Posts

,

ANCAMAN ORANG YANG TIDAK MAU HAJI PADAHAL DIA MAMPU

ANCAMAN ORANG YANG TIDAK MAU HAJI PADAHAL DIA MAMPU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#HajiUmrah

ANCAMAN ORANG YANG TIDAK MAU HAJI PADAHAL DIA MAMPU
>> Disuruh Pilih, Mau Mati Sebagai Yahudi atau Nasrani

Pertanyaan:

Apa hukum bagi orang yang tidak daftar haji, padahal dia mampu?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Orang yang mampu berangkat haji dan dia sengaja tidak berangkat haji, atau memiliki keinginan untuk tidak berhaji. maka dia melakukan dosa besar. Allah berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. ([QS. Ali Imran: 97]

Ketika menjelaskan tafsir ayat ini, Ibnu Katsir membawakan keterangan dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: مَنْ أَطَاقَ الْحَجَّ فَلَمْ يَحُجَّ، فَسَوَاءٌ عَلَيْهِ يَهُودِيًّا مَاتَ أَوْ نَصْرَانِيًّا، وَهَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ إِلَى عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Bahwa Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Siapa yang mampu haji dan dia tidak berangkat haji, sama saja, dia mau mati Yahudi atau mati Nasrani.”

Komentar Ibnu Katsir, ‘Riwayat ini sanadnya Shahih sampai ke Umar radhiyallahu ‘anhu.’

Kemudian diriwayatkan oleh Said bin Manshur dalam sunannya, dari Hasan al-Bashri, bahwa Umar bin Khatab mengatakan:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنَّ أَبْعَثَ رِجَالًا إِلَى هَذِهِ الْأَمْصَارِ فَيَنْظُرُوا كُلَّ مَنْ كَانَ لَهُ جَدَّةٌ فَلَمْ يَحُجَّ، فَيَضْرِبُوا عَلَيْهِمُ الْجِزْيَةَ مَا هُمْ بمسلمين، ما هم بمسلمين

“Saya bertekad untuk mengutus beberapa orang ke berbagai penjuru negeri ini, untuk memeriksa siapa di antara mereka yang memiliki harta, namun dia tidak berhaji, kemudian mereka diwajibkan membayar fidyah. Mereka bukan bagian dari kaum Muslimin. Mereka bukan bagian dari kaum Muslimin.” [Tafsir Ibnu Katsir, 2/85]

Belum Berhaji Hingga Mati

Orang yang mampu secara finansial, sementara tidak berhaji hingga mati, maka dia dihajikan orang lain, dengan biaya yang diambilkan dari warisannya. Meskipun selama hidup, dia tidak pernah berwasiat.

Al-Buhuti mengatakan:

وإن مات من لزماه أي الحج والعمرة أخرج من تركته من رأس المال ـ أوصى به أو لا ـ ويحج النائب من حيث وجبا على الميت، لأن القضاء يكون بصفة الأداء

Apabila ada orang yang wajib haji atau umrah meninggal dunia, maka diambil harta warisannya (untuk badal haji), baik dia berwasiat maupun tidak berwasiat. Sang badal melakukan haji dan umrah sesuai keadaan orang yang meninggal. Karena pelaksanaan qadha itu sama dengan pelaksanaan ibadah pada waktunya (al-Ada’). (ar-Raudh al-Murbi’, 1/249)

Keterangan:

Yang dimaksud ’Sang badal melakukan haji dan umrah sesuai keadaan orang yang meninggal’ adalah bahwa sang badal melaksanakan haji atau umrah sesuai miqat si mayit. Jika mayit miqatnya dari Yalamlam, maka badal juga harus mengambil miqat Yalamlam.

Miqat Boleh Beda

Al-Buhuti memersyaratkan, miqat orang yang menjadi badal haji harus sama dengan miqat mayit. Namun beberapa ulama lainnya berpendapat, bahwa miqat tidak harus sama. Dalam Hasyiyah ar-Raudh dinyatakan:

وقيل: يجزئ من ميقاته، وهو مذهب مالك، والشافعي، ويقع الحج عن المحجوج عنه

Ada yang mengatakan, badal haji boleh dari miqatnya sendiri. Ini pendapat Malik dan as-Syafii. Dan hajinya sah sebagai pengganti bagi orang yang dihajikan. (Hasyiyah ar-Raudh al-Murbi’, 3/519).

Dalam al-Mughni Ibnu Qudamah menyebutkan pendapat kedua ini:

ويستناب من يحج عنه حيث وجب عليه، إما من بلده أو من الموضع الذي أيسر فيه، وبهذا قال الحسن وإسحاق

Dia dibadalkan oleh orang berhaji atas namanya sesuai kondisinya, baik berangkat dari negerinya (mayit), atau dari tempat manapun yang mudah baginya. Ini adalah pendapat Hasan al-bashri dan Ishaq. (al-Mughni, 3/234).

Dan insyaaAllah pendapat kedua inilah yang lebih mendekati kebenaran, karena inti yang diinginkan adalah hajinya, bukan usaha keberangkatan hajinya. Demikian keterangan Imam Ibnu Utsaimin.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/23443-ancaman-orang-yang-tidak-mau-haji.html

ANAK-ANAK KITA SAAT RAMADAN

ANAK-ANAK KITA SAAT RAMADAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi

ANAK-ANAK KITA SAAT RAMADAN

>> Usia Berapa Mulai Baligh?

Pertanyaan:

Pada usia berapa anak dikatakan telah baligh, sehingga dia sudah wajib berpuasa?

Jawaban:

Ukuran baligh tidak semata bersandar pada usia. Yang pasti, jika dia mengalami salah satu saja dari hal berikut ini, dia teranggap sebagai orang yang baligh:

  1. Tumbuh bulu kemaluan,
  2. Telah keluar mani (baik dalam kondisi sadar atau melalui mimpi basah),
  3. Mencapai usia lima belas tahun,
  4. Haid (untuk wanita). [Lihat: al-Jaami fii Fiqh Ibn Baaz, 497-498]

>> Kapan Anak Disuruh Berpuasa?

Pertanyaan:

Pada usia berapakah tepatnya, anak mesti diperintah untuk puasa?

Jawaban:

Sebagian ulama menganalogikan puasa dengan ibadah shalat. Yaitu pada usia tujuh tahun sudah mesti diperintah untuk puasa, jika saat berusia sepuluh tahun dia meninggalkan puasa, maka dipukul. [Lihat: al-Mughni, IV/412-413]

Nampaknya keterangan asy-Syaikh al-‘Utsaimiin rahimahullah berikut bisa menjadi acuan kita dalam masalah ini. Beliau berkata:

إذا كان صغيراً لم يبلغ فإنه لا يلزمه الصوم ، ولكن إذا كان يستطيعه دون مشقة فإنه يؤمر به ، وكان الصحابة رضي الله عنهم يُصوِّمون أولادهم ، حتى إن الصغير منهم ليبكي فيعطونه اللعب يتلهى بها ، ولكن إذا ثبت أن هذا يضره فإنه يمنع منه

“Anak kecil yang belum baligh tidak wajib berpuasa. Namun jika dia sudah bisa puasa dengan tanpa kesulitan, maka saat itu dia mulai diperintah. Dan dahulu para sahabat, mereka biasa melatih anak-anaknya untuk berpuasa saat masih kecil. Bahkan sampai-sampai di antara anak-anak mereka ada yang menangis, lalu diberi mainan (agar pikirannya teralihkan). Tapi jika dilatih puasa itu bakal membahayakan kondisi si anak, maka jangan.” [Majmu Fataawaa wa Rasaa’il, XIX/83]

Artinya, tidak ada batasan usia kapan mulai memerintah mereka puasa. Kapan kira-kira tidak membuat mereka terkena mudharat (bahaya karena tidak kuat berpuasa), maka saat itulah mulai dilatih. Namun mesti diingat, ada perbedaan antara susah menjalankan puasa dengan mudharat:

– Susah menjalankan puasa bagi anak kecil: Belum tentu akan membahayakan dirinya. Kondisi susah yang dialami si anak lantaran puasa, jangan sampai menjadikan orang tua enggan melatih mereka puasa.

– Namun jika memudharatkan: Sudah barang tentu mereka kesusahan. Pada kondisi inilah orang tua tidak boleh memaksa mereka untuk puasa.

>> Dapatkah Pahala Jika Anak Kecil Puasa?

Ditanyakan kepada asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah:

Pertanyaan:

Apa hukumnya anak kecil puasa?

جـ: صيام الصبي كما أسلفنا ليس بواجب عليه بل هو سنة، له أجره إن صام، وليس عليه إثم إن أفطر، ولكن على ولي أمره أن يأمره به ليعتاده

Jawaban:

“Puasanya anak kecil sebagaimana telah kami terangkan, hukumnya tidak wajib, namun sebatas sunnah. Sehingga jika dia berpuasa maka dapat pahala, jika tidak maka tidak berdosa. Tapi orang yang mengurusnya hendaklah memerintah dia agar puasa, hingga akhirnya terbiasa.” [Majmu’ Fataawaa wa Rasaa’il, XIX/84]

 

Dinukil dari berbagai kitab fikih yang tersebut di atas.

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam Majmu’ah al-Mubarakah ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

 

Sumber: http://nasehatetam.com/read/307/anak-kita-saat-Ramadan#sthash.cjHaOwQ3.dpuf

,

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FaidahSholatJumat

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya jika saya sering ngantuk saat khotbah Jumat. Mohon penjelasannya.

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Apabila penanya sengaja tidak istirahat, maksimal di malam atau pagi sebelum pelaksanaan shalat Jumat, sehingga penanya mengantuk dan sampai mengantarkan penanya kepada tidur pulas, maka penanya telah melakukan kesalahan.

Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Ulama’ yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi:

“Sebagian orang, termasuk saya sendiri, tidur pada saat khotbah Jumat disampaikan. Apa hukum tindakan ini?”

Mereka menjawab: Seorang Muslim wajib diam menyimak khotbah Jumat yang disampaikan, dan menjauhi hal-hal yang bisa menghalangi itu, seperti berbicara, tidur atau mengantuk. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis dalam kitab Sahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu, yang mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«من اغتسل ثم أتى الجمعة فصلى ما قدر له ثم أنصت حتى يفرغ الإمام من خطبته ثم يصلي معه غفر له ما بينه وبين الجمعة الأخرى وفضل ثلاثة أيام

“Barang siapa mandi, kemudian mendatangi shalat Jumat, lalu mengerjakan shalat (sunnah) sesuai kemampuannya, lalu tenang mendengarkan khotbah sampai imam selesai berkhotbah, kemudian mengerjakan shalat Jumat bersama imam, maka diampuni dosa-dosanya, antara Jumat itu dan Jumat berikutnya, serta tambahan tiga hari.”

Dan juga sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

من تكلم يوم الجمعة والإمام يخطب فهو كمثل الحمار يحمل أسفارا، والذي يقول له أنصت ليس له جمعة

“Barang siapa yang berbicara pada saat imam khotbah Jumat, maka ia seperti keledai yang memikul lembaran-lembaran (artinya: ibadahnya sia-sia, tidak ada manfaat). Siapa yang diperintahkan untuk diam (lalu tidak diam), maka tidak ada Jumat baginya (artinya: ibadah Jumatnya tidak sempurna).”

Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata: “Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan status sanad yang bisa diterima. Dan semua ini karena eksistensi khotbah yang sangat agung yang terkandung di dalamnya, berikut dengan pelajaran, bimbingan, dakwah kepada kebaikan, dan mengingatkan seorang Muslim kepada Allah ta’ala.”

Oleh sebab itu, seorang Muslim wajib menyadari akan hal ini, tidak bermain-main dan lalai, karena mengingat ancaman yang sangat keras, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

  • Bakar Abu Zaid  selaku Anggota
  • Shalih al-Fawzan selaku Anggota
  • Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota
  • Abdul Aziz Alu asy-Syaikh selaku Wakil Ketua
  • Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
  • [Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 7/135-136 Pertanyaan ketiga dari Fatwa nomor 18192 ]

Terkait hukumnya tidur dilihat dari sisi batalnya wudhu, mereka juga ditanya:

“Sebagian orang tidur di masjid sambil bertasbih dengan alat tasbih. Apakah dia wajib berwudu kembali sebelum menunaikan shalat?”

Mereka menjawab: “Segala puji hanyalah bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul-Nya, kerabat dan sahabat beliau.

Tidur lelap memiliki risiko membatalkan wudhu. Oleh sebab itu, orang yang tidur lelap di dalam masjid atau di tempat lain, maka dia wajib berwudhu kembali, baik tidur dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring, meskipun sambil memegang alat tasbih ataupun tidak. Namun, jika dia tidak tertidur lelap — seperti mengantuk yang tidak kehilangan kesadaran– maka tidak wajib berwudhu kembali. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadis shahih dari Nabi ﷺ yang menerangkan hal tersebut secara detail.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

  • Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
  • Abdullah bin Qu’ud selaku Anggota
  • Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota
  • Abdurrazzaq `Afifi selaku Wakil Ketua
  • Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
  • [Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 5/283-284  Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor 3030]

 

Sumber: http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/6295-ngantuk-saat-khotbah-jumat

,

HUKUM DIALOG IMAJINER ANTARA ALLAH DAN HAMBA-NYA

HUKUM DIALOG IMAJINER ANTARA ALLAH DAN HAMBA-NYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah

HUKUM DIALOG IMAJINER ANTARA ALLAH DAN HAMBA-NYA

Dialog Imajiner ternyata menyimpan sejuta masalah. Karena termasuk berdusta atas nama syariat. Islam pun melarang kita utk menyebarkannya, karena Nabi ﷺ menyebutnya sebagai pendusta.

Pertanyaan:

Sering ana membaca artikel-artikel yang digambarkan dalam bentuk dialog imajiner. Yang menjadi masalah adalah, dialog tersebut melibatkan Allah, Malaikat, setan bahkan Para Nabi. padahal sesungguhnya tidak pernah terjadi dialog tersebut. Bolehkah membuat tulisan seperti itu?

Ini contoh dialog imajiner (hanya cuplikan) saja:

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang tukang kayu yang sangat miskin telah mendengar akan wasiat tersebut, lalu diberitahu kepada istrinya, apakah dia perlu mengambil kesempatan ini untuk menjadi kaya. Istrinya berkata: “Wahai suamiku, apalah artinya menjaga mayat tersebut selama 40 hari, dibandingkan kerjamu ketika menebang kayu di dalam hutan, dan bertemu dengan harimau dan hantu penunggu hutan. Tukang kayu tersebut dengan tergesa-gesa segera datang ke rumah konglomerat tersebut untuk memberitahukan kepada ahli waris konglomerat tersebut akan kesanggupannya. Keesokan harinya dikebumikanlah jenazah Sang Konglomerat, si Tukang kayu itu pun ikut turun ke dalam liang lahat bersama kapaknya.

Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah meninggalkan area pemakaman tersebut, maka datanglah Malaikat Mungkar dan Nakir ke dAlam Kubur tersebut. Si Tukang kayu menyadari siapa yang datang, maka ia segera agak menjauhkan diri dari mayat konglomerat tersebut. Terbetik di pikirannya, bahwa sudah tiba saatnya Sang konglomerat tersebut akan diinterogasi oleh Mungkar dan Nakir. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Mungkar dan Nakir malah menuju ke arahnya dan bertanya: “Apa yang kau buat di sini”?. Aku menemani mayat ini selama 40 hari untuk mendapatkan setengah harta wasiatnya” jawab si Tukang kayu. “Apa harta yang ada pada kau sekarang”? lanjut Mungkar-Nakir. “Aku cuma memiliki sebatang kapak ini saja untuk mencari rezeki” timpal si tukang kayu. Kemudian Mugkar-Nakir beritanya lagi: “Dari mana kau dapat kapak ini”?. “Aku membelinya” balas si tukang kayu. Lalu pergilah Mungkar dan Nakir di hari pertama dari dAlam Kubur tersebut. Hari kedua mereka datang lagi dan bertanya: “Apa yang kau buat dengan kapak ini”?. “Aku menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar untuk dijual” sergah tukang kayu. Di hari ketiga di tanya lagi: “Pohon siapa yang kau tebang dengan kapak ini?. “ Pohon itu adanya di hutan belantara, jadi tidak ada yang punya” timpalnya. “Apa kau yakin?” lanjut malaikat. Kemudian mereka menghilang dan datang lagi di hari ke empat. Kemudian mereka bertanya lagi “Adakah kau potong pohon tersebut dengan kapak ini dengan ukurannya dan beratnya yang sama untuk dijual? “Aku potong dikira-kira saja, mana mungkin ukurannya bisa sama rata” tegas tukang kayu. Begitu terus yang dilakukan malaikat Mungkar Nakir datang dan pergi sampai tak terasa sekarang 39 hari sudah dan yang ditanyakan masih berkisar dengan kapak tersebut.

Mohon pencerahannya ustadz.

Jawaban:

Kita dilarang keras berbicara tentang masalah yang gaib, masalah Akhirat atau pertanyaan di kuburan, atau semua kejadian masa depan atau kejadian masa silam, tanpa bukti dan dalil yang Shahih. Karena berbicara masalah yang gaib tanpa dalil, pasti salah dan statusnya dusta.

Jika dusta atas nama makhluk hukumnya haram dan terlarang, berdusta atas nama Allah hukumnya jauh lebih terlarang.

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) memersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan bebicara atas nama Allah, apa yang tidak kamu ketahui.” [QS. Al-A’raf:33]

Semua informasi tentang syariat, baik yang berkaitan masalah hukum fikih maupun yang berkaitan dengan akidah, harus berdasarkan dalil yang Shahih dan jelas. Pelanggaran dalam hal ini, termasuk berbicara tentang Allah, sementara kita tidak memiliki ilmunya.

Apa Hukumannya?

Ayat di atas tidak memberikan ancaman hukuman apapun. Akan tetapi disebutkan dalam hadis, Rasulullah ﷺ memberi ancaman sangat keras untuk perbuatan semacam ini. Beliau ﷺ bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Siapa yang berdusta atas namakku, hendaknya dia siapkan tempatnya di Neraka. [HR. Bukhari]

Dalam lafal yang lain:

مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Siapa yang berbicara atas namaku, padahal aku tidak pernah mengucapkannya, hendaknya dia siapkan tempatnya di Neraka. [HR. Bukhari]

Demikian ancaman keras untuk orang yang berdusta atas nama Rasulullah ﷺ. Kita bisa bayangkan, bagaimana dengan hukuman untuk orang yang berdusta atas nama Allah. Tentu saja hukumannya lebih berat.

Dialog imajiner seperti yang disebutkan di atas merupakan contoh berbicara atas nama Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Namanya saja dialog imejiner, jelas tidak memiliki bukti maupun dalil yang Shahih. Kita tidak perlu ragu untuk menyebutnya sebagai KEDUSTAAN atas nama Allah dan Rasul-Nya.

Maksud yang Baik, Tidak Melegalkan Cara yang Buruk

Bisa jadi maksud orang ini sangat baik. Dia hendak mengingatkan masyarakat tentang betapa ngerinya pertanyaan kubur. Sehingga selayaknya kita perlu banyak waspada, agar bisa menjawab pertanyaan di Alam Kubur dengan benar. Namun tujuan yang baik ini TIDAK BOLEH dilakukan dengan cara yang melanggar syariat. Para ulama menetapkan kaidah:

الغاية تبرر الوسيلة

Tujuan tidak bisa melegalkan sarana yang tidak baik

Lebih dari itu, masih banyak cara yang dibenarkan untuk menyampaikan nasihat tentang Alam Kubur atau nasihat tentang Akhirat.

Jangan Disebarkan!!

Setelah memahami bahwa dialog imajiner termasuk BERDUSTA atas nama Allah dan Rasul-Nya ﷺ, sikap yang harus kita lakukan adalah tidak boleh membenarkannya, termasuk menyebarkannya. Karena kita dilarang menyebarkan kedustaan. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ، فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

“Siapa yang menyampaikan hadis dariku, dan dia menyangka bahwa itu dusta, maka dia termasuk salah satu pendusta.” [HR. Muslim dalam Mukadimah, Turmudzi dalam Sunannya]

Dalam hadis ini, Rasulullah ﷺ menyebut orang yang menyebarkan hadis dhaif atau hadis yang dianggap palsu, sebagai salah satu pendusta. Tentu saja ancamannya akan lebih parah, ketika kita yakin bahwa yang kita sebarkan adalah sebuah kedustaan.

Apa beda ancaman pertama dan kedua?

Pada kasus pertama, terdapat ancaman ‘Siapkan tempatnya di Neraka’ dan pada kasus kedua, ancaman yang disebutkan, ‘Dia salah satu pendusta’.

Dua ancaman ini berbeda, sehingga tentu saja kasusnya beda. Untuk ancaman pertama, ancaman agar menyiapkan dirinya di Neraka, berlaku untuk orang yang MEMBUAT informasi dusta atas nama Rasulullah ﷺ. Padahal beliau ﷺ tidak pernah menyabdakannya.

Sementara ancaman kedua, pelakunya disebut pendusta, berlaku untuk orang yang menyebarkan hadis yang dia sangka itu dusta, atau dia yakini itu dusta.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/18075-hukum-dialog-imajiner-antara-tuhan-dan-hamba.html

,

SIKAP DALAM MENGHADAPI ISTRI YANG MEMBANTAH SAAT DIMINTA PAKAI HIJAB

SIKAP DALAM MENGHADAPI ISTRI YANG MEMBANTAH SAAT DIMINTA PAKAI HIJAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

SIKAP DALAM MENGHADAPI ISTRI YANG MEMBANTAH SAAT DIMINTA PAKAI HIJAB

Pertanyaan:

Bagaimanakah sikap kita dalam menghadapi seorang istri yang membantah saat disuruh berbuat kebajikan. Contohnya tuntutan dalam memakai hijab syari.

Ana paham, tuntutan bagi seorang Muslimah untuk berhijab syari itu datang langsung dari ALLAH dan Rasulullah ﷺ. Terkadang terjadi kesalah pahaman antara ana dan istri ana, apabila membicarakan berhijab secara syari.

Apakah salah ana memaksakan kepada istri untuk berhijab secara syari? Dan apa sikap kita saat istri keluar rumah tanpa ada izin suami?

Jujur saja ustadz, setiap doa ana selalu memohon petunjuk dan hidayah untuk istri ana. Ana masih berharap istri ana dapat berubah. Terkadang ana sempat terlintas dipikian ana untuk berpisah.

Apa yang harus ana lakukan ya ustadz?

Jawaban:

Terkait istri yang menolak untuk memakai penutup aurat yang syari, ada pertanyaan yang ditujukan kepada ulama’-ulama’ yang tergabung dalam Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa:

Di sebagian negara, hijab wanita Muslimah jarang ditemui. Seorang laki-laki menikah dengan wanita Muslimah, namun ia tidak rela untuk mengenakan hijab. Ketika itu, apakah laki-laki itu menalaknya atau apa yang harus ia lakukan? Ada juga laki-laki Muslim yang lain yang menikah dengan wanita Ahli Kitab, dan ia pun tidak mau mengenakan hijab. Bagaimanakah hukumnya?

Jawaban Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa:

Seorang wanita yang tidak mau menutup auratnya dari laki-laki yang bukan mahram, dianggap wanita yang bermaksiat terhadap suaminya, dan menyelisihi syariat Allah ta’ala. Suaminya wajib untuk menasihatinya untuk mengenakan hijab yang syari. Apabila wanita itu tidak terima, maka ia boleh menalaknya, baik wanita itu Muslimah atau Ahli Kitab. Ini sebagai bentuk menjauhi kemungkaran, menjaga keluarga dari sumber keburukan.

Wabillahi at-Taufiq. Wa shallallahu ala Nabiyina Muhammad, wa alihi wa sahbihi wa sallam.

[Al-Lajnah ad-Daimah 17/108-109 pertanyaan ke tiga dari fatwa no. 5089]

Oleh karena itu, selayaknya si suami menasihati istrinya yang menolak memakai hijab dengan nasihat secara langsung dan tidak langsung. Nasihat secara langsung bisa dilakukan dengan mencari waktu, situasi dan kondisi yang tepat untuk bisa memberi masukan yang baik, khususnya tentang hijab.

Nasihat secara tidak langsung bisa dilakukan dengan memberinya audio atau video ceramah, meminta orang yang ia dengar omongannya untuk menasihatinya, mengajaknya untuk mendatangi majelis-majelis ilmu, dan memasukkannya ke komunitas wanita-wanita sholehah, serta cara-cara lainnya. Dengan tidak melupakan doa kepada Allah ta’ala secara rutin (khususnya pada waktu dan tempat yang mustajab), semoga Allah ta’ala memberinya hidayah, dan menyelamatkannya dari api Neraka, serta menjadikan Anda terus istiqomah dalam kebaikan.

Semoga Allah ta’ala memberi hidayah istri Anda secara khusus, dan istri-istri kaum Muslimin secara umum, sehingga rumah tangga kaum Muslimin dipenuhi keberkahan, ketenangan dari Allah ta’ala, dan dipenuhi juga dengan cinta kasih.

 

Sumber: http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/3836-ketika-istri-tidak-mau-berhijab

 

 

,

KENAPA “MEMILIH PEMIMPIN KAFIR” DIANCAM KEKAL DI NERAKA, SEDANGKAN “PEMINUM MINUMAN KERAS” TIDAK?

KENAPA “MEMILIH PEMIMPIN KAFIR” DIANCAM KEKAL DI NERAKA, SEDANGKAN “PEMINUM MINUMAN KERAS” TIDAK?

#DakwahTauhid
#ManhajSalaf

KENAPA “MEMILIH PEMIMPIN KAFIR” DIANCAM KEKAL DI NERAKA, SEDANGKAN “PEMINUM MINUMAN KERAS” TIDAK?

Pertanyaan:
“Peminum Minuman Keras” dan “Memilih Pemimpin Kafir”, keduanya sama-sama melanggar syariat Islam dan keduanya sama-sama melakukan dosa besar. Tetapi kenapa pelaku “Memilih Pemimpin Kafir” diancam masuk Neraka dan kekal di dalamnya? Sedangkan “Peminum Minuman Keras” tidak diancam dengan kekekalan di Neraka? Apakah bisa, seorang peminum minuman keras menjadi kafir dan kekal di Neraka?

Jawaban:
Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah, amma ba’du,

Sangatlah jelas dalam Alquran ada larangan, agar tidak menjadikan non-Muslim sebagai pemimpin. Para ulama sudah ijma (konsesus) dalam hal ini. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). Sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah: 51),

Jelas sekali bahwa ayat ini larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin atau orang yang memegang posisi-posisi strategis yang bersangkutan dengan kepentingan kaum muslimin. Kita bisa perhatikan di bagian akhir surat ini:

“Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka…” Golongan mereka artinya golongan Yahudi dan Nasrani.

Karena itulah, sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:

ليتق أحدكم أن يكون يهوديا أو نصرانيا وهو لا يشعر

“Hendaknya kalian khawatir, jangan sampai menjadi Yahudi atau Nasrani, sementara dia tidak merasa.”

Kemudian Hudzaifah membaca ayat di atas, al-Maidah: 51.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya ketika beliau menjelaskan al-Maidah: 51 mengatakan:

أي من يعاضدهم ويناصرهم على المسلمين فحكمه حكمهم ، في الكفر والجزاء وهذا الحكم باق إلى يوم القيامة

Arti dari ayat ini, bahwa orang yang mendukung orang kafir, dan menolong mereka untuk mengalahkan kaum Muslimin, maka HUKUM PENDUKUNG INI SAMA DENGAN MEREKA (ORANG KAFIR). SAMA DALAM KEKUFURAN DAN BALASAN. Dan hukum ini berlaku sampai Hari Kiamat. (Tafsir al-Qurthubi, 6/217)

Ayat lain yang memberikan ancaman keras bagi pendukung orang kafir adalah firman Allah:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ

“Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali, dengan MENINGGALKAN orang-orang Mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.” (QS. Ali Imran: 28)

Imam mufassir, at-Thabari menjelaskan ayat ini:

يعني فقد بريء من الله ، وبريء الله منه ، بارتداده عن دينه ودخوله في الكفر

Artinya, dia telah berlepas diri dari Allah, dan Allah berlepas diri darinya, karena dia MURTAD dari agamanya dan MASUK KE AGAMA KEKUFURAN.

Sebagai contoh yang jelas adalah “Teman A-Hog”. “Teman A-Hog” bukanlah sebatas teman saja. Sebagian besar di antara mereka menghasung A-Hog untuk menjadi pemimpin, mendukungnya, mengampanyekannya, bahkan memuliakannya, karena anggapan, dia lebih mulia dibandingkan Muslim yang lain. Kita tidak menilai status “Teman A-Hog”, tetapi kita bisa menilai dengan menyimpulkan beberapa dalil dan penjelasan ulama terhadap dalil.

Setidaknya di antara mereka melakukan kemunafikan. Munafik, karena khianat terhadap ajaran agamanya. Sikap dan perilaku jahat kaum munafik – yang secara lahir mengaku beriman, tetapi batinnya mencintai kekufuran – bahkan diabadikan dalam satu surat khusus, yaitu Surat al-Munafiqun (surat ke-63). Mereka dikenal sebagai pendusta. Mengaku-aku iman, padahal selalu memusuhi kaum Muslimin dan membela orang kafir.

Dalam peristiwa semacam ini, kita sudah bisa menebak arah gerakan mereka. Mereka akan selalu menjadi garda terdepan pembela si calon gubernur kafir itu. Mereka sangat berharap, agar yang menang adalah si calon gubernur kafir. Mari kita baca ayat ini:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا . الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik, bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (QS An-Nisa 138)

(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan MENINGGALKAN orang-orang Mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (QS An-Nisa 139)

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (QS An-Nisa :145)

Sedangkan dalam hal “Peminum Minuman Keras”, tidak ditemukan satu dalil pun, baik dari Alquran maupun hadis, yang menyatakan, bahwa pelakunya diancam dengan kekafiran. Memang, sesungguhnya meminum minuman keras (khamr) adalah perbuatan yang diharamkan oleh Alquran, hadis dan ijma’ para ulama. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.

“Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr (arak), berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu, agar kamu mendapatkan keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kami, lantaran (meminum) khamr (arak) dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat. Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul (Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” [Al-Maidah : 90-92]

Dan Rasulullah ﷺ bersabda, artinya:

“Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr adalah haram”.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, seluruh umat Islam sepakat, bahwa khamr adalah minuman yang diharamkan secara baku, dan tidak ada perbedaan di antara para ulama. Sehingga sebagian ulama mengatakan, bahwa haramnya khamr termasuk masalah agama yang diketahui tanpa menggunakan dalil. Sehingga mereka mengatakan, bahwa barang siapa yang mengingkari haramnya khamr, sedang dia hidup di tengah masyarakat, maka dia dianggap kafir dan wajib disuruh bertaubat. Bila tidak mau bertaubat, maka harus dibunuh. [Fatawa Nurun Ala Darb Syaikh Utsaimin, hal. 86]

Misalnya seseorang yang meminum khamr dengan keyakinan, bahwa khamr itu halal, padahal ia sudah mengetahui, bahwa Islam melarangnya, para ulama menyebut hal ini sebagai kafir juhud (kafir karena menentang Al-quran). Yaitu orang yang meyakini kebenaran ajaran Rasulullah ﷺ, namun lisannya mendustakan, bahkan memerangi dengan anggota badannya, menentang karena kesombongan. Ini seperti kufurnya iblis terhadap Allah, ketika diperintahkan sujud kepada Adam ‘alaihissalam, padahal iblis mengakui Allah sebagai Rabb:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka, kecuali iblis. Ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (QS. Al Baqarah: 34)

Juga kufurnya Fir’aun terhadap Nabi Musa ‘alaihissalam dan kufurnya orang Yahudi terhadap Nabi Muhammad ﷺ.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan: “Seorang hamba, jika ia melakukan dosa dengan keyakinan, bahwa sebenarnya Allah mengharamkan perbuatan dosa tersebut, dan ia juga berkeyakinan, bahwa wajib taat kepada Allah atas segala larangan dan perintah-Nya, maka ia tidak kafir”. Lalu beliau melanjutkan, “..barang siapa yang melakukan perbuatan haram dengan keyakinan bahwa itu halal baginya, maka ia kafir dengan kesepatakan para ulama” (Ash Sharimul Maslul, 1/521).

Wallahu ta’ala a’lam.

Sumber:

https://konsultasisyariah.com/28521-apakah-teman-a-Hok-kafir.html

Isteri Meminta Talak Karena Suami Pemabuk