Posts

HUKUM MAKANAN TANPA LABEL HALAL

HUKUM MAKANAN TANPA LABEL HALAL

HUKUM MAKANAN TANPA LABEL HALAL

 
Untuk perkara makanan, minuman, obat dan urusan dunia lainnya, hukum asalnya adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkan. Jadi dalam urusan dan perkara dunia maka hukum asalnya adalah halal. Kaidah mengatakan:
 
اَلأَصْلُ فِى اْلأَشْيَاءِ اْلإِ بَا حَة حَتَّى يَدُ لَّ اْلدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ
 
“Hukum asal dari sesuatu (muamalah/keduniaan) adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya“
 
لاَ تُشْرَعُ عِبَا دَةٌ إِلاَّ بِشَرْعِ اللهِ , وَلاَ تُحَرَّمُ عاَ دَةٌ إِلاَّ بِتَحْرِيْمِ اللهِ
 
“Tidak boleh dilakukan suatu ibadah kecuali yang disyariatkan oleh Allah, dan tidak dilarang suatu adat (muamalah) kecuali yang diharamkan oleh Allah“
 
Misalnya ada makanan atau minuman yang belum kita ketahui, kemudian kita bertanya-tanya apakah makanan ini haram atau tidak? Maka yang perlu kita tanyakan adalah, mana dalil dan bukti bahwa makanan atau minuman ini haram? Kita tidak bertanya, mana dalil atau bukti yang menyebabkan makanan ini menjadi halal dengan berkata: “Mana dalil halalnya makanan dan obat ini?”
 
Begitu juga dalam hal duniawi lain, bepergian misalnya. Ketika hendak berpergian, hukum asalnya kita boleh saja pergi ke mana saja sampai ada dalil yang mengharamkan kita dilarang pergi ke sana. Bepergian yang terlarang misalnya pergi dan bertanya ke dukun dan paranormal untuk masalah gaib, masa depan dan peruntungan.
 
Dalil kaidah ini adalah bahwa dunia dan seisinya ini diperuntukkan untuk manusia, dan manusia boleh memanfaatkannya. Allah taala berfirman:
 
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
 
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (QS. Al Baqarah: 29).
 
Bila suatu produk makanan tidak ada sertifikat halalnya jangan lantas divonis bahwa makanan itu 100% pasti haram. Sebab untuk mengharamkan suatu makanan kita butuh dalil dan bukti yang kuat. Karena pada dasarnya semua makanan itu halal dan tidak bisa berubah hukumya menjadi haram, kecuali disertai dalil dan bukti.
 
Kalau seseorang dalam rangka wara’ atau hati-hati tidak memakan makanan jenis tertentu yang tidak berlabel halal, tidaklah masalah. Yang jelas, jangan sampai mempersulit diri sendiri.
Untuk lengkapnya, silakan klik tautan berikut ini:
 Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#kaidahfikih #kaidah #kaedah #fikih #fiqh, #fiqih #sertifikathalal #tidakadasertifikathalalpastikahharam #hukumasalibadah #hukumasalmuamalah #sampaiadadalilyangmelarangnya #sampaiadadalilyangmemerintahkannya #hukummakanan #tanpalabelhalal
, ,

PERAYAAN MAULID BERTASYABBUH KEPADA AGAMA NASRANI & RAFIDHAH

PERAYAAN MAULID BERTASYABBUH KEPADA AGAMA NASRANI & RAFIDHAH
PERAYAAN MAULID BERTASYABBUH KEPADA AGAMA NASRANI & RAFIDHAH
>> Agama ini sejatinya telah sempurna dengan perayaan yang syari
 
Tiga perayaan yang syari (dalam Islam, -pent.):
1. Hari Raya Idul Adha
2. Hari Raya Idul Fitri
3. Hari Raya Jumat
 
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah ﷺ memasuki Madinah dan pada mereka ada dua hari yang mereka bermain-main padanya. Maka beliau ﷺ berkata: “Dua hari apakah ini?”
Mereka menjawab: “Dahulu kami bermain pada dua hari tersebut di masa Jahiliyah.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan keduanya untuk kalian yang lebih baik darinya:
• Hari Adha dan
• Hari Fitri.” [HR Abu Dawud, dan al-Albani telah menshahihkannya]
 
Berkata Rasulullah ﷺ mengenai Jumat:
“Sesungguhnya ini adalah hari raya, Allah telah menjadikannya untuk kaum Muslimin.” [HR Ibnu Majah, dan al-Albani telah menghasankannya]
 
Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah:
 
Pertanyaan:
Siapakah yang pertama kali mengadakan bidah Maulid Nabi dan bagaimanakah sejarahnya?
 
Beliau menjawab:
Yang pertama kali mengadakan bidah tersebut adalah al Fathimiyyun (yang berkuasa) di Mesir pada abad ke-4 Hijriyah. Lalu pada abad ke-7 Hijriyah disemarakkan oleh Raja Irbil di Irak, hingga tersebarlah di tengah-tengah kaum Muslimin.
 
Adapun sebabnya sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Iqtidha’ Shirathil Mustaqim:
 
Sebabnya:
• Bisa jadi karena kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Mereka menyangka, bahwa ini merupakan konsekuensi dari kecintaan tersebut.
 
• Bisa jadi pula sebabnya adalah menyerupai orang-orang Kristen, karena mereka mengadakan peringatan hari kelahiran al-Masih alaihissalam.
 
Terlepas apa sebab yang sebenarnya, maka setiap bidah adalah sesat. [Fatawa Liqa’ al Bab al Maftuh, hlm. 210]
 
Sumber: http://www.alfawaaid.net/2017/12/agama-ini-telah-sempurna-dengan.html
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
#Fiqh #Ibadah #sunnah #bidah #perayaan #maulidnabi #fiqh #fiqih #fikih #bidah #perayaanIslami #harirayaorangIslam, #Jumat, #harirayamingguan, #IdulFitri, #IdulFithri, #IdulAdha #tigaharirayaumatIslam, #3harirayaumatIslam #syiah #rafidhah #rafidhoh #alFathimiyyun #setiapbidahsesat #sejarahmaulidnabi #tasyabbuh #Nasrani
, ,

TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM

TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM
 
Kondisi paling aman bagi Muslimah adalah berwudhu di ruangan tertutup, sehingga ketika Muslimah hendak menyempurnakan mengusap atau membasuh anggota tubuh yang wajib dikenakan air wudhu, auratnya tidak terlihat oleh orang-orang yang bukan mahramnya. Sayangnya, tidak semua masjid menyediakan tempat wudhu yang berada di ruangan tertutup.

Lalu, bagaimana cara berwudhu jika kita berada di tempat umum yang terbuka?  Berdasarkan riwayat dari ‘Amru bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu, dari bapaknya, beliau berkata:

 
رأيت النبي صلّى الله عليه وسلّم، يمسح على عمامته وخفَّيه
 
“Aku pernah melihat Nabi ﷺ mengusap bagian atas surbannya dan kedua khufnya.” [HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari (1/308 no. 205) dan lainnya]
 
Juga dari Bilal radhiyallahu ‘anhu:
 
أن النبي صلّى الله عليه وسلّم، مسح على الخفين والخمار
 
“Bahwasanya Nabi ﷺ mengusap kedua khuf dan khimarnya.” [HR. Muslim (1/231) no. 275]
Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Ummu Salamah (istri Nabi ﷺ), bahwa beliau berwudhu dan mengusap kerudungnya. [Disebutkan oleh Ibnu Qudamah dari Ibnu Al-Mundzir]. Karena itu, wanita yang berwudhu di tempat umum TIDAK BOLEH melepas jilbabnya, namun cukup mengusap bagian atas jilbabnya.
 
Catatan:
Dijelaskan oleh ulama bahwa tutup kepala boleh diusap, jika memenuhi dua syarat:
1. Menutupi seluruh bagian kepala.
2. Terdapat kesulitan untuk melepaskannya.
Karena itu, sebatas (menggunakan) peci (menyebabkan peci) tidak boleh diusap, tetapi (bagian kepalalah yang) harus (tetap) diusap. [Shifat Wudhu Nabi ﷺ, hlm. 28]
Alternatif lain adalah dengan wudhu di kamar mandi. Sebagian orang merasa khawatir dan ragu-ragu, bila wudhu di kamar mandi wudhunya tidak sah, karena kamar mandi merupakan tempat yang biasa digunakan untuk buang hajat, sehingga kemungkinan besar terdapat najis di dalamnya. Wudhu di kamar mandi hukumnya boleh, asalkan tidak dikhawatirkan terkena/ terpercik najis yang mungkin ada di kamar mandi.
 
Kita ingat kaidah yang menyebutkan: “Sesuatu yang yakin tidak bisa hilang dengan keraguan.” Keragu-raguan atau kekhawatiran kita terkena najis TIDAK BISA dijadikan dasar tidak bolehnya wudhu di kamar mandi, kecuali setelah kita benar-benar yakin, bahwa jika wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terpeciki najis. Jika kita telah memastikan bahwa lantai kamar mandi bersih dari najis, dan kita yakin tidak akan terkena/ terperciki najis, maka insya Allah tak mengapa wudhu di kamar mandi.
 
Sedangkan pelafalan “Bismillah” di kamar mandi, menurut pendapat yang lebih tepat adalah BOLEH melafalkannya di kamar mandi. Hal ini dikarenakan membaca Bismillah pada saat wudhu hukumnya wajib, sedangkan menyebut nama Allah di kamar mandi hukumnya makruh. Kaidah mengatakan, bahwa “Makruh itu berubah menjadi mubah jika ada hajat. Dan melaksanakan kewajiban adalah hajat.”
 
Adapun membaca zikir setelah wudhu dapat dilakukan setelah keluar kamar mandi, yaitu setelah membaca doa keluar kamar mandi. Untuk itu disarankan setelah berwudhu, tidak berlama-lama di kamar mandi (segera keluar).
 
Bagaimana bila kita yakin bahwa bila wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terperciki najis?
 
> Dengan alasan terkena najis, maka sebaiknya tidak wudhu di kamar mandi atau disiram dulu sampai bersih.
 
> Alternatif lainnya adalah dengan cara mengusap khuf. jaurab, dan jilbab tanpa harus membukanya. Pembahasan tentang ini masuk dalam bab mengusap khuf. Tentu timbul pertanyaan lain, bagaimana dengan tangan? Jika jilbab kita sesuai dengan syariat, insya Allah hal ini bisa diatasi. Karena bagian tangan yang perlu dibasuh bisa dilakukan di balik jilbab kita yang terulur panjang. Sehingga tangan kita tidak akan terlihat oleh umum, insya Allah.
 
Wallahu a’lam bi shawab.
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tempatumum, #mallmall,  #luar rumah #tatacara, #cara, #wudhuk, #wudluk, #muslimah, #wanita, #perempuan, #kerudung, #hijab, #jilbab, #khuff, #kaoskaki, #kauskaki, #sepatu, #sandal, #kaidah, #kaedah, #fikih, #fiqih, #fiqh

TERMASUK PEMAHAMAN SESEORANG YANG TERBESAR

TERMASUK PEMAHAMAN SESEORANG YANG TERBESAR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TERMASUK PEMAHAMAN SESEORANG YANG TERBESAR
Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
من أعظم الفقه أن يخاف الرجل أن تخدعه ذنوبه عند الموت، فتحول بينه وبين الخاتمة الحسنى.
“Termasuk fikih (pemahaman) terbesar adalah seseorang takut, jangan sampai dosa-dosanya menipunya (tidak membuatnya sadar) ketika kematian datang, lalu dosa-dosa itu menghalanginya dari husnul khatimah.” [Al-Jawabul Kafy, hlm. 171]
Sumber: @JakartaMengaji
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#fikih, #fiqih #fiqh, #pemahamanterbesar, #jangansampaidosadosanyamenipunya #tidakmembuatnyasadar, #ketikakematiandatang, #dosadosaitu, #menghalanginyadarihusnulkhatimah #husnulkhatimah #chusnul #khotimah #khatimah
,

KAIDAH FIKIH: YAKIN TIDAK BISA DIHILANGKAN DENGAN KERAGUAN

KAIDAH FIKIH: YAKIN TIDAK BISA DIHILANGKAN DENGAN KERAGUAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#KaidahFikih

KAIDAH FIKIH: YAKIN TIDAK BISA DIHILANGKAN DENGAN KERAGUAN

  • Siapa yang yakin dalam keadaan suci, kemudian dalam keadaan ragu-ragu datang hadats, maka ia tetap dalam keadaan suci, baik hal ini didapati ketika shalat atau di luar shalat.
  • Siapa yang berhadats di Subuh hari, kemudian ia ragu-ragu setelah itu, apakah ia sudah bersuci ataukah belum, maka ia dihukumi seperti keadaan pertama, yaitu ia dalam keadaan hadats. Karenanya ia harus berwudhu.
  • Seseorang membeli air dan mengklaim setelah itu, bahwa air tersebut najis, lalu si penjual mengingkarinya, maka yang jadi pegangan adalah perkataan si penjual. Karena hukum asal air -inilah hukum yakinnya adalah suci, tidak bisa dihilangkan dengan ragu-ragu.
  • Tidak wajib bagi pembeli menanyakan kepada penjual mengenai barang dagangannya, apakah barang tersebut miliknya atau bukan, atau barang tersebut barang curian ataukah bukan. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Hukum asal segala sesuatu di tangan seorang Muslim adalah miliknya.”
  • Jika diyakini punya utang, lalu meninggal dunia, ada keraguan apakah utangnya sudah lunas apa belum, maka diyakini utangnya masih tetap ada.

 

Sumber: https://rumaysho.com/16176-manhajus-salikin-segala-sesuatu-itu-mubah-dan-hukum-bejana.html

 

TIDAK DILARANG DUDUK MEMELUK LUTUT KETIKA KHUTBAH JUMAT

TIDAK DILARANG DUDUK MEMELUK LUTUT KETIKA KHUTBAH JUMAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah, #DakwahSunnah

TIDAK DILARANG DUDUK MEMELUK LUTUT KETIKA KHUTBAH JUMAT

Pertanyaan:

Saya membaca satu hadis di dalam Kitab Riyadhus Shalihin tentang larangan duduk dengan menaikkan paha dan memeluk lutut, ketika khatib sedang menyampaikan Khutbah dari Mimbar ketika Shalat Jumat. Saya harap Anda dapat membantu saya memberi pencerahan tentang hal ini.

Jawaban oleh Tim Fatwa IslamQA, di bawah pengawasan Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid

Alhamdulillah.

Pertama:

Hadis tentang duduk memeluk lutut diriwayatkan oleh Imam Ahmad (24/393) dan At-Tirmizi (514) dari Muadz bin Anas radhiyallahuanhu, yang berbunyi:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الحبْوَة يَوْمَ الجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ

“Rasulullah ﷺ melarang duduk Ihtiba’ (memeluk atau mendekap lutut) di hari Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah.” Imam At-Tirmizi mengatakan “Hadis ini Hadis Hasan.”

Duduk di dalam hadis tersebut adalah duduk dengan bersandar pada punggung, dengan paha dan betis diangkat hingga menempel atau mendekati perut, lalu memeluknya dengan kedua tangan. [Lihat al-Mu‘jam al-Waseet (1/154, 2/729)].

Para ulama berbeda pendapat tentang hadis di atas. Beberapa dari mereka menglasifikasikan hadis tersebut sebagai Hasan, seperti Syekh Al-Albani Rahimahullah di dalam Sahih At-Tirmizi, dan juga pensyarah Musnad Al-Imam Ahmad.

Beberapa ulama lainnya mengklasifikasikan hadis tersebut sebagai Dhaif, seperti Imam Nawawi di dalam Al-Majmu (4/592), Ibnul Arabi di dalam Aaridat al-Ahwadhi (1/469) dan Ibnu Muflih di dalam Al-Furuu’ (2/127).

Imam An-Nawawi di dalam Al-Majmu, setelah menyatakan bahwa Imam At-Tirmizi mengklasifikasikan hadis ini sebagai Hasan, berkata:

“Di dalam sanadnya terdapat dua perawi yang Dhaif (lemah), sehingga kami tidak bisa menerima klasifikasi (hadis tersebut) sebagai Hasan.”

Akhir kutipan.

Kedua:

Perawi Dhaif yang disebutkan oleh Imam Nawawi adalah Sahl bin Muadz dan Abdurrahim bin Maymun.

Tentang  Sahl bin Muadz, Ibnu Ma’in berkata:

“Beliau Dhaif.”

Ibnu Hibban berkata:

“Hadisnya sangat aneh.”

Abdurrahim bin Maimun juga disebut sebagai perawi yang Dhaif oleh Ibnu Ma’in. Abu Hatim berkata:

“Hadisnya boleh ditulis, tetapi tidak boleh dikutip sebagai hujjah.” [Lihat: Tahdheeb at-Tahdheeb (4/258, 6/308)].

Diriwayatkan pula bahwa beberapa sahabat juga duduk memeluk lutut pada waktu Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah, seperti Ibnu Umar dan Anas radhiyallahuanhum. Oleh karena itu, sebagian besar ulama (termasuk empat imam) berpendapat, bahwa duduk seperti ini TIDAK MAKRUH.

Ibnu Qudamah, di dalam Al-Mughni (2/88), berkata:

“Tidak ada yang salah dengan duduk sambil mengangkat dengkul ketika Imam sedang menyampaikan kutbah. Hal ini diiriwayatkan dari Ibnu Umar dan banyak sahabat Rasulullah ﷺ lainnya. Inilah pendapat Said bin Al-Musayyib, Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, Imam Malik, Asy-Syafii, dan Ashabur Ra’yi.”

Abu Dawud berkata:

“Saya tidak mendengar ada seseorang yang menganggapnya Makruh kecuali Ubaadah bin Nasiy, karena Sahl bin Muadz meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ melarang duduk dengan mengangkat kaki pada waktu Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah.”

Ibnu Qudamah Rahimahullah melanjutkan: “Akan tetapi, kami memiliki riwayat dari Ya’la bin Awas yang berkata:

“Saya berada di Baitul Maqdis (Jerusalem) dengan Muawiyah. Beliau berkumpul bersama kami, kemudian saya mengetahui dan melihat, bahwa sebagian besar dari mereka yang berada di dalam masjid adalah para sahabat Rasulullah ﷺ, dan saya melihat mereka duduk memeluk lutut ketika Imam sedang menyampaikan khutbah. Hal ini dilakukan oleh Ibnu Umar dan Anas, dan kami tidak melihat adanya seseorang yang tidak setuju dengan mereka; sehingga dari sini ada konsensus (Ijma).

“Sanad dari hadis tersebut masih terus diperbincangkan, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Mundzir. Akan tetapi, akan lebih bagi kita untuk tidak melakukannya. Meskipun riwayat tersebut Dhaif, duduk dengan cara tersebut (Ihtiba’) lebih berpotensi membuat seseorang ketiduran, atau terjatuh (karena tidur), sehingga membatalkan wudhunya. Oleh karena itu, lebih baik tidak melakukannya.”

Akhir kutipan.

Imam An-Nawawi, di dalam Al-Majmu (4/457), berkata:

“Duduk dengan memeluk kaki pada waktu Jumat bagi seseorang yang mendatangi khutbah, ketika Imam sedang menyampaikan khutbah:

“Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Imam Asy-Syafii, bahwa beliau tidak menganggapnya sebagai Makruh. Ibnu Mundzir meriwayatkannya dari Ibnu Umar, Ibnu Al-Musayyab, Al-Hasan Al-Bashri, Ata’ bin Rabbah, Ibnu Sirin, Abu Zubair, Salim bin Abdullah, Suraih Al-Qadi, Ikrimah bin Khalid, Nafi, Malik, At-Tsauri, Al-Auzai, Ashabur Ra’yi, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur.”

Beliau (Imam An-Nawawi) melanjutkan:

“Beberapa ulama hadis menganggapnya sebagai Makruh, karena sebuah hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ tentang hal tersebut, padahal sanadnya masih diperdebatkan.”

Akhir kutipan.

Beberapa ulama menyebutkan alasan kenapa duduk Ihtiba’ (memeluk lutut) ketika Imam menyampaikan Khutbah adalah Makruh.

Al-Baihaqi Rahimahullah berkata:

“Apa yang diriwayatkan di dalam hadis Muadz bin Anas, bahwa Rasulullah ﷺ melarang duduk dengan memeluk lutut atau kaki pada waktu Jumat, jika terbukti sahih, itu karena duduk dengan cara tersebut dapat membuat seseorang mudah tertidur, sehingga wudhunya kemungkinan besar menjadi batal. Jika tidak khawatir akan hal tersebut, maka tidak ada yang salah dengan duduk sambil memeluk lutut.“

Akhir kutipan.

Ma‘rifat as-Sunan wa’l-Athaar (1814)

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata:

“Rasulullah ﷺ melarang Ihtiba (duduk memeluk lutut) pada waktu Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah, karena dua alasan:

Satu, karena posisi seperti ini akan menyebabkan mengantuk lalu orang tersebut tertidur dan tidak mendengarkan khutbah.”

Kedua, karena jika dia bergerak, maka auratnya akan tersingkap. Ini karena kebanyakan orang di zaman dulu hanya memakai Izar (semacam sarung) dan Rida’ (semacam jubah atasan). Dan jika seseorang bergerak atau tersungkur, maka auratnya akan terbuka.”

“Akan tetapi jika tidak ada kekhawatiran akan hal tersebut, maka hukumnya boleh. Jika sebuah larangan didasarkan pada logika (alasan), maka ketika alasan tersebut hilang, maka larangannya pun batal.”

Akhir kutipan.

Sharh Riyadh as-Saaliheen (4/730-731).

Kesimpulan:

Lebih disukai untuk tidak duduk memeluk lutut ketika imam sedang menyampaikan khutbah pada waktu Jumat. Tetapi jika seseorang duduk memeluk lutut dan tidak ada kekhawatiran bahwa auratnya akan terbuka atau tertidur, maka dalam hal ini hukumnya boleh.

Wallahu’alam bish shawwab.

[Fatwa No: 129182 – Tanggal: 2014-12-04]

 

Sumber: http://islamqa.info/en/129182

 

Penerjemah: Irfan Nugroho

Staf pengajar di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran At-Taqwa Sukoharjo

,

RINGKASAN CARA MUDAH MEMAHAMI FIKIH UMRAH

RINGKASAN CARA MUDAH MEMAHAMI FIKIH UMRAH

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihHajiUmrah

RINGKASAN CARA MUDAH MEMAHAMI FIKIH UMRAH

Keutamaan Umrah dan Haji

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Antara umrah sampai umrah berikutnya adalah penghapus dosa yang dilakukan antara keduanya. Dan haji yang mabrur tidaklah ada balasannya, kecuali Surga.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Keutamaan Umrah Pada Waktu Ramadan

Rasulullah ﷺ bersabda:

فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

“Sesungguhnya umrah pada waktu Ramadan seperti berhaji bersamaku.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma]

Cara Mudah Memahami Fikih Umrah

Memahami Fikih Umrah dalam waktu kurang dari 1/2 menit dalam empat poin berikut:

  1. Ihram dari Miqat (Ihram termasuk rukun, melakukannya dari Miqat termasuk kewajiban).
  2. Thawaf sebanyak tujuh putaran mengelilingi Kakbah (termasuk rukun).
  3. Sa ’yu sebanyak tujuh putaran antara Shafa dan Marwa (termasuk rukun).
  4. Memendekkan atau mencukur rambut (termasuk kewajiban).

Dengan melakukan empat poin ini saja umrah sudah sah, meskipun tanpa ditambahi dengan amalan-amalan lainnya. Akan tetapi untuk kesempurnaannya, insya Allah akan kami jelaskan dalam rincian berikut.

Waktu Melakukan Umrah

Waktu melakukan umrah adalah seluruh waktu dalam setahun.

Tempat Memulai Haji dan Umrah

Tempat memulai Haji dan Umrah yang biasa disebut Miqat (Makani) adalah tempat-tempat yang diwajibkan untuk memulai melakukan ihram di situ. Jika seorang yang berniat umrah atau haji melewati tempat tersebut tanpa melakukan ihram (yaitu berniat mulai melakukan amalan-amalan umrah atau haji), dan tanpa melaksanakan kewajiban-kewajibannya, maka wajib atasnya hadyu, berupa menyembelih seekor kambing, dan membaginya kepada fakir miskin Mekkah, tanpa mengambil bagian darinya sedikit pun.

Adapun Miqat-Miqat itu ada lima:

  1. Dzul Hulaifah (sekarang dinamakan Bi’r ‘Ali), Miqat penduduk kota Madinah dan yang melalui rute mereka).
  2. Al-Juhfah, Miqat penduduk Saudi Arabia bagian utara dan negara-negara Afrika Utara dan Barat, negeri Syam (Lebanon, Yordania, Syiria, Palestina) dan yang melewati rute mereka.
  3. Qarnul Manazil (sekarang dinamakan As-Sail) dan Wadi Muhrim (bagian atas Qarnul Manazil), Miqat penduduk Najed, Selatan Saudi di seputar pegunungan Sarat, negara-negara Teluk, Irak, Iran dan yang melewati rute mereka.
  4. Yalamlam (sekarang dinamakan As-Sa’diyyah), Miqat penduduk negara Yaman, Indonesia, Malaysia, negara-negara sekitarnya dan yang melewati rute mereka.
  5. Dzatu ‘Irqin (sekarang dinamakan Adh-Dharibah), Miqat penduduk negeri Irak (Kufah dan Bashrah) dan yang melewati rute mereka.

Dan bagi orang-orang yang tinggal di Mekkah atau yang tinggal di tempat-tempat yang terletak setelah Miqat-Miqat di atas, boleh bagi mereka berihram untuk haji (baik Tamattu’, Qiron maupun Ifrod) dari rumah masing-masing, tanpa harus pergi ke Miqat lagi. Adapun bagi penduduk Mekkah yang ingin melakukan umrah, mereka harus keluar ke daerah halal terdekat, seperti Tan’im dan yang lainnya, lalu berihram dari sana.

Urutan Amalan-Amalan Umrah

Pertama: Ihram dari Miqat

Ihram adalah berniat memulai pelaksanaan ibadah umrah atau haji. Tata caranya sebagai berikut:

▪ Mendatangi Miqat.

▪ Memotong kuku, memendekkan kumis, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan. Hal ini bukan termasuk amalan ihram. Hanya saja apabila seseorang mau melakukannya ketika ihram, maka dilarang. Oleh karena itu, hendaklah ia melakukannya sebelum ihram, kecuali jika ia berniat menyembelih kurban, maka tidak boleh melakukannya, jika telah masuk tanggal 1 Dzulhijjah, sampai ia menyembelih.

▪ Tidak dibenarkan mencukur atau memotong jenggot.

▪ Mandi seperti mandi janabat.

▪ Mandi ini juga berlaku bagi wanita haid dan nifas, karena Nabi ﷺ memerintahkan Asma’ binti Umais radhiyallahu’anha untuk mandi ketika ia melahirkan di Dzul Hulaifah, sebagaimana dalam hadis Jabir yang masyhur (Hadis tersebut sekaligus sebagai dalil sahnya ihram wanita haid dan nifas, serta boleh melakukan semua amalan haji dan umrah kecuali Thawaf, harus menunggu suci terlebih dahulu kemudian Thawaf).

▪ Menggunakan wewangian pada tubuh (pada bagian tubuh yang tidak terkena pakaian ihram) bila memungkinkan.

▪ Pakaian ihram tidak boleh dikenakan wewangian.

▪ Bagi yang Miqatnya dilewati dengan kendaraan yang tidak mungkin berhenti seperti pesawat, maka mandinya bisa dilakukan sejak dari rumah, atau sebelum naik pesawat, maupun setelah berada di pesawat.

▪ Mengenakan pakaian ihram yang terdiri dari dua helai (yang afdhal berwana putih). Yaitu sehelai disarungkan pada tubuh bagian bawah, dan sehelai lagi diselempangkan pada tubuh bagian atas, dengan menutup seluruh tubuh bagian atas termasuk kedua bahu.

▪ Di antara hikmah mengenakan pakaian ihram tanpa dibedakan antara si kaya dan si miskin, atasan dan bawahan, pemerintah dan rakyatnya adalah untuk mengingatkan kepada kain kafan, bahwa setiap manusia hanya akan membawa kain kafannya sampai ke kuburan.

▪ Bagi yang Miqatnya dilewati dengan kendaraan yang tidak mungkin berhenti seperti pesawat, maka pakaian ihramnya bisa dikenakan menjelang naik pesawat terbang, atau setelah berada di atas pesawat terbang, meskipun jeda waktu yang agak lama dengan Miqatnya, agar ketika melewati Miqat dalam kondisi telah mengenakan pakaian ihram.

▪ Adapun pakaian ihram wanita adalah pakaian yang menutup seluruh auratnya yang sesuai dengan batasan-batasan syari.

▪ Wanita yang ihram TIDAK BOLEH menggunakan cadar dan kaos tangan, dan jika ada laki-laki asing, hendaklah ia menutup auratnya tersebut dengan kerudungnya.

▪ Setelah mengenakan pakaian ihram, lakukan shalat dua rakaat dengan niat shalat sunnah wudhu’ atau shalat wajib, jika bertepatan dengannya. Dan yang shahih, tidak ada shalat khusus untuk ihram.

▪ Ketika masih berada di Miqat, naik ke kendaraan, lalu mulai berniat ihram untuk melakukan umrah dengan mengucapkan:

لَبَّيْكَ عُمْرَةً

“Labbaika ‘umrotan”

Artinya: “Kusambut panggilan-Mu untuk melakukan umrah.” [HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

Lalu membaca Talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

“Labbaika Allaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syariika laka”

Artinya: “Kusambut panggilan-Mu Ya Allah, kusambut panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kerajaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu]

▪ Jika khawatir tidak bisa menyempurnakan seluruh rangkaian ibadah haji atau umrah, hendaklah membaca ucapan pensyaratan niat:

اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي

“Allaahumma mahilliy haitsu habastaniy”

Artinya: “Ya Allah tempat berakhir amalanku, di mana Engkau menahanku.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

▪ Faidah ucapan pensyaratan niat, adalah jika seseorang terhalangi dari menyempurnakan haji atau umrahnya, maka tidak ada fidyah dan qadha’ atasnya. Ini bermanfaat terutama bagi wanita haid yang melakukan umrah, dan khawatir ditinggal rombongannya jika harus menunggu sampai suci.

▪ Boleh bagi wanita untuk minum obat penunda haid, selama tidak membahayakannya.

▪ Berangkat ke Mekkah.

▪ Memerbanyak ucapan Talbiyah ini dengan mengeraskan suara sepanjang perjalanan ke Mekkah.

▪ Berhenti mengucapkan Talbiyah ketika menjelang Thawaf (adapun ketika haji, membaca Talbiyah sampai sebelum melempar Jamrah ‘Aqobah pada 10 Dzulhijjah).

▪ Mengucapkan Talbiyah secara berjamaah dengan membentuk sebuah koor, termasuk perbuatan bid’ah.

▪ Boleh memakai sandal, sepatu yang tidak menutupi mata kaki, cincin, kacamata, walkman, jam tangan, sabuk, dan tas yang digunakan untuk menyimpan uang dan barang-barang berharga lainnya.

▪ Boleh mencuci pakaian ihram atau mengganti dengan pakaian ihram yang lain.

▪ Sebelum masuk Mekkah, jika memungkinkan untuk mandi kembali.

▪ Hendaklah senantiasa menjalankan printah Allah ta’ala dan menjauhi larangan-Nya, seperti perbuatan syirik, kefasikan, kata-kata keji dan kotor, berdebat untuk membela kebatilan, dan lain-lain.

Larangan-Larangan Ihram

Larangan-larangan ihram ada sembilan, yaitu:

  1. Memotong rambut (seluruh badan).
  2. Memotong kuku.
  3. Menggunakan wewangian (adapun menggunakan wewangian dilakukan sebelum ihram).
  4. Mengenakan penutup kepala yang menempel (yang tidak menempel seperti payung atau berteduh di bawah atap tidak mengapa).
  5. Mengenakan pakaian yang membentuk tubuh (yang diistilahkan oleh sebagian fuqaha dengan pakaian berjahit).
  6. Membunuh hewan Tanah Haram. Bahkan diharamkan sekedar menakutinya atau membuatnya lari. Termasuk dalam hal ini mencabut atau merusak tumbuhan yang ditumbuhkan Allah ta’ala (bukan yang ditanam manusia) di Tanah Haram.
  7. Akad nikah dan melamar atau menikahkan dan melamar untuk orang lain.
  8. Berhubungan suami istri.
  9. Bercumbu antara suami istri, baik dengan perkataan maupun perbuatan.

Hukuman-Hukuman Bagi Yang Melanggar Larangan Ihram

Hukuman bagi yang melanggar sembilan larangan di atas terbagi lima bentuk:

  1. Melakukan pelanggaran nomor 1-5 maka hukumannya adalah membayar fidyah berupa menyembelih seekor kambing, atau memberi makan enam orang miskin (setiap orang dapat 1/2 sho’), atau berpuasa tiga hari. Boleh memilih.
  2. Melakukan pelanggaran nomor 6, maka hukumannya hendaklah menyembelih yang semisalnya dari hewan yang biasa digunakan untuk zakat, lalu bersedekah dengannya, dan tidak boleh makan darinya sedikit pun. Atau menakarnya dengan makanan dan membaginya kepada fakir miskin, setiap orang mendapat 1/2 sho’. Atau berpuasa selama sejumlah orang-orang miskin tersebut. Jika yang melanggar tidak menemukan hewan yang semisalnya, barulah ia diberi pilihan apakah memberi makan ataukah puasa.
  3. Melakukan pelanggaran nomor 7 tidak ada fidyah, namun berdosa jika dilakukan bukan karena lupa, atau tidak tahu, dan nikahnya dihukumi sebagai nikah syubhat, harus diulang setelah ihram. Dan hendaklah bertaubat kepada Allah ta’ala.
  4. Melakukan pelanggaran nomor 8 (berhubungan suami istri), apabila sebelum Tahallul Awal (pada haji), maka hajinya tidak sah, dan wajib membayar fidyah dengan menyembelih seekor unta, dan dibagikan bagi fakir miskin di Haram dan wajib mengqadha’ haji tersebut di tahun depan. Apabila dilakukan setelah Tahallul Awal, maka hajinya sah, berdasarkan Ijma’, dan baginya fidyah berupa menyembelih seekor kambing.

Adapun dalam umrah, jika pelanggarannya dilakukan sebelum Thawaf atau Sa’yu, maka batal umrahnya. Hendaklah melakukan umrah lagi sebagai ganti, yaitu keluar lagi ke Miqat, dan wajib baginya fidyah menyembelih seekor kambing. Jika dilakukan pada umrah setelah Thawaf dan Sa’yu (yakni sebelum memendekkan atau mencukur rambut) maka umrahnya sah dan wajib baginya fidyah.

  1. Melakukan pelanggaran nomor 9, jika seorang bercumbu dengan istrinya di selain kemaluannya, walaupun sampai mengeluarkan mani, maka hajinya tidak batal. Hendaklah dia menyembelih unta, jika hal itu dilakukan sebelum Tahallul Awal. Jika dilakukan setelahnya, hendaklah menyembelih kambing. Bagi wanita sama hukumanya dengan laki-laki, kecuali jika ia dipaksa untuk melakukannya.

Hukuman-hukuman di atas berlaku bagi orang yang sengaja melakukannya, baik karena butuh atau tidak. Adapun yang tidak tahu hukumnya, atau karena lupa, maka tidak ada hukuman baginya, dan hajinya tetap sah.

Kedua: Thawaf Sebanyak Tujuh Putaran Mengelilingi Kakbah

▪ Thawaf adalah rukun umrah yang kedua.

▪ Thawaf adalah ibadah khusus mengitari Kakbah sebanyak tujuh kali. Adapun Thawaf dengan mengitari selain Kakbah adalah mengada-ada dalam agama.

▪ Disunnahkan masuk Makkah di waktu siang setelah mandi, karena Nabi ﷺ melakukannya. Beliau ﷺ menginap di Dzi Tuwa, shalat Subuh dan mandi padanya, sebagaimana dalam hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma dalam Ash-Shahihain.

▪ Tiba di Masjidil Haram Makkah, pastikan telah bersuci dari najis dan hadats.

▪ Disunnahkan untuk beristirahat sejenak sebelum memulai Thawaf.

▪ Masuk dengan kaki kanan dan membaca doa masuk masjid:

أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم

“A’udzu billaahil ‘azhimi wa biwajhihil kariimi wa sulthoonihil qodiimi minasy syaithoonir rojiimi”

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung, dengan wajah-Nya yang Maha Mulia dan kekuaasaan-Nya yang Maha Terdahulu, dari setan yang terkutuk.” [HR. Abu Daud dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu’anhuma, Shahih Sunan Abi Daud: 485]

Kemudian membaca:

اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Allaahummaftah liy abwaaba rohmatik”

Artinya: “Ya Allah bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu.” [HR. Muslim dari Abu Usaid radhiyallahu’anhu]

▪ Keluar masjid membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِك

“Allaahumma inniy as-aluka min fadhlik”

Artinya: “Ya Allah aku memohon kepada-Mu anugerah dari-Mu.” [HR. Muslim dari Abu Usaid radhiyallahu’anhu]

Dan bershalawat kepada Nabi ﷺ, lalu membaca:

اللَّهُمَّ اعْصِمْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Allaahuma’shimniy minasy syaithoonir rohim”

Artinya: “Ya Allah aku memohon perlindungan kepada-Mu dari setan yang terkutuk.” [HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahih Ibnu Majah: 627]

▪ Lafal-lafal doa di atas berlaku umum di seluruh masjid. Tidak ada doa khusus untuk Masjidil Haram, baik ketika haji dan umrah, maupun tidak.

▪ Melakukan Idhthiba’. Caranya, selempangkan pakaian atas ke bawah ketiak kanan, dan membiarkan pundak kanan terbuka, dan pundak kiri tetap tertutup.

▪ Idhtiba’ ini khusus bagi laki-laki dan khusus pada Thawaf Qudum dan Thawaf Umrah. Adapun bagi wanita dan selain pada Thawaf Qudum dan Thawaf Umrah, tidak disyariatkan.

▪ Segera menuju Hajar Aswad, menghadapnya, menyentuhnya dengan tangan kanan dan menciumnya tanpa ada suara ciuman.

▪ Jika tidak memungkinkan, hendaklah menyentuhnya dengan tangan kanan dan mencium tangan yang menyentuhnya.

▪ Jika tidak memungkinkan, maka dengan tongkat dan sejenisnya, lalu mencium tongkat tersebut.

▪ Jika tidak memungkinkan, maka cukup berisyarat kepadanya.

▪ Jika seseorang bisa menciumnya, maka hendaklah dia membaca: “Bismillahi Allahu Akbar” (Berdasarkan hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma dalam Sunan Al-Baihaqi).

▪ Jika berisyarat kepadanya hanya membaca, “Allahu Akbar” (Berdasarkan hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma dalam Shahih Al-Bukhari) [Lihat At-Talkhis Al-Habir, 2/47]

▪ Lakukan Thawaf sebanyak tujuh putaran mengelilingi Kakbah. Mulai dari Hajar Aswad dengan memosisikan Kakbah di sebelah kiri, sambil mengucapkan bacaan di atas ketika memulai Thawaf.

▪ Dari Hajar Aswad sampai ke Hajar Aswad lagi terhitung satu putaran.

▪ Disunnahkan berlari-lari kecil dengan mendekatkan langkah-langkah (raml) pada tiga putaran pertama (hal ini disunnahkan pada Thawaf Umrah dan Thawaf Qudum pada haji), dan berjalan pada putaran keempat sampai ketujuh.

▪ Raml dan Idhthiba’ tidak disyariatkan untuk wanita berdasarkan Ijma’.

▪ Disyariatkan sepanjang Thawaf untuk memerbanyak zikir dan doa, namun tidak ada zikir dan doa khusus yang disunnahkan, selain bacaan-bacaan yang telah kami sebutkan di atas.

▪ Tidak boleh mengeraskan suara ketika Thawaf, termasuk ketika berzikir dan berdoa saat Thawaf, agar tidak mengganggu kaum Muslimin.

▪ Tidak ada doa khusus ketika Thawaf, kecuali ketika berada di antara dua rukun, yaitu Rukun Yamani dan Hajar Aswad, disunnahkan membaca:

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan juga kebaikan di Akhirat, serta jagalah kami dari azab api Neraka.” [HR. Ahmad dan Abu Daud]

▪ Disunnahkan setiap kali sejajar dengan Rukun Yamani untuk menyentuhnya tanpa dicium, sambil mengucapkan, “Bismillahi Allahu Akbar”. Jika tidak memungkinkan untuk menyentuhnya, maka tidak disyariatkan untuk berisyarat kepadanya, dan tidak pula mencucapkan Tasmiyyah dan Takbir.

▪ Tidak menyentuh Kakbah atau apapun selain hajar Aswad dan Rukun Yamani, karena tidak ada dalilnya.

▪ Disunnahkan setiap kali sejajar dengan Hajar Aswad, untuk melakukan sebagaimana ketika mulai pertama kali, sampai pun pada putaran terakhir.

▪ Tidak disyariatkan untuk mengusapkan tangan ke badan setelah mengusap Hajar Aswad maupun Rukun Yamani.

▪ Bahkan tidak disyariatkan untuk mengusap dan mencium selain Hajarul Aswad, dan mengusap selain Rukun Yamani, dan tidak pula ada bacaan tertentu ketika melewatinya.

▪ Menyentuh dan mencium Hajar Aswad dan menyentuh Rukun Yamani hanya dilakukan ketika Thawaf saja. Kecuali menyentuh Hajar Aswad juga disyariatkan setelah selesai shalat dua rakaat Thawaf di belakang Maqom Ibrahim ‘alaihissalam. Selain itu tidak disyariatkan.

▪ Janganlah berdesak-desakan untuk mencapai Hajar Aswad atau Rukun Yamani, agar tidak menyakiti kaum Muslimin. Karena mencium Hajar Aswad dan menyentuh Rukun Yamani hukumnya sunnah, sedangkan memuluskan dan tidak menyakiti kaum Muslimin adalah wajib.

▪ Juga tidak boleh bagi wanita berdesak-desakan dengan laki-laki, melainkan mereka berjalan di belakang kaum laki-laki.

▪ Tidak boleh bagi wanita membuka wajahnya jika terdapat laki-laki asing. Hendaklah dia menutupi wajahnya dengan kerudungnya (bukan dengan niqob atau kain yang menempel di wajahnya).

▪ Tidak mengapa melakukan Thawaf di belakang Zam-zam dan di seluruh masjid (termasuk di lantai atas dan atap), terutama ketika sangat ramai, namun lebih dekat ke Kakbah yang lebih afdhal. Dan ulama sepakat tidak boleh Thawaf di luar masjid.

▪ Tidak sah Thawaf di dalam Kakbah atau dalam Al-Hijr, karena Al-Hijr termasuk Kakbah.

▪ Dan penamaan Al-Hijr tersebut dengan Hijr Ismail ‘alaihissalam tidak benar, karena ia dibangun setelah meninggalnya beliau, oleh orang-orang Qurays ketika mereka kekurangan harta untuk membangun Kakbah. Demikian pula sangkaan, bahwa Nabi Ismail ‘alaihissalam dikuburkan di Al-Hijr adalah tidak benar.

▪ Jika tidak mampu Thawaf sambil berjalan, tidak mengapa mengendarai kendaraan atau digendong.

▪ Tidak disyariatkan menyentuh Maqom Ibrahim, dinding Kakbah dan kiswahnya.

▪ Berdoa kepada Kakbah adalah syirik besar.

▪ Tidak ada lafal niat Thawaf.

▪ Jika terjadi keraguan pada jumlah putaran Thawaf, hendaklah diambil persangkaan yang paling kuat. Jika tidak memiliki persangkaan kuat, maka ambil hitungan yang paling sedikit, lalu menambah putaran yang masih kurang.

▪ Jika telah dikumandangkan iqomah shalat, hendaklah memutuskan Thawaf dan melakukan shalat. Setelah shalat dilanjutkan kembali, tanpa harus memulai dari awal kembali. Kecuali jika terpaut waktu yang panjang, maka hendaklah dimulai dari awal, sebab Muwaalah (dilakukan secara bersambung) adalah syarat Thawaf.

▪ Jika batal wudhu’, maka boleh terus melanjutkan Thawaf, karena tidak ada dalil shahih dan tegas yang mengharuskan berwudhu’.

▪ Namun lebih afdhal berwudhu’ kembali dan terus melanjutkan Thawaf, tanpa harus memulai dari awal. Kecuali jika terpaut waktu yang lama, maka hendaklah mulai dari awal.

▪ Menyentuh wanita dengan sengaja maupun tanpa sengaja tidak membatalkan wudhu’. Namun haram hukumnya menyentuh dengan sengaja, dan perbuatan haram lebih diharamkan lagi di negeri yang suci, atau di waktu-waktu yang mulia, seperti bulan-bulan haji, terutama, 10 hari pertama Dzulhijjah dan Ramadan.

▪ Setelah Thawaf, tutup kembali pundak kanan dengan pakaian ihram bagian atas seperti sebelum Thawaf.

▪ Pergi ke Maqom Ibrahim (tempat berdirinya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika membangun Kakbah) lalu membaca:

وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

“Wattakhidzuu mim-maqoomi Ibraahiima mushollaa”

“Dan jadikanlah bagian dari Maqom Ibrahim itu sebagai tempat shalat.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

▪ Lalu shalat dua rakaat di belakang Maqom Ibrahim walaupun tidak tepat di belakangnya.

▪ Jika tidak memungkinkan, maka lakukan shalat di mana saja di Masjidil Haram. Lakukan shalat ini, walaupun bertepatan dengan waktu-waktu yang dilarang untuk shalat. Jika lupa mengerjakannya, maka tidak ada kewajiban fidyah.

▪ Disunnahkan pada rakaat pertama membaca surat Al-Fatihah dan Al-Kafirun. Rakaat kedua membaca surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlash. Dan tidak ada doa khusus sebelum dan selesai shalat.

▪ Menghalangi orang yang lewat di depan kita ketika sedang shalat hendaklah dilakukan, dan tidak ada dalil yang mengecualikan Masjidil Haram.

▪ Disunnahkan shalat yang ringan, tidak memerpanjang bacaan, agar tidak menyulitkan orang lain.

▪ Tidak disunnahkan menyentuh atau mencium Maqom Ibrahim ‘alaihissalam.

▪ Berdoa kepada Maqom Ibrahim atau mengharapkan berkah darinya termasuk syirik besar.

▪ Lalu minum Zam-zam dan siramkan sebagiannya ke kepala.

▪ Air Zam-zam memiliki banyak keistimewaan, dan disunnahkan bagi jamaah haji dan umrah untuk mengambilnya sebagai bekal dan hadiah.

▪ Disunnahkan berdoa di Multazam, yaitu tempat yang berada di antara Hajarul Aswad dan pintu Kakbah. Dan waktu berdoa di Multazam boleh kapan saja, karena tidak ada dalil yang membatasi waktunya. Dan diriwayatkan sebagian sahabat menyandarkan dadanya, wajahnya, dan dua lengannya ke Multazam.

▪ Jika memungkinkan, untuk kembali menyentuh atau mencium Hajar Aswad setelah shalat dan minum Zam-zam. Jika tidak, maka tidak perlu berisyarat kepadanya.

▪ Lalu pergi ke bukit Shafa untuk melakukan Sa’yu.

▪ Hendaklah bersegera melakukan Sa’yu setelah Thawaf, walaupun bersegera bukan syarat. Sehingga boleh, misalkan seseorang Thawaf di pagi hari, lalu Sa’yu di sore hari.

Ketiga: Sa’yu Sebanyak Tujuh Putaran antara Shafa dan Marwah

▪ Sa’yu adalah rukun pada haji dan umrah, dan tidak ada dalil melakukan Sa’yu selain pada haji dan umrah. Berbeda dengan Thawaf, boleh melakukannya kapan saja.

▪ Jika telah mendekati Shafa hendaklah membaca:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللهِ

“Innas shofaa wal marwata min sya’airillaah”

Artinya: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah itu termasuk syiar-syiar Allah.” (Al-Baqarah: 158)

Lalu membaca:

أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ

“Abdau bimaa badaallaahu bihi”

Artinya: “Aku memulai (Sa’yu), dengan apa yang dimulai oleh Allah, (yakni disebutkan dulu Shafa lalu Marwah).” [HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu’anhu]

▪ Masih di Shafa, jika memungkinkan untuk menaikinya, lalu menghadap Kakbah dan mengucapkan:

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُلاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, tiada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya segala kerajaan dan pujian, Dzat yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan serta Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, yang telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya dan menghancurkan bala tentara kafir, tanpa bantuan siapa pun.”

Dibaca tiga kali, setiap kali selesai salah satunya, disunnahkan untuk berdoa kepada Allah ta’ala sesuai keinginan kita, sambil mengangkat tangan, berdasarkan hadis Jabir radhiyallahu’anhu dalam riwayat Muslim.

▪ Setelah itu berjalan ke Marwah. Ketika lewat di antara dua tanda hijau, langkah dipercepat. Setelah melewati tanda tersebut, hendaklah kembali berjalan seperti biasa.

▪ Bagi wanita tetap berjalan seperti biasa, meskipun pada dua tanda hijau, berdasarkan Ijma’ ulama, sebagaimana yang dinukil Ibnul Mundzir rahimahullah. Adapun berlarinya Hajar Ummu Ismail ‘alaihimassalam ketika dalam keadaan beliau seorang diri, sehingga aman dari fitnah.

▪ Boleh naik kendaraan dalam melakukan Sa’yu jika terdapat Masyaqqoh (beban yang berat).

▪ Tiba di Marwah telah dianggap melakukan satu putaran (kembalinya ke Shafa juga terhitung satu putaran).

▪ Berdiri di Marwah dan lakukan seperti yang dilakukan di Shafa.

▪ Setelah itu kembali lagi ke Shafa, dan seterusnya, sampai tujuh putaran yang berakhir di Marwah.

▪ Boleh melakukan Sa’yu di lantai atas.

▪ Disyariatkan untuk memerbanyak zikir dan doa ketika melakukan Sa’yu, di antaranya doa yang dibaca oleh sebagian Salaf seperti Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhum:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَم

“Allaahummaghfir liy wa Antal A’azzul Akrom”

Artinya: “Ya Allah ampunilah aku, dan Engkau yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia.” [HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahumullah dalam Mansak beliau, hal. 28]

▪ Menghindari perkataan dosa dan perkataan sia-sia.

▪ Disunnahkan melakukan Sa’yu dalam keadaan suci. Jika dilakukan dalam keadaan berhadats, maka tidak mengapa. Sehingga jika seorang wanita haid setelah Thawaf, boleh baginya melakukan Sa’yu.

▪ Tidak mengapa jika seseorang melakukan Sa’yu sebelum Thawaf, karena tidak tahu atau lupa.

▪ Jika lupa jumlah putaran, hendaklah mengambil persangkaan jumlah yang paling kuat. Jika tidak memiliki persangkaan kuat, maka hendaklah mengambil jumlah yang paling kecil.

▪ Jika Sa’yu terputus karena shalat atau karena suatu hajat, boleh melanjutkan kembali, tanpa harus mengulang dari awal, sebab Al-Muwaalah tidak dipersyaratkan menurut pendapat yang paling kuat. Akan tetapi jika seseorang memulainya dari awal lagi, itu lebih baik, agar lebih hati-hati. Terlebih jika terpaut waktu yang lama, hendaklah dimulai dari awal lagi.

Keempat: Mencukur Atau Memendekkan Rambut

▪ Mencukur atau memendekkan rambut termasuk kewajiban haji dan umrah.

▪ Setelah melakukan Sa’yu, segera mencukur atau memendekkan rambut secara merata.

▪ Tidak cukup mencukur atau memendekkan sebagian rambut, namun harus seluruh rambut secara merata.

▪ Mencukur lebih afdhal dibanding memendekkan (karena Nabi ﷺ mendoakan tiga kali untuk yang mencukur dan satu kali untuk yang memendekkan saja, sebagaimana dalam Ash-Shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

▪ Kecuali yang melakukan umrah untuk haji Tamattu’, lebih afdhal baginya memendekkan, untuk kemudian mencukur pada 10 Dzulhijjah, jika waktu umrahnya sudah mendekati 10 Dzulhijjah.

▪ Bagi wanita hanya memotong pada ujung-ujung rambutnya sepanjang ujung jari.

▪ Hendaklah tetap mencukur atau memendekkan rambut, meskipun telah niat berkurban, dan telah masuk 1 Dzulhijjah.

▪ Dengan ini, telah masuk pada Tahallul, yakni telah halal semua yang tadinya diharamkan ketika ihram. Selesailah rangkaian ibadah umrah.

Walhamdulillahi Rabbil’alamiin.

Rujukan

  1. Catatan pribadi dari pelajaran fikih pada kitab Ad-Durorul Bahiyyah karya Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah di Al-Madrasah As-Salafiyyah Depok yang disampaikan Al-Ustadz Abdul Barr hafizhahullah, 1430 H.
  2. Al-Ikhtiyaraat Al-Fikihiyyah fi Masaailil ‘Ibaadat wal Mu’aamalaat min Fatawa Samaahatil ‘Allaamah Al-Imam ‘Abdil ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz –rahimahullah-, ikhtaaroha Khalid bin Su’ud Al-‘Ajmi hafizhahullah, Bab Shifatul Hajj, hal. 322-352. Cetakan ke-6, 1431 H.
  3. Bayaanu maa yaf’aluhul Haaj wal Mu’tamir, karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, terbitan Kantor Pusat Haiah Al-Amri bil Ma’ruf wan Nahyi ‘anil Munkar, 1430 H.
  4. Tabshirun Naasik bi Ahkaamil Manasik ‘ala Dhauil Kitab was Sunnah wal Ma’tsur ‘anis Shahaabah, karya Asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr hafizhahullah, cetakan ke-3, 1430 H.
  5. Jami’ul Manasik, karya Asy-Syaikh Sulthan bin AbdurRahman Al-‘Ied hafizhahullah, cetakan ke-3, 1427 H.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/805660969583387:0

, , ,

HUKUM MEMEGANG ALQURAN TERJEMAHAN KETIKA HAID

HUKUM MEMEGANG ALQURAN TERJEMAHAN KETIKA HAID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#AdabMembacaAlquran

HUKUM MEMEGANG ALQURAN TERJEMAHAN KETIKA HAID

>> Perbedaan Antara Alquran Terjemahan dan Mushaf

Pertanyaan:

Apakah boleh memegang Alquran terjemahan ketika haid ?

Jawaban:

“Mushaf yang dilarang untuk disentuh secara langsung oleh orang yang sedang berhadats kecil atau besar (termasuk haid) adalah mushaf yang mengandung ayat-ayat Alquran saja, baik itu 30 juz atau sebagian. Akan tetapi jika dipegang menggunakan pelapis seperti kain yang suci, maka itu tidak mengapa. Adapun kitab tafsir, maka boleh menyentuh dan memegangnya, karena itu tidak dinamakan Mushaf, tapi kitab tafsir.” [Lihat Majmu’ Fatawa bin Baz juz.24 hal.348 no.118 dan lih.ibid juz 10 hal. 209]

Syaikh Utsaimin menjelaskan lebih detail: “Seandainya isi sebuah kitab banyak ayat Alqurannya dari pada tafsirnya, maka itu dinamakan Mushaf, dan hukumnya sama dengan Mushaf biasa (yang hanya berisi ayat-ayat Alquran -pen). Sebaliknya, apabila isi tentang tafsirnya lebih banyak dari pada ayat-ayat Alqurannya, maka boleh dipegang secara langsung oleh orang yang berhadats, karena itu kitab tafsir.

Apabila isinya berimbang antara tulisan ayat Alquran dan tafsir, maka tidak boleh disentuh oleh orang yang berhadats, berdasarkan kaidah: Jika berkumpul hal yang membolehkan dan melarang, dan tidak ada pembeda yang menguatkan salah satu sisi, maka dikuatkanlah sisi yang melarang [Lihat Majmu’ fatawa wa Rasail Al-Utsaimin juz.11 hal.215]

 

وبالله التوفيق

 

Sumber: http://www.salamdakwah.com/baca-pertanyaan/memegang-al-qur-an-terjemahan-ketika-haid.html

, , ,

APAKAH GO FOOD TERMASUK AKAD RIBA?

APAKAH GO FOOD TERMASUK AKAD RIBA?

بسم الله الرحمن الرحيم

#FikihJualBeli

APAKAH GO FOOD TERMASUK AKAD RIBA?
>> Hukum Menggunakan Go Food
Pertanyaan:
Apa hukum Go Food dan Go Mart? Apa benar termasuk akad riba?
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada banyak kegiatan yang tidak bisa dilakukan manusia sendirian. Karena itu dia butuh tenaga orang lain untuk membantunya. Di situlah syariat memberikan kemudahan dengan adanya Akad Wakalah (mewakilkan).

Hanya saja, orang yang melakukan tugas yang kita inginkan terkadang harus dibayar. Dalam hal ini, syariat memboleh Wakalah Bil Ujrah (menyuruh orang lain dengan bayaran tertentu).

Di antara dalil yang menunjukkan bolehkah Akad Wakalah Bil Ujrah adalah:

[1] Firman Allah ta’ala yang mengisahkan Ashabul Kahfi yang tertidur dalam suatu gua selama tiga ratus tahun lebih. Pada saat terbangun mereka mewakilkan kepada salah seorang di antara mereka untuk pergi ke kota membelikan makanan. Mereka mengatakan:

فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ

Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat, manakah makanan yang lebih baik. Maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemahl embut”. (QS. al-Kahfi: 19).

Ashhabul Kahfi yang berjumlah tujuh orang mewakilkan kepada salah satu di antara mereka untuk membeli makanan ke kota. Ini menunjukkan bolehnya mewakilkan kepada orang lain untuk membelikan makanan. Sebagaimana Akad Wakalah dibolehkan, maka dibolehkan pula mengambil upah dari transaksi tersebut, sebagai imbalan atas jasa yang halal, dari orang yang menerima perwakilan.

[2] Diriwayatkan oleh Bukhari, bahwa Rasulullah ﷺ memberikan uang 1 Dinar kepada Urwah al-Bariqi radhiyallahu anhu, agar dibelikan seekor kambing untuk Nabi ﷺ. Urwah segera ke pasar dan mendatangi para pedagang kambing. Dengan uang 1 Dinar, Urwah berhasil membawa 2 ekor kambing. Dalam perjalanan menuju Rasulullah ﷺ, ada seseorang yang menawar seekor kambing yang dibawa Urwah seharga 1 Dinar, maka dia pun menjualnya. Sampai di hadapan Nabi ﷺ, Urwah memberikan 1 Dinar dan seekor kambing. Nabi ﷺ merestui apa yang dilakukan Urwah, dengan beliau doakan:

اللهُمَّ بَارِكْ لَهُ فِي صَفْقَةِ يَمِينِهِ

Ya Allah, berkahi perdagangan yang dilakukan Urwah. [HR. Ahmad 19362 dan diShahihkan Syuaib al-Arnauth]

Dalam dua dalil di atas memang tidak disebutkan upah untuk yang dititipi. Meskipun andai keduanya meminta upah di awal, diperbolehkan. Dalil di atas juga menyebutkan, bahwa orang yang dititipi telah diberi uang oleh orang yang titip. Karena hakikat dari Wakalah Bil Ujrah adalah jual beli jasa dan layanan, sementara hukum asal jual beli adalah mubah.

Go Food dan Go Mart

Dalam kasus Go Food atau Go Mart, pihak pelanggan memesan makanan atau barang. Dan umumnya driver Go Food tidak mendatangi pelanggan, tapi langsung ke rumah makan atau tempat belanja, untuk membeli pesanan yang diinginkan pelanggan. Ketika driver belum diberi uang oleh pelanggan, dia harus memberi talangan. Dan kita memahami, talangan itu adalah utang.

Setelah makanan dan barang sampai di pelanggan, maka pelanggan akan membayar dua item:

[1] Makanan/barang yang dipesan sesuai nilai yang tertera dalam struk/nota. Dalam hal ini, driver sama sekali tidak melebihkan harga makanan maupun barang.

[2] Jasa kirim makanan. Di sini pihak driver mendapatkan keuntungan.

Berdasarkan keterangan di atas, ada dua akad yang dilakukan antara pelanggan dengan driver:

[1] Akad jual beli jasa Wakalah untuk beli makanan/barang

Inilah akad yang menjadi tujuan utama kedua belah pihak. Tujuan utama pelanggan adalah mendapat layanan membelikan makanan/barang yang diinginkan. Sebagaimana pula yang menjadi tujuan utama driver, mendapat upah membelikan makanan/barang yang dipesan.

[2] Akad utang (talangan)

Bisa kita sebut akad utang ini hanyalah efek samping dari akad pertama. Keduanya sama sekali tidak memiliki maksud untuk itu. Hanya saja, untuk alasan praktis, pihak driver memberikan talangan untuk penyediaan makanan atau barang.

Kita bisa memahami itu, karena andai si driver ada di sebelah kita, kemudian kita apply Go Food atau Go Mart, tentu pihak driver akan meminta kita uang untuk pembelian makanan yang kita pesan. Dan kita juga akan tetap membayar biaya antar makanan.

Tinjauan Hadis Larangan Menggabungkan Utang dengan Jual Beli

Ada sebuah hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ سَلَفٍ وَبَيْعٍ

Rasulullah ﷺ melarang menggabungkan antara akad jual-beli dan akad utang. [HR. Ahmad 6918 & Tirmizi 1278]

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ

Tidak halal, utang digabung dengan jual beli. [HR. Ahmad 6671, Abu Daud 3506 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth]

Dalam catatan yang diberikan oleh Turmudzi di bawah hadis ini, beliau menyebutkan keterangan Imam Ahmad:

قال إسحاق بن منصور: قلت لأحمد: ما معنى نهى عن سلف وبيع؟ قال: أن يكون يقرضه قرضاً ثم يبايعه بيعاً يزداد عليه. ويحتمل أن يكون يسلف إليه في شيء فيقول: إن لم يتهيأ عندك فهو بيع عليك

Ishaq bin Manshur pernah bertanya kepada Imam Ahmad:

“Apa makna larangan beliau, menggabungkan utang dengan jual beli?”

Jawab Imam Ahmad:

“Bentuknya, si A memberi utang kepada si B, kemudian mereka melakukan transaksi jual beli sebagai syarat tambahannya.” [Sunan Turmudzi, 5/140]

Dan Akad Ijarah, di antaranya c, termasuk jual beli. Karena hakikat akad sewa adalah jual beli jasa. Dalam Ma’ayir as-Syar’iyah yang diterbitkan oleh AAOIFI, pada pasal (19) tentang Qardh, ayat (7) dinyatakan:

لا يجوز اشتراط عقد البيع أو الإجارة أو نحوهما من عقود المعوضات في عقد القرض

“Lembaga keuangan syariah tidak dibolehkan mensyaratkan akad ba’i (jual-beli), akad ijarah (sewa), atau akad mu’awadhah lainnya yang digabung dengan akad qardh. Karena dalam jual/sewa, biasanya, pihak debitur sering menerima harga di atas harga pasar, dan ini merupakan sarana untuk terjadinya riba (pinjaman yang mendatangkan keuntungan bagi kreditur)”. [Al-Ma’ayir asy-Syari’iyyah, hal 270]

Mengapa Dilarang Menggabungkan Jual Beli dengan Utang?

Dari keterangan Imam Ahmad, adanya larangan menggabungkan utang dengan jual beli, tujuan besarnya adalah menutup celah riba. Dalam rangka saduud dzari’ah (menutup peluang terjadinya maksiat). Karena saat mungkin pihak yang memberi utang mendapat manfaat dari transaksi jual beli yang dilakukan. Dan setiap utang yang menghasilkan manfaat adalah RIBA.

Ibnu Qudamah menjelaskan alasan larangan menggabungkan utang dengan jual beli:

إذا اشترط القرض زاد في الثمن لأجله فتصير الزيادة في الثمن عوضا عن القرض وربـحا له وذلك ربا محرم

“Jika jual beli disyaratkan dengan utang, maka harga bisa naik disebabkan utang. Sehingga tambahan harga ini menjadi ganti dan keuntungan atas utang yang diberikan. Dan itu riba yang haram.” [Al-Mughni, 4/314]

Sehingga ketika gabungan akad utang dan jual beli ini dilakukan, utang menjadi akad utama, sementara jual beli menjadi syarat tambahan, sebagai celah bagi pemberi utang untuk mendapat keuntungan.

Akad yang Mengikuti tidak Diperhitungkan

Terdapat kaidah Fikih yang disampaikan al-Kurkhi:

الأصل أنه قد يثبت الشيء تبعاً وحكماً وإن كان يبطل قصداً

Hukum asalnya, terkadang ada sesuatu dibolehkan karena mengikuti, meskipun batal jika jadi tujuan utama. [Al-Wajiz fi Idhah Qawaid Fiqh, hlm. 340]

Dalam redaksi yang lain dinyatakan:

يثبت تبعاً ما لا يثبت استقلالاً

Jika mengikuti boleh, jika berdiri sendiri tidak boleh. [Al-Qawaid al-Fiqhiyah ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, 1/468]

Jika kita perhatikan dalam akad Go Food atau Go Mart, pada dasarnya utang yang dilakukan pelanggan sama sekali bukan tujuan utama akad. Saya sebut, itu EFEK SAMPING dari akad antar pesanan makanan/barang, sehingga tidak diperhitungkan. Sebenarnya pelanggan juga tidak ingin berutang, karena dia mampu bayar penuh. Sementara driver juga tidak membuka penyediaan utang, karena bagi dia, talangan resikonya lebih besar.  Sementara niat memengaruhi kondisi akad. Ada kaidah menyatakan:

القصود في العقود معتبرة

“Niat dalam akad itu ternilai”

Sedangkan larangan menggabungkan utang dengan jual beli, akad yang dominan adalah utangnya. Andai tidak ada utang, mereka tidak akan jual beli. Sementara dalam kasus Go Food – Go Mart, yang terjadi, akad utang hanya nebeng, imbas, efek samping, yang sebenarnya tidak diharapkan ada oleh kedua belah pihak.

Karena itu, menurut pribadi saya (ustadz Ammin Nur Baits – pent) Go Food atau Go Mart dibolehkan.

Saya menyadari bahwa pendapat ini barangkali berbeda dengan pendapat para ustad yang lain, tapi itulah yang saya pahami.

Semoga Allah memberkahi apa yang kita pelajari.

Allahu a’lam

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28865-hukum-go-food-dan-riba.html

Catatan Tambahan dari pak Ustadz Ammi Nur Baits

Menggabungkan dua akad yang bermasalah adalah ketika akad kedua menjadi syarat dari akad pertama.

Misalnya

Saya mau memberi utang ke kamu, tapi dengan syarat kau nikahkan aku dengan putrimu –> Menggabungkan akad utang dengan akad nikah… (Kasus Siti Nurbaya)

Saya mau menjual tanahku, dengan syarat saya diizinkan membeli rumahmu –> Menggabungkan akad jual beli tanah dengan jual beli rumah…

Bedakan dengan si A (akhwat) punya utang ke si B (pria)… selama enam bulan mereka sering komunikasi karena ini. Kemudian si B melamar si A dan si A menerima, lalu menikah… –> Ini bukan menggabungkan dua akad, karena si B tidak mensyaratkan dari utangnya untuk menikahi si A.

Dalam Go Food, ada utang (talangan) dan ada ijarah (sewa jasa pembelian makanan)… –> Apakah keduanya menjadi syarat?

Misal: Pihak Gojek mensyaratkan, Anda boleh membeli jasa kami, dengan syarat, kami mengutangi Anda.

Hal ini tidak terjadi. Tetapi akad utang itu sifatnya efek samping, karena alasan praktis, bukan karena ingin mengambil keuntungan dari utang.

Wallahu a’lam.

 

,

MAGRIB HARI AHAD BUKA PUASA DI JEPANG, NAIK PESAWAT SAMPAI DI AMERIKA AHAD SIANG?

MAGRIB HARI AHAD BUKA PUASA DI JEPANG, NAIK PESAWAT SAMPAI DI AMERIKA AHAD SIANG?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

#SifatPuasaNabi

MAGRIB HARI AHAD BUKA PUASA DI JEPANG, NAIK PESAWAT SAMPAI DI AMERIKA AHAD SIANG?

Ahad sebelum berangkat, di Jepang satu jam lagi akan berbuka. Sampai di Amerika ternyata sedang siang hari Ahad (hari yang sama), maka ia tetap melanjutkan puasa sampai matahari terbenam di Amerika, walaupun ia berpuasa jadi lebih lama.

Kaidahnya tetap mengikuti tempat ia tinggal (sampai) saat itu, begitu juga dengan kasus waktu sebaliknya (ia berpuasa jadi sangat sebentar waktunya)

Kasus seperti ini bisa saja terjadi dan termasuk kasus kontemporer. Berikut fatwa dari syaikh Muhammad bin shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, beliau ditanya:

لو قدر أن شخصاً سافر من اليابان في يوم الأحد من رمضان وذلك بعد أن أفطر المغرب ثم وصل أمريكا في نهار الأحد الذي كان قد صامه في اليابان. فهل يمسك عن الأكل، أم يستمر في أكله على اعتبار أنه قد صام هذا اليوم؟

Seandainya ada seseorang yang bersafar dari Jepang pada Ahad ketika puasa Ramadan. Ia berangkat setelah Magribnya berbuka. Kemudian ia sampai di Amerika pada siang hari Ahad, padahal ia sudah berpuasa hari Ahad di Jepang. Apakah ia harus menahan makan (berpuasa di Amerika) atau ia melanjutkan makan (tidak berpuasa) dengan anggapan ia sudah berpuasa pada hari ini (hari Ahad)?

لا يجب عليه الإمساك إذا وصل أمريكا، وذلك لأنه أتم صيامه بغروب الشمس فخرج من عهدة الواجب، فقد قال تعالى: {فَالنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذالِكَ يُبَيِّنُ اللهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذالِكَ يُبَيِّنُ اللهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ} وهذا أتم صيامه إلى الليل فصوم يومه تام فلا يكلف زيادة عليه، وقال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إذا أقبل الليل من ههنا يعني من المشرق وأدبر النهار من ههنا يعني من المغرب وغربت الشمس فقد أفطر الصائم» وهذا الذي في اليابان قد أفطر بنص الرسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فلا يكلف صيام يوم لم يجب عليه، وقد أبرأ ذمته منه. أما لو سافر قبل غروب الشمس إلى أمريكا من اليابان فإنه يكمل يومه حتى تغرب الشمس في أمريكا.

Tidak wajib baginya menahan makan minum (tidak wajib berpuasa), jika telah sampai di Amerika. Karena ia telah menyempurnakan puasanya dengan tenggelamnya matahari. Maka telah keluar dari kewajiban. Allah ta’ala berfirman:

“Maka sekarang campurilah mereka, dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”

Ia telah menyempurnakan puasanya pada hari Ahad sampai malam hari, maka puasanya telah sempurna, ia tidak dibebankan untuk menambah.

Nabi ﷺ bersabda:

“Jika tela datang malam dari sini, kemudian siang telah berlalu, dan matahari sudah tenggelam, maka (ini waktu) orang berpuasa berbuka.”

Orang ini dari Jepang telah berbuka dengan nash dari Rasulullah ﷺ, maka ia tidak dibebankan puasa yang tidak wajib baginya. Ia telah melepas bebannya (beban wajib puasa).

Adapun seandainya ia bersafar sebelum tenggelamnya matahari dari Jepang ke Amerika. Maka ia harus menyempurnakan puasanya sampai matahari tenggelam di Amerika.

[Majmu’ fatawa wa Rasa’il 19/326-327, Syamilah]

 

Penerjemah:  Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslimafiyah.com/magrib-hari-ahad-buka-puasa-di-jepang-naik-pesawat-sampai-di-amerika-ahad-siang.html