Posts

AMAT DISAYANGKAN, BANYAK SEDEKAH HANYA UNTUK MEMERLANCAR REZEKI

AMAT DISAYANGKAN, BANYAK SEDEKAH HANYA UNTUK MEMERLANCAR REZEKI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahTauhid

AMAT DISAYANGKAN, BANYAK SEDEKAH HANYA UNTUK MEMERLANCAR REZEKI

Alhamdullillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu Robbunaa wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

Itulah yang sering kita lihat pada umat Islam saat ini. Mereka memang gemar melakukan puasa sunnah (yaitu puasa Senin-Kamis dan lainnya), namun semata-mata hanya untuk menyehatkan badan, sebagaimana saran dari beberapa kalangan. Ada juga yang gemar sekali bersedekah, namun dengan tujuan untuk memerlancar rezeki dan karir. Begitu pula ada yang rajin bangun di tengah malam untuk bertahajud, namun tujuannya hanyalah ingin menguatkan badan. Semua yang dilakukan memang suatu amalan yang baik. Tetapi niat di dalam hati senyatanya tidak ikhlash karena Allah, namun hanya ingin mendapatkan tujuan-tujuan duniawi semata. Kalau memang demikian, mereka bisa termasuk orang-orang yang tercela, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut.

Dengan amalan saleh hanya mengharap keuntungan dunia, sungguh akan sangat merugi. Allah ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16)

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memeroleh di Akhirat, kecuali Neraka, dan lenyaplah di Akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud [11] : 15-16)

Yang dimaksud dengan “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia” yaitu, barang siapa yang menginginkan kenikmatan dunia dengan melakukan amalan Akhirat.

Yang dimaksud “Perhiasan dunia” adalah harta dan anak.

Mereka yang beramal seperti ini: “Niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”. Maksudnya adalah mereka akan diberikan dunia yang mereka inginkan. Ini semua diberikan bukan karena mereka telah berbuat baik, namun semata-mata akan membuat terlena dan terjerumus dalam kebinasaan karena rusaknya amalan mereka. Dan juga mereka tidak akan pernah yubkhosuun, yaitu dunia yang diberikan kepada mereka tidak akan dikurangi. Ini berarti mereka akan diberikan dunia yang mereka cari seutuhnya (sempurna).

Dunia mungkin saja mereka peroleh. Dengan banyak melakukan amalan saleh, boleh jadi seseorang akan bertambah sehat, rezeki semakin lancar dan karir terus meningkat.  Dan itu senyatanya yang mereka peroleh dan Allah pun tidak akan mengurangi hal tersebut sesuai yang Dia tetapkan. Namun apa yang mereka peroleh di Akhirat?

Lihatlah firman Allah selanjutnya (yang artinya): “Itulah orang-orang yang tidak memeroleh di Akhirat, kecuali Neraka”. Inilah akibat orang yang hanya beribadah untuk mendapat tujuan dunia saja. Mereka memang di dunia akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Adapun di Akhirat, mereka tidak akan memeroleh pahala, karena mereka dalam beramal tidak menginginkan Akhirat. Ingatlah, balasan Akhirat hanya akan diperoleh oleh orang yang mengharapkannya. Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al Israa’: 19)

Orang-orang seperti ini juga dikatakan: “Lenyaplah di Akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. Ini semua dikarenakan mereka dahulu di dunia beramal tidak ikhlas untuk mengharapkan wajah Allah, sehingga ketika di Akhirat, sia-sialah amalan mereka. (Lihat penjelasan ayat ini di I’aanatul Mustafid, 2/92-93)

Sungguh betapa banyak orang yang melaksanakan shalat malam, puasa sunnah dan banyak sedekah, namun itu semua dilakukan hanya bertujuan untuk menggapai kekayaan dunia, memerlancar rezeki, umur panjang, dan lain sebagainya.

Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu- menafsirkan surat Hud ayat 15-16. Beliau –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan: “Sesungguhnya orang yang riya’, mereka hanya ingin memeroleh balasan kebaikan yang telah mereka lakukan, namun mereka minta segera dibalas di dunia.”

Ibnu ‘Abbas juga mengatakan: “Barang siapa yang melakukan amalan puasa, shalat atau shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Namun amalannya akan sia-sia (lenyap) di Akhirat nanti, karena mereka hanya ingin mencari dunia. Di Akhirat mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.” Perkataan yang sama dengan Ibnu ‘Abbas ini juga dikatakan oleh Mujahid, Adh Dhohak dan selainnya.

Qotadah mengatakan: “Barang siapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan salehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun ketika di Akhirat, dia tidak akan memeroleh kebaikan apa-apa sebagai balasan untuknya. Adapun seorang Mukmin yang ikhlash dalam beribadah (yang hanya ingin mengharapkan wajah Allah), dia akan mendapatkan balasan di dunia, juga dia akan mendapatkan balasan di Akhirat.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, tafsir surat Hud ayat 15-16)

Hanya Beramal untuk Menggapai Dunia, Tidak Akan Dapat Satu Bagian Pun di Akhirat

Kenapa seseorang beribadah dan beramal hanya ingin menggapai dunia? Jika seseorang beramal untuk mencari dunia, maka dia memang akan diberi. Jika shalat tahajud, puasa Senin-Kamis yang dia lakukan hanya ingin meraih dunia, maka dunia memang akan dia peroleh dan tidak akan dikurangi. Namun apa akibatnya di Akhirat? Sungguh di Akhirat dia akan sangat merugi. Dia tidak akan memeroleh balasan di Akhirat disebabkan amalannya, yang hanya ingin mencari-cari dunia.

Namun bagaimana dengan orang yang beramal dengan ikhlash, hanya ingin mengharap wajah Allah? Di Akhirat dia akan memeroleh pahala yang berlipat ganda.

Allah ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di Akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya. Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di Akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)

Ibnu Katsir –rahimahullah- menafsirkan ayat di atas: “Barang siapa yang mencari keuntungan di Akhirat, maka Kami akan menambahkan keuntungan itu baginya, yaitu Kami akan kuatkan, beri nikmat padanya, karena tujuan Akhirat yang dia harapkan. Kami pun akan menambahkan nikmat padanya, dengan Kami balas setiap kebaikan dengan sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat, hingga kelipatan yang begitu banyak sesuai dengan kehendak Allah. … Namun jika yang ingin dicapai adalah dunia dan dia tidak punya keinginan menggapai Akhirat sama sekali, maka balasan Akhirat tidak akan Allah beri, dan dunia pun akan diberi sesuai dengan yang Allah kehendaki. Dan jika Allah kehendaki, dunia dan Akhirat sekaligus tidak akan dia peroleh. Orang seperti ini hanya merasa senang dengan keinginannya saja, namun barangkali Akhirat dan dunia akan lenyap seluruhnya dari dirinya.”

Ats Tsauri berkata, dari Mughiroh, dari Abul ‘Aliyah, dari Ubay bin Ka’ab -radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan:

بشر هذه الأمة بالسناء والرفعة والدين والتمكين في الأرض فمن عمل منهم عمل الآخرة للدنيا لم يكن له في الآخرة من نصيب

“Umat ini diberi kabar gembira dengan kemuliaan, kedudukan, agama dan kekuatan di muka bumi. Barang siapa dari umat ini yang melakukan amalan Akhirat untuk meraih dunia, maka di Akhirat dia tidak mendapatkan satu bagian pun.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, Al Hakim dan Al Baihaqi. Al Hakim mengatakan sanadnya Shahih. Syaikh Al Albani menshahihkan hadis ini dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib)

Terdapat pula riwayat dalam Al Baihaqi, Rasulullah ﷺ bersabda:

بشر هذه الأمة بالتيسير والسناء والرفعة بالدين والتمكين في البلاد والنصر فمن عمل منهم بعمل الآخرة للدنيا فليس له في الآخرة من نصيب

“Umat ini diberi kabar gembira dengan kemudahan, kedudukan dan kemulian dengan agama dan kekuatan di muka bumi, juga akan diberi pertolongan. Barang siapa yang melakukan amalan Akhirat untuk mencari dunia, maka dia tidak akan memeroleh satu bagian pun di Akhirat.”

Tanda Seseorang Beramal Untuk Tujuan Dunia

Al Bukhari membawakan hadis dalam Bab “Siapa Yang Menjaga Diri dari Fitnah Harta”.

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah ﷺ bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ ، وَالدِّرْهَمِ ، وَالْقَطِيفَةِ ، وَالْخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ

“Celakalah hamba Dinar, Dirham, Qothifah dan Khomishoh. Jika diberi, dia pun rida. Namun jika tidak diberi, dia tidak rida. Dia akan celaka, dan akan kembali binasa.” (HR. Bukhari).  Qothifah adalah sejenis pakaian yang memiliki beludru. Sedangkan khomishoh adalah pakaian yang berwarna hitam dan memiliki bintik-bintik merah. (I’aanatul Mustafid, 2/93)

Kenapa dinamakan hamba Dinar, Dirham dan pakaian yang mewah? Karena mereka yang disebutkan dalam hadis tersebut beramal untuk menggapai harta-harta tadi, bukan untuk mengharap wajah Allah. Demikianlah sehingga mereka disebut hamba Dinar, Dirham dan seterusnya. Adapun orang yang beramal karena ingin mengharap wajah Allah semata, mereka itulah yang disebut hamba Allah (sejati).

Di antara tanda bahwa mereka beramal untuk menggapai harta-harta tadi, atau ingin menggapai dunia disebutkan dalam sabda Nabi ﷺ selanjutnya: “Jika diberi, dia pun rida. Namun jika tidak diberi, dia pun tidak rida (murka). Dia akan celaka dan kembali binasa”. Hal ini juga yang dikatakan kepada orang-orang munafik, sebagaimana dalam firman Allah:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS. At Taubah: 58)

Itulah tanda seseorang dalam beramal hanya ingin menggapai tujuan dunia. Jika dia diberi kenikmatan dunia, dia rida. Namun, jika kenikmatan dunia tersebut tidak kunjung datang, dia akan murka dan marah. Dalam hatinya seraya berujar: “Sudah sebulan saya merutinkan shalat malam, namun rezeki dan usaha belum juga lancar.” Inilah tanda orang yang selalu berharap dunia dengan amalan salehnya.

Adapun seorang Mukmin, jika diberi nikmat, dia akan bersyukur. Sebaliknya, jika tidak diberi, dia pun akan selalu sabar. Karena orang Mukmin, dia akan beramal bukan untuk mencapai tujuan dunia. Sebagian mereka bahkan tidak menginginkan mendapatkan dunia sama sekali. Diceritakan bahwa sebagian sahabat tidak rida jika mendapatkan dunia sedikit pun. Mereka pun tidak mencari-cari dunia, karena yang selalu mereka harapkan adalah negeri Akhirat. Semua ini mereka lakukan untuk senantiasa komitmen dalam amalan mereka, agar selalu timbul rasa harap pada kehidupan Akhirat. Mereka sama sekali tidak menyukai untuk disegerakan balasan terhadap kebaikan yang mereka lakukan di dunia.

Akan tetapi, barang siapa diberi dunia tanpa ada rasa keinginan sebelumnya, dan tanpa ada rasa tamak terhadap dunia, maka dia boleh mengambilnya. Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadis dari ‘Umar bin Khottob:

قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُعْطِينِى الْعَطَاءَ فَأَقُولُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّى. حَتَّى أَعْطَانِى مَرَّةً مَالاً فَقُلْتُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « خُذْهُ وَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ فَخُذْهُ وَمَا لاَ فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ ».

“Rasulullah ﷺ memberikan suatu pemberian padaku.” Umar lantas mengatakan: “Berikan saja pemberian tersebut pada orang yang lebih butuh (lebih miskin) dariku. Sampai beberapa kali, beliau tetap memberikan harta tersebut padaku.” Umar pun tetap mengatakan: “Berikan saja pada orang yang lebih butuh (lebih miskin) dariku.” Rasulullah ﷺ pun bersabda: “Ambillah harta tersebut dan harta yang semisal dengan ini, di mana engkau tidak merasa mulia dengannya, dan sebelumnya engkau pun tidak meminta-mintanya. Ambillah harta tersebut. Selain harta semacam itu (yang di mana engkau punya keinginan sebelumnya padanya), maka biarkanlah, dan janganlah hatimu bergantung padanya.”  (HR. Bukhari dan Muslim).

Sekali lagi, begitulah orang beriman. Jika dia diberi nikmat atau pun tidak, amalan salehnya tidak akan pernah berkurang. Karena orang Mukmin sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Adapun orang yang selalu mengharap dunia dengan amalan salehnya, dia akan bersikap berbeda. Jika dia diberi nikmat, baru dia rida. Namun, jika dia tidak diberi, dia akan murka dan marah. Dia rida karena mendapat kenikmatan dunia. Sebaliknya, dia murka karena kenikmatan dunia yang tidak kunjung menghampirinya, padahal dia sudah gemar melakukan amalan saleh. Itulah sebabnya orang-orang seperti ini disebut hamba dunia, hamba Dinar, hamba Dirham dan hamba pakaian.

Beragamnya Niat dan Amalan Untuk Menggapai Dunia

Niat seseorang ketika beramal ada beberapa macam:

[Pertama] Jika niatnya adalah murni untuk mendapatkan dunia ketika dia beramal, dan sama sekali tidak punya keinginan mengharap wajah Allah dan kehidupan Akhirat. Maka orang semacam ini di Akhirat tidak akan mendapatkan satu bagian nikmat pun. Perlu diketahui pula, bahwa amalan semacam ini tidaklah muncul dari seorang Mukmin. Orang Mukmin walaupun lemah imannya, dia pasti selalu mengharapkan wajah Allah dan negeri Akhirat.

[Kedua] Jika niat seseorang adalah untuk mengharap wajah Allah dan untuk mendapatkan dunia sekaligus, entah niatnya untuk kedua-duanya sama atau mendekati, maka semacam ini akan mengurangi tauhid dan keikhlasannya. Amalannya dinilai memiliki kekurangan karena keikhlasannya tidak sempurna.

[Ketiga] Adapun jika seseorang telah beramal dengan ikhlas, hanya ingin mengharap wajah Allah semata, akan tetapi di balik itu dia mendapatkan upah atau hasil yang dia ambil untuk membantunya dalam beramal (semacam mujahid yang berjihad lalu mendapatkan harta rampasan perang, para pengajar dan pekerja yang menyokong agama yang mendapatkan upah dari negara setiap bulannya), maka tidak mengapa mengambil upah tersebut. Hal ini juga tidak mengurangi keimanan dan ketauhidannya, karena semula dia tidak beramal untuk mendapatkan dunia. Sejak awal dia sudah berniat untuk beramal saleh dan menyokong agama ini, sedangkan upah yang dia dapatkan adalah di balik itu semua, yang nantinya akan menolong dia dalam beramal dan beragama. (Lihat Al Qoulus Sadiid, 132-133)

Adapun amalan yang seseorang lakukan untuk mendapatkan balasan dunia ada dua macam:

[Pertama] Amalan yang tidak disebutkan di dalamnya balasan dunia. Namun seseorang melakukan amalan tersebut untuk mengharapkan balasan dunia, maka semacam ini tidak diperbolehkan bahkan termasuk kesyirikan.

Misalnya: Seseorang melaksanakan shalat Tahajud. Dia berniat dalam hatinya bahwa pasti dengan melakukan shalat malam ini, anaknya yang akan lahir nanti adalah laki-laki. Ini tidak dibolehkan, karena tidak ada satu dalil pun yang menyebutkan, bahwa dengan melakukan shalat Tahajud akan mendapatkan anak laki-laki.

[Kedua] Amalan yang disebutkan di dalamnya balasan dunia. Contohnya adalah silaturrahim dan berbakti kepada kedua orang tua. Semisal silaturrahim, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa senang untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturrahim (hubungan antar kerabat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang melakukan amalan semacam ini, namun hanya ingin mengharapkan balasan dunia saja dan tidak mengharapkan balasan Akhirat, maka orang yang melakukannya telah terjatuh dalam kesyirikan. Namun jika dia melakukannya tetap mengharapkan balasan Akhirat dan dunia sekaligus, juga dia melakukannya dengan ikhlas, maka ini tidak mengapa dan balasan dunia adalah sebagai tambahan nikmat untuknya, karena syariat telah menunjukkan adanya balasan dunia dalam amalan ini.

Perbedaan dan Kesamaan Beramal untuk Meraih Dunia dengan Riya’

Syaikh Muhammad At Tamimi –rahimahullah- membawakan pembahasan ini dalam Kitab Tauhid pada Bab “Termasuk Kesyirikan, Seseorang Beribadah Untuk Mencari Dunia”. Beliau –rahimahullah- membawakannya setelah membahas riya’. Kenapa demikian?

Riya’ dan beribadah untuk mencari dunia. Keduanya sama-sama adalah amalan hati dan terlihat begitu samar, karena tidak nampak di hadapan orang banyak. Namun keduanya termasuk amalan kepada selain Allah ta’ala. Ini berarti keduanya termasuk kesyirikan yaitu syirik khofi (syirik yang samar).  Keduanya memiliki perbedaan. Riya’ adalah beramal agar dilihat oleh orang lain, dan ingin tenar dengan amalannya. Sedangkan beramal untuk tujuan dunia adalah banyak melakukan amalan seperti shalat, puasa, sedekah dan amalan saleh lainnya, dengan tujuan untuk mendapatkan balasan segera di dunia, semacam mendapat rezeki yang lancar dan lainnya.

Tetapi perlu diketahui, para ulama mengatakan, bahwa amalan seseorang untuk mencari dunia lebih nampak hasilnya daripada riya’. Alasannya, kalau seseorang melakukan amalan dengan riya’, maka jelas dia tidak mendapatkan apa-apa. Namun, untuk amalan yang kedua, dia akan peroleh kemanfaatan di dunia. Akan tetapi keduanya tetap saja termasuk amalan yang membuat seseorang merugi di hadapan Allah ta’ala. Keduanya sama-sama bernilai syirik dalam niat maupun tujuan. Jadi kedua amalan ini memiliki kesamaan dari satu sisi dan memiliki perbedaan dari sisi yang lain.

Kenapa Engkau Tidak Ikhlas Saja dalam Beramal?

Sebenarnya jika seseorang memurnikan amalannya hanya untuk mengharap wajah Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya dunia pun akan menghampirinya, tanpa mesti dia cari-cari. Namun jika seseorang mencari-cari dunia, dan dunia yang selalu menjadi tujuannya dalam beramal, memang benar dia akan mendapatkan dunia, tetapi sekadar yang Allah takdirkan saja. Ingatlah ini!!

Semoga sabda Nabi ﷺ bisa menjadi renungan bagi kita semua:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barang siapa yang niatnya adalah untuk menggapai Akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai. Dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barang siapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Lihat penjelasan hadis ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7/139)

Marilah kita ikhlaskan selalu niat kita ketika kita beramal. Murnikanlah semua amalan hanya untuk menggapai rida Allah. Janganlah niatkan setiap amalanmu hanya untuk meraih kenikmatan dunia semata. Ikhlaskanlah amalan tersebut pada Allah, niscaya dunia juga akan engkau raih. Yakinlah hal ini …!!

Semoga Allah selalu memerbaiki akidah dan setiap amalan kaum Muslimin. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka ke jalan yang lurus.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala wa alihi wa shohbihi wa sallam.

 

Rujukan:

  • Al Qoulus Sadiid Syarh Kitab At Tauhid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Wizarotusy syu’un Al Islamiyyah wal Awqof wad Da’wah wal Irsyad-Al Mamlakah Al ‘Arobiyah As Su’udiyah.
  • I’aanatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Saleh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan.
  • At Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid, Saleh bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh, Daar At Tauhid.
  • Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurosyi Ad Dimasyqi, Tahqiq: Saami bin Muhammad Salamah, Dar Thobi’ah Lin Nasyr wat Tauzi’.
  • Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jaami’it Tirmidzi, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdirrahim Al Mubarakfuriy Abul ‘Alaa, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut.

 

 

****

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel https://rumaysho.com]

 

Sumber: https://rumaysho.com/641-amat-disayangkan-banyak-sedekah-hanya-untuk-memerlancar-rezeki.html

,

SEDIKITNYA ORANG YANG MEMILIKI ILMU AGAMA DAN MENGAMALKANNYA, PADAHAL SARANANYA BANYAK

SEDIKITNYA ORANG YANG MEMILIKI ILMU AGAMA DAN MENGAMALKANNYA, PADAHAL SARANANYA BANYAK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

#MenuntutIlmuSyari

SEDIKITNYA ORANG YANG MEMILIKI ILMU AGAMA DAN MENGAMALKANNYA, PADAHAL SARANANYA BANYAK

Asy-Syaikh Dr. Muhammad Aman al-Jamy rahimahullah berkata:

العلم ينقذ الإنسان من غضب الله ويقربه إلى الله ويباعده عن النار، هذا العلم قل مع كثرة الجامعات.

“Ilmu akan menyelamatkan seseorang dari kemurkaan Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan menjauhkannya dari Neraka. Namun ilmu ini sedikit yang memilikinya, padahal banyak universitas.”

[Qurratu ’Uyunil Muwahhidin, kaset no. 3]

Sumber || https://twitter.com/fzmhm12121/status/835265725908586496

 

,

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU KARENA MENCARI RIDA ALLAH DAN BERTUJUAN UNTUK DIAMALKAN

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU KARENA MENCARI RIDA ALLAH DAN BERTUJUAN UNTUK DIAMALKAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

#MenuntutIlmuSyari

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU KARENA MENCARI RIDA ALLAH DAN BERTUJUAN UNTUK DIAMALKAN

Al-Imam Ibrahim bin Yazid an-Nakha’iy rahimahullah berkata:

‏«من ابتغى شيئًا من العلم يبتغي به وجه الله – عزَّ وجلَّ آتاه الله منه ما يكفيه»

“Siapa yang mencari ilmu sedikit saja, dengan niat mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla (ikhlas), maka Allah akan memberi kecukupan untuknya dari sisi-Nya.”

[Tahdzibul Hilyah, jilid 2 hlm. 93]

Sumber || https://twitter.com/fzmhm12121/status/835133027151986688

 

, ,

AKU HERAN…!

AKU HERAN...!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

AKU HERAN…!

Sebagian Ulama Salaf rahimahumullah berkata:

يا رب، عجبت لمن يعرفك كيف يرجو غيرك، وعجبت لمن يعرفك كيف يستعين بغيرك

“Wahai Rabb, aku heran terhadap orang yang mengenal-Mu. Mengapa ia masih mengharap kepada selain-Mu? Dan aku heran terhadap orang yang mengenal-Mu. Mengapa ia masih meminta tolong kepada selain-Mu?”

[Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam: 182]

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/740980576051427:0

,

MENGAPA KITA DIANJURKAN UNTUK BERDOA KETIKA MENDENGAR AYAM BERKOKOK DI TENGAH MALAM?

MENGAPA KITA DIANJURKAN UNTUK BERDOA KETIKA MENDENGAR AYAM BERKOKOK DI TENGAH MALAM?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

MENGAPA KITA DIANJURKAN UNTUK BERDOA KETIKA MENDENGAR AYAM BERKOKOK DI TENGAH MALAM?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ فَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ، فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا، وَإِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا

“Apabila kalian mendengar ayam berkokok, mintalah karunia Allah (berdoalah), karena dia melihat malaikat. Dan apabila kalian mendengar ringkikan keledai, mintalah perlindungan  kepada Allah dari setan, karena dia melihat setan.” (HR. Bukhari 3303 dan Muslim 2729).

Kita dianjurkan berdoa ketika mendengar ayam berkokok, karena dia melihat Malaikat. Dengan kehadiran makhluk baik ini, kita berharap doa kita dikabulkan.

Al-Hafidz Ibn Hajar menukil keterangan Iyadh:

قال عياض كان السبب فيه رجاء تأمين الملائكة على دعائه واستغفارهم له وشهادتهم له بالإخلاص

Iyadh mengatakan, alasan kita dianjurkan berdoa ketika ayam berkokok adalah mengharapkan ucapan aamiin dari Malaikat untuk doa kita, dan permohonan ampun mereka kepada kita, serta persaksian mereka akan keikhlasan kita. (Fathul Bari, 6/353).

Wallahu ta’ala a’lam.

Sumber: https://konsultasisyariah.com/23982-doa-ketika-ayam-berkokok.html

,

KENAPA ENGKAU TIDAK IKHLAS SAJA DALAM BERAMAL?

KENAPA ENGKAU TIDAK IKHLAS SAJA DALAM BERAMAL?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

KENAPA ENGKAU TIDAK IKHLAS SAJA DALAM BERAMAL?

Sebenarnya jika seseorang memurnikan amalannya hanya untuk mengharap wajah Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya dunia pun akan menghampirinya, tanpa mesti dia cari-cari. Namun jika seseorang mencari-cari dunia, dan dunia yang selalu menjadi tujuannya dalam beramal, memang benar dia akan mendapatkan dunia, tetapi sekadar yang Allah takdirkan saja. Ingatlah ini … !!

Semoga sabda Nabi ﷺ bisa menjadi renungan bagi kita semua:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barang siapa yang niatnya adalah untuk menggapai Akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya. Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh, kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Lihat penjelasan hadis ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7/139)

Marilah kita ikhlaskan selalu niat kita ketika kita beramal. Murnikanlah semua amalan hanya untuk menggapai rida Allah. Janganlah niatkan setiap amalanmu hanya untuk meraih kenikmatan dunia semata. Ikhlaskanlah amalan tersebut pada Allah, niscaya dunia juga akan engkau raih. Yakinlah hal ini…!!

Semoga Allah selalu memerbaiki akidah dan setiap amalan kaum Muslimin. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka, ke jalan yang lurus.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : https://rumaysho.com/641-amat-disayangkan-banyak-sedekah-hanya-untuk-memperlancar-

 

,

SEORANG DAI KE JALAN ALLAH TIDAK BERKEHENDAK SELAIN MEMERBAIKI SAUDARA-SAUDARANYA

SEORANG DAI KE JALAN ALLAH TIDAK BERKEHENDAK SELAIN MEMERBAIKI SAUDARA-SAUDARANYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

SEORANG DAI KE JALAN ALLAH TIDAK BERKEHENDAK SELAIN MEMERBAIKI SAUDARA-SAUDARANYA

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan:

Apakah yang wajib bagi saya, jika telah menasihati keluarga dan saudara-saudara, akan tetapi mereka tidak memenuhi nasihat itu, dan memutuskan pembicaraan saya (sehingga) saya menemukan kesulitan dalam hal tersebut ?

Jawaban:

Hal ini sering terjadi, kondisi begini sangat banyak, keluhan begini juga sangat banyak, baik dari kalangan pria maupun wanita. Hal ini disebabkan karena sebagian orang, jika diseru ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyangka, bahwa sang da’i ingin mengusainya saja, ingin membalasnya, atau ingin mengunggulkan dirinya atas orang yang ia dakwahi. Yang jelas (pikiran) itu dari setan.

Maka seorang da’i ke jalan Allah hendaknya tidak berkeinginan selain memerbaiki saudara-saudaranya, serta menunjukkan mereka pada kebenaran. Namun bersama ini saya juga mengatakan kepada sang penanya: ‘Bersabarlah dan berihtisablah (mengharapkan pahala), dan ketahuilah, bahwa setiap gangguan yang menimpamu dalam berdakwah ke jalan Allah, maka Anda akan diberi pahala. Dan seorang da’i ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, jika dakwahnya diterima, ia telah melaksanakan kewajibannya, dan meraih ganjaran akibat hidayah yang diperoleh oleh orang lain (melalui tangannya), sebagaimana Nabi ﷺ mengatakan kepada Ali bin Abi Thalib, artinya:

“Majulah dengan tenang. Maka demi Allah! Sungguh jika Allah memberikan hidayah seseorang melalui dirimu, maka itu lebih baik bagimu, daripada seekor unta merah”

Jika dakwahnya ditolak dan ai disakiti di jalan Allah, maka sesungguhnya hal itu juga pahala baginya. Bahkan dua pahala: Untuk dakwahnya ke jalan Allah, dan untuk cobaan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan para rasul ‘alaihimushalatu was salam telah disakiti, namun mereka bersabar, sebagaimana firman Allah Subahanhu wa Ta’ala kepada Nabi-Nya ﷺ:

“Artinya: Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu” [Al-An’am: 34]

Wahai saudara! Dalam dakwah kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala, janganlah menjadikan gangguan manusia terhadapmu sebagai sebab yang menghalangimu dari Al-Haq, atau menyurutkan langkahmu ke belakang. Karena kondisi seperti ini hanya terjadi pada orang yang imannya belum terhunjam dan mengakar, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Artinya: Dan di antara manusia ada orang yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah’. Maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh, jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah besertamu’. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia ?” [Al-Ankabut: 10]

Maka nasihat saya kepada saudaraku, dan juga nasihatku kepada keluarganya, agar ia meneruskan dakwahnya ke jalan Allah, dan tidak berputus asa. Adapun keluarganya, maka mereka berkewajiban menerima yang haq, baik yang datang dari orang yang lebih rendah dari mereka, ataupun dari orang yang setara umurnya dengan mereka, atau yang lebih tua.

[Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terbitan Darul Haq]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/1366-seorang-dai-ke-jalan-allah-tidak-berkehendak-selain-memperbaiki-saudara-saudaranya.html

 

, ,

APAKAH JANIN YANG KEGUGURAN TIDAK PERLU DIMANDIKAN?

APAKAH JANIN YANG KEGUGURAN TIDAK PERLU DIMANDIKAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

APAKAH JANIN YANG KEGUGURAN TIDAK PERLU DIMANDIKAN?

Pertanyaan:

Bagaimana cara memandikan janin dan apa hukum memandikan dan menyolatkan janin yang usia 5 bulan atau kurang atau lebih?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, bayi yang terlahir dalam keadaan hidup, kemudian dia meninggal, ulama sepakat, disyariatkan untuk dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan.

Ibnu Qudamah menyebutkan:

السقط الولد تضعه المرأة ميتا أو لغير تمام فأما إن خرج حيا واستهل فإنه يغسل ويصلى عليه بغير خلاف قال ابن المنذر :  أجمع أهل العلم على أن الطفل إذا عرفت حياته واستهل يصلى عليه

Janin keguguran adalah janin yang dilahirkan ibunya dalam keadaan telah meninggal atau tidak sempurna. Namun jika dia lahir hidup dan bisa menangis, kemudian mati, maka dia dimandikan dan dishalati, berdasarkan kesepakatan ulama. Ibnul Mundzir mengatakan: “Ulama sepakat bahwa bayi yang terlahir dalam keadaan hidup, dengan dia menangis, maka dia dishalati.” (al-Mughni, 2/393).

Kedua, janin yang meninggal dalam kandungan

Ulama berbeda pendapat di sana:

Menurut Imam Malik, janin yang meninggal di dalam kandungan, atau lahir dalam kondisi meninggal, tidak dishalati. Dalam kitab al-Mudawwanah dinyatakan:

لا يصلى على المولود ولا يحنط ولا يسمى ولا يرث ولا يورث حتى يستهل صارخا بالصوت. يعني ينزل حيا

Bayi tidak perlu dishalati, tidak diberi wewangian (dikafani), tidak diberi nama, tidak mendapat warisan maupun memberi warisan, kecuali jika dia terlahir dengan menangis (mengeluarkan suara), terlahir dalam keadaan hidup. (al-Mudawwanah, 1/255)

Beliau berdalil dengan hadis Jabir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

الطِّفْلُ لاَ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَلاَ يَرِثُ وَلاَ يُورَثُ حَتَّى يَسْتَهِلَّ

Bayi tidak perlu dishalati, tidak menerima warisan atau menurunkan warisan, sampai terlahir dalam keadaan hidup. (HR. Turmudzi 1049 dan dishahihkan al-Albani).

 

Pendapat Imam Malik juga sejalan dengan pendapat Sufyan at-Tsauri dan as-Syafii.

Pendapat kedua menyatakan, bahwa janin meninggal di kandungan, yang usianya 4 bulan ke atas, dia dimandikan dan dishalati. Ini merupakan pendapat Madzhab Hambali.

Ibnu Qudamah menyebutkan keterangan Imam Ahmad:

قال الإمام أحمد رحمه الله : ” إذا أتى له أربعة أشهر غُسّل وصلي عليه ، وهذا قول سعيد بن المسيب ، وابن سيرين ، وإسحاق ، وصلى ابن عمر على ابن لابنته ولد ميتاً “

Imam Ahmad mengatakan: ‘Jika janin telah berusia 4 bulan, dia dimandikan dan dishalati. Ini merupakan pendapat Said bin Musayib, Ibnu Sirin, dan Ishaq bin Rahuyah. Ibnu Umar menyalati cucunya yang terahir dalam keadaan telah meninggal.’ (al-Mughni, 2/393).

 

Di antara dalil yang mendukung pendapat ini adalah hadis dari Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالسِّقْطُ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَيُدْعَى لِوَالِدَيْهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ

Bayi keguguran itu dishalati, dan didoakan kedua orang tuanya dengan ampunan dan rahmat.

(HR. Ahmad 18665, Abu Daud 3182, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Imam Ahmad memberikan batasan usia janin 4 bulan, karena sejak usia itu, janin telah ditiupkan ruh, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Kemudian Ibnu Qudamah menjelaskan tentang hadis Jabir dia atas. Beliau mengarahkan, bahwa hadis itu dipahami untuk janin yang meninggal sebelum ditiupkan ruh, yaitu meninggal sebelum berusia 4 bulan dalam kandungan. Karena itu, sama sekali tidak memiliki hak waris.

Ibnu Qudamah juga menegaskan, mengapa dianjurkan untuk menyalati jenazah yang telah meninggal dalam kandungan:

أن الصلاة عليه دعاء له ولوالديه وخير فلا يحتاج إلى الاحتياط واليقين لوجود الحياة بخلاف الميراث

Bahwa menyalati jenazah merupakan doa untuk janin dan untuk kedua orang tuanya, dan itu kebaikan. Sehingga tidak butuh memerhatikan kehati-hatian, dan yakin bahwa dia pernah hidup. Berbeda dengan hukum warisan. (al-Mughni, 2/393).

Sehingga pendapat kedua inilah yang lebih kuat.

Mengenai tata caranya, sama dengan tata cara memandikan jenazah pada umumnya.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/24865-janin-keguguran-tidak-perlu-dimandikan.html

 

,

PANDUAN HUKUM SEPUTAR KEGUGURAN KANDUNGAN

PANDUAN HUKUM SEPUTAR KEGUGURAN KANDUNGAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

PANDUAN HUKUM SEPUTAR KEGUGURAN KANDUNGAN

Oleh: Kholid Bin Ali Al Musyaiqih

 

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل لله  ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد ان محمدا عبده ورسوله صلى الله وسلم وبارك عليه وعلى أصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وسلم تسليما كثيرا ، أما بعد:

Rasulullah ﷺ bersabda:

والذي نفسي بيده إن السقط ليجر أمه بسرره إلى الجنة إذا احتسبته

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya janin yang keguguran akan membawa ibunya ke dalam Surga, dengan bersama ari-arinya, apabila ibunya mengharap pahala dari Allah (dengan musibah tersebut) (HR Ibnu Majah; dishahihkan oleh Albani)

Makna dari احتسبته adalah  mengharapkan pahala dari Allah, dan sabar dalam menerima musibah. Berikut ini adalah pembahasan  tentang keguguran yang sangat penting untuk diketahui oleh setiap wanita. Pembahasan ini mencakup beberapa masalah:

Pertama: Pengertian السقط (Keguguran) Secara Bahasa dan Istilah

السقط secara bahasa adalah anak yang terlahir dari perut ibunya dalam keadaan tidak sempurna. Dalam bahasa Arab dikatakan   أسقطته أمه فهي مسقط artinya ibunya telah menggugurkannya dan dia (ibunya) adalah musqit.

Secara istilah: Janin yang terlahir dari perut ibunya dalam keadaan telah meninggal dunia.

Janin yang berada di perut seorang ibu itu mengalami tiga fase. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam kitab-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu, dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan….(QS. Al Hajj: 5 )

 

Nabi ﷺ telah menjelaskan pula fase-fase ini dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’udradhiallahu ‘anhu:

إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما ثم يكون علقة مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك ثم يبعث الله ملكا فيؤمر بأربع كلمات ويقال له اكتب عمله ورزقه وأجله وشقي أو سعيد

”Sesungguhnya kalian diciptakan di perut ibumu selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi segumpal darah dalam waktu yang sama (empat puluh hari), kemudian berubah menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama (empat puluh malam). Kemudian Allah mengutus malaikat dan memerintahkannya empat perkara, dikatakan kepadanya:”Tuliskan untuknya tentang amalannya, rezekinya, ajalnya dan termasuk orang yang celaka atau bahagia.”

Tidaklah ditiupkan ruh kecuali setelah usia kandungan 120 hari. Waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan janin dalam kandungan adalah 3 bulan atau paling sedikit 81 hari.

Kedua: Hukum Menggugurkan Kandungan dengan Sengaja (Aborsi )

Secara umum, syariat Islam mengharamkan aborsi. Ulama telah bersepakat haramnya menggugurkan kandungan setelah ditiupkannya ruh pada janin. Adapun sebelum ditiupkannya ruh, maka hukumnya ditentukan oleh ulama, setelah memeriksa dan menimbang keadaanya secara seksama.

Ketiga: Hukum-hukum yang terkait dengan keguguran kandungan adalah sebagai berikut:

* Apabila keguguran terjadi tatkala janin masih berbentuk zigote sebelum 40 hari, atau masih berbentuk embrio (pada 40 hari kedua) maka wajib bagi wanita tersebut untuk mengenakan pembalut (yang dapat menahan keluarnya darah mengenai pakaian), karena Nabi ﷺ memerintahkan Asma binti Umair untuk mengenakan pembalut tatkala melahirkan di Dzil Khulaifah (HR Muslim). Wanita tersebut wajib untuk tetap melaksanakan sholat dan berpuasa jika ia sedang berpuasa, serta boleh bagi suami untuk menggaulinya. Darah yang keluar dengan sebab keguguran pada masa ini lebih dekat kepada perkataan ahli ilmu, bahwa darah tersebut tidak membatalkan wudhu, dan tidak wajib baginya untuk mengulang wudhunya di setiap sholat, apabila tidak ada yang membatalkan wudhunya, seperti karena keluar angin atau buang air.

* Keguguran setelah hari ke-80. Wajib bagi wanita tersebut untuk memastikan, apakah janin sudah mulai membentuk manusia atau belum, dengan bertanya kepada dokter yang terpercaya. Yaitu, apakah janin  sudah mulai membentuk rupa manusia, meskipun hanya samar seperti mulai membentuk perut, kaki, kepala dst.

* Apabila janin belum mulai membentuk rupa manusia meskipun samar, seperti adanya bentuk tangan, kaki dan kepala, atau janin hanya membentuk gumpalan daging, maka wanita tersebut dihukumi dengan hukum pada poin pertama. Wanita tersebut boleh sholat, puasa ataupun berkumpul dengan suaminya. Dia tidak diwajibkan mengulangi wudhunya setiap hendak mengerjakan sholat, kecuali apabila ada pembatal lain seperti kentut atau buang air.

* Apabila janin sudah mulai membentuk manusia meskipun hanya samar, seperti telah ada bentuk kaki, tangan atau kepala dsb, maka wanita tersebut dihukumi dengan hukum nifas. Tidak boleh sholat, puasa ataupun berkumpul dengan suaminya hingga darah nifasnya berhenti, atau keluar cairan kekuning-kuningan atau cairan keruh, atau sudah mencapai hari ke-40 dari pendarahan, meskipun darah belum berhenti, atau belum keluar cairan kekuning-kuningan atau keruh. Apabila sudah mencapai hari ke-40 ini, maka wanita tersebut mandi, boleh sholat, puasa dan suami boleh mencampurinya.

* Apabila keguguran terjadi setelah hari ke-80 dan tidak diketahui apakah janin sudah berbentuk manusia atau belum, maka ada dua kemungkinan:

  1. Apabila keguguran setelah hari ke 90 maka dihukumi dengan hukum nifas. Tidak boleh sholat, puasa dan tidak boleh bercampur dengan suaminya hingga darah berhenti, atau keluar cairan kekuning-kuningan atau keruh, atau mencapai hari ke-40 dari pendarahan. Jika telah mencapai hari ke-40 ini, maka wanita tersebut mandi, boleh sholat, berpuasa, dan bercampur dengan suaminya.
  1. Apabila belum mencapai usia 90 hari kehamilan, dan tidak diketahui apakah janin sudah berbentuk manusia atau belum, maka hendaknya wanita tersebut mengenakan pemabalut untuk mencegah keluarnya darah mengenai pakaiannya. Ia boleh sholat, puasa dan boleh bercampur dengan suami. Darah yang keluar darinya tidak membatalkan wudhu, dan tidak wajib mengulang wudhunya setiap hendak sholat, kecuali apabila ada pembatal wudhu lain seperti kencing atau buang air.

Masalah Penting!

Apabila keguguran terjadi setelah beberapa masa, janin meninggal di dalam rahim, maka yang dihitung adalah umur janin keadaan hidup di dalam rahim, bukan usia janin pada saat keguguran. Sebagai contoh keguguran terjadi pada usia kehamilan 3 bulan. Diketahui bahwa janin telah meninggal sebulan sebelum keguguran. Maka usia janin hanya dihitung 2 bulan saja dan wanita tersebut dihukumi dengan hukum seperti pada poin pertama (wanita tersebut mengenakan pembalut untuk mencegah darah keluar mengenai pakaiannya, boleh sholat, puasa dan dicampuri oleh suaminya).

Keempat: Keguguran terjadi setelah janin berusia 4 bulan (setelah ditiupkannya ruh), maka wanita tersebut dihukumi denga hukum nifas. Tidak boleh sholat, puasa, dan bercampur dengan suaminya, sampai darah berhenti atau keluar cairan kekuning-kuningan atau keruh atau mencapai hari ke-40 dari pendarahan. Apabila sudah mencapai hari ke-40 padahal darah belum berhent,i dan juga belum keluar cairan kekuning-kuningan atau keruh, maka wanita tersebut boleh mandi, sholat, berpuasa dan berkumpul dengan suaminya.

Janin yang keguguran pada masa ini (setelah ditiupkannya ruh) dan usianya telah mencapai 4 bulan, maka jenazahnya dimandikan, dikafani, disholatkan dan dimakamkan di pemakaman kaum Muslimin. Selain itu ia juga disembelihkan hewan aqiqah pada hari ke-7 setelah kegugurannya.

Apabila seorang wanita menyakiti janin sehingga menyebabkan keguguran, maka wajib bagi wanita tersebut untuk membayar kafarah mugholadhoh, dan wajib baginya membayar Diyat, yaitu senilai dengan membayar seorang budak

Adapun jika menggugurkannya pada saat janin itu sudah benar-benar hidup, yaitu berumur 6 bulan atau lebih, maka Diyatnya seperti Diyat membunuh bayi yang sudah lahir hidup, yaitu 100 ekor unta.

Allahu a’lam. Sholawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

 

Sumber:

http://www.almoshaiqeh.com/

APAKAH WANITA KEGUGURAN/ABORSI DIHUKUMI NIFAS ? : Apakah tetap wajib melaksanakan shalat dan puasa? Bolehkah suami menggaulinya (berjima’)?

 

 

http://abuayaz.blogspot.co.id/2011/07/panduan-hukum-seputar-keguguran.html

, , ,

MENGHARAP RIDHA ALLAH ATAUKAH SURGA? [FATWA ULAMA]

MENGHARAP RIDHA ALLAH ATAUKAH SURGA? [FATWA ULAMA]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

#DakwahTauhid

MENGHARAP RIDHA ALLAH ATAUKAH SURGA? [FATWA ULAMA]

Fatwa Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al Barrak

Pertanyaan:

Apakah seseorang yang beramal saleh dengan mengharapkan ridha Allah itu lebih tinggi tingkatannya daripada mengharapkan Surga?

Jawaban:

Tidak. Kedua hal itu tergabung menjadi satu, tidak dipisah sendiri-sendiri. Orang-orang Sufi-lah yang suka membedakannya. Tidak ada orang di dunia ini yang mengharapkan Surga, tapi dia tidak mengharap ridha Allah. Juga tidak ada orang yang mengharap ridha Allah, tapi tidak mengharapkan Surga. Mengharapkan Surga sekaligus ridha Allah adalah jalannya para Rasul dan pengikut mereka. Demikian.

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/42373

 

Penerjemah: Yulian Purnama

[Artikel Muslim.Or.Id]

Sumber: http://muslim.or.id/17108-fatwa-ulama-mengharap-ridha-allah-ataukah-Surga.html