Posts

LIMA HIKMAH TURUNNYA NABI ISA DI AKHIR ZAMAN

LIMA HIKMAH TURUNNYA NABI ISA DI AKHIR ZAMAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
LIMA HIKMAH TURUNNYA NABI ISA DI AKHIR ZAMAN
 
Pertama:
Sebagai bantahan bagi Yahudi yang mengklaim, bahwa mereka telah membunuh Isa bin Marya. Sungguh Allah akan mengungkap kedustaan mereka. Isa nantinya yang akan membunuh mereka dan membunuh pemimpin mereka, yaitu Dajjal.
 
Kedua:
Isa bin Maryam telah menemukan dalam Injil mengenai keutamaan umat Muhammad ﷺ sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
 
وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ
 
“Dan sifat-sifat mereka (para sahabat Nabi ﷺ) dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman kuat, lalu menjadi besarlah dia, dan tegak lurus di atas pokoknya” [QS. Al Fath: 29]. Dari sini, Nabi Isa memohon kepada Allah agar menjadi bagian dari mereka (para sahabat). Allah pun mengabulkan doanya. Allah membiarkan Nabi Isa hidup hingga akhir zaman. Nabi Isa pun akan menjadi pengikut Muhammad ﷺ. Ketika Dajjal muncul, Nabi Isa pun yang menumpasnya.
 
Ketiga:
Turunnya Isa dari langit semakin dekat dengan ajal beliau. Nabi Isa pun akan dimakamkan di muka bumi. Oleh karena itu ini menunjukkan, bahwa tidak ada makhluk yang terbuat dari tanah yang mati di tempat lain selain bumi.
 
Keempat:
Turunnya Nabi Isa juga adalah untuk membungkam kaum Nasrani. Sungguh Allah akan membinasakan berbagai agama di masa Isa turun kecuali satu agama saja yang tersisa, yaitu Islam. Isa pun akan menghancurkan salib-salib, membunuh babi dan menghapuskan jizyah (artinya tidak ada pilihan jizyah, yang ada hanyalah pilihan untuk masuk Islam).
 
Kelima:
Nabi ﷺ pernah bersabda:
 
أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، وَالأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى ، وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ
 
“Aku orang yang paling dekat dengan ‘Isa bin Maryam ‘alaihis salam di dunia dan Akhirat, dan para Nabi adalah bersaudara (dari keturunan) satu ayah dengan ibu yang berbeda, sedangkan agama mereka satu.” [HR. Bukhari no. 3443 dan Muslim no. 2365, dari Abu Hurairah]. Rasulullah ﷺ adalah yang terspesial dan yang paling dekat dengan beliau. Isa bin Maryam sendiri telah memberi kabar gembira, bahwa Rasulullah ﷺ akan datang setelah beliau. Nabi Isa pun mengajak umatnya untuk membenarkan dan beriman terhadap hal itu, sebagaimana Allah ta’ala berfirman:
 
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ
 
“Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” [QS. Ash Shaff: 6]. [Lihat Asyrotus Saa’ah, 161-162]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#limahikmahturunnyanabiIsadiakhirzaman #5hikmah #turunnyanabiIsadiakhirzaman #Yesus, #Jesus #masihhidup #faidah #faedah #hikmahturunnyanabiIsa #tauhid #akidah #aqidah #membunuhDajjal #menghancurkansalib #membunuhbabi #umatNabiMuhammad #menghapusupeti #menghapusjizyah #pengikutNabiMuhammad #NabiIsabukanTuhan
, ,

JANGAN SAMPAI REMEHKAN AMALAN SUNNAH

JANGAN SAMPAI REMEHKAN AMALAN SUNNAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
JANGAN SAMPAI REMEHKAN AMALAN SUNNAH
 
Mungkin sebagian orang menganggap cukup dengan amalan-amalan wajib. Amalan sunnah yah kadang saja dilakukan, jika ada waktu, atau lagi “mood“. Inilah anggapan sebagian orang awam. Namun sebenarnya jika kita meneliti apa yang diberitahukan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ, sungguh amalan sunnah memiliki keistimewaan yang luar biasa yang bisa mendukung sempurnanya amalan wajib yang kita lakukan. Yang berikut ini adalah artikel ringkas mengenai keutamaan amalan sunnah:
 
Pertama: Menggapai Wali Allah yang Terdepan
 
Orang yang rajin mengamalkan amalan sunnah, maka ia akan menjadi Wali Allah yang istimewa. Lalu apa yang dimaksud Wali Allah?
 
Allah taala berfirman:
 
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63)
 
“Ingatlah, sesungguhnya wali-Wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63)
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:
 
فَكُلُّ مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا
 
“Setiap orang Mukmin (beriman) dan bertakwa, maka dialah Wali Allah.” [Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 2/224, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H]. Jadi Wali Allah bukanlah orang yang memiliki ilmu sakti, bisa terbang, memakai tasbih dan surban. Namun yang dimaksud Wali Allah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah sendiri dalam surat Yunus di atas. “Syarat disebut Wali Allah adalah beriman dan bertakwa” [Majmu’ Al Fatawa, 6/10]. Jadi jika orang-orang yang disebut wali malah orang yang tidak shalat dan gemar maksiat, maka itu bukanlah wali. Kalau mau disebut wali, maka pantasnya dia disebut wali setan.
 
Perlu diketahui bahwa Wali Allah ada dua macam:
1. As Saabiquun Al Muqorrobun (Wali Allah Terdepan) dan
2. Al Abror Ash-Habul Yamin (Wali Allah Pertengahan)
 
As Saabiquun Al Muqorrobun adalah hamba Allah yang selalu mendekatkan diri pada Allah dengan amalan sunnah di samping melakukan yang wajib, serta dia meninggalkan yang haram sekaligus yang makruh.
 
Al Abror Ash-Habul Yamin adalah hamba Allah yang hanya mendekatkan diri pada Allah dengan amalan yang wajib dan meninggalkan yang haram, ia tidak membebani dirinya dengan amalan sunnah, dan tidak menahan diri dari berlebihan dalam yang mubah.
 
Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah taala:
 
إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ (13) وَقَلِيلٌ مِنَ الْآَخِرِينَ (14)
 
“Apabila terjadi Hari Kiamat, tidak seorang pun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam Jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al Waqi’ah: 1-14) [Lihat Al furqon baina awliyair rohman wa awliyaisy syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 51, Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, tahun 1424 H]
 
Kedua: Melengkapi Kekurangan Pada Amalan Wajib
 
Nabi ﷺ bersabda:
 
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ
 
“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di Hari Kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu: “Lihatlah pada shalat hamba-Ku, apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.” [HR. Abu Daud no. 864, Ibnu Majah no. 1426. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]
 
Hadis ini pertanda, bahwa amalan sunnah (seperti puasa sunnah) bisa menyempurnakan kekurangan yang ada pada puasa wajib, sebagaimana halnya shalat. Oleh karena itu, jika kita merasa ada kekurangan dalam amalan wajib, maka perbanyaklah amalan sunnah.
 
Ketiga: Allah Akan Beri Petunjuk Pada Pendengaran, Penglihatan, Kaki dan Tangannya, Serta Doanya Pun Mustajab
 
Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda:
 
إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ
 
“Allah taala berfirman: Barang siapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Ku-cintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya, dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” [HR. Bukhari no. 2506]
 
Orang yang senantiasa melakukan amalan sunnah (mustahab) di samping melakukan amalan wajib akan mendapatkan kecintaan Allah, lalu Allah akan memberi petunjuk pada pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Allah juga akan memberikan orang seperti ini keutamaan dengan mustajabnya doa. [Faidah dari Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abad, hadis ke-38]
 
Semoga bermanfaat.
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
 Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#amalansunnah, #amalansunah, #jangananggapenteng, #janganremehkan #ahcumansunnah #jangansampairemehkanamalansunnah #janganremehkanamalansunnah #keutamaan #fadhilah #waliAllah #AsSaabiquunAlMuqorrobun #WaliAllahTerdepan #AlAbrorAshHabulYamin #WaliAllahPertengahan #mustajabnyadoa #faidah #faedah
, ,

FAIDAH MENDOAKAN KEBAIKAN UNTUK PEMIMPIN (PENGUASA)

FAIDAH MENDOAKAN KEBAIKAN UNTUK PEMIMPIN (PENGUASA)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
FAIDAH MENDOAKAN KEBAIKAN UNTUK PEMIMPIN (PENGUASA)
>> Ketaatan pada Pemimpin, Salah Satu Prinsip Penting Akidah Ahlus Sunnah
 
Apabila pemimpin itu zalim dan melampaui batas, misalnya dengan mengambil harta atau membunuh kaum Muslimin, maka Ahlus Sunnah TIDAKLAH berpendapat bolehnya keluar dari ketaatan kepada mereka. Hal ini berdasarkan perintah tegas dari Nabi ﷺ kepada sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu:
 
تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
 
“Engkau mendengar dan engkau menaati pemimpinmu, meskipun hartamu diambil dan punggungmu dipukul. Dengarlah dan taatilah (pemimpinmu).” [HR. Muslim no. 1847]
 
Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk bersabar, BUKAN memberontak mengangkat senjata atau melakukan demonstrasi. Karena dengan memberontak dan demonstrasi, akan menimbulkan (lebih) banyak kerusakan. Inilah akidah Ahlus Sunnah, yaitu senantiasa menimbang dengan mengambil bahaya yang lebih ringan dibandingkan dua bahaya yang ada.
 
Sudah sepantasnya bagi kaum Muslimin yang ingin menegakkan kewajiban nasihat dan menempuh jalan Salaf, bagi mereka mengkhususkan kepada Waliyul Amr di dalam sebagian dari doa-doa kebaikan mereka. Ditambah lagi bahwa menyibukkan diri dengan pelanggaran-pelanggaran kehormatan tidaklah memeperbaiki, bahkan akan menyesakkan dada dan memperbanyak dosa. Al-Hafizh Abu Ishaq As-Sabi’i berkata:
 
ما سب قومٌ أميرهم إِلا حُرموا خيره
 
”Tidaklah suatu kaum mencaci penguasa mereka kecuali diharamkan mereka dari kebaikannya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr di dalam At-Tamhid 21/287]
 
Mendoakan kebaikan terhadap Waliyul Amr (Pemimpin) mengandung faidah yang bayak sekali, di antaranya:
 
Pertama: Seorang Muslim beribadah dengan doa ini, karena ketika dia mendengar dan taat kepada Waliyul Amr adalah melaksanakan perintah Allah, karena Allah berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kalian.“ [QS. An-Nisa’: 59]
 
Maka bagi seorang Muslim, mendengar dan menaati Waliyul Amr adalah suatu ibadah. Dan termasuk mendengar dan taat kepada Waliyul Amr adalah mendoakan kebaikan untuk mereka. Al-Imam Nashiruddin Ibnul Munayyir Rahimahullah (wafat tahun 681 H) berkata:
 
الدعاء للسلطان الواجب الطاعة ، مشروع بكل حال
 
”Mendoakan seorang penguasa yang wajib ditaati adalah disyariatkan dalam semua keadaan.” [Al-Intishaf di dalam Hasyiyah Al-Kaasyif 4/105 – 106]
 
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata:
 
الدعاء لولي الأمر من أعظم القربات ومن أفضل الطاعات
 
”Mendoakan Waliyul Amr termasuk qurbah yang paling agung dan termasuk ketaatan yang paling utama ” [Risalah Nashihatul Ummah Fi Jawaabi ‘Asyarati As’ilatin Muhimmah dari Mausu’ah Fatawa Lajnah wa Imamain]
 
Kedua: Mendoakan Waliyul Amr adalah melepaskan tanggung jawab menjalankan kewajiban, karena doa termasuk nasihat, dan nasihat wajib atas setiap Muslim. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
 
إِني لأدعو له [أي السلطان ] بالتسديد والتوفيق – في الليل والنهار – والتأييد وأرى ذلك واجبا عليَّ
 
”Sesungguhnya aku mendoakan dia ( yaitu penguasa ) dengan kelurusan dan taufiq, siang dan malam, serta dukungan dari Allah, dan saya memandang hal itu wajib atasku.” [As-Sunnah oleh Al-Khollal hal. 116]
 
Ketiga: Mendoakan Waliyul Amr adalah satu dari tanda-tanda Ahli Sunnah wal Jamaah. Maka orang yang mendoakan Waliyul Amr menyandang salah satu sifat dari sifat-sifat Ahli Sunnah wal Jamaah. Al-Imam Abu Muhammad Al-Barbahari berkata:
 
وإِذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى ، وإِذا رأيت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح ، فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله
 
”Jika engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan kepada penguasa maka ketahuilah, bahwa dia adalah Ahli Hawa. Dan jika engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan kepada penguasa maka ketahuilah, bahwa dia adalah ahli Sunnah Insya Allah. ” [Syarhus Sunnah hal. 116]
 
Keempat: Sesungguhnya mendoakan Waliyul Amr akan kembali manfaatnya kepada para rakyat sendiri. Karena jika Waliyul Amr baik, maka akan baiklah rakyat dan sejahtera kehidupan mereka, Al-Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Qais bin Abi Hazim, bahwa seorang wanita bertanya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq: ” Apakah yang membuat kami tetap di dalam perkara yang baik ini yang didatangkan Allah setelah Jahiliyyah?“ Abu Bakar menjawab:
 
بقاؤكم عليه ما استقامت بكم أئمتكم
 
”Tetapnya kalian di atasnya selama istiqamah para pemimpin kalian terhadap kalian.” [Shahih Bukhari 3/51]
 
Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:
 
لو أني أعلم أن لي دعوة مستجابة لصرفتها للسلطان
 
“Seandainya aku tahu, bahwa aku memiliki doa yang mustajab (yang dikabulkan), maka aku akan gunakan untuk mendoakan penguasa.”
 
Ketika ditanyakan tentang maksudnya, maka Fudhail bin ‘Iyadh berkata:
 
إذا جعلتُها في نفسي لم تَعْدُني.وإِذا جعلتها في السلطان صَلَح فصَلَح بصلاحه العبادُ والبلاد
 
”Jika saya jadikan doa itu pada diriku, maka tidak akan melampauiku. Sedangkan jika saya jadikan pada penguasa, maka dengan kebaikannya, akan baiklah para hamba dan negeri ” [Diriwayatkan oleh Al Barbahari di dalam Syarhu Sunnah hal. 116-117 dan Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah 8/91-92 dengan sanad yang Shahih]
 
Kelima: Jika Waliyul Amr mendengar bahwa rakyatnya mendoakan kebaikan padanya, maka dia akan senang sekali dengan hal itu, yang membuatnya mencintai rakyatnya, dan mengupayakan apa saja yang membahagiakan mereka. Ketika Al-Imam Ahmad menulis surat kepada Khalifah Al-Mutawakkil, maka sebelum diserahkan kepadanya beliau memusyawarahkannya dengan Ibnu Khaaqan, menteri Al-Mutawakkil. Ibnu Khaaqan berkata kepada beliau: ”Seyogyanya surat ini ditambah dengan doa kebaikan untuk Khalifah, karena dia senang dengannya.“ Maka Al-Imam Ahmad menambahnya dengan doa kebaikan kepada Khalifa. [As-Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal 1/133-134]
 
Janganlah Mendokan Waliyul Amr dengan Kejelekan
 
Akidah Ahlus Sunnah menyatakan, tidak boleh mendoakan kejelekan bagi pemimpin atau pemerintah, tidak boleh menghujatnya, menjelek-jelekkannya di muka umum, dan sebagainya. Karena pada hakikatnya, hal ini sama halnya dengan durhaka dan memberontak secara fisik. Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah mengatakan:
 
“Tidak boleh mendoakan kejelekan bagi pemimpin, karena ini adalah pemberontakan secara abstrak, semisal dengan memberontak kepada mereka dengan menggunakan senjata (pemberontakan secara fisik, pen.). Yang mendorongnya untuk mendoakan jelek bagi penguasa adalah karena dia tidak mengakui (menerima) kekuasaannya. Maka kewajiban kita (rakyat) adalah mendoakan pemimpin dalam kebaikan, dan agar mereka mendapatkan petunjuk. Bukan mendoakan jelek mereka. Maka ini adalah salah satu prinsip di antara prinsip-prinsip akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Jika engkau melihat seseorang yang mendoakan jelek untuk pemimpin maka ketahuilah, bahwa akidahnya telah rusak, dan dia tidak di atas Manhaj Salaf. Sebagian orang menganggap hal ini sebagai bagian dari rasa marah dan kecemburuan karena Allah taala, akan tetapi hal ini adalah rasa marah dan cemburu yang TIDAK PADA TEMPATNYA. Karena jika mereka lengser, maka akan timbul kerusakan (yang lebih besar, pen.).” [At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah, hal. 171]
 
Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah berkata:
“Maka orang-orang yang mendoakan jelek pemimpin kaum Muslimin, dia tidaklah berada di atas madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Demikian pula orang-orang yang tidak mendoakan kebaikan bagi pemimpinnya, maka ini adalah tanda bahwa mereka telah menyimpang dari akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.” [At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah, hal. 172]
 
Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah juga berkata:
“Maka kecemburuan bukanlah dengan mendoakan kejelekan atas pemerintah, meskipun engkau menghendaki kebaikan. Maka doakanlah bagi mereka agar mendapatkan kebaikan. Allah taala Maha Kuasa untuk memberikan hidayah kepada mereka, dan mengembalikan mereka kepada jalan yang benar. Maka engkau, apakah engkau berputus asa dari (turunnya) hidayah untuk mereka? Ini adalah berputus asa dari rahmat Allah.” [At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah, hal. 173]
 
 
Sumber:
 
#qurbah, #ibadahagung, #doakan, #mendokan, #walliyulamri, #waliyulamri, #pemimpin, #penguasa, #presiden,#ulilamri, #laranganmedokankejelekan, #akidah, #aqidah, #ahlussunnahwaljamaah, #mendoakankebaikan, #mendoakankeburukan, #mendoakankejelekan #aswaja #memberontak, #pemberontakan, #khawarij, #kawarij #demonstrasi, #demostrasi #faidah, #faedah
,

HUKUM MEMAKAI CELAK BAGI LAKI-LAKI

HUKUM MEMAKAI CELAK BAGI LAKI-LAKI
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
HUKUM MEMAKAI CELAK BAGI LAKI-LAKI
 
Celak biasanya berupa bubuk untuk memalit bulu mata atau disapukan di sekeliling mata. Telah diketahui banyak orang, bahwa celak adalah perhiasan yang dipakai wanita untuk berhias. Walaupun terdapat perbedaan di antara para ulama tentang boleh-tidaknya wanita bercelak di depan lelaki non-mahram, namun yang menjadi bahasan dalam artikel singkat ini adalah tentang bagaimana hukum memakai celak bagi laki-laki. Dalam artikel singkat ini hanya akan dibawakan beberapa hadis tentang celak dan fatwa para ulama abad ini tentang masalah tersebut.
Hadis-Hadis Tentang Memakai Celak
 
Hadis 1:
اكْتَحِلُوا بِالْإِثْمِدِ فَإِنَّهُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ
 
“Bercelaklah kalian dengan itsmid, karena dia bisa mencerahkan mata dan menumbuhkan rambut.” [HR. At Tirmidzi no.1679 dalam Sunannya bab Maa Jaa-A Fil Iktihaal, Ahmad no.15341 dalam Musnad-nya]
 
Status Hadis: At Tirmidzi berkata: “Hadis ini Hasan Gharib”. Al Mubarakfuri berkata dalam Tuhfatul Ahwadzi: “Dikeluarkan juga oleh Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban”
 
Hadis 2:
عَلَيْكُمْ بِالْإِثْمِدِ عِنْدَ النَّوْمِ فَإِنَّهُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعَرَ
 
“Bercelaklah memakai itsmid ketika hendak tidur, karena ia dapat mencerahkan pandangan dan menumbuhkan rambut.” [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya no.3846 bab Al Kahlu Bil Itsmid]
Status Hadis: Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah (2/263/2818).
 
Hadis 3:
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
 
وَإِنَّ خَيْرَ أَكْحَالِكُمُ الْإِثْمِدُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ
 
“Celak yang paling baik bagi kalian adalah itsmid. Ia bisa mencerahkan pandangan dan menumbuhkan rambut.” [HR. Abu Daud no.3380 dan 3539, Ibnu Majah no. 3488, Ahmad no. 2109]
 
Status Hadis:
Dalam Aunul Ma’bud dijelaskan bahwa Imam At Tirmidzi berkata: “Hadis ini Hasan Shahih”. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud (2/766/3426).
 
 
Hadis 4
عليكم بالإثمد ؛ فإنه منبتة للشعر ، مذهبة للقذى ، مصفاة للبصر
 
“Bercelaklah dengan itsmid, karena ia menumbuhkan rambut, mengilangkan kotoran yang masuk ke mata, dan mencerahkan pandangan” [HR. ‘Abu Ashim, Ath Thabrani. Lihat Aunul Ma’bud syarah hadis no. 1679]
 
Status Hadis: Dihasankan oleh Al Albani dalam Silsilah Ahaadits Shohihah (2/270/665)
 
 
Fatwa Para Ulama Tentang Memakai Celak Bagi Laki-Laki
 
Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah:
 
أما الاكتحال الذي لتجميل العين فهل هو مشروع للرجل أو للأنثى فقط؟
الظاهر أنه مشروع للأنثى فقط ،أما الرجل فليس بحاجة إلى تجميل عينيه. وقد يقال:إنه مشروع للرجل أيضاً،لأن النبي صلى الله عليه وسلم لما سئل:إن إحدنا يحب أن يكون نعله حسناً،وثوبه حسناً فقال صلى الله عليه وسلم”:إن الله جميل يحب الجمال.” وقد يقال:إذا كان في عين الرجل عيب يحتاج إلى الاكتحال فهو مشروع له ،وإلا فلا
 
“Bercelak dengan tujuan menghiasi mata apakah disyaratkan untuk laki-laki, ataukah hanya untuk wanita saja? Yang nampak bagiku hal tersebut disyaratkan bagi wanita saja. Adapun lelaki, tidak ada keperluan untuk berhias dengannya. Namun ada pula ulama yang berpendapat hal ini pula disyariatkan bagi laki-laki, dengan berdalil dengan sabda Rasulullah ﷺ ketika ada sahabat yang bertanya: ”Bolehkah jika kami gemar memakai sandal dan pakaian yang bagus?” Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan”. Pendapatku, jika pada mata seorang lelaki terdapat penyakit yang membutuhkan celak untuk penyembuhannya, maka hal ini disyariatkan. Namun bila tidak ada kebutuhan, maka tidak disyariatkan.” [Syarhul Mumthi’, 1/129]
 
الاكتحال نوعان:
أحدهما: اكتحال لتقوية البصر وجلاء الغشاوة من العين وتنظيفها وتطهيرها بدون أن يكون له جمال ، فهذا لا بأس به ، بل إنه مما ينبغي فعله ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يكتحل في عينيه ، ولاسيما إذا كان بالإثمد .
النوع الثاني: ما يقصد به الجمال والزينة ، فهذا للنساء مطلوب ، لأن المرأة مطلوب منها أن تتجمل لزوجها .
وأما الرجال فمحل نظر ، وأنا أتوقف فيه ، وقد يفرق فيه بين الشاب الذي يخشى من اكتحاله فتنه فيمنع ، وبين الكبير الذي لا يخشى ذلك من اكتحاله فلا يمنع
 
 
“Bercelak ada dua macam:
 
– Yang pertama, bercelak untuk menguatkan pandangan, mengobati rabun, atau untuk membersihkan pandangan mata tanpa bermaksud untuk berhias, maka hal ini tidak mengapa, bahkan ini dianjurkan. Karena Rasulullah ﷺ menggunakan celak pada kedua mata beliau ﷺ. Lebih baik lagi jika memakai itsmid.
 
– Yang kedua, bercelak dengan tujuan untuk berhias. Jenis ini berlaku bagi wanita. Karena seorang wanita dianjurkan mempercantik diri untuk suaminya. Adapun bagi laki-laki, terdapat beberapa pertimbangan dan aku tawaqquf dalam hal ini. Namun perlu dibedakan antara lelaki yang masih muda dengan lelaki yang sudah tua. Bagi pemuda yang dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah jika bercelak, maka sebaiknya tidak dilakukan. Sedangkan orang yang sudah tua tidak dikhawatirkan lagi dapat menimbulkan fitnah, maka tidak dilarang.” [Fatwa Syaikh Al Utsaimin dalam As’ilah Al Usroh Al Muslimah]
 
 
Fatwa Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah:
 
س: هل هناك دليل يحرم وضع الكحل على العينين والحناء على اليدين والرجلين بالنسبة للرجل ؟ علما بأن وضعها ليس القصد منه التشبه بالنساء ، إنما هي عادة .
ج: ليس للمؤمن أن يتشبه بالنساء لا في الحناء ولا في غيره ، ولو كان عادة فليس له أن يفعل ما يكون فيه متشبها فيه بالنساء ؛ لأن الرسول صلى الله عليه وسلم”: لعن المتشبهين من الرجال بالنساء ، ولعن المتشبهات من النساء بالرجال”
أما الكحل فلا بأس ؛ لأنه مشروع للرجال والنساء على حد سواء ، فكونه يكحل عينيه فلا بأس ، والكحل طيب نافع ، “ وكان النبي صلى الله عليه وسلم يكتحل “ ، فلا بأس بذلك
 
 
Pertanyaan:
Adakah dalil haramnya memakai celak pada mata dan pacar kuku bagi laki-laki, jika diketahui bahwa tujuan memakainya bukan untuk meniru wanita, namun karena sudah menjadi kebiasaan di masyarakat?
 
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz menjawab:
Seorang lelaki Mukmin tidak boleh meniru wanita dengan memakai pacar kuku atau yang lainnya, walaupun hal tersebut sudah menjadi kebiasaan di masyarakat. Ia tetap tidak boleh melakukan perbuatan yang terdapat unsur meniru wanita, karena terdapat hadis: “Rasulullah ﷺ melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, dan melaknat wanita yang menyerupai laki-laki.”
Adapun memakai celak, maka tidak mengapa. Karena memakai celak itu disyariatkan bagi laki-laki dan wanita dengan kadar yang sama. Maka seorang laki-laki boleh memakai celak pada kedua matanya. Dan celak itu baik dan bermanfaat. Terdapat hadis: “Rasulullah ﷺ biasa memakai celak. ” Maka hukumnya boleh. [Majmu’ Fatawa Syaikh Ibn Baz, 29/48]
 
ما حكم الاكتحال، وهل علم عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه كان يضع الكحل في عينيه؟
الاكتحال سنة، وقد ثبت عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه كان يكتحل -عليه الصلاة والسلام- في كل عين ثلاثة أميال -عليه الصلاة والسلام- الاكتحال سنة، بالإثمد، أفضل ما يكون بالإثمد،……
 
 
Pertanyaan:
Apa hukum memakai celak? Apakah benar bahwa Nabi ﷺ biasa memakai celak pada kedua matanya?
 
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz menjawab:
Memakai celak adalah sunnah Nabi ﷺ. Terdapat hadis Shahih: Rasulullah ﷺ biasa memakai celak tiga kali pada setiap matanya”. Maka memakai celak termasuk Sunnah Nabi ﷺ. Lebih baik lagi jika memakai itsmid. [Kaset Nuurun ‘Ala Ad Darb]
 
 
Fatwa Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan hafizhahullah
 
س: هل يجوز للرجل أن يكحل عينيه ؟
ج:الإكتحال سنة. فعله رسول الله صلى الله عليه وسلم يكتحل بالإثمد ليلة بعد ليلة . فيه منفعة للبصر. فهو سنة لا بئس بذالك.
 
 
Pertanyaan:
Apakah dibolehkan bagi laki-laki memakai celak pada kedua matanya?
 
Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan menjawab:
Memakai celak adalah Sunnah Nabi ﷺ. Beliau ﷺ biasa memakai celak dengan itsmid setiap malam. Celak memiliki manfaat bagi mata. Ia termasuk sunnah, diperbolehkan memakainya. [Kaset Majmu’ Fatawa Syaikh Shalih Fauzan, fatwa no. 3748]
 
Fatwa Lajnah Daimah
 
السؤال الثاني من الفتوى رقم 3598
س 2: هل يجوز للرجل أن يكتحل بالكحل أم لا؟
جـ 2: الحمد لله وحده والصلاة والسلام على رسوله وآله وصحبه . . وبعد:
نعم يجوز ذلك ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يفعل ذلك عند النوم .
وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
 
 
Pertanyaan
Memakai celak bagi laki-laki dibolehkan atau tidak?
 
Lajnah Daimah menjawab:
Segala puji kita panjatkan kepada Allah semata, semoga shalawat serta salam terlimpah atas Rasulullah ﷺ beserta keluarga dan sahabatnya. Amma ba’du.
Ya benar, memakai celak bagi laki-laki dibolehkan, karena Rasulullah ﷺ biasa melakukannya sebelum tidur.
Hidayah taufik hanya dari Allah ta’ala. Semoga shalawat serta salam terlimpah atas Nabi ﷺ beserta keluarga dan sahabatnya.
 
Tertanda:
• ‘Abdullah bin Qu’ud (Anggota)
• ‘Abdullah bin Ghadayan (Anggota)
• ‘Abdurrazzaq ‘Afifi (Wakil ketua)
• ‘Abdul Aziz bin Baz (Ketua)
(Fatawa Lajnah Daimah Lil Buhuts ‘Ilmiyyah Wal Ifta, 5/205/3598)
 
Wallahu Ta’ala A’lam
 
Sumber:
Catatan Tambahan:
Bagaimana Cara Bercelak?
 
Dari Anas radhiallahu ‘anhu:
“Bahwasanya Rasulullah ﷺ bercelak di matanya yang sebelah kanan tiga kali, dan di matanya yang sebelah kiri dua kali.” [Dishahihkan oleh Syaikh Albani di dalam kitabnya, Silsilah Hadis Sohih ( 633 )]
 
Mengenai “Atsamidu”, Ibnu Qoyim rahimahullah mengatakan: ” Ia adalah batu celak berwarna hitam. Didatangkan dari Asbahan, itu kualitas terbaik. Didatangkan juga dari negeri Maghrib.
 
Ibnu Qoyim rahimahullah mengatakan mengenai faidahnya:
“Bermanfaat menguatkan mata, menguatkan syaraf mata, menjaga kesehatan mata, menghilangkan daging jadi dan sel kulit mati, menghilangkan kotoran mata, menjernihkan mata dan menghilangkan pusing.” [Lihat Zadul Ma’ad, Juz 4, Hal 284, Cetakan Ar Risalah]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#lakilaki, #pria, #akhi, #adab, #lelaki, #pakaicelak, #hukum, #hukummemakaicelak, #perempuan, #wanita, #muslimah, #sebelumtidur, #itsmid, #fatwaulama, #bagaimanacarapakaicelak, #sunnahnabiyangmulaidilupakan #istimid #bagaimanacaramemakaicelak #manfaat, #faidah, #faedah, #manfaatmemakaicelak, #manfaatpakaicelak
, ,

HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH

HIDAYAH-HANYA-MILIK-ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH
 
Dalam shirah Nabi ﷺ dijelaskan, bahwa paman Nabi ﷺ, Abu Thalib, biasa melindungi Nabi ﷺ dari gangguan kaumnya. Perlindungan yang diberikan ini tidak ada yang menandinginya. Oleh karenanya Nabi ﷺ mengharapkan hidayah itu datang pada pamannya. Saat menjeleng wafatnya, Nabi ﷺ menjenguk pamannya tersebut dan ingin menawarkan pamannya masuk Islam. Beliau ﷺ ingin agar pamannya bisa menutupi hidupnya dengan kalimat “Laa ilaha illallah” karena kalimat inilah yang akan membuka pintu kebahagiaan di Akhirat. Berikut kisah yang disebutkan dalam hadis.
 
Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata: “Ketika menjelang Abu Thalib (paman Nabi ﷺ) meninggal dunia, Rasulullah ﷺ menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Ketika itu Nabi ﷺ mengatakan pada pamannya:
أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
 
“Wahai pamanku, katakanlah ‘Laa ilaha illalah’, yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”
 
Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah berkata:
 
يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
 
“Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthallib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Mutthalib.
 
Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan:
لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ
 
“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah.”
 
Kemudian turunlah ayat:
 
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
 
“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahanam.” [QS. At-Taubah: 113]
 
Allah ta’ala pun menurunkan ayat:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56] [HR. Bukhari no. 3884] 
 
Dari pembahasan hadis di atas dapat disimpulkan hidayah itu ada dua macam:
 
1. Hidayah Irsyad Wa Dalalah, maksudnya adalah hidayah berupa memberi petunjuk pada orang lain.
2. Hidayah Taufik, maksudnya adalah hidayah untuk membuat seseorang itu taat pada Allah.
 
Hidayah pertama bisa disematkan pada manusia. Contohnya pada firman Allah:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
 
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. Asy-Syura: 52] Memberi petunjuk yang dimaksud di sini adalah memberi petunjuk berupa penjelasan. Ini bisa dilakukan oleh Nabi dan yang lainnya.
 
Namun untuk hidayah kedua, yaitu hidayah supaya bisa beramal dan taat, TIDAK dimiliki kecuali hanya Allah saja. Seperti dalam firman Allah ta’ala:
 
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56]
 
Allah ta’ala berfirman:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
 
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]
 
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

HIKMAH DI BALIK MELEMPAR JAMARAT

HIKMAH DI BALIK MELEMPAR JAMARAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
#FikihHajiUmrah
HIKMAH DI BALIK MELEMPAR JAMARAT
 
Ringkasan Kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA hafizhahullah
Tempat: Masjid Nabawi Madinah
Hari dan Tanggal: Kamis, 16 Dzul Hijjah 1438H
 
1. Harus bersyukur bisa menunaikan ibadah agung, yaitu berhaji, karena haji mahal dan berharga. Di dalamnya terdapat Wukuf di Arafah, Mabit di Muzdalifah dan Mina, yang mana tidak semua orang diberi petunjuk dan kemudahan. Keberadaan Anda bermunajaat di Padang Arafah sungguh merupakan kenikmatan yang diimpikan jutaan Muslim di penjuru dunia. Dan Andalah yang telah terpilih.
 
2. Haji Mabrur bukan kalimat sederhana karena:
– Tidak ada pahala yang setimpal kecuali Surga.
– Membersihkan dari dosa, bahkan dosa besar, sebagaimana ia keluar dari rahim ibunya, sebagaimana kisah masuk Islamnya ‘Amr bin Al Ash radhiyallahu ‘anhu, yang Rasulullah ﷺ bersabda: “…Bahwa haji akan menghapuskan dosa-dosa sebelumnya.”
 
3. Hikmah suatu amal ibadah, jika kita mengetahuinya, maka ini adalah baik, dan menambah keteguhan iman. Tetapi jika hikmahnya tidak diketahui, maka yang harus dilakukan oleh seorang Muslim adalah tunduk dan patuh.
 
4. Secara global, hikmah ibadah haji adalah untuk berzikir mengingat Allah taala. Dalam hadis: “Sesungguhnya Thawaf di Baitullah, Sai antara Shafa dan Marwah, serta melepar Jamarat, adalah untuk mengingat Allah taala”.
 
5. Sebagian amalan haji diketahui hikmahnya seperti Sai; yaitu ketika Hajar mencari air untuk minum anaknya. yaitu Ismail. Tetapi BUKAN berarti saat sekarang seorang yang melakukan Sai, ia sedang mencari air untuk anaknya.
 
6. Asal kisah pelemparan Jamarat adalah ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ingin menyembelih Ismail atas perintah dan wahyu dari Allah. Akan tetapi ia diganggu setan sebanyak tiga kali.
 
7. Kisah penyembelihan terjadi khilaf antara versi Agama Islam dan versi Ahlu Kitab. Menurut agama Islam, yang disembelih adalah Ismail. Sedangkan menurut Ahlu Kitab yang disembelih adalah Ishaq. Namun yang benar adalah Ismail, karena kejadian penyembelihan di Mekah, dan yang tinggal di Mekah adalah Ismail, dan kaum Musliminlah yang memperingati peristiwa tersebut dengan Hari Raya Kurban setiap tahun.
 
8. TIDAK ADA SETAN di lubang Jamarat tatkala melempar, sebagaimana keyakinan sebagian orang.
 
9. Begitu juga Sai, tidak boleh meyakini mencari air, sebagaimana Hajar.
 
10. Ibrahim ‘alaihissalam saja digoda dan diganggu oleh setan, apalagi manusia biasa seperti kita. Maka harus selalu berhati-hati dan jangan merasa aman dari gangguan setan.
 
11. Nabi Ibrahim alaihissalam berdakwah kepada tauhid dari mulai muda. Ini menjadi pemicu agar kita menggunakan waktu untuk berdakwah semasa muda dan saat masih mampu.
 
12. Di antara teman yang baik adalah anak yang saleh, sebagaimana Nabi Ibrahim ketika ditolak oleh kaumnya, dan saat itu tidak ada yang beriman, maka Ibrahim berdoa untuk dianugrahkan anak saleh dan ia pun dianugrahi Ismail.
 
13. Selalu BERBAIK SANGKA KEPADA ALLAH TAALA. Mungkin sebab doa belum dikabulkan karena saat itu belum cocok untuknya dikabulkan doanya. Seperti dikabulkannya doa Nabi Ya’qub setelah puluhan tahun agar bisa bertemu dengan Yusuf, baru bertemu ketika Yusuf alaihissalam setelah dia menjadi pejabat agung di Mesir, agar bermanfaat untuk Ya’qub dan keluarganya. Begitu juga Nabi Ibrahim alaihissalam ketika berdoa minta anak semenjak berumur 20 tahun, baru dikabulkan setelah berumur 80-an tahun.
 
14. Wanita godaan terbesar bagi laki-laki, kisah Sarah dengan Raja pemimpin jahat.
 
15. Jika punya istri dua, maka jangan menceritakan kepada istri pertama kebaikan istri kedua, karena akan menjadikan istri pertama cemburu.
 
16. Salah satu sebab Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ismail, di mana Ibrahim sudah mulai terlalu cinta kepada Ismail, adalah agar tidak tercampur cintanya dengan kecintaan kepada Allah taala, karena Nabi Ibrahim adalah Khalilullah, kekasih Allah terdekat.
 
17. Mimpi seorang nabi adalah wahyu yang paling rendah.
 
18. Kalimat “Saya sedang melihat di dalam mimpi saya “, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab tafsir menunjukkan kesabaran Nabi Ibrahim untuk memberitahukan dengan lembut perkara tersebut kepada anaknya. Ini bekal untuk mendidik anak, yaitu agar santun kepada anak dalam berbuat dan berkata-kata.
 
19. Di antara sikap ujub dalam beramal adalah menyerahkan diri dan urusannya kepada dirinya sendiri, dan lupa dengan kuasa dan kekuatan Allah taala.
 
20. Ketika hendak menyembelih, posisi wajah Nabi Ismail di balik (di atas pelipis), agar Ibrahim tidak terlalu sedih melihat wajah anaknya yang sedang disembelih. Yang hal ini bisa saja menggoda beliu untuk mundur dari perintah Allah
 
21. Ujian para nabi adalah ujian yang paling berat.
 
22. Ujian terkadang bertahap-tahap. Dan jika ujiannya tambah berat. maka berarti jalan keluar sebentar lagi datang.
 
23. Seseorang diuji berdasarkan kekuatan imannya.
 
24. Di antara beratnya ujian Nabi Ibrahim:
– Diperintahkan menyembelih anak yang sangat diharapkan kehadirannya, setelah berdoa sekian lama.
– Diperintahkan menyembelih anak yang sudah sangat diharapkan sebagai penerus.
– Diperintahkan menyembelih anak yang sangat dicintai.
– Apalagi anak tersebut anak semata wayang.
– Apalagi anak tersebut sangat saleh.
 
25. Beratnya ujian Nabi Ibrahim karena beliau adalah Khalilullah.
 
26. Terkadang seseorang diuji dengan perkara sangat yang dicintai, agar yang paling patut dicintai adalah hanya Allah semata.
 
27. Di antara beratnya ujian Nabi Muhammad ﷺ:
– Diwafatkan bapak beliau sebelum beliau lahir.
– Diwafatkan ibunya ketika beliau masih belum baligh.
– Diwafatkan dua anak laki-laki beliau ﷺ, padahal masih bayi dan kecil.
– Diwafatkan sebelum beliau, tiga anak perempuan beliau sebelum beliau wafat.
 
28. Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad ﷺ, dan Nabi Isa berdoa. Ini menunjukkan, bahwa mereka bukan sembahan, tetapi mereka adalah makhluk.
 
29. Bermusyawarah dengan anak, salah satu metode dalam mendidik anak, meskipun orangtua sudah mempunyai keputusan.
28. Ujian tidak akan lebih dari kemampuan manusia, maka teruslah bersabar tatkala diuji.
 
30. Terkadang Allah memberikan pertolongan di puncak kesulitan, seperti kisah Nabi Ishaq.
 
31. Versi Ahlu Kitab bahwa yang disembelih adalah Ishaq.
 
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin Al Banjary
,

KEUTAMAAN ZIKIR RIDA ALLAH SEBAGAI RAB, ISLAM SEBAGAI AGAMA DAN MUHAMMAD SEBAGAI NABI

KEUTAMAAN ZIKIR RIDA ALLAH SEBAGAI RAB, ISLAM SEBAGAI AGAMA DAN MUHAMMAD SEBAGAI NABI

سْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

KEUTAMAAN ZIKIR RIDA ALLAH SEBAGAI RAB, ISLAM SEBAGAI AGAMA DAN MUHAMMAD SEBAGAI NABI

Rasulullah ﷺ bersabda:

Barang siapa yang pada waktu pagi mengucapkan:

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا

Rodhiitu billaahi robbaa wa bil-Islaami diinaa, wa bi-Muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama nabiyya.

Artinya:

“Aku rida Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi.”

Maka aku adalah penjamin. Benar-benar akan aku pegang tangannya, hingga aku masukkan ia ke dalam Surga [Lihat Ash Shahihah no 2686]

Di antara faidah lainnya juga adalah: Barang siapa yang mengucapkan dikir ini sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali di petang hari, maka pantas baginya mendapatkan rida Allah. [HR. Abu Daud no. 5072, Tirmidzi no. 3389. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini Hasan]

 

, ,

KISAH WANITA PEZINA YANG MEMBERI MINUM ANJING

KISAH WANITA PEZINA YANG MEMBERI MINUM ANJING

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#KisahMuslim, #MutiaraSunnah

KISAH WANITA PEZINA YANG MEMBERI MINUM ANJING

Ada hadis yang membicarakan tentang keutamaan memberikan minum pada hewan. Ini menunjukkan, bahwa Islam mengajarkan untuk berbuat baik pada setiap makhluk, termasuk pula hewan. Di antara hadis yang diangkat adalah membicarakan wanita pezina yang memberi minum anjing, dan akhirnya ia mendapatkan pengampunan dosa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا

“Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” [HR. Muslim no. 2245]

Beberapa faidah dari hadis di atas, di antaranya:

1- Yang dimaksud dengan hewan yang ditolong adalah hewan yang dihormati, yang tidak diperintahkan untuk dibunuh. Memberi minum pada hewan itu akan meraih pahala. Memberi makan juga termasuk bentuk berbuat baik padanya. Demikian penjelasan dari Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (14: 214).

2- Boleh bersafar seorang diri tanpa membawa bekal, selama tidak khawatir kesulitan berat saat safar. (Fathul Bari, 5: 42).

3- Hadis di atas juga berisi motivasi untuk berbuat baik pada manusia. Jika dengan memberikan minum pada anjing bisa mendapatkan pengampunan dosa, maka memberi minum pada manusia tentu pula akan mendapatkan pahala yang besar. (Idem)

4- Boleh memberikan sedekah sunnah pada orang musyrik, selama tidak ada yang Muslim. Namun jika ada, ia lebih berhak. (Idem)

5- Jika ada hewan yang butuh minum, manusia pun demikian. Maka manusia yang lebih didahulukan. (Idem)

6- Memberikan minum pada hewan yang membutuhkan, termasuk pula anjing, akan menuai pahala dan terhapusnya dosa.

7- Besarnya karunia Allah dan keluasan rahmat-Nya. Dia membalas dengan balasan yang besar atas perbuatan yang sedikit. Allah mengampuni dosa orang tersebut hanya dengan sedikit perbuatan, yaitu dengan memberi minum anjing.

8- Seorang Muslim pelaku dosa besar tidak divonis kafir. Bisa jadi Allah mengampuni dosa besar tanpa tobat, karena dia melakukan kebaikan, yang dengannya Allah mengampuninya. Wanita pezina itu diampuni bukan karena tobatnya, namun karena dia memberi minum anjing, sebagaimana hal itu jelas terlihat dari hadis. Tidak mengafirkan seorang Muslim karena suatu dosa adalah sesuatu yang ditetapkan di dalam syariat Taurat, juga dalam syariat Islam.

Semoga bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/7395-kisah-wanita-pezina-yang-memberi-minum-pada-anjing.html

,

PANDUAN SHALAT WITIR

PANDUAN SHALAT WITIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

PANDUAN SHALAT WITIR

Segala puji bagi Allah, Rabb yang mengatur malam dan siang. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Pada kesempatan kali ini kami akan menyajikan panduan singkat shalat Witir. Semoga yang singkat ini bermanfaat.

Witir secara bahasa berarti ganjil. Hal ini sebagaimana dapat kita lihat dalam sabda Nabi ﷺ:

إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

“Sesungguhnya Allah itu Witr dan menyukai yang Witr (ganjil).” (HR. Bukhari no. 6410dan Muslim no. 2677)

Sedangkan yang dimaksud Witir pada shalat Witir adalah shalat yang dikerjakan antara shalat Isya’ dan terbitnya fajar (masuknya waktu Subuh), dan shalat ini adalah penutup shalat malam.

Mengenai shalat Witir apakah bagian dari shalat lail (shalat malam/Tahajud) atau tidak, para ulama berselisih pendapat. Ada ulama yang mengatakan, bahwa shalat Witir adalah bagian dari shalat lail, dan ada ulama yang mengatakan bukan bagian dari shalat lail.

Hukum Shalat Witir

Menurut Mayoritas Ulama, hukum shalat Witir adalah Sunnah Muakkad (sunnah yang amat dianjurkan).

Namun ada pendapat yang cukup menarik dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, bahwa shalat Witir itu wajib bagi orang yang punya kebiasaan melaksanakan shalat Tahajud. [Al Ikhtiyarot, ‘Alaud diin Abul Hasan Ali bin Muhammad bin ‘Abbas Al Ba’li Ad Dimasyqi, hal. 57, Mawqi’ Misykatul Islamiyah]. Dalil pegangan beliau barangkali adalah sabda Nabi ﷺ:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً

“Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat Witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)

Waktu Pelaksanaan Shalat Witir

Para ulama sepakat, bahwa waktu shalat Witir adalah antara shalat Isya hingga terbit fajar. Adapun jika dikerjakan setelah masuk waktu Subuh (terbit fajar), maka itu tidak diperbolehkan menurut pendapat yang lebih kuat. Alasannya adalah sabda Nabi ﷺ:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu Subuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai Witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749, dari Ibnu ‘Umar)

Ibnu ‘Umar mengatakan:

مَنْ صَلَّى بِاللَّيْلِ فَلْيَجْعَلْ آخِرَ صَلاَتِهِ وِتْراً فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِذَلِكَ فَإِذَا كَانَ الْفَجْرُ فَقَدْ ذَهَبَتْ كُلُّ صَلاَةِ اللَّيْلِ وَالْوِتْرُ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَوْتِرُوا قَبْلَ الْفَجْرِ »

“Barang siapa yang melaksanakan shalat malam, maka jadikanlah akhir shalat malamnya adalah Witir, karena Rasulullah ﷺ memerintahkan hal itu. Dan jika fajar tiba, seluruh shalat malam dan shalat Witir berakhir, karenanya Rasulullah ﷺ bersabda: “Shalat Witirlah kalian sebelum fajar”. (HR. Ahmad 2/149. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

Lalu manakah waktu shalat Witir yang utama dari waktu-waktu tadi?

Jawabannya, waktu yang utama atau dianjurkan untuk shalat Witir adalah sepertiga malam terakhir.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ.

“Kadang-kadang Rasulullah ﷺ melaksanakan Witir di awal malam, pertengahannya dan akhir malam. Sedangkan kebiasaan akhir beliau adalah beliau mengakhirkan Witir hingga tiba waktu sahur.” (HR. Muslim no. 745)

Disunnahkan berdasarkan kesepakatan para ulama,  shalat Witir itu dijadikan akhir dari shalat Lail berdasarkan hadis Ibnu ‘Umar yang telah lewat:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً

“Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat Witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)

Yang disebutkan di atas adalah keadaan ketika seseorang yakin (kuat) bangun di akhir malam. Namun jika ia khawatir tidak dapat bangun malam, maka hendaklah ia mengerjakan shalat Witir sebelum tidur. Hal ini berdasarkan hadis Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَيُّكُمْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ ثُمَّ لْيَرْقُدْ وَمَنْ وَثِقَ بِقِيَامٍ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ آخِرِهِ فَإِنَّ قِرَاءَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَحْضُورَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ

“Siapa di antara kalian yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia Witir dan baru kemudian tidur. Dan siapa yang yakin akan terbangun di akhir malam, hendaklah ia Witir di akhir malam, karena bacaan di akhir malam dihadiri (oleh para Malaikat) dan hal itu adalah lebih utama.” (HR. Muslim no. 755)

Dari Abu Qotadah, ia berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لأَبِى بَكْرٍ « مَتَى تُوتِرُ » قَالَ أُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ. وَقَالَ لِعُمَرَ « مَتَى تُوتِرُ ». قَالَ آخِرَ اللَّيْلِ. فَقَالَ لأَبِى بَكْرٍ « أَخَذَ هَذَا بِالْحَزْمِ ». وَقَالَ لِعُمَرَ « أَخَذَ هَذَا بِالْقُوَّةِ ».

“Nabi ﷺ bertanya kepada Abu Bakar: ” Kapankah kamu melaksanakan Witir?” Abu Bakr menjawab: “Saya melakukan Witir di permulaan malam”. Dan beliau ﷺ bertanya kepada Umar, “Kapankah kamu melaksanakan Witir?” Umar menjawab: “Saya melakukan Witir pada akhir malam”. Kemudian beliau ﷺ berkata kepada Abu Bakar: “Orang ini melakukan dengan penuh hati-hati.” Dan kepada Umar beliau ﷺ mengatakan: “Sedangkan orang ini begitu kuat.” (HR. Abu Daud no. 1434 dan Ahmad 3/309. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

Jumlah Rakaat dan Cara Pelaksanaan

Witir boleh dilakukan satu, tiga, lima, tujuh atau sembilan rakaat. Berikut rinciannya.

Pertama: Witir dengan Satu Rakaat

Cara seperti ini dibolehkan oleh Mayoritas Ulama, karena Witir dibolehkan dengan satu rakaat. Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ:

الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ

“Witir adalah sebuah keharusan bagi setiap Muslim. Barang siapa yang hendak melakukan Witir lima rakaat, maka hendaknya ia melakukannya. Dan barang siapa yang hendak melakukan Witir tiga rakaat, maka hendaknya ia melakukannya. Dan barang siapa yang hendak melakukan Witir satu rakaat, maka hendaknya ia melakukannya.” (HR. Abu Daud no. 1422. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

Kedua: Witir dengan Tiga Rakaat

Di sini dapat dilakukan dengan dua cara:

[a] Tiga rakaat, sekali salam,

[b] Mengerjakan dua rakaat terlebih dahulu kemudian salam, lalu ditambah satu rakaat kemudian salam.

Dalil cara pertama:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُوتِرُ بِثَلاَثٍ لاَ يَقْعُدُ إِلاَّ فِى آخِرِهِنَّ.

“Rasulullah ﷺ biasa berwitir tiga rakaat sekaligus, beliau tidak duduk (Tasyahud) kecuali pada rakaat terakhir.” (HR. Al Baihaqi)

Dalil cara kedua:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى فِى الْحُجْرَةِ وَأَنَا فِى الْبَيْتِ فَيَفْصِلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ بِتَسْلِيمٍ يُسْمِعُنَاهُ.

“Rasulullah ﷺ shalat di dalam kamar ketika saya berada di rumah, dan beliau ﷺ memisah antara rakaat yang genap dengan yang Witir (ganjil) dengan salam yang beliau ﷺ perdengarkan kepada kami.” (HR. Ahmad 6/83. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

Ketiga: Witir dengan Lima Rakaat

Cara pelaksanaannya adalah dianjurkan mengerjakan lima rakaat sekaligus dan Tasyahud pada rakaat kelima, lalu salam. Dalilnya adalah hadis dari ‘Aisyah, ia mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ لاَ يَجْلِسُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ فِى آخِرِهَا.

“Rasulullah ﷺ biasa melaksanakan shalat malam sebanyak tiga belas rakaat. Lalu beliau berwitir dari shalat malam tersebut dengan lima rakaat. Dan beliau tidaklah duduk (Tasyahud) ketika Witir kecuali pada rakaat terakhir.” (HR. Muslim no. 737)

Keempat: Witir dengan Tujuh Rakaat

Cara pelaksanaannya adalah dianjurkan mengerjakannya tanpa duduk Tasyahud, kecuali pada rakaat keenam. Setelah Tasyahud pada rakaat keenam, tidak langsung salam, namun dilanjutkan dengan berdiri pada rakaat ketujuh. Kemudian Tasyahud pada rakaat ketujuh dan salam. Dalilnya akan disampaikan pada Witir dengan sembilan rakaat.

Kelima: Witir dengan Sembilan Rakaat

Cara pelaksanaannya adalah dianjurkan mengerjakannya tanpa duduk Tasyahud, kecuali pada rakaat kedelapan. Setelah Tasyahud pada rakaat kedelapan, tidak langsung salam, namun dilanjutkan dengan berdiri pada rakaat kesembilan. Kemudian Tasyahud pada rakaat kesembilan dan salam.

Dalil tentang hal ini adalah hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. ‘Aisyah mengatakan:

كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَطَهُورَهُ فَيَبْعَثُهُ اللَّهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّى تِسْعَ رَكَعَاتٍ لاَ يَجْلِسُ فِيهَا إِلاَّ فِى الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَىَّ فَلَمَّا أَسَنَّ نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَنَعَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ مِثْلَ صَنِيعِهِ الأَوَّلِ فَتِلْكَ تِسْعٌ يَا بُنَىَّ

“Kami dulu sering memersiapkan siwaknya dan bersucinya. Setelah itu Allah membangunkannya sekehendaknya untuk bangun malam. Beliau lalu bersiwak dan berwudhu` dan shalat sembilan rakaat. Beliau tidak duduk dalam kesembilan rakaat itu selain pada rakaat kedelapan, beliau menyebut nama Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian beliau bangkit dan tidak mengucapkan salam. Setelah itu beliau berdiri dan shalat untuk rakaat kesembilannya. Kemudian beliau berzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, lalu beliau mengucapkan salam dengan nyaring agar kami mendengarnya. Setelah itu beliau shalat dua rakaat setelah salam sambil duduk. Itulah sebelas rakaat wahai anakku. Ketika Nabiyullah berusia lanjut dan beliau telah merasa kegemukan, beliau berwitir dengan tujuh rakaat, dan beliau lakukan dalam dua rakaatnya, sebagaimana yang beliau lakukan pada yang pertama. Maka itu berarti sembilan wahai anakku.” (HR. Muslim no. 746)

Qunut Witir

Tanya:  Apa hukum membaca doa Qunut setiap malam ketika (shalat sunnah) Witir?

Jawab: Tidak masalah mengenai hal ini. Doa Qunut (Witir) adalah sesuatu yang disunnahkan. Nabi ﷺ pun biasa membaca Qunut tersebut. Beliau ﷺ pun pernah mengajari (cucu beliau) Al Hasan beberapa kalimat Qunut untuk shalat Witir. Ini termasuk hal yang disunnahkan. Jika engkau merutinkan membacanya setiap malamnya, maka itu tidak mengapa. Begitu pula jika engkau meninggalkannya suatu waktu sehingga orang-orang tidak menyangkanya wajib, maka itu juga tidak mengapa. Jika imam meninggalkan membaca doa Qunut suatu waktu dengan tujuan untuk mengajarkan manusia bahwa hal ini tidak wajib, maka itu juga tidak mengapa. Nabi ﷺ ketika mengajarkan doa Qunut pada cucunya Al Hasan, beliau ﷺ tidak mengatakan padanya: “Bacalah doa Qunut tersebut pada sebagian waktu saja”. Sehingga hal ini menunjukkan, bahwa membaca Qunut Witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan. [Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, Fatawa Nur ‘alad Darb, 2/1062]

Doa Qunut Witir yang dibaca terdapat dalam riwayat berikut.

Al Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah ﷺ mengajariku beberapa kalimat yang saya ucapkan dalam shalat Witir, yaitu:

اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

ALLOHUMMAHDINII FII MAN HADAIIT,
WA ‘AAFINII FII MAN ‘AAFAIIT,
WA TAWALLANII FI MAN TAWALLAIIT,
WA BAARIK LII FIIMAA A’ THOIIT,
WA QINII SYARRO MAA QODHOIIT,
 
FA INNAKA TAQDHII WA LAA YUQDHO ‘ALAIIK,
WA INNAHU LAA YADZILLU MAN WAALAIIT,
WA LAA YA’IZZU MAN ‘AADAIIT,
TABAAROKTA ROBBANAA WA TA ’AALAIT.
 
Artinya:
Ya Allah, berikanlah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau berikan petunjuk;
Berilah aku keselamatan sebagaimana orang-orang yang telah Engkau berikan keselamatan;
Lindungilah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau lindungi;
Berkahilah semua yang telah Engkau berikan kepadaku;
Lindungilah aku dari kejelekan takdir-Mu;
 
Sesungguhnya Engkau menakdirkan dan tidak ada yang menentukan takdir bagi-Mu;
Sesungguhnya orang yang Engkau cintai tidak akan pernah menjadi hina dan orang yang Engkau musuhi tidak akan pernah menjadi mulia.
Maha Berkah dan Maha Tinggi Engkau, wahai Rabb kami.
(HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

 

Bagaimana Jika Luput dari Shalat Witir?

Tanya: Apakah shalat Witir itu wajib? Apakah kami nanti berdosa jika suatu hari kami mengerjakan shalat tersebut dan di hari yang lainnya kami tinggalkan?

Jawab: Hukum shalat Witir adalah Sunnah Muakkad (sangat dianjurkan). Oleh karenanya sudah sepatutnya setiap Muslim menjaga shalat Witir ini. Sedangkan orang yang kadang-kadang saja mengerjakannya (suatu hari mengerjakannya dan di hari lain meninggalkannya), ia tidak berdosa. Akan tetapi, orang  seperti ini perlu dinasihati, agar ia selalu menjaga shalat Witir. Jika suatu saat ia luput mengerjakannya, maka hendaklah ia menggantinya di siang hari dengan jumlah rakaat yang genap. Karena Nabi ﷺ jika luput dari shalat Witir, beliau ﷺ selalu melakukan seperti itu. Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadis dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:  “Jika beliau ketiduran atau sedang sakit sehingga tidak dapat melakukannya di malam hari, maka beliau shalat di waktu siangnya sebanyak dua belas rakaat” (HR. Muslim).

Nabi ﷺ biasanya melaksanakan shalat malam sebanyak sebelas rakaat. Beliau ﷺ salam setiap kali dua rakaat, lalu beliau ﷺ berwitir dengan satu rakaat. Jika luput dari shalat malam karena tidur atau sakit, maka beliau ﷺ mengganti shalat malam tersebut di siang harinya dengan mengerjakan dua belas rakaat. Inilah maksud dari ucapan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tadi. Oleh karena itu, jika seorang Mukmin punya kebiasaan shalat di malam hari sebanyak lima rakaat, lalu ia ketiduran atau luput dari mengerjakannya, hendaklah ia ganti shalat tersebut di siang harinya dengan mengerjakan shalat enam rakaat. Ia kerjakan dengan salam setiap dua rakaat. Demikian pula jika seseorang biasa shalat malam tiga rakaat, maka ia ganti dengan mengerjakan di siang harinya empat rakaat, ia kerjakan dengan dua kali salam. Begitu pula jika ia punya kebiasaan shalat malam tujuh rakaat, maka ia ganti di siang harinya dengan delapan rakaat, ia kerjakan dengan salam setiap dua rakaat.

Hanya Allah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. [Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, ditandangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku Ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku Wakil Ketua, Abdullah bin Qu’ud dan Abdullah bin Ghodyan selaku Anggota, pertanyaan kedua no. 6755, 7/172-173]

Sudah Witir Sebelum Tidur dan Ingin Shalat Malam Di Akhir Malam

Tanya: Apakah sah shalat sunnah yang dikerjakan di seperti malam terakhir, namun sebelum tidur telah shalat Witir?

Jawab: Shalat malam itu lebih utama dikerjakan di sepertiga malam terakhir, karena sepertiga malam terakhir adalah waktu Nuzul Ilahi (Allah turun ke langit dunia). Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadis yang Shahih, Nabi ﷺ bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman (yang artinya): ‘Adakah seorang yang meminta? Pasti Aku akan memberinya. Adakah seorang yang berdoa? Pasti Aku akan mengabulkannya. Dan adakah seorang yang memohon ampunan? Pasti Aku akan mengampuninya’. Hal ini berlangsung hingga tiba waktu fajar.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah).

Hadis ini menunjukkan, bahwa shalat di sepertiga malam terakir adalah sebaik-baiknya amalan. Oleh karena itu, lebih utama jika shalat malam itu dikerjakan di sepertiga malam terakhir. Begitu pula untuk shalat Witir, lebih utama untuk dijadikan sebagai akhir amalan di malam hari. Inilah yang ditunjukkan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya: “Jadikanlah akhir shalatmu di malam hari adalah shalat Witir ” (HR. Bukhari, dari Abdullah bin ‘Umar).

Jadi, jika seseorang telah mengerjakan Witir di awal malam, lalu ia bangun di akhir malam, maka tidak mengapa jika ia mengerjakan shalat sunnah di sepertiga malam terakhir. Ketika itu ia cukup dengan amalan shalat Witir yang dikerjakan di awal malam saja, karena Nabi ﷺ MELARANG mengerjakan dua Witir dalam satu malam. [Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhohullah, Al Muntaqo min Fatawa Al Fauzan no. 41, 65/19]

Semoga panduan shalat Witir ini bermanfaat bagi pembaca sekalian. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel www.rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/1006-panduan-shalat-Witir.html

 

 

,

APA FAIDAH BERDOA SEMENTARA TAKDIR TIDAK MUNGKIN DITOLAK?

APA FAIDAH BERDOA SEMENTARA TAKDIR TIDAK MUNGKIN DITOLAK?

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

APA FAIDAH BERDOA SEMENTARA TAKDIR TIDAK MUNGKIN DITOLAK?

Pertanyaan ini telah dijawab oleh Imam Nawawi di dalam kitab Al Adzkar. Beliau menukilkan perkataan Imam Ghazali yang mengatakan:

‘Ketahuilah, sejatinya menolak musibah dengan doa adalah termasuk takdir Allah. Doa merupakan sebab untuk menolak musibah dan sekaligus sebab terwujudnya rahmat. Hal ini bagaikan perisai yang merupakan sebab untuk menangkis senjata, atau air yang merupakan sebab tumbuhnya tanaman dari dalam bumi. Sebagaimana perisai dan anak panah yang saling menyerang dan menahan, demikian pula halnya doa dan musibah. Dan dalam mengakui takdir, tidak disyaratkan untuk meninggalkan senjata saat perang. Allah ta’ala berfirman:

وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُم وَأَسْلِحَتِهِمْ

“Hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata mereka.” (QS. An Nisaa:102)

Betul, Allah telah menakdirkan segala sesuatu. Namun Allah jualah yang telah menakdirkan sebab-sebabnya.

Berikutnya, yang juga termasuk faidah dari doa adalah hadirnya hati dan rasa butuh kepada Allah. Keduanya merupakan puncak akhir dari pengahambaan diri dan makrifat kepada Allah. Wallahu a’lam.” [Al Adzkar, hal: 354]

 

Sumber: https://muslim.or.id/19063-dzikir-dan-doa-mohon-perlindungan-dari-bahaya.html