Posts

,

HUKUM MEMAKAI CELAK BAGI LAKI-LAKI

HUKUM MEMAKAI CELAK BAGI LAKI-LAKI
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
HUKUM MEMAKAI CELAK BAGI LAKI-LAKI
 
Celak biasanya berupa bubuk untuk memalit bulu mata atau disapukan di sekeliling mata. Telah diketahui banyak orang, bahwa celak adalah perhiasan yang dipakai wanita untuk berhias. Walaupun terdapat perbedaan di antara para ulama tentang boleh-tidaknya wanita bercelak di depan lelaki non-mahram, namun yang menjadi bahasan dalam artikel singkat ini adalah tentang bagaimana hukum memakai celak bagi laki-laki. Dalam artikel singkat ini hanya akan dibawakan beberapa hadis tentang celak dan fatwa para ulama abad ini tentang masalah tersebut.
Hadis-Hadis Tentang Memakai Celak
 
Hadis 1:
اكْتَحِلُوا بِالْإِثْمِدِ فَإِنَّهُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ
 
“Bercelaklah kalian dengan itsmid, karena dia bisa mencerahkan mata dan menumbuhkan rambut.” [HR. At Tirmidzi no.1679 dalam Sunannya bab Maa Jaa-A Fil Iktihaal, Ahmad no.15341 dalam Musnad-nya]
 
Status Hadis: At Tirmidzi berkata: “Hadis ini Hasan Gharib”. Al Mubarakfuri berkata dalam Tuhfatul Ahwadzi: “Dikeluarkan juga oleh Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban”
 
Hadis 2:
عَلَيْكُمْ بِالْإِثْمِدِ عِنْدَ النَّوْمِ فَإِنَّهُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعَرَ
 
“Bercelaklah memakai itsmid ketika hendak tidur, karena ia dapat mencerahkan pandangan dan menumbuhkan rambut.” [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya no.3846 bab Al Kahlu Bil Itsmid]
Status Hadis: Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah (2/263/2818).
 
Hadis 3:
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
 
وَإِنَّ خَيْرَ أَكْحَالِكُمُ الْإِثْمِدُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ
 
“Celak yang paling baik bagi kalian adalah itsmid. Ia bisa mencerahkan pandangan dan menumbuhkan rambut.” [HR. Abu Daud no.3380 dan 3539, Ibnu Majah no. 3488, Ahmad no. 2109]
 
Status Hadis:
Dalam Aunul Ma’bud dijelaskan bahwa Imam At Tirmidzi berkata: “Hadis ini Hasan Shahih”. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud (2/766/3426).
 
 
Hadis 4
عليكم بالإثمد ؛ فإنه منبتة للشعر ، مذهبة للقذى ، مصفاة للبصر
 
“Bercelaklah dengan itsmid, karena ia menumbuhkan rambut, mengilangkan kotoran yang masuk ke mata, dan mencerahkan pandangan” [HR. ‘Abu Ashim, Ath Thabrani. Lihat Aunul Ma’bud syarah hadis no. 1679]
 
Status Hadis: Dihasankan oleh Al Albani dalam Silsilah Ahaadits Shohihah (2/270/665)
 
 
Fatwa Para Ulama Tentang Memakai Celak Bagi Laki-Laki
 
Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah:
 
أما الاكتحال الذي لتجميل العين فهل هو مشروع للرجل أو للأنثى فقط؟
الظاهر أنه مشروع للأنثى فقط ،أما الرجل فليس بحاجة إلى تجميل عينيه. وقد يقال:إنه مشروع للرجل أيضاً،لأن النبي صلى الله عليه وسلم لما سئل:إن إحدنا يحب أن يكون نعله حسناً،وثوبه حسناً فقال صلى الله عليه وسلم”:إن الله جميل يحب الجمال.” وقد يقال:إذا كان في عين الرجل عيب يحتاج إلى الاكتحال فهو مشروع له ،وإلا فلا
 
“Bercelak dengan tujuan menghiasi mata apakah disyaratkan untuk laki-laki, ataukah hanya untuk wanita saja? Yang nampak bagiku hal tersebut disyaratkan bagi wanita saja. Adapun lelaki, tidak ada keperluan untuk berhias dengannya. Namun ada pula ulama yang berpendapat hal ini pula disyariatkan bagi laki-laki, dengan berdalil dengan sabda Rasulullah ﷺ ketika ada sahabat yang bertanya: ”Bolehkah jika kami gemar memakai sandal dan pakaian yang bagus?” Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan”. Pendapatku, jika pada mata seorang lelaki terdapat penyakit yang membutuhkan celak untuk penyembuhannya, maka hal ini disyariatkan. Namun bila tidak ada kebutuhan, maka tidak disyariatkan.” [Syarhul Mumthi’, 1/129]
 
الاكتحال نوعان:
أحدهما: اكتحال لتقوية البصر وجلاء الغشاوة من العين وتنظيفها وتطهيرها بدون أن يكون له جمال ، فهذا لا بأس به ، بل إنه مما ينبغي فعله ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يكتحل في عينيه ، ولاسيما إذا كان بالإثمد .
النوع الثاني: ما يقصد به الجمال والزينة ، فهذا للنساء مطلوب ، لأن المرأة مطلوب منها أن تتجمل لزوجها .
وأما الرجال فمحل نظر ، وأنا أتوقف فيه ، وقد يفرق فيه بين الشاب الذي يخشى من اكتحاله فتنه فيمنع ، وبين الكبير الذي لا يخشى ذلك من اكتحاله فلا يمنع
 
 
“Bercelak ada dua macam:
 
– Yang pertama, bercelak untuk menguatkan pandangan, mengobati rabun, atau untuk membersihkan pandangan mata tanpa bermaksud untuk berhias, maka hal ini tidak mengapa, bahkan ini dianjurkan. Karena Rasulullah ﷺ menggunakan celak pada kedua mata beliau ﷺ. Lebih baik lagi jika memakai itsmid.
 
– Yang kedua, bercelak dengan tujuan untuk berhias. Jenis ini berlaku bagi wanita. Karena seorang wanita dianjurkan mempercantik diri untuk suaminya. Adapun bagi laki-laki, terdapat beberapa pertimbangan dan aku tawaqquf dalam hal ini. Namun perlu dibedakan antara lelaki yang masih muda dengan lelaki yang sudah tua. Bagi pemuda yang dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah jika bercelak, maka sebaiknya tidak dilakukan. Sedangkan orang yang sudah tua tidak dikhawatirkan lagi dapat menimbulkan fitnah, maka tidak dilarang.” [Fatwa Syaikh Al Utsaimin dalam As’ilah Al Usroh Al Muslimah]
 
 
Fatwa Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah:
 
س: هل هناك دليل يحرم وضع الكحل على العينين والحناء على اليدين والرجلين بالنسبة للرجل ؟ علما بأن وضعها ليس القصد منه التشبه بالنساء ، إنما هي عادة .
ج: ليس للمؤمن أن يتشبه بالنساء لا في الحناء ولا في غيره ، ولو كان عادة فليس له أن يفعل ما يكون فيه متشبها فيه بالنساء ؛ لأن الرسول صلى الله عليه وسلم”: لعن المتشبهين من الرجال بالنساء ، ولعن المتشبهات من النساء بالرجال”
أما الكحل فلا بأس ؛ لأنه مشروع للرجال والنساء على حد سواء ، فكونه يكحل عينيه فلا بأس ، والكحل طيب نافع ، “ وكان النبي صلى الله عليه وسلم يكتحل “ ، فلا بأس بذلك
 
 
Pertanyaan:
Adakah dalil haramnya memakai celak pada mata dan pacar kuku bagi laki-laki, jika diketahui bahwa tujuan memakainya bukan untuk meniru wanita, namun karena sudah menjadi kebiasaan di masyarakat?
 
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz menjawab:
Seorang lelaki Mukmin tidak boleh meniru wanita dengan memakai pacar kuku atau yang lainnya, walaupun hal tersebut sudah menjadi kebiasaan di masyarakat. Ia tetap tidak boleh melakukan perbuatan yang terdapat unsur meniru wanita, karena terdapat hadis: “Rasulullah ﷺ melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, dan melaknat wanita yang menyerupai laki-laki.”
Adapun memakai celak, maka tidak mengapa. Karena memakai celak itu disyariatkan bagi laki-laki dan wanita dengan kadar yang sama. Maka seorang laki-laki boleh memakai celak pada kedua matanya. Dan celak itu baik dan bermanfaat. Terdapat hadis: “Rasulullah ﷺ biasa memakai celak. ” Maka hukumnya boleh. [Majmu’ Fatawa Syaikh Ibn Baz, 29/48]
 
ما حكم الاكتحال، وهل علم عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه كان يضع الكحل في عينيه؟
الاكتحال سنة، وقد ثبت عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه كان يكتحل -عليه الصلاة والسلام- في كل عين ثلاثة أميال -عليه الصلاة والسلام- الاكتحال سنة، بالإثمد، أفضل ما يكون بالإثمد،……
 
 
Pertanyaan:
Apa hukum memakai celak? Apakah benar bahwa Nabi ﷺ biasa memakai celak pada kedua matanya?
 
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz menjawab:
Memakai celak adalah sunnah Nabi ﷺ. Terdapat hadis Shahih: Rasulullah ﷺ biasa memakai celak tiga kali pada setiap matanya”. Maka memakai celak termasuk Sunnah Nabi ﷺ. Lebih baik lagi jika memakai itsmid. [Kaset Nuurun ‘Ala Ad Darb]
 
 
Fatwa Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan hafizhahullah
 
س: هل يجوز للرجل أن يكحل عينيه ؟
ج:الإكتحال سنة. فعله رسول الله صلى الله عليه وسلم يكتحل بالإثمد ليلة بعد ليلة . فيه منفعة للبصر. فهو سنة لا بئس بذالك.
 
 
Pertanyaan:
Apakah dibolehkan bagi laki-laki memakai celak pada kedua matanya?
 
Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan menjawab:
Memakai celak adalah Sunnah Nabi ﷺ. Beliau ﷺ biasa memakai celak dengan itsmid setiap malam. Celak memiliki manfaat bagi mata. Ia termasuk sunnah, diperbolehkan memakainya. [Kaset Majmu’ Fatawa Syaikh Shalih Fauzan, fatwa no. 3748]
 
Fatwa Lajnah Daimah
 
السؤال الثاني من الفتوى رقم 3598
س 2: هل يجوز للرجل أن يكتحل بالكحل أم لا؟
جـ 2: الحمد لله وحده والصلاة والسلام على رسوله وآله وصحبه . . وبعد:
نعم يجوز ذلك ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يفعل ذلك عند النوم .
وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
 
 
Pertanyaan
Memakai celak bagi laki-laki dibolehkan atau tidak?
 
Lajnah Daimah menjawab:
Segala puji kita panjatkan kepada Allah semata, semoga shalawat serta salam terlimpah atas Rasulullah ﷺ beserta keluarga dan sahabatnya. Amma ba’du.
Ya benar, memakai celak bagi laki-laki dibolehkan, karena Rasulullah ﷺ biasa melakukannya sebelum tidur.
Hidayah taufik hanya dari Allah ta’ala. Semoga shalawat serta salam terlimpah atas Nabi ﷺ beserta keluarga dan sahabatnya.
 
Tertanda:
• ‘Abdullah bin Qu’ud (Anggota)
• ‘Abdullah bin Ghadayan (Anggota)
• ‘Abdurrazzaq ‘Afifi (Wakil ketua)
• ‘Abdul Aziz bin Baz (Ketua)
(Fatawa Lajnah Daimah Lil Buhuts ‘Ilmiyyah Wal Ifta, 5/205/3598)
 
Wallahu Ta’ala A’lam
 
Sumber:
Catatan Tambahan:
Bagaimana Cara Bercelak?
 
Dari Anas radhiallahu ‘anhu:
“Bahwasanya Rasulullah ﷺ bercelak di matanya yang sebelah kanan tiga kali, dan di matanya yang sebelah kiri dua kali.” [Dishahihkan oleh Syaikh Albani di dalam kitabnya, Silsilah Hadis Sohih ( 633 )]
 
Mengenai “Atsamidu”, Ibnu Qoyim rahimahullah mengatakan: ” Ia adalah batu celak berwarna hitam. Didatangkan dari Asbahan, itu kualitas terbaik. Didatangkan juga dari negeri Maghrib.
 
Ibnu Qoyim rahimahullah mengatakan mengenai faidahnya:
“Bermanfaat menguatkan mata, menguatkan syaraf mata, menjaga kesehatan mata, menghilangkan daging jadi dan sel kulit mati, menghilangkan kotoran mata, menjernihkan mata dan menghilangkan pusing.” [Lihat Zadul Ma’ad, Juz 4, Hal 284, Cetakan Ar Risalah]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#lakilaki, #pria, #akhi, #adab, #lelaki, #pakaicelak, #hukum, #hukummemakaicelak, #perempuan, #wanita, #muslimah, #sebelumtidur, #itsmid, #fatwaulama, #bagaimanacarapakaicelak, #sunnahnabiyangmulaidilupakan #istimid #bagaimanacaramemakaicelak #manfaat, #faidah, #faedah, #manfaatmemakaicelak, #manfaatpakaicelak
, ,

HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH

HIDAYAH-HANYA-MILIK-ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH
 
Dalam shirah Nabi ﷺ dijelaskan, bahwa paman Nabi ﷺ, Abu Thalib, biasa melindungi Nabi ﷺ dari gangguan kaumnya. Perlindungan yang diberikan ini tidak ada yang menandinginya. Oleh karenanya Nabi ﷺ mengharapkan hidayah itu datang pada pamannya. Saat menjeleng wafatnya, Nabi ﷺ menjenguk pamannya tersebut dan ingin menawarkan pamannya masuk Islam. Beliau ﷺ ingin agar pamannya bisa menutupi hidupnya dengan kalimat “Laa ilaha illallah” karena kalimat inilah yang akan membuka pintu kebahagiaan di Akhirat. Berikut kisah yang disebutkan dalam hadis.
 
Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata: “Ketika menjelang Abu Thalib (paman Nabi ﷺ) meninggal dunia, Rasulullah ﷺ menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Ketika itu Nabi ﷺ mengatakan pada pamannya:
أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
 
“Wahai pamanku, katakanlah ‘Laa ilaha illalah’, yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”
 
Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah berkata:
 
يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
 
“Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthallib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Mutthalib.
 
Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan:
لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ
 
“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah.”
 
Kemudian turunlah ayat:
 
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
 
“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahanam.” [QS. At-Taubah: 113]
 
Allah ta’ala pun menurunkan ayat:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56] [HR. Bukhari no. 3884] 
 
Dari pembahasan hadis di atas dapat disimpulkan hidayah itu ada dua macam:
 
1. Hidayah Irsyad Wa Dalalah, maksudnya adalah hidayah berupa memberi petunjuk pada orang lain.
2. Hidayah Taufik, maksudnya adalah hidayah untuk membuat seseorang itu taat pada Allah.
 
Hidayah pertama bisa disematkan pada manusia. Contohnya pada firman Allah:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
 
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. Asy-Syura: 52] Memberi petunjuk yang dimaksud di sini adalah memberi petunjuk berupa penjelasan. Ini bisa dilakukan oleh Nabi dan yang lainnya.
 
Namun untuk hidayah kedua, yaitu hidayah supaya bisa beramal dan taat, TIDAK dimiliki kecuali hanya Allah saja. Seperti dalam firman Allah ta’ala:
 
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56]
 
Allah ta’ala berfirman:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
 
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]
 
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

HIKMAH DI BALIK MELEMPAR JAMARAT

HIKMAH DI BALIK MELEMPAR JAMARAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
#FikihHajiUmrah
HIKMAH DI BALIK MELEMPAR JAMARAT
 
Ringkasan Kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA hafizhahullah
Tempat: Masjid Nabawi Madinah
Hari dan Tanggal: Kamis, 16 Dzul Hijjah 1438H
 
1. Harus bersyukur bisa menunaikan ibadah agung, yaitu berhaji, karena haji mahal dan berharga. Di dalamnya terdapat Wukuf di Arafah, Mabit di Muzdalifah dan Mina, yang mana tidak semua orang diberi petunjuk dan kemudahan. Keberadaan Anda bermunajaat di Padang Arafah sungguh merupakan kenikmatan yang diimpikan jutaan Muslim di penjuru dunia. Dan Andalah yang telah terpilih.
 
2. Haji Mabrur bukan kalimat sederhana karena:
– Tidak ada pahala yang setimpal kecuali Surga.
– Membersihkan dari dosa, bahkan dosa besar, sebagaimana ia keluar dari rahim ibunya, sebagaimana kisah masuk Islamnya ‘Amr bin Al Ash radhiyallahu ‘anhu, yang Rasulullah ﷺ bersabda: “…Bahwa haji akan menghapuskan dosa-dosa sebelumnya.”
 
3. Hikmah suatu amal ibadah, jika kita mengetahuinya, maka ini adalah baik, dan menambah keteguhan iman. Tetapi jika hikmahnya tidak diketahui, maka yang harus dilakukan oleh seorang Muslim adalah tunduk dan patuh.
 
4. Secara global, hikmah ibadah haji adalah untuk berzikir mengingat Allah taala. Dalam hadis: “Sesungguhnya Thawaf di Baitullah, Sai antara Shafa dan Marwah, serta melepar Jamarat, adalah untuk mengingat Allah taala”.
 
5. Sebagian amalan haji diketahui hikmahnya seperti Sai; yaitu ketika Hajar mencari air untuk minum anaknya. yaitu Ismail. Tetapi BUKAN berarti saat sekarang seorang yang melakukan Sai, ia sedang mencari air untuk anaknya.
 
6. Asal kisah pelemparan Jamarat adalah ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ingin menyembelih Ismail atas perintah dan wahyu dari Allah. Akan tetapi ia diganggu setan sebanyak tiga kali.
 
7. Kisah penyembelihan terjadi khilaf antara versi Agama Islam dan versi Ahlu Kitab. Menurut agama Islam, yang disembelih adalah Ismail. Sedangkan menurut Ahlu Kitab yang disembelih adalah Ishaq. Namun yang benar adalah Ismail, karena kejadian penyembelihan di Mekah, dan yang tinggal di Mekah adalah Ismail, dan kaum Musliminlah yang memperingati peristiwa tersebut dengan Hari Raya Kurban setiap tahun.
 
8. TIDAK ADA SETAN di lubang Jamarat tatkala melempar, sebagaimana keyakinan sebagian orang.
 
9. Begitu juga Sai, tidak boleh meyakini mencari air, sebagaimana Hajar.
 
10. Ibrahim ‘alaihissalam saja digoda dan diganggu oleh setan, apalagi manusia biasa seperti kita. Maka harus selalu berhati-hati dan jangan merasa aman dari gangguan setan.
 
11. Nabi Ibrahim alaihissalam berdakwah kepada tauhid dari mulai muda. Ini menjadi pemicu agar kita menggunakan waktu untuk berdakwah semasa muda dan saat masih mampu.
 
12. Di antara teman yang baik adalah anak yang saleh, sebagaimana Nabi Ibrahim ketika ditolak oleh kaumnya, dan saat itu tidak ada yang beriman, maka Ibrahim berdoa untuk dianugrahkan anak saleh dan ia pun dianugrahi Ismail.
 
13. Selalu BERBAIK SANGKA KEPADA ALLAH TAALA. Mungkin sebab doa belum dikabulkan karena saat itu belum cocok untuknya dikabulkan doanya. Seperti dikabulkannya doa Nabi Ya’qub setelah puluhan tahun agar bisa bertemu dengan Yusuf, baru bertemu ketika Yusuf alaihissalam setelah dia menjadi pejabat agung di Mesir, agar bermanfaat untuk Ya’qub dan keluarganya. Begitu juga Nabi Ibrahim alaihissalam ketika berdoa minta anak semenjak berumur 20 tahun, baru dikabulkan setelah berumur 80-an tahun.
 
14. Wanita godaan terbesar bagi laki-laki, kisah Sarah dengan Raja pemimpin jahat.
 
15. Jika punya istri dua, maka jangan menceritakan kepada istri pertama kebaikan istri kedua, karena akan menjadikan istri pertama cemburu.
 
16. Salah satu sebab Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ismail, di mana Ibrahim sudah mulai terlalu cinta kepada Ismail, adalah agar tidak tercampur cintanya dengan kecintaan kepada Allah taala, karena Nabi Ibrahim adalah Khalilullah, kekasih Allah terdekat.
 
17. Mimpi seorang nabi adalah wahyu yang paling rendah.
 
18. Kalimat “Saya sedang melihat di dalam mimpi saya “, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab tafsir menunjukkan kesabaran Nabi Ibrahim untuk memberitahukan dengan lembut perkara tersebut kepada anaknya. Ini bekal untuk mendidik anak, yaitu agar santun kepada anak dalam berbuat dan berkata-kata.
 
19. Di antara sikap ujub dalam beramal adalah menyerahkan diri dan urusannya kepada dirinya sendiri, dan lupa dengan kuasa dan kekuatan Allah taala.
 
20. Ketika hendak menyembelih, posisi wajah Nabi Ismail di balik (di atas pelipis), agar Ibrahim tidak terlalu sedih melihat wajah anaknya yang sedang disembelih. Yang hal ini bisa saja menggoda beliu untuk mundur dari perintah Allah
 
21. Ujian para nabi adalah ujian yang paling berat.
 
22. Ujian terkadang bertahap-tahap. Dan jika ujiannya tambah berat. maka berarti jalan keluar sebentar lagi datang.
 
23. Seseorang diuji berdasarkan kekuatan imannya.
 
24. Di antara beratnya ujian Nabi Ibrahim:
– Diperintahkan menyembelih anak yang sangat diharapkan kehadirannya, setelah berdoa sekian lama.
– Diperintahkan menyembelih anak yang sudah sangat diharapkan sebagai penerus.
– Diperintahkan menyembelih anak yang sangat dicintai.
– Apalagi anak tersebut anak semata wayang.
– Apalagi anak tersebut sangat saleh.
 
25. Beratnya ujian Nabi Ibrahim karena beliau adalah Khalilullah.
 
26. Terkadang seseorang diuji dengan perkara sangat yang dicintai, agar yang paling patut dicintai adalah hanya Allah semata.
 
27. Di antara beratnya ujian Nabi Muhammad ﷺ:
– Diwafatkan bapak beliau sebelum beliau lahir.
– Diwafatkan ibunya ketika beliau masih belum baligh.
– Diwafatkan dua anak laki-laki beliau ﷺ, padahal masih bayi dan kecil.
– Diwafatkan sebelum beliau, tiga anak perempuan beliau sebelum beliau wafat.
 
28. Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad ﷺ, dan Nabi Isa berdoa. Ini menunjukkan, bahwa mereka bukan sembahan, tetapi mereka adalah makhluk.
 
29. Bermusyawarah dengan anak, salah satu metode dalam mendidik anak, meskipun orangtua sudah mempunyai keputusan.
28. Ujian tidak akan lebih dari kemampuan manusia, maka teruslah bersabar tatkala diuji.
 
30. Terkadang Allah memberikan pertolongan di puncak kesulitan, seperti kisah Nabi Ishaq.
 
31. Versi Ahlu Kitab bahwa yang disembelih adalah Ishaq.
 
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin Al Banjary
,

KEUTAMAAN ZIKIR RIDA ALLAH SEBAGAI RAB, ISLAM SEBAGAI AGAMA DAN MUHAMMAD SEBAGAI NABI

KEUTAMAAN ZIKIR RIDA ALLAH SEBAGAI RAB, ISLAM SEBAGAI AGAMA DAN MUHAMMAD SEBAGAI NABI

سْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

KEUTAMAAN ZIKIR RIDA ALLAH SEBAGAI RAB, ISLAM SEBAGAI AGAMA DAN MUHAMMAD SEBAGAI NABI

Rasulullah ﷺ bersabda:

Barang siapa yang pada waktu pagi mengucapkan:

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا

Rodhiitu billaahi robbaa wa bil-Islaami diinaa, wa bi-Muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama nabiyya.

Artinya:

“Aku rida Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi.”

Maka aku adalah penjamin. Benar-benar akan aku pegang tangannya, hingga aku masukkan ia ke dalam Surga [Lihat Ash Shahihah no 2686]

Di antara faidah lainnya juga adalah: Barang siapa yang mengucapkan dikir ini sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali di petang hari, maka pantas baginya mendapatkan rida Allah. [HR. Abu Daud no. 5072, Tirmidzi no. 3389. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini Hasan]

 

, ,

KISAH WANITA PEZINA YANG MEMBERI MINUM ANJING

KISAH WANITA PEZINA YANG MEMBERI MINUM ANJING

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#KisahMuslim, #MutiaraSunnah

KISAH WANITA PEZINA YANG MEMBERI MINUM ANJING

Ada hadis yang membicarakan tentang keutamaan memberikan minum pada hewan. Ini menunjukkan, bahwa Islam mengajarkan untuk berbuat baik pada setiap makhluk, termasuk pula hewan. Di antara hadis yang diangkat adalah membicarakan wanita pezina yang memberi minum anjing, dan akhirnya ia mendapatkan pengampunan dosa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا

“Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” [HR. Muslim no. 2245]

Beberapa faidah dari hadis di atas, di antaranya:

1- Yang dimaksud dengan hewan yang ditolong adalah hewan yang dihormati, yang tidak diperintahkan untuk dibunuh. Memberi minum pada hewan itu akan meraih pahala. Memberi makan juga termasuk bentuk berbuat baik padanya. Demikian penjelasan dari Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (14: 214).

2- Boleh bersafar seorang diri tanpa membawa bekal, selama tidak khawatir kesulitan berat saat safar. (Fathul Bari, 5: 42).

3- Hadis di atas juga berisi motivasi untuk berbuat baik pada manusia. Jika dengan memberikan minum pada anjing bisa mendapatkan pengampunan dosa, maka memberi minum pada manusia tentu pula akan mendapatkan pahala yang besar. (Idem)

4- Boleh memberikan sedekah sunnah pada orang musyrik, selama tidak ada yang Muslim. Namun jika ada, ia lebih berhak. (Idem)

5- Jika ada hewan yang butuh minum, manusia pun demikian. Maka manusia yang lebih didahulukan. (Idem)

6- Memberikan minum pada hewan yang membutuhkan, termasuk pula anjing, akan menuai pahala dan terhapusnya dosa.

7- Besarnya karunia Allah dan keluasan rahmat-Nya. Dia membalas dengan balasan yang besar atas perbuatan yang sedikit. Allah mengampuni dosa orang tersebut hanya dengan sedikit perbuatan, yaitu dengan memberi minum anjing.

8- Seorang Muslim pelaku dosa besar tidak divonis kafir. Bisa jadi Allah mengampuni dosa besar tanpa tobat, karena dia melakukan kebaikan, yang dengannya Allah mengampuninya. Wanita pezina itu diampuni bukan karena tobatnya, namun karena dia memberi minum anjing, sebagaimana hal itu jelas terlihat dari hadis. Tidak mengafirkan seorang Muslim karena suatu dosa adalah sesuatu yang ditetapkan di dalam syariat Taurat, juga dalam syariat Islam.

Semoga bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/7395-kisah-wanita-pezina-yang-memberi-minum-pada-anjing.html

,

PANDUAN SHALAT WITIR

PANDUAN SHALAT WITIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

PANDUAN SHALAT WITIR

Segala puji bagi Allah, Rabb yang mengatur malam dan siang. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Pada kesempatan kali ini kami akan menyajikan panduan singkat shalat Witir. Semoga yang singkat ini bermanfaat.

Witir secara bahasa berarti ganjil. Hal ini sebagaimana dapat kita lihat dalam sabda Nabi ﷺ:

إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

“Sesungguhnya Allah itu Witr dan menyukai yang Witr (ganjil).” (HR. Bukhari no. 6410dan Muslim no. 2677)

Sedangkan yang dimaksud Witir pada shalat Witir adalah shalat yang dikerjakan antara shalat Isya’ dan terbitnya fajar (masuknya waktu Subuh), dan shalat ini adalah penutup shalat malam.

Mengenai shalat Witir apakah bagian dari shalat lail (shalat malam/Tahajud) atau tidak, para ulama berselisih pendapat. Ada ulama yang mengatakan, bahwa shalat Witir adalah bagian dari shalat lail, dan ada ulama yang mengatakan bukan bagian dari shalat lail.

Hukum Shalat Witir

Menurut Mayoritas Ulama, hukum shalat Witir adalah Sunnah Muakkad (sunnah yang amat dianjurkan).

Namun ada pendapat yang cukup menarik dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, bahwa shalat Witir itu wajib bagi orang yang punya kebiasaan melaksanakan shalat Tahajud. [Al Ikhtiyarot, ‘Alaud diin Abul Hasan Ali bin Muhammad bin ‘Abbas Al Ba’li Ad Dimasyqi, hal. 57, Mawqi’ Misykatul Islamiyah]. Dalil pegangan beliau barangkali adalah sabda Nabi ﷺ:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً

“Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat Witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)

Waktu Pelaksanaan Shalat Witir

Para ulama sepakat, bahwa waktu shalat Witir adalah antara shalat Isya hingga terbit fajar. Adapun jika dikerjakan setelah masuk waktu Subuh (terbit fajar), maka itu tidak diperbolehkan menurut pendapat yang lebih kuat. Alasannya adalah sabda Nabi ﷺ:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu Subuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai Witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749, dari Ibnu ‘Umar)

Ibnu ‘Umar mengatakan:

مَنْ صَلَّى بِاللَّيْلِ فَلْيَجْعَلْ آخِرَ صَلاَتِهِ وِتْراً فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِذَلِكَ فَإِذَا كَانَ الْفَجْرُ فَقَدْ ذَهَبَتْ كُلُّ صَلاَةِ اللَّيْلِ وَالْوِتْرُ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَوْتِرُوا قَبْلَ الْفَجْرِ »

“Barang siapa yang melaksanakan shalat malam, maka jadikanlah akhir shalat malamnya adalah Witir, karena Rasulullah ﷺ memerintahkan hal itu. Dan jika fajar tiba, seluruh shalat malam dan shalat Witir berakhir, karenanya Rasulullah ﷺ bersabda: “Shalat Witirlah kalian sebelum fajar”. (HR. Ahmad 2/149. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

Lalu manakah waktu shalat Witir yang utama dari waktu-waktu tadi?

Jawabannya, waktu yang utama atau dianjurkan untuk shalat Witir adalah sepertiga malam terakhir.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ.

“Kadang-kadang Rasulullah ﷺ melaksanakan Witir di awal malam, pertengahannya dan akhir malam. Sedangkan kebiasaan akhir beliau adalah beliau mengakhirkan Witir hingga tiba waktu sahur.” (HR. Muslim no. 745)

Disunnahkan berdasarkan kesepakatan para ulama,  shalat Witir itu dijadikan akhir dari shalat Lail berdasarkan hadis Ibnu ‘Umar yang telah lewat:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً

“Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat Witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)

Yang disebutkan di atas adalah keadaan ketika seseorang yakin (kuat) bangun di akhir malam. Namun jika ia khawatir tidak dapat bangun malam, maka hendaklah ia mengerjakan shalat Witir sebelum tidur. Hal ini berdasarkan hadis Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَيُّكُمْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ ثُمَّ لْيَرْقُدْ وَمَنْ وَثِقَ بِقِيَامٍ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ آخِرِهِ فَإِنَّ قِرَاءَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَحْضُورَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ

“Siapa di antara kalian yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia Witir dan baru kemudian tidur. Dan siapa yang yakin akan terbangun di akhir malam, hendaklah ia Witir di akhir malam, karena bacaan di akhir malam dihadiri (oleh para Malaikat) dan hal itu adalah lebih utama.” (HR. Muslim no. 755)

Dari Abu Qotadah, ia berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لأَبِى بَكْرٍ « مَتَى تُوتِرُ » قَالَ أُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ. وَقَالَ لِعُمَرَ « مَتَى تُوتِرُ ». قَالَ آخِرَ اللَّيْلِ. فَقَالَ لأَبِى بَكْرٍ « أَخَذَ هَذَا بِالْحَزْمِ ». وَقَالَ لِعُمَرَ « أَخَذَ هَذَا بِالْقُوَّةِ ».

“Nabi ﷺ bertanya kepada Abu Bakar: ” Kapankah kamu melaksanakan Witir?” Abu Bakr menjawab: “Saya melakukan Witir di permulaan malam”. Dan beliau ﷺ bertanya kepada Umar, “Kapankah kamu melaksanakan Witir?” Umar menjawab: “Saya melakukan Witir pada akhir malam”. Kemudian beliau ﷺ berkata kepada Abu Bakar: “Orang ini melakukan dengan penuh hati-hati.” Dan kepada Umar beliau ﷺ mengatakan: “Sedangkan orang ini begitu kuat.” (HR. Abu Daud no. 1434 dan Ahmad 3/309. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

Jumlah Rakaat dan Cara Pelaksanaan

Witir boleh dilakukan satu, tiga, lima, tujuh atau sembilan rakaat. Berikut rinciannya.

Pertama: Witir dengan Satu Rakaat

Cara seperti ini dibolehkan oleh Mayoritas Ulama, karena Witir dibolehkan dengan satu rakaat. Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ:

الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ

“Witir adalah sebuah keharusan bagi setiap Muslim. Barang siapa yang hendak melakukan Witir lima rakaat, maka hendaknya ia melakukannya. Dan barang siapa yang hendak melakukan Witir tiga rakaat, maka hendaknya ia melakukannya. Dan barang siapa yang hendak melakukan Witir satu rakaat, maka hendaknya ia melakukannya.” (HR. Abu Daud no. 1422. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

Kedua: Witir dengan Tiga Rakaat

Di sini dapat dilakukan dengan dua cara:

[a] Tiga rakaat, sekali salam,

[b] Mengerjakan dua rakaat terlebih dahulu kemudian salam, lalu ditambah satu rakaat kemudian salam.

Dalil cara pertama:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُوتِرُ بِثَلاَثٍ لاَ يَقْعُدُ إِلاَّ فِى آخِرِهِنَّ.

“Rasulullah ﷺ biasa berwitir tiga rakaat sekaligus, beliau tidak duduk (Tasyahud) kecuali pada rakaat terakhir.” (HR. Al Baihaqi)

Dalil cara kedua:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى فِى الْحُجْرَةِ وَأَنَا فِى الْبَيْتِ فَيَفْصِلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ بِتَسْلِيمٍ يُسْمِعُنَاهُ.

“Rasulullah ﷺ shalat di dalam kamar ketika saya berada di rumah, dan beliau ﷺ memisah antara rakaat yang genap dengan yang Witir (ganjil) dengan salam yang beliau ﷺ perdengarkan kepada kami.” (HR. Ahmad 6/83. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

Ketiga: Witir dengan Lima Rakaat

Cara pelaksanaannya adalah dianjurkan mengerjakan lima rakaat sekaligus dan Tasyahud pada rakaat kelima, lalu salam. Dalilnya adalah hadis dari ‘Aisyah, ia mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ لاَ يَجْلِسُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ فِى آخِرِهَا.

“Rasulullah ﷺ biasa melaksanakan shalat malam sebanyak tiga belas rakaat. Lalu beliau berwitir dari shalat malam tersebut dengan lima rakaat. Dan beliau tidaklah duduk (Tasyahud) ketika Witir kecuali pada rakaat terakhir.” (HR. Muslim no. 737)

Keempat: Witir dengan Tujuh Rakaat

Cara pelaksanaannya adalah dianjurkan mengerjakannya tanpa duduk Tasyahud, kecuali pada rakaat keenam. Setelah Tasyahud pada rakaat keenam, tidak langsung salam, namun dilanjutkan dengan berdiri pada rakaat ketujuh. Kemudian Tasyahud pada rakaat ketujuh dan salam. Dalilnya akan disampaikan pada Witir dengan sembilan rakaat.

Kelima: Witir dengan Sembilan Rakaat

Cara pelaksanaannya adalah dianjurkan mengerjakannya tanpa duduk Tasyahud, kecuali pada rakaat kedelapan. Setelah Tasyahud pada rakaat kedelapan, tidak langsung salam, namun dilanjutkan dengan berdiri pada rakaat kesembilan. Kemudian Tasyahud pada rakaat kesembilan dan salam.

Dalil tentang hal ini adalah hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. ‘Aisyah mengatakan:

كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَطَهُورَهُ فَيَبْعَثُهُ اللَّهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّى تِسْعَ رَكَعَاتٍ لاَ يَجْلِسُ فِيهَا إِلاَّ فِى الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَىَّ فَلَمَّا أَسَنَّ نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَنَعَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ مِثْلَ صَنِيعِهِ الأَوَّلِ فَتِلْكَ تِسْعٌ يَا بُنَىَّ

“Kami dulu sering memersiapkan siwaknya dan bersucinya. Setelah itu Allah membangunkannya sekehendaknya untuk bangun malam. Beliau lalu bersiwak dan berwudhu` dan shalat sembilan rakaat. Beliau tidak duduk dalam kesembilan rakaat itu selain pada rakaat kedelapan, beliau menyebut nama Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian beliau bangkit dan tidak mengucapkan salam. Setelah itu beliau berdiri dan shalat untuk rakaat kesembilannya. Kemudian beliau berzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, lalu beliau mengucapkan salam dengan nyaring agar kami mendengarnya. Setelah itu beliau shalat dua rakaat setelah salam sambil duduk. Itulah sebelas rakaat wahai anakku. Ketika Nabiyullah berusia lanjut dan beliau telah merasa kegemukan, beliau berwitir dengan tujuh rakaat, dan beliau lakukan dalam dua rakaatnya, sebagaimana yang beliau lakukan pada yang pertama. Maka itu berarti sembilan wahai anakku.” (HR. Muslim no. 746)

Qunut Witir

Tanya:  Apa hukum membaca doa Qunut setiap malam ketika (shalat sunnah) Witir?

Jawab: Tidak masalah mengenai hal ini. Doa Qunut (Witir) adalah sesuatu yang disunnahkan. Nabi ﷺ pun biasa membaca Qunut tersebut. Beliau ﷺ pun pernah mengajari (cucu beliau) Al Hasan beberapa kalimat Qunut untuk shalat Witir. Ini termasuk hal yang disunnahkan. Jika engkau merutinkan membacanya setiap malamnya, maka itu tidak mengapa. Begitu pula jika engkau meninggalkannya suatu waktu sehingga orang-orang tidak menyangkanya wajib, maka itu juga tidak mengapa. Jika imam meninggalkan membaca doa Qunut suatu waktu dengan tujuan untuk mengajarkan manusia bahwa hal ini tidak wajib, maka itu juga tidak mengapa. Nabi ﷺ ketika mengajarkan doa Qunut pada cucunya Al Hasan, beliau ﷺ tidak mengatakan padanya: “Bacalah doa Qunut tersebut pada sebagian waktu saja”. Sehingga hal ini menunjukkan, bahwa membaca Qunut Witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan. [Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, Fatawa Nur ‘alad Darb, 2/1062]

Doa Qunut Witir yang dibaca terdapat dalam riwayat berikut.

Al Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah ﷺ mengajariku beberapa kalimat yang saya ucapkan dalam shalat Witir, yaitu:

اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

ALLOHUMMAHDINII FII MAN HADAIIT,
WA ‘AAFINII FII MAN ‘AAFAIIT,
WA TAWALLANII FI MAN TAWALLAIIT,
WA BAARIK LII FIIMAA A’ THOIIT,
WA QINII SYARRO MAA QODHOIIT,
 
FA INNAKA TAQDHII WA LAA YUQDHO ‘ALAIIK,
WA INNAHU LAA YADZILLU MAN WAALAIIT,
WA LAA YA’IZZU MAN ‘AADAIIT,
TABAAROKTA ROBBANAA WA TA ’AALAIT.
 
Artinya:
Ya Allah, berikanlah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau berikan petunjuk;
Berilah aku keselamatan sebagaimana orang-orang yang telah Engkau berikan keselamatan;
Lindungilah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau lindungi;
Berkahilah semua yang telah Engkau berikan kepadaku;
Lindungilah aku dari kejelekan takdir-Mu;
 
Sesungguhnya Engkau menakdirkan dan tidak ada yang menentukan takdir bagi-Mu;
Sesungguhnya orang yang Engkau cintai tidak akan pernah menjadi hina dan orang yang Engkau musuhi tidak akan pernah menjadi mulia.
Maha Berkah dan Maha Tinggi Engkau, wahai Rabb kami.
(HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

 

Bagaimana Jika Luput dari Shalat Witir?

Tanya: Apakah shalat Witir itu wajib? Apakah kami nanti berdosa jika suatu hari kami mengerjakan shalat tersebut dan di hari yang lainnya kami tinggalkan?

Jawab: Hukum shalat Witir adalah Sunnah Muakkad (sangat dianjurkan). Oleh karenanya sudah sepatutnya setiap Muslim menjaga shalat Witir ini. Sedangkan orang yang kadang-kadang saja mengerjakannya (suatu hari mengerjakannya dan di hari lain meninggalkannya), ia tidak berdosa. Akan tetapi, orang  seperti ini perlu dinasihati, agar ia selalu menjaga shalat Witir. Jika suatu saat ia luput mengerjakannya, maka hendaklah ia menggantinya di siang hari dengan jumlah rakaat yang genap. Karena Nabi ﷺ jika luput dari shalat Witir, beliau ﷺ selalu melakukan seperti itu. Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadis dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:  “Jika beliau ketiduran atau sedang sakit sehingga tidak dapat melakukannya di malam hari, maka beliau shalat di waktu siangnya sebanyak dua belas rakaat” (HR. Muslim).

Nabi ﷺ biasanya melaksanakan shalat malam sebanyak sebelas rakaat. Beliau ﷺ salam setiap kali dua rakaat, lalu beliau ﷺ berwitir dengan satu rakaat. Jika luput dari shalat malam karena tidur atau sakit, maka beliau ﷺ mengganti shalat malam tersebut di siang harinya dengan mengerjakan dua belas rakaat. Inilah maksud dari ucapan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tadi. Oleh karena itu, jika seorang Mukmin punya kebiasaan shalat di malam hari sebanyak lima rakaat, lalu ia ketiduran atau luput dari mengerjakannya, hendaklah ia ganti shalat tersebut di siang harinya dengan mengerjakan shalat enam rakaat. Ia kerjakan dengan salam setiap dua rakaat. Demikian pula jika seseorang biasa shalat malam tiga rakaat, maka ia ganti dengan mengerjakan di siang harinya empat rakaat, ia kerjakan dengan dua kali salam. Begitu pula jika ia punya kebiasaan shalat malam tujuh rakaat, maka ia ganti di siang harinya dengan delapan rakaat, ia kerjakan dengan salam setiap dua rakaat.

Hanya Allah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. [Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, ditandangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku Ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku Wakil Ketua, Abdullah bin Qu’ud dan Abdullah bin Ghodyan selaku Anggota, pertanyaan kedua no. 6755, 7/172-173]

Sudah Witir Sebelum Tidur dan Ingin Shalat Malam Di Akhir Malam

Tanya: Apakah sah shalat sunnah yang dikerjakan di seperti malam terakhir, namun sebelum tidur telah shalat Witir?

Jawab: Shalat malam itu lebih utama dikerjakan di sepertiga malam terakhir, karena sepertiga malam terakhir adalah waktu Nuzul Ilahi (Allah turun ke langit dunia). Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadis yang Shahih, Nabi ﷺ bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman (yang artinya): ‘Adakah seorang yang meminta? Pasti Aku akan memberinya. Adakah seorang yang berdoa? Pasti Aku akan mengabulkannya. Dan adakah seorang yang memohon ampunan? Pasti Aku akan mengampuninya’. Hal ini berlangsung hingga tiba waktu fajar.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah).

Hadis ini menunjukkan, bahwa shalat di sepertiga malam terakir adalah sebaik-baiknya amalan. Oleh karena itu, lebih utama jika shalat malam itu dikerjakan di sepertiga malam terakhir. Begitu pula untuk shalat Witir, lebih utama untuk dijadikan sebagai akhir amalan di malam hari. Inilah yang ditunjukkan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya: “Jadikanlah akhir shalatmu di malam hari adalah shalat Witir ” (HR. Bukhari, dari Abdullah bin ‘Umar).

Jadi, jika seseorang telah mengerjakan Witir di awal malam, lalu ia bangun di akhir malam, maka tidak mengapa jika ia mengerjakan shalat sunnah di sepertiga malam terakhir. Ketika itu ia cukup dengan amalan shalat Witir yang dikerjakan di awal malam saja, karena Nabi ﷺ MELARANG mengerjakan dua Witir dalam satu malam. [Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhohullah, Al Muntaqo min Fatawa Al Fauzan no. 41, 65/19]

Semoga panduan shalat Witir ini bermanfaat bagi pembaca sekalian. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel www.rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/1006-panduan-shalat-Witir.html

 

 

,

APA FAIDAH BERDOA SEMENTARA TAKDIR TIDAK MUNGKIN DITOLAK?

APA FAIDAH BERDOA SEMENTARA TAKDIR TIDAK MUNGKIN DITOLAK?

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

APA FAIDAH BERDOA SEMENTARA TAKDIR TIDAK MUNGKIN DITOLAK?

Pertanyaan ini telah dijawab oleh Imam Nawawi di dalam kitab Al Adzkar. Beliau menukilkan perkataan Imam Ghazali yang mengatakan:

‘Ketahuilah, sejatinya menolak musibah dengan doa adalah termasuk takdir Allah. Doa merupakan sebab untuk menolak musibah dan sekaligus sebab terwujudnya rahmat. Hal ini bagaikan perisai yang merupakan sebab untuk menangkis senjata, atau air yang merupakan sebab tumbuhnya tanaman dari dalam bumi. Sebagaimana perisai dan anak panah yang saling menyerang dan menahan, demikian pula halnya doa dan musibah. Dan dalam mengakui takdir, tidak disyaratkan untuk meninggalkan senjata saat perang. Allah ta’ala berfirman:

وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُم وَأَسْلِحَتِهِمْ

“Hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata mereka.” (QS. An Nisaa:102)

Betul, Allah telah menakdirkan segala sesuatu. Namun Allah jualah yang telah menakdirkan sebab-sebabnya.

Berikutnya, yang juga termasuk faidah dari doa adalah hadirnya hati dan rasa butuh kepada Allah. Keduanya merupakan puncak akhir dari pengahambaan diri dan makrifat kepada Allah. Wallahu a’lam.” [Al Adzkar, hal: 354]

 

Sumber: https://muslim.or.id/19063-dzikir-dan-doa-mohon-perlindungan-dari-bahaya.html

, ,

RAIHLAH KEBERKAHAN DENGAN MAKAN SAHUR

RAIHLAH KEBERKAHAN DENGAN MAKAN SAHUR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SeriPuasaRamadan
#SifatPuasaNabi

RAIHLAH KEBERKAHAN DENGAN MAKAN SAHUR

Pertama: Makna Makan Sahur

Makan sahur artinya:

كل طعامٍ أو شرابٍ يَتَغَذَّى به آخر الليل في السحر من أراد الصيام

“Setiap makanan dan minuman yang dimakan oleh orang yang hendak berpuasa di akhir malam, di waktu sahur.” [Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 247]

Kedua: Hukum Makan Sahur

Ulama seluruhnya sepakat, bahwa makan sahur hukumnya sunnah, sebagaimana yang dinukil oleh Ibnul Mundzir rahimahullah. [Lihat Fathul Baari, 4/139]. Karena itu, makan sahur tidak memengaruhi sah atau tidaknya puasa. Andaikan seseorang berpuasa tanpa makan sahur, maka puasanya sah. Bahkan tetap wajib baginya untuk berpuasa Ramadhan, walau tidak sempat makan sahur. Dan tidak ada dosa baginya apabila tidak makan sahur dengan sengaja. Namun ia tidak mendapatkan keutamaan dan keberkahan sahur yang melimpah.

Ketiga: Waktu Makan Sahur

Waktu sahur adalah sepertiga malam yang terakhir sampai terbit fajar. [Lihat Lisaanul Arab, 4/350, sebagaimana dalam Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 247] Disebut makan sahur, karena dilakukan di waktu sahur. Dan yang lebih afdhal dilakukan di akhir waktu sahur. Rasulullah ﷺ bersabda:

بكِّروا بالإفطارِ، وأخِّروا السحورَ

“Segerakanlah berbuka dan akhirkanlah sahur.” [HR. Ibnu Adi dan Ad-Dailami dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1773]

Tabi’in yang Mulia ‘Amr bin Maimun rahimahullah berkata:

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَعْجَلَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهَمْ سُحُورًا

“Dahulu para sahabat Rasulullah ﷺ paling cepat berbuka dan paling lambat makan sahur.” [Diriwayatkan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro: 8127]

Keempat: Akhir Waktu Sahur

Akhir waktu sahur adalah mendekati waktu Subuh seukuran membaca 50 ayat, dan itulah waktu terbaik untuk makan sahur. Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhu, beliau berkata:

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

“Kami makan sahur bersama Nabi ﷺ, kemudian beliau bangkit untuk sholat Subuh.” Aku (Anas bin Malik) berkata: Berapa jarak antara azan dan sahur? Beliau (Zaid bin Tsabit) berkata: “Seukuran membaca 50 ayat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً أَيْ مُتَوَسِّطَةً لَا طَوِيلَةً وَلَا قَصِيرَةً لَا سَرِيعَةً وَلَا بَطِيئَةً

“Seukuran 50 ayat adalah yang pertengahan, tidak panjang dan tidak pendek, tidak dibaca cepat dan tidak pula lambat.” [Fathul Baari, 4/138]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

خمسون آية: من عشر دقائق إلى ربع الساعة إذا قرأ الإنسان قراءة مرتلة أو دون ذلك وهذا يدل على أن الرسول صلى الله عليه وسلم يؤخر السحور تأخيرا بالغا وعلى أنه يقدم صلاة الفجر ولا يتأخر

“Seukuran membaca 50 ayat adalah sekitar 10 sampai 15 menit, apabila seseorang membaca dengan perlahan-lahan atau sedikit lambat. Dan ini menunjukkan bahwa Rasul ﷺ benar-benar mengakhirkan waktu makan sahur dan bahwa beliau bersegera untuk sholat Subuh dan tidak terlambat.” [Syarhu Riyadhis Shaalihin, 5/285]

Hadis yang mulia ini juga menunjukkan, bahwa selesainya makan sahur sebelum terbit fajar. Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata:

فِيهِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّ الْفَرَاغَ مِنَ السُّحُورِ كَانَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ

“Dalam hadis ini ada petunjuk, bahwa selesai makan sahur sebelum terbit fajar.” [Fathul Baari, 4/138-139]

 

Bahkan azan yang dimaksud dalam hadis yang mulia ini adalah iqomah, sebagaimana ditegaskan dalam lafal yang lain, dari Anas bin Malik, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhuma, beliau berkata:

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ: كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: خَمْسِينَ آيَةً

“Kami makan sahur bersama Rasulullah ﷺ, kemudian kami bangkit menuju sholat. Aku (Anas) berkata: Berapa ukuran antara selesainya makan sahur dan sholat? Beliau (Zaid) berkata: Seukuran membaca 50 ayat.” [HR. Muslim]

Dan kata azan sering kali digunakan untuk makna iqomah, di antaranya dalam sabda Rasulullah ﷺ,

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ، قَالَهَا ثَلَاثًا، قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: ِمَنْ شَاءَ

“Di antara setiap dua azan ada sholat. Beliau mengatakannya tiga kali, dan beliau berkata pada yang ketiga: Bagi siapa yang mau melakukannya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mughoffal radhiyallahu’anhu]

Kelima: Permasalahan Waktu Imsak

Kapan mulai Imsak (menahan diri, tidak boleh lagi makan dan minum serta melakukan seluruh pembatal puasa)? Hadis yang mulia di atas menunjukkan, bahwa waktu selesainya makan sahur Rasulullah ﷺ dan sholat Subuh adalah seukuran membaca 50 ayat. Akan tetapi itu tidak bermakna puasa telah dimulai dan tidak boleh makan dan minum lagi, karena mulainya puasa adalah setelah terbitnya fajar (masuk waktu Subuh), sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” [Al-Baqoroh: 187]

Fajar yang dimaksud adalah fajar yang kedua atau Fajar Shodiq, yaitu garis putih atau cahaya putih yang membentang secara horizontal di ufuk, dari Utara ke Selatan. [Dalam istilah Astronomi disebut: “Zodiacal light”]. Apabila fajar tersebut telah muncul, maka masuklah waktu Subuh dan itulah awal waktu puasa, tidak boleh lagi makan dan minum, atau melakukan satu pembatal puasa.

Sedang fajar yang pertama atau Fajar Kadzib adalah garis putih atau cahaya putih yang memanjang secara vertikal, [Dalam istilah Astronomi disebut: “Twilight”] tidak membentang. [Lihat Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 248-252]

Adapun penetapan waktu Imsak sebelum terbit fajar maka termasuk mengada-ada dalam agama, tidak ada contohnya dari Rasulullah ﷺ. [Lihat Fathul Baari, 4/199]

Keenam: Anjuran Makan Sahur Bersama

Dalam hadis yang mulia di atas juga terdapat anjuran makan sahur bersama-sama, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhu. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وَفِيهِ الِاجْتِمَاعُ عَلَى السُّحُورِ

“Dalam hadis ini ada anjuran bersama-sama makan sahur.” [Fathul Baari, 4/138]

Ketujuh: Adakah Menu Makan Sahur yang Dianjurkan?

Tidak ada jenis makanan yang diharuskan untuk makan sahur. Namun dianjurkan makan kurma, dan dibolehkan memakan apa saja yang halal, walau hanya seteguk air. Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

“Sebaik-baik makanan sahur seorang Mukmin adalah kurma.” [HR. Abu Daud dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallaahu’ahu, Ash-Shahihah: 562]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

تَسَحَّرُوا وَلَوْ بِجَرْعَةٍ مِنْ مَاء

“Makan sahurlah kalian, walau hanya dengan seteguk air.” [HR. Ibnu Hibban dari Ibnu ‘Amr radhiyallaahu’anhuma, Shahihut Targhib: 1071]

Kedelapan: Apa Saja Keberkahan Makan Sahur?

Keberkahan maknanya adalah kebaikan yang melimpah dan terus-menerus ada, dan sungguh keberkahan makan sahur sangat banyak. Rasulullah ﷺ bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَة

“Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makan sahur itu ada keberkahan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

Di antara keberkahan makan sahur: [Lihat Syarhu Riyadhis Shaalihin, 5/284-285.]

  • 1) Ibadah kepada Allah ta’ala.
  • 2) Menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ.
  • 3) Lebih menguatkan orang yang berpuasa untuk dapat berpuasa sampai terbenam matahari, dan tetap melakukan ibadah-ibadah yang lain.
  • 4) Memudahkan sholat Subuh berjamaah, karena itulah disunnahkan makan sahur mendekati waktu Subuh.
  • 5) Menyelisihi puasa Yahudi dan Nasrani. Rasulullah ﷺ bersabda:

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

“Pembeda antara puasa kita dan puasa Ahlul Kitab adalah makan sahur.” [HR. Muslim dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallaahu’anhuma]

  • 6) Memanfaatkan waktu terbaik untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah di waktu sahur, karena sepertiga malam yang terakhir adalah waktu terbaik untuk berdoa, [Lihat Fathul Baari. 4/140]. Dan makan sahur itu sendiri adalah doa ibadah, karena doa terbagi dua: Doa ibadah dan doa permohonan. [Sebagaimana telah kami terangkan secara ringkas dalam buku Tauhid, Pilar Utama Membangun Negeri]
  • Maka merugilah orang yang menghabiskan waktu sahur untuk bermain-main atau menonton acara-acara hiburan, yang pada umumnya mengandung maksiat kepada Allah jalla wa ‘ala.
  • 7) Mendapatkan sholawat Allah ta’ala dan malaikat, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

“Sahur adalah makan yang penuh berkah. Maka janganlah kalian tinggalkan, walau seorang dari kalian hanya meminum seteguk air, karena sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla dan para malaikat-Nya bersholawat untuk orang-orang yang makan sahur.” [HR. Ahmad dan Ibnu Hibban dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 3683]

Sholawat Allah ta’ala atas mereka maknanya mencakup pemaafan-Nya, rahmat-Nya dan ampunan-Nya dicurahkan untuk mereka. Adapun sholawat malaikat atas mereka adalah mendoakan dan memohonkan ampun kepada Allah ta’ala untuk mereka.

  • 8) Mendapatkan pahala ibadah makan sahur karena meneladani Rasulullah ﷺ. [Lihat Fathul Baari, 4/140]
  • 9) Menambah semangat dan menghilangkan kemalasan yang disebabkan oleh rasa lapar. [Lihat Fathul Baari, 4/140]
  • 10) Menjadi sebab bersedekah kepada orang yang membutuhkan makan sahur, dan atau makan bersamanya. [Lihat Fathul Baari, 4/140]

Kesembilan: [Faidah Penting] Amalan Batin Saat Makan Sahur

Hendaklah orang yang makan sahur memilik amalan batin, tidak sekedar makan biasa. Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

إنه ينبغي للإنسان حين تسحره أن يستحضر أنه يتسحر امتثالا لأمر الله ورسوله ويتسحر مخالفة لأهل الكتاب وكرها لما كانوا عليه ويتسحر رجاء البركة في هذا السحور ويتسحر استعانة به على طاعة الله حتى يكون هذا السحور الذي يأكله خيرا وبركة وطاعة والله الموفق

“Sungguh sepatutnya bagi seseorang, ketika makan sahur hendaklah menghadirkan dalam hatinya, bahwa ia melakukannya dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan demi menyelisihi Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani), serta membenci perbuatan mereka yang tidak mau makan sahur. Dan hendaklah ia makan sahur dalam rangka mengharap keberkahan dari Allah, dan menguatkannya untuk taat kepada Allah. Sehingga dengan niat-niat tersebut, makan sahurnya bernilai kebaikan, keberkahan dan ketaatan kepada Allah. Wallaahul muwaafiq.” [Syarhu Riyadhis Shaalihin, 5/285]

Kesepuluh: Apabila Mendengar Azan Subuh Saat Makan Sahur

Apa yang harus dilakukan oleh orang yang sedang makan sahur dan mendengar azan Subuh? Apabila ia yakin bahwa waktu sholat Subuh telah masuk, yaitu mu’adzin tidak salah waktu, maka wajib baginya untuk segera menghentikan makan sahurnya saat itu juga. Namun apabila ia masih ragu maka boleh baginya meneruskan makannya sampai ia yakin bahwa waktu Subuh telah masuk, karena pada asalnya adalah tetapnya malam. [Lihat Taudhihul Ahkam, 3/472 dan Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/284, no. 6468]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

——————————

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

http://sofyanruray.info/raihlah-keberkahan-dengan-makan-sahur/

, ,

KIAT-KIAT MERAIH AMPUNAN PADA WAKTU RAMADAN

KIAT-KIAT MERAIH AMPUNAN PADA WAKTU RAMADAN

بسم الله الرحمن الرحيم

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

KIAT-KIAT MERAIH AMPUNAN PADA WAKTU RAMADAN

 

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله نبينا محمد و آله و صحبه ومن وله

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده و رسوله

قال الله تعالى في كتابه الكريم يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته و لا تموتن إلا و انتم مسلمون أما بعد

Ya ayuhal ikhwah,

Alhamdulillah, Ramadan mungkin tidak sampai seminggu lagi akan kita jelang.

Dan tentunya bagi seorang Mukmin, datangnya Ramadan memberikan angin (harapan) yang besar, karena seorang Mukmin itu, kata Rasulullah ﷺ, bergembira dengan ketaatan. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَاتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَاتُهُ فَذَلِكُمْ الْمُؤْمِنُ

”Barang siapa yang merasa bergembira dengan amal kebaikan dia, dan merasa susah dengan amal keburukan dia, maka tandanya dia seorang Mukmin.” [HR. At Tirmidzi nomor 2165]

Seorang Mukmin dengan datangnya Ramadan, dia menaruh harapan kepada Allah ﷻ, untuk mendapatkan ampunan yang paling besar. Oleh karena itulah, ketika datang Ramadan, seorang Mukmin berada di antara dua keadaan:

  • a. Berharap ampunan
  • b. Khawatir tidak mendapatkan ampunan Allah ﷻ.

Kenapa khawatir?

Karena adanya hadis yang mengancam ketika telah selesai bulan Ramadan, dia tidak mendapatkan ampunan dari Allah ﷻ.

Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Rasulullah ﷺ bersabda:

 شَقِيَ عَبْدٌ

”Celaka seorang hamba.”

Dalam riwayat lain:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

”Celaka seorang hamba (semoga terhina seorang hamba), masuk padanya Ramadan, kemudian dia keluar dari Ramadan, dalam keadaan tidak mendapatkan ampunan Allah ﷻ.” [HR. Tirmidzi nomor 3545]

Didoakan oleh Rasulullah ﷺ dengan kecelakaan.

Siapa?

Orang yang masuk Ramadan, kemudian ketika bulan Ramadan, dia tidak meraih ampunan dari Allah ﷻ. Ini yang membuat kita khawatir dan cemas.

Apakah nanti Ramadan ini kita termasuk orang yang diampuni dosanya atau tidak?

Maka dari itu, ya akhi aazakumullah, berdasarkan hadis ini, bahwa seorang Mukmin hendaknya bersungguh-sungguh untuk mendapatkan dan meraih ampunan Allah di saat Ramadan.

Ya akhi aazakumullah.

Sebetulnya meraih ampunan saat Ramadan tidaklah sulit, bagi mereka yang diberikan kemudahan oleh Allah ﷻ.

Kenapa?

Karena sebab-sebab untuk mendapatkan ampunan Ramadan itu sangatlah banyak.

Kiat agar kita bisa meraih ampunan di bulan Ramadan, yaitu:

[1] Tauhid dan Ikhlas

Tauhidullah dan mengikhlaskan amal ibadah kita kepada Allah ﷻ.

Sebab amalan tidak akan diterima oleh Allah, kecuali dengan dua syarat:

  • a. Ikhlas
  • b. Mutaba’atu Rasulullah ﷺ.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّين

”Dan tidaklah mereka diperintahkan, kecuali agar mereka beribadah hanya kepada Allah saja, dengan mengikhlaskan ibadah itu hanya kepada Allah.” [QS Al Bayyinah: 5]

Pahala tauhid sangat besar di sisi Allah ﷻ. Bahkan tidak ada amal yang paling berat dalam timbangan, bahkan tidak ada amalan yang merupakan sebab utama mendapatkan ampunan, kecuali dengan tauhidullahi jalla wa ‘ala.

Imam At Tirmidzi meriwayatkan sebuah Hadis Qudsi, bahwasanya Allah ﷻ berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

”Wahai anak Adam, jika kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian kamu bertemu dengan-Ku (meninggal dunia) dalam keadaan kamu tidak memersekutukan Aku sedikit pun juga, maka Aku akan datang membawa ampunan dengan sepenuh bumi.” [HR. At Tirmirdzi nomor 3540]

Subhanallah. Orang yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah, walaupun dosanya sepenuh bumi kata Rasulullah ﷺ, maka Allah akan datang membawa ampunan sepenuh bumi. Tapi syaratnya satu, yaitu MENINGGAL DALAM KEADAAN TIDAK MEMERSEKUTUKAN ALLAH SEDIKIT PUN JUGA.

Maka dari itulah ya akhi, sebab yang paling besar untuk mendapat dan meraih ampunan di sisi Allah ketika Ramadan, yaitu yang terpenting adalah IKHLAS dan TAUHIDULLAH JALLA WA ‘ALA.

Mengikhlaskan ibadah puasa kita karena Allah, mengikhlaskan seluruh amal kita karena Allah. Oleh karenya Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

”Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena keimanan dan mengharap pahala, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [HR. Bukhari nomor 2014]

Ini adalah syarat yang harus dipenuhi, agar kita mendapatkan ampunan dari Allah ﷻ dan ini merupakan syarat mutlak Tauhidullahi Jalla wa ‘ala (menauhidkan Allah ﷻ)

[2] Banyak Istighfar

Memerbanyak istighfar kepada Allah ﷻ.

Karena orang yang beristighfar dan memohon ampunan kepada Allah ﷻ dengan sungguh-sungguh, pasti akan Allah ampuni dia. Rasulullah ﷺ bersabda, Allah ﷻ berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ

”Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, Aku akan ampuni dosa-dosamu.” [HR. Tirmidzi nomor 3540]

Masya Allah.

Oleh karenanya Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk banyak beristighfar. Kata Rasulullah ﷺ:

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

”Keberuntungan (pohon Thuba di dalam Jannah), bagi seseorang yang mendapatkan banyak istighfar di lembar catatan amalannya.” [HR. Ibnu Majah nomor 3818]

Dan ketika kita banyak istghfar, kita akan diberi keuntungan yang banyak oleh Allah ﷻ di dunia dan Akhirat.

Di dunia, orang yang banyak istighfar dibukakan pintu rezekinya. Allah ﷻ berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا(١٠)يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا(١١) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا( ١٢)

”Kata Nabi Nuh ‘alayhissalam: Aku berkata kepada kaumku, Wahai kaumku beristighfarlah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun. Niscaya Allah akan mengirimkan kepadamu hujan yang lebat, dan Allah akan memberikan kepadamu harta dan anak-anak, dan Allah akan menjadikan untuk kalian kebun-kebun dan sungai-sungai yang mengalir.” [QS Nuh: 10-12]

Dengan istighfar membuka pintu-pintu rezeki. Orang yang banyak istighfar, Allah akan bukakan pintu-pintu rezeki untuk dia. Bahkan dengan istighfar memberikan kekuatan badan, sebagaimana Allah berfirman:

 وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ

”Dan Allah akan tambahkan kekuatan di atas kekuatan kalian.” [QS Hud: 52]

Kata Syaikh Abdurahman As Sa’di:

“Ayat ini menunjukan, bahwa istighfar bisa memberikan kekuatan kepada tubuh.”

Oleh karenanya, banyaklah istighfar.

Setiap hari Rasulullah ﷺ beristighfar 100 kali, padahal Rasulullah ﷺ sudah diampuni dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang. Sedangkan kita? Kita tidak ada jaminan, maka perbanyaklah istighfar kepada Allah ﷻ.

[3] Berdoa

Berdoa dan selalu berharap kepada Allah ﷻ. Karena bulan Ramadan adalah bulan yang berkah, kita memerbanyak berdoa dan berharap kepada Allah ﷻ.

Disebutkan di dalam hadis riwayat At Tirmidzi, Rasulullah ﷺ bersabda, Allah ta’ala berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ

Hai anak Adam, sesungguhnya selama engkau masih berdoa dan berharap kepada-Ku, “Tuhan ampuni dosaku,” Aku tidak peduli bagaimana besar dosamu itu.

Allah mengatakan:

“Selama kamu, hai anak Adam, terus berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan ampuni dosamu.”

Banyak berdoa dan berharap kepada Allah saja sudah mengugurkan dosa dan membuka pintu-pintu ampunan dari Allah (Maghfiratulminallah).

Oleh karena, itu di saat Ramadan, kita banyak berdoa kepada Allah ﷻ, terutama di waktu-waktu yang diijabah seperti:

  • √ Sepertiga malam terakhir
  • √ Akhir malam.
  • √ Antara azan dan iqamah.
  • √ Ketika sedang berpuasa.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ada tiga doa yang diijabah, di antaranya:

 دعوة الصّاءم

Doa orang yang sedang berpuasa.

Doa orang yang sedang berpuasa diijabah oleh Allah ﷻ.

[4] Bersungguh-Sungguh Menyempurnakan Puasa Kita

Kita berpuasa berusaha untuk sempurna. Bagaimana menyempurnakan puasa?

Kita betul-betul melaksanakan puasa seperti yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Banyak di antara kita yang berpuasa hanya sebatas menahan diri dari makan dan minum, sementara lisannya masih membicarakan orang lain (ghibah), telingganya masih mendengar hal-hal yang yang dibenci oleh Allah ﷻ, matanya masih melihat sesuatu yang dilarang oleh syariat kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الصِّيَامِ مِنَ الْأَكْلِ الشَّرَابِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ الّغْوِ وَالرَّفَتِ

”Bukanlah puasa itu sebatas menahan dari lapar dan haus, tetapi hakikat puasa itu menahan diri dari perbuatan yang sia-sia, dan ucapan-ucapan yang tidak layak (rafats).”

[HR Ibnu Majah dan Hakim, Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib nomor 1082 mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Bayangkan!

Ketika kita sedang berpuasa, perkara-perkara yang sia-sia saja harus ditinggalkan. Sementara kita, ketika sedang berpuasa, sering melakukan hal-hal yang sia-sia.

Seperti:

Ngabuburit (istilah Sunda), menghabiskan waktu menunggu waktu azan Maghrib, menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Sementara kata Rasulullah ﷺ, puasa itu hakikatnya menahan diri dari perkara yang tidak bermanfaat. Yang tidak bermanfaat saja kita disuruh untuk meninggalkannya, Subhanallah.

Ngabuburit yang paling bagus adalah dengan membaca Alquran atau duduk di majelis taklim.

Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala. Kata Rasulullah ﷺ:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut, kecuali rasa lapar dan dahaga.”

[HR Ath Thabraniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targib wa At Tarhib nomor 1084 mengatakan bahwa hadis ini Shahih Ligairihi –yaitu Shahih dilihat dari jalur lainnya]

Berpuasa itu ibadah. Tapi kita ini membutuhkan pertolongan Allah dalam ibadah. Allah ﷻ berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

”Hanya kepada Engkau kami beribadah, dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.” [QS Al Fathihah: 5]

Kata Syaikh Utsaimin, Allah menyebutkan setelah ibadah adalah meminta pertolongan.

Kenapa?

Karena ibadah itu berat. Kalau bukan karena pertolongan Allah, kita tidak bisa menyempurnakan dan merealisasikan ibadah kepada Allah ﷻ.

Maka kita harus minta kepada Allah:

  • √ Minta tolong kepada Allah, supaya dibantu dalam puasa kita,
  • √ Minta tolong kepada Allah, supaya bisa menyempurnakan puasa kita.

Untuk senantiasa di hari-hari ketika kita sedang berpuasa, kita bisa meninggalkan maksiat, kita bisa meninggalkan perkara-perkara yang tidak berguna.

Oleh karenanya Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

”Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, dan terus menerus mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan rasa lapar dan haus yang dia tahan.” [HR. Bukhari nomor 1903]

⇒Allah tidak membutuhkan puasa orang seperti ini.

Ini adalah sebab keempat datangnya ampunan ketika Ramadan, yaitu bersungguh-sungguh menyempurnakan puasa Ramadan.

[5] Bersungguh-Sungguh Menjaga Shalat Tarawih (Shalat Tahajjud ketika Ramadan)

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

”Barang siapa yang bangun pada waktu Ramadan karena keimanan dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [HR. Bukhari 2014 dan Muslim 760]

Maksudnya bangun di waktu malam saat Ramadan.

Kalau di Indonesia, masjid-masjid penuh di awal Ramadan, hari ke-15 tambah maju, hari ke-20 tambah lagi, semakin dekat hari raya, kembali lagi seperti semula, orang-orang sudah tidak sabar ingin segera berhari raya.

Dahulu para Salafus Shalih, ketika Ramadan hendak selesai, mereka bertambah kesungguhannya di dalam ibadah. Sementara kita hanya bisa menghitung hari untuk Lebaran.

Kenapa?

  • √ Karena kita tidak menikmati lezatnya ibadah Ramadan.
  • √ Karena kita tidak merasakan lezatnya berpuasa.
  • √ Karena kita masih menganggap puasa adalah beban.
  • √ Karena kita menganggap Ramadan adalah beban.

Masya Allah.

Maka dari itulah, jaga baik-baik shalat Tarawih, terutama shalat Tarawih berjamaah bersama imam, sebagaimana Al Imam Ibnu Khuzaimah meriwayatkan di dalam Shahihnya dari hadis Abu Dzar radhiyallahu ta’ala ‘anhu. Abu Dzar berkata:

“Rasulullah ﷺ shalat Tarawih berjamaah pada malam ke-23 sampai sepertiga malam pertama, kemudian di malam ke-24 Rasulullah ﷺ tidak keluar. Di malam ke-25 Rasulullah ﷺ kembali shalat Tarawih berjamaah sampai pertengahan malam.”

Setelah selesai shalat Abu Dzar berkata:

“Wahai Rasulullah, masih tersisa malam, bagaimana kalau kita shalat kembali?”

Kemudian Rasulullah ﷺ berkata:

مَنْ قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة

”Barang siapa Qiyam bersama imam sampai selesai, maka akan dicatat untuknya shalat semalam penuh.” [HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, An Nasai’ dan lainya, lihat Al Ijabat Al Bahiyyah, 7]

Masya Allah.

Oleh karenanya jangan sia-siakan shalat berjamaah Tarawih di masjid bersama imam sampai selesai karena pahalanya besar di sisi Allah (sama dengan shalat semalam suntuk).

Masya Allah.

Shalat sunnah yang paling sering disebut oleh Allah ﷻ di dalam Alquran adalah shalat malam. Allah ﷻ sebutkan shalat malam di dalam Al Quranul Karim sekitar delapan kali.

Ketika Allah menyebutkan tentang orang bertakwa yang masuk Surga, ternyata karakter mereka, sifat mereka, amalan utama mereka adalah shalat malam. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ  آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ  كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ  وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

”Sesungguhnya, orang-orang yang bertakwa di dalam Surga, dan mata air-mata air yang mengalir, mereka mengambil apa yang Allah berikan kepada mereka berupa kenikmatan, sesungguhnya dahulu mereka termasuk orang-orang yang berbuat Ihsan. Dahulu mereka sedikit tidur di waktu malam, dan di waktu sahur (akhir malam). Mereka beristighfar kepada Allah ﷻ.” [QS Adh Dhariyat: 15-18]

Oleh karenanya, kata Rasulullah ﷺ:

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

Puasa dan Alquran kelak pada Hari Kiamat akan memberikan syafaat bagi seorang hamba.

Puasa akan berkata:

”Wahai, Rabbku, aku telah menahannya dari makan pada siang hari dan nafsu syahwat. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.”

Sedangkan Alquran berkata:

”Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.” [HR. Ahmad nomor 6337, Al Hakim, I/554, dari Abdullah bin ‘Amr]

Masya Allah.

Maka dari itulah, shalat malamlah, shalat malamlah. Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ

”Hendaklah kalian shalat malam, karena ia adalah pembiasaan orang-orang saleh sebelum kalian.” [HR. At-Tirmidzi dalam kitab Da’awaat, bab Du’a’-un Nabiy (hadis nomor 3549]

  • Orang yang shalat malam, akan terlihat wajahnya bersinar dan bercahaya di waktu siang.
  • Orang yang selalu shalat malam, Allah akan berikan kekuatan di hatinya untuk selalu istiqamah.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

”Sesungguhnya shalat malam itu lebih menguatkan hati, dan merupakan ibadah yang paling bagus (kata Allah ﷻ).” [QS Al Muzaammil: 6]

Apalagi kita yang hidup di zaman fitnah ini. Di zaman fitnah shalat malam lebih ditekankan lagi, sebagaimana Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan.

Suatu malam Rasulullah ﷺ bangun. Tiba-tiba kemudian beliau ﷺ mengucapkan, “La ilaha illallah,” dalam satu riwayat, “Subhanallah.”

مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتْنَةِ، مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْخَزَائِنِ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ، يَا رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الآخِرَةِ

”Fitnah apa yang Allah turunkan malam ini? Dan perbendaharaan apa yang Allah turunkan di malam ini? Siapa yang mau membangunkan pemilik-pemilik kamar itu untuk shalat malam? Berapa banyak orang yang berpakaian di dunia, ternyata dia telanjang di kehidupan Akhirat.” [HR. Bukhari nomor 1126]

Kata Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Kitab Fathul Bari ketika menafsirkan hadis ini, beliau mengambil faidah apa?

Dalam hadis ini menunjukkan, bahwa di zaman yang penuh fitnah, kita sangat dianjurkan untuk banyak beribadah, terutama di waktu malam.

[6] Banyak Bersedekah

Rasulullah ﷺ paling dermawan pada waktu Ramadan.

Ibnu ‘Abbas berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ ـ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ـ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ،

”Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada waktu Ramadan, ketika bertemu dengan malaikat Jibril. Beliau bertemu dengan malaikat Jibril setiap malam Ramadan, kata Rasulullah ﷺ.” [HR. Bukhari nomor 3554]

Apakah antum tahu, kenapa Rasulullah ﷺ lebih banyak berinfak pada waktu Ramadan dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain?

Padahal bulan mulia selain Ramadan ada empat bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Empat bulan ini adalah bulan-bulan mulia, tetapi mengapa Rasulullah ﷺ lebih rajin berinfak pada saat Ramadan?

Al Hafizh Ibnu Rajab menyebutkan rahasia-rahasianya di dalam kitab Latha’iful Al Ma’arif.

Apa rahasianya? Di antaranya kata beliau:

√ Puasa adalah tameng dari api Neraka. Kata Rasulullah ﷺ:

الصَّوْمُ جُنَّةٌ يَجْتَنُّ بِهَا عَبْدِي مِنَ النَّارِ

”Puasa adalah tameng. Seorang hamba menamengi diri dengannya dari api Neraka.”

√ Sedekah adalah pemadam. Kata Rasulullah ﷺ:

الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

”Dan sedekah itu memadamkan dosa, sebagaimana air memadamkan api.” [HR. At Tirmidzi nomor 3973]

Berarti puasa adalah tameng dari api Neraka, sedangkan sedekah adalah pemadamnya.

Bila antum punya tameng tetapi tidak punya pemadam, maka kurang kuat. Atau sebaliknya, antum punya pemadam tetapi tidak punya tameng, masih bisa kena api Neraka.

Tetapi bila antum punya keduanya (tameng dan pemadamnya), maka itu menjadi kekuatan yang dahsyat untuk memadamkan api Neraka.

Apalagi jika sedekahnya sembunyi-sembunyi, karena kata Rasulullah ﷺ:

صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

”Sedekah yang sembunyi-sembunyi bisa memadamkan kemurkaan Allah ﷻ.” [HR. Thabrani]

Kemurkaan Allah akan padam dengan sedekah secara diam-diam. Bahkan kata para ulama, kalau orang yang disedekahkannya tidak tahu, itu lebih afdhal lagi. Sebagaimana dalam hadis Nabi ﷺ:

 سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

[HR. Bukhari nomor 660,1423,6479,6806 dan Muslim nomor 1031]

Jadi ada tujuh orang yang akan Allah beri naungan, di mana tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Siapa di antaranya?

Di antaranya seseorang yang sedekah, lalu dia sembunyikan sedekahnya, sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.

Dahulu, seorang Ahlul Bait yang bernama Zainul Abidin, ketika meninggal dunia dan dimandikan, ternyata pundaknya hitam. Lalu yang memandikan ini bertanya kepada istrinya:

“Kenapa pundak suamimu bisa hitam?”

Lalu istrinya berkata:

“Setiap malam suaminya itu memanggul gandum, lalu dia simpan gandum itu di depan rumah orang miskin.”

Dan orang miskin tersebut tidak tahu, siapa yang menyimpan gandum tersebut. Orang miskin tersebut baru tahu setelah Zainal Abidin meninggal dunia. Karena setelah itu, tidak ada yang mengirimi mereka gandum lagi.

Berbeda dengan kita, terkadang kita menulis infak yang kita berikan.

Misalnya, infak dari keluarga Fulan.

Tidak perlu kita beritahu, karena sedekah yang sembunyi-sembunyi itu yang besar pahalanya di sisi Allah ﷻ. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

”Sedekah yang sembunyi-sembunyi bisa memadamkan kemurkaan Allah ﷻ.”

Makanya, pada waktu Ramadan ini kita perbanyak sedekah.  Masya Allah.

Wallahi antum. Sedekah satu butir kurma saja, di jalan Allah, Allah akan terima, kemudian Allah akan kembangbiakkan menjadi sebesar gunung. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، وَلاَ يَصْعَدُ إِلَى اللَّهِ إِلاَّ الطَّيِّبُ، فَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ

”Barang siapa berinfak dengan separuh biji kurma dari penghasilan yang baik dan tidak ada yang naik kepada Allah kecuali amal yang baik, maka Allah menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian mengembangkannya untuk pelakunya, sebagaimana salah seorang di antara kalian merawat kuda piaraannya sehingga menjadi sebesar gunung.” [HR. Bukhari nomor 7430]

Kalau antum bisnis, modalnya 10.000 (sepuluh ribu), untungnya 10 juta, antum mau tidak?

Terkadang dalam dunia usaha ini mustahil. Tapi untuk mendapatkan pahala sedekah bisa. Buktinya Rasulullah ﷺ menyebutkan begitu.

Sebutir kurma, dikembangbiakkan oleh Allah ﷻ menjadi sebesar gunung, berapa persen Allah kembangbiakan?

Oleh karenanya, pada waktu Ramadan ini kita harus memerbanyak sedekah. Walaupun setiap hari antum sedekah hanya 200 Rupiah atau 500 Rupiah atau 1000 Rupiah, namun dengan keikhlasan, di mata Allah menjadi besar. In sya Allah

[7] Mencari Malam Lailatul Qadr

Malam Lailatul Qadr merupakan malam yang sangat mulia, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah ﷻ  mengatakan:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam Lailatul Qadr lebih baik daripada seribu bulan.” [QS Al Qadr: 3]

Kata Rasulullah ﷺ:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إَيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang bangun di malam Lailatul Qadr karena iman dan berharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” [HR. Bukhari 2014 dan Muslim 760]

Maka marilah kita mencari malam Lailatul Qadr, karena beribadah di satu malam itu sama dengan beribadah selama 83 tahun lamanya.

Inilah amalan-amalan yang Rasulullah ﷺ sebutkan akan menggugurkan dosa. Dan ternyata amalan itu ada pada waktu Ramadan.

Tiga amalan:

  1. Puasa
  2. Sedekah
  3. Shalat malam

Tiga amalan ini seringkali Rasulullah ﷺ sebutkan keutamaannya, di antaranya hadis Mu’adz bin Jabbal. Kata Rasulullah ﷺ:

أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَـى أَبْوَابِ الْـخَيْرِ ؟

“Hai Mu’adz, maukah aku tunjukkan kamu kepada pintu-pintu kebaikan?”

Kata Mu’adz, “Mau, wahai Rasulullah ﷺ”

Kata Rasulullah ﷺ:

 الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْـخَطِيْئَةَ كَمَـا يُطْفِئُ الْـمَـاءُ النَّارَ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِـيْ جَوْفِ اللَّيْلِ

“Puasa itu tameng dan sedekah itu bisa memadamkan dosa, sebagaimana air memadamkan api, dan shalatnya seseorang di waktu malam.” [HR. Tirmidzi nomor 2616]

⇒ Ternyata tiga amalan ini adalah pintu-pintu kebaikan.

Maksudnya pintu-pintu kebaikan, artinya tiga amalan ini membuka pintu kebaikan yang banyak.

Dalam hadis yang lain Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرْفًا يُرَى ظَاهِرُهَـا مِنْ بَاطِنِهَا وَبَاطِنِهَا مِنْ ظَاهِرِهَا، أَعَدَّهَا اللهُ تَعَالَى لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَأَلاَنَ الْكَلاَمَ، وَأَدَامَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ.

“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam, dan bagian dalamnya terlihat dari luar. Allah ﷻ menyediakannya bagi orang yang suka memberi makan, melunakkan perkataan, senantiasa berpuasa, dan shalat malam pada saat manusia tidur.” [Shahihul Jaami’ush Shaghir nomor 2123]

Ternyata ketiga amalan ini ada pada waktu Ramadan.

Ini merupakan kesempatan emas. Ramadan merupakan bulan yang mudah sekali bagi kita untuk mendapatkan ampunan dari Allah ﷻ.

Semoga kita diberi ampunan oleh Allah ﷻ.

Lalu apa ustadz, tandanya orang yang mendapat ampunan Allah?

⇒Kalau secara fisik tidak ada cirinya.

Orang yang mendapat ampunan oleh Allah ﷻ, setelah Ramadan dia lebih bertakwa. Karena Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” [QS Al Baqarah: 183]

Rupanya tujuan puasa itu takwa. Berarti orang yang puasanya tidak menimbulkan ketakwaan, puasanya menjadi tanda tanya besar. Berarti belum mendapatkan ampunan dari Allah ﷻ.

Tapi ketika puasa itu menimbulkan ketakwaan setelah Ramadan:

  • √ Semakin rajin shalat malam.
  • √ Semakin rajin sedekah.
  • √ Semakin takut kepada Allah ﷻ.
  • √ Semakin menjadi orang yang bergegas kepada kebaikan.

Itu tanda Allah ﷻ menerima ibadah kita.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima ibadah dari orang yang bertakwa saja.” [QS Al Ma’idah: 27]

Semoga Allah ﷻ memberikan kita ketakwaan hati.

Semoga Allah ﷻ menjadikan Ramadan ini bagi kita untuk mendapatkan ampunan dari Allah ﷻ dan memberikan kemudahan untuk menyempurnakan Ramadan. Aamiin Ya Rabbal’alamin.

  • Penulis Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc hafizahullah
  • Materi Tematik: “Meraih Ampunan Di Bulan Ramadan”

 

Sumber:

 

Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AYBS-MeraihAmpunan-01

Sumber: https://youtu.be/po6W3TBbsqE

Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AYBS-MeraihAmpunan-02

Sumber: https://youtu.be/po6W3TBbsqE

Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AYBS-MeraihAmpunan-03

Sumber: https://youtu.be/po6W3TBbsqE

Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AYBS-MeraihAmpunan-04

Sumber: https://youtu.be/po6W3TBbsqE

Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AYBS-MeraihAmpunan-05

Sumber: https://youtu.be/po6W3TBbsqE

 

, ,

ORANG KAFIR TIDAK AKAN MASUK SURGA, SAMPAI ADA UNTA MASUK LUBANG JARUM!

ORANG KAFIR TIDAK AKAN MASUK SURGA, SAMPAI ADA UNTA MASUK LUBANG JARUM!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahSunnah #MutiaraAyat
#DakwahTauhid
ORANG KAFIR TIDAK AKAN MASUK SURGA, SAMPAI ADA UNTA MASUK LUBANG JARUM!

Oleh: Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari

Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ ﴿٤٠﴾ لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ ﴿٤١﴾ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka memunyai tikar tidur dari api Neraka, dan di atas mereka ada selimut (api Neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekadar kesanggupannya. Mereka itulah penghuni-penghuni Surga; mereka kekal di dalamnya.” [Al-A’raf/7:40-42].

Muqaddimah

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beriman dan beribadah kepada-Nya. Namun di antara mereka ada yang beriman dan ada juga yang kafir. Orang-orang beriman akan mendapatkan kebahagiaan, sedangkan orang-orang kafir akan mendapatkan kecelakaan.

Di antara KECELAKAAN TERBESAR bagi orang-orang kafir adalah mereka TIDAK AKAN MASUK SURGA, hingga ada unta masuk ke lubang jarum. Dan ini mustahil, sebagaimana Allah Azza wa Jalla telah memberitakan hakikat ini di dalam ayat-ayat di atas.

Penjelasan Ayat

Firman Allah Azza wa Jalla:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata: “Allah Yang Maha Tinggi sebutan-Nya berfirman: ‘Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan’ hujjah-hujjah dan dalil-dalil Kami, tidak membenarkannya, dan tidak mengikuti rasul-rasul Kami, ‘dan menyombongkan diri terhadapnya,’ takabbur dari membenarkannya, enggan mengikuti dan tunduk kepadanya karena sombong.” [Tafsir Thabari, 12/421]

Firman Allah Azza wa Jalla:

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ

Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit.

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata: “Pintu-pintu langit tidak akan dibukakan bagi mereka untuk ruh-ruh mereka yang keluar dari jasad mereka. Perkataan dan perbuatan dalam kehidupan mereka tidak akan naik menuju Allah Azza wa Jalla, karena perbuatan-perbuatan mereka itu buruk. Sedangkan yang akan diangkat keharibaan Allah hanyalah perkataan yang baik dan perbuatan yang saleh, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. [Fathir/35:10]”. [Tafsir ath-Thabari, 12/421]

Firman Allah Azza wa Jalla:

وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

Dan mereka tidak (pula) masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: “Maksudnya adalah mereka tidak akan masuk Surga selamanya. Karena, jika (penetapan) sesuatu disyaratkan dengan perkara yang mustahil terjadi, maka itu menunjukkan adanya PENEKANAN pada KEMUSTAHILANNYA. Seperti dikatakan (dalam bahasa Arab) ‘Aku tidak melakukannya hingga burung gagak beruban, atau hingga aspal menjadi putih’, maksudnya, aku tidak melakukannya selamanya”. [Tafsir al-Baghawi, 3/229]

Firman Allah Azza wa Jalla:

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Yaitu orang-orang yang banyak kejahatannya dan sikapnya yang melewati batas”. [Taisir Karimir-Rahman]

Firman Allah Azza wa Jalla:

لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ

(Mereka memunyai tikar tidur dari api Neraka dan di atas mereka ada selimut (api Neraka).

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: “Allah menghendaki, Neraka meliputi mereka dari seluruh sisi, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ

Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka, dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). [az-Zumar/39:16]. [Tafsir al-Baghawi, 3/229]

Firman Allah Azza wa Jalla:

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ ﴿٤١﴾ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim, dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Setelah Allah menyebutkan hukuman bagi orang-orang yang bermaksiat lagi zalim, Dia Azza wa Jalla menyebutkan pahala orang-orang yang taat. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang beriman dengan hati mereka dan mengerjakan amal-amal yang saleh dengan anggota badan mereka, sehingga mereka menggabungkan antara iman dan amal, antara amal-amal lahir dan batin, antara melakukan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan.” [Taisir Karimir-Rahman, 1/289]

Firman Allah Azza wa Jalla:

لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

(Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekadar kesanggupannya).

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Karena firman-Nya “Mengerjakan amal-amal yang saleh,” adalah lafal umum yang mencakup seluruh amal-amal saleh, baik yang wajib maupun yang mustahab, dan bisa jadi sebagiannya tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba, (maka) Allah Azza wa Jalla berfirman: “Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekadar kesanggupannya”, yaitu seukuran dengan kekuatannya, dan tidak berat terhadapnya. Dalam kondisi seperti ini, kewajibannya adalah bertakwa kepada Allah sesuai dengan kemampuannya. Jika tidak mampu melakukan sebagian kewajiban yang orang lain mampu melakukannya, maka kewajiban itu gugur darinya, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. [al-Baqarah/2:286]

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا

Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya. [Ath-Thalaq/65:7].

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Dia sekali-kali Dia (Allah) tidak menjadikan suatu kesempitan untuk kamu dalam agama. [Al-Hajj/22:78]

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. [At-Taghabun/64:16].

Maka tidak ada kewajiban jika tidak mampu, dan tidak ada yang haram ketika dalam keadaan darurat.” [Taisir Karimir-Rahman]

Firman Allah Azza wa Jalla:

أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Mereka itulah penghuni-penghuni Surga; mereka kekal di dalamnya.

Yaitu mereka tidak akan berpindah darinya dan mereka tidak akan mencari ganti terhadap Surga, karena di dalamnya mereka melihat bermacam-macam kelezatan dan perkara-perkara yang disukai yang berada pada puncaknya, dan tidaklah dicari yang lebih tinggi darinya. [Taisir Karimir-Rahman]

Faidah Ayat

Sangat banyak faidah, pelajaran dan petunjuk dari ayat-ayat ini, antara lain:

  1. Mendustakan ayat Allah Azza wa Jalla dan bersikap arogan terhadapnya merupakan kufur akbar (kekafiran besar).
  2. Penjelasan balasan orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah Azza wa Jalla dan bersikap sombong terhadapnya, balasannya adalah tidak akan masuk Surga selamanya.
  3. Pintu-pintu langit tidak akan dibukakan untuk untuk ruh-ruh orang-orang kafir ketika mereka mati.
  4. Perkataan dan perbuatan orang-orang kafir tidak diterima oleh Allah, karena di antara syarat diterima amal adalah iman.
  5. Kewajiban agama yang tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba, maka kewajiban itu gugur darinya.
  6. Iman dan amal saleh akan menghantarkan kemuliaan di dunia dan Akhirat dan sebab masuk Surga.

Peringatan

Sebagian orang beranggapan, bahwa ayat ke-40 dari surat al-A’raf ini sebagai dalil bahwa “Orang-orang Mukmin yang masuk Neraka tidak akan keluar selama-lamanya.” Maka ini merupakan kesesatan dan kebodohan yang nyata. Karena awal ayat ini jelas menunjukkan, bahwa ini balasan untuk orang-orang kafir.

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.

Karena perbuatan mendustakan ayat-ayat Allah dan menyombongkan diri terhadapnya adalah kufur akbar (kekafiran yang besar). Sehingga orang-orang kafir akan masuk Neraka, dan tidak akan keluar selama-lamanya. Dan ayat ini tidak menunjukkan, bahwa semua orang-orang yang masuk Neraka tidak akan keluar selama-lamanya.

Demikian juga anggapan, bahwa “Orang-orang yang masuk Neraka tidak akan keluar selama-lamanya” secara umum, adalah pendapat firqah (golongan sesat) Khawarij dan Mu’tazilah. Sedangkan Ahlus-Sunnah berkeyakinan, bahwa orang-orang yang akan memasuki Neraka ada dua golongan, yaitu:

  • (1) Orang-orang kafir, mereka kekal di dalam Neraka,
  • (2) Orang -orang Mukmin yang berbuat dosa besar, mereka akan keluar dari Neraka dan akan masuk Surga.

Hadis-hadis yang memberitakan, bahwa sebagian orang-orang Mukmin akan masuk Neraka dengan sebab dosa-dosa mereka, kemudian akan keluar dan masuk Surga sangat banyak. Dan hal itu tidak bertentangan dengan ayat-ayat Alquran.

Di antara hadis-hadis tersebut adalah sabda Nabi ﷺ:

أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُهَا فَإِنَّهُمْ لَا يَمُوتُونَ فِيهَا وَلَا يَحْيَوْنَ وَلَكِنْ نَاسٌ أَصَابَتْهُمُ النَّارُ بِذُنُوبِهِمْ أَوْ قَالَ بِخَطَايَاهُمْ فَأَمَاتَهُمْ إِمَاتَةً حَتَّى إِذَا كَانُوا فَحْمًا أُذِنَ بِالشَّفَاعَةِ فَجِيءَ بِهِمْ ضَبَائِرَ ضَبَائِرَ فَبُثُّوا عَلَى أَنْهَارِ الْجَنَّةِ ثُمَّ قِيلَ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ أَفِيضُوا عَلَيْهِمْ فَيَنْبُتُونَ نَبَاتَ الْحِبَّةِ تَكُونُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ

Adapun penduduk Neraka, yang mereka merupakan penduduknya, maka sesungguhnya mereka tidak akan mati di dalam Neraka dan tidak akan hidup. Tetapi orang-orang yang dibakar oleh Neraka dengan sebab dosa-dosa mereka, maka Dia (Allah) akan mematikan mereka. Sehingga apabila mereka telah menjadi arang, diizinkan mendapatkan syafaat. Maka mereka didatangkan dalam keadaan kelompok-kelompok yang berserakan. Lalu mereka ditebarkan di sungai-sungai Surga, kemudian dikatakan: “Wahai penduduk Surga tuangkan (air) kepada mereka!” Maka mereka pun tumbuh sebagaimana tumbuhnya bijian yang ada pada sisa-sisa banjir. [HR Muslim no. 185].

Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus. Aamiin, al-hamdulillahi rabbil-‘alamin.

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XVII/1435H/2013M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/4116-orang-kafir-tidak-akan-masuk-Surga-sampai-ada-unta-masuk-loba+ng-jarum.html