Posts

,

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

Merupakan hal yang terlihat kurang lazim di masyarakat kita, apabila selesai shalat tidak berdoa. Bisa dimaklumi tentunya, mengingat inilah hal yang telah membudaya sejak lama di negeri kita. Tapi tak ada salahnya jika kita sedikit memelajari, bagaimana tinjauan agama dalam masalah ini, agar kita benar-benar berada di atas petunjuk yang nyata tentangnya.

Untuk itu, kami akan bawakan sebuah penjelasan dari asy-Syaikh al-‘Allaamah Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah mengenai hal ini. Kita simak bersama, apa yang beliau utarakan, beserta dalil-dalil yang beliau bawakan, agar dengan itu kiranya kita bisa dengan lapang dada dalam menjalankannya.

Dalam salah satu pertanyaan yang diajukan pada beliau disebutkan:

السؤال: بعض الناس في صلاة الفرض يرفعون أيديهم بعد الدعاء فما رأيكم؟

Pertanyaan:

Bagaimana pendapat Anda terkait amalan sebagian orang yang berdoa dengan mengangkat tangan setelah shalat wajib?

 

: الجواب

[الدعاء بعد الصلاة ليس بسنة, لأن الله تعالى قال: ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ﴾ [النساء:103

إلا في حالة واحدة وهي صلاة الاستخارة؛ لأن صلاة الاستخارة قال فيها النبي صلى الله عليه وسلم: « إذا هم أحدكم بأمر فليصل ركعتين ثم ليدعو» فجعل الدعاء بعد صلاة الركعتين. أما ما سواها من الصلوات فليس من السنة أن يدعو سواءً رفع يديه أم لم يرفع، وسواءً في الفريضة أو في النافلة؛ لأن الله أمر بذكره بعد انتهاء الصلاة

[فقال سبحانه وتعالى: ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ﴾ [النساء:103

[وقال في سورة الجمعة: فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ [الجمعة:10

:وإنما يقال للإنسان: إذا كنت تريد أن تسأل الله شيئاً فادعو الله قبل أن تسلم؛ لوجهين

الوجه الأول: أن هذا هو الذي أمر به الرسول صلى الله عليه وعلى آله وسلم، فقال في التشهد: إذا فرغ فليتخير من الدعاء ما شاء

ثانياً: أنك إذا كنت في الصلاة فإنك تناجي ربك، وإذا سلمت انتهت المناجاة. فهل الأفضل: أن تسأل الله في حال مناجاتك إياه، أو بعد انصرافك من المناجاة؟ الجواب: الأول. تدعو وأنت تناجي ربك

Jawaban:

“Berdoa setelah shalat bukan amalan sunnah. Karena Allah ﷻ berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّه

“Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), maka berzikirlah kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 103)

Kecuali pada satu jenis shalat, yaitu shalat istikharah. Terkait shalat istikharah Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

“Apabila salah seorang kalian telah bertekad terhadap suatu perkara, maka hendaknya dia shalat dua rakaat yang bukan shalat wajib, kemudian berdoa…”[HR. al-Bukhari, no. 1162]

Dalam hadis ini Nabi Muhammad ﷺ menetapkan, bahwa doa dilakukan setelah mengerjakan shalat dua rakaat. Adapun selain shalat istikharah, bukan termasuk sunnah, jika berdoa setelahnya, dengan mengangkat tangan ataupun tidak, shalat sunnah ataukah wajib. Karena Allah ﷻ memerintahkan kita untuk berzikir kepada-Nya setelah selesai shalat (bukan berdoa, pent). Dia berfirman dalam ayat-Nya:

(فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ)

“Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), maka berzikirlah kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 103)

Dan dalam surah al-Jumu’ah:

{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan berzikirlah pada Allah banyak-banyak, supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jumu’ah: 10)

Maka yang benar, kita katakan: “Apabila Anda ingin meminta sesuatu kepada Allah, maka berdoalah sebelum Anda salam, di waktu shalat. Ini berdasar pada dua alasan:

  • Alasan pertama, sesudah bacaan Tahiyyat sebelum salam merupakan waktu yang dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ untuk berdoa. Beliau ﷺ bersabda terkait Tasyahhud:

إذا فرغ فليتخير من الدعاء ما شاء

“Apabila dia telah selesai dari bacaan Tahiyyat, silakan dia berdoa sesuai dengan permohonan yang dia inginkan.” [HR. al-Jama’ah]

  • Alasan kedua, di saat Anda shalat, sesungguhnya Anda tengah bermunajat pada Allah. Dan jika sudah salam, maka berakhirlah waktu munajat Anda. Maka mana yang lebih utama:

(1) Anda berdoa saat masih bermunajat pada-Nya atau

(2) Saat Anda sudah tidak lagi bermunajat?

Tentu yang pertama jawabannya. Berdoa saat masih bermunajat pada Allah.”

[Liqaa Baab al-Maftuuh ma’a asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin no. 82]

Suara asli beliau dengan berbahasa Arab bisa didengarkan melalui link berikut:

 

 

Demikian penjelasan dari beliau rahimahullah.

Jadi kesimpulannya, bahwa berdoa setelah shalat bukan hal yang disunnahkan. Meski kita pun juga tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang haram. Silakan dia berdoa pada sebagian waktu saat, selesai shalat jika ingin. Namun apabila dilakukan terus menerus, maka ini pun bukan hal yang baik, karena itu berarti dia telah menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ. Sedang beliau ﷺ bersabda dalam hadisnya:

.وَ أَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad ﷺ.” [HR. al-Bukhari, no. 6098]

Walhamdulillaahi rabbil ‘aalaamin. Wallahu a’lam bish shawab.

 

Penulis: Pupus

Sumber: http://nasehatetam.com/read/206/habis-shalat-berdoa#sthash.i9JNcgYg.dpuf

,

KUPAS TUNTAS TANDA HAID TELAH BERHENTI

KUPAS TUNTAS TANDA HAID TELAH BERHENTI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

KUPAS TUNTAS TANDA HAID TELAH BERHENTI

Haid wanita dimulai dengan keluarnya darah haid, baik berupa bercak, ataupun darah kental, dan diakhiri dengan tanda suci haid. Jika telah muncul tanda suci, wanita tersebut berkewajiban melaksanakan shalat, puasa dan perintah agama lainnya.

Apa Saja Tanda Suci Haid?

Para ulama menegaskan bahwa tanda suci haid ada dua:

  1. Jufuf (kering): Yaitu, jika diletakkan kain atau kapas di kemaluan wanita, tidak akan dijumpai darah. Kapas tetap kering dan bersih. (Shahih Fiqh Sunnah 1/207,  Syarh Mumti’ 1/433, Mukhtashar Khaliil, 2/502)

2. Qashshatul Baidha. Apa itu Qashshatul Baidha?

أن يخرج من فرج المرأة ماء كالجير فالقصة من القص وهو الجير لأنها ماء يشبهه وقيل يشبه العجين وقيل شيء كالخيط الأبيض

وروى ابن القاسم كالبول وعلي كالمني قال بعضهم : يحتمل اختلافها باعتبار النساء وأسنانهن والفصول والبلدان إلا أن الذي يذكره بعض النساء يشبه المني

Yaitu cairan putih seperti kapur, yang keluar dari kemaluan wanita. Ada yang berpendapat, qashshah itu mirip adonan (tepung). Pendapat lain mengatakan: qashshah adalah cairan seperti benang putih.

Diriwayatkan dari Ibnul Qasim, bahwa qashshah seperti halnya kencing. Dan diriwayatkan dari Ali, cairan itu seperti mani. Sebagian ulama Malikiyyah menjelaskan, bahwa bisa jadi cirinya berbeda, melihat kondisi tiap wanita dan usianya, iklim cuaca, dan lingkungan tempat tinggal. Hanya saja disebutkan sebagian wanita, bahwa qashshah itu cairan mirip mani. (Syarh Mukhtashar Khalil, 2/502)

Lalu Tanda Suci Mana yang Harus Dipakai?

Pada umumnya, tanda seorang wanita telah selesai dari haid, dengan keluarnya cairan putih (Qashshatul Baidha). Kecuali jika kebiasaaanya tidak keluar cairan putih, maka yang menjadi acuan adalah al-Jufuf (kering).

Hal ini berdasarkan hadis dari Ummu Alqamah, beliau berkata:

Dahulu ada beberapa wanita menemui ibunda kaum Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu’anha, dengan membawa kapas yang terdapat cairan kekuningan (shufrah), yang berasal dari darah haid. Mereka bertanya tentang hukum shalat, tatkala keluar cairan tersebut. Beliau radhiyallahu’anha menjawab:

لا تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ الْقَصَّةَ الْبَيْضَاءَ تُرِيدُ بِذَلِكَ الطُّهْرَ مِنَ الْحَيْضَةِ.

“Janganlah kalian tergesa-gesa (suci), sampai kalian melihat Qashshatul Baidha’ (Cairan Putih) sebagai tanda suci dari haid.” (HR. Abu Dawud 307, An Nasai 1/186, Ibnu Majah 647)

Wanita yang tidak mengalami keluarnya cairan putih tatkala haid berhenti, maka tanda sucinya dengan jufuf. Keterangan ini dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, di mana beliau mengatakan:

“Suatu yang diketahui oleh para wanita, adalah keluarnya cairan putih ketika haid telah berhenti. Akan tetapi sebagian wanita tidak keluar cairan ini. Maka tatkala itu ia tetap dalam kondisi haid, karena tidak melihat cairan putih. Dan tanda suci wanita tersebut dengan cara meletakkan kapas putih di kemaluannya, sementara kapas tidak berubah (tetap kering dan bersih).” (Syarhul Mumti’ 1/433)

Tanda Suci Wanita Tergantung Kebiasaannya

Madzab Malikiyyah merinci kebiasaan suci dengan jufuf dan cairan putih pada diri seorang wanita dengan penjelasan yang gamblang, walhamdulillah.

Al Khurasyi berkata:

أن القصة أبلغ أي أقطع للشك وأحصل لليقين في الطهر من الجفوف لأنه لا يوجد بعدها دم ، والجفوف قد يوجد بعده وأبلغية القصة لا تتقيد عند ابن القاسم بمعتادتها فقط بل هي أبلغ من الجفوف لمعتادتها ولمعتادتهما ولمعتادة الجفوف فقط لكن إذا رأت معتادة القصة فقط أو مع الجفوف الجفوف فتنتظر القصة لآخر الوقت المختار

Tanda suci dengan cairan putih lebih menghilangkan keraguan, dan lebih meyakinkan, bahwa itu telah suci, dari pada tanda jufuf. Karena jika telah keluar cairan putih, tidak akan keluar darah lagi. Adapun tanda suci jufuf terkadang masih keluar darah, setelah tanda tersebut muncul. Ibnul Qasim berpendapat, kepastian tanda suci dengan cairan putih tidak perlu diragukan lagi bagi seorang wanita, yang memiliki kebiasaan suci dengan cairan putih. Bahkan tanda ini lebih meyakinkan dari pada jufuf, bagi wanita yang memiliki kebiasaan tanda suci dengan cairan putih saja. Atau wanita yang memiliki kebiasaan suci dengan cairan putih sekaligus jufuf, atau wanita dengan kebiasaan suci dengan jufuf saja. Akan tetapi jika wanita yang memiliki kebiasaan suci dengan cairan putih saja, atau kedua-duanya (suci dengan cairan putih dan jufuf) melihat tanda jufuf, maka hendaknya dia menunggu cairan putih keluar, sampai akhir waktu terpilih (yang menjadi kebiasaannya). (Syarh Mukhtashar Khaliil 2/502)

Dari penjelasan ulama Malikiyyah di atas dapat kita simpulkan sebagai berikut:

  1. Jika wanita dengan kebiasaan suci dengan cairan putih lalu mendapati tanda jufuf, maka dia harus menunggu sampai keluar cairan putih, sampai waktu terpilih, yaitu sampai satu hari misalnya. Batas waktu satu hari ini merupakan pendapat Ibnu Utsaimin dan Ibnu Qudamah rahimahullah. Beliau rahimahullah menegaskan:

فعلى هذا لا يكون انقطاع الدم أقل من يوم طهرا

“Dengan demikian, terputusnya darah selama kurang dari sehari, tidaklah dianggap sebagai suci. (Al Mughni, 1/399)

2. Jika wanita dengan kebiasaan suci dengan jufuf, lalu mendapati cairan putih, maka tidak perlu menunggu jufuf. Namun jika pertama kali yang di lihat tanda jufuf, maka tidak perlu menunggu cairan putih.

3. Jika wanita yang memiliki kebiasaan suci dengan kedua tanda tersebut, lalu mendapati tanda jufuf keluar, maka dia harus menunggu cairan putih, sampai batas waktu terpilih seperti poin 1. Namun jika yang nampak pertama kali tanda cairan putih, maka tidak perlu menunggu jufuf.

Bagaimana Tanda Berhenti dari Nifas?

Saudariku, tanda suci wanita haid juga berlaku bagi wanita nifas. Tidak ada perbedaan.

Imam Syaukani berkata dalam Nailul Authar (1/286):

“Para ulama telah sepakat, bahwasanya hukum nifas sama dengan haid, dalam perkara yang dibolehkan, perkara yang dilarang, yang dibenci serta yang dianjurkan.” (Shahih Fiqh Sunnah, 1/216).

Wallahua’lam

وصلى الله على نبينامحمدوعلى آله واصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين

Penyusun: Ummu Fatimah

Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

[Artikel WanitaSalihah.Com]

Maraji’:

Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal, Makatabah Taufiqiyyah.

Asyarhul Mumti’Ala Zaadil Mustaqni’, Muhammad Shalih Al Utsaimin, Muassasah Aasam Riyadh.

http://islamport.com/d/2/mlk/1/19/647.html

Sumber:

http://wanitasalihah.com/kupas-tuntas-tanda-haid-telah-berhenti/#comment-45086

Berikut ini adalah forum tanya jawab dalam website yang sama:

Pertanyaan:

Disebutkan dalam tulisan di atas: “Yaitu cairan putih seperti kapur, yang keluar dari kemaluan wanita. Ada yang berpendapat qashshah itu mirip adonan (tepung). Pendapat lain mengatakan qashshah adalah cairan seperti benang putih.”

Nah kalau dicek dengan kapas putih sudah keluar cairan putih, tapi masih ada sedikit sekali warna kuning mudanya, bagaimana hukumnya? Apakah sudah bisa mandi wajib?

Jawaban:

Insyaallah sudah suci. Yang kami tahu, adonan tepung itu juga tidak putih seperti cat tembok, tapi ya seperti tepung (agak buram sedikit). Allahua’lam

Pertanyaan:

Kalau pada cairan putih tersebut tetap ada warna kuningnya, tetapi tidak sedikit (kira-kira perbandingan warnanya 50:50), apakah sudah suci juga?

Jawaban:

Cairan putih yang menjadi tanda haid itu seperti adonan tepung atau mani atau kencing. Silakan Ukhti pilih yang mana.

Pertanyaan:

Saya memiliki kebiasaan keluar cairan putih seperti tepung. Namun pada haid kali ini, yang keluar cairan putih seperti biasa, tetapi ada cairan warna kuning tua (kira-kira setengah bagian berwarna putih, setengah bagian lain berwarna kuning tua, agak mendekati warna coklat). Makanya saya bingung, apakah sebenarnya saya sudah suci atau belum. Sebaiknya saya tetap menunggu cairan putih, atau mulai mandi wajib? Karena setelah keluar cairan tersebut, setelah saya cek lagi beberapa kali, yang keluar warnanya kuning keruh dan kapas bersih. Apakah sebenarnya saya sudah suci atau belum?

Jawaban:

Terkadang cairan putih sudah keluar lebih dahulu tanpa sepengetahuan wanita haid tersebut, lalu keluar lendir kekuningan. Karena telat mengecek, jadilah lendir putih tadi tertumpuk bersama lendir kuning. Jika kasus Ukhti seperti ini, insyaallah sudah suci. Karena lendir kuning yang keluar setelah cairan putih keluar, bukan lagi darah haid. Wallahuta’ala a’lam

Pertanyaan:

Kebiasaan haid saya 6-7 hari sudah keluar qashash dan saya memastikannya dengan jufuf. Namun kali ini berbeda. Pada hari ketujuh saya masih keluar darah tapi cuma sekali waktu saja. Hari kedelapan (kemarin) saya mandi wajib dan berpuasa, karena saya lakukan jufuf sudah bersih dan kering. Namun malam harinya saya keluar flek kecoklatan. Apa kah saya masih dihitung haid atau sudah suci? Bagaimana puasa saya di hari pertama? Sah atau batal? Dan jika saya ingin berpuasa di hari selanjutnya, apakah boleh?

Jawaban:

Itu masih masa haid. Wallahu a’lam.

Pertanyaan:

Saya haid mulai 29 Mei dan suci 7 Juni. Namun 11 Juni keluar lagi flek kecoklatan. Padahal pada 6 juni darah sudah tidak keluar lagi, dan saya mengecek dengan kapas sudah bersih. Apakah flek tersebut darah haid atau bukan? Dari 7 Juni saya mulai puasa, apakah puasa saya sah dalam kondisi suci?

Jawaban:

Flek 11 Juni bukan haid, karena Ukhti sudah yakin suci 6 Juni. Dan flek coklat yang keluar setelah keluar tanda suci TIDAK lagi dianggap sebagai haid, sebagaimana hadis Ummu Athiyah.

Pertanyaan:

Biasanya masa haid saya 4-5 hari, tapi suka tambah 2 hari untuk memastikan. Kali ini saya menghitung haid sampe hari keenam. Di hari hari keempat dan kelima, sudah tidak keluar darah. Pas hari keenam saya mandi wajib, tapi malamnya kluar flek cokelat sedikit sekali. Apa itu masih darah haid atau bagaimana?

Jawaban:

Maaf Ukhti, apa maksud dengan kalimat Anda: “Tapi suka menambahkan dua hari untuk memastikan?” Haid itu ada batasannya. Apa batasannya? Batasannya ada tidaknya darah. Dan flek yang bersambung dengan darah itu termasuk darah haid.

Jadi kita tidak boleh menambahkan masa haid, padahal sudah bersih. Dan kita juga tidak boleh memercepat masa haid, sementara masih keluar darah/flek.

Pertanyaan:

Saya punya kebiasaan haid hari 1-4 keluar darah merah, hari kelima dan keenam biasanya cuma flek dan cairan kuning. Kemudia hari ketujuh sampai hari kesembilan biasanya sudah kering sampai hari kesepuluh baru keluar cairan putih. Semisal saya mandi wajib pada hari keenam karena merasa sudah kering dan saya yakin tidak kluar darah merah lagi, kemudian pada hari ketujuh saya puasa tapi ternyata keluar cairan kuning sedikit, apakah puasa saya sah?

Jawaban:

Kami hanya menasihati sebagaimana nasihat Ibunda kaum Mukminin,’Aisyah radhiyallahu’anha:

“Janganlah kalian tergesa-gesa (suci), sehingga kalian melihat cairan putih.”

Pertanyaan:

Saya masih bingung dengan waktu pasti, kapan haid itu berhenti. Untuk flek coklat yang muncul di pembalut saya, biasanya tampak hingga hari kedelapan saya haid. Dan setelah itu, yang muncul noda kekuningan dan keruh. Untuk noda kuning/keruh itu, apa termasuk haid juga? Soalnya saya pernah baca artikel yang menyebutkan hadis tentang “Tidak mengganggap warna kekuningan itu sebagai haid”. Mohon penjelasannya. Berdasar kebiasaan, lendir putih saya muncul di hari ke sebelas atau selebihnya, sedangkan flek coklat saya sudah selesai di hari kedelapan. Di hari kesembilan dan kesepuluha dan seterusnya, yang sering muncul adalah warna kekuningan. Mohon dibantu. Katanya kan, yang pasti tanda berhentinya haid itu adalah adanya lendir atau sudah berlangsung lebih dari 15 hari. Makanya untuk cari aman, saya menunggu sampai lendir tersebut muncul (hari ke 11). Tapi saya dilanda keraguan karena melewatkan ibadah di hari ke 9 dan 10, hanya karena keberadaan noda kuning yang saya masih bingung hukumnya bagaimana. Mohon bantuannya. Terimakasih banyak.

Jawaban:

Masalah haid yang menimpa wanita memang menjadi lahan empuk bagi setan, untuk memberi rasa was-was kepada kaum hawa. Kita berlindung kepada Allah dari kejelekan was was yang tersembunyi.

Ukhti, noda coklat, kuning yang bersambung dengan darah haid termasuk haid. Bersabarlah hingga cairan putih keluar setelah itu mandi. Itulah pesan ibunda kita Aisyah radhiyallahu’anha.

Pertanyaan:

Saya punya kebiasaan haid hari pertama hingga hari keempat keluar darah merah. Hari kelima dan keenam cuma flek coklat dan cairan kuning, hari ketujuh sampai kesembilan biasanya sudah kering sampai hari kesepuluh keluar lendir putih. Semisal saya mandi wajib hari keenam karena saya merasa sudah kering, dan biasanya tidak keluar darah lagi, terus hari ketujuh saya puasa, tetapi ternyata keluar cairan kuning sedikit, apakah puasa saya sah? Terus bagaimana seharusnya saya menentukan masa suci, sementara saya mengalami jufuf sekaligus keluar cairan putih, dalam selang waktu yang agak lama (tiga hari)? Ini membingungkan saya. Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Kami hanya menasihati, sebagaimana nasihat ibunda kaum Mukminin’Aisyah radhiyallahu’anha,

“Janganlah kalian tergesa-gesa (suci) sehingga kalian melihat cairan putih.”

Pertanyaan:

Saya telah mandi suci pada jam 11 pagi, tapi ketika Maghrib saya melihat noda berwarna coklat muda sekali. Apakah saya harus mandi suci lagi?

Jawaban:

Apakah sebelum mandi Ukhti sudah melihat cairan putih keluar?

Jika iya, Ukhti tak perlu pedulikan cairan coklat dan kuning setelah keluar cairan putih, karena itu bukan lagi darah haid.

Pertanyaan:

Saya hari ketujuh sudah keluar cairan putih sejenis lendir, tapi sesudah itu masih ada flek kuning. Itu bagaimana? Apakah saya masih haid?

Jawaban:

Jawaban pertanyaan Ukhti ada di artikel berikut insyaallah:

httapi://wanitasalihah.com/kupas-tuntas-hukum-flek-coklat-ketika-haid/

Pertanyaan:

Jika kita tidak tahu atau lupa, cairan yang dikeluarkan setelah haid kuning atau putih, lalu kita menganggapnya suci, maka kita mandi, namun beberapa jam kemudian kita tidak sholat karena keluar cairan kecoklatan. Apa kita harus mandi wajib lagi?

Jawaban:

Tidak tahu atau lupa?

Ukhti, tidak tahu, obatnya dengan mengetahui, belajar, memahami dan mengilmui. Jika kita sudah tahu tanda suci seperti apa, maka kita amalkan.

Dengan ilmu, seseorang bisa yakin atas pilihannya. Dengan ilmu, seorang wanita tidak gampang bingung. Dengan ilmu, seorang wanita tidak mudah dihantui rasa was-was. Dengan ilmu, seseorang beramal di atas keyakinan.

Nah, jika kita sudah yakin teentang tanda suci haid, jangan biarkan flek coklat membuat Ukhti menjadi ragu-ragu. Karena jika sudah yakin suci, flek coklat yang keluar setelah tanda suci BUKAN darah haid.

Pertanyaan:

Biasanya masa haid saya 4-6 hari. Tapi di minggu ini saya mengalami siklus haid cuma 4 hari (yang 1 harinya tanggal 11 sudah bersih). Tapi waktu pagi tgl 12 keluar flek coklat sedikit, tapi saya sudah mandi wajib pada pagi itu. Apakah itu tindakan yang benar apa tidak? Terus siangnya keluar darah warna merah segar, apakah itu merupakan darah haid apa bukan?

Jawaban:

Suci haid ada tandanya Ukhti. Jika sudah keluar salah satu dari kedua tanda tersebut, Ukhti telah suci.

Pertanyaan:

Saya ibu menjelang masa menopause. Sudah beberapa bulan ini haid saya hanya keluar seperti flek coklat, tetapi hanya sekali saja, misalnya waktu Ashar. Jadi saya tidak melakukan sholat Ashar karena saya angap itu adalah haid. Tetapi sampai masuk waktu Isya, flek itu sudah tidak ada lagi. Apakah itu termasuk haid atau bukan? Dan kalau bukan termasuk haid, apakah saya bisa melakukan sholat tanpa mandi bersih. Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Flek coklat teranggap sebagai haid bila memenuhi syarat:

~Bersambung dengan darah haid

~Keluar di masa haid

Jika flek tsb keluar “sendirian”, tidak ada darah yang mengikutinya, dan keluar bukan di masa haid, maka flek tsb dianggap sebagai istihadhah. Ibu tidak perlu mandi wajib, tapi cukup dibersihkan layaknya kencing. Dan berwudhu setiap kali shalat.

Pertanyaan:

Hari kemarin sore saya sudah tidak keluar darah haid bersih hingga pagi. Kemudian saya bersuci. Ketika menjelang waktu Maghrib, saya melihat ternyata masih ada flek coklat. Saya jadi ragu-ragu, apakah itu darah haid atau bukan namanya. Saya teruskan untuk sholat Maghrib, meskipun saya ragu-ragu. Dan saya pun baru mengetahui dari artikel ini, bahwa untuk mengetahui darah haid sudah berhenti atau belum adalah dengan melihat keluarnya cairan putih. Bagaimana itu hukumnya ketika saya ragu-ragu bahwa saya telah suci atau belum namanya. Saya tetap menjalankan sholat? Mohon penjelasannya

Pertanyaan:

Afwan ukhty kapan waktu-waktu untuk mengecek masa suci. Misalnya, apakah setiap waktu Subuh dan Ashar? Atau tergantung waktu awal keluarnya darah haid? Misalnya saya keluar darah haid waktu Ashar, maka akan mengecek beres atau belum di waktu Ashar lagi di hari-hari menjelang berakhirnya haid. syukron

Jawaban:

Untuk memastikan tanda suci haid, bisa dilakukan setiap saat Ukhti. Lebih sering tentu lebih baik. Karena jika tidak rutin dilakukan pengecekan, dikhawatirkan tanda suci sudah keluar, sementara kita tak menyadarinya.

Pertanyaan:

Apakah lendir yang berwarna kekuningan (tidak terlalu keruh tapi cukup untuk membedakan warna kapas yang terkena lendir dan tidak) itu masih termasuk haid? Soalnya lendir saya biasanya berwarna bening, tapi ketika di kapas dia berwarna kekuningan, dan setelah itu keluar flek yang dibarengi dengan lendir kekuningan tadi. Apakah masih termasuk darah haid?

Jawaban:

Lendir kuning yang keluar di masa haid sebelum tanda suci, maka termasuk haid.

Lendir kuning yang keluar setelah tanda suci, maka bukan termasuk haid.

Tanda sucinya apa?

Lendir putih ada yang mengatakan seperti mani, atau adonan tepung, atau seperti kencing.

Allahua’lam

Pertanyaan:

Saya biasanya haid sekitar 2-3 hari. Tapi setelah itu flek coklat sedikit- sedikit, kurang lebih sekitar dua hari, lalu tidak keluar darah sama sekali. Tapi waktu dicek dengan kapas masih ada noda-noda coklat. Lalu saya sudah harus bersuci atau belum?

Jawaban:

Saran kami, silakan Ukhti baca baik-baik artikel tentang haid di web ini.

Pertanyaan:

Hari-hari akhir haid, saya sering menemukan tanda putih, tetapi ada sedikit sekali warna kekuningan. Saya terkadang bingung. Jadi saya menunggu sampai warnanya putih/ bening. Nah yang ingin saya tanyakan, kapan tepatnya saya benar-benar suci dan bisa mandi wajib?

Apakah dimulai saya melihat tanda putih walau ada sedikit sekali kuning? Atau saya tunggu hingga saya menemukan tanda benar-benar putih/ bening. Terima kasih.

Jawaban:

Ada sedikit kuning tapi ada yang putih kan?

Jika sudah ada cairan putih, insyaallah sudah suci. Walaupun satu menit kemudian ada lendir kuning. Dan lendir kuning ini TIDAK dianggap sebagai haid, berdasarkan hadis Ummu Athiyah radhiyallahu’anha.

Allahua’lam

Pertanyaan:

  1. Ukhti, bagaimana jika saya mulai haid di awal atau pertengahan waktu shalat Ashar (misalkan), apakah saya harus mengqodho shalat asar tersebut atau tidak?
  2. Bagaimana jika saya selesai haid di akhir waktu shalat (sudah mepet habis waktu shalatnya). Contoh di waktu akhir Maghrib akan masuk waktu Isya, lalu saya mandi, apakah saya harus mengqodho shalat Maghrib tersebut?

Jawaban:

  1. Jika menunda shalat karena uzur yang syari, bukan karena menyepelekan shalat, maka tidak perlu mengqadha. Walaupun yang lebih baik mengqadhanya. Ini merupakan pendapat Syaikh Ibnu Baz.
  2. Sebaiknya diqadha. Karena waktu shalat Maghrib itu sama dengan waktu shalat Isya, bagi orang yang memiliki uzuur seperti musafir, wanita haid.

Allahua’lam

Pertanyaan:

Perasan saya, keluar cairan putih yang bercampur warna kuning. Kemudian, saya lihat hari keesokannya keluar warna coklat (kering) dan dia berbau darah. Adakah saya masih haid setelah keluar warna coklat, atau sudah suci?

Pertanyaan:

Bagaimana jika darah sudah sedikit, dan mungkin sudah berhenti, tetapi sorenya muncul flek kecoklatan. Apakah itu termasuk suci atau tidak?

Jawaban:

Suci haid dengan keluarnya cairan putih.

Keluarnya darah haid, walaupun itu sedikit sekali, tetap dihukumi sebagai haid sampai keluar cairan putih. Wallahua’lam.

Pertanyaan:

Kemarin saat ana haid, setelah haid berhenti, paginya ana mandi wajib. Ana tunggu sampai sore tapi tidak keluar darah lagi. Pas Maghrib ana cek juga bersih. Akhirnya ana sholat Maghrib. Tapi ketika ana mau sholat Isya, ana cek keluar cairan kuning keruh agak putih, tapi tidak bau amis seperti darah haid. Esok harinya juga tidak keluar lagi. Bagaimana ini? Apakah cairan itu termasuk haid atau istihadah? Apakah ana harus mandi lagi? Apakah ana dosa karena usdah mulai sholat? Mohon penjelasannya

Jawaban:

Subhanallah.

Ukhti, jangan biarkan diri dihantui rasa was-was, karena itu bentuk gangguan setan. Banyak-banyaklah memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan setan.

Apakah kebiasaan Ukhti suci dari haid itu dengan jufuf (keringnya rahim)?

Jika Ukhti sudah yakin suci dengan jufuf, ya sudah…yakini itu sebagai suci.

Cairan kuning, coklat yang keluar setelah tanda suci bukan lagi disebut sebagai haid.

Wallahua’lam

,

SHAHIHKAH MENUTUP BACAAN ALQURAN DENGAN DOA KAFARATUL MAJELIS?

SHAHIHKAH MENUTUP BACAAN ALQURAN DENGAN DOA KAFARATUL MAJELIS?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak

SHAHIHKAH MENUTUP BACAAN ALQURAN DENGAN DOA KAFARATUL MAJELIS?

Pertanyaan:

Tersebar di media sosial, bahwa zikir setelah membaca Alquran itu adalah doa Kafarat Majelis, yaitu Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu an laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaika. Apakah benar demikian?

Jawaban Al-Ustadz Abu Yahya Badrusalam hafizahullah:

Memang ada hadis yang menunjukkan demikian, yaitu hadis Aisyah radhiallahu’anha:

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ : مَا جَلَسَ رَسُولُ اللهِ مَجْلِسًا قَطُّ، وَلاَ تَلاَ قُرْآناً، وَلاَ صَلَّى صَلاَةً إِلاَّ خَتَمَ ذَلِكَ بِكَلِمَاتٍ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَاكَ مَا تَجْلِسُ مَجْلِساً، وَلاَ تَتْلُو قُرْآنًا، وَلاَ تُصَلِّي صَلاَةً إِلاَّ خَتَمْتَ بِهَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ ؟ قَالَ: (( نَعَمْ، مَنْ قَالَ خَيْراً خُتِمَ لَهُ طَابَعٌ عَلَى ذَلِكَ الْخَيْرِ، وَمَنْ قَالَ شَرّاً كُنَّ لَهُ كَفَّارَةً: سُبْحَانَكَ [اللَّهُمَّ] وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ))

Dari Aisyah ia berkata:

“Tidaklah Nabi duduk di majelis, tidak pula membaca Alquran, dan tidak pula sholat, kecuali menutupnya dengan kalimat -alimat tersebut. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, aku melihatmu tidaklah duduk di suatu majelis, tidak juga membaca Alquran, dan tidak juga sholat, kecuali engkau tutup dengan kalimat tersebut?” Beliau ﷺ bersabda: “Iya, siapa yang berkata baik, akan ditutup dengan stempel kebaikan. Dan siapa yang berkata buruk, akan menjadi penghapus dosanya. Yaitu ucapan: Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu an laa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaika” (HR An Nasa’i).

Namun bila kita kumpulkan semua jalan dan matannya, tampak kepada kita, bahwa lafal: “..Tidak pula membaca Alquran” seorang perawi yang bernama Khollaad bin Sulaiman bersendirian dalam penyebutannya. Sementara perawi lainnya tidak menyebutkannya. Dan hadis ini diriwayatkan oleh 15 shahabat, namun tidak ada lafal: “..tidak pula membaca Alquran“.

Dan Khollaad ini, walaupun dianggap tsiqoh, namun ia bukan perawi yang masyhur dengan itqon. Sehingga bersendiriannya ini tidak bisa dianggap sebagai tambahan perawi yang tsiqoh.

Yang masyhur adalah, bahwa zikir tersebut sebagai doa Kafarat Majelis. Maka jika kita setelah membaca Alquran, langsung pergi meninggalkan majelis, disunnahkan membaca doa Kafarat Majelis tersebut. Adapun jika setelah membaca Alquran kita masih duduk di majelis, maka tidak disyariatkan. Yang menunjukkan kepada ini adalah hadis ibnu Mas’ud radliallahu anhu ia berkata:

Rasulullah ﷺ menyuruhku: “Bacakan Alquran untuk aku dengar”

“Ya Rasulullah, apakah aku boleh membaca Alquran di hadapan Anda, padahal Alquran itu diturunkan kepada Anda?” tanyaku.

“Ya, tidak masalah”

Aku pun membaca surat An-Nisa. Ketika sampai pada ayat:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ، وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا

“Bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat, dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad), sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)” (QS. An-Nisa: 41)

Seketika sampai di ayat ini, Rasulullah ﷺ mengatakan: “Cukup… cukup.”

Saya melihat beliau ﷺ. Ternyata beliau ﷺ berlinangan air mata. (HR. Bukhari 5050 dan Muslim 800)

Di dalam hadis tersebut, setelah membaca Alquran, beliau ﷺ tidak beranjak dari majelis. Beliau ﷺ tidak membaca doa Kafarat Majelis tersebut. Beliau ﷺ hanya berkata: “Cukup.. cukup..“. Jadi zikir subhanakallahumma wabihamdika.. dst. adalah doa Kafarat Majelisnya. Bukan doa setelah membaca Alquran.

Wallahu a’lam.

 

***

 

Penulis: Al-Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafizahullah

[Artikel Muslim.or.id]

Sumber: https://muslim.or.id/28275-shahihkah-menutup-bacaan-al-quran-dengan-doa-kafaratul-majlis.html

,

SIAPA SAJAKAH KEDELAPAN GOLONGAN PENERIMA ZAKAT?

SIAPA SAJAKAH KEDELAPAN GOLONGAN PENERIMA ZAKAT?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#PanduanZakat

SIAPA SAJAKAH KEDELAPAN GOLONGAN PENERIMA ZAKAT?

  • Mengupas Delapan Golongan Penerima Zakat
  • Bolehkah kita memberikan zakat kepada selain kedelapan golongan tersebut?

 

Golongan yang berhak menerima zakat adalah delapan golongan yang telah ditegaskan dalam Alquran Al Karim pada ayat berikut:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk:

[1] Orang-orang fakir,

[2] Orang -orang miskin,

[3] Amil Zakat,

[4] Para mu’allaf yang dibujuk hatinya,

[5] Untuk (memerdekakan) budak,

[6] Orang -orang yang terlilit utang,

[7] Untuk jalan Allah dan

[8] Untuk mereka yang sedang dalam perjalanan.” (QS. At Taubah: 60)

Ayat ini dengan jelas menggunakan kata “Innama”. Hal ini menunjukkan, bahwa zakat hanya diberikan untuk delapan golongan tersebut, TIDAK untuk yang lainnya [1].

Golongan Pertama dan Kedua: Fakir dan Miskin

Fakir dan miskin adalah golongan yang tidak mendapati sesuatu yang mencukupi kebutuhan mereka.

Para ulama berselisih pendapat manakah yang kondisinya lebih susah antara fakir dan miskin. Ulama Syafi’iyah dan Hambali berpendapat, bahwa fakir itu lebih susah dari miskin. Alasan mereka karena dalam ayat ini, Allah menyebut fakir lebih dulu, baru miskin. Ulama lainnya berpendapat miskin lebih parah dari fakir [2].

Adapun batasan dikatakan fakir menurut ulama Syafi’iyah dan Malikiyah adalah orang yang tidak punya harta dan usaha yang dapat memenuhi kebutuhannya. Misalnya kebutuhannya setiap harinya adalah sepuluh ribu Rupiah, namun ia sama sekali tidak bisa memenuhi kebutuhan tersebut, atau ia hanya dapat memenuhi kebutuhannya kurang dari separuh. Sedangkan miskin adalah orang yang hanya dapat mencukupi separuh atau lebih dari separuh kebutuhannya, namun tidak bisa memenuhi seluruhnya [3].

Orang yang berkecukupan tidak boleh diberi zakat

Orang yang berkecukupan sama sekali tidak boleh diberi zakat, inilah yang disepakati oleh para ulama. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

لاَ حَظَّ فِيهَا لَغَنِىٍّ

“Tidak ada satu pun bagian zakat untuk orang yang berkecukupan.” [4]

Apa standarnya orang kaya yang tidak boleh mengambil zakat?

Standarnya, ia memiliki kecukupan ataukah tidak. Jika ia memiliki harta yang mencukupi diri dan orang-orang yang ia tanggung, maka tidak halal zakat untuk dirinya. Namun jika tidak memiliki kecukupan, walaupun hartanya mencapai nishob, maka  ia halal untuk mendapati zakat. Oleh karena itu, boleh jadi orang yang wajib zakat karena hartanya telah mencapai nishob, ia sekaligus berhak menerima zakat. Demikian pendapat mayoritas ulama yaitu ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad [5].

Apa standar kecukupan?

Kecukupan yang dimaksud adalah kecukupan pada makan, minum, tempat tinggal, juga segala yang mesti ia penuhi, tanpa bersifat boros atau tanpa keterbatasan. Kebutuhan yang dimaksud di sini adalah baik kebutuhan dirinya sendiri, atau orang-orang yang ia tanggung nafkahnya. Inilah pendapat mayoritas ulama [6].

Bolehkah memberi zakat kepada fakir miskin yang mampu mencari nafkah?

Jika fakir dan miskin mampu bekerja dan mampu memenuhi kebutuhannya serta orang-orang yang ia tanggung atau memenuhi kebutuhannya secara sempurna, maka ia sama sekali tidak boleh mengambil zakat. Alasannya karena Nabi ﷺ bersabda:

لاَ حَظَّ فِيهَا لَغَنِىٍّ وَلاَ لِذِى مِرَّةٍ مُكْتَسِبٍ

“Tidak ada satu pun bagian zakat untuk orang yang berkecukupan dan tidak pula bagi orang yang kuat untuk bekerja.”[7]

Dalam hadis yang lain, Nabi ﷺ bersabda:

لاَ تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِىٍّ وَلاَ لِذِى مِرَّةٍ سَوِىٍّ

“Tidak halal zakat bagi orang yang berkecukupan, tidak pula bagi orang yang kuat lagi fisiknya sempurna (artinya: mampu untuk bekerja, pen)” [8]

Berapa kadar zakat yang diberikan kepada fakir dan miskin?

Besar zakat yang diberikan kepada fakir dan miskin adalah sebesar kebutuhan yang mencukupi kebutuhan mereka dan orang yang mereka tanggung dalam setahun, dan tidak boleh ditambah lebih daripada itu. Yang jadi patokan di sini adalah satu tahun, karena umumnya zakat dikeluarkan setiap tahun. Alasan lainnya adalah, bahwasanya Nabi ﷺ biasa menyimpan kebutuhan makanan keluarga beliau untuk setahun. Barangkali pula jumlah yang diberikan bisa mencapai ukuran nishob zakat.

Jika fakir dan miskin memiliki harta yang mencukupi sebagian kebutuhannya, namun belum seluruhnya terpenuhi, maka ia bisa mendapat jatah zakat untuk memenuhi kebutuhannya yang kurang dalam setahun. [9]

Golongan Ketiga: Amil Zakat

Untuk Amil Zakat, tidak disyaratkan termasuk miskin. Karena Amil Zakat mendapat bagian zakat disebabkan pekerjaannya. Dalam sebuah hadis disebutkan:

لاَ تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِىٍّ إِلاَّ لِخَمْسَةٍ لِغَازٍ فِى سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ لِعَامِلٍ عَلَيْهَا أَوْ لِغَارِمٍ أَوْ لِرَجُلٍ اشْتَرَاهَا بِمَالِهِ أَوْ لِرَجُلٍ كَانَ لَهُ جَارٌ مِسْكِينٌ فَتُصُدِّقَ عَلَى الْمِسْكِينِ فَأَهْدَاهَا الْمِسْكِينُ لِلْغَنِىِّ

“Tidak halal zakat bagi orang kaya kecuali bagi lima orang, yaitu orang yang berperang di jalan Allah, atau Amil Zakat, atau orang yang terlilit utang, atau seseorang yang membelinya dengan hartanya, atau orang yang memiliki tetangga miskin, kemudian orang miskin tersebut diberi zakat, lalu ia memberikannya kepada orang yang kaya.”[10]

Ulama Syafi’iyah dan Hanafiyah mengatakan, bahwa imam (penguasa) akan memberikan  pada Amil Zakat upah yang jelas, boleh jadi dilihat dari lamanya ia bekerja atau dilihat dari pekerjaan yang ia lakukan [11].

Siapakah Amil Zakat?

Sayid Sabiq mengatakan: “Amil Zakat adalah orang-orang yang diangkat oleh penguasa atau wakil penguasa untuk bekerja mengumpulkan zakat dari orang-orang kaya. Termasuk Amil Zakat adalah orang yang bertugas menjaga harta zakat, penggembala hewan ternak zakat dan juru tulis yang bekerja di kantor Amil Zakat.” [12]

‘Adil bin Yusuf al ‘Azazi berkata: “Yang dimaksud dengan Amil Zakat adalah para petugas yang dikirim oleh penguasa untuk mengunpulkan zakat dari orang-orang yang berkewajiban membayar zakat. Demikian pula termasuk Amil adalah orang-orang yang menjaga harta zakat serta orang-orang yang membagi dan mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Mereka itulah yang berhak diberi zakat, meski sebenarnya mereka adalah orang-orang yang kaya.”[13]

Syeikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mengatakan: “Golongan ketiga yang berhak mendapatkan zakat adalah Amil Zakat. Amil Zakat adalah orang-orang yang diangkat oleh penguasa untuk mengambil zakat dari orang-orang yang berkewajiban untuk menunaikannya, lalu menjaga dan mendistribusikannya. Mereka diberi zakat sesuai dengan kadar kerja mereka, meski mereka sebenarnya adalah orang-orang yang kaya. Sedangkan orang biasa yang menjadi wakil orang yang berzakat untuk mendistribusikan zakatnya bukanlah termasuk Amil Zakat. Sehingga mereka tidak berhak mendapatkan harta zakat sedikit pun disebabkan status mereka sebagai wakil. Akan tetapi jika mereka dengan penuh kerelaan hati mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan penuh amanah dan kesungguhan, maka mereka turut mendapatkan pahala. Namun jika mereka meminta upah karena telah mendistribusikan zakat, maka orang yang berzakat berkewajiban memberinya upah dari hartanya yang lain, bukan dari zakat.” [14]

Berdasarkan paparan di atas jelaslah, bahwa syarat agar bisa disebut sebagai Amil Zakat adalah diangkat dan diberi otoritas oleh penguasa Muslim untuk mengambil zakat dan mendistribusikannya, sehingga panitia-panitia zakat yang ada di berbagai masjid serta orang-orang yang mengangkat dirinya sebagai Amil bukanlah Amil secara syari. Hal ini sesuai dengan istilah Amil, karena yang disebut Amil adalah pekerja yang dipekerjakan oleh pihak tertentu.

Memiliki otoritas untuk mengambil dan mengumpulkan zakat adalah sebuah keniscayaan bagi Amil, karena Amil memiliki kewajiban untuk mengambil zakat secara paksa dari orang-orang yang menolak untuk membayar zakat.

Golongan Keempat: Orang yang Ingin Dilembutkan Hatinya

Orang yang ingin dilembutkan hatinya. Bisa jadi golongan ini adalah Muslim dan kafir.

Contoh dari kalangan Muslim:

Orang yang lemah imannya namun ditaati kaumnya. Ia diberi zakat untuk menguatkan imannya.

Pemimpin di kaumnya, lantas masuk Islam. Ia diberi zakat untuk mendorong orang kafir semisalnya agar tertarik pula untuk masuk Islam.

Contoh dari kalangan kafir:

Orang kafir yang sedang tertarik pada Islam. Ia diberi zakat supaya condong untuk masuk Islam.

Orang kafir yang ditakutkan akan bahayanya. Ia diberikan zakat agar menahan diri dari mengganggu kaum Muslimin [15].

Golongan Kelima: Pembebasan Budak

Pembebasan budak yang termasuk di sini adalah:

(1) Pembebasan budak mukatab, yaitu yang berjanji pada tuannya ingin merdeka dengan melunasi pembayaran tertentu,

(2) Pembebasan budak Muslim,

(3) Pembebasan tawanan Muslim yang ada di tangan orang kafir [16].

Golongan Keenam: Orang Yang Terlilit Utang.

Yang termasuk dalam golongan ini adalah:

Pertama: Orang yang terlilit utang demi kemaslahatan dirinya.

Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi:

  1. Yang berutang adalah seorang Muslim.
  2. Bukan termasuk Ahlu Bait (keluarga Nabi ﷺ).
  3. Bukan orang yang bersengaja berutang untuk mendapatkan zakat.
  4. Utang tersebut membuat ia dipenjara.
  5. Utang tersebut mesti dilunasi saat itu juga, bukan utang yang masih tertunda untuk dilunasi beberapa tahun lagi kecuali jika utang tersebut mesti dilunasi di tahun itu, maka ia diberikan zakat.
  6. Bukan orang yang masih memiliki harta simpanan (seperti rumah) untuk melunasi utangnya.

Kedua: Orang yang terlilit utang karena untuk memerbaiki hubungan orang lain. Artinya, ia berutang bukan untuk kepentingan dirinya, namun untuk kepentingan orang lain. Dalil dari hal ini sabda Nabi ﷺ:

إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِثَلَاثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ بِحَمَالَةٍ بَيْنَ قَوْمٍ فَسَأَلَ فِيهَا حَتَّى يُؤَدِّيَهَا ثُمَّ يُمْسِكَ

“Sesungguhnya permintaan itu tidak halal kecuali bagi tiga orang, yaitu: Orang laki-laki yang memunyai tanggungan bagi kaumnya, lalu ia meminta-minta hingga ia dapat menyelesaikan tanggungannya, setelah itu ia berhenti (untuk meminta-minta).” [17]

Ketiga: Orang yang berutang karena sebab Dhoman (menanggung sebagai jaminan utang orang lain). Namun di sini disyaratkan orang yang menjamin utang dan yang dijamin utang, sama-sama orang yang sulit dalam melunasi utang.[ 18]

Golongan Ketujuh: Di Jalan Allah

Yang termasuk di sini adalah:

Pertama: Berperang di Jalan Allah

Menurut mayoritas ulama, tidak disyaratkan miskin. Orang kaya pun bisa diberi zakat dalam hal ini. Karena orang yang berperang di jalan Allah tidak berjuang untuk kemaslahatan dirinya saja, namun juga untuk kemaslahatan seluruh kaum Muslimin. Sehingga tidak perlu disyaratkan fakir atau miskin.

Kedua: Untuk Kemaslahatan Perang

Seperti untuk pembangunan benteng pertahanan, penyediaan kendaraan perang, penyediaan persenjataan, pemberian upah pada mata-mata, baik Muslim atau kafir yang bertugas untuk memata-matai musuh. [19]

Golongan Kedelapan: Ibnu Sabil, Yaitu Orang Yang Kehabisan Bekal Di Perjalanan

Yang dimaksud di sini adalah orang asing yang tidak dapat kembali ke negerinya. Ia diberi zakat agar ia dapat melanjutkan perjalanan ke negerinya. Namun Ibnu Sabil tidaklah diberi zakat kecuali bila memenuhi syarat:

(1) Muslim dan bukan termasuk Ahlul Bait (keluarga Nabi ﷺ),

(2) Tidak memiliki harta pada saat itu sebagai biaya untuk kembali ke negerinya, walaupun di negerinya dia adalah orang yang berkecukupan,

(3) Safar yang dilakukan bukanlah safar maksiat.[20]

Memberi Zakat untuk Kepentingan Sosial dan kepada Pak Kyai atau Guru Ngaji

Para fuqoha berpendapat TIDAK bolehnya menyerahkan zakat untuk kepentingan sosial seperti pembangunan jalan, masjid dan jalan. Alasannya karena sarana-sarana tadi bukan jadi milik individual dan dalam surat At Taubah ayat 60 hanya dibatasi diberikan kepada delapan golongan tidak pada yang lainnya.

Begitu pula tidak boleh menyerahkan zakat kepada pak Kyai atau guru ngaji, kecuali jika mereka termasuk dalam delapan golongan penerima zakat yang disebutkan dalam Surat At Taubah ayat 60.

Menyerahkan Zakat kepada Orang Muslim yang Bermaksiat dan Ahli Bid’ah

Orang yang menyandarkan diri pada Islam, ada beberapa golongan:

a. Muslim yang taat dan menjalankan syariat Islam. Maka tidak meragukan lagi bahwa golongan ini yang pantas diberikan zakat. Jadi seharusnya zakat diserahkan pada orang yang benar-benar memerhatikan shalat dan ibadah wajib lainnya.

b. Termasuk Ahli Bid’ah dan bid’ahnya adalah bid’ah yang sifatnya kafir. Orang seperti ini tidak boleh diberikan zakat pada dirinya. Misalnya adalah bid’ah mengakui ada Nabi ke-26.

c. Ahli Bid’ah (yang sifatnya tidak kafir) dan Ahli Maksiat. Jika diketahui dengan sangkaan kuat bahwa ia akan menggunakan zakat tersebut untuk maksiat, maka tidak boleh memberikan zakat pada orang semacam itu. [21]

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Sudah seharusnya setiap orang memerhatikan orang-orang yang berhak mendapakan zakat dari kalangan fakir, miskin, orang yang terlilit utang dan golongan lainnya. Seharusnya yang dipilih untuk mendapatkan zakat adalah orang yang berpegang teguh dengan syariat. Jika nampak pada seseorang kebid’ahan atau kefasikan, ia pantas untuk diboikot dan mendapatkan hukuman lainnya. Ia sudah pantas dimintai taubat. Bagaimana mungkin ia ditolong dalam berbuat maksiat.” [22]

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Catatan Kaki:

[1] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/8252, Asy SyAmilah, index “zakat”, point 156.

[2] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/8252, index “zakat”, point 157.

[3] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/8252, index “zakat”, point 158.

[4] HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro, 6/351. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih. Lihat Al Irwa’ no. 876.

[5] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/8254, index “zakat”, point 159.

[6] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/8256, index “zakat”, point 163.

[7] HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro, 6/351. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih. Lihat Al Irwa’ no. 876.

[8] HR. Abu Daud no. 1634, An Nasai no. 2597, At Tirmidzi no. 652, Ibnu Majah no. 1839 dan Ahmad 2/164 . Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih. Lihat Al Irwa’ no. 877. Lihat Syarh Sunan Ibni Majah, As Suyuthi dkk, Asy SyAmilah 1/132.

[9] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/8257, index “zakat”, point 164.

[10] HR. Abu Daud no. 1635. Syaikh Al Albani mengatakan hadis ini shahih

[11] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/8258, index “zakat”, point 168.

[12] Fiqh Sunnah, terbitan Dar al Fikr Beirut, 1/327.

[13] Tamamul Minnah fi Fiqh al Kitab wa Shahih al Sunnah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, terbitan Muassasah Qurthubah Mesir, 2/290

[14] Majalis Syahri Ramadhan, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, cet Darul Hadis Kairo, hal 163-164.

[15] Lihat Al Mughni, Ibnu Qudamah, Darul Fikr, Beirut, 1405 H, 7/319

[16] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/8260-8261, index “zakat”, point 169.

[17] HR. An Nasai no. 2579 dan Ahmad 5/60. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih.

[18] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/8261-8262, index “zakat”, point 170 dan 171.

[19] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/8263, index “zakat”, point 172 dan 173.

[20] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/8264-8265, index “zakat”, point 174 dan 175.

[21] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/76-77.

[22] Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, 25/87.

Sumber: http://pengusahaMuslim.com/mengupas-8-golongan-penerima-zakat/

┈┈»̶•̵̭̌✽✽✽✽✽✽•̵̭̌«̶┈┈

KEUTAMAAN BERAMAL SALEH DAN MENJAUHI DOSA-DOSA BESAR

KEUTAMAAN BERAMAL SHALIH DAN MENJAUHI DOSA-DOSA BESAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

KEUTAMAAN BERAMAL SHALIH DAN MENJAUHI DOSA-DOSA BESAR

Rasulullah ﷺ bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

“Sholat yang lima waktu, sholat Jumat sampai Jumat berikutnya, dan puasa Ramadan sampai Ramadan berikutnya, adalah penghapus-penghapus dosa di antara waktu-waktu tersebut, selama dosa besar tidak dilakukan.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Hadis yang mulia ini menunjukkan keutamaan beramal saleh dan menjauhi dosa-dosa besar, yaitu mendapatkan ampunan atas dosa-dosa kecil.

Dan sungguh seorang hamba sangat membutuhkan ampunan Allah ‘azza wa jalla dari dosa-dosa besar maupun kecil. Karena dosa-dosa kecil sekali pun, jika terus dilakukan, maka akan menjadi besar dan membinasakan pelakunya.

Namun untuk mendapatkan ampunan atas dosa-dosa besar harus dengan bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla.

Asy-Syaikhul ‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata:

قال جمهور أهل العلم: إن أداء الفرائض وترك الكبائر يكفر السيئات الصغائر، أما الكبائر فلا يكفرها إلا التوبة إلى الله سبحانه وتعالى

“Jumhur ulama berkata: Sesungguhnya mengamalkan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan dosa-dosa besar dapat menghapus dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar tidak dapat dihapus kecuali dengan taubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” [Fatawa Nur ‘alad Darb, 6/64]

Dan taubat yang benar adalah dengan memenuhi enam syarat taubat:
1. Ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla.
2. Menyesali dosanya.
3. Meninggalkannya.
4. Bertekad tidak akan melakukannya lagi di masa yang akan datang.
5. Sebelum habis waktunya, yaitu sebelum datangnya kematian atau sebelum terbitnya matahari dari arah Barat.
6. Jika dosa itu adalah kesalahan kepada orang lain, maka harus meminta maaf atau mengembalikan haknya.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1919002844999184:0

,

APAKAH MASJID HARUS DI TANAH WAKAF?

APAKAH MASJID HARUS DI TANAH WAKAF?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

APAKAH MASJID HARUS DI TANAH WAKAF?

Pertanyaan:

Apakah masjid harus di tanah wakaf? Bolehkah shalat di masjid yang bukan wakaf? Kalau jual beli di masjid yang bukan wakaf bolehkah?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada dua hal yang perlu kita bedakan:

Pertama, kapan sebuah gedung dan bangunan bisa dimanfaatkan untuk shalat jamaah?

Mayoritas ulama berpendapat bolehnya menyewakan ruangan untuk dijadikan masjid. Ini merupakan Madzhab Syafiiyah, Malikiyah, dan Hambali. Sementara Abu Hanifah berpendapat, bahwa itu tidak  sah.

Ibnu Qudamah mengatakan:

ويجوز استئجار دار يتخذها مسجداً يصلي فيه وبه قال مالك والشافعي وقال أبو حنيفة لا تصح لأن فعل الصلاة لا يجوز استحقاقه بعقد إجارة بحال فلا تجوز الإجارة لذلك، ولنا أن هذه منفعة مباحة يمكن استيفاؤها من العين مع بقائها فجاز استئجار العين لها

Boleh menyewakan ruang untuk dijadikan masjid sebagai tempat shalat. Ini merupakan pendapat Imam Malik, dan as-Syafii. Sementara Abu Hanifah mengatakan, shalatnya tidak sah. Karena amalan shalat tidak bisa dimiliki melalui akad sewa, sehingga tidak boleh ada akad sewa untuk hal ini. Dan menurut pendapat kami, bahwa gedung yang manfaatnya mubah ini memungkinkan untuk dikembalikan utuh, sehingga boleh saja disewakan untuk dijadikan tempat shalat. (al-Mughni, 6/143).

Apakah masjid dari gedung sewa, berlaku semua hukum masjid?

Dalam Fatwa Syabahakh dinyatakan:

أحكام المسجد لا تكون إلا إذا كان المسجد وقفا ، فقد نص الفقهاء على أن من بنى مسجدا وصلى فيه ولم يوقفه فإنه لا يأخذ حكم المسجد حتى يوقفه

Hukum masjid tidak berlaku, kecuali jika bangunan masjid itu telah diwakafkan. Para ulama telah menegaskan, bahwa orang yang membangun masjid dan shalat di sana, sementara belum diwakafkan, maka tidak berlaku hukum masjid, sampai diwakafkan. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 3752)

Dalam Asna al-Mathalib – kitab Fiqh Madzhab Syafii – dinyatakan:

أما كونه وقفا بذلك فصريح لا يحتاج إلى نية؛ لا إن بنى بناء ولو على هيئة المسجد وقال ( أذنت في الصلاة فيه ) فلا يصير بذلك مسجدا

Jika bentuknya wakaf dengan pernyataan itu, maka jelas, sehingga tidak perlu niat. Tidak termasuk, ketika ada orang yang membangun bangunan seperti bentuk masjid, lalu dia mengatakan: ‘Aku izikan untuk shalat di sini.’ Maka tidak menjadi masjid dengan pernyataan in (karena belum dinyatakan wakaf). (Asna al-Mathalib, 12/446).

Alasan bahwa masjid harus di tanah wakaf, karena ketika masjid sudah diwakafkan, maka tidak akan berubah menjadi tempat lainnya. Sehingga tidak ada istilah, saat ini masjid, besok berubah menjadi rumah atau toko.

Bisakah gedung yang disewa untuk masjid, diwakafkan sementara?

Ini kembali kepada pembahan hukum wakaf manfaat dan terkait penjelasan ulama mengenai ada tidaknya syarat takbid (permanen) untuk wakaf.

Jumhur ulama mengatakan, wakaf harus takbid (permanen), sehingga tidak ada istilah wakaf sementara.

Sementara Malikiyah mengatakan, boleh wakaf dalam bentuk manfaat sesuatu dan tidak disyaratkan harus permanen. Dan ini juga pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Syaikhul Islam pernah ditanya tentang hukum wakaf sementara. Jawaban beliau:

يجوز أن يقف البناء الذي بناه في الأرض المستأجرة سواء وقفه مسجدا أو غير مسجد ولا يسقط ذلك حق أهل الأرض، فإنه متى انقضت مدة الإجارة، وانهدم البناء زال حكم الوقف، سواء كان مسجدا أو غير مسجد

Boleh wakaf bangunan yang dibangun di atas tanah sewa, baik wakaf untuk masjid maupun selain masjid. Dan hak kepemilikan tanah tidak menjadi gugur. Karena ketika masa sewa telah habis, dan bangunan sudah dirobohkan, status wakaf menjadi tidak berlaku, baik masjid maupun untuk selain masjid. (al-Fatawa al-Kubro, 4/236)

Pendapat ini juga yang menjadi pegangan mayoritas ulama kontemporer dan keputusan Majma’ al-Fiqh al-Islami.

Ketika masjid itu belum diwakafkan, bolehkah jual beli di dalamnya?

Latar belakang terbesar mengenai larangan jual beli di masjid adalah hal itu bisa melalaikan orang untuk berzikir, mengingat Allah, dan beribadah.

Allah berfirman:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. an-Nur: 37).

Karena itu, sekalipun bangunan itu tidak berstatus sebagai masjid, tidak selayaknya berjualan di sana.

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya mengenai ruko yang dijadikan mushola.  Beliau menegaskan:

هذا ليس له حكم المسجد ، هذا مصلى بدليل أنه مملوك للغير وأن مالكه له أن يبيعه ، فهو مصلى وليس مسجدا فلا تثبت له أحكام المسجد

Tempat ini tidak berlaku hukum masjid. Ini mushola. Dengan bukti, bangunan ini milik orang tertentu, dan pemiliknya bisa menjualnya. Sehingga dia mushola dan bukan masjid, karena itu tidak berlaku hukum masjid.

Lalu ada yang bertanya:

Bolehkah ada jualan buku-buku kecil atau promosi dagangan di tempat semacam ini?

Jawab beliau:

أرى أنه لا يليق حتى بالمصلى ، لأن هذا يلهي عن ذكر الله ، ويوجب التشويش على من يصلي فيه

Menurutku, tidak selayaknya itu dilakukan, meskipun itu hanya mushola. Karena ini melalaikan orang dari berzikir kepada Allah, dan mengganggu orang yang shalat di dalamnya.  (Fatwa Islam, no. 4399)

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28950-apakah-masjid-harus-di-tanah-wakaf.html

, ,

BOLEHKAH MENGADAKAN PESTA PERPISAHAN UNTUK ORANG KAFIR?

BOLEHKAH MENGADAKAN PESTA PERPISAHAN UNTUK ORANG KAFIR?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

#ManhajSalaf

BOLEHKAH MENGADAKAN PESTA PERPISAHAN UNTUK ORANG KAFIR?

Pertanyaan:

Menjelang habis masa kerja seorang kafir, biasanya diadakan pesta perpisahan. Bagaimana hukum perbuatan ini?

Jawaban:

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah, amma ba’du,

Mengadakan pesta perpisahan bagi orang-orang kafir, tidak diragukan lagi bahwa tindakan seperti ini dimaksudkan untuk menghormati dan menunjukkan penyesalan atas terjadinya perpisahan dengan yang bersangkutan. Seorang Muslim haram melakukan hal seperti ini, karena Nabi ﷺ telah bersabda:

لاَ تَبْدَئُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى بِالسَّلاَمِ وَإِذَا لَقِيْتُمْ أَحَدَهُمْ فِي الطَّرِيْقِ فَاضْطَرُّوْهُمْ إِلَى أَضْيَقِهِ

“Jangan kalian mendahului memberi salam kepada Yahudi dan Nasrani. Jika kalian bertemu dengan salah seorang dari mereka di jalan, maka DESAKLAH MEREKA KE TEPI JALAN.”

Seseorang yang benar-benar Mukmin TIDAK MUNGKIN menghormati seseorang yang menjadi musuh Allah, padahal semua orang kafir adalah musuh Allah, sebagaimana penetapan Allah:

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيْلَ وَمِيْكَالَ فَإِنَّ اللهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِيْنَ

“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail, maka sungguh Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah: 98).

 

Sumber: Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci, Media Hidayah, Cetakan 1, Tahun 2003.
(Dengan penataan bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

https://konsultasisyariah.com/3257-pesta-perpisahan-orang-kafir.html

 

 

,

PETUNJUK DALAM MENYIKAPI KENAIKAN HARGA

PETUNJUK DALAM MENYIKAPI KENAIKAN HARGA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Mutiara_Sunnah

PETUNJUK DALAM MENYIKAPI KENAIKAN HARGA

Sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata:

غَلاَ السِّعْرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، سَعِّرْ لَنَا، فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، القَابِضُ، البَاسِطُ، الرَّزَّاقُ، وَإِنِّي لأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلاَ مَالٍ

“Harga barang pernah naik di masa Rasulullah ﷺ, maka para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, aturlah ketetapan harga untuk kami. Beliau ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah, Dia-lah yang mengatur harga, yang menahan, yang melapangkan dan yang Maha Memberikan Rezeki, dan sungguh aku berharap untuk berjumpa dengan Rabbku dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku karena suatu kezaliman pada darah dan harta.” [HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, Ghayatul Marom: 323]

Beberapa Pelajaran:

1) Allah ta’ala, Dia-lah yang menakdirkan segala sesuatu yang terjadi di alam ini. Dia-lah yang menetapkan harga, menyempitkan dan melapangkan rezeki. Maka hendaklah setiap hamba hanya bersandar dan berdoa kepada-Nya, bersabar dan bertaubat kepada-Nya, serta senantiasa bertakwa kepada-Nya. Sahabat yang Mulia Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata:

أَنَّ رَجُلًا جَاءَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، سَعِّرْ، فَقَالَ: «بَلْ أَدْعُو» ثُمَّ جَاءَهُ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، سَعِّرْ، فَقَالَ: بَلِ اللَّهُ يَخْفضُ وَيَرْفَعُ، وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللَّهَ وَلَيْسَ لِأَحَدٍ عِنْدِي مَظْلَمَةٌ

“Bahwa seseorang datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata: Wahai Rasulullah, tetapkanlah harga untuk kami. Maka beliau ﷺ bersabda: “Aku hanya bisa berdoa”. Kemudian datang lagi orang yang lain lalu berkata: Wahai Rasulullah tetapkanlah harga untuk kami. Maka beliau ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah yang menurunkan dan menaikkan harga, dan sungguh aku berharap untuk berjumpa dengan Allah, dalam keadaan tidak ada seorang pun yang menuntutku karena suatu kezaliman.” [HR. Ahmad dan Abu Daud, Shahih Ar-Raudh An-Nadhir: 405]

2) Kenaikan harga adalah karena kondisi pasar mengharuskan demikian, seperti karena kurangnya barang, atau banyaknya permintaan, atau naiknya harga BBM dan lain-lain. Adapun apabila kenaikan harga disebabkan ‘permainan’ para pedagang, maka termasuk perbuatan zalim, dan tidak dibenarkan bagi para pedagang untuk menetapkan harga melebihi pasaran.

3) Hadis ini juga menunjukkan, bahwa pemerintah tidak boleh menetapkan harga-harga barang, tetapi hendaklah membiarkan sesuai kondisi pasar yang berlaku. Kecuali apabila para pedagang memermainkan harga, maka hendaklah pemerintah mengaturnya, sesuai dengan harga yang sebenarnya (lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 13/185 no. 6374 Pertanyaan no. 2).

4) Ulama berbeda pendapat tentang (الْمُسَعِّرُ) yang menetapkan harga, (القَابِضُ) yang menahan rezeki, (البَاسِطُ) yang melapangkan rezeki, (الرَّزَّاقُ) yang memberi rezeki, apakah termasuk nama-nama Allah atau tidak. Yang dikuatkan oleh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafizhahullah adalah, hanya Ar-Rozzaq yang merupakan nama Allah ta’ala berdasarkan firman-Nya:

إن الله هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki Yang Memunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” [Adz-Dzariyyat: 58]

Adapun hadis ini tidak menetapkan nama-nama Allah ta’ala. Maka tiga nama sebelumnya adalah termasuk sifat-sifat perbuatan Allah ta’ala, namun bukan termasuk nama-nama-Nya (lihat Syarhu Sunan Abi Daud, 8/394 versi Asy-Syaamilah).

5) Rasulullah ﷺ sangat takut berbuat zalim, dan beliau ﷺ telah memeringatkan bahayanya dalam hadis ini, sebagaimana beliau ﷺ juga bersabda:

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut di tengah-tengah kami adalah orang yang tidak memiliki Dinar dan harta”. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa amalan sholat, puasa, zakat, namun dia pernah mencaci Fulan, menuduh Fulan, memakan harta Fulan, menumpahkan darah Fulan dan memukul Fulan. Maka diambil kebaikan-kebaikan yang pernah dia lakukan untuk diberikan kepada orang-orang yang pernah dia zalimi. Hingga apabila kebaikan-kebaikannya habis sebelum terbalas kezalimannya, maka kesalahan orang-orang yang pernah dia zalimi ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilempar ke Neraka.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

6) Kesempurnaan Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dengan aturan yang paling baik, demi meraih kebahagiaan di dunia dan Akhirat.

7) Aturan Islam tegak di atas keadilan dan kemaslahatan, sangat jauh dari kezaliman dan kemudaratan.

8) Kewajiban tunduk kepada ketetapan Allah ta’ala, dan Rasulullah ﷺ serta para sahabat radhiyallahu’anhum adalah sebaik-baik teladan dalam beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla.

9) Rasulullah ﷺ adalah manusia biasa seperti kita juga. Beliau ﷺ tidak punya andil sedikit pun dalam menguasai dan mengatur alam ini. Beliau ﷺ tunduk dengan ketetapan Allah tabaraka wa ta’ala. Beliau ﷺ bersandar dan bermohon hanya kepada-Nya. Maka tidak sepatutnya beliau ﷺ dipersekutukan dengan Allah jalla wa ‘ala.

Maka hendaklah kita meneladani beliau ﷺ yang hanya beribadah kepada Allah ta’ala; hanya bersandar dan berdoa kepada-Nya, tidak kepada malaikat, para nabi dan orang-orang saleh yang telah meninggal dunia. Karena berdoa kepada selain Allah ta’ala termasuk syirik besar, yang menyebabkan pelakunya murtad, keluar dari Islam dan mengekalkannya di Neraka.

10) Apabila beliau ﷺ tidak pantas dipersekutukan dengan Allah, maka seluruh makhluk selain beliau ﷺ yang derajatnya lebih rendah dari beliau ﷺ, apakah malaikat, para nabi dan para wali, tentunya lebih tidak patut dipersekutukan dengan Allah tabaraka wa ta’ala.

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

Sumber: http://sofyanruray.info/petunjuk-dalam-menyikapi-kenaikan-harga/

 

📋 PETUNJUK DALAM MENYIKAPI KENAIKAN HARGAبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ✅ Sahabat yang Mulia Anas bin Malik…

Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info 发布于 2017年1月4日

 

,

PENDERITAAN SI BAKHIL TERHADAP ILMU

PENDERITAAN SI BAKHIL TERHADAP ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

PENDERITAAN SI BAKHIL TERHADAP ILMU

 
Berkata Ibnu Hazm Rohimahullah Ta’ala:
 
الباخل بالعلم ألأم من الباخل بالمال؛ لأن الباخل بالمال أشفق من فناء ما بيده، والباخل بالعلم بخل بما لا يفنى على النفقة، ولا يفارقه مع البذل.
 
Orang yang bakhil dengan ilmunya, jauh lebih menderita dibandingkan dengan orang yang bakhil dengan hartanya.
 
Karena orang yang bakhil dengan hartanya, ia takut kehabisan apa yang ada di tangannya.
 
Sedangkan orang yang bakhil dengan ilmunya, maka ia bakhil dengan sesuatu yang sebenarnya tidak akan habis, bila dikeluarkan dalam keadaan ilmu itu tidak akan berpisah darinya, bila ia bagikan pada yang lain.
 
Kitabul Akhlak Was Siyar hal 89
 
?Alih bahasa Abu Sufyan Al Musy Ghofarohullah
———————————————–
, ,

MEMBABAT HABIS ALASAN-ALASAN MELAKUKAN DEMONSTRASI

MEMBABAT HABIS ALASAN-ALASAN MELAKUKAN DEMONSTRASI

MEMBABAT HABIS ALASAN-ALASAN MELAKUKAN DEMONSTRASI

Dalil-Dalil Bantahan Atas Pembolehan Demonstrasi

Yang berikut ini adalah syubhat-syubhat beserta bantahannya. Semoga Allah mengaruniai kita semua dengan pemahaman yang lurus.

  1. Bagaimana Islam Bisa Dibela Kalau Cuma Taklim (Penyebaran Ilmu) dan Ibadah Di Masjid Atau Di Rumah?

Rasulullah ﷺ bersabda:

العبادةُ فِي الْهَرَجِ كَهِجْرةٍ إِليَّ

“Ibadah di masa fitnah/ ujian: (pahalanya) seperti hijrah kepadaku.” HR. Muslim (no. 7588).

Hadis ini sebagai arahan dari Nabi ﷺ yang mulia, bahwa justru dalam masa fitnah ini kita diharuskan banyak beribadah, dan itulah yang menolong kaum Muslimin. Bukan berkata dan berbuat gegabah yang jelas dilarang oleh Rasulullah ﷺ. Bahkan Allah ta’aalaa berfirman:

…وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“…Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 120)

Dalam ayat ini pun Allah menerangkan dan menegaskan kepada kita, bahwa Dia mengetahui makar orang kafir dan akan menolong orang beriman, dengan syarat SABAR dan TAKWA (melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya).

  1. Anda dan Orang Semisal Anda Yang Tidak Berdemo, Tidak Juga Menasihati Pemerintah dan Mendatanginya. Cuma Omong Doang!

Kita katakan, bahwa kita serahkan pada Ustadz Kibar tentang permasalahan ini, yang bisa langsung menasihati pemerintah. Dan siapa bilang kita diam saja?! Apakah apabila kami dan Ustadz kami menasihati pemerintah, kemudian harus bilang ke wartawan untuk direkam, difoto, disebarkan, bawa bendera partai, bawa spanduk buat promosi, dan lain-lain. Manhaj macam apa ini?!

Kita hanya meneladani para Shahabat dan para Salaf. Oleh karena itulah kita disebut SALAFI!

عَنْ شَقِيقٍ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، قَالَ: قِيْلَ لَهُ: أَلاَ تَدْخُلُ عَلَى عُثْمَانَ؛ فَتُكَلِّمَهُ؟ فَقَالَ: أَتُرَوْنَ أَنِّى لاَ أُكَلِّمُهُ إِلاَّ أُسْمِعُكُمْ؟! وَاللَّهِ! لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيْمَا بَيْنِيْ وَبَيْنَهُ؛ مَا دُوْنَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُوْنَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ، وَلاَ أَقُوْلُ لأَحَدٍ يَكُوْنُ عَلَىَّ أَمِيْرًا إِنَّهُ خَيْرُ النَّاسِ

Dari Syaqiq, dari Usamah bin Zaid, ada yang berkata kepadanya: Kenapa Anda tidak masuk menemui ‘Utsman dan engkau menasihatinya?” Maka dia berkata: “Apakah kalian menganggap, bahwa jika aku berbicara padanya (‘Utsman), lantas aku harus memerdengarkannya kepada kalian?! Demi Allah! Aku telah berbicara empat mata dengannya, tanpa perlu saya membuka satu perkara, yang saya tidak suka menjadi orang pertama yang membukanya (yaitu menasihati pemimpin terang-terangan). Dan tidakklah aku mengatakan kepada seorang: “Saya memiliki pempin yang dia adalah manusia terbaik.” HR. Muslim (no. 7674).

  1. Bukankah Ahok kafir, sehingga kita boleh untuk mendemo dia? Bukankah yang tidak diperbolehkan adalah mendemo pemerintahan Muslim?

Kita katakan: Anda dan orang semisal Anda, pada hakikatnya berdemo kepada pemerintah yang di atas Ahok -yaitu: Presiden- agar Ahok diadili. Bukankah ini demo terhadap pemerintahan Muslim??!!

Kalaupun pemerintah Anda adalah kafir -di Cina, Rusia, Amerika, dan lainnya, tidak lantas menjadi halal mendemo mereka, karena mudharat yang ditimbulkan akan besar, dan hukum asal demo adalah perbuatan haram.

Lihat kepada Suriah sekarang ini! Pemerintah Basyar Assad dari dulu memang sudah kafir, akan tetapi Ulama Rabbani -seperti Syaikh Al-Albani, Syaikh Bin Baz, dan Syaikh ‘Utsaimin- tidak memerintahkan masyarakat Suriah untuk berdemo dan menggulingkan pemerintahan. Karena mereka mengerti keadaan umat yang lemah apabila memberontak. Namun terjadilah apa yang kita lihat sekarang.

Kalaupun mau menggulingkan pemerintahan kafir, maka lakukanlah dengan cara yang benar, dan ukurlah kekuatan, serta mintalah fatwa dari Ulama Rabbani. Karena ini menyangkut darah kaum Muslimin yang akan tercecer. Jangan sampai sia-sia dan banyak memakan korban!

Lihatlah Nabi Musa dan Nabi Harun -‘alaihimas salaam- yang berdakwah langsung bertemu dengan penista agama terbesar: Firaun. Tidaklah mereka berdua berdemonstrasi, padahal Bani Isra-il amat banyak. Akan tetapi, inilah perintah langsung dari Allah ta’aalaa:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى * فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Firaun, karena dia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 43-44)

  1. Ini Bukan Demonstrasi, Tapi Aksi Damai!

Kita katakan: Terserah kalian mau menamakan aksi kalian dengan nama apa saja, karena Islam menghukumi sesuatu bukan dari namanya, akan tetapi melihat kepada hakikatnya. Apakah kalian namakan aksi damai, protes atau lainnya -atau bahkan: Jihad???!!!  HAKIKATNYA ADALAH DEMONSTRASI!!!

Di antara tipu daya iblis dan bala tentaranya -untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan- adalah: dengan teknik branding strategi, memberi nama baru untuk mengaburkan hakikat. Riba sekarang dinamakan bunga oleh bank konvensional dan dinamakan sedekah dan tabrru’ oleh kor Syari’ah dan pegadaian Syari’ah. Dan hal itu tidaklah mengubah hakikat. Khamr dirubah namanya dengan banyak nama: anggur, arak, bir, wiski, dan lainnya, untuk mengaburkan hakikat. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ؛ يُسَمُّوْنَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا

“Sungguh, akan ada manusia dari umatku yang meminum khamr, dengan memberikan nama kepadanya bukan dengan namanya (khamr)” [HR. Abu Dawud (no. 3690)]

  1. Kami Tidak Berbuat Rusak dan Anarkis, Sehingga Tidak Termasuk Orang yang Berbuat Kerusakan

Pertama: Siapa yang menjamin bahwa tidak akan terjadi kerusakan dan anarkisme dari luapan banyak orang seperti itu?! Bisa jadi ada penyusup yang merusak dari dalam, sebagaimana dalam perang Jamal.

Kedua: Kerusakan apalagi yang lebih besar dari bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya? Allah ta’ala berfirman:

وَلاَ تُفْسِدُوْا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيْبٌ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memerbaikinya. Berdoalah kepada Allah dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raaf: 56)

Abu Bakar bin ‘Ayasy berkata tentang ayat ini: “Allah mengutus Muhammad ﷺ ke permukaan bumi, sedangkan mereka (manusia) berada dalam keburukan. Maka Allah memperbaiki mereka dengan Muhammad ﷺ. Sehingga, barang siapa yang mengajak manusia kepada hal-hal menyelisihi apa yang datang dari Nabi, maka dia termasuk orang yang berbuat kerusakan di muka bumi.” [Lihat Ad-Durr Al-Mantsuur (III/476)]

Silakan Anda lihat tafsiran ulama lainnya yang bertebaran yang menunjukkan, bahwa berbuat kerusakan yang dimaksud di sini adalah: bermaksiat.

  1. Ini Negeri Demokrasi, Demonstrasi Dibolehkan Oleh Pemerintah dan Difasilitasi, Sehingga Dibolehkan

Ini hujjah yang lemah sekali. Tidaklah apa yang dibolehkan oleh pemerintah lantas semua menjadi halal. Bahkan yang diperintahkan oleh pemerintah pun harus dilihat: Apakah itu suatu hal yang ma’ruf atau justru kemungkaran.

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf” [HR. Al-Bukhari (no. 7257)]

Ada Perda tentang bolehnya tempat hiburan dan diskotek, lantas apa kemudian menjadi halal?! Ada juga Perda tentang bolehnya khamr -dengan ketentuan khusus-, lantas apa kemudian menjadi boleh??!! Silakan jawab sendiri…

  1. Mereka Yang Melarang Demo: Membawakan Fatwa, Kita Juga Menggunakan Fatwa Yang Membolehkan. Ulama Yang Melarang Tidak Mengerti Keadaan Indonesia

Subhaanallah! Ulama mana dulu yang berfatwa membolehkan demonstrasi, apakah ad-Damiji yang punya kitab Al-Imaamah Al-‘Uzhmaa yang dilarang terbit di Saudi, atau fatwanya Salman Al-‘Audah dan teman-temannya?? PERMASALAHANNYA ADALAH BUKAN BANYAKNYA FATWA, AKAN TETAPI KUALITASNYA (KESELARASANNYA DENGAN DALIL-DALIL DAN KAIDAH-KAIDAH SYARIAT)!!!

Kalaupun ulama berfatwa, maka tidak ditelan mentah-mentah sebagai landasan hukum, akan tetapi dilihat dalil pendukungnya.

Kalau kalian menuduh ulama yang berfatwa tentang Indonesia dari negeri lain tidak tahu keadaan sini, bagaimana dengan Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi dan Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily yang belasan tahun mondar-mandir di negeri kita ini, untuk membahas masalah Dakwah di Indonesia. Apakah Anda juga menuduhnya tidak paham Waqi’ (realita)???!!!

Cukuplah dalil yang sudah kami paparkan (pada bagian pertama tulisan ini) sebagai asas dilarangnya Demonstrasi. Fatwa siapa pun, apabila berbenturan dengan dalil, maka buanglah dia ke belakangmu.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah, (beliau adalah ulama yang paling mengumpulkan As-Sunnah dan paling berpegang kepadanya), beliau berkata:

لاَ تُقَلِدْنِيْ، وَلاَ تُقَلِّدْ مَالِكًا، وَلاَ الشَّافِعِيَّ، وَلاَ الأَوْزَاعِيَّ، وَلاَ الثَّوْرِيَّ! وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوْا!!

“Janganlah engkau taqlid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, ataupun Ats-Tsauri! Ambillah (hukum) dari sumber yang mereka mengambil darinya (yakni: dalil-dalil)!!”

[Lihat: Shifatush Shalaatin Nabiyy (hlm. 47), karya Imam Al-Albani rahimahullaah]

  1. Pemerintah yang Tidak Boleh Didemo adalah Pemerintah yang Berjalan Di Atas Alquran Dan As-Sunnah. Adapun Kalau Pemerintah Tidak Berasaskan Keduanya, Maka Boleh Didemo

Jawablah dengan hadis Hudzaifah di bawah ini:

يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْ جُثْمَانِ إِنْسٍ. قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذٰلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ؛ فَاسْمَعْ، وَأَطِعْ

[Rasulullah ﷺ bersabda:] “Akan ada setelahku para imam (pemimpin) yang tidak mengambil petunjuk dariku, dan tidak mengambil Sunnahku. Dan akan ada sekelompok lelaki di antara mereka yang hati mereka adalah hati setan dalam tubuh manusia.” Aku berkata: Apa yang aku lakukan wahai Rasulullah, apabila aku menemui yang demikian? Beliau ﷺ bersabda: “Engkau dengar dan engkau taat kepada pemimpin, walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka dengar dan taatlah!” HR. Muslim (no. 4891)

JELAS DARI HADIS INI, BAHWA NABI ﷺ  TETAP MENYURUH TAAT, WALAUPUN PEMIMPIN TIDAK MENGAMBIL SUNNAH BELIAU ﷺ. BAHKAN JIKA PEMIMPINNYA BERHATI SETAN, TETAP HARUS TAAT.

  1. Ini Adalah Masalah Ijtihad, Masing-Masing Punya Hujjah dan Jangan Saling Mengingkari, Apalagi Ini Masalah Furu’ Bukan Ushul

Adapun kaidah:

الاِجْتِهَادُ لاَ يُنْقَضُ بِالاِجْتِهَادِ

Ijtihad Tidak Bisa Dibatalkan dengan Ijtihad

لاَ إِنْكَارَ فِيْ مَسَائِلِ الْخِلاَفِ

Tidak Ada Pengingkaran dalam Masalah Khilaf

Maka kaidah ini perlu ada tafshiil (perincian):

a. Apabila ijtihad tersebut jelas-jelas bertabrakan dengan dalil yang Shahih, maka tidak boleh kita mengambil ijtihad dan meninggalkan Nash/dalil.

Contoh: Dalam masalah nikah dengan tanpa wali, maka jelas bertentangan dengan dalil, sehingga kita wajib untuk menolak dan membantahnya.

Ijtihad yang menghalalkan musik, isbal dan lain-lain, maka wajib kita membantah ijtihad tersebut.

b. Apabila ijtihad tersebut menggunakan dalil yang lemah, maka kita juga boleh menjelaskan kelemahannya -bahkan membantahnya-.

c. Apabila perbedaan pendapat memiliki dalil yang sama kuat, maka di sini berlaku: Tidak mengingkari perbedaan. Itu pun tetap harus berpegang dengan dalil (tidak hanya mencari-cari rukhshah atau pendapat yang sesuai keinginan (hawa nafsu).

Semoga Allah merahmati Imam Adz-Dzahabi yang mengatakan:

الْعِلْمُ: قَالَ اللهُ، قَالَ رَسُوْلُهُ

“Ilmu itu adalah: Firman Allah dan sabda Rasul-Nya”.

قَالَ الصَّحَابَةُ لَيْسَ بِالتَّمْوِيْهِ

Serta perkataan Shahabat, bukan hanya sekedar kamuflase

مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلاَفِ سَفَاهَةً

“Bukanlah ilmu itu dengan engkau memertentangkan perselisihan karena kebodohan”.

بَيْنَ الرَّسُوْلِ وَبَيْنَ رَأْيِ فَقِيْهٍ!!!

(Memertentangkan) antara Rasul dengan pendapat Ahli Fikih!!!

Adapun kalau Anda mengatakan ini adalah masalah Furu’ (Cabang) dan bukan Ushul (Prinsip), maka yang benar dalam Islam adalah, tidak membedakan masalah Ushul dan Furu’ dalam penting atau tidaknya, yakni: bahwa semuanya adalah penting. Betapa banyak hal yang dianggap kecil akan berubah menjadi bencana dan fitnah yang hebat ketika diremehkan. Lihat saja kisah dzikir jamaah dengan kerikil yang diingkari oleh Abdullah bin Mas’ud, yang mereka mengatakan, bahwa tujuan mereka adalah baik. Akhirnya perbuatan bid’ah yang kecil tersebut berubah menjadi bencana besar, dan orang-orang tersebut semuanya ada di barisan pemberontak melawan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib -radhiyallaahu ‘anhu-. Lihat pembahasan ini dalam Kitab: ‘Ilmu Ushulil Bida’, Baab: Baina Qisyr Wal Lubaab (Antara Kulit dan Inti) (hlm. 247), karya Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi -hafizhahullaah-.

  1. Ulama Terdahulu -Seperti: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah- Telah Berdemo Ketika Ada Pencaci Rasul, Sehingga Beliau Menulis Kitab Ash-Shaarim Al-Masluul, Dan Asy-Syirazi (Juga Berdemo), dan Lain-Lain

Pertama: Ibnu Taimiyah rahimahullaah TIDAK BERDEMO. Justru beliau mengadukan pencaci rasul kepada pemerintah, dan kebetulan diikuti oleh masyarakat, sehingga terjadilah kerusuhan.

Kedua: Pendapat Ulama Bukan Dalil

Para ulama berkata:

أَقْوَالُ أَهْلِ الْعِلْمِ يُحْتَجُّ لَهَا وَلاَ يُحْتَجُّ بِهَا

“Pendapat para ulama itu butuh dalil dan ia bukanlah dalil.”

Imam Abu Hanifah rahimahullaah berkata:

لاَ يَحِلُّ لأَحَدٍ أَنْ يَأْخُذَ بِقَوْلِنَا؛ مَا لَمْ يَعْلَمْ مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ

“Tidak halal bagi siapapun untuk mengambil pendapat kami, selama dia tidak mengetahui darimana kami mengambil (dalil)nya”

Imam Asy-Syafi’’ rahimahullaah berkata:

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ مَنْ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-؛ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Para ulama telah Ijma’ (sepakat), bahwa barang siapa yang jelas sunah Rasulullah ﷺ baginya, maka tidak boleh baginya untuk meninggalkan Sunnah tersebut, dikarenakan mengikuti perkataan seseorang.”

Dan juga telah kita sebutkan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah:

لاَ تُقَلِدْنِيْ، وَلاَ تُقَلِّدْ مَالِكًا، وَلاَ الشَّافِعِيَّ، وَلاَ الأَوْزَاعِيَّ، وَلاَ الثَّوْرِيَّ! وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوْا!!

“Janganlah engkau taqlid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, ataupun Ats-Tsauri! Ambillah (hukum) dari sumber yang mereka mengambil darinya (yakni: dalil-dalil)!!”

[Lihat: Muqaddimah Shifatush Shalaatin Nabiyy, karya Imam Al-Albani rahimahullaah]

Para ulama bukan manusia makshum yang selalu benar dan tidak pernah terjatuh ke dalam kesalahan. Terkadang masing-masing dari mereka berpendapat dengan pendapat yang salah, karena bertentangan dengan dalil. Mereka terkadang tergelincir dalam kesalahan. Imam Malik rahimahullaah berkata:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيْبُ، فَانْظُرُوْا فِيْ رَأْيِيْ؛ فَكُلُ مَا وَافَقَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ؛ فَخُذُوْهُ، وَكُلُّ مَا لَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ؛ فَاتْرُكُوْهُ

“Saya ini hanya seorang manusia, kadang salah dan kadang benar. Cermatilah pendapatku. Setiap yang sesuai dengan Alquran dan As-Sunnah, maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Alquran dan As-Sunnah, maka tinggalkanlah.”

[Lihat: Muqaddimah Shifatush Shalaatin Nabiyy, karya Imam Al-Albani rahimahullaah]

Orang yang hatinya berpenyakit, maka dia akan mencari-cari pendapat yang salah dan aneh dari para ulama, demi untuk mengikuti nafsunya dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Sulaiman At-Taimi rahimahullaah berkata:

لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ أَوْ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ؛ اجْتَمَعَ فِيْكَ الشَّرُّ كُلُّهُ

“Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan.” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 3172]

  1. Demonstrasi adalah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Pemimpin Wajib Dinasihati. Dan Hal Itu Merupakan Seutama-Utama Jihad

Inilah perkataan mereka. Dan di antara yang mereka bawakan adalah Hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallaahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟْﺠِﻬَﺎﺩِ ﻛَﻠِﻤَﺔُ ﻋَﺪْﻝٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺳُﻠْﻄَﺎﻥٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ ﺃَﻭْ ﺃَﻣِﻴْﺮٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ

“Jihad yang paling utama adalah mengatakan perkataan yang ‘adil di sisi penguasa atau pemimpin yang zalim.”

Abu Dawud (no. 4344), At-Tirmidzi (no. 2174), dan Ibnu Majah (no. 4011).

Dan dalam riwayat Ahmad (V/251 & 256):

كَلِمَةُ حَقٍّ

“Perkataan yang haq (benar).”

Hadis ini Shahih. Lihat Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah (no. 491), karya Imam Al-Albani rahimahullaah

Bahkan jika seseorang mati karena dibunuh oleh penguasa yang zalim disebabkan amar ma’ruf nahi munkar, maka dia termasuk pemimpin para Syuhada.

Dari Jabir -radhiallahu ‘anhu-, Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺳَﻴِّﺪُ ﺍﻟﺸُّﻬَﺪَﺍﺀِ: ﺣَﻤْﺰَﺓُ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻤُﻄَﻠِّﺐِ، ﻭَﺭَﺟُﻞٌ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻟَﻰ ﺇِﻣَﺎﻡٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ؛ ﻓَﺄَﻣَﺮَﻩُ ﻭَﻧَﻬَﺎﻩُ، ﻓَﻘَﺘَﻠَﻪُ

“Penghulu para Syuhada adalah: Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, dan orang yang berkata melawan penguasa kejam, di mana dia melarang dan memerintah (penguasa tersebut), namun akhirnya dia mati terbunuh.”

Al-Hakim (no. 4872), beliau menyatakan Shahih, akan tetapi Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Adz-Dzahabi menyepakatinya. Syaikh Al-Albani mengatakan: Hasan. Lihat Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah (no. 374).

Jawabannya: Hadisnya Benar Akan Tetapi Pemahamannya Yang Salah

Pertama: Kata-kata dalam Hadis (عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ)  menunjukkan, bahwa menasihatinya di dekat penguasa dengan mendatangi dan tidak menunjukkan terang-terangan, sebagaimana diisyaratkan oleh kata عِنْدَ yang artinya di sisi.

Demikian dalam riwayat kedua kata ﺭَﺟُﻞٌ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻟَﻰ ﺇِﻣَﺎﻡٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ dan lelaki yang berkata dan datang kepada imam yang zalim. Ada kata (إلى),  berarti kata  di Tadhmin, memiliki makna: mendatangi, bukan turun ke jalan dan demonstrasi.

Kalau memang Anda mampu, maka silakan datang langsung ke dalam istana dan amar ma’ruf dan nahi munkar kepada pemerintah, walaupun sampai terbunuh. Itu baru sesuai dengan hadis. Bukan demo di jalanan yang tidak sesuai dengan hadis di atas.

Kedua: Hadis Nabi ﷺ adalah saling menjelaskan satu sama lainnya, sehingga terbentuklah pemahamannya yang benar. Maka hadis di atas dijelaskan dengan cara: “Menasihati pemimpin dengan cara yang baik dan benar, dengan tidak dengan terang-terangan. Dan ber-amar ma’ruf serta nahi munkar kepadanya adalah dengan mendatanginya secara langsung, sebagaimana pemahaman dan pengamalan para Shahabat-.

  1. Demonstrasi Pernah Dilakukan Shahabat

Pertama: Kisah Islamnya ‘Umar Yang Thawaf Berbaris Bersama Hamzah

Kita Jawab:  Kisahnya lemah sekali. Syaikh Al-Albani mengatakan: Munkar, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. [Lihat: Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dha’iifah (no. 6531)]

Kalaupun Shahih, maka bukanlah menjadi dalil untuk demonstrasi, karena ini adalah pengumuman Islamnya Hamzah dan ‘Umar. Maka di mana letak demonstrasinya? Dan dalam rangka menentang apa?

Kedua: Kisah Wanita yang Mendatangi Nabi Untuk Mengadukan Perilaku Suaminya Yang Kasar Terhadap Suami.

Kita Jawab: Ini Bukan Demo

Bahkan inilah yang di syariatkan: Mengadukan permasalahan langsung dengan menghadap pemerintah, bukan berdemo di jalan. Karena Shahabiyat langsung datang ke rumah Nabi ﷺ dan bukan keliling kota Madinah berjalan-jalan meneriakkan yel-yel, bahwa suami mereka berbuat kasar.

Bantahan kedua: Ini terjadi bukan karena kesepakatan, bahkan hanya kebetulan banyak para wanita yang mengadukan kepada Nabi ﷺ perihal suami mereka. Lantas bagaimana dengan demonstrasi yang menggerakkan masa?? Alangkah jauhnya perbedaan antara keduanya!

Masih banyak syubhat (kerancuan) dalam masalah Demonstrasi yang lebih lemah dari Syubhat di atas. Insyaa Allaah, jika masih ada kesempatan akan ada bantahan jilid selanjutnya terhadap syubhat mereka.

Semoga bermanfaat.

Ustadz Dika Wahyudi Lc

Sumber: https://aslibumiayu.net/17256-alasan-alasan-pendukung-demonstrasi-alasan-yang-rapuh-dan-bukan-di-atas-ilmu.html

 

? Artikel Terkait Demonstrasi:

? https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/692488774233941:0

? https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/692461127570039

? https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/691193887696763:0

? https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/686719724810846:0

? http://sofyanruray.info/demonstrasi-dan-mencela-pemerintah-di-media-massa-bukan-ajaran-Islam/