Posts

, ,

JUJURLAH, KARENA KEJUJURAN AKAN LEBIH MENENANGKAN HATI

JUJURLAH, KARENA KEJUJURAN AKAN LEBIH MENENANGKAN HATI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
JUJURLAH, KARENA KEJUJURAN AKAN LEBIH MENENANGKAN HATI
 
Keutamaan Jujur
 
Nabi ﷺ menganjurkan umatnya untuk selalu jujur, karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.”
Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat bajik kepada sesama.
Sifat jujur merupakan alamat keislaman, timbangan keimanan, dasar agama, dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Baginya kedudukan yang tinggi di dunia dan Akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.
 
Macam-Macam Kejujuran
 
1. Jujur dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia, maka akan merusakkan kejujuran niat, dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta. Sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah, yaitu seorang mujahid, seorang qari’, dan seorang dermawan. Allah menilai ketiganya telah berdusta. bukan pada perbuatan mereka, tetapi pada niat dan maksud mereka.
 
2. Jujur dalam ucapan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya. Tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.
 
3. Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Contohnya seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Terkadang benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Hal ini sebagaimana firman Allah:
“Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).” [QS. al-Ahzab: 23]
 
Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling. Dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” [QS. at-Taubah: 75-76]
 
4. Jujur dalam perbuatan. Yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif: “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya, maka Allah akan berfirman: ‘Inilah hambaku yang benar/jujur.’”
 
5. Jujur dalam kedudukan agama. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi. Sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan, dalam rasa cinta dan tawakal. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat, dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya, maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur, sebagaimana firman Allah:“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” [QS. al-Hujurat: 15]
 
Realisasi perkara-perkara ini membutuhkan kerja keras. Tidak mungkin seseorang manggapai kedudukan ini hingga dia memahami hakikatnya secara sempurna. Setiap kedudukan (kondisi) mempunyai keadaannya sendiri-sendiri. Ada kalanya lemah, ada kalanya pula menjadi kuat. Pada waktu kuat, maka dikatakan sebagai seorang yang jujur. Dan jujur pada setiap kedudukan (kondisi) sangatlah berat. Terkadang pada kondisi tertentu dia jujur, tetapi di tempat lainnya sebaliknya. Salah satu tanda kejujuran adalah menyembunyikan ketaatan dan kesusahan, dan tidak senang orang lain mengetahuinya.
 
Nabi ﷺ bersabda:
“Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa. Sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.” [HR At- Tirmidzi]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#jujur #kejujuran #dusta #bohong #akhlakmulia#tinggalkanapayangmeragukanmu #dustamenggelisahkanjiwa #menenangkanhati
, ,

JANGAN MUDAH MEMUTUSKAN “INI HALAL DAN ITU HARAM”

JANGAN MUDAH MEMUTUSKAN “INI HALAL DAN ITU HARAM”

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#SayNoToBidah, #MutiaraTafsir

JANGAN MUDAH MEMUTUSKAN “INI HALAL DAN ITU HARAM”

>> Seorang Hamba Tidak Boleh Mengatakan Halal atau Haram, Kecuali Setelah Mengetahui, Bahwa Allah Menghalalkan atau Mengharamkannya

 

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih. [QS An-Nahl /16 : 116-117]

Penjelasan Ayat

Budaya Jahiliyah, Mengatur Penetapan Hukum dengan Hawa Nafsu

Budaya bangsa Jahiliyah yang berlawanan dengan ajaran Islam sungguh banyak. Islam datang untuk MENGHAPUSKANNYA, supaya umat manusia selalu berada di atas fitrah penciptaannya.

Ayat di atas membicarakan salah satu dari sekian banyak budaya jahiliyyah yang berkembang di tengah masyarakat zaman dulu, sebelum akhirnya terhapus syariat Muhammad ﷺ. Yakni, mengharamkan dan menghalalkan sesuatu tanpa mengindahkan. dan tanpa merujuk kepada wahyu Ilahi. maupun ketetapan-ketetapan hukum samawi lainnya yang berasal dari Allah ﷻ, Yang Maha Mengetahui kemaslahatan seluruh makhluk. Padahal mereka mengklaim sebagai para penganut ajaran Nabi Ibraahim Alaihissallam. Sehingga Allah ﷻ melarang umat Islam mengikuti jalan kaum musyrikin tersebut. [Tafsirul-Qur`anil-‘Azhim (4/609), Aisarut-Tafasir (1/326)]

Realita yang terjadi, mereka mengharamkan hal-hal yang dihalalkan, dan sebaliknya, menghalalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah al-Khaaliq. Mereka menetapkan hukum-hukum halal dan haram sesuai dengan hawa nafsunya. Dengan tindakan ini, mereka telah melakukan iftira ‘alallah ta’ala (kedustaan atas nama Allah ta’ala).

Allah ﷻ telah menjelaskan substansi ayat di atas melalui beberapa ayat lainnya. Di antaranya:

قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ الَّذِينَ يَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هَٰذَا ۖ فَإِنْ شَهِدُوا فَلَا تَشْهَدْ مَعَهُمْ

Katakanlah: “Bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat memersaksikan, bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini”. Jika mereka memersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka… [QS Al-An’am/6 : 150]

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ ۖ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini), atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” [QS.Yunus/10 : 59].

Pengertian ayat ini (QS. An-Nahl/16 ayat 116-117) akan kian jelas, dengan memerhatikan ayat sebelumnya. Bahwasanya Allah ﷻ memerintahkan agar mereka memakan makanan-makanan yang baik-baik lagi halal. Allah ﷻ berfirman:

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu. Dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. [QS. An-Nahl/16 : 114].

Selanjutnya, Allah ﷻ menjelaskan hal-hal yang diharamkan atas diri mereka dalam ayat berikutnya:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Tetapi barang siapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. An Nahl/16 : 115].

Kenyataannya justru tidak sejalan dengan apa yang telah dinyatakan oleh Allah al-Hakam (Dzat Yang Maha Menentukan hukum) dalam ayat tersebut. Mereka justru menghalalkan bangkai, darah dan binatang-binatang yang mereka sembelih tanpa dengan menyebut nama Allah ta’ala. Dan sebaliknya, mereka mengharamkan pemanfaatan binatang-binatang, baik untuk dikonsumsi maupun sebagai tunggangan, yang sebenarnya dihalalkan bagi umat manusia.

Sebagai contoh, sebagaimana tertuang dalam firman Allah ta’ala berikut ini:

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ ۙ وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya Bahirah, Saibah, Washilah dan Ham. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti. [QS. Al-Ma`idah/5:103] [Bahirah, Saibah, Washilah dan Ham, adalah sebutan untuk hewan ternak dalam kondisi tertentu. Kaum Jahiliyah mengharamkan pemanfaatannya sama sekali. Tentang makna istilah-istilah di atas, lihat footnote Alquran Terjemah yang diterbitkan Departemen Agama RI pada ayat tersebut. Contoh sikap pengharaman lainnya, silahkan lihat QS. al-An’am/6 ayat 138, 139, 140].

Demikianlah, konsep halal-haram di mata orang-orang Jahiliyyah pada masa lalu. Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menyatakan, yang menjadi biang keladi dalam masalah ini, ialah karena adanya perangkap nafsu dan syahwat serta doktrin tokoh-tokoh besar mereka [Lihat kitab al-Ath’imah wa Ahkamish Shaidi wadz-Dzaba`ih, karya Syaikh Dr. Shalih al-Fauzan, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, Cetakan II, Tahun 1419H-1999M, hlm. 26].

Ringkasnya, permulaan ayat ini MELARANG seseorang untuk menjatuhkan penilaian tentang halal dan haram terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak dihalalkan atau diharamkan oleh Allah ﷻ. Karena hal itu merupakan kedustaan dan kebohongan dengan mengatasnamakan Allah ta’ala. [Taisirul-Karimir-Rahman (451), al-Jalalain, hlm. 575]

Melebihi Kesalahan Perbuatan Syirik

Tak diragukan, perbuatan syirik merupakan perbuatan dosa yang sangat besar, dan merupakan kesalahan sangat fatal. Perbuatan syirik ini lantaran mengandung perbuatan yang menyamakan antara al-Khaaliq Yang Maha Sempurna dari segala sisi, dengan makhluk yang sarat dengan segala kelemahan dari setiap sisi. Namun telah diberitakan oleh Allah ﷻ, bahwa ada dosa yang lebih tinggi derajat keburukannya dibandingkan syirik. Dosa itu ialah berdusta atas nama Allah ﷻ. Karena, sebenarnya, seluruh maksiat berawal dari kedustaan atas nama Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) memersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah, apa saja yang tidak kamu ketahui”. [QS. Al-An’am/7:33].

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Allah mengharamkan berkata atas nama Allah tanpa dasar ilmu dalam urusan fatwa atau hukum pengadilan. Dia mengategorikannya termasuk perkara haram yang terbesar. Bahkan menempatkannya di urutan pertama [I’lamul-Muwaqqi’in, 2/73]. Karena urutan perkara-perkara yang diharamkan dalam ayat di atas secara at-ta’ali (dari urutan rendah menuju peringkat terparah) [At-Ta’alum wa Atsaruhu ‘alal Fikri wal-Kitab, Dr. Bakr Abu Zaid, Darul-‘Ashimah, Cetakan IV, Tahun 1418 H].

Pangkal Dari Suatu Musibah

Gejala memrihatinkan ini jelas berpangkal dari faktor tertentu, bukan merupakan peristiwa yang terjadi begitu saja tanpa sebab-musabab. Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah menunjuk fenomena at-ta’alum (sok pintar) sebagai faktor utama. Yakni, sifat merasa lebih mengetahui, merasa memiliki kapabilitas mengeluarkan fatwa atau menjawab, padahal kemampuannya masih sangat jauh dan penuh kekurangan.

Kata Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah: “Sesungguhnya at-ta’alum merupakan pintu masuk menuju ‘Berkata atas nama Allah tanpa dasar ilmu’. Tidak itu saja, ta’alum, keganjilan pendapat, mencari-cari rukhshah, fanatisme buta, semua itu merupakan pintu-pintu menuju kejahatan berkata atas nama Allah tanpa ilmu”. [At-Ta’alum wa Atsaruhu ‘alal Fikri wal-Kitab, Dr. Bakr Abu Zaid, Darul-‘Ashimah, Cetakan IV, Tahun 1418 H]

Berfatwa merupakan kedudukan yang penting. Dalam fatwa ini seseorang mencoba untuk menyelesaikan masalah yang dihadapai seseorang atau masyarakat. Karena kuatnya pengaruh tindakan pemberian fatwa ini, maka tidak ada yang boleh menyampaikan fatwa, kecuali orang-orang yang memang telah mencapai kemampuan ilmiah tertentu. Bukan sembarangan orang. [Kitabul-‘Ilmi, Syaikh al-Utsaimin, ats-Tsurayya, I, 1420-1999, hlm. 75]

Ahli Bid’ah Terancam Oleh Ayat Ini

Imam Ibnu Katsiir rahimahullah berkata: “Termasuk dalam konteks ayat ini, yaitu setiap orang yang melakukan perbuatan bid’ah” [Tafsirul-Qur`anil-‘Azhim, 4/609]. Alasannya sangat jelas. Yakni, mereka menambah-nambahkan sesuatu dengan beranggapan, bahwa semua yang mereka tetapkan merupakan bagian dari agama Islam, setelah mengganggapnya sebagai perbuatan baik, padahal syariat tidak mengatakannya.

Ancaman Berat Terhadap Pelaku yang Berdusta Mengatasnamakan Allah

Manakala suatu perbuatan salah sudah menempati level yang sangat membahayakan, maka tak aneh jika balasannya pun sangat berat. Untuk perbuatan dusta atas nama Allah ta’ala dengan menghalalkan atau mengharamkan secara serampangan, maka Allah ﷻ telah menetapkan balasannya sebagaimana tertera dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

…Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka azab yang pedih. [QS. An Nahl /16:116-117].

Allah ﷻ menyampaikan ancaman terhadap perbuatan dusta yang mengatasnamakan nama-Nya dalam hukum-hukum syari. Juga terhadap pernyataan mereka tentang perkara yang tidak diharamkan “Ini haram”, atau pada perkara yang tidak dihalalkan “Ini halal”. Ayat ini menjadi penjelasan dari Allah ta’ala, bahwa seorang hamba TIDAK BOLEH mengatakan halal atau haram, kecuali setelah mengetahui bahwa Allah menghalalkan atau mengharamkannya [I’lamul-Muwaqqi’iin, 2/ 73-74].

Mereka tidak akan beruntung di dunia maupun di Akhirat. Dan pasti Allah ﷻ akan menampakkan kehinaan mereka. Meskipun mereka menikmati hidup dengan nyaman di dunia ini, akan tetapi itu hanyalah kenikmatan sekejap. Tempat kembali mereka adalah Neraka. Di sana, bagi mereka siksaan yang pedih. [Taisirul-Karimir-Rahman, 451]

Pengendalian Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Di tengah masyarakat, kita dapat menyaksikan banyak bertebaran fatwa tanpa dasar yang dibenarkan. Anehnya, orang-orang berusaha menahan diri berbicara (berpendapat) dalam disiplin ilmu-ilmu umum di hadapan para ahlinya. Konkritnya, seorang yang bukan dokter merasa tidak nyaman berbicara dalam masalah-masalah kedokteran di hadapan dokter. Atau bukan arsitek merasa tidak nyaman berbicara tentang arsitektur di hadapan seorang insiyur. Namun sikap serupa tidak disaksikan dalam urusan-urusan agama, -sifat merasa lebih mengetahui terlalu menonjol. Padahal mereka meyakini Allah Maha Mendengar segala perkataan, Maha Melihat saat mengeluarkan hukum, penilaian maupun fatwa [Lihat Hasha`idul-Alsun, Syaikh Husain al-‘Awayisyah, Daarul-Hijrah, Cet. I, Th. 1412H-1992M, hlm. 51].

Pendapat-pendapat ganjil pun mengemuka. Bahkan terkadang sangat menggelikan, hingga benar-benar memerlihatkan betapa dangkal ilmu yang dimilikinya. Kekacauan sudah menjalar di mana-mana. Jadi, solusi “Problematika sosial” yang sudah mewabah dan tak bisa dianggap ringan ini, yang juga merupakan solusi bagi seluruh masalah ialah, menanamkan rasa takut kepada Allah ﷻ dan meningkatkan kadar ketakwaan, hingga terbentuk mentalitas wajib menahan diri tidak berbicara atau tidak menjawab, dan tidak mengeluarkan fatwa, jika benar-benar tidak mengetahui apa-apa, atau hanya setengah tahu. Dan hendaklah dimengerti, bahwa Allah-lah yang berhak menetapkan dan menciptakan (al-khalqu wal-amru). Tidak ada pencipta selain-Nya. Tidak ada syariat bagi makhluk selain syariat-Nya. Dia-lah yang berhak mewajibkan sesuatu, mengharamkannya, menganjurkan dan menghalalkan.

Oleh karena itu, jika seseorang ditanya permasalahan yang TIDAK diketahuinya, hendaklah dengan lantang menjawab tanpa malu-malu dan mengatakan “Aku tidak tahu, aku belum tahu, tanya orang lain saja”. Jawaban seperti ini justru menunjukkan kesempurnaan akalnya, kebaikan iman dan ketakwaannya, serta kesopanan di hadapan Allah ﷻ [Kitabul-‘Ilmi, hlm. 77].

Kehati-Hatian Generasi Salaf dalam Masalah Ini [I’lamul-Muwaqqi’in (2/75-77), Adhwa`ul-Bayan (3/347), Riyadhush-Shalihin (Bahjatun-Naazhirin)]

Dahulu, para generasi Ulama Salaf, mereka bersikap wara` (menjaga diri) dalam mengeluarkan pernyataan “Ini halal dan itu haram”, lantaran takut terhadap ayat di atas. Selain itu, ialah untuk menunjukkan tingginya sopan santun mereka di hadapan Allah dan Rasul-Nya ﷺ, yang berhak menetapkan hukum atas umat manusia, padahal mereka mengetahui dalil penghalalan atau pengharamannya dengan jelas.

Imam Maalik rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Qabishah bin Dzuaib, bahwasanya ada seorang lelaki yang bertanya kepada ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhu mengenai dua perempuan bersaudara yang sebelumnya berstatus sebagai budak. ‘Utsman radhiyallahu anhu menjawab: “Sebuah ayat menghalalkannya, dan ayat lain telah mengharamkannya. Adapun saya, tidak suka untuk melakukannya” [Isnadnya shahih. Lihat al-Muwaththa (2/538), al-Umm (5/3), al-Baihaqi (7/163). Dinukil dari catatan kaki di I’lamul-Muwaqqi’in, 2/75. Dalam riwayat ini, ‘Utsman Radhiyallahu anhu dengan kehati-hatiannya menisbatkan penghalalan dan pengharaman kepada nash Alquran, bukan kepada dirinya, Pen].

Imam al-Qurthubi rahimahullah meriwayatkan: Ad-Darimi berkata dalam Musnad-nya: Harun telah memberitahukan kepada kami dari Hafsh dari al-A’masy, ia berkata: “Aku belum pernah mendengar Ibrahim (an-Nakha`i) berkata ‘(Ini) halal atau haram,’ akan tetapi ia mengatakan (bila menghukumi): ‘Dahulu, orang-orang tidak menyukainya. Atau, dahulu orang-orang menyukainya’.” [Al-Jami li Ahkamil-Qur`an]

Ibnu Wahb rahimahullah berkata dari Imam Malik rahimahullah: “Tidaklah menjadi kebiasaan orang-orang (sekarang) atau orang-orang yang telah berlalu, juga bukan menjadi kebiasaan orang-orang yang aku ikuti untuk mengatakan ‘Ini halal, itu haram’. Mereka tidak berani untuk melakukannya. Kala itu mereka hanya mengatakan nakrahu kadza (kami tidak menyukainya), naraahu hasanan (kami melihatnya baik), nattaqi hadza (kami menghindarinya), wala nara hadza (kami tidak berpandangan demikian)”.

Dalam riwayat lain: “Mereka tidak mengatakan ‘Ini halal atau haram’. Tidakkah engkau mendengar Allah berfirman (yang artinya):

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini), atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (QS. Yunus/10 : 59), lantas beliau berkata: “Yang halal adalah semua yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Yang haram adalah semua yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” [I’lamul-Muwaqqi’in, 2].

Dalam kitab Al-Umm, Imam asy-Syafi’i rahimahullah sering mengatakan: Ahabbu ilayya, uhibbu, akrahu dan lafal-lafal semisal lainnya untuk menilai berbagai macam perkara. Wallahu a’lam.

Pelajaran dari Ayat:

1. Haram menetapkan halal dan haram tanpa dasar syari, qath’i maupun zhanni, kecuali yang sudah hampir diyakini sebagai hal yang diharamkan.

2. Haram berdusta atas nama Allah ta’ala.

3. Orang yang berdusta atas nama Allah ta’ala, ia tidak akan beruntung di Akhirat kelak. Sementara di dunia, ia akan dirundung oleh kehinaan.

4. Wajib menjaga lisan dan berhati-hati dalam berbicara.

5. Ahli bid’ah diancam dengan ayat di atas.

Wallahu a’lam

 

Maraaji’:

1. Aisarut-Tafasir, Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Maktabah ‘Ulum wal-Hikam, Madinah.

2. Al-Jami li Ahkamil-Qur`an (Tafsir al-Qurthubi), Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi, Tahqiq: ‘Abdur-Razzaq al-Mahdi, Darul-Kitabil-‘Arabi, Cetakan IV, Tahun 1422 H – 2001 M.

3. I’laamul Muwaqqi’in ‘An Rabbil ‘Alamin Ibnul Qayyim, Tahqiq: Abu ‘Ubaidah Masyhuur bin Hasan Alu Salmaan Daar, Ibnu Jauzi, Cet. I, Th. 1423H.

4. Kitabul-‘Ilmi, Syaikh al-Utsaimin, ats-Tsurayya, I, 1420H-1999M.

5. Ma’alimut-Tanzil, Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Tahqiq dan Takhrij: Muhammad ‘Abdullah an-Namr, ‘Utsman Jum’ah Dhumairiyyah, dan Sulaiman Muslim al-Kharsy, Dar Thaibah, Tahun 1411 H.

6. Tafsirul-Qur`anil-‘Azhim, al-Hafizh Abul-Fida Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Qurasyi, Tahqiq: Sami bin Muhammad as-Salamah, Dar Thaibah, Cetakan I, Tahun 1422 H – 2002 M.

7. Taisirul-Karimir-Rahman, ‘Allamah Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir as-Sa’di, Darul-Mughni, Riyadh, Cet. I, Th. 1419 H – 1999 M.

 

Penulis: Ustadz Ashim bin Mushthofa hafizahullah

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XII/Ramadhan 1429/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/3346-jangan-mudah-memutuskan-ini-halal-dan-itu-haram.html

,

​MESKIPUN CANDA, JANGANLAH DUSTA

​MESKIPUN CANDA, JANGANLAH DUSTA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah, #TazkiyatunNufus

MESKIPUN CANDA, JANGANLAH DUSTA

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَيْلٌ للَّذِي يُحَدِّ ثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْخِكَ بِهِ الْقَوْمَ ويْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah seseorang yang berdusta untuk membuat orang tertawa. celakalah dia, celakalah dia.”

[HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Shahih al-Jami’, 7126]

 

Sumber: https://shahihfiqih.com/tazkiyatun-nafz/%E2%80%8Bmeskipun-canda-janganlah-dusta/

,

CARA MENGENAL PENDUSTA

CARA MENGENAL PENDUSTA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSalaf

CARA MENGENAL PENDUSTA

Harun bin Sufyan Al-Mustamly bertanya kepada Imam Ahmad: “Bagaimana cara engkau mengetahui para pendusta?”

Imam Ahmad menjawab: “Dengan (melihat) janji-janji mereka.” [Dirwayatkan oleh Ibnu ‘Ady dalam Al-Kamil dan As-Sam’âny dalam Adabul Imlâ`]

سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، يَقُولُ: حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سُفْيَانَ الْمُسْتَمَلِيُّ، قَالَ ” قُلْتُ لأَبِيكَ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ: كَيْفَ تَعْرِفُ الْكَذَّابِينَ؟ قَالَ: بِمَوَاعِيدِهِمْ “.

 

___________

Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah

@dzulqarnainms

, ,

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

NasihatUlama
#TazkiyatunNufus #DakwahTauhid

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata:

قال بعض العارفين : من لم يكن ثمرة استغفاره تصحيح توبته فهو كاذب فى استغفاره

“Sebagian orang-orang yang berpengetahuan berkata: ‘Barang siapa yang istighfarnya tidak membuahkan perbaikan terhadap taubatnya, maka dia dusta dalam istighfarnya.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 4]

وأفضل أنواع الإستغفار : أن يبدأ العبد بالثناء على ربه. , ثم يثنى بالإعتراف بذنبه, ثم يسأل الله المغفرة.

“Sebaik-baik bentuk istighfar adalah seorang hamba memulainya dengan sanjungan terhadap Rabb-nya, kemudian dilanjutkan dengan pengakuan atas dosa-dosanya, kemudian meminta kepada Allah maghfirah (ampunan).” [Asbab al-Maghfirah, hal. 5]

من أسباب المغفرة : التوحيد وهو السبب الأعظم فمن فقده فقد المغفرة .

“Di antara sebab maghfirah (ampunan) adalah Tauhid. Tauhid merupakan sebab terbesar. Barang siapa yang tauhid hilang darinya, maka dia telah kehilangan maghfirah.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 6]

Qatadah rahimahullah berkata:

إن هذا القرآن يدلكم على دائكم ودوائكم فأما داؤكم فالذنوب،وأما دواؤكم فالإستغفار.

“Sesungguhnya Alquran ini menunjukkan kepada kalian, penyakit kalian dan obatnya. Adapun penyakit kalian adalah dosa. Adapun obatnya adalah istighfar.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 5]

Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

, , ,

SALAH KAPRAH TENTANG PUASA RAJAB (KOREKSI UNTUK PENCELA ULAMA)

SALAH KAPRAH TENTANG PUASA RAJAB (KOREKSI UNTUK PENCELA ULAMA)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#StopBidah
#KajianSunnah

SALAH KAPRAH TENTANG PUASA RAJAB (KOREKSI UNTUK PENCELA ULAMA)

Di antara kesalahan dalam permasalahan puasa Rajab adalah orang yang memahami, bahwa ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah melarang puasa Rajab atau membid’ahkannya secara mutlak. Dan tidak jarang kesalahan memahami tersebut ditambah dengan kesalahan berikutnya yang lebih besar, yaitu menjelek-jelekan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan memberi gelar “Wahabi” dan gelar-gelar lainnya yang mereka anggap jelek.

Padahal yang menjelaskan tentang kelemahan dan kepalsuan hadis-hadis khusus tentang puasa Rajab adalah para ulama yang hidup jauh sebelum Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Bahkan ulama besar dari kalangan Mazhab Syafi’i, yaitu Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah memiliki buku khusus yang menjelaskan tentang kelemahan dan kepalsuan hadis-hadis tersebut, yang beliau beri judul “Tabyinul ‘Ajab bi Maa Waroda fi Fadhli Rojab”.

Dan kesalahan tersebut berasal dari kesalahan memahami ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan ucapan para ulama Ahlus Sunnah lainnya yang semisal, tentang hadis-hadis puasa Rajab secara khusus. Beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah) berkata:

وأما صوم رجب بخصوصه فأحاديثه كلها ضعيفة بل موضوعة لا يعتمد أهل العلم على شيء منها وليست من الضعيف الذي يروى في الفضائل بل عامتها من الموضوعات المكذوبات

“Adapun puasa Rajab secara khusus, maka seluruh hadisnya LEMAH, bahkan PALSU. Tidak ada seorang ahli ilmu pun yang berpegang dengannya. Dan bukan pula termasuk kategori lemah yang boleh diriwayatkan dalam fadhail (keutamaan beramal). Bahkan seluruhnya termasuk hadis palsu lagi dusta.” [Majmu’ Al-Fatawa, 25/290-291]

Sebagian orang menyangka, bahwa beliau melarang puasa Rajab secara mutlak dan membid’ahkannya, sebagai jawaban atas kesalahpamahaman ini:

Pertama: Beliau hanyalah menjelaskan, bahwa hadis-hadis khusus yang berbicara tentang puasa Rajab dan keutamaannya adalah lemah dan palsu, sebagai peringatan untuk tidak menyebarkannya, karena Rasulullah ﷺ telah memeringatkan dengan keras sekali:

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa yang berdusta atasku dengan sengaja, maka siapkan tempat duduknya di Neraka.” [Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

“Barang siapa menyampaikan hadis atas namaku, padahal dia menyangka bahwa itu adalah dusta, maka dia termasuk salah satu pendusta.” [HR. Muslim dari Al-Mughiroh bin Syu’bah radhiyallahu’anhu]

Dan bukan hanya beliau yang menjelaskan kelemahan dan kepalsuan hadis-hadis tersebut. Masih banyak ulama Ahli Hadis yang lainnya yang menjelaskannya, di antaranya:

Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

وكل حديث في ذكر صوم رجب وصلاة بعض الليالي فيه فهو كذب مفترى

“Dan semua hadis yang berbicara tentang puasa Rajab dan shalat pada sebagian malamnya adalah dusta yang diada-adakan.” [Al-Manaarul Muniif: 170]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

لم يرد في فضل شهر رجب ولا في صيامه ولا صيام شيء منه معين ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة

“Tidak ada satu hadis Shahih pun yang berbicara tentang keutamaan Rajab, tidak pula puasanya, tidak pula puasa khusus di hari tertentu dan tidak pula sholat malam di malam yang khusus.” [Tabyinul ‘Ajab: 11]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Baca Selengkapnya:

 

📙 SALAH KAPRAH TENTANG PUASA RAJAB (KOREKSI UNTUK PENCELA ULAMA)بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ🚧 Diantara…

Dikirim oleh Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info pada 5 April 2017

 

 

Terkait:

 

🌙 ADAKAH AMALAN KHUSUS DI BULAN RAJAB?بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ✅ Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,…

Dikirim oleh Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info pada 27 Maret 2017

 

 

 

, ,

ADAKAH PUASA DAN SHOLAT KHUSUS DI BULAN RAJAB?

ADAKAH PUASA DAN SHOLAT KHUSUS DI BULAN RAJAB?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#StopBidah
#FatwaUlama

ADAKAH PUASA DAN SHOLAT KHUSUS DI BULAN RAJAB?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وأما صوم رجب بخصوصه فأحاديثه كلها ضعيفة بل موضوعة لا يعتمد أهل العلم على شيء منها وليست من الضعيف الذي يروى في الفضائل بل عامتها من الموضوعات المكذوبات

“Adapun puasa Rajab secara khusus, maka SELURUH hadisnya LEMAH, bahkan PALSU. Tidak ada seorang ahli ilmu pun yang berpegang dengannya. Dan bukan pula termasuk kategori lemah yang boleh diriwayatkan dalam fadhail (keutamaan-keutamaan beramal). Bahkan seluruhnya termasuk hadis palsu yang dusta.” [Majmu’ Al-Fatawa, 25/290]

Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

وكل حديث في ذكر صوم رجب وصلاة بعض الليالي فيه فهو كذب مفترى

“Dan semua hadis yang berbicara tentang puasa Rajab dan shalat pada sebagian malamnya adalah DUSTA yang diada-adakan.” [Al-Manaarul Muniif, 96]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

لم يرد في فضل شهر رجب ولا في صيامه ولا صيام شيء منه معين ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة

“Tidak ada satu hadis Shahih pun yang yang dapat dijadikan hujjah tentang keutamaan bulan Rajab. Tidak puasanya, tidak pula puasa khusus di hari tertentu, dan tidak pula sholat malam di malam yang khusus.” [Tabyinul ‘Ajab, hal. 11]

Maka TIDAK BOLEH menyebarkan hadis-hadis palsu tersebut. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa yang berdusta atasku dengan sengaja, maka siapkan tempat duduknya di Neraka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

“Barang siapa menyampaikan hadis atas namaku, padahal dia menyangka bahwa itu adalah dusta, maka dia termasuk salah satu pendusta.” [HR. Muslim dari Al-Mughiroh bin Syu’bah radhiyallahu’anhu]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

 

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/770727679743383:0

 

 

 

,

BAHAYANYA BICARA AGAMA TANPA ILMU

BAHAYANYA BICARA AGAMA TANPA ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah

BAHAYANYA BICARA AGAMA TANPA ILMU

Memahami ilmu agama merupakan kewajiban atas setiap Muslim dan Muslimah. Rasulullah ﷺ bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap Muslim. [HR. Ibnu Majah no:224, dan lainnya dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani]

Dan agama adalah apa yang telah difirmankan oleh Allah di dalam kitab-Nya, Alquranul Karim, dan disabdakan oleh Rasul-Nya ﷺ di dalam Sunnahnya. Oleh karena itulah, termasuk kesalahan yang sangat berbahaya adalah berbicara masalah agama TANPA ilmu dari Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Sebagai nasihat sesama umat Islam, di sini kami sampaikan di antara bahaya berbicara masalah agama tanpa ilmu:

  1. Hal Itu Merupakan Perkara Tertinggi yang Diharamkan oleh Allah

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) memersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)” [Al-A’raf:33]

 

Syeikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz rahimahullah berkata:

“Berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk perkara terbesar yang diharamkan oleh Allah. Bahkan hal itu disebutkan lebih tinggi daripada kedudukan syirik. Karena di dalam ayat tersebut Allah mengurutkan perkara-perkara yang diharamkan mulai yang paling rendah sampai yang paling tinggi.

Dan berbicara tentang Allah tanpa ilmu meliputi: Berbicara (tanpa ilmu) tentang hukum-hukum-Nya, syariat-Nya, dan agama-Nya. Termasuk berbicara tentang nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, yang hal ini lebih besar daripada berbicara (tanpa ilmu) tentang syariat-Nya, dan agama-Nya.” [Catatan kaki kitab At-Tanbihat Al-Lathifah ‘Ala Ma Ihtawat ‘alaihi Al-‘aqidah Al-Wasithiyah, hal: 34, tahqiq Syeikh Ali bin Hasan, penerbit:Dar Ibnil Qayyim]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Termasuk Dusta Atas (Nama) Allah

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. [QS. An-Nahl [16): 116]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Merupakan Kesesatan dan Menyesatkan Orang Lain

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hamba-Nya sekaligus. Tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim-pun, orang-orang-pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain. [HSR. Bukhari no:100, Muslim, dan lainnya]

Hadis ini menunjukkan, bahwa “Barang siapa tidak berilmu dan menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan tanpa ilmu, dan mengqias (membandingkan) dengan akalnya, sehingga mengharamkan apa yang Allah halalkan dengan kebodohan, dan menghalalkan apa yang Allah haramkan dengan tanpa dia ketahui, maka inilah orang yang mengqias dengan akalnya, sehingga dia sesat dan menyesatkan. [Shahih Jami’il Ilmi Wa Fadhlihi, hal: 415, karya Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr, diringkas oleh Syeikh Abul Asybal Az-Zuhairi]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Merupakan Sikap Mengikuti Hawa-Nafsu

Imam Ali bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi rahimahullah berkata: “Barang siapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa-nafsunya, dan Allah telah berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ

Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun [Al-Qashshash:50]” [Kitab Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Merupakan Sikap Mendahului Allah dan Rasul-Nya ﷺ

Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمُُ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-Hujuraat: 1]

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Ayat ini memuat adab terhadap Allah dan Rasul-Nya ﷺ, juga pengagungan, penghormatan, dan pemuliaan kepadanya. Allah telah memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman, dengan konsekwensi keimanan terhadap Allah dan Rasul-Nya ﷺ, yaitu: Menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dan agar mereka selalu berjalan mengikuti perintah Allah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ di dalam seluruh perkara mereka. Dan agar mereka tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya ﷺ, sehingga janganlah mereka berkata, sampai Allah berkata. Dan janganlah mereka memerintah, sampai Allah memerintah”. [Taisir Karimir Rahman, surat Al-Hujurat:1]

  1. Orang Yang Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Menanggung Dosa-Dosa Orang-Orang yang Dia Sesatkan

Orang yang berbicara tentang Allah tanpa ilmu adalah orang sesat dan mengajak kepada kesesatan. Oleh karena itu, dia menanggung dosa-dosa orang-orang yang telah dia sesatkan. Rasulullah ﷺ:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa menyeru kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala, sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya. Hal itu tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa, sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya. Hal itu tidak mengurangi dosa mereka sedikit pun. [HSR. Muslim no:2674, dari Abu Hurairah]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Akan Dimintai Tanggung-Jawab

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. [QS. Al-Isra’:36]

Setelah menyebutkan pendapat para Salaf tentang ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Kesimpulan penjelasan yang mereka sebutkan adalah: Bahwa Allah Ta’ala melarang berbicara tanpa ilmu, yaitu (berbicara) hanya dengan persangkaan yang merupakan perkiraan dan khayalan.” [Tafsir Alquranul Azhim, surat Al-Isra’:36]

  1. Orang yang Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Termasuk Tidak Berhukum dengan Apa Yang Allah Turunkan

Syeikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami menyatakan: “Fashal: Tentang Haramnya Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu, Dan Haramnya Berfatwa Tentang Agama Allah Dengan Apa Yang Menyelisihi Nash-nash”. Kemudian beliau membawakan sejumlah ayat Alquran, di antaranya adalah firman Allah di bawah ini:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. [QS. 5:44]

9. Berbicara Agama Tanpa Ilmu Menyelisihi Jalan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah menyatakan di dalam aqidah Thahawiyahnya yang masyhur: “Dan kami berkata: “Wallahu A’lam (Allah Yang Mengetahui)”, terhadap perkara-perkara yang ilmunya samar bagi kami”. [Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393]

  1. Berbicara Agama Tanpa Ilmu Merupakan Perintah Setan

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui. [QS. 2:169]

Keterangan ini kami akhiri dengan nasihat: Barang siapa yang ingin bebicara masalah agama, hendaklah dia belajar lebih dahulu. Kemudian hendaklah dia hanya berbicara berdasarkan ilmu.

WAllahu a’lam bish showwab. Al-hamdulillah Rabbil ‘alamin.

 

Penulis: Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

[Artikel www.Muslim.or.id]

Sumber: https://Muslim.or.id/6442-bahaya-bicara-agama-tanpa-ilmu.html

 

,

HUKUM DIALOG IMAJINER ANTARA ALLAH DAN HAMBA-NYA

HUKUM DIALOG IMAJINER ANTARA ALLAH DAN HAMBA-NYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah

HUKUM DIALOG IMAJINER ANTARA ALLAH DAN HAMBA-NYA

Dialog Imajiner ternyata menyimpan sejuta masalah. Karena termasuk berdusta atas nama syariat. Islam pun melarang kita utk menyebarkannya, karena Nabi ﷺ menyebutnya sebagai pendusta.

Pertanyaan:

Sering ana membaca artikel-artikel yang digambarkan dalam bentuk dialog imajiner. Yang menjadi masalah adalah, dialog tersebut melibatkan Allah, Malaikat, setan bahkan Para Nabi. padahal sesungguhnya tidak pernah terjadi dialog tersebut. Bolehkah membuat tulisan seperti itu?

Ini contoh dialog imajiner (hanya cuplikan) saja:

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang tukang kayu yang sangat miskin telah mendengar akan wasiat tersebut, lalu diberitahu kepada istrinya, apakah dia perlu mengambil kesempatan ini untuk menjadi kaya. Istrinya berkata: “Wahai suamiku, apalah artinya menjaga mayat tersebut selama 40 hari, dibandingkan kerjamu ketika menebang kayu di dalam hutan, dan bertemu dengan harimau dan hantu penunggu hutan. Tukang kayu tersebut dengan tergesa-gesa segera datang ke rumah konglomerat tersebut untuk memberitahukan kepada ahli waris konglomerat tersebut akan kesanggupannya. Keesokan harinya dikebumikanlah jenazah Sang Konglomerat, si Tukang kayu itu pun ikut turun ke dalam liang lahat bersama kapaknya.

Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah meninggalkan area pemakaman tersebut, maka datanglah Malaikat Mungkar dan Nakir ke dAlam Kubur tersebut. Si Tukang kayu menyadari siapa yang datang, maka ia segera agak menjauhkan diri dari mayat konglomerat tersebut. Terbetik di pikirannya, bahwa sudah tiba saatnya Sang konglomerat tersebut akan diinterogasi oleh Mungkar dan Nakir. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Mungkar dan Nakir malah menuju ke arahnya dan bertanya: “Apa yang kau buat di sini”?. Aku menemani mayat ini selama 40 hari untuk mendapatkan setengah harta wasiatnya” jawab si Tukang kayu. “Apa harta yang ada pada kau sekarang”? lanjut Mungkar-Nakir. “Aku cuma memiliki sebatang kapak ini saja untuk mencari rezeki” timpal si tukang kayu. Kemudian Mugkar-Nakir beritanya lagi: “Dari mana kau dapat kapak ini”?. “Aku membelinya” balas si tukang kayu. Lalu pergilah Mungkar dan Nakir di hari pertama dari dAlam Kubur tersebut. Hari kedua mereka datang lagi dan bertanya: “Apa yang kau buat dengan kapak ini”?. “Aku menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar untuk dijual” sergah tukang kayu. Di hari ketiga di tanya lagi: “Pohon siapa yang kau tebang dengan kapak ini?. “ Pohon itu adanya di hutan belantara, jadi tidak ada yang punya” timpalnya. “Apa kau yakin?” lanjut malaikat. Kemudian mereka menghilang dan datang lagi di hari ke empat. Kemudian mereka bertanya lagi “Adakah kau potong pohon tersebut dengan kapak ini dengan ukurannya dan beratnya yang sama untuk dijual? “Aku potong dikira-kira saja, mana mungkin ukurannya bisa sama rata” tegas tukang kayu. Begitu terus yang dilakukan malaikat Mungkar Nakir datang dan pergi sampai tak terasa sekarang 39 hari sudah dan yang ditanyakan masih berkisar dengan kapak tersebut.

Mohon pencerahannya ustadz.

Jawaban:

Kita dilarang keras berbicara tentang masalah yang gaib, masalah Akhirat atau pertanyaan di kuburan, atau semua kejadian masa depan atau kejadian masa silam, tanpa bukti dan dalil yang Shahih. Karena berbicara masalah yang gaib tanpa dalil, pasti salah dan statusnya dusta.

Jika dusta atas nama makhluk hukumnya haram dan terlarang, berdusta atas nama Allah hukumnya jauh lebih terlarang.

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) memersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan bebicara atas nama Allah, apa yang tidak kamu ketahui.” [QS. Al-A’raf:33]

Semua informasi tentang syariat, baik yang berkaitan masalah hukum fikih maupun yang berkaitan dengan akidah, harus berdasarkan dalil yang Shahih dan jelas. Pelanggaran dalam hal ini, termasuk berbicara tentang Allah, sementara kita tidak memiliki ilmunya.

Apa Hukumannya?

Ayat di atas tidak memberikan ancaman hukuman apapun. Akan tetapi disebutkan dalam hadis, Rasulullah ﷺ memberi ancaman sangat keras untuk perbuatan semacam ini. Beliau ﷺ bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Siapa yang berdusta atas namakku, hendaknya dia siapkan tempatnya di Neraka. [HR. Bukhari]

Dalam lafal yang lain:

مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Siapa yang berbicara atas namaku, padahal aku tidak pernah mengucapkannya, hendaknya dia siapkan tempatnya di Neraka. [HR. Bukhari]

Demikian ancaman keras untuk orang yang berdusta atas nama Rasulullah ﷺ. Kita bisa bayangkan, bagaimana dengan hukuman untuk orang yang berdusta atas nama Allah. Tentu saja hukumannya lebih berat.

Dialog imajiner seperti yang disebutkan di atas merupakan contoh berbicara atas nama Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Namanya saja dialog imejiner, jelas tidak memiliki bukti maupun dalil yang Shahih. Kita tidak perlu ragu untuk menyebutnya sebagai KEDUSTAAN atas nama Allah dan Rasul-Nya.

Maksud yang Baik, Tidak Melegalkan Cara yang Buruk

Bisa jadi maksud orang ini sangat baik. Dia hendak mengingatkan masyarakat tentang betapa ngerinya pertanyaan kubur. Sehingga selayaknya kita perlu banyak waspada, agar bisa menjawab pertanyaan di Alam Kubur dengan benar. Namun tujuan yang baik ini TIDAK BOLEH dilakukan dengan cara yang melanggar syariat. Para ulama menetapkan kaidah:

الغاية تبرر الوسيلة

Tujuan tidak bisa melegalkan sarana yang tidak baik

Lebih dari itu, masih banyak cara yang dibenarkan untuk menyampaikan nasihat tentang Alam Kubur atau nasihat tentang Akhirat.

Jangan Disebarkan!!

Setelah memahami bahwa dialog imajiner termasuk BERDUSTA atas nama Allah dan Rasul-Nya ﷺ, sikap yang harus kita lakukan adalah tidak boleh membenarkannya, termasuk menyebarkannya. Karena kita dilarang menyebarkan kedustaan. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ، فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

“Siapa yang menyampaikan hadis dariku, dan dia menyangka bahwa itu dusta, maka dia termasuk salah satu pendusta.” [HR. Muslim dalam Mukadimah, Turmudzi dalam Sunannya]

Dalam hadis ini, Rasulullah ﷺ menyebut orang yang menyebarkan hadis dhaif atau hadis yang dianggap palsu, sebagai salah satu pendusta. Tentu saja ancamannya akan lebih parah, ketika kita yakin bahwa yang kita sebarkan adalah sebuah kedustaan.

Apa beda ancaman pertama dan kedua?

Pada kasus pertama, terdapat ancaman ‘Siapkan tempatnya di Neraka’ dan pada kasus kedua, ancaman yang disebutkan, ‘Dia salah satu pendusta’.

Dua ancaman ini berbeda, sehingga tentu saja kasusnya beda. Untuk ancaman pertama, ancaman agar menyiapkan dirinya di Neraka, berlaku untuk orang yang MEMBUAT informasi dusta atas nama Rasulullah ﷺ. Padahal beliau ﷺ tidak pernah menyabdakannya.

Sementara ancaman kedua, pelakunya disebut pendusta, berlaku untuk orang yang menyebarkan hadis yang dia sangka itu dusta, atau dia yakini itu dusta.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/18075-hukum-dialog-imajiner-antara-tuhan-dan-hamba.html

,

FATWA ULAMA TENTANG APRIL MOP

FATWA ULAMA TENTANG APRIL MOP

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

FATWA ULAMA TENTANG APRIL MOP

Pertanyaan:

Kami berharap pengarahan terhadap seluruh umat terkait April Mop (April Fools’ Day) (Hari Berbohong) yang ada di masa ini?

Jawaban:

April Mop ini diimpor dari kebiasaan batil orang-orang kafir, dan bukan termasuk amalan kaum Muslimin. Berbohong itu tidak boleh, tidak di bulan April, tidak pula di bulan lain. Dusta itu haram, baik dusta atas Allah, dusta atas Rasul-Nya, maupun dusta atas manusia. Semuanya haram, termasuk dosa besar. Allah mengharamkan dan melarang dusta, serta mengancam para pendusta. Maka tidak boleh berdusta di semua waktu.

Sumber:

https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1941896836043118:0
http://sofyanruray.info/fatwa-ulama-tentang-april-mop/