Posts

, ,

SUNGGUH BAHAGIA, SUNGGUH CELAKA…

SUNGGUH BAHAGIA, SUNGGUH CELAKA...
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SUNGGUH BAHAGIA, SUNGGUH CELAKA…
 
Nabi ﷺ bersabda:
“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya, namun belum masuk iman itu ke dalam hatinya! Janganlah kalian mengghibah kaum Muslimin. Jangan pula kalian mencari-cari aib/kesalahan mereka. Karena, sesungguhnya orang yang mencari-cari aib mereka, niscaya Allah akan cari-cari aib yang ada pada dirinya. Dan barang siapa yang Allah cari-cari aibnya, maka Allah akan ungkap aibnya tersebut, meskipun dia ada di dalam rumahnya” [HR. Abu Daawud No. 4880]
 
Hal ini adalah yang harus dilakukan oleh seorang muhtasib dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu menutupi aib orang yang berbuat maksiat, selama ia tidak melakukannya terang-terangan, dan tidak terdapat alasan yang syari untuk membukanya.
 
Sehingga tidak dibenarkan seorang muhtasib berdakwah kepada orang tertentu tanpa memperhatikan etika dalam berdakwah. Misalnya menasihati seseorang yang melakukan kesalahan secara sembunyi-sembunyi, dengan terang-terangan di depan umum. Karena hal ini akan menimbulkan kebencian pada diri orang yang didakwahi tersebut, sehingga ia menolak ajakannya, walaupun ia tahu, bahwa itu adalah ajakan yang benar.
 
Oleh karena itu Imam Syafii berkata:
“Barang siapa menasihati saudaranya dengan sembunyi-sembunyi, maka ia telah menasihati dan menghiasinya. Dan barang siapa menasihati saudaranya secara terang-terangan, maka ia telah mempermalukan dan menghinakannya.”
 
Alangkah baiknya jika seorang muhtasib benar-benar memahami masalah ini, sehingga ia tidak menasihati seseorang kecuali di tempat yang jauh dari pendengaran dan penglihatan orang lain. Jika hal ini dilaksanakan dengan baik dan ikhlas, insya Allah hati orang yang diajak akan mudah terbuka.
 
 
Kitab ‘Haqiqah Amar ma’ruf Nahi Mungkar’ DR. Muhammad Al-Ammar
 
 
Penyusun: Arinal Haq
 

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
www.nasihatsahabat.com

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#aib #ghibah #busybody #menasehati #menasihat #secaraterangterangan #diamdiam #muhtasib #adabakhlak, #adabberdakwah #menutupiaib, #orangyangberbuatmaksiat #mencaricariaib #sembunyisembunyi #menasihati #berimandenganlisannya

,

MENGAPA GHIBAH DISAMAKAN DENGAN MEMAKAN BANGKAI MANUSIA?

MENGAPA GHIBAH DISAMAKAN DENGAN MEMAKAN BANGKAI MANUSIA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MENGAPA GHIBAH DISAMAKAN DENGAN MEMAKAN BANGKAI MANUSIA?
 
Allah ﷻ berfirman:
 
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
 
“Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat: 12).
 
Dalam ayat di atas Allah taala menyamakan orang yang mengghibah saudaranya seperti memakan bangkai saudaranya tersebut. Apa rahasia dari penyamaan ini?
 
Imam Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan:
“Ini adalah permisalan yang amat mengagumkan, di antara rahasianya adalah:
 
Pertama: Karena ghibah mengoyak kehormatan orang lain. Layaknya seorang yang memakan daging, daging tersebut akan terkoyak dari kulitnya. Mengoyak kehormatan atau harga diri, tentu lebih buruk keadaannya.
 
Kedua: Allah taala menjadikan “Bangkai daging saudaranya” sebagai permisalan, bukan daging hewan. Hal ini untuk menerangkan, bahwa ghibah itu amatlah dibenci.
 
Ketiga: Allah taala menyebut orang yang dighibahi tersebut sebagai mayit. Karena orang yang sudah mati, dia tidak kuasa untuk membela diri. Seperti itu juga orang yang sedang dighibahi, dia tidak berdaya untuk membela kehormatan dirinya.
 
Keempat: Allah menyebutkan ghibah dengan permisalan yang amat buruk, agar hamba-hamba-Nya menjauhi dan merasa jijik dengan perbuatan tercela tersebut.” [Lihat: Tafsir Al-Qurtubi 16/335), lihat juga: I’laamul Muwaqqi’iin 1/170]
 
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan:
“Ayat di atas menerangkan sebuah ancaman yang keras dari perbuatan ghibah. Dan bahwasanya ghibah termasuk dosa besar, karena Allah menyamakannya dengan memakan daging mayit. Dan hal tersebut termasuk dosa besar. ” [Tafsir As-Sa’di, hal. 745]
 
Wallahu a’lam.
 
 
*Faidah ini didapat dari buku: Al-Fawaidul Majmu’ah Fi Syarhi Fushul Al-Adab Wa Makaarimil Akhlaq Al-Masyruu’ah. Karya Syaikh Abdullah bin Sholih Al-Fauzan
 
 
Penulis: Ahmad Anshori

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

#ghibah #namimah #gosip #ceritakanaiboranglain #menggunjing #hukum #alasan #ghibahsamadengan #memakandagingbangkaisaudaranyasendiri #bangkaimanusia #bangkaisaudarasendiri #memakanbangkai #masihsukamakanbangkai #gosip #disamakandenganmemakanbangkai

, , ,

JIKA BENAR MENJADI GHIBAH, JIKA SALAH MENJADI FITNAH

JIKA BENAR MENJADI GHIBAH, JIKA SALAH MENJADI FITNAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
JIKA BENAR MENJADI GHIBAH, JIKA SALAH MENJADI FITNAH
>> Mari kita biasakan menjaga adab yuk
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
. ( أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ). قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ ( ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ). قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ ( إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ )
“Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata: “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ﷺ ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi ﷺ: “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” [HR. Muslim no. 2589]
 
 
Sumber: [ShahihFiqih.Com]

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#ghibah #namimah #adudomba #masalah #fitnah #saksipalsu #kesaksianpalsu #fitnah #penyakithati #tuduhan #korupsi #lisan #bahayalisan #surga #neraka #akhlakburuk #jika benar menjadi ghibah #jikasalahmenjadifitnah

,

JIKA ENGKAU DIGHIBAHI, MAKA NANTI …

JIKA ENGKAU DIGHIBAHI, MAKA NANTI ...
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
JIKA ENGKAU DIGHIBAHI, MAKA NANTI …
 
Al-Auza’i rahimahullah berkata:
 
بلغني أنه يقال للعبد يوم القيامة: “قم فخذ حقك من فلان
Telah sampai kepadaku kabar, bahwasanya akan dikatakan kepada seorang hamba pada Hari kiamat: “Bangkitlah kamu, ambilah hakmu dari si Fulan.”
 
 
فيقول: “ما لي قبله حق”
Maka orang ini berkata: “Saya tidak memiliki hak dari sisinya.” 
 
فيقال: “بلى ذكرك يوم كذا وكذا بكذا وكذا”
Maka dikatakan: “Bahkan engkau memiliki hak darinya. (Karena) Dia menyebut-nyebut (kejelekanmu) pada hari ini dan ini dengan (ghibah) ini dan ini.” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Syu’abul Iman 6313]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#ghibah #menceritakanaiboranglain #akhlakburuk #gosip #akibatmengghibahioranglain #dighibah
,

DIRI SENDIRI PUN TAK TAHU, BAGAIMANA BISA MENGETAHUI ORANG LAIN?

DIRI SENDIRI PUN TAK TAHU, BAGAIMANA BISA MENGETAHUI ORANG LAIN?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

DIRI SENDIRI PUN TAK TAHU, BAGAIMANA BISA MENGETAHUI ORANG LAIN?

Imam Adz Dzahabi rahimahullah:

“Orang jahil benar-benar tidak tahu kedudukan dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia tahu kedudukan orang lain?” [Siyar A’lamin Nubala 11: 321]

 

Sumber: shahihfiqih.com/mutiara-salaf/diri-sendiripun-tak-tahu-bagaimana-bisa-mengetahui-orang-lain/

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#jahil #bodoh #muamalah #fitnah #tuduhan #ghibah #masyarakat #manhajsalaf #nasehatulama #adab #akhlak #tauhid #akidah #bodoh #iman #syirik #bidah #manhajsalaf #lisan #komentar #media #adab

BETAPA BESARNYA BAHAYA DOSA GHIBAH

BETAPA BESARNYA BAHAYA DOSA GHIBAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BETAPA BESARNYA BAHAYA DOSA GHIBAH
>> Bagi-bagi pahala tanpa sadar
 
Sudah sepatutnya kita semua mengetahui betapa besar bahaya dosa ghibah. Di samping menginjak-injak harga diri saudara kita sesama Muslim tanpa hak, juga akan menjadi beban berat di Hari Kiamat kelak (bila orang yang dighibahi tidak memaafkan). Di saat sedikit pahala amat dibutuhkan untuk menambah beratnya timbangan amal kebaikan, tiba-tiba datang orang yang pernah kita ghibahi, kemudian dia menuntut untuk mengambil pahala kebaikan kita, sebagai tebusan atas kezaliman yang pernah kita lakukan kepadanya. Bila amalan kebaikan tidak mencukupi sebagai tebusan, maka amalan buruknya akan dibebankan kepada kita. Na’udzu billah min dzaalik. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
 
“Siapa yang pernah menzalimi saudaranya berupa menodai kehormatan (seperti ghibah. pent) atau mengambil sesuatu yang menjadi miliknya, hendaknya ia meminta kehalalannya dari kezaliman tersebut hari ini, sebelum tiba Hari Kiamat yang tidak akan bermanfaat lagi Dinar dan Dirham. Pada saat itu bila ia mempunyai amal shalih maka akan diambil seukiran kezaliman yang ia perbuat. Bila tidak memiliki amal kebaikan, maka keburukan saudaranya akan diambil, kemudian dibebankan kepadanya.” [HR. Bukhari no. 2449, hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
 
Kita bisa bayangkan, betapa ruginya kita. Kita yang susah payah beramal, namun orang lain yang memetik buahnya. Orang lain yang berbuat dosa, sedang kita yang merasakan pahitnya. Dan Allah tidak pernah berbuat zalim sedikit pun terhadap hamba-Nya. Namun ini adalah disebabkan kesalahan manusia itu sendiri. Ini dalil betapa tingginya harkat martabat seorang Muslim, dan betapa besarnya bahaya dosa ghibah.
 
Seorang syeikh ditanya: “Ada seseorang yang rajin shalat malam dan melakukan banyak amal ketaatan, tapi sayangnya ia banyak ghibah (menggunjing) orang ?”
 Syeikh menjawab: “Mungkin Allah memang menjadikannya beramal untuk diberikan pahalanya kepada orang lain !”
 
Sungguh kerugian yang nyata.
Semoga Allah menyelamatkan kita dari ghibah, meski banyak yang melakukannya dengan polesan agama. Aamiin.
 
 
Sumber:
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bagibagipahalatanpasadar, #ghibah, #gibah, #gunjingan, #menggunjing, #hukum, #gosip, #menjelekjelekkansaudarasendiri #berikanpahalakepadaoranglain
,

MENGGUNJING AIB ORANG LAIN

MENGGUNJING AIB ORANG LAIN
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
MENGGUNJING AIB ORANG LAIN
>> Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak
 
Mengapa diri ini selalu menyibukkan diri dengan membicarakan aib orang lain, sedangkan aib besar yang ada di depan mata tidak diperhatikan. Akhirnya diri ini pun sibuk menggunjing, membicarakan aib saudaranya, padahal ia tidak suka dibicarakan. Jika dibanding-bandingkan diri kita dan orang yang digunjing, boleh jadi dia lebih mulia di sisi Allah. Demikianlah hati ini seringkali tersibukkan dengan hal yang sia-sia. Semut di seberang lautan seakan nampak, namun gajah di pelupuk mata seakan-akan tak nampak. Artinya aib yang ada di diri kita sendiri jarang kita perhatikan.
 
Sebelum membicarakan jelek saudaramu, coba pikirkan hadis ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
 
يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذْلَ- أَوْ الجَذْعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ
 
“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” [HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no. 592, riwayat yang Shahih]
 
Maksud perkataan sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas adalah sama seperti pepatah dalam bahasa kita “Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak.”
 
Artinya, aib orang lain sebenarnya kita tidak tahu seluruhnya. Selalu kita katakan mereka jelek, mereka sombong, mereka sok alim, dan cap jelek lainnya. Sedangkan aib kita, kita yang lebih tahu. Kalau aib orang lain kita hanya tahunya “kecil”, makanya Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ungkapkan dengan istilah “kotoran kecil di mata”. Namun aib kita, kita yang lebih tahu akan “besarnya”, maka dipakai dalam hadis dengan kata “kayu besar”. Sebenarnya kita yang lebih tahu akan kekurangan kita yang begitu banyak.
 
Wejangan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas amatlah bagus. Yang seharusnya kita pikirkan adalah aib kita sendiri yang begitu banyak. Tidak perlu kita bercapek-capek memikirkan aib orang lain, atau bahkan menceritakan aib saudara kita di hadapan orang lain. Aib kita, kitalah yang lebih tahu. Adapun aib orang lain, sungguh kita tidak mengetahui seluk beluk hati mereka.
 
‘Abdullah Al Muzani mengatakan:
“Jika iblis memberikan was-was kepadamu, bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah. Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan: “Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal saleh dariku, maka ia lebih baik dariku.” Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan: “Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa, serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya. Maka ia sebenarnya lebih baik dariku.” Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.” [Hilyatul Awliya’, Abu Nu’aim Al Ashbahani, Mawqi’ Al Waroq, 1/310]
 
Silakan di-share, semoga bisa membuat kita lebih semangat dalam berbuat kebaikan.
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#gunjing, #menggunjing, #aiboranglain, #ghibah, #gibah, #gajah, #pelupukmata, #semut, #seberanglautan, #tidaktampak, #tampak, #kayubesar
,

DOA MEMINTA PETUNJUK, KETAKWAAN, KETERJAGAAN DAN KEKAYAAN

DOA MEMINTA PETUNJUK, KETAKWAAN, KETERJAGAAN DAN KEKAYAAN
DOA MEMINTA PETUNJUK, KETAKWAAN, KETERJAGAAN DAN KEKAYAAN
 
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى» )
 
“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, dari Nabi ﷺ, beliau biasa berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
Allaahumma innii as-alukal hudaa wat tuqaa wal ‘afaafa wal ghinaa.
 
Artinya:
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, keterjagaan, dan kekayaan.”
[HR. Muslim no. 2721, At Tirmidzi no. 3489, Ibnu Majah no. 3105, Ibnu Hibban no. 900 dan yang lainnya]
Sumber: [Muslim.Or.Id]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#Doa, #meminta, #petunjuk, #ketakwaan, #keterjagaan, #kekayaan, #doazikir, #dzikir, #minta, #mohon, #memohon, #takwa, #taqwa, #ketakwaan, #ketaqwaan, #petunjuk, #hidayah, #kekayaan, #kaya
,

TERLALU BANYAK BERGAUL SERINGNYA MENYERET KEPADA GHIBAH

TERLALU BANYAK BERGAUL SERINGNYA MENYERET KEPADA GHIBAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TERLALU BANYAK BERGAUL SERINGNYA MENYERET KEPADA GHIBAH
Sufyan bin Sa’id ats-Tsaury rahimahullah berkata:
أَقِلّ مِنْ مَعْرِفَةِ النّاسِ تَقِلّ غِيْبَتُكَ.
“Kurangilah berkenalan dengan orang lain, niscaya akan berkurang perbuatan ghibahmu.” [Siyar A’lamin Nubala’, jilid 7 hlm. 276]
Sumber: @JakartaMengaji
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#terlalubanyakbergaul, #terlalubanyakgaul, #anakgaul, #ghibah, #gibah, #akhlakburuk #gosip
,

MASIH SUKA SIBUK WAKTU “BANDING-BANDINGKAN” DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

MASIH SUKA SIBUK WAKTU "BANDING-BANDINGKAN" DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

MASIH SUKA SIBUK WAKTU “BANDING-BANDINGKAN” DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

Kita lihat disekitar kita,

Berapa banyak kita jumpai orang-orang yang masih suka “ngurusin+banding-bandingin” orang lain. Setiap bertemu temannya, dia membicarakan temannya yang lain. Setiap bertemu saudaranya, dia membicarakan saudara yang lain. Dimulai dari cerita ini itu, berdalih dengan alasan ini itu, hingga sering tanpa sadar dia jatuh dan larut, bagai garam di dalam air, ke dalam hal-hal yang diharamkan Allah, seperti hasutan, ghibah dan namimah. Bahkan terlampau sering tazkiyah terucap bagi diri sendiri. Subhanallah..

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:

“Berbangga diri, sampai-sampai dikhayalkan, “Bahwa engkau lebih baik dari pada saudaramu”. Padahal bisa jadi engkau tidak mampu mengamalkan sebuah amalan, yang mana dia mampu melakukannya. Padahal bisa jadi dia lebih berhati-hati dari perkara-perkara haram dibandingkan engkau, dan dia lebih suci amalannya dibandingkan engkau.” (Hilyatu al-Auliya’ juz 6, 391)

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain. Boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya. Boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat 11)

Ingatlah wahai saudaraku,

Sesungguhnya Allah mengetahui semuanya. Dan tidak ada yang lepas dari perhitungan Allah, meskipun sebesar zarrah. Semua dicatat, meskipun dalam bisikan-bisikan. Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ * إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ * مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia, dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf 16-18)

Ibnu ‘Abbas menafsirkan ayat ini:

“Yang dicatat adalah setiap perkataan yang baik atau buruk. Sampai pula perkataan “aku makan, aku minum, aku pergi, aku datang, sampai aku melihat, semuanya dicatat. Ketika Kamis, perkataan dan amalan tersebut akan dihadapkan kepada Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13: 187).

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:

من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه

“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara, kecuali dalam hal yang bermanfaat”. Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291)

Oleh karenanya, benarlah sabda Rasulullah ﷺ saat menjelaskan salah satu tanda baiknya keislaman kita:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi 2317, Ibnu Majah 3976) Shahih oleh Syaikh Al Albani.

وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami, dan kejelekan amal perbuatan kami.” (HR. Nasa’i III/104, Ibnu Majah I/352/1110. Lihat Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah hal. 144-145)

Nasihat bagi saya pribadi khususnya dan semoga bermanfaat bagi saudara sekalian.

 

Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih