Posts

,

WAJAH CANTIK AKAN MENUA, TUBUH YANG INDAH AKAN RENTA

WAJAH CANTIK AKAN MENUA, TUBUH YANG INDAH AKAN RENTA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Nasihat_Hati

WAJAH CANTIK AKAN MENUA, TUBUH YANG INDAH AKAN RENTA

Tapi wanita shalihah tetap permata, karena sunnah dan akhlak mulia.
Berpakaian iman dan takwa, berhias malu dan sopan tutur kata.
Bahagia di negeri Akhirat cita-citanya, tidak terpedaya gemerlap dunia.

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/photos/a.380728948743260.1073741841.286395654843257/602802213202598/?type=3&theater

,

DALIL-DALIL YANG MENUNJUKKAN TERCELA DAN BURUKNYA SYIRIK DALAM NIAT

DALIL-DALIL YANG MENUNJUKKAN TERCELA DAN BURUKNYA SYIRIK DALAM NIAT

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

➰? DALIL-DALIL YANG MENUNJUKKAN TERCELA DAN BURUKNYA SYIRIK DALAM NIAT ?➰

 

? Allah Ta’ala berfirman:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di Akhirat (kelak) tidak akan memeroleh (balasan) kecuali Neraka, dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan” (QS Huud: 15-16).

? Ayat yang mulia ini dibatasi kemutlakannya dengan firman Allah Ta’ala dalam ayat lain [Lihat keterangan Syaikh Bin Baz pada catatan kaki kitab “Fathul Majiid” (hal. 452)]:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا}

“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu, apa (balasan dunia) yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami inginkan, kemudian Kami jadikan baginya Neraka Jahannam. Ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir” (QS al-Israa’: 18).

▶️Maka kesimpulan makna kedua ayat ini adalah: Orang yang menginginkan balasan duniawi dengan amal shaleh yang dilakukannya, maka Allah Ta’ala akan memberikan balasan duniawi yang diinginkannya, JIKA ALLAH TA’ALA MENGHENDAKi, dan terkadang dia TIDAK mendapatkan balasan duniawi yang diinginkannya, karena Allah Ta’ala TIDAK menghendakinya [Lihat kitab “Fathul Majiid” (hal. 452)].

Oleh sebab itu, semakin jelaslah keburukan dan kehinaan perbuatan ini di dunia dan Akhirat, karena keinginan orang yang melakukannya untuk mendapat balasan duniawi terkadang terpenuhi dan terkadang tidak terpenuhi, semua tergantung dari kehendak Allah Ta’ala. Inilah balasan bagi mereka di dunia, dan di Akhirat kelak mereka TIDAK mendapatkan balasan kebaikan sedikit pun. Bahkan mereka akan mendapatkan azab Neraka Jahannam dalam keadaan hina dan tercela.

➡️Benarlah Rasulullah ﷺ yang bersabda: “Barang siapa yang (menjadikan) dunia tujuannya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya. Padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barang siapa yang (menjadikan) Akhirat niatnya, maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“ [HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang Shahih, dinyatakan Shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan Syaikh al-Albani].

➡️Dalam hadis Shahih lainnya, Rasulullah ﷺ bersabda tentang buruknya perbuatan ini: “Binasalah (orang yang menjadi) budak (harta berupa) emas. Celakalah (orang yang menjadi) budak (harta berupa) perak. Binasalah budak (harta berupa) pakaian indah. Kalau dia mendapatkan harta tersebut, maka dia akan ridha (senang). Tapi kalau dia tidak mendapatkannya, maka dia akan murka. Celakalah dia tersungkur wajahnya (merugi serta gagal usahanya). Dan jika dia tertusuk duri (bencana akibat perbuatannya), maka dia tidak akan lepas darinya” [HSR al-Bukhari (no. 2730), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu].

Hadis yang agung ini menunjukkan besarnya keburukan dan kehinaan perbuatan ini. Karena orang yang melakukannya, berarti dia menjadikan dirinya sebagai budak harta. Karena harta menjadi puncak kecintaan dan keinginannya dalam setiap perbuatannya, sehingga kalau dia mendapatkannya, maka dia akan ridha (senang), tapi kalau tidak, maka dia akan murka.

➡️Kemudian Rasulullah ﷺ menggabarkan keadaannya yang buruk, bahwa orang tersebut jika ditimpa keburukan atau bencana akibat perbuatannya, maka dia TIDAK bisa terlepas dariny,a dan dia TIDAK akan beruntung selamanya [Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam “Igaatsatul lahfaan” (2/149)]. Maka, dengan perbuatan buruk ini, dia TIDAK mendapatkan keinginannya dan dia pun TIDAK bisa lepas dari keburukan yang menimpanya. Inilah keadaan orang yang menjadi budak harta [Lihat keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam “Majmuu’ul fataawa” (10/180)]. Na’uudzu billahi min dzaalik.

 

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim Al Buthony, MA. hafizhahullah

[Artikel Muslim.Or.id]

Sumber: https://Muslim.or.id/13945-jangan-nodai-ibadah-anda-dengan-niat-duniawi.html

 

APAKAH TERMASUK SYIRIK NIAT, JIKA NIAT BERAMAL KITA ADALAH DENGAN TUJUAN DUNIA DAN AKHIRAT?

APAKAH TERMASUK SYIRIK NIAT, JIKA NIAT BERAMAL KITA ADALAH DENGAN TUJUAN DUNIA DAN AKHIRAT?

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

? APAKAH TERMASUK SYIRIK NIAT, JIKA NIAT BERAMAL KITA ADALAH DENGAN TUJUAN DUNIA DAN AKHIRAT? ?

 

? Pertanyaan:

Kalau niat kita beramal dengan tujuan untuk kenikmatan dunia dan Akhirat, apakah ini juga termasuk syirik niat?

? Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

❤️ Berbicara tentang niat yang ikhlas berarti membahas suatu amalan hati yang paling berat untuk dilakukan seorang manusia, karena besarnya dominasi ambisi nafsu manusia yang sangat bertentangan dengan keikhlasan dalam niat, kecuali bagi orang-orang beriman yang diberi kemudahan oleh Allah Ta’ala dalam semua kebaikan.

▶️Imam Sahl bin Abdullah at-Tustari berkata: “Tidak ada sesuatu pun yang paling berat bagi nafsu manusia melebihi keikhlasan, karena pada keikhlasan tidak ada bagian untuk nafsu” [Dinukil oleh Imam Ibnu Rajab dalam kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 17)].

▶️Semakna dengan ucapan di atas, Imam Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri berkata: “Tidaklah aku berusaha memperbaiki sesuatu (dalam diriku) yang lebih sulit bagiku, daripada (memerbaiki) niatku (supaya ikhlas)” [Dinukil oleh Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitab “Hilyatu thaalibil ‘ilmi” (hal. 11)].

▶️Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau: “Adapun kesyirikan (penyimpangan) dalam niat dan keinginan (manusia), maka itu (ibaratnya seperti) lautan (luas) yang tidak bertepi, dan sangat sedikit orang yang selamat dari penyimpangan tersebut. Maka barang siapa yang menginginkan dengan amal kebaikannya SELAIN wajah Allah, meniatkan sesuatu SELAIN untuk mendekatkan diri kepada-Nya, atau SELAIN mencari pahala dari-Nya maka sungguh dia TELAH BERBUAT SYIRIK dalam niat dan keinginannya. Ikhlas adalah dengan seorang hamba mengikhlaskan untuk Allah (semata) semua ucapan, perbuatan, keinginan dan niatnya” [Kitab “ al-Jawaabul kaafi” (hal. 94)].

Termasuk penyimpangan niat yang banyak menimpa manusia dan menodai kesucian ibadah mereka, selain perbuatan riya’, adalah terselipnya NIAT DAN KEINGINAN DUNIAWI, pada amal ibadah yang dikerjakan manusia. Penyimpangan ini penting untuk diketahui, karena sering menimpa seorang yang berbuat amal kebaikan, tapi dia tidak menyadari terselipnya niat tersebut. Padahal ini termasuk bentuk KESYIRIKAN yang bisa menodai, bahkan merusak amal kebaikan seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

✅“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di Akhirat (kelak) TIDAK akan memeroleh (balasan) kecuali Neraka, dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan” (QS Huud: 15-16).

Ayat yang mulia ini menunjukkan, bahwa amal shaleh yang dilakukan dengan NIAT DUNIAWI adalah termasuk PERBUATAN SYIRIK yang bisa merusak kesempurnaan tauhid yang semestinya dijaga, dan perbuatan ini bisa menggugurkan amal kebaikan. Bahkan perbuatan ini lebih buruk dari perbuatan riya’ (memerlihatkan amal shaleh untuk mendapatkan pujian dan sanjungan). Karena seorang yang menginginkan dunia dengan amal shaleh yang dilakukannya, terkadang keinginannya itu menguasai niatnya dalam mayoritas amal shaleh yang dilakukannya. Ini berbeda dengan perbuatan riya’, karena riya’ biasanya hanya terjadi pada amal tertentu dan bukan pada mayoritas amal. Itupun tidak terus-menerus. Meskipun demikian, orang yang yang beriman tentu harus mewaspadai semua keburukan tersebut [Lihat kitab “Fathul Majiid” (hal. 451)].

▶️Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dalam kitab at-Tauhid mencantumkan sebuah bab khusus tentang masalah penting ini, yaitu bab: Termasuk (Perbuatan) Syirik Adalah Jika Seseorang Menginginkan Dunia Dengan Amal (shaleh yang dilakukan)nya [Lihat kitab “Fathul Majiid” (hal. 451)].

▶️Syaikh Shalih bin ‘Abdil ‘Aziz Alu asy-Syaikh berkata: “Termasuk syirik kecil adalah seorang yang menginginkan (balasan di) dunia dengan amal-amal ketaatan (yang dilakukan)nya, dan TIDAK menghendaki (balasan di) Akhirat… Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia secara asal, menjadi tujuan (utama) dan (sumber) penggerak (diri mereka) adalah orang-orang kafir. Oleh karena itu, ayat ini (firman Allah Ta’ala di atas) turun, berkenaan dengan orang-orang kafir. Akan tetapi, lafazh ayat ini mencakup semua orang (kafir maupun Mukmin) yang menginginkan kehidupan (balasan) duniawi, dengan amal shaleh (yang dilakukan)nya”[Kitab “at-Tamhiid lisyarhi kitaabit tauhiid” (hal. 404-405)].

Apa bedanya dengan perbuatan riya’? Perbuatan riya’ bertujuan untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dengan amal shaleh, sedangkan perbuatan ini tidak bertujuan untuk mendapat pujian, tapi ingin mendapatkan balasan duniawi dengan amal shaleh, seperti harta, kedudukan, kesehatan fisik dan lain-lain [Lihat kitab “Taisiirul ‘Aziizil Hamiid” (hal. 473) dan “Fathul Majiid” (hal. 451)].

▶️Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin mengisyaratkan makna lain dari perbuatan ini, yaitu seorang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah Ta’ala BUKAN karena riya’ atau pujian, niatnya IKHLAS kerena Allah Ta’ala, akan tetapi dia MENGINGINKAN SUATU BALASAN DUNIAWI, misalnya harta, kedudukan duniawi, kesehatan pada dirinya, keluarganya atau keturunannya, dan yang semacamnya. Maka dengan amal kebaikannya dia menginginkan manfaat duniawi, dan melalaikan/melupakan balasan akhirat [Kitab “al-Qaulul mufiid ‘ala kitaabit tauhiid” (2/242)].

Wallahu ta’ala a’lam.

 

Jawaban dinukil dari tulisan berjudul: JANGAN NODAI IBADAH ANDA DENGAN NIAT DUNIAWI yang ditulis oleh: Ustadz Abdullah Taslim Al Buthony, MA. hafizhahullah

?Sumber: https://muslim.or.id/13945-jangan-nodai-ibadah-anda-dengan-niat-duniawi.html