Posts

,

APA MAKSUD ISTILAH HAJI AKBAR?

APA MAKSUD ISTILAH HAJI AKBAR?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

APA MAKSUD ISTILAH HAJI AKBAR?
>> Kapankah Hari Haji Akbar Itu?
 
Barangkali pembaca sering mendengar istilah Haji Akbar. Berbagai macam asumsi tentang Haji Akbar ini berkembang di tengah masyarakat, semisal, bahwa Haji Akbar adalah Wuquf di Padang Arafah yang bertepatan pada waktu Jumat. Sebagian berasumsi, bahwa Haji Akbar adalah hari Idul Adha yang bertepatan dengan Jumat.
 
Yang menjadi pertanyaan, dari manakah istilah Haji Akbar itu? Adakah dasar penggunaan istilah Haji Akbar ini? Kalaupun ada, apa yang dimaksud dengan Haji Akbar itu?
 
Asal-Usul Istilah Haji Akbar
 
Istilah Haji Akbar telah digunakan Alquran, yaitu dalam surat At Taubah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
 
وَأَذَانٌ مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الحَجِّ اْلأَكْبَرِ أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ فَإِن تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللهِ وَبَشِّرِ الَّذِينَ كَفَرُوا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
 
“Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari Haji Akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu. Dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakan kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” [QS At -Taubah/9:3].
 
Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang Haji Akbar yang dimaksudkan dalam ayat di atas. Imam Al Bukhari meriwayatkan sebuah hadis dalam Shahihnya berkenaan dengan tafsir ayat di atas, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
 
أَنهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعَثَهُ فِي الْحَجَّةِ الَّتِي أَمَّرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا قَبْلَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ فِي رَهْطٍ يُؤَذِّنُونَ فِي النَّاسِ أَنْ لَا يَحُجَّنَّ بَعْدَ الْعَامِ مُشْرِكٌ وَلَا يَطُوفَ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ
 
“Dia mengabarkan, bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq mengutusnya pada musim haji yang beliau diangkat sebagai amir haji oleh Rasulullah ﷺ sebelum Haji Wada’ dalam satu rombongan, untuk mengumumkan kepada manusia, agar jangan ada seorang pun dari kaum musyrikin yang mengerjakan haji setelah tahun ini. Dan agar jangan ada seorang pun yang mengerjakan Thawaf dalam keadaan telanjang”.
 
Humaid (salah seorang perawi) berkata: “Hari Nahar (hari penyembelihan hewan kurban atau hari Idul Adha) adalah hari Haji Akbar berdasarkan hadis Abu Hurairah ini.” [Silakan lihat Shahih Al Bukhari, hadis nomor 4657, dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu]
 
Ada pendapat yang menyebutkan, bahwa Ahli Jahiliyah dahulu Wuquf di Arafah, sedangkan kaum Quraisy Wuquf di Muzdalifah. Lalu pada pagi hari Nahar, mereka semua berkumpul di Muzdalifah. Oleh karena itu, disebutlah hari itu sebagai hari Haji Akbar, karena seluruhnya (Ahli Jahiliyah dan Kaum Quraisy) berkumpul di Muzdalifah.”
 
Diriwayatkan pula dari Mujahid, bahwa yang dimaksud Haji Akbar adalah Haji Qiran. Sedangkan Haji Ashgar adalah Haji Ifrad. Ada pula ulama yang mengatakan, yang dimaksud dengan Haji Ashgar adalah Hari Arafah, dan Haji Akbar adalah Hari Nahar, karena pada hari itu disempurnakan manasik haji yang tersisa.
 
Menurut Sufyan Ats Tsauri, seluruh hari-hari haji (termasuk Hari Arafah, Hari Nahar dan Tasyriq) adalah hari Haji Akbar, seperti halnya istilah hari Fath, hari Jamal, hari Shiffin dan sejenisnya. Pendapat seperti ini juga dinukil dari Mujahid dan Abu Ubaid. Pendapat ini didukung oleh As Suhaili. Dia menyebutkan, bahwa Ali membacakannya pada seluruh hari-hari haji.
 
Abu Ishaq pernah bertanya kepada Abu Juhiifah tentang hari Haji Akbar, ia menjawab: ”Hari Arafah!” Abu Ishaq bertanya: ”Apakah menurut pendapatmu saja, atau pendapat seluruh sahabat Rasulullah ﷺ?” Beliau menjawab: ”Dari pendapat seluruhnya.”
 
Oleh karena itulah Umar bin Al Kaththab Radhiyallahu ‘anhu secara tegas mengatakan, bahwa hari Haji Akbar adalah hari Arafah. Pendapat ini diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas, Abdullah bin Az Zubair, Mujahid, Ikrimah, Atha’ dan Thawus.
 
Sementara itu, para sahabat yang berpendapat bahwa hari Haji Akbar adalah hari Nahar, di antaranya ialah Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abi Aufa, Al Mughirah bin Syu’bah, sebuah riwayat lain dari Abdullah bin Abbas, Abu Juhaifah, Sa’id bin Jubair, Abdullah bin Syaddad bin Al Haad, Nafi’ bin Jubair bin Muth’im, Asy Sya’bi, Ibrahim An-Nakha’i, Mujahid, Ikrimah, Abu Ja’far Al Baqir, Az Zuhri, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, bahwa mereka semua mengatakan hari Haji Akbar ialah hari Nahar.
Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir Ath Thabari dalam tafsirnya, berdasarkan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al Bukhaari di atas dan beberapa hadis lainnya.
 
Ibnu Jarir Ath Thabari menyebutkan hadis lain dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata,”Rasulullah ﷺ berdiri di Jumrah pada hari Nahar ketika haji Wada’. Rasulullah ﷺ berkata:’Ini adalah hari Haji Akbar’.”
 
Riwayat-riwayat di atas menguatkan pendapat yang mengatakan, bahwa hari Haji Akbar adalah hari Nahar. Sementara itu, diriwayatkan dari Sa’id bin Al Musayyib, bahwa hari Haji Akbar adalah hari kedua dari hari Nahar. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya.
 
Kesimpulannya, dalam masalah ini, ada beberapa pendapat ulama, sebagai berikut:
 
1. Pendapat yang mengatakan hari Haji Akbar adalah Haji Arafah.
2. Pendapat yang mengatakan hari Haji Akbar adalah Haji Nahar (Haji Idul Adha).
3. Pendapat yang mengatakan, bahwa hari Haji Akbar adalah hari kedua dari Haji Nahar.
4. Pendapat yang mengatakan, bahwa Haji Akbar adalah Haji Qiran, sedangkan Haji Ashgar adalah Haji Ifrad.
5. Pendapat yang mengatakan, bahwa hari Haji Akbar adalah seluruh hari-hari haji.
6. Sebagian ulama berpendapat, bahwa Haji Akbar adalah Haji Arafah, dan Haji Ashgar adalah Haji Nahar.
7. Sebagian ulama lainnya berpendapat, Haji Akbar adalah haji, dan Haji Ashgar adalah umrah.
 
Namun seluruh pendapat tersebut dapat disatukan kepada pendapat yang kelima. Yaitu hari Haji Akbar adalah seluruh hari-hari haji, termasuk di dalamnya Hari Arafah, Hari Mina, Hari Muzdalifah, Hari Nahar dan Hari-hari Tasyriq. Karena para sahabat maupun tabi’in yang berpendapat Haji Akbar adalah hari Nahar tidak menafikan jika Haji Akbar itu juga Hari Arafah. Bahkan ada sebagian sahabat yang berpendapat, bahwa hari Haji Akbar adalah Hari Arafah dan Juga Hari Nahar, misalnya seperti Turjumanul Al Qur’an Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma. Demikian pula sebaliknya.
 
Wallahu a’lam bish shawab.
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun VI/1422H/2001M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
 
 
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

ARI ARAFAH, HARI PEMBEBASAN DARI API NERAKA DENGAN KUOTA TERBANYAK

ARI ARAFAH, HARI PEMBEBASAN DARI API NERAKA DENGAN KUOTA TERBANYAK
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
Bismillah
 
#MutiaraSunnah
 
HARI ARAFAH, HARI PEMBEBASAN DARI API NERAKA DENGAN KUOTA TERBANYAK
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
 
“Tidak ada satu hari pun, di mana jumlah hamba yang ALLAH bebaskan dari api Neraka, lebih banyak dari hari Arafah…”
[HR. Muslim]
 
Saudaraku,
Hari ini adalah hari pembebasan dengan kuota terbanyak.
Hadirkan harapan dan kecemasan pada hari ini!
Perbanyaklah berdoa dan berdzikir pada hari ini!
Kerjakan amal saleh semaksimal mungkin pada hari ini!
 
Semoga saya dan Anda semua termasuk ke dalam hamba-hamba yang dibebaskan dari siksa api Neraka.
 
Penulis: Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri
Sumber: Twitter @IslamDiaries
, ,

MUSTAJABNYA DOA PADA HARI ARAFAH 9 DZULHIJJAH

MUSTAJABNYA DOA PADA HARI ARAFAH 9 DZULHIJJAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#DoaZikir
 
MUSTAJABNYA DOA PADA HARI ARAFAH 9 DZULHIJJAH
 
Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah, 9 Dzulhijjah. Maksudnya, doa ini paling cepat di-ijabahi, sehingga kita diperintahkan untuk konsen melakukan ibadah yang satu ini di pada hari Arafah, apalagi untuk orang yang sedang wukuf di Arafah. Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari Neraka adalah hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” [HR. Muslim no. 1348].
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi ﷺ bersabda:
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.” [HR. Tirmidzi no. 3585. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Hasan]. Maksudnya, inilah DOA YANG PALING CEPAT DIPENUHI ATAU TERKABULKAN [Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 10: 33].
Apakah keutamaan doa ini hanya khusus bagi yang Wukuf di Arafah? Apakah berlaku juga keutamaan ini bagi orang yang tidak menunaikan ibadah haji?
Yang tepat, mustajabnya doa tersebut adalah UMUM, baik bagi yang berhaji maupun yang tidak berhaji, karena keutamaan yang ada adalah keutamaan PADA HARI. Sedangkan yang berada di Arafah (yang sedang Wukuf pada 9 Dzulhijjah), ia berarti menggabungkan antara keutamaan waktu dan tempat. [Demikian kata Syaikh Sholih Al Munajjid dalam Fatawanya no. 70282].
Tanda bahwasanya doa pada hari Arafah karena dilihat dari kemuliaan hari tersebut dapat kita lihat dari sebagian salaf yang membolehkan Ta’rif. Ta’rif adalah berkumpul di masjid untuk berdoa dan zikir pada hari Arafah. Yang melakukan seperti ini adalah sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Imam Ahmad masih membolehkannya, walau beliau sendiri tidak melakukannya.
 
Syaikh Sholih Al Munajjid -semoga Allah berkahi umur beliau- menerangkan: “Hal ini menunjukkan, bahwa mereka menilai keutamaan hari Arafah tidaklah khusus bagi orang yang berhaji saja. Walau memang berkumpul-kumpul seperti ini untuk zikir dan doa pada hari Arafah tidaklah pernah ada dasarnya dari Nabi ﷺ. Oleh karena itu Imam Ahmad tidak melakukannya. Namun beliau beri keringanan dan tidak melarang, karena ada sebagian sahabat yang melakukannya, seperti Ibnu ‘Abbas dan ‘Amr bin Harits radhiyallahu ‘anhum.” [Fatawa Al Islam Sual wal Jawab no 70282]
 
Para salaf dahulu saling memeringatkan pada hari Arafah untuk sibuk dengan ibadah dan memerbanyak doa, serta tidak banyak bergaul dengan manusia. ‘Atho’ bin Abi Robbah mengatakan pada ‘Umar bin Al Warod: “Jika engkau mampu mengasingkan diri di siang hari Arafah, maka lakukanlah.” [Ahwalus Salaf fil Hajj, hal. 44]
 
Doa ini bagi yang Wukuf dimulai dari siang hari selepas matahari tergelincir ke Barat (masuk sholat Zuhur) hingga terbenamnya matahari.
Semoga Allah memudahkan kita untuk menyibukkan diri dengan doa pada hari Arafah.
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[Artikel Muslim.Or.Id]
 
,

BOLEHKAH QADHA RAMADAN PADA 9 DZULHIJJAH SAMBIL MENGHARAPKAN PAHALA PUASA ARAFAH?

BOLEHKAH QADHA RAMADAN PADA 9 DZULHIJJAH SAMBIL MENGHARAPKAN PAHALA PUASA ARAFAH?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#SifatPuasaNabi
 
BOLEHKAH QADHA RAMADAN PADA 9 DZULHIJJAH SAMBIL MENGHARAPKAN PAHALA PUASA ARAFAH?
 
Pertanyaan:
Bolehkah membayar qadha Ramadan pada 9 Dzulhijjah dan di saat yang sama BERHARAP mendapatkan keutamaan puasa Arafah (ampunan dosa setahun lalu + setahun akan datang)?
 
Jawaban:
Boleh, wallahu a’lam.
Qadha di hari-hari ini (9 hari awal Dzhulhijjah -adm ) juga bagus, karena amal-amal baik di hari ini paling dicintai oleh Allah daripada amal-amal di hari lain.
 
Penulis: Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
,

DI ANTARA HADIS-HADIS LEMAH SEPUTAR DZULHIJJAH

DI ANTARA HADIS-HADIS LEMAH SEPUTAR DZULHIJJAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#StopBidah, #HadisDhaif

DI ANTARA HADIS-HADIS LEMAH SEPUTAR DZULHIJJAH

 

في اول يوم من ذي الحجة غفر الله فيه لآدم ومن صام هذا اليوم غفر الله له كل ذنب
و في اليوم الثاني استجاب الله لسيدنا يوسف, ومن صام هذا اليوم كمن عبد الله سنة و لم يعص الله طرفة عين
و في اليوم الثالث استجاب الله دعاء زكريا , ومن صام هذا اليوم استجاب الله لدعاه
و في اليوم الرابع ولد سيدنا عيسى عليه السلام, ومن صام هذا اليوم نفى الله عنه الياس و الفقر و في يوم القيامة يحشر مع السفرة الكرام
و في اليوم الخامس ولد سيدنا موسى عليه السلام, و من صام هذا اليوم برئ من النفاق و عذاب القبر
و في اليوم السادس فتح الله لسيدنا محمد عليه الصلاة و السلام بالخير,و من صامه ينظر الله اليه بالرحمة و لا يعذبه أبدا
و في اليوم السابع تغلق فيه أبواب جهنم, و من صامه أغلق الله له ثلاثون بابا من العسر و فتح الله له ثلا ثين بابا من الخير
و في اليوم الثامن المسمى بيوم التروية و من صامه أعطي له من الأجر ما لا يعلمه إلا الله
و في اليوم التاسع و هو يوم عرفة من صامه يغفر الله له سنة من قبل و سنة من بعد
و في اليوم العاشر يكون عيد الأضحى و فيه قربان و ذبح ذبيحة و عند أول قطرة من دماء الذبيحة يغفر الله ذنوبه وذنوب أولاده. ومن أطعم فيه مؤمنا و تصدق بصدقة بعثه الله يوم القيامة آمنا و يكون ميزانه أثقل من جبل أحد

 

“Di hari pertama Dzulhijjah Allah mengampuni Adam. Dan barang siapa yang berpuasa pada hari tersebut, Allah akan mengampuni seluruh dosanya.”

“Di hari kedua Allah mengabulkan doa Sayyidina Yusuf. Dan barang siapa yang berpuasa di hari itu, pahalanya seperti beribadah kepada Allah setahun penuh, dan tidak bermaksiat walau sekejap mata.”

“Di hari ketiga Allah mengabulkan doa Zakaria. Dan barang siapa yang berpuasa pada hari itu, Allah akan mengabulkan doanya.”

“Di hari keempat lahir Sayyidina ‘Isa ‘alaihissalam. Dan barang siapa berpuasa pada hari itu, Allah akan menghilangkan kefakiran darinya. Dan pada Hari Kiamat ia akan dikumpulkan bersama As Safarat Al Kiram (malaikat yang mulia –pent).

“Di hari kelima lahirlah Musa ‘alaihissalam. Dan barang siapa berpuasa pada hari itu, ia akan dibebaskan dari sifat munafik dan azab kubur.”

“Di hari keenam Allah membukakan Sayyidina Muhammad ‘alaihis sholatu wassalam kebaikan. Dan barang siapa berpuasa pada hari itu, Allah akan melihatnya dengan rahmat-Nya dan ia tidak akan diazab.”

“Di hari ketujuh ditutup pintu-pintu jahannam. Dan barang siapa berpuasa pada hari itu, Allah akan tutup baginya 30 pintu kesulitan dan Allah bukakan baginya 30 pintu kebaikan.”

“Di hari kedelapan yang disebut juga dengan hari Tarwiyah, barang siapa berpuasa pada hari itu akan diberi balasan yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah.”

“Di hari kesembilan, yaitu hari Arafah, barang siapa berpuasa pada hari itu Allah akan mengampuni dosanya selama setahun sebelumnya, dan setahun sesudahnya.”

“Di hari kesepuluh yaitu Idul Adha, di dalamnya terdapat kurban, penyembelihan, dan pengaliran darah (hewan kurban), Allah akan mengampuni dosa anak-anaknya (yaitu orang yang berpuasa tadi –pent). Barang siapa yang memberi makan orang Mukmin dan bersedekah, Allah akan mengutus baginya pada Hari Kiamat, keamanan dan timbangannya lebih berat dari Gunung Uhud.”

Hadis ini TIDAK ADA ASALNYA, namun banyak tersebar di forum-forum internet.

 

Sumber: https://muslim.or.id/7322-hadits-hadits-lemah-seputar-bulan-dzulhijjah.html

 

, ,

KEUTAMAAN MANDI JUMAT

KEUTAMAAN MANDI JUMAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MutiaraSunnah

KEUTAMAAN MANDI JUMAT

Mandi Jumat adalah salah satu amalan yang diperintahkan di hari yang penuh berkah, hari Jumat. Di antara keutamaannya adalah sebab mendapatkan ampunan pada waktu Jumat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّىَ مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى وَفَضْلَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ

“Barang siapa yang mandi kemudian mendatangi Jumat, lalu ia shalat semampunya dan diam (mendengarkan khutbah) hingga selesai, kemudian ia lanjutkan dengan shalat bersama Imam, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dan Jumat yang lain. Dan bahkan hingga lebih tiga hari.” [HR. Muslim no. 857].

Dari Salman Al Farisi, ia berkata bahwa Rasul ﷺ bersabda:

“Apabila seseorang mandi pada waktu Jumat, dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak dan harum-haruman dari rumahnya, kemudian ia keluar rumah. Lantas ia tidak memisahkan di antara dua orang, kemudian ia mengerjakan shalat yang diwajibkan, dan ketika imam berkhutbah, ia pun diam, maka ia akan mendapatkan ampunan antara Jumat yang satu dan Jumat lainnya.” [HR. Bukhari no. 883]

Silakan di-share, semoga bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/2074-keutamaan-mandi-jumat.html

JUMAT – HARI PALING MULIA DAN MERUPAKAN PENGHULU DARI HARI-HARI

JUMAT - HARI PALING MULIA DAN MERUPAKAN PENGHULU DARI HARI-HARI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

JUMAT – HARI PALING MULIA DAN MERUPAKAN PENGHULU DARI HARI-HARI

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ berkata:

“Hari paling baik di mana matahari terbit pada hari itu adalah Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam Surga, serta dikeluarkan dari Surga. Pada hari itu juga Kiamat akan terjadi. Pada hari tersebut terdapat suatu waktu, di mana tidaklah seorang Mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan, kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim)

Dari Abu Lubabah bin Ibnu Mundzir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Jumat adalah penghulu hari-hari dan hari yang paling mulia di sisi Allah. Jumat ini lebih mulia dari Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha di sisi Allah. Pada waktu Jumat terdapat lima peristiwa, diciptakannya Adam dan diturunkannya ke bumi, pada waktu Jumat juga Adam dimatikan. Pada Jumat terdapat waktu, yang mana jika seseorang meminta kepada Allah, maka akan dikabulkan, selama tidak memohon yang haram. Dan pada waktu Jumat pula akan terjadi Kiamat. Tidaklah seseorang malaikat yang dekat di sisi Allah, di bumi dan di langit, kecuali dia dikasihi pada waktu Jumat.” (HR. Ahmad)

Ada beberapa peristiwa yang terjadi pada waktu Jumat ini, antara lain:

  • Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissallam dan mewafatkannya.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam dimasukkan ke dalam Surga.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam diturunkan dari Surga menuju bumi.
  • Hari akan terjadinya Kiamat.

 

Sumber: https://muslimah.or.id/74-ternyata-hari-Jumat-itu-istimewa.html

TUJUH KRITERIA MANUSIA YANG DIBENCI ALLAH

TUJUH KRITERIA MANUSIA YANG DIBENCI ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

TUJUH KRITERIA MANUSIA YANG DIBENCI ALLAH

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ فِي الْأَسْوَاقِ جِيفَةُ اللَّيْلِ ، حِمَارُ النَّهَارِ ، عَالِمٌ بِالدُّنْيَا ، جَاهِلٌ بِالْآخِرَةِ

Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang:

  • Ja’dzari,
  • Jawwadz,
  • Sakhab di pasar,
  • Bangkai di malam hari,
  • Himar di siang hari,
  • Pintar masalah dunia, dan
  • Bodoh masalah Akhirat. [HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro no. 20593 dan dishahihkan dalam shahih al-Jami’]

Keterangan:

Ada tujuh kriteria manusia yang Allah benci,

Pertama: Ja’dzari. Ada beberapa keterangan tentang maknanya:

a. Orang yang sombong, keras, tidak mau menerima nasehat

b. Orang yang keras kepala, alot, suka menguasai milik orang lain.

Dan kita bisa simak, kedua makna ini berdekatan.

Kedua: Jawwadz. Di antara maknanya:

a. Orang yang banyak makan, banyak minum, suka menolak kebenaran

b. Sombong ketika berjalan, dan keras kepala

Ketiga: Sakhab di pasar

Suka teriak di pasar, dan selalu memaksa ketika bersengketa dengan orang lain. Suka membuat masalah, maunya menang sendiri dan galak.

Keempat: Bangkai di malam hari

Ungkapan untuk menunjukkan karakternya yang banyak tidur, pemalas, dan tidak pernah shalat malam.

Kelima: Himar di siang hari

Himar adalah lambang kebodohan. Dia bodoh pemahamannya, sekalipun pintar cari dunia. Sangat rakus terhadap dunia, hingga tidak pernah perhatian dengan aturan dan ibadah.

Keenam: Pintar masalah dunia

Bicara masalah dunia, dia ahlinya. Bicara masalah harta, dia juga ahlinya.

Ketujuh: Bodoh masalah Akhirat

Tidak pernah perhatian dengan agama, tidak pernah belajar maupun bertanya tentang sesuatu yang tidak dia pahami.

Kita berlindung kepada Allah dari semu karakter di atas.

 

Sumber: https://nasehat.net/453-kriteria-manusia-yang-dibenci-allah.html

, ,

NIAT DI MALAM HARI DALAM PUASA WAJIB

NIAT DI MALAM HARI DALAM PUASA WAJIB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#SifatPuasaNabi

NIAT DI MALAM HARI DALAM PUASA WAJIB

Di antara RUKUN PUASA adalah berniat. Niat itu harus ada, namun cukuplah di hati, karena itulah yang dipersyaratkan. Adapun niat puasa wajib Ramadan harus ada di malam hari sebelum masuk waktu fajar (Subuh).

Hadis no. 656 dari kitab Bulughul Maram, Ibnu Hajar membawakan hadis:

وَعَنْ حَفْصَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ } رَوَاهُ الْخَمْسَةُ ، وَمَالَ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ إلَى تَرْجِيحِ وَقْفِهِ ، وَصَحَّحَهُ مَرْفُوعًا ابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ – وَلِلدَّارَقُطْنِيِّ { لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يَفْرِضْهُ مِنْ اللَّيْلِ }

Dari Hafshoh Ummul Mukminin, bahwa Nabi ﷺ berkata: “Barang siapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.” Hadis ini dikeluarkan oleh yang lima, yaitu Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai dan Ibnu Majah. An Nasai dan Tirmidzi berpendapat, bahwa hadis ini Mauquf, hanya sampai pada sahabat (perkataan sahabat). Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibbah menshahihkan hadisnya jika Marfu’, yaitu sampai pada Nabi ﷺ. Dalam riwayat Ad Daruquthni disebutkan: “Tidak ada puasa bagi yang tidak berniat ketika malam hari.”

Beberapa faidah dari hadis di atas:

1- Hadis ini menunjukkan, bahwa puasa mesti dengan niat sebagaimana ibadah lainnya. Sebagaimana kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

وَقَدْ اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْعِبَادَةَ الْمَقْصُودَةَ لِنَفْسِهَا كَالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالْحَجِّ لَا تَصِحُّ إلَّا بِنِيَّةِ

“Para ulama sepakat (Ijma’), bahwa ibadah yang dimaksudkan langsung pada zat ibadah itu sendiri seperti shalat, puasa, dan haji, maka HARUSLAH DENGAN NIAT.” (Majmu’ Al Fatawa, 18: 257).

2- Letak niat itu di dalam hati. Jadi, barang siapa yang terbetik dalam hatinya untuk berpuasa keesokan harinya, maka ia sudah dikatakan berniat.

3- Yang tidak melakukan niat di malam hari ketika melaksanakan puasa wajib, puasanya tidak sah. Adapun puasa sunnah akan dibahas pada hadis berikutnya.

4- Niat puasa wajib seperti Ramadan mesti dilakukan di malam hari, yaitu cukup mendapati niat pada sebagian malam, kata Ash Shon’ani dalam Subulus Salam dan Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan dalam Minhatul ‘Allam. Sedangkan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mengatakan, bahwa seandainya akhir malam pun masih bisa digunakan untuk berniat, asalkan sebelum fajar (Subuh). Adapun waktu malam dimulai dari waktu Maghrib.

Sebagai tanda seseorang sudah dikatakan berniat adalah ia bangun makan sahur, karena sudah terbetik hatinya untuk puasa. Begitu pula jika seseorang sudah memersiapkan makan sahur, meski akhirnya tidak bangun makan sahur, maka sudah dikatakan pula berniat.

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

  • Fathu Dzil Jalali wal Ikrom bi Syarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, 7: 83-92.
  • Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, 1432 H, 5: 18-21.
  • Subulus Salam Al Muwshilah ila Bulughil Marom, Muhammad bin Isma’il Al Amir Ash Shon’ani, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kedua, 1432 H, 4: 92-93.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

[www.rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/3425-niat-di-malam-hari-bagi-puasa-wajib.html

 

Catatan Tambahan:

NIAT PUASA RAMADAN, SETIAP HARI ATAU SEKALI DALAM SEBULAN?

Pertanyaan:

Apakah pada waktu Ramadan kita perlu berniat setiap hari, ataukah cukup berniat sekali untuk satu bulan penuh?

Jawaban:

Cukup dalam seluruh bulan Ramadan kita berniat SEKALI DI AWAL BULAN, karena walaupun seseorang tidak berniat puasa setiap hari pada malam harinya, semua itu sudah masuk dalam niatnya di awal bulan. Tetapi jika puasanya terputus di tengah bulan, baik karena bepergian, sakit dan sebagainya, maka dia harus berniat lagi, karena dia telah memutus bulan Ramadan itu dengan meninggakan puasa karena perjalanan, sakit dan sebagainya.

 

Sumber: Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007

[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]

Sumber: https://konsultasisyariah.com/5747-niat-puasa.html

,

BOLEHKAH MENGGANTI NIAT PUASA SYAWAL KE QADHA RAMADAN?

BOLEHKAH MENGGANTI NIAT PUASA SYAWAL KE QADHA RAMADAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#SifatPuasaNabi

BOLEHKAH MENGGANTI NIAT PUASA SYAWAL KE QADHA RAMADAN?

>> Hukum Mengubah Niat Puasa Sunnah Jadi Qadha

Pertanyaan:

Saya sudah melakukan beberapa hari niat puasa Syawal, tapi belum mengqadha puasa Ramadan. Kemudian salah seorang teman  memberitahu, bahwa seharusnya mengqadha terlebih dahulu, kemudian bisa melakukan puasa Syawal. Bagaimana dengan puasa yang sudah saya lakukan? Apakah bisa dianggap qadha puasa? Bagaimana jika beberapa hari berikutnya saya mengganti niat dengan qadha puasa? Terima kasih

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Salah satu aturan niat untuk puasa wajib, NIAT ini HARUS SUDAH ADA SEJAK SEBELUM SUBUH. Dari Hafshah radhiallahu ‘anha, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Barang siapa yang belum berniat puasa di malam hari (sebelum Subuh), maka puasanya batal.” (HR. Nasa’i 2343, ad-Daruquthni 2236 dan dishahihkan al-Albani)

Dalam riwayat yang lain, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Barang siapa yang belum berniat puasa sebelum Fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Daud 2456 dan yang lainnya).

Hadis ini berlaku untuk puasa wajib, termasuk puasa qadha.

An-Nawawi mengatakan:

لا يصح صوم رمضان ولا القضاء ولا الكفارة ولا صوم فدية الحج وغيرها من الصوم الواجب بنية من النهار ، بلا خلاف

Tidak sah melakukan puasa Ramadan, puasa qadha, puasa kaffarah, maupun puasa tebusan ketika haji, atau puasa wajib lainnya, jika niatnya di siang hari, dengan sepakat ulama. (al-Majmu’, 6/294).

Berdasarkan hadis ini, TIDAK MUNGKIN bagi orang yang tengah puasa Sunnah, lalu dia mengubah niatnya menjadi puasa qadha. Apalagi puasa Sunnah itu telah dikerjakan beberapa hari yang lalu. Dalam Fatwa Islam dinyatakan:

لا يصح تغيير نية صيام التطوع الذي فُرغ منه ليصبح قضاء عن أيام رمضان التي أفطرتيها ؛ لأن صيام القضاء لا بد فيه من تبييت النية من الليل

TIDAK SAH mengubah niat puasa Sunnah yang telah dikerjakan, agar menjadi puasa qadha Ramadan. Karena puasa qadha, niatnya harus dilakukan sejak malam hari. (Fatwa Islam, no. 192428).

Bagaimana Nasib Puasa yang Telah Dikerjakan?

Orang yang mengubah niat setelah selesai beramal, sama sekali tidak memengaruhi keabsahan amal. As-Suyuthi mengatakan:

نوى قطع الصلاة بعد الفراغ منها لم تبطل بالإجماع ، وكذا سائر العبادات

Jika ada orang yang berniat untuk membatalkan shalat yang telah dia kerjakan, maka shalatnya tidak batal berdasarkan sepakat ulama. Demikian pula untuk semua ibadah. (al-Asybah wa an-Nadzair, hlm. 38).

Untuk itu, puasa kita tetap sah, meskipun tidak mendapatkan keutamaan puasa Syawal. Kita berhak mendapat pahala puasa mutlak. Selanjutnya, kita bisa puasa qadha hingga selesai, dan disambung dengan puasa enam hari Syawal.

Semoga Allah memberi kemudahan bagi kita untuk melakukan amal soleh.

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/25309-mengganti-niat-puasa-Sunnah.html