Posts

,

PERINGATAN UNTUK PENYEBAR BERITA

PERINGATAN UNTUK PENYEBAR BERITA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Bismillah
 
PERINGATAN UNTUK PENYEBAR BERITA
 
Dari Bilal bin Harits Al-Muzany radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَكْتُبُ اللَّهُ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَكْتُبُ اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ
 
“Sesungguhnya salah seorang dari kalian berbicara dengan sebuah kalimat berupa keridaan Allah, tidak pernah dia menyangka akan tersebar sedemikian rupa, maka lantaran (kalimat itu) Allah menulis keridaan baginya hingga hari tatkala dia menghadap kepada-Nya. Dan sungguh seorang lelaki di antara kalian berbicara dengan sebuah kalimat berupa kemurkaan Allah, tidak pernah dia menyangka akan tersebar sedemikian rupa, maka lantaran (kalimat itu) Allah menulis kemurkaan baginya hingga hari saat dia menghadap kepada-Nya.” [Diriwayatkan oleh Imam Malik, Ahmad, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, Ibnu HIbban, Al-Hakim, dan selainnya. Ash-Shahihah no. 888]
 
Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah
Sumber: dzulqarnain.net
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#AdabAkhlak, #MenyebarkanBerita, #PenyebaranBerita, #AdabBerita, #AdabPosting

AWAS RIYA DAN BANGGA DIRI

AWAS RIYA DAN BANGGA DIRI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

AWAS RIYA DAN BANGGA DIRI
 
Berkata Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah:
Wahai saudaraku …..
Ikhlas itu berat, sementara manusia tidak pernah terlepas dari riya dan bangga diri, walaupun hanya SEDIKIT.
Semoga Allah menyelamatkan kami dan kalian dari penyakit riya serta bangga diri.
 
Maka bersihkanlah hatimu dan jadikanlah amalanmu ikhlas karena Allah.
Engkau adalah hamba Allah, bukan hamba makhluk.
Karena yang mampu memberikan manfaat dan menimpakan marabahaya adalah Allah.
Yang mampu memasukkan engkau ke dalam Surga dan menyelamatkan engkau dari Neraka adalah Allah.
Dan yang menguasai kerajaan segala sesuatu adalah Allah.
[Syarah Misykatul Mashabih 1/143]
 
Sumber: IslamDiaries

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#NasihatUlama, #HambaAllah, #BukanHambaMahluk,#Ikhlas, #JanganRiya,#Sombong

 

,

PERHATIKANLAH DARI SIAPA ENGKAU MENGAMBIL ILMU

PERHATIKANLAH DARI SIAPA ENGKAU MENGAMBIL ILMU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

PERHATIKANLAH DARI SIAPA ENGKAU MENGAMBIL ILMU
 
Malik bin Anas rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah daging dan darahmu. Dan tentangnya (ilmu tersebut), engkau akan ditanyai pada Hari Kiamat. Maka perhatikanlah dari siapa engkau mengambilnya.”
[Lihat: al-Kifayah 21)]
 
Sumber: IslamDiaries

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#NasihatUlama, #ManhajSalaf,#HatiHatiMengambilIlmu

,

DIGIGIT ULAR DI LUBANG YANG SAMA DUA KALI

DIGIGIT ULAR DI LUBANG YANG SAMA DUA KALI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#MutiaraSunnah

DIGIGIT ULAR DI LUBANG YANG SAMA DUA KALI

Seorang Mukmin yang cerdas tak mungkin digigit ular di lubang yang sama dua kali. Maksudnya apa?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Tidak selayaknya seorang Mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” [HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998]

Imam Nawawi menyatakan bahwa Al-Qadhi Iyadh berkata, cara baca “Yuldagu” ada dua cara:

Pertama: Yuldagu dengan ghainnya didhammah. Kalimatnya menjadi kalimat berita. Maksudnya, seorang Mukmin itu terpuji ketika ia cerdas, mantap dalam pekerjaannya, tidak lalai dalam urusannya, juga tidak terjatuh di lain waktu di lubang yang sama. Ada juga ulama yang berpendapat, bahwa ia tergelincir dalam urusan agama (Akhirat).

Kedua: Yuldagi dengan ghainnya dikasrah. Kalimatnya menjadi kalimat larangan. Maksudnya, janganlah sampai lalai dalam suatu perkara. [Syarh Shahih Muslim, 12: 104]

Ibnu Hajar berkata: “Seorang Muslim harus terus waspada, jangan sampai lalai, baik dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” [Fath Al-Bari, 10: 530]

Kesimpulannya, Muslim yang cerdas tak mungkin berbuat dosa yang sama dua kali. Ketika ia sudah berbuat kesalahan, ia terus hati-hati jangan digigit lagi di lubang yang sama. Semoga kita demikian. Wallahu waliyyut taufiq.

 

Referensi:

  • Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.
  • Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetekan keempat, tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/12197-digigit-ular-di-lubang-yang-sama-dua-kali.html

YANG MELARANG KAJIAN SUNNAH ADALAH WAKIL IBLIS DI MUKA BUMI

YANG MELARANG KAJIAN SUNNAH ADALAH WAKIL IBLIS DI MUKA BUMI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Kajian_Sunnah

YANG MELARANG KAJIAN SUNNAH ADALAH WAKIL IBLIS DI MUKA BUMI

Kajian sunnah, kajian yang mengajarkan tauhid dan melarang syirik, mengajak kepada sunnah dan meninggalkan bid’ah, adalah dakwah Islam yang sebenarnya. Maka siapa yang melarangnya, membubarkannya, menggembosinya atau men-tahdzir Ustadznya tanpa alasan yang benar, ia telah menghalangi manusia dari jalan Allah ta’ala, dan menyebabkan mereka tersesat, karena semakin jauh dari ilmu yang shahih. Inilah tujuan Iblis. Kenapa mau jadi wakil Iblis…?!

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنْتُمْ شُهَدَاءُ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: Wahai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi orang-orang yang telah beriman dari jalan Allah? Kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan? Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” [Ali Imron: 99]

➡ Al-’Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

نواب ابليس في الارض وهم الذي يثبطون الناس عن طلب العلم والتفقه في الدين فهؤلاء أضر عليهم من شياطين الجن فانهم يحولون بين القلوب وبين هدى الله وطريقه

“Wakil-wakil iblis di muka bumi, adalah mereka yang menghalang-halangi manusia menuntut ilmu, dan berusaha memahami agama. Maka mereka itu lebih berbahaya bagi manusia, dari setan-setan jin, karena mereka memalingkan hati-hati manusia dari petunjuk Allah dan jalan-Nya.” [Miftah Daris Sa’adah, 1/160]

Karena Perangkap Iblis Pertama Adalah Menghalangi Manusia Menuntut Ilmu Agama

➡ Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:

اعلم أن أول تلبيس إبليس عَلَى الناس صدهم عَنِ العلم لأن العلم نور فَإِذَا أطفا مصابيحهم خبطهم فِي الظُلَم كيف شاء

“Ketahuilah, bahwa perangkap iblis pertama atas manusia adalah menghalangi mereka menuntut ilmu agama, karena ilmu adalah cahaya. Apabila telah padam lentera-lentera mereka, maka dengan mudah iblis menjerumuskan mereka dalam kegelapan.” [Talbis Iblis, dalam Pasal Perangkap Iblis Terhadap Kaum Sufi (Ahli Tarekat, Tasawuf, Shufiyyah) Agar Tidak Sibuk dengan Ilmu, hal. 283]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/757992234350261:0

,

PENGARUH AMAL BAIK DAN BURUK

PENGARUH AMAL BAIK DAN BURUK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

PENGARUH AMAL BAIK DAN BURUK

Sahabat yang mulia, Ibnu Abbas dan Anas bin Malik radhiyallaahu’anhum berkata:

إن للحسنة نورا في القلب، وزينا في الوجه، وقوة في البدن، وسعة في الرزق، ومحبة في قلوب الخلق

“Sesungguhnya kebaikan itu menyebabkan cahaya di hati, keindahan di wajah, kekuatan di badan, keluasan rezeki, dan kecintaan di hati-hati makhluk.”

وإن للسيئة ظلمة في القلب، وشينا في الوجه، ووهنا في البدن، ونقصا في الرزق، وبغضة في قلوب الخلق

“Dan sesungguhnya keburukan itu menyebabkan kegelapan di hati, kejelekan di wajah, kelemahan di badan, kekurangan rezeki dan kebencian di hati-hati makhluk.”

[Raudhatul Muhibbin libnil Qoyyim rahimahullah: 441]

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/742015445947940:0

JALAN KESELAMATAN

JALAN KESELAMATAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

JALAN KESELAMATAN

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhany radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan keselamatan itu?”
Rasulullah ﷺ menjawab:

أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

“Jagalah lisan engkau, hendaknya engkau merasa lapang dengan rumahmu, dan tangisilah kesalahanmu.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dan selainnya. Shahih At-Targhîb dan Ash-Shahihah]

@DzulqarnainMS

JAUHI BURUK SANGKA

JAUHI BURUK SANGKA

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

JAUHI BURUK SANGKA

Berbagai prasangka buruk terhadap orang lain sering kali bersemayam di hati kita. Sebagian besarnya, tuduhan itu tidak dibangun di atas tanda atau bukti yang cukup. Sehingga yang terjadi adalah asal tuduh kepada saudaranya.

Buruk sangka kepada orang lain atau yang dalam bahasa Arabnya disebut Su`u zhan mungkin biasa atau bahkan sering hinggap di hati kita. Berbagai prasangka terlintas di pikiran kita, si A begini, si B begitu, si C demikian, si D demikian dan demikian. Yang parahnya, terkadang persangkaan kita tiada berdasar dan tidak beralasan. Memang semata-mata sifat kita suka curiga dan penuh sangka kepada orang lain, lalu kita membiarkan zhan tersebut bersemayam di dalam hati. Bahkan kita membicarakan serta menyampaikannya kepada orang lain. Padahal Su`u zhan kepada sesama kaum Muslimin tanpa ada alasan/bukti merupakan perkara yang terlarang. Demikian jelas ayatnya dalam Alquranil Karim, Allah ﷻ berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan), karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (Al-Hujurat: 12)

Dalam ayat di atas, Allah ﷻ memerintahkan kita untuk menjauhi kebanyakan dari prasangka, dan tidak mengatakan agar kita menjauhi semua prasangka. Karena memang prasangka yang dibangun di atas suatu qarinah (tanda-tanda yang menunjukkan ke arah tersebut) tidaklah terlarang. Hal itu merupakan tabiat manusia. Bila ia mendapatkan qarinah yang kuat, maka timbullah zhannya, apakah zhan yang baik ataupun yang tidak baik. Yang namanya manusia memang mau tidak mau akan tunduk menuruti qarinah yang ada. Yang seperti ini tidak apa-apa. Yang terlarang adalah berprasangka semata-mata tanpa ada qarinah. Inilah zhan yang diperingatkan oleh Nabi ﷺ dan dinyatakan oleh beliau ﷺ sebagai pembicaraan yang paling dusta (Syarhu Riyadhis Shalihin, 3/191).

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Allah ﷻ berfirman melarang hamba-hamba-Nya dari banyak persangkaan, yaitu menuduh dan menganggap khianat kepada keluarga, kerabat dan orang lain tidak pada tempatnya. Karena sebagian dari persangkaan itu adalah dosa yang murni. Maka jauhilah kebanyakan dari persangkaan tersebut dalam rangka kehati-hatian. Kami meriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: ‘Janganlah sekali-kali engkau berprasangka, kecuali kebaikan terhadap satu kata yang keluar dari saudaramu yang Mukmin, jika memang engkau dapati kemungkinan kebaikan pada kata tersebut.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/291)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan sebuah hadis Rasulullah ﷺ yang berbunyi:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوْا، وَلاَ تَجَسَّسُوْا، وَلاَ تَنَافَسُوْا، وَلاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهَ إِخْوَانًا كَمَا أَمَرَكُمْ، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَهُنَا، التَّقْوَى ههُنَا -يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ- بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ، إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ، وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

“Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan), karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara, sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan/bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini.”

Beliau ﷺ mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya. “Cukuplah seseorang dari kejelekan, bila ia merendahkan saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim terhadap Muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian. Akan tetapi Dia melihat ke hati-hati dan amalan kalian.” (HR. ِAl-Bukhari no. 6066 dan Muslim no. 6482)

Zhan yang disebutkan dalam hadis di atas dan juga di dalam ayat, kata ulama kita, adalah tuhmah (tuduhan). Zhan yang diperingatkan dan dilarang adalah tuhmah tanpa ada sebabnya. Seperti seseorang yang dituduh berbuat fahisyah (zina) atau dituduh minum khamr, padahal tidak tampak darinya tanda-tanda yang mengharuskan dilemparkannya tuduhan tersebut kepada dirinya. Dengan demikian, bila tidak ada tanda-tanda yang benar dan sebab yang zahir (tampak), maka haram berzhan yang jelek. Terlebih lagi kepada orang yang keadaannya tertutup dan yang tampak darinya hanyalah kebaikan/kesalehan. Beda halnya dengan seseorang yang terkenal di kalangan manusia sebagai orang yang tidak baik, suka terang-terangan berbuat maksiat, atau melakukan hal-hal yang mendatangkan kecurigaan, seperti keluar masuk ke tempat penjualan khamr, berteman dengan para wanita penghibur yang fajir, suka melihat perkara yang haram dan sebagainya. Orang yang keadaannya seperti ini tidaklah terlarang untuk berburuk sangka kepadanya (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an 16/217, Ruhul Ma’ani 13/219).

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu menyebutkan dari mayoritas ulama, dengan menukilkan dari Al-Mahdawi, bahwa zhan yang buruk terhadap orang yang zahirnya baik tidak dibolehkan. Sebaliknya, tidak berdosa berzhan yang jelek kepada orang yang zahirnya jelek (Al Jami’ li Ahkamil Qur`an, 16/218).

Karenanya, Ibnu Hubairah Al-Wazir Al-Hanbali berkata: “Demi Allah, tidak halal berbaik sangka kepada orang yang menolak kebenaran, tidak pula kepada orang yang menyelisihi syariat.” (Al-Adabus Syar’iyyah, 1/70)

Dari hadis:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata menjelaskan ucapan Al-Khaththabi tentang zhan yang dilarang dalam hadis ini: “Zhan yang diharamkan adalah zhan yang terus menetap pada diri seseorang, terus mendiami hatinya, bukan zhan yang sekadar terbetik di hati lalu hilang tanpa bersemayam di dalam hati. Karena zhan yang terakhir ini di luar kemampuan seseorang. Sebagaimana yang telah lewat dalam hadis, bahwa Allah ﷻ memaafkan umat ini, dari apa yang terlintas di hatinya, selama ia tidak mengucapkannya atau ia bersengaja.” (Al-Minhaj, 16/335). Lafal hadis yang dimaksud adalah:

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِإُمَّتِي مَا حَدَثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَـمْ يَتَكَلَّمُوْا أَوْ يَعْمَلُوْا بِهِ

“Sesungguhnya Allah memaafkan bagi umatku apa yang terlintas di jiwa mereka, selama mereka tidak membicarakan atau melakukannya.”  (HR. Bukhari no. 2528 dan Muslim no. 327)

Sufyan rahimahullahu berkata: “Zhan yang mendatangkan dosa adalah bila seseorang berzhan dan ia membicarakannya. Bila ia diam/menyimpannya dan tidak membicarakannya, maka ia tidak berdosa.”

Dimungkinkan pula kata Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu, bahwa zhan yang dilarang adalah zhan yang murni /tidak beralasan, tidak dibangun di atas asas dan tidak didukung dengan bukti. (Ikmalul Mu’lim bi Fawa`id Muslim, 8/28)

Kepada seorang Muslim yang secara zahir baik agamanya, serta menjaga kehormatannya, tidaklah pantas kita berzhan buruk. Bila sampai pada kita berita yang “miring” tentangnya, maka tidak ada yang sepantasnya kita lakukan, kecuali tetap berbaik sangka kepadanya. Karena itu, tatkala terjadi peristiwa Ifk di masa Nubuwwah, di mana orang-orang munafik menyebarkan fitnah berupa berita dusta, bahwa istri Rasulullah ﷺ yang mulia, shalihah, dan thahirah (suci dari perbuatan nista) Aisyah radhiyallahu ‘anha berzina, wal’iyadzubillah, dengan sahabat yang mulia Shafwan ibnu Mu’aththal radhiyallahu ‘anhu, Allah ﷻ mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar tetap berprasangka baik, dan tidak ikut-ikutan dengan munafikin menyebarkan kedustaan tersebut. Dalam Tanzil-Nya, Dia ﷻ berfirman:

لَوْلاَ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

“Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong tersebut, orang-orang Mukmin dan Mukminah tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan mengapa mereka tidak berkata: ‘Ini adalah sebuah berita bohong yang nyata’.” (An-Nur: 12)

Dalam Alquranul Karim, Allah ﷻ mencela orang-orang Badui yang takut berperang ketika mereka diajak untuk keluar bersama pasukan mujahidin yang dipimpin oleh Rasulullah ﷺ. Orang-orang Badui ini dihinggapi dengan zhan yang jelek.

سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ اْلأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا بَلْ كَانَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا. بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَلِكَ فِي قُلُوبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا

“Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: ‘Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.’ Mereka mengucapkan dengan lidah mereka, apa yang tidak ada di dalam hati mereka. Katakanlah: “Maka siapakah gerangan yang dapat menghalangi-halangi kehendak Allah, jika Dia menghendaki kemudaratan bagi kalian, atau jika Dia menghendaki manfaat bagi kalian. Bahkan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. Tetapi kalian menyangka, bahwa Rasul dan orang-orang yang beriman sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya, dan setan telah menjadikan kalian memandang baik dalam hati kalian persangkaan tersebut. Dan kalian telah menyangka dengan sangkaan yang buruk, kalian pun menjadi kaum yang binasa.” (Al-Fath: 11-12)

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Sumber:

http://asysyariah.com/print.php?id_online=695

http://www.darussalaf.or.id/Muslimah/jauhi-buruk-sangka/?fdx_switcher=true

 

 

,

PERINGATAN KERAS DARI TERTIPU DENGAN DUNIA

PERINGATAN KERAS DARI TERTIPU DENGAN DUNIA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

PERINGATAN KERAS DARI TERTIPU DENGAN DUNIA

  • Nasihat Yang Menyentuh Hati

Fadhilatusy Syaikh Sholih Al Fauzan, semoga Allah menjaganya, berkata:

“Berapa kali kita menyaksikan manusia bergegas mencari dunia dengan penuh tergesa-gesa, karena takut akan terluput dari mereka.

Dan kita menyaksikan mereka bersantai-santai serta terlambat ketika menghadiri masjid-masjid untuk menunaikan sholat lima waktu, yang hal itu merupakan tiang agama.

Berapa kali kita menyaksikan mereka duduk-duduk di pinggir jalan serta di toko-toko berjam-jam lamanya. Bahkan sungguh terkadang mereka rela menghadapi panas terik dan dinginnya cuaca, hanya demi mencari dunia.

Dan kita tidak pernah menyaksikan mereka bersabar duduk beberapa menit di masjid, untuk menunaikan sholat wajib atau untuk membaca Alquran.

Berapa kali kita menyaksikan sebagian pemuda Islam, yang mereka saling berlomba-lomba menuju lapangan bola, rela mengeluarkan biaya demi mendapatkan tiket masuk. Kemudian mereka berkumpul di dalamnya sampai ribuan jumlahnya. Dan terkadang mereka menghabiskan siang hari serta begadang pada malam hari, sambil rela berdiri,dengan mata terbelalak, tubuh yang letih dan suara-suara teriakan seraya fokus menyaksikan para pemain, kira-kira tim manakah yang akan menang?

Mereka rela memikul semua keletihan tersebut di jalan setan. Apabila mereka diseru untuk menghadiri sholat lima waktu di masjid-masjid dengan lafal:

  • “Hayya ‘alashsholah (Mari kita sholat) ” dan
  • “Hayya ‘alal falah (Mari kita menuju kemenangan) “

Mereka pura-pura buta, tuli, berpaling dan mengingkari seruan tersebut. Seakan-akan sang muadzin menyeru untuk masuk ke dalam penjara, atau seakan-akan sang muadzin mengharapkan kehinaan.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ruku’lah, niscaya mereka tidak mau ruku’.

Kecelakaan yang besarlah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan (Almursalat:48-49).

Pada hari betis disingkapkan, dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak mampu.

(Dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera (Al qolam:42-43).

Wahai kaum Muslimin

Inilah keadaan kebanyakan dari kita pada hari ini, yaitu menyambut kenikmatan dunia dan berpaling dari kenikmatan Akhirat.

Kita tidak mengambil pelajaran dari orang-orang yang telah mendahului kita:

  • Tidak memerhatikan orang-orang dibsekitar kita
  • Tidak tersentuh dengan sebuah nasihat
  • Tidak mengambil manfaat dari sebuah peringatan

Maka, inna lillah wa inna ilaihi roji’un

Dan kita memohon kepada Allah, agar Dia menganugerahi kita sebuah taubat, serta menyadarkan hati-hati kita dari kelalaian.

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar Lagi Maha Mengabulkan.

 

 مـوعـظـة_مـؤثـرة

قال فضيلة الشيخ صالح الفوزان حفظه الله تعالى:

« كم نرى الناس يتراكضون لطلب الدنيا مسرعين يخافون أن تفوتهم

ونراهم يقعدون ويتأخرون عن حضور المساجد لأداء الصلوات الخمس التي هي عمود الدين،

 كم نراهم يجلسون في الشوارع والدكاكين الساعات الطويلة وقد يقاسون شدة الحر والقر لطلب الدنيا

بينما لا نراهم يصبرون على الجلوس دقائق معدودة في المسجد لأداء الصلاة أو تلاوة القرآن،

 كم نرى من شباب المسلمين يتسابقون إلى ملاعب الكرة ويدفعون الدراهم للحصول على تذاكر الدخول ثم يحتشدون فيها ألوافاً مؤلفة وربما يقضون النهار ويسهرون الليل واقفين على أقدامهم شاخصة أبصارهم ناصبة أبدانهم مبحوحة أصواتهم يشاهدون اللاعبين لمن تكون الغلبة منهم؟

يتحملون كل هذه المتاعب في سبيل الشيطان، وإذا دعوا إلى حضور الصلوات في المساجد بحي على الصلاة حي على الفلاح عموا وصموا وولوا وأعرضوا كأن المؤذن يدعوهم إلى سجن أو كأنه يطلب منهم مذمة،

{ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ارْكَعُوا لا يَرْكَعُونَ وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ }

{ يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلا يَسْتَطِيعُونَ * خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ

 

Referensi:

Khutbah tentang  “Peringatan Keras Dari Tertipu Dengan Dunia”

[Kitab Alkhuthob Alminbariyyah Jilid  1 hal. 313-314].

, ,

KENDALIKANLAH LISAN KITA

KENDALIKANLAH LISAN KITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraHadis

KENDALIKANLAH LISAN KITA

Lidah adalah anggota badan yang benar-benar perlu dijaga dan dikendalikan. Sesungguhnya lidah adalah penerjemah hati dan pengungkap isi hati. Oleh karena itulah, setelah Nabi ﷺ memerintahkan istiqamah, beliau ﷺ mewasiatkan kita untuk menjaga lisan. Dan lurusnya lidah itu berkaitan dengan kelurusan hati dan keimanan seseorang. Di dalam Musnad Imam Ahmad dari Anas bin Malik , dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Iman seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga hatinya istiqamah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga lisannya istiqamah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk Surga. (H.R. Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/13).

Dan di dalam Tirmidzi (no. 2407) dari Abu Sa’id Al-Khudri, Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

Jika anak Adam memasuki pagi hari, sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lisan: “Takwalah kepada Allah di dalam menjaga hak-hak kami. Sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqamah, maka kami juga istiqamah. Jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang. (H.R. Tirmidzi, no. 2407; dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/17, no. 1521) (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam, 1/511-512)

Oleh karena itulah, sepantasnya seorang Mukmin menjaga lidahnya. Tahukah Anda, jaminan bagi orang yang menjaga lidahnya dengan baik? Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya, dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin Surga baginya. (H.R. Bukhari, no. 6474; Tirmidzi, no. 2408; lafazh bagi Bukhari).

Beliau ﷺ juga menjelaskan, bahwa menjaga lidah merupakan keselamatan:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ أَمْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, dia berkata: “Aku bertanya, wahai Rasulullah, apakah sebab keselamatan?” Beliau ﷺ menjawab: “Kuasailah lidahmu, hendaklah rumahmu luas bagimu, dan tangisilah kesalahanmu”. (H.R. Tirmidzi, no.2406)

Yaitu janganlah engkau berbicara kecuali dengan perkara yang membawa kebaikanmu, betahlah tinggal di dalam rumah dengan melakukan ketaatan-ketaatan, dan hendaklah engkau menyesali kesalahanmu dengan cara menangis. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Tirmidzi).

Imam An-Nawawi rahimahullah (wafat 676 H) berkata: “Ketahuilah, sepantasnya bagi setiap mukallaf (orang yang berakal dan baligh) menjaga lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas mashlahat padanya. Ketika berbicara atau meninggalkannya itu sama mashlahatnya, maka menurut Sunnah adalah menahan diri darinya. Karena perkataan mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram atau makruh. Bahkan, ini banyak atau dominan pada kebiasaan. Sedangkan keselamatan itu tiada bandingannya. Telah diriwayatkan kepada kami di dalam dua Shahih, Al-Bukhari (no. 6475) dan Muslim (no. 47), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.”

Aku katakan: Hadis yang disepakati Shahihnya ini merupakan nash yang jelas, bahwa sepantasnya seseorang tidak berbicara, kecuali jika perkataan itu merupakan kebaikan, yaitu yang nampak mashlahatnya. Jika dia ragu-ragu tentang timbulnya mashlahat, maka dia tidak berbicara.

Dan Imam Asy-Syafi’i telah berkata: ‘Jika seseorang menghendaki berbicara, maka sebelum dia berbiacra hendaklah berpikir. Jika nampak jelas mashlahatnya, dia berbicara. Dan jika dia ragu-ragu, maka dia tidak berbicara sampai jelas mashlahatnya.’” [Al-Adzkaar, 2/713-714, karya Imam An-Nawawi, tahqiiq dan takhriij Syaikh Salim Al-Hilaali, penerbit Dar Ibni Hazm, cet. 2, th. 1425 H / 2004 M].

Selain itu, bahwa lidah merupakan alat yang mengungkapkan isi hati. Jika Anda ingin mengetahui isi hati seseorang, maka perhatikanlah gerakan lidahnya, isi pembicaraannya. Hal itu akan memberitahukan isi hatinya, baik orang tersebut mau atau enggan.

Diriwayatkan bahwa Yahya bin Mu’adz berkata: “Hati itu seperti periuk yang mendidih dengan isinya, sedangkan lidah itu adalah gayungnya. Maka, perhatikanlah seseorang ketika berbicara. Karena sesungguhnya lidahnya itu akan mengambilkan untukmu, apa yang ada di dalam hatinya, manis, pahit, tawar, asin, dan lainnya. Pengambilan lidahnya akan menjelaskan kepadamu rasa hatinya.” [Hilyatul Au’iyaa’, 10/63, dinukil dari Aafaatul Lisaan fii Dhauil Kitab was Sunnah, hlm, 159, karya Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani]

Perkataan Para Salaf Tentang Hifzhul Lisan

Sesungguhnya, para Salaf dahulu biasa menjaga dan menghisab lidahnya dengan baik. Dan diriwayatkan dari mereka perkataan-perkataan yang bagus berkaitan dengan lidah dan pembicaraan, di antaranya:

Diriwayatkan, bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab berkata: “Barang siapa banyak pembicaraannya, banyak pula tergelincirnya. Dan barang siapa banyak tergelincirnya, banyak pula dosanya. Dan barang siapa banyak dosa-dosanya, Neraka lebih pantas baginya.” [Riwayat Al-Qudhai di dalam Musnad Asy-Syihab, no. 374; Ibnu Hibban di dalam Raudhatul ‘Uqala’, hlm. 44. Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, juz 1, hlm. 339, karya Imam Ibnu Rajab, dengan penelitian Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Bajis; penerbit Ar-Risalah; cet: 5; th: 1414 H/ 1994 M]

Diriwayatkan, bahwa Ibnu Mas’ud pernah bersumpah dengan nama Allah, lalu mengatakan: “Di muka bumi ini, tidak ada sesuatu yang lebih pantas menerima lamanya penjara daripada lidah!” [Riwayat Ibnu Hibban di dalam Raudhatul ‘Uqala’, hlm. 48. Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, juz 1, hlm. 340]

Diriwayatkan, bahwa Ibnu Mas’ud berkata: “Jauhilah Fudhuulul Kalam (Pembicaraan yang melebihi keperluan). Cukup bagi seseorang berbicara, menyampaikan sesuai kebutuhannya.” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, juz. 1, hlm. 339]

Syaqiq mengatakan: “‘Abdullah bin Mas’ud ber-talbiyah di atas bukit Shofa, kemudian mengatakan: ‘Wahai lidah, katakanlah kebaikan, niscaya engkau mendapatkan keberuntungan. Diamlah, niscaya engkau selamat, sebelum engkau menyesal.’ Orang-orang bertanya: ‘Wahai Abu ‘Abdurrahman, ini adalah suatu perkataan yang engkau ucapkan sendiri, atau engkau dengar?’ Dia menjawab: ‘Tidak, bahkan aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

أَكْثَرُ خَطَايَا إِبْنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ

‘Mayoritas kesalahan anak Adam adalah pada lidahnya.‘” (HR. Thabarani, Ibnu ‘Asakir, dan lainnya. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 534).

Diriwayatkan, bahwa Ibnu Buraidah mengatakan: “Aku melihat Ibnu ‘Abbas memegangi lidahnya sambil berkata: ‘Celaka engkau, katakanlah kebaikan, engkau mendapatkan keberuntungan. Diamlah dari keburukan, niscaya engkau selamat. Jika tidak, ketahuilah bahwa engkau akan menyesal.’” [Aafatul Lisaan, hlm. 161]

Diriwayatkan, bahwa An-Nakhai berkata: “Manusia binasa pada fudhuulul maal (harta yang melebihi kebutuhan) dan fudhuulul kalam (Pembicaraan yang melebihi keperluan).” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, juz 1, hlm. 339]

Diriwayatkan, bahwa ada seseorang yang bermimpi bertemu dengan seorang alim besar. Kemudian orang alim itu ditanya tentang keadaannya, dia menjawab: “Aku diperiksa tentang satu kalimat yang dahulu aku ucapkan. Yaitu aku dahulu pernah mengatakan: ‘Manusia sangat membutuhkan hujan!’ Aku ditanya: ‘Tahukah engkau, bahwa Aku (Allah) lebih mengetahui terhadap mashlahat hamba-hamba-Ku?” [Aafatul Lisaan, hlm. 160-161]

Diriwayatkan, bahwa seorang Salaf mengatakan: “Seorang Mukmin itu menyedikitkan omongan dan memerbanyak amalan. Adapun orang munafik, dia memerbanyak omongan dan menyedikitkan amalan.”

Diriwayatkan, bahwa seorang Salaf mengatakan: “Selama aku belum berbicara dengan satu kalimat, maka aku menguasainya. Namun jika aku telah mengucapkannya, maka kalimat itu menguasaiku.”

Diriwayatkan, bahwa seorang Salaf mengatakan: “Diam adalah ibadah tanpa kelelahan, keindahan tanpa perhiasan, kewibawaan tanpa kekuasaan, Anda tidak perlu beralasan karenanya, dan dengannya, aibmu tertutupi.” [Lihat Hashaaidul Alsun, hlm. 175-176]

Kesimpulannya adalah bahwa kita diperintahkan berbicara yang baik, dan diam dari keburukan. Jika berbicara hendaklah sesuai dengan keperluannya. Wallahul Musta’an.

Mashaadir:

1- Aafaatul Lisaan fii Dhauil Kitab was Sunnah, karya Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani

2- Al-Adzkaar, karya Imam An-Nawawi, tahqiiq dan takhriij Syaikh Salim Al-Hilaali, penerbit Dar Ibni Hazm, cet. 2, th. 1425 H / 2004 M

3- Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, karya Imam Ibnu Rajab, dengan penelitian Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Bajis; penerbit Ar-Risalah; cet: 5; th: 1414 H/ 1994 M)

4- Hashaaidul Alsun, karya Syaikh Husain Al-’Awaisyah, penerbit. Darul Hijrah. Dan lain-lain.

 

Penulis: Ustadz Abu Isma’il Muslim Atsari

[Artikel www.muslim.or.id]