Posts

,

ADAB MENASIHATI

ADAB MENASIHATI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
ADAB MENASIHATI
 
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
 
تعمدني بنصحك في انفرادي . وجنبْني النصيحة في الجماعهْ .فإن النصح بين الناس نوع. من التوبيخ لا أرضى استماعهْ . وإن خالفتني وعصيت قولي. فلا تجزعْ إذا لم تُعْطَ طاعهْ
 
“Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri. Jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian. Sesungguhnya nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk sesuatu pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya. Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku, maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti.” [Diwan Imam Syafi’i halaman 56]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adabmenasehati #adabmenasihati #nasihat #etika #menasihati #menasehati #sendirian #janganditengahkeramaian #ramai #pelecehan #etika #tatacara #cara #didepanorangbanyak #ImamAsySyafii
,

DI ANTARA ADAB MAJELIS ILMU

DI ANTARA ADAB MAJELIS ILMU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

DI ANTARA ADAB MAJELIS ILMU
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
 
Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan Kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka. Para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekatnya. Barang siapa yang kurang amalannya, maka nasabnya tidak mengangkatnya. [HR. Muslim dalam Shahihnya, Kitab Adz Dzikir Wad Du’a, Bab Fadhlul Ijtima’ ‘Ala Tilawatil Qur’an Wa ‘Ala Dzikr, nomor 6793, juz 17/23. (Lihat Syarah An Nawawi) dan selainnya]
 
Arti Penting Majelis Ilmu
 
Majelis ilmu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari para ulama Rabbani. Bahkan mengadakan majelis ilmu merupakan perkara penting yang harus dilakukan oleh seorang alim. Karena hal itu merupakan martabat tertinggi para ulama Rabbani, sebagaimana firman Allah ﷻ:
 
مَاكَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّي مِن دُونِ اللهِ وَلَكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ
 
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia:”Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata):”Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. [QS. Ali Imran: 79].
 
Hal ini pun dilakukan Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ menganjurkan kita untuk menghadiri majelis ilmu, dengan sabdanya:
 
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ
 
Jika kalian melewati taman Surga maka berhentilah. Mereka bertanya: ”Apakah taman Surga itu?” Beliau ﷺ menjawab: ”Halaqah zikir (majelis Ilmu). [HR. At Tirmidzi dan dishahihkan Syeikh Salim bin Ied Al Hilali dalam Shahih Kitabul Adzkar 4/4].
 
Di antara faidah majelis ilmu ialah:
• Mengamalkan perintah Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ dan mencontoh jalan hidup para Salaf Shalih.
• Mendapatkan ketenangan.
• Mendapatkan rahmat Allah ﷻ
• Dipuji Allah di hadapan para malaikat.
• Mengambil satu jalan mendapatkan warisan para Rasul.
• Mendapatkan ilmu dan adab dari seorang alim.
 
Adab Majelis Ilmu
 
Perkara yang harus diperhatikan dan dilakukan agar dapat mengambil faidah dari majelis ilmu di antaranya ialah:
 
• Ikhlas
 
Hendaklah kepergian dan duduknya seorang penuntut ilmu ke majelis ilmu hanya karena Allah semata, tanpa disertai riya dan keinginan dipuji orang lain. Seorang penuntut ilmu hendaklah bermujahadah dalam meluruskan niatnya, karena ia akan mendapatkan kesulitan dan kelelahan dalam meluruskan niatnya tersebut. Oleh karena itu Imam Sufyan Ats Tsauri berkata: “Saya tidak merasa susah dalam meluruskan sesuatu melebihi niat.” [Lihat Tadzkiratus Sami’ Wal Mutakallim, hal.68]
 
• Bersemangat Menghadiri Majelis Ilmu
 
Kesungguhan dan semangat yang tinggi dalam menghadiri majelis ilmu tanpa mengenal lelah dan kebosanan sangatlah diperlukan. Janganlah merasa cukup dengan menghitung banyaknya. Akan tetapi hitunglah berapa besar dan banyaknya kebodohan kita. Karena kebodohan sangat banyak, sedangkan ilmu yang kita miliki hanya sedikit sekali.
 
Lihatlah kesemangatan para ulama terdahulu dalam menghadiri majelis ilmu. Abul Abbas Tsa’lab, seorang ulama Nahwu berkomentar tentang Ibrahim Al Harbi: “Saya tidak pernah kehilangan Ibrahim Al Harbi dalam majelis pelajaran Nahwu atau bahasa selama lima puluh tahun”.
 
Lantas apa yang diperoleh Ibrahim Al Harbi? Akhirnya beliau menjadi ulama besar dunia. Ingatlah, ilmu tidak didapatkan seperti harta waris. Melainkan ilmu didapatkan dengan kesungguhan dan kesabaran.
 
Alangkah indahnya ungkapan Imam Ahmad bin Hambal:
‘Ilmu adalah karunia yang diberikan Allah kepada orang yang disukai-Nya. Tidak ada seorang pun yang mendapatkannya karena keturunan. Seandainya didapat dengan keturunan, tentulah orang yang paling berhak ialah Ahli Bait Nabi ﷺ.”
 
Demikian juga Imam Malik ketika melihat anaknya yang bernama Yahya keluar dari rumahnya bermain: “Alhamdulillah, Dzat yang tidak menjadikan ilmu ini seperti harta waris.”
 
Abul Hasan Al Karkhi berkata:
“Saya hadir di majelis Abu Khazim pada hari Jumat walaupun tidak ada pelajaran, agar tidak terputus kebiasanku menghadirinya.”
 
Lihatlah semangat mereka dalam mencari ilmu dan menghadiri majelis ilmu, sampai akhirnya mereka mendapatkan hasil yang menakjubkan.
 
• Bersegera Datang ke Majelis Ilmu dan Tidak Terlambat, Bahkan Harus Mendahuluinya dari Selainnya
 
Seseorang bila terbiasa bersegera dalam menghadiri majelis ilmu, maka akan mendapatkan faidah yang sangat banyak. Sehingga Asysya’bi ketika ditanya: “Dari mana engkau mendapatkan ilmu ini semua,?” ia menjawab:“Tidak bergantung kepada orang lain, bepergian ke negeri-negeri, dan sabar seperti sabarnya keledai, serta bersegera seperti bersegeranya elang.” [Lihat Rihlah Fi Thalabil Hadis, hal.196]
 
• Mencari dan Berusaha Mendapatkan Pelajaran yang Ada di Majelis Ilmu yang Tidak Dapat Dihadirinya
 
Terkadang seseorang tidak dapat menghadiri satu majelis ilmu karena alasan tertentu, seperti sakit dan yang lainnya, sehingga tidak dapat memahami pelajaran yang ada dalam majelis tersebut. Dalam keadaan seperti ini hendaklah ia mencari dan berusaha mendapatkan pelajaran yang terlewatkan itu. Karena sifat pelajaran itu seperti rangkaian. Jika hilang darinya satu bagian, maka dapat mengganggu yang lainnya.
• Mencatat Fidah-Faidah yang Didapatkan dari Kitab
 
Mencatat faidah pelajaran dalam kitab tersebut atau dalam buku tulis khusus. Faidah-faidah ini akan bermanfaat jika dibaca ulang dan dicatat dalam mempersiapkan materi mengajar, ceramah dan menjawab permasalahan. Oleh karena itu sebagian ahli ilmu menasihati kita, jika membeli sebuah buku agar tidak memasukkannya ke perpustakaan, kecuali setelah melihat kitab secara umum. Caranya dengan mengenal penulis, pokok bahasan yang terkandung dalam kitab dengan melihat daftar isi, dan membuka-buku sesuai dengan kecukupan waktu sebagian pokok bahasan kitab.
• Tenang dan Tidak Sibuk Sendiri dalam Majelis Ilmu
 
Ini termasuk adab yang penting dalam majelis ilmu. Imam Adz Dzahabi menyampaikan kisah Ahmad bin Sinan, ketika beliau berkata: “Tidak ada seorang pun yang bercakap-cakap di majelis Abdurrahman bin Mahdi. Pena tak bersuara. Tidak ada yang bangkit. Seakan-akan di kepala mereka ada burung. Atau seakan-akan mereka berada dalam shalat” [Tadzkiratul Hufadz 1/331]. Dan dalam riwayat yang lain: “Jika beliau melihat seseorang dari mereka tersenyum atau berbicara, maka dia mengenakan sandalnya dan keluar.” [Siyar A’lam Nubala 4/1470]
• Tidak Boleh Berputus Asa
 
Terkadang sebagian kita telah hadir di suatu majelis ilmu dalam waktu yang lama. Akan tetapi tidak dapat memahaminya kecuali sedikit sekali. Lalu timbul dalam diri kita perasaan putus asa dan tidak mau lagi duduk di sana. Tentunya hal ini tidak boleh terjadi. Karena telah dimaklumi, bahwa akal dan kecerdasan setiap orang berbeda. Kecerdasan tersebut akan bertambah dan berkembang karena dibiasakan. Semakin sering seseorang membiasakan dirinya, maka semakin kuat dan baik kemampuannya. Lihatlah kesabaran dan keteguhan para ulama dalam menuntut ilmu dan mencari jawaban satu permasalahan! Lihatlah apa yang dikatakan Syeikh Muhammad Al Amin Asy Syinqiti: “Ada satu masalah yang belum saya pahami. Lalu saya kembali ke rumah dan saya meneliti dan terus meneliti. Sedangkan pembantuku meletakkan lampu atau lilin di atas kepala saya. Saya terus meneliti dan minum the hijau sampai lewat 3/4 hari, sampai terbit fajar hari itu”. Kemudian beliau berkata: “Lalu terpecahlah problem tersebut.”
 
Lihatlah bagaimana beliau menghabiskan harinya dengan meneliti satu permasalahan yang belum jelas baginya.
 
• Jangan Memotong Pembicaraan Guru atau Penceramah
Termasuk adab yang harus diperhatikan dalam majelis ilmu yaitu tidak memotong pembicaraan guru atau penceramah. Karena hal itu termasuk adab yang jelek. Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita dengan sabdanya:
 
ليس منا من لم يجل كبيرنا و يرحم صغيرنا و يعرف لعالمنا حقه
 
Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, serta yang tidak mengerti hak ulama. [Riwayat Ahmad dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’].
 
Imam Bukhari menulis di Shahihnya: Bab “Orang Yang Ditanya Satu Ilmu dalam Keadaan Sibuk Berbicara, Hendaknya Menyempurnakan Pembicaraannya. Kemudian menyampaikan hadis:
 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنْ السَّاعَةِ قَالَ هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
 
Dari Abu Hurairah, beliau berkata:“Ketika Rasulullah ﷺ berada di majelis menasihati kaum, datanglah seorang Arabi dan bertanya:”Kapan Hari Kiamat?” (Tetapi) beliau ﷺ terus saja berbicara sampai selesai. Lalu (beliau ﷺ) bertanya: “Mana tampakkan kepadaku yang bertanya tentang Hari Kiamat?” Dia menjawab:”Saya, wahai Rasulullah ﷺ.” Lalu beliau ﷺ berkata: “Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah Hari Kiamat”. Dia bertanya lagi: “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Beliau ﷺ menjawab: “Jika satu perkara diberikan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah Hari Kiamat.” [HR. Bukhari].
Rasulullah ﷺ dalam hadis ini berpaling dan tidak memperhatikan penanya untuk mendidiknya.
 
• Beradab dalam Bertanya
 
Bertanya adalah kunci ilmu. Juga diperintahkan Allah ﷻ dalam firman-Nya:
 
فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ
 
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui. [QS. An Nahl: 43].
 
Demikian pula Rasulullah ﷺ mengajarkan, bahwa obat kebodohan yaitu dengan bertanya, sebagaimana sabdanya:
 
أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ
 
Seandainya mereka bertanya! Sesungguhnya obatnya kebodohan adalah bertanya. [Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi dan dishahihkan Syeikh Salim Al Hilali dalam Tanqihul Ifadah Al Muntaqa Min Miftah Daris Sa’adah, hal. 174].
 
Imam Ibnul Qayim berkata:
”Ilmu memiliki enam martabat. Yang pertama, baik dalam bertanya …… Ada di antara manusia yang tidak mendapatkan ilmu, karena tidak baik dalam bertanya. Adakalanya karena tidak bertanya langsung. Atau bertanya tentang sesuatu, padahal ada yang lebih penting. Seperti bertanya sesuatu yang tidak merugi jika tidak tahu dan meninggalkan sesuatu yang mesti dia ketahui.” [Miftah Daris Sa’adah 1/169]
 
Demikian juga Al Khathib Al Baghdadi memberikan pernyataan:”Sepatutnyalah rasa malu tidak menghalangi seseorang dari bertanya tentang kejadian yang dialaminya.” [Al Faqiih Wal Mutafaaqih 1/143]
 
Adab Bertanya
 
Oleh karena itu perlu dijelaskan beberapa adab yang harus diperhatikan dalam bertanya, di antaranya:
 
a. Bertanya perkara yang tidak diketahuinya dengan tidak bermaksud menguji
Hal ini dijadikan syarat pertanyaan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya:
 
فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ
 
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui. [QS. An Nahl: 43].
 
Dalam ayat ini Allah ﷻ menyebutkan syarat pertanyaan adalah tidak tahu. Sehingga seseorang yang tidak tahu bertanya sampai diberi tahu. Tetapi seseorang yang telah mengetahui suatu perkara diperbolehkan bertanya tentang perkara tersebut, untuk memberikan pengajaran kepada orang yang ada di majelis tersebut. Sebagaimana yang dilakukan Jibril kepada Rasulullah ﷺ dalam hadis Jibril yang masyur.
 
b. Tidak boleh menanyakan sesuatu yang tidak dibutuhkan, yang jawabannya dapat menyusahkan penanya, atau menyebabkan kesulitan bagi kaum Muslimin. Sebagaimana Allah ﷻ melarang dalam firman-Nya:
 
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَسْئَلُوا عَنْ أَشْيَآءَ إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِن تَسْئَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْءَانُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللهُ عَنْهَا وَاللهُ غَفُورٌ حَلِيمُُ
 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu. Dan jika kamu menanyakan di waktu Alquran itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. [QS. Al Maidah: 101].
 
Dan sabda Rasulullah ﷺ:
 
إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ
 
Seorang Muslim yang paling besar dosanya adalah orang yang bertanya sesuatu yang tidak diharamkan, lalu diharamkan karena pertanyaannya. [Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad].
 
Oleh karena itulah para sahabat dan tabi’in tidak suka bertanya tentang sesuatu kejadian sebelum terjadi. Rabi’ bin Khaitsam berkata: “Wahai Abdullah, apa yang Allah berikan kepadamu dalam kitabnya dari ilmu maka syukurilah. Dan yang Allah tidak berikan kepadamu, maka serahkanlah kepada orang alim dan jangan mengada-ada. Karena Allah taala berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ:
 
قُلْ مَآأَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَآأَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ
 
Katakanlah (hai Muhammad): ”Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas dakwahku. Dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan. Alquran ini, tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Alquran setelah beberapa waktu lagi. [Shad: 86-88]. [Jami’ Bayanil Filmi Wa Fadhlihi 2/136]
 
 
c. Diperbolehkan bertanya kepada seorang alim tentang dalil dan alasan pendapatnya
Hal ini disampaikan Al Khathib Al Baghdadi dalam Al Faqih Wal Mutafaqih 2/148: “Jika seorang alim menjawab satu permasalahan, maka boleh ditanya apakah jawabannya berdasarkan dalil ataukah pendapatnya semata”.
 
d. Diperbolehkan bertanya tentang ucapan seorang alim yang belum jelas. Berdasarkan dalil hadis Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
 
صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرِ سَوْءٍ قُلْنَا وَمَا هَمَمْتَ قَالَ هَمَمْتُ أَنْ أَقْعُدَ وَأَدَعَهُ
 
Saya shalat bersama Nabi ﷺ, lalu beliau memanjangkan shalatnya sampai saya berniat satu kejelekan? Kami bertanya kepada Ibnu Mas’ud: “Apa yang engkau niatkan?” Beliau menjawab: “Saya ingin duduk dan meninggalkannya”. [HR. Bukhari dan Muslim].
 
e. Jangan bertanya tentang sesuatu yang telah engkau ketahui jawabannnya, untuk menunjukkan kehebatanmu dan melecehkan orang lain
 
• Mengambil Akhlak dan Budi Pekerti Gurunya
Tujuan hadir di majelis ilmu bukan hanya terbatas pada faidah keilmuan semata. Ada hal lain yang juga harus mendapat perhatian serius, yaitu melihat dan mencontoh akhlak guru. Demikianlah para ulama terdahulu. Mereka menghadiri majelis ilmu, juga untuk mendapatkan akhlak dan budi pekerti seorang alim, untuk dapat mendorong mereka berbuat baik dan berakhlak mulia.
 
Diceritakan oleh sebagian ulama, bahwa majelis Imam Ahmad dihadiri lima ribu orang. Dikatakan hanya lima ratus orang yang menulis, dan sisanya mengambil faidah dari tingkah laku, budi pekerti dan adab beliau. [Siyar A’lam Nubala 11/316]
 
Abu Bakar Al Muthaawi’i berkata: “Saya menghadiri majelis Abu Abdillah, beliau sedang mengimla’ musnad kepada anak-anaknya, duabelas tahun. Dan saya tidak menulis, akan tetapi saya hanya melihat kepada adab dan akhlaknya”. [Siyar A’lam Nubala 11/316]
 
Demikianlah perihal kehadiran kita dalam majelis ilmu. Hendaklah bukan semata-mata mengambil faidah ilmu saja, akan tetapi juga mengambil semua faidah yang ada.
 
Mudah-mudahan bermanfaat.
 
 
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
 
 
Dinukil dari tulisa berjudul: “Adab Majelis Ilmu” yang ditulis oleh: Abu Asma Kholid Syamhudi

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#adabbermajelis #adabmajelisilmu #etika #tatacara #cara #menuntutilmu #thalabulilmi #tholabulilmi #penuntutilmu, #adabakhlak #adabmenuntutilmu

, ,

TIDAK TERCELA MENGINGATKAN KESALAHAN ULAMA JIKA BERADAB DAN TETAP MEMULIAKANNYA

TIDAK TERCELA MENGINGATKAN KESALAHAN ULAMA JIKA BERADAB DAN TETAP MEMULIAKANNYA
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TIDAK TERCELA MENGINGATKAN KESALAHAN ULAMA JIKA BERADAB DAN TETAP MEMULIAKANNYA
>> Yang Wajib adalah Mengikuti Dalil, Bukan Taqlid kepada Siapapun!!
 
1. Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady al-Madkhaly hafizhahullah berkata:
 
السلفيون لا يقبلون الأقوال إلا إذا قامت على الحجج والبراهين.
 
“Ahlus Sunnah tidak akan menerima ucapan-ucapan, kecuali jika ucapan-ucapan tersebut tegak di atas hujjah-hujjah dan bukti-bukti.” [Umdatul Abby, hlm. 417]
 
2. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:
 
«لا يجوز أخذ قول فقيه مهما بلغ من الفقه والعلم، إلا إذا كان مبنيا على دليل صحيح»
 
“Tidak boleh mengambil pendapat seorang ulama betapapun tinggi fikih dan ilmu yang dia kuasai, kecuali jika pendapat tersebut dibangun di atas dalil yang shahih.” [Syarh al-Manzhumah al-Haiyyah, hlm. 63]
 
3. Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya az-Zahrany hafizhahullah berkata:
 
‏بعض الناس يدور مع شيخه أو أستاذه أو صديقه أو… حيث دار!! والواجب علينا جميعاً أن ندور مع الدليل حيث دار.
 
“Sebagian orang begitu saja mengikuti gurunya, atau ustadznya, atau temannya, atau yang lainnya kemanapun dia pergi!! Padahal yang wajib atas kita semua adalah dengan kita mengikuti dalil, kemana pun dalil tersebut berputar.”
 
Membantah Ulama dengan Penuh Adab Bukan Berarti Ingin Menjatuhkannya
 
4. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:
 
من النصيحة للعلماء: أنك إذا رأيت منهم خطأ فلا تسكت وتقول: هذا أعلم مني، بل تُناقش بأدبٍ واحترام، لأنه أحياناً يخفى على الإنسان الحكم فينبهه من هو دونه في العلم فيتنبه وهذا من النصيحة للعلماء.
 
“Termasuk bentuk nasihat kepada para ulama adalah, jika engkau melihat sebuah kesalahan muncul dari mereka, engkau jangan hanya diam dan mengatakan: ‘Beliau lebih berilmu dibandingkan saya.’ Tetapi diskusikanlah dengan adab dan sikap memuliakan, karena terkadang seseorang tidak mengetahui hukum yang benar dalam sebuah masalah, sehingga orang yang tingkatan ilmunya di bawahnya mengingatkannya, agar ulama tersebut menyadari kesalahannya. Dan semacam ini termasuk bentuk nasihat untuk para ulama.” [Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah, hlm. 148]
 
5. Asy-Syaikh Shalah Kantusy hafizhahullah berkata:
 
الشيخ محمد بن هادي عالم جليل كريم، ولا يسقط أحد أحدا، إنما يسقط المرء عمله. والرد على العالم ليس معناه إرادة إسقاطه. كم رد العلماء بعضهم البعض مع حفظ المكانة والأدب الجم. وليكن العبد مع الدليل دائرا يسلم.
 
“Asy-Syaikh Muhammad bin Hady adalah seorang ulama terpandang dan mulia. Dan seseorang tidak akan bisa dijatuhkan oleh siapapun. Yang bisa menjatuhkan seseorang hanyalah amalnya. Dan bantahan terhadap seorang ulama bukan berarti ingin menjatuhkannya. Berapa banyak para ulama sebagian mereka membantah sebagian yang lain dengan tetap menjaga kedudukannya dan adab yang mulia. Dan seorang hamba hendaknya selalu berjalan bersama dalil, pasti dia akan selamat.”
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#ManhajSalaf #mengikutidalil #alHaq #mengingatkan #kesalahanulama #adabmengingatkanulama #tidaktercela #mengingatkankesalahanulama #adabmembantahulama #membantahulama #bukanuntukmenjatuhkan #mendebatulama #tatacara #etika #muliakanulama #jangandiamsaja #muliakanulama #kritik #mengkritik #tahdzir
, ,

KETIKA SHOLAT, PAKAIAN TERKENA REMBESAN AIR KENCING

KETIKA SHOLAT, PAKAIAN TERKENA REMBESAN AIR KENCING

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatWudhuNabi

KETIKA SHOLAT, PAKAIAN TERKENA REMBESAN AIR KENCING

Pertanyaan:

Apakah yang harus dilakukan dengan pakaian yang terkena air rembesan (dari kemaluan) sebanyak seperempat dari satu tetes, saat kita sedang shalat? Apakah harus diganti dan cuci, atau adakah sikap lain yang harus kita lakukan?

Jawaban:

Jika keluar atau tidaknya air kencing tersebut hanya merupakan was-was atau keragu-raguan, hanya perasaan, dan tidak ada buktinya, atau mungkin memang keluar tetapi hanya seperempat dari satu tetes (seperti yang ditanyakan), maka hal semacam ini tidaklah membatalkan wudhu, dan tidak pula membatalkan shalat atau thawaf. Ini hanyalah was-was setan untuk menggoda anak Adam agar ibadahnya rusak.

Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فًأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخْرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لاَ فَلاَ يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدُ رِيْحًا

“Apabila salah seorang di antara kamu menjumpai sesuatu di perutnya, sedangkan dia ragu-ragu apakah sesuatu itu keluar atau tidak, maka janganlah dia keluar dari mesjid (shalat), sehingga dia mendengar suara atau mencium baunya.” (Hr. Muslim: 805)

Al-‘Allamah Ibnu Baz ditanya: “Seusai saya buang air kecil dan berhenti kencing, maka tidak lama setelah saya bercebok, kemaluan saya bergerak dan terasa ada sesuatu yang keluar. Peristiwa ini sudah lama dan tidak bisa sembuh, tetapi hanya keluar air beberapa tetes sesudah kencing.

Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya mencukupkan diri dengan wudhu yang pertama, lalu saya bersihkan kemaluan saya, kemudian saya sempurnakan wudhu, ataukah saya harus menunggu sampai selesai kencing? Mohon penjelasannya.”

Beliau menjawab: “Perkara ini bisa terjadi karena was-was atau ragu-ragu. Ini berasal dari setan, dan kadangkala memang terjadi betul.

Jika ternyata benar-benar terjadi, maka jangan terburu-buru sehingga selesai kencing, lalu membasuh kemaluan dengan air, dan ini sudah cukup.

Jika dikhawatirkan bahwa air kencing akan keluar lagi, setelah berwudhu hendaknya menyiram di sekeliling kemaluan. Selanjutnya, jika terasa ada sesuatu yang keluar setelah itu, hendaklah dipahami bahwa yang keluar itu adalah sisa air yang disiramkan tadi, karena ada dalil dari sunnah, bahwa hendaknya kita meninggalkan was-was setan. Orang Mukmin tidak perlu memerhatikan was-was setan ini, karena begitulah pekerjaan setan. Setan selalu berusaha merusak ibadah anak Adam, baik ketika shalat atau ibadah lainnya.” (Lihat: Majmu’ Fatawa Wa Maqakah Mutanawwi’ah, Ibnu Baz: 10/123)

Jawaban beliau ini sudah jelas sekali. Anda tidak perlu memerhatikan perasaan was-was ini. Serta, bila Anda khawatir air menetes pada celana dalam Anda, maka alasilah di bawah kemaluan Anda dengan kain setelah Anda bercebok, sampai nantinya Anda akan kencing lagi. Anda tidak perlu bercebok setiap ada perasaan was-was bahwa air kencing merembes, dan Anda pun tak perlu mengganti celana.

 

Sumber: Majalah Al-Furqon, edisi 10, tahun ke-4, 1426 H.

(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/1988-pakaian-terkena-kencing.html

 

Catatan Tambahan:

Di Antara Adab Ketika Buang Hajat adalah:

Memerciki kemaluan dan celana dengan air setelah kencing untuk menghilangkan was-was. Ibnu ‘Abbas mengatakan:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً وَنَضَحَ فَرْجَهُ

“Nabi ﷺ berwudhu dengan satu kali – satu kali membasuh, lalu setelah itu beliau memerciki kemaluannya.”[HR. Ad Darimi no. 711. Syaikh Husain Salim Asad mengatakan bahwa sanad hadis ini shahih]
Jika tidak mendapati batu untuk istinja’, maka bisa digantikan dengan benda lainnya, asalkan memenuhi tiga syarat:

[1] Benda tersebut suci,

[2] Bisa menghilangkan najis, dan

[3] Bukan barang berharga seperti uang atau makanan [Lihat Kifayatul Akhyar, hal. 34]. Sehingga dari syarat-syarat ini, batu boleh digantikan dengan tisu yang khusus untuk membersihkan kotoran setelah buang hajat.

Sumber: https://rumaysho.com/1034-10-adab-ketika-buang-hajat.html

,

INGKAR JANJI MENDATANGKAN KUTUKAN DAN MENJERUMUSKAN KE DALAM SIKSA

INGKAR JANJI MENDATANGKAN KUTUKAN DAN MENJERUMUSKAN KE DALAM SIKSA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak

#DanPenuhilahJanji

INGKAR JANJI MENDATANGKAN KUTUKAN DAN MENJERUMUSKAN KE DALAM SIKSA

Siapa pun orangnya yang masih sehat fitrahnya, tidak akan suka kepada orang yang ingkar janji. Karenanya, dia akan dijauhi di tengah-tengah masyarakat, dan tidak ada nilainya di mata mereka.

Namun anehnya, ternyata masih banyak orang, yang jika berjanji hanya sekedar igauan belaka. Dia tidak peduli dengan kehinaan yang disandangnya, karena orang yang punya mental suka dengan kerendahan, tidak akan risih dengan kotoran yang menyelimuti dirinya. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللهِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا فَهُمْ لاَ يُؤْمِنُوْنَ. الَّذِيْنَ عَاهَدْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَهُمْ فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَهُمْ لاَ يَتَّقُوْنَ

“Sesungguhnya, binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).” (Al-Anfal: 55-56)

Nabi ﷺ bersabda:

لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ عِنْدَ إِسْتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Bagi setiap pengkhianat (akan ditancapkan) bendera pada pantatnya di Hari Kiamat.” (HR. Muslim bab Tahrimul Ghadr no. 1738 dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Demikianlah indahnya wajah Islam yang menjunjung tinggi etika dan adab pergaulan. Ini sangat berbeda dengan apa yang disaksikan oleh dunia saat ini berupa kecongkakan Yahudi, Nasrani, dan musyrikin serta pengkhianatan mereka terhadap kaum Muslimin.

Saat menapaki sejarah, kita bisa menyaksikan, para pengkhianat perjanjian akan berakhir dengan kemalangan. Tentunya tidak lupa dari ingatan kita tentang nasib tiga kelompok Yahudi Madinah, yaitu Bani Quraizhah, Bani An-Nadhir, dan Bani Qainuqa’ yang berkhianat setelah mengikat tali perjanjian dengan Rasulullah ﷺ, yang berujung dengan kehinaan. Di antara mereka ada yang dibunuh, diusir, dan ditawan.

Mungkin watak tercela itu sangat melekat pada diri mereka, karena tidak adanya keimanan yang benar. Tetapi bagi orang-orang yang mendambakan kebahagiaan hakiki dan ditolong atas musuh-musuhnya, mereka menjadikan etika yang mulia sebagai salah satu modal dari sekian modal, demi tegaknya kalimat Allah ﷻ, dan terwujudnya harapan. Yakinlah, Islam akan senantiasa tinggi, dan tiada yang lebih tinggi darinya.

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “DAN PENUHILAH JANJI, SESUNGGUHNYA JANJI ITU PASTI DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABANNYA” yang ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc. hafizhahullah

Sumber: http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.co.id/2011/10/dan-penuhilah-janji-sesungguhnya-janji.html

,

DOA MOHON AGAR DIWAFATKAN DI ATAS FITRAH

DOA MOHON AGAR DIWAFATKAN DI ATAS FITRAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA MOHON AGAR DIWAFATKAN DI ATAS FITRAH

  • Di Antara Doa Sebelum Tidur

Sebelum tidur kita berwudhu dan ketika sudah berbaring, maka bacalah doa berikut ini:

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

ALLAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA, WA WAJJAHTU WAJHII ILAIKA, WA FAWWAD-TU AMRII ILAIKA, WA ALJA’-TU DZAHRII ILAIKA, ROGHBATAN WA ROHBATAN ILAIKA. LA MALJA-A WA LAA MANJAA MINKA ILLAA ILAIKA. AAMAN-TU BI KITAABIKAL-LA-DZII ANZALTA WA BI NABIYYIKAL-LA-DZII ARSALTA

Artinya:

Ya Allah, aku pasrahkan jiwaku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan diriku kepada-Mu, karena mengharapkan pahala-Mu dan takut azab-Mu. Tiada tempat bersandar dan menyelamatkan diri dari hukuman-Mu, kecuali berlindung kepada-Mu. Aku beriman kepada Kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.

Keutamaan:

Siapa yang membaca doa ini sebelum tidur, kemudian malam harinya dia meninggal, maka dia mati di atas fitrah (Islam). Dan jika bangun di pagi hari, maka dia mendapat pahala.  Hadis Selengkapnya:

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada beliau:

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ، فَتَوَضَّأْ وَضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ، وَقُلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، ….، فَإِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى الفِطْرَةِ وَإِنْ أَصْبَحْتَ أَصَبْتَ أَجْرًا فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُولُ “

“Jika kamu hendak tidur, berwudhulah seperti wudhu ketika sholat. Kemudian berbaringlah miring ke kanan dan ucapkan: Allahumma aslamtu nafsii ilaika…dst. Jika kamu meninggal, maka kamu mati dia atas fitrah. Dan jika bangun pagi, maka kamu mendapatkan pahala. Jadikanlah bacaan ini yang terakhir kamu ucapkan.” (HR. Bukhari 6311 dan Muslim 2710)

Keterangan:

– Yang dimaksud : Mati di atas fitrah adalah mati di atas Islam

– Dianjurkan untuk berwudhu sebelum tidur, jika tidak memberatkan.

– Dianjurkan tidur miring ke kanan, jika bisa melakukannya.

 

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

https://konsultasisyariah.com/14798-nasihat-agar-tidur-tidak-diganggu-setan.html

 

,

APAKAH TABARRUJ DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

APAKAH TABARRUJ DAN BAGAIMANA HUKUMNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

APAKAH TABARRUJ DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

Makna Tabarruj

Tabarruj adalah apabila perempuan menampakkan perhiasan atau kecantikannya, dan hal-hal yang indah dari dirinya kepada laki-laki yang bukan mahramnya. Jadi perempuan yang ber-tabarruj adalah perempuan yang menampakkan wajahnya. Sehingga bila ada perempuan yang menampakkan atau memerlihatkan kecantikan wajah dan lehernya, maka dikatakan perempuan itu ber-tabarruj. (Lihat Lisanul Arab Oleh Ibnu Manzhur: 3/33).

Tabarruj adalah perkara haram, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil dari Alquran dan Sunnah Rasulullah ﷺ.

Dan juga kaum Muslimin sepakat tentang haramnya Tabarruj, sebagaimana yang dinukil oleh Al-’Allamah Ash-Shon’any dalam Hasyiyah Minhatul Ghoffar ‘Ala Dhau`in Nahar 4/2011, 2012. Lihat: kitab Hirasyatul Fadhilah hal.92 (cet.ke 7).

Berikut ini dalil-dalil yang menunjukkan tentang haramnya tabarruj:

Satu: Allah Rabbul ‘Izzah berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 33:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu bertabarruj dengan tabarruj orang-orang Jahiliyah yang dahulu”.

Berkata Imam Al-Qurtuby tentang ayat ini: “Ayat ini adalah perintah untuk tetap berdiam/tinggal di rumah. Dan sekalipun yang diperintah dalam ayat ini adalah para istri nabi ﷺ, namun secara makna termasuk pula selain dari istri-istri nabi”. (Lihat Tafsir Al-Qurthuby: 14/179 ).

Berkata Mujahid tentang makna “Tabarrujal Jahiliyah”: “Perempuan yang keluar dan berjalan di depan laki-laki, maka itulah yang dimaksud dengan “Tabarrujal Jahiliyah”.(Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 3/482 dan Ahkamul Qur`an Oleh Al-Jashshas: 3/360).

Berkata Muqatil Bin Hayyan tentang makna “Tabarrujal Jahiliyah”: “Tabarruj adalah perempuan yang melepaskan Khimar (tutup kepala) dari kepalanya sehingga terlihat kalung, anting-anting dan lehernya”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 3/482-483).

Dan Qatadah berkata dalam menafsirkan ayat “Dan janganlah kamu bertabarruj dengan tabarruj orang-orang Jahiliyah yang dahulu”: “Perempuan yang berjalan dengan bergoyang dan bergaya. Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang perempuan mealakukan itu”. (Lihat Ahkamul Qur`an  Oleh Al-Jashshas: 3/360 dan Fathul Bayan: 7/391).

Adapun makna tabarruj dalam Tafsir Al-Alusi 21/8 yakni: “Perempuan yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya, yang seharusnya tidak dinampakkan”.

Sementara Abu Ubaidah dalam menafsirkan makna Tabarruj: ” Perempuan yang menampakkan kecantikan yang dapat membangkitkan syahwat laki-laki, maka itulah yang dimaksud Tabarruj“. (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir: 3/33 ).

Dua: Firman Allah Ta’ala:

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung), yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) untuk tabarruj dengan (menampakkan) perhiasan. Dan menjaga kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. An-Nur: 60)

Maksud dari “Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka”, yaitu pakaian yang zahir yang menutupi muka dan telapak tangan. Demikian dalam kitab Hirasyatul Fadhilah hal.54 (cet.ke 7).

Kalau para perempuan tua dengan kreteria yang tersebut dalam ayat tidak boleh ber-tabarruj, apalagi para perempuan yang masih muda. Wallahul Musta’an.

Tiga: Firman Allah Jalla wa ‘Ala:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَائِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung”.(QS. An-Nur: 31)

Empat: Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسُ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُؤْوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا.

“Dua golongan dari penduduk Neraka yang saya belum pernah melihatnya sebelumnya: Kaum yang memunyai cambuk-cambuk seperti ekor-ekor sapi untuk memukul manusia dengannya, dan para perempuan yang berpakaian tapi telanjang, berjalan berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk onta. Mereka tidaklah masuk Surga, dan tidak (pula) menhirup baunya, padahal baunya dihirup dari jarak begini dan begini”.

Berkata Imam An-Nawawy dalam Syarah Muslim (14/110) dalam menjelaskan makna “Berpakaian tapi telanjang”, yaitu mereka berpakaian, tetapi hanya menutup sebagian badannya, dan menampakkan sebagian yang lain, untuk memerlihatkan kecantikan dirinya. Atau memakai pakaian tipis sehingga menampakkan kulit badannya”.

Dan Syaikh Bin Bazz Rahimahullah dalam Majmu‘ah Ar-Rosa`il Fil Hijab Wa Ash-Shufur hal.52: “Dalam Hadis ini ada ancaman yang sangat keras bagi yang melakukan perbuatan tabarruj, membuka wajah dan memakai pakaian yang tipis. Ini terbukti dari ancaman Rasulullah ﷺ terhadap pelakunya, bahwa mereka diharamkan masuk Surga”.

Tabarruj termasuk Dosa Besar

Imam Adz-Dzahaby rahimahullah menggolongkan tabarruj termasuk dari dosa-dosa besar. Beliau berkata dalam kitab Al-Kaba`ir hal. 146-147: “Termasuk perbuatan-perbuatan yang menyebabkan terlaknatnya seorang perempuan, bila ia menampakkan perhiasan emas dan permata yang berada di bawah cadarnya, memakai wangi-wangian bila keluar rumah dan yang lainnya. Semuanya itu termasuk dari tabarruj yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala membencinya, dan membenci pula pelakunya di dunia dan di Akhirat. Dan perbuatan inilah yang banyak dilakukan oleh kaum perempuan, sehinga Nabi ﷺ bersabda tentang para perempuan, bahwa: “Aku menengok ke dalam Neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah perempuan”. Dan bersabda Nabi ﷺ:

مَا تَرَكْتُ بِعْدِيْ فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Saya tidaklah meninggalkan suatu fitnah setelahku yang paling berbahaya atas kaum lelaki, daripada fitnah perempuan”.

Dan dari bahaya fitnah perempuan terhadap laki-laki, yakni keluarnya perempuan dari rumah-rumah mereka dalam keadaan ber-tabarruj, karena hal itu dapat menjadi sebab bangkitnya syahwat laki-laki, dan terkadang hal itu membawa kepada perbuatan yang tidak senonoh. (Lihat: Al-Mufashshol Fii Ahkamil Mar`ah: 3/416).

 

Dari uraian di atas, telah jelas bahwa tabarruj yang dilarang adalah tabarruj yang dilakukan bila keluar rumah. Adapun bila perempuan tersebut berhias di rumahnya dan menampakkan perhiasan dan kecantikan kepada suaminya, maka hal ini tidak mengapa, dan tidak berdosa, bahkan agama memerintahkan hal tersebut.

Akibat-Akibat Yang Ditimbulkan dari Fitnah Ikhtilath dan Tabarruj

Ikhtilath adalah jalan dan sarana yang mengantar kepada segala bentuk perzinahan, yakni zina menyentuh, melihat dan mendengar. Dan zina yang paling keji adalah zina kemaluan, yang mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengancam pelakunya dalam surah Al-Furqan ayat 68-69 dan surah Al-Isra` ayat 32. (Lihat: Ahkamun Nisa` 4/357).

Ikhtilath dan Tabarruj menyebabkan perkelahian dan peperangan di antara kaum Muslimin. Hal ini disebabkan karena dalam ikhtilath terjadi kedengakian dan kebencian,  serta permusuhan di antara laki-laki, karena memerebutkan perempuan. Atau sebaliknya terjadi kedengkian, kebencian dan permusuhan antara perempuan, karena memerebutkan laki-laki. (Lihat: Ahkamun Nisa` 4/355-357).

Ikhtilath dan Tabarruj menyebabkan perempuan tidak punya harga diri, sebab ketika bercampur dengan laki-laki, maka perempuan tersebut dapat dipandang dan dilihat oleh laki-laki, sekedar untuk dinikmati. Ibarat boneka yang hanya dilihat dari kecantikan raut muka dan keindahannya. (Lihat Majmu‘ah Ar-Rosa`il Fil Hijab Wa Ash-Shufur oleh Lajnah Da`imah hal. 119).

Ikthilath dan Tabarruj menyebabkan hilangnya rasa malu pada diri perempuan, yang mana hal itu adalah ciri keimanan dalam dirinya. Karena ketika terjadi ikhtilath dan tabarruj, maka perempuan tidak lagi memunyai rasa malu dalam menampakkan auratnya. (Lihat Risalatul Hijab oleh Syeikh Al-’Utsaimin hal. 65).

Ikhtilath dan Tabarruj menyebabkan ketundukan dan keterikatan pria yang sangat besar terhadap perempuan yang dia kenal dan dilihatnya. Dan hal inilah yang menyebabkan kerusakan besar pada diri laki-laki, sampai membawanya kepada perbuatan yang kadang tergolong kedalam kesyirikan. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا تَرَكْتُ بِعْدِيْ فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Saya tidaklah meninggalkan suatu fitnah setelahku yang paling berbahaya atas kaum lelaki, daripada fitnah perempuan”.

Perbuatan ikhtilath dan tabarruj adalah perbuatan yang menyerupai perilaku orang-orang kafir dari Yahudi dan Nasrani, karena hal itu adalah kebiasaan-kebiasaan mereka. Sedangkan Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari golongan mereka”.

(Lihat perkataan sekelompok ulama dalam kitab Majmu’ Rosa`il  hal. 52).

 

 

Penulis: Al-Ustadz Abul Fadhl Shobaruddin Bin Arif hafizhahulla

Sumber:

Majalah An-Nashihah Vol.5 (www.an-nashihah.com)

 

,

APAKAH IKHTILATH DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

APAKAH IKHTILATH DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

APAKAH IKHTILATH DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

Makna Ikhtilath

Makna ikhtilath secara bahasa adalah bercampurnya sesuatu dengan sesuatu yang lain (Lihat: Lisanul ‘Arab 9/161-162).

 

Adapun maknanya secara syari, yaitu percampurbauran antara laki-laki dan perempuan yang tidak ada hubungan mahram pada tempat. (Lihat: Al-Mufashshol Fii Ahkamil Mar`ah: 3/421 dan Al-Mar`atul Muslimah Baina Ijtihadil Fuqoha` wa Mumarosat Al-Muslimin hal. 111).

Hukum Ikhtilath

Hukum ikhtilath adalah haram berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut:

Satu: Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surah Al-Ahzab ayat 33:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu”.

Berkata Imam Al-Qurthuby dalam menafsirakan ayat ini: “Makna ayat ini adalah perintah untuk tetap berdiam atau tinggal di rumah, walaupun yang diperintah dalam ayat ini adalah para istri Nabi ﷺ, namun secara makna masuk pula selain dari istri-istri beliau ﷺ“. (Lihat Tafsirul Qurthuby: 4/179).

 

Dan Ibnu Katsir berkata tentang makna ayat ini: “Tinggallah kalian di rumah-rumah kalian. Janganlah kalian keluar, kecuali bila ada keperluan”.

Dua: Firman Allah ‘Azza Wa Jalla dalam surah Al-Isra` ayat 32:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا

“Dan janganlah kalian mendekati zina”.

Larangan dalam ayat ini dengan konteks “Jangan kalian mendekati” menunjukkan, bahwa Alquran telah mengharamkan zina, begitu pula pendahuluan-pendahuluan yang dapat mengantar kepada perbuatan zina, serta sebab-sebabnya secara keseluruhan seperti melihat, ikhtilath, berkhalwat, tabarruj dan lain-lain”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/39).

Tiga: Hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang dikeluarkan oleh Abu Daud dengan sanad yang Hasan dari seluruh jalan-jalannya, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَمْنَعُوْا نِسَائَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kalian melarang para perempuan kalian (untuk menghadiri) masjid, dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”.

Dan dengan lafazh yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Imam Muslim dari hadis Ibnu ‘Umar pula, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ.

“Janganlah kalian melarang hamba-hamba Allah yang perempuan (untuk menghadiri) masjid-masjid Allah.

Hadis ini menjelaskan tentang tidak wajibnya perempuan menghadiri sholat jamaah bersama laki-laki di masjid. Ini berarti boleh bagi perempuan untuk menghadiri sholat jamaah di masjid, akan tetapi rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka. Dan para ulama fuqaha` sepakat tentang tidak wajibnya hal tersebut. Dan sebagian dari mereka memakruhkan untuk perempuan muda. Adapun untuk perempuan yang telah tua, maka mereka membolehkannya. Dan yang rojih adalah hukumnya boleh. (Lihat: Al-Mufashshol Fii Ahkamil Mar`ah: 3/424).

Berkata Imam An-Nawawy dalam Syarah Shohih Muslim (2/83): “Ini menunjukkan bolehnya perempuan ke masjid untuk menghadiri sholat jamaah, tentunya bila memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh syariat. Di antaranya tidak keluar dengan menggunakan wangi-wangian, tidak berpakaian yang menyolok, dan termasuk di dalamnya tidak bercampur atau ikhtilath dengan laki-laki yang bukan mahramnya”.

Empat: Hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha yang dikeluarkan oleh Imam Bukhary, beliau berkata:

اسْتَأْذَنْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ: جِهَادُكُنَّ الْحَجُّ.

“Saya meminta izin kepada Nabi ﷺ untuk berjihad, maka Rasulullah ﷺ bersabda: Jihad kalian adalah berhaji”.

Berkata Ibnu Baththal dalam Syarahnya, sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bary (6/75-76): “Hadis ini menjelaskan, bahwa jihad tidak diwajibkan bagi perempuan. Hal ini disebabkan, karena perempuan apabila berjihad, maka tidak akan mampu menjaga dirinya, dan juga akan terjadi percampur bauran antara laki-laki dan perempuan”.

Lima: Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّه‍َا أَوَّلُهَا.

“Sebaik-baik shafff laki-laki adalah yang paling depan, dan sejelek-jeleknya adalah yang paling belakang. Dan sebaik-baik shaff perempuan adalah yang paling belakang, dan sejelek-jeleknya adalah yang paling awal”.

Berkata Imam An-Nawawy dalam Syarah Shohih Muslim: “Bahwa sesungguhnya shaff perempuan yang paling baik adalah yang paling belakang, dan shaff laki-laki yang paling baik adalah yang paling awalnya. Hal ini dikarenakan agar keadaan shaff perempuan dan shaff laki-laki saling menjauh, sehingga tidak terjadi ikhtilath, dan saling memandang satu dengan yang lainnya”.

Berkata Ash-Shon’any dalam Subulus Salam: “Dalam hadis ini menjelaskan sebab sunnahnya shafff perempuan berada di belakang shafff laki-laki, agar supaya keadaan tempat perempuan dan laki-laki dalam sholat saling menjauh, sehingga tidak terjadi ikhtilath di antara mereka”.

Berkata Asy-Syaukany dalam Nailul Authar (3/189): “Penyebab kebaikan shafff perempuan berada di belakang shafff laki-laki adalah karena tidak terjadi iktilath antara mereka”.

Enam: Hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha yang dikeluarkan oleh Imam Bukhary, beliau berkata:

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّيْ الصُّبْحَ بِغَلَسٍ فَيَنْصَرِفْنَ نِسَاءُ الْمُؤْمِنِيْنَ لَا يُعْرَفْنَ مِنْ الْغَلَسِ أَوْ لَا يَعْرِفُ بَعْضُهُنَّ بَعْضًا.

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ sholat Subuh pada saat masih gelap. Maka para perempuan kaum mukminin kembali, dan mereka tidak dikenali karena gelap, atau sebagian mereka tidak mengenal sebagian yang lain”.

Hadis ini menjelaskan disunnahkannya bagi perempuan keluar dari masjid lebih dahulu daripada laki-laki ketika selesai shalat jamaah, agar supaya tidak terjadi ikhtilath, saling pandang memandang atau hal-hal yang tidak dibenarkan oleh syariat.

Hal serupa dijelaskan pula dalam hadis Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha riwayat Imam Bukhary, beliau berkata:

أَنَّ النِّسَاءَ فِيْ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ كُنَّ إِذَا سَلَّمْنَ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ قُمْنَ وَثَبَتَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَمَنْ صَلَّى مِنَ الرِّجَالِ مَا شَاءَ اللهُ فَإِذَا قَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ قَامَ الرِّجَالُ.

“Sesungguhnya para perempuan di zaman Rasulullah ﷺ, bila mereka salam dari sholat wajib, maka mereka berdiri dan Rasulullah ﷺ dan orang yang sholat bersama beliau dari kalangan laki-laki tetap di tempat mereka, selama waktu yang diinginkan oleh Allah. Bila Rasulullah ﷺ berdiri, maka para lelaki juga berdiri”.

Berkata Asy-Syaukany dalam Nailul Authar (2/315): “Dalam hadis ini terdapat hal yang menjelaskan tentang dibencinya ikhtilath antara laki-laki dan perempuan dalam perjalanan, dan hal ini lebih terlarang lagi ketika ikhtilath terjadi dalam suatu tempat”.

Berkata Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny (2/560): “Jika dalam jamaah sholat terdapat laki-laki dan perempuan, maka di sunnahkan bagi laki-laki untuk tidak meninggalkan tempat, sampai perempuan keluar meninggalkan jamaah. Sebab kalau tidak, maka hal ini dapat membawa pada ikhtilath“.

Tujuh: Hadis Jabir Bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma riwayat Imam Bukhary, beliau berkata:

قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ فَصَلَّى فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ ثُمَّ خَطَبَ فَلَمَّا فَرَغَ نَزَلَ فَأَتَى النِّسَاءَ فَذَكَّرَهُنَّ.

“Rasulullah ﷺ berdiri pada hari Idul Fitri untuk sholat. Maka beliau ﷺ pun memulai dengan sholat, kemudian berkhutbah. Tatkala beliau ﷺ selesai, beliau ﷺ turun, lalu mendatangi para perempuan, kemudian memeringati (baca: menasihati) mereka”.

Berkata Al-Hafizh dalam Al-Fath (2/466): “Perkataan “Kemudian beliau ﷺ mendatangi para perempuan” menunjukkan, bahwa tempat perempuan terpisah dari tempat laki-laki, tidak dalam keadaan ikhtilath“.

Berkata Imam An-Nawawy dalam Syarah Shohih Muslim (2/535): “Hadis ini menjelaskan, bahwa perempuan-perempuan, apabila menghadiri sholat jamaah di mana jamaah tersebut dihadiri pula oleh laki-laki, maka tempat perempuan berpisah dari tempat laki-laki. Hal ini untuk menghindari fitnah, saling memandang dan berbicara”.

Beberapa Masalah Seputar Ikhtilath

1. Hukum belajar di sekolah-sekolah dan universitas yang terjadi ikhtilath di dalamnya.

Berkata Syaikh Ibnu Jibrin sebagaimana dalam Fatawa Fii An-Nazhor Wal Khalwat Wal Ikhtilath hal. 23: “Kami menasihatkan pada seorang Muslim yang ingin menyelamatkan dan menjauhkan dirinya dari sebab-sebab kerusakan dan fitnah, tidak ada keraguan, bahwa sesungguhnya ikhtilath di sekolah-sekolah adalah penyebab terjadinya kerusakan dan pengantar terjadinya perzinahan”.

Berkata Syaikh Al Utsaimin sebagaimana dalam kitab yang sama hal. 26: “Pendapat saya, sesungguhnya tidak boleh bagi setiap orang, baik laki-laki dan perempuan, untuk belajar di sekolah-sekolah yang terjadi ikhtilath di dalamnya, disebabkan karena bahaya besar akan mengancam kesucian dan akhlak mereka. Tidak ada keraguan, bahwa orang yang bagaimana pun sucinya dan memunyai akhlak yang tinggi, bagaimana pun bila di samping kursinya ada perempuan, terlebih lagi bila perempuannya canti, lalu menampakkan kecantikannya, maka sangat sedikit yang bisa selamat dari fitnah dan kerusakan. Oleh karena itu, segala yang membawa kepada kerusakan dan fitnah adalah haram”.

Berkata Syaikh Ibnu Bazz sebagaimana dalam kitab yang sama pula hal. 10: “Barang siapa yang mengatakan boleh Ikhtilath di sekolah-sekolah dan yang lainnya, dengan alasan bahwa perintah berhijab hanya khusus untuk istri-istri Rasulullah ﷺ, maka perkataan ini jauh dari petunjuk serta menyelisihi Alquran dan Sunnah yang telah menunjukkan hukum hijab berlaku umum, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”.

Dan juga kita ketahui, bahwa Rasulullah ﷺ diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk seluruh manusia tanpa kecuali, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan”.

Dan para sahabat yang mereka adalah sebaik-baik manusia dalam keimanan dan takwa dan sebaik-baik zaman, di masanya ternyata masih di perintahkan untuk berhijab, demi kesucian hati-hati mereka. Maka tentu orang-orang yang setelah mereka lebih membutuhkan, dan lebih harus berhijab, untuk menucikan hati-hati mereka, karena mereka berada pada zaman fitnah dan kerusakan”.

2. Hukum Bekerja Di Tempat yang Terjadi Ikhtilath di Dalamnya

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin sebagaimana dalam Fatawa Fii An-Nazhor Wal Khalwat Wal Ikhtilat hal.44: “Pendapat saya, yakni tidak boleh Ikhtilath antara laki-laki dan perempuan, baik di instansi negeri maupun swasta, karena ikhtilath adalah penyebab terjadinya banyak kerusakan”.

Berkata para Ulama yang tergolong dalam Lajnah Daimah:: “Adapun hukum bekerja di tempat yang (terdapat) ikhtilath adalah haram, karena ikhtilath adalah penyebab kerusakan yang terjadi pada manusia”.

Berkata Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah dalam kitab Musyarakatul Mar`ah Lir Rijal Fii Midan ‘Amal hal. 7: “Bekerjanya perempuan di tempat yang terdapat laki-laki di dalamnya adalah perkara yang sangat berbahaya. Dan di antara penyebab besar munculnya kerusakan, adalah disebabkan karena ikhtilath, yang mana hal itu merupakan jalan-jalan yang paling banyak menyebabkan terjadinya perzinahan”.

 

Penulis: Al-Ustadz Abul Fadhl Shobaruddin Bin Arif hafizhahullah

Sumber: http://an-nashihah.com/?p=329

,

APA ITU KHALWAT DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

APA ITU KHALWAT DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

APA ITU KHALWAT DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

Pengertian Khalwat

Khalwat adalah seorang laki-laki berada bersama perempuan yang bukan mahramnya, dan tidak ada orang ketiga bersamanya. (Lihat Al-Mar`atul Muslimah Baina Ijtihadil Fuqoha` wa Mumarosat Al-Muslimin  hal. 111).

Khalwat adalah perkara yang DIHARAMKAN dalam agama ini, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil – dalil. Di antara  dalil-dali itu adalah sebagai berikut:

Satu: Hadis ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Bukhary-Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ.

“Hati-hati kalian terhadap masuk (bertemu) dengan para perempuan. Maka berkata seorang lelaki dari Anshar: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu dengan Al-Hamwu. Beliau berkata: “Al-Hamwu  adalah maut”.

Imam Muslim mengeluarkan dengan sanad yang shohih dari Al-Lais bin Sa’ad, Ahli Fikih negeri Mesir rahimahullah. Beliau berkata: “Al–Hamwu adalah saudara laki-laki suami dan yang serupa dengannya dari kerabat sang suami; anak paman dan yang semisalnya”.

Berkata Imam Nawawi: “Sepakat ahli bahasa, bahwa makna Al–Hamwu adalah kerabat suami sang istri seperti bapaknya, ibunya, saudara laki-lakinya, anak saudara laki-lakinya, anak pamannya dan yang semisalnya”.

Kemudian Imam An-Nawawy berkata: “Dan yang diinginkan dengan Al-Hamwu di sini (dalam hadis di atas,-pent.) adalah kerabat suami selain bapak-bapaknya dan anak-anaknya. Adapun bapak-bapak dan anak-anaknya, mereka adalah mahram bagi istrinya, boleh bagi mereka ber-khalwat dengannya dan tidaklah mereka disifatkan sebagai maut”. Baca: Syarah Shohih Muslim 14/154.

Adapun sabda Rasulullah ﷺ: “Al-Hamwu  adalah maut”, ada beberapa penjelasan dari para ‘ulama tentang maksudnya:

Maksudnya bahwa ber-khalwat dengan Al-Hamwu akan mengantar kepada kehancuran agama seseorang, yaitu dengan terjatuhnya kedalam maksiat, atau mengantar kepada mati itu sendiri, yaitu apabila ia melakukan maksiat dan mengakibatkan ia dihukum rajam. Atau bisa kehancuran bagi perempuan itu sendiri, yaitu ia akan diceraikan oleh suaminya, bila sebab kecemburaannya.

Berkata Ath-Thobary: “Maknanya adalah seorang lelaki ber-khalwat dengan istri saudara laki-lakinya atau (istri) anak saudara laki-lakinya, kedudukannya seperti kedudukan maut, dan orang Arab menyifatkan sesuatu yang tidak baik dengan maut”.

Ibnul ‘A’raby menerangkan, bahwa orang Arab kalau berkata: “Singa adalah maut”, artinya berjumpa dengan singa adalah maut, yaitu hati-hatilah kalian dari singa, sebagaimana kalian hati-hati dari maut.

Berkata pengarang Majma’ Al-Ghora’ib: “Yaitu tidak boleh seorang pun ber-khalwat dengannya kecuali maut”.

Berkata Al-Qodhi ‘Iyadh: “Maknanya bahwa ber-khalwat dengan Al-Hamwu adalah pengantar kepada fitnah dan kebinasaan”.

Berkata Al-Qurthuby: “Maknanya bahwa masuknya kerabat suami (bertemu) dengan istrinya, menyerupai maut dalam jeleknya dan rusaknya, yaitu hal tersebut diharamkan (dan) dimaklumi pengharamannya”.

Lihat: Fathul Bary 9/332 karya Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Syarah Shohih Muslim karya Imam An-Nawawy 14/154.

Dua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma riwayat Bukhary, Rasulullah ﷺ berkata:

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ امْرَأَتِيْ خَرَجَتْ حَاجَّةً وَاكْتُتِبْتُ فِيْ غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا قَالَ ارْجِعْ فَحَجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ.

“Janganlah  seorang laki-laki ber-khalwat dengan perempuan, kecuali bersama mahramnya. Maka berdirilah seorang lelaki lalu berkata: “Wahai Rasulullah, istriku keluar untuk haji dan saya telah terdaftar di perang ini dan ini”. Beliau ﷺ berkata: “Kembalilah engkau, kemudian berhajilah bersama istrimu”.

Berkata Al -Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathur Bari (4/ 32 – 87): “Hadis ini menunjukkan pengharaman khalawat antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang tidak semahram, dan hal ini disepakati oleh para ‘ulama dan tidak ada khilaf didalamnya”.

Tiga: Nabi ﷺ bersabda:

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ.

“Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan perempuan, karena yang ketiga bersama mereka adalah setan”. (Dishohihkan oleh Syeikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah no. 430).

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/490 setelah tentang disyariatkannya melihat kepada perempuan yang dipinang, beliau menjelaskan beberapa hukum yang berkaitan dengannya, di antaranya beliau berkata: “Dan tidak boleh ber-khalwat dengannya, karena khalwat adalah haram, dan tidak ada dalam syariat (pembolehan), selain dari melihat, karena dengan khalwat itu tidak ada jaminan tidak terjatuh ke dalam hal yang terlarang”.

 

Empat: Hadis Jabir yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا لَا يَبِيْتَنَّ رَجُلٌ عِنْدَ امْرَأَةٍ ثَيِّبٍ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ نَاكِحًا أَوْ ذَا مَحْرَمٍ.

“Janganlah seorang laki-laki bermalam di tempat seorang janda, kecuali ia telah menjadi suaminya atau sebagai mahramnya”.

Imam An-Nawawi berkata dalam Syarah Shohih Muslim (14/153): “Hadis ini dan hadis-hadis setelahnya (menunjukkan) haramnya ber-khalwat dengan perempuan ajnabiyah (bukan mahram) dan (menunjukkan) bolehnya ber-khalwat dengan siapa yang merupakan mahramnya. Dan dua perkara ini disepakai (d ikalangan para ‘ulama,-pent.)”.

Dan perlu diketahui, bahwa pengharaman khalawat tersebut adalah berlaku umum, baik itu di rumah maupun di luar rumah, serta tempat yang lainnya. Lihat Al-Mufashshol Fii Ahkamil Mar`ah (3/ 422).

Lima: Hadis ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ.

“Perempuan itu adalah aurat. Kalau dia keluar, maka dibuat agung/indah oleh setan”. (HR. At-Tirmidzi no. 1173 dan lain-lainnya dan dishohihkan oleh Syeikh Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shohih).

 

Penulis: Al-Ustadz Abul Fadhl Shobaruddin Bin Arif hafizhahullah

Sumber: http://an-nashihah.com/?p=329

 

, ,

ADAB SAAT BERHAJAT

ADAB SAAT BERHAJAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

ADAB SAAT BERHAJAT

Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

“Apabila kalian mendatangi tempat buang air, maka janganlah kalian menghadap ke arah Kiblat, ketika buang air besar ataupun kencing. Dan jangan pula membelakangi Kiblat. Akan tetapi menghadaplah ke arah Timur atau ke arah Barat.” [HR. Al-Bukhari no. 394 dan Muslim no. 264].

Instagram, Twitter & Telegram Channel: @JakartaMengaji

Sumber: https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/662189323961829/?type=3&theater