sendirian yang tertinggal di mushalla, aku berdoa kepada Allah ﷻ. Tiba-tiba muncul seorang laki-laki berkulit hitam, yang kecil kedua betisnya dan buncit perutnya. Setelah memasuki musholla dia melaksanakan shalat dua rakaat. Kemudian dia menengadahkan kepala ke langit seraya berkata: ‘Rabbku, sampai berapa banyak Engkau menolak hamba-hamba-Mu meminta sesuatu yang tidak dapat mengurangi apa yang ada di sisi-Mu. Aku bersumpah kepada-Mu, berkat cinta-Mu kepadaku, agar Engkau memberi siraman hujan kepadaku sekarang.”

“Hampir-hampir dia belum selesai berdoa, langit pun menurunkan hujan bagaikan mulut sumur. Ketika lelaki tersebut hendak beranjak, segera aku menghampirinya dan berkata: ‘Apa kamu tidak malu mengatakan, ‘Berkat cinta-Mu kepadaku.’ Apa kamu tahu bahwa Allah ﷻ mencintaimu?’”

“Dia menjawab: ‘Wahai orang yang menyibukkan diri dengan diri sendiri dan melalaikan Allah ﷻ! Di manakah aku pada saat Allah ﷻ menjadikan, hanya aku sendiri yang mengesakan-Nya. Tidak ada yang lain. Dia tidak melakukan hal itu, melainkan cinta-Nya kepadaku. Bukankah engkau tahu, bahwa Allah Maha Luas ampunan dan besar cinta-Nya kepada para hamba-Nya? Bukankah engkau pernah mendengar firman Allah berikut:

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43)

Lalu dia meninggalkanku dalam keadaan bingung. Dan semenjak hari itu, aku benar-benar menghadap kepada Allah ﷻ tanpa dihantui ketakutan terhadap ular besar.”

Malik bin Dinar terdiam sejenak. Kemudian dia berkata dengan tegas dan khusyu’:

“Jamaah sekalian! Sungguh, Allah Maha Penyayang. Bergembiralah kalian dengan meraih rahmat Allah ﷻ, dan sampaikanlah kabar gembira ini kepada orang-orang. Sesungguhnya Allah ﷻ mencintai kalian. Seandainya kalian mengetahuinya, pastilah kalian tidak berbuat maksiat kepada-Nya. Apakah kalian mencintai Allah ﷻ, wahai manusia? Jika demikian, ketahuilah, bahwa tanda-tanda cinta kepada Allah ﷻ ialah selalu berzikir kepada-Nya secara kontinyu. Sebab, orang yang cinta sesuatu, pastilah dia sering menyebut-nyebutnya. Barang siapa tidak merasa nyaman berkomunikasi dengan Allah ﷻ, sungguh ilmunya dangkal dan sia-sialah umurnya. Bertaubatlah kepada Allah ﷻ, wahai hamba-hamba Allah!”

Imam Malik bin Dinar berdiri, dan orang-orang pun ikut bangkit berdiri, serta mengulang-ulang taubat yang sebenar-benarnya kepada Allah ﷻ, sehingga hari tersebut dijadikan “Hari orang-orang bertaubat.”

 

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

[Artikel www.KisahMuslim.com]

 

Sumber: https://kisahMuslim.com/2996-kisah-islam-akhirnya-hidayah-itu-datang-kepadaku.html

,

SECERCAH HIDAYAH

SECERCAH HIDAYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#KisahMuslim

#DakwahTauhid

SECERCAH HIDAYAH

Dari Abdul Wahid bin Zaid berkata:

“Ketika itu kami naik perahu, angin kencang berhembus menerpa perahu kami, sehingga kami terdampar di suatu pulau. Kami turun ke pulau itu, dan mendapati seorang laki-laki sedang  menyembah patung.

”Kami mendatanginya berkata kepadanya:

“Wahai seorang lelaki, siapa yang engkau sembah?

Maka ia menunjuk ke sebuah patung.

Maka kami berkata: ‘Di antara kami, para penumpang perahu ini tidak ada yang melakukan seperti yang kamu perbuat. Patung ini bukanlah Ilaah yang berhak untuk diibadahi.

Dia bertanya: ‘(Kalau demikian, pent), apa yang kalian sembah?

’Kami menjawab: ‘Kami menyembah Allah.’

Dia bertanya: ‘Siapakah Allah?’

Kami menjawab: ‘Dzat yang memiliki ‘Arsy di langit dan kekuasaan di muka bumi.’

Dia bertanya: ‘Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?’

Kami jawab: “Telah mengutus kepada kami (Allah) Raja yang Maha Agung, Maha Pencipta Lagi Maha Mulia, seorang Rosul yang mulia. Maka rasul itulah yang menerangkan kepada kami tentang hal itu.’

Dia bertanya: ‘Apa yang dilakukan rasul itu?’

Kami menjawab:  ‘Beliau telah  menyampaikan risalah-Nya, kemudian Allah mencabut ruhnya.‘

Dia bertanya: ‘Apakah dia tidak meninggalkan sesuatu tanda kepada kalian?’

Kami menjawab: ‘Tentu’

Ia berkata: ‘Apa yang ia tinggalkan?’

Kami menjawab: ‘Dia meninggalkan Kitabullah untuk kami.

Dia berkata: ‘Coba kalian perlihatkan kitab Al Malik  (Kitabullah, pent) itu kepadaku! Maka seyogyanya kitab para raja itu adalah kitab yang sangat baik.

Kemudian kami memberikan mushaf kepadanya.

Dia berkata: ‘Alangkah bagusnya (mushaf) ini.’ Lalu kami membacakan sebuah surat dari Alquran  untuknya. Dan kami senantiasa membaca. Tiba-tiba ia menangis,dan kami membaca lagi, dan ia terus menangis, hingga kami selesai membaca surat itu.

Dan ia berkata: ‘Tidak pantas Dzat yang memiliki firman ini didurhakai.’

Kemudian ia masuk Islam dan kami ajari dia syariat-syariat Islam dan beberapa surat dari Alquran. Selanjutnya kami mengajaknya ikut serta dalam perahu.

Ketika kami berlayar dan malam mulai gelap, sementara kami semua beranjak menuju tempat tidur kami, tiba-tiba dia bertanya: ’Wahai kalian, apakah Dzat yang kalian beritahukan kepadaku itu  juga tidur apabila malam telah gelap?’

Kami menjawab: ‘Tidak wahai hamba Allah. Dia Hidup terus, Maha Agung tidak tidur’.

Dia berkata: ‘Seburuk buruk hamba adalah kalian. Kalian tidur, sementara Maula kalian tidak tidur,

Kemudian ia beranjak untuk mengerjakan ibadah dan meninggalkan kami.

Ketika kami sampai di negeri kami, aku berkata kepada teman-temanku: ‘Laki-laki ini baru saja memeluk Islam dan ia adalah orang asing di negeri ini ( sangat cepat jika kita membantunya -pent)

Lalu kami pun mengumpulkan beberapa Dirham dan kami berikan kepadanya.

Ia bertanya: ‘Apakah ini?’

Kami menjawab: ‘Belanjakanlah untuk kebutuhan kebutuhanmu’.

Dia berkata: ”Laa ilaaha illallah. Selama ini aku hidup di suatu pulau yang dikelilingi lautan, aku menyembah patung selain-Nya. Sekalipun demikian, Dia tidak pernah menyia-nyiakan aku …. Maka bagaimana mungkin  Dia (Allah) akan menelantarkanku, sementara aku mengenal-Nya?! ‘ Setelah itu dia pergi meninggalkan kami dan berusaha sendiri untuk (mencukupi ) dirinya.

Dan jadilah ia setelahnya termasuk Kibarush Sholihin sampai meninggalnya.

 

Sumber: At Tawwaabiin, Milik Ibnu Qudamah, 179.

Alih bahasa : Abul Fida Abdulloh As Silasafy

 

,

KEZALIMAN MENGHILANGKAN NIKMAT KEAMANAN DAN HIDAYAH

KEZALIMAN MENGHILANGKAN NIKMAT KEAMANAN DAN HIDAYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Dakwah_Tauhid

#Faidah_Tafsir

KEZALIMAN MENGHILANGKAN NIKMAT KEAMANAN DAN HIDAYAH

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan hidayah.” [Al-An’am: 82]

Macam-Macam Kezaliman

Ayat yang mulia ini memberi peringatan, bahwa semua bentuk kezaliman dapat memberikan pengaruh terhadap keamanan dan hidayah bagi seorang hamba, dan kezaliman itu ada tiga bentuk:

1) Kezaliman terbesar, yaitu syirik dan kufur kepada Allah ta’ala.

2) Kezaliman terhadap diri sendiri, yaitu semua perbuatan dosa, dan atau tidak memberikan hak kepada dirinya seperti berpuasa tanpa berbuka, sholat malam tanpa tidur, dan lan-lain.

3) Kezaliman terhadap orang lain, yaitu menyakiti orang lain tanpa alasan yang benar, baik menyakiti dengan ucapan seperti menghina dan mengghibah, maupun perbuatan seperti memukul dan membunuh atau merampas harta (lihat Al-Qoulul Mufid, 1/61-62).

Tiga Jenis Manusia Terkait Kezaliman

1) Orang yang menyempurnakan tauhidnya dengan menjauhi semua bentuk kezaliman, maka ia akan mendapatkan keamanan dan hidayah secara sempurna.

2) Orang yang hanya menjauhi kezaliman terbesar (syirik dan kufur), namun tidak menjauhi kezaliman terhadap diri sendiri dan orang lain, maka ia tidak akan mendapatkan keamanan dan hidayah secara sempurna. Ia masih terancam dengan azab Allah ‘azzawa jalla, dan di Akhirat nasibnya di bawah kehendak Allah, apakah diampuni atau diazab. Namun andai diazab, azabnya tidak kekal seperti orang-orang yang melakukan syirik dan kufur.

3) Orang yang tidak menjauhi kezaliman terbesar (syirik) walau tidak melakukan kezaliman terhadap diri sendiri (selain syirik) dan tidak pula kezaliman terhadap orang lain, maka ia tidak akan mendapatkan keamanan dan hidayah sama sekali. Ia pasti diazab dengan azab yang sangat pedih dan kekal di Neraka selama-lamanya, jika ia mati sebelum bertaubat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Siapa yang selamat dari tiga bentuk kezaliman ini, maka ia akan mendapatkan keamanan dan hidayah secara sempurna. Dan siapa yang tidak selamat dari kezaliman terhadap dirinya sendiri, maka ia hanya mendapatkan keamanan dan hidayah secara umum saja, artinya ia tetap akan masuk Surga (walau mungkin diazab dulu), sebagaimana telah dijanjikan dalam ayat yang lain. Dan sungguh Allah akan memberikan hidayah untuknya kepada jalan yang lurus, yang akhirnya akan mengantarkan ke Surga, namun akan berkurang keamanan dan hidayah baginya sesuai dengan kadar berkurangnya iman, karena kezalimannya terhadap diri sendiri.” [Al-Iman, hal. 69]

Sebab Terbesar Hilangnya Nikmat Keamanan dan Hidayah adalah Syirik

Ayat yang mulia ini memeringatkan dengan keras dari bahaya syirik, bahwa orang yang memersekutukan Allah ‘azza wa jalla tidak akan mendapat nikmat keamanan dan hidayah.

Orang yang memersekutukan Allah pasti tersesat dalam kehidupan dunia, bahkan dialah orang yang paling sesat. Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

“Barang siapa memersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [An-Nisa: 116]

Orang yang memersekutukan Allah pasti akan mendapatkan azab di dunia dan Akhirat, bahkan kekal di Neraka untuk selama-lamanya. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) Neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk.” [Al-Bayyinah: 6]

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/726974307452054:0

 

,

ANDA MUSLIM MASIH MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL?

ANDA MUSLIM MASIH MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL?

بسم الله الرحمن الرحيم

#DakwahTauhid

#TidakMengucapkanSelamatNatal

ANDA MUSLIM MASIH MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL?

Kami dulunya tinggal di Papua yang mayoritas Nasrani

Kami bertetangga dengan mereka

Bahkan rumah kami berdampingan dengan rumah-rumah mereka

Kami tahu perayaan mereka

Bahkan dahulu kami bertamu

Bahkan kami bantu dan gotong royong

Bahkan acara kebaktian mereka pun kami tahu

Sampai mengucapkan selamat pun kami anggap hal umrah

Namun kala kami hijrah ke Jawa …

 

Kami tahu mengucapkan selamat untuk perayaan mereka itu tidak boleh

Kami tahu bertamu ke tempat mereka untuk mengucapkan selamat pun tidak boleh

Padahal teman dan rekan kami banyak yang berbeda akidah

Kami tahu tak perlu merayakan bersama, walau secara prinsip muamalah tetap baik

Karena prinsip kami “Lakum diinukum wa liyadiin”

Bagi kalian ajaran kalian, bagiku ajaranku

Kalian silakan rayakan, tanpa kami turut serta dan dukung, kalian pun tidak kami ganggu

 

Bagi yang rela dan ridha ucapkan,

Tak takutkah murka Allah?

Bukankah mereka meyakini, bahwa Isa itu bagian dari yang tiga?

Teori Trinitas yang mereka yakini, Isa adalah Bapak, Putera dan Roh Kudus

Padahal prinsip Islam adalah Lam Yalid Wa Lam Yuulad

Yaitu Allah itu Esa, tidak ada putera atau istilah anak Tuhan

Jika Anda ucapkan, sama saja Anda mengucapkan Selamat Atas Kelahiran Anak Tuhan

 

Kami yang dahulu dari Papua, berusaha tidak ucapkan lagi …

Sedangkan Anda?

Akidah dan keyakinan rela dikorbankan, cuma karena ingin dibilang tolerir dan baik

Padahal baik dengan mereka itu boleh, selama BUKAN ranah agama

 

Anda Muslim masih ucapkan selamat Natal?

Masih mendukung?

Masih membantu?

Masih merayakan bersama?

 

Terserahlah …

Anda harus siap menjawab jika ditanya di hadapan Allah kelak.

Hisab di sisi Allah itu SUNGGUH BERAT.

Tugas kami hanyalah memberi penjelasan,

Sedangkan hidayah milik Allah.

 

Wallahu waliyyut taufiq.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/12584-anda-muslim-masih-mengucapkan-selamat-natal.html